Diposkan pada Angst, Chan Yeol, EXO-K, EXO-M, Fanfiction, Kris, Oneshot, Sad Romance, sehunblackpearl

LONG TIME AWAY

Long time away

Tittle                      : Long Time Away

Author                  : Sehunblackpearl

Main Cast            :

–  Wu Yi Fan a.k.a Kris Wu [EXO]

–  Keiko Lee [OC]

–  Park Chanyeol [EXO]

Genre                   : Romance, sad romance, angst

Rated                    : PG

Summary             : Janji-janji yang tak ditepati, dusta yang seolah nyata. Gadis itu terluka, dan tidak memberi maaf bagi cinta. Sekian tahun berlalu, masih teringat jelas wajah dingin pria itu, tanpa emosi. Hampir tidak manusiawi. Hatinya tidak mungkin akan sembuh.

Disclaimer           : Plot dan isi cerita milik author, saya tidak memiliki para cast kecuali Sehun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita ini.

A/N: Annyeong para reader di Exo Fanfiction World. Ada yang rindu aku gak? Atau jangan-jangan ini udah pada lupa sama Sehunblackpearl saking lama gak nongol T.T Mian yaaaaah saya udah php-in terlalu banyak reader setia saya (read: para pembaca Mr. Friday dan ff lainnya yg saya janji lanjut tp tidak pernah dilanjutkan). Jadi selama beberapa bulan saya absen, saya mengalami kegalauan, KEGALAUAN STADIUM AKHIR PEMIRSAAAH. Yaaah gitu deeh jadi ada sedikit masalah dengan hati saya *cieeeh bahasanya* dan saya jadi malas ngapa-ngapain. Nulis ff gadak yang beres, seperti hati saya ini T.T Jadi berhubung saya galau berat berkat(?) seorang adik kelas bernama *piiiiiip* (sensor)  jadilah saya senengnya bikin cerita yang bergenre angst.

Happy reading^^ Selamat mengeluarkan air mata buat yang bersedia lol. Dan ingat!!!! No BASH! No SIDERS! No PLAGIATORS!

~Long Time Away~

Hai, Kris. Apa kabar? Malam ini aku menangis lagi karenamu. Tapi aku akan baik-baik saja.

Gadis itu menghentikan gerakan tangannya setelah membubuhi kalimatnya yang terakhir dengan satu titik. Diangkatnya kepalanya dan menatap kosong pada dinding polos berwarna lavender di hadapannya. Menghela nafas berat dan ditundukkannya lagi kepalanya. Membaca kembali tulisan tangannya, kata demi kata dengan sangat jelas. Matanya berhenti lama, memandang pada kalimat terakhir. Dan dia menghela nafas lagi. Seuah rahasia yang hanya diketahui olehnya. Bahwa kata-kata itu hanya bohong belaka. Sudah terlalu sering kata itu diucapkannya pada refleksi dirinya sendiri di cermin setiap dia berkaca, begitu juga kepada orang lain, dituangkan ke atas kertas ataupun diketikkan di dokumen word-nya meskipun kemudian dihapusnya lagi hingga menghilang tanpa jejak. Seolah memang tak pernah ada sebelumnya, seperti Kris. Tak dapat ditemukannya maupun orang lain lagi di belahan bumi manapun. Pria itu telah pergi meninggalkan luka yang ia tak tahu mungkinkah akan sembuh.

Setelah ragu selama beberapa detik, dia menggerakkan lagi tangannya mencoret satu kalimat terakhir itu. Dan menulis kata-kata lain sebagai gantinya.

Tapi aku akan baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja.

Dia tidak baik-baik saja. Sama sekali tidak. Terkadang saat malam dia teringat akan Kris. Malam lain, dia menangis tiba-tiba tanpa alasan yang jelas kemudian setelahnya menyadari Krislah alasannya.

Keiko, gadis itu, berdiri dari kursi tempat ia telah duduk selama berjam-jam hari ini. Dia menggulung rambut panjangnya ke atas dan merapikan bajunya. Setelah seharian berkutat dengan meja yang sudah digunakannya hampir dua tahun terakhir ini. Menulis, mengetik, membuat keterampilan yang iseng dikerjakannya, memajang foto-foto dan apapun yang dapat dia lakukan dengan meja itu.

Keiko beranjak dari tempat ia sempat terhenti sebentar mengikat rambut. Ia berjalan keluar kamarnya. Begitu keluar dari kamar tidur yang lebih tepat disebut kamar kerjanya, Keiko langsung berhadapan dengan ruang tamu yang sekaligus ruang TV dan langsung bersambung dengan dapur. Dia sudah mengurung diri di istana pribadinya kurang lebih seharian hanya mengetik dan sesekali menulis di buku hariannya, tanpa air dan makanan bahkan kudapan sedikit pun. Dia hanya keluar untuk buang air saja. Tidak heran, saat diliriknya jam berbentuk burung hantu yang diletakkannya di atas TV menunjukkan pukul 07.45 P.M, perutnya tidak mau bercanda lagi dan dia betul-betul kelaparan.

Tanpa pikir panjang, kaki Keiko lansung melangkah ke dapurnya, membuka kulkas dan melihat sisa susi semalam yang sudah berbau, pizza dua minggu lalu yang dia yakin kalau dimakannya sekarang hanya akan membuatnya keracunan makanan, juga ada strawberry yang dia sudah tidak ingat lagi kapan dibelinya dan sudah mulai membusuk.

Setelah ragu beberapa saat, akhiirnya Keiko memutuskan untuk menyeduh mi instan. Lima menit kemudian dia sudah duduk di depan televisi dengan cup mi di tangan kanan dan remot di tangan kiri, melakukan zapping untuk menghilangkan rasa bosan, tidak ada acara yang menarik. Pada akhirnya gadis berdarah campuran Jepang-Korea itu berhenti mengganti-ganti channel dan memilih Disney Channel yang sedang menayangkan Glee. Keiko tidak begitu mengerti dengan apa yang ditontonnya. Pada dasarnya dia bukan penggemar berat sinetron disney itu. Kris dan Chanyeol yang suka menontonnya. Dulu mereka sering menonton bersama di rumah Keiko. Keiko satu-satunya yang tidak tertarik dengan tontonan itu. Kris dan Chanyeol akan selalu menggodanya. Dan mereka tertawa riang bersama.

Dulu. Saat mereka selalu bertiga. Sebelum segala sesuatu di antara mereka berubah. Saat itu mereka masih sering saling menginap di flat masing-masing (well, sebenarnya Kris dan Chanyeol tinggal satu flat, hanya dia sendiri yang lain, harus naik kereta dua puluh menit dari flat Kris dan Chanyeol menuju flat yang ditinggalinya sendiri).

Hari-hari bahagia itu, Keiko sudah hampir lupa. Dia memang tidak ingin mengingat saat-saat itu lagi sama seperti dia tidak ingin menonton Glee.

~

“Ouh, ayolah Keiko. Berhenti jadi anak membosankan dan kemari temani kami berdua.” Suara berat Chanyeol yang merengek (manja) mengulang-ulang kalimat yang sama membuyarkan konsentrasi Keiko yang sedari tadi berkutat dengan komputernya (lagi).

Keiko memutar bola matanya kesal tapi memutuskan untuk mengacuhkan Chanyeol. Dia punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tidak punya waktu melayani permainan bodoh dua tiang listrik itu. Kembali dia menatap layar komputernya.

“Yaaaak penyihir Keiko. Apa kau sedang mengabaikanku?” ujar Chanyeol lagi, memilih untuk tidak menyerah mengganggu Keiko.

“Haha biarkan dia Yeol. Dia sedang mengejar deadline.” Kris menyahut, membuat senyum di bibir Keiko mengembang.

“Deadline? Apa-apaan? Seperti novelis terkenal saja.”

Tsk. Jika ada hal yang paling mengganggu dan menyebalkan di dunia ini selain mengejar deadline, maka itu adalah suara berisik dan celoteh tidak penting Chanyeol di tengah deadline. Tapi setelah lebih dari tiga tahun bersahabat dengan Si Chan sialan Yeol, Keiko sudah semakin pintar cara menghadapi keberisikan Chanyeol. Dia hanya perlu diam, tidak membalas ocehannya. Dan (mungkin) dia akan memperoleh ketenangan yang diinginkannya.

Tiga jam kemudian, hampir pukul satu, akhirnya Keiko berteriak puas, berdiri dari kursinya, mengepalkan tangan kanan dan meninjukannya ke udara, melakukan pose Superman. Chanyeol yang setengah mengantuk hanya menanggapinya dengan sepatah kata “selamat” dan langsung menjatuhkan kepalanya dan tertidur di lantai. Kris, yang sedari tadi menunggunya dengan tenang sambil bermain-main dengan ponselnya, mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut pada Keiko lalu segera menghampirinya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Keiko dan bibirnya mendarat halus di pelipis Keiko. Mengecup gadis itu lembut, dia berbisik di telinga Keiko yang hanya dipanggilnya Kei jika tidak ada orang lain selain mereka (dalam hal ini Chanyeol mereka anggap tidak ada karena yang bersangkutan sudah tidak tahu pasti ada di mana jiwanya).

“Aku senang kau berhasil menyelesaikannya.” Bisik pria tinggi itu padanya.

Keiko hanya tersenyum dan meletakkan kepalanya di atas dada Kris dengan nyaman. Hal ini yang paling disukainya dari Kris. Kris selalu bersikap lembut padanya. Kris pria yang dapat memberikan rasa nyaman padanya hanya dengan kehadiran pria itu sendiri.

~

Keiko terbangun oleh deringan tanpa henti teleponnya pagi itu. Dia bermaksud mengabaikannya dan membiarkan mesin penjawab telepon untuk menerima pesan siapapun itu yang sedang meneleponnya. Tapi dia terpaksa harus mengurungkan niatnya itu saat usahanya untuk kembali ke dunia mimpi disela deringan telepon yang sama berkali-kali. Siapapun itu yang sedang berusaha menghubunginya sesungguhnya tidak memiliki rasa perike”Keiko”an.

Keiko baru tidur setelah hampir pukul tiga semalam, berusaha menyelesaikan satu bab terakhir buku yang akan segera dikeluarkannya sebagai aba-aba kembalinya dia sebagai Keiko Lee, penulis muda yang sudah mengeluarkan karya-karya terbaik termasuk empat novel bestseller internasional dan beberapa naskah-naskah film serta drama terbaik di Asia. Di usia mudanya, Keiko sudah meraih berbagai penghargaan bergengsi berkenaan dengan bakat menulisnya. Meskipun sangat disayangkan mengenai absennya dia dari dunia itu selama dua tahun terakhir karena alasan pribadi tapi kali ini dia sudah mengambil keputusan dan memilih untuk membangun kembali karirnya.

Keiko, sambil bergumam tidak jelas, bangun dari tempat tidurnya, menuju ruang tengah, masih belum mampu menghilangkan rasa ngantuknya, mengangkat gagang teleponnya dengan kasar saat lagi-lagi telepon itu berdering.

“Halo. Siapapun kau, cepat katakan apa maumu. Awas saja kalau tidak penting, akan kutuntut kau karena beraninya mengganggu tidur indahku.” Keiko bergumam (masih mengantuk) pada orang di seberang sana, lebih tepatnya dia bergumam pada gagang teleponnya.

“Maaf Putri Tidurku yang cantik. Tapi tolong kau lihat ini sudah pukul berapa, kau harus segera menyiapkan bab terakhirmu dan menyerahkannya padaku.” Terdengar suara Editornya di seberang sana yang sepertinya sudah kehilangan kesabaran.

Keiko berbalik sebentar, melirik ke burung hantu di atas televisi, membelalakkan mata melihat angka 12:37 yang ditunjukkan jam itu. “Baiklah datang saja pukul dua nanti. Aku sudah menyelesaikannya tadi pagi, pukul lima. Aku baru tidur setelahnya dan kau betul-betul sudah mengganggu waktu tidurku yang berharga.”

“”Baiklah, aku akan datang sekarang.”

“Pikul dua!”

“Baiklah pukul dua.”

Keiko langsung membanting teleponnya. Dia sudah tidak merasa ngantuk lagi setelah melihat jamnya tadi. Jadi dia memutuskan untuk membuatkan sarapan atau mungkin makan siangnya saja. Sebelumnya, dia menekan tombol play pada teleponnya untuk memutar pesan-pesan yang masuk selama dua hari ini. Terakhir dia memutar pesan-pesan itu adalah dua hari yang lalu.

Tidak ada yang penting. Hanya pesan dari editor cerewetnya tentang deadline, lalu Irene, rekan sesama penulisnya, pesan-pesan tidak penting lainnya, pesan dari ibunya, menanyakan kabarnya, pesan dari koleganya yang lain, lalu ibunya lagi, menyuruh dia menelepon kembali. Keiko tidak begitu mendengarkan pesan-pesan itu dan dengan santai melanjutkan aktivitasnya. Diraihnya selembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai strawberry yang dia tidak tahu sejak kapan ada di dapurnya. Pasti Yura, editor cerewetnya itu yang meletakkannya di situ saat dia terakhir berkunjung.

Keiko berhenti mengolesi rotinya dengan selai saat didengarnya suara yang tidak begitu asing di telinganya.

Keiko, sayang. Bagaimana kabarmu sekarang? Kami sangat merindukanmu di sini. Meskipun kami tahu kau masih sangat sedih dan kecewa, tapi kami sangat berharap kau akan mampir sesekali.

Ibu Kris. Dia tidak menyangka akan pernah mendapat pesan dari wanita itu lagi. Semenjak terakhir kali dia membentak wanita itu di telepon tahun lalu karena selalu mengingatkannya akan Kris.

Biiiip.

Mesin teleponnya berbunyi lagi, memutar pesan yang lain.

Hei Keiko. Kudengar dari Yuri atau siapalah kau akan segera mengeluarkan buku barumu. Aku hanya ingin memberi semangat atau selamat? Terserahlah. Eeeem….

Jeda sebentar.

Apa kau berencana untuk pulang musim dingin nanti? Sudah lama aku tidak melihat wajahmu. Aku merindukanmu. Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi secepatnya. Hubungi aku, okay?

Biiiip.

Keiko mengeluarkan nafas yag sudah ditahannya selama suara berat Chanyeol terdengar berbicara di mesin teleponnya. Sejujurnya dia pun merindukan sahabatnya itu. Sangat merindukannya. Seperti ia merindukan Kris yang dicintainya.

~

Keiko bertemu Chanyeol pertama kali di Seoul enam tahun lalu. Saat itu, mereka berdua adalah dua seniman muda yang baru melejit namanya. Seorang seniman kata-kata dan musisi. Keiko saat itu baru mengeluarkan satu novel debut yang luar biasa dan novel karya selanjutnya yang menakjubkan di usianya yang masih delapan belas. Setelah dua novel karyanya yang secara mengejutkan sangat disukai pembaca, Keiko mendapat tawaran untuk membuat naskah drama percintaan di Korea. Itu adalah drama pertama yang dikerjakannya meskipun sangat disayangkan saat itu dia tidak mendapatkan pencapaian seperti yang diharapkannya.

Chanyeol menciptakan soundtrack untuk drama itu. Itu adalah awal perkenalan mereka. Chanyeol seorang pria yang supel dan sangat ceria. Meninggalkan kesan yang begitu kuat, meskipun mereka hanya bicara sekali dua kali. Segera setelah menyelesaikan naskah dramanya, Keiko terbang ke New York.

Adalah suatu kebetulan aneh yang mempertemukannya kembali dengan Chanyeol di Los Angeles saat dia ke California. Seriously? Bukankah sangat kebetulan? Dia ke L.A sekedar mencari bahan untuk ditulis di novel yang akan ditulisnya berikutnya dan dia bertemu Chanyeol yang mengaku sedang berlibur mengunjungi temannya yang kebetulan tinggal di California.

Sangat aneh melihat Chanyeol di bar saat itu. Keiko tidak begitu mengenal pria tinggi itu tapi dia hanya merasa bar sangat tidak cocok dengan karakter Chanyeol. But well, don’t judge a book by its cover as they say.

“Kau kenal temanku Kris?” ujarnya pada Keiko saat itu, bergeser sedikit ke kiri, memberikan akses mata Keiko untuk melihat pria yang disebutnya Kris. Bagaimana aku bisa mengenalnya, demikian pikir Keiko saat itu. Dia memang tidak mengenal sosok di hadapannya itu. Tapi dia tidak menyuarakan isi hatinya itu. Dia hanya mengangkat bahunya, mengindikasikan ketidaktahuannya.

“Eeeeng padahal kupikir kau sangat terkenal Bro.” Chanyeol memasang wajah bingung pada pria bernama Kris sambil dia menggaruk kepalanya, berpura-pura bingung.

“Ah, tenang saja. Aku juga waktu pertama bertemu kau tidak mengenalmu sama sekali.” Ujar Keiko santai sambil melambaikan salah satu tangannya.

“APA??!!” respon Chanyeol agak berlebihan. “Uuukh, kupikir aku ini sangat terkenal. Ternyata aku menilai diri kita berdua terlalu tinggi.”

Keiko memutar bola matanya. Yang dia maksud adalah dia tidak terlalu tahu siapa-siapa saja seniman atau musisi atau penyanyi atau mungkin pelukis yang terkenal akhir-akhir ini, yang dia tahu judul novel dan pengarang-pengarang yang berada di nomor satu pencarian yang paling digemari pembaca. Tapi dia malas menjelaskannya jadi Keiko hanya tertawa menanggapi Chanyeol. Kris diam saja.

“Kau tahu Keiko? Sahabatku si tiang listrik yang terlalu tinggi, Kris ini…”

“Bukannya kau sendiri sangat tinggi?” itu adalah kata-kata yang pertama keluar dari mulut Kris malam itu.

“Ya, tapi tidak setinggi kau.” Chanyeol tertawa terbahak-bahak (secara tidak wajar). “Dia ini adalah fotografer yang sangat terkenal kau tahu? Kris Wu. Fotografer muda yang sangat berbakat.”

Keiko mengangguk-angguk dan membentuk huruf o dengan bibirnya. Kris hanya tersenyum sedikit salah tingkah karena Chanyeol yang sedikit berlebihan menceritakan tentang dirinya. Kris lelaki yang cukup sopan meskipun agak pendiam. Dan dia sangat tampan. Memiliki bentuk wajah yang sangat sempurna. Dengan alis tebal yang membuatnya terlihat seperti sedang marah. Tapi dia tetap sangat tampan.

Keiko bertemu lagi dengan Kris dua bulan kemudian. Bertabrakan di jalan. Kau tahu? Seperti dalam drama percintaan. Seolah memang sudah ditakdirkan oleh sutrada (atau penulis naskah?) bahwa mereka akan menjadi pemeran utama, mereka secara tidak kebetulan (Kris yakin pertemuan mereka adalah takdir) bertemu di New York. Kris baru memutuskan untuk pindah ke kota yang tidak kalah besarnya dengan Los Angeles itu, katanya dia ingin mencari lebih banyak inspirasi. Dan dia memilih berdomisili di kota itu. Tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Keiko yang secara kebetulan pernah bekerja sama dengan sahabatnya yang sebenarnya juga sangat jarang bertemu.

“Ada sepersejuta peluang untuk dua orang yang saling tahu tapi tidak saling mengenal dan tentunya tidak saling terlibat satu dengan yang lain untuk bertemu. Dan pasti bukan hanya kebetulan mereka bertemu. Aku tidak percaya dengan kebetulan. Pasti memang sudah ditakdirkan untuk bertemu.” Demikian kata Kris setelah lebih dari satu tahun mereka saling melibatkan diri dengan kehidupan satu sama lain. Dan itu adalah malam saat Kris memintanya menghilangkan predikat teman dalam hubungan mereka, Kris ingin dia menjadi sahabat sekaligus kekasihnya. Janji Kris untuk tidak membuatnya menangis sambil menariknya dalam pelukan pria itu adalah bagian terbaik dari malam itu. Tapi Kris mengingkari janjinya.

~

Keiko terpana melihat sosok pria tinggi di hadapannya. Mengenakan kemeja putih dengan blazer hitam di atasnya dan jins biru dongker ditambah sepatu kets hitam. Dia sudah banyak berubah dari terakhir kali mereka bertemu. Sekarang rambut keriting pirangnya (sengaja dipirang) sudah tidak ada. Keiko ingat terakhir melihat pria itu sekitar setahun yang lalu di Vancouver saat Chanyeol memaksanya mengunjungi ibu Kris meskipun Chanyeol tahu persis apa yang telah terjadi. Kata Chanyeol kau tetap harus bersikap baik dan menunjukkan hormat pada ibunya. Ibu Kris saat itu menjadi tuan rumah yang ramah pada dua tamu yang tidak diduganya akan mengunjunginya tapi Keiko tetap merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk pulang lebih dulu, tidak bergabung makan malam. Waktu itu dia ingat persis rambut pirang kotor (keriting) Chanyeol sudah mencapai bahu dan dia mengikatnya sekedar. Chanyeol terlihat seperti para seniman nyentrik pada umumnya.

Sekarang Chanyeol yang berdiri di hadapannya sangat berbeda dengan yang tahun lalu. Rambutnya dikembalikan berwarna hitam dan dipotong pendek selayaknya rambut pria. Gayanya juga tidak semrawutan seperti dulu lagi, dia terlihat rapi dan bersih dan tentunya manly. Satu-satunya yang tidak berubah darinya adalah senyum idiotik khasnya (yang sangat dibanggakannya). Hanya itu yang tersisa dari Chanyeol yang dulu. Tapi secara keseluruhan dia menjadi seperti cerminan Kris. Kris yang dulu.

“Kau akan mengundangku masuk atau…” Chanyeol membuyarkan lamunan Keiko yang sudah menerawang jauh ke empat tahun lalu saat mereka pertama bertemu, mengingat sosok Chanyeol saat itu.

“Ah, ya. Masuk saja. Tapi tempatku berantakan.” Keiko menggaruk dahinya, bukan karena gatal tapi sedikit gugup, sudah setahun tidak bertemu.

“Bukannya memang selalu begitu?” Chanyeol tertawa, berjalan melewati Keiko masuk ke dalam rumah tanpa menunggu aba-aba selanjutnya dari gadis itu. Keiko menutup pintu dan berjalan mengikutinya dari belakang. Badan Chanyeol sudah lebih kekar dari dulu. Semakin seperti Kris saja.

Sejak kepergian Kris, hubungan Keiko dan Chanyeol juga menjadi lebih renggang. Tiba-tiba saja mereka menjadi sahabat yang berubah jadi seperti orang lain. Bukan hanya dengan Chanyeol, tapi memang hubungan Keiko dengan siapa saja menjadi lebih berjarak. Keiko menarik diri dari orang lain, bahkan dari pekerjaannya yang dikiranya dicintainya lebih dari siapa dan apapun juga.

Yang membuat Keiko tidak nyaman adalah perubahan sikap semua orang. Sejak ditiggalkan oleh Kris semua orang secara tidak wajar menjadi terlalu baik dan lembek padanya. Jelas-jelas menunjukkan belas kasihan dan simpati. Tidak terkecuali Chanyeol. Chanyeol, dari semua orang, satu-satunya yang diharapkannya untuk tidak bersikap seperti itu ternyata menunjukkan sikap yang sama seperti orang lain. Chanyeol tidak seharusnya melakukan itu.

Duk. Sebiji apel yang sudah hampir kering mendarat di kepala Keiko,

“Melamun saja.” Ujar Chanyeol ringan dengan intonasi datar. Keiko hanya membalas dengan senyum yang dipaksakan. Chanyeol kembali sibuk dengan aktivitas awalnya, membongkar isi kulkas Keiko. Sambil membongkar sambil memasang berbagai ekspresi. Kadang terkejut, kadang jijik dan lebih sering kombinasi keduanya.

Puas membongkar kulkas Keiko dengan hasil nihil, Chanyeol membanting pintu kulkas dan berjalan mendekati Keiko yang duduk saja di counter dapurnya, menatap kosong pada piring yang sudah diisi oleh Chanyeol dengan kue tadi, tanpa melakukan apa-apa.

“Kau betul-betul harus mulai kursus bersih-bersih.” Ujar Chanyeol, duduk di samping Keiko. “Baru kali ini kulihat kulkas seorang wanita yang tinggal sendirian berantakan seperti itu. Sisa makanan yang bahkan sudah busuk pun tak kau buang.” Chanyeol menggeleng-gelenggkan kepalanya. Tapi Keiko tidak bergeming, masih diam, menatap kosong pada piring (kue).

Chanyeol hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Keiko. Sampai sisa malam itu, Chanyeol memilih untuk diam. Acara kunjungannya itu hanya mereka isi dengan menonton Breaking Dawn 2. Tidak satu pun dari mereka yang bersuara sedikitpun. Keiko tertidur bahkan sebelum Bella dan seluruh Cullen mulai mencari saksi-saksi mereka dan Chanyeol mengangkatnya ke kamar, menjagainya sebentar dan keluar setelahnya. Tapi dia tidak pulang. Dia menginap di rumah Keiko.Tidur di sofa. Dan malam itu pun berlalu. Begitu saja.

~

Kau pembohong Kris, kau pembohong. Aku membencimu.

Setahun setelah kepindahan Kris ke New York, beberapa kunjungan dari Chanyeol (yang sangat sering) setiap kali dia sempat, akhirnya Chanyeol memutuskan untuk mengikuti sahabatnya itu, pindah ke flat Kris. Dia memutuskan berdomisili d New York juga.

Saat itu mereka bertiga, masing-masing sudah sangat dikenal orang dalam bidangnya dan juga dalam persahabatan mereka. Hubungan persahabatan antar jenius-jenius muda yang cepat meroket namanya seperti ini sangat menarik perhatian publik. Bukan hanya cerita, musik, dan hasil-hasil jepretan bernilai tinggi, mereka juga (sebenarnya Chanyeol) menjual popularitas dengan mengatasnamakan persahabatan mereka. Dia sering membawa-bawa nama Keiko dan Kris dalam setiap showbiz, talkshow, wawancara yang dilakukannya. Membuat sedikit kebohongan-kebohongan kecil agar mereka menjadi semakin menarik di mata publik. Yang sering disebut Keiko sebagai menjual persahabatan mereka. Dan kadang gadis berdarah campuran Jepang-Korea itu mengeluh sebenarnya Chanyeol bukan sahabatnya dan pria itu hanya memanfaatkan dia dan Kris saja. Walaupun sebenarnya harus diakuinya memang cukup menyenangkan mendapat perhatian khusus terutama dari para remaja karena persahabatan mereka itu.

Yang paling dibenci Keiko adalah kebohongan-kebohongan Chanyeol seperti, “Kami sering hang out bersama, kadang liburan bersama kalau sempat. Menginap di Sapporo dan Hawaii. Kalau masing-masing bekerja di negara yang berbeda-beda, kami selalu saling menghubungi. Kami memang sangat akrab. Kalaupun kami sama-sama di New York tapi tidak saling menginap, kami menelepon tiap malam.”

Walaupun memang bukan hal yang terlalu aneh karena mereka bertiga sama-sama public figure yang mendunia dan mereka tinggal di Amerika tapi tetap saja mereka bertiga adalah Asia, keturunan Asia. Chanyeol Korea, Kris China-Kanada dan Keiko Jepang-Korea. Mereka adalah bagian dari masyarakat dengan peraturan yang sangat ketat dengan adat dan kebudayaan. Orang-orang bertanya apa yang dilakukan Keiko dengan dua orang pria, berlibur di luar negeri bersama-sama, menginap. Nenek Keiko yang berumur enam puluh tiga meneleponnya, memarahinya. “Bukankah kau ini adalah wanita Jepang terhormat? Bagaimana bisa kau berlibur ke pulau bersama dua orang pria? Kau harus pulang ke Jepang malam ini juga.” Neneknya dari pihak ayah juga melakukan hal yang persis. “Tidak peduli dengan amerika dan novelmu, aku tidak mendidik cucuku menjadi wanita yang bermalam dengan dua pria. Kau seharusnya bersikap santun di negeri Jiran sana.” Apa-apaan? Kenyataannya, mereka bertiga tidak berlibur bersama. Mereka pergi ke kepulauan Bahama untuk urusan pekerjaan. Chanyeol dan Kris memang terlibat dalam satu pekerjaan yang sama, sedangkan Keiko hanya kebetulan sedang berada di sana bersama editornya, merencanakan kelanjutan cerita novel yang tengah dikerjakannya. Chanyeol mengarang cerita saja.

Lain waktu, Chanyeol menciptakan satu lagu cinta yang menarik bagi berbagai kalangan. Chanyeol, takut menyebutkan untuk siapa sebenarnya lagu itu dia ciptakan, mengklaim lagu itu dipersembahkannya untuk sahabat tersayangnya, Keiko. Menimbulkan skandal. Di berbagai media disebut-sebut soal “Hubungan pershabatan yang akhirnya menjadi cinta” Keiko mendapat lebih banyak masalah dari kebohongan Chanyeol yang ini. Fans Chanyeol membenci Keiko. Dia dikejar-kejar dan dipaksa mengonfirmasi sebuah hubungan yang tidak pernah ada. Waktu itu, hubungan persahabatan memang sudah sedikit mendekati cinta, tapi bukan antara Chanyeol dan Keiko, melainkan Kris dan Keiko. Akibat kebohongan yang dilakukan Chanyeol, Kris memilih menjauh dan menghindari Keiko. Pada kenyataannya, lagu itu diciptakan Chanyeol untuk seorang gadis, idol di Korea Selatan sana, seorang penyanyi di bawah naungan SM Entertainment dengan grup SNSD bernama Jessica. Yang paling parah dari segala yang parah, Jessica sangat akrab dengan Keiko dan sering berkonsultasi mengenai Chanyeol dengannya. Bisa bayangkan bagaimana bencinya Jessica pada Keiko saat itu?

Chanyeol juga suka berbohong saat hanya ada mereka bertiga. Dia mengotori rumah, dia menuduh kris melakukannya. Dia tidak sengaja merusak salah satu hasil jepretan yang sangat dibanggakan Kris, dia mengambinghitamkan Keiko yang memang sempat diam-diam melihatnya kerena Kris melarang siapa saja melihatnya. Bahkan dia berbohong mengatakan Kris sedang berkencan dengan mantan pacarnya padahal Kris hanya kebetulan bertemu di swalayan, membuat Keiko dan Kris sempat ribut. Chanyeol sangat sering berbohong dan sangat mengesalkan.

“Aku sangat benci dengan setan pembohong itu.” ujar Keiko, menyandarkan kepalanya di bahu Kris. kris hanya tersenyum mengerti sambil mengelus kepala Keiko. “Berjanjilah kau tidak akan pernah berbohong padaku Kris.” Keiko malam itu memaksa Kris yang sudah menjadi kekasihnya untuk tidak pernah membohoninya.

“Aku berjanji. Kau tahu kan aku bukan pembohong.” Kris tersenyum lembut padanya.

Benar, Kris menepati janjinya, tidak pernah membohongi Keiko. Hingga dia tidak bisa lagi tidak mengingkari janjinya. Dia pada akhirnya berbohong pada Keiko. Menghancurkan hati Keiko yang menjadi serapuh kertas lapuk. Hubungan mereka berakhir dengan kebohongan Kris yang Keiko tau sampai kapanpun takkan mampu dimaafkannya.

~

“Ayo kita pulang ke Seoul.”

Hal pertama yang langsung dikatakan Chanyeol memecah keheningan di antara mereka berdua saat sarapan pagi. Keiko hanya diam, menyantap rotinya.

“Kau harus ikut denganku ke Seoul Kei.”

Keiko menghentikan gerakan tangannya yang hendak memasukkan roti ke mulutnya. Terkejut mendengar Chanyeol memanggilnya dengan sebutan yang hanya digunakan Kris saat mereka berdua.

“Aku serius. Kau tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini. Dibayang-bayangi masa lalu. Demi Tuhan itu sudah dua tahun yang lalu dan kau seharusnya bisa melanjutkan hidup. Bukannya hidup sendiri jauh dari orang-orang. Kau menyiksa dirimu sendiri.”

“Aku tidak merasa kalau aku menyiksa diriku.” Balas Keiko tajam.

“Ayolah semua orang tahu. Selama dua tahun ini seharusnya kau bisa menciptakan setidaknya tiga novel yang kita semua tahu akan menembus pasar dengan angka yang tinggi, kau itu jenius.” Chanyeol menaikkan intonasi suaranya, menatap tajam ke mata Keiko. “Tapi kau malah memilih untuk terus menangisi nasibmu di sini, di Los Angeles, kota tempat kau pertama bertemu dengannya di sini, seolah kau itu adalah orang yang paling malang di dunia. Kau tahu, ada lebih banyak orang yang…”

“Diaaaammm.” Keiko berteriak, memotong kata-kata Chanyeol, memaksanya untuk diam. Chanyeol berhenti berbicara, menatap gadis yang benar-benar terlihat akan hancur kapan saja di hadapannya. Menutup telinganya dan menangis. “Kau tidak mengalaminya. Kau tidak mengalaminya.” ujarnya sambil air matanya terus mengalir. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Kau tidak dibohongi oleh kekasihmu, kau tidak ditinggalkan begitu saja, kau tidak dibiarkan menangis sendiri tanpa ada tangannya yang memegang padahal dia berjanji untuk tidak pernah membuatku menangis.” Keiko berteriak sambil memukul-mukul dada Chanyeol. Chanyeol hanya diam dan menutup matanya, mendengar segala rasa frustasi yang tak pernah diungkap Keiko. “Padahal dia berjanji untuk tidak berbohong. Dia berjanji untuk tetap tinggal. Dia berjanji untuk tidak melanggar janjinya. Semua itu bohong, Chanyeol. Bohong. Dia mengingkari setiap janjinya. Aku membencinya. Aku membenci Yi Fan.”

Kedua kalinya Chanyeol melihat Keiko menangis. Dia menangis histeris. Chanyeol diam, bingung untuk melakukan apa. Dia tidak terbiasa dengan Keiko yang menangis. Dia mengangkat tangannya, mengelus kepala gadis itu dan menatapnya sedih.

“Ternyata memang kau.” ujarnya lirih.

~

Mereka tidak pernah mengumumkan perubahan status hubungan mereka. Dan tidak seorangpun yang mereka beritahu kalau mereka sudah berpacaran. Mereka berdua berusaha untuk terus bersikap normal. Tetap bermain bertiga dan tidak pernah bersikap romantis di depan publik. Tidak ada yang tahu kehidupan cinta mereka berdua. Tidak Chanyeol tidak juga keluarga mereka.

Kris mengadakan pameran hasil karyanya. Menampilkan seluruh karya-karya terbaiknya. Pemandangan alam, bangunan-bangunan, rumahnya di Vancouver dulu, ibunya, flat kecilnya dengan Chanyeol, flat Keiko, foto kedua sahabatnya itu dan segala foto yang menceritakan persahabatan mereka. Dia menamai galeri yang dipamerkannya itu “Ours”. Setiap foto menunjukkan kemahiran Kris dalam dunia fotografi. Pencahayaan sempurna, sudut pengambilan yang tepat dan dia mampu membuat objek yang paling sederhana sekalipun menjadi teramat indah melalui fotonya.

Hanya satu foto yang tidak seperti karya-karya lainnya. Foto amatir yang sangat jauh dari karya-karya Kris yang tiap karyanya adalah Masterpiece. Diberi judul “Fan”, menunjukkan wajah Kris saat tersenyum dalam tidurnya.

“Foto ini adalah foto amatir yang diambil oleh gadis yang paling kucintai di dunia ini.” Kris mengatakannya pada seorang kolektor sambil dia menyentuh pigura itu dan tersenyum lembut. “Katanya aku sedang tidur dan mungkin bermimpi indah sehingga aku tersenyum saat tertidur, dan dia langsung memoto ekspresi yang sangat jarang didapati jika aku tidur. Aku tidur dengan wajah ditekuk biasanya haha.” Kris mengatakannya pada wartawan saat mereka mewawancarainya begitu mendengar kabar tentang gadis yang dicintai ini. “Yang dia tidak tahu sampai sekarang adalah aku sedang memimpikannya saat itu, tersenyum padaku dengan anak-anak kami. Aku melihat masa depan yang indah untuk kami berdua. Aku, dia dan anak-anak kami. Dia adalah gadis yang sangat kucintai. Satu-satunya gadis yang memanggiku Yi Fan, nama Chinaku. Dia gadis yang sangat kucintai.”

Dia tidak pernah menyangka Kris akan menyertakan karyanya yang sangat jauh dari defenisi bagus itu dalam pamerannya yang menampilkan hasil-hasil foto yang diambil dengan teknik tinggi. Kris selalu penuh kejutan, bersikap cool tapi terkadang bisa menjadi romantis. Membuat Keiko semakin hari jatuh semakin dalam.

Hal ini menjadi berita besar yang tak pernah terungkap sampai hari saat Kris meninggalkan Keiko. Para wartawan menanyai keiko dan Chanyeol. Chanyeol memang tak tahu, tapi Keiko harus berusaha berpura-pura tidak tahu. Dan pura-pura ikut Chanyeol menggoda Kris. Mereka tak pernah membiarkan Chanyeol tahu kalau dia adalah gadis itu. Sampai akhir mereka menyembunyikan kenyataannya dari sahabat mereka itu. Pada akhirnya Chanyeol tahu, seluruh dunia juga tahu tentang hubungan yang selalu ditutup-tutupi itu. Hari itu, saat Keiko tidak sanggup lagi untuk berpura-pura tegar dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Hari itu, saat dia berteriak histeris di depan ribuan pelayat yang hadir. Hari pemakaman Kris.

~

“Maaf yah aku tidak bisa ke sana. Pertemuan ini sangat penting.” ujar Keiko pada Kris yang berbicara melalui telepon di seberang sana.

“Haha yah kau sudah minta maaf berkali-kali. Aku baik-baik saja Kei.” Kris menjawab sambil terbatuk.

“Kau yakin kau baik-baik saja? Apa aku perlu membatalkan rencana besok?” Keiko bertanya khawatir.

“Tidak usah. Bukankah itu kesempatan yang tidak datang dua kali?” jawab Kris cepat, masih sedikit batuk. “Aku hanya sedikit demam, itu saja. Yah, batuk juga. Tapi kesempatan untuk bekerja sama dengan sutradara terkenal seperti itu tidak datang setiap hari kan? Apalagi dia sendiri yang memintamu secara pribadi. Ini kesempatan yang sangat bagus Kei. Jangan khawatirkan aku.”

Keiko masih ingin memprotes tapi Kris buru-buru memotongnya duluan. “Kalau begitu nanti kau kutelpon lagi yah, aku harus melakukan pemeriksaan dengan suster cantik dulu.”

“Yah, jangan berani macam-macam kau.” Sergah Keiko langsung dengan nada mengancam, Kris tertawa (sambil terbatuk) di seberang sana. “Kau yakin baik-baik saja?” tanya Keiko lagi sebelum benar-benar menutup teleponnya.

“Tentu saja. Sudah kukatakan ini hanya sakit biasa karena aku tidak tidur sama sekali tiga hari ini. Tenang saja ada ibu yang menjagaku di sini.”

“Bukankah sudah kukatakan kau harus banyak istirahat? Akhir-akhir ini kau sering sakit karena kelelahan.”

“Ya, ya. Tuan Puteri. Aku tidak akan mengulaginya lagi.”

“Haha baiklah kalau begitu Pangeran. Aku mencintaimu Kris.”

“Ya.” Setelahnya Kris langsung menutup telepon mereka. Ada rasa sedih di hatinya. Dia tidak bisa. Tidak bisa membalas kata-kata Keiko. Dia tidak sanggup. Dia takut jika dia mengucapkannya itu akan menjadi terakhir kalinya dia menyebut kata-kata itu pada Keiko. Dia tidak mau mengatakannya dalam kondisi dia seperti ini, saat untuk bernafas saja susah.

Malamnya, Keiko berusaha untuk tidur lebih cepat. Dia sangat tidak sabar menunggu besok. Dia akan bertemu dengan sutradara yang sangat terkenal, dia akan menulis naskah untuk film yang akan diproduksi berikutnya. Setelah bertemu dengan sutradara itu, Keiko akan langsung terbang ke Vancouver, tempat Kris sekarang. Ada rasa gelisah yang entah kenapa menghantuinya. Kenapa pria itu tidak membalas “aku cinta kamu” nya seperti biasa? Pria itu hanya menjawab ya dengan dingin. Dan lagi Keiko menjadi khawatir, akhir-akhir ini kondisi tubuh Kris menjadi sangat rentan, dia sering sakit karena kelelahan makanya dia menyuruh Kris untuk berlibur sebentar, mengunjungi ibunya di Kanada. Keiko berharap Kris akan istirahat di sana. Tapi pria itu tidak mendengar satu pun dari nasehatnya. Apa yang dilakukannya tidak tidur tiga hari?

Keiko tersentak saat dirasakannya ponsel yang tidak sengaja ditidurinya bergetar di bawah tubuhnya. Dia segera duduk dan mengambil ponsel itu, melihat nama Chanyeol.

“Yeoboseyo.” ujarnya begitu mengangkat panggilan Chanyeol. Tidak ada balasan. “Chanyeol?” katanya lagi. Keiko mendengar suara menangis pelan. “Yeol? Ada apa?” ujarnya lagi sedikit kebingungan kenapa pria itu meneleponnya dan menangis. “Kau hanya akan membiarkanku mendengarmu menangis atau menjelaskan alasan kau menangis?” tanyanya, mulai tak sabar.

“Keiko, Kris…”

“Ya? Kris….” mulai timbul perasaan tidak enak dalam hati Keiko. Perutnya mual tanpa alasan jelas begitu mendengar Chanyeol menyebut Kris sambil menangis.

“Kris meninggal.” Dan Chanyeol menangis lagi, lebih keras kali ini.

“Tidak lucu. Kau tidak lucu Yeol. Jagan bercanda.” Keiko setengah berteriak. Kesal, tapi juga sangat jelas takut. Suaranya bergetar.

“Tidak Keiko… Aku..”

“Jangan bercanda kau. Dia tidak mungkin meninggal. Dia baru meneleponku beberapa jam yang lalu dan dia baik-baik saja. Sangat baik. Tidak mungkin dia… tidak mungkin..” tangan Keiko gemetar memegang ponselnya, begitu juga bibirnya, matanya mulai basah tanpa disadarinya.

“Tidak Keiko. Baru saja ibunya menelepon. Dia sudah… Ouh…” Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya, dia sendiri tidak sanggup mengatakan kalimat itu. Tidak. Bahkan dia tidak percaya. Dia menangis, membayangkan sahabat yang sudah dianggapnya saudaranya itu sudah pergi, tidak mungkin. Dia berharap ini mimpi, tapi bukan, ini sangat nyata, senyata saat dia melihat Kris mencium Keiko di dapur diam-diam, senyata saat dia mendengar Kris menggumamkan nama Keiko dalam tidurnya, senyata kue hangus yang mereka masak bertiga untuk perayaan setahun persahabatan mereka. Ini bukan mimpi, bukan khayalannya. Kris memang meninggal.

“Ini.. tidak… Ouuhhh… tidak…” Keiko mematikan sambungan dengan Chanyeol. Dan dia menangis. Meremas seprainya, menggigit bibirnya. Tidak percaya. Bukannya Kris mengatakan itu hanya demam biasa? Lalu kenapa? Tidak, apa mereka sedang bermain-main dengan dia? Mereka pasti bercanda kan? Tidak mungkin Kris secepat itu…..Oh, Kris….

Keiko berangkat malam itu juga ke Vancouver dari New York. Membatalkan janji temu dengan sutradara besok. Begitu juga dengan Chanyeol yang saat itu ada di Berlin mengikuti festival musik, langsung berangkat malam itu juga. Dan melihat secara langsung jasad kris yang dingin, sudah tidak bernyawa.

Keiko tiba lebih dulu. Dia memeluk ibu Kris dan memberi support selayaknya sahabat dari anaknya. Memberi sepatah dua kata penghiburan. Dia tidak menunjukkan sedikitpun air matanya. Dia hanya memandang jasad Kris. Memaksa masuk kembali air matanya.

Chanyeol tiba satu jam kemudian, langsung menghambur, melihat Kris, berlutut di samping jasad itu, menyentuhnya dan menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa bisa begini? Bukankah kusuruh kau untuk melakukan terapi itu secepatnya bodoh? Kau bajingan brengsek yang tidak pernah mendengarkan nasihatku.” Kata-kata itu terus diulangnya seperti mantra. Seolah jika dia terus mengucapkannya, Kris akan bangkit lagi. Tapi tidak, bahkan kata-kata itu tidak didengar Kris. Keiko hanya memegang bahu Chanyeol, menghiburnya. Dia tidak menangis, tentulah Chanyeol yang sudah bersama dengan Kris lebih lama bahkan tinggal serumah dan juga ibu Kris yang membesarkannya lebih mendalam kesedihannya dari dia. Keiko harus lebih tabah dan mampu memberikan penghiburan bagi mereka. Kalau bukan dia, siapa lagi?

Kemudian Keiko tahu, bukan demam biasa. Bukan sakit karena kelelahan atau kurang istirahat atau semacamnya. Bullshit. Kris menyembunyikannya dari dia. Begitu juga Chanyeol dan ibunya. Komplikasi. Itu kenyataannya. Tdak benar batuk karena cuaca buruk, sakit karena kelelahan. Kris sakit parah dan dia membohongi Keiko selama empat tahun. Demi Tuhan, empat tahun. Sejak pertama bertemu Kris sudah dalam kondisi ini. Dan selama ini hanya Keiko yang tidak tahu. Satu-satunya yang tidak tahu. Tapi Keiko menepis segala rasa kecewa itu dan berusaha berdiri tegar, berusaha tersenyum pada orang-orang. Begitu banyak orang yang harus diberinya dukungan, kekuatan, mereka membutuhkannya.

Ada banyak pelayat yang menghadiri pemakaman Kris. Tapi tidak peduli berapa banyak pelayat yang datang tetap tidak dapat menghidupkan kembali jasad yang terbaring di peti itu. Keiko memeluk ibu Kris yaang berdiri di sampingnya, menatap wajah anak semata wayangnya yang tidak lagi memancarkan kehidupan. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam lalu jas hitam di atas kemejanya sebagai busana untuk tidurnya yang terakhir. Bahkan dalam kematian, dia masih terlihat indah. Tidak pudar sedikitpun keindahan dari sosok itu saat masih bernafas dengan sekarang, saat kedua tangannya saling bertautan kaku di atas perut, hanya menyisakan kenangan bahwa dia dulu memang pernah ada.

“Boleh aku menyentuhnya untuk terakhir kali sebelum peti ditutup?” ujar Keiko, menatap sendu wajah pria yang dicintainya, selalu dicintainya itu. Betapa dia ingin menangis melihat Kris yang sudah tidak bisa lagi menjawab setiap kata-katanya. Terakhir dia mendengar suara berat pria itu semalam di telepon, dia bilang dia baik-baik saja sambil terbatuk.

“Yah.” Balas ibu Kris pelan.

Keiko melepas kacamata hitam yang terus dikenakannya sejak pagi. Dia melangkah mendekati peti. Dia menyentuh wajah Kris, kulitnya terasa dingin, tidak seperti saat tiap kali Keiko menyentuh wajahnya. Keiko menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Kris, berhenti sebentar, dan kemudian mencium Kris di keningnya lalu bibirnya. Keiko menempelkan bibirnya di bibir (mayat) Kris sedikit lebih lama lalu dia menariknya lagi, menatap wajah Kris, alis yang selalu dibanggakannya, hidungnya, dan rahangnya. Semua bagian itu yang paling dicintai Keiko. Dan dia menangis. Menyadari perpisahan yang betul-betul sudah di depan mata. Begitu peti itu ditutup, tidak akan ada lagi Kris, untuk selamanya. Yang tersisa tinggal kenangan dan janji-janji yang tak dipenuhi Kris. Keiko menangis. Mulai sekarang tidak akan ada lagi kata-kata lembut Kris tiap kali ia tidak bersemangat. Tidak ada lagi Kris yang memotonya diam-diam setiap hari. Tidak ada lagi Kris yang selalu menengahi pertengkarannya dengan Chanyeol. Tidak akan ada lagi tangan hangat itu. Tubuh tinggi yang selalu membuatnya merasa terintimidasi. Masa depan yang muncul dalam mimpi Kris malam itu, saat bibirnya berkedut-kedut aneh membentuk senyum tipis, tidak akan pernahmenjadi bagian dari masa depan mereka. Bahkan tidak akan ada lagi mereka. Hanya Keiko dan masa lalu yang akan terkubur setidaknya lima meter di bawah tanah yang dipijak Keiko.

“Ouuhh… oohhh…” Keiko menangis, meraba setiap bagian tubuh Kris yang dapat disentuhnya. “Yi Fan jangan pergi. Kau pembohong. Pembohong kejam. Licik. Keji. Kau tidak boleh melakukan ini padaku. Aku tidak mau sendiri. Tidak. Kau bahkan belum memperkenalkanku secara resmi pada ibumu. Bagaimana dengan janji-janji kita? Aku tidak mau menjalani jalan ini sendiri. Yi Fan, bangun. Yi Fan. Lihat aku sekarang ini menangis, bukankah kau berjanji untuk tidak membuatku menangis? Kenapa kau meninggalkanku?”

Itu adalah pertama kali orang-orang melihat Keiko menangis setelah berita kematian Kris. Segala kesedihan yang tertuang dalam tangis histerisnya. Rasa rindu akan kekasih yang telah menutup mata untuk selamanya. Kata-kata yang takkan didengar oleh sang pemilik nama. Dan untuk pertama kalinya orang-orang tahu Keiko adalah gadis yang dicintai Kris, memanggilnya Yi Fan. Dan hubungan mereka yang selama ini desembunyikan. Tapi untuk apa? Tidak ada gunanya lagi saat jasad Kris telah terkubur beberapa meter di bawah kaki mereka. Air mata Keiko tidak akan memanggil Kris kembali dari sana. Yang tertinggal hanya kenangan.

“Kuatkan hatimu Keiko. Aku turut berduka.” Ibu Kris memeluknya, menghiburnya. Chanyeol hanya diam, memegang bahunya.

Keiko menghapus air matanya, menatap ibu Kris. Wanita itu begitu tegar. Dan Keiko berusaha kembali bersikap rasional. Seharusnya dia tidak melakukan hal seperti ini di hadapan seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya. “Maaf Nyonya Wu. Harusnya aku yang mengatakan itu. Kau kehilangan putramu.”

Ibu Kris balas menatapnya, menghapus sisa air mata Keiko. “Yah, tapi kau kehilangan belahan jiwamu.”

Dan Keiko menangis, lebih keras dari siapapun juga. Tapi Kris tidak akan kemabali. Begitupun janji-janji mereka yang tiba-tiba menjadi blur dalam ingatan Keiko. Hari-hari bahagia mereka, saat dia tertawa bersama Kris jadi seperti foto hitam putih, seperti foto yang sangat dibanggakan Kris tapi sudah dirusak Chanyeol. Tidak akan sama lagi. Jika Kris tidak ada.

“Yi Fan… ouhh… kau pengingkar, pengingkar.”

~

Keiko menyuruh Chanyeol pulang. Dia tidak bisa ikut ke Seoul. Dia ingin tinggal di New york, di flat lamanya. Tempat dia menghabiskan banyak waktu dengan Kris. Dia tidak mau meninggalkan satu-satunya yang menjadi penghubun dia dan Kris. Rumah ini dan kenangan-kenangan yang mereka ciptakan setiap hari. Di New York, dia memiliki Kris. Begitu banyak tempat rahasia yang mereka datangi di kota ini. Keiko tidak siap melepaskan itu semua.

Dia memasuki kamarnya dan mulai menulis.

Kris dua tahun sejak kau pergi. Aku merindukanmu. Begitu banyak yang ingin kusampaikan padamu. Tapi kau sangat jauh. Bisakah kata-kata ini sampai padamu? Aku merindukanmu. Sungguh, mengapa kau begitu jauh? Aku tidak sanggup.

_–_

How do I live without the ones I love?

Time still turn the pages of the book its burned

Place and time always on my mind

And the light you left remain but it’s so hard to stay

When I have so much to say and you’re so far away

So Far Away – Avenged Sevenfold

_–_

Begitu banyak kata yang tidak sampai, ribuan surat yang sudah ditulis Keiko tapi takkan pernah dibaca Kris. Betapa merindu hatinya akan peluk dan canda tawa bersama Kris. Semua hilang. Kris terlalu jauh untuk diraihnya sekarang.

~Long Time Away~

Terima kasih atas waktu yang telah chingudeul luangkan buat baca ff ini. Maaf atas kegajean cerita ini. Dan jangan benci saya karena end nya yang kurang menyenangkan. Akhir kata, mohon tinggalkan jejak anda di kolom komentar di bawah ini.

P.S. Saya nak lanjutin Mr, Friday chap 7 dulu. Bye.

Iklan

Penulis:

I'm a whole world trapped in a person.

37 tanggapan untuk “LONG TIME AWAY

  1. KEREN PAKE BANGET DIKUADRATIN THOR !!
    aku baca ini entah udah berapa tetes air mata yang keluar.. paling sedih waktu pemakamannya kris !! T^T
    berkarya terus ya thor “)/ saya suka FF macam ini 😄

  2. hah?
    sad ending? T.T
    thorrr, idupin yi-ge lagi juseyo,
    spertix mnggu pgi kli ni q lewati dgn mata bngkak n hdung brlndir,
    #tissumanatissu

    great job thor, aq tggu siapa tw da sequel n author brbaik hati mnmukan namja lain u/ keiko, chanyeol misalny,
    hehehee

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s