You And I

YAI Poster

Tittle : You And I

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri (OC)

Other Cast :

  • Kim Jongin
  • Park In-Hwa (OC)
  • Do Kyung Soo
  • Park Chanyeol
  • Zhang Yixing
  • Xiumin

Rating : PG-17 (gue serius)

Genre : romance, marriage life, comedy

Length : One-Shoot (sequel of You And Him), <6500w

Note : Hello! I wanna say thank you so much for best responds in my lovely FF You And Him. Anggaplah saya lagi baik hati karna bisa bikin sequelnya. Semacam after story mereka menikah. Terimakasih banyak telah mendukung kopel ini ^o^/\… and, ENJOY!! Don’t forget to leave a comment/more.

*You And I*

Baekhyun adalah pria yang ku pilih untuk hidup bersamaku. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Rasa cintanya memang tidak bisa aku ragukan. Sekalipun kami pernah bertengkar. Tapi tidak ada yang ku khawatirkan terlalu jauh. Kami akan saling minta maaf dan mulai memahami.

Tapi sekarang aku takut. Aku ragu apakah aku sudah menjadi istri yang baik untuknya? Baekhyun tidak pernah mengeluh padaku. Dan ini sangatlah buruk. Aku bukan peramal yang bisa memprediksi apa yang ada dalam pikiran Baekhyun.

If I make a mistake, is He still love me?

Bunyi bip terdengar dua kali ketika Baekhyun selesai menggesek kartu identitas apartment dan menekan beberapa angka–kode pengaman–untuk membuka apartment tempat tinggalnya. Atau bisa dikatakan tempat tinggal Baekhyun bersama istrinya, Park Minri.

Langit sudah gelap saat Baekhyun pulang dari tempatnya bekerja. Gayanya khas pekerja kantoran. Baekhyun bekerja di sebuah Bank Nasional (dia cemerlang dalam bidang akutansi). Dengan setelan jas rapi–tapi sekarang sudah cukup berantakan, celana kain dan sepatu kulit. Baekhyun tampak lelah. Tapi ia masih bisa tersenyum manis saat ia memikirkan bahwa istrinya sedang menunggunya di tempat tinggal mereka berdua. Menyambutnya dengan pelukan hangat dan kalau dia lagi berbaik hati, Baekhyun akan diberi kecupan manis. Hampir selalu.

Baekhyun melepaskan sepatunya. Pintu tertutup dengan sendirinya dan terkunci secara otomatis. Baekhyun menerapkan sistem keamanan tingkat tinggi untuk tempat tinggalnya. Alasannya tentu saja karena ia tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya. Orang yang paling berharga di dunia versi Baekhyun.

Kakinya melangkah masuk. Dia disambut oleh aroma cappuccino dengan krimmer dan granule yang banyak, kesukaan istrinya. Dia juga melihat wanita itu duduk di sofa dengan mata–yang sepertinya–terfokus pada layar laptop di hadapannya. Tapi dia hanya menatap layar itu. Mungkin sudah selesai dengan pekerjaannya. Entahlah.

Minri bekerja sebagai penulis novel, menurut pengetahuan Baekhyun. Tapi dia belum pernah mempublikasikan tulisannya kepada penerbit (Minri bahkan belum pernah menunjukkannya pada Baekhyun). Minri bilang dia belum selesai dengan tulisannya itu. Baekhyun tidak akan memaksa Minri menunjukkannya. Baekhyun menghargai hal itu sebagai privasi.

“Nyonya Park, ada yang sedang menunggu pelukan anda.” Canda Baekhyun. Meletakkan tas kerjanya di sofa. Tersenyum.

Minri terkesiap. Dia menelengkan kepalanya. Menyingkirkan bantal sofa di pangkuannya dan berdiri. Membalas senyuman Baekhyun. Baekhyun menangkap sedikit kekosongan dari senyum itu. Entahlah. Mungkin karena pekerjaan di kantor yang terlalu banyak membuat Baekhyun sedikit lebih sensitif.

Minri mendengar  saat bunyi bip yang berasal dari pintu ketika Baekhyun membukanya. Karena jarak pintu dan ruang tengah tidak begitu jauh. Minri hanya sedang berpikir hingga sampai Baekhyun yang perlu menyapanya terlebih dahulu.

Dia menghampiri Baekhyun tanpa mengurangi sedikitpun senyuman terbaik yang ditampilkannya. Merentangkan tangan lalu melingkarkannya di leher Baekhyun.

“Maaf Tuan Byun, sedikit mengabaikanmu.”

“Tidak semudah itu.”

Baekhyun membalas pelukan Minri dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping wanita itu. Memandangi wajah wanitanya. Cantik. Angelic. Manis. Dan akan-selalu-selamanya mempesona untuk Baekhyun.

Minri mengecup keras bibir Baekhyun. Memberikan efek kejut untuk Baekhyun. Pria itu seperti baru bangun dari tidur lelapnya. Sepenuhnya terjaga.

“Kalau itu bagaimana? Memaafkanku.”

Baekhyun tertawa pelan. Dia akan mencium bibir Minri tapi wanita itu keburu memundurkan wajahnya. Menghindar.

“Sebaiknya kau mandi. Sekarang.”

Minri melonggarkan dasi Baekhyun dan melepaskannya. Minri membalikkan badannya dan bergerak menuju sofa yang tadi ia duduki. Tapi, Baekhyun tidak ingin melepaskan pelukannya. Baekhyun membuntuti Minri seperti anak kucing yang tidak ingin lepas dari induknya. Bibirnya mengerucut lucu (Baekhyun bukan anak-anak lagi! tapi tampangnya masih tetap lucu. Astaga).

“Sebentar saja. Masa sih aku tidak boleh melepas rindu pada istriku dulu.”

Baekhyun duduk setelah Minri duduk. Baekhyun menghadap Minri dengan kaki bersila.

“Serius sekali.” Baekhyun mendesah. “Sejak kapan layar datar itu lebih menarik daripada aku?” Baekhyun mencuri pandangan ke arah laptop. Biasanya Minri akan bereaksi dengan menutup halaman tulisannya atau mengarahkan layar itu ke arah lain, menghindari Baekhyun.

Kali ini tidak. Minri membiarkan Baekhyun melihatnya.

Baekhyun melebarkan matanya. Ada suatu hal mengejutkan yang baru saja dilihatnya. Dia menatap Minri dan layar itu secara bergantian. Minri. Layar. Minri. Layar.

“Kau serius menulis namaku disana?” tanya Baekhyun. Dia sedikit menunduk untuk meyakinkan dirinya. “Namamu juga.”

“Ya. Boleh?” Minri meletakkan satu tangannya di pipi Baekhyun. Mengusap pelan.

“Tentu saja. Sepertinya sudah selesai.” Baekhyun berkomentar setelah membaca paragraf terakhir. Tangannya lancang menggerakkan cursor ke bawah. Ada satu halaman kosong yang tersisa sebelum tulisan selesai.

“Belum, Baek…” Minri mengetuk-ngetuk ujung jarinya di dagu. Berpikir. Tapi, pandangannya kosong.

“Kau kenapa?” Baekhyun mengenali Minri. Bahkan bagian-bagian yang Minri tidak menyadarinya. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Baekhyun mengenali, menghapal dan terbiasa dengan semuanya, apapun, yang ada dalam diri Minri. Dan dua tahun pernikahan mereka sudah berjalan, semakin Baekhyun tahu segalanya, lebih.

“Tidak apa-apa.” Sampai saat ibumu datang kemari.

Minri menghempaskan napasnya. Kemudian berdiri.

“Mandilah, aku akan memanaskan makanan untukmu.”

“Kau memasak?” Baekhyun mendongak, matanya tampak berkilat antusias.

“Apa aku salah bicara?” Minri menutup mulutnya dengan kedua tangan. Berlagak terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan. Tapi Minri segera menggantinya dengan tawa ringan. “Tidak. Baekhyun. Tadi ibumu datang kemari dan membawakan makanan untuk kita.”

Eomma? Untuk apa.” Sungut Baekhyun. Dia ikut berdiri. Membuka kancing kemeja yang kedua dari atas.

“Memangnya Eomeoni tidak boleh berkunjung ke rumah anak dan menantunya.” Minri membantu melepaskan jas yang masih melekat di tubuh Baekhyun. Lalu memegangi jas itu.

“Tidak mengatakan hal lain? Atau ada pesan untukku?”

“Tidak ada hal lain. Dan ada pesan untukmu. Ibumu merindukanmu, sekali-sekali berkunjunglah ke rumah.”

“Aku mengerti.”

“Kau anak tunggal, Baekhyun. Siapalagi kalau bukan kau yang mengunjungi ibumu.”

Baekhyun menangkup wajah Minri dengan kedua tangannya. Melayangkan kecupan yang cukup lama di bibir Minri. Menggigit dengan gemas, sesaat. “Nanti, saat aku mendapatkan waktu libur. Kita pergi bersama.”

Minri mendorong pelan tubuh Baekhyun. Menghindarkan pria itu dari wajah Minri yang malang karena merona.

“Sana mandi…” Selalu bisa membuat salah tingkah.

“Siap Letnan!” Baekhyun memberi hormat sebelum berbalik dan masuk ke dalam kamar mereka. Menyisakan tawa ringan dari Minri di ruang tengah. Baekhyun memang lucu! Juga manis.

Minri kembali sendiri.

Dia menunda memanaskan makanan. Dia kembali duduk memandangi layar laptopnya. Meletakkan jas dan dasi Baekhyun di sampingnya.

Baekhyun anak tunggal. Aku ingin sekali menimang cucu. Baekhyun harus punya keturunan. Dia satu-satunya harapan kami.

Ucapan ibu mertuanya tadi siang berputar terus-menerus seperti kepingan CD yang sedang dinyalakan. Minri tidak menyangka bahwa ibu Baekhyun sampai hati mengungkit masalah itu. Memang, wanita itu tidak salah untuk ‘menagih’ cucunya kemari. Tapi Minri butuh waktu.

Bukan.

Mereka berdua butuh waktu.

Sebagai pasangan suami-istri, mereka sudah sering melakukannya. Malam. Pagi kalau sempat. Kasur. Kamar mandi.

Sebaiknya kalian berdua ke rumah sakit. Periksalah. Mungkin saja ada yang salah.

Saran dari wanita itu membuat Minri merinding.

Tidak.

Minri tidak suka rumah sakit. Dan dia takut kalau ‘mungkin saja ada yang salah’–itu adalah benar.  Dia tidak bisa menceritakan hal ini pada Baekhyun. Takut akan menjadi sebuah tekanan. Minri tidak ingin menambah beban pikiran Baekhyun. Jadi ia memilih untuk menyimpannya sendiri.

Minri yakin tidak ada yang salah dengannya, dengan kesehatannya, juga Baekhyun.

Kembali menurunkan cursor ke halaman kosong. Lima detik yang dia butuhkan sebelum menekan ctrl+S dan menutup halaman pada tulisannya.

Dia akhirnya sadar mengapa ada halaman kosong dalam ceritanya. Dan halaman itu akan terus kosong sampai Minri menuliskan satu atau beberapa tokoh lagi di dalamnya.

***

Pukul 5 sore. Waktu istirahat untuk para pegawai sampai setengah jam ke depan.

Baekhyun menyeret kursinya bergabung bersama teman-teman sekaligus rekan kerjanya. Mengobrol sambil menyeruput kopi hangat.

Berbagi cerita adalah solusi untuk mengurangi beban dalam diri. Asalkan tahu batasnya, bercerita tentu akan membawa manfaat. Tapi kali ini Baekhyun hanya sebagai pendengar yang hanya sesekali menimpali.

“Baozi-ku suka sekali makan bakpau. Giginya sudah tumbuh banyak.” Ungkap Xiumin.

“Pipinya pasti chubby.” Komentar Kyung Soo sambil mencubit pipinya sendiri. Membayangkan bahwa ia sedang mencubit pipi putra Xiumin.

Kyung Soo, kau lupa bahwa kau punya anak yang menggemaskan. Gempal seperti tabung gas 3 kg.

Baekhyun minta maaf dalam hati. Dia hanya bercanda. Tapi sungguh anak Kyung Soo sangat menggemaskan. Baekhyun pernah melihat fotonya.

Xiumin. Si tembem yang lucu. Xiumin sudah memiliki anak berumur kira-kira satu tahun setengah. Wajahnya yang imut membuat orang-orang mungkin tidak percaya bahwa Xiumin adalah seorang ayah yang hampir punya dua orang anak (kalau saja istrinya tidak keguguran di kehamilan pertamanya).

Dia bekerja di bagian costumer service. Sangat ramah. Dia pantas ditempatkan di sana. Tapi Baekhyun punya satu pertanyaan.

Apa anak umur segitu sudah boleh makan bakpau?

“Sampaikan pesanku pada anakmu Hyung, ‘tumbuhlah yang tinggi, jangan seperti ayahmu’.”

Ucapan Jongin berhasil mengundang gelak tawa. Beberapa pekerja lain sampai menoleh pada mereka. Untung saja Yixing memperingatkan mereka dengan meletakkan telunjuknya di depan bibir. Lalu tawa mereda. Meski Chanyeol masih tertawa–tanpa suara. Chanyeol terlalu sensitif untuk hal-hal lucu seperti tadi.

“Terimakasih pesannya, Kkamjong. Ku harap anakmu berkulit putih.”

Xiumin memutar bola matanya. Dia hanya kesal sampai wajahnya saja. Dia tidak akan tersinggung sampai ke hati. Jongin memang seperti itu. Lagipula orang bodoh mana yang tidak bisa membedakan yang mana bercanda dan yang mana serius.

“Dan pandai menari.” Jongin menambahkan.

“Ya. Dan pandai menari.”

Yixing mengutak-atik ponselnya. Menunjukkan sebuah video berdurasi pendek dimana Huan-Mei, putrinya yang cantik sedang duduk di depan piano putih besar milik Yixing. Anak berumur lima tahun. Cantik dengan lesung pipi di pipi kanannya. Badannya mungil, kakinya bahkan masih menggantung saat ia duduk di kursi piano itu.

“Huan-Mei selalu ingin bermain piano. Sekarang ia sudah bisa memainkan beberapa lagu.”

“Huan-Mei ingin menjadi musisi. Hebat.” Chanyeol tepuk tangan sendiri. Dan yang lain melihati Chanyeol sebentar lalu mengabaikannya.

Musisi? Impian yang cemerlang.

“Anakku sangat suka makan.” Kyung-Soo tersenyum mengingat anaknya yang manis itu. Bocah laki-laki berumur 2 tahun.

“Pemakan segala.” Tambah Jongin. Membuat Kyung Soo menghadiahinya dengan sebuah tinju di lengan Jongin yang berotot.

“Aku tahu!” Xiumin berseru. “Anakmu pasti ingin menjadi koki. Dia akan mencoba berbagai macam masakan. Nanti sudah besar, dia akan memasaknya sendiri.”

“Keren!” Kyung-Soo tepuk tangan. “Aku juga suka memasak. Kami bisa membangun restoran bersama nanti. Setelah aku pensiun.”

“Ide yang sangat bagus, Kyung Soo.” Baekhyun menepuk pelan lengan Kyung Soo. Lalu menengak habis kopinya.

“Bagaimana keadaan istrimu, Baekhyun?”

Tersedak.

Hampir saja menyemburkan kopi di mulutnya ke wajah Yixing yang kebetulan berada di hadapan Baekhyun.

“Chanyeol. Cari wanita lain saja, jangan mengganggu istri Baekhyun.” Komentar Kyung Soo, sedikit–sepenuhnya–salah paham.

“Bukan seperti itu Kyung.” Yixing mencoba membenarkan. Tapi, Yixing tidak bicara lagi, membuat Kyung Soo menunggu penasaran. Hingga akhirnya Baekhyun sendiri yang angkat bicara. Setelah ia bisa meredakan rasa tersedaknya.

“Kami belum diberi keturunan,” jawab Baekhyun sembari tersenyum–setidaknya mencoba tersenyum. Sepertinya ini akan menjadi topik pembicaraan sensitif untuk Baekhyun.

Aku merasa iri dengan mereka.

“Berapa usia pernikahan kalian?” tanya Xiumin. Tidak menatap Baekhyun, tapi, justru menghitung jari-jarinya. “Dua tahun, ya.”

Baekhyun mengangguk.

Mereka teman baik. Bahkan bisa mengingat usia pernikahan Baekhyun.

“Jangan bilang kalau kalian belum pernah melakukan–” Kai bangkit dari kursinya, hampir terjengkang karena roda kursinya diinjak Chanyeol.

“Kami sering.”

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang semuanya menatap Baekhyun. Dia merasa risih dan juga konyol membicarakan hal gila dan agak terbuka semacam itu.

“Aku merinding.” Chanyeol menggosok lengan dan lehernya. Tubuhnya bergelung-gelung seperti digigit serangga.

“Segeralah menikah, Chanyeol.” Usul Yixing.

Jongin melipat ke dua tangannya di depan dada. Tampak seperti paling tua di antara semuanya. Bukan. Bukan masalah wajah. Tapi gelagatnya yang sok tahu itu. Seperti orang yang sudah lama menikah (Jongin bahkan yang menikah terakhir sebelum Chanyeol–diantara mereka).

“Mungkin ada yang salah dengan cara kalian bercinta.”

“Jongin.” Kyung Soo menatap Jongin tajam. Berharap si Kkamjong itu mengontrol volume bicara dan kata-katanya.

“Apa.” Balas Jongin datar.

“Jaga pola makan kalian.” Saran Xiumin bisa diterima.

“Benar, minum vitamin kalau perlu.” Yixing juga bisa.

“Jangan tergesa-gesa.”

Kyung Soo? Benar Kyung Soo yang mengatakannya? Oh baiklah, jangan tertipu dengan wajah polosnya. Istrinya bahkan sedang mengandung lagi.

“Sekali-sekali cobalah yang lebih ekstrim. Seperti melakukannya di lantai.” Astaga Jongin.

“Atau di kolam renang.” Kau serius mendengarkan Chanyeol? Dia bahkan belum menikah!

Masih banyak cara yang lebih normal, Baekhyun.

“Terimakasih saran kalian, teman. Sekarang kembali bekerja.”

Baekhyun menyudahi percakapan yang semakin membuat perutnya menggelitik. Walaupun mereka semua sesama pria, Baekhyun tetaplah merasa malu. Lagipula ini kantor. Tidak seharusnya mereka mengobrol masalah itu. Bukan tempat yang tepat.

 

Baekhyun menghentikan mobilnya di tempat parkir gedung apartment. Dia mematikan mesin mobil. Bukannya turun, dia malah menghidupkan pendingin. Sekelebat percakapan dia dan teman-temannya melintas cepat seperti kereta bawah tanah.

Dia tidak pernah mempermasalahkan tentang anak, sebelumnya. Lagipula ia bahagia hidup berdua dengan istri yang sangat dicintainya. Tapi, ada hal yang mengganjal. Seperti menuntut.

Dan sebuah kekosongan.

Belum lengkap.

Belum sempurna.

Dia tidak bisa membayangkan respon Minri saat ia mengungkit masalah ini. Dia takut Minri tersinggung. Teman-temannya benar, tidak ada salahnya berusaha. Baekhyun bisa mulai dari mengatur pola makan. Mengubah pelan-pelan, tanpa sepengetahuan Minri.

Baekhyun tidak ingin menyakiti perasaan Minri. Sama sekali tidak. Maka dari itu, ia tidak akan menyinggung apapun tentang anak di depan Minri.

Ponsel Baekhyun berbunyi. Ada pesan masuk, dari Minri.

Baekhyun dimana? Tidak biasanya kau selarut ini.

Baekhyun mengurungkan niatnya membalas sms. Baekhyun tersenyum. Minri pasti sedang khawatir padanya. Itu berarti .. Minri sayang padanya.

Dia kembali menyalakan mesin mobil dan melesat menuju jalanan.

Minri pasti belum makan. Aku akan membelikan ayam goreng kesukaannya.

Dan Baekhyun kembali setengah jam kemudian.

***

Minri merenung di meja makan. Meja itu  tidaklah kosong. Ada beberapa menu yang mengisinya. Kali ini Minri memasaknya sendiri, dengan penuh perjuangan (jari tangan tergores pisau dan kecipratan sedikit minyak panas).

Dia bukan wanita yang pandai memasak. Dia hanya mencoba memasak untuk suaminya. Dengan melihat beberapa resep di internet, bertanya pada ibunya, dan mencobanya sendiri–mencoba dengan lidahnya, kemudian tidak segan-segan membuang makanan itu jika dia rasa masakannya gagal. Tapi yang ini dia harap Baekhyun suka.

Minri masih memikirkan persoalan kemarin. Ucapan ibu mertuanya tidak mau pergi seperti sudah direkatkan di kepalanya dengan lem super lengket yang mahal.

Sudah hampir satu jam dia berada di meja. Baekhyun sama sekali belum kelihatan keberadaannya. Minri merasa khawatir, dengan segera mengirim pesan singkat ke ponsel Baekhyun. Mengetuk-ngetuk jari pada layar, menunggu balasan, namun tidak ada.

Bahkan sudah lewat satu jam dia duduk di sana.

Minri menyenderkan kepalanya di atas meja. Rasa kantuk mulai menyergapinya.

Minri menyerah.

Satu per satu makanannya ia simpan dalam kulkas. Mungkin nanti Baekhyun bersedia memakannya atau setidaknya mencoba.

Dengan langkah pelan dan kaki yang lemas, Minri melangkah menuju kamarnya. Dia sempat melirik laptop di mejanya. Dia tidak bersemangat memeriksa atau menambahkan tulisannya. Jadi Minri putuskan untuk mematikan laptop itu dan mengambil iPad.

Menjelajah dunia maya dan membaca informasi terkini mungkin hal bermanfaat yang bisa ia lakukan sebelum tidur. Atau mungkin curhat pada benda elektronik itu bisa meringankan beban pikirannya.

Malam itu Minri tertidur tanpa kecupan selamat malam dari Baekhyun.

Dan dia mendapat mimpi buruk.

***

Baekhyun berjalan bersama wanita cantik, menawan, dengan senyuman hangat dan sejuk seperti pagi hari.

Seorang bocah tampan dan menggemaskan berada di gendongan Baekhyun, menggeliat kesenangan seperti ulat daun yang sedang makan. Tubuhnya mungil. Yang paling penting senyumannya sangat manis.

Keluarga kecil itu tampak sempurna.

Sempurna.

Dengan tawa bahagia terpatri di wajah mereka. Cuaca cerah, namun tidak terik, seperti ikut merasakan kebahagiaan dari keluarga kecil itu. Mengabadikan momen membahagiakan dalam hati masing-masing.

Tapi.

Keadaan berbeda berada dalam jarak beberapa meter dari sana. Cuaca di langit yang sama, cerah, tapi seolah-olah awan mendung menggantung di kepala seorang gadis yang menatap keluarga itu dari kejauhan. Dia tidak bisa berteriak. Dia tidak juga bisa menggapai. Dia hanya bisa menatap.

Menatap dengan wajah muramnya.

Menatap dengan kesengsaraannya.

Mereka seperti terpisah jurang yang sangat curam. Kalau kau berani melangkah satu langkah saja, kau akan lenyap selamanya.

Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis tanpa suara. Dan mengucapkan nama pria itu dengan bibirnya yang bergetar.

 

Minri terbangun dengan keringat membanjiri tubuhnya. Napas tersengal membuat Minri seperti baru saja olahraga berat di malam hari. Aliran darah di wajahnya seakan berhenti, menjadikannya pucat pasi.

Dengan cepat menelengkan kepalanya ke samping–tempat tidur Baekhyun. Pria itu ada di sana–beserta wajah cemasnya.

Pukul 1 malam. Baekhyun terjaga. Minri tidak tahu pria itu belum tidur, tidak bisa tidur, atau tidak ingin tidur. Ada beribu-ribu alasan yang mungkin. Kepala Minri mendadak pening.

“Baekhyun…”

Minri melompat dari tidurnya. Memeluk pria itu dengan erat seolah-olah jika melepaskannya, Minri akan kehilangan selamanya. Selamanya adalah kata paling menakutkan di dunia ini.

“Stt, ada aku disini.”

Baekhyun memperhatikan Minri sejak beberapa menit yang lalu. Sebelum gadis itu terbangun dan menerjangnya dengan pelukan rapuh. Tidak berdaya.

Baekhyun tidak pernah melihat wajah Minri ketakutan seperti ini. Apa, siapa dan bagaimana dan–mimpi yang dilaluinya. Tangan Baekhyun balas memeluk Minri, mengusap punggungnya yang lembab. Dalam keheningan malam dan penerangan yang redup dalam kamarnya, Baekhyun mendengar Minri terisak. Menyayat hati.

“Kau kenapa?” tanya Baekhyun berusaha menenangkan dengan suaranya –yang Minri sendiri mengatakan bahwa seperti itu bisa membawanya dalam kedamaian.

“Takut…”

Baekhyun melepaskan pelukannya setelah merasa bahwa gadis itu sudah cukup tenang. Samar-samar jejak air mata tergambar. Baekhyun menghapus dengan jari-jari tangannya yang hangat. Dia memajukan wajahnya. Mengecup lama di dahi lalu turun ke bibirnya.

“Tidurlah, aku akan menjadi dream catcher pengusir mimpi burukmu.”

“Baek, tidak bisakah malam kita ini melalukan itu?”

Baekhyun tergelak. Ada yang tidak beres. Bukan, bukan Baekhyun menyatakan istrinya gila karena kalimat itu. Tapi, istrinya mengatakan hal yang… baiklah, itu manusiawi. Tapi tidak wajar. Harusnya istrinya berkata dengan wajah menggoda (istrinya bisa menjadi penggoda yang handal sesekali). Bukan dengan wajah tertekan seperti itu. Ajakan macam apa, pikir Baekhyun.

Dia bahkan baru saja melalui mimpi buruk.

“Kita bisa melakukannya lain kali, sebanyak yang kau mau.”

Baekhyun tersenyum. Bukan tersenyum jahil, tapi senyum menenangkan.

Minri ingin sekali membenturkan kepalanya di tembok sampai kepalanya pecah lalu otak berhamburan–terlalu mengerikan. Karena dia baru sadar apa yang dia katakan tadi. Dia malu setengah mati!

Bukan Baekhyun tidak ingin menyentuh Minri. Bukan Baekhyun tidak menginginkan kehangatan yang bersatu padu dalam deru napas di balik selimut percintaan mereka. Tapi tidak semestinya mereka melakukan hal itu dalam tekanan batin. Hanya mendapat kepuasan sesaat.

Minri mengangguk patuh dengan senyum angelic polosnya. Dia mencium bibir Baekhyun. Lalu meringkuk dalam pelukan hangat Baekhyun. Memejamkan mata.

“Selamat malam, angel-ku.”

Hembusan napas yang teratur di dada Baekhyun menandakan bahwa Minri sudah tidur dengan pulas. Baekhyun mencium puncak kepala Minri yang berada di hadapannya. Menghirup aroma sampo kesukaannya.

Ada suatu hal yang Minri sembunyikan–itu pasti. Ada yang tidak dikatakannya pada Baekhyun. Baekhyun tidak akan memaksa Minri menceritakannya. Karena dengan beruntungnya Baekhyun sudah tahu apa yang membuat Minri cemas dan ketakutan.

 

Hari ini Baekhyun pulang sedikit lebih larut. Dia mendapati ruangan di apartment-nya dalam keadaan gelap. Dia menghela napas kecewa. Padahal Baekhyun sudah membayangkan dia dan Minri makan ayam goreng dan soda sambil menonton film kesukaan mereka berdua–Peterpan. (Yang benar saja?! Film fantasi untuk pasangan suami istri? Pantasnya film itu di tonton Huan Mei, anak Kyung Soo atau anak Xiumin). Tidak peduli apapun. Mereka berdua suka film fantasi, termasuk film anak-anak.

Baekhyun tidak mungkin membuang ayam goreng itu. Jadi ia akan makan sendirian dan menyimpan sisanya dalam lemari penyimpanan makanan.

Kecewa lagi. Betapa Baekhyun menyalahkan dirinya sendiri saat ia mendapati makanan–lumayan-cukup-banyak dalam kulkas. Makanan kesukaannya. Dia belum yakin bahwa Minri memasaknya sendiri, tapi jauh dalam hatinya, nuraninya, mengatakan hal demikian.

Minri pasti menyiapkan makan malam berdua dengannya.

Setelah selesai makan dan mandi. Baekhyun masuk ke dalam kamarnya. Minri sudah tidur pulas dengan memegangi iPad-nya. Dia mengambil benda itu dari tangan Minri pelan-pelan. Tidak sengaja menekan tombol untuk menyalakan. Muncullah gambar mereka berdua sebagai wallpaper. Lalu jari Baekhyun menyapu layar membuat kunci terbuka.

Ada satu aplikasi yang sedang bekerja. Memo. Minri menuliskan beberapa kalimat di sana. Baekhyun tidak bisa mengabaikan begitu saja. Dia membaca semuanya sampai tuntas. Ujung matanya mendadak berair. Bukan, Baekhyun bukan kelilipan atau mata perih karena kelelahan. Itu adalah refleksi dari dalam hati. Sebuah emosi.

Baekhyun menambahkan satu paragraf di bawahnya sebelum meletakkan iPad itu di meja kecil di samping tempat tidur mereka berdua.

Dia naik ke tempat tidur. Menurunkan pencahayaan. Dan bersiap akan tidur. Memejamkan mata. Tapi malang, dia tidak bisa tidur. Banyak hal yang cukup mengganggunya. Termasuk kalimat-kalimat yang di tulis Minri dalam memo-nya.

Dua jam di atas kasur dengan gelisah, membuat selimut kusut masai. Tapi tidak sampai mengganggu Minri. Dia masih tidur dengan tenang di samping Baekhyun. Baekhyun memutuskan memandangi wajah itu. Berharap wajah Minri adalah dongeng pengantar tidur, atau lebih pantas disebut putri dalam karakter dongengnya.

Baekhyun tergelak. Miinri tidak sedang tidur dengan tenang. Keringat membasahi wajahnya. Tangan Baekhyun tergerak menyingkirkan anakan rambut yang mengenai wajahnya. Menyelipkan di belakang telinganya.

Kening Minri berkerut tidak nyaman. Dengan mudah Baekhyun menyimpulkan bahwa mimpi buruk sedang menyapanya. Kalau saja Baekhyun bisa masuk dan menyingkirkan apapun yang mengganggu Minri, Baekhyun akan melakukannya. Tapi ada satu hal yang bisa Baekhyun lakukan, bangunkan gadis itu dari mimpi buruknya.

“Minri… bangunlah. Park Minri…”

Baekhyun mengusap lengan Minri.

Minri bangun dengan sorot kecemasan dan ketakutan.

“Baekhyun…,” lirih Minri sebelum ia melompat dalam pelukan Baekhyun dan terisak.

Baekhyun tidak akan meninggalkan Minri, apapun yang terjadi.

***

Baekhyun meninggalkan Minri.

Malam berganti pagi. Baekhyun meninggalkan Minri sendirian di kasurnya. Diam-diam memberi kecupan selamat pagi.

Baekhyun berangkat pagi-pagi sekali ke kantor tempatnya bekerja. Akhir-akhir ini pekerjaan di kantor membludak seperti sedang dalam musim kawin, reproduksi besar-besaran.

Tapi Hey! Itu hanya tumpukan kertas. Mana mungkin bereproduksi. Yang benar saja, Baekhyun!

Telpon dari Kyung Soo untuk memperingatkan Baekhyun bahwa ia harus berangkat pagi seperti sebuah alarm. Kyung Soo menelpon Baekhyun tanpa henti, sebelum Baekhyun mengangkatnya. Menyebalkan. Tapi yeah, memang sudah seharusnya. Harusnya Baekhyun berterimakasih pada rekan kerjanya itu.

Ada sedikit masalah untuk pegawai Bank Nasional. Penurunan nilai tukar mata uang. Kerugian yang berarti untuk Negara.

Baekhyun tidak sempat sarapan.

Minri bangun. Sepanjang dia menikah dengan Baekhyun, hari itu, pagi pertama Minri tidak menemukan Baekhyun di kasur mereka.

 

Hari berikutnya. Terjadi hal yang sama seperti kemarin.

 

Berikutnya lagi.

 

Lagi. Menyebabkan mereka kekurangan komunikasi.

 

Sampai hari ke lima. Pagi telah berganti. Mentari menggantung indah di ufuk timur. Bunyi desisan penggorengan membangunkan Baekhyun dari tidur indahnya. Dia menggeliat seperti karet. Lalu beranjak dari tempat tidur. Mandi. Lalu berpakaian.

Minri sudah bangun lebih dulu. Tidak biasanya. Padahal ini masih terlalu pagi dari kebiasaan Minri bangun pagi.

Baekhyun bersiap-siap pergi bekerja. Ketika dia melewati ruang makan, Minri memanggilnya. Memintanya sarapan.

Tapi sial.

Demi dewa neptunus! Baekhyun sudah terlambat. Kyung Soo tidak membangunkannya pagi itu.          

Dengan berat hati Baekhyun menolak. Dia menghampiri Minri. Mengecup pipi dan bibir Minri secara singkat. Lalu berangkat. Meninggalkan Minri–lagi.

 

Minri berusaha menjadi yang terbaik untuk Baekhyun.

Minri rela menghabiskan beberapa jam untuk berselancar dengan jaringan komputer demi mencari resep kesukaan Baekhyun.

Dia rela memasak di dapur. Meski dulu, zona itu adalah zona yang paling dihindarinya. Dulu, Baekhyun selalu memasak untuknya. Sekarang, Minri ingin melakukan seperti apa yang Baekhyun lakukan padanya.

Dia rela bangun pagi-pagi sekali untuk menatap wajah lelah Baekhyun. Dan diam-diam mengecup bibirnya, mengagumi keindahan wajahnya, sampai dia tanpa sadar tertidur lagi. Lalu setelah bangun Baekhyun suda tidak ada disana. Minri kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa aku harus ketiduran lagi!

Dia rela melakukan apapun asalkan Baekhyun selalu bersamanya. Berbagi pelukan hangat. Menjadi seorang istri. Lalu berharap sesegera mungkin menjadi seorang ibu.

Tapi semuanya terasa sia-sia.

Karena…

Baekhyun selalu meninggalkannya tanpa sepengetahuannya!

Ini memuakkan!

***

Minri memasuki gedung tinggi menjulang. Central National Bank. Ada beberapa pekerja yang menyambutnya dengan sangat ramah. Bukan. Minri tidak sedang ingin menabung. Bukan juga melakukan transaksi meminjam uang dalam jumlah besar.

Dia tidak punya tujuan lain selain…

Melihat suaminya bekerja.

Minri tahu bahwa tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam sana. Jadi Minri menyusun beberapa rencana. Minri tahu ini konyol karena alasan yang dia pegang hanya ingin melihat suaminya bekerja.

Dia duduk di ruang tunggu tamu sementara seorang pekerja–wanita hamil-memanggil Baekhyun. Perutnya sudah cukup besar, harusnya wanita itu mengambil cuti, pikir Minri.

Minri berpura-pura ingin pergi ke toilet. Dia melewati beberapa lorong sebelum akhirnya menemukan ruang kerja Baekhyun.

Pintu sedikit terbuka.

Dia baru tahu ternyata Baekhyun bekerja dengan beberapa rekan dalam satu ruangan itu. Minri melihat Baekhyun duduk, dengan beberapa tumpuk kertas di depannya.

Baekhyun tidak bercanda tentang kertas bereproduksi!

Memperhatikan dalam jarak seperti ini sungguh hal baru bagi Minri. Ia melihat bagaimana kesungguhan Baekhyun dalam pekerjaannya.

Sampai perhatiannya teralih, pada seorang wanita hamil yang melewatinya. Wanita yang tadi ingin memanggilkan Baekhyun.

“Toiletnya di sebelah sana, Nona.” Wanita itu menunjuk ke sebuah arah. “Setelah itu tunggulah di ruangan tadi, aku akan memanggilkan Byun Baekhyun–ssi.” Ucap wanita itu, lalu masuk ke dalam ruangan kerja Baekhyun.

Mereka bicara. Minri bahkan belum mengangkat kakinya.

Pintu terbuka semakin lebar saat seorang pria bertubuh pendek, berwajah manis, dengan mata yang cukup besar keluar dari sana.

Dan mata Minri ikut melebar (hampir menyaingi pria tadi) saat Baekhyun menempelkan telapak tangannya di perut wanita itu.

Demi Tuhan, Baekhyun! Siapa wanita itu?!!! Untuk apa kau menempelkan telapak tanganmu di perut wanita itu?!!

Kepala Minri rasanya mau pecah. Teriakannya hanya sampai tenggorokkan. Selebihnya kaku. Sarafnya tidak berfungsi dengan benar.

Baekhyun menoleh padanya.

Baekhyun melihatnya.

Oh Tidak! Minri harus segera melarikan diri dari sana.

Tidak peduli Baekhyun yang memanggilnya. Tidak peduli wanita itu juga memanggilnya. Minri berlari dengan air mata menetes di sepanjang lorong. Sial! Dia sungguh tidak ingin menangis!

***

Hari ini Baekhyun pulang lebih cepat. Hari ini begitu mengejutkan!

Minri datang ke kantornya tanpa menelpon terlebih dahulu. Minri melihatnya dari luar ruangan, lalu buru-buru pergi. Baekhyun tidak mengerti. Sungguh!

Bisakah seseorang jelaskan apa yang terjadi?!

Baekhyun sangat ingin mengejar Minri, tapi Yixing memperingatkan bahwa pekerjaan mereka harus tuntas hari ini. Begitulah. Akhirnya Baekhyun menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan langsung pulang ke rumah tanpa buang-buang waktu.

Satu pertanyaan Baekhyun: Untuk apa Minri menemuninya di tempatnya bekerja?

Baekhyun menghentikan langkahnya ketika kakinya telah tiba di tempat ternyamannya dimana ada seorang wanita yang selalu menunggunya. Baekhyun membuka pintu.

Bergegas.

Dia melangkahkan kakinya masuk lebih jauh dan menemukan istrinya duduk di sofa. Kali ini tidak bersama laptopnya, namun, bersama amplop coklat besar yang Baekhyun tidak tahu isinya apa.

“Apa itu sayang?” tanya Baekhyun sambil melonggarkan dasinya yang serasa mencekik. “Oh, kau tadi ke kantor… ada apa?”

Bertanyalah satu per satu Baekhyun!

“Ini surat cerai yang harus kau tanda tangani. Dan ya, aku ke kantormu hari ini.”

“Sebentar. Apa?” Baekhyun melepaskan jas dan dasinya, membuang ke segala arah. Dia tidak mengerti. Ada yang salah dengan semua ini. Tentu! Pasti ada yang salah. “Apa maksud semua ini?” ulangnya sekali lagi. Kakinya menghampiri Minri yang duduk di sofa.

“Semua sudah jelas Baekhyun. Kau tidak menginginkanku lagi.”

Demi Tuhan! Apa yang baru saja dia katakan?!

Baekhyun berdiri di samping Minri. Dia memegang lengan gadis itu. Namun, Minri menepis dengan keras. Seakan tubuhnya menolak sentuhan sekecil apapun.

“Aku tidak mengerti, apa… atas dasar apa.” Kacau. Pikiran Baekhyun sungguh kacau.

“Kau punya kekasih. Selain aku.”

Minri menatap mata Baekhyun. Dingin dan menusuk. Baekhyun benci situasi ini. Baekhyun bahkan belum mendapat kejelasan tentang masalah ini. Tapi Minri seakan menghakimi Baekhyun seolah-olah Baekhyun bersalah dan pantas di hukum mati.

“Tidak pernah. Pernyataan macam apa itu?!” Baekhyun terdengar meninggikan suaranya.

“Aku melihatmu bersama dengan kekasihmu yang hamil itu di kantor.”

“Kekasih? Hamil? Astaga! Apa-apaan ini!” Baekhyun mulai menyelami pikirannya. Mengingat-ingat apa yang mungkin dilihat Minri saat ia berada di tempat Baekhyun bekerja. Baekhyun mengangkat kepalanya setelah ingat siapa wanita yang Minri maksud. “Wanita hamil yang kau maksud, In Hwa?”

“Mana aku tahu.” Gerutu Minri. Dan dia benar. Dia sama sekali tidak mengenali wanita itu.

“Baik. Aku akan menjelaskan apa yang kau lihat dan/atau apa yang tidak kau lihat.”

“Memang semestinya begitu.”

“Wanita hamil yang kau maksud adalah In Hwa, istri Jongin.” Minri tahu Jongin, tapi dia sama sekali tidak mengenal In Hwa. Kapan mereka menikah? “Mereka menikah saat kau pergi ke Busan. Mungkin itu alasan kau belum mengenal In Hwa.”

Ya, Baekhyun benar. Tapi, kalau In Hwa adalah istri Jongin. Kenapa Baekhyun memegang perutnya. Kenapa?!

Baekhyun menceritakannya dari awal In Hwa masuk sampai dia melihat Minri lalu Minri tiba-tiba pergi. Waktu itu In Hwa masuk ke dalam ruangan Baekhyun dan rekan kerjanya. Memanggil Baekhyun.

“Byun Baekhyun-ssi. Ada seorang wanita mencarimu.”

“Siapa?” gumam Baekhyun. Karena sepanjang dia bekerja. Baru kali ini ada yang mencari karyawan sepertinya.

“Aku tidak tahu. Rambutnya panjang bergelombang berwarna coklat. Dia cantik,” ucap In Hwa sembari tersenyum.

“Terimakasih.” Baekhyun baru akan melangkah keluar.

“Hng! Bayinya bergerak! Jongin! Coba kau pegang…”

Meja kerja Jongin tepat berada di sebelah Baekhyun. Jongin hanya menggumam sambil menatap lembaran-lembaran kerjanya, nampaknya tidak mau beranjak sedikitpun.

“Jongin sebentar saja.” In Hwa menghela napas kecewa. “Jongin menyebalkan.”

“Biar Baekhyun Hyung saja yang mewakilkan.” Jongin mengangkat kepalanya sebentar seraya tersenyum, lalu menunduk lagi. Jongin benar-benar sibuk. Tolong mengertilah!

Baekhyun berbalik dan menatap Jongin tidak percaya. Heh? Apa-apaan?

Hyung, tolong…”

Baekhyun memutar bola matanya. Apa Jongin tidak sadar bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Dan dia malah melakukan aegyo di depan rekan kerja dan istrinya sendiri. Baekhyun sedikit merinding.

Dia berdiri di depan In Hwa. Baekhyun menebak-nebak, apa wanita hamil sebegini cerewetnya? Apa nanti Minri juga begini dan meminta ini-itu?

“Tidak apa-apa In Hwa-ssi?”

In Hwa mengangguk sebagai jawaban. Perlahan Baekhyun meletakkan tangannya di permukaan perut wanita itu. Ada kehidupan di dalam sana. Bergerak-gerak. Tanpa sadar Baekhyun tersenyum. Ini menyenangkan, pikirnya.

Baekhyun menjauhkan tangannya. Kyung Soo membuka pintu ruangan sehingga Baekhyun tertarik untuk melihat keluar. Matanya terpaku pada seorang wanita yang dikenalnya. Berdiri dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu pergi dengan tiba-tiba.

“Park Minri!”

“Nona!”

“Yixing Sajangmin. Boleh aku pulang sekarang?” Baekhyun bertanya kepada Yixing, rekan kerja sekaligus temanya yang menjabat status pemimpin karyawan.

“Aku bisa saja memperbolehkanmu pulang. Tapi sayangnya, pekerjaan kita harus selesai hari ini untuk laporan akhir bulan.”

Baekhyun kembali ke tempat duduknya dengan langkah berat. Kemudian menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak bisa konsentrasi penuh karena pikirannya sesekali melayang pada Minri. Sekelebat pertanyaan muncul. Apa yang Minri lakukan di kantornya?

 

Minri tidak berkomentar apa-apa. Minri menurunkan pandangannya. Matanya kosong, menerawang jauh entah kemana.

Lalu Baekhyun memeluknya. Kali ini tidak ada perlawanan.

“Maafkan aku.” Baekhyun mengelus punggung Minri. Beberapa saat kemudian Baekhyun merasakan Minri balas memeluknya dengan tubuh sedikit bergetar. Terdengar isakan dari mulutnya.

“Maaf. Aku yang harusnya minta maaf. Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut kau tidak meninginkanku lagi karena sampai sekarang aku belum hamil.”

“Stt.. Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku akan bersamamu apapun yang terjadi.”

Baekhyun yakin suatu hari nanti Tuhan pasti memberikan mereka anak. Tuhan pasti punya rencana bagus untuk mereka berdua.

Baekhyun melepaskan pelukan mereka berdua. Lalu menatap Minri. Matanya sedikit sembab. Dia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.

“Bisakah kau buang map itu? Aku takut melihatnya…”

Minri mengalihkan pandangan ke atas meja dimana map coklat tergeletak indah di atas sana. Jujur, Minri juga takut. Apa yang akan terjadi pada dirinya jika Baekhyun benar-benar menandatanganinya.

“Aku akan segera membuangnya, Baekhyun. Maafkan aku.”

“Aku memaafkanmu.”

Baekhyun meletakkan kedua tangannya di bahu Minri. Dengan perlahan memajukan wajahnya hingga bibirnya tinggal berjarak beberapa senti lagi.

“Aku mencintaimu.” Ucap Baekhyun di bibir Minri, sebelum ia menyatukan bibir mereka berdua dalam ciuman hangat dan dalam.

Rasa rindu tumpah ruah dalam dada seperti air bah. Mereka sudah menyimpannya terlalu lama. Minri yang tidak mendapati Baekhyun di tiap paginya, membuat rasa rindunya bertumpuk-tumpuk. Intensitas pertemuan mereka sangat sempit. Dan mereka benar-benar menginginkan kehangatan seperti ini. Hanya ada mereka berdua.

“Aku juga mencintaimu, Baekhyun, lebih dari yang kau pikirkan.”

Minri memberi jeda. Mereka menghirup oksigen sebisa mungkin. Lalu kembali masuk ke dalam lembah cinta yang lebih dalam. Ciuman menjadi lebih liar. Menuntut.

Baekhyun mendorong pelan tubuh Minri hingga punggung wanita itu menyentuh karpet di lantas. Karpet bulu yang lembut itu menggelitik permukaan kulitnya yang masih tertutup kain.

“Tidakkah sebaiknya kita ke dalam saja,” ucap Minri pelan. Dia menggigit bibirnya saat bibir Baekhyun menyentuh permukaan kulit lehernya.

“Disini saja.” Bisik Baekhyun di leher Minri. Napasnya begitu menggelitik, membuat bulu kuduk meremang. “Dan tidak usah tergesa-gesa.”

Apa salahnya mencoba saran dari Jongin dan Kyung Soo?

***

Dua bulan terlewat. Kehidupan mereka terasa lebih membahagiakan dari sebelumnya. Minri selalu mendapati Baekhyun di tempat tidurnya ketika pagi hari.

Termasuk pagi ini.

Minri memberikan kecupan selamat pagi sebelum ia turun dari tempat tidur lalu menyiapkan sarapan mereka berdua.

Kemudian Baekhyun duduk di meja makan setelah selesai bersiap-siap.

Baekhyun memandangi Minri dari tempat duduknya. Tingkah laku wanita itu tampak sedikit berbeda. Baekhyun belum menyentuh sarapannya sama sekali.

“Apa tadi malam kau sudah makan, Minri-ya?”

“Hmm.” Minri menggumam tapi tetap fokus pada makanannya.

“Apa kau selapar itu? Kau makan banyak sekali pagi ini.”

“Benarkah?” Minri melepaskan sendok di tangannya. Baru saja Baekhyun membahas bahwa pagi ini Minri makan lebih banyak dari biasanya, perutnya jadi seperti di aduk-aduk. “Sebentar..”

Minri melesat menuju kamar mandi. Baekhyun mengikuti pandangannya pada Minri dengan wajah khawatir.

“Sayang, kau tidak apa-apa?” tanya Baekhyun dari luar kamar mandi.

“Tidak apa-apa. Kalau kau mau berangkat, silakan, sepertinya aku belum bisa keluar sekarang.”

Mana bisa Baekhyun berangkat kalau Minri kelihatan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Baekhyun tidak mungkin tega meninggalkan Minri.

Baekhyun benar. Ada yang salah dengan gadis itu. Dia terdengar sedang memuntahkan makanannya. Baekhyun menunggu di depan pintu kamar mandi sampai gadis itu keluar dengan wajah pucat.

“Kau kenapa?” tanya Baekhyun sambil merangkul tubuh Minri yang sedikit limbung.

“Kau belum berangkat?” Minri menutup mulutnya, tampak ingin muntah lagi. Tapi tidak. “Nanti terlambat, loh.”

“Kita ke dokter, sekarang.”

“Kenapa? Aku baik-baik saja.”

“Tidak. Keadaanmu berbanding terbalik dengan apa yang kau katakan.”

Baekhyun menuntun Minri ke dalam mobilnya. Tidak ada yang lebih penting selain Minri. Pekerjaannya memang penting. Tapi Minri jauh lebih penting. Minri adalah hidupnya. Jika Minri tidak dalam keadaan baik, maka Baekhyun juga.

Baekhyun tidak mengerti mengapa Minri begitu pucat. Sepengetahuan Baekhyun, Minri tidak punya riwayat penyakit serius. Lantas apa?

Baekhyun takut.

 

“Selamat. Anda akan menjadi seorang ayah.”

Ayah. Ulang Baekhyun dalam hati. Baekhyun belum bisa berkata-kata. Kesadarannya seperti terkuras habis.

“Tuan Byun, anda tidak apa-apa?” tanya dokter itu.

“Ya. Terimakasih dokter.”

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya. Dia bahkan memeluk dokter itu dengan erat, membuat dokter itu sedikit bingung. Tapi ya, dokter itu mengerti keadaan ini. Mereka pasti benar-benar menantikan saat-saat ini.

Baekhyun menuju ruang tempat Minri di periksa. Gadis itu berbaring gelisah di ranjangnya. Sampai Baekhyun tiba, Minri sontak duduk. Dia takut dengan apa yang terjadi padanya. Tapi Baekhyun memasang wajah sangat senang. Ini aneh. Mereka sedang di rumah sakit, kalau Baekhyun belum lupa.

Baekhyun langsung memeluk Minri. Suster yang tadi ada di sana meninggalkan mereka berdua dengan senyum. Suster itu ikut bahagia.

“Ada apa?” Minri melepaskan pelukan mereka. Tapi, Baekhyun memeluknya lagi. Dan yang membuat tubuh Minri menegang, ketika Baekhyun membisikkan sesuatu di telinganya.

“Kau akan menjadi seorang ibu.”

Minri menatap Baekhyun tidak percaya. Namun, air muka bahagia di wajah Baekhyun bisa menjawab keraguan Minri. Baekhyun melayangkan kecupan hangat di bibir Minri. Lalu beralih ke perutnya yang masih rata.

“Ada kehidupan disini.”

Minri sangat bahagia. Akhirnya, semua keraguan pada dirinya terjawab sudah. Tuhan memang punya rencana yang sempurna untuk mereka.

 

Minri mengecup bibir Baekhyun saat mereka berdua baru tiba di apartemen. Minri pikir Baekhyun masih sempat untuk pergi ke tempat kerjanya.

“Pergilah… aku sudah baikan,” ucap Minri sembari tersenyum.

“Tidak. Aku sudah minta izin pada yixing Hyung. Aku libur hari ini.”

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Baekhyun melepaskan jas dan dasinya. Dia menghempaskan diri di sofa. Minri mengendikkan bahu sembari tersenyum.

Tidak ada salahnya Baekhyun mengambil cuti. Dia sudah bekerja keras. Libur sehari adalah ide bagus. Dia akan menemani Minri seharian di rumah.

Minri menyusul Baekhyun. Dia duduk di samping Baekhyun dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Minri meraih remot televisi lalu menyalakannya.

“Baek… kau masih ingat ‘kan kalau kau akan mengunjungi ibumu di saat libur.”

Minri melingkarkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun. Aroma tubuh pria itu benar-benar membuatnya nyaman dan tidak ingin menjauh.

“Ya, aku masih ingat.”

Baekhyun melepaskan tangan Minri. Lalu menghadapkan tubuhnya pada gadis itu. Baekhyun menempelkan dahinya di dahi Minri. Sementara kedua tangannya menahan kepala gadis itu agar tidak menjauh.

Napas keduanya berhembus teratur. Kontak mata tak pernah putus. Mata mereka seakan berkomunikasi, mengatakan bahwa mereka merasa sangat bahagia.

Baekhyun tersenyum sebelum menempelkan bibirnya pada gadis itu. Mengecupnya berkali-kali membuat Minri jengah membalasnya. Tiba-tiba Baekhyun menggigit gemas, membuat Minri tertawa pelan dalam ciuman mereka.

“Tidak usah terburu-buru Baek. Semuanya milikmu.”

“Hey, ku pikir tidak terburu-buru itu membuahkan hasil.” Baekhyun mengelus permukaan perut Minri yang masih rata.

“Aku tidak mengerti.”

“Kyung Soo memberi saran seperti itu.”

“Astaga! Kau bicara dengan Kyung Soo, masalah itu?” wajah Minri berubah merah padam. Itu hal pribadi Baekhyun…

“Di lantai juga tidak salah. Sepertinya Jongin sangat berpengalaman.”

“Baekhyun!!” Minri memukul lengan Baekhyun dengan gemas. Ternyata Baekhyun tidak hanya bicara pada Kyung Soo. Minri tahu mereka sesame pria, tapi tetap saja…

“Mungkin lain kali kita bisa mencobanya di kolam renang.”

“Jangan bilang kalau Chanyeol juga ikut mengobrol dengan kalian.”

Baekhyun tertawa. Sementara Minri memukul bahu Baekhyun sekali lagi sebelum ia menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat, menyembunyikan wajahnya yang kian memanas. Tubuh Baekhyun masih bergerak-gerak karena tawanya belum juga reda.

“Bersiap-siaplah. Kita akan ke rumah Eomma hari ini.” Ucap Baekhyun.

Minri mengangguk, lalu mencium bibir Baekhyun singkat.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga. Sangat. Lebih dari yang ada dalam fantasimu.”

*END!*

Epilog

Minri sedang membereskan kamarnya. Matanya menangkap benda warna putih yang menarik perhatiannnya. Sebuah iPad. Sudah lama dia tidak memegang benda itu.

Minri menyalakannya. Dia tertarik untuk membuka memo. Memo yang pernah ditulisnya beberapa bulan lalu berada di urutan teratas. Minri membaca ulang tulisannya.

Baekhyun adalah pria yang ku pilih untuk hidup bersamaku. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Rasa cintanya memang tidak bisa aku ragukan. Sekalipun kami pernah bertengkar. Tapi tidak ada yang ku khawatirkan terlalu jauh. Kami akan saling minta maaf dan mulai memahami.

Tapi sekarang aku takut. Aku ragu apakah aku sudah menjadi istri yang baik untuknya? Baekhyun tidak pernah mengeluh padaku. Dan ini sangatlah buruk. Aku bukan peramal yang bisa memprediksi apa yang ada dalam pikiran Baekhyun.

Aku takut karena sampai sekarang aku dan Baekhyun belum memiliki anak. Apakah Baekhyun masih bisa bersamaku? Atau dia akan meninggalkanku?

Aku takut…

 

Minri baru akan menutup halaman itu. Tapi tambahan tulisan di bawahnya membuatnya terdiam. Lantas membacanya. Dia merasa tidak pernah menambahkan tulisan itu.

Ketika Baekhyun memutuskan untuk hidup bersama Minri itu artinya selamanya mereka harus bersama. Apapun yang terjadi, Baekhyun tidak akan meninggalkan Minri.

Sayang, cinta dan hidupku hanya milikmu.

(ttd. Baekhyun yang paling mencintaimu.)

 

Aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun.

*###*

Finally… I’ve finished this. Hfft. Otteyo? Saya ga main-main loh sama adegannya… Huahaha. Prok Prok dah buat Jongin sama Kyung Soo. LOL. FF ini cukup-lumayan-panjang (24 halaman) *proud* dan cukup menguras otak-hati-waktu-dan-pikiran XD!! Mohon pengertiannya kalau ada typo dsb, dll, dst. Kasih tahu aja, mungkin nanti bisa ku edit yang typo itu ._.//

DEMI APA GUE BIKIN BAEKHYUN DAPAT PERAN SUAMI!

JAUH BANGET KAN SAMA My Boyfriend Is A Baby!

And anyway, Hello Nha Eonni! Kau lihat dirimu nyembul disana? Haha

Well, kira-kira seperti itu gambaran EXO versi dewasa menurut pemikiran saya. Terimakasih sudah baca semuanyaaaa…

Aku bagi pict para cast deh. (beneran susah cari gambar Baekhyun manly-_-)

Baek1

Baek2

Chanyeol

Jongin

Kyungsoo - Yixing

Xiumin

240 thoughts on “You And I

  1. I may be a late reader but……Ya Tuhan kokoro ini gakuat bacanya, terlampau sweet…….aaaaaaah ㅠㅠ nice work kakaaa! Sequel2nya jg lucukkk! Keep writing! ^_^

  2. Congrats to baek-ri ,, antara pengen ngakak ama sedih dgr baekhyun ngobrol ma tmn2 nya dikantor,,asdfghjkl..
    Baekhyun memang bener2 romantis bgt,, tulisan memonya bikin melting,,

  3. Tariknapas awal2nya sedih tau kalo baekhyun belum punya baby tapi pas baek-kyungsoo-jongin-xiumin-chan-yixing ngobrol kok ngakakkkk frontal banget apalgi dyo-kuh yg mau buka resto sama anaknya :3 akhirnya baek jadi appa jugaaaa. Semoga chanyeol nyusul yaaa~

  4. Haii author ketjeh heheheh
    aku tau koq pasti aku telat banget bacanya.
    but ini romantis bangeeeeet >.< uuuh ngebayangin member EXO disini pada pake setelan jas kerja dan look mereka dewasa huwaaaahhh aku sukaaa ^^
    keep writing thor🙂😀

  5. Hai thor~ Ya ampun aku telat banget ya bacanya haha😀 Lagi selancar nyari ff soalnya dari tadi cuma guling2 dikamar nunggu buka :v Btw ini bagus banget thor, bikin senyum2 sendiri, bahasanya yg aku suka, meskipun maaf ide nya udah mainstream tapi bahasanya bagus , bikin betah baca , daebak, dan yg terakhir biasa thor SEQUEL SEQUEL SEQUEL😀 Author Jjang !!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s