Diposkan pada Chan Yeol, Chapter, EXO-K, Ondubu_2806, Romance

Love Eyes – Part 2 [I Meet U]

LOVE-EYES.jpg---2

Title                 : love eyes

Cast                 : Park Chanyeol

                           Park Jiyeon

Other Cast     : Baekhyun and Other [ cooming soon ]

Author             : Shyyinee05 (Ondubu_2806)

Genre              : Romance

 

“Maafkan aku yang dengan lancang ikut campur dalam urusan kalian. Tetapi aku tak ingin kau terus menerus memukul anakmu seperti itu. Ibu macam apa kau bertindak kasar terhadap anakmu sendiri? Tak seharusnya kau berkata kasar terhadap Jiyeon seperti itu! Dan memang benar aku adalah kekasih Jiyeon”

Plaaakkk

Sebuah tamparan mendarat pada pipi lelaki itu. Ia terkejut dengan apa yang barusan ia katakan terhadap ibu gadis itu. Tak seharusnya ia berkata seperti itu terhadap orang tua. Ia sadar ia pantas mendapat tamparan dari Jiyeon, karena ia sangat lancang menghina ibu gadis itu.

“Kenapa kau ada sini? Kau tak seharusnya berkata seperti itu pada ibuku! Aku pikir kau orang baik, tetapi kau sama saja seperti orang-orang yang selalu menghinaku. Kau menghina ibuku, sama saja kau menginaku! Aku tak ingin memiliki teman sepertimu, lebih baik kau pergi dari ini! Dan jangan ganggu aku lagi!”

***

“Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh”

Ucap lelaki itu seraya memukul stir kemudi mobilnya, menyesali apa yang telah ia lakukan beberapa saat yang lalu. kedua mata lelaki itu memerah, memancarkan kemarahan yang begitu besar. Tak pernah ia semarah ini sebelumnya, dan juga ini kali pertama ia merasakan sakit yang begitu besar di hatinya. Ada apa dengannya hari ini?

“Apa yang telah kau lakukan, Chanyeol bodoh?” umpatnya pada dirinya sendiri saat mengingat kejadian tersebut yang mengakibatkan semuanya hancur seketika karena ulah yang seharusnya tak ia lakukan.

Baru saja ia berhasil meluluhkan hati Jiyeon untuk bisa menerima dirinya sebagai teman gadis itu, tetapi karena ucapan yang terlontar dari mulutnya membuat tali perteman yang baru saja terjalin kini pupus sudah.

Lelaki itu meremas kemudi mobilnya yang membuat kedua tangannya memerah, rasa sakit pada tangannya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

Mobil sport hitam itu melaju kencang menembus malam kota Seoul.

“Bolehkan aku menjadi temanmu?”

Kata itu kembali terngiang di benaknya. Pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut seorang laki-laki asing yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu. seharusnya ia tak termakan omongan lelaki itu, yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang baik yang tak akan menyakitinya.

“Bodoh” umpatnya seraya menggenggam erat tangan kanan yang telah menampar Chanyeol beberapa saat yang lalu. “Aku tak seharusnya dengan cepat mempercayainya”

Dengan perlahan ia membaringkan tubuhnya di atas kasur, di pejamkan matanya berusaha menenangkan hatinya yang saat ini begitu kacau. Pikirannya berputar bagai roll film yang menayangkan adegan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan lelaki itu. Adegan di saat lelaki itu berusaha untuk menjadi temannya hingga adegan di mana kejadian satu jam yang lalu saat Chanyeol berusaha membela dirinya dari siksaan ibunya. Sampai saat tangannya mendarat dengan mulus di pipi lelaki itu.

Andai waktu bisa berputar kembali, ia akan memilih untuk tidak bertemu dengan lelaki itu. Penyesalan yang ia rasakan saat ini memang tak ada gunanya, nasi sudah menjadi bubur. Di satu sisi ia sangat menyesal dan merasa bersalah telah melakukan itu pada Chanyeol, tetapi di sisi lain ia tak terima jika ada orang lain yang mencaci ibunya walau ibunya tak pernah memperlakukannya dengan baik. Bagaimapun juga seorang ibu tetaplah seorang ibu yang telah melahirkannya ,apapun yang telah di lakukan oleh ibunya padanya.

Matanya perlahan tertutup dan dalam hitungan detik gadis itupun tertidur setelah apa yang telah ia alami hari ini.

***

“Oppa, apakah hari ini kau baik-baik saja?”

“Kau tahu di sini aku sangat kesepian sejak kau pergi”

“Apa aku ini sebagai seorang psikolog bagimu yang selalu medengarkan keluh kesahmu saja, huh?”

“Hei…tiang listrik, cepat balas pesanku!”

Suara pesan kakao talk dari seseorang terus saja berbunyi. Ada puluhan pesan yang masuk dalam kakao talk milik Chanyeol. Entah berapa kali bunyi tanda pesan masuk itu berbunyi, tak satupun lelaki itu membalasnya sejak percakapan di antara keduanya terputus setelah Chanyeol sudah tak kuat lagi untuk terus melanjutkan percakapan kakao talk dengan orang yang mengirim pesan tersebut. Tepat jam empat pagi lelaki itu tertidur dan tak menghiraukan beberapa panggilan masuk di ponselnya.

Gadis berambut panjang dengan kaca mata hitam di wajahnya lengkap dengan kaos putih dan jaket warna merah bercorak kotak-kotak yang terikat di pinggang rampingnya. Membuat gadis itu terlihat funky dan sedikit tomboy. Dia tampak terlihat kesal saat ia menelepon seseorang yang sedari tadi tak kunjung memberi jawaban atas panggilannya.

Di raihnya koper yang berada di sampingnya dengan tergesa-gesa karena hari sudah mulai gelap. Siapapun yang berada di posisi gadis itu pasti akan merasa kesal dan juga marah, pasalnya ia tiba dari Canada ke korea tiga jam yang lalu. Dan gadis itu tak satupun yang terlihat menjemputnya di bandara saat itu. Dengan rasa kesal, iapun memutuskan untuk menaiki taxi menuju ruamhnya.

***

Lelaki jangkung itu terduduk di pinggiran tempat tidurnya seraya kepalanya yang tertunduk, tatapan lurus menatap lantai putih kamarnya. Entah apa yang menarik dari lantai yang bercorak polos itu sehingga membuatnya tak bergeming dari posisinya. Pikirannya terus saja mengingat kejadian dua hari yang lalu.

Apa kalian tahu? Seorang Park Chanyeol  yang awalnya adalah lelaki yang ceria dan tak mudah putus asa, juga selalu berpikir masa bodoh dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Tetapi hari ini, seorang Park Chanyeol telah berubah 180 derajat.

Park Jiyeon

Nama itulah yang telah membuat Chanyeol menjadi seperti sekarang ini. Entahlah perasaan apa yang telah menghantuinya belakangan ini. Ada sensasi yang berbeda pada saat matanya menatap mata gadis itu, sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya ketika ia bertatapan dengan gadis-gadis yang ia temui.

Tatapan mata Jiyeon begitu teduh yang membuat hati Chanyeol saat itu begitu nyaman. Tetapi ada kepedihan yang terpancar dari tatapan matanya, bola mata kecoklatan itu seakan berteriak meronta seakan ingin terbang bebas dari belenggu kehidupan yang di jalaninya saat ini. Itulah yang membuat lelaki itu begitu kesakitan saat dirinya membuat gadis yang baru ia temui beberapa hari itu tersakiti olehnya.

Bukan karena ia berlebihan, tetapi inilah yang ia rasakan di dalam hatinya.

Drrrtt Drrrttt

Seketika ia terbangun dari lamunannya, di angkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Kepalanya menoleh ke arah jam dinding yang berada dekat dengan lemari. Pukul tujuh malam dan ia baru tersadar bahwa sedari pagi ia hanya menghabiskan waktunya untuk tidur bahkan tak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya.

Di raihnya ponsel yang berada di atas nakas, kemudian ia melihat pemanggil dengan nomor yang tak terdaftar di dalam kontak miliknya. Siapa yang meneleponnya dengan nomor asing? Apa mungkin Baekhyun yang menelponnya dengan nomor asing dan orang itu akan mengerjainya? Yah, mungkin saja orang itu berniat lagi untuk mengerjainya karena ini sudah kesekian kalinya ia di kerjai oleh teman masa kecilnya itu. Tanpa ragu Chanyeol menggeser layar touch screennya untuk menjawab panggilan itu.

“Yaa, Baekhyun-ah belum puaskah kau mengerjaiku, huh? “

Ucap Chanyeol seakan tahu bahwa yang menelponnya itu adalah Baekhyun temannya.

“Heii! Tiang listrik! Apa kau tuli, huh? Berapa kali aku menelponmu, satupun kau tak menjawab panggilanku dan pesanku juga tak kau balas. Bahkan aku menelponmu pakai nomor lain kau malah menjawabnya dan kau mengikra aku ini Baekhyun? Hei, apa kau sudah bosan hidup Park Chanyeol? Oh, Tuhan apa dosaku memiliki oppa sepertimu”

Spontan Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara di seberang telpon berteriak memarahinya. Lelaki itupun dengan cepat menyadari pemilik suara tersebut, dan menepuk keningnya. Habis sudah riwayatnya kali ini, suara dari seorang gadis yang tiga tahun lebih muda darinya.

“Buka jendelamu!”

“Mi—“

“CEPAT”

“N—ne”

Tanpa basa basi lagi, Chanyeol dengan sigap membuka tirai jendelanya, dan matanya menangkap seorang gadis yang sangat familiar. Seketika Chanyeol merinding melihat tatapan membunuh dari gadis itu, iapun memperlihatkan cengiran khasnya.

“Hehehe…A—annyeong”

Chanyeol berusaha menyembunyikan rasa takutnya seraya melambaikan tangannya. Tapi selang beberapa detik gadis itu mengangkat tangan kanannya dan menunjuk tepat ke arah Chanyeol. Mata lelaki itupun membulat sempurna setelah melihat gadis itu memberikan isyarat melalui tangannya. Gadis itu memberikan isyarat melalui gerakan tangan yang seolah-olah ingin memotong leher lelaki itu. Sementara Chanyeol menegak liurnya dengan susah payah.

BRUUKK

Dengan sigap Chanyeol menangkap koper yang secara tiba-tiba meluncur ke arahnya. Iapun meringis kesakitan karena koper yang di tangkapnya begitu berat. Sementara itu pemilik koper langsung menuju sofa dan merebahkan badannya. Gadis itu menggeliat merenggangkan semua ototnya, rasa pegal begitu terasa karena ia harus berjalan kaki sambil membawa koper miliknya menuju rumah.

“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya jika kau ingin pulang?” tanya Chanyeol setelah meletakkan koper besar itu di dekat sofa tempat gadis itu berbaring. Setelah itu ia menuju dapur dan membuka kulkas untuk memberikan gadis itu minuman.

“Aku hanya ingin memberikan kejutan padamu. Karena aku tahu eomma dan juga appa sedang tidak ada di rumah, jadi aku putuskan saja untuk pulang tanpa memberitahumu” jawabnya sambil membuka sepatu boots hitamnya.

“Setahuku, ini bukan waktunya untuk liburan. Atau kau membolos lagi?” ucap Chanyeol sembari menyodorkan sebotol air mineral dan mengambil posisi duduk dekat dengan gadis itu.

“Aku ingin meneruskan sekolahku di sini saja, lagi pula disini kan tempat tinggalku” ujar gadis itu sambil meminum air yang di suguhkan oleh Chanyeol.

“Dan—“

PLAK

“Aarrghh”

“YAA! Kenapa kau memukulku, huh?”

Chanyeol meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya yang mendapatkan pukulan secara mendadak dari Hyorin.

“Jelas saja aku memukulmu. Kau pikir menunggu itu menyenangkan? Kau pikir jalan kaki itu juga menyenangkan? Dasar pabbo!”

Pukulan demi pukulan di layangkan pada Chanyeol. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar, menunggu itu adaah pekerjaan yang sangat membosankan. Dan juga berjalan kaki di tengah jalanan sepi itu sangatah menakutkan. Terlebih itu adalah seorang gadis yang sangat rawan mendapatkan tindak kejahatan.

Oh, tapi aku jangan meremhkan gadis bernama Park hyorin. Walaupun secara fisik berwujud wanita, tetapi mentalnya melebihi laki-laki. Keberanian dan kekuatan yang dimiliki oleh Hyorin berbanding terbalik dengan Chanyeol yang notabene merupakan kakak lelakinya.

Bias dibuktikan betapa kerasnya pukulan Hyorin yang di berikan pada lelaki itu. Sehingga membuat Chanyeol tak bisa melawan gadis itu.

Lelaki itu—Park Chanyeol—meringis kesakitan di sekujur tubuhnya akibat beberapa pukulan dari Hyorin.

“Aissshh! Dasar adik durhaka”

Gerutu Chanyeol saat mendapati lengannya sedikit lebam. Oh, Tuhan sekuat itukah kekuatan yang dimiliki gadis berumur 17 tahun itu? Dasar laki-laki lemah dengan wanita saja kau kalah. Bagaimana jika nantinya kau akan melindungi wanita yang kau cintai.

“Mian”

Hyorin membawa semangkuk air es serta selembar handuk seraya mengambil kursi yang berada di dekat meja belajar dan mengambil posisi tepat di depan Chanyeol. Di raihnya lengan Chanyeol dengan perlahan dan kemudian gadis itu secara perlahan mengusap lengan yang lebam akibat pukulan darinya. Sedikit tidaknya dengan cara ini lebam dan rasa sakitnya bisa berkurang. Sementara Chanyol sedikit meringis menahan sakit, walaupun itu bukab luka parah tetapi lebam yang di timbulkannya sebesar bola pimpong dan itu lumayan terasa sakitnya.

“Bagaimana keadaan gadis itu?”

Tidak ingin suasana menjadi canggung, Hyorin berusahan memecah keheningan di antara mereka. Mendengar pertanyaan yang terucapa oleh adiknya, Chanyeol sedikit terpekur dan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari Hyorin. Sebelum mengeluarkan sepatah kata, lelaki itu hanya terdiam beberapa detik, karena ia tak tahu harus menjawab apa. Walaupun jawabannya sudah ia berikan pada waktu mereka berdua berbincang di dunia maya melalui chatting.

“Entahlah. Aku sendiri tak tahu keadaannya sekarang”

“Apakah kau sudah berusaha untuk menemuinya?”

Chanyeol hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Bagaimana caranya ia bisa menemui gadis itu, kalau gadis itu saja tak ingin melihat kehadiran Chanyeol di hadapannya. Walaupun ia memaksakan diri untuk menemui Jiyeon, apakah ia akan menerima kehadiran Chanyeol? Atau hanya sekedar meminta maaf, apakah ia akan memaafkan Chanyeol?

“Pabbo”

“Wae?”

Hyorin mendelik ke arah Chanyeol, ingin sekali rasanya ia mencekik lelaki bodoh di hadapannya itu. Hyorin kemudian mendesah dan membenarkan posisi duduknya menghadap lelaki itu.

“Jika kau hanya berdiam diri saja dan menunggu datanganya keajaiban, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Apa dengan cara kau dim seperti ini, gadis itu akan memaafkanmu? Hei! Kau dengan aku baik-baik!”

“Seorang wanita tak akan bisa begitu saja menerima seorang pria yang hanya menunjukkan perhatiannya itu hanya sekali setelah itu langsung pergi begitu saja, setelah si wanita menolak perhatian yang telah ia berikan. Wanita itu butuh pembuktian pria dengan cara berusaha membuat ia bahagia atau tersenyum. Sekalipun kau membuat kesalahan padanya, tunjukkan bahwa kau memang sangat peduli padanya”

“Jangan mengharapkan seorang cupit datang mengahmpirimu dan menyambung benang yang telah terputus menjadi tersambung kembali”

Chanyeol hanya terdiam mendengar semua penjelasan dari Hyorin. Apa yang di katakan oleh adiknya itu memang benar adanya. Kenapa ia bisa menjadi sebodoh ini? Jika ia memang benar-benar lelaki jantan, tak seharusnya ia selemah dan sebodoh ini.

Oh, bahkan seorang Hyorin yang ia lihat sebagai gadis kecil yang manja tak ia sangka bisa berbicara sebijak ini layaknya orang dewasa. Dirinya yang lebih dewasa dari gadis itupun belum mampu berpikir dewasa.

“Kau mengerti kan maksudku”

Lelaki itu terpekur dan terbangun dari lamunannya. Dengan mantap ia menatap gadis itu seraya terseyum lebar, yang membuat Hyorin ketakutan dengan ekspresi Chanyeol.

“Apa kau ingin membantuku?”

***

PRAAANNGG

Tak sengaja tangan Jiyeon menyenggol sebuah piring yang berada di dekatnya. Gadis itupun terkejut dan kemudian langsung berusaha mengambil pecahan-pecahan piring yang berserakan di lantai. Dengan sangat berhati-hati ia meraba belahan piring yang terbelah. Sedikit saja ia ceroboh, maka tangannya akan terluka.

Sementara itu, wanita paruh baya yang sedari tadi menghitung uang hasil berjualannya di pasar juga terkejut mendengar suara piring terjatuh. Sudah kesekian kalinya hal itu terjadi, sudah berapa piring yang sudah pecah yang di akibatkan oleh Jiyeon. Jika hal itu terus terjadi, berapa uang yang harus ia keluarkan hanya demi membeli piring-piring yang sudah pecah tersebut?

“YAA! Apa yang kau lakukan, huh? Kau ingin membuat aku bangkrut hanya demi membeli piring baru yang telah kau pecahkan? Sekalian saja kau pecahkan semua barang yang ada di rumah ini!”

“Ma—maafkan aku”

“Dasar gadis bodoh”

dengan cepat Jiyeon membersihkan pecahan piring yang berserakan di lantai. Di raihnya tongkat miliknya dan berusaha berdiri untuk mengambil sapu, tapi saat ia ingin melangkah kaki kirinya tak sengaja menginjak belahan piring. Dengan sekejap gadis itupun mengerang kesakitan, darah segar mengucur dari telapan kakinya. Jiyeonpun terduduk dan meremas pergelangan kakinya, matanya terpejam menahan sakit. Mendengar erangan Jiyeon, Ny Lee kemudian memutar kepalanya ke arah dapur yang tak jauh dari tempatnya berada.

Ny Lee mendesah kesal sembari melepas uang yang berada di tangannya. wanita paruh baya itupun menghampiri Jiyeon. Setelah melihat gadis itu terduduk kesakitan dan darah segar yang keluar dari telapak kakinya, mata wanita itu membulat sempurna. Dengan cepat Ny Lee menghampiri Jiyeon dan mengambil sapu tangan yang berada di kantong celananya. Setelah itu ia membalutkan sapu tangan tersebut ke telapak kaki gadis itu agar tidak terjadi pendarahan yang begitu banyak.

Menyadari perlakuan ibunya yang sangat berbeda dari biasanya, membuat Jiyeon begitu terkesiap. Ia begitu tak percaya dengan apa yang ia rasakan hari itu. Wanita paruh baya yang biasanya bertindak kasar bahkan selalu memukulinya kini terlihat peduli terhadapnya. Perhatian dari sosok dari seorang ibu yang sangat di rindukannya. Apa yang telah membuat ibunya bersikap seperti ini padanya? Tanpa disadari cairan bening mengucur keluar, ia menangis bukan karena rasa sakit di kakinya melainkan rasa haru bahagia yang ia rasakan di hatinya.

Sekelebat masa lalu di mana ia masih berusia empat tahun, saat itu terjatuh dari pohon dan mengakibatkan kakinya sobek dan mengeluarkan banyak darah. Dan saat itupula sang ibu berlarian mengahampirinya dengan panik dan segera menggendongnya untuk mengobati kakinya yang terluka. Perhatian dari wanita yang selama ini ia rindukan.

“Ibu—“

“Cepat bereskan, atau aku akan menekan lukamu!”

Ny Lee mengucapkan kalimat itu dengan nada yang tak seperti biasanya, nada yang terdengar tegas dan mengandung rasa kesedihan dari setiap nada yang terdengar. Rasa bersalah yang begitu ia rasakan saat ia melihat Jiyeon terluka. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Ingin rasanya ia meremas dadanya yang begitu sesak saat ini. Hatinya menangis, tetapi egonya menahan agar ia tak goyah hanya karena apa yang telah ia lihat.

Segera ny Lee berdiri setelah mengobati luka Jiyeon, tanpa memandang wajah anaknya wanita itu berlalu meninggalkan Jiyeon. Tanpa di sadari Jiyeon tersenyum dan meraba balutan sapu tangan di kakinya. Selama ini ia tahu bahwa ibunya tak sejahat yang ia lihat dari setiap perlakuan yang ia terima. Jauh dari lubuk hati ibunya ada rasa kasih sayang untuknya. Seorang ibu tetaplah seorang ibu yang selalu memberikan perlindungan dan juga kasih sayang pada anaknya.

***

Suara ketukan pintu berbunyi dan mengaruskan gadis itu menghentikan aktifitas merajutnya dan bergegas mengambil tongkat yang selalu berada di sampingnya. Dengan perlahan Jiyeon berdiri dan rasa sakitpun kembali ia rasakan saat kakinya hendak melangkah dan berjalan menuju pintu.

Jiyeon berusaha berjalan walau dengan langkah yang terseok. Gadis itu mengayun-ayunkan tongkatnya mencari jalan menuju pintu. Dengan sedikit kesusahan iapun berhasil menuju pintu dan membukanya.

“Selamat Sore. Ada kiriman untuk anda”

Jiyeon tampak bingung dengan apa yang di katakan oleh pria paruh baya yang berprofesi sebagai petugas post itu. Kiriman apa yang di maksud? Seingatnya ia tak pernah memesan apapun.

Ia meraba benda yang ia terima dari petugas pos tersebut. Sebuah rangkaian bunga mawar putih yang begitu cantik. Di ciumnya bunga segar tersebut, dan merasakan keharuman yang di keluarkan oleh bungan itu.

“Siapa yang mengrim bunga ini untukku?”

Seingatnya ia sama sekali tak pernah memesan bunga dari siapapun. Apa mungkin ini pesanan dari ibunya? Tapi itu sangatlah mustahil, mana mungkin ibunya membeli bunga. Dan iapun merasa tak punya penggemar rahasia sekalipun. Tak ingin terlalu memikirkannya, Jiyeonpun meletakkan bunga tersebut di atas nakas.

Di hari kedua seorang petugas post pun datang dan mengantarkan sebuah boneka beruang berukuran besar. Untuk kedua kalinya Jiyeon di buat bingung dengan kiriman yang ia tak sama sekali ia ketahui siapa pengirim sebenarnya. Ia juga sudah menanyakan siapa pengirim tersbut, tapi petugas post tak bersedia memeberitahukan siapa pengirim barang itu.

“Aneh, siapa yang mengirim boneka ini padaku? Aku kan tak pernah memesan barang seperti ini?”

Jiyeon berjalan dengan kaki terseok, karena lukanya belum mengering. Gadis itu berjalan menuju sebuah minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Ia berniat membeli bahan makanan sepulang ia bekerja. Walaupun bibi Kang sebelum Jiyeon pulang ia memberikan sebungkus makanan. Tetapi persediaan bahan makanan di rumah Jiyeon sudah menipis, iapun memutuskan untuk membelinya.

Tetapi saat ingin memasuki minimarket ia di kejutkan oleh penajaga toko yang memberikannya satu paket coklat padanya. Sama seperti hari sebelumnya, coklat itu di kirim oleh seseorang yang tak ia tahu pengirimnya. Dan lagi, ia di buat bingung dengan semua ini.

“Eonni, ada surat untukmu”

Seorang anak perempuan menghampiri Jiyeon yang kala itu sedang berjalan pulang setelah bekerja, yang kali ini ia mendapat ijin untuk pulang lebih awal karena ia merasa kakinya begitu sakit. Padahal sebelumnya bibi Kang tak memperbolehkan dirinya untuk masuk kerja, tetapi karena Jiyeon memiliki watak yang keras kepala. Gadis itupun memaksakan diri untuk berkerja.

Secara perlahan gadis itu memutar badannya mencari sosok anak kecil itu. Di rasa ia mengetahui posisi anak perrempuan itu, ia pun tersenyum lembut.

“Surat dari siapa?”

“Aku jug tidak tahu”

“Bisa kau membacakannya untukku?” pinya Jiyeon mengingat bahwa dirinya tak bisa melihat. Anak kecil itupun membuka surat tersebut dan bersiap untuk membacakannya.

Maafkan aku Jiyeon-ah

Kau adalah temanku yang berharga

Setelah mendengar isi surat yang di bacakan oleh anak kecil itu, senyuman Jiyeon dengan sekejap memudar. Dia tahu siapa pemilik surat itu, dan ia akhirnya sadar bahwa semua barang yang ia terima merupakan dari orang yang sama dengan pengirim surat itu.

Park Chanyeol

Nama itu kemudian muncul di benaknya, apa benar lelaki itu yang melakukan ini semua?

Telah lama rasanya ia tak mengingat nama itu lagi. Dua mingu sudah ia tak pernah bertemu dengan lelaki itu. Tapi ini yang di harapkan oleh gadis itu, ia tak lagi menginginkan kehadiran lelaki itu setelah apa yang telah ia ucapkan pada ibunya.

Berlebihan memang jika ia harus marah seperti itu, tanpa tahu alasan di balik ucapannya. Ia begitu sakit hati kala itu mendengar Chanyeol meghina ibunya. Sesungguhnya ia tak begitu membeci Chanyeol, dan sampai detik inipun hatinya telah memaafkan lelaki itu. Hanya karena egonya ia tak ingin memaafkan Chanyeol.

***

“Jiyeon-ah”

Suara berat itu menggema di telinganya. Matanya membulat sempurna dan hatinya berdebar begitu cepat. Suara ini begitu ia rindukan, entah apa yang membuat ia merindukan suara ini. Padahal pada kenyataannya ia hanya mendengar suara berat itu selama dua hari saja sebelum kejadian itu.

“Maukah kau memaafkanku?”

Gadis itu meremas dengan kuat tongkatnya, menahan agar air matanya tak jatuh di hadapan lelaki itu. Jika Chanyeol melihatnya menangis, bisa di pastikan kalau lelaki itu mengira bahwa Jiyeon sangat lemah dan cengeng.

“Jika kau tak mau memaafkanku, aku tak akan mengganggumu lagi”

Jiyeon hanya terdiam dengan posisi yang membelakang Chanyeol, matanya terpejam menahan emosi di hatinya. Kembali ia meremas tongkat yang ia bawa berharap emosi yang ia rasakan bisa berpindah ke dalam tongkat miliknya.

Melihat gadis itu tak bergeming dan sekaligus tak menjawab permintaan maaf darinya.  Seketika sekujur tubuhnya melemas begitu saja. Apakah usahanya kali ini akan sia-sia saja? Harapan untuk kembali bisa menatap mata gadis itu hancur sudah. Tetapi sebelum ini terjadi, ia sudah mempersiapkan hati dan juga mental untuk menghadapi kejadian terburuk dalam hidupnya.

Sementara tak jauh dari keduanya berada, tampak Hyorin memperhatikan keduanya. Di balik semua usaha yang di lakukan oleh Chanyeol selama ini, tak lain adalah berkat bantuan darinya. Mulai dari mengirim bunga, boneka, coklat, sampai sepucuk surat yang di terima oleh Jiyeon tak lain dan tak bukan itu adalah ide dari Park Hyorin.

“Baiklah jika kau tak mau memaafkanku, ini terakhir kalinya aku berbicara padamu. Maafkan semua kesalahan yang telah aku perbuat padamu”

Untuk kesekian kalinya, lelaki itu menghembuskan nafasnya berharap rasa gugupnya sedikit berkurang.

“Sampaikan permintaan maafku pada ibumu”

Kalimat yang sebenarnya begitu sulit untuk di ucapkan. Sedih dan kecewa bercampur menjadi satu di dalam raga lelaki itu. Kini Chanyeol bersiap melangkah pergi meninggalkan gadis itu, dengan membawa sedikit kenangan yang ia dapatkan dari seorang gadis bernama Park Jiyeon.

“Kamshamida”

Langkah lelaki itu terhenti saat mendengar satu patah kata dari gadis itu. Sedikit rasa senang yang ia rasakan. Gadis itu memutar badannya mengarah menghadap Chanyeol.

“Terima kasih—atas usahmu selama ini”

“Usaha di mana aku bisa menerimamu sebagai temanku”

“Maksudmu”

“Maukah kau menjadi temanku—Park Chanyeol?”

Oh Tuhan, apa telinganya mengalami gangguan sehingga pendengarannya mengalami gangguan? Apa ia tak salah dengar? Gadis itu memintanya untuk menjadi temannya? Yang sebenarnya ia sangat mengharapkan suatu saat nanti status teman bisa menjadi status yang sangat berharga baginya.

Tanpa basa basi, Chanyeol segera menghampiri Jiyeon dan dengan sekejap ia meraih tubuh Jiyeon ke pelukannya. Kini ia begitu bahagia, sangat bahagia melebihi apapun. Dari kejauhan Hyorinpun tersenyum ikut merasakan kebahagiaan kakak terbodohnya.

***

Sekumpulan pelajar laki-laki berlari mengejar seorang siswa yang tampak berusaha menghindari diri dari kejaran sekawanan pelajar itu.

“Heiii! Berhenti Kau!”

Teriak salah seorang dari sekawanan pelajar itu, sementara yang di kerjar terus saja berlari dan kemudian memasuki gank kecil untuk bersembunyi.

Sementara sekumpulan pelajar yang mengejar itu kehilangan jejak seraya mengumpat kesal dan memutuskan untuk kembali dan meninggalkan tempat di mana lelaki itu menghilang dari pandangan mereka.

Sekuat tenaga lelaki itu berlari mencari persembunyian, sampai pada akhirnya ia dengan tak sengaja menabrak Jiyeon yang sedang mengantarkan makanan untuk bibi Kang.

Semua makanan yang Jiyeon bawa terjatuh dan berserakan di jalan. Sementara pelaku yang menabrak dengan cepat berdiri dan membantu gadis itu untuk membereskan makanan serta rantang yang terjatuh.

“Jeosonghamnida”

Ucap lelaki itu seraya membungkuk sambil terus mengucapkan permintaan maaf.

“Ne—gwenchana”

“Noona—“

To Be Countinue

Yeeey akhirnya selese juga part 2 setelah nunggu selam satu bulan buat ngerampungin ff ini >_< miaaaaaan bagi kalian yang udah nungguin ff ini, n yang udh berharap agar aku ngepost ff ini ga lama-lama tapi buktinya luaaaammmm bgt

Tetap Commentnya ya untuk motivasi^^

Iklan

Penulis:

nothing impossible this world, so make it happen and dream come true hhtp://redbabystorie.wordpress.com

26 tanggapan untuk “Love Eyes – Part 2 [I Meet U]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s