The Last Promise

Gambar

Author       : Miss Baekki

Cast            : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, EXO K member

Genre          : friendship, school life,  AU, sad

Rating         : Teen

Lenght        : oneshoot

Disclaimer  : casts are belong to God, parent, and their selves. But the story is MINE !

Note            : Genrenya AU = alternative universe. Jadi keadaan dalam cerita berbeda dengan kehidupan aslinya. So don’t BASH!

 

 

The last Promise

 

 

 

hanya sementara, aku janji ini hanya untuk sementara

Byun Baekhyun

 

maaf aku tak bisa menunggumu. Aku terlalu lelah

Park Chanyeol

 

 

 

 

Chanyeol PoV

 

Aku kembali menikmati alunan suara lembutnya ditempat ini, dengan aku sebagai pengiringnya. Hanya dengan sebuah gitar akustik dan suara merdunya, aku selalu merasa tenang saat mendengarnya menyanyi. Rasanya seperti tengah berada ditempat yang paling membuatmu damai. Sangat indah. Kami selalu melakukan ini setiap hari, menyempatkan waktu untuk bermain musik di tengah padatnya jadwal pelajaran.

Byun Baekhyun, nama yang bagus bukan? Dia adalah sahabatku. Sahabatku sejak kami masih kecil, bahkan orang tua kamipun telah lama saling mengenal. Dia adalah seorang sahabat yang sangat memahamiku melebihi diriku sendiri. Aku sangat beruntung memilikinya.

Dan jika kalian ingin tahu, sekarang kami ada di “markas” kami. Sebuah ruangan yang tak terlalu besar yang ada diujung koridor sekolah kami. Sebuah ruang musik. Kami sangat suka musik. Baekhyun akan selalu bernyanyi sedangkan aku dengan setia akan selalu mengiringinya dengan gitar akustik ini. Dia memang kurang menguasai alat musik terutama gitar. Dia lebih suka bernyanyi daripada memainkan alat musik. Yah, kecuali piano tentu saja.

“Chanyeol-ah? Bagaimana? Apa lagu ku bagus? Aku sudah susah payah membuatnya” tanya Baekhyun dengan antusiasnya. Ia memang selalu seperti itu saat menanyakan hal yang berkaitan dengan musik hasil karyanya.

“seperti biasa. Jjang!” aku mengacungkan kedua jempolku dihadapannya. Ia semakin melebarkan senyumannya itu. Sangat manis. Matanya yang kecil itu semakin menyipit saat ia tersenyum.

“ah.. kajja! Kita harus ke kelas sekarang!” ajaknya, ia berdiri dari tempat ia duduk barusan. Dengan malas, aku mengikutinya. Ya tuhan, jika boleh aku ingin bisa lebih lama disini.

Baekhyun merangkul pundakku dengan sedikit berjinjit karena tinggi kami yang berbeda. Aku lebih tinggi 11 cm darinya. Hohoho. Aku pun segera membalas rangkulannya itu. Kami keluar dari ruangan itu, menyusuri koridor yang mulai lengang karena bel masuk setelah istirahat sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Ini bukan pertama kalinya kami terlambat masuk setelah istirahat, semua orang tahu itu. Terlambat itu sudah seperti label tersendiri dibelakang nama kami. Bahkan para saem pun tak pernah lagi memarahi kami. Karena yang kami lakukan adalah untuk mengeksplore hobby yang bermanfaat bukan?

 

**

Setiap pulang sekolah, aku dan Baekhyun selalu menghabiskan waktu kami di kamar Baekhyun. Dia mengarang lagu sedangkan aku, aku akan berkutat dengan laptop dihadapanku. Kalian fikir aku sedang belajar? Oh ayolah! Aku tidak sekutu buku yang kalian fikir! Aku tengah menyelesaikan sebuah misi! Kalian tahu, sebuah misi besar! Yaitu menghabisi alien-alien yang akan mengoyak kedamaian di dunia ku!

BINGO! Aku tengah bermain game! Hohoho! Dan sekarang aku sudah mencapai level 95! Hebat bukan?

Ah, lama-lama tanganku terasa pegal memainkan keyboard ini. Kutolehkan kepala ku kearah Baekhyun yang tengah serius dengan kertas-kertas paranada ditangan kanannya. Sebelah tangannya lagi terlihat mengelus pelipisnya pelan. Dan oh! Ini dia salah satu kebiasaan Baekhyun yang tak pernah bisa kulupakan. Ia menggigit pensilnya!

“baeki-ya! kau mengarang lagu baru lagi?” tanyaku. Fokusku kembali pada laptop dihadapanku ini. Jari-jariku mulai telaten lagi menari diatas keyboardnya.

“aku akan memperbaiki lagu itu sebelum natal tahun ini” ujar nya. Aku mengerutkan keningku bingung. Memperbaiki lagunya? Bukankah tadi siang sudah kubilang lagunya bagus? Bahkan aku mengacungkan dua jempol untuknya. Kenapa lagu itu masih mau diperbaiki?

“kenapa?” tanyaku, sejenak aku menghentikan kegiatan ku yang tengah menjadi pembela bumi ini. Menoleh dengan penuh tanya kearah Baekhyun yang malah terlihat tersenyum kikuk.

“aku akan memberikannya sebagai hadiah natal untuk park hayoung” ujarnya. Ah majja! Park hayoung. Baekhyun memang sudah mengincarnya sejak ia duduk dikelas XI. Park Hayoung adalah hoobae kami di sekolah. Ia cantik, kuakui memang. Tapi tak kusangka, Baekhyun terlihat serius menunjukan rasa sukanya pada Hayoung. Begitu juga dengan hayoung, gadis itu sepertinya juga menaruh perasaan pada Baekhyun. Dan sepertinya ia gadis yang baik.

“ah, Park Hayoung hoobae kita itu?” tanyaku basa-basi. Baekhyun mengangguk antusias. Matanya terlihat berbinar saat aku menyebutkan nama hayoung. Yah, kuharap kau bahagia bersama gadis itu baek.

“menurutmu, dimana aku harus menyanyikannya? Sungai Han? Atau taman? Atau aku harus menyewa sebuah cafe? Eotte?” aku tersenyum mendengar rentetan pertanyaannya itu. Ia benar-benar cerewet!

“bagaimana dengan tempat tujuan kita saat malam tahun baru?” usulku. Baekhyun terlihat mengernyitkan keningnya. Sepertinya ia mencoba mengingatnya. Ya tuhan, ingatan anak ini benar-benar buruk ternyata.

“ah majja! Namsan tower?” ujarnya sembari menjentikan jarinya. Aku mengangguk mengiyakan. Ia lalu berhambur kearahku, memberikan sebuah pelukan persahabatan.

“Chanyeol-ah, gomawo!” ujar nya.

“chonma!” ujar ku. Tapi tunggu! Kenapa tiba-tiba kepalaku terasa pusing ? ya tuhan, kenapa kepalaku sakit sekali?

“Chanyeol-ah? Gwencahana? Neo Appo?” tanya Baekhyun sesaat setelah ia melepaskan pelukannya. Aku menggeleng lemah.

“gwenchana, aku hanya kelelahan” ujar ku berbohong. Sakit, sebenarnya sangat sakit, aku hanya tak ingin kau khawatir baeki-ya. mianhae. Tapi aku tak sepenuhnya berbohong bukan? Mungkin rasa sakit dikepalaku ini hanya karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak mengikuti kegiatan yang menguras energi ku. Aku yakin, sebentar lagi juga aku akan sembuh.

 

**

Ya tuhan, ada apa denganku akhir-akhir ini? mengapa aku merasa tubuhku sangat cepat lelah? Bahkan aku sering merasakan sakit yang amat di kepalaku. Rasanya sangat sakit.

Dan sekarang aku merasakan rasa sakit itu lagi. Aku meremas kepalaku, berharap rasa sakitnya segera mereda. Sial! Kenapa rasanya malah semakin sakit? Dan apa lagi ini? Kenapa aku merasa sangat mual? Ya tuhan! Aku harus segera ke kamar mandi.

Aku berlari seperti orang yang tengah dikejar hantu, sangat cepat. Bahkan aku tak menyadari saat beberapa orang temanku mengeluh karena tertabrak oleh tubuhku. Mianhae chingu! Tapi aku merasa kesakitan sekarang.

Aku segera berdiri didepan wastafel dikamar mandi ini. Hanya ada aku disini. Aku memuntahkan sesuatu yang membuat perutku begitu melilit, berkali-kali, hingga rasanya aku tak memiliki tenaga sama sekali untuk mengeluarkannya lagi, aku menutup mataku. Dan saat aku membuka mataku, aku begitu terkejut saat mendapati apa yang aku muntahkan didalam wastafel itu. Ya tuhan ! aku kenapa?? Dan apa itu? Cairan kental berwarna merah pekat yang aku muntahkan?

DARAH !!!

Aku melihat pantulan diriku didepan cermin yang terpajang di hadapanku. Ya tuhan! Aku begitu mengerikan! Bercak darah disekitar mulutku.

ARRRRRGGGGHHHHHHHH

Aku mengerang keras lagi saat merasakan sakit dikepalaku kembali menyerang. Sekuat tenaga aku meremas kepalaku. Perlahan, aku merasakan ada sesuatu yang mengalir perlahan dari hidungku. Aku merabanya. Dan benar saja. Itu darah! Tanganku bergetar melihat darah itu. Aku menggigit bibirku saat merasakan getaran kuat dari tubuhku. Aku tidak kuat! Rasanya sakit. Aku merasa tulang-tulang rangka ku melemah. Aku tak mampu menopang berat badanku sendiri. Dan setelah itu mataku sudah tak bisa menangkap apapun, semuanya gelap.

Baekhyun-ah, tolong aku!

 

Baekhyun PoV

 

Aku terus saja memainkan gitar Chanyeol dengan gelisah. Aku sudah menunggunya selama satu jam dan dia belum juga menampakkan diri di markas kami. Tidak biasanya dia seperti ini. Aku meraih handphone ku untuk kesekian kalinya, menekan speed dial di angka 7. Nomor Chanyeol.

Tuuutttt…tttuuuttt…

Sial! Kemana dia? Aku sudah menghubunginya beberapa kali dan dia tak juga menjawab telponku! Awas kau Park Chanyeol! Aku tak akan memaafkanmu karena membuatku menunggu selama ini.

Aku lalu mencari nomor oh sehun dari list kontak handphone ku. Ah chajakta! Aku segera menekan tombol dial. Tak berapa lama, Sehun mengangkat panggilanku.

“yeobseyo?” tanyanya dengan suara yang sangat pelan. Aku tersenyum. Pasti songsaengnim sudah datang, dan dia takut ketahuan sedang menelpon, kkkkk.

“sehun-ah, apa Chanyeol ada di kelas?” tanyaku. “eopseoyo! Tadi dia ada di lapangan basket. Sudah yah? Ada saem disini. Aku takut dihukum” ujarnya. Lalu biipp. Dia mematikan sambungan telpon kami. Aish! Dasar, dia memang suka kurang ajar. Padahal kan aku lebih tua darinya!

Sudahlah, aku tak ingin membuang waktu lagi. Aku harus mencari Chanyeol sekarang. Hati ku tak karuan, aku takut terjadi sesuatu padanya. Aish! Byun Baekhyun! apa yang kau fikirkan. Dia pasti baik baik saja.

Aku berjalan menuju lapangan basket yang ada di didekat wc untuk murid laki-laki. Aku melihat kearah lapangan basket dari lorong ini. Eopseo! Aku tak menemukan Chanyeol. Aku lalu mengalihkan pandanganku kedepan. Aku menemukan sebuah pulpen yang sangat familiar untukku di depan toilet. aku memungutnya, kali ini aku sangat yakin, pulpen ini milik Chanyeol. Ada inisial C di dalamnya. Entah kenapa hatiku semakin berdebar tak tentu, tanpa aba-aba aku segera masuk kedalam toilet. Mataku melebar seketika saat mendapati tubuh ambruk Chanyeol. Aku segera merunduk menggapai tubuhnya. Dan ya tuhan apa ini? Kenapa banyak darah disini? Ah! Kepalaku mulai pusing mencium bau amis dari darah yang keluar dari tubuh Chanyeol itu. Aku memang selalu seperti ini jika berhadapan dengan darah. Bahkan darahku sendiri. Aku memiliki phobia.

Tapi demi tuhan, ini bukan waktunya aku memikirkan phobia ku dan bersikap egois membiarkan Chanyeol dalam keadaan seperti ini. Sahabatku lebih penting dari phobia ku ini. Aku segera berlari keluar toilet menuju keruang piket guru. Dengan nafas tersenggal, aku Memberitahukan mereka mengenai keadaan Chanyeol. Ya tuhan selamatkan Chanyeol, dia segalanya bagiku. Dia lebih dari sekedar sahabat ku. Dia adalah bagian dari diriku.

**

Aku duduk didepan ruang IGD, Chanyeol tengah diperiksa disana. aku merapatkan kedua telapak tanganku dengan resah. Bahkan bercak darah Chanyeol masih menguar dari telapak tanganku. Aku tak perduli sungguh! Yang aku fikirkan sekarang hanyalah Chanyeol yang sudah lebih dari setengah jam ini ada diruang gawat darurat. Ya tuhan, kenapa lama sekali? Selamatkan Chanyeol tuhan, dia orang yang sangat baik, aku tahu kau selalu menyayangi orang yang baik. Kumohon selamatkan dia, jika harus biar aku yang menggantikannya tuhan.

Tesss

Lagi, entahlah sudah berapa tetes airmata yang ku keluarkan semenjak menemukan tubuh Chanyeol dengan keadaan yang tak bisa kudeskripsikan di toilet tadi. Aku bukan tipe laki-laki cengeng dan mudah tersentuh, tidak seperti Chanyeol yang mudah sekali menangis, aku bahkan tidak menangis saat aku kehilangan sangchu, anak anjing pemberian kakak ku. Tapi sungguh, entah kenapa hatiku sangat sakit melihat keadaannya. Sebenarnya ia kenapa ? apa yang tidak aku ketahui? Aku benar-benar sahabat yang bodoh!

“Baekhyun-ah, bagaimana keadaan Chanyeol” suara parau itu membangunkan ku dari fikiran-fikiran menakutkan yang bergerilya di otakku. Suara ibuku. Aku menelponnya sesaat setelah Chanyeol dibawa masuk kedaalam ruang IGD. Orang tua Chanyeol tak bisa datang hari ini, cuaca buruk di canada membuat penerbangan mereka delayed.

“eomma.. Chanyeol.. eomma ottohke?” isak ku sembari memeluk tubuh ibuku dengan erat. Melampiaskan seluruh emosiku dalam dekapan hangat seorang ibu. Eomma mengelus punggung ku lembut, mengalirkan ketenangan yang ajaibnya mampu menghentikan isakan ku, walaupun airmata ini tak juga mau berhenti.

“chanyeol akan baik-baik saja. Percayalah, tuhan bersamanya” ujar ibuku. Perlahan, aku melepaskan pelukanku pada eomma. Aku duduk kembali ditempat ku tadi, disusul eomma yang duduk disampingku, genggaman tangannya pada tangan ku mengisyaratkan bahwa ia akan selalu bersamaku. Terimakasih eomma.

Ckkllek

Suara pintu dari arah ruangan Chanyeol tadi berhasil membuatku mengalihkan perhatianku. Seorang dokter yang tadi menangani Chanyeol keluar dari sana. Aku segera berdiri dengan tergesa menghampiri dokter itu.

“ikutlah ke ruangan saya” ujar dokter itu seakan mapu membaca fikiranku. Aku mengangguk lalu mengikutinya. Dan dengan setianya eomma selalu menemaniku tanpa melepaskan genggamannya.

 

*

“park Chanyeol mengidap kanker otak, stadium lanjut” ujar dokter itu. Tunggu dulu! Apa katanya? Kanker? Kanker otak? Astaga!

Duniaku seperti berhenti berputar, nafasku tercekat mendengar paparannya itu. Chanyeol mengidap kanker otak stadium lanjut?? Apa dokter ini sedang bercanda denganku sekarang eoh?

“uisa! Jangan bercanda! Temanku itu adalah orang yang paling sehat didunia ini. Dia itu vitamin!” desisku. Eomma semakin mengeratkan genggamannya ditanganku.

“semua orang memiliki takdirnya masing-masing. Dan penyakit ini adalah sebuah takdir yang harus diterimanya” cicit dokter itu. Cih! Apa katanya? Takdir ? tau apa dia soal takdir.

“eomma tahu kau sedih. Eomma juga sedih. Mengertilah nak, tuhan memiliki rencana yang baik dibalik semua ini”

“lalu apa yang harus kulakukan eomma! Aku tak ingin kehilangan Chanyeol, aku tak ingin kehilangan orang yang sudah menjadi setengah bagian dari diriku eomma!” lagi, airmataku kembali mengalir, kali ini lebih deras. Kenyataan yang kudengar barusan benar-benar seperti mimpi. Ya tuhan, aku harap ini hanya mimpi.

“buatlah dia bahagia, berikan dia semangat untuk hidup” ujar eomma. Sejenak, aku terdiam memikirkan perkataan eomma. Ya, eomma benar! Aku akan menyemangati Chanyeol, memberikan dia kebahagiaan dan akan selalu ada untuk menemaninya.

*

Aku memasuki ruang rawat Chanyeol dengan keadaan yang sudah lebih tenang dari sebelumnya. Kulihat wajahnya yang sudah kembali bersih dari darah yang mengerikan itu. Beberapa selang dan kabel tertancap ditubuhnya. Hanya suara dentingan dari alat pendeteksi detak jantunglah yang mampu membuatku lebih tenang. Chanyeol masih hidup.

Perlahan, aku mendekati ranjangnya. Matanya masih saja tertutup. Dokter tadi bilang Chanyeol akan sadar sebentar lagi. Wajah pucatnya benar-benar menunjukan bahwa ia merasa sangat kesakitan. Aku bahkan tak bisa menjamin apa senyuman nya yang lebar itu akanada jika ia tahu yang sebenarnya.

Kulihat ia mulai mengerjapkan matanya. Chanyeol mulai sadar. Dia mengerang pelan, sepertinya ia merasakan sakit itu lagi. Aku segera menggenggam erat tangannya.

“Chanyeol-ah, gwenchana. Aku ada disini” bisikku pada telinga Chanyeol, ia mulai tenang. Syukurlah.

“aku.. dimana?” tanyanya masih dengan suara yang parau. ”rumah sakit. Kemarin siang kau pingsan” jawabku.

“ah, aku ingat. Aku berdarah. Apa uisa memberitahumu apa yang terjadi padaku?” tanya Chanyeol. Ya tuhan, apa aku sanggup mengatakannya? Tidak! Aku tidak akan pernah siap!

“kau hanya kelelahan. Istirahatlah sebanyak mungkin” ujar ku. Chanyeol mengangguk faham. Tetapi sesaat kemudian ia memandangku tajam, benar-benar mengerikan

“kau menagis?” tanyanya. Aku tersentak. Chanyeol benar-benar memahamiku.

“ani! Aku mengantuk! sejak semalam aku menjaga mu tanpa istirahat barang sedikitpun”  ujar ku. Semoga Chanyeol percaya dengan ucapanku.

“ah, begitu. Mianhae chingu. Cha! Sekarang kau pulanglah. Aku kan sudah sadar. Tidurlah yang cukup” ujarnya. Ya tuhan! Bagaimana bisa aku tidur setelah mendengar keadaanmu!

“shireo! Aku insomnia! Aku ingin menemanimu disini” ujarku lalu segera mengambil sekotak bubur buatan eomma yang sengaja eomma titipkan tadi. Takut-takut Chanyeol tak menyukai bubur di rumah sakit.

“ige makanlah. Aku akan menyuapimu ” ujarku sambil menyeduk sesendok bubur dari kotak makanan itu. Chanyeol memakannya dengan lahap. Aku senang dia sudah lebih baik.

“chingu-ya! mianhae merepotkan mu!” ujarnya. Aku segera mendelik tajam kearahnya. “ya! jika kau tahu bahwa kau ini merepotkan, cepatlah sembuh!” ujar ku pura-pura ketus. “lagipula kau juga selalu merawatku saat aku sakit. Anggap saja ini timbal balik dariku” ujarku. Entah kenapa Chanyeol malah terkekeh. Apa ada yang salah dengan ucapanku?

“jika kau perduli padaku, katakan saja chinguya. Jangan memakai alasan basi seperti itu” ujarnya. Aku segera memukul kepalanya dengan sendok ditangan ku. Chanyeol sedikit meringis, tapi setelahnya ia malah tertawa terbahak-bahak. Aneh.

Aku harap aku masih bisa melihat tawanya lebih lama lagi

 

*

AUTHOR PoV

Ini sudah kesekian kalinya Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar. Ia jengah. Bosan. Hampir 8 hari ini ia habiskan diatas tempat tidur yang memuakan ini. Bukankah ia hanya kelelahan? Kenapa harus sampai rawat inap segala? Apa ada yang tidak ia ketahui?

Chanyeol menoleh kearah pintu saat mendengar suara derikan pintu dibuka. Seorang suster memasuki ruangan Chanyeol sembari menenteng data kesehatan pasien.

Itu pasti statistik kesehatanku. Aku harus mengetahui semuanya

“selamat pagi Chanyeol ssi, kau terlihat lebih tampan pagi ini” ujar suster tersebut. Chanyeol tersenyum, memamerkan giginya yang rapi itu. Tanpa suster itu ketahui senyuman itu perlahan berubah menjadi seringaian yang mengerikan. Lalu dengan sengaja Chanyeol menjatuhkan botol obatnya.

“ah, mianhae. Aku menjatuhkan obat ku. Bisa kau mengambilkannya?” ujar Chanyeol,  suster itu tersenyum mengiyakan. Dan tanpa ia sadari, ia meletakkan statistik kesehatan Chanyeol di nakas yang dengan mudah dapat di jangkau oleh Chanyeol. Ia segera mencari nama penyakit yang ada di statistik itu. Kanker otak?. Tidak mungkin. Ia pasti salah membaca, atau mungkin ini milik orang lain. Tapi jelas-jelas disitu tertulis nama Park Chanyeol. Dan itu berarti ia mengidap penyakit kanker otak!

“kanker otak?” gumamnya tanpa sadar. Suster yang tadi membawakan obat Chanyeol memebelalakan matanya saat mendengar gumaman Chanyeol, dengan segera ia bangkit berdiri dan merebut statistik itu dari tangan Chanyeol. Ia lalai. Sangat lalai.

“apa… aku.. kanker?” tanya Chanyeol terbata. Airmatanya sudah mendesak untuk keluar dengan segera. “a..ani.. animnida. Kau salah. Ini bukan kanker.” Ujar suster itu, ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia sudah sangat lalai. Padahal dokter dan juga Baekhyun sudah membeitahunya untuk menjaga rahasia ini sampai keadaan Chanyeol mulai stabil.

“gojimal! Aku sudah tahu semuanya. Kau fikir aku tak bisa membaca huh?” ujar Chanyeol sarkastis. Ia mendelik tajam kearah suster itu, hingga membuat suster itu semakin takut.

“ka!” ujar Chanyeol tanpa ekspresi. Suster itu menggeleng kuat. “aku belum memeriksa keadaanmu pagi ini” tolaknya.

“KU BILANG PERGI ! APA KAU TAK MENGERTI HAH??” teriak Chanyeol hingga membuat suster itu segera berlari keluar dari ruangan Chanyeol.

Airmata yang tadi sudah menumpuk di mata Chanyeol pun mulai turun membasahi pipinya. Ia menggigit bibir bawahnya. Mencoba meredam isakannya. Tapi sia-sia, isakannya malah semakin terdengar.

Ya tuhan, dari sekian banyak manusia. Kenapa aku yang kau pilih untuk menerima penyakit ini? Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin menghabiskan waktuku bersama Baekhyun, sahabatku. Aku masih ingin hidup tuhan. Kenapa? Kenapa harus aku?

ARRRGGGHHHHHHHHH

Chanyeol mengerang kasar, iblis dalam dirinya bangkit. ia membating apapun yang masih bisa diraihnya. Vas bunga, bantal, obat semuanya yang masih bisa ia jangkau kini berakhir berserakan diatas lantai dingin itu. Bahkan beberapa hancur berkeping-keping. Sangat mendeskripsikan keadaan hati Chanyeol saat ini. Hancur.

ckklleekk

suara pintu kembali terdengar ditelinga Chanyeol. Ia menoleh sebentar. Didapatinya seorang wanita parubaya yang menatap iba kearahnya. Ia sangat mengenali wanita itu. Eommanya Baekhyun.

“Chanyeol-ah…” suara parau itu. Chanyeol mengalihkan pandangannya dari wanita itu.

“ahjumma, pergilah. Aku tak ingin menyakiti siapapun” tak ada ekspresi apapun dari nadanya. Terdengar dingin dan mengerikan. “Chanyeol-ah..” suara itu semakin terdengar mendekat. Iblis dalam diri Chanyeol semakin menjadi. Ia menoleh kearah wanita itu.

“AHJUMMA! TOLONG PERGILAH! PERGI. APA KAU TAK MENDENGARKU?” teriak Chanyeol. dengan cepat ia menuruni tempat tidurnya. Menarik wanita itu dengan sedikit keras keluar dari ruangannya. Setelahnya, ia mengunci ruangannya. Ia tak mau menemui siapapun sekaran ini. Termasuk Baekhyun ataupun eommanya. ia tahu emosinya sedang sangat tidak stabil sekarang ini. Itu sebabnya ia tak ingin ada siapapun disampingnya. Ia takut menyakiti mereka. Hanya itu.

*

AUTHOR PoV

Bel pulang sudah berbunyi sejak 30 menit yang lalu. Dan ini juga sudah hari ke 8 Chanyeol tidak mengikuti mata pelajaran. Ia masih belum diijinkan keluar dari rumah sakit karena tubuhnya yang belum stabil. Bahkan, orang tua Chanyeol pun belum sempat untuk mengunjunginya di rumah sakit.

Baekhyun masih berkutat dengan buku catatan Suho yang dipinjamnya tadi. Ia harus membuat catatan salinan. Satu untuknya dan satu lagi untuk Chanyeol, walaupun Chanyeol belum boleh masuk ke sekolah, bukan berarti ia tak boleh belajar bukan?

Suho menghampiri Baekhyun yang masih belum selesai dengan catatannya. “Baekhyun-ah, catatan untuk Chanyeol lagi?” tanya Suho. Ia mengambil tempat dihadapan Baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari goresan tinta yang tengah ditulisnya.

“tinggal berapa catatan lagi?” tanya Sehun, Baekhyun mendongak sebentar. “4, hanya tinggal 4. Aku harus menyelesaikannya sebelum ke rumah sakit” ujarnya. Sehun lalu tersenyum penuh arti pada Baekhyun, ia kemudian mengambil salah satu buku dihadapan Baekhyun. Baekhyun segera mendongak dan mendelik tajam kearah Sehun.

ini bukan waktunya bermain-main.

“kembalikan oh sehun!” teriak Baekhyun. Sehun menanggapinya acuh.

“aku akan menyelesaikan yang ini. Jika kau tak keberatan. Bukankah Chanyeol juga sahabat ku? Aku juga peduli padanya” ujar Sehun, lalu dengan segera Suho, D.o dan juga Kai mengambil satu-satu dari 3 buku tersisa. Baekhyun tertegun. Teman-temannya ada untuknya

“gomawo chingudeul” ujarnya. Sehun, Suho,Kai dan juga D.o tersenyum mendengarnya.

*

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju ruangan 365, tempat Chanyeol dirawat. Dengan riang ia menenteng sekotak makanan kesukaan Chanyeol, tapi betapa terkejutnya ia saat melihat ibunya yang tengah menangis di luar ruangan.

DEG !

Seketika Baekhyun mematung ditempatnya, mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.

Tidak mungkin. Chanyeol masih hidup bukan? Ya! dia masih hidup.

Dengan langkah terseok, Baekhyun menghampiri tempat eommanya. Eomma yang menyadari kedatangan Baekhyun tanpa aba-aba memeluk anaknya itu, hingga membuat fikiran-fikiran mengerikan itu datang lagi di fikiran Baekhyun. Nafasnya seketika tercekat.

Ya tuhan, apa ia benar-benar sudah pergi? Kenapa secepat ini?

“eomma.. ada apa?” tanya Baekhyun dengan suara yang begitu pelan. Eomma melepaskan pelukannya dari Baekhyun.

“Chanyeol…Chanyeol…” ucapan eomma terinterupsi oleh suara teriakan seseorang dari ruangan Chanyeol

ARRRRGGGHHHHH

“eomma.. itu suara Chanyeol?” tanya Baekhyun, eomma mengangguk.

“ya, dia sudah mengetahui semuanya. Sejak pagi dia mengurung diri dikamar, eomma sangat khawatir Baekhyun-ah” dengan suara paraunya, eomma menjelaskan pada Baekhyun. Tapi ia mengernyit halus saat melihat reaksi Baekhyun. Baekhyun tersenyum.

Syukurlah, setidaknya ia masih bernafas

Baekhyun melangkahkan kakinya lagi kearah pintu ruangan Chanyeol. Sekilas ia mendengar isakan dari dalam. DEG. Hatinya ikut sakit mendengar isakan itu. Ia tahu ini pasti sulit untuk Chanyeol. Bahkan juga untuknya. Tapi ia tak pernah bisa melawan takdir yang diberikan tuhan. Ia tak sekuat itu.

Tookk..tookk

“chingu ya.. aku datang!” ujar Baekhyun setelah mengetuk pintu kamar itu. Tak ada sahutan apa-apa dari dalam. Sekali lagi. Ia harus bersabar dengan sikap Chanyeol. Ya. HARUS!

“chinguya.. Na baegopa.. ayo kita makan bersama!”

“Baekhyun-ah! KA ! aku butuh waktu sendiri” sahut Chanyeol dari dalam. Baekhyun menggeleng, walaupun ia tahu Chanyeol tak melihatnya.

Tidak, ia tak boleh meninggalkan Chanyeol sendiri.

“jika kau tak mengijinkan aku masuk, jangan harap aku masih menganggap mu teman!” desak Baekhyun. Cukup lama ia menunggu. Tak ada sahutan lain dari dalam kamar. Hingga terdengar suara kunci yang dibuka.

Chanyeol menunjukan wajahnya yang sangat kacau itu. Menatap Baekhyun dingin. “masuklah” ujarnya. Baekhyun memasuki ruangan yang sekarang jauh dari kata rapi itu.

Mereka duduk berdua dipinggiran kasur tempat biasa Chanyeol menghabiskan waktunya yang menyebalkan selama di rumah sakit. Tak ada yang memulai percakapan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang malu-malu mengungkapkan isi hatinya.

“kenapa kau berbohong” suara berat Chanyeol menyadarkan Baekhyun. Ia tahu arah pembicaraan Chanyeol. Nafasnya mulai tercekat.

Bagaimana? Aku harus memulai nya darimana?

Batinnya berperang. Haruskah ia jujur? Haruskah? Tapi Chanyeol sahabatnya. Ia tak ingin melihat Chanyeol lebih hancur lagi. Ya tuhan !

“aku.. aku hanya tak ingin kau seperti ini. Aku tahu kau takkan bisa menerimanya. aku juga. aku tak bisa menerima semua ini. Kau sahabatku. Kumohon mengertilah” ujar Baekhyun. Chanyeol tersenyum miris.

“aku akan mati” ujarnya. Dengan cepat, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. Ia tidak terima dengan ucapan Chanyeol barusan.

“semua orang pasti mati. Hanya saja kita tak tahu kapan! Ku mohon, jangan putus asa seperti itu”

“tapi aku akan mati lebih cepat darimu. Baekhyun-ah… aku.. aku masih ingin hidup lebih lama. Aku takut.. aku takut tak bisa melihatmu saat kau jadi bintang nanti”

“PARK CHANYEOL!! KAU AKAN HIDUP! BAHKAN LEBIH LAMA DARIKU!” teriak Baekhyun. “apa kau tak tahu bahwa kata-kata mu tentang kematian menyakiti aku?” lanjutnya. Chanyeol diam, ia tahu ia salah. Ia terlalu egois, hanya memikirkan perasaannya sendiri.

“aku akan ada disini chingu. tenanglah” Baekhyun memeluk erat Chanyeol. Perlahan airmata yang berharga itu jatuh dari matanya. Hanya dengan Chanyeol -dan tentu saja ibunya- ia bisa dengan bebas mengekspresikan perasaannya. Mereka bisa dipercaya.

Chanyeol-ah, aku janji. Kalaupun nanti suatu saat kita akan berpisah, itu tidak akan lama.

Baekhyun

Gomawo chingu, aku bisa mempercayaimu. Walaupun waktu ku tidak banyak, aku akan berusaha untuk tetap hidup lebih lama. Aku akan melihatmu saat kau menjadi bintang nantinya.

Chanyeol

 

*

Chanyeol melewati pengobatan kemotherapy dengan sangat lancar. Ia benar-benar bersemangat dalam menjalani hidupnya. Baekhyun benar, ia harus hidup lebih lama. Masih banyak orang yang menyayanginya. Baekhyun, eomma, appa, dan juga eomma baekhyun, dan teman-temannya disekolah, sehun, Suho, D.o dan juga Kai. Mereka semua menyayangi Chanyeol.

Apalagi Baekhyun, ia merawat Chanyeol dengan baik tanpa pernah mengeluh. saat Chanyeol mimisan, saat Chanyeol memuntahkan makanan yang ia buat, saat Chanyeol tanpa sengaja memuntahkan cairan berwarna hijau dari mulutnya ke kemeja sekolah baekhyun, saat Chanyeol membentaknya, saat Chanyeol mengeluh tentang rambutnya yang rontok akibat reaksi dari kemo yang ia jalani, saat Chanyeol membuat tidur baekhyun tak cukup karena ia selalu meminta Baekhyun menemaninya kekamar mandi saat tengah malam. Baekhyun tak pernah mengeluh. Itulah sebagian kecil yang membuat chanyeol menemukan sosok kakak pada diri Baekhyun.

Aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya, tuhan.

“anyeong! Chingu ya” suara itu membuat Chanyeol menoleh kearah pintu kamarnya. Tepatnya kamar baekhyun. Sejak tiga hari yang lalu, Chanyeol sudah diperbolehkan untuk menjalani perawatan intensif dirumah, tapi ia tak mau dipindahkan kerumahnya. Ia ingin dirawat dikamar Baekhyun. Dan dengan senang hati baekhyun merelakan kamarnya berubah menjadi ruang perawatan untuk Chanyeol.

“annyeong!” jawab Chanyeol. Ternyata itu baekhyun, ia baru saja pulang dari sekolah, dan ia tidak sendiri. Ia datang bersama Suho, Sehun, Kai dan D.o.

“chinguya.. bagaimana keadaanmu?” tanya Kai yang sudah berdiri disamping kiri tempat tidur Chanyeol. Sedangkan yang lainnya duduk dipinggiran kasur Chanyeol. Terkecuali Baekhyun dan D.o yang sibuk menata buah dan juga makanan yang mereka bawa sebelum ke rumah ini.

 “sudah lebih baik. Tapi sekarang aku sudah botak” ujar Chanyeol sambil mengelus kepalanya yang sudah tak ditumbuhi rambut barang sehelai pun. Kai terkekeh.

“Chanyeol-ah, kau tahu? Kau masih terlihat tampan meskipun tanpa rambut” ujar Kai. “aku sudah menyalinkan pelajaran hari ini untukmu.” Ujar Suho, Chanyeol tersnyum manja “gomawo hyung!”.

Sementara Sehun malah asyik mengamati selang infus yang menancap di lengan Chanyeol.

“chanyeol, apa ini sakit?” tanya Sehun. Chanyeol, Kai, dan juga D.o terkekeh mendengar pertanyaan polos itu keluar dari mulut Sehun, sang magnae. Mereka pun terlarut dalam obrolan ringan yang tak hentinya membuat Chanyeol tertawa.

Baekhyun dan D.o yang menlihatnya tersenyum tipis, mereka senang, setidaknya Chanyeol bisa sedikit melupakan rasa sakitnya jika terus tertawa bahagia seperti itu.

“dia akan sembuh” ujar D.o. baekhyun mengangguk mengiyakan. “pasti” ujarnya.

chanyeol dan baekhyun adalah sahabatku. Merekalah yang paling dekat satu sama lain. Apa jadinya mereka jika salah satu dari mereka harus pergi. Mengalah pada takdir ” batin D.o .

*

D.o, Kai, Suho dan juga Sehun sudah pulang sekitar 1 jam yang lalu, dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul 07 malam. Hanya tinggal Baekhyun yang dengan setianya merawat Chanyeol.

“baekhyun-ah, bukankah malam ini malam natal?” tanya Chanyeol, baekhyun mengangguk. “lalu kenapa kau masih disini?” tanya Chanyeol. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol penuh tanya.

“lalu aku harus kemana?” tanya Baekhyun. Chanyeol menggeleng tak percaya. Apa Baekhyun tengah bercanda sekarang?

“kau kan harus menemui Hayoung” ujar Chanyeol. Baekhyun menarik nafasnya.

“aku akan membatalkannya, aku tak mau meninggalkanmu“

“andwe! Kau sudah berjanji, kau fikir mendapatkan gadis seperti Hayoung itu akan mudah? Laki-laki pantang mengingkari janjinya” ujar Chanyeol. Baekhyun menggeleng gusar. Entah kenapa ia takut, ia takut jika ia pergi Chanyeol takkan ada disini. Ia takut. Sungguh.

“pergilah nak, kami yang akan menjaga Chanyeol” sebuah suara menginterupsi perdebatan argumen diantara kedua sahabat itu. Eommanya Baekhyun. Ia tak sendiri, ia bersama kedua orang tua Chanyeol.

“kau berhak menikmati malam natal mu. Biar kami yang menjaga chanyeol ” ujar Park ahjussi meyakinkan. Baekhyun pun mengangguk, meskipun rasanya berat untuk meninggalkan Chanyeol.

*

Baekhyun mematut dirinya didepan cermin besar itu. Setelan coat dan celana jeansnya benar-benar terlihat catchy di tubuhnya, ditambah dengan topi dan juga syal lembut yang melingkar indah dilehernya. Ia siap untuk melewati musim dingin dimalam natal yang indah ini. Terlebih ia sudah sangat siap untuk menyatakan cintanya pada hayoung, gadis incarannya.

Baekhyun keluar dari kamar mandinya, dilihatnya Chanyeol tengah berbaring diatas kasurnya. Ia tersenyum miris melihatnya.

Seharusnya Chanyeol melewati natal ini bersama ku

“Chanyeol-ah..” panggil Baekhyun. Chanyeol menoleh, ia tersenyum tipis. Wajahnya benar-benar terlihat pucat, lebih pucat dari biasanya. Terbesit dalam diri Baekhyun untuk membatalkan acaranya dengan hayoung.

“kau tampan. Hayoung pasti akan langsung menerimamu Baekhyun-ah” ujar Chanyeol sambil terkekeh berat. Baekhyun segera menghampiri Chanyeol, duduk dipinggiran kasurnya.

“aku akan membatalkan acaranya. Jika kau minta” ujar Baekhyun. Chanyeol menggeleng. “ani, andwe. Kau sudah merencanakan semua ini sejak lama Baekhyun-ah. Jangan jadikan aku alasan untuk membatalkannya. Aku akan sangat merasa sedih” tolak Chanyeol. Baekhyun mengerti, tapi hatinya tidak tenang, sungguh!

“baiklah. Tapi berjanjilah padaku. Kau harus menungguku pulang!!” tegas Baekhyun, Chanyeol tersenyum tipis. Lalu ia meraih tangan Baekhyun, menggenggamnya erat, sekuat yang ia mampu.

“aku janji. Memangnya kau fikir aku akan kemana dengan tubuh lemah ini?” canda Chanyeol. Baekhyun tersenyum. Ia lalu bangkit, berjalan menuju pintu keluar kamarnya. “Baekhyun-ah” suara Chanyeol menginterupsi langkahnya. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol.

“dapatkan Hayoung. Dapatkan gadis itu. Jika tidak, aku takkan memaafkanmu” ujar Chanyeol sambil terkekeh. Baekhyun mengangguk.

“aku akan segera kembali. tunggulah” ujar Baekhyun sebelum akhirnya ia benar-benar menutup pintu kamarnya.

Chanyeol pasti menepati janjinya. Ia akan menungguku. Ia pasti menepatinya. Pasti.

Semoga.

 

*

Baekhyun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju namsan tower yang terletak tak begitu jauh dari rumahnya. Ia mengeratkan coat yang dipakainya, melawan angin dingin yang menerpa tubuhnya. Hatinya begitu tak tenang, entahlah, mungkin karena ia akan menyatakan persaannya pada hayoung? Atau karena ia meninggalkan Chanyeol dirumah?

Sambil menenteng sebuah tas berisi gitar, Baekhyun tetap berjalan diantara kerumunan orang yang juga memilih menghabiskan malam natal diluar rumah. Ia berjalan dengan cukup cepat. Ia takut gadis itu menunggunya terlalu lama.

Seulas senyum terbentuk diwajah Baekhyun, gadis itu menunggunya tepat di pagar besi yang menghadap ke namsan tower. Memakai coat dan juga topi yang berwarna senada. Sangat cantik.

“hayoung-ah, kau menunggu lama?” tanya Baekhyun sesaat setelah sampai dihadapan hayoung, gadis itu tersenyum. Lalu menggeleng pelan.

“oppa, ada apa oppa menyuruhku kesini?” tanyanya halus. Debaran itu semakin menjadi. Ia segera mengambil gitarnya, Lalu mulai memainkan kunci demi kunci dari lagu nya.

 

*I believe all the love you give

All of the things you do

Love you…love you..

I’ll keep you safe, don’t you worry

I wouldn’t leave, wanna keep you near

Cause i feel the same way too

Love you.. love you..

Want you to know that

I’m with you

I will love you and love you and love you

Gonna hold you and hold you and squeeze you

I will please you for all time

I don’t wanna lose you and lose you and lose you

Cause i need you and need you and need you

So i want you to be my lady

You’ve got to understand my love

 

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful girl

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful girl

 

I will love you and love you and love you

Gonna hold you and hold you and squeeze you

I will please you for all time

I don’t wanna lose you and lose you and lose you

Cause i need you and need you and need you

So i want you to be my lady

You’ve got to understand my love

 

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful girl

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful girl*

 

Baekhyun menghentikan lagunya, Airmata Baekhyun sudah mendesak ingin keluar, ia kembali teringat saat ia memainkan lagu itu dengan Chanyeol. Tapi ia harus kuat. Ia tak boleh lemah dihadapan gadis dihadapannya ini. Ia harus kuat.

“oppa.. maksud lagumu itu apa?” tanya Hayoung. Baekhyun mengambil nafas sejenak. Lalu Menghembuskannya perlahan.

“hayoung-ah, aku tak pernah pandai untuk berkata-kata. Tapi dengan kesungguhanku, aku memilihmu untuk memiliki hatiku. I realy love you. So i want you to be my lady”

“oppa..mianhaeyo..”

DEG

Apa itu tandanya aku ditolak?

“aku sudah memiliki kekasih, kami sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu. Oppa jeongmal mianhaeyo” sesal hayoung. Baekhyun mengangguk mengerti. Hayoung tak ingin menyakiti Baekhyun lebih jauh,perlahan ia mundur dengan teratur, “oppa, aku pergi” ujarnya sebelum benar-benar meninggalkan Baekhyun.

*

In another place, in the same time…..

 

Chanyeol PoV

AARRRRGGGHHH

Kenapa kepalaku? Kenapa rasanya sakit sekali? Ya tuhan! Kenapa rasanya sakit?

“EOMMA……APPA…..AHJUMMA……” aku mencoba berteriak dengan suara yang sudah tercekat ini. Dan dalam hitungan detik, mereka sudah sampai di kamar ku. Nafasku benar-benar tercekat. Rasanya sangat sulit untuk mengambil oksigen. Sulit.

“omo.. Chanyeol-ah, hidungmu…” eomma terlihat histeris, ia segera berlari mengambil tissue diatas meja. apa yang terjadi denganku? Dengan sisa tenaga ku, aku menggapai areal hidungku. Ada cairan kental disana. Darah. Dengan telaten, eomma membersihkan darah yang tak juga mau berhenti itu.

Tapi tiba-tiba aku merasa perutku seperti dikocok, rasanya benar-benar mual. Sepertinya, appa menyadarinya, ia menyodorkan sebuah wadah kecil kedekat mulutku. Dan.. HUEK. Aku memuntahkannya beberapa kali.

Ya tuhan! Apa yang baru saja aku muntahkan? DARAH! Eomma semakin terisak saat melihat hal itu, ia segera membersihkan darah yang tersisa di sekitar mulutku. Tiba-tiba pandanganku gelap seketika.

 

*

AUTHOR POV

 

ARRGGGHHHHHHH

Teriak Baekhyun, ia kesal, sedih, marah. Ia meninggalkan Chanyeol hanya untuk sebuah penolakan? SIAL! Ia benar-benar merutuki dirinya yang bodoh. Benar-benar bodoh!

Ddrrttt…ddrrrttt

Suara handphone Baekhyun membuyarkan lamunannya. Ia segera merogoh saku coatnya.diambilnya benda persegi berwarna putih itu.

“yeobseyo?” sapa Baekhyun malas. “yeobseyo! Baekhyun-ah, cepatlah pulang! Kondisi Chanyeol menurun” ujar sebuah suara parau dari sana. Baekhyun terdiam sejenak. Mencoba mencerna maksud dari kata-kata itu. Hingga suara ‘bip’ dari telponnya menyadarkannya dari dunianya itu.

Dan dalam sekali hentakan, Baekhyun berlari menuju rumahnya. Ia tak perduli dengan cacian orang-orang yang ia tabrak. Yang ada didalam fikirannya sekarang hanyalah ia harus cepat pulang. Chanyeol membutuhkannya.

Chanyeol-ah, kumohon bertahanlah. Kau akan menepati janjimu bukan? Kau akan menungguku pulang! Aku tahu kau pasti menepati janjimu.

Setetes airmatanya kembali jatuh, tapi ia tetap berlari diantara pandangan aneh orang-orang yang dilewatinya, melawan salju yang kian lama semakin deras.

 

*

Chanyeol PoV

 “euunngghh” aku melenguh saat aku membuka mataku. Aku melihat sekelilingku. Wajah cemas mereka bisa dengan jelas kulihat. Mianhaeyo, aku membuat kalian seperti ini. Aku janji ini yang terakhir kalinya. Kulihat eomma, appa, ahjumma dan juga dokten shin. Baekhyun belum pulang? Kurasa dia terlalu senang dengan pacar barunya. Kekekekeke. Eomma terlihat mendekat kearahku.

“Chanyeol-ah? eoddi Appo?” tanyanya, aku menggeleng lemah. Aku serius. Aku tak merasakan sakit apapun sekarang ini.

“eomma…mianhae…” eomma mendekatkan pendengarannya di mulutku. Suara ku menjadi lebih kecil karena alat yang dipasang dimulutku ini. Huh menyusahkan. “tolong..katakan..pada..Baekhyun..” aku terbata, nafasku benar-benar berat. Tapi aku harus mengatakan ini. Aku takut jika Baekhyun datang nanti, ia akan marah padaku karena tak menepati janji.

“maaf..aku..tak..bisa..menunggu..nya..aku..terlalu..lelah..aku…ingin..tidur..” ujar ku. Eomma semakin terisak. Aku tak tahu kenapa, aku hanya merasa aku akan pergi jauh dari Baekhyun.

DEG

Tiba-tiba kepala dan jantungku terasa sakit. Aku mengerang. Aku tak bisa dengan jelas mendengar dan melihat sekitarku. Rasanya terlalu sulit. Yang kurasakan hanyalah sebuah getaran listrik didadaku. Aku yakin itu adalah defiblator. Tapi, nafasku mulai pendek dan tak teratur. Sebuah hentakan yang cukup keras menghujam jantungku.sakit sekali.

Tapi setelahnya, aku tak merasakan sakit apapun. Aku bahkan merasa sangat sehat dan damai. Eomma..appa..ahjumma..Baekhyun-ah.. aku tak merasakan sakit lagi.. mulai sekarang hentikan tangisan kalian, aku sudah lebih sekarang. Aku akan tidur dengan damai. Terimakasih semuanya, dan maaf untuk airmata kalian yang sia-sia terjatuh hanya karena aku. Baekhyun-ah, mulai sekarang jangan pernah takut untuk menunjukan perasaanmu yang sebenarnya. Maaf aku tidak berpamitan padamu. Selamat tinggal.

*

AUTHOR PoV

“waktu kematian pukul 10.48. park Chanyeol telah meninggalkan kita semua” itulah kalimat pertama yang dapat tertangkap oleh pendengaran Baekhyun saat pertama kali tiba didepan kamarnya. Lututnya tiba-tiba terasa lemas, ia tak bisa menahan berat tubuhnya sendiri, seketika ia terduduk lemas. Suara tangisan yang histeris terdengar dari ruangan itu. Eomma Chanyeol dan juga eomma Baekhyun menjadi acthress dibalik suara tangisan yang menggema dibalik ruangan tersebut. Mereka belum menyadari kedatangan Baekhyun. Hingga suara lembut penuh amarah itu terdengar diantara isakan mereka.

“ANDWE! CHOLTE ANDWE!” teriak Baekhyun yang segera berlari menuju tubuh Chanyeol, menggerak-gerakkan tubuh yang telah kaku itu.

“andwe. Chanyeol-ah ireona!! Jebal! Katakan padaku jika ini hanya lelucon! Chanyeol-ah. PARK CHANYEOL!! IREONA!!!” teriak Baekhyun, suaranya terdengar putus asa. Tuan Park, ayah Chanyeol menghampiri Baekhyun, mencoba menenangkan Baekhyun yang sudah ia anggap anaknya sendiri.

“Baekhyun-ah, tenanglah. Kami juga sama sepertimu, merasa kehilangan. Tapi dia sudah lebih tenang sekarang. Setidaknya ia takkan merasakan sakit itu lagi. Tadi, sebelum ia pergi, ia berpesan pada kami. Ia meminta maaf pada mu karena ia tak bisa menunggumu.”

“keunde ahjussi. Dia tak boleh seperti ini” airmata Baekhyun meluncur bebas dari matanya. Jari-jarinya menggapai tangan Chanyeol yang tak sehangat dulu. Dalam hati ia benar-benar menyesal, ia terlalu egois ,memikirkan perasaannya sendiri. Kalau saja ia segera pulang, ia pasti masih bisa mendengar suara Chanyeol sekarang. Kalau saja.

“aku mengerti. Dengar, dia hanya pergi dari dunia ini. Tapi ia akan selalu hidup disini” ujar Tuan park sembari menunjuk dada Baekhyun.

“dihatimu. Dan dihati kita semua. Cintanya, tawanya, bahkan tingkah jahilnya itu akan selalu hidup di hati dan fikiran kita semua” lanjutnya. Baekhyun mengangguk mengerti, ia kembali menatap jasad Chanyeol yang terlihat tersenyum. Ayah Chanyeol benar, Chanyeol sudah lebih bahagia disana. Ia sudah lebih tenang.

*

Suasana pemakaman Chanyeol benar-benar terasa haru, diiringi dengan isak tangis dari orang tua, kerabat dan juga teman-temannya. Berita kematian Chanyeol benar-benar mengejutkan mereka semua.  Mereka tak menyangka akan kehilangan seorang teman pembawa tawa. Sang ‘happy virus’ kini telah mengalah pada takdir. Menyerahkan hidupnya pada tuhan.

Tak terkecuali Baekhyun, raut kesedihan tak bisa ia tutupi dari wajah tampannya. Ia merasa kehilangan? Tentu saja! Bohong jika ia mengatakan baik-baik saja. Bohong jika ia mengatakan ia kuat. Bohong jika ia mengatakan ia tak kehilangan. Bahkan sebagian dirinya seakan ikut terkubur bersama jasad Chanyeol yang damai.

Ia harus kuat! Setidaknya sampai semua orang tak mengkhawatirkan keadaannya. Ia tak ingin terlihat lemah sekarang, masih banyak yang menyayanginya. Ia tahu itu.

Semua orang yang menghadiri acara pemakaman Chanyeol, sedikit demi sedikit semakin berkurang. Dan akhirnya kini, hanya ada Baekhyun dan beberapa temannya yang setia berdiri dibelakang Baekhyun. Sengaja memberikan ruang untuk Baekhyun dan mendiang Chanyeol. Orang tua Chanyeol dan ibunya pun sudah meninggalkan tempat ini.

Perlahan, tubuh Baekhyun merosot, seakan tenaganya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Ia terduduk dihadapan pusara Chanyeol. Tetesan airmatanya kembali mengalir. Penyesalan itu benar-benar melekat kuat di hatinya.

“Chanyeol-ah, jika saja aku tak mengikuti ego-ku dan tetap menemanimu di rumah, mungkin rasanya takkan sesakit ini, setidaknya aku harus ada didetik terakhir hidupmu Chanyeol-ah. Aku benar-benar sahabat yang bodoh”

“kau tahu? Hayoung menolak ku ia bilang dia sudah memiliki kekasih. Aku terlambat” kekeh Baekhyun diantara isaknya. Kai, suho, sehun, dan juga D.O yang tengah berdiri dibelakang Baekhyun tak kuasa menahan tangis mereka saat mendengar kata-kata Baekhyun pada Chanyeol. Mereka tak mengira jika persahabatan Baekhyun dan juga Chanyeol benar-benar sedalam ini.

“kau juga, kau tak menepati janjimu Chanyeol-ah. Kau sudah berjanji bukan, kau akan menungguku hingga aku pulang?” baekhyun menghentikan kata-katanya, suaranya berlomba dengan isakan yang terus ingin keluar tanpa bisa ia hentikan.

“ Ah benar, apa aku terlalu lama hingga kau bosan menungguku huh? Mianhe, karena aku patah hati, aku tak segera menemui mu dirumah Chanyeol-ah, mianhae. Aku memang egois. Sekarang tidurlah, aku akan datang menemuimu, jangan bosan menungguku ya? ” Baekhyun mengucapkan kalimat terakhirnya pada Chanyeol sembari mengusap kasar airmata yang jatuh dipipinya. Ia tersenyum lalu segera bangkit. Dengan segera Suho, Kai, D.o dan juga sehun segera merangkulnya, memberikan kekuatan pada Baekhyun. Baekhyun lalu melirik sebentar kearah pusara Chanyeol. Dilihatnya seorang pria tinggi berbalut kaos dan juga celana putih. Wajahnya benar-benar terlihat damai. Dan pria itu tersenyum kearah Baekhyun. Baekhyun ikut tersenyum.

Hanya sementara Chanyeol-ah. Aku berjanji kita akan bertemu lagi. Tidurlah hingga aku datang untuk membangunkanmu. Sama seperti saat kau sedang menginap dirumahku. Tidurlah dengan bahagia. Aku tak akan lama. Tunggulah. Jangan pernah merasa lelah menunggu ku!

 

Sebuah janji yang terucap tulus dari hati Baekhyun. Pria tadi hanya tersenyum kearah Baekhyun.

Pria itu akan menepati janji nya. Janji untuk Menunggu kedatangan Baekhyun. Janji terakhirnya.

 

FINE

 

Gimana? Gimana? Baguskah? Biasa aja? Atau malah jelek baget ?

Mohon komen-an nya yaJ

23 thoughts on “The Last Promise

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s