Like Autumn Falls

Author: HajinBacon

 

Cast: Do Kyungsoo, Im Jaerin, Kim Jongin, Do Eunsoo

Rating: PG13

Genre: Romance

Length: Ficlet

Disclaimer: EXO is belong to their family and God, but this story is belong to me

Annyeong yeorobun😀 Ini ff EXO pertama yang saya buat, jadi maklumin aja ya kalo masih abal kekeke~ Comments are very needed, gamsahamnida🙂

::Happy Reading::

 20th

“Apa yang Oppa masak hari ini?” Do Kyungsoo memalingkan wajah ke arah gadis di belakangnya yang baru saja melontarkan kalimat tadi. Kyungsoo tersenyum kecil lalu meletakkan pisau. Dilayangkannya sebuah cubitan kecil ke pipi adiknya, Eunsoo, sementara gadis itu menggerutu pelan.

Beef teriyaki,”sahut Kyungsoo singkat dengan senyum masih tergambar di wajahnya. Tangannya lalu meraih pisau dan kembali mencincang paprika.

Jinjja? Kalau begitu, buatkan aku milkshake juga ne? Aku haus sekali..”

 

“Kalau begitu letakkan tasmu dan belikan Oppa susu dan yoghurt, oke?”kata Kyungsoo. “Kau bisa mengambil uangnya di atas meja makan,”tambah Kyungsoo seraya menunjuk lembaran won di atas meja makan dengan dagunya.

 

Eunsoo mengangguk bersemangat sambil lalu melempar tas olahraganya ke kursi meja makan dan mengambil uang di meja. Tanpa mengganti sepatu olahraganya Eunsoo bergegeas melangkah keluar rumah, meninggalkan jejak yang membekas di lantai. Eunsoo memang mengikuti klub atletik sejak tahun pertamanya di SMA. Hampir setiap sore dia berlatih di sekolah dan pulang dalam keadaan letih dan bau keringat menempel di tubuh kurusnya. Saat itulah Kyungsoo akan hadir sebagai juru masak dadakannya.

 

Kyungsoo mulai menyalakan kompor dan menumis bumbu. Karena kedua orangtua mereka sering berada di Chuncheon, maka Kyungsoo-lah yang bertugas menjaga dan merawat Eunsoo. Aroma harum perlahan menguar ke seluruh penjuru dapur diiringi dengan bunyi spatula yang baru saja digunakannya utnuk mengaduk daging. Memasak memang bukan hal yang asing lagi bagi Kyungsoo. Tangannya telah terbiasa menggenggam spatula, sementara dia terbiasa dengan celemek masak yang bergantung di lehernya.

 

Oppa!”

 

Suara yang begitu dikenalnya tiba-tiba saja tertangkap oleh indra pendengarannya. Diletakannya spatula di atas piring lalu Kyungsoo buru-buru melangkahkan kaki menuju ke sumber suara. Di lantai ruang tamu dilihatnya Eunsoo tengah meluruskan kedua kaki sementara punggungnya bersandar pada dinding. Eunsoo meringis menahan sakit tepat ketika Kyungsoo melihat darah di tempurung lutut Eunsoo.

 

“Eunsoo-ya!”pekik Kyungsoo kaget.

 

Kedua mata Kyungsoo segera melebar, atau lebih tepatnya melotot ketika melihat kaki kiri Eunsoo yang berlumuran darah. Butiran-butiran debu halus bertebaran di atas luka Eunsoo.

 

“Aigoo…”Kyungsoo menggelengkan kepalanya tak habis pikir seraya memeriksa luka Eunsoo. “Jangan bilang kau jatuh lagi.”sambungnya agak kesal. Eunsoo membalasnya dengan cengiran kecil.

 

Kyungsoo bangkit dan berjalan ke  ruang keluarga untuk mengambil plester dan antiseptik di lemari obat. Keluarga Do selalu membeli persediaan plester dan obat luka yang berlebih untuk mengantisipasi kebiasaan aneh Eunsoo. Meskipun dia adalah seorang pelari, entah bagaimana dia seringkali pulang ke rumah dengan luka di kaki atau tangannya karena jatuh. Eunsoo sendiri pun tidak bisa menjelaskan ini semua, seakan sesaat sebelum dia jatuh ada kulit pisang tak kelihatan yang sengaja berjatuhan dari langit.

 

Begitu tiba di ruang tamu Kyungsoo segera duduk bersila dan menuang beberapa tetes antiseptik ke kapas dan menekannya pelan ke luka Eunsoo, membuat gadis itu memejamkan mata kesakitan. Sementara Kyungsoo tengah berkutat dengan luka adiknya, Eunsoo sibuk memainkan botol antiseptik.

 

“Lain kali, berhati-hatilah. Kau tahu kan kalau jatuh itu sakit? Kenapa kau masih mengulanginya, huh?”omel Kyungsoo, tangannya dengan hati-hati menempelkan plester ke lutut Eunsoo.

 

Eunsoo mengerutkan keningnya, tampak berpikir,”Apa jatuh cinta juga sakit?”tanyanya dengan raut wajah tanpa dosa.

 

Segera saja Kyungsoo menatapnya dengan pelototan tajam sepeti yang biasa ditampakkannya ketika terkejut. “Ya, tahu apa kau soal cinta?”

 

Oppa juga tidak tahu kan? Jelas saja Oppa tidak pernah punya pacar..”ucap Eunsoo asal sambil terkekeh pelan.

 

Kyungsoo terdiam. Kata-kata adiknya baru saja begitu mengena di ulu hatinya. Selama beberapa bulan terakhir memang ada seorang gadis yang selalu memenuhi isi otaknya. Kyungsoo selalu mengingat wajahnya yang penuh senyum, yang dilengkapi dengan suara yang lembut dan gaya yang sederhana tapi cukup membuatnya bertekuk lutut hanya dalam hitungan beberapa hari setelah melihatnya.

 

Oppa..”panggil Eunsoo pelan sambil mengguncangkan bahu Kyungsoo, membuat laki-laki itu tersadar dari lamunannya.

 

Ne?”

 

Oppa tidak lupa mematikan kompor bukan?”

 

Kyungsoo mebulatkan mata lalu segera berlari ke dapur. Benar saja, asap kecil membumbung dari wajan yang berisi beef teriyakinya. Parahnya selama hampir sepuluh menit ini kompor menyala dengan api yang cukup besar, cukup besar untuk membuat sepiring daging sapi berubah kehitaman seperti arang. Kyungsoo menjambak rambutnya sendiri kesal. Ya ampun..

~~~

Angin musim gugur yang kencang seolah baru saja menerobos dinding supermarket yang lengang. Kyungsoo menarik resleting jaketnya ke atas, mencegah udara dingin menusuk-nusuk tubuh mungilnya. Setelah tragedi beef teriyaki tadi Eunsoo terus merengek agar Kyungsoo membelikannya makanan. Karena di kulkas sudah tidak ada apa-apa lagi untuk dimasak akhirnya Kyungsoo angkat tangan. Terpaksa dia harus berjalan sendirian ke minimarket.

 

Beberapa ide masakan terlintas di kepala Kyungsoo yang mendadak terasa pening. Spaghetti kimchi?? Tidak, dia sudah sering memasak menu itu untuk Eunsoo. Diayunkannya keranjang belanja beberapa kali, berharap dengan begitu akan ada ilham yang jatuh dari langit dan menelusup ke otaknya untuk makan malam nanti. Kedua kakinya yang seolah bergerak sendiri membimbingnya ke bagian daging. Dilihatnya beberapa jenis daging yang tersaji di hadapannya berikut dengan harga-harganya.

 

“Kyungsoo, apa itu kau?”suara itu membuat Kyungsoo menoleh sebentar dari bungkusan daging wagyu di depannya.

 

“Jaerin-a? Apa yang kau beli?”Kyungsoo melihat ingin tahu ke keranjang belanja Jaerin yang tersembunyi di balik tubuhnya.

 

“Bukan apa-apa,”sahut Jaerin riang. “Kau sendiri? Apa yang kau beli?”sambung Jaerin, matanya mengarah ke keranjang belanja Kyungsoo yang masih kosong.

 

“Aku baru akan membeli lobak. Oh ya, bagaimana kabar orang tuamu?”

Jaerin tersenyum cerah, membuat kehangatan tiba-tiba merayapi tubuh Kyungsoo yang dilapisi jaket tebal. Rupanya seulas senyum dapat menepis angin yang memaksa masuk ke celah jaketnya.

 

“Mereka baik,”sahut Kyungsoo salah tingkah.

 

Selama hampir sepuluh menit mereka berbincang, dengan beberapa tawa dan anggukan terselip di antaranya. Seorang pegawai yang sejak tadi mondar-mandir mengepel lantai tiba-tiba saja menatap mereka ingin tahu melalui kaca mata bundarnya. Tapi mereka berdua tetap acuh dengan keadaan sekitar. Untuk Kyungsoo, kondisi ini tentunya sangat menguntungkan.

 

Meskipun sejauh ini hal yang dibicarakan Jaerin hanyalah biola namun Kyungsoo yang tak mengerti apa-apa soal biola tetap menikmati suara lembut Jaerin. Jaerin pun terus menyimak Kyungsoo dengan sabar ketika laki-laki itu berbicara panjang lebar soal resep makanan dan jenis-jenis jamur.

 

“Kalau begitu, aku pulang dulu ne?  Annyeong,”Jaerin mengayun langkah dan meninggalkan Kyungsoo di antara tumpukan daging kemasan sambil melambaikan salah satu tangannya.

 

“Annyeong..”

 

Sementara itu Kyungsoo juga turut melambaikan tangan, hanya saja gerakannya tidak sebersemangat Jaerin yang selalu bisa melontarkan senyum di mana saja. Jaerin bukanlah gadis biang gosip yang akan berkeliling koridor kampus setiap hari untuk menyampaikan kabar burung kepada orang lain. Gadis itu memang selalu terlihat anggun, bahkan dengan sifat humorisnya yang menarik.

 

Menarik? Ya, Kyungsoo memang tertarik kepadanya. Ketertarikannya berbeda dengan magnet yang akan saling tarik-menarik jika berbeda kutub. Kyungsoo memang tertarik, namun sepertinya Jaerin tidak begitu. Jaerin cukup pintar menyembunyikan perasaan, apalagi tentang laki-laki mengingat yang ada di otaknya hanyalah biola dan senyuman. Bahkan menurut Kyungsoo, Jaerin mungkin bisa lulus casting iklan pasta gigi.

 

Kedua sudut bibir Kyungsoo tertarik ke atas perlahan lalu tangan kanannya menelusup ke syalnya, mengusap-usap tengkuknya lalu beralih menghadap daging tenderloin di belakangnya.

 

~~~

Drrt… Drrt… Drrt….

 

Benda mungil yang bergetar di dalam kantung celana Kyungsoo membuat laki-laki itu segera mematikan kompor dan memindahkan sup dagingnya dengan ekstra hati-hati ke mangkuk. Dia tidak ingin mengulangi masakannya. Insiden beef teriyaki sudah cukup membuatnya pusing dan trauma. Setelah itu barulah dia meraih ponsel dan menatap layarnya.

 

“Jongin?”gumam Kyungsoo lantas menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

 

“Yeoboseyo,”Kyungsoo memulai pembicaraan.

 

‘Kyungsoo-ya!!’pekik Jongin di seberang, membuat Kyungsoo otomatis menjauhkan ponsel dari daun telinganya.

 

Aish, jangan berteriak! Kau mau mengantarku ke dokter telinga?”omel Kyungsoo sebal lalu mengembalikan ponsel ke telinganya.

 

Didengarnya Jongin terkekeh senang, ‘Mian, mian.. Aku ingin main, boleh kan? Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Ah, jangan lupa sediakan makanan untukku, oke?’kata Jongin dengan cepat sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.

 

~~~

 

“Omo, kau benar-benar berbakat memasak!”puji Jongin senang. Dimasukkannya sesuap demi sesuap sup daging yang masih panas ke dalam mulutnya.

 

“Katakan saja maksudmu kemari,”ujar Kyungsoo sambil menyendok nasi.

 

Jongin menepuk keningnya, “Benar juga. Kau tahu? Sore ini Soo Jung meneleponku dan menyatakan perasaannya padaku!”ungkapnya heboh hingga nyaris menyenggol mangkuk sup.

 

Keurom, kau menerimanya?”tanya Kyungsoo.

 

Ani, aku menyukai seseorang.”jawab Jongin riang sambil lalu meminum beberapa teguk air putih.

 

Nugu? Yoon So Hee?”Kyungsoo menatap Jongin curiga.

 

Jongin tidak menjawab. Sebagai gantinya dia hanya mengeluarkan tawa kecil lalu melanjutkan acara makannya.

 

“Kau akan tahu nanti,”

 

~~~

 

Alunan musik lembut yang memenuhi setiap sudut kafetaria sedikit demi sedikit mengurangi kejenuhan Kyungsoo yang tengah menyeruput americano-nya. Sementara itu di hadapannya Eunsoo tengah terkikik pelan sementara kedua bola matanya terus menyorot ke arah manhwa yang berada dalam tangannya. Kyungsoo mengerutkan kening dan merendahkan pandangan untuk melihat sampul manhwa yang kelihatannya begitu menarik untuk Eunsoo. “Hot Blooded Girl” milik Hwang Mi Ree-lah yang telah menghipnotis Eunsoo selama hampir tiga puluh menit terakhir.

 

“Kau sudah selesai?”tanya Kyungsoo begitu melihat Eunsoo menutup komiknya dan memasukannya ke dalam ransel.

 

Eunsoo mengangguk singkat sebelum menenggak habis machiatto-nya yang tadi tinggal setengah. “Aku mau ke toilet. Tunggu sebentar ne?”

 

Sedetik setelah Kyungsoo mengangkat ibu jarinya mengonfirmasi, Eunsoo buru-buru berlari pelan menuju ke toilet. Kyungsoo yang merasa sedikit bosan lalu menarik resleting ransel Eunsoo dan mengambil Hot Blooded Girl milik adiknya. Adiknya begitu gemar menghamburkan uang untuk membeli manhwa dan manga hingga tidak muat diletakkan dalam kardus dispenser, apalagi jika itu karangan Hwang Mi Ree dan Yoshinaga Yuu.

 

“Aku tidak pernah tahu kalau kau suka membaca komik,”suara berat seorang laki-laki membuat Kyungsoo tersentak dari transnya. Ketika dia mendongakkan kepala, sebuah cengiran tengil tampak tergambar dalam wajah seorang laki-laki berkulit gelap.

 

“Ini milik Eunsoo. Apa yang kau lakukan di sini?”tanya Kyungsoo.

 

“Kencan.”jawab Kim Jongin laki-laki itu santai, namun begitu mengena.

 

Perlu waktu beberapa detik bagi Kyungsoo untuk menyadari kehadiran gadis yang tengah menautkan lengannya ke lengan Jongin. Im Jaerin.  Seakan kursinya baru saja disetrum listrik, Kyungsoo segera bangkit dari duduknya.

 

“Kalian? Sejak kapan?”bahu Kyungsoo merosot lemah bersamaan dengan gerakan jantungnya yang mencelos begitu cepat.

 

“Tadi malam.”Jongin dan Jaerin mengucapkannya bersamaan, lalu saling berpandangan dan tersenyum.

 

“Aku akan memesan americano. Kyungsoo-ya, kau mau?”tawar Jaerin. Kyungsoo menggeleng pelan, membuat Jaerin tersenyum. Namun kali ini senyum Jaerin terasa menyayat hatinya, jadi Kyungsoo membuang pandang ketika Jaerin berjalan ke counter untuk memesan minuman.

 

Bibir Kyungsoo terkatup rapat. Jadi gadis yang dipilih Jongin adalah Jaerin. Bagaimana dia bisa tidak tahu?  Senyum yang ditujukan Jaerin kepadanya hanyalah sebagai teman. Rasanya benar-benar menyakitkan. Seakan dia adalah sehelai daun maple yang jatuh pada musim gugur, terhempas lalu diinjak hingga berbaur dengan tanah.

 

Ya, apa yang sedang kau pikirkan?”Jongin bertanya khawatir sembari mengguncangkan lengan Kyungsoo. “Aku dan Jaerin akan menonton film horor malam ini. Kau mau ikut? Kau bisa mengajak Eunsoo juga.”sambung Jongin.

 

Ani, malam ini Eunsoo memintaku untuk menemaninya belajar,”jawab Kyungsoo. Perasaannya tidak enak.

 

Jongin mengangguk-angguk mengerti. “Kalau begitu, aku pergi dulu.ucap Jongin lalu menepuk bahu Kyungsoo.

 

Kyungsoo menolehkan kepalanya cepat. Dia melemparkan tatapan heran ke arah punggung Jongin yang semakin menjauh dan mendekati Jaerin. Mata Kyungsoo mendadak terasa panas. Dia  menggeleng pelan, menangkis semua kesedihannya. Jaerin memang membutuhkan seseorang seperti Jongin. Seseorang yang benar-benar akan menjaganya, seperti seorang guardian. Bukan seorang laki-laki kalem yang akan memasakannya berbagai menu setiap hari dan menyanyikannya nina bobo sebelum tidur melalui telepon. Yah, mungkin ada gadis yang menyukai laki-laki sepertinya. Tapi sayangnya, kesempatan itu belum diberikan kepadanya.

 

OppaJa, kita pulang!”

 

“Kenapa kau lama sekali?”omel Kyungsoo seraya memicingkan matanya ke arah Eunsoo yang tengah memasukkan komiknya ke dalam tas. Eunsoo tertawa kecil.

 

“Bukankah itu, Jongin Oppa? Siapa gadis yang sedang bersamanya? Pacarnya?”Eunsoo segera menyerbunya sambil memandang ingin tahu ke arah Jongin dan Jaerin yang tengah menyesap americano di meja yang berada di tengah kafetaria.

 

“Eunsoo-ya..”panggil Kyungsoo begitu bangkit dari duduknya. Eunsoo segera menoleh ke arahnya dan mengangkat alis tanda penasaran.

 

“Kau tahu? Jatuh itu sakit, terutama jatuh cinta. Seperti yang kau katakan, aku memang tidak mengerti apa-apa tentang cinta. Tapi, sekarang aku tahu rasanya jatuh.”ungkap Kyungsoo mendadak puitis, membuat Eunsoo menatapnya dengan raut wajah kebingungan.

 

 

~~~

 

            Kau boleh mengumpamakanku seperti daun maple

 

            Menunggu begitu lama tanpa letih

 

            Meskipun akhirnya angin kencang musim gugur menghempasku

 

            Hingga rontok dan terjatuh ke tanah

 

            Bahkan meskipun sakit dan terinjak oleh langkah kaki

 

            Aku tak peduli

 

            Aku akan bahagia berselimut salju yang seperti senyumanmu

 

            Putih bersih namun terasa dingin dan menusuk hati

 

16 thoughts on “Like Autumn Falls

  1. hayoyoooo ini puitis sangat thorr >< kata pembuka dan penutup nya sama kayak makanan pembuka dan penutup buatan kyungsoo, bikin ngelus dada saking takjubnya… oh mai gattt do kyungsoo kau anggap apa aku disini hah!? /ditabok D.O

  2. jir damn jaerin :#.. sini sayang.. biar aku peluk… cupcup(hugKyungsoo).
    Summarynya KEREN BADAI!!. klau itu bkinan sndiri i just like.. WOW.. Well done thor!!😀 (like)

  3. Kirain yg disuka jongin tu adekx kyungsoo, ternyata eh ternyata, yg disuka jongin sma kyk yg disuka kyungsoo #poorkyungsoo😦
    Keren thor, tp pendek, tp ttp oke kq🙂
    Keep writing and fighting😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s