TROIS COEURS

Gambar

TITLE : TROIS COEURS

MAIN CAST : KRIS WU , XUE YI MEI

MINOR CAST : KEN CHOU

GENRE : ROMANCE, SAD.

DURATION : DRABBLE

SCRIPWRITER : ASTINA (astince_hinata@yahoo.co.id)

POSTER : CHIONE ART POSTER

RATING : T

SUMMARY :  Aku melanggar cinta mereka, aku tahu tidak seharusnya berharap. Akankah selamanya begini?

 

Hari ini masih sama, ketika waktu tidak mengizinkanku untuk mendekatinya dan hanya berdiri di sini sambil mengamati apa yang terjadi. Jika sekian hari kemarin aku terlalu senang akan kehidupanku, dan sekarang…apa? Tidak tepat jika kusebut nasib buruk. Berkali aku memandangi apa yang seharusnya dapat kuraih, atau setidaknya hampir kuraih namun seseorang merebutnya secara paksa. Tangan-tangan halus itu tidak berhenti mengelus perlahan helai rambut pemuda itu, seperti ada banyak kehangatan mengalir dalam sentuhannya. Aku iri, Ya Tuhan. Dan itu sangat wajar.

 

Apalagi yang terjadi saat kakiku membeku di tempat hanya karena dia, hanya karena satu fakta memilukan. Mungkin, jika aku berada di posisinya, aku akan mengambil pilihan yang sama. Bahkan jika itu menyakiti hati orang lain, yang terpentinglah yang harus kau pilih. Sebuah pilihan memang seharusnya seperti itu, kau tahu…seperti menyusun daftar prioritas kebutuhan sehari-hari.

 

Tetapi hati tetaplah hati, dapat sakit suatu saat, dan dapat sembuh cepat atau lambat; selalu seperti itu setiap kali. Jika aku memilih tetap seperti ini, maka itu adalah pilihanku; yang terpenting untuk saat ini. Tidak masalah jika aku harus mengalah, dan mengkategorikan ini sebagai pengorbanan terbesarku sepanjang hidup (selain mendonorkan satu ginjalku untuk Ibu). Aku mencintainya, cukup itu yang terus berputar dalam benakku, tidak akan terhapuskan apapun yang terjadi.

 

“Mei, apa hari ini kau ada waktu?” Aku bertanya pada gadis itu setelah dia selesai dengan pemuda tadi.

 

“Yah, mungkin tidak banyak. Hari ini Ken ada jadwal terapi.” Mei merapikan sweater putih miliknya yang mengeluarkan bau antiseptik. Selalu tidak ada banyak waktu untukku, selalu.

 

“Bisakah kau datang ke pantai Shanghai nanti malam?”

 

“Bagaimana jika sore ini?” tawar Mei, aku mengangguk setuju daripada tidak sama sekali.

 

Semoga hari ini, aku bisa mengatakannya.

***

Suasana pantai ini terlalu banyak perubahan, atau mungkin selalu berubah menurut suasana hatiku. Jika sedang senang, maka akan terasa pantai ini seperti tempat yang paling indah, dan sebaliknya. Mei belum datang, dan lebih baik aku terus berharap akan kedatangan gadis itu. Setelah hari-hariku bersamanya terputus, Mei hampir tidak pernah menepati janji, selalu melenceng jauh atau bahkan mengingkarinya. Mungkin hari ini, dia sedang waras, tidak lama setelah aku tiba, dia berjalan perlahan ke arahku, dengan beberapa dokumen bersampul cokelat yang dia tenteng dalam tas plastik.

 

“Ada apa?” Ucapnya, seolah menuntutku untuk langsung ke pokok pembicaraan, padahal basa-basi adalah hal yang ingin kulakukan.

 

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengingat satu hari bersamamu di tempat ini. Kau ingat?”

 

“Sedikit.” Jawab Mei singkat, dari nadanya aku tahu dia kesal.

 

“Tidak suka ya? Maaf, tapi aku sangat merindukanmu.” Setelah susah payah menahan airmata, akhirnya keluar juga. Aku benci laki-laki cengeng, aku benci diriku yang seperti ini.

 

Mei diam, dan menimbulkan banyak tanda tanya dalam otakku. Selalu tidak bisa mengartikan arti diam gadis itu, entah aku yang tidak peka atau dia yang terlalu misterius. Sosok Mei yang sekarang bukan lagi yang dulu, perubahan drastis yang tiba-tiba itu sedikit membuatku kaget. Ada seseorang yang merenggut Mei-ku yang dulu, yang ceria dan penuh harapan-harapan manis. Ada seseorang…yang tidak bisa disalahkan, namun dialah yang paling bersalah.

 

“Sudah selesai? Aku pergi.” Mei hendak beranjak, namun kutahan.

 

“Mei, bisakah kita kembali lagi? Aku akan membawamu ke tempat yang baru yang jauh dari sini. Aku akan—“ kalimatku terputus, sadar akan jawaban Mei yang sudah pasti berupa penolakan.

 

“Buang pikiran itu jauh-jauh, Tuan Wu. Sekali lagi kau katakan itu, maka aku tidak akan menganggapmu teman.” Mei melontarkan satu baris kalimat ketus, yang cukup membuat satu lubang lagi dalam hatiku.

 

Tiada harapan, seharusnya aku tahu itu.

***

Dan hari-hari kelabu berlalu dengan sia-sia. Jika ada orang yang lebih memilih dekat namun tersakiti, daripada jauh tapi merasakan rindu, dialah aku. Sesekali mataku menangkap Mei dengan Ken di bilik rumah sakit; bersenda gurau. Aku tidak menampakkan diri di hadapan mereka. Aku selalu bersembunyi,selalu.

 

Getaran-getaran amarah kerap kali hinggap dan membuatku ingin menghajar Ken, betapa ingin tanganku ini menghabisi wajah cantik pemuda itu, dalam sekali hantaman dan membuatnya hancur berantakan tanpa tulang. Pikiran kejam itu melayang segera setelah melihat Mei begitu menyayangi Ken lebih dari apapun. Aku tidak akan menyakiti orang yang dicintai Mei, siapapun itu. Dalam detik-detik yang berlari dan mencaciku seperti orang gila, aku tetap di sini dan tidak melakukan apa-apa. Sebenarnya ingin sekali bertindak, tetapi sekujur tubuhku kebas; mati rasa. Menurut kalian, apa yang bisa dilakukan hati yang bersedih? Aku butuh sedikit jeda, hatiku masih belum terbiasa dengan ini.

 

Kuberitahu satu hal, bahwa Mei hampir jatuh cinta padaku dan menghianati Ken yang kala itu sedang berada di Amerika untuk kuliah. Lalu tiba-tiba dia pulang dan mengacaukan semuanya, apalagi dengan segala penyakit yang entah datang darimana, lambat laun perhatian Mei padaku berkurang, hingga akhirnya…hatinya berpaling lagi pada kekasihnya yang sebenarnya. Mungkin Tuhan tahu itu, hubungan kami tidak selayaknya bertahan lama.

 

“Dia bahagia…” ucapku lirih ketika matakau menangkap Mei mencium kilas bibir Ken. Aku pernah merasakannya satu kali, dan itu begitu lembut. Sekali lagi pikiranku memerintahkanku untuk berjalan ke arah mereka berdua, tidak pasti akan melakukan apa, yang jelas hatiku benar-benar sakit.

 

“Kris, kau…” Mei terlihat bingung, hendak mengusir atau mempertahankan aku di antara mereka.

 

“Temanmu, Mei?” Tanya Ken, ingin aku menjejalkan batu ke mulutnya.

 

“Oh, benar. Dia temanku.” Mei dengan nada aneh yang dibuat-buat, berusaha meyakinkan Ken. Tetapi aku keburu berucap dengan suara parau, dan siapapun pastilah tahu aku habis menangis. Dasar cengeng kau Kris Wu; batinku.

 

“Mei…” ucapku serak.

 

“Hei, kau ingin bergabung dengan kami?” Ken menawariku, terdengar konyol dan menjengkelkan. Aku tidak menjawab pertanyaan bodoh itu dan langsung pergi, dengan menghadiahi sebuah tatapan menusuk ke arah Mei, berharap dia bisa mengartikan isi hatiku lewat tatapan itu.

***

Menggapai angan semu, yang sebenarnya tidak dapat diraih. Tidak ada satu alasan pasti mengapa aku tetap bertahan dengan rasa ini. Melihat Mei menangis berhari-hari sembari mengelus kepala Ken di taman rumah sakit, atau melihat mereka berciuman gila seharusnya sudah cukup membuatku belajar merelakan Mei.  Tapi apa kau tahu? Setitik kecil hatiku masih mengharapkannya.

 

Sesuatu dalam hatiku mengatakan bahwa tidak benar jika aku benar-benar merelakan Mei; melupakannya; dan beranggapan dia tidak pernah ada dalam hidupku barang sekalipun. Mungkin karena ini terlalu sakit, sampai-sampai aku berharap ini tidak pernah dimulai. Sayangnya, baik aku, Mei, maupun Ken tidak pernah bisa menebak apa yang telah digariskan Tuhan. Tiada yang bisa melakukan hal itu, manusia seperti dihadapkan pada tirai sebuah pertunjukkan, tidak ada yang tahu sampai seseorang membukanya.

 

Belum sembuh benar hatiku, tetapi rasanya darah mulai merembes lagi dari permukaannya. Mei terlihat sangat buruk hari ini, sungguh. Dan aku juga merasa demikian, sama buruknya ketika menatap Mei yang menggenggam erat tangan Ken yang kini tidak bisa melakukan apa-apa selain berkedip. Pemuda itu, entah apa yang diujikan Tuhan padanya, yang jelas aku tidak menaruh harapan apapun pada Ken. Dia sembuh atau tidak, aku berharap itu bukan urusanku; meski sebenarnya itu adalah urusanku yang paling penting, dialah yang menjadi penentu hubunganku dengan Mei kedepannya.

 

Secara tidak langsung, aku berharap dia akan mati, meski aku tidak mau mengakuinya.

 

Mei tetap ada di sisi Ken—di tiap detiknya—dan aku juga hilang dari ingatan gadis itu selama dia ada di samping Ken. Yang selalu ada namun tak terlihat, yang bisa menampakkan diri namun selalu bersembunyi, aku merasa seperti pengecut;dan memang itulah aku. Mengharapkan kematian Ken dan terus bersembunyi sembari mengamati hari-hari dimana nyawa Ken perlahan menghilang, kemudian muncul sesaat setelah dia benar-benar pergi dari dunia fana.

 

Jujur, aku tidak pernah sejahat ini sebelumnya.

 

Hingga hari itu benar-benar tiba, aku masih bersembunyi dalam bayang-bayang kesedihan Mei. Gadis itu seperti mengalirkan sungai airmata di atas nisan bisu Ken. Seandainya aku yang mati, akankah Mei menangisiku seperti itu? Akankah dia begitu terluka seperti kehilangan separuh jiwanya? Akankah sama?

 

Aku juga tidak tahu, yang jelas pada tahap ini aku ingin memulai segalanya dari awal. Menumbuhkan kembali harapan yang sempat layu, belum terlambat. Di sinilah aku duduk sekarang, bersebelahan dengan Mei yang tersedu hebat, tanganku dengan sendirinya mendekap gadis itu erat. Anehnya, Mei tidak menolak, malah merapatkan kepalanya ke dadaku, mencurahkan segenap airmatanya yang tidak berhenti mengalir sejak awal aku mengamatinya.

 

“Jangan menangis, Mei…” Ucapku perlahan, dalam hatiku bercampur banyak rasa. Sedikit senang—dan merasa jahat karenanya—dan di sisi lain juga merasa sedih.

 

“Kris…dia sudah pergi.” Mei menyeka airmatanya, sedikit mereda entah karena apa.

 

“Aku tahu, kau harus belajar merelakannya.” Jawabku tegas. Sesaat aku tahu mengapa Tuhan merencanakan ini untuk kami bertiga. Belajar untuk merelakan sesuatu, itulah poin utamanya. Sejauh ini, aku dan Mei masih sama-sama belajar merelakan sesuatu yang hilang. Namun dengan perginya Ken sekarang, harapan-harapan itu seolah tumbuh perlahan. Aku tertawa di atas penderitaan orang, aku tahu itu berdosa, tetapi…

 

Tuhan, bolehkah aku memiliki Mei kali ini?

 

_kkeut_

2 thoughts on “TROIS COEURS

  1. Oohhhh jadi dulu mei punya hub sama kris , pdahal mei pcaran sama kris , dan disaat ken blik ke mei dgn penyakitnnya mei lbih mlih ken dan ninggalin kris ?? Sekuel dong , apa mei sama kris atau mreka akhirnya cuma temenan ,

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s