[Baek Hyun’s] Sweet Cookies

Gambar

“’Apa pun’ merupakan bentuk janji tersederhana yang mampu kutawarkan terhadapmu.”—Baek Hyun

 

[Baek Hyun’s] Sweet Cookies

 

A Story Present by rywei19 (@rywei_irawan)

Cast : Byun Baek Hyun [EXO-K], Yoo Hyena [OC] || Genre : Romance, Fluff || Length : Ficlet || Rated : Teen ||

The storyline and Oc’re belong to rywei19

 

***

 

“OPPA . . . .”

 

            “Ayo, kita putus!”

 

DUARR

 

Aku yang baru menutup pintu masuk dorm langsung terduduk lemas tepat pada permukaan lantai kayu yang keras.

 

APA PUTUS?? Tidak tahukah gadis yang tengah berdiri, berkacak pinggang tepat di depan layar LCD tv itu kalau aku lelah sekali. Baru saja pulang perform acara mingguan di salah satu stasiun televisi. Terpaksa jalan kaki akibat di tinggal anggota-anggota juga manajer Hyung untuk pesta weekend lalu sekarang gadis ini justru menambah daftar menyebalkan penyebab stres. Hei, keringatku bahkan belum kering. Bukannya menyodorkan tisu atau air mineral melihat kekasih hatinya kelelahan mirip korban badai Haiyan, ia malah seenak udelnya mengajukan permintaan putus. Di mana sebenarnya letak otak cerdas yang kerap kali ia sombongkan?

 

            “Na~ya . . . aku sedang tidak punya tenaga untuk meladenimu bermain. Ayolah, kau ingin apa?” ujarku ngos-ngosan persis seperti reaksi ibu-ibu pramelahirkan seraya mulai bangkit berdiri untuk berjalan ke tepian sofa single warna putih di tengah ruangan.

Duduk di permukaannya sambil mendekap bantal persegi mungil bermotif dedaunan erat. Aku lantas menghela napas panjang guna memfokuskan diri pada satu-satunya penghuni asing dalam wilayah dormku.

 

            “P.U.T.U.S! Aku ingin hubungan ini selesai sekarang juga!” gadis berdress jingga selutut di depanku masih ngotot bahkan sekarang mulutnya telah merengut kesal.

 

Aku memutar kedua bola mataku gemas  sekaligus malas. “Serius, kau ingin aku melakukan apa?”

 

            “Oppa aku mau pu—“

 

            “Pertama, aku minta maaf kalau ada salah padamu. Kedua, aku tidak bersedia putus denganmu dan terakhir aku mencintaimu, Yoo Hyena,” selaku cepat sebelum ia kembali mendendangkan kata paling memuakan dalam ukuran telingaku.

Dengan letih mataku menyorotnya. Terlihat, gadis itu senyum-senyum aneh dalam posisinya berdiri di depanku seraya memilin-milin ujung bajunya.

Hah, sudah kuduga . . . ia menginginkanku menggombal. Dasar kekanakan!

 

            “Permintaan di bekukan,” ujarnya kemudian sambil berjalan mengarah padaku serta langsung menggamit lenganku yang terbungkus kemeja panjang kotak-kotak abu. Ia bergelayut manja di sana.

 

***

 

[15 Minutes Later]

           

Oppa . . . buatkan aku cookies!” pintanya lagi setelah lama terdiam.

 

            “Hm? Tunggu D.O pulang, ne! Emm . . . bagaimana kalau kita makan buah apel saja dulu? Mau kukupaskan?” aku yang sedang terlentang nyaman di sofa bersiap beranjak untuk mengambil beberapa buah apel di kulkas.

 

            “Kenapa harus menunggu D.O Oppa? Kekasihku kan dirimu,” Hyena berteriak kencang sangat kencang malah sampai-sampai aku yang tepat ada di sebelahnya hampir terjungkal ke lantai.

 

            “Tapi aku ‘kan tidak bisa masak, Na~ya,” jelasku masih mencoba sabar menghadapi sikap kekanakan tiada taranya.

 

            “Cookies atau pu—“

 

            “Apa pun untukmu,” selaku akhirnya berkeputusan. Beginilah resikonya menjalin asmara bersama murid sekolah, meski menurut kartu siswa usianya 17 tahun tetap saja jiwa menindas khas siswinya tidak kunjung sembuh. Sedikit-sedikit ia akan minta putus, sedetik berlalu dia akan bilang tidak jadi. Dikiranya sebuah hubungan itu permainan yang bisa ia pause seenak jidat apabila bosan? Sepertinya untuk menghindari penyelewengan-penyelewengan macam ini di masa depan, ‘Putus’ harus di patenkan agar tidak sembarangan orang bisa menggunakannya. Ya, benar. Aku harus mendiskusikan ini bersama kaum pria lainnya agar para wanita tak semena-mena berujar—memohon putus.

***

 

Dengan motivasi ‘Takut Putus’ aku segera mengaduk-aduk isi lemari juga kulkas seraya melirik pada tulisan resep panduan memasak ciptaan DO Kyungsoo. Tepung, telur, gula . . . ahh, pada bagian ini aku agak sulit membedakannya karena dalam wadah toples terdapat 2 bentuk bahan serupa yang sama putih dan halusnya. Aish, mana yang garam dan mana pula yang gula? D.O mengesalkan kenapa pula ia tak menuliskan judul pada perabot rumah tangga macam ini. Membuat tambah stres saja bocah itu. Ckk . . . .

 

Dengan ide yang terlambat datang aku mencoba merasakan bahan-bahan di depanku menggunakan ujung lidah sendiri dan setelah yakin terhadap apa yang kucari senyum senang akhirnya muncul juga di wajah letihku. Tanganku pun mulai saja mengolah semua bahan dengan cara mengaduknya dalam mixer ukuran sedang.

 

[Several Time Later]

 

Selesai dengan tekstur yang amat sangat kurang meyakinkan—salahkanlah D.O yang tak kunjung pulang jadi jangan heran kalau kueku encer akhirnya.

 

Aku menuangkan adonan pada cetakan yang sudah kususun sebelumnya di atas loyang dan langsung memanggangnya pada oven sesuai perintah D.O Seonsaengnim dalam buku resepnya.

 

            “Oppa . . . .” Lengan mungil tiba-tiba melingkari pinggangku, membuatku yang hendak berbalik pun terpaksa mengurungkan niat tersebut. Pada area punggung kurasakan hadirnya gesekan permukaan wajah. Hyena . . . memelukku? Tidak biasanya.

 

            “Hm?” gumamku sambil tetap pura-pura fokus pada kue dalam oven yang baru beberapa detik lalu kupanggang padahal hatiku sudah menjerit-jerit heboh di dalam sana.

 

            “Gomawo.”

Aku bingung. Tentu saja, terima kasih perihal jasa apa?

 

            “Untuk ?” tanyaku menuntut penjelasan.

 

            “Untuk kau yang sudah bersedia menjadi kekasihku selama setahun ini, untuk kesabaranmu bertahan menghadapi kelabilanku, untuk kasih sayangmu yang tak terbatas, untuk loyalitasmu terhadap hubungan ini juga untuk punggung nyamanmu yang sudah rela menerimaku, menyandarkan kepala seperti ini, nan jeongmal gomawoyo.” Aku berbalik ke arahnya.

Dengan meruntuhkan seluruh poin kekesalan di awal karena bocah manis ini, kuputuskan untuk mengusap pipi tirusnya, ahh . . . dia pasti jarang makan. Apa saja memang kerjaannya di sekolah? Sampai badanya kering begini?

 

Benar, Yoo Hyena jauh sekali dari kriteriaku. Wajahnya biasa-biasa saja, manis? Tidak terlalu, bahkan kalau dipikir ulang Chanyeol atau Sehun jauh lebih cute. Ia hanya gadis mungil, dengan kulit sepucat vampir-vampir Hollywood, mata kecil, bibir sedang, hidung yang cukup tinggi, rambut hitam sepinggang dan paling penting kekanakan. Aku tak tahu di mana letak keistimewaannya tapi yang jelas selama setahun ini ada gelora nyaman yang tak mungkin kudapati dari makhluk berjenis wanita lain. Sepertinya, inilah cinta itu.

 

            “Kau tahu, baru saja aku sadar kalau kau ternyata mirip cookies, Na~ya,” ujarku setelah lama terdiam, memanjakan mataku akan sosoknya yang selalu kurindu secara diam-diam.

 

            “Mwoya? Nappeun . . . jadi, maksudmu aku hitam, cemilan, pajangan toples dan tidak cantik?” ia menjauhkan dirinya dariku. Mata kecilnya sudah berembun. Ohh . . . apakah efek ucapanku separah itu?

 

            “Anniya,” responku singkat sebelum melanjutkan.

 

            “Suaramu yang selama setahun kudengar ternyata efeknya mampu serenyah bunyi kunyahan cookies manis yang tereksplorasi oleh ketigapuluh dua peri-peri gigi, wangimu yang selalu kubau juga tak kalah dengan harum adonan cookies yang memabukan, belum lagi menatapmu rasanya seperti bingkai kuaran pesona cookies-cookies natal yang terpajang dalam toples mungil di dapur Eomma, paling penting . . . “

Aku menggeret lengan kananya, dan detik berselang ia sudah terkurung sepenuhnya dalam dekapanku.

 

            “Memelukmu seperti ini sama hangatnya dengan menyentuh kue cookies yang baru terangkat dari tungku. Memilikimu maka aku bahagia, Yoo Hyena.”

 

            “Kau . . . belajar menggombal garing begini dari mana? Kenapa aku jadi ingin menangis? Bakehyun Oppa nan joahe,” akunya membuatku tersenyum girang di posisiku.

 

            “Hm, jangan bilang putus lagi nanti—“

 

            “Hmm . . . kau bau gosong,” celetuknya membuatku terbengong.

 

            “Ne?”

 

            “Goso—“

 

            “Aishh, cookiesnya . . . !”

 

END

 

 

7 thoughts on “[Baek Hyun’s] Sweet Cookies

  1. Wahahaha keasyikn ngegombal ch, mpe lupha sma cookies nya,
    jd gosong dc, , wkakakak
    bner2 sweet sweet dc,

    trus brkrya ya,
    fighting !

  2. Waahhhh…. Mau yaa ditindas gtuu… Cintanya luar biassaaahhh…
    But ini sweet bgt…wkwk
    Ini author nyinggung bgt-_- masa iyaa ciri2 kyk gtuu dibilang biasa ajaa, cakep lahh cakep ituuu wkwkwk
    Well, whatever, pokonyaa author jjang!!!^,^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s