Posted in Chapter, Chen, D.O, EXO-K, kanemin, Marriage Life, Romance

Truly, I Love You (chapter 11)

truly-i-love-you2_zps73bebecb

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin (@kanemin_)| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Poster by: http://invader09.wordpress.com/

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is  just a fiction 😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-Chapter 11-

-0-

 

“Seperti sebuah air perasaan itu pun terus mengalir.”

 

“yunju noona?” sehun mengulang kembali pertanyaannya.

Gadis berambut ikal panjang kecoklatan itu tersenyum menanggapi, “apa kabar sehun-ah?”

Sehun mengerjapkan matanya, berusaha bernafas dengan normal dan mencoba menelan ludahnya, “apa yang… ergh apa yang.. Eng.. noona disini, wae?” racau sehun dengan susunan kalimat yang berantakan.

“aku pindah ke sekolah ini.”

“mwo?!”

-0-

Perpustakaan tidak terlalu ramai seperti biasa, jam sekolah sudah berakhir tapi sakura dan eunyeol memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan yang baru akan di tutup pukul 7 malam nanti. Ujian sebentar lagi, ujian pertama sakura di korea. Sejak datang ke sekolah tersebut, nilai-nilai sakura memang tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Gurunya sudah memperingatkannya untuk belajar lebih giat kalau sakura ingin lulus di ujian pertamanya. “kalau ujianku gagal bagaimana ya?” gumamnya sambil menopang dagunya.

“eih, tidak akan. Kau punya D.O sunbae yang pintar itu. belajar saja dengannya.”

Sakura memonyongkan bibirnya, dan meletakkan kepalanya di meja. “aku akan lebih sering dimaki olehnya kalau dia tahu kemampuanku.”

Gumaman sakura hanya terdengar samar di teling eunyeol, dia kembali fokus pada bukunya. “sakura, tentang chen, aku heran kenapa akhir-akhir ini dia menjauh dari kita. Saat aku kerumahnya dia juga hanya menyambutku dingin, aneh sekali. Apa sikapnya aneh juga padamu?”

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap eunyeol, “ehm, kau mau membantuku tidak?”

“apa?”

Sakura menatap eunyeol penuh arti, eunyeol berdehem, “perasaanku tak enak.” Ujarnya.

-0-

Sakura menatap langit jingga di atasnya, hembusan angin mengayun rambutnya yang panjang. Dia sedang menunggu taksi di pinggir jalan, sakura dan eunyeol baru saja dari rumah chen yang ternyata sedang tak dihuni pemiliknya. Sakura memang meminta eunyeol untuk menemaninya ke rumah chen. Sakura masih begitu ingin mendengar penjelasan chen walaupun D.O sudah dengan sangat tegas melarangnya.

Tepat pukul 6 sore, sakura sampai di rumah. Ahjumma sedang menata meja makan saat ia memasuki rumah. Setelah menyapa ahjumma sebentar, sakura langsung beranjak naik ke kamarnya. Seperti yang selalu saja sering terjadi, tepat ketika sakura baru akan membuka pintu kamarnya, pintu kamar di sebelahnya juga  terbuka dan langsung memunculkan pemiliknya.

Sakura menatap D.O yang baru keluar dari kamarnya dengan senyuman canggung. “kyungsoo..” ucapnya dengan nada yang menggantung di udara.

Berbanding terbalik dengan sakura, D.O hanya menatap gadis itu dengan tatapan datarnya. Seperti biasa. “darimana kau?”

Sakura mengerjap, “eoh? Ergh, perpustakaan. Belajar.”

Setelah mengangguk singkat, D.O berlalu menuruni tangga. Sakura menghembuskan nafasnya lega begitu D.O sudah beranjak dari hadapannya. Sampai kapanpun, aura D.O memang selalu menyeramkan baginya. “dia akan menelanku kalau dia tahu aku dari rumah chen kan?” Tanya sakura pada dirinya sendiri, setelah berkata demikian sakura menggeleng cepat. “ani. Aku tidak akan bilang padanya. Tidak akan.”

-0-

Dengan posisi tengkurap yang begitu nyaman, sakura mengerjakan PRnya dengan tekun. Sesekali dia bertanya pada D.O yang sedang bersandar di sofa sambil membaca sebuah buku yang cukup tebal. Malam itu sakura memang meminta D.O untuk menemaninya mengerjakan PR, untung saja D.O dengan senang hati mengiyakannya. Sebenarnya bukan tanpa alasan khusus D.O mau membantunya, tetapi karena laki-laki itu juga sudah tahu bagaimana perolehan nilai-nilai sakura yang begitu buruk.

Sakura masih begitu serius dengan PRnya sampai ia memutuskan untuk melirik apa yang sedang D.O lakukan karena laki-laki itu begitu tenang, sakura menopang dagunya dengan tangan kirinya. Matanya mulai menelusuri setiap jengkal seluk wajah D.O, mata sakura berhenti saat pandangannya jatuh di bibir D.O, ia langsung mengalihkan pandangannya, dapat dengan jelas dirasakannya semenit yang lalu bahwa jantungnya berdetak begitu cepat. Sakura menepuk kepalanya sendiri, “kenapa aku berpikir tentang itu?” katanya setengah berbisik.

“PRmu sudah selesai?” Tanya D.O tiba-tiba,

Sakura menatap D.O gelagapan, dia juga langsung bangkit dari posisinya, “a..ani, belum.”

Tak menghiraukan gelagat sakura yang aneh, D.O kembali menekuni bukunya. Besok akan ada ujian kecil di kelasnya, dan sejak kepulangannya dari jepang memang banyak yang harus dikejarnya.

Sakura menghela nafasnya pelan begitu melihat D.O sudah kembali membaca bukunya, dia menggigigit pelan bibirnya sendiri, diluar pikiran nakalnya barusan, sebenarnya ada yang begitu mengganjal perasaannya. Sakura tidak pernah bisa berbohong, dan sampai kapanpun keadaan itu tidak akan pernah berubah. Dan kebohongannya mengenai pergi ke perpustakaan saat D.O bertanya sore tadi membuatnya merasa tidak tenang sampai saat ini.

Sakura menarik nafasnya, berusaha mengumpulkan keberanian. Dia tahu apa yang akan dikatakan D.O nanti, dan dia sedang berusaha menyiapkan dirinya, “ehm, kyungsoo.” panggilnya.

“hm.” Dengan gumaman singkat, D.O menjawab panggilan sakura.

“tadi sore sebenarnya aku, ergh, aku tidak hanya pergi ke perpustakaan.”

“lalu?”

Sakura menarik nafasnya lagi, “aku….. ke rumah chen.”

Pergerakan seolah berhenti, semua berubah menjadi benda mati. Sakura bahkan tak dapat merasakan udara disekelilingnya. Dia menunduk takut, tangannya bergerak-gerak gelisah. Degup jantungnya juga begitu keras sampai dirasanya akan loncat keluar. Satu kalimat dan sakura menyesal telah mengatakannya.

D.O terdiam ditempatnya, buku dihadapannya sudah tak lagi menarik perhatiannya. rahangnya mengeras, giginya bergetak jengkel. Satu kalimat dan sakura berhasil membuat mood baiknya  runtuh tak bersisa.

“mian..hae, aku sungguh tak bisa menjauhinya begitu saja. chen berhak mendapat kesempatannya untuk menjelaskan segalanya padaku kan?” cerocos sakura panjang sebelum rentetan kata pedas keluar lebih dulu dari mulut D.O

Sakura menaikkan kepalanya, takut-takut dlihatnya D.O masih tidak menunjukkan pergerakan apapun, hanya ekspresi wajahnya saja yang memang sudah diketahuinya sebelumnya akan berubah menjadi begitu kaku dan menyeramkan.

“lakukan saja.” ucap D.O dingin. Matanya menatap kosong buku ditangannya.

“eoh?”

“lakukan saja sesukamu,” D.O menatap sakura dalam, dan begitu tajam. “lagipula, selama ini kau memang tidak pernah mendengarkanku kan?”

D.O menutup bukunya, membantingnya di sofa dan beranjak menuju kamarnya, dengan dorongan yang keras, ditutupnya pintu kamarnya itu sehingga menimbulkan suara berdentum yang kencang.

Sakura berusaha menyusul D.O, dan pintu yang tertutup itu terbanting dengan keras tepat di depan wajahnya. Sakura menggigit bibirnya, dia sungguh siap menerima segala macam kata pedas dari bibir D.O, dia sungguh siap mendengar segala macam cacian yang mungkin saja D.O ucapkan, dia sungguh siap dengan segala hal yang memang sudah sering didapatnya, tapi dia tidak pernah menyiapkan diri untuk tanggapan dingin namun bermakan begitu dalam seperti ini.

Sakura mengangkat tangannya, berniat mengetuk pintu namun dia mengurungkannya. Dia tahu, hanya penolakanlah yang akan didapatkannya sekalipun ia mencobanya. Sakura menatap sedih pintu putih di hadapannya, dia sungguh sangat tidak menyangka mendapat tanggapan yang sangat dingin seperti tadi. Sakura membalik badannya, dan dengan menjadikan pintu tersebut sebagai sandarannya, sakura duduk sembari memegangi lututnya. “mianhae.” Gumamnya.

D.O’s POV

Aku masih memegang erat pegangan pintu dibelakang tubuhku, dengan kondisi kamar yang masih gelap, aku membiarkan diriku berdiam lama bersandar di pintu. Hanya dalam hitungan detik gadis itu sudah menghancurkan malamku. Bagaimana mungkin dia bisa semudah itu mengatakan nama chen dengan sangat lantang di depanku? Aku sungguh tak habis pikir dengan sakura. aku tahu dia begitu susah untuk diberitahu sesuatu tapi untuk masalah ini, tidak bisakah dia mendengarkanku sekali saja? dia bahkan sempat berbohong padaku. Kenapa dia bisa berpikir untuk pergi begitu saja ke rumah chen? Astaga, mengingat namanya saja membuatku begitu marah.

Tidak tahukah sakura kalau aku begitu membenci laki-laki itu?

-0-

Aku menuruni tangga dengan cepat, sembari berbicara dengan pelatih ditelepon, saat aku sudah mencapai lantai dasar, tiba-tiba sakura sudah berdiri didepanku, menghadangku.

“kau tidak ingin sarapan dulu?” tanyanya, bersikap seolah-olah segalanya baik-baik saja.

“tidak.” Aku melewatinya cuek, dan melanjutkan percakapanku dengan pelatih.

Author’s POV

D.O melewati sakura begitu saja, bahkan tidak sedikitpun ditatapnya sakura yang berdiri tepat di depan wajahnya. Sakura mengepalkan tangannya, antara kesal, jengkel, dan perasaan bersalah yang menumpuk jadi satu. Sakura menghembuskan nafasnya keras. “lagi. ck.” Sakura mendengar suara mobil yang menjauh, dia berdecak lagi dan kembali ke meja makan, melanjutkan sarapannya.

Saat sampai di kelas, belum banyak anak yang datang. D.O meletakkan tasnya di meja dan segera duduk di tempatnya, perasaannya masih kacau sejak semalam, dan melihat bagaimana sikap sakura tadi yang seolah-olah segalanya baik-baik saja, membuat mood D.O semakin tak baik pagi itu. ekspresi wajahnya kaku dan begitu dingin saat menjawab sapaan suho yang datang tak lama kemudian.

“ada apa dengan wajahmu pagi-pagi begini?” Tanya suho bingung, D.O memang selalu bersikap dingin setiap harinya, tapi ekspresi D.O hari itu terlihat begitu tak biasa dimatanya.

“eopseo.” Jawab D.O cuek.

Suho memiringkan kepalanya, berpikir. hanya ada satu orang yang biasanya selalu  bisa membuat D.O menampilkan ekspresi wajah seperti itu, “apa karena sakura?” tebak suho kemudian.

D.O hanya berdecak pelan dan tanpa berkata apa-apa lagi langsung pergi keluar kelas.

“ck. Ck. Ck. Kenapa lagi mereka? Gunung es ini belum hancur juga rupanya. Hah.” Desah suho keras, dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, suho menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir.

-0-

“eunyeol-ah..” dari kejauhan terdengar suara orang memanggil namanya membuat eunyeol menoleh.

“kai?” begitu melihat seseorang berlari kearahnya eunyeol membulatkan matanya tak percaya.

“ini.” dengan nafas yang terengah karena berlari mengejar eunyeol dari halte bus, kai menyerahkan kotak berwarna pink kepada gadis itu.

“apa?”

“dari sehun, hm sebenarnya dia bilang untuk tidak menyebut namanya, tapi kampungan sekali kalau berpura-pura seperti itu. sudah, ini terima saja.”

Eunyeol menaikkan alisnya bingung, “sehun? Oh Sehun?”

Kai berdecak, “tentu saja, cepatlah ambil ini, aku harus mengerjakan PRku.” Kai menarik tangan eunyeol dan meletakkan kotak tersebut di telapak tangan gadis itu, segera setelah kotak tersebut berpindah tangan, kai langsung mengambil langkah seribu memasuki gedung sekolah.

Kai sudah menghilang begitu cepat padahal dia masih ingin bertanya, eunyeol memandang bingung kotak pink di tangannya, antar percaya dan tidak tapi dia terus saja mengulang nama orang yang tadi kai katakan. “sehun? Sehun-ee?” tanyanya pada dirinya sendiri, sebelum anak-anak yang lain melihat kotak tersebut, eunyeol dengan sangat cepat memasukkan kedalam tas.

-0-

Saat bel sekolah berbunyi, D.O baru memasuki kelas lagi. wajahnya masih menampakkan ekspresi yang sama. Suho yang tak ingin membuat mood D.O semakin buruk, hanya diam tak berkomentar begitu D.O mengambil tempat di sebelah mejanya.

Choi seosaengnim masuk kekelas dengan setumpuk buku di tangannya, dia memang senang sekali membawa buku ke kelas walau pada akhirnya, hanya satu atau dua buku yang ia gunakan untuk mengajar. Setelah meletakkan buku-bukunya di meja, seosaengnim berdiri di depan kelas, dia memandangi seluruh isi kelasnya dengan seksama. “pagi anak-anak.”

“pagi,” jawab seisi kelas kompak.

“pagi ini ada yang special di kelas kita,” katanya, seosaengnim melambaikan tangannya ke arah pintu, memanggil seseorang. “masuklah.”

Dari luar kelas, gadis berambut panjang yang kali ini di kuncirnya tinggi itu menarik nafas dalam dan melangkahkan kakinya memasuki kelas dengan pelan. gumaman langsung terdengar menggema begitu sosoknya memasuki kelas, dia bahkan tak berani mengangkat kepalanya.

“ayo perkenalkan dirimu.” Suruh Choi seonsangnim.

Gadis itu menganggukkan kepalanya, perlahan dia juga mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. “annyeonghaseyo, perkenalkan namaku Yunju, Seo Yunju. Senang berkenalan dengan kalian.”

Di pojok ruangan, saat yang lain sibuk berbisik dengan masuknya seorang gadis cantik ke kelas mereka, D.O malah hanya sibuk membolak-balik buku pelajarannya malas, dia tak terganggu sedikitpun dengan ruangan yang berisik. Namun saat sebuah nama di sebutkan, D.O menghentikan segala aktifitasnya, dia memandang kaku pada buku di hadapannya.

Yunju menelusuri segala penjuru ruangan kelas, dan saat ia bertemu mata dengan suho, ia tak bisa menahan senyumnya, namun senyuman itu berubah masam saat ia melihat orang yang duduk di sebelah meja suho, D.O, yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya untuk sekedar mengangkat kepalanya sedikit, karena ia yakin D.O mendengar perkenalannya tadi, dan ia juga yakin, bagaimanapun D.O pasti masih mengenalnya, pasti.

“baiklah, kau bisa duduk di sebelah sini.” Tunjuk seonsaengnim pada bangku di depannya, tanpa banyak protes Yunju duduk di bangku yang kosong tersebut dan kembali mencoba mencuri pandang pada bangku di pojok ruangan tempat D.O berada.

Di sisi lain, suho yang sejak tadi masih berusaha mengatur nafasnya, masih tak bisa percaya dengan apa yang baru dilihat dan didengarnya, “jinjja?” gumamnya, dia melirik D.O, namun laki-laki itu tetap bergeming membaca bukunya. Suho mendesahkan nafasnya, “kenapa dia harus kembali?” suho kembali bergumam pada dirinya sendiri.

-0-

Saat jam istirahat tiba, sakura menunggu dengan gelisah di depan kelas chen, dia berharap chen cepat keluar sebelum chanyeol ataupun baekhyun, takut mereka akan mencurigainya yang macam-macam kalau tahu sakura sengaja menunggu chen. Tepat saat sakura membalik tubuhnya, chen keluar dari kelas, “chen-ah.” Panggilnya.

Chen menoleh dan kaget melihat siapa yang memanggilnya, sakura segera mendekatinya dan berkata lagi, “bisa kita berbicara sebentar?”. Chen diam, masih tak percaya dengan apa yang baru didengarnya, tapi kemudian dia mengangguk pelan sebagai jawaban.

Hari ini tidak ada jadwal untuk latihan baseball, sakura memilih bangku pinggir lapangan sebagai tempatnya untuk berbicara dengan chen, ia yakin D.O tak akan melihatnya, laki-laki itu tak akan mendekati lapangan pada jam istirahat seperti ini.

Sakura dan chen saling diam begitu mereka sudah duduk bersebelahan, tak tahu darimana harus memulai sakura hanya memainkan kancing lengan kemejanya, di lain sisi, chen yang juga masih tak ingin percaya bahwa sakura mengajaknya bicara seperti ini hanya mampu diam sambil memandangi sepatunya.

“ehm.” Gumam sakura pelan, mencoba membuka pembicaraan. “soal kemarin, ehm, aku minta maaf.”

Chen menoleh, melihat gadis yang sekarang sedang menunduk sambil meremas-remas roknya sendiri itu, “soal yang mana?”

“kemarin aku malah pergi padahal aku sudah berjanji akan mendengarkan penjelasanmu, aku minta maaf.”

Chen tersenyum masam, “tidak apa, dengan begitu kau justru membuatku sadar, bahwa aku sudah seharusnya tak mengharapkan gadis yang hatinya sudah diisi orang lain.”

Sakura mengangkat kepalanya, memandangi chen. “maksudmu?”

“aku menyukaimu sakura, sangat menyukaimu.” Chen membalas tatapan sakura, dalam.

“c.c.chen-ah.”

“tapi kau tidak, kan. kau tidak menyukaiku. Tentang malam itu, aku salah. Tidak seharusnya aku seperti itu padamu, aku mengikuti egoku sendiri, aku ingin memilikimu, tapi toh tak ada artinya kalau aku hanya memiliki ragamu tapi tidak hatimu.”

“chen-ah.”

“D.O beruntung Karena dia memiliki hatimu, aku akan melepaskanmu sakura, tapi jika suatu hari, dia menyakitimu, melukai perasaanmu, datanglah kepadaku. Kapanpun itu, aku akan selalu ada untuk menunggumu sakura, selalu.”

Chen mengangkat tangannya dan menyentuh pipi sakura, mengelusnya pelan. “aku akan selalu menyukaimu.”

Sakura tak mampu berkata-kata lagi, dia hanya memandangi chen, dan berharap dalam hati, D.O lah yang sedang berada di hadapannya, D.O lah yang berjanji akan selalu menyukainya, dan D.O lah yang mengelus pipinya selembut itu.

Dari kejauhan, dengan wajah yang mengeras dan rahang yang bergeretak menahan amarah, D.O memandangi dingin bangku di pinggir lapangan, tempat dimana sakura dan chen berada. D.O menahan kakinya yang hendak melangkah. Mengurungkan niat untuk mendekat. Dia mengeraskan kepalan tangannya, setelah mendenguskan nafasnya keras, dia membalik badannya, pergi.

D.O menenangkan dirinya di dalam perpustakaan, entah kenapa perasaannya kembali kacau, awalnya dia memang berniat mencari sakura ingin meminta maaf atas perlakuannya yang setelah dipikir memang sedikit keterlaluan pada gadis itu, D.O tak seharusnya sekejam itu pada sakura di saat ia sendiri tidak memiliki alasan yang jelas kenapa dia harus marah. alasan satu-satunya yang ia miliki adalah karena chen. Karena sakura dekat dengan chen. Dan ia tidak suka itu.

D.O mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke meja, menghela nafasnya perlahan,

“kau disini rupanya?” ucap seseorang tiba-tiba. D.O mengangkat kepalanya, dan sedikit tersenyak saat melihat orang yang sudah duduk di hadapannya, yunju.

Yunju tersenyum, sambil menopang wajahnya dengan kedua tangan, yunju tak melepaskan pandangannya dari D.O, “aku tak menyangka kita akan sekelas.”

“kenapa kau pindah ke sekolah ini?” Tanya D.O dengan nada yang ketus, dia bukan tipe orang yang senang berbasa-basi. Sejak kedatangan yunju ke kelasnya tadi dan fakta bahwa sekarang gadis itu pindah ke sekolahnya, D.O tak berniat berpura-pura pada dirinya sendiri, dia ingin tahu apa yang membuat yunju datang lagi. yunju yang pergi hampir tiga tahun lamanya sekarang tiba-tiba saja kembali tak dapat dipungkiri cukup membuatnya terenyak dan bagai mendapat tamparan yang cukup keras.

Yunju menatap D.O tak percaya, “D.O-ya, kenapa kau bertanya seperti itu?”

D.O mendengus pelan, dan segera bangkit dari duduknya, yunju menghadangnya saat D.O hendak melangkah. “jadi kau masih marah padaku? Kau masih belum bisa memaafkanku?”

D.O membuang tatapannya, “minggir.”

“tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku, aku ingin kita seperti yang dulu lagi D.O-ya”

D.O mendesah lagi, kali ini dia balas menatap yunju. “jadi itu alasanmu pindah ke sekolah ini. kau seharusnya tak kembali yunju, segalanya sudah berubah. Walau sedikit kau sungguh tidak punya kesempatan lagi.” setelah berkata demikian, D.O segera pergi melewati yunju.

Yunju menelan ludahnya yang tiba-tiba saja terasa pahit, dia tak menyangka akan mendapat sambutan sedingin itu dari orang yang paling ingin di temuinya di sekolah ini. yunju terduduk kembali, dia menatap kosong meja di hadapannya, “kenapa kau harus sedingin itu padaku?” Tanya yunju pada dirinya sendiri, kepindahannya ke sekolah tersebut ternyata tak semudah yang di bayangkannya.

-0-

Setibanya di rumah, sakura segera mengganti bajunya dan membantu ahjumma menyiapkan makan malam. Dia berniat membuat hidangan special untuk D.O, dia harus segera berbaikan dengan laki-laki itu karena rasanya sangat tidak menyenangkan ketika D.O mendiamkannya seperti dulu lagi.

D.O baru sampai di rumah saat langit sudah mulai gelap, D.O segera mengambil tempatnya di meja makan Karena melihat makanan sudah tertata di meja. Sakura keluar dari dapur begitu melihat D.O sudah duduk di kursinya, dia membawa keranjang buah yang belum sempat di tatanya, saat sakura sudah meletakkan keranjang tersebut di meja, D.O meraih tangannya, “kenapa sampai begini?” tanyanya dengan nada khawatir, dia melihat dengan seksama beberapa plester luka yang tertempel di jari-jari sakura.

“aku tak hati-hati saat memotong sayuran tadi,” katanya menjelaskan, sakura segera menarik tangannya. “aku akan mengambil kimchi dulu, kau makan saja duluan.” Dengan senyum yang mengembang kecil di bibirnya sakura kembali masuk ke dapur, walau sedang marah dia tetap perhatian padaku, batin sakura senang.

D.O mendesah, gadis itu terlalu sering tak hati-hati.

Mereka menikmati makan malam dalam diam, walau kadang sesekali sakura melirik ke arah D.O, wajah diam laki-laki itu selalu terlihat manis di matanya, dan sakura sangat menyukainya.

Sakura’s POV

Setelah membereskan sisa makan malam, aku naik hendak pergi ke kamar. Tapi saat melihat kearah sofa, ada kyungsoo disana, dia memang menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu tadi. Dia sedang memainkan playstasionnya dengan serius, aku mendekat. Niat untuk langsung kembali ke kamar kuurungkan dulu sejenak. Rasanya aku harus bicara dengannya dulu, aku harus memastikan apakah ia masih marah soal yang semalam atau tidak.

Aku mengambil tempat di sebelahnya, kyungsoo yang terlalu serius dengan permainannya tak sadar bahwa aku sudah duduk disampingnya, “kyungsoo.” panggilku, dia hanya bergumam pelan sebagai jawaban, matanya masih fokus pada layar tv. “ada yang harus kita bicarakan.” Lanjutku kemudian.

Kyungsoo masih tak berniat menghentikan permainannya, dia bahkan tak berniat sedikitpun untuk sekedar melirikku. Aku berdecak, “ayolah, kau masih marah padaku ya?” tanyaku dengan nada tak sabar.

Kyungsoo tetap meneruskan permainannya, mengacuhkanku. Aku mendesah keras, berjalan kearah tv dan dengan gerakan cepat aku mencabut salah satu kabel dan seketika semua yang sedang di mainkan kyungsoo mati dalam sekejap. Hening. Aku membalik badanku, dan menatapnya yang kali ini juga sedang menatapku dengan tatapan dinginnya, “mian. Tapi kita memang harus bicara.” Kataku, berusaha membela diri.

Aku mendengarnya berdecak, kyungsoo seketika berdiri hendak pergi, aku segera memposisikan diriku di depannya, berusaha menghadangnya. Aku memegang bahunya, “kajima,” ucapku, kyungsoo berusaha mendorongku dan aku juga berusaha menahannya dengan tenagaku. “jebal, huh?” ujarku lagi dengan nada memohon. Kyungsoo menyerah, dia menjatuhkan lagi tubuhnya di atas sofa.

Tak membuang waktu, aku juga segera mengambil tempat di sebelahnya, “kau masih marah padaku ya?”

“tidak.”

“sungguh?”

“hm.”

Aku mendekatkan wajahku kearahnya, mencari kebenaran, dia kemarin terlihat marah sekali dan sekarang dia dengan mudahnya mengatakan kalau ia sudah tak marah lagi. sulit di percaya.

Kyungsoo menjauhkan wajahnya, jarak kami memang terlalu dekat tadi. Aku juga melakukan hal yang sama. “aku minta maaf karna sering tak mendengarkan ucapanmu, tapi untuk masalah chen, entah kenapa aku masih belum bisa menerima alasanmu melarangku dekat dengannya, dia anak yang baik. Maksudku, kau mungkin belum mengenalnya saja makanya kau tidak suka padanya, tapi kalau kau sudah tahu chen itu orang yang seperti apa, mungkin kau akan mulai menyukainya.”

“jadi kau mulai menyukainya?”

“huh? Ani, bukan begitu maksudku,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, kenapa kyungsoo bisa sampai di kesimpulan yang seperti itu?

Kyungsoo melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap kedepan, “apa lagi yang ingin kau katakan?” tanyanya.

Aku menyelipkan rambutku ke belakang telinga, mengulur waktu untuk berpikir, aku sedikit ragu untuk mengatakan apa yang tadi siang kudengar dari chen. Kalau aku mengatakan apa yang chen bilang tadi, itu sama saja aku menyatakan perasaanku pada kyungsoo. mengatakan padanya, kalau chen menyerah karena ia sadar siapa yang sebenarnya kusukai. Tapi bukankah setelah selama ini, kyungsoo sudah seharusnya tahu perasaanku? Aku sudah terlalu jelas menunjukkan padanya bahwa aku menyukainya kan? keterlaluan kalau di masih tak sadar.

Aku menatap kyungsoo. dia masih berdiam di posisinya, “ergh, aku… saat jam istirahat tadi aku.. Ng.. aku menemui chen dan bicara dengannya.” walau ragu, akhirnya aku tetap mengatakan padanya, aku memang tidak pernah bisa berbohong, apalagi pada laki-laki dingin ini.

“aku tahu.”

“huh?”

“aku melihatnya tadi.”

Aku menggigit bibirku dan mengetuk kepalaku sendiri, harusnya aku tahu hal ini. walaupun kyungsoo jarang ada di lapangan saat tak ada latihan, tapi di sekolah itu, dia bisa berada dimanapun sesukanya, dan seharusnya aku tak memilih tempat yang terbuka seperti itu.

“mian..hae.” aku mengangkat kepalaku, ingin melihatnya, aku penasaran ekspresi apa yang sedang di tunjukkannya, namun saat aku meneliti wajahnya, hanya ekspresi kosong yang kudapatkan, kyungsoo tetap terdiam di tempatnya. “ehm, kenapa kau begitu tidak menyukai chen padahal aku belum pernah melihatmu mengobrol dengannya sedikitpun.”

“aku hanya tidak suka.”

“wae? Ibuku bilang, kau tidak boleh membenci seseorang tanpa alasan yang jelas.”

“ck. Apa ada hal lain yang ingin kau katakan? Aku ingin kembali ke kamarku.”

Aku melipat kedua tanganku di depan dada, “aku masih penasaran dengan alasanmu membenci chen. Dia sopan. Dia juga anak yang baik. Dan dia ramah pada semua orang,” ocehku. Kulihat kyungsoo mendesahkan nafasnya dalam, jelas dia terlihat sangat tidak suka dengan apa yang baru saja kukatakan.

Aku memajukan tubuhku, “apa karna chen dekat denganku?” aku tak tahu setan apa yang merasukiku sampai aku berani berkata demikian, tapi entahlah, tiba-tiba kalimat tersebut keluar dengan sendirinya dari mulutku.

Ekspresi kosong kyungsoo mulai berubah, matanya tak lagi diam seperti tadi, kurasa perkataanku barusan sedikit memancingnya, aku mendekatkan wajahku lagi, dan juga memajukan tubuhku. “apa itu alasannya kau tidak suka pada chen?” tanyaku lagi.

Kyungsoo memalingkan wajahnya, dia berdecak pelan. “kalau tak ada hal penting lagi yang ingin kau katakan, sebaiknya aku kembali ke kamar.” Katanya. Aku menahan tangan kyungsoo, membuatnya menoleh. Dan seperti sihir, saat matanya yang dingin namun teduh itu menatapku, aku yang tadi sengaja menggodanya malah dibuat menahan nafas saat mata kami bertemu.

Melihatku diam, kyungsoo memanfaatkannya untuk segera berdiri dan beranjak dari sofa, saat nafasku kembali normal, pintu kamarnya sudah tertutup dan terkunci rapat. Aku mendesah pelan, aku masih tak mengerti, bagian diri sakura yang manakah yang tadi tiba-tiba saja keluar dan menjadi sangat aneh dengan berkata-kata seperti itu. entah keberanian darimana sehingga aku bisa berpikir untuk menggodanya seperti itu, yang malah berujung aku yang di buatnya terdiam padahal kyungsoo hanya menatapku. Aku mendesah lagi, aku terlalu lemah kalau di depannya, karena aku terlalu banyak menyukainya.

-0-

Author’s POV

“baekhyun oppa?” Tanya sakura dengan nada tak percaya,

“psst, pelankan suaramu. Aku juga tak menyangka dia akan memanggilku kemarin sore dan menyerahkan oleh-oleh darinya untukku.” Sembari memainkan rambutnya, eunyeol menerawang ke langit-langit kelas dengan senyuman yang sesekali tersungging di bibirnya.

“daeeebak. Kau bahkan mendapatkan oleh-oleh dari dua orang sekaligus. Lalu yang mana yang paling kau suka? Dari baekhyun oppa atau sehun?” sakura kembali bertanya, pagi-pagi sekali saat eunyeol masuk ke kelas tadi, dia memang langsung dengan semangat menceritakan hadiah yang didapatnya dari sehun dan baekhyun.

“aku suka dua-duanya. Tapi syal dari sehun entah kenapa terasa sangat manis saat aku melihatnya.“

Sakura menyipitkan matanya, “kau kan memang menyukai sehun, iya kan?”

“mwo?!” dengan sebelah alisnya yang terangkat, eunyeol menatap sakura. “cih, maldo andwe. Aku hanya menyukai hadiahnya, bukan si pemberinya.”

Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku ke toilet sebentar ya.” katanya seraya berlalu keluar kelas.

Sakura merapikan rambutnya dan juga dasinya di depan kaca. Setelah dirasanya rapi, sakura segera beranjak keluar toilet. Saat ia baru beberapa langkah dari toilet, tubuh kecilnya langsung oleng tertubruk seseorang. “ah.” Pekik sakura kesakitan.

“mianhae.” Ujar seseorang sembari memegangi lengan sakura agar gadis itu tidak jatuh.

Sakura mengangkat kepalanya, melihat siapa orang yang menabraknya, dan saat matanya bertemu dengan gadis di hadapannya, sakura memekik lagi, kaget. “kau?”

Yunju melepas pegangan tangannya saat mendengar sakura memekik untuk yang kedua kalinya, dia tersenyum salah tingkah pada gadis di hadapannya yang terasa sedikit familiar saat yunju melihat wajahnya tadi.

“kita pernah bertemu sebelumnya ya?” Tanya sakura kemudian.

Yunju memiringkan kepalanya, berpikir. ia memang merasa seperti pernah melihat gadis itu di suatu tempat. “erg, kurasa iya, tapi aku lupa dimana.”

Dengan mata yang disipitkan sakura berpikir dengan keras, “Ah! Kau bukannya yang kutabrak di SMA Chungju waktu itu?” kata sakura kemudian.

Yunju tersenyum, dia juga seperti sudah mengingat sesuatu, yunju mengangguk, “ne, aku ingat. Dan kita bertemu lagi dengan keadaan yang sama.”

“tapi, kenapa kau ada disini?”

“aku pindah kesini. Kemarin. namaku yunju, Seo Yunju.” Yunju mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh sakura.

“sakura. selamat datang di sekolah ini, ah aku kembali ke kelas duluan ya.” setelah menundukkan kepalanya sedikit, sakura segera berlalu kembali ke kelasnya.

Yunju melihat kepergian sakura sembari tersenyum, “dia selalu manis setiap kali aku bertemu dengannya.” Pujinya.

-0-

Suho memakan sandwich makan siangnya dengan tenang di bangku taman, dia sedang tak bersama yang lain. Teman-temannya memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Kemarin saat main ke rumahnya, sehun sempat bertanya padanya tentang yunju yang pindah ke kelasnya, namun suho hanya mampu menjelaskan seadanya, karena sampai saat ini dia belum sempat mengobrol dengan gadis itu.

“suho oppa?” ucap seseorang dari belakang, suho menoleh dan mendapati yunju tengah berjalan pelan ke arahnya.

Setelah yunju mengambil tempat di sebelahnya, suho melemparkan senyum singkat. “apa kabar oppa?”

“hm, baik.” Jawab suho pelan.

“aku tak menyangka ternyata bisa sekelas denganmu,”

Suho hanya mengangguk pelan, “ehm, bolehkah aku bertanya sesuatu? kenapa kau tiba-tiba pindah yunju-ya?”

“ayahku dipindahkan oleh kantornya ke daerah sekitar sini, dan jarak ke sekolahku yang lama terlalu jauh jadi lebih baik aku pindah.”

Suho menatap yunju, dia percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu, namun jauh dalam lubuk hatinya, suho merasa masih ada hal yang belum di katakan yunju, suho yakin bukan hanya itu alasannya, yunju yang tiba-tiba saja kembali terasa begitu ganjil karena hampir selama tiga tahun dia hilang tanpa kabar.

“oppa,” ujar yunju kemudian. Dia memainkan rok seragamnya. “kau mau membantuku?”

“katakan saja, kalau aku bisa, aku akan membantumu.”

“bantu aku mendekati D.O lagi oppa.”

Suho menelan ludahnya, “yunju-ya, apa itu alasan sebenarnya kenapa kau datang ke sekolah ini?”

Yunju menatap suho, dan dari tatapan itu, dengan jelas suho sudah mendapatkan segala jawaban yang dibutuhkannya, mata yunju mengatakan segalanya. “aku mencintainya oppa, dan aku baru menyadarinya setelah segalanya terlambat. Aku ingin kembali seperti dulu, aku ingin minta maaf padanya, bisakah kau membantuku?”

Suho mendesahkan nafasnya, dia meraih bahu yunju dan mengelusnya pelan. “aku mau saja membantumu, tapi kau mengenal D.O sama baiknya dengan aku mengenalnya, dia bukan orang yang mudah. Mianhae.”

Dengan tatapan mata yang sendu, yunju menatap suho dalam, dia sungguh sangat berharap banyak pada laki-laki di depannya, sejak pertama kali dia mengenal suho, yunju selalu dapat mengandalkannya, namun sekarang semua terasa berubah tidak seperti dulu lagi. semua terasa baru lagi bagi yunju.

-0-

TBC

welll, im back… sorry for very late post, aku sibuk banget, ini aja belum sempet liburan -,- ya udah, aku juga mau minta maaf karna chapter ini rada aneh, karna jujur aku lagi ga mood banget nulis, dan idenya juga entah kenapa ga dtg2, maaf yaa,, aku ga bisa janjiin chap selanjutnya cepet, tapi kalo ada ide aku akan usahain nulis.. 🙂

Iklan

Penulis:

just please don't talk shit about my bae

266 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 11)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s