Diposkan pada Baek Hyun, exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance, friendship, Kai, One Shoot, Romance, Songfic

Goodbye Summer

Gambar

NO SILENT READER!!

 

Title                 : Goodbye Summer

Type                : ONESHOT

Category         : Romance, Friendship, SongFic

Song                : Luna,Krystal,Amber ft D.O – Goodbye Summer

Author             : dubudub

FB                    : https://www.facebook.com/du.dub.31

PAGE FB               : https://www.facebook.com/wonderfulworld31 (Home for Krystalized)

Twitter                        : @dewioktaviani5_

Cast                 : Kim Jong In (KAI-EXO), Jung Soo Jung (Krystal f(X) ) , Byun Baekhyun (EXO)

Rating              : PG 13+

Page                : 13

Words              : 2,830

 

Note:

Tipe cerita ini akan mirip dengan RESET dan Illa Illa.. ada flashback yang tersempil disana sini.. trus alurnya maju mundur. Karena lirik lagunya juga maju mundur T___T. Karena itu aku berusaha bikin bahasanya agak ringan dan gak mendetail untuk tempat dan suasana. Bayangkan aja backgroundnya itu di kelas.>> kebanyakan di kelas sih.

Yang bercetak miring, berarti memori masa lalu. (waktu Soo Jung dan Jong In SMA)

Yang tercetak tebal, berarti teks lagu.

Kalo kalian bingung gapapa. Author buat ff ini emang untuk membuat kalian pusing. Sebaiknya siapkan obat pusing (?) sebelum membaca.

 

 

 

 

GOODBYE SUMMER

 

 

 

Matahari kini berada di ujung timur. Ia tampak terlihat lelah untuk berkuasa lagi. Sinarnya sedikit meredup seakan ingin mengatakan selamat tinggal kepada musim panas yang segera berakhir. Sisa kaki cahayanya masih terpantul di bangunan-bangunan tua sekolah yang menjulang tinggi. Begitu elok dan abstrak, penampakan alam yang tidak dapat di beli oleh apapun.

 

Seorang pemuda tampan dengan tubuhnya yang jangkung melonggarkan dasinya. Ia mengenakan jas hitam yang memperlihatkan betapa gagahnya ia. Pemuda berwajah dingin itu menapakkan kakinya hati-hati ke lapangan hijau nan luas. Sesaat ia tersenyum kecil. Begitu manis, dengan kedua matanya yang terkesan kaku dan tajam.

 

“Akhirnya, aku dapat mengunjungi tempat ini” katanya dan mengingat bahwa ia sangat kenal tempat ini.  “Setelah begitu lama”

 

Seketika kakinya menginjak perlahan rerumputan segar lapangan itu. Matanya tertuju pada sebuah gawang putih yang sangat familiar di ingatannya. Detik-detik ketika dia menggiring bola dan menendang dengan kencang hingga akhirnya dia berhasil mencetak gol untuk timnya. Gol terakhir. Gol terakhir yang ia ciptakan dan persembahkan untuk seorang gadis.

 

Gol itu. Point yang tercetak itu. Kemenangan kala itu. Tercipta untuk seorang gadis yang selalu disampingnya. Tersenyum untuknya. Gadis itu. Apakah ia menyadarinya? Pemuda itu tersenyum pahit, kemudian menggeleng perlahan. Ia mengambil nafas dalam-dalam. Memberi serentetan oksigen di setiap nadi dan sarafnya.

 

“Jong In! KIM JONG IN FIGHTING!!”

 

Kini pemuda itu menoleh ke arah bangku penonton yang berbentuk seperti tangga. Ia ingat dimana gadis itu duduk, dan mengangkat banner kecil bertuliskan namanya tinggi-tinggi. Ia juga ingat, ketika gadis itu mencelotehinya.

 

[Guitar intro ]

 

 “Paboya! Bagaimana bisa kau berhasil memasukan bola tapi tak pernah berhasil di ulangan bahasa inggrismu?”

 

I remember when we were yelled at for talking in the halls

 

Lorong itu terlihat sepi. Sebuah lorong kelas di kala senja, ketika sisa cahaya matahari masuk dari jendela. Begitu hangat.

 

Jong In, matanya sesaat meraba sudut lorong yang sangat hapal di ingatannya. Dibayangkannya dia dengan seragam sekolah yang sangat berantakan, duduk bersimpuh disana. Dan seorang gadis, dengan rambutnya yang panjang dan lembut, duduk disampingnya sembari berteriak padanya kesal.

 

I don’t know why it was so fun even when we were being punished

 

“Ya paboya! Kenapa kau mengaku tidak membawa buku? Aku melihatmu mengeluarkan tugas itu tadi!”

Aku meringis kesakitan. Gadis ini menyebalkan. Apakah sempat dia berteriak begitu padaku disaat kami diberi hukuman seperti ini? Duduk bersimpuh di pinggir lorong, dan mengangkat tangan seperti orang tahanan. Jujur ini benar-benar hukuman yang menyebalkan. Tanganku cukup letih setelah kemarin ada sesi pelatihan push up di klub bola sekolah.

 

“Kau benar-benar bodoh Kim Jong In” ujarnya sebal. Hey. Bukankah seharusnya dia berterimakasih kepadaku? Aku menemaninya bagaimanapun juga.

 

“Ucapan macam apa itu? Seharusnya kau berterimakasih kepada laki-laki tampan ini yang mau menemani perempuan jelek sepertimu” ejekku dengan menggebu.

 

Kulihat gadis itu tidak membalasku, namun malah menunduk. Dia tersenyum. Senyum yang membuat jantungku berdetak amat kencang.

“Paboya namja!” katanya disela senyumnya yang sederhana dan cantik itu.

 

Ya. Aku memang bodoh. Karenamu Soo Jung. Sadarkah dirimu?

 

 

After that day

we always

 

Stuck together like the Astro twins, you were me and I was you

 

“Sengil chukka hamnida!!!” gadis itu menarik dasi sekolahku dengan kasar. Aku terbatuk kaget. Apa yang di lakukannya?!

 

“Taraaa!!! Happy Birthday paboya Kim Jong In!” aku melihatnya menunjukkan sebuah kue tart mini berlapis cream orange. Dengan hiasan Sunkist diatasnya, serta lilin dengan angka 18 yang mencolok. Mini tart itu terlihat segar dan cantik.

 

“Tiup lilinnya!” aku tersentak, kelas ketika pagi itu seharusnya hanya ada aku dan Soo Jung. Kulihat seorang pemuda tersenyum memandangku. Pemuda itu mengenakan seragam yang sama dengan kami. Senyumnya terlihat ramah, seiring dengan matanya yang menyipit ketika bibirnya merekah. Aku menatap pemuda itu cukup asing, siapa orang ini?

 

“Ya! Cepat tiup paboya!” seruan Soo Jung membuatku tersadar. “make a wish!!”

“hey, ini ulang tahunku, tapi kenapa justru kau yang begitu bersemangat?”

Aku mendengus pura-pura terlihat risih dengan sikapnya. Namun sesungguhnya aku suka. Aku suka melihat tingkahnya yang seperti ini. Apakah dia juga mencintaiku?

 

“Ppali~”

“Iya jelek” ujarku kemudian menutup kedua kelopak mataku.

 

“Tuhan,” bisikku dalam hati “Tuhan, kumohon” aku menelan ludah. “ijinkan aku memilikinya”

 

Aku membuka mataku perlahan. Soo Jung memandangku dengan antusias. Kulihat lidah-lidah api itu menyala cukup gesit.

 

Tuhan, apakah kau mendengarnya?

Degup jantungku.

Jantungku berseru memanggil namanya, gadis ini, Jung Soo Jung.

 

Kemudian aku meniup lilin itu lembut. Api lilin itu padam, seiring dengan suara Soo Jung yang membuatku tidak dapat berpikir lagi.

 

“Jong In-na, perkenalkan. Baekhyun oppa. Uri sunbei.” katanya dan menarik tangan pemuda itu untuk mendekat. Aku terdiam, hingga ia melanjutkan perkataannya yang entah kenapa membuat risih. “Partner bernyanyiku di Summer Festival nanti” katanya dengan matanya yang membulat karena terlalu semangat.”kau harus mendengar suara ya. Sangat keren!”

 

“Kau terlalu memuji Soo Jung” kekeh pemuda bernama Baekhyun itu. Lalu dia menyodorkan tangannya padaku. “Baekhyun imnida, senang berkenalan denganmu”

 

 

Pemuda bernama Jong In itu mendengus pelan. Ia bersandar pada jendela lorong kelas itu. Matanya terpejam sesaat, sebelum kemudian terdengar suara lirihnya.

 

“Jung Soo Jung, dimanakah dirimu saat ini? Apakah, kau merindukanku?”

 

 

 

 

Aku memandangnya lagi. Gadis itu masih terisak kecil.

 

You cried so much on the day before graduation

 

Aku meraih tangannya lembut. Gadis itu tidak menolak sentuhanku. Dahinya kini bersandar pada lenganku, menenggelamkan tangisnya disana.

 

You held it in firmly since you’re a guy

 

“Jong In-na” katanya membuatku tertegun. “apakah hari kelulusan nanti harus segembira dan menyakitkan seperti ini?”

 

Tanganku terangkat. Meraih dagunya.Sementara jemariku membasuh setitik air mata di ujung matanya. “Aigo, kau tambah jelek kalau menangis. Haruskah aku membawakanmu sebuah kaca agar kau bisa melihat wajahmu yang seperti alien disana?” ejekku dan menjulurkan lidahku, membuat wajaku  terlihat begitu bodoh.

 

“Ya paboya!” serunya dan memukul lenganku. Tidak sakit, tapi aku mengaduh begitu keras. Dan, ya, aku melihatnya tersenyum. Senyum itu mampu membuat mataku terbius. Dadaku bergejolak.

 

 Kau menyukainya Kim Jong In.

 

“Soo Jung” Katakan, katakan kau menyukainya bodoh! “Aku__”

 

Soo Jung menatapku dengan pupilnya yang melebar. Wajahnya begitu dekat, sementara hidungku mencium wangi strawberry yang khas dari rambutnya.

 

“Aku” kataku seperti orang bodoh “Aku ingin memotret wajah jelekmu saat menangis untuk mengusir tikus dirumahku. Please~~?”

 

“KIM JONGGINNN!!!”

 

Just like that hot summer when we couldn’t say what we wanted, goodbye

 

Aku membenci diriku sendiri. Karena aku adalah seorang pencundang.

 

The friend label is a label that I got to hate

 

Soo Jung tiba-tiba meraih headshet yang tersemat ditelingaku, dan melepasnya.

 

 “Friend” katanya dan  memamerkan kelingkingnya. Membuat kelingkingnya bergerak-gerak seperti cacing yang ditaburi garam.  Gadis itu tersenyum begitu lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit yang sangat unik.

 

“Iya bodoh” ujarku asal-asalan dan kembali berkonsentrasi pada komik yang sedang ku baca.

 

Sekilas aku melihat wajahnya itu nampak sebal. Ingin sekali aku mencubit pipinya kala itu. Anda saja aku bisa. Andai saja, jantungku tidak berdetak secepat ini.

 

Tiba-tiba gadis itu menarik kelingkingku dengan kasar. Kemudian ditautkannya kelingkingku ke kelingkingnya.

 

The feelings I’ve hidden still remain as a painful secret memory

 

“Kau berjanji jika kau mencetak gol , kita akan pergi kepantai! Awas saja kalau kau tidak menungguku Kim Jong In!” serunya dan kemudian membawa tasnya ke luar kelas.

 

Aku tersenyum memandang punggung kecilnya itu. Ia menenteng tas warna merah cerah dengan hiasan strawberry kesukaannya. Terlihat sangat kekanak-kanakan. Tapi aku menyukainya. Apapun tentangnya, aku suka.

 

Drrt Drrt

Handphoneku bergetar diatas meja. Sebuah message masuk, dan kulihat dari seseorang yang sangat aku kenal.

 

From: Soo Jung

Satu jam lagu, temui aku di ruang music ne ^^

Awas kalau kau kabur! Hidupmu tak akan selamat!

Pantai!! aku datang~~

 

Aku menahan tawa melihat pesannya.

 

“Tentu saja aku akan menunggum,  bodoh.” Jariku bergerak, ingin membalas pesannya. Namun keinginan itu tertahan.

 

Aku ingin membuatnya terkejut.

 

Kemudian, aku menutup pesan yang terpampang dihandphone touchscreen-ku. Dan kini, terlihat jelas foto selca kami berdua. Foto yang kami ambil beberapa waktu lalu. Soo Jung tampak sangat lucu disana. Tentu aku ingat bagaimana ia marah saat itu, karena nilai ulangan bahasa inggriskku yang sangat jelek.

 

“Bagaimana bisa aku memiliki teman sebodoh kau Jong In” katanya kesal dengan pipi yang menggembung menggemaskan kala itu.

 

The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story

 

 

Ya. Teman.

 

I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

 

Dia bilang latihan hanya untuk satu jam. Namun sudah 20 menit lewat dia belum keluar dari sana. Awalnya aku berniat mengagetkannya, dan bersembunyi di balik tembok. Teman-teman lain satu klub music dengannya sudah kluar dari sana sedari tadi, tapi kenapa dia belum keluar juga? Atau dia marah?

 

Aku melangkahkan kakiku menuju ruang musik. Aku tidak takut jika gadis itu marah. Justru wajahnya sangat lucu ketika ia menggembungkan pipinya. Aku tersenyum. Kau benar-benar-benar lucu Soo Jung-ah.

 

What do I say, we didn’t have to play no games

I should’ve took that chance, I should’ve asked for you to stay

 

Kakiku berhenti, pada sejengkal celah pintu yang terbuka. Aku mengutuk. Seharusnya aku tak kemari. Seharusnya aku tak melihat ini. Mataku terasa perih kala itu. Kulihat, gadis itu disana dengan rambut panjangnya yang elegan itu. Aku jelas sangat mengenali punggungnya. Dan seorang laki-laki yang juga aku kenal berada disana.

 

And it gets me down the unsaid words that still remain

 

“Jong In-na, perkenalkan. Baekhyun oppa. Uri sunbei.” katanya dan menarik tangan pemuda itu untuk mendekat. Aku terdiam, hingga ia melanjutkan perkataannya yang entah kenapa membuat risih. “Partnerku di Summer Festival nanti” katanya dengan matanya yang membulat karena terlalu semangat.

 

The story ended without even starting

Baekhyun

Kulihat tangan pemuda itu melingkar di pinggang Soo Jung dan tangannya yang lain menyentuh pipi gadis itu lembut. Ia merengkuh tubuh gadis itu begitu dekat hingga tak ada lagi jeda diantara mereka. Dan wajah mereka bertemu dalam satu titik yang membuatku tanpa sadar meremat tanganku begitu kuat.

 

Mereka berciuman.

 

I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

 

To: Soo Jung

Hari ini pulanglah sendiri. Aku ada janji dengan eomma. Kita ke pantai lain kali saja. Istriahatlah.

 

Your song on the last day of the school festival,

 

Dia begitu cantik. Dengan rambutnya yang dibuat ikal, make up tipis yang membuatnya innoncent. Bibirnya yang dipoles dengan lipgloss chery pink. Juga minidress warna putih memberi kesan bercahaya pada kulitnya yang putih bersih.

 

Gadis ini. Andaikan dia adalah milikku.

 

Aku melihatnya diatas panggung. Tersenyum kepadaku. Bernyanyi dengan sepenuh hati. Mataku tidak bisa lepas dari malaikat itu. Tidak sedetikpun. Hingga sosok yang tidak ingin aku lihat datang.

 

Oh, actually, I love you, yeah

 

Kemudian aku melihat pemuda itu. Byun Baekhyun, ia keluar dari backstage. Bernyanyi dengan penuh penghayatan. Ia meraih tangan Soo Jung, dan menggengam lembut tangan gadis itu. Mereka nampak begitu serasi. Dan mungkin aku hanyalah sampah yang akan merusak pemandangan ini. Dengan getir, kakiku bergerak, pergi darisana. Menyelip diantara keramaian, menghilang diantara bisik-bisik samar.

 

“Woah, daebak. Aku dengar Baekhyun dan Soo Jung pacaran”

 

A heartbreaking story, I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

 

Jong In, pemuda itu kini terdiam. Jemarinya mengetuk jendela yang menerangi lorong kelas itu perlahan. Sedikit berdebu. Mungkin jika Soo Jung disana, gadis itu akan mengomel.

“Aku benci debu!”

Jong In tersenyum kecil. Kemudian kakinya melangkah lagi, menuju sebuah pintu yang belum tertutup sempurna. Kelasnya dan Soo Jung dulu. Seperti apakah rupanya sekarang? Apakah masih sehangat dulu?

 

Jong In meraih gangang pintu kelas itu. Namun tahu-tahu, pintu itu sudah terbuka. Dan betapa kagetnya pemuda itu ketika didapatinya seorang yang kini berdiri dengan anggun dihadapannya.

 

Jung Soo Jung

 

 

The friend label is a label that I got to hate

The feelings I’ve hid still remain as a painful secret memory

The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story

I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

 

Jong In tidak bisa melepaskan sorotan matanya pada gadis itu. Wajahnya putih dengan matanya yang berbinar. Bibirnya masih manis. Rambutnya yang panjang terhempas angin. Angin yang terhempas cukkup dingin, angin musinm gugur yang akan segera datang.

 

“Aku mencarimu setelah hari kelulusan. Tapi kau menghilang. Sedangkan aku belum berpamitan padamu, aku akan berangkat ke California setelah itu” Gadis itu tidak memandang Jong In. Matanya terarah pada jendela yang terbuka. Sementara mereka berdua duduk bersandar di salah satu meja murid yang terletak paling pojok didekat jendela.

 

Angin berhembus semilir lagi. Cahaya matahari kian meredup.

 

“Saat itu” Jong In menelan ludah “Aku hanya berpikir Baekhyun bisa menjagamu”. Seharusnya dia tidak mengungkit ini.

 

Soo Jung menunduk, membuat sisa rambutnya yang lembut menutupi sebagian wajahnya. Kemudian gadis itu menyibakkan rambutnya lembut dan membuat lehernya yang jenjang dan putih itu terlihat. Samar, tercium wangi vanilla dari tubuh Soo Jung, parfum gadis itu telah berubah, namun tetap manis. Jong In menelan ludah sekali lagi melihat Soo Jung yang kini dihadapannya. Gadis itu, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Hanya laki-laki bodoh yang tidak menyukainya.

 

“Aku dan Baekhyun oppa.” kata Soo Jung akhirnya hampir seperti sebuah bisikan. “Kami bahkan belum memulai apapun. Aku telah menolaknya setelah dia menyatakan cintanya dan menciumku.”

 

Jong In terdiam. Ia ingin sekali membuat lelucon. Ia ingin melihat Soo Jung tersenyum lagi. Namun yang ada, pemuda itu hanya bisa mengeluarkan sebuah kalimat yang sangat singkat.

 

“Maafkan aku”

 

Soo Jung sama sekali tidak memandang Jong In. Gadis itu mengigit bibir mungilnya sebelum kemudian bersuara lagi.

 

“Kau benar-benar jahat Kim Jong In.” kalimat itu mencengkram dada Jong In bagai tangan monster yang tengah menerkam mangsa dengan kuat.

 

Hilir angin dan gemersik dedaunan pohon yang saling bergesekan, mirip irama lembut yang mengisi sela keheningan mereka. Seakan memberi kesempatan bagi keduanya untuk lebih dekat. Sedangkan matahari di sana kini telah hilang sepertujuhnya.

 

 “Soo Jung-ngie” bisik Jong In dan dadanya memburu seakan hampir meledak. “Apa kau” katanya gugup “apa kau pernah menyukaiku…..”

 

Soo Jung kini menoleh. Matanya yang jernih itu menatap Jong In lurus-lurus. Pipinya seketika memerah.

 

“Soo Jung”

Jong In, pemuda yang dulu kanak-kanak dengan seragam SMAnya yang berantakan itu kini tampak dewasa. Tanpa ragu, ia meraih tangan Soo Jung, digenggamnya erat agar gadis itu tidak bisa memalingkan wajahnya.

 

“Aku mencintaimu Jung Soo Jung” kata Jong In. ia tak ingin kehilangan gadis ini lagi. Masa bodoh dengan semuanya. Ia mencintai gadis ini. Sampai sekarang, rasa itu bahkan tidak terganti oleh wanita manapun.

Tidak pernah.

 

“Maafkan aku . Aku benar-benar bodoh saat itu. Aku___”

 

Jong In kini tercekat. Ia tidak menyadari betapa jarak wajah mereka begitu dekat. Pemuda itu terbius sesaat oleh binar mata gadis itu. Mata yang sangat cantik dan lembut.

“___a-aku cemburu”

 

Jong In menarik tangan Soo Jung ringan. Menenggelamkan tangannya dilingkar pinggang Soo Jung. Gadis itu tak menolak. Tatapannya nampak begitu polos, seakan gadis itu menunggu apa yang Jong In akan lakukan.

 

Hidung mereka bergesak perlahan. Sensasi yang luar biasa menjalar di seluruh nadi  Jong In. Hasrat, cinta, kasih sayang. Hingga kemudian mereka menutup mata. Merasakan desah nafas masing masing. Merasakan betapa dekatnya jarak diantara mereka. Tanpa ragu, bibir Jong in meraih bibir mungil Soo Jung.  Bibir mereka bertemu di garis merah yang mereka sebut takdir dan tertuang dalam hati yang berkobar setelah sekian lama membeku kesepian.

 

Jong In memagut bibir Soo Jung lembut. Bibir gadis itu sangat manis, pemuda itu tak ingin melepasnya, dan memperdalam kecupannya. Soo Jung perlahan meraih tengkuk Jong In, dan membalas kecupan namja itu. Ia tak tahu, dorongan apa yang ada didalam dirinya saat itu. Gadis itu, merasa hampa tanpa Jong In di sampingnya. Begitu hampa dan kosong. Dan yang ada kekosongan itu telah terisi kembali, bahkan penuh.

 

Tidak ada suara, Semilir angin pun seakan takut untuk membuat kegaduhan. Sepasang pemuda dan pemudi itu memadu kasih, membagi cinta, membagi kehangatan yang tersimpan dalam jiwa dan raga mereka yang lama tersimpan. Hanya gelora asmara yang membakar kedua insan itu hingga sebuah kata terucap dari bibir mereka. “Saranghae”

 

Jong In membelai pipi gadis itu perlahan. Soo Jung tersenyum, merasakan belaian pemuda itu, begitu lembut, penuh kasih sayang. Hingga akhirnya Jong In membawa tubuh gadis itu kepelukannya lagi. Mengecup bibir gadis itu dengan rindu yang bahkan tak bisa terlukiskan oleh media  apapun.

 

Dan disana, sang raja bintang yang paling berkuasa di alam raya, ia telah membulat menjadi bola api raksasa. Cahayanya bukan lagi lembut, melainkan redup. Dia, adalah matahari Seoul yang kini mulai tenggelam dan perlahan mengucapkan

 

 ‘goodbye summer’.

 

 

 

THE END

 

 

 

YA TUHANNN INI FF PALING GEJE YANG PERNAH SAYA BUAT. T—-T MAAF KALO JELEK. SEBENERNYA IDE RADA BUNTU DI TENGAH-TENGAH, TERUS TIBA-TIBA MENGALIR JADI HAPPY ENDING? PADAHAL LAGUNYA SAD ENDING -______-

LIKE AND COMMENT GUYS ^^

 

Yang silent reader gua doain ga slamet dunia akherat

Nb: cek my FB for my other FF ^^

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

14 tanggapan untuk “Goodbye Summer

  1. telat baca aku~~~
    sumpehhh ini keren abissss. Aku sampe ikut tenggelam dalam cerita *apaan?* ya pokoknya, aku kaya masuk kedalam tiap kata yang ada *eaaak*

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s