Your Last Melody

baek your last melody

credit pic : the fansite

| This story belong to me, shineshen |

| It’s my first vignette (or ficlet?), so please appreciate it! ^^ |

| This story as my dedication for Byun Baekhyun |

| I love angst |

| I took OC without name, so you are free to imagine her |

| Hope you like what I wrote ^^ |

.

.

:: YOUR LAST MELODY ::

.

.

.

“Bagaimana? Apa kau menemukan kesulitan?”

“Ya, sedikit.”

“Baiklah, aku akan meninggalkanmu sebentar,”

“Uhm, baiklah. Oke.”

 

Baekhyun mengacak pelan puncak kepala gadis itu sebelum melangkahkan kakinya menjauh dari sana, dan masih sempat tersenyum dari jauh saat melihat gadis itu terdiam bingung di depan grand piano putih miliknya.

 

“Baekhyun, bisa kau bantu aku sebentar?”

Baekhyun bahkan baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu kembali, saat ada suara yang terdengar meminta bantuannya. Baekhyun tersenyum simpul sambil membawa cangkirnya mendekat pada gadis itu, menghentikan langkah di sisinya.

 

“Uhm, Baek. Aku tak yakin dengan nada selanjutnya. Kau bisa membantuku?” pinta gadis itu dengan suara kecil, jarinya yang kurus menunjuk deretan partitur nada. Baekhyun terdiam sesaat, keningnya berkerut saat membayangkan bunyi nada-nada itu dalam kepalanya.

“Oh, sebentar,” sahut Baekhyun sambil mengambil alih pensil milik gadis itu, lalu mulai menggoreskan beberapa bentuk not balok untuk melanjutkan nada sebelumnya. “Coba nada ini,”

Gadis itu menurut dan mulai menekan tuts-tuts piano itu dengan jemarinya yang kurus dan pucat. Baekhyun mengulaskan senyumnya saat mendengar alunan nada yang tercipta dari dentingan piano itu. Ia tersenyum menatap gadisnya yang juga sedang memainkan nada itu dengan senyum yang terulas.

“Bagaimana? Kau suka?”

“Sangat menyukainya, Baek.” Jawab gadis itu senang sambil mengalihkan tatapannya pada Baekhyun.

Baekhyun menatap iris cokelat almond milik gadis itu. Iris yang indah, walau tak bisa memudarkan kenyataan jika iris itu tercipta untuk menutupi sejuta sirat kesedihan yang terpancar disana.

Baekhyun tak tahu apa yang ada di pikirannya, yang jelas kesadaran baru ia temukan saat wajah gadis itu berada semakin dekat dengan wajahnya.

 

“Jangan menciumku, Baek.” Ucap gadis itu tiba-tiba dengan tangan yang terdorong. Tubuh Baekhyun mundur ke posisinya semula. Ia mengerjap dan saat itulah matanya menangkap senyum tulus yang diukir oleh kekasihnya.

“Kau tak boleh mencium gadis penyakitan sepertiku.”

Baekhyun terkesiap oleh ucapan gadis itu. Namun gadis itu menghapusnya dengan sepasang eye smile yang terlukis saat ia tersenyum pada Baekhyun.

 

“Omong-omong, apa itu yang ada dalam cangkirmu?”

“Uhm, ini… Cokelat panas,” jawab Baekhyun dengan sedikit canggung. “Kau mau? Biar kubuatkan,”

“Tidak usah,” balas gadis itu. “Aku bisa membuatnya sendiri.”

 

Tanpa menunggu Baekhyun menyambut kata-katanya lagi, gadis itu bangkit dari kursi piano dan melenggang pergi dari ruangan itu. Baekhyun tak bergeming. Ia masih terdiam kosong menatap kepergian kekasihnya, sampai tiba-tiba suara denting gelas yang pecah membuyarkan pikiran kosongnya…

 

 

***

 

 

“Aku hampir menyelesaikannya,” bisik gadis itu pelan pada dirinya sendiri. Dengan tangan bergetar ia menyematkan lembar-lembar partitur musik itu di tempatnya, lalu mengatur ponselnya dalam mode  perekam yang ia letakkan di samping lembaran partitur itu.

Dengan tangan yang semakin bergetar, ia memaksakan diri untuk menekan tuts hitam dan putih itu secara bergantian, sesuai dengan not-not balok yang mampu ia baca. Sesekali ia terbatuk-batuk kecil, namun tetap memaksakan diri memainkan rangkaian nada itu walau di beberapa bagian ia tak sengaja melakukan kesalahan. Tapi tekadnya sudah bulat, ia akan melanjutkan lagu itu hingga selesai.

 

Tangannya yang pucat meraih ponselnya, lalu sejenak matanya menatap detik demi detik durasi rekaman yang masih dan terus berjalan. Hanya ia yang tahu alasan mengapa tiba-tiba ia mendekatkan microphone ponsel itu pada bibirnya yang semakin pucat dan kering. Mengeluarkan suaranya yang tipis dan lirih sebagai penutup dari rekamannya.

 

“Itu nada terbaik yang bisa kumainkan, Baek. Maaf jika nada itu tak akan pernah sebagus milikmu…”

 

Gadis itu menekan tombol penghenti. Ia tersenyum tipis memandangi layar ponselnya, lalu tanpa membereskan apa-apa ia pun melangkah menuju tempat tidurnya. Ia menyetel mode alarm di ponselnya dengan menggunakan nada rekaman yang baru saja selesai dibuatnya.

Setelah menelan dosis obatnya untuk siang ini, ia membaringkan tubuh lemahnya diatas kasur. Menutupi raganya dengan selimut sampai sebatas dagu. Desember ini terlalu dingin, sungguh. Apalagi untuk gadis berpenyakit sepertinya…

 

 

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari elevator. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti di jarak yang belum terlampau jauh. Ia menepi sesaat ketika matanya lebih memilih untuk tertuju pada ponsel yang berada dalam genggamannya.

Jarinya bergerak mengetuk digit demi digit sesuatu yang tampil di layarnya, lalu mendekatkan speaker ponsel pada telinganya kanannya. Nada sambung yang umum terdengar di seberang sana.

Namun nihil. Baekhyun menunggu tapi suara gadis yang diinginkannya tak kunjung terdengar menyapa. Perasaan aneh mulai menghentak-hentak sesuatu dalam rongga dadanya. Menciptakan rasa sesak yang sungguh mengesalkan.

 

Baekhyun menghentak-hentakkan ujung sepatunya pada lantai seiring dengan degup-degup jantungnya. Baekhyun mengulangi panggilannya, lagi dan lagi. Namun yang ia dapatkan tak lebih dari sekedar ucapan huruf yang berasal dari operator seluler.

 

 

Di jarak yang terpisah berkilo-kilometer dari tempat Baekhyun berpijak, gadis yang ia maksud terusik dari tidur tenangnya yang baru berlangsung tak lebih dari setengah jam. Tepat saat itu juga, suara ponsel diatas nakasnya berdering. Tanda jika ada nomor yang mencoba menghubunginya.

Mata berat gadis itu membuka. Rasa sakit seketika menyergap sesuatu dalam rongga dadanya saat tubuh lemahnya kembali ke kodratnya untuk bisa merasakan. Gadis itu meraba permukaan nakasnya, namun keberadaan ponselnya yang terlalu jauh tak memungkinkannya untuk meraih.

Rasa sakit itu semakin menyiksanya. Rongga dadanya serasa terbakar, membuat napasnya yang tipis semakin tersenggal tak karuan. Tangannya kembali meraba panik seluruh permukaan nakas yang ia bisa. Tangannya berhasil mendapatkan botol obat yang tergeletak disana, tapi botol itu tergetar keras. Getaran itu berasal dari seluruh tubuhnya yang mengejang kesakitan. Tangannya bergerak diluar kendali. Botol itu terlempar, membentur lantai dan seluruh isinya tersebar berantakan. Airmata gadis itu meleleh. Napasnya yang tersenggal tak memungkinkannya untuk mengucapkan apapun lagi. Ujung matanya melirik sedih pada sebuah foto berpigura yang terpasang tepat di samping lampu tidurnya. Airmata gadis itu meleleh lagi saat menangkap potret dari laki-laki yang ada bersamanya dalam foto tersebut. Hatinya bertambah sakit dalam satu kali matanya mengerjap.

 

Maafkan aku karena tak bisa memainkan piano itu lagi bersamamu, Baek…

 

 

***

 

 

Laki-laki dengan surai cokelat mahoni itu telah tiba di tempat tujuannya. Sebuah apartemen kecil dengan selembar ‘stiker keberuntungan’ yang melekat di pintunya yang berwarna hitam eboni.

Laki-laki bernama Byun Baekhyun itu memasukkan anak kunci yang ia ambil dari dalam saku mantelnya, memutarnya dua kali dalam lubang kunci, lalu berhasil memutar kenop pintunya. Pintu itu terbuka, udara kosong yang kering langsung menyambutnya dalam napas yang pertama kali ia hela.

 

Baekhyun melangkahkan kakinya masuk dalam apartemen itu. Tersenyum tatkala mendapati suasana di dalam sana tak berubah semenjak terakhir ia menginjakkan kakinya.

Grand piano putih yang ada di ruang tengah menarik langkahnya untuk mendekat. Baekhyun mempercepat langkahnya tiba disana. Jemarinya meraba debu halus yang mulai memenuhi permukaan piano itu, permukaan itu tak lagi mengkilap seperti pertama kali ia mendapatkannya dulu. Namun pelukan gadis itu masih terasa.

 

Piano ini untukku? Benarkah? Terimakasih, Baek. Kau sungguh tahu apa yang kuinginkan!”

 

Gadis itu dengan polosnya memeluk Baekhyun di pertengahan musim gugur yang hangat tatkala Baekhyun tiba-tiba datang ke apartemen kecilnya membawa sebuah grand piano berwarna putih yang anggun.

Menurut Baekhyun, piano itu lebih cocok dimiliki oleh kekasihnya. Jadi ia memberikannya pada gadis itu. Lagipula piano itu adalah hadiah, atas kemenangannya di kontes piano akhir musim semi tahun itu.

 

Byun Baekhyun kembali ke dunia nyatanya. Ia sudah terlalu lama membuang waktunya saat nostalgia itu kembali menelusup dalam pikirannya.

Tangannya meraih lembar partitur yang masih tersemat utuh disana, mengulas senyum getir saat menyapukan jemarinya diatas permukaan kertas yang mulai kaku dan menguning itu.

 

Baekhyun menoleh pada ruangan tak berpintu yang tepat berada di sisi lain dari ruang tengah itu. Baekhyun menanggalkan posisinya, ia melanjutkan langkahnya memasuki ruangan itu.

Aroma floral yang lembut masih menyambut saat langkahnya berpijak disana. Ingatan Baekhyun berputar dan membuatnya pusing dalam sekali kejapan.

Ia ingat semuanya, sangat ingat. Detik demi detik yang menyiksa seluruh perasaan yang ia punya. Memusnahkannya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi memiliki bentuk. Menggerogoti hati dan jantungnya saat menyadari cintanya yang telah direnggut paksa. Oleh maut. Maut yang telah membawa jiwa kekasihnya pergi untuk selama-lamanya.

 

Suara dentingan piano mengalun lirih saat Baekhyun mendekap raga tak bernyawa itu dengan airmata yang membanjir. Alarm milik gadis itu berbunyi. Yeah, ia tepat waktu. Namun sayangnya, sekeras apapun alarm itu berbunyi, gadis itu tak akan pernah bisa bangun lagi untuk mendengarnya. Baekhyun menangis semakin dalam dan pilu, dentingan itu terus terekam dalam otaknya, seakan menjadi nada yang paling dikenal sebagai nada pengantar sang kekasih untuk tertidur selamanya.

 

Itu nada terbaik yang bisa kumainkan, Baek. Maaf jika nada itu tak akan pernah sebagus milikmu…”

 

Dan hingga kata-kata itu terdengar, Baekhyun yakin jika seluruh harapan cintanya pada gadis tak bernyawa itu sudah terobek habis dan musnah ditelan takdir…

 

 

Sudah hampir setahun berlalu, tapi Baekhyun tak bisa melupakan bagaimana sakitnya saat ia datang ke tempat ini dan menemukan kekasihnya tertidur dengan tubuh yang mulai mendingin, ditambah alur airmata yang masih terlukis samar dari ujung matanya yang menutup. Baekhyun juga tak bisa lupa betapa hancur hatinya saat menyadari kekasihnya sudah pergi. Pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali lagi.

 

Angin dingin menerpa tengkuknya. Hatinya yang limbung tak bisa lagi membedakan saat dimana mimpi dan kenyataan harusnya terkecap. Baekhyun memejamkan matanya yang sudah terlalu perih menahan airmata, membiarkannya tumpah walau saat ini juga.

 

Terlalu sakit baginya untuk menahan airmata. Terlalu sesak dan semakin lama membuatnya semakin merasakan sakit yang tak bisa dimengerti oleh orang lain, terjebak dalam kenangan masa lalu yang terus menyiksa memorinya. Membawa rasa sakit dalam hati yang terus menusuk hatinya hingga dalam, menuntunnya untuk jatuh dan menyerah oleh rasa kehilangan yang ratusan kali menyiksanya setiap kali ia bisa mengingat.

 

“Aku merindukanmu… Sangat…”

 

Dan seharusnya Byun Baekhyun tahu, hanya udara kosong dan dingin yang selalu setia mendengarkan suara lirihnya.

 

 

 

—END—

 

 

 

Again, angst, umumumumumumu (/-\)

Dan… Byun Baek, kenapa imajinasiku langsung mengarah ke kamu begitu aku niat bikin fic ini (/-\)

Kenapa dari 12 member EXO, hanya segelintir yang feel-nya gampang tekdor(?) kalo aku jadiin cast (/-\)

So, big applauses for three of them : Kim Jongin, Xi Luhan, and Byun Baekhyun (/-\)

 

Oke.

Mungkin disini kalian bingung sama diksinya, soalnya aku puter-puterin gitu(?) .-.

But overall, what do you think about this fic?

I call it as vignette, does it work? (/-\)

Or…  Does it too fast? (/-\)

 

Tell me, please >.<

 

48 thoughts on “Your Last Melody

    • haii ^^

      aduh… yaampun kamu nemu aja ff jadul aku😄 hahaha
      aku malu ih, tata bahasaku di fenfik ini masih abal sekali -.-

      anyway makasih udah nyempetin mampir😄 hahaha

  1. aku ikut terbawa suasana hatinya si baek loh authornim, pasti nyesek banget jadi dia T_T tapi aku suka tulisan authornim walaupun angst, authornim jjang🙂

  2. Sesiih ;A; thor keren banget diksinya, puitis2 gimana gitu~ngga akan senyesek ini kalo aku yang bikin cerita ginian btw, aku juga suka bayangin ff sad itu kalo castnya baek paaas bgt >. <kita sehati thoor

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s