[Minri’s Diary – 01] My Boyfriend is a Baby

cover babybyun

Tittle : My Boyfriend is a Baby

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • EXO

Genre : Romance

Length : Drabble/fluff, < 2200W

Rating : PG-13, Teen, Bayi juga boleh baca kalo bisa(?)

Note : Hello, I’m back! Remember me? Let’s enjoy my fiction. Loveya!

 

Baekhyun adalah laki-laki yang kelewat polos, berwajah manis  dengan mata jernih, hidung dan bibir yang mungil serta rambut krem yang membingkai wajah manisnya.

Baekhyun seperti bayi yang terjebak dalam tubuh laki-laki berumur 18 tahun.

Dia benar-benar polos.

Dan dia… adalah pacarku!

*My Boyfriend is a Baby*

Matahari menggantung angkuh di tengah langit kota Seoul. Cuaca terik membuat sebagian orang memutuskan untuk beraktivitas di dalam rumah atau dalam gedung tempat mereka bekerja. Tapi matahari itu tidak memutus langkahku untuk terus bergerak riang bersama Baekhyun–laki-laki yang sedang menggenggam tanganku dengan tangannya yang lembut itu.

Kami baru saja pulang sekolah.

Senyum dan tawa di wajah kami tak bisa surut tatkala Baekhyun bercerita tentang apapun yang ada dipikirannya. Aku tidak begitu menangkap dengan benar apa yang diceritakannya, tapi nada bicaranya yang ceria dan wajahnya yang inosen itu tidak bisa membuatku berhenti tersenyum.

Baekhyun adalah pacarku. Catat itu!

Dia memang tidak tinggi seperti kris si kapten tim basket, atau Chanyeol si wakil ketua OSIS. Tapi setidaknya dia masih lebih tinggi dari Kyung-Soo si ketua kelas, atau Junmyeon si ketua OSIS.

Dia memang tidak secerdas Luhan si anak pindahan dari China, atau Jongdae si kacamata. Tapi dia tidak pernah mendapatkan nilai merah dalam rapotnya.

Dia tidak sepopuler Jongin si dancer sekolah, atau Sehun si model berkulit susu. Tapi aku mengenalnya. Aku mengenal Baekhyun lebih baik dari mereka semua.

Dan itu lebih dari cukup.

Kalau boleh ku bilang, Baekhyun itu seperti bayi yang terjebak dalam tubuh laki-laki berumur 18 tahun. Astaga! Bisa kau bayangkan betapa polosnya anak itu. Tapi dengan semua kepolosannya itu dia bisa memporak-porandakan hatiku, mencurinya (kau harus ditangkap karena ini kriminal Baekhyun!) dan tidak pernah mengembalikannya.

Yang patut ku pertanyakan adalah… dari mana kau mendapat keberanian menyatakan perasaanmu padaku? Ini patut di beri penghargaan. Mungkin nanti aku akan beli piala. Atau mungkin tidak.

Caranya memintaku menjadi pacarnya juga sangat sangat unik. Menggemaskan.

Saat itu kami sedang dalam perjalanan pulang setelah bermain-main di taman. Dengan berlatarkan langit sore hari berwarna jingga yang berpendar. Angin sore membelai wajah. Kami tidak bicara selama beberapa menit menikmati suasana sore menurut persepsi masing-masing.

Baekhyun berjalan di sampingku sambil memainkan rubiknya–yang sampai sekarang belum pernah ku lihat Baekhyun menyelesaikannya. Sementara aku melihat anak-anak bermain, keluarga sedang piknik dan sepasang kekasih.

Dia tiba-tiba berhenti, membuatku cukup terlonjak. Aku melihat sekitar, mencar-cari sesuatu yang menyebabkan Baekhyun berhenti. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Kali ini aku harus bertanya langsung.

“Ada apa Baek?”

Baekhyun hanya diam. Menunduk memandangi rubiknya. Dia memutar-mutar benda kubus itu secara random. Kalau saja benda itu bisa bicara dia pasti berkata : Hey Baekhyun hentikan tanganmu! aku pusing!!

Tapi bukan itu masalahnya. Baekhyun benar-benar mencurigakan karena berdiam seperti ini. Apa dia sedang gangguan tenggorokan karena terlalu banyak makan es krim? Apa dia kerasukan arwah yang ada di taman tadi? Tidaaaak! Atau… apa aku punya salah padanya?

Byun Baekhyun! Katakan sesuatu. Kau membuatku takut!

“Minri…” Baekhyun akhirnya mengeluarkan suara, membuatku sedikit lega. Setidaknya dia bukan mengalami gangguan tenggorokan. Juga bukan kerasukan arwah di taman.

“Aku suka Minri.”

Jantungku seperti menyempit hingga tarikan napasku terdengar seakan terjepit. Mataku melebar dari ukuran normal. Oh tidak! Apa aku tampak sepert zombie sekarang? Dia benar-benar membuatku kaget, sungguh.

Suaranya lirih, namun terdengar jelas di telingaku. Wajahnya terus menunduk.

Kau bercanda ya? Mestinya kau tatap mataku!

Aku menangkup wajahnya dengan satu tangan, mengharuskan Baekhyun menatap mataku. Tapi Baekhyun menunduk. Dan aku kembali mendongakkan wajahnya.

Siapa sebenarnya yang laki-laki disini?!

“Katakan sekali lagi.” Aku menurunkan tanganku, dan beralih memegang tangannya.

Baekhyun tersenyum dan berkata, “Aku suka Minri.” Kemudian Baekhyun mengambil alih. Dialah yang memegang tanganku, menyelimuti tanganku dengan tangannya yang bebas dari rubik. “Minri harus jadi pacarku ya?”

Harus? Kalimat macam apa itu Baekhyun?

Aku menelan ludah. Tenggorokanku mendadak menjadi gurun pasir di tengah siang bolong. Tidak biasanya aku selelet ini. Pengaruh lapar mungkin, ya. Aku sudah punya jawabannya. Tapi bodohnya aku mendadak gagu. Baekhyun benar-benar memporak-porandakan sistem saraf di tubuhku.

Baekhyun menatapku dengan mata mengerjap. Menugguku bicara. Kami berdua seperti dalam mode pause. Orang-orang melihat kami dengan heran.

“Aku… Baekhyun serius?”

“Hmm.” Baekhyun mengangguk lucu, membuat rambut sutranya bergerak-gerak.

“Aku, ya. Aku mau jadi pacarmu!” Jawabku riang. Aku memeluknya erat. Terdengar tawa indahnya mengalun di telingaku sebelum bunyi ‘kreek’ yang mencurigakan. Aku tidak tahu bunyi apa itu.Tidak mungkin aku mematahkan tulangnya hanya karena sebuah pelukan. Kau pikir aku sekuat apa?

Aku melepaskan pelukan kami. Belum sempat aku bertanya tentang bunyi aneh itu. Baekhyun mengangkat tangan kanannya, menunjukkan rubiknya yang berbentuk aneh. Posisinya tergeser. Apa harus ku bilang bahwa rubik itu rusak? Bagaimana bisa?

Riwayatmu hanya sampai disini ya rubik manis?

Baekhyun melengkungkan bibirnya ke bawah. Oh tidak. Ini salahku. Aku merusaknya. Baekhyun pasti sedih. Dia bilang itu rubik kesayangannya.

“Maafkan aku Baek, aku tidak sengaja…”

Aku mengacaukan suasana romantis kami. Sudah mestinya aku minta maaf. Tapi Baekhyun terus memandangi benda kubus itu seperti benda itu adalah jantungnya yang baru saja di ambil dari dalam rongga dada. Dia tidak berkomentar apa-apa. Suasana kembali menegang.

Tapi Baekhyun memecahkan suasana tegang itu dalam sekejap. Dia mencium pipiku. Dan berbisik “Tidak apa-apa, aku kehilangan rubik kesayanganku. Tapi aku mendapatkan orang yang ku sayangi.”

Aku membeku.

Dari mana dia belajar semua itu?

Baekhyun berbalik membelakangiku. Dia berjalan lebih dulu. Aku sempat melihat wajahnya yang memerah di bawah sinaran cahaya senja. Hey! Aku juga malu, tahu! Bahkan aku merasa kupu-kupu sedang menari di atas kepalaku.

Ya, itulah Byun baekhyun. Si polos yang telah mencuri hatiku.

Kira-kira seperti itu. Senja yang indah, yang tidak mungkin terlupakan olehku.

“Ayo makan es krim.”

Baekhyun menarikku ke waktu sekarang, menarikku dari ingatanku tentang momen manis kami berdua. Belum sempat aku mengiyakan atau menolak ajakannya dia lebih dulu menarik tanganku dan aku hanya bisa berlari kecil menyejajarkan langkah kami.

Cuaca gerah seperti ini memang sangat pas jika di temani es krim. Manis dan sejuk. Kami berdua sama-sama penyuka es krim. Tapi soal rasa kami tidak bisa kompromi. Kami punya  rasa favorit masing-masing.

“Terimakasih…” ucap Baekhyun saat dia sudah selesai membeli es krim. Hanya satu cone? Aku kan mau juga!

Aku sudah membuka mulutku, hendak memesan. Tapi, Baekhyun menyodorkan es krim yang di belinya di depan wajahku. Hampir saja mengenai hidungku.

“Aku sudah memesannya 2 rasa. Strawberry untukku, coklat untukmu. Kita bisa memakannya bersama-sama.”

Yang benar saja! Satu es krim untuk berdua? Pemainan macam apa itu? oh baiklah, apapun yang kau inginkan, Baekhyun.

Aku melangkahkan kaki menuju kursi panjang yang ada di bawah pohon. Terasa banyak persediaan oksigen disini. Aku menghirup sebanyak yang aku mau. Wangi bunga di sekitar pohon itu menyeruak masuk dalam indra penciumanku seperti aroma terapi. Aku memejamkan mata sesaat.

Kemudian Baekhyun duduk di sampingku. Aku menoleh, lalu melihatnya menjilat es krim bagiannya.

“YA curang! Masa kau mulai duluan…” protesku.

Dia menyengir, membuat mulutnya berbentuk kotak. Lalu menyodorkan es krim itu di wajahku. Aku tersenyum lalu menjilatnya. Baekhyun juga mendekatkan wajahnya.

Baekhyun! Apa yang kau lakukan?! Kita bisa bergantian…

Omongan itu hanya sampai di kepalaku. Aku tidak bisa mengeluarkannya lewat mulutku. Aku hanya membiarkannya dan menikmati es krimku. Sampai tak terasa es krim kami habis. Habis! Bukan masalah kalau es krim itu habis tapi yang patut dipermasalahkan adalah bibir. Bibir kami bersentuhan. Tuhan tolong aku mau pingsan!

Kami diam. Dalam tatapan yang saling menyelami. Mengerjap tidak mengerti. Seperti waktu baru saja terhenti (membuatku berilusi bahwa Tao benar tentang ucapan konyolnya bahwa dia bisa menghentikan waktu).

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Baekhyun menarik wajahnya dan tertawa. Suasana beku kami sudah selesai, digantikan suasana hangat dengan tawa Baekhyun yang menggema indah. Taman cukup sepi. Tidak ada orang selain kami. Setidaknya kami tidak disangka pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.

Sebentar, apa yang Baekhyun tertawakan?

“Hidungmu lucu sekali, seperti es krim coklat.”

Baekhyun masih tertawa. Dan aku hanya bisa memutar bola mata. Oh ayolah Baekhyun, kau menghancurkan suasana romantis kita hanya karena es krim yang menempel di hidung?

Aku mengambil tisu dalam tas dan mengelap hidung dan sekitar mulutku. Aku tidak ingin menghapus jejak bekas bibir Baekhyun tadi. Hehe.

“Hidungmu juga seperti stroberi.”

Baekhyun menatap hidungnya yang aku tahu itu cukup sulit dilakukan. Tapi lihat, wajahnya lucu sekali. Aku tidak bisa menahan tawaku. Dia melirikku dengan ekor matanya.

Dia mencolek hidungnya yang terkena es krim dengan jari, lalu menjilatnya.

“Itu tidak lucu.” Ucapnya sebal.

“Kau yang mulai.” Aku tidak mau kalah.

Dia menatapku, lalu mendekatkan wajahnya. “Tadi itu lucu.” Bisiknya di telingaku membuatku bergidik. Aku memukul bahunya pelan. Dan Baekhyun tertawa lagi.

Ada banyak hal yang menurut Baekhyun lucu. Tawa Baekhyun menebarkan kebahagiaan membuatku ikut tertawa. Dan aku harus bahagia memilikinya.

Tapi, tidak semua tawa Baekhyun membawa kebaikan.

Pagi itu pelajaran bahasa inggris (dengan guru menyeramkan). Setengah jam pelajaran berlangsung, fokusku masih penuh. Sampai akhirnya terdengar Baekhyun cekikikan di sampingku. Aku menyenggol lengannya berharap dia sadar dan ingat bahwa mereka sedang berada di kelas bahasa inggris, kelas paling menyeramkan sepanjang semester 2 kelas 11.

Tapi ternyata senggolanku tidak mempan. Aku cukup penasaran dengan apa yang dikerjakannya hingga aku menoleh. Dan mendapatinya tengah membaca komik doraemon, entah milik siapa–karena setahuku Baekhyun tidak pernah membeli komik doraemon.

“Baekhyun, diamlah, pelajaran sedang berlangsung,” bisikku.

Dia diam. Baik, aku bisa fokus lagi. Tapi setelah mendengarnya tertawa. Kali ini lebih nyaring. Sungguh! Aku tidak bisa menahan diriku lagi.

“Baekhyun! Bisakah kau berhenti tertawa dan buang komik sialan di tanganmu itu!!”

Aku meledak.

Seisi kelas melihatiku. Termasuk guru kejam di depan sana. Oh bagus. Tamat riwayatku. Aku akan mati setelah ini. Selamat tinggal dunia. Aku mulai pusing.

Tidak. Aku belum mati.

Aku dan Baekhyun berdiri di luar kelas dengan satu kaki. Itu hukuman. Beberapa siswa yang melewati kami melihati dengan heran. Aku seperti orang bodoh sekarang. Dan itu karena siswa di sebelahku. Karena Baekhyun. Si pacar inosenku.

“Aku minta maaf..” ucap Baekhyun dengan penuh penyesalan. Aku tidak ingin menatapnya. Aku belum ingin memaafkannya.

“Dari mana kau mendapatkan komik itu?” tanyaku dingin.

“Jongin yang meminjamkannya. Dia bilang komik itu membuatmu lupa bahwa guru bahasa inggris itu galak.”

“Dasar bodoh! Dan kau percaya begitu saja perkataan Jongin. Ya, kau memang lupa. Lupa segalanya!”

Dia kelewat inosen atau bodoh sih! Aku tidak mengerti.

Seharian itu aku tidak ingin mendengar tawa Baekhyun. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Aku menghindarinya. Akhirnya aku pulang sendirian.

Aku marah! Aku benci Baekhyun!

Keesokan paginya. Baekhyun menjemputku. Dia berdiri di depan rumahku. Kemarahanku sudah cukup reda. Harusnya segalanya kembali normal. Tapi aku malah meneruskan langkahku keluar rumah. Melewatinya. Mengabaikannya.

“Minri… tunggu… kalau kau masih marah padaku karena kejadian kemarin, aku minta maaf. Sungguh. Kau boleh tidak memaafkanku sekarang. Tapi jangan abaikan aku seperti ini. Aku takut…”

Baekhyun mengejar langkahku. Aku berhenti. Membalikkan badanku dan menatapnya. Ugh! Harusnya aku tidak menatapnya karena yang ku dapati adalah matanya yang berkaca-kaca.

Baekhyun jangan… Aku tidak pantas kau tangisi! Dan mana mungkin aku bisa mengabaikanmu. Aku juga tersiksa karena tidak bicara denganmu. Aku menyesal mendiamkanmu.

Aku memeluknya.

Dan dia balas memelukku.

Wajahku basah karena air mata. Oh ayolah, ini masih pagi. Dan wajahku sudah berantakan ketumpahan air mata sana-sini.

“Aku minta maaf.”

“Aku memaafkanmu.”

Urusan selesai. Kami kembali seperti semula. Kembali normal. Kembali tertawa.

Namun satu yang tidak kembali. Tidak ada Baekhyun yang tertipu karena perkataan Jongin yang sembarangan. Tidak ada Baekhyun yang membaca komik dalam kelas. Tidak ada Baekhyun yang tidak memperhatikan pelajaran bahasa inggris. Dan itu cukup-luar biasa-membuatku senang. Aku mentraktirnya makan es krim hari itu.

“Baekhyun, ayo pulang!” ajakku setelah kami menghabiskan es krim yang kami makan ‘satu cone berdua’ dan aku menyerahkan waffle cone-nya pada Baekhyun. Dia berhak menghabiskannya.

“Sebentar…”

Baekhyun tampak memejamkan mata sembari merentangkan tangannya. Satu tangannya ada di belakangku sekarang.

Aku memandangi wajahnya. Wajah yang berkali-kali membuatku jatuh cinta. Wajah yang membuatku terpesona. Wajah menggemaskan yang selalu aku suka.

Aku tersenyum. Dan ikut memejamkan mata.

Tidak ada langit sore dengan jingga berpendar–setidaknya belum. Tapi bersama Baekhyun alam sekitarku akan selalu indah. Angin akan selalu sejuk (ya, aku tahu aku sedang di bawah pohon).

Lalu aku membuka mata.

Dadaku terlonjak. Tapi sama sekali tidak bergerak. Wajah Baekhyun tepat berada di depanku. Napasnya yang menerpa wajahku benar-benar memperburuk keadaan. Untunglah jantungku yang malang tidak berhenti tiba-tiba karena keterkejutan ini.

Apa yang dilakukannya?! Seseorang tolong aku. Eh atau tidak usah menolongku karena…

Baekhyun sedang menciumku.

Bukan tidak sengaja karena makan es krim berdua. Dia sungguh melakukannya seperti dalam drama. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kepalaku berputar-putar dan kupu-kupu beterbangan, berhamburan kesana kemari dalam perutku.

Aku pusing.

Dia memiringkan kepalanya dan memperdalam ciuman kami.

Baekhyun tidak se-inosen yang aku pikirkan. Baekhyun bukan bayi yang terjebak dalam tubuh anak laki-laki berumur 18 tahun.

Baekhyun adalah pacarku. Catat lagi!

Baekhyun adalah dirinya sendiri, yang akan tumbuh dewasa sesuai nuraninya, seiring berjalannya waktu. Baekhyun adalah laki-laki berumur 18 tahun yang memporak-porandakan hatiku, mencurinya dan tidak pernah mengembalikannya.

Baekhyun adalah…

“Aku sayang padamu.” Ucapnya di depan bibirku.

…laki-laki yang menyayangiku.

Dan…

“Dan juga mencintaimu.”

… laki-laki yang mencintaiku.

“Aku juga, Baekhyun, kasih sayang dan rasa cintaku, semuanya milikmu.”

Baekhyun boleh terus tumbuh dan dewasa. Baekhyun boleh kehilangan kepolosannya. Baekhyun boleh berteman pada siapapun yang dia suka.

Tapi bagiku, Baekhyun tetaplah bayi. My lovely baby.

*END!*

© Charismagirl

Baekhyun adalah pacarku! HAHAHA semoga kata-kata itu menggema di kepala kalian /eh?/ gimana? Aku sengaja bikin alurnya yang kayak gitu, flashback tiba-tiba, gaada tulisan flashback atau dipakein italic sengaja! Karena aku baru baca novel yang alurnya kayak gitu. Keren! Pusing dikit sih *plak!* tapi kalian pasti ngerti dong :3

Duh aduh muka Baekhyun inosen! ITULAH ALASAN KENAPA GUE CINTA SAMA DIA! (oke ini mulai gila). Dan dari beribu-ribu poto Baekhyun 75% yang saya dapatkan adalah Baekhyun berwajah imut, 25% sisanya entah manly, serius, sampe derp.

Sorry for typo. Maaf juga sama kata-kata yang kelewat cheesy. HAHAHA. Well, komennya ditunggu :3 daaah…

Yang komen boleh ambil foto Baekhyun yang imut dan manis ini.  Wkwk. Salam sayang.

babybyun1

babybyun2

babybyun3

babybyun4

baekhyun childhood

243 thoughts on “[Minri’s Diary – 01] My Boyfriend is a Baby

  1. Oppa bias ku,nggak tau mau narok kamu jadi bias ke berapa.Baru baca chaptr 1 nya udh kyk gini..
    Hah…. imutt bnget….
    Suka caranya Baekhyun nembak…Baekhyun,kamu memberikan pertanyaan apa maksa…♡♡♡♡♡
    ♡♡♡♡♡

  2. Ping-balik: Still a Baby | ReeneReenePott

  3. Annyeong author aku new reader disini hehe^^
    Aaaak lucunya baekhyun.. Author so sweet bgt ini ff nya. Aku suka banget, jd ngebayangin muka baekhyun alhasil malah senyum2 sendiri. Athoor semangat^^

  4. Ping-balik: [Minri's Diary - 09] My Cute Hero | EXO Fanfiction World

  5. Ommoo!! Cute banget bekhyunnyaaaa aaaaaaa>.< walaupun suamiku sehun, aku juga suka deh sama baekkie..abisan lucu banget hahahaha lanjut thoooooooorrrr..aku baca chap yg lain yaaaa? Tenangggg aku komen kok pasti :3

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s