Diposkan pada avyhehe, Fanfiction

으르렁 Eureureong [Chapter 2]

eureureong

Previous: [Chapter 1]

AUTHOR: avyhehe / @a_vy

LENGTH: Chaptered

GENRE: Romance, School Life, Little bit action and fantasy.

RATED: PG-12

CHARACTERs: EXO members, but not yet revealed

Disclaimer: Me and those who inspired me

Credit Poster: G.Lin @ cafeposterart.wordpress.com

“In case you don’t know, I’m warning you.”

“Luhan, tolong ambilkan selimut dan kotak P3K.” perintah Kris pada lelaki berwajah lucu yang berdiri di sebelahnya.

“Nde, hyung.” Luhan bergegas pergi untuk mengambil semua permintaan Kris.  Sepeninggal Luhan, Kris segera merebahkan tubuh Eunjoo di atas ranjang berukuran Queen size yang berbalut sprei putih di hadapannya. Eunjoo masih tidak sadarkan diri, darahnya terus mengucur deras seperti selang air yang bocor dan tidak henti-hentinya keluar. Hal ini sudah berlangsung sejak lima menit yang lalu semenjak mereka menemukannya di tepi sungai. Bahkan bantal dan ranjang tempatnya terbaring kini mulai ternodai bercak-bercak berwarna merah, sedangkan wajahnya terlihat semakin memucat.

“Dia kehilangan banyak sekali darah,” gumam lelaki berambut pirang Mohawk  itu—yang tak lain adalah Kris—sambil terus menatap gadis dihadapannya secara intens. Beberapa saat kemudian,  terdengar bunyi gemerisik dan gaduh dari luar kamar disusul munculnya sosok Luhan di ambang pintu. Dengan langkah tergopoh-gopoh Luhan berjalan menghampiri Kris, kedua tangannya membawa selimut dengan sebuah kotak P3K yang ditumpuk di atasnya.

Kris berdiri di sebelah ranjang Eunjoo sambil berpikir keras, pandangannya tetap terfokus pada gadis yang terbaring tidak berdaya di hadapannya itu. Sepertinya ia sedang sibuk memikirkan pertolongan pertama seperti apa yang harus dilakukannya pada Eunjoo.

Merasa tidak diperhatikan, Luhan yang berdiri di sebelah Kris sejak tadi berdehem pelan. “Ehm…Hyung, aku sempat mengecek kotak P3K-nya sebentar, dan perbannya tinggal sedikit.”  ucapnya sedikit khawatir, “tapi aku bisa berlari ke toko terdekat untuk membeli perban.”

Ucapannya itu sanggup membuat Kris menoleh sekilas dan mengerutkan keningnya,  “membeli? tidak  usah, itu saja  sudah lebih dari cukup.” ujarnya tak peduli sambil meraih selimut dan kotak P3K dari tangan Luhan. “lagipula, toko macam apa yang masih buka jam segini? apa kau mau membeli perban di klub malam?”

Mendengar perkataan hyung-nya, Luhan hanya meringis. Keheningan pun mengambang diantara mereka. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kini, di dalam kamar lebar itu, yang terdengar hanyalah detak jam antik yang tergantung di salah satu sisi dinding, diikuti suara napas Eunjoo yang terdengar lemah dan tidak stabil.

“Oke, akan kucoba untuk mengobatinya.” celetuk Kris tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Ia membuka tutup kotak P3K dan menarik keluar selembar sapu tangan berwarna putih, lalu beringsut mendekati Eunjoo untuk memeriksa lukanya.

Luhan tidak mengeluarkan sepatah katapun, pandangannya terfokus pada hyung-nya yang mulai bertindak. Luhan memang tidak begitu ahli dalam hal mengobati dan mengenali luka jika dibandingkan dengan Kris. Namun ia yakin, luka yang diderita gadis itu memang sangat parah. Ia menyadarinya saat memeriksa keadaan Eunjoo di tepi sungai beberapa saat yang lalu, dan agak terkejut saat mendapati kepala Eunjoo yang retak, sedangkan rusuknya tertusuk lumayan dalam oleh bebatuan sungai yang tajam.

Apa gadis itu bisa bertahan? pikir Luhan dalam hati, pikirannya berkecamuk.

Setelah memeriksa dan menelusuri luka-luka tersebut, Kris mulai mengeringkan luka-luka itu menggunakan sapu tangan putih yang dipegangnya. Ia memulainya dari luka di bagian kepala—yang menurut perkiraan Luhan terdapat retakan di tempurungnya, dan ternyata dugaan itu benar. Ditekan-tekannya luka retakan itu untuk menghentikan pendarahan, dan setelah beberapa menit darah di luka itu berhenti mengalir.  Ia segera melepas sapu tangan tersebut dan mengoleskan cairan Alkohol ke kepala Eunjoo yang terluka. Terakhir, dibalutnya luka itu menggunakan perban.

“Hyung, sepertinya dadanya juga terluka parah.” celetuk Luhan tiba-tiba, dengan telunjuk yang mengarah pada dada Eunjoo. Memang benar apa yang dikatakan oleh Luhan.  Bagian depan sweater yang dikenakan oleh gadis itu terlihat bersimbah darah dengan jumlah yang tidak sedikit. Kris spontan melirik Luhan dan menatapnya tanpa ekspresi untuk waktu yang lama.

“Wae?”  ditatap seperti itu, Luhan menaikkan alisnya heran sambil menunjuk dirinya sendiri. Merasa sebal dengan Luhan yang tidak juga mengerti maksudnya, Kris menghembuskan napas keras-keras. “Tutup matamu!” perintahnya.

Luhan pun langsung mengerti, tanpa berpikir dua kali ia cepat-cepat menutup kedua matanya menggunakan tangan.  “Ara, ara! aku tidak akan mengintip, jadi cepat obati dia!”

Kris tersenyum geli melihat tingkah Luhan. Setelah memastikan dongsaengnya itu benar-benar menutup mata, ia mengulurkan tangannya dan memegang ujung sweater Eunjoo. Kemudian dengan gerakan perlahan, ditariknya sweater itu ke atas agar terlepas.

“Mianhae.” gumam Kris sedikit canggung. Bagaimanapun juga, menelanjangi gadis yang tengah tertidur bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Setelah seluruh pakaian yang melapisi tubuh bagian atas Eunjoo terbuka, ia terperanjat saat mendapati luka yang berada di baliknya.   “Damn!” umpatnya, benar-benar tidak menduga lukanya akan separah ini. Terdapat sebuah lubang lebar yang menganga, persis di rusuk sebelah kanan gadis itu.

Mendengar umpatan Kris, Luhan melupakan janjinya untuk tidak mengintip dan membuka matanya karena penasaran. Ia berusaha melihat Luka di dada Eunjoo. “Bagaimana, hyung?” tanyanya penasaran.

Kris menghela napasnya dengan berat. “paru-parunya bocor.” ucapnya dengan ekspresi putus asa. “menurut perkiraanku… lima menit lagi dia akan benar-benar mati.”

Luhan menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pernyataan itu.

Hyung, menurutku kau harus melakukannya. Kupikir kita tidak memiliki banyak waktu,” Luhan mencoba  mengutarakan apa yang tertera di benaknya.

Kris terdiam sejenak untuk menimbang-nimbang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk setuju dengan usul Luhan. “Kau benar, mungkin inilah satu-satunya cara agar lukanya dapat menutup dengan cepat.” katanya dengan ekspresi tidak yakin.

“Tapi hyung, kemungkinan berhasilnya hanya 50 persen. Jika tubuhnya tidak kuat menerima, ia akan langsung mati.” tambah Luhan lagi.

“Tindakan ini memang beresiko, tapi jika kita hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa, ujung-ujungnya dia juga akan mati. Setidaknya jika kita melakukannya, masih ada harapan untuknya.”

“Baiklah, hyung. Kalau begitu lakukan saja, aku akan berdoa dan mendukungmu dari sini. Cepatlah, waktu kita tidak banyak!” Luhan mencoba meyakinkan Kris. Ia menghampiri lelaki itu dan menepuk pundaknya untuk memberikan dukungan.

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Kris membulatkan keputusannya. Dihelanya napas dalam-dalam dan dihembuskannya pelan-pelan, untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Saat kedua matanya terbuka kembali, iris matanya yang semula berwarna hitam kecoklatan kini telah tergantikan oleh iris mata yang berwarna emas keperakan.

Kris beringsut mendekati Eunjoo. Ia membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada leher gadis itu secara perlahan. Sejenak ia terlihat ragu, namun segera ditepisnya keraguan itu karena tidak ada cara lain yang bisa dilakukannya.  Saat jaraknya dengan Eunjoo semakin dekat, Kris membuka mulutnya lebar-lebar dan menghujamkan gigi-giginya yang berderet rapi ke leher gadis itu.

Ini adalah kali kedua Kris melakukan hal ini, dan ia berani bersumpah, ia tidak ingin melakukannya lagi.

Luhan yang menyaksikan adegan itu hanya menahan napasnya. Kris terus mengeratkan gigitannya di  leher Eunjoo tanpa sedikitpun berniat untuk melepaskannya—bahkan tekanan gigitan itu semakin bertambah hingga darah mulai mengalir keluar dari kulit lehernya.  Lama kelamaan, luka gigitan itu semakin dalam dan darah yang mengucur keluar dari leher Eunjoo semakin banyak.

Hyung! sudah cukup! Hentikan!” Luhan yang menyadari Kris telah kelewat batas langsung menarik lengan Kris dengan sekuat tenaga untuk menjauhkannya dari tubuh Eunjoo.

Usahanya berhasil, gigitan itu langsung terlepas dan tubuh Kris jatuh tersungkur ke atas lantai.

Luhan benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Ia berjalan menghampiri Kris dan menatapnya hyung-nya dengan tatapan ngeri.

“H—Hyung… kau masih belum bisa mengendalikan gigitanmu… kalau saja aku tidak bertindak cepat, gadis itu bisa terbunuh…”

Dengan napas yang terengah-engah dan mulut yang belepotan darah segar, Kris mendongakkan kepalanya untuk menatap Luhan. Ia benar-benar merasa bersalah karena membuat Luhan takut.

“Mianhae,” ujarnya meminta maaf, bersamaan dengan iris matanya yang  berubah kembali menjadi hitam kecoklatan. Luhan menghela napas lega melihat rona mata hyung-nya kembali normal, ia pun menghampiri lelaki itu dan mengalungkan lengan Kris di lehernya untuk membantunya berdiri.

“Apa semuanya sudah selesai?” tanya Luhan saat mereka berdua berjalan menghampiri ranjang Eunjoo.

“Ya, kita hanya tinggal menunggu reaksinya.” jawab Kris dengan tatapan mata yang menerawang. “dalam hitungan menit, sel-sel yang baru akan bercampur dengan sel-sel tubuhnya. Jika tubuhnya kuat menerima, ia akan bertahan hidup. Tapi jika tubuhnya menolak… ia akan langsung mati.”

Mendengar penjelasan itu Luhan tidak berkomentar apapun. Ia terus memapah Kris dalam diam hingga mereka berdua tiba di samping ranjang berisikan tubuh Eunjoo. Pandangan mereka terpaku ke arahnya, berharap-harap cemas dengan reaksi apa yang akan diberikan oleh tubuh gadis itu.

Genap lima menit mereka menunggu, dan belum terjadi apa-apa dengan tubuh Eunjoo. Gadis itu tetap terbaring diam dengan mata yang masih terpejam. Dua menit kemudian, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Tubuh Eunjoo mendadak kejang-kejang dan dahinya mengeluarkan keringat dingin. Luhan dan Kris yang menyaksikan adegan itu berdoa dalam hati, berharap Eunjoo bisa melalui prosesnya.

Waktu terus berlalu, setelah beberapa saat yang menegangkan kejang-kejang itu akhirnya berhenti sama sekali. Napas Eunjoo berubah stabil, rona wajahnya pun kembali normal. Kris menghampirinya dan menyentuh dahi Eunjoo dengan punggung tangannya. Menyadari suhu tubuh gadis itu kembali normal, ia menghembuskan napas lega.

“Sepertinya dia berhasil. Tubuhnya tidak menolak.”

Mendengar hal itu, Luhan menghempaskan tubuhnya di ujung ranjang dengan perasaan lega. “Hahhh… syukurlah! kukira ia akan mati.” celetuknya, dan seolah teringat sesuatu,  ia langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Kris lurus-lurus. “Setelah itu apa yang terjadi, hyung? apa lukanya akan menutup?”

“Kita lihat saja.” ucap Kris sambil tersenyum.

Diliputi rasa penasaran, Luhan lantas beralih menatap luka yang menganga di dada kanan Eunjoo. Dan secara mengejutkan luka mengerikan itu perlahan-lahan menutup dengan sendirinya dalam jangka waktu kurang dari dua puluh menit.

“Daebak!” Luhan bertepuk tangan melihat kejadian itu. “tingkat regenerasi lukanya sudah hampir menyamai kita!”

Kris hanya tersenyum melihat kelakuan Luhan. “Kau jangan senang dulu, dia belum sepenuhnya sadar dan lukanya belum sepenuhnya mengering. Mungkin seminggu lagi dia baru bisa membuka matanya.” Kris pun beranjak pergi dan menghampiri pintu kamar.

“Mau kemana, hyung?” tanya Luhan sambil menatap Kris heran. Ditanya seperti itu, alis Kris langsung berkerut.

“Bukannya kau ingin makan daging? aku sudah berjanji akan mentraktirmu.”

Luhan membelalakkan matanya, “Jinjja? wah, kau memang hyung terbaik yang pernah aku miliki!” ucapnya sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Kris.

“Memangnya kau punya berapa ‘hyung’?” tanya Kris heran, terkadang ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Luhan.

Luhan hanya terkekeh pelan, “Ani, lupakan saja. kajja hyung! aku ingin sekali makan buggogi!” serunya penuh semangat sambil berjalan mendahului Kris, terlihat sekali ia sudah sangat kelaparan.

Melihat kelakuan adiknya, Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Usia mereka hanya terpaut satu tahun, namun kelakuan Luhan sangat kekanakan.

Eunjoo PoV

Gelap. Kenapa disini gelap sekali? aku ada dimana?

Aku berlarian ke segala arah, mencoba keluar dari selubung kegelapan ini, namun usahaku hanya sia-sia. Rasanya seperti berlari-lari di tempat yang sama. Karena kemanapun aku pergi, semuanya tetap terlihat gelap.

Tunggu, apa itu?

Tiba-tiba aku melihat sesuatu berwarna putih berkeliaran di tengah kegelapan. Bentuknya tidak jelas, dan ukurannya kira-kira sebesar anjing Siberian Husky.

“Yah! tunggu!” seruku pada benda putih itu, namun ia tidak menggubrisku. Aku pun berlari ke arahnya untuk menghampirinya, tapi ia malah menjauhiku. Menyebalkan sekali! Apa ia takut denganku?

Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku terus mengejarnya, dan tanpa kusadari dia menuntunku ke sebuah titik.

Titik itu bercahaya, dan lama-kelamaan cahayanya semakin membesar seperti sebuah ledakan cahaya. Refleks, aku menutup mataku dengan punggung tangan karena ledakan yang sangat menyilaukan itu. Dan saat aku membuka mataku kembali, kudapati diriku telah berada di sebuah tempat yang sama sekali lain.

“Kau sudah sadar?”

Telingaku menangkap sebuah suara yang terasa tidak familiar. Kucari-cari asal suara itu, dan kudapati sebuah sosok  berdiri di hadapanku. Sosok itu terlihat kabur. Kukerjap-kerjapkan mataku agar  bisa melihatnya lebih jelas, dan saat pandanganku berangsur-angsur normal, kulihat seorang lelaki yang sangat tampan tengah berdiri di hadapanku. Rambutnya yang berponi berwarna pirang, dan ia memiliki wajah yang sangat lucu. Hidungnya kecil dan melengkung dengan sempurna, cocok sekali dengan lingkar wajahnya yang kecil.  Tanpa sadar aku terus memperhatikan wajahnya dengan seksama, dan tiba-tiba mata kami bertemu pandang. Iris matanya yang berwarna hitam legam itu berkilauan, membuat matanya terlihat hidup. Aku seolah terhipnotis oleh penampakannya.

Ditengah keherananku, lelaki yang kuduga umurnya tidak berbeda jauh dariku itu berjalan mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh daguku dan mengangkatnya, kemudian memiringkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Ia benar-benar terlihat seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya.  Aku mulai risih. Sebenarnya, apa maksudnya melakukan hal ini?

Beberapa saat kemudian, ia melepas tangannya dan mundur beberapa langkah menjauhiku.

“Hyung! dia sudah sadar!” teriaknya tiba-tiba yang entah ditujukan pada siapa, “hyung! cepatlah kemari!” serunya lagi.

Merasa orang yang dipanggilnya tak kunjung datang, ia mendecak sebal dan langsung menghempaskan dirinya di sisi ranjangku. Aku terkejut, dan secara otomatis tubuhku sedikit kugeser karena jarak kami yang terlalu dekat.

Mau apa lagi orang ini? pikirku curiga.

Untuk kedua kalinya, lelaki itu menatapku lagi dengan tatapan menyelidik.

“Sepertinya aku harus memastikan, apa kau sudah benar-benar sadar atau tidak.” ucapnya sambil beringsut mendekatiku. Aku hanya terdiam sambil melihatnya mengoceh sendiri, sepertinya dia tipe namja yang cerewet.

Tiba-tiba saja ia mengacungkan kedua jari tangannya ke arahku.

“Coba lihat, ini angka berapa?” tanyanya dengan wajah serius. Dia benar-benar aneh!

Merasa malas karena diberi pertanyaan yang aneh, aku hanya menjawabnya dengan asal.

“lima.” jawabku cuek.

Mata lelaki itu seketika langsung membulat.

“Aigooo… dia memang belum sepenuhnya sadar, atau tidak bisa berhitung?” gumamnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Entah kenapa aku ingin sekali tertawa melihat tingkah konyolnya itu, dan aku tidak bisa menahannya.

“HAHAHAHA…”

Melihat tawaku meledak, dia terperangah.

“Kenapa kau tertawa? Ah, jangan-jangan kau mengerjaiku ya!”  wajahnya berubah kesal. Melihatnya berekspresi seperti itu, aku jadi ingin tertawa lagi.

“Habis tingkahmu sangat aneh!” ujarku disela tawaku, “Aku bahkan tidak mengenalmu, tapi tingkahmu sudah seperti itu.” lanjutku lagi. Akhirnya aku berbicara untuk pertama kalinya.

Lelaki itu kini menatapku tak percaya sambil membelalakkan matanya, “Aigoo… belum puas kau menertawakanku, sekarang malah mengataiku aneh!” dengusnya sebal. Ia pun berteriak lagi, “Hyung! kau ada dimana? dia sudah sadar! cepatlah kemari, dia bahkan menertawaiku!”

Aku mengernyit, lagi-lagi ia memanggil seseorang dengan sebutan ‘hyung’. Siapa yang sebenarnya dia panggil? Apa ada orang lain lagi di tempat ini?

“Ribut sekali di dalam!” celetuk sebuah suara yang berat, entah dari mana asalnya, dan mampu membuatku melonjak kaget. Tiba-tiba saja di ambang pintu kamar, muncul sesosok lelaki yang bertubuh sangat tinggi. Ia mengenakan kaos hitam yang dipadukan dengan celana jeans biru, dan tangan kanannya terlihat seperti memegang sesuatu. Ia pun berjalan menghampiri kami berdua.

Aku menyipitkan mataku agar bisa melihatnya lebih jelas, dan… Ya Tuhan! aku tak percaya ini,  tapi dia benar-benar sangat tampan.

“Hyung! kau kemana saja?!” omel lelaki yang duduk di sebelahku dengan ekspresi sebal, ia segera bangkit dari ranjang dan memukul pundak lelaki yang baru saja datang itu.

“Mian, tadi aku keluar sebentar untuk membeli sarapan.” ucap lelaki yang baru datang itu sambil mengacungkan tas kresek di tangan kanannya. “Oh, dia sudah sadar?” ucapnya sambil menatap lurus ke arahku. Tatapannya yang tajam itu membuatku salah tingkah.

“Ck! asal kau tahu saja, dia sudah sadar dari tadi, bahkan sempat mengerjaiku!” celetuk si lelaki yang tadi duduk di sebelahku. Aku hanya meringis mendengar ucapannya.

“Begitukah?” ujar si lelaki yang baru datang, lalu tanpa meminta ijin, dengan seenaknya ia duduk di ranjang yang kutempati. Sial! dalam jarak sedekat ini dia terlihat tampan sekali, lebih tampan daripada lelaki yang tadi kukerjai. Aku langsung mengalihkan tatapanku saat pandangan kami tak sengaja bertemu.

Aku sadar dia terus memperhatikanku. Ia pun berinisiatif mengajakku bicara.

“Kau tidak penasaran dengan kami?” tanyanya secara tiba-tiba.

Pertanyaannya yang to the point itu mampu menyita perhatianku, dan akupun langsung menatapnya, “Tentu saja, aku sangat kaget saat terbangun di tempat ini, dan sekarang aku dikelilingi dua orang asing!” ujarku blak-blakan, mengutarakan apa yang ada di benakku saat ini.

Lelaki yang baru datang itu tersenyum mendengarnya, “Kalau begitu sudah saatnya kami mengenalkan diri.” ia berdehem pelan, “namaku Kris, dan orang yang menemanimu sampai kau terbangun tadi bernama Luhan.” ucapnya sambil menunjuk Luhan yang sejak tadi berdiri di sebelahnya. Luhan tersenyum lebar, sepertinya dia sudah tidak kesal denganku.

“Apa kalian bersaudara?” tanyaku yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Sekilas mereka berdua memang terlihat mirip, apalagi rambut mereka memiliki warna yang sama.

Kali ini Luhan yang mengangguk. “ya, dia adalah hyung-ku.” ujarnya sambil menepuk pundak Kris. Aku memanggut-manggut mengerti, ternyata mereka adalah kakak-beradik.

Kris lalu mengambil alih pembicaraan, “ Apa kau juga penasaran kenapa kau berada disini?” tanyanya  lagi. Ditanya begitu aku hanya tersenyum.

“Sebenarnya iya, tapi kurasa kalian tidak perlu memberiku penjelasan. Kalian pasti yang menolongku setelah terjatuh dari jurang.”

“Wah, ternyata kau masih mengingatnya!” seru Luhan tak percaya. “Kukira ia akan hilang ingatan!”

Aku mendengus pelan. “Mana bisa aku melupakan kecelakaan mengerikan itu? Seperti sinetron saja!” omelku. Kris dan Luhan tertawa.

Tiba-tiba perutku berbunyi nyaring. Sejak tadi aku memang  berusaha menahan lapar. Aiiisshhh…. tapi kenapa harus bersuara di tempat umum seperti ini? mukaku langsung memerah karena menahan malu.

“Ah, kau pasti lapar.” seolah mengerti, Kris menyodorkan kresek yang dipegangnya ke arahku sambil tersenyum.

“Apa itu?” tanyaku curiga.

“Isinya burger daging sapi. Sebenarnya aku ingin mencari sarapan yang lebih enak, tapi toko-toko yang lain masih tutup karena hari masih terlalu pagi.” jawabnya santai.

Aku menerima uluran kresek itu. Setelah beberapa detik terdiam dan mengamatinya, aku memutuskan untuk menerimanya dan mengucapkan terimakasih. “Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perutku, gomawo.” ucapku sambil membuka kresek itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata benar, isinya adalah burger daging sapi. Sebenarnya aku tidak terlalu suka daging, tapi entah kenapa baunya terasa sangat lezat. Apa mungkin ini efek kelaparan?

Aku membuka bungkus burger itu dan langsung melahapnya dengan cepat. Karena terlalu lapar, aku tidak peduli dengan kehadiran dua lelaki dihadapanku yang tengah memperhatikanku. Masa bodoh, urusan perut lebih penting.

“Dia brutal sekali,” komentar Luhan sambil terkekeh pelan, “melihatnya makan seperti itu, aku jadi ingin ikut makan.”

“Kau makan di ruang makan saja,” timpal Kris, “diatas meja masih ada makanan sisa kemarin.”

“Cih, kukira kau membelikanku burger juga. Ternyata kau pilih kasih, hyung! kalau begitu aku ke ruang makan dulu!” ucap Luhan sambil bergegas pergi meninggalkan kami. Sepertinya ia sangat kelaparan.

Sepeninggal Luhan, hanya tinggal aku dan Kris yang berada di dalam kamar. Aku masih sibuk menghabiskan burgerku, sedangkan Kris terus saja menatapku. Aku mulai risih ditatap seperti itu. Cara menatapnya sama seperti Luhan, dan aku tidak tahu maksud dari tatapan itu. Kenapa  dua orang ini suka sekali menatap muka orang? kakak dan adik sama saja!

“Kau tahu, kau sudah pingsan selama seminggu.” ujar Kris tiba-tiba, dan perkataannya itu mampu membuatku tersedak potongan burger yang ingin kutelan.

“Mwo?? kau serius?” tanyaku syok sambil menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak. Aku berusaha mengeluarkan potongan makanan yang salah masuk itu, dan kurasakan sebuah tangan yang lebar menepuk-nepuk punggungku untuk membantuku mengeluarkannya, tangan milik Kris.

“Ya. Lukamu sangat parah, kupikir kau akan mati.” ujarnya lagi, “tapi sekarang kau sudah sadar, bahkan sempat mengerjai Luhan setelah kau terbangun.”

Aku langsung salah tingkah karena ucapannya. Mengerjai? Astaga, imejku jelek sekali!

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Tunggu!” sahutku tiba-tiba, “kalau aku pingsan selama itu, bagaimana dengan Hwang Ahjumma?” tanyaku khawatir. Pikiranku mulai melayang-layang, kubayangkan wajah wanita tua itu, dia pasti sangat khawatir dan kelabakan mengurus tokonya bila aku tidak ada.

“Hwang Ahjumma? Maksudmu pemilik toko sayur tempatmu bekerja?” Kris mengerutkan keningnya.  Aku lantas mengangguk,  ternyata dia tahu tentang Hwang Ahjumma.  Tapi… tunggu! bagaimana dia bisa tahu?

“Tenang saja,” ucapnya kemudian ,”kami sudah mengurus semuanya. Kau tidak perlu lagi bekerja di tempat itu, dan kami sudah memberitahu Hwang Ahjumma.”

Hah?! Aku membelalakkan mataku lebar-lebar. Apa yang diucapkannya tadi? Mengurus semuanya? Apa maksudnya? Aku jadi semakin tidak mengerti dengan lelaki ini, dia selalu saja membuatku kaget dengan ucapannya yang penuh dengan misteri.

“Tunggu! apa maksud—” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dia sudah memotongku.

“Seperti yang sudah kubilang tadi, kami sudah mengurus semuanya. Dokumen-dokumenmu, hak asuhmu, dan lain-lain. Mulai saat ini, kau resmi menjadi bagian keluarga kami. Margamu akan berubah menjadi marga Wu.” penjelasannya yang sangat mengejutkan itu mampu membuatku tersedak ludah sendiri.

Hak asuh?

Margaku berubah?

Aku tidak salah dengar kan?!

Perkataannya itu berusaha kucerna, dan detik kemudian aku memekik dengan sangat keras.

“Mwo??? Kalian mengadopsiku??”

______________

To be Continued

______________

Gimana? tambah geje-kah? huhuhu… mian, pikiran saya lagi stuck. Dan cast2 yang lain juga belum nongol di chapter ini, maklum baru awal2. Tapi tenang aja, mereka juga tokoh utama kok.

Oh iya, untuk Chapter selanjutnya saya gak janji bakal ngapdet cepet, mungkin bisanya setiap 2 minggu sekali, soalnya udah mulai sekolah dan lagi mempersiapkan diri buat UN. Doain ya, semoga lulus dan keterima kuliah di jurusan yang diinginkan, huhuhuh…

Yang udah baca wajib komen ya. Ingat hukumnya wajib, bukan sunnah. Semuanya demi kelangsungan FF ini. Saya sedih banget sama yang namanya Silent Readers, jd gak semangat nulis kelanjutannya huhuhu *nangis di pojokan sambil cakar2 lantai*

Komen? *lambai kutang Kris* 8D

Iklan

Penulis:

Writer - Painter - Gamer - Reader

18 tanggapan untuk “으르렁 Eureureong [Chapter 2]

  1. Seeruuuu, hehe suka banget sama adegan
    “Setelah itu ia memejamkan kedua matanya. Saat kedua matanya terbuka kembali, iris matanya yang semula berwarna hitam kecoklatan kini telah tergantikan oleh iris mata yang berwarna emas keperakan”
    Keep writing author-nim~

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s