Spotless Memories

Gambar

Spotless Memories

Romance, Friendship | PG-15 | Long Oneshot

Byun Baekhyun, Oh Jaeyoon, Xi Luhan, Lee Jieun (IU), Oh Sehun, T-Ara’s Soyeon

By: Bubblebit (@Novita_Milla)

Posted on novitafantasy

.

.

“Sulit dilupakan? Bunga matahari yang bersinar di musim panas empat tahun lalu. Ciuman pertamaku bersama Luhan.”

.

.

Author’s side

“Kau bersama Jieun?” Laki-laki tampan bernama Byun Baekhyun berjalan dengan cepat di koridor sekolah. Tangan kanannya menenteng kotak kecil berwarna merah hati dan tangan kirinya memegang ponsel yang ia hubungkan pada telinganya.

“Syukurlah…” Baekhyun bernafas lega. “Kupikir dia marah padaku.” Ucapnya kemudian diiringi tawa kecil di seberang telepon.

“Jaeyoon?” Tanya Baekhyun cukup bingung—sambil berjalan cepat menyusuri koridor sekolah di sore hari yang lumayan sepi.

“Dia masih berduaan dengan Suho seonsaengnim. Kenapa? Kau cemburu? Hahaha…” Tawa Baekhyun menggema di seluruh koridor.

“Bagaimana mungkin mengajaknya pulang? Suho seonsaengnim sangat menyukainya, kau lupa?” Baekhyun mengukir senyum lawaknya.

Baekhyun mendadak mengeluarkan suara serius, “Xi Luhan, makanya jadilah orang pintar seperti aku! Kau mungkin berkesempatan mengganggu rencana Suho seonsaengnim menjadikan Jaeyoon kekasihnya.”

Seraya mendengar ocehan Luhan di seberang telepon, Baekhyun rupanya sudah sampai di parkiran. Mendekati motor sport keluaran terbaru yang cukup mahal.

Mendengar Luhan yang terus mengoceh, Baekhyun dengan sengaja memutus sambungan telepon secara sepihak. Memakai helm, lalu pergi meninggalkan SMA-nya.

***

“Hello, baby!” Baekhyun mengeluarkan cengiran manis yang tak kasat mata bagi Luhan yang sudah menunggunya di food court milik salah satu teman. Mereka—Jieun, Luhan, Baekhyun, dan Jaeyoon—biasa berkumpul disitu karena pemiliknya sangat baik pada mereka.

“Ada bimbingan lagi?” Tanya Jieun balas tersenyum pada Baekhyun. “Kenapa tak memberitahuku?”

“Maafkan aku. Ketika aku mau pulang, Suho seonsaengnim mencegatku dan menyeretku ke perpustakaan.”

“Jaeyoon?” Tanya Jieun menyelidik.

Sedangkan Luhan hanya mendengus kecil di bangku yang tak jauh dari mereka. Berbincang-bincang kecil dengan beberapa anak SD yang sedang merayakan kejuaraan lomba renang tingkat distrik Gangnam.

“Kau masih mempertanyakan tingkat kejeniusan otak orang itu?” Baekhyun meminum lemonade di atas meja milik Jieun, “Dia akan sangat tidak memperdulikanku ketika berduaan dengan Suho seonsangnim, apalagi pada Luhan kita. Sungguh menyedihkan..”

“Ya! Kau benar-benar menyebalkan ketika membicarakan Jaeyoon.” Jieun terlihat tak suka, “Kau lupa jika Jaeyoon adalah satu-satunya teman yang perhatian pada kita. Sampai kita pacaran seperti ini, tanpa Jaeyoon kau tak akan berani mengungkapkan perasaanmu padaku!”

“Ya ya! Kenapa kau mengungkit masalah itu!” Baekhyun merasa bersalah telah membicarakan Jaeyoon.

“Aku hanya bercanda, Byun Baekhyun.” Jieun menampakkan senyum manis yang akan membuat dinding pertahanan semua pria runtuh.

Selanjutnya mereka membicarakan hal-hal lain sampai Luhan tak dapat mempertahankan telinganya mendengar ocehan dua pasang kekasih yang seperti terikat oleh takdir.

“Kenapa kalian hanya berdua? Kalian tak mengajak teman kalian merayakan lombanya?” Luhan bertanya pada dua anak SD yang meminum bubbletea sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.

“Kami hanya ingin merayakan berdua, hyung.” Anak laki-laki cadel yang tadi memperkenalkan diri pada Luhan dengan nama Sehun menjawab.

“Jika ada teman, acaranya akan ricuh, oppa!” Anak perempuan manis yang tadi mengatakan namanya adalah Soyeon berbicara.

“Jadi, aku mengganggu kalian?” Tanya Luhan.

“Tidak juga. Hyung orangnya asik diajak bicara sih.” Sahut Sehun.

Kemudian pesanan mereka datang. Laki-laki berpipi tembem seperti bakpao menghampiri mereka dengan membawa nampan.

“Pesanan datang!” Ujar laki-laki itu lalu meletakkan dua piring lasagna di meja mereka.

Setelah pesanan datang, Sehun dan Soyeon seperti melupakan keberadaan Luhan dan laki-laki bakpao. Mereka asik makan dan sesekali berbicara ngalor-ngidul.

“Tumben kau disini, hyung!” Luhan yang diacuhkan Sehun-Soyeon melirik Minseok yang mengambil duduk di seberang Luhan.

“Aku dihukum.” Minseok duduk menyandar, “Ayahku mendengar berita tentang perkelahianku dengan laki-laki bantet yang merebut pacarku tempo hari. Sialan! Setelah putus denganku, aku melihatnya berciuman dengan si bantet di pinggiran Sungai Han. Tepat ketika aku habis latihan taekwondo!”

“Minseok-ah!!” Suara wanita yang dibuat se-imut mungkin terdengar dari dapur.

“Aish..” Minseok menggerutu. Lagi. “Nde, noonaaaa!!!” Balas Minseok pura-pura berbicara imut. “Ini akan menjadi hari yang panjang untukku.” Minseok meninggalkan Luhan dengan lemas. Tak berniat sekalipun melaksanakan tugas dari ayahnya dengan ikhlas.

“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” Tanya Luhan.

“Pulang. Ibu akan mengomeliku jika tahu aku menghabiskan uang jajanku bermain di taman hiburan bersama Sehun.” Jelas Soyeon.

“Hyungku akan memerasku jika sampai dia tahu kalau aku tak langsung pulang ke rumah. Memerasku sampai uang jajanku habis.” Tutur Sehun.

“Ketika aku masih seusia kalian, yang ada dipikiranku saat itu adalah bermain dengan laki-laki yang disana—Baekhyun.” Luhan menunjuk Baekhyun yang tertawa dengan Jieun, bergosip tentang pernikahan terheboh bulan ini, “Kami adalah teman sejak kecil. Sejak TK, bersama dengan perempuan yang disebelahnya—Jieun,…” Luhan menunjuk Jieun, “…dan perempuan teman kami yang sekarang masih di sekolah.”

Luhan menghantikan ucapannya. Lalu bertanya dengan ragu, “Kalian mau mendengarkan aku bercerita?”

Sehun dan Soyeon mengangguk setelah menyelesaikan makanannya.

“Ketika TK, kami berempat sangat akrab. Bermain bersama-sama.” Luhan tersenyum kecil mengingat kenangan di masa lalu, “Baekhyun dan perempuan yang sekarang masih di sekolah selalu berangkat ke TK bersama-sama. Tentu karena rumah mereka bersebelahan. Suatu hari, di pagi awal musim semi yang cerah kami berempat adalah murid pertama yang sampai di TK waktu itu, pagi-pagi. Untuk menghilangkan kebosanan, kami berjalan ke halaman belakang TK bersama-sama. Di tempat itu kami memutuskan berburu serangga.”

“Kami berpecar agar cepat menemukan serangga. Ketika Jieun menemukan serangga, dia langsung memanggil kami untuk mendekat. Kami berjongkok mengelilingi serangga itu, kemudian entah bagaimana hal itu bisa terjadi, Baekhyun langsung bilang bahwa dia menyukai Jieun—dia ingin bersama Jieun. Tapi aku dengan segera berbicara bahwa yang harus bersama Jieun adalah aku.”

Sehun dan Soyeon terkikik geli, “Kalian sangat kekanakan, hyung!” Komentar Sehun.

Luhan tak membalas perkataan Sehun. Karena itu memang benar. Mereka masih kecil saat itu.

“Aku tahu waktu itu Jieun sangat senang. Dia adalah wanita tercantik di kelas. Dia adalah pusat perhatian karena kecantikan dan sifatnya yang sangat manis serta mudah berbaur.”

“Lalu bagaimana dengan teman Oppa yang lain? Tidak ada yang menyukainya? Tidak adakah yang memilihnya?” Tanya Soyeon.

“Tidak ada. Tapi dia tak menunjukkan ekspresi kecewa atau apapun. Dia hanya mengamati dalam diam dan tak berniat ikut campur ‘perebutan Jieun’ antara aku dan Baekhyun. Dia tak melerai atau berbicara sepatah katapun.” Luhan memberi jeda, “Dia memang seperti itu. Sekalipun tak dimintai tolong, dia tak akan menolong.”

“Kejam!” Tandas Soyeon.

“Kejam? Kau yakin? Justru itu yang menarik dari kepribadiannya yang egois.”

“Apa maksud Oppa?”

“Biarkan aku menyelesaikan ceritaku dulu, anak manis!” Soyeon mengerucutkan bibirnya, “Tak lama setelah adu mulut bersama Baekhyun, bel masuk mulai terdengar. Kami akhirnya meninggalkan halaman belakang. Tak ada yang tahu kejadian itu selain kami berempat.”

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Baekhyun hyung yang menang? Dia akhirnya pacaran dengan Jieun noona?” Tanya Sehun antusias.

“Setelah kejadian itu, aku dan Baekhyun tidak saling bicara beberapa hari. Berbeda dengan Jieun dengan—“

“Siapa namanya? Kenapa Oppa dari tadi tak menyebutkan nama wanita itu?”

Luhan menimbang-nimbang keputusan apa yang harus ia perbuat. “Anggap saja Jaeyoon.”

“Jieun dengan Jaeyoon tak pernah mempermasalahkan kejadian itu. Mereka terlihat biasa-biasa saja. Namun suatu hari, hujan turun saat pulang sekolah. Semua murid sudah dijemput dan sebagaian lainnya sudah membawa payung. Hari itu aku merutuki diriku sendiri yang lupa membawa payung. Jadi aku memutuskan untuk tinggal sampai huja reda.”

“Ketika menunggu hujan reda, aku melihat Jaeyoon dan Baekhyun keluar dari ruang guru bersama-sama. Aku hampir lupa kalau mereka akan mengikuti lomba membaca tingkat distrik. Jaeyoon melihatku duduk segera berbicara:

‘Luhan menunggu jemputan, eoh?’

Aku mengangguk. Walaupun tak sepenuhnya benar, aku tak mau terlihat menyedihkan di depan Baekhyun karena lupa membawa payung dan Ibuku tak bisa menjemputku tepat waktu karena ada urusan di rumah sakit.

‘Kata Ibuku hujan seperti ini akan lama. Jika kau mau, aku bisa meminjamkan payungku padamu! Kau ingin cepat pulang kan?’

Saat itu juga aku tertegun. Baekhyun juga. Saat itu dia berada di samping Jaeyoon membuka payung miliknya. Tapi setelah mendengar ucapan Jaeyoon dia menoleh padanya seraya berpikir sebentar.

Memang benar jika aku adalah tipe orang yang ingin segera pulang ke rumah. Tapi itu dulu saat aku masih kecil.

‘Lalu kau bagaimana?’ Tanyaku.

‘Rumahku dekat, aku bisa berlari menembus hujan.’ Jaeyoon tersenyum. Seakan dia tahu bahwa Baekhyun tak akan memberinya tumpangan untuk memakai payung yang sama.

‘Kau akan sakit!’ Hatiku berdesir ketika Baekhyun melontarkan kata-kata itu dari mulutnya. Itu adalah kali pertama dia berbicara pada Jaeyoon setelah kejadian di halaman belakang.

Baekhyun mengisolasikan dirinya dari Jaeyoon agar Jieun tak salah paham mengenai kedekatannya dengan Jaeyoon. Dia juga tak berangkat dan pulang bersama Jaeyoon lagi. Justru Baekhyun menjauhi Jaeyoon agar lebih dekat dengan Jieun.

Ketika Jieun diperlakukan seperti itu olehku dan Baekhyun, aku bersumpah dia sangat senang. Jieun selalu bercerita pada Jaeyoon tentang aku dan Baekhyun yang sangat perhatian padanya. Di kelas, saat pelajaran, saat istirahat. Jika aku jadi Jaeyoon aku pasti sudah tak tahan mendengarnya.

Tapi Jaeyoon adalah orang yang pandai berakting. Dia tak akan menunjukkan raut kesedihan di depan temannya. Apalagi ketika temannya sedang senang. Ia tak mau merusak suasana.

Salahkan kepribadian Jaeyoon yang sangat menjaga perasaan orang lain dan ketidak-tega-annya pada orang lain!

‘Jangan khawatir. Aku tak pernah sakit!’ Ujar Jaeyoon sebelum dia meletakkan payungnya di tanganku dan berlari menembus hujan.

‘Hey! Oh Jaeyoon! Kembali!’ Baekhyun berlari mengejar Jaeyoon yang justru tertawa senang berlari menembus hujan.

Aku yang melihat itu ingin sekali mengejar Jaeyoon dan mengatakan padanya untuk pulang bersama denganku. Walaupun itu tak mungkin terjadi karena rumah kami berbeda arah. Aku hanya bisa berdiri dalam diam melihat Baekhyun dengan payungnya berjalan bersama dengan Jaeyoon yang menggerutu sebal.

Walau samar, tapi aku tahu mereka sangat berbeda.”

“Indahnya..” Ujar Soyeon membayangkan kejadian itu di alam khayalnya.

“Tapi apa yang terjadi pada Baekhyun hyung dan Jaeyoon noona? Kenapa sekarang Baekhyun hyung pacaran dengan Jieun noona?” Sehun bertanya antusias. Lagi. Dia dilanda penasaran sejak awal cerita.

“Bagaimana kau bisa menyimpulkan Baekhyun hyung pacaran dengan Jieun noona?” Tandas Soyeon kesal melihat dua orang yang dibicarakan justru bermesraan di bangku tengah food court.

“Terlihat jelas, Soyeon-ah!” Ujar Sehun, “Bukankah begitu, hyung?”

Luhan mengangguk singkat. Lalu ia melanjutkan ceritanya,

“Masa-masa TK rasanya berlalu dengan cepat. Aku, Baekhyun, dan Jaeyoon mendaftar di SD yang sama. Sedangkan Jieun tinggal di TK karena usianya masih muda untuk ke SD, apalagi dia ingin menemani sepupunya yang baru pindah dari Busan yang baru mendaftar di TK yang sama dengan Jieun.

Sebenarnya Jaeyoon juga masih muda. Lebih muda daripada Jieun, tapi kepala sekolah menyarankan Jaeyoon mendaftar SD karena dia pintar. Sama seperti Baekhyun yang merupakan murid termuda di kelas. Dia dua bulan lahir setelah Jaeyoon. Di tahun yang berbeda.

Di SD kami mendapatkan banyak teman baru dan berinteraksi dengan banyak orang. Sampai kami—aku, Baekhyun, dan Jaeyoon—jarang terlihat bersama. Jaeyoon memang berteman dengan murid perempuan dan aku juga Baekhyun berteman dengan murid laki-laki yang berbeda. Itu berlangsung sampai kelas 4 SD.

Kelas 5 SD. Jaeyoon dan teman-temannya sering bermain lompat tali.”

“Aish.. Bisakah kau langsung to-the-point, Oppa? Aku ingin segera ke konflik!!” Soyeon memaksa.

“Baiklah. Tapi—kalian mau lihat bagian yang menyenangkan?” Tawar Luhan.

“Bagian seperti apa?” Tanya Sehun merasa janggal dengan wajah cerah Luhan yang kini sedang menyeringai. “Sepertinya akan bagus!” Sehun juga ikut menyeringai. Menerka apa yang dipikirkan Luhan.

“Apa yang kalian pikirkan?” Tanya Soyeon.

“Kau tak akan menyesal mendengar cerita ini, Soyeon-ah!” Ujar Sehun meyakinkan.

“Saat itu akhir pekan, hari sabtu ketika istirahat terasa sangat panjang. Aku dan teman-teman laki-laki bermain sepak bola sedangkan Jaeyoon dan teman-temannya bermain lompat tali. Hari itu adalah giliranku menjaga gawang—hal yang sangat tidak kusukai karena aku adalah pemain sepak bola yang cukup baik.

Tapi hal buruk tak selalu terlihat buruk. Buktinya, ketika aku tak sengaja menoleh karena tak ada pemain yang membawa bola ke kubu timku, aku melihat Jaeyoon melakukan gilirannya bermain lompat tali. Awalnya aku memandangnya karena bosan menjaga gawang. Tapi, tanpa segaja otakku terbayang video mesum hyungku yang tak sengaja kulihat di komputer miliknya ketika aku sedang mencari bukuku.”

Luhan melirihkan suaranya, “Saat itu rok pendek Jaeyoon terbuka sampai celana dalam berwarna pink muda bermotif bunga matahari terlihat dengan jelas oleh kedua pasang mataku. Sampai Jaeyoon selesai melakukan gilirannya, aku masih melongo melihatnya dengan pikiran mesumku.

Seketika aku melupakan daratan dan dihadiahi timpukan bola di lututku.

‘Hey! Luhan Bengong! Kau mengacaukan permainan!’ Temanku yang bernama Youngguk memarahiku setelah menendang bola tepat di lututku.

‘Kau sedang memikirkan ulangan Lee seonsaengnim lagi?’ Giliran temanku yang lain memarahiku. Kemudian dilanjutkan sahutan-sahutan menohok lainnya.

Namun bukan itu yang ada dipikiranku. Justru pandangan Baekhyun padaku saat itu adalah jawaban kenapa sampai kelas 6 SD aku tak terlihat akrab lagi dengan Jaeyoon. Baekhyun mengambil kesempatannya mendekati Jaeyoon. Dia duduk tepat di belakang Jaeyoon dan mengambil seluruh perhatiannya. Sampai masa SD kami berlalu, sebelum aku tahu bagaimana perasaanku pada Jaeyoon, dia terlebih dahulu meninggalkanku dan Baekhyun ke SMP impiannya.”

“Kenapa tak ada konflik?” Tanya Soyeon.

“Bagaimana dengan Jieun noona dan Baekhyun hyung yang pacaran? Kau belum menjelaskannya, hyung!!” Sehun mulai tak sabar.

“Aku dan Jieun satu SMP, dia menjadi adik kelasku.  Dulu Jieun berada di SD yang berbeda. Sedangkan Baekhyun dan Jaeyoon terpisah. Tapi kami bertemu lagi di SMA yang sama. Awalnya kami terlihat kikuk karena jarang bertemu. Jaeyoon dan Baekhyun sama saja. Walaupun rumah mereka bersebelahan, ketika SMP Jaeyoon benar-benar bekerja keras untuk menaikkan peringkat dan nilainya di sekolah. Dia selalu pulang sore, ketika sampai di rumah pun kerjaannya hanya belajar dan membaca buku. Berbeda ketika di SD.

Setahun kemudian, ketika aku kelas 2, aku sekelas dengan Jaeyoon di beberapa mata pelajaran pilihan kami. Jaeyoon berubah, sangat kontras dari ketika aku terakhir sekelas dengannya saat SD. Dia menjadi sangat pintar, sangat egois, dan… aku tak akan mengelak jika dia sangat cantik.

Dan parahnya, aku menghadapi kenyataan bahwa dia belum pernah sekalipun berpacaran ketika aku dan Baekhyun sudah menghabiskan masa-masa SMP gonta-ganti pacar. Bukan karena dia tidak laku. Mungkin karena ibu Jaeyoon masih memberlakukan aturan kuno bahwa Jaeyoon tak boleh memikirkan pacaran dan hanya fokus belajar.

Percaya padaku! Ibunya sangat ambisius, sama dengan Jaeyoon.

Bahkan ketika aku tak sengaja mendengar sunbaenim pemenang Olimpiade Fisika mengutarakan perasaannya pada Jaeyoon, aku tersadar bahwa Jaeyoon sudah terjatuh terlalu dalam.

‘Ayo pacaran!’ Sunbaenim itu berbicara dengan cepat dan terkesan memerintah.

Jangan tanyakan padaku bagaimana wujud sunbaenim itu. Tampan? Dia sangat tampan. Pintar? Jangan lupa kenyataan bahwa dia pemegang kendali Olimpiade Fisika. Kaya? Dia memakai motot sport keluaran terbaru ketika bersekolah. Keren? Dia punya banyak penggemar wanita di sekolah.

‘Kenapa harus pacaran? Apa yang sunbae inginkan dari hubungan bodoh seperti itu?’ Tanya Jaeyoon sama sekali tak kaget dengan ajakan pacaran dari sunbaenimnya. Mungkin karena dia sudah terbiasa mendapatkan ajakan seperti itu.

‘Karena aku ingin kau berada di dekatku. Karena aku hampir gila memikirkanmu setiap detik sampai aku tak bisa belajar dengan baik.’

‘Untuk apa ingin dekat denganku? Bukankah kita biasa belajar bersama setiap bimbingan OSN Fisika? Apakah waktu seperti itu belum cukup untuk sunbae? Apakah sunbae terlalu letih membimbing kami sampai tak bisa belajar dengan baik? Jika iya—‘

‘Apakah ucapanku tak cukup jelas bahwa aku menyukaimu?’

‘Menyukaiku?’ Jaeyoon tertawa getir, ‘Jangan bodoh, sunbae! Perasaan itu tak akan lama. Itu hanya perasaan kecil karena mereka ingin terlihat keren menjalin hubungan dengan salah satu murid populer di sekolah. Ah, apakah aku salah jika aku menganggap diriku populer?’

Sunbaenim itu tak merespon pertanyaan Jaeyoon. Justru mendengus kecil.

‘Jika kau ingin mencari perasaan gadis yang sama seperti perasaan sunbae, ada anak kelas 1 yang sangat sunbae kenal. Kebetulan dia juga miliki perasaan sejenis itu.’

Sunbaenim itu menatap Jaeyoon tak percaya. Raut wajahnya menggambarkan bahwa ia sedang bertanya pada angin semudah-itukah?

‘Kau mengobralku? Menawarkan pada orang lain?’

‘Apa itu kurang jelas?’

Sunbaenim itu mendengus.Lalu menyandarkan diri di dinding luar ruangan khusus bimbingan OSN di lantai 2 yang menghadap ke halaman sekolah.

‘Kau membuatku sangat hina, Oh Jaeyoon. Aku tak akan pernah bisa melupakan penolakanmu hari ini.’

‘Bagus! Itu yang kuharapkan!’

Setelah mendengar Jaeyoon bicara seperti itu, aku buru-buru pergi dari tempat itu. Takut ketahuan mencuri dengar pembicaraan orang.

Di perjalananku di koridor, aku tahu satu hal. Inilah alasan mengapa sejak dulu, dari TK sekalipun Jaeyoon tidak pernah peduli pada perasaannnya sendiri. Aku sangat yakin!”

“Apa maksud ucapan hyung barusan? Yakin pada apa? Kenapa—”

“Sehuna!” Suara seorang gadis berwajah manis terdengar dari daun pintu. Raut khawatir terlihat jelas dibalik wajah manisnya, “Bagaimana kau bisa sampai disini? Apa Eommamu tahu, eoh?” Dia langsung menuju meja Sehun dan bertanya seperti Ibu yang kehilangan anaknya. Dia juga memeriksa keadaan Sehun. Takut kalau-kalau ada yang tidak beres.

“Ya! Jae noona! Aku sudah besar! Aku sudah minta izin eomma kalau mau merayakan kejuaraan renang kemarin bersama noona!” Sehun mengerucutkan bibir.

“Ah maaf noona terlambat.. apa—Luhan?” Ucapan Jaeyoon terputus ketika melihat Luhan duduk di depan adiknya. “Kau—“

“Aku menemani sepupumu menunggu kakak sepepunya datang menepati traktiran makan siangnya.” Jawab Luhan cepat.

“Aish..” Jaeyoon menatap kesal Luhan dan duduk di sebelahnya. “Bagaimana makan siangnya? Apa tempat ini seperti yang kau inginkan saat berkencan dengan Soyeon?”

“Berkencan? Sudah kuduga!” Ujar Luhan sejurus kemudian, “Jadi, dari tadi aku mengganggu acara kencan kalian?”

Sehun-Soyeon menggeleng.

“Tidak. Justru kami sangat menikmati cerita Luhan Oppa. Itu akan menjadi referensi kisah cinta menarik untuk kita. Benar, Sehun?”

“Eoh! Dan itu adalah cerita cinta hebat yang pernah kudengar dari Luhan hyung tentang—“ Sehun hampir saja meloloskan nama orang yang Luhan anggap tabu untuk disebutkan saat ini.

“Tentang bagaimana kisah cinta Noona Cantik!” Potong Luhan, melengkapi ucapan Sehun yang terputus.

Jaeyoon tak terlalu memperhatikan ucapan Luhan, karena ponselnya berdering. Tanda panggilan masuk.

“Bibi Ahn?… Nde, Sehun sedang bersamaku… Aku akan mengantarkannya pulang, Bibi Ahn… Nde!”

Setelah memutus sambungan telepon, Jaeyoon menatap Sehun. “Sehun-ah, Eommamu menelepon. Kita harus segera pulang.”

“Bagaimana dengan Soyeon?” Tanya Sehun.

“Soyeon pulang denganku.” Ujar Jieun yang baru saja membayar pesanan. “Dia adiknya kakak iparku.”

Luhan tersenyum misterius setelah Jieun berkata begitu.

“Soyeon-ah, Suho Oppa sudah menunggu di luar!” Jieun menuntun Soyeon keluar dari tempat itu. Tak lupa memberikan salam pada Luhan, Jaeyoon, dan Sehun. “Kami duluan!”

“Hati-hati!” Ujar Jaeyoon pada Jieun dan Soyeon. Lalu dia membayar pesanan Sehun-Soyeon di counter pembayaran.

Sedangkan Sehun—yang sedang menunggu Jaeyoon selesai membayar—Luhan menyuruhnya mendekat. Kemudian berbisik di telinga Sehun, “Sunbaenim yang kumaksud adalah…” Luhan menggantungkan kalimatnya. Membiarkan Sehun penasaran barang semenit, “…Laki-laki yang akan mengantar kalian pulang.”

Tepat setelah Luhan selesai bicara, Jaeyoon kembali. “Luhan, kau tidak pulang?” Tanya Jaeyoon hanya sekedar basa-basi.

“Aku masih ada urusan. Kau pulanglah dulu!” Luhan tersenyum pada Jaeyoon.

“Baiklah. Aku duluan!”

“Hati-hati!”

“Eoh!” Jawab Jaeyoon sambil menggandeng tangan Sehun keluar dari food court itu. Sehun yang digandeng masih dilanda penasaran. ‘Siapa laki-laki yang hyung maksud? Aish.. Kenapa kisah cinta Jae noona sangat kompleks?’

“Sehun-ah, kau mau pulang naik taksi atau naik—“

Jaeyoon tidak menyelesaikan kalimatnya. Di depannya, kini terdapat seorang laki-laki yang sangat ia kenali menghentikan laju motornya di depan Jaeyoon dan Sehun.

“Baekhyun hyung?!” Tanya Sehun setelah laki-laki itu melepaskan helm dari kepalanya.

“Hey, Oh Sehun!” Baekhyun tersenyum pada Sehun, “Butuh tumpangan?”

“Tentu saja!” Sehun berteriak girang—senang.

Jaeyoon menyibukkan diri dengan ponselnya. Berpura-pura sedang membalas sms. Tak sedikit pun tertarik dengan obrolan Baekhyun-Sehun.

Baekhyun melirik Jaeyoon sebentar lalu menyuruh Sehun mendekatinya. Berbisik. “Noonamu? Dia tidak ikut?”

Sehun menghampiri Jaeyoon lalu menarik ujung seragamnya, “Noona, kau tak ikut?”

“Eoh?”

“Baekhyun hyung memberi kita tumpangan.” Sehun menunjuk Baekhyun yang melihat pembicaraan mereka.

Jaeyoon melihat ke arah Baekhyun yang dibalas lambaian tangan kecil darinya. Jaeyoon berjengit. Jaeyoon merutuki dirinya sendiri, ‘Kenapa aku mendadak canggung dengannya? Aish..’

“Kau bisa pulang dengannya duluan. Aku ada urusa—“

“Kenapa?” Sehun merengek, “Noona sudah terlambat datang makan siang denganku. Lalu noona mau meninggalkanku? Aish.. Tau begini aku tak akan menerima ajakan noona—“

“Ok ok! Noona ikut mengantarmu pulang!”

***

Usai mengantar Sehun pulang. Jaeyoon terpaksa harus pulang bersama Baekhyun. Tak ada alasan untuk menolak, karena rumah Jaeyoon bersebelahan dengan rumah Baekhyun.

 Suasana canggung menyelimuti perjalanan pulang mereka. Jika saja Sehun masih duduk di antara mereka, suasana pasti akan lebih baik. Setidaknya Jaeyoon tidak perlu melingkarkan tangannya di tubuh Baekhyun. Atau terjebak dalam keheningan yang bagi Jaeyoon akan menjadi selamanya.

“Oh, jadi kau mengenal eommanya Sehun?” Tanya Jaeyoon membuka pembicaraan. Awalnya dia memang penasaran karena di rumah Sehun tadi, Baekhyun terlihat akrab dengan Bibi Ahn.

“Ahn seonsaengnim? Tentu saja. Aku bekerja padanya.”

“Bekerja?”

“Aku menggambar design interor rumah padanya. Maksudku sesuai permintaan klien Ahn seonsaengnim.” Baekhyun menoleh sedikit pada Jaeyoon.

“Wow! Kau hebat, Baekhyun!” Tanpa sadar Jaeyoon menepuk pelan punggung Baekhyun dan mengeratkan tangannya di pinggang Baekhyun. Kemudian menyandar di punggung Baekhyun.

Sesaat saja, jantung Baekhyun berdesir. Ada getaran aneh saat Jaeyoon melakukan itu padanya. Sebenarnya Jaeyoon cukup sering naik motor Baekhyun. Ketika dia kelas 1. Ketika mereka mondar-mandir belajar bersama untuk menyiapkan Olimpiade Fisika. Tapi entahlah, setelah menerima kenyataan bahwa Jaeyoon menolak perasaan Baekhyun mentah-mentah, rasanya sudah sangat lama Baekhyun tak merasakan perasaan itu lagi.

“Jaeyoon-ah, kau tidur? Kita sudah sampai.”

“Huh? Maaf. Punggungmu sangat nyaman, jadi aku—maafkan aku, Baek.” Sadar akan perkataan Jaeyoon barusan yang kelewat jujur, Baekhyun tersenyum. Sedangkan Jaeyoon mati-matian menahan malu.

Jaeyoon buru-buru turun dari motor Baekhyun dan berniat berlari sekencang-kencangnya dari rumah Baekhyun. Kalau perlu, ia ingin menghilang dari pandangan Baekhyun.

“Jaeyoon-ah.”

Belum sempat Jaeyoon merealisasikan rencananya barusan, panggilan Baekhyun menghentikan langkahnya. Jaeyoon berbalik badan dan menyahut, “Kenapa?”

“Tadi pagi aku mendapat pesan dari orangtuamu kalau mereka akan menginap di Ilsan karena kakekmu kritis. Adikmu juga ikut.” Baekhyun melepas helmnya, “Mereka akan tinggal selama dua hari.” Baekhyun turun dari motornya. Mendekati Jaeyoon lalu melanjutkan ucapannya, “Jika kau takut di rumah sendirian, kau bisa tidur di rumahku. Nenek sedang keluar kota.”

Tiba-tiba Baekhyun berjalan mendekati Jaeyoon. Semakin dekat dan semakin dekat sampai jarak mereka hanya beberapa senti saja.

Baekhyun sedikit mencondongkan tubuhnya, mengimbangi tubuh Jaeyoon yang hanya sampai hidungnya saja.Baekhyun menyibakkan rambut Jaeyoon ke belakang. Seolah dia tak peduli bagaimana jantung Jaeyoon hampir copot atau bagaimana pikiran kotor Jaeyoon bekerja.

“Atau… kau bisa tidur denganku, Jae-ah.”

Tepat di telinganya. Baekhyun berbisik tepat di telinga Jaeyoon. Hingga suaranya berdesir di pikiran Jaeyoon. Membuat Jaeyoon lupa bagaimana cara bernafas.

Jaeyoon menelan ludah. Buru-buru dia pergi dari rumah Baekhyun dan cepat-cepat berlari menuju rumahnya. Baekhyun menyeringai melihat reaksi Jaeyoon yang melebihi dugaannya.

“Jaeyoon-ah… kenapa aku tak bisa berubah, huh?” Gumam Baekhyun bertanya pada diri sendiri.

Jaeyoon sibuk mengomeli dirinya sendiri saat pergi dari pekarangan rumah Baekhyun. Jaeyoon merasa dirinya sudah gila karena tak berkutik sedikitpun ketika Baekhyun… ‘AAARGGGHH!! Byun Baekhyun sialan!’ Jaeyoon mengacak-acak rambutnya kesal. Lalu berniat membuka pintu gerbang rumah. Dan…

‘What a life! Bagaimana aku bisa masuk jika kunci pun aku tak bawa! Bodoh!’ Rutuk Jaeyoon saat ia sampai di depan gerbang rumahnya.

Terpaksa. Dengan pengorbanan harga diri penuh, dia kembali ke rumah Baekhyun. Jika Baekhyun mendapat pesan dari orangtuanya pasti orangtuanya juga menitipkan kunci rumah pada Baekhyun. Itu yang Jaeyoon pikirkan ketika perjalanan kembali ke rumah Baekhyun.

Jaeyoon melewati pintu gerbang rumah Baekhyun begitu saja. Karena—mungkin Baekhyun lupa menguncinya atau Baekhyun membiarkan pintu terbuka agar Jaeyoon bisa kembali, tanpa Baekhyun perlu membuka pintu gerbang lagi.

Dengan langkah hati-hati, Jaeyoon berjalan menuju rumah Baekhyun yang pintu depannya sedikit terbuka. Menandakan Baekhyun sudah masuk ke dalam rumah.

Jaeyoon sudah masuk di halaman rumah Baekhyun—mendekati pintu rumah. “Baekhyun-ah!” Tak ada jawaban. Jaeyoon memasuki rumah Baekhyun yang sepi. Sedari dulu memang sepi karena Baekhyun hanya tinggal bersama neneknya saja. Orangtua Baekhyun adalah diplomat, mereka hanya satu atau dua kali pulang dalam jangka waktu 3 bulan. Sedangkan kakak Baekhyun sudah menikah dan tinggal di Nowon bersama suaminya. Seingat Jaeyoon begitu ketika nenek Jin—nenek Baekhyun—bercerita padanya.

“Baekhyun-ah!!” Ketika Jaeyoon sampai di dalam rumahnya—tepatnya di ruang tamu, Baekhyun masih tak menyahut. “Byun Baekhyun!”

Jaeyoon memutuskan untuk menunggu Baekhyun keluar dari persembunyiannya. Tapi menunggu adalah hal yang paling Jaeyoon benci. 5 menit mungkin tak masalah. Tapi masalahnya Jaeyoon sudah menunggu sekitar 15 menit. Dan itu sangat buruk.

Dengan kesal, Jaeyoon memutuskan untuk naik ke lantai dua—tempat kamar tidur Baekhyun berada. “Byun Baekhyun!” Kesal karena Baekhyun tidak menampakkan batang hidungnya padahal jelas-jelas Baekhyun ada di rumahnya.

Tidak mendengar panggilan Jaeyoon? Apakah Baekhyun jadi tuli karena terlalu pintar? Ataukah dia bersembunyi? Ayolah, Baekhyun bukan tipikal laki-laki yang suka bermain petak umpet.

“Byun—AHHH!!”

Baru saja Jaeyoon membuka pintu kamar Baekhyun, Baekhyun segera menghempaskannya ke ranjangnya. Dimana Jaeyoon terlentang dan Baekhyun berada di atasnya dengan menahan tangan kanan Jaeyoon agar tidak melarikan diri lagi.

“Merindukanku? Kau baru bertemu denganku beberapa menit yang lalu, Jaeyoon-ah.” Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Jaeyoon, “Apakah pesonaku sudah mengikatmu sekarang?”

Jaeyoon tak menyahut. Justru berkata, “Maafkan aku.”

“Apa?”

“Aku tahu aku sangat keterlaluan waktu itu. Maaf. Aku… aku hanya tak ingin mengecewakan eommaku.”

Baekhyun melengos. Dia tahu arah pembicaraan Jaeyoon sekarang. Kejadiaan dua minggu lalu. Ketika Baekhyun melupakan harga dirinya untuk pertama kalinya. Memohon Jaeyoon. Mengingatnya saja membuat Baekhyun paham betapa bodohnya dia saat itu.

“Sesederhana itukah?”

Jaeyoon menatap Baekhyun. Tepat di matanya.

“Aku tak bisa tidur karena dua hari sebelumnya Jieun mengatakan padaku bahwa dia menyayangimu. Dia mencintaimu.”

“Jadi..”

“Aku tahu kau menyukaiku jauh sebelum kau mengatakannya.” Ujar Jaeyoon tiba-tiba, “Sulit dilupakan? Bunga matahari yang bersinar di musim panas empat tahun lalu. Ciuman pertamaku bersama Luhan.” Jaeyoon tersenyum kecut lalu melanjutkan. “Kau menghindariku dan tidak saling menyapa selama bertahun-tahun. Jika bukan karena ciuman itu, kau akan menyatakan cinta padaku, kan?”

Baekhyun mengeluarkan seringaiannya. Menatap Jaeyoon dari atas tubuhnya.

“Bukankah itu yang kau harapkan? Menjauh dariku dan berpura-pura berciuman bersama Luhan. Kau tidak bisa membiarkan rasa sukamu padaku bertahan lebih lama, kan?”

“Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika aku benar-benar menyukai Luhan?”

“Itu tak akan terjadi.”

“Apa alasan yang membuatmu seyakin itu?”

“Apa mendengarmu menangis di balik sana belum cukup?” Baekhyun menunjuk rumah Jaeyoon, tepat di kamar tidur Jaeyoon.

“Kau—“

“Jangan salah paham. Si kecil Hayoung mengatakannya padaku.” Baekhyun tersenyum meremehkan, “Sungguh! Apa melihat ketampananku sepanjang hari belum cukup sampai-sampai kau meletakkan fotoku di dalam dompetmu?”

“Jangan terlalu percaya diri. Itu… hanya foto masa lalu.” Jaeyoon merasa aneh dengan suasana di kamar Baekhyun. Dia memainkan bola matanya dan berkata, “Apa kau akan terus di atasku? Apa yang perlu dipamerkan dari badan triplekmu?”

Bukannya menjauh, Baekhyun justru semakin mendekat. Jaeyoon yang merasakan suasana aneh menyelimuti mereka berdua berpura-pura bersikap biasa saja. Walaupun dalam pikirannya, dia sudah mengumpat karena mengatakan hal tadi justru membuat Baekhyun lebih bersemangat.

Baekhyun menyeringai melihat Jaeyoon yang menatap arah lain supaya tak bertemu pandang dengan mata Baekhyun yang terlihat ‘mesum’.

Jaeyoon menggigit bibirnya. Takut jika sesuatu terjadi padanya. Dia sudah membayangkan kemungkinan terburuk jika Baekhyun melakukan hal bodoh padanya. Bisa-bisa Jaeyoon berakhir seperti anak teman arisan Ibunya—menikah diusia muda atau ditinggal lari dari tanggung jawab. ‘Tidak!!!’

Jaeyoon memutuskan untuk menyudahi aktingnya. Jaeyoon berniat memohon pada Baekhyun supaya tidak melakukan apapun padanya. Menyadari kenyataan bahwa rumahnya dan rumah Baekhyun tak ada orang lain. Dan mengingat Jaeyoon adalah perempuan dan Baekhyun adalah laki-laki, setiap saat bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi Baekhyun jika sudah bertekad, dia tak akan melepaskannya. Sekalipun harus melakukan ‘apa saja’.

“Byun—“

Baru saja Jaeyoon menatap pada manik mata Baekhyun dan ingin memohon, bibir Baekhyun yang dalam fantasi Jaeyoon sangat mempesona dan memang pada kenyataannya begitu—menempel pada bibir Jaeyoon sekarang.

Baekhyun menindih Jaeyoon.

Awalnya Jaeyoon kaget. Tapi, kemudian ia menutup matanya saat menyadari ciuman Baekhyun sangat lembut di bibirnya. Jaeyoon sudah melupakan pikiran-pikirannya sejak tadi. Jaeyoon menyukai Baekhyun!

Ciuman Baekhyun—bagaimana Jaeyoon mendeskripsikannya? Lembut dan tak ada pemaksaan. Baekhyun benar-benar pandai mempermainkan perasaan Jaeyoon. Mungkin Jaeyoon harus memberinya nilai sempurna karena membuatnya tak berkutik.

Beberapa menit berlalu dan tangan liar Baekhyun menyentuh kancing atas seragam sekolah Jaeyoon. Menyadari itu, Jaeyoon juga menyentuh kancing kemeja teratasnya.

Baekhyun melepas ciuman mereka, ia menatap Jaeyoon dengan pandangan bertanya.

“Aku—“

“Maafkan aku. Aku terlalu menyukaimu.” Ujar Baekhyun mengalihkan pandangan ke arah lain. Merasa bersalah.

Baekhyun segera bangkit dari tubuh Jaeyoon. Lalu ia menuju kamar mandi.

“Aku mandi dulu.” Ujarnya membelakangi Jaeyoon dan segera menutup pintu kamar mandi.

“Huh, aku bisa gila.” Ucap Baekhyun dan Jaeyoon bersamaan sambil memegang dada mereka yang belum selesai menggetarkan urat nadi mereka.

***

Satu minggu berselang setelah kejadian di rumah Baekhyun—tidak, di kamar Baekhyun. Jaeyoon dan Baekhyun tidak seperti biasanya lagi. Tidak saling menyapa. Tidak berbicara panjang. Ketika tadi Jaeyoon tidak sengaja bertemu Baekhyun di koridor, mereka justru mengalihkan pandangan satu sama lain.

‘Byun Baekhyun?! Si pintar yang hanya belajar selama 2 tahun di SMP. Si pintar yang membuatku gila saat mendengarkan curhatan Jieun tentangnya. Dan si laki-laki tampan yang tak pernah bisa hilang dari pikiranku. Apalagi senyumannya ketika bertemu pandang dengannya. Demi apa aku bisa menyukainya??”

Kegilaan Jaeyoon rupanya sampai mengalihkan perhatiannya dari mata pelajaran favoritnya, Sastra China. Hingga dia tak bisa konsentrasi dengan baik saat mendengarkan penjelasan dari Jia Lao Shi.

“Kenapa melamun?” Tanya Luhan setelah selesai pelajaran. “Ada masalah?”

Jaeyoon dan Luhan sedang dalam perjalanan mereka ke kelas berikutnya. Kebetulan kelas yang akan mereka datangi sama.

“Kakekku belum melewati masa kritis.” Jawab Jaeyoon tak sepenuhnya berbohong. Jaeyoon memang mengkhawatirkan kakek yang sangat ia sayangi tadinya, sebelum sekelebat bayangan Baekhyun menghantui pikirannya.

“Keadaannya belum membaik?” Tanya Luhan lagi. Meski terdengar membicarakan kakek Jaeyoon tapi pertanyaan ini justru ia tujukan untuk menayakan keadaan Jaeyoon.

Jangan lupakan fakta bahwa Luhan sangat tahu bagaimana Jaeyoon. Kedekatan Jaeyoon dan Luhan seperti selamanya, lebih dekat daripada Jaeyoon dengan Baekhyun. Jaeyoon selalu menceritakan masalah atau hal yang sedang mengganggunya pada Luhan. Jadi jangan heran jika Luhan tahu bahwa Jaeyoon sedang memikirkan masalah lain.

“Entahlah. Kadang membaik, kadang lebih buruk.” Jawab Jaeyoon tidak sedang dalam mood membicarakan kakeknya.

Tiba-tiba ponsel Jaeyoon berbunyi. Ada pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.

Ada masalah dengan Olimpiade Fisika besok lusa. Suho seonsaengnim menunggu kita di laboratorium kimia.

Baekhyun.’

“Ada apa?” Tanya Luhan.

“Katakan pada Shim seonsaengnim aku ada bimbingan fisika untuk besok lusa.” Ujar Jaeyoon sebelum meninggalkan Luhan yang bingung dengan reaksi berlebihan dari Jaeyoon.

“Sangat bersemangat..” Komentar Luhan melihat Jaeyoon yang berlari kencang meninggalkannya.

Di sisi lain Jaeyoon dengan cepat menuju lantai 4 tempat laboratorium kimia berada, sesampainya di depan pintu laboratorium, Jaeyoon dengan cekatan membuka pintu lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintu.

Dan betapa kagetnya Jaeyoon saat mendapati hanya Baekhyun yang berdiri di depan jendela kaca. Berdiri membelakanginya sambil terus menatap ke luar.

Jaeyoon mengatur nafasnya lalu berjalan mendekati Baekhyun. Memperhatikan langkahnya agar tak mengganggu Baekhyun yang berdiri mematung—yang saat ini sudah berada di sampingnya.

“Mau cokelat?” Tawar Baekhyun tanpa memandang Jaeyoon.

Jaeyoon menoleh pada Baekhyun dan sepersekian detik berikutnya Baekhyun juga balas menatap Jaeyoon.

Jaeyoon berpikir sebentar. Rasanya tidak enak jika menolak tawaran dari Baekhyun—tapi rasanya juga tak enak jika harus menerima tawaran dari Baekhyun di suasana canggung seperti ini. Tapi, mengingat perut Jaeyoon yang kosong karena belum makan apapun dari pagi tadi, Jaeyoon memutuskan…

“Boleh..” Jaeyoon mengangguk.

Baekhyun mengeluarkan bungkusan cokelat dari saku celananya. Ia membuka bungkusan cokelat itu lalu mengeluarkan isinya yang sebesar permen-permen kecil pada umumnya.

“Bisa membagi menjadi dua?” Tanya Baekhyun pada Jaeyoon.

“Akan kucoba.”

Entah setan mana yang merasuki Jaeyoon, Jaeyoon mau-mau saja mengeluarkan jawaban laknat itu. Meski otaknya tahu apa yang ada dalam maksud perkataan Baekhyun sebelumnya.

Jaeyoon mencoba menggigit cokelat itu agar terbelah menjadi dua. Tapi sepertinya usahanya sia-sia, cokelatnya sangat keras. Dan Jaeyoon benar-benar ingin menyerah.

Masih mencoba membagi cokelat menjadi dua dengan gigi-giginya. Baekhyun tanpa Jaeyoon sadari mendekat padanya. Sedetik kemudian, Baekhyun juga berpartisipasi menggigit cokelat itu agar terbelah menjadi dua. Akibatnya, tangan kiri Baekhyun menempel pada pinggang Jaeyoon dan tangannya yang lain berada di tengkuk Jaeyoon.

Entah jenis setan macam apa yang berada di antara mereka berdua, kedua tangan Jaeyoon sudah berada di leher Baekhyun. Melingkar manis disana. Jaeyoon juga berjinjit agar dapat menyamai tinggi badan Baekhyun. Baekhyun pun tak berbeda, memiringkan wajahnya beberapa senti pada Jaeyoon. Tak lupa, mereka juga menutup mata.

Tepat seperti orang berciuman.

“BYUN BAEKHYUN, OH JAEYOON!! DETENSI SEPULANG SEKOLAH!!”

Terakhir, seingat Baekhyun, suara Suho seonsaengnim memenuhi telinga mereka.

 

THE END

 

a/n: Based on true story dengan beberapa perubahan + penambahan supaya ceritanya ga ancur-ancur amat. Walopun dari sononya ceritanya emang udah ancur -__-

Maaf buat adegan kaga senonoh diatas, jangan ditiru! Gue sengaja nambahin biar para mesumers (?) ga kecewa (?) dan supaya gue lebih dapet suasana yadongnya (?) /author mabok/ /author mabok karena krisis cinta -_-/ Baekhyun, tolongin gue! Gue butuh asupan cinta dari elo!! /author banting ikat pinggang (?)/

Ahh ini gue buat setelah seminggu heboh gue ga ada kabar kalo ternyata EXO kambek sama ‘Miracles in December’ sumfeh, gue belom siap. Ga ga ga kuat! Aku ga kuat!!! Baekhyun pliss, gue butuh nafas buatan dari lo!! T__T Ini dadakan banget woy, Bang Sooman!!

Sumfeh kenapa lagunya galo trasi gini. Sadissss, Om Sooman!! Lo tahu ga Om betapa gue seneng banget liat Baekhyun nampang?? T_T

Ok udah cukup cuap-cuapan gue. Dan mungkin lo baca ini ketika albumnya udah kedaluarsa (?) /author mabok kena kilatan cahaya matanya Baekhyun/ Segini dulu deh, ntar gue mau nyatrika rambutnya bebeb Baekhyun dulu~~

With Love, Bubblebit (@Novita_Milla)

7 thoughts on “Spotless Memories

  1. INI KEREN SUMVEH.
    Kenapa ga bikin chapter aja thor;-;lebih seru pasti !!!!! Sequel juga boleh deh wkwk
    Pokonya ini harus ada seqeul’a /maksa/

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s