Baby, I’m Sorry (Chapter 6)

baby-imsorry1

Baby, I’m Sorry

Tittle : Baby, I’m Sorry (Chapter 6)
Author : Jellokey
Main Cast :
Kim Jong In (Kai of EXO)
Kang Jeo Rin(OC)
Support Cast :
Kim Taehyung (V of BTS)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
Lu Han (Lu Han of EXO)
Park Chan-yeol (Chan Yeol of EXO)
Park Jimin (Jimin of BTS)
And others
Length : Chaptered
Genre : Romance
Rating : PG17+
Disclaimer : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!
Poster : G.Lin by http://cafeposterart.wordpress.com

Lihat Rating!! ada sedikit adegan++ di akhir cerita..

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6

Baekhyun mendengus kesal melihat Kai yang terus mencari perhatian pada Jeo Rin yang serius memperhatikan ke papan tulis. Begitu tahu teman sebangku Jeo Rin tidak hadir, Kai langsung mengambil langkah seribu agar ia bisa sebangku dengan gadis pujaannya. Baekhyun mencolek bahu Lu Han dan Sehun yang ada di depannya. Mereka menoleh ke belakang.
“Kai menyebalkan. Apa di otaknya hanya ada Jeo Rin?” Umpat Baekhyun.
“Kau akan seperti Kai kalau sedang jatuh cinta.” Suara Sehun pelan. Ia kembali serius melihat ke papan tulis.
“Sepertinya kita harus segera melepas status single kita, Baek.” Lu Han kembali melihat ke depan.
“Aku akan melepas status single-ku kalau Min Young yang menjadi yeojachinguku.” Menggoda Sehun sedikit membuat mood Baekhyun membaik.
“Byun Baek-hyun.” Sehun menggeram. ‘Aku bosan. Kalau ada yeoja yang mirip Min Young, akan langsung kujadikan yeojachingu.’ Batin Baekhyun frustasi.

————–

“Sudah kuduga kalian ada di sini.” Kata Kai begitu menginjakkan kaki di kamar Min Young. Seperti temannya yang lain, ia masuk melalui jendela.
“Buat apa kau kemari?” Ucap Baekhyun sinis.
“Aku tidak boleh main dengan kalian?” Balas Kai. Dia sedang bad mood dan malas berdebat dengan Baekhyun.
“Biar kutebak. Kau menemui kami karena Jeo Rin kan?” Masih dengan nada sinisnya, Baekhyun sakit hati karena Kai lebih memilih sebangku dengan Jeo Rin beberapa hari yang lalu.
“Ne. Dia sibuk rapat terus.” Kai duduk di sofa.
“Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu?” Kai tidak nyaman karena tatapan Baekhyun.
“Sudahlah, Baek. Orang yang dimabuk cinta memang begitu.” Sehun mengingatkan.
“Dia sakit hati karena kau sebangku dengan Jeo Rin empat hari yang lalu.” Ujar Lu Han yang mengerti kebingungan Kai atas sikap Baekhyun.
“Semoga Jeo Rin kembali dengan kembaranku.”
“Baekhyun, jangan mulai. Aku minta maaf.” Kai tersenyum manis.
“Ternyata ada si mesum.” Kai menatap tajam Min Young yang baru masuk ke kamar dengan membawa nampan yang terdapat empat gelas cappucino dan sepiring cookies.
“Hunnie, virus yadongnya belum menyerangmu kan?” Min Young meneliti Sehun. Kai semakin kesal pada Min Young karena menyebutnya virus yadong. Sehun menggeleng.
“Sehun, bilang pada kekasihmu tercinta kalau aku bukan sumber virus yadong. Aku penebar virus cinta.”
“Min Young tidak akan mengatakan itu tanpa alasan Kai.” Sehun merangkul Min Young yang duduk di sebelah kirinya. Pemandangan itu, membuat Kai iri dan sedih sekaligus. Dia jarang seperti itu dengan Jeo Rin. Gadis itu tidak melarang Kai untuk merangkulnya, tapi kegiatan Jeo Rin yang membuatnya tidak bisa melakukan itu. Jeo Rin tidak punya waktu untuknya. Itu menurut Kai.
“Lu Han sempit. Sana pindah.” Rengek Baekhyun. Ia, Lu Han, Sehun, dan Min Young berada di satu sofa. Lu Han menurut. Ia hendak duduk di samping Kai, tapi..
“Hannie, jangan duduk di situ. Penyakit yadongmu tidak akan sembuh kalau dekat dengannya.” Ucap Min Young dengan wajah horor. Membuat Baekhyun dan Sehun terkekeh. Tapi sayang, Lu Han lebih memilih duduk di samping Kai.
“Ya! Kau minta kuserang, Min Young?” Min Young langsung menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. Wajah Kai berubah sendu karena itu. Jeo Rin tidak pernah manja padanya.
“Jaga ucapanmu, Kai.” Sehun mengelus rambut Min Young. Ia menampik tangan Baekhyun yang hendak mengelus rambut Min Young juga.
“Min Young, maukah kau mengajari Jeo Rin bersikap manis sepertimu?” Min Young menatap Kai bingung, yang lain juga.
“Jeo Rin.. Dia tidak pernah manja padaku.” Ucap Kai pelan.
“Sudah kubilang, kau tidak cocok dengan Jeo Rin.”
“Baekhyun!” Suara Lu Han dan Sehun kompak. Membuat Baekhyun diam.
“Dia tidak punya waktu untukku. Sekalipun kami tidak pernah kencan. Dia terlalu sibuk dengan kesiswaannya.” Semua orang di ruangan itu menatap Kai iba.
“Kau harus mengerti Jeo Rin, Kai.” Saran Baekhyun. Dia sepenuhnya mendukung Kai sekarang.
“Setiap yeoja punya karakter yang berbeda. Mungkin Jeo Rin tipe yang dewasa.” Tutur Lu Han.
“Terlalu dewasa. Aku ingin Jeo Rin seperti Min Young.”
“Kalau begitu cari yeoja lain.” Suara Sehun. Dia tidak mengerti Kai. Apa Kai benar-benar mencintai Jeo Rin? Seharusnya Kai bisa menerima Jeo Rin apa adanya.
“Mana bisa aku mencari yeoja lain. Hatiku hanya milik Jeo Rin.” Sehun menggelengkan kepalanya. Buat apa Kai mengeluh?
“Kau harus menerima Jeo Rin apa adanya.” Ucap Baekhyun. Kai mengangguk.
“Aku lapar.” Kai mengambil piring cookies dan meletakkan di pahanya.
“Ya! Itu milikku. Aku yang membuatnya dengan Min Young.” Baekhyun langsung mendapat jitakan dari Sehun. Cookies itu milik mereka bersama.

—————

Kai membersihkan air yang mengenai jaketnya. Ia terkena hujan sebelum masuk ke rumah.
“Jeo Rin sudah pulang, ahjumma?” Kai mencemaskan Jeo Rin. Hari sudah gelap dan di luar hujan deras.
“Ne, tuan.” Kai sudah tenang. Ia tidak peduli Jeo Rin diantar pulang oleh Taehyung atau tidak, yang penting Jeo Rin pulang dengan selamat.
“Tapi nona Jeo Rin kehujanan, tuan.” Perkataan Lee ahjumma membuat Kai khawatir. Dengan cepat ia menaiki tangga menuju kamar Jeo Rin. Apa Jeo Rin masih seperti dulu? Pernah Kai memaksa Jeo Rin untuk bermain hujan. Saat itu mereka sangat gembira, tapi setelahnya Jeo Rin demam. Kai yakin Jeo Rin tidak mengalami itu sekarang. Fisiknya pasti lebih kuat daripada saat Jeo Rin kecil dulu. Bisa Kai lihat Jeo Rin yang tertidur begitu membuka pintu. Ia mendekati Jeo Rin lalu duduk di tepi tempat tidur.
“Yeobo.” Panggil Kai pelan. Jeo Rin membuka matanya.
“Gwenchana?” Kai mengelus pipi Jeo Rin.
“Gwen—“
“Kau demam.” Kai dapat merasakan panas di pipi Jeo Rin. Ia juga mengecek kening Jeo Rin.
“Gwenchana, Kai.” Jawab Jeo Rin lemah.
“Kau sudah minum obat?” Jeo Rin mengangguk.
“Kenapa kau kehujanan? Apa Taehyung tidak mengantarmu pulang?” Kai akan memberi Taehyung pelajaran karena tidak mengantar Jeo Rin pulang.
“Tadi, mobil Taehyung mogok. Kami naik bus. Aku berlari dari—“
“Kenapa kau tidak meneleponku?” Potong Kai. Dia sangat cemas.
“Aku tidak mau merepotkanmu.”
“Kau tidak menganggapku, Jeo Rin.” Ucap Kai datar.
“Bukan begitu, Kai. Aku hanya—“
“Arraseo. Kau tidak mau merepotkanku.” Kai mencoba mengerti. Seperti saran teman-temannya. Kai melepas jaketnya.
“Kenapa kompres-nya tidak dipakai?” Tanya Kai karena melihat baskom berisi air dengan handuk kecil di dalamnya, di meja kecil samping tempat tidur Jeo Rin.
“Aku tidak butuh itu.” Kai meletakkan handuk kecil yang sudah ia peras di kening Jeo Rin.
“Supaya demammu turun.” Jeo Rin tidak berkata apa-apa lagi. Ia memejamkan matanya. Kai melepas sneaker dan kaos kakinya lalu masuk ke dalam selimut. Ia memeluk Jeo Rin erat.
“Kai,” Jeo Rin menatap Kai, tatapan protes.
“Biarkan aku memelukmu. Semoga Jeolinku cepat sembuh. Tidurlah.” Kai mencium pipi Jeo Rin.
“Tidur, baby. Aku tidak akan pergi.” Ucap Kai karena Jeo Rin terus menatapnya. Jeo Rin terkekeh.
“Gomawo, Jongin-ah.” Perlahan Jeo Rin memejamkan matanya.

————-

“Kai..” Jeo Rin menepuk pelan pipi Kai, berharap namja itu segera bangun sebelum ia menyiram Kai dengan air.
“Jongin-ah!” Jeo Rin mengguncang tubuh Kai.
“Bangun! Sebelum aku menyirammu dengan air!” Ia tidak yakin Kai bisa mendengarnya. Namja itu tidur seperti mayat.
“Kim Jongin!!” Kai menggeliat.
“Bangun!!”
“Yeobo, aku tidak sekolah. Aku mau menjagamu.” Ucap Kai masih dengan mata terpejam.
“Aku sudah sehat. Hari ini aku sekolah.” Kai membuka matanya. Ia mendapati Jeo Rin duduk di tepi tempat tidur, sudah berseragam. Kai mendudukkan dirinya. Mengecek kening Jeo Rin.
“Masih hangat, baby. Istirahatlah di rumah.” Kai menatap Jeo Rin khawatir.
“Aku tidak mau ketinggalan pelajaran.” Jeo Rin mengambil tasnya di meja belajar.
“Cepat mandi kalau kau mau berangkat bersamaku.” Ucap Jeo Rin sebelum keluar kamar. Kai membuang nafasnya kasar. Yeojanya itu keras kepala.

—————

“Gwenchanayo?” Entah sudah berapa kali Kai menanyakan itu dan mengecek kening Jeo Rin. Kelas sudah berakhir sejak lima menit yang lalu.
“Gwenchana, Kai.”
“Kita harus cepat sampai rumah. Kau harus segera istirahat.” Kai merangkul Jeo Rin keluar kelas.
“Kai, kau pulang duluan saja. Aku ada urusan.” Langkah mereka terhenti. Rangkulan Kai terlepas.
“Urusan apa? Rapat lagi?” Jeo Rin mengangguk ragu.
“Kau membohongiku, Jeo Rin. Jimin bilang kalian tidak ada rapat hari ini.” Kai menatap Jeo Rin kecewa. Yeoja itu baru saja berbohong.
“Aku.. Ada yang harus kubicarakan dengan Taehyung.” Kai menatap Jeo Rin tajam. Bisakah satu hari saja ia tidak mendengar nama Taehyung? Terlebih dari Jeo Rin.
“Jongin-ah, jangan salah paham.” Jeo Rin menatap Kai lembut.
“Bisakah lain kali kau menemuinya? Kau masih sakit, yang kau butuhkan sekarang istirahat. Aku yakin lima menit tidak cukup buat kalian untuk bicara.” Itu hanya alasan Kai. Intensitas pertemuan Jeo Rin dengan Taehyung harus berkurang. Pikir Kai.
“I’m okay, honey.” Kai tersentak karena panggilan Jeo Rin. Hatinya sedikit luluh.
“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bicara dengannya?”
“Aku tidak tahu. Kenapa harus memakai batas waktu?” Jeo Rin menatap Kai kesal.
“Kau harus memiliki waktu yang banyak untuk istirahat. Apa lima belas menit cukup?”
“Kai, aku tidak tahu berapa lama akan bicara dengan Taehyung. Aku pasti langsung pulang begitu selesai.” Kai menahan tangan Jeo Rin yang hendak pergi.
“Apa lagi?”
“Poppo.” Jeo Rin mengecup bibir Kai kilat.
“Yeobo, masih kurang.”
“Jo.. Jongin, jangan macam-macam.” Ucap Jeo Rin terbata karena Kai menciumi sudut bibirnya. Kai menempelkan bibirnya di bibir Jeo Rin, melumat bibir bawah Jeo Rin lembut. Jeo Rin mendorong Kai pelan, membuat Kai kecewa.
“Jangan tunggu aku.” Kai menatap punggung Jeo Rin yang menjauh darinya. Apa yang hendak dibicarakan Jeo Rin dengan Taehyung? Kai penasaran.

————–

“Taehyung.” Panggil Jeo Rin begitu memasuki ruangan Taehyung, membuat Taehyung bangkit dari duduknya, menghampiri Jeo Rin.
“Bogoshipo.” Ia memeluk Jeo Rin erat.
“Kau tidak pernah menemuiku selain rapat. Saat aku ingin bertemu, kau menolak. Kau seperti menghindariku, chagi.” Taehyung yakin perasaan Jeo Rin padanya masih ada. Ia akan mengembalikan perasaan itu pada tempatnya. Menguasai seluruh ruang di hati Jeo Rin tanpa menyisakan celah untuk namja lain.
“Aku tidak menghindarimu.” Jeo Rin mencoba lepas dari Taehyung tapi tidak bisa. Taehyung memperat pelukannya.
“Aku hanya ingin meyakinkan diriku.” Jeda cukup lama sampai Jeo Rin kembali bersuara.
“Kita tidak bisa seperti ini, Taehyung.”
Deg!
Perasaan takut itu datang lagi. Jeo Rin tidak mau bersamanya. Sepertinya Taehyung lupa penolakan Jeo Rin.
“Apa maksudmu?” Taehyung melepas pelukannya. Ia menatap Jeo Rin.
“Kita hanya bisa berteman, Taehyung. Tidak lebih.”
“Aku tidak bisa dan aku tidak mau jadi temanmu. Aku menyukaimu, Jeo Rin. Aku mencintaimu.” Taehyung memegang kedua bahu Jeo Rin. Menatap yeoja itu dalam, berharap Jeo Rin menarik kembali kata-katanya.
“Terima kasih karena kau sudah mencintaiku. Tapi aku tidak bisa menjalin hubungan yang lebih dari teman denganmu, Hyungie.” Jeo Rin memaksakan senyumnya. Berat, tapi Jeo Rin sudah memilih.
“Kenapa?” Suara Taehyung nyaris berbisik.
“Aku harus menjaga perasaan seseorang yang mencintaiku.”
“Apa maksudmu Kai?” Jeo Rin mengangguk.
“Kau tidak menyukai, Jeo Rin. Percaya padaku. Namja itu buruk. Dia pasti menyakitimu.” Taehyung kembali memeluk Jeo Rin. Ia tidak mau berpisah dengan yeoja itu.
“Kai berjanji untuk berubah. Kau tahu? Dia menjadikan dirimu sebagai panutannya.” Nada ceria Jeo Rin membuat peluang Taehyung semakin tipis.
“Kau tidak menyukainya.” Suara Taehyung bergetar. Namja ini sedikit cengeng.
“Aku mencintainya.” Taehyung mengeratkan pelukannya. Dia pasti salah dengar.
“Aku mencintai teman masa kecilku.”
“Jeo Rin..”
“Hyungie, mianhae.” Hanya mengelus punggung Taehyung yang bisa Jeo Rin lakukan. Pelukan mereka terlepas.
“Kita bisa berteman kan?” Jeo Rin tersenyum manis.
“Ya! Kau menangis. Hyungie, kau janji padaku untuk tidak menangis lagi.” Jeo Rin menghapus air mata di pipi Taehyung. Namja ini selalu memasang wajah coolnya kapan dan di mana pun dia berada. Tapi tidak di depan Jeo Rin.
“Hyungie..” Jeo Rin berjinjit untuk mengacak rambut Taehyung. Pertama kali Taehyung menangis di depan Jeo Rin adalah saat pembina kesiswaan mengeluarkan larangan pacaran di organisasi itu dan memarahi Taehyung yang hamper menjalin hubungan dengan Jeo Rin, sekretarisnya.
“Hyungie, kita bisa berteman kan?” Tanya Jeo Rin lagi. Akhirnya Taehyung mengangguk.
“Gomawo. Aku harus segera pulang. Annyeong.”
“Jeo Rin.” Suara Taehyung membuat Jeo Rin kembali menghadapnya.
“Aku punya permintaan.”
“Apa?”
“Aku ingin kau menciumku.. untuk yang terakhir kali.” Susah payah Taehyung mengatakannya. Ia ingin selalu bersama Jeo Rin. Taehyung memejamkan mata begitu tangan Jeo Rin mengelus pipinya. Sentuhan Jeo Rin, dia tidak akan merasakannya lagi.
“Aku menyayangimu, Hyungie.” Ucap Jeo Rin sebelum mencium Taehyung. Ia memejamkan matanya. Melumat bibir bawah Taehyung lembut. Taehyung meraih pinggang Jeo Rin, menarik Jeo Rin merapat padanya.
“Aku mencintaimu.” Lirih Taehyung setelah ciuman mereka terlepas. Detik berikutnya, ia mencium bibir Jeo Rin. Melumat bibir atas dan bawah Jeo Rin bergantian. Jeo Rin menikmati ciuman Taehyung. Setelah ini, tidak ada lagi nama Taehyung di hatinya. Hanya Kai.
“Cukup.” Kata Jeo Rin setelah mendorong Taehyung pelan. Taehyung mencium kening Jeo Rin lama lalu memeluk Jeo Rin. Ia menghirup dalam-dalam wangi shampo Jeo Rin. Stroberi. Yeoja ini sangat menyukai buah stroberi.
“Hyungie..” Jeo Rin mencengkeram blazer Taehyung saat merasakan bibir Taehyung mengecupi lehernya.
“Geuman..hh..” Terlambat. Taehyung sudah membuat jejak di lehernya. Jeo Rin mendorong Taehyung kuat. Ia merapikan rambutnya. ‘Sayang? Cinta?’ Seseorang mengepalkan tangannya kuat. Ia baru sampai di tempat itu dan harus melihat adegan panas orang yang dia cintai? ‘Kau harus diberi pelajaran Taehyung.’
“Aku harus pulang.” Jeo Rin berlari ke luar ruangan.
“Aku masih berharap padamu, Jeo Rin.”

—————–

Jeo Rin melepas blazer dan seragamnya. Ia duduk di tepi tempat tidur. Sejak tiba di rumah, Jeo Rin belum melihat Kai. ‘Mungkin dia bersama temannya.’ Jeo Rin mengelus lehernya. Ia yakin ada tanda di lehernya.
Brak!
Jeo Rin merapikan rambut, menutupi lehernya, setelah mendengar pintu kamarnya dibuka dengan kasar. Ia berdiri, melihat orang yang membuka pintunya.
“Kai?” Kai menutup dan mengunci pintu kamar Jeo Rin. Ia berjalan cepat menuju Jeo Rin yang berdiri di samping tempat tidur.
“Kenapa wajahmu? Kau berkelahi?” Kai menampik tangan Jeo Rin yang hendak menyentuh wajahnya.
“Apa yang kau bicarakan dengan Taehyung?” Kai menatap Jeo Rin tajam.
“A.. Aku hanya membicarakan rencana organisasi kesiswaan.” Jeo Rin gugup, ia tidak tahu penyebabnya apa.
“Kau yakin? Lalu apa maksud kalimat ini? Aku menyayangimu, Hyungie.” Kai meniru suara Jeo Rin.
“Apa maksudmu?” Suara Kai meninggi.
“Aku.. tidak punya maksud apapun. Aku memang menyayanginya sebagai temanku.” Ya. Jeo Rin menganggap Taehyung hanya temannya sekarang. Tidak lebih. Kai tersenyum sinis.
“Kau menciumnya.” Ucap Kai pelan.
“M.. Mwo?? Jeo Rin membulatkan matanya saat Kai menangkup wajah dan langsung menciumnya. Melumat bibir Jeo Rin kasar.
“Bibir ini hanya boleh menciumku. Kenapa kau menciumnya, Jeo Rin?!” Bentak Kai. Jeo Rin sangat takut melihat Kai sekarang. Sudah jelas kalau Kai melihatnya mencium Taehyung.
“Kai, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Jeo Rin langsung menutup kissmark yang dibuat Taehyung di lehernya begitu Kai menyibakkan rambutnya.
“Singkirkan tanganmu.” Suara Kai datar. Jeo Rin mencengkeram lehernya.
“Kenapa? Apa yang kau sembunyikan di sana?” Kai menarik Jeo Rin merapat padanya.
“Kissmark, eh?” Bisik Kai di telinga Jeo Rin.
“Kai—“ Tangan Jeo Rin menahan dada Kai.
“Kau salah paham. Aku mengakhiri hubungan tidak jelas kami. Taehyung meminta—“ Jeo Rin berhenti. Kai pasti marah. Dia memang salah.
“Dia memintaku.. untuk menciumnya.” Jeo Rin berbisik.
“Dia sudah terlalu berani menyentuhmu. Seharusnya aku membunuhnya tadi!” Mata Jeo Rin membulat. Apa maksud Kai?
“Apa yang kau lakukan Kai?” Jeo Rin mendorong Kai kuat, menuntut penjelasan. Bukannya menjawab, Kai malah menarik dagu Jeo Rin kasar. Rahangnya mengeras melihat tanda di leher Jeo Rin.
“Kenapa kau membiarkan dia membuat tanda itu di lehermu?!”
“Maafkan aku.” Jeo Rin menyesal.
“Ta..Tapi aku hanya berteman dengannya sekarang. Aku harap kau mengerti.” Jeo Rin memelas.
“Aku mengerti. Kau mengabulkannya karena hubungan tidak jelas kalian berakhir.” Kai tersenyum sinis melihat Jeo Rin yang mengangguk.
“Berarti kalau kita putus aku bisa mengajukan permintaan padamu dan kau pasti mengabulkannya?” Putus? Kai mau putus darinya?
“Kai, bukan seperti itu.”
“Aku mengartikannya seperti itu, Jeo Rin.” Kai mendorong ke tempat tidur lalu menindihnya.
“Jongin-ah, apa yang mau kau lakukan?” Jeo Rin berusaha mendorong Kai yang berada di atasnya.
“Kalau begitu hubungan kita berakhir.” Jeo Rin membulatkan matanya. Ia sudah menetapkan hatinya untuk Kai, tapi sekarang hubungan mereka berakhir?
“Dan aku mau kau tidur denganku.”

TBC..

BangKai marah!! Sisi manly-nya keluar. Mudah-mudahan kalian sependapat sama aku. Secara tidak langsung Jeo Rin punya dua namjachingu. DON’T BASH! Komen juseyo🙂

85 thoughts on “Baby, I’m Sorry (Chapter 6)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s