Here I Am

Cover-Kai-EXO-K(1)

Title : Here I Am

Author : Charismagirl

Main Cast : Kim Jong-In / Kai

Support Cast :

  • All member EXO-K
  • Jong-In’s Appa

Rating : PG-15

Genre : Friendship, family, hurt, drama.

Length : One-shoot

Ketika seseorang merasa hidupnya tidaklah berguna, saat itu pula ia merasa tidak ada orang yang memandangnya, melihatnya, menyadari keberadaannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sebuah keputusan sepihak bahkan ia melanggar janji dengan Tuhannya.

###

Kriing!!

Seorang pemuda tampak terusik tidurnya karena baru saja mendengar alarm yang berbunyi nyaring memekakan telinga. Jelas-jelas ia sendiri yang mengaturnya tadi malam. Ia terpaksa melakukannya karena hari ini ia harus pergi ke kampus. Matanya yang tertutup rapat itu perlahan terbuka. Menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke kamarnya tanpa permisi. Melewati celah kecil di jendela dan ventilasi. Sepertinya cuaca hari ini cerah.

Ia memutuskan bangkit dari tidurnya. Berjalan terhuyung menghampiri jam beker dan mematikannya gusar, membuat jam itu roboh dari posisi berdirinya. Ia menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara berdebam. Sekitar lima menit, ia keluar kamar mandi. Rambutnya yang berwarna kecoklatan tampak bersinar terkena pantulan cahaya matahari di kamarnya. Ia menatap wajahnya di cermin dan mengusap bekas luka yang kering di sudut bibirnya. Bekas pukul kemarin, pikirnya.

Salah satu bibirnya terangkat. Ini bukan apa-apa baginya. Rasa sakit fisik yang dialaminya tidak lebih sakit dari hatinya. Penyesalan yang mendalam karena terlahir dikeluarga ini. Tidak ada seorangpun yang mau mendengarkannya bicara. Ayah, kakak–semuanya sama. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Lantas, tidak ada yang memprotes kelakuannya, kecuali beberapa teman-temannya di kampus.

Beberapa kali ia mendapatkan surat peringatan karena kelakuannya yang sungguh mengkhawatirkan. Berkelahi, membolos dan menggoda beberapa gadis. Ia tertawa pelan ketika teringat kejadian kemarin, kejadian yang membuat luka di sudut bibirnya.

“Ayolah! Kau hanya perlu menciumku saja lalu semuanya berakhir.” Pemuda berambut coklat itu mengunci kedua tangan gadis di depannya dengan kedua tangannya pula. Gadis itu terus merengek minta lepaskan. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, menghindari serangan cium dari pemuda di depannya.

 

“Apakah bagimu aku kurang tampan, huh?!” Pemuda itu mendekatkan wajahnya.

 

“Jangan lakukan! Aku mohon…,” ucap gadis itu dengan suara tercekat.

 

“Kim Jong-In!! Hentikan!!” Tiba-tiba seorang lelaki tinggi menarik kerah belakang bajunya, membuat lelaki dipanggil Jong-In itupun melepaskan pegangan tangannya pada pergelangan tangan gadis di depannya. Pergelangan tangan gadis itu tampak memerah, sepertinya Jong-In atau akrab disebut Kai itu memegangnya terlalu erat.

 

Bug!!

 

Sebuah tinjuan keras melayang begitu saja ke pipi Kai sebelah kanan hingga Kai tersungkur ke lantai. Dengan santai ia menyapu darah yang mengalir di sudut bibirnya lalu menyeringai. Ia bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk balik menyerang pria di depannya. Tapi sayang, ia tidak cukup kuat, hingga pria di depannya memegang kepalan tinju Kai yang hampir mengenai wajahnya lalu memutar badan Kai hingga kedua tangan Kai terkunci di belakang tubuhnya.

 

“Kenapa aku harus menghentikannya? Kenapa?! Oh, dia adalah gadismu? Aku lupa.” Kai tertawa tapi pandangan matanya kosong.

 

“Kau gila!”

 

“Benar! Aku sudah gila Oh Sehun! Bunuh aku sekarang!!”

 

“Sadarlah, ini bukan dirimu. Coba kau ingat sudah berapa gadis yang kau campakkan?!”

Kai menghentikan lamunannya ketika mendengar suara berisik dari luar kamar tidurnya. Ia menyambar tas selempang dan mengambil kemeja yang tergantung di lemari bajunya. Ia memasang kemeja itu sembarangan tanpa mengancingnya, melapisi kaos hitam yang melekat ditubuhnya lebih dulu.

Ia membuka pintu kamarnya lalu melangkah keluar dengan santai, menuruni tangga rumah sembari bersiul. Ia mendapati ayahnya di meja sarapan–sendirian. Tuan Kim membolak-balikan koran hariannya, sambil sesekali menyesap kopi. Kemudian melirik jam tangan lalu tampak terkesiap. Pria itu menghampiri Kai yang masih berdiri di ujung tangga bawah.

“Belajarlah dengan rajin,” ucap pria itu sebelum berlalu pergi.

Kai mencibir. Pria itu tidak memberikannya kesempatan untuk sarapan bersama. Apakah urusan di kantor lebih penting dari pada sekedar sarapan bersama kedua putranya di rumah? Padahal hari ini Kai sudah bangun lebih pagi..

Wush!

Rumah besar itu kembali sepi. Hanya langkah kaki Kai yang terdengar. Para pelayan pasti berada di dapur jika ayahnya sudah berangkat kerja.

Kai terlahir di keluarga kaya. Tidak sedikitpun ia kekurangan dalam hal materi. Apapun yang diinginkannya, pasti bisa diwujudkan oleh ayahnya. Mobil mewah, alat komunikasi bahkan jika ia meminta rumah pun sepertinya pria tua itu bisa mengabulkannya.

Kai menyomot roti yang sudah berselai coklat di atas piring, lantas memasukan makanan itu ke mulutnya. Rasanya hambar. Sarapan sendirian. Seandainya ayahnya masih bisa menunggunya lima menit saja. Atau ada ibu, pasti rasanya berbeda. Ibu? Cih! Sejak kapan dia menginginkan kehadiran wanita brengsek itu. Wanita yang lebih memilih pergi bersama selingkuhannya dari pada ayahnya dan kedua anaknya. Sialan!

Tiba-tiba saja matanya memanas. Ia bisa bersikap lebih cengeng dari balita jika harus mengingat ibu. Hatinya mencelos. Meskipun wanita itu benar-benar rendah dimata Kai. Wanita itu tetap ibunya. Ibu yang melahirkannya, membesarkannya sampai ia berumur sepuluh tahun. Lalu pergi entah kemana.

Suara langkah kaki di anak tangga membuyarkan lamunannya. Wajahnya kembali dingin dan ia kembali tampak kuat bagi siapapun yang melihatnya sekarang.

“Jong-In-ah, kau ingin berangkat bersamaku?” tanya Suho dingin. Pria itu menuruni anak tangga dengan cepat.

“Tidak, terimakasih,” jawab Kai singkat, tanpa perlu menatap wajah Suho.

“Ku harap kau tidak membuat keonaran lagi.” Suho berjalan keluar, melewati Kai dan sempat berkata lagi, “Dan tidak mempermalukan keluarga Kim.”

***

Kai berjalan santai menuju ke sebuah kantin. Ujian yang membosankan sudah terlewatkan. Tidak ada rasa gugup atau takut sedikitpun. Suasana kelas yang sepi seperti kuburan, mencekam, ditambah wajah-wajah tegang dari mahasiswa, benar-benar membuatnya bosan.

“Kim Jong-In-ssi!” Panggil salah seorang dosen.

Kai berbalik dan sedikit membungkuk. Meskipun ia mahasiswa yang tergolong buruk. Ia masih punya sopan santun untuk menghadapi orang yang lebih tua dan pantas dihormati.

“Ini undangan untuk orang tua dalam acara wisuda. Dua minggu lagi.”

“Orang tua?”

Ne. Para orang tua harus hadir dalam acara wisuda kalian.” Setelah selesai bicara, dosen itupun pergi.

“Ya! Jong-In!” seorang namja memanggil Kai dan langsung merangkulnya.

“Hai Kyung-Soo,” sapa Kai balik. Ia menyimpan kertas undangan ke dalam tas. Sehun mengerutkan kening ketika melihat ekspresi wajah Kai yang tidak bersemangat itu.

“Kau kenapa? Dimarahi dosen lagi?” secara spontan Kai menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Kyung Soo.

“Jangan murung seperti itu. Ini tahun terakhir kita. Seharusnya kau senang.” Kyung-Soo terus mengikuti Kai berjalan.

“Ya, tahun terakhir,” gumamnya.

Beberapa saat kemudian teman-temannya yang lain datang. Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun. Kai menyapa Sehun canggung karena ia teringat kejadian kemarin.

“Maaf Sehun-ah, aku tidak bermaksud mengganggu gadismu,” ucap Kai tanpa menatap Sehun.

“Tak apa aku rasa kau hanya perlu beristirahat. Akhir-akhir ini banyak pelajaran yang membuat kita jenuh. Maaf juga karena aku memukulmu.” Sehun menepuk pundak Kai dengan satu tangannya.

“Ini tidak ada apa-apanya. Rasa kesepian lebih sakit dan perlahan membunuhku.”

Kyung-Soo menghentikan langkahnya membuat semuanya ikut berhenti.

“Apa maksudmu dengan ‘kesepian’ hah? Kami selalu disini untukmu. Kami temanmu, kau ingat?”

“Do Kyung-Soo! Kau tidak tahu peraasaanku. Jadi tidak perlu berlagak jadi temanku.”

“Kai…,” lirih Chanyeol hampir tidak percaya melihat Kai membentak Kyung-Soo seperti itu.

“Kalian hanya berteman denganku karena suatu alasan ‘kan? Karena aku kaya? Karena aku populer? Karena ayahku adalah penanam saham terbesar di universitas ini. Begitu ‘kan?”

“Jong-In-ah, kami berteman denganmu tulus. Kau bisa memanggil kami saat kau butuh.” Baekhyun ikut angkat bicara.

“AH! Sudahlah!” Kai berjalan menjauhi mereka.

“Jong-In-ah!” teriak Sehun namun tidak digubris. Sehun baru saja akan berlari mengikuti Kai tapi tangan Kyung-Soo lebih dulu menghentikannya.

“Biarkan ia sendiri. Ia perlu ketenangan.”

“Kau tidak dengar? Ia sudah lama merasa sendirian. Dan sekarang kau ingin membiarkannya sendiri lagi? Dia bahkan menganggap kita bukan temannya. Dimana kita selama ini?!” ucap Sehun penuh emosi.

“Kyung-Soo benar. Kita pikirkan cara yang lebih bagus untuk menenangkannya. Hingga ia menganggap kalau kita adalah teman yang pantas untuknya,” ucap Baekhyun.

***

Kai berdiri di tepi pagar puncak gedung kampus. Napasnya memburu setelah cukup jauh ia berlari. Matanya memandang lurus ke depan. Dimana para orang-orang tampak berlalu lalang, tertawa dan mengobrol.

Dia menyedihkan bukan? Disaat orang lain bisa bercengkrama satu sama lain. Ia malah menyendiri. Persetan dengan persahabatan. Mereka semua hanya memakai topeng. Mereka semua palsu. Mereka egois, hanya memikirkan diri mereka sendiri.

Mereka punya dunia mereka sendiri, kalau begitu Kai juga punya dunianya sendiri.

***

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Kai, membuat wajahnya nyeri. Tamparan itu mengenai sudut bibirnya hingga mengeluarkan cairan pekat berwarna merah.

“Sampai kapan kau bersikap kekanak-kanakan seperti ini Jong-In-ah? Kau tahu betapa Appa susah payah mempertahankanmu agar tidak masuk catatan buruk di kepolisian?!” bentak tuan Kim kepada anaknya Kai.

Suho hanya menatap adiknya dengan pandangan datar walaupun sebenarnya ia merasa prihatin.

Kai bungkam.

Beberapa jam yang lalu ia menerima tawaran Lay untuk berbalapan. Siapa sangka kalau mereka bisa tertangkap. Entah bagaimana nasib Lay. Yang pasti Kai bisa dengan mudah keluar dari kantor polisi karena ayahnya.

“Coba lihat kakakmu! Dia benar-benar belajar, tidak hanya main-main sepertimu.”

“Sudahlah Appa, lebih baik biarkan ia sendirian sampai dia tenang.”

“Kau sama saja dengan ibumu. Pembuat masalah!” geram tuan Kim sebelum meninggalkan ruang tengah yang kini hanya tersisa Kai dan Suho.

“Kau harusnya tahu Kai, kalau kita bukan keluarga rendahan. Mestinya kau bisa menjaga sikap.”

“Ch! Dasar penjilat!”

***

Kai merenung di balkon kamarnya, menatap keluar jendela. Terhampar taman yang indah di bawah sana karena kamar Kai terletak di lantai dua. Kai tidak pernah memperhatikan keadaan rumah ini sebelumnya. Karena menurutnya disini seperti neraka. Di bawah tekanan. Kali ini ia harus mengingatnya, mengingat bahwa ia pernah tinggal di keluarga kaya, mengingat bahwa ia pernah hidup di dunia.

Kai menaiki bagar balkon lantas tersenyum miris.

“Selamat tinggal dunia, ku harap kita bertemu lagi di waktu dan keadaan yang berbeda.”

Brukk!

Terdengar teriakan histeris dari para pelayan yang berjaga di bawah. Sebagian mondar-mandir karena panik. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara Suho yang berada dalam kamarnya segera keluar karena mendengar keributan yang tidak wajar.

“Jong-In-ah!!” Pekik Suho ketika ia menemukan adiknya terkapar bersimbah darah. Dan darah itu terus mengalir dari kepalanya.

Kai masih bisa membuka matanya, samar-samar ia melihat bayangan Suho.

Hyung,” ucap Kai tercekat. Ada perasaan tenang dalam dirinya ketika ia menyebut Suho dengan sebutan Hyung. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali menyebut Suho dengan sebutan seperti itu.

“Bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan HAH?!” pekik Suho diluar kendali.

“Aku memang bodoh, Hyung. Lebih baik aku pergi. Sampaikan maaf dan terimakasihku pada ayah.”

Suho meletakkan kepala Kai di pangkuannya. Tidak peduli bahwa darah mengenai bajunya.

“Tidak. Kau tidak boleh pergi!”

Hyung, kenapa–me–menolongku?” tanya Kai terputus-putus saat merasakan tulang rusuknya seperti remuk.

“Kau adikku, Kai.” Suho merasa tangannya lemas, hampir tidak bisa menarik napas lagi saat tatapan mata Kai mulai meredup. “Kai jangan pejamkan matamu, bertahanlah!”

“Aku lelah Hyung, aku ingin tidur.”

“Apa yang kalian lakukan hah?! Cepat panggil ambulan!” Teriak Suho pada pelayan yang hanya sibuk melihati mereka berdua. “Pelayan-pelayan bodoh,” gerutu Suho.

“Mereka tidak lebih bodoh dari aku, Hyung.

“Kau bodoh karena mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini.”

“Terimakasih Hyung, terimakasih sudah menyayangiku meskipun aku baru merasakannya saat aku–aa… saat aku akan pergi. Maaf selama ini membuat Hyung dan keluarga Kim malu.”

“Kai, kau bicara apa? bertahanlah.” Tanpa diinginkan Suho, cairan bening mengalir di pipinya. Mengalir begitu saja.

“Kai!!” Mata coklat itupun menutup dengan tenang, menyisakan lirihan putus asa dan isakan yang tertahan.

***

Bunyi pendeteksi jantung terdengar teratur namun menakutkan. Menjadikan ruangan serba putih itu begitu mencekam. Satu persatu orang berpakaian putih masuk secara bergantian. Sekedar memeriksa keadaan pasien atau mengganti kantung infusnya.

Sudah tiga hari Kai dirawat di rumah sakit. Dan ia belum sadarkan diri. Keadaannya masih kritis. Sementara teman-teman kampusnya, Sehun, Kyung Soo, Chanyeol dan Baekhyun setiap hari menjenguk, memastikan keadaannya.

Tubuh Kai berbalut perban dimana-mana. Selang medis terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Keadaan itu membuat siapapun yang melihatnya merasa prihatin.

“Kai, apa kau tidak lelah tidur lama seperti ini?” lirih Kyung-Soo yang berdiri di samping ranjang Kai. Kyung-Soo menatap nanar Kai yang terbaring lemah.

Kyung-Soo memang tidak tahu seberapa sakit yang Kai rasakan sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya seperti ini. Kai benar, Kyung-Soo tidak pantas disebut teman karena ia tidak tahu apa yang dirasakan Kai selama ini.

Kyung-Soo memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia disana. Ia mengarahkan pandangannya keluar jendela. Tiba-tiba ia kembali berdiri saat melihat Tuan Kim berada di depan ruangan rawat Kai.

Pintu perlahan terbuka. Muncullah sosok pria dewasa dengan garis wajah tegas dan tubuh yang masih tegap. Kyung-Soo membungkuk hormat. Sementara pria itu hanya mengabaikan Kyung-Soo. Pria itu menghampiri ranjang Kai dan menatap Kai dengan pandangan sedih.

“Jong-In-ah, maafkan Appa nak…” lirih pria itu.

“Percayalah Tuan, Kai pasti segera sembuh. Dia adalah laki-laki yang kuat,” sahut Kyung-Soo. Entah mendapat dorongan darimana Kyung-Soo berani bicara pada Tuan Kim.

Tuan Kim menatap Kyung-Soo sejenak, lantas menunduk lagi menatap Kai.

“Jong-In bukan anakku.”

Kyung-Soo membelalakkan matanya tidak percaya. Tapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya. Berusaha dengan tenang mendengarkan cerita Tuan Kim selajutnya. Kyung-Soo mulai mendapat titik terang kenapa Kai diperlakukan secara berbeda oleh Tuan Kim dan penyebab Kai merasa tidak betah berada di rumahnya.

“Jong-In adalah anak dari Misun–ibu Jong-In dan suaminya sebelumnya, sementara Suho adalah anakku dan istriku yang sudah meninggal. Kami menikah dan membawa masing-masing anak.

“Dulu, aku memperlakukan Jong-In sama seperti Suho. Melimpahkan kasih sayangku kepada mereka berdua tanpa ragu. Memberikan apapun yang mereka inginkan. Dan aku berusaha menganggap Kai seperti anakku sendiri.

“Sampai suatu hari, ketika aku pulang dari luar kota, aku melihat sesuatu yang tidak ingin ku lihat. Misun menghianatiku! Dia berselingkuh dengan klien-ku sendiri.

“Di luar kendaliku, aku memukul wajah Misun. Kemarahanku benar-benar terasa di ubun-ubun. Harga diriku seakan diinjak-injak. Wanita yang aku muliakan, mengkhianatiku di depan mataku sendiri. Kemudian aku mengusir wanita jalang itu beserta pria brengsek yang bersamanya. Sejak saat itu pandanganku berubah. Berubah terhadap apapun termasuk pada Jong-In, anak yang dibawa Misun.

“Saat itu Jong-In sedang tidak berada di rumah sehingga Misun hanya pergi sendiri sementara Jong-In tetap tinggal. Saat Jong-In bertanya akan keberadaan Misun, aku hanya bisa menjawab kalau wanita itu sudah pergi bersama kekasihnya.

“Aku sangat merasa bersalah karena bersikap tidak adil pada Jong-In padahal anak laki-laki ini tidak bersalah sedikitpun.” Tuan Kim menunduk dalam. Mata pria itu mulai memanas. Apalagi melihat keadaan Kai yang sangat memprihatinkan.

“Tuan… Kai pasti memaafkan anda,” ucap Kyung-Soo menenangkan.

Tuan Kim menghela nafas, lantas melirik jam tangannya.

“Ku rasa aku harus pergi. Tolong jaga Jong-In, Kyung-Soo-ssi.” Kyung-Soo mengangguk sopan. Tuan Kim melirik Kai sebentar lantas melangkah pergi. Baru beberapa langkah yang diambil pria itu, ia kembali berhenti karena suara seseorang yang memintanya berhenti.

Appa… kajima (Ayah… jangan pergi),” ucap Kai lirih. Kai berusaha membuka matanya yang berat. Ia pun harus mengumpulkan energinya untuk bersuara. Karena tiga hari koma membuat syarafnya tidak berfungsi dengan baik.

“Jong-In-ah!” Tuan Kim menghampiri Kai lantas menggenggam tangan Kai.

Appa, aku sudah dengar semuanya.”

“Maafkan Appa…”

Appa tidak salah, sudah sepantasnya Appa bersikap seperti itu karena aku bukan anak kandung Appa. Maaf selalu merepotkan anda dan terimakasih sudah merawatku selama ini, Tuan Kim.”

“Kau bicara apa Jong-In-ah? Harusnya aku yang minta maaf padamu.”

Appa akan mengeluarkanku dari rumah setelah aku tahu bahwa aku bukan anak Appa, begitu kan?”

“Tidak. Kau akan tetap tinggal di rumahku dan kau tetap menjadi Kim Jong-In, anakku.”

Tanpa diperintah, cairan bening mengalir begitu saja di pipi Kai. Ia tidak menyangka bahwa Tuan Kim begitu baik padanya. Kai tidak tahu lagi harus mengatakan apa sampai Kyung-Soo datang bersama para tim medis.

Kai diperiksa. Tekanan darah, denyut nadi, pupil mata dan lainnya. Dokter mengatakan bahwa keadaan Kai sudah membaik, setelah itu ia keluar. Kembali menyisakan Kai, tuan Kim dan Kyung-Soo.

“Aku berjanji akan membanggakan Appa,” ucap Jong-In tegas. ‘Aku janji’ sambungnya dalam hati.

Mereka saling melempar senyum. Sesaat ruangan itu hening. Kemudian terdengar keributan dari luar. Suara berat Chanyeol terdengar hingga ke dalam ruang rawat Kai begitu pula dengan suara Baekhyun, Sehun dan ada Suho juga. Sepertinya mereka sudah saling kenal dan mereka pasti senang sekali melihat Kai sudah sadarkan diri.

Pintu ruangan itu perlahan terbuka.

“Kai!!” pekik Chanyeol refleks, melihat Kai yang sudah sadar dan duduk di atas tempat tidurnya. Sementara Baekhyun yang berada di samping Chanyeol tanpa ragu-ragu mencubit pinggang pria itu sampai terdengar ringisan yang cukup berarti. Sepertinya sakit.

Baekhyun tersenyum minta maaf lantas segera menghampiri Kai, menghindari omelan Chanyeol. Sehun tertawa kecil di belakang mereka.

“Hai Kai, bagaimana keadaanmu?” tanya Sehun.

“Sudah lebih baik. Maaf merepotkan kalian. Aku sudah bertindak bodoh.”

“Tidak apa-apa, Kai. Sekarang kau hanya perlu menenangkan diri agar kau cepat sembuh,” sahut Baekhyun.

“Kai, aku senang kau sudah sadar,” ucap Suho yang sejak tadi hanya memperhatikan Kai beserta teman-temannya bicara.

“Terimakasih Hyung… berkat kau–”

Ucapan Kai terpotong saat Suho memeluk Kai hangat. Hanya sejenak. Pelukan kakak pada adiknya. Entah mengapa Kai begitu menyesali akan sikapnya kepada Suho dulu. Ia menyesal karena tidak menuruti perkataan Suho dan ia menyesal karena menganggap Suho adalah orang jahat.

“Cepat sembuh Kai agar kita bisa menghadiri acara wisuda.”

“Oh iya, Appa,” Kai berdeham, “Mau kah Appa menghadiri acara wisudaku?”

“Tentu saja, anakku.”

END

 

Huaahh ~!! Komen komen!! Maafin saya ngegalauin si Kai, abis saya gak pernah baca karakter Kai yang tersiksa macam ini xD

FF ini pernah publish di suatu tempat.

43 thoughts on “Here I Am

  1. Suka suka… Suka aja kalo ada ff dgn kai yg tersakiti #plak
    Huhu galau ih.. Kai begitu menyedihkan..
    Tapi,, happy ending!!! Yehet!!😀
    good job (*-*)b

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s