Bonheur

Gambar

Title: Bonheur || Author: Shafirgirl (@sungiyeol)

Cast(s): You & EXO-K’s Members.

Genre(s): AU, Life, Romance & Fluff. || Rating: Teen || Length: 6 Drabble(s) {1,330 wordcount} || Disclaimer: Plot of the story pure my mind, Please don’t plagiarism.🙂

Summary:

Bagiku mendeskripsikan kebahagiaan secara detail adalah…

.

.

When you call me in the middle of the night just to say a confession…

 “Halo?”

Aku mendengus. Sekali lagi aku bercakap pada ponselku dengan mata setengah terkatup. Mungkin telah terhitung lebih dari sepuluh kali ponselku bordering menganggu waktu tidurku yang terlampau penting ini.

Menyebalkan?

Tentu saja. Bagaimana tidak? Ketika kau mengantuk dan ingin sekali tertidur tanpa adanya gangguan, tetapi seseorang menghancurkannya begitu saja lewat deringan ponsel tengah malam.

“Halo? Bisakah kau menjawabku? Aku benar-benar lelah saat ini, kumohon…”

“…Ya, halo? Maaf membuatmu menunggu, aku tidak bermaksud menganggumu,”

Aku berjengit terkejut. Ralat, terlampau terkejut atau mungkin sangat-sangat terkejut.

Suara itu terdengar berat… apakah seorang laki-laki telah menelponku tengah malam begini?

Kemudian kualihkan ponselku menghadap wajahku cepat-cepat, dengan maksud supaya aku dapat melihat nomor yang tertera di layarnya. Aku memang kurang teliti untuk melihat lebih dulu nomor ponsel yang masuk sebelum mengangkatnya. Lamat-lamat kubaca deretan beberapa digit nomor yang tertera.

Astaga.

“Halo? Apa kau telah tertidur?” Aku berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa ini sungguhan. Aku benar-benar tidak percaya akan hal ini. Anggap saja aku idiot sekarang.

Aku tak berniat menyahut panggilannya. Jantungku berdebar tak karuan, aku hanya berharap supaya detak jantungku yang meronta ini tidak terdengar oleh ponselnya.

“Sudah tertidur ya? Huum, Baiklah, Aku harap ini bisa menjadi pengantar tidurmu yang indah. Tidak perlu muluk-muluk, aku tahu ini pengecut dan yeah…” Aku tetap bungkam, belum berani membuka suaraku. Menunggu lanjutan perkataannya yang menggantung.

“Aku mencintaimu. Kutunggu jawabanmu besok. Ini aku…”

“…Baekhyun?”

“Astaga, ternyata kau belum…”

“…Katakan pada Baekhyun bahwa aku juga mencintainya. Mimpi indahlah!”

Piip

.

.

.

When you’re always on my side…

“Ada apa denganmu?”

Aku mengusap wajahku kasar lalu mendongak sambil menggeleng kecil. Terlihat Suho tergopoh-gopoh berjalan ke arahku dengan air muka yang terlihat cemas dan gelisah. “Jangan berbohong.”

Ibu jarinya mengusap cairan bening yang tertinggal di antara kedua pipiku. Aku merutuk diriku dalam hati. Kendati membuat Suho cemas ketika melihat air mataku adalah hal yang paling aku benci.

“Masalah Luhan lagi?” Aku bungkam sembari menunduk dalam. Ia bahkan telah hafal hal-hal apa saja yang dapat membuatku menangis, senang, tersenyum, marah, atau tertawa. 

Suho tersenyum tipis kemudian mengusap ujung kepalaku. “Peluk aku sekarang.”

Aku mendongak, menatapnya dengan dahi berkerut. “A-apa?”

“Peluk aku.”

“Ta-tapi…”

Tanpa aba-aba, kedua tangannya telah melingkari tubuhku, merengkuh tubuh mungilku. Aku hanya terdiam kaku. Kurasakan deru napasnya yang menerpa diujung rambutku, debaran jantungnya yang berdegup begitu keras diambang batas seolah tengah meronta. Juga kehangatan yang menjuluri tubuhku tatkala Suho mengeratkan rengkuhannya.

“Kau mendengar itu?” Suho berbisik kecil, lalu menatap kedua mataku lekat-lekat.

“…Debaran jantung, maksudmu?” Pria itu mengangguk kecil, seketika kembali tersenyum lebar dan tulus.

“Aku telah lama memendam rasa ini,” Suho mengalihkan pandangannya ke lain arah, kemudian melanjutkan, “rasa yang baru aku sadari ketika aku sering mengamatimu dan rasa nyaman yang selalu aku rasakan ketika aku bersamamu.”

Aku memilih diam. Tenggorokkanku tercekat, aku tahu hal ini, hal ini sama seperti yang diungkapkan oleh Luhan padaku beberapa tahun lalu.

.

.

.

When you surprise me with something that doesn’t make sense…

“Lempar! Lempar!” pekikku. Beberapa saat kemudian, kutiup panjang pluit yang mengalung rapi melingkari leherku. Membari tanda bahwa latihan sore ini telah usai.

Beberapa pria berlari ke arahku, lalu menunduk kemudian berjalan memasuki ruang ganti. Tersisa satu orang di lapangan saat ini. Entah apa yang dilakukannya, padahal sudah sangat jelas aku telah membubarkan latihan.

“Yaa! Sehun! Apa yang kau lakukan?” Sehun menoleh ke arahku, lalu berjalan dengan tempo lambat menghampiriku.

“Yaampun.” Aku berkacak pinggang. “Cepat ganti bajumu dan segeralah pulang sebelum sekolah ini ditutup!”

Sepertinya Sehun tak mengindahkan seruanku sama sekali. Terbukti dari gerak-geriknya yang tak memungkinkan untuk mempercepat tempo jalannya.

Aku hendak berbalik, bermaksud untuk segera mengemasi barang-barangku. Tetapi semuanya terhenti bergitu saja, ketika aku merasakan sebuah tangan besar telah menggenggam lenganku. “Noona,”

“Apa?”

“Jangan pulang duluan.”

Aku mengernyit tak paham akan kalimatnya. Sebenarnya apa maunya?

“Kenapa?”

“Biar aku yang mengantarmu sore ini,” tukasnya kemudian berlalu memasuki ruang ganti.

Murid macam apa lagi yang berani mengantarkan gurunya pulang lalu menyebutnya sebagai Noona-nya, bukan sebagai seorang guru?

Dasar murid gila.

.

.

.

When you’re willing to do anything for me…

“Belum bisa juga?”

Aku menggeleng lemah dengan raut putus asa, lalu menidurkan kepalaku di atas meja begitu saja. Kuambil kertas yang terletak di meja kemudian meremasnya brutal dan melemparnya ke tong sampah terdekat.

Kenapa soal Kimia ini begitu sulit dipecahkan sih?

Kuketukkan berkali-kali ujung penaku dengan permukaan meja, hingga menimbulkan sebuah dentingan nyaring…mengisi keheningan di antara kami berdua.

Kulihat Jongin beringsut pelan ke arahku. Setelah itu, Jongin meraih satu lembar kertas dengan penuh coretan di setiap sisinya, lantas memandang kertas itu dengan seksama.

“Ini sangat mudah, kau tahu,” gumamnya setelah membaca rentetan kalimat berbentuk soal di kertas itu. Aku hanya mengedikkan kedua bahuku sebagai balasan.

“Ya. Tentu saja bagimu mudah, tidak usah ditanya.”

Jongin termangu sejenak setelah mendengarkan kata-kataku, membuatku mendongak menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya.

“Kau ingin nilai Kimiamu bagus ‘kan?” Aku mengangguk cepat. Jongin berdeham kemudian berkata lagi, “Belajar dengan sungguh-sungguh kalau begitu.”

“Apa hadiahnya jika aku mendapat nilai bagus darimu?”

Dahi Jongin terpaut ke atas untuk beberapa detik, lalu kembali berkata, “Surprise. But it will be sweeter than a valentine’s chocolate. I swear.”

Jongin tersenyum, lantas mengedipkan salah satu matanya ke arahku. Membuat semburat merah muncul di kedua belah pipiku.

.

.

.

When you’re always understand me…

 “Maafkan aku, karena terlambat.”

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu mengangguk perlahan. “Tidak apa.”

Aku ingin menangis sekarang. Kyungsoo yang tubuhnya kini telah diselimuti butiran salju tetap teguh dengan perndiriannya untuk menungguku di tempat ini.

Entah telah berapa kali tubuhnya terkena terpaan angin musim dingin yang menyentuh tulang. Aku bodoh. Seharusnya dari awal aku membatalkan dan menolak kencan yang ditawarkan Kyungsoo kemarin. Karena aku yakin, pasti aku tidak akan bisa tepat waktu jikala tugas kuliahku yang menumpuk seperti halnya pada hari ini.

Aku merenung, meratapi betapa banyaknya kesalahanku padanya, bahkan sebelum aku sempat menyandang sebutan sebagai kekasihnya.

“Kau sudah makan?” Aku menoleh, kemudian menggeleng lemah. Kyungsoo yang mendengar jawabanku tersenyum lebar.

“Mari makan malam bersamaku. Anggap saja makan malam ini sebagai kencan kita yang tertunda sore tadi.” Kyungsoo beranjak dari duduknya, kemudian meraih pergelangan tanganku dan mengaitkan jari-jariku dengan jarinya guna menyalurkan kehangatan.

Aku menatap tanganku dengan tangannya yang kini telah bertaut, lalu mengalihkan pandanganku untuk menatap wajahnya.

“Kenapa?”

“Tidak ada. Mari kita lanjutkan acara kita.” Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku saat ini. Jantungku tengah berdegup tak karuan saat ini. Dan kuharap, Kyungsoo tidak dapat mendengarnya.

.

.

.

When you accept me as i am…

“Apartemenmu tak banyak perubahan.”

Aku segera berjalan menuju pantry. Lalu membuka kulkas, dan mengambil sebotol air mineral kemudian menuangkannya ke dalam gelas.

“Minum ini,” Ujarku pada Chanyeol. Ia menatapku dengan datar sesaat, kemudian menyambar satu gelas air mineral yang kusodorkan padanya.

Park Chanyeol. Pria yang membuatku sulit mengerjakan sesuatu tanpa berpikir panjang. Yeah, perlu aku akui, aku tidak benar-benar bisa melupakannya sejak keputusan kami yang terakhir kali. Aku dan Chanyeol pernah menjalin hubungan hanya saja tidak bertahan lama. Dan sekarang, aku ingin mengajaknya kembali tetapi… aku tidak begitu yakin dengan perasaanku saat ini.

Melihat Chanyeol yang selalu bersikap tak acuh terhadapku.

“Sebetulnya… aku mengunjungimu tidak ada alasan khusus.  Tapi aku rasa, aku harus mengatakannya padamu,” katanya setelah air yang diteguknya telah habis.

Aku mengernyitkan dahi. Sungguh, aku tak mengerti dengan ucapannya. “Apa maksudmu?”

Chanyeol mendekatkan jaraknya denganku. Kulihat ia menghirup napasnya dalam-dalam, mengeluarkan, kemudian menggaruk kepalanya brutal.

Huum?

“Aku ingin kita kembali lagi seperti dahulu…” kalimatnya terdengar menggantung. Guratan-guratan cemas dan ragu terpancar dari wajahnya, membuatku tak begitu percaya.

“Kau mau?” lanjutnya, tanpa menatapku. Aku bergumam tidak jelas, kemudian mencoba memberanikan diri untuk menjawabnya.

“Apa kau yakin?”

“Ya. Tentu saja. Aku belum benar-benar bisa melupakanmu semenjak kita berpisah.”

Baiklah, Park Chanyeol, kau membuatku mati kutu sekarang.

.

.

.

fin

Shafirgirl’s Note:

Hai exostan dan exofanfiction readers<3 aku mencoba mengirim fanfiksi random(?)-ku yang pertama! xD iseng sebenarnya menyatukan 6 drabble untuk menjadi satu fanfiksi, mengingat length drabble yang sangat singkat jadi… munculah pikiran untuk menyatukan enam-enamnya muehehe. Untuk komentar? Sangat diperlukan! Haha tenang saja, saya menerima berbagai macam komentar kok /mehrong/ dan jangan lupa katakan pada saya, momen yang mana yang paling kalian suka ya! xp Terakhir, terimakasih telah sudi membaca fanfiksi ini mehehe :3 Bye-bye! /kabur/

 

 

 

 

 

 

 

23 thoughts on “Bonheur

  1. Q senyum2 sndri pas momeny’ Baek,
    tp q trsnjung bgt pas momeny’ Suho. . .hehe
    Sehun tetap dgn cooly’ mskpun scra tdk lngsung sdg mnytkn prasaan, oh y ampun, murid pda guru ?
    Lnjut brkrya ya,
    smangat !

  2. So sweet (•̯͡.•̯͡)
    Daebakk thor!! >.< Feelnya dapet banget, suka sama semua moment nya (•̯͡.•̯͡) tapi yang paling sweet menurut aku pas Suho moment.
    Keep writing thor!! Fighting!!😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s