Diposkan pada Baek Hyun, charismagirl, Drama, EXO-K, friendship, MULTICHAPTER, Romance, Series

You And Him – part 2

PhotoGrid_1388230989327

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Park Minri
  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun

Rating : PG-15

Length : chapter

Genre : romance, friendship, life

Note : Hello!! Ini nih lanjutannya, beneran gabisa 2-shoot, rasanya terlalu singkat. Jadi ku buat berchapter aja. Tapi tenang, ga bakal lebih dari 5 kok (semoga). Dan aku mau ngucapin terimakasih sama semua yang komen di part 1. Aku sayang kaliaaan(?) Okedeh, enjoy!! Jangan lupa komen ;3 *hugkiss*

Link : part 1

You And Him

Hari sudah pagi.

Minri baru saja kembali dari alam mimpinya. Kamar tidurnya masih cukup gelap karena matahari terhalang oleh gorden dan jendela.

Kamar. Minri bahkan lupa kapan ia masuk ke dalam kamarnya tadi malam.

Minri membuka mata perlahan dan menguap, mengeliat dalam gulungan selimut yang hangat dan merasa tidur dengan sangat nyenyak.

Matanya iseng melirik jam dinding. Lantas membelalak kaget saat teringat sesuatu.

Minri menyibak selimutnya dengan kasar, membuat barang-barang di tempat tidur itu jatuh ke lantai bersama selimut merah muda lembut yang malang. Novel, ponsel dan headphone adalah teman tidurnya selama ini.

Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi dengan langkah terseok, nyaris membuat kepalanya membentur sisi pintu. Terburu-buru melepaskan pakaiannya lalu menyalakan shower. Guyuran air yang dingin begitu menusuk-nusuk, membuat kantuknya sepenuhnya hilang.

Ia mengambil botol sampo dan menuang ke tangan, lalu menggosokkan ke rambutnya.

Minri ada ujian pagi ini, makanya ia terburu-buru. Dan apa yang dilakukannya kemarin hingga malam? Memikirkan lamaran Sehun?

Minri berhenti menggosok rambut saat air pancuran shower tiba-tiba mati. Desisan sebal lolos dari bibirnya yang agak bergetar menahan dingin. Minri mengulurkan tangannya meraih handuk putihnya lantas menggosok wajah secukupnya. Kemudian membungkus tubuh dengan handuk itu.

Tidak ada jalan lain selain meminjam kamar mandi Baekhyun. Ia harus segera berbilas.

 

Minri memegang kenop pintu kamar Baekhyun, berharap pria itu tidak menguncinya. Dan pintu pun terbuka saat Minri mendorongnya ke dalam. Masuk mengendap, mendapati kamar itu agak gelap seperti kamarnya. Dan Minri sempat melirik Baekhyun yang masih tidur dengan nyaman di atas tempat tidurnya.

“Baek, aku minjam kamar mandimu sebentar,” bisik Minri entah pada siapa, sebelum masuk kamar mandi pria yang tinggal satu atap dengannya. Pertama kali.

***

Baekhyun bangun dari tidurnya. Telinganya menangkap bunyi guyuran air yang berasal dari dalam kamar mandinya. Begitu aneh dan sedikit menyeramkan.

Belum sempat Baekhyun berpikir lebih jauh tentang keanehan kamar mandinya, seseorang keluar dari sana, dengan handuk yang melilit tubuh mulus wanita, dan untaian surai kecoklatan yang basah, dengan tetes-tetes air diujungnya. Menyegarkan. SIAPA?!

“Baek?!” Minri terlonjak dari langkahnya. Berdiri kikuk di depan pintu kamar mandi pria, dan di hadapan pemiliknya.

Baekhyun duduk dengan cepat di tempat tidurnya. Matanya melebar kaget, dan dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah manapun, selain wajah dan tubuh gadis itu.

“Apa, a-pa yang kau lakukan di kamarku??” tanya Baekhyun dengan nada dingin, menyerupai air yang menusuk-nusuk kulit tubuh Minri.

“Aku, aku hanya meminjam…” bibir merah muda pucat itu bergetar saat angin menelusup ventilasi kamar Baekhyun.

“Keluar.”

“Baek, kau marah?” Minri meninggikan suaranya, nyaris tidak percaya dengan perubahan sikap Baekhyun.

“Ini bukan pertama kalinya aku masuk kamarmu, lantas kenapa kau…”

“Sekarang!”

Minri mengatupkan bibirnya membuat gigi-gigi beradu, dengan bibir yang bergetar dan mata memanas ia keluar dari kamar itu. Membanting pintu.

 

Minri mengacak-acak isi lemarinya. Bukan tanpa alasan. Ia mencari pakaian yang akan dipakainya kuliah pagi ini. Untuk ujian hari ini. Tapi Baekhyun mengacaukan segalanya. Mengacaukan pikirannya.

Seseorang dengan mood yang berubah-ubah macam Minri akan cepat melupakan tujuan awalnya ketika hal yang baru datang mengacaukan.

Dan Minri melemparkan sepotong kaos polo dengan gusar ke samping tempat tidurnya, membuat gelas yang berasa di atasnya jatuh ke lantai bersama baju itu. Menimbulkan suara ribut yang menyebalkan.

Ia tidak akan ikut ujian hari ini. Sudah terlambat.

Tapi ia akan tetap ke kampus. Setidaknya tempat itu lebih luas dari rumah ini. Membuatnya bisa menjauh dari Baekhyun untuk sementara, sampai amarahnya mereda. Sampai ia bisa melupakan wajah dingin yang menyebalkan dari Baekhyun untuk pertama kalinya.

***

Prang!!

Suara pecahan kaca terdengar sampai kamar Baekhyun. Suara itu Baekhyun yakini berasal dari sebelah kamarnya–kamar Minri.

Apakah Minri marah padaku?

Baekhyun ingat betul seberapa tajam kilatan marah dari mata gadis itu saat menatap Baekhyun yang mengusir Minri dari kamarnya.

Baekhyun tidak punya pilihan lain selain mengusir gadis itu dari kamarnya. Memangnya siapa yang tidak kaget, Baekhyun–pria single mendapati seorang gadis keluar dari kamar mandinya dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubuh bagian atas sampai setengah pahanya.

Hey, Baekhyun juga seorang pria normal!

Suara pintu berdebam terdengar lagi, diiringi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan marah. Semakin lama suara langkah kaki itu semakin jauh hingga menghilang. Menciptakan suasanya hening.

Baekhyun bangkit dari tempat tidurnya, menyibak gorden hingga matahari menyapa wajahnya dengan cepat, membuat wajahnya tampak memancarkan cahaya sendiri. Matanya menyipit karena silau, lalu menjauh dari jendela.

Baekhyun keluar kamarnya. Ia akan ke dapur membuat sarapan untuk ia sendiri, karena Minri pasti sudah pergi.

Ia menghentikan langkah di depan kamar Minri. Dengan lancang membuka kamar itu dan masuk. Menyapukan pandangan ke sekeliling kamar. Kacau. Sungguh.

Terakhir ia masuk ke kamar itu tadi malam, kamar itu masih baik-baik saja. Benar-benar kamar yang unik jika disebut kamar wanita. Minri hebat. Bisa mengacaukan isi kamarnya dalam waktu singkat.

Baekhyun menggeleng sembari mendecak. Gadis itu belum cukup dewasa untuk tinggal jauh dari orang tuanya.

Itulah mengapa Baekhyun merasa Minri membutuhkannya. Ah, tidak. Mungkin Baekhyun terlalu berandai-andai untuk hal itu. Padahal Minri sudah memiliki Sehun dalam hidupnya.

Satu lagi hal lancang yang dilakukannya. Ia membersihkan kamar itu, dan merapikannya. Tanpa merubah tata letak perabotan dan menyentuh benda yang tidak perlu.

Dan ia menemukan fotonya bersama Minri ketika mereka selesai membersihkan apartemen yang mereka tinggali saat ini, mengecat dinding dan memasang wallpaper. Baekhyun tersenyum tipis saat ingatannya melayang pada memori itu.

Lalu satu foto yang terlapis, jatuh ke lantai. Baekhyun memungutnya, dan senyumnya memudar saat menatap foto Minri bersama Sehun.

***

Minri melangkahkan kakinya menuju kafe di samping universitas. Aura di wajahnya tampak gelap. Semua orang pasti tahu bahwa mood gadis itu sedang buruk, bahkan dengan melihat wajahnya saja.

Cappuccino ice, 1.”

Setelah menyebutkan pesanannya, ia menghempaskan backpack-nya di atas meja kafe, menimbulkan suara benda keras yang beradu terdengar nyaring. Apapun yang telah membentur meja itu, ia tidak peduli.

Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari kantong kecil di samping backpacknya. Jarinya bergerak lincah di atas layar. Ia memilih memainkan game dalam ponselnya untuk menurunkan badmood sembari menunggu cappuccino-nya selesai dibuat.

Berselang lima menit, bunyi kursi yang ditarik, membuat Minri menghentikan permainannya. Kemudian seorang pria duduk di depannya, dengan senyum sumringah, sampai matanya hanya berbentuk garis.

Oh Sehun.

“Hai, aku tidak melihatmu di kelas. Dari mana saja?” tanya Sehun.

“Aku terlambat.”

Pelayan ramah berwajah manis mengantarkan minuman Minri. Pelayan bermata besar itu tersenyum membuat bibirnya membentuk hati.

“Hai Sehun-ssi, kau mau pesan sesuatu?” tanya Kyungsoo–nama pelayan itu–sambil meletakkan minuman Minri di atas meja.

Kyungsoo sudah kenal baik dengan mereka berdua. Dan dia cukup tahu seberapa jauh hubungan Minri dan Sehun.

“Tidak perlu Kyungsoo-ssi, terimakasih.”

Kyungsoo berbisik pada Sehun, sementara Minri hanya menatap kedua laki-laki itu dengan pandangan datar. Sehun tampak mengangguk, mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan Kyungsoo. Kemudian Kyungsoo pergi.

“Bagaimana kalau kita pergi ke taman saja? Cuaca sedang bagus. Kajja!”

Minri mengangkat satu alisnya. Bahkan tanpa persetujuan Minri, Sehun sudah membawa tas Minri. Dengan perasaan bingung Minri tetap mengikuti Sehun. Ia membawa minumannya dan juga ponselnya. Minri tidak protes.

“Bagaimana? Apa perasaanmu sudah lebih baik?”

Sehun duduk di salah satu bangku panjang di taman, lalu meletakkan tas Minri disana. Tangannya menarik lengan Minri pelan, agar gadis itu segera duduk di sampingnya. Tanpa canggung ia merangkulkan tangannya di bahu Minri.

“Eoh? Darimana kau tahu kalau aku sedang dalam mood yang buruk?”

“Kyungsoo yang mengatakannya padaku,” jawab Sehun. Kakinya memainkan rumput secara acak.

“Hebat sekali Kyungsoo bisa mengetahuinya.”

Minri menunduk. Memandangi rerumputan dan beberapa bunga yang tumbuh rendah. Sesekali ia menyesap cappuccino es kesukaannya. Sehun tidak bicara lagi. Ia membiarkan Minri tenang, karena jika Sehun mengajak Minri terus-terusan bicara dalam keadaan seperti ini, Minri pasti pergi. Sehun tahu Minri suka ketenangan.

Sehun memegang satu tangan Minri membuat gadis itu sedikit terkesiap.

“Kau bisa cerita padaku tentang apa yang membuatmu kesal hari ini.”

Minri membalas genggaman tangan Sehun. Lembut dan hangat.

Minri berpikir sesaat. Ia tidak mungkin cerita pada Sehun bahwa ia marah pada Baekhyun karena Baekhyun mengusirnya dari kamar miliknya. Karena semua terdengar konyol jika Minri yang marah. Minri berada dalam posisi bersalah kali ini.

“Hanya terjadi sedikit kesalahpahaman antara aku dan Baekhyun.”

Minri tersenyum tipis pada Sehun, mengisyaratkan pada pria itu bahwa ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi Sehun tidak sesederhana itu. Ia tahu bahwa gadis itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

“Kapanpun kau butuh teman, aku akan selalu ada di sampingmu, kau tahu.”

Gomawo,” ucap Minri lirih.

Apa yang harus dilakukannya jika bertemu Baekhyun nanti? Mereka tidak pernah bertengkar seperti ini sebelumnya.

Tiba-tiba matanya memanas. Well, mungkin kekesalannya pada Baekhyun sudah cukup reda kali ini. Apa ia mesti minta maaf? Tapi bagaimana? Dia benar-benar kalut.

Dan keberadaan Sehun membuatnya merasa bersalah. Sehun terlalu baik. Tanpa tahu bahwa Minri sendiri ragu akan cintanya pada Sehun. Harusnya Minri mengambil keputusan sesegera mungkin. Ia tidak mungkin menyakiti Sehun lebih dalam lagi.

Sehun memeluk Minri dengan tiba-tiba. Bersamaan dengan itu air mata Minri menetes. Sehun mungkin tidak melihat air mata itu. Tapi Sehun bisa merasakan bahunya yang sedikit basah. Dan cengkraman gadis itu pada kemejanya begitu erat.

Sehun melepaskan pelukan itu. Lantas menatap kedua mata Minri. Mencoba menyelami hal yang tidak ia mengerti. Sehun mendekatkan wajahnya. Ia percaya bahwa sebuah kecupan hangat yang tulus akan memberikan perasaan lebih baik pada gadisnya. Jarak mereka hanya tinggal beberapa senti, namun Minri tanpa diduga memalingkan wajahnya. Ia meletakkan kepalanya di dada Sehun.

Dan saat itu Sehun sadar, bahwa air mata Minri, rasa kesal dan kesedihannya tidak lain karena Minri takut kehilangan Baekhyun. Minri tidak ingin jauh dari Baekhyun. Dan Minri takut kesalahpahaman antara mereka akan berlangsung lama.

Meskipun Sehun tidak tahu secara spesifik masalah apa yang terjadi antara mereka berdua. Tapi Sehun yakin, sesuatu telah berubah.

Ada yang telah berbeda.

***

Minri membuka pintu apartemen tanpa bicara apa-apa. Biasanya ia akan berteriak, bahwa ia sudah pulang, meskipun ia tahu saat itu tidak ada seorangpun disana. Tapi kali ini ia benar-benar bungkam. Ia melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak–ini juga tidak biasa.

Minri melewati ruang tengah dan menemukan Baekhyun tengah menonton televisi. Ia bersikap seolah-olah tidak melihat seorang pun disana.

Baekhyun melirik ke arah Minri sesaat, lalu kembali fokus ke televisi. Matanya memang lurus ke sana, tapi pikirannya sedang berkecamuk. Baekhyun mungkin terlalu kasar pada Minri tadi pagi, harusnya Baekhyun mendengarkan penjelasan Minri. Tapi semuanya sudah terlanjur. Baekhyun tidak bisa mengontrol emosinya.

Baekhyun menghela nafas.

Minri melewati Baekhyun dengan pandangan menunduk. Tanpa sengaja kakinya tersandung ujung meja. Baekhyun sontak menegakkan duduknya, berniat menolong gadis itu. Tapi ia tidak jadi jatuh. Namun Baekhyun yakin benturan itu membuat kakinya sakit.

“Belum makan siang lagi,” sindir Baekhyun.

“Peduli apa kau?” Minri tersenyum sinis. Ia menghadapkan wajahnya menatap Baekhyun. Kedua mata mereka beradu. Berkilat tajam. Seperti menembakan laser satu sama lain.

“Peduli apa kau bilang?”

Ne! Untuk apa kau peduli padaku??” Minri menggenggam tangannya dengan keras sampai ia merasa sakit karena kuku tangan yang mengenai telapaknya.

Baekhyun berdiri dan membanting bantal sofa. Matanya tidak pernah lepas menatap mata gadis itu. Lantas mendengus. Meremehkan.

“Kau benar. Untuk apa aku peduli pada orang yang bahkan tidak pernah peduli pada dirinya sendiri?!”

Jangan… Jangan berhenti mempedulikanku…

Baekhyun menarik pergelangan tangan Minri dengan kasar. Mendorong tubuh gadis itu ke dinding ruang tengah. Pergelangannya sedikit memerah karena Baekhyun menggenggam terlalu erat. Lalu menghempaskannya. Genggaman tangan Baekhyun meninju dinding di samping wajah Minri. Sementara Minri hanya melebarkan mata. Semuanya terlalu cepat. Terlalu cepat untuk Baekhyun menyatukan bibir mereka. Terlalu cepat untuk Baekhyun…. menciumnya.

Untuk pertama kalinya.

Bukan. Bukan seperti ini yang dinginkannya. Harusnya mereka bisa meredam keegoisan masing-masing. Minta maaf adalah jalan terbaik. Tapi mengapa mereka begitu sulit untuk melakukannya?

Baekhyun melakukannya dengan kasar. Ia menumpahkan semua emosinya disana. Minri tidak melakukan apapun. Ia ingin sekali mendorong tubuh Baekhyun menjauh. Menghentikan Baekhyun menjamah bibirnya. Tapi ia tidak bisa. Tidak ada tenaga untuk melakukan itu semua. Hingga Minri hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Ia takut.

Baekhyun melepaskan tautan bibir mereka. Napas mereka tampak memburu. Minri mencakar dinding dibelakangnya, sampai tampak goresan di dinding itu.

“Kenapa kau yang harus marah padaku? Kenapa?!”

Minri menelan ludahnya keras-keras. Baekhyun sungguh… membuatnya takut. Seperti bukan Baekhyun.

“Apa kau tidak berpikir bahwa kau tinggal bersama seorang pria? Aku bisa saja berbuat yang tidak kau inginkan jika kau terus-terusan menggodaku seperti itu. Kau mengerti!”

PLAKK!

Minri melayangkan tamparannya ke pipi Baekhyun. Tidak hanya Baekhyun, Minri sendiripun kaget atas apa yang baru saja ia lakukan. Tapi ia merasa tersinggung. Pria yang disayanginya sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.

“AKU tidak pernah menggodamu!! Kau  kira aku wanita murahan karena mau tinggal bersama lelaki yang baru ku kenal? Kau salah besar tuan Byun!!”

Minri meninggalkan tempat itu dengan langkah gusar. Ia tampak sedikit terpincang. Dan dengan punggung tangannya, ia menyapu kasar bibirnya yang sedikit basah. Lantas masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu hingga menimbulkan suara berdebam.

Baekhyun memandangi punggung gadis itu sampai ia menghilang dibalik pintu kamarnya. Dengan sisa tenaganya, Baekhyun meninju dinding yang sama sekali tidak bersalah.

***

Minri menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia membenamkan wajahnya di dalam bantal. Ia  tidak menyadari bahwa kamar yang telah ia buat menjadi kapal pecah tadi pagi, telah kembali normal. Ia lebih sibuk memikirkan peristiwa ketika Baekhyun berucap dingin padanya dan juga.. menciumnya.

Minri berbaring menyamping, menarik selimut sampai menutup lehernya. Bahunya bergetar hebat tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Gadis itu menangis dalam diam. Dalam kegelapan kamarnya.

***

Bunyi kicauan burung menandakan bahwa hari baru telah tiba. Matahari bersembunyi di balik awan. Musim dingin masih melanda kawasan Manhattan.

Baekhyun memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Ia tidak tahu jam berapa ia bisa tertidur. Karena sungguh kejadian tadi malam membuatnya sulit memejamkan mata.

Baekhyun merasa bodoh. Ia akan semakin membuat gadis itu membencinya. Mungkin sebentar lagi Minri akan meninggalkannya dan menerima lamaran Sehun. Lupakan saja perasaan cintanya pada gadis itu.

Harapan Baekhyun terlalu tinggi untuk berharap bahwa gadis itu akan menolak lamaran Sehun dan lebih memilihnya.

Dengan tenaga seadanya ia bangkit dari tempat tidurnya. Mengabaikan penglihatannya yang tiba-tiba menggelap. Ia berhenti berjalan sebentar, lalu membuka matanya pelan. Ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju dapur.

Ia menemukan Minri sedang menuang sereal ke dalam mangkuk. Satu gelas susu coklat ada di meja itu. Baru kali ini Baekhyun melihat Minri menyiapkan sarapan sendiri. Biasanya ia lebih memilih sarapan di luar kalau Baekhyun tidak menyiapkan untuknya. Tapi kali ini ia melakukannya sendiri. Muncul perasaan takut, saat Baekhyun berpikir bahwa Minri sudah tidak membutuhkannya lagi.

Minri melirik Baekhyun sebentar. Lalu kembali fokus pada sarapannya. Ia menunduk memandangi mangkuk sereal dan mengaduk-aduk sereal itu sebelum memasukkan ke dalam mulutnya.

Baekhyun menghampiri Minri. Ia berdiri diam di samping gadis itu. Lalu memegang satu tangan Minri yang bebas. Minri yang terkesiap langsung menarik tangannya dan menatap Baekhyun dengan pandangan sedih.

Tidak ada kilatan emosi seperti tadi malam. Ia lelah terus-terusan bertengkar dengan Baekhyun.

“Maafkan aku,” ucap Baekhyun.

“Aku yang salah, Baek.”

Hening.

Minri memaafkannya? Tidak mungkin secepat itu. Tidak semudah itu.

“Aku mohon maafkan aku, Minri-ya.”

Baekhyun berlutut di samping Minri, membuat Minri menoleh kaget.

“Berdirilah Baek… Aku yang mestinya minta maaf.”

Minri mendorong kursinya ke belakang, lantas berdiri.  Ia pun menarik tangan Baekhyun agar laki-laki itu berdiri.

“Aku tahu ini sedikit terlambat tapi… maafkan aku. Aku terlalu kekanak-kanakan. Aku mengerti bahwa kau butuh privasi. Aku tidak akan seenaknya masuk kamarmu lagi.”

Baekhyun memeluk Minri, membuat gadis itu berhenti bicara.

“Bukan itu yang membuatku marah Minri-ya. Aku hanya takut tidak bisa mengontrol diriku.”

Minri mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Baekhyun. Minri tahu siapa yang diinginkannya. Minri tahu siapa yang paling dirindukannya.

“Aku marah pada diriku sendiri karena telah bersikap kasar padamu. Aku takut perlakuan baik yang ku lakukan selama ini akan membuat Sehun salah paham, dan membuat hubungan kalian terancam. Aku takut merenggut kebahagianmu dengan Sehun. Maka dari itu aku lebih memilih untuk menyisihkan perasaan sayang itu.”

“Sayang?”

“Hmm, aku sayang padamu.”

Kali ini Baekhyun bertekad tidak akan melangkah mundur. Ia akan tetap menyayangi Minri meskipun ia sudah memiliki kekasih. Baekhyun tahu itu salah. Tapi cintanya tidak pernah salah.

Minri mengangkat kepalanya, menatap jauh ke dalam mata Baekhyun. Dan Baekhyun membiarkan gadis itu memandanginya. Ia sudah mengatakan semuanya. Perasaannya sedikit lega.  Tapi ia harus siap jika gadis itu mengangkat kaki dari apartemen ini. Ia harus siap jika gadis yang dicintainya pergi karena memilih kekasihnya.

Biib Biib!!

Dering panggilan dari ponsel Minri terdengar sampai dapur. Menghentikan kegiatan Minri memandangi Baekhyun. Ia segera berjalan menuju kamarnya. Langkahnya sudah terlihat normal. Kakinya yang sakit karena benturan tadi malam sepertinya sudah sembuh.

Baekhyun duduk di salah satu kursi di meja makan itu. Tidak ada yang dilakukannya. Ia hanya memandangi sereal dan gelas susu buatan Minri. Sampai beberapa menit berselang. Gadis itu kembali.

“Boleh aku meminum ini?” tanya Baekhyun sambil mengangkat gelas tinggi dan ramping itu.

Baekhyun baru akan meminumnya, tapi tidak jadi. Ia bertanya pada Minri, “Oh iya, kau kuliah hari ini?”

“Tidak. Tapi Sehun mengajakku bertemu.”

“Oh.”

Setelah menanggapi dengan singkat jawaban Minri, Baekhyun mulai mendekatkan bibir gelas dengan bibirnya. Ia meminum dengan pelan. Baru sedikit yang melewati tenggorokannya. Ia tersedak.

“Apa rasanya aneh Baek?” tanya Minri saat menyadari perubahan raut wajah Baekhyun saat mencoba minuman buatannya.

Aniyo… emm, berapa banyak kau memasukkan gula?”

“Dua sendok.”

Baekhyun tertawa pelan lantas meletakkan gelas itu di atas meja.

“Kau bilang tidak suka yang terlalu manis. Kau terlalu bersemangat memasukkan gula Minri-ya.”

“Memangnya seberapa buruk?” Minri dengan rasa penasarannya ikut meminum susu coklat buatannya. Dan tepat setelah tegukan pertama, ia langsung meletakkan kembali gelas itu.

“Kalau begini aku bisa terserang diabetes,” sungut Minri.

“Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu. Bagaimana?” Baekhyun mengusak puncak kepala gadis itu.

Ne, joahaeyo!

Minri menyengir. Sudah beberapa hari Baekhyun tidak melihat ekspresi seperti itu. Ia seperti anak gadis yang polos kalau tersenyum seperti itu. Kalau sudah begini, bagaimana bisa Baekhyun mengabaikannya?

Baekhyun tersenyum lantas melangkah menuju lemari tempat penyimpanan. Sementara Minri kembali duduk di meja makan dan melanjutkan makan serealnya. Mata gadis itu tidak beralih dari punggung Baekhyun.

Baekhyun selalu ada untuknya.

Baekhyun menyayanginya.

Dan Minri harus segera melakukan sesuatu. Ia akan bicara dengan Sehun. Dan meluruskan semuanya. Sebelum semuanya terlambat.

***

Musik ballad mengalun di dalam kafe yang Minri janjikan dengan Sehun. Minri mengarahkan pandangannya ke luar sembari bersenandung kecil. Baru kali ini ia menunggu seseorang, dan rasanya tidak semenyebalkan yang ia pikirkan.

Minri memasukkan kedua tangannya di saku coat-nya. Tangan kanannya menggenggam kotak beludru yang berisi cincin pemberian Sehun. Dan hari ini ia akan mengembalikannya.

Gadis itu menyesap cappuccino hangat yang di pesannya. Minuman favoritnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Minri meletakkan cangkirnya lantas mengangkat telpon. Tertera nama Sehun di layar ponselnya.

“Ya Sehun?”

“Minri-ya, maaf, aku tidak bisa datang hari ini. Aku mendadak ada jadwal. Maaf sekali…” ucap Sehun dengan nada kecewa. Baru kali ini ia membatalkan janji dengan Minri.

“Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali.”

Minri tersenyum, meskipun tahu bahwa Sehun tidak  bisa melihatnya.

“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Aku sayang padamu.”

Ucapan Sehun mengakhiri percakapan mereka berdua. Minri menggenggam kotak cincin itu sekali lagi, sebelum beranjak dari kafe itu.

 

Meskipun sudah memasuki musim dingin, namun aktivitas kota Manhattan tidak pernah surut. Kendaraan berlalu lalang. Beberapa tampak terburu-buru. Minri berjalan dengan langkah cepat beriringan dengan pejalan kaki lain. Ia merapatkan coat coklatnya. Mencegah angin menyentuh kulitnya.

Karena tidak ada jadwal apapun di kampus, hari ini ia akan istirahat di apartemen. Menonton film fantasi di temani segelas coklat hangat buatan Baekhyun kedengarannya menyenangkan. Kira-kira Baekhyun ada di apartemen tidak ya? Eh lebih baik ia ke supermarket lebih dahulu.

Minri mempercepat langkahnya. Ia menyeberang jalan bersama pejalan kaki lain. Minri mengeluarkan ponsel dari sakunya.  Bersamaan dengan itu, kotak cincinnya terjatuh. Minri menunduk, mengambil kotak cincin itu. Tanpa ia sadari ia berdiri sendiri di pertengahan jalan. Sebuah mobil melaju tak terkendali dari arah lain.

Kalau waktu bisa dihentikan, kalau saja waktu bisa di putar ulang, semuanya mungkin tidak akan terjadi. Tapi tak ada yang bisa melawan waktu, takdir menginginkannya.

Dan dentuman keras memenuhi jalan itu, membuat suasana mendadak mencekam.

Minri merasakan tubuhnya terlempar cukup jauh. Sakit mendera di sekujur tubuh. Minri masih bisa mendengar riuh para pejalan kaki yang tampak panik.

“Baekhyun…” lirih Minri.

Hanya itu yang dapat diucapkannya sebelum ia kehilangan kesadarannya.

***BERSAMBUNG***

Maaf ya bersambung lagi ^o^/ bentar lg tamat kok. Komen, kritik dan saran dipersilakan. Yang sopan ya :3 jangan ngebash, bilangin byunbaek nanti(?) wkwk oke, pyeong~ *teleport*

Cr: charismagirl, twit, fb.

 

Iklan

Penulis:

Being fangirl is not easy as looks, so respect each other is better. EXO-Love. Byun Baekhyun. Wanna One. Bae Jinyoung. ❤

159 tanggapan untuk “You And Him – part 2

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s