ALMOND

Gambar

Title : ALMOND

 

Author : Kim Dhira (@farahwijaya)

 

Cast : Kris Wu and You (or you can imagine a girl who you want)

 

Genre : *em~ you can choose your favorite genre for this fic after read it. because i’m lazy to explain about the genre. because it’s surprise heheh..*

 

Ratting : PG-15

 

Length : oneshoot

 

Disclaimer : FF ini adalah murni hasil kerja kerasku. Semua yang tercantum disini kecuali Kris adalah hasil pemikiranku, jadi dimohon kerja samanya ya.. dan ff ini juga juga sudah pernah dipublish di GIGSent Fanfiction (http://gigsent.blogspot.com/2013/06/almond.html) dan beberapa blog exo lainnya.

 

Oke.. enggak akan berlama-lama jadi Happy Reading J

 

 

 

<<<<<>>>>> 

 

 

 

Kau berjalan memasuki café yang telah dipesankan oleh temanmu. Ya… ini semua rencananya untuk memperkenalkanmu dengan seorang laki-laki yang kau sendiri tak mengetahui siapa laki-laki itu. Semua ini ia lakukan karena kau  tak  bisa melupakan sosok yang selama ini telah menghiasi hidupmu. Oh come on.. semua orang juga tahu kalau berbicara lebih mudah dibandingkan menjalankannya. Namun temanmu tetap memaksamu untuk melakukan blind date itu.

 

 

 

Kau mengedarkan matamu. Mencari sosok laki-laki yang mengenakan setelan jas berwarna coklat -kata temanmu yang merancang pertemuan itu sesaat sebelum kau berangkat-. Dan tak lama, kau sudah menemukan dimana sosok itu tengah menunggu. Ya… disebuah meja yang  berada di pojok café. Memang terlihat terpencil dibandingkan meja-meja yang lain, namun ayolah… meja itu  berada di dekat jendala yang langsung mengarah ke pemandangan pantai. Bukankah sangat romantis?

 

 

 

Kau menghembuskan nafasmu. Merapihkan pakaianmu, dan berjalan menghampiri sosok itu. Tepat di belakangnya, kau berhenti. Namun kau tak langsung menegurnya, atau muncul dihadapannya. Kau terlebih dulu memperhatikan sosok itu. Tubuhhnya cukup tinggi, ah tunggu, bukan cukup. Tetapi memang sepertinya ia memiliki tinggi diatas rata-rata seorang laki-laki pada umumnya. Rambutnya berwarna coklat keemasan.

 

 

 

Setelah tak ada lagi yang dapat kau teliti karena ia  memunggungimu, akhirnya kau memutuskan untuk menegur dan muncul dihadapannya. Kau cukup  merasa penasaran akan paras sosok itu. Walaupun kau tahu, laki-laki itu pasti memilki paras yang cukup tampan atau mungkin sangat tampan.

 

 

 

Sosok itu bangkit dari duduknya saat melihatmu. Dan kau, kau langsung membungkuk begitu mata kalian tak sengaja bertemu.

 

 

 

“silahkan duduk.” Ucapnya mempersilahkan mu untuk menempati kursi yang berada di depannya. Kau pun langsung menduduki kursi itu.

 

 

 

Beberapa saat kalian hanya diam. Tak melakukan apa pun selain menikmati pemandangan pantai yang berada di luar. Hingga seorang pelayan datang menanyakan pesanan yang akan kalian pesan. Sosok itu bertanya pada mu, dan kau menyebutkan apa yang sedari tadi menarik perhatian mu. Cold mango passion dan juga sepiring fettuccine pesto. Sedangkan dia, ia memesan secangkir americano dengan fusilli pesto.

 

 

 

Kalian masih saja terus diam. Tak ada yang bergeming hingga pelayan tadi kembali datang dengan membawa pesanan kalian. Sejenak kau perhatikan sosok itu. Rahangnya begitu keras, kulitnya juga bersih. Tampan, batinmu. Namun kau buru-buru menghilangkan pikiranmu itu dan kembali fokus pada makananmu.

 

 

 

“maaf, bolehkah aku tahu siapa namamu.” Tanyamu disela-sela makan.

 

 

 

Sudah hampir satu jam tapi kalian tak berkenalan. Ya… wajar saja kau merasa penasaran. Walaupun pada awalnya kau tak terlalu tertarik pada sosok laki-laki itu, tetapi setelah duduk dimeja yang sama dengannya, rasa penasaranmu tiba-tiba saja muncul. Ia berbeda, pikirmu.

 

 

 

Ia menghentikan aktivitasnya. Mengangkat kepalanya dan menatapmu. “Kris Wu.” Jawabnya dan mengulurkan tangannya padamu. Sejenak kau hanya  diam menatapnya. Haruskah aku membalas jabatannya, pikirmu.

 

 

 

“ini alasanku kenapa sejak tadi aku hanya diam. aku tahu kau memiliki suatu kenangan yang membuatmu enggan untuk berhubungan dengan laki-laki manapun selain sosok laki-laki masa lalu mu itu.”

 

 

 

Ia menarik kembali tangannya. Menyenderkan tubuhnya pada kursi. Dan hal itu membuatmu sedikit merasa bersalah. Kau yang menanyakan namanya, tapi ketika ia hendak menjabat tanganmu, kau sama sekali tak menggubrisnya.

 

 

 

“maaf…” Ucapmu lemah.

 

 

 

 

<<<<<>>>>> 

 

 

 

 

Mobil yang kau tumpangi baru saja menepi tepat disebuah bangunan yang tak terlalu besar namun terlihat mewah dan elegant. Kau melepaskan seatbelt yang melindungi tubuhmu, dan membuka pintu mobil itu. Namun urung kau lakukan karena tiba-tiba saja seseorang mencengkram lenganmu.

 

 

 

“aku tak akan memaksamu. kita mulai dari awal dan lakukan bersama-sama.”

 

 

 

Kau hanya tersenyum mendengar ucapannya. Ya… sosok itu adalah Kris Wu. Seorang laki-laki yang baru saja kau kenal.

 

 

 

“ya. terima kasih sudah mengantarku. kau hati-hatilah berkendara.” Ucapmu dan kemudian keluar dari mobil itu.

 

 

 

Ia membuka kaca pada kursi penumpang. Berpamitan padamu, dan melambai singkat. Dan tak lama mobil itu melaju meninggalkanmu.

 

 

 

“ya.. kau benar. kita akan memulainya dari awal. sangat awal….”

 

 

 

 

<<<<<>>>>> 

 

 

 

 

Sudah hampir satu bulan ini, kau sering menghabiskan waktumu dengan Kris. Ya.. laki-laki yang temanmu perkenalkan melalui blind date yang ia  rancang. Awalnya kau sangat menolak melakukan hal yang kau sebut konyol itu, tapi setelah kau tahu dan mengenal sosok Kris, kau sama sekali tak menyesalinya. Kau malah merasa beruntung, dan merasa bersalah karena sempat memaki temanmu karena keinginannya itu. Dan bukankah sudah seharusnya kau berterima kasih padanya?

 

 

 

Dan hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Kau berencana untuk menghabiskan malammu dengan Kris. Kau mengundangnya untuk datang ke rumahmu, untuk makan malam bersama. Kau bilang padanya bahwa kau akan memasakkan makanan untuknya.

 

 

 

Kau baru saja selesai membersihkan dirimu saat suara bell rumahmu berbunyi.  Dengan cepat kau kenakan dress selutut berwarna blanched almond yang mengekspos lengan serta punggungmu, yang telah kau persiapkan sebelumnya. Dan dengan cepat juga kau merias wajahmu dengan make up-make up yang sudah biasa kau kenakan.

 

 

 

Segera setelah kau memastikan bahwa  dirimu telah siap, kau segera berjalan keluar dan membuka pintu rumahmu. Kau tersenyum saat menemukan sosok Kris disana.

 

 

 

“maaf membuatmu menunggu. tadi aku……”  Belum sempat kau menyelesaikan kalimatmu, Kris telah lebih dulu memotongnya dengan sebuah kalimat yang mampu membuatmu merasa melayang di langit ketujuh.

 

 

 

“kau sangat cantik malam ini.” Ujarnya dengan tersenyum menawan.

 

 

 

“terima kasih.”

 

 

 

“oh iya, ini untukmu. awalnya aku ingin memberikanmu bunga, tetapi kau kan tak terlalu menyukainya. makanya aku memberikanmu ini, karena aku tahu kau pasti akan lebih memilih ini dibandingkan dengan berpuluh-puluh bunga mawar.” Ucap Kris  sembari menyerahkan satu buah tas kepadamu.

 

 

 

Dengan tersenyum senang, kau meraih tas itu. Kau membukanya dan melihat isinya. “almond?”  Tanyamu saat melihat isi kotak yang berada di dalam tas tersebut.

 

 

 

“ya. kau menyukainya kan?”

 

 

 

Kau menganggukan kepalamu. Dan kembali tersenyum pada Kris. “ayo masuk. aku sudah memasakkan makanan yang lezat untukmu.” Ajak mu sembari melingkarkan tanganmu pada lengannya.

 

 

 

Kau mempersilahkan Kris untuk duduk. Namun kau tak lantas duduk begitu saja, kau harus mempersiapkan hidangan-hidangan yang telah kau buat sebelumnya.

 

 

 

“wah… apakah kau yang menata meja ini sendiri?” Tanya nya takjub. Ya tentu saja ia akan meresponnya seperti itu, coba bayangkan. Kau menata meja itu seperti sebuah makan malam sepasang kekasih. Lilin-lilin yang bertebaran diatas meja, serta bunga mawar yag kau letakan di tengah meja. Padahal kau dan Kris tak memiliki hubungan apa pun saat itu.

 

 

 

Kau melihat sekilas pada Kris dan tak lupa kau tersenyum padanya. Kemudian kau kembali melanjutkan aktivitasmu -mempersiapkan makanan yang akan kau dan Kris santap bersama-. Setelah semua siap, kau segera meletakan makanan-makanan tersebut diatas meja.

 

 

 

“ayo  kita makan.” Ajakmu.

 

 

 

Kris menyantap makanan yang kau buat. Sementara itu, kau hanya diam menanti responnya. Ia menautkan kedua alisnya saat mengunyah makananmu, dan hal itu sedikit membuatmu merasa takut kalau saja rasanya tak sesuai dengan lidahnya.

 

 

 

“eemm.. enak. ternyata kau pandai memasak ya.” Pujinya dan kembali melahap makanannya.

 

 

 

Kau menghembuskan nafasmu begitu mendengar komentarnya. Ternyata tak sia-sia usahamu untuk membuatkan makanan untuknya. Kau pun mulai melahap makananmu. Beberapa saat, kalian hanya terdiam. Saling menikmati makanan masing-masing. Hingga tiba-tiba saja Kris bertanya padamu, membuat keheningan itu lenyap begitu saja bagaikan makhluk abstral.

 

 

 

“aku ingin bertanya padamu. sebenarnya pertanyaan ini sudah lama ingin ku tanyakan, tapi… aku takut menyinggungmu.” Kris menggantungkan ucapnnya, dari wajahnya ia terlihat ragu. Tapi menurutnya, sekarang adalah saat yang tepat baginya untuk bertanya. “sebenarnya, kenapa kau sampai tak bisa menjalin hubungan dengan laki-laki lain setelah laki-laki dimasa lalumu itu?”

 

 

 

Kau menghentikan aktivitasmu. Kau mengangkat kepalamu, dan menatap matanya dalam. “apakah kau benar-benar ingin mengetahuinya?”

 

 

 

Kris menganggukan kepalanya. Ia telah kembali kepada posisinya.

 

 

 

“dia adalah satu-satunya laki-laki yang mampu membuatku merasa nyaman. dia selalu menemaniku, menghiburku, dan dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. namun enam tahun yang lalu, ia pergi. pergi meninggalkanku.” Kau menjeda ceritamu. Kau membutuhkan waktu untuk mengumpulkan kembali ingatan masa lalu yang selalu membuatmu menderita hingga saat itu.

 

 

 

“pergi? kenapa?” Tanya Kris karena kau  tak kunjung melanjutkan ceritamu.

 

 

 

“ya… ini karena kesalahanku. andai saja waktu itu aku datang tepat pada waktunya, pasti saat ini aku masih bersamanya. dan aku pasti juga bisa berkumpul dengan orang tuaku.”

 

 

 

Kris bangit dari duduknya. Ia berjalan kearahmu, dan memberikanmu pelukan terhangatnya. Kau terkejut, namun kau tetap menerima perlakuan itu.

 

 

 

“jangan menangis lagi. biarkan masa lalu itu menjadi kenangan indah untukmu, walaupun masa lalu itu tak indah.”

 

 

 

“mmm~ bagaimana kalau kita makan cake. tadi aku baru membuatnya. apakah kau mau mencoba?” Tawar mu sembari menyekah air mata yang mengalir dipipimu.

 

 

 

Kris menganggukan kepalanya. Namun sebelum kau mengambil cake yang kau maksud, terlebih dulu kau rapihkan makanan-makanan yang berada diatas meja, dan membawanya kembali ke dapur.

 

 

 

Tak butuh waktu lama bagimu untuk mempersiapkan cake tersebut. Karena kini kau telah kembali dengan dua piring cake untuk mu dan juga untuk Kris.

 

 

 

“almond?” Tanya Kris saat kau meletakan cake untuknya diatas meja.

 

 

 

“iya, cobalah. kau akan menyesal jika tak mencobanya. almond itu sangat enak jika kita padukan dengan cake seperti itu.” Ujarmu sembari menyuapkan satu sendok potongan cake ke dalam mulutmu.

 

 

 

“hm~ baiklah. tapi sebelumnya, aku ingin bertanya satu hal lagi padamu. kenapa kau menyukai almond? bukankah biasanya seorang wanita lebih menyukai sesuatu yang manis?”

 

 

 

Kau  mendecak, rasanya kesal ketika kau harus kembali meceritakan sesuatu yang sampai kapan pun tak akan pernah bisa kau lupakan. “aku mulai terbiasa dengan almond, dan mulai menyukainya sejak enam tahun lalu. dan itu karena laki-laki itu.”

 

 

 

Kalian kembali terdiam. Tak ada yang berniat untuk membuka suara selama menyantap makanan manis itu. Hingga kau berinisiatif untuk menanyakan pendapatnya mengenai rasa cake yang kau buat.

 

 

 

“bagaimana? apakah rasanya enak?”

 

 

 

“iya. ini sangat lezat. kau benar, almond memang….” Kris tiba-tiba saja memegangi tenggorokannya. Ia terbatuk. Wajahnya berubah menjadi pucat. Ia mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya langsung ambruk dan terjatuh ke bawah.

 

 

 

Sementara itu, kau hanya melihatnya. Kau sama sekali tak bergerak dari posisimu. Kau memandang Kris yang tengah kesakitan dari atas kursi.

 

 

 

“apakah sakit Kris?”  Tanyamu. Kau bangkit dari dudukmu. Berjalan menghampiri Kris. Mengangkat kepalanya dan meletakannya diatas pahamu.

 

 

 

Kau tertawa singkat, dan hal itu berhasil membuat Kris yang tengah kesakitan menatapmu. “apakah kau mau tahu, laki-laki yang ku maksud itu? dia… dia Byun Baekhyun. kakak laki-lakiku yang kau dan kelompok mu bunuh enam tahun lalu. seharusnya aku bertemu dengannya di tempat kau membunuhya, di kantor ayahku. namun aku terlamabat. aneh bukan, sepertinya Tuhan sengaja membuatku harus mendapatkan kelas tambahan di sekolah dan membuat baterai ponselku habis. agar aku bisa membunuhmu dan juga kawananmu yang telah membunuh keluargaku.”

 

 

 

Kau mengusap peluh  diwajah Kris dengan tanganmu. Wajahnya begitu pucat, bahkan terlihat semakin pucat. Ia  terlihat seperti tengah menahan rasa sakit yang tengah menjalar disekujur tubuhnya, bukan terlihat tetapi memang ia sedang merasakan rasa sakit yanng teramat sakit itu.

 

 

 

“aku tahu. separuh dari kawananmu membunuh orang tuaku ditengah perjalanan mereka menuju restaurant, yang seharusnya kami bertemu di tempat itu untuk merayakan pesta pernikahan mereka. dan kau, kau beserta separuh kawananmu yang lain datang ke kantor ayahku entah untuk apa. namun sayangnya ketika kau menjalankan aksimu, kakakku tiba-tiba datang dan menyaksikannya. dan kau… kau membunuhnya.”

 

 

 

“ja-jadi…. k-kau……” Kris mencoba mengungkapkan sesuatu, namun rasa sakit yang ia rasakan membuat ia tak mampu melakukan hal itu. Ia mengerang kencang.

 

 

 

“ya, kau benar. aku adalah anak perempuan dari keluarga Byun, yang kau dan kawananmu cari selama ini. aku berterima kasih kepada temanku, karena dia, aku tak perlu bersusah payah untuk mencarimu.”

 

 

 

Kau kembali menggerakkan tanganmu. Menyentuh wajah Kris yang terlihat semakin tak berdaya.

 

 

 

“dan perlu kau tahu, kematian kawananmu merupakan ulahku. aku yang membunuh mereka. mulai dari Kim Jong Dae, Do Kyung Soo, Kim Joon Myun, Park Chanyeol, Kim Minseok, Huang Zi Tao, Oh Sehun, Kim Jong In, dan Zhang Yixing. mereka ku bunuh dengan mencampurkan potassium sianida, ke dalam makanan mereka. sama halnya denganmu Kris. di dalam cake yang kau makan, aku telah mencampurkan zat beracun itu.” Kau tersenyum. Tersenyum bagaikan mendapat harta berlimpah yang terkubur bertahun-tahun.

 

 

 

“dan bukankah ini seperti yang kau lakukan pada kakakku? kau membekap mulutnya dengan sapu  tangan yang telah lebih dulu kau lumuri dengan cairan sianida. lalu meninggalkannya yang tengah sekarat begitu saja. lucu bukan? aku menyukai almond karena kematian kakakku.”

 

 

 

Kris terlihat begitu terkejut, tapi anehnya ia malah mengangkat tangannya. Mendekatkannya pada wajahmu, dan mengelus wajahmu dengan lembut. “k-kau tum..buh menjadi wa-wanita ya..ng cantik…” Ia kembali terbatuk, sepertinya racun itu telah benar-benar mengambil alih kerja tubuhnya. “da.. dan maaf, ka-karena aku  te-telah mem.. bu-nuh…. ke-ke… luarga…. mu.” Tangannya terjatuh begitu saja. Tubuh besarnya sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit itu, hingga membuat ia langsung menghembuskan nafas terakhir setelah mengucapkan kalimat permohonan maaf kepadamu.

 

 

 

Begitu melihat tubuh Kris yang sudah tak bernyawa, kau mendekatkan wajahmu pada wajahnya. Mencium singkat bibir Kris. “memang bau almond sangat menenangkan.” Ujarmu dan kemudian bangkit meninggalkan Kris yang tergeletak diatas lantai.

 

 

 

Kau berjalan menuju dapur, meraih segelas juice yang berada di dalam lemari pendingin. “semua sudah selesai. semua sudah benar-benar berakhir. aku sudah melakukan semuanya. dan kini saatnya aku untuk melakukan apa yang dikatakan Kris tempo hari. memulainya dari awal.”

 

 

 

Kau meminum habis juice itu, hingga tak menyisakan apa pun di dalamnya. Sesaat kau pejamkan matamu, mencoba menenangkan dirimu sendiri. Dan tak lama setelah itu, tubuhmu langsung terjatuh bersama dengan gelas yang kau pegang. Kau terbatuk, wajahmu memerah dan tiba-tiba saja langsung berubah menjadi pucat. “sampai kapan pun aku akan tetap menyukai almond. karena almond aku kehilangan keluargaku. karena almond aku bisa membunuh orang-orang terkutuk itu. dan karena almond pula, aku akan menyusul mereka ke surga.”

 

 

 

Kau masih dapat tersenyum setelah mengucapkan hal itu. Bahkan otakmu masih sanggup untuk mengingat apa yang telah kau campurkan ke dalam juice yang kau minum tadi. Potassium sianida, ya kau memasukkan racun itu ke dalam juice yang baru saja kau minum. Kau memang sengaja melakukan hal itu. Kau telah merencanakan semua ini. Bahkan alasanmu menggunakan racun itu untuk membunuh bukan hanya karena kakakmu mati akibat racun itu, tetapi kau juga tahu bahwa sianida akan menghasilkan bau almond -sesuatu yang sangat kau sukai- yang menyengat setelah seseorang mati akibat mengkonsumsi racun itu.

 

 

 

Kau menghela nafas perlahan, seperti tengah menghilangkan rasa sakit yang tengah kau rasakan. “aku menerima permintaan maafmu Kris.” Ucapmu untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah kau mengucapkan itu, kau menghembuskan nafasmu untuk yang terakhir kalinya.

 

 

 

 

E  N  D

 

 

 

Hhuuaaa~ selesai!!

Oke.. aku cuma ingin ngucapin makasih buat admin yang udah mau publish ff aku, dan untuk kalian semua yang udah mau nyempetin waktunya untuk baca ff ini.

Jinjja gomawo guys:)

And see you~

4 thoughts on “ALMOND

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s