You And Him – part 3 [end]

PhotoGrid_1388230989327

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Park Minri
  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun

Rating : PG-15

Length : chapter

Genre : romance, friendship, life

Note : HAAAII!! Ada yang nunggu saya? –EH maksudnya ff saya U.U/ kepedean-_-. Maaf banget ya publishnya rada lama soalnya bikin ending itu susah *sigh* dan saya baru saja melewati masa-masanya ujian (maklum anak kuliahan *plakk*) dengan segala kekurangan, saya mohon maaf kalau ada typo dan semacamnya. Kritik dan saran diterima dengan tangan terbuka. Terimakasih buat yang mau baca dan komen dari awal sampai sekarang >o< ganyangka respon positifnya sebanyak itu (jadi takut bakal ngecewain:/ … Okedeh langsung aja, jangan lupa komennya ya. Sayang kalian semuaaaa *o*

ENJOY~!!

Link : part 1 | part 2

You And Him

Baekhyun sedang merapikan tata letak buku bacaannya. Baekhyun suka membaca. Ia sangat suka cerita fantasi. Sama seperti Minri. Meskipun fantasi terdengar tidak masuk akal, tapi Baekhyun percaya akan keajaiban.

Sebuah buku terjatuh ke lantai. Buku favorit Minri, ‘Miracle in December’. Baekhyun memungut buku itu. Ia membuka halaman secara acak. Ada beberapa halaman yang diberi tanda lipatan. Baekhyun cukup penasaran mengapa gadis itu memberi tanda dalam bukunya.

Baris demi baris tak dilewatkan Baekhyun pada halaman itu. Bibirnya melengkung ke atas. Ada sebuah kalimat yang cukup berkesan ‘Aku tidak akan meninggalkanmu meskipun aku sudah tidak bisa bersamamu’. Kalimat yang cukup ambigu untuk dipahami. Tapi Baekhyun mengartikan bahwa hati akan tetap bersama meski raga tidak punya daya.

Dering ponsel Baekhyun berbunyi, membuat Baekhyun menutup buku itu dengan buru-buru. Ia melangkah cepat menuju ruang tengah dan meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja.

Yeoboseyo?”

Percakapan tampaknya sangat serius, hingga air muka Baekyun berubah mengeras. Tangan kirinya tergenggam kuat. Ia harap yang didengarnya hanyalah lelucon. Atau mungkin ia sedang bermimpi. Dan setelah ia bangun semuanya akan baik-baik saja. Tapi suara seorang wanita dari seberang menyadarkannya.

“Tuan, segeralah datang, kami butuh persetujuan  dari orang terdekat gadis ini, agar kami bisa melakukan operasi.”

Baekhyun menelan ludahnya keras-keras. Sesuatu yang buruk telah terjadi.

Seseorang harus tahu hal ini. Sehun.

***

Baekhyun dan Sehun berada di ruang dokter yang akan mengoperasi Minri. Dokter itu menyerahkan selembar kertas untuk segera di tanda tangani. Baekhyun mengambil kertas itu dan menyerahkan pada Sehun beserta pulpennya.

“Lakukanlah, aku akan menghubungi ayah dan ibunya nanti.”

Baekhyun tampak kalut. Dan Sehun bisa membaca raut khawatir dari wajah Baekhyun.

Sehun meletakkan kertas itu di atas meja. Ia mendekatkan ujung pulpen pada kertas. Tapi tidak jadi. Ia justru menyerahkan kembali kertas itu pada Baekhyun.

“Kau yang lebih berhak, Baekhyun.”

“Oh Sehun, apa maksudmu?”

“Aku akan menjelaskan padamu nanti, lakukanlah.”

Baekhyun tidak punya cukup banyak waktu untuk meminta penjelasan sekarang. Jadi ia mengambil kertas itu dari Sehun dan segera menandatanginya. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan Minri sekarang.

Minri harus segera diselamatkan.

***

Sehun dan Baekhyun menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi. Baekhyun menggenggam kedua tangannya dan menjadikannya tumpuan di kepalanya. Tidakkah semuanya terjadi begitu cepat? Minri dan Baekhyun baru saja berbaikan. Dan Baekhyun sudah berjanji pada dirinya untuk menjaga gadis itu lebih baik lagi.

Jantung Baekhyun berpacu lebih cepat. Kecemasan berlebih membuat kondisi tubuhnya agak memburuk. Dan jangan tanya wajah kacaunya. Ia bahkan tidak berani melihat ke arah cermin sekarang.

Baekhyun ingat terakhir kali gadis itu meninggalkan apartemen, karena ia ingin menemui Sehun. Baekhyun sungguh penasaran dengan kronologi kecelakaan gadis itu. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Minri mengalami kejadian mengerikan seperti ini?

“Sehun-ssi,” panggil Baekhyun. Sehun menoleh. Sehun mengerti sepertinya Baekhyun ingin mengajaknya bicara, maka dari itu Sehun berpindah duduk di samping Baekhyun.

“Ada apa Baekhyun-ssi?”

“Ini tentang Minri.” Baekhyun memberi jeda. “Hari ini, sebelum kecelakaan terjadi, apa kau bertemu dengan Minri?”

“Sebenarnya… aku akan bertemu dengannya, kalau saja aku tidak punya urusan mendadak.”

“Jadi kau belum bertemu dengannya??”

Baekhyun memijat kepalanya, mendadak syaraf ditubuhnya terasa tegang.

“Apa kau tahu? Dia mempercepat sarapan paginya karena ingin segera bertemu denganmu? Dan dia membawa ini bersamanya.”

Baekhyun mengeluarkan kotak cincin yang diserahkan salah satu suster yang menangani Minri. Suster itu bilang, kotak cincin itu berada dalam genggamannya saat gadis itu tidak sadarkan diri. Ponselnya juga berada di tangan Baekhyun sekarang.

Sehun menyisir rambutnya dengan jari-jari salah satu telapak tangannya. Wajahnya tampak semakin sedih. Dan juga tertekan. Sehun mengambil kotak itu dari tangan Baekhyun. Ia membukanya, dan benda berkilau itu masih tersimpan rapi di dalam sana.

Ia bahkan tidak yakin gadis itu pernah membukanya.

“Jadi dia ingin sekali bertemu denganku karena ingin membicarakan masalah ini?” Sehun mengajukan pertanyaan entah pada siapa. Nada bicaranya terdengar sangat menyesal.

Baekhyun mestinya tidak tahu dengan masalah pribadi mereka berdua. Kecuali gadis itu sudah menceritakan semuanya pada Baekhyun. Entahlah.

“Ya, tapi kau tidak menemuinya,” sahut Baekhyun. Tampaknya sedikit marah. Jika Sehun bertemu Minri apakah semuanya akan berbeda? Apakah Minri akan baik-baik saja?

Baekhyun jelas tidak tahu apa yang akan dibicarakan Minri dengan Sehun tentang cincin itu. Yang pasti hanya ada dua kemungkinan,pertama, gadis itu akan mengemballikan cincin itu dan menolak Sehun. Atau mungkin… menerimanya?

Sehun merasa bersalah atas masalah ini. Apalagi perkataan Baekhyun barusan seperti memojokkannya, menghakiminya. Kalau saja Sehun menemui Minri apakah hal ini tidak akan terjadi?

“Ini semua salahku,” lirih Sehun.

Baekhyun menatap Sehun dengan ekor matanya. Ia menatap tajam seolah-olah Sehun adalah pengemudi yang telah menabrak Minri.

“BENAR! Ini semua salahmu Oh Sehun!!”

Baekhyun kehilangan kontrol. Ia  bahkan lupa bahwa sedang berada di rumah sakit dan di depan ruang operasi. Ia menarik ujung kerah kemeja Sehun. Matanya bekilat marah. Dan napasnya tampak memburu.

Sehun tentu saja sangat terkejut. Ia tidak pernah menerima perlakuan seperti ini dari Baekhyun. Ia tahu Baekhyun pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Minri sekarang hingga ia meluapkan emosinya pada Sehun. Tapi Baekhyun bukan satu-satunya orang yang mengkhawatirkan gadis itu. Baekhyun mestinya tahu.

“Kau harusnya menemui Minri! Kau harusnya…”

Baekhyun melepaskan cengkramannya pada kemeja Sehun. Sekarang ia menunduk dengan bahu yang sedikit bergetar. Baekhyun benar-benar menyayangi gadis itu. Bukan, Sehun yakin Baekhyun tidak hanya menyayangi gadis itu, tapi ia juga mencintainya, dengan seluruh hidup yang ia punya.

Lihat, betapa tertekannya ia saat Minri terluka. Sebenarnya Sehun juga sangat mengkhawatirkan Minri. Tapi entah mengapa rasa sayang Baekhyun sepertinya jauh lebih besar.

“Baekhyun…” Sehun memegang salah satu bahu Baekhyun.

“Maafkan aku, Sehun. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu.”

“Tidak ada seorangpun yang menginginkan semua ini terjadi. Tidak seorangpun. Tapi takdir menginginkannya. Dan Maha Kuasa. Sekarang kita berdoa saja semoga Minri baik-baik saja.”

“Kau benar, terimakasih Sehun, terimakasih sudah menjaga Minri dengan baik. Tidak salah kalau Minri menjadikanmu kekasihnya.”

Apa kau tahu Baekhyun, Minri lebih memilihmu daripada aku?

“Kerabat Nona Park Minri?”

Seorang dokter bersuara, membuat mereka berdua menoleh. Beberapa orang keluar dari ruangan itu. Sementara dokter dan dua orang asistennya bertahan di depan pintu. Sehun dan Baekhyun menghampiri dokter itu.

“Kami kerabatnya dokter, keluarganya berada di Seoul dan saya sudah menghubungi mereka,” ucap Baekhyun.

“Begini, pasien Park Minri sudah melewati masa kritis. Ada beberapa tulang yang patah, tulang belakang dan kaki kanannya. Tapi kami sudah menangani tentang hal itu. Hanya saja, kalau gadis itu belum sadarkan diri hingga besok pagi, kami harus menanganinya dengan serius. Itu saja, terimakasih.”

Dan dokter itu berlalu, bersama para asistennya.

Baekhyun dan Sehun bisa menghela napas lega untuk sementara waktu. Mereka bersyukur karena gadis itu berhasil melewati masa kritisnya. Dan yang terpenting ia masih hidup. Tapi mereka belum bisa sepenuhnya lega, sebelum gadis itu sadarkan diri.

***

Minri telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ruangan itu tampak dingin dan mencekam. Bunyi detektor jantung seperti jarum jam, yang tiap detiknya terdengar menakutkan. Hanya ada Baekhyun dan Minri dalam ruangan itu.

Sehun pulang sebentar. Sementara Baekhyun sama sekali tidak ingin melewatkan sedetikpun perkembangan gadis itu. Ia berdiri diam, memandangi Minri yang berbaring tenang dengan mata terpejam.

Ada luka di sekujur tubuhnya. Dan itu membuat Baekhyun tidak sanggup membayangkan seberapa sakit yang di derita gadis itu. Baekhyun berjalan menghampiri Minri dan menggenggam pelan salah satu tangannya. Dingin. Dan sama sekali tidak ada respon.

Langit sudah gelap menandakan matahari sudah berada di bumi bagian lain. Namun Minri belum juga membuka matanya. Terhitung sudah setengah hari ia terbaring di tempat tidur putih itu. Baekhyun tahu Minri tidak suka rumah sakit.

“Kau bilang tidak suka rumah sakit ‘kan? Segeralah bangun dan kita pergi dari sini.”

Baekhyun bicara pada Minri yang saat ini tidak bisa mendengarkan. Kesadarannya belum pulih.

Baekhyun menarik kursi sampai di dekat tempat tidur Minri. Ia duduk dan memandangi gadis itu dengan pandangan sedih. Ia tidak akan tenang sebelum Minri membuka matanya, tersenyum dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Baekhyun mengabaikan segalanya. Perutnya yang lapar, rasa kantuknya, dan lelah di tubuhnya. Tidak ada yang lebih penting selain Minri.

Sepanjang Malam itu, Baekhyun menemani Minri, sampai ia tertidur.

***

Pagi hari.

Baekhyun bangun dari tidurnya. Ia menegakkan punggungnya yang terasa kaku. Baekhyun membuka mata sepenuhnya dan menyesuaikan pencahayaan dengan penglihatannya.

Semuanya masih sama. Minri masih berbaring di kasur. Dan Baekhyun masih menggenggam tangannya yang dingin.

Aku mohon bangunlah…

Baekhyun sadar bahwa kondisi tubuhnya melemah. Ia tahu bahwa ia bisa membuat dirinya sakit. Tapi ia tetap bersikeras menemani Minri. Ia yakin bahwa Minri jauh lebih merasakan sakit. Minri pasti berjuang keras melawan rasa sakitnya.

Kemudian terdengar derit pintu. Baekhyun menoleh, dan mendapati Sehun disana dengan membawa kantung yang berisi makanan.

Baekhyun melepaskan pegangan tangannya. Baekhyun tidak akan lupa bahwa Minri adalah kekasih Sehun.

“Baekhyun, ada perkembangan tentang Minri?”

Baekhyun hanya menggeleng dan kembali menatap wajah gadis itu.

“Makanlah dulu, aku tahu kau tidak makan apapun sejak kemarin.”

“Tidak, terimakasih,” ucap Baekhyun.

“Kau juga harus sehat agar bisa menjaga Minri.”

Sehun mengambil tempat duduk di seberang Baekhyun. Sehun menatap Baekyun sesaat. Wajahnya tampak pucat dan lelah. Baekhyun pasti tipikal keras kepala.

Tiba-tiba ponsel Baekhyun berdering. Sebenarnya ia tidak ingin menerima panggilan dari siapapun. Tapi ia tetap harus mengangkatnya.

Baekhyun tampak mendengarkan orang yang sedang bicara dibalik telpon itu. Ekspresi tidak suka terbaca dari wajahnya.

“Kenapa harus hari ini? Ck… Well, thanks.”

Baekhyun memutus panggilan. Lantas memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Sehun tampaknya penasaran.

“Kau sibuk? Pergilah… ada aku disini.”

“Mr. John mencariku.”

“Kau tidak pergi menemui Mr. John?” tanya Sehun.

“Aku tidak akan pergi sebelum Minri sadar.”

“Tapi Mr. John menunggumu. Kalau ia memanggilmu berarti ada hal yang penting yang ingin dibicarakan. Aku tahu bagaimana beliau.”

“Ya, aku tahu itu.”

Ponsel Baekhyun berbunyi lagi. Panggilan dari teman Baekhyun yang tadi. Baekhyun mendecak sebal. Ia menekan tombol reject. Namun beberapa saat berbunyi lagi.

“Pergilah, Minri akan baik-baik saja.”

Baekhyun berpikir sejenak. Ia memandangi Minri dengan pandangan lemah. Semoga apa yang dikatakan Sehun benar, Minri akan baik-baik saja.

“Nanti aku kembali lagi. Aku pergi dulu. Tolong kabarkan padaku jika Minri sudah sadar.”

Sehun mengangguk mengiyakan. Kemudian Baekhyun beranjak dari duduknya, tampak terhuyung. Baekhyun pasti sangat lelah. Sehun memandangi Baekhyun sampai pria itu menghilang dibalik pintu ruang rawat Minri.

“Dia pasti sangat mengkhawatirkanmu, Minri-ya. Sadarlah…”

***

Sudah dua jam Sehun berada dalam ruangan itu. Namun Minri masih belum membuka matanya. Sehun menunduk, memandang sayu kotak cincin yang telah diberikannya pada Minri. Ia belum tahu apa jawaban Minri. Sehun masih punya harapan bahwa Minri akan menerimanya. Ia ingin segera mendengar gadis itu bicara. Agar semuanya jelas.

Dan yang terpenting sekarang, Minri harus pulih.

“Sehun…”

Sehun menegakkan kepalanya saat mendengar gadis itu memanggilnya. Ia menghampiri gadis itu dan memperhatikan lebih dekat.

Perlahan Minri membuka matanya. Ia tampak mengernyit tidak nyaman. Tampaknya tubuhnya sedang menyesuaikan keadaan ruangan sekarang.

“Minri-ya, kau baik-baik saja?” tanya Sehun hampir tidak percaya. Wajahnya tampak sangat senang.

Minri mengangguk kecil sebagai jawaban, namun ia tiba-tiba meringis.

“Aku panggilkan dokter dulu, tunggu sebentar ya.”

Tanpa menunggu persetujuan Minri, Sehun keluar dari ruangan itu dengan langkah terburu-buru. Tak lama kemudian Sehun kembali bersama tim dokter. Minri diperiksa. Dokter itu mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Minri hanya perlu waktu untuk memulihkan kesehatannya. Setelah selesai memeriksa Minri, tim dokter itu keluar. Sehun dan Minri kembali berdua.

Sehun mengambil tempat duduk terdekat di samping Minri, kursi yang tadinya diduduki Baekhyun. Sehun memegang puncak kepala Minri dan mengusak rambutnya dengan pelan.

Minri teringat dengan kotak cincin Sehun. Air mukanya berubah cemas. Gadis itu menoleh ke segala arah. Matanya tampak mencari-cari sesuatu.

“Kau mencari ini?”

Sehun menyodorkan kotak cincinnya pada Minri. Dan dengan lemah gadis itu menyambutnya. Gadis itu tampak menunduk, menghindari tatapan Sehun.

“Sehun, aku.. ingin bicara padamu, tentang lamaran yang kau ajukan beberapa waktu lalu.”

Minri bicara dengan pelan. Ia seperti sedang menahan rasa sakitnya. Semua terbaca denngan jelas di wajahnya yang cantik itu.

“Kau baru saja sadar dari koma Minri-ya, jangan memaksakan dirimu. Lebih baik kita membicarakan hal ini nanti.”

“Tidak, ss-Sehun, aku harus bicara sekarang..”

Minri menarik napasnya pelan. Tulang rusuknya terasa sakit jika ia bicara.

“Aku minta maaf Sehun, aku tidak bisa.”

Minri mengembalikan kotak cincin itu pada Sehun. Lantas menunduk. Memegang tangan Minri.

“Aku bisa menunggu kapanpun kau siap.”

“Tidak bisa, Sehun.” Minri menarik tangannya dari genggaman Sehun. “Aku tidak bisa menikah denganmu. Dan aku ingin… hubungan kita cukup sampai disini.”

Sehun mengangkat dagu Minri, meminta gadis itu menatapnya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Dan dengan sekali kedipan, air mata itu mengalir di pipinya yang pucat.

“Maafkan aku…”

Sehun merengkuh Minri dengan pelan ke dalam pelukannya. Ia membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Sementara Sehun meletakkan dagunya di bahu Minri.

Sehun bukanlah malaikat. Ia hanya manusia biasa yang mencintai gadis di depannya. Sekuat apapun Sehun, ia tetap manusia lemah yang bisa menangis kapan saja. Dan gadis itu tidak pernah tahu kalau Sehun juga menangis.

Sehun tidak bisa berbuat apa-apa jika memang ini yang diinginkan Minri. Ia tidak akan memaksa Minri untuk mencintainya karena memang cinta tidak bisa dipaksakan. Sehun tahu itu.

“Aku mengerti. Tapi meskipun kita sudah tidak punya hubungan kekasih, aku akan tetap sayang padamu, Minri-ya. Bahagialah, meskipun itu bukan bersamaku.”

Minri menangis lebih keras. Gadis bodoh mana yang bisa menolak pria sebaik Sehun?

“Kau juga harus bahagia. Mungkin aku bukan gadis yang baik untukmu. Tapi terimakasih sudah menjagaku dengan baik selama ini. Dan aku tidak pernah bohong saat aku mengatakan aku sayang padamu.”

Sehun melepas pelukannya.

“Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kali sebagai kekasihmu?”

Minri tampak melebarkan matanya. Ia sedikit terkejut dengan permintaan Sehun.

“Aku tahu itu konyol. Lupakan saja,” Sehun tertawa pelan.

“Lakukanlah,” ucap Minri. “Aku tidak akan marah.”

Sehun mendekatkan wajahnya dengan pelan. Sementara Minri mulai menutup matanya. Kemudian Minri merasakan hembusan nafas Sehun di wajahnya. Kemudian hangat di dahinya. Ya, Sehun menciumnya di dahi.

“Terimakasih,” ucap Sehun. “Kita tetap berteman kan?”

“Tentu.”

***

Baekhyun tampak berlari kecil di sepanjang lorong rumah sakit. Ia tidak sabar ingin melihat Minri. Ia dapat bernapas lega setelah mendengar kabar bahwa Minri sudah sadar.

Baekhyun memelankan langkahnya saat ia berada di depan ruang rawat Minri. Baekhyun membuka pintu itu dengan pelan. Senyumnya memudar. Sungguh ia tidak ingin melihat kejadian itu. Sehun menciumnya.

Baekhyun tidak dapat melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Sehun membelakanginya dan ia tidak dapat melihat Minri. Hingga akhirnya Baekhyun mundur teratur dan menutup pintu ruangan itu. Ia memilih duduk di depan ruangan itu.

Dengan hati yang patah.

Baekhyun yakin bahwa MInri baru saja mengambil keputusan.

***

Sehun keluar dari ruangan Minri. Ia melihat Baekhyun duduk di depan ruangan itu.

“Baekhyun, kau tidak masuk?”

Baekhyun berdiri. Kemudian tersenyum paksa. “Aku tidak ingin mengganggu kalian berdua.”

“Aku akan pulang. Aku percayakan Minri padamu, Baekhyun. Selamat tinggal.”

Baekhyun mengernyit. Ia kurang mengerti dengan ucapan Sehun. Ia belum sempat minta penjelasan tapi Sehun keburu pergi.

Baekhyun masuk ke dalam ruangan itu.

Minri memandangi Baekhyun, kemudian ia tersenyum. Senyum itu… sudah lama Baekhyun tidak melihatnya. Baekhyun sangat merindukannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun sambil mengganti bunga di samping meja Minri dengan bunga mawar merah muda yang ia bawa. Bunga kesukaan Minri. Warna yang lembut dan pucat.

Baekhyun menghampiri Minri. Ia melihat jejak air mata di wajahnya. Mungkin itu air mata bahagia. Tapi Baekhyun sedikit bingung karena gadis itu tidak memakai cincinnya.

Waeyo?” Minri merasa sedikit aneh karena Baekhyun memandanginya seperti itu.

“Mana cincinmu? Kau menerima Sehun kan?” tanya Baekhyun. Mengabaikan hatinya yang masih berserakan. Semakin tak ada jalan untuk membangunnya kembali. Baekhyun berusaha menutupi kesedihannya. Untunglah ia masih belum lupa bagaimana bersikap selayaknya sahabat.

Minri menatap jari-jarinya, kemudian beralih menatap Baekhyun.

“Aku tidak akan menikah dengan Sehun. Aku sudah mengembalikannya pada Sehun.”

Baekhyun terdiam. Otaknya mulai mencerna perkataan Minri.

“Dan kami… sudah tidak memiliki hubungan apa-apa.” Minri menunduk.

Kali ini Baekhyun mengerti sepenuhnya. Ia hampir tidak percaya. Ia hanya bisa diam dan memandangi Minri. Tapi secercah harapan dalam hatinya menguar. Ia tidak mungkin bersenang-senang di atas kesedihan orang lain. Tapi setidaknya sekarang ia punya harapan.

Ia ingin, ingin sekali memeluk Minri. Mengatakan bahwa apapun keputusan yang telah Minri buat, Baekhyun akan selalu berdiri di samping Minri. Apapun. Asalkan Minri bahagia.

Tapi ia tak sanggup melakukannya. Semuanya terlalu tiba-tiba. Entah alasan apa yang membuat Minri memilih untuk berpisah dengan Sehun.

“Kau sudah sarapan?” Baekhyun mengalihkan pembicaraan. Dia ingin membuat Minri merasa lebih baik. Minri tidak boleh tertekan. Demi kesembuhannya.

Minri menggeleng pelan. “Aku tak suka makan-makanan rumah sakit.”

“Maka dari itu cepatlah sembuh. Aku akan memasak untukmu nanti.”

Baekhyun mengambil makanan di meja. Hanya bubur. Baekhyun mengaduk-aduk kemudian menyuapi Minri.

“Makanlah.” Baekhyun menyodorkan sendok itu di depan mulut Minri, tapi gadis itu tak kunjung membuka mulutnya.

“Baiklah.” Baekhyun meletakkan piring itu kembali di meja. Ia meregangkan jari-jarinya. Well, mungkin ini terdengar konyol. Tapi ia akan mengajak gadis itu melakukan permainan gunting-batu-kertas.

“Kalau kau kalah, kau harus menghabiskan bubur itu. Kalau aku yang kalah, kau boleh meminta apapun dariku,” ucap Baekhyun.

Minri menyetujuinya.

Mereka perlu mencoba beberapa kali karena mereka menunjukkan gesture yang sama. Hingga pada kali ke lima. Minri kalah.

Sepertinya Minri lupa bahwa ia tidak pernah menang melawan Baekhyun. Dan sekarang ia harus menghabiskan makanannya. Baiklah.

Minri melihat Baekhyun tersenyum. Demi apapun itu adalah senyum yang membuat Minri berdebar. Dan itu menjadikan salah satu alasan bahwa Minri ingin melihat matahari lagi besok. Minri ingin cepat sembuh, agar ia bisa tinggal di apartemen lagi bersama Baekhyun. Melakukan apa saja yang ia inginkan.

Minri… sangat merindukan Baekhyun.

***

Sudah lima hari Minri berada di rumah sakit. Ia mulai merasa bosan. Keadaannya sudah membaik. Tapi ia masih tidak bisa berjalan dengan benar.

“Baek, aku ingin pulang…” ucap Minri dengan nada merengek membuat Baekhyun ingin tertawa. Sudah lama tidak mendengar Minri bermanja-manja padanya.

“Kau yakin kau sudah sembuh?” tanya Baekhyun sambil menghampiri gadis itu. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Minri. Wajahnya tampak berpikir, membuat Minri sedikit kesal dan menurunkan tangan Baekhyun.

“Ayo pulang~.”

“Baiklah. Awas saja kalau kau mengeluh sakit,” ucap Baekhyun lantas hendak beranjak dari sana, tapi tiba-tiba Minri memeluknya.

“Yaey! Baekhyun is the best!” ucap gadis itu penuh semangat sembari mencium pipi Baekhyun secara kilat, membuat pria itu melongo.

“Apa ini?” tanya Baekhyun sambil memegang pipinya.

“Ucapan terimakasih, Oppa.”

Mwoya??” pekik Baekhyun tidak percaya. Baekhyun memukul telinganya pelan. Seperti ada yang salah dengan pendengarannya. “Kau bilang apa?”

“Aku tidak bicara apapun,” bantah Minri sambil memainkan ponselnya–mendadak salah tingkah. Malu.

“Dasar,” ucap Baekhyun sambil mencubit hidung Minri dengan gemas. Minri hanya tertawa dan menyingkirkan tangan Baekhyun dari wajahnya.

Minri senang Baekhyun yang hangat sudah kembali. Baekhyun yang peduli padanya sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kecuali perasaan sayang Minri pada Baekhyun yang semakin hari semakin bertambah.

***

Baekhyun membantu Minri berjalan ke dalam apartemen mereka.

Minri mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Rasanya seperti sudah lama ia tidak merasakan suasana tinggal di apartemen itu. Seperti sudah banyak hal yang telah dilewatkannya. Tapi keadaannya tetap sama. Bersih dan rapi. Baekhyun benar-benar menjaga dengan baik tempat yang ditinggalinya.

“Duduklah, aku akan membuatkan coklat hangat.”

Baekhyun menurunkan Minri dengan pelan di atas sofa. Minri baru akan menolak tawaran Baekhyun, tapi pria itu keburu hilang menuju dapur. Baekhyun tidak perlu melakukan itu semua. Minri bisa membuat sendiri–walaupun ia tahu rasanya akan aneh. Tapi Minri merasa sudah menyusahkan Baekhyun terlalu banyak.

Beberapa menit kemudian, Baekhyun kembali dengan dua gelas coklat hangat di tangannya. Ia meletakkan gelas itu di atas meja. Asap mengepul di permukaan gelas itu. Aromanya menguar ke seluruh ruangan.

Minri menjangkau gelas coklatnya. Gadis itu tampak kesulitan meraihnya karena cukup jauh, maka dari itu Baekhyun membantunya.

“Kalau kau perlu bantuan, bilang saja padaku.”

“Aku bisa sendiri, kok.”

Baekhyun tahu bagaimana keadaan kesehatan Minri. Dokter bilang walaupun Minri diperbolehkan pulang, ia masih perlu istirahat yang banyak. Terutama untuk pemulihan kakinya. Tapi Minri memang keras kepala.

“Kau bisa melakukan apa dengan kaki seperti ini?”

Baekhyun memukul pelan kaki Minri yang masih pakai perban. Ia hanya bercanda. Tidak bermaksud menyakiti gadis itu.

“Awww!!” Minri meringis sembari memegangi kakinya. Ia mendesis dan menatap tajam pada Baekhyun.

“Sudah ku bilang. Makanya menurut,” ucap Baekhyun, mengabaikan tatapan tajam dari Minri.

Baekhyun berlalu dari ruang tengah, meninggalkan Minri sendirian. Minri pelan-pelan menghabiskan coklatnya. Jangan tanya bagaimana rasanya, karena coklat hangat buatan Baekhyun rasanya selalu enak. Tapi Baekhyun tidak pernah mengajarkannya pada Minri. Mungkin lain kali Minri akan meminta–ah tidak! Minri akan memaksa Baekhyun mengajarinya.

Setelah meminum coklat, Minri merasa tubuhnya hangat.  Matanya agak berat, jadi ia memutuskan untuk berbaring.

Bukk!

Tiba-tiba sebuah benda empuk mendarat di wajahnya.

“Pakai bantal! Kau bisa sakit leher, tahu.”

“Astaga Baekhyun!! Mengapa kau cerewet sekali hari ini?!” pekik Minri cukup kencang untuk memenuhi ruangan itu.

Kemudian terdengar suara Baekhyun tertawa. Minri pikir ada yang salah dengan pria itu.

“Sudah lama aku tidak mendengar teriakanmu,” ucap Baekhyun. “Kali ini aku percaya kalau Minri benar–benar kembali.”

***

Tidak terasa sudah seminggu semenjak Minri keluar dari rumah sakit. Keadaannya tampak membaik. Ia sudah bisa berjalan bahkan berlari. Dan kalau Baekhyun melemparinya dengan bantal, ia bisa membalasnya dengan melemparkan bantal yang sama. Ia bahkan tidak segan untuk mengejar Baekhyun sampai kamarnya. Bagaimanapun, balas dendam adalah balas dendam.

Mereka berdua sedang berada di kamar Minri. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam  dan sekarang memutuskan untuk bersantai.

 

“Ingin ku bacakan cerita?” tanya Baekhyun sambil memungut salah satu buku yang ada di atas meja belajar Minri. Kemudian ia duduk di tepi ranjang Minri.

Minri berbaring di tempat tidurnya. Ia memeluk boneka beruang putih pemberian Baekhyun dan menatap langit-langit kamarnya.

“Tidak biasanya. Tapi… boleh juga.”

Minri berbaring menyamping, menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun. Dahinya mengernyit bingung saat membaca judul buku yang dipegang Baekhyun. Minri tahu itu bukan buku cerita.

“Baek, memangnya kau ingin cerita apa? Itu buku akutansi tahu.”

Minri berbalik ke arah lain, tapi Baekhyun menarik bahu Minri agar gadis itu kembali menghadapnya. Minri menatap Baekhyun dengan malas.

Tiba-tiba Baekhyun menjitak Minri.

“Coba ingat! Kapan terakhir kali kau masuk kuliah? Sudah berapa pelajaran yang kau lewatkan? Apa kau tahu sebentar lagi ujian?”

Minri mengelus dahinya dengan bibir mengerucut. Baekhyun menyebalkan.

Arraseoyo seonsaengnim. Aku akan mendengarkanmu.”

Baekhyun mengusak puncak kepala Minri sembari tersenyum manis, membuat Minri menelan ludahnya. Jantungnya berdebar. Ia menyingkirkan tangan Baekhyun. Kemudian menegakkan duduknya.

“Aku akan membuatkanmu pancake kalau kau memperhatikan penjelasanku.”

Jinjja?? Joaaaa!!

Minri tampak bersemangat jika Baekhyun menawarkan untuk membuatkannya makanan. Baekhyun pandai membuat masakan apapun. Selama tinggal bersama Baekhyun, Minri hampir selalu dibuatkan makanan oleh Baekhyun. Dan rasanya sangat enak.

Baekhyun senang gadis itu mau menerima tawarannya.

Baekhyun mulai mengajari gadis itu pelajaran yang dilewatkannya. Awalnya Minri memang antusias. Sampai tak terasa sudah dua jam mereka lewati.

Minri merosotkan duduknya hingga ia berbaring. Baekhyun terus berbicara sampai ketika ia melihat Minri memejamkan mata, Baekhyun menggelengkan kepalanya. Baekhyun tidak tahu sejak kapan gadis itu tertidur.

“Dasar,” gumam Baekhyun.

Baekhyun menutup bukunya dan merapikan selimut gadis itu. Ia memandangi Minri yang sedang tertidur pulas. Wajahnya begitu polos dan manis membuat Baekhyun berdebar.

Baekhyun menghampiri gadis itu. ia duduk di tepi ranjang. Menatap wajah Minri sesuka hatinya. Tidak ada yang bisa menghentikannya untuk terus mengagumi dan mencintai gadis itu. Terlebih, mereka berdua tidak punya hubungan apapun pada orang lain. Lantas apa yang ditunggu Baekhyun hingga sampai sekarang ia tidak mengungkapkan bahwa ia mencintai gadis itu? Mengapa Baekhyun tidak pernah meminta secara langsung agar gadis itu menjadi kekasihnya, atau pendamping hidupnya?

Laki-laki itu bersikap sedikit lebih lancang. Ia mendekatkan wajahnya pada Minri. Bibirnya hampir menyentuh bibir Minri. Tapi Baekhyun kembali memundurkan kepalanya dan lebih memilih mengecup puncak kepala gadis itu.

Baekhyun sadar, ia hampir bertindak bodoh.

Ia bisa kehilangan kepercayaan dari gadis itu. Dan itu kedengarannya sangat menakutkan.

“Selamat malam, Minri-ya. Aku sayang padamu.”

Aku mencintaimu.

***

Siang hari, Universitas Harvard.

“Bagaimana?” tanya Minri saat Baekhyun baru keluar dari ruang sidang. Ujian skripsi. Kalian tahu? Berdiri sendiri di depan para professor rasanya seperti kriminal yang sedang diadili. Semua mata tertuju pada satu titik. Bahkan bernafas pun rasanya sulit.

Baekhyun hanya diam sambil menatap Minri. Ia belum mengatakan apapun membuat Minri penasaran setengah mati dengan apa yang baru saja terjadi di dalam.

Minri mendapat giliran lebih dulu. Dan ia dinyatakan lulus. Bersyukur pada Tuhan meskipun ia banyak ketinggalan pelajaran, Baekhyun selalu membimbingnya. Ya walaupun kadang-kadang memaksanya untuk belajar. Tapi semua membuahkan hasil. Ia harus berterimakasih pada Baekhyun. Tapi apa yang terjadi pada Baekhyun?

“Baeki-ya, katakan sesuatu…”

Minri menggungcang lengan Baekhyun. Raut wajahnya berubah khawatir.

“Aku…” Baekhyun melirik Minri. Sementara Minri menunggu kalimat Baekhyun selanjutnya dengan jantung berdebar. “AKU LULUS!!”

REALLY?” tanya Minri dengan nada setengah berteriak. Wajahnya tampak berbinar. Sontak ia melompat ke tubuh Baekhyun dan memeluk pria itu dengan erat.

Baekhyun balas memeluk Minri. Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang menerima hug attack dari gadis itu. Benar-benar mendadak. Minri menjauhkan tubuhnya untuk menatap Baekhyun. Tapi kakinya masih belum menapak di lantai, ia masih berada dalam pelukan Baekhyun. Tidak menyangka Baekhyun akan sekuat ini.

“Kau membuatku khawatir tahu!” omel Minri.

Baekhyun menurunkan Minri, lantas tersenyum senang.

Ehem!

Dehaman seseorang membuat keduanya menoleh.

“Oh Sehun?” sapa Minri dengan senyum bahagia yang masih melekat di bibirnya. Sudah lama ia tidak bertemu Sehun. Ada seorang gadis yang berdiri di samping Sehun, gadis itu bahkan menggandeng tangan Sehun dengan erat.

Gadis itu berperawakan kurus, tapi sedikit lebih tinggi dari Minri. Wajahnya seperti orang korea. Rambutnya lurus berwarna merah maroon. Cantik. Jung Soo-Jung.

Gadis itu juga kuliah di tempat yang sama. Tapi Minri jarang melihatnya. Atau mungkin Minri memang tidak peduli dengan orang-orang yang ditemuinya di kampus? Entahlah.

“Selamat ya,” ucap Sehun tulus.

“Kau juga, Sehun-ssi,” sahut Baekhyun sembari menepuk bahu Sehun.

“Terimakasih Baekhyun.” Sehun mengalihkan tatapannya pada Minri lantas tersenyum canggung. “Hai, Minri, apa kabar?”

“Kabar baik, Sehun. Eng… Soo Jung-ssi, bolehkah aku memeluk Sehun?”

Baik Soo Jung, Sehun ataupun Baekhyun mengerutkan keningnya karena bingung dengan ucapan Minri. Gadis itu benar-benar tidak terduga.

“Tentu,” jawab Soo Jung sembari tersenyum. Soo Jung tahu bahwa Minri dulunya adalah kekasih Sehun. Tapi Soo Jung tidak tahu alasan apa yang membuat mereka memilih untuk putus hubungan. Dan sebenarnya Soo Jung bingung untuk apa minri meminta izin padanya?

Minri memajukan langkahnya lantas menjingkitkan kakinya karena Sehun terlampau tinggi. Kemudian gadis itu melingkarkan tangannya di bahu Sehun, sementara mulutnya berusaha menjangkau telinga Sehun. Minri ingin mengatakan sesuatu.

“Berbahagialah bersama Soo Jung. Dia gadis yang baik untukmu.”

Sebelum Minri melepaskan pelukannya, Sehun sempat berbisik padanya.

“Kau juga harus bahagia.”

Minri mengangguk dalam pelukan Sehun sesaat sebelum melepaskan pelukannya.

“Kalau begitu kami pergi dulu,” ucap Sehun.

Sehun dan Soo Jung berlalu dari melewati mereka berdua. Sementara Minri dan Baekhyun berdiri diam menatap punggung mereka berdua sampai kedua orang itu hilang di kerumunan orang banyak.

“Ayo pulang!” seru Minri. Ia melangkah riang menuju halte bis, dan Baekyun terpaksa melangkah lebih cepat untuk menyejajarkan langkahnya.

Namun tiba-tiba gadis itu berhenti.

“Baek! Bagaimana kalau malam ini kita merayakan kelulusan kita?”

Minri memegang satu tangan Baekhyun dan menatap laki-laki bersurai coklat itu dengan tatapan anak anjing yang manis. Sungguh cantik dan menggemaskan dalam waktu bersamaan. Kalau begini bagaimana Baekhyun bisa menolak?

Baekhyun terlalu lemah untuk menolak jika Minri memintanya. Hingga akhirnya ia mengangguk.

Dan lagi-lagi Baekhyun dapat hug attack.

Mengejutkan. Tapi Baekhyun senang.

***

“Wuaaah Baekhyun!! Kau memang terbaik!”

Minri menatap hidangan di atas meja dengan mata berbinar. Semua makanan kesukaan Minri tersusun rapi disana. Ayam goreng, pizza, cup cake, pudding, cola. Oh Puji Tuhan! Surga!

Baekhyun tersenyum senang sembari menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka Minri akan sesenang itu.

Minri duduk di kursinya seperti biasa. Tak henti-hentinya kagum melihat hidangan di depannya. Padahal Baekhyun tahu ini bukan pertama kalinya Minri melihat hidangan sebanyak itu. Tapi entahlah, Minri tak bisa menyembunyikan matanya yang berbinar itu. Dan secara otomatis Baekhyun ikut merasakan bahagia.

“Baek, ayo berdoa.”

Minri menangkup kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam. Baekhyun terpaku sesaat memandangi Minri sebelum ia ikut memejamkan matanya dan mengucapkan beberapa harapan.

Aku ingin, dimanapun aku berada aku akan tetap bersama Baekhyun.

Apapun yang Minri inginkan, asalkan dia bahagia, ku mohon wujudkanlah. Dan berikan yang terbaik untuk hidup kami.

“Selamat makaaaan!!”

 

Baekhyun dan Minri telah menyelesaikan makan malam istimewa yang mereka rencanakan berdua. Saat ini mereka berdiri di balkon apartemen. Sedikit menyesal karena mereka jarang berada disana, padahal pemandangannya sangat bagus, baik langit maupun daratannya yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit.

Minri melingkarkan lengannya di lengan Baekhyun. Dan menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun. Posisi yang paling nyaman untuk memandangi langit yang sekarang sedang bertabur bintang. Angin malam berhembus, menyentuh permukaan kulit mereka berdua. Dingin. Mestinya begitu, tapi Baekhyun merasakan kehangatan dari dalam tubuhnya jika Minri berada di dekatnya. Begitu pula dengan Minri.

“Baek, tidak terasa kita akan meninggalkan Manhattan. Aku pasti merindukan tempat ini….”

Dan juga kau. Sambung Minri dalam hati.

“Ya, beberapa hari lagi kita akan kembali ke Seoul, membawa kebanggaan untuk orang tua kita disana,” sahut Baekhyun.

Minri menurunkan pandangannya. Ia menatap kosong ke bawah. Ia membayangkan bahwa kehidupannya sebentar lagi akan berubah. Tidak ada Baekhyun yang dilihatnya di pagi hari. Tidak ada Baekhyun yang membuatkannya sarapan. Tidak ada Baekhyun. Terdengar sangat menakutkan bagi Minri. Semuanya akan berbeda.

Mereka berdua tentu saja akan kembali dan tinggal di rumah masing-masing. Dan belum tentu mereka bisa bertemu setiap hari karena mereka pasti sibuk dengan kesibukan masing-masing. Mereka harus meneruskan hidup di Seoul, secara terpisah.

Minri melepaskan lingkaran tangannya di lengan Baekhyun. Ia beralih berdiri di hadapan Baekhyun dan memeluk pria itu dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada Baekhyun. Menghirup aroma tubuh yang pasti akan ia rindukan nanti.

Baekhyun bingung. Minri tampak kalut dan takut. Padahal beberapa saat yang lalu jelas sekali bahwa Minri dalam mode bahagia.

“Ada apa Minri?” Baekhyun balas memeluk Minri. Mengusap punggung gadis itu. Membuat Minri merasa hangat.

“Aku takut moment ini segera berakhir. Aku takut kita tidak bisa bertemu lagi. Aku takut Baekhyun….karena  aku… mencintaimu. Aku ingin terus-terusan hidup bersamamu.”

Baekhyun menghentikan pergerakkan tangannya. Tubuhnya menegang. Seluruh saraf tubuhnya terasa kaku. Ia tidak menyangka Minri benar-benar mengatakannya. Tanpa ada rasa ragu.

Dengan pelan Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari Minri, memberi jarak untuk mereka berdua. Mereka bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Mencoba menyelami pikiran dan arti tatapan itu.

Dan Baekhyun memutus kontak mata mereka dan menggantinya dengan senyum manis yang mempesona. Sampai kapanpun itu akan menjadi senyum favorit Minri.

“Aku tidak tahu sejak kapan kau mencintaiku. Tapi kau harus tahu bahwa aku mencintaimu sejak awal kita bersama. Aku mencintai segalanya yang ada padamu. Dan aku akan melakukan apapun asal kau bahagia. Termasuk merelakanmu dengan Sehun jika kau memang memutuskan untuk memilih pria itu.”

Baekhyun memegang kedua tangan Minri. Sementara Minri berdiri diam. Ia bahagia. Sebesar itukah perasaan Baekhyun padanya? Dan seberapa sering Minri melukai perasaan Baekhyun?

Dan apa Minri boleh mengatakan bahwa mereka berdua bodoh dan hebat dalam waktu bersamaan?

Mereka bisa memendam perasaan cinta dalam waktu yang lama.

Meskipun begitu, Minri belum lega. Mereka memang menyatakan perasaan masing-masing. Namun itu bukan berarti mereka bisa hidup bersama.

Baekhyun tiba-tiba berlulut. Ia merogoh saku celananya.

“Aku sudah berencana mengungkapkan semuanya hari ini. Tapi tak ku sangka kau lebih dulu mengatakannya.”

Minri terus memandangi Baekhyun. Memperhatikan saat pria itu membuka kotak beludru merah, menampakkan benda berkilau di dalamnya.

“Park Minri, aku sungguh mencintaimu. Maukah kau menjadi pendamping hidupku? Melewati hari demi hari bersamaku? Dan bersama-sama membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia?”

Minri belum mengatakan apa-apa. Namun bibirnya membentuk seulas senyum kebahagiaan. Air matanya menetes tanpa ia sadari.

Senyum Baekhyun tampak semakin mengembang saat Minri mengangguk dan berkata ‘iya’ dengan lirih. Baekhyun menyematkan cincin di tangan Minri lantas berdiri.

Ia memeluk Minri. Mengunci pergerakannya. Memutus jarak di antara mereka.

“Kau tahu? Ada dua hal yang sangat berharga yang akan ku bawa ke Seoul nanti. Gelar sarjana, dan seorang istri.”

Minri tersenyum dalam pelukan Baekhyun. Satu tangannya memukul punggung Baekhyun pelan. Demi apapun ia malu mendengar saat Baekhyun menyebutnya dengan sebutan istri.

Kemudian Baekhyun melepaskan pelukannya. ia meletakkan kedua tangannya di bahu Minri. Perlahan mendekatkan wajahnya. Oh ayolah… Baekhyun sudah pernah melakukannya, meskipun bukan dalam situasi seperti ini.

Sementara Minri berkedip waspada. Jantungnya terasa bekerja berlipat-lipat lebih cepat. Ia merasa tubuhnya menghangat. Ia bahkan sedikit lupa cara bernafas.

Beberapa detik kemudian, Baekhyun benar-benar melakukannya. Ia mengecup bibir gadis itu lama sekali. Menyalurkan rasa sayangnya pada Minri lewati ciuman itu.

Dan Minri mengerti, bahwa hatinya hanya untuk Baekhyun.

Disana.

Dibawah langit Manhattan. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Disaksikan angin, langit dan bintang. Kebahagiaan menyelimuti mereka bedua. Tak ada hal yang sempurna. Tapi Baekhyun dan Minri percaya bahwa kesempurnaan cinta mereka bisa terwujud, asalkan mereka terus bersama.

***TAMAT***

Akhirnya! Selesai… /elap keringet Baekhyun(?) eh/ maaf banget ya kalo endingnya gak sesuai keinginan. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk ff ini *halaah* komennya di tunggu ^o^ dan terimakasih sudah mengikuti ff ini dari awal. Meskipun hanya 3 chapter, Ku harap berkesan. Sampai jumpa di ff selanjutnya~ #pyeong

Cr: charismagirl, twit, fb.

129 thoughts on “You And Him – part 3 [end]

  1. Feelnya dapet banget eon. Baekhyun penyabar banget. Aku suka banget sama karater baekhyun disini. Dan akhirnya perasaan minri sama baekhyun terungkapkan juga. Keren, sumpah. Aku aja sampai senyum2 sendiri pas bacanya.
    Beruntung banget minrinya, pengen ngegantiin posisi minri dihati baekhyunnnn >_< . *digempar author.
    Jjang ^^

  2. Tak kusangka, baek trnyata romantis bgt,, ya Allaaaahh,,
    Tanpa pacaran baek lngsung mnta minri jdi istri,, sungguh tak terduga,,

  3. Aku kira ffny nnti jdi sad ending /.\ tpi untunglah tidak trjdi/? Ahh swittny :*
    ska deh sma ffny karim><
    keep writing, fighting and hwaiting! .9

  4. Hhhuuaaa eonnie keren banget FF nya.. Sehun sama gue aja dahhh.. single lhoo -jones malah- wkwkwk abaikan.. seneng banget akhirnya happy ending.. eonnie jjang!! ^^

  5. akhir yang bahagia, walaupun sedikit tidak rela Sehun disana sama soo jung -_- dan Sehun disana jadi pihak yang tersakiti. Yah, tapi seneng banget yang menang (?) disini adalah Baek hohohohoho
    Seharusnya Baek ke Seoul bawa gelar sarjana, seorang istri dan seorang anak atau calon anak (?) #digampar wahaha

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s