으르렁 Eureureong [Chapter 1]

eureureong

AUTHOR: avyhehe / @a_vy

LENGTH: Chaptered

GENRE: Romance, School Life, Little bit action and fantasy.

RATED: PG-12

CHARACTERs: find by yourself

Disclaimer: Me and those who inspired me

Credit Poster: G.Lin @ cafeposterart.wordpress.com

DON”T BE A SILENT READER!

“Hyung, apa yang akan akan kau lakukan dengan gadis ini?”

“Eunjoo! tolong angkat peti-peti itu ke depan toko!” perintah seorang ahjumma dari dalam toko sayur. Seorang gadis berambut coklat panjang menganggukkan kepalanya sekilas, dan bergegas mengangkuti tumpukan peti berisi sayur untuk di-display di depan toko.

Namanya adalah Lee Eunjoo, gadis berusia 15 tahun, cekatan, dan memiliki kehidupan yang tidak normal. Maksud dari ‘tidak normal’ disini adalah, Eunjoo tidak memiliki kehidupan seperti anak-anak seumurannya kebanyakan. Ia putus bersekolah, dan hidup sebatang kara.

Orang tua Eunjoo meninggal saat ia berusia lima tahun, sejak saat itu pula ia diasuh oleh sebuah panti asuhan di kota Daegu. Kim Ahjumma, pengurus panti yang sangat baik, berinisiatif untuk menyekolahkan Eunjoo di sekolah yang bagus  dengan uangnya sendiri, karena dia tahu Eunjoo anak yang pintar. Namun sayang, karena suatu masalah, Eunjoo dikeluarkan dari sekolahnya dan sejak saat itu ia putus sekolah. Kim Ahjumma berniat menyekolahkannya lagi, namun Eunjoo menolaknya dengan halus karena tidak ingin merepotkan wanita itu.

“Mulai saat ini aku akan bekerja sendiri, ahjumma. Dan setelah uangnya terkumpul, aku akan membiayai sekolahku sendiri.” ucap Eunjoo kala itu saat menolak tawaran Kim Ahjumma. “Besok, aku akan pergi ke pinggiran kota Daegu untuk mencari pekerjaan. Terimakasih sudah merawatku selama ini. Baik-baik disini ya, Ahjumma. Selamat tinggal.”

Saat itu Kim Ahjumma ingin menangis. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena Eunjoo bukanlah anak kandungnya. Akhirnya dengan perasaan rela, ia membiarkan Eunjoo keluar dari panti asuhan untuk bekerja sambilan dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Di sinilah Eunjoo sekarang berada, bekerja di sebuah toko sayur kecil milik Hwang Ahjumma.

Eunjoo mengelap peluh di dahinya setelah selesai mengangkut semua peti sayur. Tiba-tiba angin bertiup lumayan kencang. Reflek, ia mengeratkan syal yang melilit lehernya agar terasa lebih hangat. Pagi ini cuaca memang terasa sangat dingin, seolah-seolah dapat membekukan ujung jempol. Mungkin suhunya mencapai -10 derajat celcius. Eunjoo menyadari betapa dinginnya pagi itu dari nafasnya yang selalu berubah menjadi kepulan uap tiap kali ia menghembuskannya, membuatnya terlihat seperti sedang merokok.

“Akhirnya musim dingin datang juga.” Eunjoo menggesek-gesekkan kedua tangannya agar terasa lebih hangat. “Aigoo… dingin sekali! aku sudah memakai dua lapis sweater, tapi masih menggigil juga.” gerutunya pelan, namun seulas senyum terbentuk di bibirnya. Ia terlihat sangat bahagia.

Sebenarnya, Eunjoo sangat menyukai musim dingin.

“Yah!! Yeoja liar!!”

Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari seberang toko sayur. Eunjoo menoleh dan mendapati seorang gadis berwajah cute dan bertubuh lebih pendek darinya tengah berlari menyeberang jalan untuk menghampirinya. Eunjoo tersenyum lebar.

“Hati-hati, Im Ha Jae!  awas tertabrak mobil!” seru Eunjoo saat melihat temannya  itu berlari menyebrang jalan tanpa melihat kiri-kanan.

Setibanya di depan toko sayur, Ha Jae langsung bersin-bersin beberapa kali karena kedinginan. Kemudian dengan ingus yang tiba-tiba keluar dari lubang hidung tanpa disadarinya, ia menatap Eunjoo seraya menjulurkan lidahnya. “Masih betah bekerja disini, Lee Eunjoo?”tanyanya.

Eunjoo mengangguk, ia tersenyum dan mengacungkan jempolnya. “Tentu saja, gadis manja. Hwang ahjumma sangat baik denganku.  Bahkan ia selalu memberiku bonus sayuran segar ketika aku pulang. Ehm, sebentar, ingusmu keluar tuh.” ucapnya geli sambil menunjuk hidung Ha Jae.

“Omo! Kenapa tidak memberitahuku dari tadi!” Ha Jae mendengus, cepat-cepat mengelap ingus itu dengan punggung tangan. Saat ia celingukan ke kiri dan kekanan, terlihat beberapa pejalan kaki tertawa saat tak sengaja beradu pandang dengannya.  Haish… ia pasti tampak  sangat bodoh.

“Yah!!! Lee Eunjoo!! Aku jadi bahan tertawaan!” amuknya.

“Kenapa kau begitu peduli dengan anggapan orang?” Eunjoo sok menasehati, namun tak bisa menyembunyikan kegeliannya dan detik kemudian tawanya meledak. Ha Jae mulai menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi.

“Eunjoo, kau kurang ajar!!” teriak Ha Jae tanpa berniat menghentikan pukulannya.

“Oh! Ha Jae-ya?”

Pukulan Ha Jae langsung terhenti saat ia mendengar namanya disebut. Ha Jae mendongak dan mendapati Hwang Ahjumma telah berada di belakang mereka sambil membawa kresek hitam berukuran besar.

“Ahjumma!” pekik Ha Jae, lalu segera berlari menghampiri Hwang Ahjumma dan memeluknya erat-erat. Hwang Ahjumma tersenyum. Eunjoo hanya menghela napas lega sambil mengusap-usap pundaknya yang masih terasa ngilu lantaran pukulan-pukulan yang diberikan Ha Jae. Sedikit kesal, ia iseng berteriak kepada Hwang Ahjumma, “Ahjummaaaa…! kenapa kau mau memeluknya? ia baru saja memukuliku padahal aku tak salah apa-apa!”

Detik kemudian, Hwang Ahjumma mendelik ke arah Ha Jae yang sekarang hanya nyengir tanpa dosa. Ha Jae pun  melepas pelukannyadan mundur beberapa langkah dari hadapan wanita itu.

Hwang Ahjumma berkacak pinggang sambil memasang muka sebal. “Aigoo… masih hobi memukuli Eunjoo rupanya?! keponakanku satu ini belum dewasa juga!” ia lalu berjalan menghampiri Ha Jae dan menjitak kepala keponakannya itu dengan penuh nafsu.

“Apho!!” rintih Ha Jae. “Yah, ahjumma! kepalaku ini adalah aset!” gerutunya sambil menggembungkan pipinya.

Hwang Ahjumma hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Ha Jae yang sangat kekanakan. Wanita itu lalu berbalik masuk untuk mengeluarkan sisa pajangan buah dari dalam toko, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia teringat sesuatu.

Ia melirik Eunjoo yang sekarang telah sibuk kembali  menggantung buah-buahan di atas rak display sayuran. Pandangannya lalu beralih pada Ha Jae yang berada persis di hadapannya. Didekatkannya wajahnya ke wajah keponakannya itu.

“Wae, Ahjumma? kau ingin mengatakan sesuatu?” ucap Ha Jae seraya menaikkan sebelah alisnya, heran dengan gelagat ahjumma yang tiba-tiba menjadi aneh.

Hwang Ahjumma berdehem , ia pun mulai berbicara dengan suara yang lirih, “apa kau… sudah mengatakan semuanya pada Eunjoo?”

Ha Jae terkejut, tiba-tiba saja wajahnya sedikit memucat setelah mendengar perkataan wanita itu. Ia berusaha menelan ludah yang menyumbat di kerongkongannya, namun entah kenapa hal itu terasa sangat sulit.

“Sudah kuduga kau belum memberitahu Eunjoo! teman macam apa kau ini…!” omel Hwang Ahjumma panjang lebar melihat reaksi Ha Jae yang kini hanya terdiam saja seperti orang bodoh. Ia tahu betul, Ha Jae belum mengatakan apapun kepada Eunjoo.

“Yah! Im Ha Jae!” Hwang ahjumma mengguncang-guncang pundak Ha Jae agar arwah keponakannya itu kembali ke tubuhnya. “Begini saja, kalau kau tidak sanggup mengatakannya, biar aku yang memberitahunya!”

Guncangan itu membuat Ha Jae tersadar kembali dari dunia lamunannya. “Eh—Oh…” ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, “tidak usah, ahjumma! Aku sendiri yang akan mengatakannya. Akan kukatakan sekarang juga!” ujarnya dengan nada yang mantap, namun berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnyayang terlihat ragu. Ia cepat-cepat berbalik dan berjalan menghampiri Eunjoo yang masih sibuk menggantung buah. Hwang Ahjumma hanya menatap kedua anak di hadapannya itu dengan ekspresi iba.

“Eunjoo-ya…”

Eunjoo menghentikan kegiatannya sesaat, dan menoleh saat merasakan jari Ha Jae mencolek-colek pundaknya.

“Wae? ada yang ingin kau katakan, anak manja? sesuatu yang penting? kalau tidak, cepat tinggalkan aku sendiri karena aku sibuk bekerja.” berondong Eunjoo dengan sangat cepat.

“Haisssh!! apa pekerjaanmu lebih penting daripada apa yang ingin kukatakan?! Aku sedang serius!” rungut Ha Jae sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Kalau kau sudah tidak menganggapku teman, baiklah!”

“Aigoo… pemarah sekali!” Eunjoo meringis, ia lalu segera meletakkan semangka yang dipegangnya begitu saja di atas lantai. “Nah, Tuan Putri, sekarang apa yang ingin kau bicarakan denganku?” ia menatap Ha Jae dengan rasa penasaran yang tinggi.

Ekspresi Ha Jae langusung berubah serius. Eunjoo melongo keheranan saat melihatnya. Ia jarang sekali mendapati Ha Jae memasang ekspresi yang serius, dan hal itu membuat perasaannya tidak nyaman.

“Eunjoo,” Ha Jae membuka mulut sambil memainkan jarinya. “Aku hanya ingin bilang, besok lusa… aku…” kata-katanya itu terputus karena ia tidak sanggup untuk melanjutkannya, namun bagaimanapun ia sudah bertekad untuk mengutarakannya, dan Eunjoo harus tahu.

Kau… apa? ” ulang Eunjoo penasaran.

Ha Jae menelan ludahnya,“…aku… akan bersekolah di Seoul, jadi besok lusa aku harus pindah…” ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tubuh Eunjoo terasa lemas setelah mendengar pernyataan itu. Tanpa aba-aba, ia menarik Ha Jae ke dalam pelukannya. Ha Jae membalas pelukan itu dan mulai menangis di pundak Eunjoo.

“Sebenarnya aku tidak ingin pergi, hiks… aku suka sekali berada disini… disini ada kau dan Hwang Ahjumma, semua ini gara-gara bos ayahku yang menyebalkan! Hiks… seenaknya saja dia memindah-mindah tempat ayahku bekerja…” isak Ha Jae, wajahnya semakin tenggelam di pundak Eunjoo. Hidungnya mulai memerah dan pipinya basah karena air mata.

Eunjoo menepuk-nepuk pundak Ha Jae untuk menenangkannya. “Tidak apa-apa, anak manja. Kau masih bisa berkunjung ke sini saat liburan.” ujarnya meyakinkan.

Ha Jae lalu melepas pelukannya. “Ya, kau benar. Tapi… kalau saja kau mau menerima bantuan ayahku untuk menyekolahkanmu, kau bisa melanjutkan sekolah bersamaku di Seoul, dan kita bisa terus bersama.”

Eunjoo tersenyum sedih. “Aku tidak ingin merepotkan siapapun, Ha Jae. Sudah cukup kubuat Kim Ahjumma kecewa, dan aku tidak ingin membuat appa-mu bernasib sama. Tapi tenang saja, tahun depan uangku sudah terkumpul, jadi aku bisa bersekolah kembali. Aku akan menamatkan SMP-ku yang kurang setahun, kemudian menyusulmu melanjutkan SMA di Seoul.”

“Yaaahh… masih setahun lagi? itu artinya kau akan menjadi adik kelasku, pabbo!” Ha Jae berkacak pinggang.

“Hehe… tidak apa-apa, yang penting kita tetap satu sekolah kan?” Eunjoo mengacungkan jempolnya sambil meringis, dan hal itu membuat Ha Jae menangis lebih keras.

“Aigoo… dia benar-benar menangis seperti bayi.” Eunjoo menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, Ha Jae menghentikan tangisnya. Setelah mengelap ingus dan air mata, ia lantas mengacungkan kelingkingnya pada Eunjoo. “Hwaiting, Lee Eunjoo! aku akan menunggumu di Seoul, jadi tepatilah janjimu!”

Eunjoo mengangguk mantap. “Ara, kau juga jangan banyak bertingkah di Seoul saat aku tak ada!” dikaitkannya kelingkingnya pada kelingking Ha Jae.

Hwang Ahjumma yang melihatnya hanya tersenyum. Ia sangat menyayangi kedua anak di hadapannya ini, dan selalu berharap yang terbaik untuk mereka berdua.

Malam semakin larut, namun sebuah toko masih terlihat sibuk karena lampunya masih menyala dengan terang. Suara berisik dan gaduh terdengar dari arah dalam, menandakan bahwa masih ada kegiatan di dalam toko yang hampir tutup itu.

“Eunjoo, biar aku saja yang menutup toko! hari sudah semakin malam, kau bisa segera pulang.” kata Hwang Ahjumma dengan ekspresi khawatir, kini ia tengah memasukkan kembali peti-peti sayur ke dalam toko dibantu oleh Eunjoo.

“Tidak apa-apa, ahjumma. Wanita tua sepertimu tidak baik bekerja terlalu berat, biarkan aku yang masih muda dan perkasa ini membantumu hingga selesai.” ujar Eunjoo tanpa menggubris omongan Hwang Ahjumma dan tetap mengangkuti peti-peti sayur itu. Mendengarnya, Hwang Ahjumma langsung  menjiwit pundak Eunjoo dengan keras.

“Aisssshh… Apho!!” Eunjoo merintih kesakitan, “seperti biasa, jiwitan Ahjumma memang daebak!!” ucapnya sambil meringis.

Hwang Ahjumma tertawa. “Makanya, jangan pernah menyebutku tua!!” semburnya, ia lalu menjiwit Eunjoo lagi namun pindah di hidungnya.

“Ahjumma, Aphoo!!!!!!!!”

Setengah jam berlalu, dan setelah semua sayuran beserta buah-buahan tersimpan rapi di gudang penyimpanan, Eunjoo berpamitan pada Hwang Ahjumma yang kini tengah menyapu teras. “Ahjumma, aku pulang dulu!” ucapnya sambil memasang sarung tangan berbulu di kedua tangannya, demi meminimalisir udara yang semakin mendingin.

Ucapannya itu membuat Hwang Ahjumma menghentikan kegiatannya. Dengan tangan kanan yang memegang sapu, wanita itu menatap Eunjoo prihatin. “Aigoo… malam ini menginaplah disini saja,  gadis sepertimu tidak baik berkeliaran malam-malam. Sekarang sudah jam sebelas!” ujarnya sambil setengah mengomel.

“Tidak apa-apa, rumah kontrakanku kan tidak jauh dari sini.” komentar Eunjoo , ia melambaikan tangannya dan berjalan keluar toko. “Kalau begitu… sampai jumpa besok, Ahjumma!”

“Haiisshh… kau benar-benar keras kepala. Hati-hati di jalan!” sahut Hwang Ahjumma, ia pun beerjalan mengikuti Eunjoo untuk melepas kepergiannya sampai ke depan toko, hingga sosoknya menghilang di ujung jalan.

Sesange…” gumam Hwang ahjumma sambil mendecak, ”kapan sifat anak itu berubah? dia benar-benar tidak terlihat seperti perempuan…” Wanita itu beranjak menutup pintu toko dan mematikan lampunya, setelah itu iaberjalan menaiki tangga di bagian belakang untuk menuju rumahnya yang berada di lantai atas. Langkahnya terhenti sejenak, matanya mencuri pandang pada jam dinding yang menggantung di dekat tangga. Detik kemudian ia menghembuskan nafasnya keras-keras.

“Kenapa jam segini anak itu belum pulang juga?! Aigoo… anak laki-lakiku benar-benar berandalan…!!” gerutunya lagi.

Eunjoo berjalan dengan kecepatan normal di sebuah jalan kecil untuk menuju ke rumah kontrakannya, yang jaraknya tidak begitu jauh dari toko sayur Hwang Ahjumma. Jalan kecil yang dilewatinya sehari-hari ini, jika dilewati malam-malam, ternyata lumayan seram juga. Selain gelap dan sepi, di sisi lain jalan ini juga terdapat jurang terjal  yang tersambung langsung dengan tepian sungai. Sedangkan sisi lainnya dipenuhi oleh deretan toko yang sudah tutup, menambahkan kesunyian malam itu. Namun Eunjoo yang sudah terbiasa dengan hal itu tidak begitu peduli, ia terus berjalan di tengah kegelapan malam. Yang ada di pikirannya hanya satu, sebentar lagi ia akan sampai di rumah kontrakannya dan ingin sekali mandi air hangat.

TIIIIINNN…!!!

Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari arah belakang, membuat Eunjoo terkejut. Refleks, ia minggir ke samping agar tidak tertabrak, mengingat jalan yang dilaluinya lumayan sempit. Saat mobil itu telah melewatinya, ia menghela napas lega karena mobil berkecepatan tinggi itu tidak sampai menabraknya.

Namun sial, Eunjoo tidak menyadari ia minggir terlalu jauh. Saat ia hendak melanjutkan langkahnya lagi, tanpa disadarinya kakinya tergelincir lumpur yang berada di tepian jurang. Ia pun terperosok ke dalam jurang yang dalamnya sekitar lima belas meter itu. Ia bahkan tidak sempat berteriak, tubuhnya terus berguling dengan cepat ke dasar jurang, menuju ke arah sungai tanpa bisa di rem. Hingga akhirnya, kepalanya terantuk bebatuan di tepian sungai dengan hantaman yang sangat keras. Seketika itu juga, ia langsung jatuh tak sadarkan diri.

Sebelum benar-benar pingsan, Eunjoo masih bisa melihat keadaan sekitarnya dengan pandangan yang kabur. Ia ingin sekali bangkit berdiri untuk berlari pulang, namun tubuhnya seakan menolak untuk melakukan hal tersebut. Otot-otot di tubuhnya terasa kaku. Dadanya sangat sesak. Kepalanya terasa sangat ngilu. Ia bahkan sempat mencium bau anyir di dekat kepalanya. Apa kepalanya berdarah?

Instingnya menyuruhnya untuk berteriak minta tolong, namun rasa sakit yang luar biasa mencegahnya untuk melakukan hal tersebut.

Di tengah keadaannya yang mulai sekarat dan pandangannya yang perlahan-lahan mengabur, Eunjoo merasakan sebuah benda terjatuh dari langit dan mendarat di wajahnya. Benda itu memberikan sensasi yang begitu dingin saat menyentuh permukaan kulitnya.

Eunjoo tersenyum. Ia masih bisa melihat benda berwarna putih yang terjatuh itu meskipun pandangannya semakin kabur. Ia kenal betul dengan benda itu, sesuatu yang sangat disukainya sejak kecil.

Salju pertama telah turun.

Di tengah kesunyian malam yang hanya diramaikan oleh suara aliran air, terdapat suara langkah kaki yang terdengar samar-samar di sepanjang tepian sungai. Langkah itu lalu terhenti di hadapan tubuh seorang gadis yang tergeletak di atas tanah dengan posisi tertelungkup. Darah segar berwarna kemerahan terlihat menggenang di sekitar tubuh si gadis, darah yang terlihat sangat kontras dengan tumpukan salju putih yang mulai menebal di sekelilingnya.

“Hyung, apa yang akan akan kau lakukan dengan gadis ini?”

Seorang lelaki berambut pirang dan berponi berjongkok di hadapan tubuh Eunjoo untuk memeriksa keadaan gadis itu. Ia menyentuh pipi gadis itu dengan punggung tangannya. Dingin.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki lain dari arah belakang, dan munculah sesosok lelaki lainnya yang lebih tinggi dengan rambut yang sama-sama berwarna pirang, namun tidak berponi dan dimodel mohawk. Lelaki tinggi itu menghampiri lelaki yang berjongkok di depan Eunjoo.

“Dia masih hidup?” tanya lelaki tinggi itu.

Si lelaki yang lebih pendek dan berponi mendekatkan hidungnya ke arah tubuh Eunjoo, seolah-olah  sedang mengendusnya. “Kurasa… dia masih hidup, tapi sekarat. Apa yang harus kita lakukan, hyung? apa kita biarkan saja dia disini?”

Si lelaki bertubuh tinggi langsung mendelik lebar mendengar perkataan lelaki berponi itu. “Apa kau bodoh? meninggalkannya begitu saja disini?” tanpa aba-aba,  ia beringsut mendekati tubuh Eunjoo dan mengangkat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. “Kita akan mengurusnya. Aku akan membawanya pulang ke rumah kita.” ucapnya pada dongsaengnya yang kini tengah menatapnya heran.

“Yah! Aku tahu kau tidak akan membiarkannya mati, hyung. Tapi dia sudah sangat sekarat. Apa yang akan kau lakukan?”

Si lelaki bertubuh tinggi itu terdiam, ia lalu menatap dongsaengnya tanpa ekspresi. “Sepertinya… tidak ada cara lain. Aku akan melakukan ‘itu’. Tolong jangan beritahu Appa.”

Ucapannya itu mampu membuat dongsaengnya—si lelaki berponi—menjadi sangat terkejut.

“Hyung!! apa kau sudah gila?! Appa bisa membunuhmu jika melakukan hal itu! kenapa kau mau melakukannya hanya untuk gadis ini?!”

Si lelaki tinggi menghela napasnya, “kita harus menolong manusia yang kesulitan, meskipun rasanya tidak ada untungnya menolong mereka.” ucapnya sambil menatap Eunjoo yang berada di gendongannya, “karena… bisa saja kau memiliki hubungan dengan mereka, kau tidak akan pernah tahu.”

“Aisssh, ucapanmu itu selalu saja membingungkanku!” gerutu si lelaki berponi. “Baiklah, terserah kau saja, hyung. Jika appa nanti memarahimu, aku tidak ikut-ikutan!”

Si lelaki tinggi menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik dan menatap dongsaengnya sambil tersenyum tipis. “daripada marah-marah begitu, lebih baik tenagamu itu kau pakai untuk membantuku membawa gadis ini. Tolong tahan kepalanya, aku takut dia semakin kehilangan banyak darah dengan kepala yang terkulai seperti ini.”

“Ara, ara! tapi setelah itu traktir aku daging sapi yang banyak ya, aku lapar sekali!” ucap si lelaki berponi sambil meraih kepala Eunjoo.

“Tenang saja, aku akan membelikan daging sebanyak yang kau mau.” sahut si lelaki tinggi sambil mengedipkan matanya. Si lelaki berponi itu pun tersenyum lebar, ia berjalan dengan penuh semangat mengiringi hyung-nya yang tengah menggendong Eunjoo, hingga mereka berdua menghilang di balik kegelapan malam.

“In case you don’t know, I’m warning you.”

Eureureong © avyhehe

Wooks… mian gara2 ngeposting FF geje, haha… mana cowoknya belom ada yang keluar , padahal yang dicari pasti cowoknya, iya kan? betul kan? ngaku aja deh, wkwkwk :p

ini fanfic buatnya lagi nganggur… terus langsung saya post, buat liat respon aja… soalnya saya ngerasa fanfic ini geje banget Dx

udah lama nggak ngetik epep, sekalinya bikin lagi jadinya jelek banget kayak gini… maaf ya ngga pernah nongol, soalnya lagi sibuk ngurusi Kris sama Chanyeol *digaplok orang sekampung*

dan… mohon maaf bila ada salah-salah kata.

komen? :D

23 thoughts on “으르렁 Eureureong [Chapter 1]

  1. Ping-balik: 으르렁 Eureureong [Chapter 3] | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s