NAUGHTY BOY (Chapter 4)

Tittle : NAUGHTY BOY (Chapter 4)

ty

Author : Dindong L.Kim (@adinda_elements)

Main Cast :

–          KIM JONG IN

–          HAN SOO SUN (OC)

Support Cast :

–          SEO SANG AKH (OC)

–          LEE HYO AKH (OC)

–          Akan bertambah sesuai chapternya

Genre : Romance ,Friendships, Comedy, Angst

Ratting : PG 16

Length : Chaptered

Disclaimer :

THIS FF IS MADE BY DINDONG L.KIM😀 all cast hanya saya pinjam untuk dijadikan pemeran di FF ini. PLAGIATOR ?? JUST GO AWAY ^_^ AND SILENT READERS ?? say bye to read my fic ^_^

^_^ ALUR IS PURE MINE J

Dindong Notes :

Happy Reading🙂

Warning : Typo bertebaran (maklum saya juga manusia),, Cerita Gaje,, Alur juga kecepetan ^^

Preview Last Chapter :

“oh, siapa namamu ??” Tanya Sang Akh

“haha, astaga.. sampai – sampai aku lupa memperkenalkan diriku. Maaf, perkenalkan.. namaku Han Soo Sun. biar lebih akrab, kau bisa memanggilku Soo Sun” jawab Soo Sun seraya memperkenalkan dirinya.

“kita sekelas” lanjut Soo Sun dan Sang Akh tampak berpikir mendengar pernyataan Soo Sun.

“A~~  Kau anak baru yang duduk di sampingku, bukan ?? Argghh, kenapa ini serba kebetulan sekali ??” Soo Sunpun terkekeh kecil mendengar respond Sang Akh yang menurutnya lucu.

Selang beberapa menit.. Suasana canggungpun melanda mereka berdua, tak ada yang memulai pembicaraan. Mulai dari pihak Sang Akh maupun pihak Soo Sun, keduanya sama – sama terlarut dalam pemikiran masing – masing.

“SEO SANG AKH!!!!” dari arah pintu depan terdengar suara seseorang yang sangat khas di telinga Sang Akh. Senyum bahagiapun terkembang di wajah Sang Akh.

“Soo Sun-ssi, perkenalkan ini ————-”

Chapter sebelumnya…

(>.<) Chapter 4 (>.<)

-Author Point Of View-

“Lee Hyo Akh ??” Tanya Soo Sun seraya bangkit dari duduknya dan langsung menunjuk Hyo Akh dengan jari telunjuknya. Hyo Akh yang ditunjukpun hanya terheran melihat tingkah Soo Sun. ya, Soo Sun bertingkah layaknya mengenal Hyo Akh, padahal Hyo Akh sama sekali tidak mengenal Soo Sun.

“Sang Akh, dia siapa ??” balik Tanya Hyo Akh kepada Sang Akh yang juga ikut terheran melihat tingkah Soo Sun.

“apa kau mengenalnya ??” Sang Akh langsung saja bertanya kepada Soo Sun. Hyo Akh yang merasa tidak dihiraukanpun merajuk dengan cara menekuk wajahnya. Tapi tetap saja, Sang Akh tidak memperhatikannya.

“tidak, aku tidak mengenalnya. Hanya saja, aku seperti pernah melihat nama beserta fotonya” bohong Soo Sun seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Lee Hyo Akh yang mendengar itu hanya ber-Oh ria, sementara Sang Akh. Entahlah, anak itu masih terlarut dalam pikirannya sendiri.

“YA!!” pekik Hyo Akh seraya memukul kepala Sang Akh. Dan Sang Akhpun hanya meringis pelan ketika mendapati kepalanya baru saja dipukul oleh brandalan tingkat kakap (?)

“jangan berpikir seserius itu, bisa – bisa semua rambutmu rontok” Soo Sunpun tertawa pelan ketika mendengar tuturan Hyo Akh tersebut. Sementara Sang Akh, ia hanya menatap Hyo Akh dengan tatapan ingin membunuhnya.

“Aish, anak ini” rutuk Sang Akh dan Hyo Akh hanya bersedekap dada menanggapinya.

“apa kalian bersaudara ??” Tanya Soo Sun karena melihat kedekatan Hyo Akh dan Sang Akh yang sangat lengket. Benar – benar seperti kakak beradik.

“Ye ??” heran keduanya karena mendengar pertanyaan Soo Sun.

“kau bercanda ?? bersaudara dengan brandalan seperti ini ??” Sang Akh langsung menatap tajam Hyo Akh yang mengatainya brandalan. Hyo Akh yang melihat tatapan tajam Sang Akh langsung menarik kesimpulan bahwa, kalau ia tidak cepat – cepat menarik kembali perkataannya. Mungkin, akan terjadi pertumpahan darah di rumah Sang Akh sekarang juga.

“kau gila ??” ucap Sang Akh dan Hyo Akhpun meneguk air liurnya dengan susah payah.

“jadi begini Sun-ssi, nama kami memang hampir sama. Tapi, untuk masalah persaudaraan, aku dan dia tidak memiliki tali persaudaraan apapun. Kami hanya musuh, musuh yang sangat dekat” alis Soo Sun langsung bertaut mendengar kata musuh.

“musuh ?? bukankah musuh merupakan orang yang selalu membuatmu jatuh ?? tapi kalian ??” potong Soo Sun seraya menunjuk Hyo Akh dan Sang Akh secara bergantian.

“kau salah. Musuh bukan berarti orang – orang yang selalu membuatmu terjatuh” jelas Sang Akh.

“bahkan musuh lebih mengerti dirimu sendiri daripada sahabatmu” lanjut Hyo Akh

“Ohh, aku mengerti” Soo Sun hanya menganggukkan kepalanya pertanda kalau ia mengerti.

“YA!! Apa yang kau bawa hari ini ??” Tanya Sang Akh seraya melihat kearah kantong plastik yang cukup besar di tangan Hyo Akh.

“Oh, aku lupa. Hari ini aku membawa kue beras. Untung saja aku membeli lebih banyak.” Sang Akhpun mengangguk singkat dan langsung pergi menuju dapurnya untuk mengambil piring dan sendok. Sementara Hyo Akh, tanpa disuruhpun ia langsung mendudukkan dirinya didepan sebuah meja mundar, tepat di depan Soo Sun.

-Han Soo Sun Point Of View-

“Hyo Akh!!! Apa kau tau ?? Soo Sun juga merupakan siswi pindahan” teriak Sang Akh dari arah dapur dan kulihat raut wajah Hyo Akh langsung berubah kaget. Ia menekuk kedua alisnya seperti mengisyaratkan kalau ia kurang percaya dengan tuturan Sang Akh barusan. Memangnya kenapa ? ada yang salahkah ?

“YA!! Apa benar yang dikatakan brandalan itu ??” selidik Hyo Akh kepadaku dengan cara mendekatkan dirinya kearahku.

“eumm, ya. Aku baru pindah ke SM High School. Memangnya kenapa ??” Hyo Akhpun menjauhkan badannya dariku.

“tidak. Tidak ada” hanya itu yang keluar dari mulut Hyo Akh dan akupun membalasnya dengan ber-Oh ria. Beberapa saat kemudian, Sang Akhpun datang sembari membawa 3 buah piring beserta sendoknya. Senyum sumringah langsung ditunjukkan Hyo Akh dan iapun langsung merebut salah satu piring beserta sendoknya. Sang Akh hanya menggeleng melihat kelakuan ‘musuh dekatnya itu’.

“ini, kau juga makan. Hati – hati, nafsu makan Hyo Akh seperti beruang kelaparan” akupun sedikit terkekeh mendengar guyonan Sang Akh yang menurutku lucu itu. Sementara orang yang kami bicarakan sama sekali tidak merespond. Sang Akh benar, nafsu makan Hyo Akh sangat besar. Buktinya, ia sudah menghabiskan dua potong kue beras bahkan aku dan Sang Akh belum menyentuhnya.

-Naughty Boy ^^-

“bagaimana keadaan eonnimu ??” Tanya Sang Akh disela – sela acara makan kami dan kulihat Hyo Akh hanya mengangguk pelan. Ia sama sekali tidak merespond dalam bentuk ucapan atau kata – kata.

“apa kau sudah menemui dia ??” Tanya Sang AKh lagi dan respond Hyo Akh sungguh berbeda dari pertanyaan sebelumnya. Ia tampak gelisah ketika mendengar kata ‘dia’ keluar dari mulut Sang Akh.

“bisa kita mengganti topik pembicaraannya dengan yang lain ?? seperti menanyakan identitas Soo Sun, mungkin” elak Hyo Akh yang berhenti memakan kue berasnya sejenak. Sang Akh hanya menggeleng melihat itu. Tunggu, apa ada yang salah ?? bukankah pertanyaan itu terdengar biasa ?? tapi, kenapa Hyo Akh tampak tak ingin sekali membahas itu ?? sepertinya ada sesuatu dan kurasa, bukan saatnya bagiku untuk mengetahuinya.

“Sun-ssi, a—”

“jangan seperti itu. Panggil saja Soo Sun. Bukankah sekarang kita sudah saling mengenal ??” Hyo Akh dan Sang Akh sama – sama menganggukkan kepalanya pertanda kalau mereka mengerti.

“tunggu, sebelum kalian menanyakan dengan beberapa pertanyaan. Aku ingin bertanya kepada Sang Akh terlebih dahulu” lanjutku lagi dan Sang Akh tampak terkejut mendengarnya.

“benarkah ?? apa itu ??”

Akupun memperbaiki gaya dudukku terlebih dahulu sebelum menyampaikan sesuatu yang ingin kutanyakan kepada Sang Akh.

“kenapa kau tidak hadir hari ini ??”

-Author Point Of View-

“kenapa kau tidak hadir hari ini ??”

DAMN!! Sang Akh menggerutu di dalam hatinya ketika mendengar pertanyaan Soo Sun. iapun langsung membelokkan arah kepalanya supa dapat melihat wajah Hyo Akh. Dan kalian tau ?? wajah Hyo Akh sekarang benar – benar berada pada tingkat yang sangat tidak baik. Tangannyapun sudah mulai mengepal dengan kuat.

‘oh, tamatlah riwayatku’ gumam Sang Akh dalam hati dan ia kembali menatap Soo Sun. dengan tatapan mengiba pastinya. Maksudnya, ia sedang meminta pertolongan Soo Sun agar dapat mengeluarkannya dari situasi yang bisa – bisa saja membunuhnya.

“benarkah itu ?? benarkah Sang Akh membolos hari ini ??”

Seperti digigit oleh stonefish, Sang Akh merasa semua organ ditubuhnya kaku bahkan untuk meneguk air liurnya sendiripun ia kesusahan. Soo Sun yang merasa hawa ketakutan Sang Akh yang sudah mendekatinya hanya dapat mengembangkan senyum polosnya, bak seseorang yang tak tau apapun.

“YA!!! SAMPAI KAPAN KAU AKAN SEPERTI INI, EOH ??”

Benar, tamat sudah riwayat Sang Akh saat ini. Sang Akh yang merasa malaikat pencabut nyawa sudah hampir mendekatinya hanya dapat tersenyum getir ketika mendapati Hyo Akh yang sudah menggenggam lengannya dengan cukup keras.

“aa—aku punya dasarnya”

“waktumu 5 detik”

Sang Akh menghirup sedikit oksigen sebelum mengawali penjelasannya. Hyo Akh yang sedang menanti penjelasanpun hanya bersedekap dada. Sementara Soo Sun ?? ayolah, ia hanya anak baru di kelompok ini. Jadi, ia hanya meneruskan acaranya memakan kue beras dan menganggap pertengkaran dua orang di hadapannya sebagai angin lewat.

“dia mengusir, mengatai dan menghinaku”

Wow, Soo Sun berdecak kagum mendengar penjelasan Sang Akh yang singkat, padat dan cukup mencakup semua alasannya tanpa perlu merangkai kata – kata menjadi sebuah karangan indah yang akan membuatmu mengantuk.

Hyo Akh hanya menghela nafasnya dengan cukup kasar, membuat hawa mencekam yang sempat berputar di antara mereka berdua menjadi sedikit luntur. Ya, walaupun sedikit tapi itu cukup membuat Sang Akh bernafas dengan lega.

“untuk apa kau memikirkan itu ?? kau ingat tujuan kita ??”

Soo Sun menarik alisnya menjadi satu. Sungguh, ia tak mengerti maksud dari Hyo Akh yang mengatakan tujuan.

Sang Akh mengangguk singkat. “jadi yang terbaik dan buat mereka terpukau”

“jangan ulangi lagi. Kalau tak mengerti dengan pelajaran yang mereka berikan. Kau bisa menanyakannya kepadaku, bukan ??”

Sang Akh mengangguk. “aku berjanji untuk tujuan kita”

Hyo Akh membalasnya dengan sebuah senyuman yang penuh arti. Soo Sun yang tak mengerti, hanya dapat menggaruk dahinya yang mulai berkerut itu. “aku tidak mengerti maksud kalian” ujarnya.

“apa kau mau menjadi musuh kami ??”

Sang Akh mengangguk mendengar pertanyaan Hyo Akh, seolah mereka berdua memang sudah menyepakati hal ini sebelumnya.

Soo Sun kembali berpikir dengan pertanyaan Hyo Akh yang tampak menuntut jawaban yang cermat dan tepat. “apakah aku mendapatkan keuntungan ??”

Sang Akh dan Hyo Akh mengernyit, mereka baru tau kalau Soo Sun ternyata tak sepolos dari kelihatannya.

“kau akan tau seiring berjalannya waktu” Sang Akh bangkit dari duduknya ketika mendapati tak ada lagi kue beras untuk dimakan. Ia mengemasi semua piring dan sendok menjadi satu. Setelah itu, iapun langsung mengangkat semua benda kotor tersebut ke dapur.

Soo Sun hanya melihat punggung Sang Akh yang semakin menjauh dari pandangannya dan sebuah panggilan namanyapun membuat ia mengalihkan pandangannya dari Sang Akh.

“semakin kau mengenal kami, semakin banyak masalah yang akan kau hadapi” Hyo Akh berkata dengan sakartis. Membuat Soo Sun merasa air liurnya tak seencer biasanya, bahkan untuk menelannya saja ia seperti menelan butiran kerikil.

“PPUK”

Sebuah tepukan di bahu membuat Soo Sun sedikit terlonjak. Ia menengok kebelakangnya dan disaat itulah ia melihat senyum manis Sang Akh terkembang dengan bebasnya. Sungguh, baru kali ini Soo Sun melihat senyuman Bahagia Sang Akh yang seperti itu.

“tapi ingat, musuhmu bukanlah musuh yang sebenarnya. Buatlah mereka semakin membencimu supaya mereka dapat mengerti dirimu yang sebenarnya.” Sang Akh langsung mengambil tempat duduknya semula.

“jangan anggap ini terlalu serius. Anggaplah ini sebagai sebuah aliran sungai. Kadang kala semua ini akan terasa tenang dan kadang kala semua ini akan terasa deras. Satu kata yang perlu kau tanamkan ‘nikmatilah’ ” Soo Sun tersenyum mendengar tuturan Hyo Akh yang penuh akan lika – liku sastra. Bukannya ia tak mengerti dengan perumpamaan yang diberikan Hyo Akh, hanya saja ia merasa seperti menemukan sebuah rumah nyaman yang tampak buruk dan kumuh diluar namun hangat di dalam.

“sekarang aku mengerti. Aku tak menginginkan keuntungan apapun dari kalian. Terima kasih sudah mengajariku arti kesetiaan” Soo Sun membungkuk singkat mengatakan itu. Sang Akh dan Hyo Akh langsung mengembangkan senyum manis yang mereka punya.

“sudah hampir gelap. Kau ingin menginap atau pulang ?” Hyo Akh mengangguk- angguk mendengar tuturan Sang Akh tersebut.

“lebih baik aku pulang. Aku tidak ingin terlalu menyusahkan ‘musuh baruku’ ” Soo Sun berkata dengan memberikan sedikit penekanan pada kata ‘musuh’. Sang Akh hanya menggelengkan kepalanya.

“ingin kuantar ??” Soo Sun menggeleng dan langsung bangkit dari duduknya.

“OH, Sun-aa” Soo Sunpun berbalik ketika hendak menggapai ganggang pintu rumah Sang AKh. Ya, ia berbalik tentu saja karena Sang Akh memanggilnya.

“temui aku besok, aku akan mengajarimu bagaimana caranya memberikan pelajaran kepada orang – orang seperti tadi.”

Soo Sun terbelalak kaget mendengarnya. Bukankah kita sama – sama tau kalau Soo Sun sangat takut dengan yang namanya perkelahian. Dan sekarang, Sang Akh ingin mengajarinya bagaimana cara berkelahi. Haruskah ia menerimanya??

“aku phobia”

“ye ?? kau phobia terhadap apa ??”

“perkelahian, kekerasan dan sejenisnya. Kegiatan Itu membuat kepalaku pusing”

“jangan khawatir, aku dan Hyo Akh bisa mengurus phobia anehmu itu”

“benarkah ?? bagaimana caranya ??”

“aku juga tidak tau. Tapi, kita akan mencari taunya besok ^^ pulanglah, aku tak ingin membuatmu pulang larut🙂 hati – hati dijalan ^^”

­^^ Naughty Boy ^^

“YA!! Dimana kuletakkan kunci rumahku ??”

Soo Sun kembali mengacak isi tasnya. Ia benar- benar tak habis pikir, kenapa kuncinya bisa hilang disaat badannya sangat ingin beristirahat diranjang empuknya ?

“Arggghhh” Soo Sun mengerang seraya menjambak rambutnya frustasi. Sungguh, badannya sangat lelah sekarang dan kenyataan yang terparahnya, tempat dimana ia bisa mengistirahatkan badannya sedang berada di dalam. Dan aksesnya untuk masuk dan menggunakan barang – barang tersebut telah hilang.

Dengan mood yang sangat buruk, Soo Sun mendudukkan dirinya di dinding pembatas antara rumahnya dan rumah Jong In. hawa dingin yang terasa malam ini memang tak dapat diragukan lagi, mungkin kalau diukur dengan thermometer, suhu malam ini bisa saja mencapai 3oC. tapi Soo Sun menghiraukannya, dikarenakan rasa kantuk yang sudah mendominasi.

Sedikit demi sedikit, kepalanya sudah mulai menempel dengan dinding pembatas itu. Dan tanpa menunggu lama, iapun benar – benar sudah terbang kealam mimpinya. Sungguh aneh bukan ?? padahal udara sangat dingin disana dan ia hanya memakai baju seragam sekolahnya yang tipis. Bagaimana mungkin ia bisa tertidur dengan nyenyak seperti itu ??

1 jam telah berlalu, Soo Sun masih saja terlelap dengan nyenyaknya. Tanpa ia sadari, sepasang telapak kaki telah datang menghampirinya. Pemilik kaki tersebut hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“apa kau gila ?? tidur diluar dengan pakaian setipis itu ?? Arggghh, aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu yang pendek itu” Pemilik sepasang kaki itu selalu saja menggerutu secara monolog.

“aku merindukanmu~~” Soo Sun mengigau, membuat pemilik sepasang kaki itu terkekeh pelan.

“kau lucu dan aku memang suka itu”

^^ Naughty Boy ^^

“YA!! YA!! YA!!”

“OMO >.< Dimana aku ?? YA!! Jong In, kau bawa kemana aku, eoh ?? atau jangan – jangan kau….”

Soo Sun mengintip kedalam selimut yang sedang membungkus badannya. Ia bernafas lega setelah mendapati apa yang ia pakai sebelumnya masih sama dengan yang ia pakai sekarang. Iapun menegakkan kepalanya kembali dan menunjukkan deretan giginya yang putih itu.

“apa ?? kau pikir aku akan berbuat yang tidak – tidak padamu ??” Soo Sun hanya menundukkan kepalanya. Ia merasa malu, bahkan sangat malu.

“maafkan ak–”

“ini, mandilah. Aku akan keluar. Kalau kau selesai, panggil saja aku” Soo Sun mengangguk dan memungut handuk yang Jong In berikan kepadanya. Sebelum benar – benar masuk ke dalam kamar mandi Jong In, Soo Sun menyempatkan diri untuk memanggil Jong In. ia ingin menanyakan beberapa hal.

“Jong In”

“ada apa ??”

“sekarang jam berapa ??”

“9 malam” Soo Sun hanya membuat huruf O dengan bibir mungilnya. Jong Inpun merasa kalau dirinya sudah tidak diperlukan dan iapun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ganggang pintu kamarnya. Namun….

“Jong In”

“ya ??”

“aku tidak membawa baju ganti. Kau tau maksudku, bukan ??”

“aku mengerti, kau bisa memakai baju yang ada di rak lemari nomor dua dan aku punya satu masalah..”

“apa itu ??”

“aku tidak mempunyai dalaman wanita” ‘BLUSH’ seketika kedua pipi Soo Sun bersemu merah muda. Jong In yang melihat itu hanya terkekeh.

“keluarlah!! Aku ingin segera mandi!!”

“kau yakin tidak memerlukan bantuanku lagi ??”

“KELUAR!!!” Jong In kembali terkekeh. Ia benar – benar tak menyangka kalau Soo Sun akan menjadi begitu menggemaskan ketika sedang marah.

^^ Naughty Boy ^^

“YA!! Apa kau sudah selesai ??”

Soo Sun kaget ketika mendengar pintu kamarnya eh ? maksudku pintu kamar Jong In diketuk oleh si empu pemilik kamar. Dengan cepat, Soo Sunpun berlari menuju pintu dan langsung membukanya.

“kenapa lama sekali ?? apa setiap wanita memerlukan waktu 2 jam untuk mandi, eoh ??”

Soo Sun hanya memanyunkan bibirnya ketika mendengar ocehan Jong In yang terdengar seperti ocehan seorang ayah terhadap anaknya. Jong In yang gemas akan tingkah Soo Sun langsung saja mengacak rambut Soo Sun yang basah.

“AAA~ Kau membuat rambutku semakin berantakan”

“kenapa ?? tidak ada yang melihat, bukan ?” Soo Sun hanya mengekspresikan kekesalannya dengan meniup poninya yang masih basah tersebut.

“apa kau lapar ?? aku sedang memasak mie instant” Soo Sun menggeleng. Alis Jong Inpun bertaut ketika melihat penolakan yang diberikan Soo Sun yang berupa gelengan tersebut.

“jangan menolak, aku tau kau lapar”

“kalau kau memaksa, aku tak bisa berbuat apa – apa”

Jong Inpun langsung menarik pergelangan tangan Soo Sun dan iapun mendudukkan Soo Sun di kursi yang di depannya sudah tersedia dua mangkuk mie instant.

“terima kasih, aku tak tau kalau kau sebaik ini”

“tidak perlu berlebihan. Makanlah”

Soo Sunpun mengangguk singkat dan langsung memakan semangkuk mie instant yang berada tepat di hadapannya. Sementara jong in ? haha, sedari tadi ia selalu melihat cara Soo Sun makan. Sampai – sampai ia sempat melontarkan tawa kecilnya karena melihat cara Soo Sun makan yang seperti anak kecil.

“perhatikan cara makanmu” Jong In menegur Soo Sun. membuat yeoja itu menegakkan kepalanya agar dapat melihat Jong In.

“apa ada yang salah dengan cara makanku ??”

“tidak. Hanya saja ada noda mie instant di wajahmu”

Mendengar ada noda, Soo Sunpun kalang kabut membersihkan wajahnya dengan serbet yang ada di sebelah mangkuknya. “apakah sudah hilang ??” Jong In menggeleng dan Soo Sun kembali membersihkan wajahnya dengan serbet.

“kau payah”

Soo Sun mengerucutkan bibirnya kesal dan disaat itulah, Jong In mengambil sepotong mie instant yang berada di sudut bibir Soo Sun. “lihat ?? membersihkan ini saja kau susah” Jong In berceramah lagi namun tampaknya Soo Sun tak terlalu fokus akan ceramah yang Jong In lontarkan. Ia masih fokus dengan sikap Jong In yang menurutnya romantis tersebut.

Jong In yang melihat Soo Sun masih terlarut dengan sikapnya tadi hanya menyunggingkan sedikit senyumnya.

“makanlah, nanti mienya dingin” Jong In memperingati, membuat Soo Sun kembali memakan mienya. Walaupun dengan perasaan gugup.

“kau lucu”

^^ Naughty Boy ^^

“kau mau kemana ??”

Soo Sun memberhentikan langkahnya yang hendak menuju pintu rumah Jong In. Jong Inpun menghampiri Soo Sun.

“ah~ jadi begini. Aku baru teringat kalau kunci rumahku berada di bawah pot bunga. hehe”

Jong In mengernyit. Ada perasaan tak senang yang tersirat dihatinya ketika mendengar Soo Sun yang hendak meninggalkan rumahnya. Tapi tunggu, bukankah udara di luar sedang mencekam. Aha, bukankah cara itu bisa ia andalkan untuk membuat Soo Sun tetap berada di rumahnya.

“kau yakin ingin pulang sekarang ?? cuaca diluar sedang tidak bersahabat”

“kau benar. Tapi aku harus”

Jong In kembali memperkerjakan otaknya. Sungguh, ia tidak akan membiarkan Soo Sun keluar dari rumahnya malam ini. Tepatnya, ia ingin Soo Sun menginap di rumahnya.

“menginaplah”

“tapi—-” Soo Sun berusaha mengelak.

“kau tidur dikamarku. Aku akan tidur di ruang tamu”

“itu akan membuatmu semakin kesusahan. Aku tidak mau” Soo Sun masih saja bersikukuh menolak.

“aku berani bersumpah, sebelum kau masuk ke rumahmu. Kau sudah terlebih dahulu membeku.” Jong In kembali memperingati seraya bersedekap dada.

“apa kau tidak keberatan kalau aku memakai ranjangmu, sementara kau sendiri harus tidur diatas sofa ?”

Senyum kemenanganpun merekah di wajah Jong In, ia benar – benar senang akhirnya Soo Sun mengalah. Sebelum Soo Sun berupah pikiran, Jong Inpun menganggukkan kepalanya. Melihat anggukan Jong In, Soo Sunpun tak lupa berterima kasih. “terima kasih ^^”

^^ Naughty Boy ^^

“apa dia sudah tertidur ?? Ah~ tidak ada salahnya bukan kalau aku melihatnya sebentar ??”

Jong In bermonolog dan langsung bangkit dari sofa tempat ia tertidur. Dengan perlahan, Jong In berjalan kearah kamarnya. Kemudian, ia membuka sedikit pintu kamarnya.

“Sun-a, apa kau sudah tertidur ?”

Jong Inpun masuk ke dalam kamarnya. Ia masih belum mendengar jawaban yang terlontar dari Soo Sun. mungkin ia sudah tertidur, pikir Jong In. Jong Inpun kembali melanjutkan langkahnya menuju ranjangnya sendiri yang sedang ditiduri oleh Soo Sun.

“AW~” Jong In sedikit merintih kesakitan ketika kakinya baru saja bertumbukan dengan sisi ranjangnya yang cukup keras itu.

“Aishh~ kenapa setiap wanita hobi sekali tidur dalam kegelapan” Jong In menceloteh.

“eomma~~”

Jong In kaget bukan kepalang ketika mendengar suara Soo Sun yang memanggil ibunya, dengan cepat iapun meniarapkan dirinya di sebelah tempat tidurnya. Sungguh, sekarang ini posisi Jong In benar – benar seperti tim Densus 88 yang hendak menyergap komplotan teroris. Setelah merasa keadaan kembali aman, Jong Inpun kembali berdiri.

“tunggu, kenapa aku harus takut ?? kenapa aku bersikap seperti seorang maling ?? bukankah ini rumahku ??” lagi – lagi Jong In berceloteh dengan dirinya sendiri. Iapun berlagak layaknya orang jenius yang sedang berpikir, padahal kalau dipikir – pikir Jong In hanya jenius di cabang pelajaran matematika. Sementara yang lain ?? haha, sebaiknya saya tidak menceritakannya sekarang. Kalau saya masih bersikukuh menceritakannya, mungkin ff Naughty Boy tidak akan bisa dilanjutkan karena saya sudah terlebih dahulu di tonjok oleh Jong In -_-“

“eomma~~” Soo Sun kembali mengulangi ucapannya.

“YA!! Apa kau mengigau ??” Jong In memastikan apakah Soo Sun masih bangun atau sudah tertidur dengan cara melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Soo Sun. Soo Sun tak merespond.

“eomma, dinginn~~” Soo Sun kembali berucap dan itu sukses membuat Jong In mengernyit.

“maafkan aku” Jong Inpun meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Soo Sun dan dugaannya benar – benar tak meleset.

“kau demam” Jong In bergumam dan iapun menghidupkan lampu tidur yang berada di sebelah tempat tidurnya.

Ketika lampu tidur itu hidup, Jong In melihat banyak sekali keringat yang membasahi sekeliling wajah Soo Sun. tingkat kekhawatiran Jong Inpun semakin bertambah ketika merasakan tangan Soo Sun yang sangat dingin.

Tanpa menunggu lama, Jong Inpun mengambil sebuah baskom (?) berisi air dingin beserta es dan tak lupa juga sebuah serbet bersih. Jong In mengambil kursi yang berada di dekat meja belajarnya dan menyeretnya mendekati ranjang tempat dimana Soo Sun tidur.

Jong In mencelupkan serbet bersih kedalam air yang sudah bercampur dengan es, kemudian ia meletakkannya di atas dahi Soo Sun.

“tenanglah, kau akan baik – baik saja” Jong In bermonolog dengan serius seraya menggenggam kedua tangan Soo Sun. sementara Soo Sun, ia masih saja mengigau memanggil ibunya. Ia sama sekali tak sadar atas apa yang telah Jong In perbuat untuk dirinya.

Setengah jam telah berlalu, Jong In masih saja senantiasa menjaga Soo Sun yang sedang demam. Seringkali ia mencelupkan serbet bersih tersebut kedalam air yang sudah bercampur dengan es dan meletakkannya kembali keatas dahi Soo Sun. Dan, tak jarang pula ia mengelus puncak rambut Soo Sun dengan penuh kasih sayang (?)

“Jong In…”

Jong In terbelalak kaget ketika mendengar namanya di panggil oleh Soo Sun. ia kira, Soo Sun terbangun dari tidur nyenyaknya. Ternyata eh ternyata, Soo Sun hanya mengigau dan itu memang membuat Jong In lega.

‘CHU’

Jong In mengecuk punggung telapak tangan Soo Sun. setelah itu, ia kembali mengusap – usap puncak kepala Soo Sun.

“HUAAA”

Rasa kantukpun melanda Jong In. beberapa saat kemudian, peri tidur benar – benar menghampiri Jong In dan Jong Inpun akhirnya tertidur dengan pulas. Kepalanya telah terjatuh di tepi ranangnya sendiri sedangkan tangannya ?? kedua tangannya masih senantiasa memegang telapak tangan Soo Sun. sungguh, ini merupakan moment paling romantis yang pernah ia lakukan untuk wanita manapun.

-To Be Continued-

Guys, aku punya berita buruk [T.T]

yaitu, ff ini akan terancam punah (?) jika jumlah komentar sangat tidak layak untuk site jumlah orang yang baca -_-

jadi saya mohon kepada kalian semua untuk berkomentar…

just it.. susah ??

jangan baca ini FF!!!!

67 thoughts on “NAUGHTY BOY (Chapter 4)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s