Posted in Chapter, Chen, D.O, EXO-K, kanemin, Marriage Life, Romance

Truly, I Love You (chapter 12)

truly-i-love-you2_zps73bebecb

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin (@kanemin_) | Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is  just a fiction 😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-chapter 12-

-0-

“Perasaan itu pun semakin sulit untuk di jelaskan.”

 

Indonesia, 2010

“bunda, jadinya kyungsoo itu kapan mau kesini lagi?” Tanya sakura kecil sembari berdiri didalam mobilnya dan memerhatikan ayahnya menyetir.

“duduk sakura, dan pakai sabuk pengamannya.” Suruh nyonya widya, mengingatkan putrinya.

“ga mau ah, aku kan mau liat ayah nyetir. Jadi kapan kyungsoo kesini lagi bunda?”

“mungkin masih lama, mereka kan baru pulang minggu lalu sakura. kamu udah kangen kyungsoo memangnya?”

“iya, dia nyebelin sih. Tapi sakura suka.”

Tuan Arnold dan nyonya Widya hanya tersenyum menanggapi perkataan sakura. “ayah, kalau sakura tutup matanya ayah, masih bisa nyetir ga?”

“huh? Ya ga bisa lah sayang. Nanti kalau kita kecelakaan gimana?”

“iya juga ya.”

Sakura kecil terus saja mengoceh dan masih tetap tidak mau duduk dengan manis di bangkunya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Bandung untuk urusan bisnis. Perjalanan lancar, karena dari arah Jakarta jalan tidak begitu padat seperti biasa. saat di pintu tol pun, mobil mereka tidak perlu mengantri lama. namun, beberapa kilometer dari pintu tol cipularang, saat mobil yang di kendarai tuan Arnold mencoba untuk mengambil badan jalan sebelah kiri, tanpa diduga-duga, truk yang membawa berton-ton baja menghantam sisi kiri mobil sedan tersebut.

Mobil berwarna hitam itu terlempar jauh beberapa kilometer setelah sebelumnya sempat menabrak pembatas jalan. Mobil hancur, tuan Arnold dan nyonya widya masih duduk di kursinya dengan tubuh yang bersimbah darah, sakura kecil yang tadi hanya berpegangan pada jok ayahnya saat truk menghantam sudah terlempar keluar dari kaca jendela yang pecah.

Sakura kecil berusaha membuka matanya, walau samar ia masih bisa melihat orang-orang yang berdiri mengerumuninya. Kepalanya berdarah, darah segar terus mengalir dari puncak kepalanya akibat benturan hebat yang terjadi. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dengan lirih sakura masih mampu mengucapkan sepotong kalimat. “bunda..” dan segalanya gelap.

-0-

Pukul 12 malam waktu seoul

“bundaaaaaa..” teriak sakura kencang. Dia terbangun sembari memegangi selimutnya, keringat dingin mengucur dengan derasnya di pelipis dan juga punggungnya. Nafasnya tersengal tak menentu. Sakura mencoba mengembalikan kesadarannya secara penuh, meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat sebelumnya hanyalah mimpi.

Sakura meminum air yang terletak di meja kecil sebelah ranjangnya. Dia melihat jam dinding, sudah tengah malam. Setelah menarik nafasnya berkali-kali mencoba tenang, terdengar ketukan pelan dari pintu kamarnya. Sakura beranjak dan perlahan membukanya.

Dengan segelas air yang baru diambilnya dari dapur, D.O berdiri menunggu sakura membukakan pintunya. saat ia melintas tadi, D.O mendengar teriakan dari dalam kamar sakura, karena khawatir D.O memutuskan untuk mengetuknya. Setelah beberapa saat sakura baru membuka pintu kamarnya. “kau baik-baik saja?” Tanya D.O langsung, sakura terlihat tidak seperti biasanya saat pintu terbuka. Matanya sedikit merah dan keningnya juga berkeringat padahal udara cukup dingin malam itu.

“hm.” Jawab sakura dengan gumaman singkat.

“sungguh?”

“hm.”

D.O mengulurkan tangannya dan mengelap keringat di kening sakura, “kalau ada apa-apa ketuk saja kamarku.”

Sakura menunduk, dan mengangguk singkat. tanpa menunggu lama ia langsung menutup pintu kamarnya meninggalkan D.O yang masih terdiam di tempatnya. dia tidak percaya dengan ucapan sakura, jelas sekali kalau gadis itu baru mengalami sesuatu. Setelah beberapa menit, D.O baru beranjak dari tempatnya, kembali ke kamarnya.

Sakura menarik selimutnya lagi, dan mencoba memejamkan matanya. Namun, saat percobaannya yang kesekian sakura kembali bangkit dan mengela nafasnya keras. Sakura memeluk boneka beruangnya, setelah merapikan rambutnya sakura keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar D.O perlahan.

Tak lama kemudian D.O membuka pintu kamarnya, “aku boleh masuk?” Tanya sakura begitu D.O sudah berdiri di hadapannya.

“hm. Masuklah.” D.O membuka pintu kamarnya lebih lebar, setelah sakura masuk dia langsung menutup lagi pintu kamarnya.

Begitu masuk kedalam kamar, sakura langsung mengambil tempat di pinggir ranjang, D.O mengikutinya dan duduk di depannya. “ada apa?”

Sakura memeluk erat boneka beruangnya. “aku takut. Aku mimpi buruk.”

D.O menatap sakura dengan tatapan geli, dia mengangkat ujung bibirnya, tersenyum singkat, “jadi Karena itu kau sampai berkeringat tadi?”

Sakura mengangguk pelan. “tapi mimpi itu betul-betul seram kyungsoo, aku mimpi, ergh, aku mimpi kecelakaan itu.”

D.O mengerutkan keningnya, “kecelakaan apa?”

“kecelakaan 10 tahun yang lalu, aku bermimpi tentang kejadian tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Padahal selama ini, aku tidak pernah ingat apapun dengan kejadian sejak aku kecil sampai hari dimana kecelakaan itu terjadi. Dan sekarang aku memimpikannya, aku takut.” Jelas sakura panjang, dia menunduk lemah setelah berkata demikian.

D.O mengelus pundak sakura lembut, “itu kan hanya mimpi, lagipula memangnya kau yakin kalau kejadian itu benar-benar terjadi, kau bilang kan kau tidak ingat apapun tentang semua hal sebelum dan saat kejadian. Tenanglah.”

Sakura menggeleng keras, “kejadian itu memang benar terjadi kyungsoo. aku ingat. Sungguh.”

D.O memegang kedua bahu sakura, “lihat aku.” suruhnya dengan nada tegas. Sakura mengangkat kepalanya, dan menatap kedua bola mata coklat D.O, “itu hanya sebatas mimpi, dan sama sekali tidak ada yang perlu kau takuti dari sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak tahu kejadian itu penah terjadi atau tidak. jadi, lupakanlah dan kembalilah tidur. Mengerti?”

Dengan helaan nafas yang pelan, sakura mengangguk. “arasseo.”

Sakura kembali mengeratkan pelukannya pada boneka beruangnya, walau sedikit ragu sakura mulai beranjak dari kasur.

D.O’s POV

Aku melihat ketakutan dimatanya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya diimpikannya sampai ia jadi begitu ketakutan seperti sekarang ini, tapi melihatnya lesu seperti itu membuatku sedikit khawatir. Saat sakura baru akan mencapai pintu, aku meraih tangannya. “sakura.” panggilku. Dengan boneka besar yang sedang di peluknya, ia menoleh. “ehm, kalau kau masih takut, ehm kau bisa tidur disini.” Kataku dengan suara yang pelan.

“huh?” sembari mengerjapkan matanya beberapa kali sakura menatapku dengan tatapan polosnya.

“jadi kalau kau nanti mimpi buruk lagi, kau ergh..”

“aku bisa langsung minta tolong padamu?” ucap sakura melanjutkan kalimatku, aku menghela nafasku, baguslah gadis ini mengerti arah pembicaraanku. Aku tak ingin dia malah mengira yang macam-macam padaku.

Sakura menatapku lagi, menyipitkan matanya dan kemudian mengangguk. “baiklah, tapi..” sakura menggantung kalimatnya, secara bergantian dia melihat kearahku dan juga kearah tempat tidur. Ah, aku mengerti.

“aku akan membuat jarak. Tenang saja.” ujarku kemudian. Aku yakin itulah yang sedang ada dalam benaknya sekarang ini. bagaimanapun tetap saja, aku laki-laki dan dia perempuan. Walau aku dan dia sudah memiliki status ‘itu’, ibuku sudah membuatku bersumpah untuk tidak menyentuh sakura sampai gadis itu berumur 20 tahun.

Sakura menggenggam selimutnya erat, matanya terus menatap ke langit-langit. Boneka beruangnya ia sandarkan di ujung ranjang. Aku meliriknya sekilas sebelum ikut merebahkan diriku di ranjang. Tangan kiriku kuletakkan dibawah kepalaku, kebiasaanku saat aku belum berniat untuk benar-benar tidur.  “tidurlah.” Ucapku.

Kudengar sakura mendesahkan nafasnya, “selamat malam kyungsoo.” ujarnya sebelum membalikkan dirinya membelakangiku.

“hm.” Gumamku, aku menoleh kearahnya sekilas sebelum kembali menatap langit-langit kamarku.

Satu jam sudah berlalu, pukul 1 pagi dan aku belum juga dapat memejamkan mataku. Rasanya tak tenang, entahlah, apa mungkin karena ada seseorang di sebelahku? aku mendengus, entahlah. Saat kulihat sakura, nafasnya teratur, gadis ini pasti sudah lelap tertidur.

Aku memiringkan tubuhku, dan dapat dengan jelas kulihat belakang tubuh sakura. aku tahu sakura memang kurus, tapi aku tidak pernah tahu kalau gadis ini ternyata sekurus itu. tubuh sakura bergerak pelan, dan tiba-tiba saja ia membalik tubuhnya. Menghadapku.

Mataku membulat dan mengerjap berkali-kali. Aku bahkan sempat menahan nafasku beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskannya pelan. kepala sakura bergerak-gerak perlahan membuat beberapa helai rambutnya menutupi wajahnya. Entah keberanian darimana, aku mengulurkan tanganku. Dengan gerakan yang begitu pelan, aku menyingkirkan rambut tersebut dari wajahnya. Wajahnya yang bagai malaikat itu sekarang bisa kulihat dengan jelas.

Gadis polos bermata besar yang suka membantah. Hampir 4 bulan sudah berlalu sejak pertama kali melihatnya, dan itu lah kesan yang kudapat darinya. Aku memandangi lagi wajah damai sakura yang begitu tenang dalam tidurnya itu. kalau saja dia tak sering membantahku dan mendengarkan dengan baik semua laranganku, mungkin dia akan jadi gadis manis yang menyenangkan. Kuakui apa yang selama ini teman-temanku katakan memang benar, sakura memang manis. Bahkan sudah beberapa kali sakura membuatku terpana dengan kecantikannya yang begitu alami.

Aku mengulurkan lagi tanganku mengelus pipinya, lekuk matanya, hidungnya, dan bibir kecilnya. Tanganku berhenti di bibir sakura, sulit dipercaya bibir inilah yang pernah kucium. Ciuman pertamaku. Kalau mengingatnya, aku kadang malu pada diriku sendiri yang entah kenapa dalam keadaan yang sangat sadar bisa-bisanya melakukan hal itu, namun, disaat yang bersamaan, bagai candu aku juga ingin menciumnya. Lagi.

“eungh.” Tiba-tiba sakura bergumam dan langsung membuka matanya. Dengan cepat aku menarik tanganku.

“wae?” tanyaku cepat.

“aku mimpi buruk lagi.” mata sakura mulai basah, dia juga terisak pelan.

Author’s POV

D.O memandang bingung gadis di depannya, dia menelan ludahnya, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Saat sedang sibuk berpikir sakura sudah menangis dan terisak dengan hebatnya. D.O berdecak pelan, dan menarik gadis itu dalam pelukannya. “tenanglah, aku disini.” Ucapnya. D.O melingkarkan tangannya di pinggang sakura, menarik gadis itu untuk lebih dekat dengannya.

Awalnya sakura terkejut dengan perlakuan D.O, namun tak dapat dipungkiri dia merasa lebih tenang dalam pelukan laki-laki beraroma karamel yang manis itu. sakura menenggelamkan kepalanya di dada D.O, mimpinya memang masih mimpi yang sama dan itu tetap membuatnya takut. Sakura yakin kalau kejadian itu memang benar kecelakaan 10 tahun yang lalu. Tapi terlalu banyak darah dalam mimpinya dan membayangkannya malah membuatnya semakin mengkerut ketakutan.

Sakura meraih baju D.O dan menggenggamnya. Menyadari tarikan dari sakura, D.O mengelus kepala sakura, “gwenchana, aku disini.” Katanya, D.O mencium puncak kepala sakura lembut.

Tak terdengar isakan lagi dari sakura, nafasnya juga sudah perlahan tenang dan teratur. D.O terus mengelus kepala sakura, agar  gadis itu yakin bahwa D.O ada bersamanya. Beberapa menit kemudian, sakura sudah memejamkan matanya rapat, kembali tertidur. D.O memang masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sakura takutkan dari suatu mimpi. Baginya semua mimpi itu sama. Statusnya hanya sebatas mimpi, dan ketika sakura sampai begitu takut hanya karena memimpikan sesuatu, D.O tak benar-benar yakin cara apa yang paling baik untuk menenangkannya.

Dari jarak yang sedekat ini, sebagai seorang laki-laki normal D.O berusaha dengan keras untuk menahan dirinya, D.O memandangi lagi wajah teduh sakura, aroma tubuh sakura yang sangat disukainya itu menguar begitu hebat memenuhi rongga-rongga pernafasannya. D.O menyerah, dia menurunkan kepalanya, mencium kening sakura, kedua kelopak matanya dan berhenti tepat  di depan bibir sakura. “sakura. mianhae.” Dan kecupan lembut diberikannya setelah berkata demikian.

Bagi seorang laki-laki  mencuri ciuman dari gadis yang sedang tertidur memang memalukan. Tapi, D.O tetap melakukannya, dan senyuman tipis tak bisa ia sembunyikan setelahnya.

Satu lagi malam indah dari malam-malam sebelumnya  dalam hidupnya.

-0-

Sakura’s POV

Sinar mentari terasa begitu menusuk saat aku membuka mataku. Kyungsoo sudah tak ada lagi di sebelahku, mungkin dia sudah bangun duluan. Pikirku. Aku meraih boneka beruangku dan beranjak keluar kamar. Saat aku membuka pintu, kulihat kyungsoo sedang menaiki tangga. Dia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, kelihatan segar dan tentu saja tampan. Aku tersenyum kearahnya begitu ia sedang berjalan mendekat, mungkin akan mengambil tasnya di kamar..

“pagi, kyungsoo.” sapaku hangat.

Kyungsoo menghindari tatapan mataku, dan bergumam singkat. dia segera berlalu melewatiku. “kyungsoo.” panggilku.

Dia berdiri tepat di depan pintu kamarnya, beberapa langkah di belakangku, aku berbalik. “untuk yang semalam, terima kasih.” Ucapku tulus.

Kyungsoo terbatuk pelan, dia masih mencoba untuk menghindari tatapanku, aneh sekali kelakuannya pagi ini. “hm.” Timpalnya singkat, dan langsung masuk ke kamarnya.

Aku mengerutkan alisku bingung, “dia kenapa sih? Aneh.” Gumamku, aku melihat jam di dinding dan segera terkesiap karena sekolah akan dimulai sekitar 15 menit lagi dan aku sama sekali belum bersiap-siap. Dengan gerakan cepat yang super kilat, aku masuk ke kamarku, dan bersiap.

-0-

Authos’s POV

Sakura memegangi perutnya selama pelajaran, karena telat ia tak sempat sarapan tadi. Dan bekal yang diberikan ahjumma juga ia tinggal di mobil Karena ia sudah lebih dulu lari terbirit ke kelasnya agar tidak dihukum. Sakura melihat jam tangannya, sebentar lagi waktu istirahat tiba, dia sudah memasang kuda-kuda, agar langsung berlari ke kantin begitu bel berbunyi.

“sakura, kau mau ikut denganku ke perpustakaan tidak?” Tanya eunyeol setengah berbisik. Takut didengar oleh gurunya.

“shirheo, aku harus ke kantin. Aku tidak sarapan tadi.” Tolak sakura, dan sesaat setelah mengatakan itu, bel berbunyi, sakura segera berlari keluar kelas, bahkan Han seonsaengnim belum menyudahi pelajarannya. Melihat kelakukan sahabatnya, eunyeol hanya tertawa mengejek dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Eunyeol menelusuri setiap deretan buku di rak bagian bahasa, untuk menambah nilainya yang jelek di ujian bahasanya minggu lalu, eunyeol memang di minta untuk meresensi sebuah buku. “ini dia!” pekiknya bersamaan dengan pekikan orang di sebelahnya yang juga menunjuk buku yang sama.

Eunyeol menoleh dan mendapati laki-laki jangkung kurus bermata coklat yang tengah memandangnya. “aku duluan.” Kata eunyeol.

Sehun menaikkan alisnya, “ya! aku yang menemukan ini duluan. Jadi aku yang akan mengambil ini.” tanpa menunggu lama, sehun langsung menarik buku tersebut dari barisannya.

“ya!” desih eunyeol, “jelas-jelas aku yang duluan. Kemarikan bukunya.” Dengan cepat, eunyeol menarik buku bersampul tebal tersebut dari pelukan sehun.

“ck! Kau ini keras kepala sekali. Aku yang duluan.”

“keras kepala? Jelas-jelas kau yang keras kepala. Aku yang duluan!”

“psssttt.” Tiba-tiba Kai muncul dari belakang sehun dan berdiri diantara mereka berdua sembari memandanginya. “kalian itu berisik sekali. Ini kan perpustakaan. Dari yang kulihat, kalian berdua menemukan buku itu bersamaan, ya sudah gunakan saja sama-sama. Susah sekali.” Komentarnya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“shirheo!” hentak sehun dan eunyeol berbarengan.

Kai menaikkan alisnya, secara bergantian dipandanginya sehun dan eunyeol. “aigoo. Sehun-ee, mengalah saja. kau kan laki-laki.”

“mwo?! Mengalah untuk dia? Tidak akan!”

Eunyeol mendesis pelan, dia menatap sehun dengan ganas.

“ah terserahlah. Oh eunyeol-ah, kau suka hadiah dari sehun?” Tanya kai dengan entengnya, tiba-tiba mengubah arah pembicaraan tanpa memedulikan ekspresi sehun yang langsung berbubah pucat.

Eunyeol memandang kai, “oh, ehm lumayan. Tapi aku lebih suka hadiah dari baekhyun oppa.”

“eoh? Hyung benar-benar memberikan hadiahnya padamu?” Tanya kai lagi, dan kali ini lebih bersemangat.

“hm.” Jawab eunyeol seraya mengangguk. Dia melirik sehun, dan laki-laki itu juga sedang memandangnya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.

Sehun berdecak pelan. “ambil saja bukunya. Aku tak butuh.” Katanya ketus, dan segera berlalu meninggalkan eunyeol dan kai yang menatapnya bingung.

“kenapa dia?” ucap eunyeol polos.

Kai menarik nafasnya dan menghembuskannya cepat. “kau seharusnya tak mengatakan tentang hadiah baek hyung di depan sehun. Aigoo.”

“wae? Memang ada yang salah?”

“jadi kau tak paham?”

Eunyeol menggeleng.

“eiihh, kalau aku bilang, sehun akan menelanku setelah ini. pikirkan saja sendiri, eunyeol-ah. Aku pergi.” Setelah melambaikan tangan singkat, kai menghilang di balik rak-rak buku.

Eunyeol memandangi buku di tangannya, “pikirkan apa? Sehun?” gumamnya. Eunyeol mendesah pelan, sedikit menyesali apa yang ia ucapkan sebelumnya. entah kenapa dia malah menyebutkan kata lumayan yang sebenarnya sangat berbanding terbalik dengan apa yang sesungguhnya ia rasakan pada hadiah sehun, hadiah yang ia katakan sebelumnya sangat manis.

Eunyeol mengangkat bahunya, kalau saja sehun tak menyebalkan seperti tadi. Mungkin eunyeol bisa lebih jujur. Mungkin.

-0-

Sudah lama sejak kepulangan mereka dari jepang, tim baseball belum juga mendapat jadwal untuk latihan. Walau terasa melelahkan tetapi tidak latihan sama sekali seperti ini terasa lebih buruk bagi beberapa pemain, seperti baekhyun dan chanyeol yang sedang duduk-duduk sembari bersandar di jaring pembatas lapangan. Chanyeol memakai sarung tangan baseballnya dan sudah sejak beberapa menit yang lalu, ia saling melempar bola bersama baekhyun. “ah aku bosan sekali. Sungguh.” Keluh chanyeol.

“aku juga. Bagaimana mungkin pelatih sama sekali tak menjadwalkan kita untuk latihan, lelahku saat pertandingan di jepang sudah hilang sejak berhari-hari yang lalu.” Timpal baekhyun.

“baek. Ngomong-ngomong, kau ingat tidak apa yang di ceritakan sehun kemarin?” Tanya chanyeol sembari menegakkan duduknya.

Baekhyun menggeleng, “apa?”

“yunju pindah ke sekolah kita. Kau masih ingat dengannya kan? Yunju. Seo Yunju yang cantik itu.”

Baekhyun memiringkan kepalanya, berpikir. “seo yunju, seo yunju” katanya berulang-ulang sembari berusaha mengingat. “ah! Seo Yunju yang itu?”

Chanyeol mengangguk cepat, “awalnya kukira sehun hanya bercanda, ternyata benar. Aku melihatnya saat sedang melewati kelasnya suho hyung.”

“dia sekelas dengan suho hyung?”

“eoh. Dan berarti juga dia sekelas dengan uri do kyungsoo.” chanyeol membuka roti yang tadi dibawanya dan memakannya dengan lahap.

Baekhyun melebarkan mata sipitnya, “jinjja? Woah. Daeeeebak.”

“apanya yang daebak? Aku justru kesal, kenapa tidak di kelas kita saja. kita kan kekurangan gadis cantik di kelas. Lagipula, mungkin saja aku dan yunju bisa berjodoh.”

‘plak’ dengan snack di tangannya, baekhyun menimpuk kepala chanyeol.

“ah wae?” protes chanyeol dengan mulutnya yang penuh.

“kau masih berharap padanya? Jelas-jelas yunju tak pernah melirikmu sedikitpun, bodoh. Dia kan menyukai D.O”

“kau tahu darimana memangnya?”

“ya! apa kau tak ingat dulu, diantara kita berenam siapa yang selalu yunju mintai tolong? Hanya D.O, ya suho hyung juga sih. Tapi jelas sekali sikapnya pada D.O itu berbeda dengan sikapnya kepada kita.”

“jinjja?”

“eoh. Jadi kau tidak usah berharap, aku yakin yunju muncul lagi sekarang karena ia tidak bisa melupakan D.O, ah aku tidak setuju kalau ada salah satu diantara kita yang berpacaran dengannya.”

“kenapa? Jangan-jangan kau juga diam-diam menyukainya?”

“bukan. Apa kau lupa, bagaimana dulu dia pergi tanpa sepatah katapun kepada kita, dan hilang kontak begitu saja. dia terlalu seenaknya.”

“hmmpph.” Tiba-tiba saja chanyeol menahan tawanya.

“wae?!”

“kau terdengar seperti ahjumma-ahjumma di sekitar rumahku yang sering bergosip baek. Sudah lah, kau setuju ataupun tidak, yunju kan tidak mungkin bersama D.O, memang sakura mau dikemanakan?.”

Baekhyun tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. “benar juga.”

“yang penting sekarang adalah, pulang sekolah ini aku harus menemui pelatih. Aku ingin latihan.” Chanyeol tiba-tiba berdiri dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, baekhyun memandangnya dengan aneh. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, siapapun yang suatu saat nanti akan bersama chanyeol, ia selalu berharap agar gadis itu bisa sabar menghadapi laki-laki jangkung yang kadang bersikap bagai alien ini.

-0-

Hampir sebagian besar murid langsung keluar kelas begitu mendengar bel pulang sekolah berbunyi, namun sebagian lainnya memilih untuk menetap di kelas menyicil materi tugas bersama anggota kelompok mereka. Suho, Yunju dan D.O sudah duduk di ujung ruangan melingkari sebuah meja. Setelah pengundian tadi, mereka memang menjadi satu kelompok.

Suho membolak-balik buku yang tadi di pinjamnya di perpustakaan saat jam istriahat, sedangkan yunju mengetik kata kunci di tabnya untuk mencari bahan tugas di internet. Dan D.O dengan tekunnya tengah menulis beberapa poin-poin penting yang di temukan dari buku di tangannya.

Ponsel suho berdering memecah keheningan, “ne?” katanya setelah menggeser tanda hijau. “ah arasseoyo eomma… Ne” tak lama suho segera memutus sambungan teleponnya. “ehm, D.O-ya, Yunju-ya, mianhae, aku harus mengantar ibuku sore ini, tapi aku akan segera mengerjakannya begitu aku ada waktu kosong malam ini. janji.”

D.O melirik suho dan mengangguk.

“ne oppa. Hati-hati di jalan.” kata yunju.

Suho mengangguk singkat, sebelum ia pergi suho juga menepuk pundak D.O. mengerti arti tepukan suho, D.O hanya mendesah pelan. setelah suho keluar dari ruangan kelas, D.O segera kembali sibuk dengan kegiatannya.

Yunju menatap D.O, suasana langsung berubah canggung dan terasa begitu kaku. Saat suho masih bersama mereka, yunju memang sudah tidak bisa berkonsentrasi penuh, dan saat suho pergi, yunju semakin tidak bisa mengontrol perasaan dalam hatinya yang entah kenapa begitu berdebar menyadari D.O tengah duduk tenang di hadapannya.

“D.O-ya.” panggil yunju dengan suara yang amat pelan. tidak ada jawaban.

“D.O-ya.” yunju menaikkan volume suaranya, masih tak ada jawaban.

“D.O-ya.”

“hm.” Gumam D.O sebagai jawaban di panggilan ketiga.

Kepalan tangan yunju mengerat, telapak tangannya sudah basah sejak beberapa menit yang lalu, sejak percakapannya dengan suho kemarin, keberaniannya memang seolah menciut untuk kembali mendekati D.O, tapi yunju juga tak mampu menahan perasaannya terhadap laki-laki dingin itu, yang walaupun sering berkata ketus tapi jauh dalam dirinya memiliki sikap yang begitu lembut yang bahkan bisa melelehkan siapapun yang ia berikan kelembutan itu dan yunju ingin merasakan kelembutan itu. Lagi.

“kau masih ingat ibuku?” Tanya yunju kemudian. D.O dan teman-temannya sering berkunjung ke rumahnya dulu, dan dari keenam laki-laki tersebut, D.O lah yang selalu mendapat pujian dari ibunya. Tak dapat dipungkiri, ibunya memang menjadi penggemar D.O sejak lama.

“hm.”

“beliau sudah meninggal. Sebulan yang lalu.”

Begitu yunju berkata lagi, D.O langsung menghentikan kegiatan menulisnya dan menatap yunju dalam. Dia ingat wanita paruh baya yang selalu memintanya untuk menjadi menantunya itu, dia ingat bagaimana wanita paruh baya yang selalu memperlakukannya istimewa itu dan ia ingat bahwa wanita paruh baya itu adalah orang yang paling dicintai yunju bahkan mungkin melebihi dirinya sendiri.

D.O terdiam di tempatnya, dapat dilihatnya sorotan kesedihan yang yunju pancarkan dari kedua bola matanya. “sakit keras. Hampir satu tahun beliau menanggung sakitnya dan akhirnya Tuhan memutuskan untuk mengambilnya.”

D.O berdehem pelan. “aku turut berduka cita.”

“di hari-hari terakhirnya, dia sempat menanyakan kabarmu beberapa kali. Dan untuk menyengkannya, aku bilang kau baik-baik saja. untungnya aku benar, melihatmu sekarang kau pasti hidup dengan baik selama ini.”

“kenapa kau tak menghubungiku langsung saat itu?” nada suara D.O sedikit meninggi. Yunju memang membuatnya jengkel dan ia memang tak ingin lagi berurusan dengan gadis itu. tapi, D.O bisa merasakan duka yang amat besar yang sedang di rasakan yunju mengingat betapa dekatnya hubungan yunju dengan ibunya.

“aku. aku merasa tak pantas kalau secara tiba-tiba menemui kalian lagi. Apalagi kau.”

Suara yunju bergetar, matanya juga mulai berair. D.O menghela nafasnya. Tak tega meneruskan pembahasan tersebut. dia tak mengatakan apa-apa lagi, setelah menyerahkan sapu tangannya pada yunju, D.O kembali melanjutkan kegiatan menulisnya.

Langit petang begitu gelap tanda akan hujan, D.O melihat kelangit sore di atasnya. Angin dingin berhembus, sangat disesali ia tak membawa jaketnya. Di sebelahnya yunju tengah memakai syal hitamnya, “kau tak dingin D.O-ya?” tanyanya lembut.

“ani. Apa kau di jemput?” D.O balik bertanya.

Yunju menggeleng, “supirku sedang sakit. Aku akan naik bus.”

“kau bisa ikut mobilku.” Tawar D.O, hujan sudah bisa di pastikan akan turun dengan lebatnya. Dan ia tak tega membiarkan seorang gadis pulang sendiri saat langit mulai gelap apalagi di musim dingin seperti ini.

“eoh gwenchana. Aku tak ingin merepotkanmu.”

“aku tak merasa di repotkan. Kaja.” D.O berjalan mendahului yunju.

Yunju mematung di tempatnya, laki-laki itu memang penuh kejutan. Dan seperti yang sudah yunju duga sebelumnya, bagaimanapun kebaikan hati D.O memang tidak akan pernah berubah.

-0-

“kau mengerti kan sakura?” Ahn seonsaengnim menekankan perkataannya.

Sakura mengangguk patuh. “buku yang kuberikan itu kau baca baik-baik, kau harus berhasil di ujianmu minggu depan sakura. aku tahu kau sesungguhnya gadis yang pintar.” Ahn seonsaengnim menepuk pundak sakura dengan sayang.

“kamsahamnida seonsaengnim.” Kata sakura, dia menundukkan kepalanya hormat. Ruang guru sudah mulai kosong, hanya ada satu dua yang masih sibuk mengoreksi kertas-kertas ujian. Sejak pulang sekolah tadi, dia memang diberikan pelajaran tambahan bersama dengan anak-anak yang lainnya. Namun, Ahn seonsaengnim secara khusus memintanya ke ruang guru sebentar untuk diberikan buku-buku bacaan yang bagus untuk bahan ujian sakura minggu depan.

Petir-petir kecil mulai menyambar saat sakura berada di pintu sekolah. Dia merapatkan mantelnya yang untung saja tak lupa dibawanya tadi walaupun ia telat. Ponselnya berdering, dengan sebelah tangannya yang bebas ia mengangkatnya. “ne ahjussi?” katanya begitu ponselnya ia tempelkan di telinga. “oh, jinjjayo?… ne, aniyo, gwenchanayo… ne, semoga anakmu cepat sembuh ahjussi. Ne…”

Setelah memutus sambungan telepon, sakura meniup poninya. “eottokhae?” desah sakura, “kalau naik bus aku hanya akan tersasar. Naik taksi, aku tak bawa uang lebih. Hah, kenapa aku sial sekali hari ini.” oceh sakura pada dirinya.

“kyungsoo!” pekik sakura. Dia mengambil lagi ponselnya dari saku mantelnya.

Sudah tiga kali deringan, tapi belum juga ada jawaban dari D.O, sakura memutusnya dan mencobanya lagi. namun, masih sama sampai percobaan yang kelima D.O tidak juga menjawab teleponnya. Sakura mendengus, “tadi pagi dia aneh. Dan sekarang dia tak menjawab teleponku. Dasar.” Omelnya. Petir kembali menyambar, sakura yang hendak melangkah kembali mengkerut takut.

Sakura berusaha menenangkan dirinya, dia tak ingin terlalu lama berada di sekolah karena hujan sepertinya akan turun. Tapi dia juga tidak berani berjalan keluar dibawah langit gelap yang berpetir. Sakura menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. “I have to go.” Ujarnya, dan mulai melangkah.

Halte bus di dekat gerbang sekolahnya sepi, halte itu memang hanya ramai pada pagi hari dan jam pulang sekolah. Sakura melongok ke kiri dan kanannya, melihat apakah ada taksi yang lewat atau tidak. jalanan begitu sepi, dan dengan suasana gelap dan juga gerimis kecil sakura mulai was-was kalau-kalau mungkin memang tidak akan ada taksi yang lewat.

“sakura?” tiba-tiba saja sebuah mobil sedan berhenti di depannya, kaca mobil tersebut terbuka, dan memperlihatkan chen yang sedang duduk di balik stir.

Sakura tersenyum singkat, “annyeong, chen-ah.”

“sedang apa kau disini? Menunggu bus?” tanyanya.

“aniyo. Aku menunggu eng taksi.” Ujar sakura sembari tertawa canggung.

Chen tersenyum kecil, “jarang sekali ada taksi yang lewat sini, nona. Ikut saja denganku.”

“jinjja? Kalau begitu aku akan naik bus, gwenchana.” Tolak sakura halus.

“kau yakin? Eunyeol bilang kau sama sekali tidak tahu jalan-jalan di korea. Memang kau tahu berapa nomor bus yang harus kau naiki?”

Sakura memberengut kecil, dia menggeleng pelan. rintik hujan mulai membesar. Sakura menghela nafasnya, “baiklah.” Ucapnya menyerah.

Dari balik stir, chen tersenyum puas. Sakura lucu sekali, pujinya dalam hati.

“kau juga baru pulang chen-ah? Wae?” Tanya sakura saat ia memasang seat belt.

“hm. Aku harus mengurus sesuatu dulu tadi, oh aku harus menjemput adikku dulu. Tidak apa-apa kan?”

“ne. Maaf sudah merepotkanmu chen-ah.”

Chen tertawa kecil, “gwenchana.”

-0-

TBC

hallo reader tersayang :* hha sometimes i can very surprising keke~ menurutku ini adalah postan paling cepet *rekor* 😉 aku jadi terharu sendiri.

well aku lagi bosen dan tiba-tiba inspirasi dateng dengan cepatnya, tumben banget loh.. oh mau ngasih tau juga, mungkin cerita ini akan berakhir di chapter 15, kalo kebanyakan kan ntar bikin boring yah.. ehm di komen aku baca ada yang nanya blog pribadi, ada kok d bio twitter aku, tapi ga ke urus gtu. aku males hhe. tapi mungkin aku akan posting ff disana. ya udah maaf kalo chap ini rada-rada aneh.. enjoy 😀

Iklan

Penulis:

just please don't talk shit about my bae

337 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 12)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s