Sera, I’m Sorry

Author : HalfHae

Title : Sera, I’m Sorry [One Shoot version from ‘Drabble – Since I Found You’]

Genre: Sad, Romance, No happy ending.

Cast : Kim Jongin (Kai – EXO K), Kim Sera (OC)

Disclaimer : This is only fiction. Kim Jongin’s belong to God. Dont copy paste without my permision.

Sera, I'm Sorry - Fanfiction - Kim Jongin Kai EXO .

===========WOLF===88===========

 

Pernahkah kau merasa bahwa ada sepasang mata yang dapat menahan gaya gravitasimu?

Seakan membuatmu mampu berjanji untuk dapat membahagiakannya dengan cara apapun, bagaimanapun.

Seolah disana terdapat lembaran-lembaran cerita dari masa depan, dan hanya ia yang tercatat sebagai seseorang yang mampu menahanmu dari segala cobaan dan rintangan.

Aneh, namun menjanjikan sesuatu..

Dan itu kutemukan di mata seorang gadis bernama Sera..

**

 

“Tuan muda, sudah saatnya kau bangun.”

Mataku mengerjap perlahan, memperlihatkan siluet seorang wanita yang tengah menyibak tirai dan membuat mataku menyempit akibat silaunya matahari. Ia tertawa renyah dan tersenyum padaku.

 

“Bangun kau, pemalas. Sudah sesiang ini kau masih saja sulit untuk dipisahkan dengan kasurmu.”

Kulihat jam dinding, 9:45. Memang sudah sangat siang..

 

Aku menarik lengan yang hendak meninggalkaku. Membuatnya terduduk ditepian ranjang. Ia memandangku seduktif, antara geram akibat tarikan dariku atau – ia gemas melihatku yang baru saja bangun?. Entahlah, aku terlalu banyak memuji diri sepertinya.

 

“Apa?” Tanyanya ketus.

“Temani aku, lima menit saja. Kumohon.” Kulingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya, membuat kepalaku sontak beralaskan paha seorang wanita yang pagi ini sudah wangi sekali. Dan aku selalu dapat mengenali bau ini bahkan dari jarak seribu meter sekalipun. Terlalu khas. Terlalu sulit dilupakan.

 

“Kau ini, mandi. Kubuatkan kau sarapan, setelah itu kau harus berangkat kuliah.” Suaranya tak lagi ketus, namun nada itu seakan tak ingin dibantah.

Dengan ia berdiri, tubuhku pun tertarik untuk tidak lagi berbaring. Ia menuntun lenganku untuk bangkit dari kasur yang seakan melekat pada tubuhku.

 

“Oke, oke. Aku akan bangun. Tapi nanti kau harus menemaniku pergi kuliah.”

Matanya membulat sempurna, seakan tidak setuju dengan penawaranku. Namun setelah itu ia hanya keluar dari kamar tanpa bergeming apapun.

 

Selesai mandi, aku masih belum berniat untuk bersiap pergi kuliah. Hari pertama kuliah, menegangkan, sekaligus mengkhawatirkan. Tentunya karena tidak ada Sera disana. Hidupku terasa terlalu panjang dan penuh penderitaan tanpa mesin kebahagiaanku itu. Tanpa Sera.

 

Dengan santainya aku melangkahkan kaki ke meja makan, disana sudah terdapat berbagai macam makanan dan buah-buahan. Apa ini? bahkan tubuhku hanya terbalut kaus tipis tanpa lengan dengan celana pendek. Rasanya tidak cocok dengan menu hari ini yang terlewat mewah.

 

“Hmm, ada apa ini? Kenapa banyak sekali makanan?. Ini bukan hari ulang tahunku, juga bukan hari ulang tahunmu.” Ujarku mencoba mengingat tanggal berapa ini. Yang diajak bicara justru masih sibuk membuat bunyi-bunyian dari perabotan masak di pantry. Aku tak berniat protes akan pertanyaanku yang belum ia jawab. Memperhatikannya seperti ini adalah kegiatan favoritku. Seperti mengisi ulang energi dalam diriku hanya dengan memperhatikannya.

 

Dengan penuh peluh ia menyambangi meja makan. Menaruh menu makanan terakhir yang ia buat pagi ini. Bulgogi.

 

Ia tersenyum menyambut pandanganku yang masih memperhatikannya sejak tadi. “Hari spesial apa sebenarnya ini?” Tanyaku yang dihadiahkan kecupan kilat yang menyentuh pipiku.

 

“Makanlah, habiskan. Hari ini pertama kau masuk kuliah. Dan aku takkan membiarkanmu kekurangan stamina sedikitpun.”

 

Astaga, lelaki normal mana yang takkan meleleh dihadiahkan wanita sesempurna ia?. Entahlah, tapi rasanya aku ingin terjungkit dari kursi saking senangnya. Bukan—bukan karena makanan yang banyak ini, tapi.. what a sweet morning kiss like this.. Too romantic.

 

“Habiskan!  Jika tidak dihabiskan, bukan hanya nasi itu yang akan menangis. Tapi aku juga akan menangis. Kau perlu tahu ini butuh kerja keras.”

 

“Ah ayolah, mana mungkin menu sebanyak ini bisa kuhabiskan dalam sekali jam makan?. Kau memasak seperti untuk 9 orang.”

 

Ia tergelak. Matanya menyempit akibat dorongan dari pipinya yang terangkat. “Baiklah, hanya makan setelah itu kita harus segera berangkat. Aku akan memberikan sisanya untuk tetangga sebelah. Terakhir kudengar, ia tak makan dua hari karena kehabisan uang.”

 

“Jadi semua ini bukan hanya karena kau ingin memberikan gizi penuh dihari pertamaku kuliah?”

“Ya, Itu akan tetap menjadi alasan terbesarku, tapi maaf itu bukan satu-satunya alasan.” Ia tersenyum dan aku hanya dapat memandangnya dalam diam. Bahkan diriku sendiri belum dapat meradarkan kebaikannya. Untukku? Tentu saja ia selalu mengistimewakan segalanya untukku, hanya untukku. Tapi yang kupikirkan adalah bagaimana ia bisa memikirkan penderitaan orang lain. Ia terlalu perduli dan sulit berbuat jahat walaupun ia tahu terkadang manusia butuh berbuat jahat sesekali. Hanya untuk melindungi diri atau semacamnya.

 

“Apa yang kau pikirkan? Ia dapat membeli apartemen disebelah apartemenmu, tetapi ia sendiri tidak mampu untuk membeli makanan? Kau hanya mudah percaya pada cerita orang lain.”

“Aku tak perlu ‘percaya’ untuk melakukan hal baik. Hanya lakukan saja seperti apa yang ingin kulakukan. Dan, ia terlalu mengingatkanku padamu Kai. Aku hanya tak dapat membayangkan jika kau ada diposisinya. Aku tak sanggup melihatmu menderita.”

 

“But i’m not, Sera! Jangan berfantasi yang tidak-tidak. Jika aku jadi anak seperti itu, aku hanya akan memilih apartemen lebih murah agar tidak kehabisan uang untuk makan sehari-hari. Aku ini cukup pintar mengatur keuangan.” Sedikit tersipu sebenarnya mendengar Sera mengatakan bahwa ia tak sanggup melihatku menderita. Ditambah ia memanggilku dengan nama yang selalu enggan untuk dijadikan panggilannya untukku. Tidak perduli bagaimana aku memohon padanya untuk memanggilku Kai, ia bersikeras bahwa Jongin lebih keren—katanya.

 

“Kedua orangtuanya baru saja meninggal seminggu yang lalu. Kau tahu pesawat yang baru saja jatuh di China sepekan lalu bukan? Dan orangtuanya berada disana dan tercatat sebagai orang yang tewas. Sekarang ia harus membiayai kedua adiknya di China, sedangkan ia sendiri masih kuliah disini.” Raut wajahnya sedikit lesuh untuk melanjutkan cerita itu. “Apartemen itu dibeli oleh orangtuanya sebulan sebelum kejadian tragis itu terjadi. Setidaknya cukup melegakan bukan, memiliki tempat tinggal yang nyaman sementara dirinya bekerja keras untuk kuliah sambil mengambil kerja paruh waktu.”

 

Aku cukup terkejut ia tahu banyak soal ‘tetangga sebelah’ itu. Tapi agaknya kurang sopan jika cemburu disaat ia menceritakan kejadian semenyedihkan itu. Mungkin kali ini aku dapat memaklumi perhatian Sera. Setidaknya ia begitu juga karena rasa simpatik saja. Bahkan ia memikirkanku disaat melihat orang lain. Itu melegakan.

 

“Jadi, orang tuanya pindah ke China?.” Tanyaku basa-basi. Aku bukan orang yang mudah menunjukan rasa kasihan. Entahlah, kurasa itu memalukan, dan kuyakin banyak orang benci untuk dikasihani. Akupun sudah ditinggal Appa sejak lahir. Jadi takkan ada orang yang benar-benar menderita jika ia belum merasakan hidup sepertiku. Ditambah Eomma baru saja meninggal setahun yang lalu. Aku terbiasa dengan kehidupan serba sendiri. Kehilangan Eomma telah menjadi satu-satunya ujung tombak kesedihanku. Keperihan yang kurasakan ketika satu-satunya orang yang paling kucintai dan mencintaiku harus mengalah pada usia. Tapi dibalik itu semua, Tuhan selalu memiliki cara untuk membuat seseorang bahagia. Seperti takdir yang mempertemukanku dengan Sera. Adalah sesuatu ketidaksengajaan yang teramat sangat kusyukuri. Kuyakin Eomma mengambil andil bagian ini. Ia tidak membiarkanku terlarut dalam kesedihan dan membiarkanku hidup tanpa kasih sayang sedikitpun karena Sera adalah wanita yang penuh akan cinta.

 

Oke well, jadi tetanggaku itu bukanlah satu-satunya manusia yang patut dikasihani. Ia pasti akan menemukan kebahagiaan suatu hari nanti.

 

“Tidak, ia memang warga negara China, bahasa Koreanya saja masih sangat aneh.” Aku tersadar dari lamunan panjangku dan kembali memperhatikannya. Ia tertawa dan mata itu seakan tengah membayangkan seseorang yang berlogat aneh dan tengah berbicara dengannya. “Ia pindah kesini lima bulan yang lalu, katanya pertukaran pelajar atau apa.. Aku tidak tahu.”

 

“Begitu ya? Kalau begitu cepat kau bereskan makanan ini. Jangan sampai ia ditemukan mati kelaparan di dalam apartemen. Aku tidak ingin menjadi saksi di pengadilan karena bertetangga dengan orang yang baru saja mati pagi ini.” Aku mendengus kesal. Ya, aku memang tidak pandai menyembunyikan kecemburuanku. Walau berkali kali kutegaskan bahwa tidak seharusnya cemburu dengan cerita ironi seperti ini, namun tetap saja. Sera terlalu banyak tahu. Dan aku tidak suka mendengar ia bercerita seakan telah kenal lama sekali dengan ;tetangga sebelah.

 

“Kau cemburu?”

“Sangat!”

 

“Aigo, Jongin-ah, kau sudah menjadi mahasiswa perguruan tinggi saat ini. Dan kau masih memiliki sikap cemburu terhadap sesuatu yang tak seharusnya kau khawatirkan.” Ia tergelak. Mecubit-cubit pipiku seakan gemas pada bayi.

 

“Aku belum menjadi mahasiswa, Sera. Belum!”

Ia menyadari nada bicaraku yang masih sebal, mengaduk-aduk sup ayam tanpa berniat memakannya. Sera bangkit dari kursinya, masih dalam raut wajah yang tersenyum dan beralih untuk berdiri di belakang sandaran kursiku. Tak lama kemudian kedua tangannya telah melingkari bagian pundak hingga leherku, mendekatkan wajahnya pada sisi pipiku dan berbisik.

“Terimakasih karena sudah cemburu. Aku mencintaimu Kim Jongin. Dan itu takkan berubah walau kau telah lelah mencintaiku.”

 

“Aku takkan lelah mencintaimu. Itu takkan pernah terjadi.”

Jawabku terkejut. Apa yang ia pikirkan? Aku takkan pernah lelah untuk mencintainya. Bahkan hingga dunia runtuh sekalipun.

 

**

 

Setelah makan pagiku yang sudah sangat terlambat itu, Sera dan aku memutuskan untuk membungkus makanan kedalam kotak-kotak plastik dan membawanya ke tetangga sebelah. Aku tak lagi membahas kecemburuanku terhadap orang asing itu. Dan sekarang justru dengan sukarelanya aku membantu Sera membungkus makanan. Hanya karena Sera meyakinkanku. Aku percaya padanya. Ia hanya boleh mencintaiku, dan aku takkan membiarkannya melupakan itu.

 

Aku tidak berniat untuk berdandan sekeren mungkin di hari pertama kuliah. Hanya kaus abu-abu polos dibalut sweater hitam dengan paduan celana jeans lusuh andalanku. Tasku sudah disiapkan Sera diatas meja makan bersanding dengan dua bungkusan kantung plastik berisikan makanan.

 

“Sudah siap? Ayo”

 

Kami berjalan beriringan. Sera yang berjalan menjinjing satu kantung plastik itu mendahuluiku. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu seseorang dari dalam sana membukakan pintu setelah Sera menekan interkom apartemen dan berkata ‘hai’.

 

“Oh, Sera-sshi.” Ia tersenyum setelah menemukan sosok Sera dihadapannya. Aku masih terus memperhatikan dibelakang tubuh Sera yang tidak cukup tinggi untuk menghalangi wajahku agar dapat melihat lelaki ini secara jelas. Ia tipe lelaki yang cukup sederhana sepertinya. Tapi dari apa yang ia kenakan, ia juga bukan seseorang yang buta akan fashion. Jelas sekali, celana pendek hitam dan baju putih bercetak lambang adiddas, cukup keren. Dan kurasa ia —cukup tampan.

 

“Ne, maaf mengganggumu.”

“Tidak sama sekali. Ayo masuk.”

Astaga, ia bodoh atau apa? Tidakkah ia melihat bahwa ada seorang lelaki di belakang Sera? Dan, Yaampun.. sangat tidak sopan sekali ia menyuruh Sera masuk sedangkan ia hanya tinggal sendirian. Benar-benar kurang ajar.

 

“Tidak terima kasih, sebenarnya aku sedikit terburu-buru.” Sera masih dengan sopannya membalas tawaran itu, sedangkan aku sudah sangat geram ingin meninjunya. Entahlah, aku tak terbiasa melihat Sera dengan lelaki lain. Dan itu cukup membuatku melupakan perjanjian yang kuucapkan dalam hati tadi, bahwa aku takkan lagi cemburu.

 

“Benarkah?”

“Ya, aku hanya ingin memberimu ini. Jangan ditolak, karena ini tidak merepotkan. Hanya saja, aku tak sadar sudah terlalu banyak memasak pagi ini.”

Apa? Ya Tuhan.. Sera. Apa kau harus berbohong seperti ini? Hanya berikan saja setelah itu pergi. Untuk apa berbasa-basi tidak terarah. Jika ia tak ingin menerimanya, cukup lemparkan saja kotak-kotak makanan ini ke wajahnya.

“Ehem..” Aku berdeham berpura-pura. Hanya mencoba mengingatkan bahwa aku ikut serta untut delivery makanan ini.

Sera mengambil kantung plastik satunya lagi yang tengah berada digenggamanku. Ia lalu menyuguhkan keduanya pada lelaki ini.

“Ah terima kasih sekali. Aku benar-benar berterima kasih Sera-sshi. Aku akan menerimanya dengan senang hati jika itu benar-benar tidak merepotkanmu.”

Bagus, sudah cukup berbasa-basi. Aku sudah sangat tak tahan melihat Sera berpandangan dengan lelaki lain.

 

“Neh, benar-benar tidak merepotkan.” Ujar Sera menahan senyum karena logat yang ia dengar dari laki-laki ini sedikit aneh. Ya, sebenarnya aku juga ingin tertawa mendengar aksen Korea anehnya itu.

“Itu adikmu?”

 

“MWO?” Aku terpekik mendengarnya. Apa-apaan dia ini?

“Igo, dia..”

“Aku pacarnya!” Jawabku telalu geram.

Sera memegang lenganku dan menghusapnya halus. Sepertinya Sera menyadari luapan emosiku setelah mendengar ucapannya.

 

“Oh, maaf. Kalian terlihat sangat mirip sekali.” Wajah lelaki beraksen aneh itu tiba-tiba saja redup akan kebahagiaan. Pancaran dari matanya terdapat kengerian yang tidak dapat ia tutupi.

 

“YA! KAMI SANGAT BERJODOH SEKALI.”

 

**

 

Sedikit sesal menjalar memenuhi ruang otakku. Melihat bahwa perjalanan dari apartemen menuju kampus baruku tidak begitu jauh, dan sekarang kami sudah hampir sampai. Dan itu tandanya, Sera dan aku harus berpisah untuk beberapa saat. Aku hanya belajar dari hari-hari sebelumnya. Tanpa Sera, hariku akan terasa terlalu panjang untuk kulewati. Tidak biasa—mungkin, Karena Sera adalah sumber dari kehidupanku. Aku terlalu bergantung padanya. Sangat bergantung pada kehadirannya.

 

“Jongin-ah, ayo. Tidak ada mata kuliah yang akan diselenggarakan di dalam mobilku. Jadi cepat keluar.”

Aku menatapnya sesaat. Sesudahnya justru kubiarkan tubuhku bersandar semakin nyaman di kursi penumpang. Sera terlihat aneh setelah kejadian barusan. Setelah lelaki yang baru kuketahui bernama Lay itu membuat kerusuhan dalam benakku. Dan sekarang semua seakan merambat ke Sera.

 

“Jongin-ah, jangan buat noona marah.”

Mataku terbelak, menatapnya dengan pandangan tidak suka yang teramat sangat. Ia tahu bahwa aku tak suka ia menamai dirinya ‘noona’. Dan hei, jangan katakan semua ini karena perkataan lelaki asing itu tadi. Sera, kumohon jangan membuatku geram. Aku tak ingin marah padamu.

 

“Jangan memandangku dengan tatapan itu Jong—“

Kubungkam ucapannya dengan ciumanku. Tak perduli dengan penolakannya yang begitu terasa menyerang tindakan protektifku yang merengkuh kedua rahang pipinya. Melumat kasar bibirnya hingga oksigenku menipis. Aku terengah melepaskan ciuman itu. Ia marah dan aku tak suka melihatnya.

 

“Sera, apapun yang membuatmu mengatakan ini, aku tidak cukup baik untuk menerimanya. Kau tahu aku tak suka jika usia membatasiku untuk memilikimu. Jangan pernah menamaimu seperti itu. Aku bukan hanya tidak suka, tapi aku sangat membencinya.”

Kubuka pintu mobil dan bergegas masuk ke halaman universitas. Aku tak ingin mendengar penolakannya dengan apa yang kuminta barusan. Aku akan menjadi sangat penurut jika hal itu tak mengusikku, tapi jika masalahnya seperti ini, maaf—hanya itu yang dapat kuucapkan selagi tak ada niatan untuk menyetujui panggilan ‘noona’ itu.

 

 

Seperti yang kuduga, waktu terasa lamban dan membosankan. Entah sudah keberapa kalinya kupandangi ponsel yang terdapat di saku bajuku. Sera tak memberi kabar apapun, apakah ia marah?. Memikirkannya saja sudah membuatku sulit bernafas. Mungkin tidakanku tadi terlalu berlebihan. Niatanku yang bermaksud memintanya, jadi salah arti begini. Sera, maafkan aku.

 

Setelah pelajaran terakhir usai, tukas kakiku seakan terbang sanking cepatnya aku berlari. Sudah kukatakan jika jauh dari Sera bukan ide yang bagus. Dan oh ya—gadis itu benar-benar sekali. Aku sudah sebesar ini, ia justru menaruh tiga buku baru di dalam tas kuliahku. Untuk apa? Bahkan hari ini hanya perkenalan biasa, dan hei.. disaat siswa lain membawa Notes yang sangat bergaya, ia malah menyumpalkan buku bersampul pororo koleksinya. Sera.. aku takkan membiarkanmu menyiapkan tas kuliahku lagi setelah ini.

 

Lampu sepanjang lorong apartemen sontak menyala ketika lift yang kunaiki terbuka di lantai tujuanku—lantai 7. Aku tak lagi bisa hanya berjalan santai. Dengan merangkul erat tas, dan terengah akibat olahraga siang hari ku, akhirnya pintu favoritku telah berada di depan mata. Kubiarkan jari-jariku menyelesaikan tugasnya untuk memasukkan password pintu yang telah kuhafal di luar kepala. Tentu saja, aku tidak amnesia untuk melupakan ejaan namaku sendiri.

 

Sesampainya di dalam, kegusaranku belum bisa terhentikan ketika tak ada siapapun di dalam. Di kamar mandi, dapur, kamar, atau balkon. Sepi, sunyi. Seperti susasana pagi tadi. Bahkan handuk yang kugunakan untuk mandi tadi pagi masih tegeletak diatas kasur tidur. Biasanya Sera sudah merapihkannya. Dan itu tandanya Sera belum pulang. Kemana ia? Sejak pagi tidak pulang dan seenaknya tak memberiku kabar. Sera.. Ayolah, kurangi kebiasaanmu yang gemar membuatku khawatir.

 

Setelah berulang kali memastikan bahwa Sera tidak kembali ke apartemen sejak pagi tadi, tenagaku seakan terkuras habis. Pandanganku mulai kabur, perut ku lapar-tentu saja. Ini sudah jam tujuh malam dan aku belum melihatnya sejak jam sebelas siang tadi. Tubuhku sudah seperti ponsel yang kehabisan baterai.

Tunggu—ponsel. Bodoh, kenapa baru terpikirkan untuk menelponnya?. Jongin, paboya!

 

Jantungku berdegup cukup cepat ketika memutuskan untuk menekan tombol hijau di kontak ponsel Sera. Antara takut, tapi khawatir berlebihan. Entah karena takut ia masih marah karena kejadian siang tadi, atau karena aku terlalu merindukannya sehingga tak ada alasan untuk memarahinya walau sekarang ia sangat membuatku khawatir. Cukup aneh aku tak mencurigakan Lay sebagai tersangka dari semua ini. Karena pada dasarnya, semua ini terjadi akibat perkataanya. Ya, aku tahu ia tak sepenuhnya salah. Hanya saja seharusnya ia tak sok tahu seperti itu. Tapi setidaknya ia bukan lelaki yang patut dicurigakan hingga sejauh ini.

 

Aku bisa mendengar nada sambungan teleponnya. Ini berita baik karena ia tidak mematikan ponsel atau semacamnya.  Sedikit menimbulkan rasa percaya diriku karena mungkin saja ia memang hanya menungguku menghubunginya.

 

“Sera..”

“Ah, Jongin.. Ini aku, Park  Jungshin.. Kau ingat?”

 

“Apa?” Wajahku yang awalnya semeuringah, kembali terancam kepunahan. Entahlah, kenapa bisa ponsel Sera ada padanya? Aku tahu siapa lelaki ini, ia salah seorang tetangga paman Sera di Busan. Tapi tetap saja, keberadaan ponsel Sera yang ada padanya justru membuatku tersulut emosi. Apa Sera ke Busan? Kenapa begitu? Seharusnya ia tak mengendarai mobil sendirian ke tujuan sejauh itu tanpa aku.

 

“Ya, Sera-sshi.. Ia pingsan Jong.”

Apa? Sera pingsan?..

 

“Tuan Shin, Itu tidak lucu sama sekali. Sera-ku tidak!! Ia tidak mungkin.. Oh, atau kau diminta Sera mengarang certia dan mengerjaiku bukan?”

“Tidak,  ia benar-benar pingsan. Dan ia sekarang sedang diurus oleh istriku, dirumahku.  Aku menemukannya tertidur di Bukit bulan. Cuaca disana memang dingin sekali. Aku pikir ia hanya tidur biasa, tapi setelah aku membangunkannya, tubuhnya sudah sangat dingin dan wajahnya pucat. Ia seperti membeku disana. Yang tak habis pikir, Sera seharusnya tidak membiarkan tubuhnya kedinginan seperti—“

 

Tak ada waktu lagi untukku mendengarkan penjelasan Tuan Shin. Yang terbayangkan olehku hanya wajah Sera yang digambarkan oleh Tuan Shin tadi. Kedinginan, pucat, dan astaga ia pingsan?. Apa yang di pikirkan gadis itu? Bisa bisanya ia tertidur disana. Dan jika memang ini kesengajaan, mungkinkah itu semua karena ulahku?.

Jika benar, aku takkan memaafkan diriku seumur hidup jika terjadi sesuatu pada Sera.

 

Sera, bertahanlah. Aku akan sampai kesana segera. Maafkan aku..

 

**

 

Aku bersandar ditepian tempat tidur. Tidak berniat membangunkan Sera walau tubuhku rasanya ingin sekali memeluknya. Aku sampai di Busan sekitar sejam yang lalu, dan ini sudah jam dua belas malam. Rasanya aku tak patut untuk tidur dan membiarkan Sera tanpa pengawasan. Bahkan aku dapat membaca dari ekspresi Nyonya Shin terlampau panik menceritakan keadaan Sera.

 

Cukup melegakan karena Sera ditolong oleh keluarga Park yang sangat baik. Mungkin karena Sera sudah mengenal keluarga ini terlalu lama. Ditambah paman Sera dan Tuan Shin sangat akrab sekali. Sehingga rasanya mungkin mereka dapat melihat sisa-sisa diri dari paman Sera yang telah meninggal, ada di diri Sera.

 

Aku teringat akan pertemuan kami di bukit. Orang-orang sekitar menamainya bukit bulan. Mungkin mereka menamainya bulan karena sewaktu malam, bukit itu punya suhu yang cukup aneh. Terlalu dingin dan tidak wajar. Tidak heran jika bukit itu sepi pengunjung. Tapi aku dan Sera justru menyukai bukit ini, dan kami menamainya bukit penghibur lara. Mungkin ini sedikit kekanak-kanakan. Namun nyatanya bukit itu memang memberikan sensasi aneh ketika kau berada disana. Sejenak kau dapat merasakan ketenangan disana. Dengan berlatarkan padang rumput yang sebagiannya juga tersusun rapih rumah-rumah warga bergaya tradisional. Disana terdapat pohon palm tua yang tak pernah terlihat kehilangan wibawanya sebagai kayu besar yang telah berumur. Angin yang bertiup seakan tak ingin absen untuk membuat daun-daun pohon palm itu bernari riang kesana kemari.

Awal pertemuan yang aneh. Ketika Sera terlarut dalam kesedihan setelah Pamannya meninggal dunia. Dan lagi-lagi ini dapat kukatakan takdir, karena akupun saat itu sedang berduka karena kehilangan Eomma. Paman sera dan ibuku ternyata dikebumikan di tempat pemakaman setempat. Busan adalah tempat dimana ibu lahir. Maka dari itu kerabat dari pihak ibuku meminta Eomma dikuburkan disini.

 

Kami seakan melengkapi satu sama lain. Baru bertemu, namun rasanya seperti telah lama mengenal. Mata hitam pekatnya seakan tak henti-hentinya memberiku harapan akan dunia yang lebih indah. Seakan menjanjikan sesuatu. Entah apa, namun aku tahu semua itu benar.

 

“Jongin-ah”

Aku terjungkit terkejut ketika Nyonya Shin menyentuh pundakku.

“Neh?”

 

“Kau bisa menggunakan sofa disana untuk tidur. Sera takkan pergi kemanapun, percaya padaku. Ia terus menggumamkan namamu sejak tadi. Apa kalian jarang bertemu? Sepertinya Sera sangat merindukanmu.”

 

Wajahku terperangah mendengar cerita Nyonya Shin. Dan mataku beralih pada sosok gadis yang masih terjaga di naungan selimut beludru itu. Suara Nyonya Shin memang mungkin seolah tengah -bercanda padaku, namun kata-katanya justu membuatku kembali merasa bersalah pada Sera. Kau mungkin frustasi karena ulahku bukan?.

 

**

 

Setelah meyakinkan keluarga Park untuk mengambil alih menjaga Sera, akupun segera membopong tubuh Sera untuk kubawa ke sebelah rumah keluarga Park. Ya, aku memutuskan untuk bermalam di rumah peninggalan paman Sera. Rumah itu tidak berpenghuni, namun ada dua pelayan paman Sera yang masih ingin meneruskan bekerjaan disana. Tentu saja, mereka tetap digaji. Menurut Sera, keluarganya memang tak berniat menjual rumah itu. Dibiarkan kosongpun jadi tidak berguna. Jadi keluarga Sera memutuskan untuk mempekerjakan kedua pelayan itu dan menjadikan rumah ini sebagai rumah persinggahan.

 

Salah satu pelayan yang ternyata sudah cukup tua itu segera menyiapkan kamar untuk Sera setelah ia tahu yang ada didalam gendonganku adalah salah satu pemilik rumah. Ini pertama kalinya aku memasuki rumah kerabat Sera. Rumah ini cukup sederhana. Desain seantero rumah lekat dengan kayu-kayuan. Sangat asri sekali.

 

Kuletakkan tubuh  Sera diatas kasur empuk yang diatasnya terdapat keranda. Sangat asing sekali, di zaman semodern ini, masih saja ada tempat tidur yang menggunakan keranda. Aku tersenyum ketika menyadari bahwa wangi rumah ini sama seperti wangi tubuh Sera. Bau vanilla dan kayu manis yang tercium secara bersamaan. Terlalu berciri dan entah apa aku jadi sangat menyukai tempat ini.

 

Setelah memastikan Sera sudah sangat nyaman dengan posisi tidurnya, aku beralih keluar kamar dan memutuskan untuk tidur di sofa ruang depan. Kurasa Sera akan nyenyak tidur tanpa harus kukhawatirkan. Mungkin ia cukup merindukan tempat ini.

 

Aku mencoba mengatur banyaknya kayu yang tengah terbakar di perapian, agar suhunya pas. Namun baru kutahu bahwa disana terdapat potongan kayu manis dan vanilla yang sengaja dibakar. Pantas saja wanginya begitu alami. Tapi ini justru membuatku bertanya akan wangi tubuh Sera, parfum apa yang ia gunakan hingga baunya sangat mirip dengan rumah ini.?.

 

Aku terbaring di sofa yang tidak cukup besar, namun cukup nyaman untuk menaruh tubuhku yang sudah sangat lelah seharian ini. Memandang langit-lagit rumah yang masih terlihat kokoh. Tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri didalam rumah ini. Terasa familiar dan mengingatkanku pada hal indah yang tak pernah terpikirkan. Dan tiba-tiba saja aku jadi sangat merindukan Eomma. Sudah berapa lama aku tak mengunjungi makam Eomma? Mungkin sudah empat bulan, astaga.. Eomma maafkan aku.

 

Tak sadar waktu yang terasa singkat bersama Sera telah menghabiskan banyaknya moment diluar sana. Aku yang tak lagi pulang kerumah Eomma, dan aku yang tak lagi mengunjungi Busan untuk melihat keadaan makam Eomma. Anak macam apa sebenarnya aku ini?. Entahlah, mungkin aku akan meminta maaf jika tidak bisa sesering itu menyambangi makam Eomma, hanya saja jika harus pulang ke rumahku dulu.. aku enggan. Rumah itu seperti bukan rumah jika tak ada Eomma disana. Terlalu penuh dengan kesunyian. Tapi dibalik itu semua, aku hanya tidak ingin terjebak dalam kesedihan masa lalu. Semua itu mungkin menyakitkan, namun manusia tak diciptakan untuk bertahan dalam kesakitan itu bukan?. Kurasa Eomma akan mengerti.

 

Pada akhirnya aku menyerah dengan keadaan mataku yang sudah sangat mengantuk ini. Aku tertidur berharap dimimpi, aku dapat bertemu Eomma untuk meminta maaf dan menanyakan kabarnya. Oh—dan aku juga harus menceritakan tentang Sera, bukan?

 

**

 

Malam ini aku bermimpi, disaat pada akhirnya aku menikahi Sera. Disana aku telah menjadi seorang lelaki dewasa. Tidak lagi tidur di apartemen Sera yang dibelikan ayahnya. Justru aku memberikan apartemen baru untuk Sera, untuk kami tempati. Senang rasanya bisa melihat Sera setiap hari. Disaat aku terbangun, akan ada wajah Sera yang menyambut pagiku. Dan disaat tubuhku letih akibat bekerja seharian, Sera ada dirumah untuk menungguku. Menyiapkan air hangat untukku mandi, memasak makan malam, lalu menciumku saat pergi tidur.  Tidak seperti hari-hariku sebelumnya, tidur ditempat terpisah. Dan baru saling melihat di pagi hari. Aku tahu ini semua hanya mimpi, tapi rasanya aku enggan untuk terbangun. Terlalu indah untuk ditinggalkan. Tahu jika aku terbangun, masa itu masih akan lama sekali.

 

Kurasakan sesuatu berjalan menyusuri kepala hingga pipiku. Dengan gerakan teramat lembut ia terus menyapu kulit wajahku dengan penuh kasih sayang. Harumnya yang memabukkan, dan sentuhannya yang membuatku terus ketagihan tak dapat kubandingkan dengan apapun. Kuputuskan untuk membuka mata perlahan untuk memastikan keadaan gadis ini.

 

“Hei.” Tegurku membuat pemilik tangan menghentikan kegiatannya. Sedikit menyesal untuk memutuskan terbangun. Seharusnya aku hanya perlu berpura-pura tidur agar ia terus mengelus pipiku.

“Ma-af mengganggumu.” Ujarnya dengan nada tercekat. Ada apa dengan nada suaranya itu?.

 

“Sama sekali tidak. Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Jam berapa ini?”

“Kenapa kau bisa ada disini Kai?” Tanyanya yang malah tidak mengubris satupun dari pertanyaan yang kulontarkan.

 

“Aku yang seharusnya menayakan itu padamu. Kenapa kau pergi sejauh ini tanpaku?. Dan kenapa kau tidur di bukit saat malam? Kau tahu disana dingin. Jangan berbuat hal bodoh, Sera. Apa—itu semua karenaku?.”

Sera menggelengkan kepala. Ia tak berkata apapun tetapi setelah itu justru air mata keluar dari kedua manik matanya. Aku terbangun dari posisi berbaringku dan segera merosot duduk berhadapan dengannya di lantai dingin.

 

“Sera, aku benar-benar minta maaf.” Aku merengkuh tubuhnya yang masih terasa ringkih dan dingin. Mengelus dengan gusar pundak dan kedua lengannya agar gosokkan kulitku dapat menciptakan sesasi hangat ditubuhnya.

 

“Aku merindukanmu. Sangat Jong.”

Nafasku tercekat mendengan penuturannya yang masih berat karena isakan. Tidakkah ia tahu, melihatnya menangis sama saja seperti membunuhku secara perlahan. Seperti luka yang tak henti-hentinya tersiram tetesan air garam.

 

“Aku disini Sera. Maafkan aku.”

“Jongin-ah, saranghae.”

 

“Aku lebih mencintaimu dari apa yang bisa kukatakan sekarang.”

Kini kedua tanganku berhenti dari kegiatannya dan hanya memeluk erat tubuh Sera.

“Kumohon, jangan menangis..Kau tahu aku selalu ingin bersamamu, Sera. Kuliah-pun rasanya sangat tak menyenangkan karena tak ada kau disana. Jangan pergi sejauh ini tanpaku. Aku bahkan sempat berpikir untuk loncat dari balkon apartemen karena menyadari kau tak pulang kesana sejak siang tadi.”

 

Tubuhnya menjauh, dan menoleh pada wajahku dengan pandangan yang sangat pilu. Bulir-bulir air matanya masih terus mengalir satu persatu.

“Tidak boleh! Jong, kau tidak akan melakukannya. Aku takkan membiarkanmu melakukan hal itu.”

 

“Kau bisa memegang ucapanku, aku akan melakukanya jika kau hilang. Jadi berjanjilah padaku, kau takkan pernah pergi tanpa izin dariku.”

Kuhapus air matanya yang telah membasahi kedu pipinya. Berbicara selembut mungkin untuk menenangkannya.

 

“I won’t!”

“I know, you won’t!”

 

**

 

Matahari telah terlihat dari ufuk timur. Aku baru menyadari bahwa kami berbincang panjang sejak pukul tiga pagi. Dan sekarang sudah jam tujuh.

Sera bilang, ia ingin kebukit pelipur lara itu bersamaku. Dan ia mengatakan ada sesuatu yang harus kulihat disana. Entah apa, namun cukup membuat rasa penasaranku menguar. Sera bukanlah tipe gadis yang gemar memberikan kejutan, jika sampai ia meminta seperti ini tandanya memang ada sesuatu yang harus kulihat sesegera mungkin.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak, gadis disebelahku sepertinya sudah jauh lebih baik dari keadaannya sesaat lalu. Matanya mungkin memang terlihat sedikit sembab, tapi semua tersamarkan karena dorongan dari pipi-pipinya yang terus mengukir senyum. Ia mengayun-ayunkan tanganku yang tengah menggenggam erat buku-buku jarinya. Bergerak kedepan kebelakang dengan tempo lamban. Seperti anak kecil.

 

“Tutup matamu.” Sera berhenti melangkah. Maju beberapa langkah dan berdiri dihadapanku.

“Aku? Bagaimana jika tersandung?.”

 

“Percaya padaku.” Ia menepuk dadanya yang sedikit membusung. Seakan menirukan gaya prajurit tentara. Hah, tetap saja itu tak cukup menyeramkan. Yang ada sekarang justru keinginanku untuk menggigit pipinya jauh lebih besar.

 

“Aku selalu percaya, hanya saja.. Jalanan menanjak ini yang tak kupercaya.”

Ia tertawa, dan tawa itu seakan menular padaku. Namun pada akhirnya mataku tetap dipaksanya terpejam. Agak kesulitan sebenarnya, tapi merasakan genggaman tangan Sera di sisi lengan kananku, membuatku enggan walau hanya mengintip. Pegangannya terlalu erat, seakan mampu menahanku dari gempa bumi sekalipun. Ia bersungguh-sungguh menjagaku, dan itu sangat menyenangkan.

 

“Jongin-ah, buka matamu.”

Katakanlah aku sedang bermimpi sekarang. Apa ini? Kenapa bukit yang biasanya hanya ada rumput hijau dan seonggok pohon palm tua, kini berubah menjadi penuh akan bunga. Aster, bunga Aster.

 

Tak sadar mulutku menganga saking takjubnya. Matakupun tak henti-hentinya menikmati warna-warni dari bunga Aster yang terdapat dihadapanku. Beragam spektrum warna yang cantik seperti putih, merah, pink, ungu, lavender, biru. Semua ini membuatku terkagum. Bagaikan berada disebuah surga yang tak dapat kukatakan bagaimana indahnya. Jika harus kuberi ranking, tempat ini adalah tempat terindah kedua, setelah mata Sera tentunya.

 

Benar-benar megangumkan. Aku tak habis pikir, bunga ini dapat tumbuh secara liar dengan sendirinya. Di bukit sedingin ini. Dan entahlah, mereka semua terlihat begitu cantik dengan kelopak bunga menyerupai bintang.

 

“Cantik bukan?”

“Sera ini mengagumkan, sungguh.”

Sera terlihat senang melihat ekspresi keterkejutanku. Mungkin ia merasa berhasil membuatku takjub tak berujung. Ia memang berhasil, sungguh. Ini semua cantik sekali.

 

“Bagaimana bisa bunga ini tumbuh di bukit yang dingin seperti ini?”

“Jongin-sshi, Bunga Aster memang tumbuh dipegunungan. Mereka suka udara dingin.”

 

“B—benarkah?”

“Ya, dan ini adalah bulan September.”

 

Aku memandangnya bingung. Memangnya kenapa jika bulan September?. Sepertinya ia menyadari ekspresiku yang mungkin agak bodoh untuk mengerti apa yang ia katakan.

 

“Mereka tumbuh dibulan September.”

Benarkah?.

Astaga tempat ini sungguh luar biasa indahnya. Rasanya ingin memuji, namun tak ada kata-kata yang pantas untuk menggambarkan betapa istimewanya bukit ini. Sungguh, benar-benar bukit pelipur lara. Bukit ajaib. Bukit bulan. Bukit Aster atau apapun itu namanya. Aku sungguh-sungguh menyukainya.

 

**

Kim Sera..

Sera adalah lembaran dari buku cerita di masa depanku. Sera adalah udara disetiap hembusan nafasku. Sera adalah bulan yang menerangi malamku. Sera adalah matahari di siang hariku. Sera adalah tanah yang akan menahan akar-akarku. Sera adalah air yang akan menuntaskan dahagaku. Begitulah Sera. Semua yang ada di dunia ini, tak berarti tanpanya. Aku ingin ia tahu bagaimana caraku memandangnya. Caraku mengaguminya dari apapun yang ia lakukan. Tapi bukankah akan terasa sedikit aneh jika seorang manusia mengatakan bahwa ia tak butuh oksigen dan hanya butuh Sera?. Biarlah, hanya sepasang mata milik Jongin yang dapat merasakannya. Ia hanya perlu tahu bahwa aku hampir gila karena mencintainya– Catatan— Kim Jongin

 

Tak pernah terbayangkan sekalipun, melihat tempat seindah ini bersama Sera. Keduanya indah, keduanya tak henti-henti membuatku kagum dan haus akan pesona. Dan sekarang—Kim Jongin dan Kim Sera bertransformasi menjadi Edward Cullen dan Bella Swan. Bagaimana tidak, kami berbaring di padang bunga Aster yang sungguh, ini lebih dari kata fantastik indahnya. Kami saling berpandangan, seakan tak pernah bosan melihat wajah salah satunya. Sesekali aku memilin-milin rambut Sera yang ternyata sudah lebih panjang dari terakhir kali ia mengguntingnya. Oh ya, Sera memiliki rambut coklat keemasan. Sama seperti Bella. Kepribadian Sera memang hampir sama persis dengan Bella. Ia tak suka banyak bergaul, bicara seadanya, dan tak pernah berpura-pura. Dan aku? Yeah, sebenarnya aku lebih mirip Jacob Black. Kulit gelap, dan tidak perdulian. Aku memang terlalu egois untuk bisa menjadi seperti Edward yang banyak memikirkan kebahagiaan orang lain. Dan kurasa, sikap Jacob yang tidak mudah mengalah pada orang lain juga ada bagusnya.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Suara halus Sera memutuskan lamunanku yang tengah berandai bodoh. Astaga, bisa-bisanya aku membandingkan cerita fiksi vampir untuk kehidupan percintaanku dengan gadis ini.

 

“Ti-tidak. Hanya memikirkan kebodohanmu.” Ya, atau sebenarnya ini sepenuhnya angan-angan bodohku.

Ia mendelik dan bangkit dari posisi berbaring. Oh, ia hanya menyanggah kepalanya dengan lengan kanan agar posisinya lebih tinggi dari wajahku.

 

“Tentang aku yang menyetir sendirian ke Busan?” Tanyanya lugu. Raut wajahnya sibuk menebak-nebak.

“Bukan.”

“Lalu apa?” Sera mengguncangkan tubuhku sesekali. Ia tak sabaran.

 

“Tentang kebodohanmu menaruh tiga buku bersampul pororo kedalam tas kuliahku.”

Aku hampir cekikikan jika tidak memandang wajah Sera yang merenyitkan alis.

 

“Memangnya kenapa? Pororo itu keren, Jong.”

“Apa? Astaga. Kau pikir pororo pernah menyelamatkan dunia bagian mana untuk jadi icon bagi pria berumur 20 tahun?”

 

“Tidak begitu juga. Tapi kupikir kau menyukainya. Kau gemar meniru suara krong.”

“Sera, yaampun. Aku mahir meniru suara krong juga karena ulahmu.”

Gadis ini terkadang memang gemar menyimpulkan sesuatu yang orang lain bahkan enggan untuk sekedar memikirkannya.

 

“Aku?”

“Ya, kau! Seberapa sering kau menonton berita ketibang pororo? Bahkan jika bukan karena membaca berita di Koran, kau takkan tahu pesawat yang jatuh di China itu bukan?. Tapi justru kau hafal petualanga pororo sudah sampai pada gurun salju yang mana.”

 

Ia tertawa. Kembali menghempaskan dirinya ke rerumputan.

 

“Kau benar. Aku hanya benci melihat bencana. Aku ini—bodoh atau apa ya?”

Sera masih terus menertawai dirinya sendiri sedangkan aku sibuk memandangnya. Entah mengapa, kata-kata yang ia ucapka seakan menunjukkan betapa rapuhnya kepribadian gadis ini yang begitu tak kuat akan kesulitan. Ia yang sampai tak tega melihat orang lain menderita walau kenyataannya dunia memang penuh bencana setiap harinya.

Bagaimana bisa dengan begitu tega aku menyakitinya kemarin?. Menciumnya secara paksa hanya karena keegoisanku yang tak beralasan. Seharusnya aku tahu iapun merasakan beban itu. Beban dimana banyak orang menyangka kami kakak beradik dari segi kemiripan wajah. Aku tahu ia tertekan, bahkan mungkin ia jauh lebih tertekan daripada aku. Karena disini, ia adalah yang tertua. Ia merasa kurang pantas untuk bersanding dengan lelaki ingusan sepertiku. Seberapapun hebatnya ia menutupi semua itu, aku masih tetap bisa merasakan pancaran matanya yang penuh akan kesakitan. Aku tahu ia mencintaiku lebih dari apapun yang pernah ia miliki, namun ia juga seperti tidak ingin merepotkanku atas cibiran yang akan kami dapatkan jika orang lain tahu bahwa kami ini sepasang kekasih. Bahkan semenjak aku bersamanya, ayah Sera tak pernah lagi berkunjung ke apartemen. Entah apa yang Sera katakan pada lelaki itu, hanya saja Sera selalu bisa membatalkan rencana ayahnya untuk sekedar menginap semalaman. Sera terlalu memikirkan perasaanku, sedangkan aku justru dengan teganya tidak perduli akan keikhlasannya menerimaku yang selalu merepotkannya.

 

“Sera.”

“Hmm?”

Ia berbalik memandangku. Masih dengan sisa-sisa tawanya. Senyumnya lekat terukir tanpa lelah.

 

“Maaf.”

Kini senyuman itu sudah sepenuhnya pergi. Ia justru terlihat sangat bingung akan penuturanku.

“Maaf untuk kejadian kemarin. Seharusnya, aku tak memperlakukanmu kasar seperti itu. Maaf karena aku masih sangat kekanak-kanakan untuk menyelesaikan masalah. Aku tidak bermaksud menyakitimu Sera, tidak. Aku hanya terlalu mencintaimu hingga rasanya aku bisa menghancurkan Tank sekalipun jika itu menghalangi jalanku untuk bersamamu.”

 

Sera masih terdiam dan terus memandangku. Aku tak dapat menerka raut wajahnya. Terlalu sulit dan terlalu banyak ekspresi aneh yang ia pancarkan.

 

“Aku—berlebihan, ya?”

 

Buru-buru ia mendekatkan tubuhnya. Bersandar di dadaku yang saat ini masih terlentang dengan posisi berbaring. Ia memelukku erat sekali. Jari-jarinya mengangkat sebagian kausuku untuk digenggamnya. Sedangkan dorongan dari tubuhnya terlalu menuntut untuk merengkuh seluruh tubuhku. Seakan ia tak ingin aku pergi jauh.

 

“Sama sekali tidak. Saranghae Jonginnie..”

 

**

 

Hatiku berdegub cukup kencang ketika Sera memutuskan untuk mempertemukanku dengan ayahnya. Aku tak biasa berurusan dengan lelaki tua, ditambah ini adalah ayah dari wanita yang paling kucintai. Rasanya lebih mendebarkan dibanding bertemu presiden atau semacamnya.

Sebenarnya ada alasan lain dibalik itu semua. Aku terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang ayah sejak kecil. Aku tak punya kasih sayang seorang ayah. Eomma-pun tak berniat untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Yang kulihat setiap hari hanyalah kegiatan Eomma yang menggenggam erat frame foto seorang laki-laki yang cukup berumur. Ia ayahku, Eomma sangat mencintainya. Aku tak tahu persis kejadian masa lalu mereka. Mengapa pada akhirnya akulah yang menjadi korban atas kebodohan yang dilakukan keduanya. Eomma selalu menyalahkan diri sendiri atas perpisahannya dengan Appa. Ia berkata, seharusnya ia tak bodoh untuk menjalin hubungan gelap dengan pria diluar sana. Eomma yang pada saat itu mengandung ‘aku’, justru malah bercumbu dengan pria lain dan Appa mengetahuinya. Eomma bilang, Appa tahu akan kehamilannya. Namun begitu ia melihat perselingkuhan itu, Appa merasa tidak yakin atas ‘anak siapa’ yang tengah dikandung Eomma.

 

Berulang kali Eomma bersumpah bahwa aku adalah darah daging dari sosok suaminya itu. Tapi sepertinya ayahku terlalu tersulut akan emosi dan pada akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Eomma beserta janin anak laki-lakinya. Eomma juga mengatakan bahwa aku mempunyai kakak perempuan, usianya saat itu masih empat tahun. Appa membawanya. Tak perduli seberapa keras gadis kecilnya menangis karena tidak ingin dipisahkan oleh ibunya. Ia tetap menarik lengan gadis kecil itu hingga menghilang bersamanya. Terakhir kali Eomma secara tak sengaja bertemu dengan Appa, saat usiaku dua tahun—katanya. Ia menanyakan keadaan anak gadisnya yang dibawa pergi lelaki itu. Appa bilang, Nonna telah meninggal dunia. Entah karena apa karena setelah itu Eomma tak mendapatkan penjelasan lebih dari suaminya itu. Ia terpuruk. Merasa tertimbun bara api yang menghabiskan seluruh jiwa serta raganya dalam saat yang bersamaan. Terlalu sakit untuk mengetahui kenyataan bahwa anaknya tak lagi hidup dan tumbuh menjadi gadis cantik yang ia selalu idam-idamkan sejak dulu.

 

Aku selalu ingin tahu seperti apa wajah Nonna jika ia masih hidup sekarang. Namun nyatanya sulit hanya untuk membayangkannya karena foto yang diberikan Eomma, gadis itu masih sangat bayi sekali. Ditimang dengan sayang oleh Eomma yang tersenyum lembut dalam lembar foto usang.

 

Agaknya terlalu kejam jika harus menyalahkan Eomma atas semua ini. Walau Eomma tak pernah ingin menceritakannya, namun aku yakin ia mempunyai alasan mengapa sampai hati ia berselingkuh dari Appa. Aku tak lagi bertanya, karena setiap kali aku menanyakan hal ini Eomma akan mulai meneteskan air mata. Pernah pada suatu malam, disaat aku masih berumur tujuh tahun. Aku iri dengan teman sebayaku yang selalu menceritakan kisah bahagia bersama ayah dan ibunya ketika berkunjung ke taman bermain. Aku bertanya hal sederhana. Hanya dengan kata ‘kapan kita akan pergi ke taman bermain bersama Appa?’ dan Eomma dua hari tidak ingin makan dan mengurung diri dikamar. Ia merasa bersalah padaku. Padahal aku tak pernah mempermasalahkan apapun. Dan sejak saat itu, aku hanya dapat memandangi sosok dibalik frame tua yang tergantung di ruang tengah rumah kami. Tanpa ingin tahu lebih banyak. Mengubur dalam-dalam keinginanku untuk menemuinya.

 

Bahkan jika boleh aku meminta, aku hanya ingin melihat seperti apa ayahku saat ini?. Jika boleh, aku ingin mengetahui dimana makam Nonna..

 

“Jongin—Jongin..”

Aku terkisap dan terjungkit dari sofa penumpang disebelah pengemudi.

 

“Kau tuli?”

 

“Ah, ya. Ada apa?” Astaga. Lagi-lagi melamun. Ada apa sebenarnya ini? Akhir-akhir ini, sepertinya kisah masa laluku seakan menguar dan terus berputar di dalam pikiranku.

 

“Ada apa?. Aku memanggilmu sudah keseratus kalinya kau tanya ada apa?.”

Sera mendengus kesal.

 

“Kau seperti banyak pikiran, melamun dan entahlah.. Yang jelas kita sudah sampai. Ayahku sudah menunggu. Kalau keadaanmu begini, lebih baik dibatalkan saja.”

 

“Tidak. A-aku baik-baik saja, Sera. Aku—aku hanya rindu pada ibuku.”

Raut kekesalan Sera kembali mengendur. Tiba-tiba saja pandangannya jadi penuh akan rasa bersalah. Bukan maksudku untuk membuatnya merasa tak enak. Sungguh.

 

“Maaf—aku tidak tahu.”

“Berhenti meminta maaf karena ini bukan kesalahanmu. Ayo masuk. Ayahmu pasti sudah sangat tidak sabar ingin bertemu lelaki tampan sepertiku.”

 

“Cih—percaya diri sekali.”

 

Kami berjalan menyusuri lobby sebuah hotel ternama. Ayah Sera mengatakan ingin bertemu ditempat yang –dalam teknis terkesan secara resmi. Beliau berkata bahwa siapapun yang mampu membuat anak semata wayangnya jatuh cinta,  itu tandanya lelaki tersebut adalah lelaki yang bukan hanya istimewa, tapi juga sangat beruntung. Mungkin kali ini aku akan sangat iri pada Sera. Memiliki setidaknya satu dari salah satu orang tua. Ohya, ibu Sera telah lama bercerai dengan ayahnya. Sera bilang ia tak tahu apa penyebabnya. Ia masih terlalu kecil saat itu.

 

Debaran jantungku bertambah cepat ketika Sera berbalik memandangku setelah bertanya pada bagian reservasi. Ia menunjuk pundak seorang lelaki yang seperti tampak belakangnya, ia masih sangat gagah dan sehat sekali. Dalam hati aku berdoa, semoga beliau benar-benar menyukaiku. Walau begitu, nyaliku seakan berada dipuncak tebing curam yang menyeramkan. Bagaimana jika ia tidak setuju akan pilihan Sera? Bagaimana jika ia menyuruh Sera agar menjauhiku?. Aku takkan sanggup untuk meninggalkan Sera karena hal ini. Dan jika benar begitu, apakah Sera rela meninggalkanku hanya karena ayahnya tidak menyetujui hubungan kami?.

 

“Rileks Jong, semua akan baik-baik saja. Aku mengenal ayahku dengan baik. Ia pasti menyukai pilihanku.” Ya, sepertinya wajahku terlalu bodoh untuk menyembunyikan kekhawatiran. Buktinya Sera dapat dengan cepat membaca apa yang mengganggu pikiranku.

 

Aku tersenyum dan menggenggam tangan Sera lebih erat. Berjalan perlahan menuju meja ditepian jendela yang ternyata mencorok ke taman air mancur yang dihiasi dengan lampu-lampu kecil ditepiannya. Sepertinya lelaki tua ini punya selera yang bagus.

 

“Appa. Neomu bogoshipo.” (Ayah. Sangat merindukanmu)

Sera melepaskan genggaman tangannya dan segera merengkuh tubuh ayahnya dari belakang. Ia menciumi pipi lelaki itu yang sudah terlihat sangat jelas sekali kerutan disetiap bagiannya.

 

“Eoh, nae cheonsa” (Bidadariku)

Aku hanya memperhatikan pemandangan ini. Rasa iri yang sempat hinggap dihatiku begitu saja menguar entah kemana. Melihat Sera memiliki seseorang yang masih begitu menyayanginya, terasa sangat melegakan. Setidaknya jika memang pikiran terburukku tadi terjadi, masih ada seseorang yang mampu menjaga Sera dengan baik.

 

“Appa, kenalkan. Ini Jongin. Tampan bukan?”

Dengan perlahan tubuh lelaki tua itu bangkit dan memposisikan berhadapan denganku. Dengan cekatan aku menundukkan tubuh memberi hormat.

 

“Anyeong haseyo. Kim Jongin imnida, bangabseubnida.” (Haloo. Namaku Kim Jongin, senang bertemu denganmu)

 

Terkutuklah aku..

Apa ini? Kenapa seperti ini? Seharusnya aku tetap menunduk dan tak memutuskan untuk melihat sosoknya. Aku tak ingin melihat ini.

Aku..

 

Dia??..

 

“Oh, Jongin-sshi. Margamu sama dengan kami. Wah, sepertinya putriku sangat pintar memilih pasangan. Kau pemuda paling tampan yang pernah kutemui.”

 

Aku termenggu dalam posisiku. Mencoba mencari kesalahan dari apa yang ada dihadapanku. Mencari kebohongan dari tiap sudut wajah yang terpampang di depan mataku. Benarkah ia… Ayahku? Mengapa begitu mirip?

 

Sera menyentuh pundakku perlahan. Aku yang masih terkejut bukan main hanya dapat menoleh kearahnya dan mencoba memaksakan bibirku untuk tersenyum pada lelaki tua ini.

 

“Silakan duduk.” Lelaki itu kembali tersenyum ramah. Mempersilakanku duduk disebelah Sera, dan berhadapan dengannya.

 

Aku mengikuti arah tuntunan genggaman Sera. Mungkin gadis ini menyadari ekspresi wajahku dan aku sedikit bersyukur ia tak dapat menanyakannya sekarang karena aku tak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan semua ini.

 

Air keringatku mulai bermunculan. Mataku tak pernah bisa terlepas dari apa yang kulihat. Mata, hidung, garis rahang, bentuk bibirnya..—sama.

Benarkah ia hanya seseorang yang, mirip? Mungkinkah dengan secara kebetulan Sera tidak mempunyai ibu dan aku tak mempunyai ayah? Dan aku dipertemukan dengan seseorang yang sama persis dengan apa yang pernah kulihat di frame foto kegemaran Eomma.

 

Aku berharap penglihatanku kali ini agak bermasalah sehingga aku tak perlu repot-repot menegaskan setiap detail dari tubuhnya. Sayangnya aku tak menemukan apapun yang berbeda disana. Hanya ada kerutan wajah yang mulai tampak disana sini. Selebihnya, benar-benar kejutan yang sangat…

 

“Jadi, ceritakan padaku sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?”

 

“Sudah satu tahun belakangan ini.” Sera menjawab pertanyaan itu dengan riang namun pandangannya masih terus mencuri pandang padaku sesekali.

 

“Sepertinya tak ada yang perlu kukhawatirkan. Kalian benar-benar serasi.”

 

“Tentu, Appa. Kau tak perlu lagi khawatir karena sekarang aku telah mempunyai seseorang yang akan melindungiku. Jongin sangat menjagaku. Bukan begitu Jong?”

 

“Jong?” Sera, ya. Astaga aku tak dapat berkata apapun dengan semua ini. Ini mimpi buruk. Aku tak tahu apa yang seharusnya kulakukan sekarang. Melihat sosok yang begitu mirip dengan seseorang yang sangat ingin kutemui.

 

“T-tentu.”

 

“Tuan, boleh aku bertanya?” Entahlah, aku hanya takkan kuat jika harus menyimpan rasa penasaranku seperti ini sendirian.

 

“Tuan?.” Ia tertawa.

“Kau boleh memanggilku ‘Abeoji’ jika kata ‘Appa’ masih terasa asing untukmu. Tapi tidak untuk panggilan ‘Tuan’. Arrachi?”

 

Aku mengangguk pelan.

“Y-ya. Abeoji.”

 

“Nah, begitu-kan lebih bagus. Apa yang ingin kau tanyakan Jongin-sshi?”

 

Apakah kau pernah dikhianati oleh istrimu?

Apakah kau pernah meninggalkan wanita yang sedang hamil muda?

Apakah kau membawa seorang gadis kecil ketika kau memutuskan untuk meninggalkan istrimu?

Apakah kau berbohong tentang anakmu yang kau katakan telah mati itu?

Dan..

Apakah kau, setidaknya mengenalku? Anieyo—merasa tak asing dengan wajahku?

 

“A—apa kau.. S-sudah memesan?”

Damn it! Otakku tak dapat mencerna apapun kali ini. Bayangan wajah Eomma yang memegang sayang figur foto yang terlalu mirip dengan orang ini terus bergrilya tak terkendali. Seperti rasanya aku dapat melontarkan ribuan pertanyaan namun dengan sangat bodohnya mulutku kehilangan lidah. Beku, bisu.

 

“Belum. Lalu?” Wajah lelaki ini kasat dengan kebingungan. Memandangku seperti menyadari ada yang kurang beres. Sungguh, aku tak bisa memaksakan memasang wajah seolah tidak ada apapun.

 

“K-kalau beg-itu. Bi-ar aku pes-ankan..”

 

**

 

“Jong, kau sungguh keterlaluan. Bahkan disaat Appa memujimu, kau hanya diam saja seperti manikin bodoh. Apa kau ini—“ Sera melempar mantel yang baru saja ia kenakan. Kami baru saja pulang dari bertemu lelaki itu. Pikiranku masih sungguh kacau sehingga rasanya memandang Sera adalah sesuatu kejahatan yang tak terampuni.

 

“Sera, maaf.. Boleh aku keluar sebentar?. Aku perlu kesuatu tempat.”

 

“Kau ingin kemana? Ini bukan di Seoul, Jong. Jangan main-main.” Sera semakin geram memandangku.

“Sera, kumohon.”

 

Sera belum sempat menjawab tapi justru kakiku pergi berlari meninggalkannya. Keluar dari rumah persinggahan itu dan berjalan sejauh mungkin. Aku tak ingin ia melihat gelagat anehku ini. Bukan lagi hal yang menyenangkan jika menanyakannya langsung pada Sera akan semua kejelasan keluarganya. Tapi yang kuketahui sekarang adalah, bahwa lelaki tua yang baru saja bertemu denganku adalah Ayahku. Tak perduli seberapa keras aku mencoba untuk mencari kebohongan disana, tetap disanalah adanya kebenaran tersebut berada.

 

Bukankan suatu kebetulan yang terus menerus terjadi pasti ada arti dibalik itu semua?. Seperti kemiripan wajah Sera dan aku misalnya. Seperti keadaan keluarga kami yang tidak memiliki orang tua lengkap.

Secara tidak sengaja, ayah Sera tinggal di Busan, dan kampung halaman ibuku juga di Busan.

Secara tidak sengaja, aku menemukan lelaki tua semirip wajah seorang ayah yang selalu di ceritakan Eomma.

Dan secara tidak sengaja, ia adalah ayah dari kekasihku.

Ayah Sera. Yang ternyata adalah ayahku juga.

 

Ini kiamat. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menjelaskan ini semua pada Sera. Ia kekasihku, dan tiba-tiba saja ia harus menjadi kakak kandung perempuanku. Jelas sudah lelaki tua itu berbohong atas kematian anak gadisnya beberapa tahun silam. Ia mungkin hanya takut Eomma mencari keberadaan anak sulung yang teramat ia rindukan itu.

 

Lelaki macam apa sebenarnya ia ini?. Meninggalkan istri yang sedang hamil muda dan memaksa seorang gadis kecil untuk berpisah dengan ibunya. Mengapa ia begitu tega hingga sampai hati mengatakan bahwa gadis kecil itu telah mati hanya karena urusan kedua insan bodoh yang seharusnya tidak sama sekali membuat buah hatinya menderita karena harus dipaksa memilih tanpa berkesempatan untuk memilih.

 

Dan kutukan macam apa yang telah kudapatkan? Jatuh cinta pada kakak kandungku. Menjalin kasih dan berniat untuk menikahinya suatu hari nanti. Lalu cinta macam apa yang seharusnya kami miliki?. Disaat semua halangan tentang umur yang lebih tua atau lebih muda bukan lagi menjadi masalah besar bagi kami. Ini semua tentang bagaimana kami dapat berjalan beriringan dan menciptakan suatu kenyamanan di hidup keduanya. Ketika pantas atau tidak, bukan lagi menjadi sebuah benalu yang harus dipikirkan matang-matang. Namun nyatanya semua itu harus kukubur dibawah dasar bumi hingga ke inti.

 

Apa salahku jika harus merasakan kepedihan ini?. Sera adalah alasanku hidup. Dengan Sera, aku selalu dapat melihat pelangi disaat badai. Melihat hujan di gunung pasir yang tandus. Melihat mentari dikala gerhana. Bagaimana jika aku harus kehilangan satu-satunya alasanku bertahan untuk hidup?. Bagaimana jika Sera tidak dapat menerima kehidupan baru kami ini?. Aku takkan membiarkan ia tersakiti oleh siapapun. Tapi bahkan keluarga kami telah menciptakan sebuah badai di hari yang cerah. Jauh sebelum kami mengerti tentang arti hidup.

 

Hatiku hancur ketika harus memikirkan meninggalkan Sera. Aku tak sanggup. Ini terlalu menyiksaku. Aku mencintainya lebih dari nyawaku sendiri. Aku selalu ingin memilikinya lebih dari aku menginginkan kehadiran seorang ayah yang sejak kecil selalu kuidam-idamkan. Aku ingin ia menjadi milikku. Membina sebuah rumah tangga dan menciptakan keluarga baru. Bukan seperti ini. Nyatanya kami memang mempunyai ikatan keluarga. Entah mengapa untuk memikirkan kata ‘Nonna’ aku sampai ingin memenggal leherku sendiri. Aku selalu benci julukan itu. Julukan yang harus kugunakan untuk Sera. Julukan yang justru tak dapat kutolak lagi. Seperti api yang memang mutlak memiliki rasa panas.

 

Dengan mengutuki jiwa serta ragaku sendiri, kugapai ponsel yang tersimpan rapih di kantung celanaku. Mengetik kata demi kata. Mencoba memilah apa yang seharusnya dikatakan dan tidak. Air mataku berlinang tanpa henti. Ketika kata selamat tinggal pada akhirnya harus kuucapkan pada Sera. Aku tak dapat menahan rasa sesak ini. Rasanya seperti mati adalah jalan terbaik untuk semua kebodohan yang terlalu nyata. Tulang-tulangku mengendur. Gemetar dan tak mampu berdiri. Nafasku tersenggal diiringi isakan yang tak dapat kutahan. Meronta-ronta seperti orang gila dijalanan. Aku tak perduli lagi. Dengan semua mata yang memandang jijik kearahku. Dengan semua pikiran orang lain yang menelanjangiku dari sorotan mata mereka.

 

Aku hanya bisa membaca ulang pesan singkat yang sudah terkirim sesaat lalu. Mencoba mendalami apa yang sudah kuputuskan. Mencoba menguatkan dan memantapkan diri untuk kembali pada kehidupanku jauh sebelum kisah ini.

 

Sera, aku mencintaimu—aku mencintaimu.

Ada sesuatu yang mengharuskanku pergi.

Maaf, tapi aku tidak bisa mengatakannya.

Kau bisa kembali ke Seoul tanpaku.

Jaga dirimu baik baik. Jangan ceroboh.

Aku akan baik-baik saja.

Sera, mianhe.

 

-Fin-

 

Noted From Author:

Anyeong..

Salam kenal buat kalian. Kalo ff ku ini di posting, berarti ini tandanya adalah ff opening ya. Mau coba ikut freelance. Semoga tanggapan kalian positif untuk karyaku ini ya. My twitter is welcoming to you all @audiafame J Thanks for reading.

 

 

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “Sera, I’m Sorry

  1. Cerita mirip cerita sesorang thorr *rahasia, tapi nggaj persis kok… Keren ceritanya sedih tapi ujungnya nggak paham…keep writing thorr ^~^

  2. Tadi aku kira itu luhan ternyata lay-_-
    Itu kau bunuh diri? Ya ampun…
    Sedih thor bacanya, awal2 seneng2 endingnya beginiT^T
    Keep writing thor^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s