I…. I confused

Gambar

Tittle                        : I…. I confused

Author         : Khaerisma

Length         : Oneshoot

Genre          : romance, school life, sad, confused

Rating          : General

Cast             :

–        Lee Junghee (OC)

–        Do Kyungsoo a.k.a D.O

–        Oh Sehun a.k.a  Sehun

Other Cast  : find it by your self

 

Please to comen after/before reading this fanfiction

 

 

-Happy Reading-

 

Saat ini, aku duduk dikelas X di Woosung High School, tepatnya aku berada dikelas X A. Aku duduk di bangku nomer dua dari depan dekat dengan meja guru. Semenjak ia (D.O) pindah bangku di depan bangkuku karena guruku yang memintanya, waktu itu aku masih belum mengenalnya. Tetapi, setelah begitu lama dia pindah didepan bangkuku dan mulai akrab dengannya, tiba-tiba, detak jantungku ini berdetak kencang layaknya melihat sesuatu yang mengagetkan saat aku melihat tatapannya, ya, kita jarang bertatap muka. Aku tidak tahu apa maksudnya ini, karena semenjak dulu, aku belum pernah merasakannya. Apakah aku mempunyai suatu perasaan terhadap dia? Apakah aku menyukainya? Ngefans padanya? Atau malah.. aku membencinya? hmm, yang penting, aku tidak tahu.

 

Saat aku bertanya apa maksud dari detak jantungku yang tak karuan ini pada teman sebangkuku, dia berkata, “itulah yang disebut jatuh cinta, JungHee. Dan itu berasal dari lubuk hatimu yang paling dalam”. Aku tidak percaya. Akhirnya aku menemukan arti dari cinta didalam diriku.

 

Semenjak itu, aku terus mempertahankan dia sebagai belahan jiwaku, eh, belahan jiwa atau belahan hati? Sudahlah, jangan dipikirkan. Setiap hari, aku meliriknya. Dia jarang tersenyum, berkata pun jarang. Tetapi walaupun begitu, dia adalah murid terpintar dikelas X A ini.

 

Aku tahu dia lebih muda dariku, ya walaupun itu bukan termasuk beberapa tipe orang yang aku sukai, aku tetap menyukainya. Apa kalian bertanya tipe idealku? Baiklah, akan aku sebutkan beberapa saja. Pertama, yang paling utama adalah terserah dengan kata hatiku. Yang kedua, beragama sama denganku, tak usah beritahu agamaku. Yang ketiga, masalah umur, yaitu dia lebih tua dariku, ya paling tidak aku inginnya empat tahunan apa berapa gitu yang penting lebih tua. Yang keempat, …. ya yang penting masih terlalu banyak untuk disebutkan.

 

Suatu hari, aku mengajak teman sebangkuku meminta nomor teleponnya. Ya, teman sebangkuku ini adalah tempatku membuang sampah-sampah didalam diriku. Sampah-sampah itu adalah perasaanku yang kucurahkan padanya. Aku dan temanku melihat sekeliling terlebih dahulu. Barang kali ada yang melihat tindakan kami ini dan berhasil membuatku malu di hadapan teman-teman kelas. Saat sudah tepat waktunya, temanku berkata padanya, “hey D.O. Junghee ingin meminta nomermu!” beritahu temanku (Minjung) pada D.O dengan cara menyenggol-nyenggol bangkunya agar bergoyang.

 

“Eh, kenapa aku?” Tanyaku pada Minjung.

 

“Kau kan, yang ingin meminta nomornya?” kata Minjung berbicara padaku didepannya (D.O).

 

“eh, iya yah hehe. Cepatlah, aku minta nomormu. Kamu hafal-kan?” kataku menoleh pada D.O.

 

“tunggu dulu. Untuk apa kalian meminta nomorku?” katanya curiga pada kita berdua.

 

“untuk bertanya-tanya.” Jawabku.

 

“baiklah. Ini, kosong delapan ….” kata D.O belum menyelesaikan kata-katanya karena diputus oleh Junghee.

 

“Tunggu dulu, aku tidak bisa mendengar. Ditulis saja. Minjung, tolong ambilkan kertas untukku.” Kataku memutus perkataan D.O lalu memerintahkan Minjung untuk mengambil kertas.

 

“Eh, kertas? Dimana kertas? Kertas kertas kertas.” Kata Minjung mencari-cari kertas dan aku membantunya mencarikan kertas.

 

“Sudahlah, biar memakai kertasku saja.” Kata D.O. dengan sigap, aku dan Minjung menghentikan aktifitas mencari kertas tersebut.

 

Beberapa detik kemudian, D.O memberikannya padaku dengan selembar kertas berisikan coretan tinta yang bertuliskan nomor teleponnya.

 

“Gomawo…” kataku saat menerima selembar kertas tersebut.

 

Saat pulang dari sekolah, aku segera mengambil handphone ku dari laci meja belajarku. Segeralah aku memencet tombol keyboard untuk ku susun menjadi satu kalimat dahulu, ‘ini aku, JungHee.’ Begitulah tulisan yang kukirim untuknya.

 

‘Baik. Akan aku menyimpannya.’ Katanya lewat pesan. Menerima tanggapan itu, hatiku merasa amat senang. Amat amat senang, yang penting lebih dari senang.

 

Aku mengirim kembali kata-kataku dengan kalimat yang berbeda. Kalimat ini lebih dari satu kalimat. ‘Apa perasaanmu tentangku? 0% tidak kenal, 10% musuh berat, 20% musuh, 30% hanya teman, 40% teman pena, 50% teman sejati, 60% sahabat saja 70% sahabat pena, 80% sahabat sejati, 90% i like u, 100% i love u. Pilihlah berdasarkan kata hatimu untuk ku.’ Itulah yang kukirim. Kata-kata itu bukan aku yang membuatnya, melainkan dari orang lain yang temanku kirimkan padaku dan lalu kukirimkan padanya.

 

Aku menunggu balasan darinya cukup lama. Bukan hanya sekedar cukup, tapi sangat lama. Hingga dia akhirnya membalas, ‘untuk apa aku memilih? Tidak ada hubungannya denganku.’ Katanya. Respon ini membuatku jengkel terhadapnya. Aku membalas, ‘ini penting buatku.’. Tapi, apa yang kuharapkan darinya? Dia hanya membalas, ‘tidak penting.’ Begitulah.

 

Hingga akhirnya, aku dan dia menjadi layaknya orang bermusuhan. Hatiku tercabik-cabik ingin sekali menangis tetapi tidak bisa karenanya. Sebagai ungkapan kesalku, Ku ukir tinta merah dikertas kosong yang bergambarkan hati. Gambar ini ku umpamakan adalah hatiku. Aku mengambil pensil merahku. Yang kugunakan untuk mewarnai hati ini penuh dengan coretan pensil merah. Lalu… aku menghapusnya setengah hati. Ini ku simbolkan dengan sedihnya hatiku. Dan kulambangkan, ‘kini hanya ada tempat setengah hati untuknya. Apakah bisa menjadi penuh? Atau malah habis coretan pensil merahnya?’ Aku tidak tahu. Ini tergantung masa depan.

 

Hari berikutnya, disekolah. Aku sudah terbiasa diam ditempat dudukku. Aku juga tidak mengobrol dengannya. Aku tidak peduli. Kupandangi ukiran hati yang ada dikertas yang kubuat kemarin. Aku memandanginya terus menerus menyimpan sebuah harapan agar hati ini bisa kembali utuh. Akhirnya aku memutuskan. ‘Nanti, akan kucoba mengirimnya pesan itu lagi. Jika tanggapannya masih sama, maka aku terpaksa menghapus coretan pensil merah ini semua yang ada di ukiran hati ini.’

 

Saat ini, aku telah sampai dirumah dan langsung memegang handphoneku lalu mengiriminya pesan itu lagi sesuai yang telah aku rencanakan tadi selama disekolah.

 

Aku menunggu, terus menunggu balasan darinya. Kali ini, lebih lama dari kemarin, bahkan lama sekali. Karena saking lamanya aku menunggu balasan darinya, aku jadi tertidur.

 

Tanpa kusadari, waktu telah berlalu begitu cepatnya. Aku menyalakan handphone ku. Ternyata ada pesan darinya. Tak diduga, balasannya sangat-sangatlah berbeda dari balasan kemarin.

 

‘I love u. Kalau kamu?’ Begitu mengejutkan dia membalasnya dengan kalimat itu. Bahagianya diriku. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku lalu membalas, ‘aku juga.’ Cepat tapi ragu aku menuliskan kalimat itu untuknya.

 

‘Apakah itu benar-benar jawaban yang tulus dari lubuk hatimu?’ Tanyanya.

 

‘Ne.’ Kataku.

 

‘Kalau begitu, Bisakah kau merahasiakannya dari siapapun?’ Katanya

 

‘Ne. Tapi… apakah kau menjadi namjachinguku?’ Tanyaku lewat pesan.

 

‘Tidak. Aku tidak mau. Bukannya aku tidak suka. Tetapi belum saatnya kita menjadi sepasang kekasih. Aku ingin fokus ke sekolah dulu sebelumnya.’ Katanya menolak tawaranku.

 

‘Oh ne, baiklah.’ Kataku agak kecewa.

 

Mulai dari saat itu, kami sering sekali mengobrol lewat handphone. Kadang juga, saat kami berpamitan menghentikan aktivitas mengobrolnya, kami sering menuliskan ‘bye chagi’. Entahlah, padahal kami tidak berpacaran tapi sudah memiliki panggilan yang amat-amat mesra seperti ini. Ya mungkin tidak mesra sih, tapi ini sama saja kita telah pacaran menurut penalaranku, tapi tidak jika menurut penalarannya.

 

Lama kelamaan, aku merasa tidak enak dengan panggilan ‘chagi’ itu. Aku berkata padanya, ‘bisakah kita berhenti saling memanggil chagi? Kita kan tidak berpacaran. Lagi pula, entahlah besuk. Masa depan tidak dapat dipastikan. Bisa saja kita … sudahlah, jangan dipikirkan.’ Kataku lewat pesan.

 

‘Oh, ne.’ katanya. Jadi, setiap kali kami berpamitan berhenti mengobrol, diakhir kata yang tadinya chagi, kini menjadi bye titik titik (…) begitulah.

 

Hubungan kami selama ini normal-normal saja hingga pada akhirnya aku menyukai orang lain ditempat lain pada saat aku kelas XI. Lebih na’asnya, kenapa juga aku bercerita pada D.O tentang orang yang saat ini kusukai. Ya, saat ini aku membagi hatiku untuk 2 orang. Ya walaupun aku tahu saat ini pasti dia mempunyai yeojachingu, aku tetap menyukainya.

 

Ya, karena aku ini bisa dengan mudahnya menyukai seseorang hanya dengan keakraban diantara kami. Walaupun begitu, aku tetap bisa menahan diri. Itu karena aku saat ini tidak ada namja yang akrab denganku kecuali dua orang namja tersebut. Tapi entah, pemikiran dan keinginanku itu kadang bertolak belakang. aku ingin sekali akrab dengan namja-namja yang ada disekelilingku, tapi pemikiranku berbeda aku berfikir aku tidak ingin akrab dengan para namja karena aku takut suatu hari aku akan menyukainya.

 

Karena kupikir jika aku menyukai seseorang yang baru kusukai itu ku pertahankan, aku merasa kasihan dengan D.O saat ini yang bersedia mau menerima segala perkataanku. Berat hati aku mengirim pesan padanya, ‘kau tahu? aku sudah tidak menyukainya lagi. Aku hanyalah menyukaimu seorang.’

 

‘benarkah dengan apa yang kau katakan itu? Bagaimana dengannya?’ tanyanya.

 

‘iya. Aku sudah tidak memikirkannya. Buat apa aku memikirkannya. Toh, dia juga paasti sudah punya pacar.’ Jawabku

 

‘kenapa? Bukankah dulu kau menyukainya?’ tanyanya masih belum bisa menerima kata-kataku.

 

‘dulu. Tapi sekarang tidak. Apa kau masih belum percaya?’ kataku.

 

‘aku jadi senang. Tapi… Gomawo JungHee.🙂’ begitulah balasannya. Aku tahu, dia menaruh harapan besar padaku. Namun, sayangnya aku tidak bisa menerima harapan itu. Mustahil bagiku untuk menerimanya. Karena apa? Karena aku sedang menaruh harapan besarku dengan menunggu namja itu suatu saat nanti.

 

Satu tahun telah berlalu dengan keadaan kami yang kembali normal mengobrol lewat handphone. Ya, jika kami mengobrol secara langsung, aku merasa malu karena jarang sekali ada orang yang mengobrol dengannya. Ya, kan dia itu pendiam namun pintar. Sebut saja diam-diam menghanyutkan.

 

Saat memulai kelas yang baru, yaitu kelas XII. Kini, kami berbeda kelas. Dia dikelas XII A, sedangkan aku XII B. dan kami pun mulai jarang sekali mengobrol. Entahlah, mulai dari sini, aku akan mulai melupakannya yang didukung dengan perbedaan kelas kami. Ini memudahkanku, karena jika kami berbeda kelas dan aku ingin melupakannya otomatis kami juga jarang bertemu. Namun, entah kenapa aku jadi merasa ingin melihatnya sesekali disekolah, aku kangen dengannya karena, sudah lama sekali aku tidak melihat wajahnya.

 

Saat itu pun, aku juga mulai memberanikan diri meminta nomor namja yang aku sukai itu. Bukan bermaksud ingin mengobrol, namun aku hanya berniat menanyakan beberapa rangkuman yang tidak aku mengerti di klub. Ya, namja ini satu klub denganku yaitu klub teknologi, sedangkan D.O berbeda klub, dia memilih klub majalah.

 

Mulai dari meminta nomornya lewat dunia  online saat kami berdua kebetulan online.

 

‘hi, kenapa kamu tidak ke ruang klub tadi?’ tanyaku lewat obrolan.

 

‘aku lelah. Aku ingin istirahat dulu dirumah.’ Katanya.

 

‘aku ingin bertanya padamu mengenai topik pembelajaran yang belum aku mengerti di klub. Apa boleh?’ tanyaku

 

‘boleh saja. Mau tanya apa?’ katanya

 

‘begini, mungkin setiap saat aku membutuhkanmu. Aku tidak mengerti semuanya. Masa kita mengobrol hanya saat kita online. Bolehkah aku meminta nomormu untuk berjaga-jaga?’ kataku membuat alasan.

 

‘baiklah. 089687xxxxxx’

 

‘wah, gomawo Hunnie,’ kataku

 

Semenjak itu pula, aku selalu bertanya tentang hal-hal yang tak kumengerti dengan balasan yang membuat aku menjadi mengerti. Setelah menanyakan hal yang tak kumengerti, kadang kami suka bercanda dan menjengkelkan.

 

Namja itu… dia selalu mengatakan aku manis saat pertemuan rutin di klub. Mengajaknya bicara, itu membuatku merasa senang. Lama kelamaan, dia menawariku untuk menjadi yeojachingunya. Karena aku selalu menganggapnya hanyalah bercanda, dia selalu gagal menawariku. Imanku kan kuat, jadi, tidak mudah meluluhkan hatiku walaupun sebenarnya aku juga menyukainya, aku tetap saja tidak percaya pada kenyataan ini kalau dia juga menyukaiku. Begini ceritanya,

 

‘kamu mau tidak jadi yeojachinguku?’ tawarnya

 

‘memangnya kenapa? Bukankah kamu susah punya?’ kataku.

 

‘tidak. Saat ini aku tidak punya.’ Katanya

 

‘lalu, kenapa kau menawariku? Kau bisa mencari yeoja lain selain aku.’ Kataku

 

‘karena aku suka padamu.’ Katanya.

 

‘kenapa kau suka padaku?’ tanyaku.

 

‘aish, kau banyak pertanyaan.’ Katanya sebel dengan segala pertanyaanku.

 

‘biarin.’ Kataku.

 

Ya, sebenarnya aku ingin sekali menerimanya. Tapi, aku ingin sekali mengujinya, ya walaupun ada rasa bercandanya sedikit sih.

 

Suatu hari, aku mendengar kabar darinya, ia ingin pindah sekolah. Otomatis, dia keluar dari klub teknologi ini. Karena itu, aku meminta sebuah kenangan darinya dengan syarat jangan boneka ataupun baju. Diapun bersedia membelikannya padaku. Dan kami pun membuat suatu pertemuan untuk memberikan kenangan padaku. Keputusannya pun telah ditentukan.

 

Aku menunggu, terus menunggu dipertigaan jalan raya yang telah ditentukan sesuai keputusan. Ya, kami memutuskan memberikan kenangan itu disini, dipertigaan jalan raya ini. Beberapa menit berlalu, akhirnya dia muncul. Dan memberikan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado tersebut dan langsung pergi begitu saja. Tubuhku gemetar  dua hari dua malam karenanya.

 

Saat kubuka kenangan itu yang terbungkus kertas kado, ternyata dia memberiku liontin angsa yang dapat bernyanyi romantis. Kupajang di kamarku. Setiap kali aku melihat liontin itu, aku teringat padanya.

 

‘Gomawo, Hunnie.’ Kataku berterima kasih.

 

‘Sama-sama chagi.’ Katanya membalas pesanku. Apa? Kenapa dia memanggilku chagi? Padahal aku belum menjadi yeojachingunya. Aku membalas, ‘memangnya kau namjachinguku? Bukan…’ kataku mentah-mentah.

 

‘Ya sudah. Aku memang jelek. tidak ada yang peduli sama aku.’ Katanya. Ini membuat diriku dengan sendirinya menolak pendapatnya. ‘Hunnie itu tidak jelek.’ Kataku

 

‘Jelek. Nyatanya tidak ada yang mau menjadi yeojachinguku. Apa kau mau?’ Katanya terus saja menanyaiku.

 

‘Enggak. Hunnie itu tidak jelek. Jujur saja, aku juga menyukaimu. Tapi karena alasan keluarga, aku menolak.’ Kataku menjawab jujur karena aku kasihan padanya yang sepertinya depresi.

 

‘Alasan keluarga? Apa kamu tidak diperbolehkan mempunyai namjachingu? Kalau begitu jangan bicarakan pada keluargamu. Mau ya?’ Katanya lagi.

 

‘Selain itu, bukankah kamu juga sudah mempunyai yeojachingu?’ Tanyaku.

 

‘Tidak. Aku tidak punya. Kamu mau kan jadi yeojachinguku?’ Katanya lagi-lagi.

 

‘Hmm. Baiklah Hunnie. Aku mau.’ Kataku menyetujui.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah tiga bulan lamanya kami berpacaran, dengan diriku yang masih kaku setiap kali aku jalan-jalan bersamanya. Dan kini aku telah berhasil melupakan D.O.

 

Aku ingin ini menjadi pacar pertama dan terakhirku. Ya, itu sama saja aku telah menetapkan calon suamiku saat ini, yaitu Sehun. Tapi, itu hanyalah harapanku. This is just my hope, WARNING! JUST MY HOPE. Dan ini dulu aku juga berharap saat aku bersama D.O, tapi ternyata aku memilih namja lain.

 

Aku ingin sekali memberitahukan pada D.O bahwa aku telah mempunyai namjachingu. Aku memberitahukan ini supaya dia tidak menaruh harapan lagi denganku dengan konsekuensinya dia akan sakit hati Dengan mantapnya aku memberinya pesan.

 

‘D.O, aku ingin ngobrol denganmu walaupun hanya satu hari saja.’ Kataku. Walaupun hanya satu hari, itu karena setiap aku mengirim pesan padanya, dia selalu tidak membalasnya, itu karena dia malas mengisi pulsanya.

 

‘Lebih juga tidak apa. Ada apa?’ Tanyanya. Kami pun kembali mengobrol seperti dulu lagi tetapi aku tidak jadi memberitahukannya karena konsekuensinya itu. Aku mencoba menuliskan apa maksud dari pesanku sebelumnya dengan menulis ‘sebenarnya, aku sudah memiliki namjachingu sekarang. Maafkan aku D.O, aku tidak bisa bersamamu.’ Tapi, karena aku takut akan terjadi sesuatu padanya, seperti sedih, kesal, kecewa, atau apalah. Aku tidak ingin itu terjadi, akhirnya aku hanya menuliskan, ‘maafkan aku. Aku memiliki banyak sekali salah padamu, D.O’.

 

‘kau tidak punya salah sedikitpun padaku, Junghee.’ Katanya.

 

‘aku pasti punya salah denganmu. Pasti itu walaupun hanya sedikit saja.’ Kataku.

 

‘baiklah, aku maafkan. Aku juga minta maaf padamu kalau aku berbuat salah padamu.’ Katanya.

 

‘kalau itu kau tidak punya salah sedikitpun padaku.’ Kataku.

.

.

.

.

.

waktu kami mengakhiri obrolan kami hari ini, entah kenapa dia masih saja menyisipkan kata-kata ‘….my …..’ aku tahu maksudnya. Itu artinya dia masih menaruh harapan padaku. Disamping itu, kini aku bingung dan merasa telah menduakan mereka (D.O dan Hunnie, atau sebut saja Hunnie adalah Sehun).

 

Aku ingin membicarakan ini pada Sehun tentang masalah ini. Tapi, aku takutnya dia merasa kesal denganku. Ya, dia itu mudah sekali kubuat kesal dan marah, hehe maklum, aku ini orang yang mempunyai daya dong rendah atau singkatnya DDR.

 

Saat ini pun hubungan kami baik-baik saja, hanya ada satu masalah, yaitu aku (JungHee) sedang dalam masa-masa dimana orang tua ku curiga denganku kalau aku sudah memiliki namjachingu. Ya, aku tahu, pasti suatu saat semuanya akan mengetahui aku berpacaran dengannya.

 

Tapi, bagaimana aku mengatasi masalah ini? Jika aku berkata jujur pada D.O bahwa aku sudah mempunyai namjachingu dan aku tidak mau berpisah dengan namjachinguku, aku takut perasaannya akan terluka karena aku. Tetapi, jika aku memendam dalam-dalam kenyataan ini, aku akan terus merasa bersalah padanya. Aku tidak mau membuat dia terluka, tetapi jika membuatnya tidak terluka, apakah aku harus menduakan mereka? Ya tuhan… berilah aku saran yang tepat untukku… aku tidak ingin menjadi orang yang jahat ataupun pendua… ya tuhan… berilah jalan keluar yang terbaik untukku…

.

.

.

.

.

.

.

END

 

gimana? Aneh ya? Ga bagus? Jelek? Ga nyambung? Mian… (T-T)

Tolong beri saran, tanggapan, kritik, dan lain-lain mengenai ff ku ini. Karena ffku ini menyangkut curhatan dari someone. Cie cie… sssstttt, diam aja ya. hehe

11 thoughts on “I…. I confused

  1. Thor, lu yg buat ni cerita lu jg yg harus nyelesain. Mana ada endingnya reader yg nyelesain gmn maunya readers. Readers itu tugasnya baca sm comment, bukan nentuin akhir cerita. Aneh deh

  2. akhirnya gantung thor~
    menurutku, Junghee itu hrs bertanya pada lubuk hatinya paling dalam (?).#emangbisa #bisakok
    kalo.Junghee lebih suka sma Sehun ya pilih aja Sehun terus sudahin hubungan gk jelas sama D.O begitu juga sebaliknya~^^

  3. Menurut aku ini sedikit membingungkan ..
    Emang itu pilihan yg sulitt.. Tapi yg mana yg selalu dominan dan yg kamu pikirkan,,
    Itulah jawabannya..
    Fighting!!

  4. bagus kok thor🙂 walopun aku bingung itu akhirnya kok gantung gitu -_- jadi ngomennya juga aku buat gantung sbgai balasannya(?) wkwkwk fighting thorr

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s