Posted in Chapter, exofanworldfreelance, Fanfiction, Fantasy, Series

My Adventure In Green Island #1

Cast : Byun Baekhyun,

Hwang Ji Sara (OC), and others Exo’s Member

Genre : Fantasy

Lenght : Chapter

Rating : PG

Disclaimer : This story just for my imagination. Don’tplagiat this fic, because it’s pure my write. I hope you can enjoy and likethis story^^

1391893_545974065481942_1611570061_n

Dengarlah suaraku

Dengarlah suara kami

Hanya satu hal yang kami inginkan

Kami ingin hidup Jiwa kamiberada ditanganmu

Dengarlah suara kami

Dan lindungilah kami

***

Aku tidak tahu kapan petualangan inidimulai. Namun, yang pasti ini semua bagaikan mimpi nyata bagiku.

***

“Ne, eomma tidak perlumengulang-ulang setiap hari. Aku tak akan lupa makan dan akan selalu pergi les.Tenang saja! Appa? Sudah pergi ke Busan tadi pagi. Rencananya mau pulang harisabtu. Katanya, appa juga akan menelepon eomma. Sudah dulu, eomma. Daaah!”

 

Brakkk!

 

Setelah meletakkan gagang telepondengan seenaknya, Baekhyun berlari ke arah dapur dengan panik.

Mie instan yang bisa langsungdimakan setelah diseduh dengan air panas selama 2-3 menit, menunggu Baekhyun diatas meja dapur.

 

“Ah, jadi tidak enak! Kenapasih eomma harus menelepon sekarang? Kuahnya kan jadi habis.”

 

Dengan wajah kesal, Baekhyunmenyeruput mie nya yang sudah gembung. Itulah makan siang Baekhyun. Siang diaakan makan mie, dan malam dia akan pesan melalui delivery service.

 

Seandainya eomma ada di rumah danmelihatnya pasti akan berkata, “Makan seperti itu tidak menyehatkanbadan!” dengan mata melotot seperti ingin menerkam. Namun, sekarang diasendiri. Jadi, dia bebas untuk makan apapun.

Kali ini adalah liburan yang membosankan,karena dia tak berencana pergi jalan-jalan.

 

Appa dan eommanya yang cerewetsedang tidak ada di rumah. Baekhyun ingin menikmati kesendiriannya ini karenasebentar lagi datang seorang anak kecil yang akan mengaduk-aduk isi rumah.

 

Byun Baekhyun, murid kelas 2 SMA.Badannya cukup tinggi diantara teman-teman sekelas. Prestasinya juga cukupbagus. Baekhyun bukan murid yang istimewa, tetapi dia tidak pernah punyamasalah di sekolah.

Minggu lalu, eommanya masuk rumahsakit untuk melahirkan adiknya. Sedangkan appanya bertugas ke luar kota.

Meskipun, hanya 3 hari, tetapi appadan eommanya merasa cemas meninggalkan Baekhyun sendirian di rumah. Namun bagiBaekhyun, hal tersebut malah menyenangkan.

 

Dia merasa malu jika tidak beranitinggal di rumah sendirian karena sudah kelas 2 SMA.

Lagipula, bebas dari pengawasanorangtua yang cerewet di rumah adalah pengalaman pertamanya yang menggairahkan.

 

Dia bebas tidur sampai larut malamtanpa dimarahi, bisa nonton sepuas-puasnya, bisa makan sesuka hati dengan uangyang ditinggalkan appanya.

 

Eommanya sering menyuruh untuk makanmakanan yang bergizi, tapi sekarang kan eommanya tidak tahu. Jika cuma 3 haribisa makan sesuka hati, kan tidak akan membuatnya mati.

 

Setelah selesai makan mie, Baekhyunmengambil es krim dari pendingin dan memakannya sambil menonton televisi.

Dia mau main game sambil menungguwaktu les nanti sore.

 

Sebenarnya dia berjanji kepadaeommanya, main game cukup satuu jam setiap hari. Namun, hari ini berbeda.Baekhyun bersemangat main game yang baru dibelikan appanya sebelum liburan dimulai.

Cuaca sangat cerah. Meskipun di luarsuhunya lebih dari 30 derajat, tetapi di ruang keluarga ini sangat nyaman dansejuk berkat pendingin ruangan.

 

Diluar, bunga matahari bermandikansinar matahari tampak keberatan menyangga bunganya. Bunga itu ditanam appanyatahun lalu saat mereka baru pindah ke rumah ini.

 

Sampai kelas 1 SMA, Baekhyun dankeluarganya tinggal di sebuah apartemen di Seoul. Namun, karena dongsaengnyaakan lahir, Appanya memutuskan pindah ke sebuah rumah yang mempunya halamancukup luas di luar kota Seoul. Karena memiliki sebuah rumah dengan halamancukup luas adalah impian appanya.

Appanya lahir dan besar di daerahyang alamnya masih hijau, selalu berkata kalau manusia dilahirkan untuk hidupdi atas tanah.

 

Namun, bagi Baekhyun yang lahir danbesar di kota, tinggal dimanapun sama saja.

Meskipun harus menempuh perjalanan selamadua jam untuk pergi ke kantor, appanya sangat gembira dengan rumah baru ini.

 

Lokasi rumah mereka adalah wilayahperumahan di pinggir kota yang cukup diminati. Perumahan ini dikembangkanbeberapa tahun yang lalu. Dulunya wilayah ini adalah daerah pegunungan danhutan. Rencananya di daerah ini akan dibangun supermarket, rumah sakit, TK, SD,SMP, SMA.

 

Murid-murid di sekolah Baekhyunsebagian besar pindahan dari kota, sama sepertinya. Jadi, Baekhyun yang barupindah pun bisa menyesuaikan diri dengan cepat.

 

Perumahan lain yang tidak jauh daritempat mereka pun mulai dibangun.

Dalam waktu beberapa bulan sejakkepindahan Baekhyun, keadaan disekitar mereka sedikit demi sedikit berubah.Beberapa rumah baru mulai dibangun.

 

Di tempat yang agak terpisah dariperumahan mereka, terdapat papan yang bertuliskan ‘Perumahan Dongducheon, Pembangunan Tahap ke Tiga’

 

Sejak dua, tiga bulan yang lau,diadakan pembangunan besar-besarang dengan membuka hutan.

Tampaknya ada rencana untuk menambahpenduduk wilayah ini dengan membangun sebuah perumahan baru lengkap denganfasilitasnya tahun depan.

 

Pembangunan itu berada tepatdibelakang sekolah Baekhyun. Karena banyak truk dan buldoser, para siswadiperingatkan supaya tidak mendekati tempat berbahaya itu.

 

Baekhyun berpikir, mana ada orangyang mau mendekati lokasi pembangunan itu di hari sepanas ini.

Dia jadi teringat, appanya pernahbercerita, ketika masih kecil appanya suka pergi menangkap serangga di gunungdan berenang di sungai.

 

Huh. Daripada kepanasan mencariserangga, lebih baik bermain komputer atau menonton di rumah.

Di layar televisi, tampak seorangbayi tertawa untuk iklan sebuah produk pempers. Sebentar lagi eommanya akanmelahirkan.

 

Karena eommanya pernah keguguran,sekarang harus dirawat di rumah sakit. Menurut perhitungan waktu, eommanya akanmelahirkan minggu depan.

 

Baekhyun yang sudah 16 tahun menjadianak tunggal, tidak tahu rasanya mempunyai dongsaeng.

Kalau ada bayi, mungkin eommanyatidak akan marah-marah lagi. Namun, pasti akan sangat berisik jika dongsaengnyamenangis.

 

Seperti apa rasanya kalau anggotakeluarga bertambah seorang lagi, ya?

Baekhyun menekan salah satu tomboltelevisi, layar berubah menjadi abu-abu tua yang tenang.

Sekarang waktunya untuk bersenang-senang!Baekhyun akan memasuki dunia petualangan dalam layar televisi.

Di dalam dunia itu, Baekhyun akanmenjadi Ksatria yang menolong sebuah kerajaan yang sedang diserang setan, danberperang melawan jin-jin dengan pedang keadilan.

 

Memang hanya permainan, tapiBaekhyun merasa menjadi seorang ksatria sungguhan.

Waktu menunjukkan pukul satu lewat.Setelah meletakkan mangkuk es krim, Baekhyun bersiap untuk memulai permainan.

 

Biasanya di layar akan tampak ‘gameOpening’, tapi hari ini layarnya hanya berwarna hitam saja.

 

“Aneh! Rusak, ya?”

 

Baekhyun menjadi gelisah. Setelahberkali-kali menekan tombol, pada layar tampak perubahan. Namun, bukanperubahan yang diharapkan. Warna cokelat berubah menjadi warna hijau terang.

 

“Apa ini?”

 

Di layar yang berwarna hijautertulis tulisan.

 

“Dengarlah suaraku

Dengarlah suara kami

Hanya satu yang kami inginkan

Kami ingin hidup

Jiwa kami berada dalam tanganmu

Dengarlah suara kami

Lindungilah kami”

 

“Ksatria yang mendengar suarakami, siapa namamu?”

 

“Ksatria?”

 

Baekhyun dijalari semangat yangmembara ketika membaca tulisan tersebut. Ini seperti ‘game opening’ hanya sajahal ini sedikit lebih menegangkan.

 

Di layar tampak, tampak ruang untukmemasukkan nama pemain. Baekhyun merasa ingin tahu. Dia sudah tidak cemas lagi.Lalu memasukkan namanya sendiri.

 

B-a-e-k-h-y-u-n

 

Layar televisi itu bersinarmenyilaukan. Sinar itu seperti menelan kesadaran Baekhyun.

 

 

 

Layar sudah dibuka dan petualanganBaekhyun dimulai.

.

.

.

.

.

.

***

 

Bau yang sangat kental memenuhiudara.

 

Saat kesadarannya pulih, Baekhyunmencium aroma yang sangat kuat yang membuatnya teringat pada sesuatu.

 

“Apa yang terjadi?”

 

Yang jelas tadi ada sinarmenyilaukan di layar televisi.

 

Baekhyun melihat sekeliling. Dikejauhan tampak sesuatu yang berwarna hijau.

 

Dimana ini? Seharusnya dia berada diruang keluarga yang sejuk dirumahnya.

 

Beberapa pohon mengelilinginya.Daun-daun pohon yang berwarna hijau menaungi kepalanya.

Televisi, meja, dan sofa menjadiranting-ranting pohon yang besar. Karpet beludru yang lembut dan empuk menjadirumput liar dan daun kering di atas tanah yang lembab.

 

Ini hutan!

 

Untuk beberapa saat Baekhyuntermangu. Mungkinkah ini hanya mimpi?

Kakinya yang tidak beralas merasasakit saat menginjak daun kering dan ranting pohon yang patah.

Baekhyun sadar, bau yang diciumnyadari tadi adalah bau daun-daun hijau.

 

Udara hutan yang rindang, tidaksedingin udara dari mesin pendingin, tetapi hangat oleh batang-batang pohon.

Angin menggoyang-goyangkandahan-dahan pohon. Terdengar suara gemerisik daun-daun. Juga suara urung danjangkrik.

 

Sejak lahir, Baekhyun belum pernahmenginjakkan kakinya ke dalam hutan.

Paling-paling cuma hutan semak yangdia masuki saat kelas 1 SMA.

Lalu kenapa sekarang dia ada dihutan? Dia berusaha mengingat-ingat lagi.

 

Ya! Televisi. Tetapi dimanakahgerangan dia sekarang? Bagaimana caranya pulang kerumah?

 

Krek!

 

Terdengar suara dari arah belakang.Suara itu seperti suara ranting pohong yang patah.

 

“Ada yang datang?”

 

Baekhyun menatap ke arah datangnyasuara dengan perasaan cemas dan senang.

 

Srek! Srek! Srek! Suara itu semakindekat.

 

Baekhyun menahan napas saat sipembuat suara tadi menampakkan dirinya di samping pohon yang tinggi.

Ternyata si pembuat suara adalah duabayangan hitam yang jauh lebih tinggi dari Baekhyun.

Dia berdiri dengan kedua kakinya,tangannya pun ada dua. Dia mempunyai kepala tetapi tidak mempunyai mata danhidung.

Di tengah-tengah hutan yang berwarnahijau, mereka seperti kegelapan yang bergerak-gerak.

 

“Makhluk apa itu?”

 

Baekhyun diliputi rasa ketakutan.Dia bersembunyi dibalik sebuah pohon.

Bayangan itu mendekatinya sambilmengeluarkan suara-suara berat yang tidak jelas.

 

“Krek! Krek!”

 

Terdengar suara menyeramkan saatkaki bayangan hitam itu menginjak-injak rumput.

Sambil bersembunyi di balik bayanganpohon, Baekhyun menunggu sampai mereka lewat.

 

“Swiiing!” Terdengar suaratajam seperti membelah udara.

 

Bersamaan dengan itu, salah satubayangan tadi berteriak dengan suara yang menakutkan. Di salah satu kakinyatertancap sebuah anak panah.

 

Seorang anak laki-laki berlari disamping Baekhyun. Rambutnya hijau, mantelnya juga hijau. Pemuda itu lebih tuakira-kira 2 atau 3 tahun dari Baekhyun.

 

Dia melempar busur yang dipegangnyadan mengeluarkan pedang dari sarung yang dipasang di pinggulnya lalu menyerangbayangan itu.

 

Disambarnya bayangan itu dua sampaitiga kali dengan pedangnya.

Bayangan-bayangan besar itu,akhirnya melarikan diri dengan suara-suara histeris.

 

“Hebat!” gumam Baekhyuntanpa sadar.

 

Dengan penampilan yang gagah sertapedang untuk bertarung, dia seperti Ksatria dalam game komputer atau filmanimasi.

 

Dia juga manusia pertama yangditemuinya di hutan ini.

Ksatria berambut hijau itu tidakmengejar bayangan yang melarikan diri itu.

Setelah menyarungkan pedang, diamelihat Baekhyun dengan ekspresi yang tenang pada bola matanya yang cokelat.

Saat Baekhyun kebingungan tidak tahuharus berbuat apa, pemuda itu berjalan ke arahnya.

 

“Apakah kau yang bernamaBaekhyun?”

 

Pertanyaan itu tidakdisangka-sangka. Baekhyun tergagap. Sekali lagi pemuda itu bertanya dengansuara yang lebih keras.

 

“Aku bertanya, apakah kau yangbernama Baekhyun?”

 

“Ya!” jawab Baekhyunkepada pemuda yang tidak simpatik itu.

 

“Bagaimana kau tahu namaku?Siapa kau? Aku ada dimana?”

 

Pria itu tidak menjawab. Dia menatapBaekhyun dengan pandangan dingin. Sikap dan ekspresinya tampak lebih tuadaripada umurnya. Tingginya sepulis senti melebihi Baekhyun.

Bajunya sederhana, dirajut daribahan tumbuhan. Kulitnya berwarna cokelat muda.

Dahan pohon bergoyang-goyang tertiupangin. Sinar matahari menerobos masuk dari celah-celah daun.

Setelah menggoyangkan rambutnya yanghijau dan tampak segar, dia menjawab pertanyaan Baekhyun.

 

“Tempat ini adalah negeri Hijaudan kami adalah bangsa Hijau.”

 

“Negeri Hijau?”

 

Dimana gerangan negeri itu? Di duniabagian mana? Kenapa aku ada di sini?

 

Seolah-olah bisa membaca apa yangdipikirkan Baekhyun, pemuda itu berkata, “Kau sudah menjawab panggilankami. Putri Sara yang memanggilmu ke sini.”

 

“Putri Sara?”

 

Negeri Hijau? Putri Sara? Ini duniagame?

 

“Ikuti aku! Putri Sara sudahmenunggu di istana.”

 

Dengan sigap pemuda itu membalikkanbadan dan berjalan.

 

“Tunggu!”

 

Baekhyun masih kebingungan, tetapisaat ini Baekhyun cuma bisa bergantung pada pemuda tadi.

Cepat-cepat Baekhyun mengejarnyasebelum lenyap tertelan hutan yang lebat.

Walaupun kaki Baekhyun terlukakarena menginjak ranting pohon yang patah dan lengan serta wajahnya puntergores, Baekhyun tetap berusaha menyusul pemuda itu.

 

Akhirnya mereka sampai ke tempattujuan.

 

“Ini istana Hijau yang ada dtengah-tengah negeri kami,” ucap pemuda itu dengan bangga.

Sesuai dengan namanya, istana itudibangun dari batang-batang pohon yang besar dan penuh dengan kehijauan alam.

Istana itu berbeda dari bayanganBaekhyun. Tetapi istana itu indah dan megah.

 

“Kesini! Cepat!”

 

Dengan agak memaksa, pemuda itumenyuruh Baekhyun masuk mengikutinya.

Apakah ketidakramahannya itu karenasifatnya atau tidak? Pikir Baekhyun.

Selama perjalanan menuju istana,mereka hanya diam. Pemuda itu sudah biasa berjalan di dalam hutan, tetapi tidakmau tahu kalau Baekhyun belum terbiasa.

 

Baekhyun menggerutu dalam hati,Padahal usia mereka tidak jauh berbeda tetapi kenapa sombong sekali.

Baekhyun hanya berjalan mengikutitanpa bisa berbuat apa-apa.

 

Bagian dalam istana, mempunyaikeindahan yang berbeda dari luarnya. Mata Baekhyun terbelalak kagum,

Dinding dan langit-langitnya yangtinggi, terbuat dari pohon dan ranting yang dikombinasikan dengan apik.Lantainya seperti karpet beludru berwarna hijau.

 

Udara di dalam istana sama sepertidi dalam hutan tadi, masih beraroma kental.

Tanpa sadar Baekhyun menghirupnyasampai memenuhi paru-parunya. Baekhyun merasa ada tenaga baru yang memasukisetiap sudut tubuhnya.

 

Meskipun ini tempat yang barupertama kali di kunjunginya, tetapi perasaannya sangat tenang.

Mereka menuju ke ruang singgasana.Begitu kayu penutup dibuka, di dalamnya tampak beberapa orang dewasa. Ruanganitu luas dan diselimuti oleh sinar matahari hijau lembut.

 

Rambut mereka juga berwarna hijau danbermantel hijau. Mungkin ini tempat petinggi negeri ini karena wajah merekasangat serius dan tingkah laku mereka pun penuh wibawa.

 

Tidak jauh dari tempat para petinggiterdapat singgasana kerajaan.

 

Perasaan tidak tenang menyelimutiBaekhyun. Tetapi, kegelisahannya kalah oleh perasaan ingin tahu tentang putrinegeri ini. Seperyi apa gerangan putri dari negeri Hijau ini?

 

Baekhyun belum pernah bertemu denganseorang putri secara langsung.

Apakah dia mirip dengan Putrikerajaan Inggris? Princess Diana? Atau seperti putri-putri negeri GinsengKorea? Atau mungkin seperi putri-putri yang kecantikan yang sering dilihatnyaditelevisi?

 

“Putri Sara, saya mengantarkanBaekhyun.” Pemuda itu memberi hormat.

Baekhyun kebingungan apakah diaharus melakukan hal yang sama.

 

“Selamat datang. Kami sudahmenunggu.”

 

Terdengar suara dari balik kelambu.Suara itu sangat lembut. Baekhyun tidak percaya apa yang dilihatnya saatkelambu

dibuka oleh para dayang istana.

 

Putri yang duduk di singgasana itu,seorang perempuan seusia dengannya.

 

Dia sangat cantik. Belum pernahBaekhyun melihat gadis secantik itu.

Kulitnya putih jernih dan tampaklembut. Rambutnya bersinar berwarna perak, matanya berwarna hijau segar.Badannya langsing, memakai baju dari bahan sutera berwarna putih polos.

 

Wajahnya yang menyenangkan itumemancarkan kharisma seperti seorang ratu.

Putri Sara tersenyum kepada Baekhyunyang terpana. Senyumannya lembut seperti bunga. Dan hal itu membuat Baekhyunseketika tak berkutik.

***

TBC

 

 

Tittle : MyAdventure In Green Island Part 2

Cast : ByunBaekhyun, Hwang Ji Sara (OC), and others Exo’s Member

Genre : Fantasy

Lenght : Chapter

Rating : PG

Disclaimer :This story just for my imagination. Don’t plagiat this fic, because it’s puremy write. I hope you can enjoy and like this story ^^

***

Dengarlah suaraku

Dengarlah suara kami

Hanya satu hal yang kami inginkan

Kami ingin hidup Jiwa kami beradaditanganmu

Dengarlah suara kami

Dan lindungilah kami

 

***

 

Aku tidak tahu kapan petualangan inidimulai. Namun, yang pasti ini semua bagaikan mimpi nyata bagiku.

 

***

 

“Ah, namaku Byun Baekhyun.Usiaku 16 tahun.” Baekhyun memperkenalkan dirinya gugup karena di depannyaada Putri yang cantik dan tampak seusia dengannya.

Wajahnya memerah karena malu, tapisepertinya Putri tidak tampak kecewa, sebaliknya dia selalu tersenyum sepertibunga.

 

 

“Selamat datang, Baekhyun.Terima kasih sudah datang. Aku Sara, Putri dari Negeri Hijau. Lalu yang disanaadalah para pembesar Negeri kami.” Setelah memperkenalkan dirinya, denganjarinya yang putih Putri Sara menunjuk satu persatu ke arah orang dewasa yangberdiri berjajar.

 

“Menteri D.O Kyungsoo, MenteriKim Jongin, dan Menteri Wu Yifan. Lalu Jendral Park Chanyeol adalah pemimpintentara kerajaan kami.”

 

Baekhyun mengamati mereka satupersatu. Menteri D.O Kyungsoo yang paling tua dan paling tenang dari semuanya,Menteri Kim Jongin berkesan formal tapi tempak keras, Menteri Wu Yifan berbadanpaling tinggi dan tampak seperti seorang bangsawan, dan Jendral Park Chanyeolberbadan besar dengan pandangan yang tajam.

 

Tampak mereka menganggung ringan kearah Baekhyun. Tatapan mereka sangat tajam, sepertinya tak seorang pun beranimenantang.

 

Baekhyun merasa tak disambut baikoleh mereka. Lalu, kenapa mereka memanggilnya kemari?

Hanya Putri Sara saja yang tampakmenyambut kedatangan Baekhyun.

 

“Baekhyun, yang ada di siniadalah Xiao Luhan. Dia penasehatku.”

Orang yang terakhir diperkenalkanPutri Sara sudah tua, dengan janggut putih yang panjangnya hampir menyentuhlantai, sangat tenang seperti sosok pohon tua yang sudah kering.

 

“Selamat datang, Baek,”sapanya dengan hangat.

Melihat wajahnya yang penug denganalis dan janggut yang putih, Baekhyun bisa menebak kalau dia sudah lama hidup.Baekhyun juga merasakan keramahan dan ketenangan dari aura pria tua itu. Dialangsung suka kepadanya.

Baekhyun pun berpikir, Mungkinkahorang tua ini bisa menjawab semua yang menjadi pertanyaan di hatinya?

 

“Penasehat Xiao Luhan, bisakahanda memberitahuku dimanakah letak negeri hijau ini? Dan kenapa aku dipanggilkesini?”

Luhan melihat Putri Sara yangmengangguk tanda menyetujui. Luhan pun berdehem keci, dan mulai menjelaskan.

 

“Negeri Hijau ini adalah duniayang berbeda dengan duniamu. Tapi dunia kami ada bersama dengan duniamu.”Luhan berhenti sejenak, menatap Baekhyun yang kelihatan bingung.

 

“Baek, saat ini negeri kamisedang dalam bahaya. Bangsa Teranian, menyusup ke dalam negeri kami danmelakukan penghancuran.”

 

“Teranian?” Tiba-tiba didalam benak Baekhyun muncul lagi ‘bayang-bayang’ hitam tadi. Mungkinkah ituyang dinamakan Teranian?

 

“Kami berperang mati-matianuntuk mempertahankan negeri kami. Tetapi mereka tidak bisa dihentikan. Jadiuntuk menyelamatkan negeri kami dari kehancuran, perlu bantuan darimanusia.”

 

“Manusia?”

 

Luhan dan Putri Sara mengangguk.

 

“Dan yang menjawab panggilankami adalah kau, Baekhyun.”

 

Baekhyun mengangguk, mulai mengertimasalahnya. Pesan yang ada di layar televisi adalah pesan yang dikirim olehPutri Sara. Ini seperti menjadi tokoh utama dalam sebuah game.

 

Tidak!

 

Ini bukan game, ini kenyataan.

 

Saat bermain game adventure,Baekhyun selalu membayangkan betapa menyenangkan jika itu sungguhan. Seandainyabisa menjadi ksatria sungguhan, pasti dia bisa bertarung dengan gagah berani.Dan sekarang, mimpi itu menjadi kenyataan.

 

Baekhyun sangat senang, senyummerekah di bibirnya. Menjadi ksatria sungguhan, pastinya akan menjadipengalaman yang tak akan terlupakan dan tentunya akan sangan berkesan bagiBaekhyun.

 

“Baekhyun, apakah kau bersediaberjuang bersama kami?”

 

Baekhyun menatap Luhan dan PutriSara bergantian, tampak berpikir. Jika dia tidak kembali ke rumah, eomma danappanya pasti menjadi cemas. Mereka akan menelepon polisi dan akan terjadikeributan besar.

 

Namun, dia ingin melakukanpetualangan yang hebat ini. Apakah dia harus menolak tantangan ini dengan wajahmalu? Ini adalah kesempatan yang tidak bisa datang begitu saja. Ya, dia dipilihuntuk menyelamatkan negeri ini. Akhirnya Baekhyun pun menjawab dengan semangat.

 

“Tentu saja.”

 

Baekhyun berlutut dihadapan PutriSara, “Aku akan bertarung dengan segenap kemampuanku untuk NegeriHijau.”

Luhan dan Putri Sara tersenyum, “Terimakasih, Baekhyun.”

Baekhyun terpana, mengagumi sosokPutri Sara yang tersenyum manis.

 

“Berikan pedang legenda inikepadanya!”

Luhan mengantarkan sebuah pedangkehadapan Putri Sara. Dengan hati-hati Putri Sara menyerahkannya kepadaBaekhyun.

 

“Ini pedang suci negeri kamisejak dulu, Pedang Elm. Aku mempercayakannya kepadamu.”

 

Baekhyun menerima pedang itu darigenggaman Putri Sara. Pedang itu terasa berat di tangannya. Ketika dia

melepaskan sarungnya, pedang itu bukan terbuat dari baja tetapi dari kayu.Namun, ini juga bukan pedang-pedangan anak kecil.

 

Mata pedang yang digosok itu sangatkeras dan tajam. Pedang ini seperti mempunyai kekuatan roh. Hanya denganmemegangnya, tubuh Baekhyun dijalari kekuatan. Dengan pedang ini dia akantampak seperti ksatria sungguhan.

Baekhyun mengangkat Pedang Elm itutinggi-tinggi di hadapan Putri Sara, hatinya menari-nari dengan penuh semangatkarena petualangannya akan benar-benar dimulai

.

.

.

.

Baekhyun akan melakukan pertarunganpertama keesokan harinya. Medan perangnya ada di sebelah selatan Negeri Hijau.Teranian masuk dari selatan dan terus mendesak menuju ke istana yang ada dipusat negeri.

Sudah sepertiga bangsa Hijau yangrumahnya di serang dan banyak yang sudah dibunuh oleh Teranian.

Sebuah mata air kecil yang indah,berada dalam Istana Hijau yang dijaga oleh Putri Sara. Mata air itu adalahsumber kehidupan bangsa hijau. Jika mata air itu hilang, negeri Hijau punlenyap. Jadi, tentara Negeri Hijau berjuang mati-matian menjaganya.

 

Jendral Park yang gagah berani,dipercaya dan dihormati prajurit akan menjadi pusat komando. Prajurit dibagimenjadi beberapa kelompok yang beranggotakan beberapa ratus orang.

 

Baekhyun bertarung bersama paraprajurit yang dipimpin oleh Tao pemuda yang ditemui Baekhyun pertama kali waktudatang ke negeri ini. Tao adalah putra perdana menteri Kyungsoo, yang meskipunmasih muda , tapi Tao adalah seorang prajurit yang tangguh. Dan sepertinya diamerasa tidak cocok dengan Baekhyun.

Pagi harinya, Baekhyun dan yang lainakan bertarung di selatan karena menurut menara pengawas, serangan dariTeranian sudah di mulai dari sana.

 

Baekhyun menyangka pergi berperangdengan naik kuda, tapi dugaannya salah. Di Negeri Hijau tidak ada kuda,sehingga mereka harus berjalan kaki.

 

Untuk berperang, semua dilengkapidengan pakaian dan sepatu perang. Baekhyun harus berlari ke tempat pertarungandi dalam hutan yang belum dikenalnya.

 

Ini sangat berbeda dengan game yanghanya menekan tombol saja. Karena ini kenyataan, pasti akan sulit. Baekhyunsedikit menyesali keputusan untuk ikut dalam pertarungan ini.

 

Teranian adalah bayangan hitam yangpernah ditemuinya. Tetapi, di medan perang, berapa banyak bayangan besar yang akandihadapinya? Sosok Teranian seperti monster raksasa yang buas. Ada juga yangmirip naga.

Siluetnya hitam dan bergerak-gerak.Mereka berteriak histeris, kadang-kadang menyerang bangsa Hijau dengan kukunyayang tajam atau dengan sebuah gading. Jumlah monster itu mungkin ada sepuluh.

 

Tentara Kerajaan di bawah pimpinanaJendral Park melancarkan serangan gencar kepada Teranian. Satu kelompok tentaradilengkapi dengan senjata seperi batu untuk dilempar, sedangkan yang lainnyadengan panah beracun.

Tentara yang dipimpin oleh Tao,menyerang musuh dengan gencar dengan pedang dan tombak yang tajam. Baekhyunyang tadinya hanya maju sedikit, berpikir Jika dia seorang ksatria, tidakseharusnya dia begini. Dia tidak akan tahu petualangan seperti apa ini. Yangpasti, dia tidak boleh menyerah!

 

Baekhyun merasa dipenuhi olehkekuatan pedang suci yang digenggamnya. Baekhyun berlari maju dan melupakandirinya. Dia melompat tinggi-tinggi di udara dan menyerang monster itu dengangencar.

Diluar dugaan, monster bayanganhitam itu badannya sangat keras seperti baja. Jika begini, diserang dengantombak dan pedang sekalipun tidak akan mengalami luka parah, pikirnya kesal.

 

Baekhyun menatap sekelilingnya,tentara Kerajaan berjatuhan terkena cakar dan gading monster itu. Baekhyun harusmencari titik lemahnya. Karakter musuh yang ada dalam animasi maupun gamesebagian besar mempunyai titik lemah.

Baekhyun mengamati badam monsterhitam itu. Bagian pangkal cakarnya paling tidak terlindungi.

Saat monster itu mengeluarkancakarnya, Baekyun menusukkan Pedang Elm ke bagian pangkan cakar itu. Lansungsaja gerakan cakar itu terhenti.

 

Saat Baekhyun menusuknya lagi, cakaritu jatuh dari badan hitam monster itu.

 

“Berhasil!!” Tanpa sadarBaekhyun berteriak dengan suara keras, “Pangkal cakarnya! Itukelemahannya! Serang!”

Tao dan para panglima menyerangcakar itu. Diserang olehn banyak tentara dengan beratus tusukan, membuatcakar-cakar itu berjatuhan dari tubuh sang monster.

Para monster itu memekik histeriskarena kehilangan cakarnya dan mulai mundur.

Untuk sementara, Baekhyun danprajurit lainnya telah berhasil menyelamatkan kerajaan.

 

“Hidup, Ksatria Baekhyun!”

 

Prajurit yang lain mengelilingiBaekhyun dan meneriakkan yel-yel kemenangan.

Ini sebuah penghormatan untukkemenangan pertamanya.

Pertarungan yang sebenarnya ternyata berlipat kali lebih menarik daripada game, pikir Baekhyun yang gembira karenaberhasil membawa kemenangan.

 

TBC

 

Tittle : My Adventure In Green Island  Part 3

Cast : Byun Baekhyun,

Hwang Ji Sara (OC), and others Exo’s Member

Genre : Fantasy

Lenght : Chapter

Rating : PG

Disclaimer : This story just for my imagination. Don’tplagiat this fic, because it’s pure my write. I hope you can enjoy and likethis story ^^

 

***

Dengarlah suaraku

Dengarlah suara kami

Hanya satu hal yang kami inginkan

Kami ingin hidup

Jiwa kamiberada ditanganmu

Dengarlah suara kami

Dan lindungilah kami
****

Hari itu Baekhyun kembali ke istanaHijau, pergi menemui Putri Sara untuk memberitahu kabar kemenangan.

Putri Sara menunggu kedatanganBaekhyun di mata air kehidupan yang berada di sebuah taman yang cantik dibelakang istana.

Langit di dalam seolah olahmelengkung dan sekelilingnya ditutupi daun-daun pohon.

Sinar matahari mengenai segala yangberwarna hijau, menyelimuti taman dengan warna lembut. Terutama di atas mataair kehidupan yang berada di tengah-tengah taman, sinar matahari menembus lurus-lurusseolah-olah merupakan jalan menuju nirwana.

Sosok putih Putri Sara berdiri ditengah cahaya itu tampak seperti seorang bidadari. Baekhyun menikmatipemandangan itu. Putri Sara menyadari kehadiran Baekhyun dan tersenyum.

“Baekhyun! Kau sudah datang?”Baekhyun mengangguk gugup. Baekhyun memang selalu gugup bila berada dihadapanPutri Sara. Putri Sara tidak seperti teman-teman yeojanya yang suka bercandadan berkelakar.

“Baru saja kudengar beritakemenangan dari Jendral Park.”

“Benar. Sebenarnya aku tidakmenyangka akan menang, karena badan mereka sangat besar tetapi diluar dugaantidak perlu ditakuti.”

“Aku senang mendengarnya.”Putri Sara tersenyum, rambut peraknya bergoyang dan tampak cahayadisekelilingnya.

Di tengah taman istana yang tenang,terdengar gemericik air. Udara taman beraroma bunga dengan harum yang lembut.Mata air ini adalah tempat lahirnya seluruh jiwa negeri Hijau.

Baekhyun pun merasa ada ada napaskehidupan yang lain jika berada di samping mata air ini. Perasaan menjaditenang seolah-olah terlindung seperti dalam rahim ibu.

Kegugupan Baekhyun mereda. Diamenjadi santai di tengah gemerisik daun-daun dan gemericik mata air kehidupan.

Dari kejauhan terdengar suara tawadan langkah berlari anak-anak yang mendekat.

“Putri Sara! Putri Sara!”

Baekhyun menoleh, sepasang anaklaki-laki dan perempuan yang berambut kuning memakai beju warna hijaukekuningan. Mereka manis-manis. Baekhyun mentaksir usia mereka baru tiga atauempat tahun. Saat menyadari kehadiran Baekhyun, mata mereka berkilat-kilat.

“Kakak siapa? Apa kaka seorangksatria dari negeri manusia?”

Baekhyun berjongkok, menyamaitingginya dengan kedua anak-anak itu.

“Ya. Nama kakak,Baekhyun.”

“Baekhyun?” Anak-anak itumemandang Baekhyun dengan senyum ramah.

Di negeri hijau ini hampir semuaberambut hijau, namun ada juga yang tidak berambut hijau. Salah satunya PutriSara yang mempunyai rambut perak berkilau, lalu ada juga yang berambut kuning,merah, pink, dan ungu, seperti bunga-bunga di taman.

Rambut anak-anak itu seperti pom-pomyang dibawa cheerleader.

Mereka menarik tangan Baekhyun danmenghampiri Putri Sara.

“Putri, ayo main!”

“Main sama Baekhyun.”

Bagi anak-anak kecil yang polosmemang tidak ada bedanya antara seorang putri dan ksatria.

Putri Sara sama sekali tidak merasaterganggu, dia melihat keduanya dengan wajah berseri seri. Wajah Putri Sarasaat itu tampak sesuai dengan usianya. Lebih alami dibandingkan saat duduk disinggasana yang megah atau saat berhadapan dengan menteri yang dewasa danberwatak keras. Baekhyun merasa senang berada di dekat Putri Sara saat inikarena dia bisa bicara tapi harus menjaga perasaan.

“Siapa anak-anak ini?”

“Orangtua mereka gugur saatbertempur melawan Teranian,” jawab Putri Sara dengan wajah sedikit muram.

“Di istana ini banyak anak-anakseperti mereka. Juga orang-orang yang lari dari rumahnya yang hampirhancur.”

Baekhyun tidak tahu harus berkataapa. Dia sangat gembira karena menjadi seorang ksatria, tetapi orang-orang dinegeri ini terancam bahay besar. Lalu betapa sakitnya hati putri cantik ini.

“Pasti Putri sedih, ya.”ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Baekhyun. Dan dengan segeradiperbaikinya.

“Pasti berat juga untukmereka.” Betapa tidak sopannya dia tadi.

Putri Sara tertawa dan berkatadengan suara lirih, “Santai saja, Baek. Tidak perlu formal sepertiitu.”

“Nde?”

“Aku ingin jadi temanmu.”

“Teman?”

Putri Sara tertawa berseri-seri didepan Baekhyun yang melongo. Lalu mengangguk.

“Panggil aku Sara.”

Baekhyun merasa pipinya menjadipanas, “Sara…..”

Bersamaan dengan itu Saraberseri-seri gembira. Melihat senyumannya, keberanian Baekhyun muncul.

“Apakah aku boleh memintasesuatu darimu?”

“Apa itu?”

“Apa kamu bersedia untuk tidakbersikap formal?”

Setelah berpikir sesaat, Saramenjawab dengan sungguh-sungguh, “Aku akan berusaha.” Pipi Saramemerah dan putri ini tertawa kecil, Baekhyun pun tertawa melihat Sara.

Kedua anak kecil itu menengadahmemandangi mereka dengan aneh.

Di dalam cahay lembut istana Hijau, Baekhyunmerasa semakin menyukai Sara dan Negeri Hijau. Baekhyun melewatkan waktu yangmenyenangkan bersama Sara dan anak-anak.

***

Ketika Baekhyun kembali ke dalamistana dengan perasaan yang lebih tenang ternyata dia sudah ditunggu oleh Tao,pemimpin tentara Negeri Hijau, putra Menteri D.O Kyungsoo.

Pemuda itu usianya beberapa tahundiatas Baekhyun. Seperti biasa dia dingin, tidak menyenangkan. Tao memandangBaekhyun dengan tajam.

“Ada apa, Tao?”

“Aku tidak mengakuimu seorangksatria.”

“Kenapa?”

“Aku mengakui kemampuanmubertempur tadi. Tapi, kamu seorang manusia. Aku tidak percaya manusia. Manusiaadalah musuh kami.”

Musuh? Sejak pertama kali bertemu,Baekhyun sudah merasakan permusuhan, tetapi ucapannya tadi membuat Baekhyunterdiam.

Setelah menatap Baekhyun tajam, Taomeninggalkan Baekhyun.

Baekhyun menatap sosok Tao daribelakang. Rasa terkejutnya berubah menjadi kemarahan.

Kenapa dia? Aneh sekali! Kenapa diamengatatakan manusia adalah musuhnya?

Padahal Sara memerlukan tenanga anakmanusia untuk menyelamatkan negeri ini. Pasti Tao iri karena Baekhyun dekatdengan Sara.

Baekhyun tidak bisa melupakantatapan Tao yang dingin dan ucapannya yang tidak menyenangkan itu. Tadi Sarabegitu hangat dan bersahabat kepadanya. Sekarang, Tao menganggapnya sebagaimusuh.

Yang mana sikap Bangsa Hijausebenarnya?

Tentu saja Baekhyun memutuskan untuklebih mempercayai Sara.

***

Hari-hari petualangan Baekhyun diNegeri Hijau berjalan lancar pada awalnya.

Baekhyun yang membawa Pedang Elmmengusir masuknya Teranian dari selatan kerajaan.

Selama di Negeri Hijau Baekhyunmendapat banyak teman. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di istana karenaorangtuanya meninggal dibunuh Teranian.

Salah satunya adalah anak-anakberambut kuning itu, Jino dan Gina. Mereka menjadi lengket dengan Baekhyun.Jino dan Gina merupakan saudara kembar. Baekhyun yang tidak tahu rasanyamempunyai saudara berpikir akan menyenangkan bila memiliki saudara.

Tapi, sikap Tao masih sepertibiasanya. Dingin dan tidak acuh pada Baekhyun. Entah apa maksud Tao menyebutnyamusuh. Padahal kan musuh mereka itu Teranian.

Baekhyun menghela nafasnya pelan.Mengenai Teranian, Baekhyun berpikir kenapa serangan Teranian hanya pada sianghari saja?

***

Usai bertarung, Baekhyun menikmatipercakapan dengan Sara di taman.

Sara mendengar cerita Baekhyuntentang sekolah, teman-teman sekelasnya, dan orang tuanya dengan mataberbinar-binar penuh minat.

Sara tidak punya orang tua. Keduanyameninggal karena sakit sehingga di usia muda Sara harus memerintah kerajaan.

Baekhyun tidak bisa membayangkanNegeri Hijau ternyata sudah ada sejak dulu. Justru Teranianlah yang munculbelakangan, Teranian bangsa baru.

Dahulu bangsa Hijau dan Teraniansaling bekerja sama dan saling menghormati. Tapi seiring dengan bertambahnyajumlah Teranian, hubungan menjadi tidak harmonis lagi.

Untuk memperluas wilayahnya,Teranian memasuki wilayah bangsa Hijau. Bangsa Hijau adalah bangsa yang cintadamai. Serangan Teranian menyebabkan Negeri Hijau hancur sedikit demi sedikit.Di sekitar Negeri Hijau pun sudah, dihancurkan oleh Teranian.

Yang membuat Baekhyun terkejutadalah bangsa Hijau tidak makan! Mereka cuma minum untuk mempertahankan hidup.Mata air adalah sumber kehidupan bangsa Hijau.

Baekhyun semakin mengerti betapaberatnya tanggung jawab seorang Putri yang harus menjaga mata air.

Sara menjalankan tugas itu dengansebaik-baiknya, padahal dia tampak lemah, kecil, dan usianya hampir sama denganBaekhyun.

Baekhyun semakin terbiasa dengankehidupan di Negeri Hijau. Sempat pula Baekhyun merasa kalau di sini serbatidak praktis, namun sekarang tidak dirasakannya lagi.

Pakaian sederhana yang dianyam dariserat tumbuhan diluar dugaan sungguh nyaman di badan dan ringan. Meskupun tidakada pendingin ruangan, di dalam istana Hijau sejuk dan angin segar selaluberembus. Masakan yang dibuat dari pohon atau rumput yang spesial untukBaekhyun pun sangat lezat. Meskipun tidak ada televisi, komik, atau game, tapidisini ada petualangan dan yang penting ada seorang teman secantik Sara.

.

.

.

Tetapi hari-hari yang menyenangkantidak berlangsung lama. Sudah sepuluh hari Baekhyun berada di Negeri Hijau.

BLAAMM!!!

Terdengar suara menggema sepertiguntur memenuhi istana Hijau.

Saat itu Baekhyun sedang berada didekat mata air kehidupan bersama Sara dan anak-anak.

Ketika sedang menghibur anak-anakyang menangis karena mendengar suara besar tadi Menteri D.O Kyungsoo berlari kedalam taman dengan wajah panik.

“Putri Sara, gawat!”

“Ada apa?”

Wajah Menteri D.O yang biasanyatenang dan berwibawa menjadi merah padam.

“Serangan Teranian! Menurutpengawas, Teranian mempunyai senjata api yang aneh, yang menyebabkan sebuahdaerah hilang, karena ledakan besar. Wilayah selatan kerajaan hancur leburseketika.”

Baekhyun merasa ciut mendengarsituasi yang tidak menggembirakan itu. Sementara, wajah Sara yang putih punsemakin pucat.

***

Serangan Teranian menjadi-jadi.Ledakan itu berkali-kali terdengar dan setiap ledakan menhancurkan suatuwilayah kerajaan dan mematikan banyak bangsa Hijau.

Kematian bangsa Hijau berbeda denganmanusia. Jika ada luka di badan, tidak akan mengalir darah, tetapi nyawanyahilang. Badan akan melebur dengan tanah.

Meskipun Bekhyun dan Para Ksatrialain bertempur mati-matian, tetapi sulit menghadapi Teranian yang menggila.

Setiap hari Baekhyun melihat banyakprajurit gugur. Rasa takut semakin membayangi. Kalau begini terus apakah diaakan mati dalam pertarungan melawan Teranian?

Jika itu terjadi, dia tidak bisakembali ke dunianya lagi dan tidak bisa bertemu dengan keluarganya lagi.

Pertama kali dalam hidup, Baekhyunmembayangkan sebuah kematian yang begitu dekat.

Jika terkena cakar monster Teranianitu pasti sakit. Mungkin banyak darah yang keluar dan badannya akan menjadidingin.

Di dalam game komputer beberapa kaliBaekhyun pernah terbunuh. Tetapi di dalam game, betapapun gencarnya seranganmusuh, tidak ada rasa sakit di badan. Meskipun berkali-kali mati tetapi bisahidup kembali jika menekan tombol ‘reset’.

Dalam pertarungan yang sesungguhnyatidak bisa begitu. Jika terluka akan terasa sakit. Jika tewas tidak akan hiduplagi. Kematian ternyata dekat dengannya.

Dia ingin cepat mengakhiripetualangan ini. Jika menekan tombol ‘stop’ dan menghentikannya berarti bukangame yang bagus.

Baekhyun mempunyai tanggung jawabsebagai seorang ksatria. Hanya karena rasa takut, petualangan yang sudahdimulai tidak bisa dihentikan dengan seenaknya.

Baekhyun tidak ingin mengkhianatikepercayaan Sara!!!

****

Suatu hari, saat badan dan hatinyasudah lelah menghadapi perang, Baekhyun mengetahui kebenaran.

Pada suatu malam, Baekhyun sukartidur karena merasa cemas dan galau.

Dia keluar dari kamarnya untukberjalan-jalan menenangkan perasaan dan menghirup udara segar. Ketika Baekhyunmemasuki taman, ternyata sudah ada orang lain di sana. Menteri D.O, Jongin, danYifan. Ketiganya sedang berbicara di dekat mata air.

Baekhyun tidak menyukai mereka, jadidia memutuskan untuk pergi saja. Ketika hendak kembali ke kamarnya, Baekhyunmenghentikan langkah karena mendengar namanya disebut.

Mendengar pembicaraan adalah halyang tidak baik, tetapi Baekhyun merasa penasaran. Pelan-pelan dia masuk kedalam taman dan bersembunyi di balik sebuah pohon.

Ketiga menteri itu berbicara denganlirih. Mereka disinari bulan dengan warna putih.

“Sudah cukup akumenunggu,” kata Menteri Yifan. Dan menteri Jongin yang biasanya diammenimpali dengan tegas. “Aku juga. Ini saatnya untuk menjalankan rencanaitu?”

Rencana apa yang mereka bicarakan?

“Tapi rencana itu pastiditentang keras oleh Putri Sara,” sahut Menteri D.O dengan masam.

Yifan menjawab, “Kita tidakperlu menggantungkan masa depan kita kepada anak manusia itu.”

‘Ini tentang diriku?’ pikirBaekhyun.

Mereka seperti sedang membicarakansesuatu di belakang Putri Sara malam ini.

“Kita tidak bisamempercayainya. Baekhyun salah satu dari Teranian itu.” Menteri Jonginbicara dengan lirih.

Ucapan yang tidak disangka-sangka.Baekhyun terkejut. Salah satu dari Teranian? Apa maksudnya?

Bukankah dia ksatria yang dipanggiluntuk menyelamatkan negeri ini dari Teranian?

Bukankah Putri Sara sendiri yangmengatakannya?

“Itu tidak benar!!!”teriak Baekhyun didepan ketiganya yang tampak terkejut dengan kehadiranBaekhyun.

Baekhyun berlari menjauh. Dia inginmengetahui kebenarannya. Tapi dia tidak mau mendengarnya dari mulut mereka. Diaingin bertemu Sara dan bertanya padanya.

Malam itu terasa paling panjangdalam hidup Baekhyun. . . . . .

Keesokan harinya, Baekhyun pergi ketempat Sara. Seperti biasa Sara berada di dekat mata air kehidupan yangdisucikannya setiap pagi.

Taman dipenuhi oleh suara kicau burungdan cahaya pagi yang baru. Saat melihat senyum Sara yang disinari cahaya itu,Baekhyun merasa pembicaraan para menteri semalam seperti mimpi saja.

“Sara, apa benar aku iniTeranian,” tanya Baekhyun saat sudah berada di samping Sara. Sara terdiam,dia tidak bisa membohongi Baekhyun lebih lama.

“Benar,” jawab Sara dengannada pelan.

Baekhyun merasa terpukul. Rasanyaseperti dihimpit batu. Menyesakkan!

“Teranian dalam bahasa kamiberarti manusia.”

Baekhyun merasa lemas, kakinya pungemetaran.

Jadi, apa yang sudah dilakukannyasampai saat ini? Padahal dia datang dan bertarung untuk negeri ini yang bisasaja membuatnya tewas seketika.

“Kenapa kalian menyebutkuksatria?” Suara yang keluar dari kerongkongannya seperti suara orang lain.

“Jadi kau sudah menipuku.Memanggilku ke sini dan berperang dengan sesamaku!”

“Baekhyun,,,”

“Sudahlah!! Semua cumabohong!”

Wajah Sara yang putih, pucatketakutan mendengar ucapan Baekhyun yang tajam.

Baekhyun hampir menangis. Tanpamengetahui yang sebenarnya dia merasa menjadi seorang ksatria.

Dia juga sedih karena dikhianatioleh Sara yang dipercayainya.

Baekhyun tidak ingin Sara tahu kalaudia menangis. Dia berlari menjauh.

“Baekhyun!!!” teriak Sara.

Baekhyun terus berlari tanpa henti. Kebanggaan menjadi ksatria maupun kepercayaan kepada Sara hancur berkeping-keping.

Saat ini Baekhyun cuma ingin pulang ke rumahnya sendiri.

 

****

TBC

 

Tittle : My Adventure In Green Island  Part  4

Cast : Byun Baekhyun,

Hwang Ji Sara (OC), and others Exo’s Member

Genre : Fantasy

Lenght : Chapter

Rating : PG

Disclaimer : This story just for my imagination. Don’tplagiat this fic, because it’s pure my write. I hope you can enjoy and likethis story ^^

 

***

Dengarlah suaraku

 Dengarlah suara kami

Hanya satu hal yang kami inginkan

Kami ingin hidup Jiwa kamiberada ditanganmu

Dengarlah suara kami

Dan lindungilah kami

***

Aku tidak tahu kapan petualangan inidimulai. Namun, yang pasti ini semua bagaikan mimpi nyata bagiku.

***

Sosok Teranian ternyata manusia. Baekhyun meninggalkan istana Hijau. Karena sudah tahu kebenaran, dia merasa tidak bisa tinggal di Negeri Hijau lagi.

Jika Teranian adalah manusia, dimanakah letak Negeri Hijau ini? Bagaimana cara kembali ke dunia manusia?

Waktu Baekhyun tiba ditengah hutan, hanya satu cara yang dipikirkannya. Pergi ke tempat Teranian.

Mengapa manusia tampak seperti monster yang menakutkan.

Jika Teranian adalah manusia, berarti disanalah tujuan Baekhyun.

Sara pernah bilang jika negeri Hijau ada di dekat dunia manusia. Baekhyun yang sudah terbiasa berjalan di dalam hutan pergi ke arah medan pertempuran.

Teranian harus diperangi, tetapi saat ini menjadi satu-satunya harapan. Jalan menuju medan tempur di selatan rasanya semakin dekat. Ini adalah bukti jika Teranian telah meluaskan wilayahnya. Tak lama lagi serangannya pasti akan tiba juga di istana Hijau.

Hilangnya mata air kehidupan berarti kematian dan hancurnya Negeri Hijau sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Baekhyun.

Baekhyun adalah manusia, salah satu dari Teranian. Bagi bangsa Hijau, Teranian adalah musuh yang menakutkan. Tapi bagi Teranian, bangsa Hijau adalah musuhnya.

Akhirnya Baekhyun tiba di tempat tujuan. Bukan hutan yang penuh dengan kedamaian, tetapi daerah tanah terbuka yang berwarna cokelat.

Hari masih pagi, serangan Teranian belum dimulai. Tetapi disitu tampak sosok monster besar yang diliputi bayangan warna hitam.

Benarkah itu sosok manusia? Kenapa tampak seperti itu? Baekhyun melihat sosok Teranian dari balik bayangan tipis. Rasanya Baekhyun pernah melihatnya. Baekhyun berkonsentrasi sambil memejamkan mata untuk memastikan bentuk apa itu.

“Baekhyun!”

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara anak kecil memanggilnya. Baekhyun menoleh, mendapati dua kepala berwarna kuning.

“Baekhyun!!! Akhirnya ketemu.” Jino dan Gina berlari menghampirinya.

“Jino! Gina! Kenapa kalian di sini?”

Keduanya menengadah melihat Baekhyun dengan gembira. Mereka terengah-engah.

“Kami menjemputmu, Baekhyun.”

“Ayo, pulang! Karena Baekhyun tidak ada, Putri Sara menangis. Putri Sara sedih.”

Mendengar nama Sara disebut, luka didadanya terbuka lagi. Sara menangis? Pasti bohong. Baekhyun berusaha membekukan hatinya.

“Aku tidak mau pulang ke istana! Kalian pulang saja sendiri.”

“Kenapa? Baekhyun mau kemana?”

Dengan pandangan cemas, anak-anak itu mengiringi langkah kaki Baekhyun.

“Baekhyun jangan kesana!”

“Nanti dibunuh hantu! Baekhyun!”

Mereka tidak tahu jika Baekhyun juga hantu, salah satu dari Teranian. Baekhyun menepis tangan anak-anak itu yang berusaha menggenggam tangannya

“Biarkan aku sendiri!”

Jino dan Gina memandang Baekhyun dengan mata sembap.

“Cepat pulang sana!”

Setelah membentak keduanya, Baekhyun berlari. Dia merasa sedih sudah menyakiti hati mereka.

Tetapi dengan begitu mungkin mereka tidak akan mengikutinya lagi. Lagipula, Baekhyun sudah bukan ksatria lagi.

Baekhyun meninggalkan hutan dan memasuki wilayah Teranian untuk kembali kedunianya. Dia menuju ke tempat monster besar yang tidak bergerak seperti sedang tidur dipagi hari. Tetapi tepat pada saat itu, monster itu terbangun dan mengeluarkan suara yang menyeramkan.

Dengan sekuat tenaga, Baekhyun menghilangkan rasa takutnya. Dia terus berjalan menuju ke arah monster itu. Usahanya gagal! Karena Jino dan Gina berlari ke arahnya.

“Jino, Gina!?”

“Baekhyun!!”

Dengan wajah ketakutan mereka berlari dengan tangan terulur.

“Bodoh!! Cepat kembali ke dalam hutan!”

Saat Baekhyun berteriak, monster hitam mulai bergerak ke arah mereka. Jarak monster besar itu semakin dekat, anak-anak gemetar ketakutan.

Kalau dibiarkan, monster itu akan menginjak atau menyerang dengan cakarnya yang besar. Dengan sigap, Baekhyun langsung melindungi Jino dan Gina.

Dia tidak peduli mana kawan, mana lawan. Dia tidak bisa melihat anak-anak yang polos itu terbunuh.

Saat monster itu mengayunkan cakarnya, dengan cepat Baekhyun melindungi mereka dengan badannya. Bahu kanan sampai lengannya dijalari rasa sakit.

“A!!”

Baekhyun tersungkur di tanah yang cokelat sambil terus memeluk kedua anak itu.

“Baekhyun!!!”

Jino dan Gina berteriak histeris. Pandangan Baekhyun tertutup warna merah darah.

Baekhyun merasa akan mati saat rasa sakit semakin luas menjalari tubuhnya.

Anehnya dia tetap tenang. Yang dipikirkannya hanya memindahkan anak-anak ketempat yang aman.

Badannya tidak bisa bergerak seperti tak bertenaga. Sesaat lagi monster Teranian itu akan menginjak mereka.

‘Syuuuungg!!!’

Tiba-tiba terdengar suara panah melintas di udara. Baekhyun menengadah dan tampaklah sosok yang dikenalnya. Sosok petarung muda yang menyerang monster dengan pedang dan panah.

“Tao??” gumamnya. Lalu Baekhyun tak sadarkan diri.

****

Kegelapan itu begitu dalam. Dia tidak tahu kemana lagi harus pergi.

“Baekhyun, Baekhyun,,,,!”

Baekhyun berusaha keluar dari dasar kegelapan mengikuti arah datangnya suara.

Saat membuka mata, pertama kali yang dlihatnya adalah bola mata hijau muda milik Sara yang memandanginya dengan cemas.

“Sara?”

Ketika Baekhyun bergerak, langsung merasa sakit luar biasa pada lengan dan bahu kanannya. Ingatannya pulih lagi. Tadi dia diserang monster. Saat melihat sekeliling, ternyata dia berada di kamarnya di Istana Hijau.

Baekhyun dibaringkan di atas tempat tidur dan dibalut ramuan obat dari tumbuhan pada bahu sampai lengannya.

“Bagaimana dengan Jino dan Gina?”

“Mereka selamat. Berkat perlindunganmu,” jawab Sara sambil tersenyum.

Dia ditolong Tao dan dibawa kesini. Daya ingatnya sudah pulih. Tapi karena masih lemah, kemarahannya pada Sara hilang.

“Untunglah lukanya tidak parah, bisa sembuh dalam beberapa hari,” kata uisa sambil memeriksa wajah Baekhyun.

“Terima kasih, uisa.”

Setelah Uisa keluar dari kamar. Tinggal Baekhyun dan Sara. Baekhyun tidak bisa memandang Sara. Tubuhnya masih sakit dan lemah.

“Maafkan aku karena menyembunyikan kebenaran darimu.”

Baekhyun membayangkan ekspresi Sara yang berdiri disamping tempat tidurnya. Pasti sekarang Sara sendang memandanginya sedih.

“Sudahlah,” kata Baekhyun sambil menahan sakit.

Baekhyun menjadi lebih tenang. Sebelum marah, dia harus mendengar dulu penjelasan dari Sara.

“Ceritakan semuanya.” ucap Baekhyun.

Wajah Sara tampak berbinar, karena sepertinya Baekhyun tidak marah lagi.

“Apa kau tahy ada sebuah hutan dikota tempatmu tinggal?” tanya Sara.

“Hutan?” Baekhyun kebingungan. Tapi dia ingat jika ada hutan dibelakang sekolah.

“Ya, waeyo?” Baekhyun menatap Sara penasaran.

“Negeri Hijau adalah hutan itu.”

“Nde?”

“Bangsa Hijau bagi kalian adalah pohon-pohon, rumput dan bunga. Jadi dalam bahasa manusia kami adalah tumbuhan.”

Baekhyun menahan napas karena kaget. Sara dan yang lain ternyata tumbuhan. Mereka adalah pohon-pohon di hutan belakang sekolahnya.

Mungkin jika mendengar cerita ini ketika datang pertama kali, dia tidak akan percaya.

Tiba-tiba Baekhyun teringat. Di gunung, agak jauh dari kota sedang ada pekerjaan pembangunan untuk perumahan baru.

Jika begitu, Teranian bukan hanya ilusi. Itu adalah buldoser besar yang memancarkan cahaya kekuningan dipagi hari. Akhirnya semua ‘puzzle’ berserakan telah tersusun rapi.

Negeri Hijau yang diserang oleh monster adalah hutan yang sedang dibuka.

“Bentuk kami tidak bisa dilihat manusia. Ini sosok yang dirasakan hati kamu. Sosok Teranian pun adalah sosok yang tampak dalam hati kami.”

“Kalau begitu, karena datang ke sini, aku melihat dari pandangan kalian?”

Sara mengangguk perlahan.

“Kenapa memilihku?”

“Karena aku ingin jadi temanmu. Aku ingin kau mengetahui jiwa dan pikiran kami.”

Bola mata Sara berlinang air mata tapi suaranya masih tetap tenang, “Negeri kami sebentar lagi akan hilang. Baekhyun, aku memercayaimu. Masih ada masa depan dan harapan.”

“Masa depan? Harapan?”

“Kami memilihmu menjadi ksatria yang menyelamatkan masa depan kami.”

Air mata Sara mulai berjatuhan. Butir-butirnya bak embun yang mengalir di pipinya. Baru pertama kali Baekhyun melihat air mata Sara.

“Maaf aku sudah memaksamu bercerita.”

Sara menghaus air matanya dan tersenyum.

“Jika lukamu sudah sembuh, aku akan mengembalikanmu.”

“Sara…”

“Sekarang istirahatlah! Cepat sembuh, ya.”

Sara tersenyum lalu meninggalkan Baekhyun. Terdengar langkah kakinya menjauh. Baekhyun melamun dan memikirkan ucapan Sara. Terlalu banyak yang diketahuinya dalam waktu bersamaan, sehingga dia belum menyimpulkannya.

“Aku ingin kau menjadi ksatria yang menyelamatkan masa depan kami.”

Ucapan Sara sampai kapanpun tidak akan dilupakannya. Bagaimanakah ksatria itu? Peran kstaria tidak hanya bertarung dengan pedang saja, kan? Karena rasa sakit, Baekhyun tidak bisa tidur dan terus memikirkannya. Juga air mata Sara yang begitu sedih.

****

Keesokan harinya, Luhan, Jino, dan Gina menjenguk Baekhyun.

“Baekhyun!”

Jino dan Gina langsung melompat naik ke atas tempat tidur. Baekhyun tersenyum.

“Aduh! Jino, Gina, ini masih sakit.” keluh Baekhyun.

“Sakit, ya Baekhyun?”

“Itu kan yang diserang hantu, sakit ya?”

Baekhyun tersenyum ceria kepada Jino dan Gina yang tampak khawatir, “Tidak apa-apa. Ini tidak parah.”

“Katanya, kau sudah menolong anak-anak. Terima kasih, ya,” kata Luhan dengan ramah.

Suara orang tua itu entah kenapa selalu membuat Baekhyun merasa tenang.

“Kau sudah mendengar semuanya?”

“Ya.” Baekhyun mangangguk lalu memandangis si kembar.

“Luhan, seandainya kalian adalah tanaman, apakah kalian ini seperti roh bunga dan pohon? Atau seorang peri?” tanya Baekhyun sambil mengelus-elus rambut kuning anak-anak.

“Mungkin lebih tepatnya disebut roh yang tinggal di dalam bunga dan pohon,” jawab Luhan sambil mengelus-elus jenggot putihnya.

“Kalau begitu kalian punya sosok rumput atau bunga?”

“Tentu saja. Di mata manusia akan seperti pohon chestnut.”

“Pohon chestnut?”

Saat ini Baekhyun menjadi pohon apa ya? Kalau harus menyebutkan jenis-jenis pohon, paling Baekhyun hanya tahu pohon gingo dan cemara saja.

Menteri D.O yang tampak tenang, menteri Yifan yang tinggi, panglima Park yang kuat pasti pohonnya pun mirip seperti mereka. Lalu Jino dan gina?

“Dandelion,” gumam Baekhyun sambil mengelus rambut anak-anak yang berwarna kuning itu.

Luhan tersenyum dan menjawab, “Benar.”

Jino dan Gina kebingungan. Dandelion berbunga tiap musim semi. Baekhyun pernah melihat gambar dan foto bunga yang cantik itu.

Baekhyun teringat bunga itu banyak tumbuh di tempat wisata. Baekhyun memang tidak pernah memperhatikan dandelion, pohon, atau bunga.

Saat tinggal di Seoul pun banyak pohon disepanjang jalan menuju sekolah. Tapi Baekhyun tidak tahu namanya.

Waktu pindah ke pinggir kota, pemandangan hijau semakin bertambah. Namun, Baekhyun tidak pernah memperhatikannya baik waktu pergi sekolah maupun les.

Sampai dia mendengar cerita Sara, Baekhyun tidak pernah mempunyai minat pada tumbuhan. Bahkan dia tidak tahu mempunyai nyawa.

Makanya, walaupun dia tahu ada pembangunan di belakang sekola, tapi tidak pernah terpikir jika tumbuhan dihutan itu terancam nyawanya.

Tiba-tiba dia teringat pesan dari Sara yang membuatnya datang ke sini.

“Permintaan kami hanya satu

Kami Ingin hidup

Nyawa kami berada ditanganmu”

Akhirnya dia mengerti. Itu adalah teriakan kesakitan Bangsa Hijau yang dihancurkan oleh manusia. Mereka tidak punya banyak harapan.

Apakah manusia mempunyai hak untuk mencabut hidup mereka? Baekhyun sendiri ketakutan jika mati ketika melawan Teranian.

Siapa gerangan yang memikirkan pentingnya hidup tumbuhan?

Seharusnya manusia tidak punya hak untuk merampas seenaknya hidup tumbuhan.

Baekhyun harus makan sayur dan buah untuk hidup. Dan tempat tinggalnya sekarang adalah perumaha hasil penebangan hutan.

“Ada apa, Baekhyun? Lukanya masih sakit ya?” pertanya polos dari si kembar membuyarkan pikiran Baekhyun.

Anak-anak itu mengelus pipi Baekhyun. Tangan-tangan yang lembut dan penuh sayang.

Nyawa anak-anak yang polos ini sama dengan nyawanya. Apa Baekhyun punya kekuatan untuk menyelamatkannya?

“Mianhae, Jino, Gina.”

Baekhyun memeluk dan merasakan hidup mereka berada di tangannya. Hatinya sedih dan sakit.

TBC

 

Iklan

5 thoughts on “My Adventure In Green Island #1

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s