Only You

Gambar

Title : Only You

Author : Lil_deer

Genre : Romance, family

Cast : Xi Luhan, Jung Nara ( OC – you )

Rating : PG

Lenght : Oneshot

——–o——–

Jung Nara berlari dibawah langit malam yang gelap. Wajahnya dipenuhi air mata yang mengalir deras. Gadis itu tidak bisa melupakan apa yang dia lihat sebelumnya, ayahnya yang ia percayai malah berselingkuh dengan wanita lain. Apa yang harus ia katakan pada ibunya nanti.

Nara menyebrangi jalan tanpa melihat lampu jalan yang sedang hijau. Tiba-tiba cahaya terang langsung menyorot matanya. Gadis itu hanya bisa terdiam saat sebuah mobil bergerak mendekatinya. Mobil itu berusaha berhenti namun akhirnya tetap mengenai Nara. Gadis itu terjatuh ke aspal, dahinya terbentur aspal dan mulai berdarah. Tangis Nara semakin kuat menahan rasa sakitnya.

“Astaga, agashi, kau tidak apa-apa?” Ujar seseorang dengan nada cemas. Nara bisa merasakan tubuhnya ditopang oleh seorang laki-laki namun ia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena pengelihatannya semakin mengabur.

Yang ia tahu adalah laki-laki menggendong tubuhnya dan membawanya masuk kedalam mobil. Kemudian matanya terpenjam.

——-o–O–o——–

Nara membuka matanya perlahan. Silau lampu langsung menusuk matanya. Nara mengangkat tangannya reflek menutupi matanya namun tanpa sengaja tangannya menyetuh dahinya dan langsung terasa sakit.

“Akhh…” Rintih Nara. Ternyata bukan mimpi, pikir Nara. Dia baru ingat kalau ia mengalami kecelakaan. Nara menatap langit-langit rumah diatasnya dan kasur empuk yang ia baringi. Dimana ia sekarang?

Nara menegakkan tubuhnya perlahan dengan sedikit merintih. Ia sangat terkejut saat melihat seorang laki-laki tepat didepannya tertidur dengan posisi punggung menyender kedinding. Nara tanpa sadar berteriak dan sontak membangunkan laki-laki itu.

“Kau sudah sadar ya?” Ujar laki-laki itu sambil melakukan gerakkan merenggangkan tubuhnya. Nara menatap laki-laki itu was-was saat ia mulai berdiri dan mendekati Nara.

“Si-siapa kau?” Tanya Nara takut. Laki-laki itu menyadari ketakutan Nara dan berupaya menenangkannya.

“Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Kau tertabrak mobilku tadi malam. Dan sebagai orang yang bertanggung jawab aku membawamu apartmentku karena aku tidak tahu dimana alamat rumahmu” Nara menyadari bahwa laki-laki itu yang menolongnya tadi malam.

Nara melebarkan matanya saat laki-laki itu membungkuk didepannya. Hampir saja Nara melayangkan bantal didekatnya sebelum laki-laki itu menyela.

“Boleh aku lihat lukamu?” Ujar laki-laki itu. Nara terdiam dengan wajah memucat. Laki-laki itu tidak tahu sopan santun ya? Kenapa bertanya dengan seorang wanita dengan posisi seperti itu?

“Tidak usah khawatir, aku seorang dokter. Aku hanya ingin mengganti perbannya. Sepertinya terlepas saat kau tidur tadi” lanjut laki-laki itu dengan senyum lembut. Dan entah kenapa malah membuat wajah Nara semakin pucat. Nara hanya menganguk kaku. Laki-laki itu kembali tersenyum lalu diduduk di ujung kasur dan mulai melakukan operasi kecil pada Nara.

“Maaf membuatmu kesakitan seperti ini” ujar laki-laki itu sambil menempelkan perban yang telah diberikan cairan kuning di dahi Nara. Beberapa detik Nara masih terdiam namun akhirnya merespon.

“Tidak apa-apa. Aku juga yang ceroboh menyebrang tidak hati-hati” balas Nara kaku.

“Nah sekarang sudah selesai” ucap laki-laki itu riang masih dengan senyum lembutnya. Wajah Nara memerah seketika dengan cepat ia menundukkan kepala agar tidak terlihat oleh laki-laki itu. Kenapa orang yang menabrakku harus semanis ini, pikir Nara.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya laki-laki itu dengan nada cemas. Nara langsung menyahut.

“I-iya aku baik-baik saja”

“Baiklah, kau mau sarapan dulu atau langsung pulang kerumahmu?”

“Sarapan? Memangnya ini jam berapa?” Tanya Nara bingung. Laki-laki itu melirik jam di pergelangan tangannya sebentar lalu menjawab.

“Jam 8 pagi”

Mata Nara membesar seketika. “Apa?!”

———-o–O–o———-

Nara duduk termenung di kursi tunggu bersama adik kecilnya. Mereka berada dirumah sakit, Sehun -adiknya- menangis semalaman karena giginya sakit dan sekarang ibunya menyuruh Nara untuk mengantarkannya ke dokter gigi. Sebenarnya Nara tidak mau karena menunggu hingga nama mereka dipanggil oleh asisten dokter itu sangat membosankan.

“Sehun, silahkan masuk” panggil seorang suster. Nara langsung tersadar dari lamunannya dan dengan cepat menarik tangan adiknya masuk ke ruangan dokter.

“Noona, aku tidak mau kedokter gigi” rengek adiknya.

“Tidak apa-apa, kalau giginya tidak diperiksa ke dokter nanti akan sakit lagi” bujuk Nara. Gadis itu membuka pintu menuju ke ruangan dokternya. Nara terkejut saat melihat seorang laki-laki berpakaian dokter dengan hidung badut dan bandana kelinci dikepalanya.

“Ayo siapa temanku selanjut…” Perkataan laki-laki itu terhenti sesaat. Matanya memperhatikan Nara lekat. “Mm.. kau Jung Nara, kan?”

Nara mengerut dahinya heran. Kenapa dokter badut ini mengetahui namanya? Bukankah yang akan diperiksa adalah Sehun adiknya bukan dia. Laki-laki itu melepaskan hidung badutnya lalu tersenyum manis pada Nara.

Nara ingat senyum itu. Xi Luhan. Orang yang mencelakai juga yang menolongnya seminggu yang lalu saat ia kecelakaan. Benar-benar ketidaksengajaan yang menyenangkan.

——o–O–o——-

“Nah, sekarang sudah sembuh. Gigi Sehun tidak akan sakit lagi” ujar Luhan lembut lalu mengelus kepala Sehun pelan. Nara melihat pekerjaan Luhan sedari tadi. Pantas saja dia sangat ramah, ternyata dia seorang dokter gigi anak. Nara juga baru tahu jika dokter gigi anak harus memakai benda-benda yang lucu seperti hidung badut dan bandana kelinci seperti yang sedang dipakai oleh Luhan. Tapi tetap saja laki-laki itu terlihat manis dengan benda-benda itu.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Luhan pada Nara saat menulis resep obat untuk Sehun.

“Ah iya, sudah lebih baik” balas Nara dengan nada geli.

“Kenapa tertawa begitu?” Tanya Luhan heran.

“Tidak apa-apa, dokter terlihat lucu dengan bandana kelinci itu” ujar Nara sambil menahan tawanya. Luhan tertawa kecil mendengarnya.

“Jika tidak seperti ini anak-anak akan takut melihat dokter gigi” jawab Luhan malu-malu. Nara ikut tertawa lalu berbicara tanpa sadar.

“Tapi dokter tetap terlihat manis dengan benda itu” Luhan terhenti tertawa dan sedikit kaget dengan perkataan Nara. Nara juga baru menyadari perkataannya dan mengatup mulutnya. Mereka terdiam sejenak. Nara menyalahi mulutnya sendiri yang berbicara begitu frontal. Luhan berdeham kecil lalu memberikan resep yang ia tulis pada Nara.

“Ini resep obatnya” ujar Luhan singkat. Itu semakin membuat Nara terpuruk. Apa perkataannya benar-benar salah?

“Ne, gamsahamnida” balas Nara kaku.

“Gomawo dokter sudah sembuhin Sehun” ujar Sehun riang. Luhan kembali tersenyum dan mengacak-acak rambut Sehun. Kenapa dia tidak tersenyum padaku tadi? Rutuk Nara.

“Baiklah, saatnya kami pulang. Sekali lagi terima kasih, dokter”

“Ya” Luhan menganguk pelan lalu membiarkan Nara dan Sehun keluar ruangannya. Laki-laki itu mengengadahkan kepalanya ke langit-langit tempat kerjanya lalu menghelah nafas. Ia menyentuh bandana telinga kelinci yang berada di kepalanya kemudian mencibir pelan.

“Kau membuatku sangat malu dihadapannya”

——–o–O–o——–

Nara berjalan cepat menyusuri trotoar. Udara sangat dingin di musim gugur dan membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan meminum yang hangat-hangat. Nara melihat sebuah Coffee Shop yang lumayan ramai disebrang jalan. Gadis itu tersenyum kecil. Seperti lebih enak jika meminum coklat panas disana.

Nara menyebrangi jalan lalu dengan cepat melangkahkan kaki menuju Coffee Shop tersebut. Tiba-tiba seseorang mendahuinya memegang gagang pintu kaca Coffee Shop itu. Nara reflek menoleh pada pemilik tangan tersebut dan ia sangat terkejut melihat orang itu. Benar-benar kebetulan…

“Nara?” Ujar Luhan dengan ekspresi sedikit kaget. Nara berusaha mengatur ekspresinya seperti biasa. Entah kenapa melihat laki-laki itu malah mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu yang lalu saat dia mengatakan bahwa Luhan itu manis. Dan itu sangat memalukan.

“Annyeong haseyo” sapa Nara kaku.

“Mm… bagaimana keadaanmu?” Tanya Luhan. Nara mendongak kaget kemudian kembali tertunduk malu.

“Ya, aku baik-baik saja”

“Baguslah kalau begitu. Adikmu…”

“Permisi” sela seorang laki-laki tambun langsung melintas diantara mereka dan memasuki Coffee Shop itu. Sesaat kemudian mereka sama-sama terdiam kaku dan beberapa saat kemudian Luhan membuka suara.

“Sebaiknya kita bicara didalam saja” ajak Luhan. Nara mengangkat wajahnya sekali lagi dengan perasaan kaget namun kemudian menganguk.

——–o–O–o——–

“Jadi apa gigi adikmu masih sakit?” Tanya Luhan. Laki-laki itu kehilangan ide untuk membuka topik pembicaraan yang bagus dengan gadis itu jadi ia terpaksa menanyakan hal tidak penting tersebut.

“Sehun baik-baik saja. Dia sudah kembali mengunyah permen” jawab Nara sedikit rileks.

“Baguslah. Tapi jangan terlalu banyak memakan makanan manis”

“Mm.. Aku mengerti pak dokter”

“Jangan panggil aku begitu. Itu membuatku terlihat begitu tua. Panggil saja namaku” ujar Luhan sambil tersenyum kecil. Nara mengerjapkan matanya kaget lalu mengalihkan pandangannya dari Luhan.

“Jika aku panggil nama saja berarti itu tidak sopan”

“Kalau begitu panggil aku dengan sebutan oppa saja” Nara menatap Luhan kaget. Apa katanya? Oppa katanya?

“Mm.. umurmu berapa?” Tanya Luhan.

“21” jawab Nara kembali kaku. Kenapa laki-laki itu selalu membuat kaku begini?

“Aku lebih tua darimu 2 tahun. Jadi sekarang panggil aku oppa, arraseo?” Nara hanya bisa terdiam. Bisakah ia memanggil oppa pada laki-laki itu? Sungguh itu sangat memalukan.

“Ne.. Oppa” kali ini wajah Nara benar-benar memerah.

Mereka mulai berbicara dengan santai. Banyak hal yang mereka bicarakan. Luhan bercerita tentang kehidupannya, begitu juga Nara. Sekarang Nara tahu Luhan sudah lulus dari universitas kedokteran sejak umur 21 tahun. Ia melompati sekolahnya selama 2 tahun. Ayah dan ibunya tinggal di China sedangkan ia merantau ke Korea. Dan dia suka menyanyi.

Nara senang mengetahui semua hal itu. Dan Nara juga merasa senang bisa lebih dekat dengan laki-laki itu.

———o–O–o——–

Setelah pertemuan mereka di Coffee shop, Nara dan Luhan menjadi lebih dekat. Mereka sudah bertukar nomor telpon dan terkadang saling berbalas pesan.

Nara baru saja pulang dari kegiatan kuliahnya. Gadis itu memasuki rumah tiba-tiba terkejut mendengar suara teriakkan ayah dan ibunya. Nara membeku didepan pintu mendengar semua amarah orang tuanya yang terdengar jelas meski mereka berada di didalam kamar. Nara berlari memasuki rumahnya langkahnya terhenti saat melihat Sehun duduk ditangga dengan wajah muram.

“Sehun-ah, kau tidak apa-apa?” Tanya Nara dengan nada parau.

“Eomma dan appa kenapa, noona? Sehun takut” ujarnya pelan. Nara memeluk adiknya erat. Rasanya ia ingin menangis.

“Tidak apa-apa. Eomma dan appa baik-baik saja. Sehun tidak perlu takut” ujarnya menenangkan Sehun. Teriakkan orang tuanya semakin menjadi-jadi. Nara hanya bisa menahan tangisnya. Kenapa orang tuanya tidak seharmonis orang tua yang lain? Gadis itu sudah sangat muak dengan semua pertengkaran orang tuanya tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.

“Sehun-ah, lebih baik kita pergi beli eskrim saja. Sehun mau, kan?” Ajak Nara. Nara tidak ingin adiknya mendengar semua cacian orang tuanya.

“Tapi kan ini sudah hampir malam, noona”

“Tidak apa-apa, eomma pasti tidak akan marah”

“Iya, noona” sahut Sehun. Mereka berjalan keluar rumah menuju kedai eskrim yang biasa mereka beli. Sehun terlihat sangat senang dengan eskrimnya namun tidak pada Nara. Nara tidak ingin pulang kerumah sekarang.

Tiba-tiba pemikiran aneh terlintas dipikiran Nara. Apakah boleh dia ke apartment Luhan? Hari ini weekend, laki-laki itu pasti tidak memiliki jadwal praktek. Dengan ragu Nara meraih ponselnya dan mencoba menelpon Luhan.

“Kenapa tidak aktif?” Rutuk Nara saat telponnya tidak dijawab oleh Luhan.

“Apakah dia sedang sibuk?” Desah gadis itu pelan. Apakah ia langsung saja ke apartment laki-laki itu? Sedikit tidak sopan memang, tapi Luhan pernah berkata padanya untuk tidak usah segan-segan datang ke apartmentnya.

“Sehuna, kita kerumah teman noona sebentar yuk”

——o–O–o——-

Nara sudah berada didepan pintu apartment Luhan. Dia agak heran kenapa jantungnya jadi berdebar keras. Ya, ini kedua kalinya dia apartment Luhan. Nara menekan bel disamping pintu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan langsung memampang wajah heran Luhan.

“Nara? Ada apa kau kesini?” Tanya Luhan heran. Laki-laki itu melirik Sehun yang tengah menggenggam tangan Nara dengan wajah polosnya.

“Maaf, aku sudah berusaha menelponmu tapi ponselmu tidak aktif” ujar Nara pelan.

“Ah iya, ponselku tertinggal di ruanganku” balas Luhan sambil menggaruk kepalanya.

“Silahkan masuk” Luhan menyingkir sedikit dari depan pintu memberi jalan pada Nara dan Sehun.

“Jadi kenapa kalian datang kesini?” Tanya Luhan saat mereka duduk di ruang santai.

“Luhan-ssi tidak suka kalau kami kemari?” Sahut Nara hati-hati. Luhan melebarkan matanya lalu menggerakkan kedua tangannya cepat.

“Bukan begitu. Maksudku, tidak biasanya kau mau datang kesini apalagi mengajak Sehun”

“Sebenarnya kami kabur dari rumah”

“Apa?”

“Ya, sebenarnya tidak bisa dikatakan kabur dari rumah. Tapi… Pokoknya aku tidak mau pulang kerumah”

“Kenapa? Kau tahu eomma-mu pasti sangat cemas” sangkah Luhan. Nara hanya diam tak menjawab. Wajahnya berubah kembali menjadi muram.

“Nara-ya, kau tidak apa-apa?” Ujar Luhan cemas sambil memegangi bahu Nara. Nara menoleh sekilas pada Luhan kemudian mengapus titik air yang berada diujung matanya.

“Maaf, aku kelepasan. Aku tidak apa-apa” balas Nara lalu tersenyum. Lebih terlihat senyum paksa bagi Luhan.

“Aku tahu pasti kau ada masalah. Kau bisa menceritakannya padaku. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti. Kau perlu menenangkan dirimu dulu” ujar Luhan lembut. Perkataan Luhan benar-benar membuat Nara tenang. Rasanya dia akan baik-baik saja jika ia tinggal disini lebih lama.

“Noona, Sehun lapar” Nara menoleh menatap Sehun yang cemberut didepannya. Gadis itu juga bisa mendengar Luhan tertawa kecil disebelahnya. Laki-laki itu mengangkat tangannya lalu mengelus kepala Sehun pelan.

“Hyung akan membuatkan sesuatu untuk kalian. Tunggulah disini” ujar Luhan. Luhan baru saja berdiri dari duduknya tiba-tiba Nara menahan lengannya. Luhan langsung menoleh cepat menatap Nara.

“Tidak usah, biar aku saja yang membuatnya” tawar Nara. Luhan mengerjapkan matanya kaget. Ia melirik lengannya yang ditahan oleh Nara, kemudian kembali menatap wajah Nara.

“Kau yakin bisa memasak?”

“Astaga, kau benar-benar meragukanku? Tentu saja aku bisa masak” balas Nara dengan nada jengkel. Luhan tertawa kecil lalu menganguk pelan.

“Baiklah kalau begitu. Aku juga ingin mencicipi masakanmu” Nara tersenyum mendengar perkataan Luhan. Gadis itu menganguk lalu berjalan menuju dapur yang sudah ia ketahui sebelumnya. Bahan-bahan di dapur Luhan benar-benar lengkap. Sepertinya Nara akan berperang habis-habisan demi membuat masakan yang paling enak untuk Luhan.

———o—-O—–o———

“Baru kali ini aku merasakan makanan sesungguhnya” desah Luhan setelah ia menyantap masakan Nara. Mereka baru saja selesai makan malam tentu saja dengan makanan yang dimasak Nara sebelumnya.

“Merasakan makanan sesungguhnya? Memangnya selama ini kau makan apa?” Tanya Nara geli saat ia membereskan meja makan sedangkan Luhan masih duduk dimeja makan memperhatikan perkerjaan gadis itu dan Sehun sudah mantap menonton TV.

“Ya, aku tidak pintar memasak. Jadi makanan yang kubuat tidak seenak masakkanmu” jawab Luhan dengan senyum kecil diwajahnya.

“Kau terlalu berlebihan. Masih banyak masakan yang lebih enak daripada masakanku”

“Mmm… Tapi menurutku masakanmu yang paling enak” Wajah Nara memerah mendengar pujian itu. Nara mengalihkan wajahnya dari tatapan Luhan sebelum laki-laki itu menyadarinya.

“Luhan-ssi, bagaimana kalau kau menemani Sehun menonton TV. Aku tidak yakin dia akan menonton TV dengan tenang jika sendirian” ujar Nara tanpa melihat Luhan.

“Kau masih saja memanggilku seperti itu. Sudah aku bilangkan panggil aku oppa”

“Ah iya, maaf. Aku belum terbiasa. Lain kali saja aku menggunakannya”

“Coba sekarang”

“A-apa? Nanti saja, aku..”

“Coba sekarang”

“Ayolah, Lu…” Nara berhenti berbicara saat melihat tatapan Luhan. Nara menghelah nafas pelan lalu mencoba mengatur nafasnya dengan benar.

“Baiklah, Luhan-oppa” ujar Nara sedikit berbisik. Tapi Luhan masih bisa mendengarnya. Laki-laki itu tersenyum lalu senyumnya berubah jadi tawa kecil. Wajah Nara semakin memerah. Kenapa dia malah tertawa?

“Baiklah, aku akan menemani Sehun” ujar Luhan berjalan keluar ruang makan. Nara terdiam sejenak memandang punggung Luhan yang semakin menjauh. Setelah laki-laki itu menghilang dari pandangannya, gadis itu langsung mendesah keras seolah-olah ia menahan nafasnya sedari tadi.

“Kenapa dia harus bersikap seperti itu padaku” guman Nara. “Dia benar-benar membuatku berharap yang tidak-tidak”

——–o—O–o——–

“Dimana Sehun?” Tanya Nara saat ia baru keluar dari dapur setelah mencuci piring. Luhan yang juga baru keluar dari kamarnya menunjuk pintu kamarnya dengan jempolnya.

“Dia tertidur. Baru ku pindahkan kedalam”

“Oh, kasihan. Dia pasti kelelahan bermain” ujar Nara lalu duduk di sofa panjang didekatnya. Luhan berjalan mendekati Nara lalu duduk disebelah gadis itu.

“Selama ini dia tidak punya teman bermain laki-laki. Tapi hari ini dia pasti puas bermain denganmu” lanjut Nara kemudian tersenyum kecil. Luhan terdiam sejenak melihat senyum itu lalu ikut tersenyum.

“Apa kau mau menceritakan padaku kenapa kau kabur dari rumah?” Ujar Luhan mengingat alasan kenapa gadis itu datang ke apartmentnya. Nara menoleh menatap Luhan sejenak. Gadis itu tersenyum lalu menundukkan kepalanya lesu.

“Kau tahu aku belum pernah menceritakannya pada siapapun. Karena ini masalah keluarga” guman Nara pelan.

“Jika kau tidak mau menceritakannya, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa” balas laki-laki cepat.

“Tidak,” sela Nara. ” Sebaiknya aku harus menceritakannya pada seseorang. Aku tidak bisa memendamnya sendiri terus-menurus” Luhan hanya diam menatap Nara yang masih tertunduk dalam, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu.

“Kau ingat saat aku kecelakaan dulu. Saat kau menabrakku” ujar Nara pelan. Gadis itu menghelah nafas pelan sedangkan Luhan masih tetap diam menunggu kata-kata Nara selanjutnya.

“Waktu itu, aku melihat ayahku sedang bersama wanita lain. Bermesraan disebuah restoran mewah. Perasaanku sungguh kacau melihat itu dan aku hanya bisa berlari” lanjut Nara dengan suara bergetar.

“Aku terus berlari. Aku bahkan tidak menyadari jika aku sedang menyebrangi jalan. Dan semuanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba aku sudah berada di apartmentmu. Aku pikir setelah kejadian itu aku bisa melupakan apa yang kulihat sebelumnya bahwa ayahku berselingkuh. Tapi ternyata tidak. Ibuku sepertinya mengetahui apa yang dilakukan ayahku. Dan mereka bertengkar hebat tadi. Semua sumpah serapah keluarkan dari mulut mereka. Bahkan… mereka berkata bahwa mereka akan bercerai” tiba-tiba saja air mata Nara keluar begitu saja. Gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangannya mencoba menahan tangisannya tapi itu tidak berhasil dan malah membuat tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia tidak bisa menahan semua air mata yang terbendung sejak lama.

Luhan bisa merasakan semua kepedihan yang dirasakan Nara. Tapi Luhan tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki perasaan Nara. Laki-laki itu menepuk bahu Nara pelan lalu mendorong bahu gadis itu agar berhadapan dengannya kemudian mendekap tubuh gadis itu.

“Menangislah jika menangis bisa membuatmu tenang” ujar Luhan pelan. Ya, dia benar, hanya menangis yang bisa membuat gadis itu tenang.

“Kau tahu, mereka pasti hanya emosi sesaat mengatakan hal itu. Mereka sudah sama-sama dewasa. Mereka pasti tahu resikonya apabila bercerai”

Nara menggeleng pelan kemudian berbicara dengan sesugukkan. “Bagaimana jika mereka benar-benar bercerai?” Isaknya.

“Memang sulit mempertahankan sebuah hubungan jika tidak ada kecocokan lagi. Kita hanya bisa berdoa supaya mereka tetap bisa bersama” ujar Luhan lalu mengelus lengan Nara lembut.

“Hanya anak-anak mereka yang bisa menyatukan mereka kembali. Jika kau jujur berkata pada mereka bahwa kau tidak ingin kalian berpisah, mungkin saja hati mereka bisa luluh” lanjut Luhan kemudian menunduk menatap wajah gadis itu yang masih dibasahi oleh air mata.

Nara hanya menangis dalam diam meresapi kata laki-laki itu. Ya, mungkin saja Luhan benar, orang tuanya mungkin akan luluh jika ia mengatakan bahwa ia tidak ingin orang tuanya berpisah. Tapi Nara terlalu takut untuk melakukannya. Ia takut orang tuanya tidak akan mendengarkan kata-katanya.

Gadis itu merasakan tangan Luhan mendekapnya semakin erat. Ia membiarkan Luhan memeluknya dan laki-laki itu membiarkan Nara menangis disana. Sampai akhirnya mereka sama-sama tertidur diatas disana.

—–o——

“Noona, bangun” ujar Sehun menggoyangkan lengan Nara. Nara. Mengerjapkan matanya pelan. Nafasnya terasa sesesak. Ia membuka mata lebih lebar lagi dan tiba-tiba langsung terkejut ketika sadar posisi tidurnya ternyata berada dipelukkan Luhan. Laki-laki itu masih tertidur lelap dengan lengan masih merangkul bahu gadis itu. Dengan wajah sedikit memerah, Nara menggeser tubuhnya menjauhi Luhan.

“Noona, aku mau ke toilet” rengek Sehun. Nara menganguk cepat lalu melirik Luhan sebentar yang masih terlelap diatas kursi kemudian mengantar Sehun ke toilet. Setelah itu Nara berniat membuat sarapan untuk mereka. Ia membuat sup daging. Nara melirik jam dinding didapur yang sudah menunjukkan jam 7.30 pagi. Nara melepaskan celemek masaknya lalu berjalan ke santai tempat Luhan tertidur.

“Luhan-oppa, ireonayo. Bukankah kau ada praktek pagi ini?” Ujar Nara sambil menggoyangkan lengan laki-laki itu. Tidak lama kemudian ia menggeliat pelan. Luhan mengerjap matanya berkali-kalinya dan menurut Nara, wajahnya terlihat sangat imut saat melakukan hal itu.

“Kenapa tersenyum begitu?” Suara laki-laki itu membuat Nara tersadar. Wajah Nara sedikit memerah karena malu. Oke, Nara memang memperhatikan wajah laki-laki itu begitu lekat sebelumnya.

“Bukan apa-apa” balas Nara cepat. Gadis itu mengalihkan matanya dari tatapan laki-laki itu.

“Cepatlah bangun sebelum kau terlambat kerja” ujarnya pelan kemudian melesat ke dapur.

“Kau terdengar seperti ibuku” ujar Luhan mengikuti Nara dari belakang.

“Begitukah?” Tanggap Nara sambil melirik Luhan sekilas.

“Ya, dan ibuku bilang jika seorang wanita mulai berbicara seperti layaknya ibu-ibu, berarti wanita itu sudah siap untuk menikah” canda Luhan diiringi tawa pelannya. Nara menoleh cepat saat mendengar perkataan laki-laki itu kemudian ikut tertawa.

“Aku masih ingin menamatkan kuliahku kemudian berkerja” masih diiringi dengan tawa Nara menanggapi candaan Luhan sambil membubuh sup yang ia buat kedalam beberapa mangkuk yang akan mereka gunakan untuk makan.

“Apa itu berarti aku harus menunggu?”

Nara menghentikan gerakkannya seketika. Tawanya juga langsung hilang seiring dengan berakhirnya kata-kata itu.

“Apa?” Ujar Nara pelan sambil membalik tubuhnya menatap Luhan yang berdiri tidak jauh darinya. Jantung gadis itu berdetak keras seakan ingin pecah. Ayolah, sesungguhnya apa maksud laki-laki itu berbicara seperti itu.

Sedetik kemudian Nara dapat mendengar tawa keras dari bibir Luhan. Entahlah, tawa itu seakan menghancurkan harapan kecil di dalam hati Nara.

“Kau harus melihat wajahmu tadi. Lucu sekali” ujar Luhan sambil berusaha menahan tawanya. Nara menarik sudut bibir membentuk sebuah senyum paksa.

“Ya, aku saja ingin menertawakan diriku sendiri”

———-o————

Kau sibuk?

Nara menaikkan kedua alisnya saat membaca pesan itu. Ya, itu dari Luhan.

Tidak juga. Ada apa?

Nara mengirim balas pesannya ke laki-laki itu. Tidak sampai satu menit Luhan sudah membalasnya.

Mau menemaniku makan malam? Aku yang traktir

Nara sedikit tersenyum membaca pesan itu. Entahlah, Nara tahu laki-laki itu pasti hanya menatapnya sebagai teman tapi mau bagaimana lagi? Nara terlanjur menyukai laki-laki itu. Dan sangat sulit menghilangkan perasaannya mengingat sikap laki-laki itu padanya terlalu baik.

Baiklah, kita bertemu dimana?

Tidak apa-apa, Nara rela mengorbankan hatinya asalkan laki-laki itu terus memperhatikannya seperti layaknya ia juga menyukai Nara.

Tunggu saja dirumahmu, aku akan kesana.

———-o———–

Nara merasakan tangan besar itu menarik lengannya, menyuruh gadis itu untuk mengikuti langkah laki-laki itu. Mereka memasukki sebuah kedai makan kecil yang cukup ramai oleh pengunjung kemudian mendudukki tempat yang kosong.

“Udara dingin paling enak makan yang pedas-pedas” ujar Luhan sambil menggosokkan kedua telapak tangannya. Nara tersenyum kecil lalu menganguk menyetujui. Luhan memanggil pelayan kedai itu untuk memesan makanan mereka.

“Kau tidak praktek malam?” Tanya Nara membuka topik pembicaraan setelah mereka memesan. Sebenarnya hal itu yang ingin ia tanyakan semenjak kedatangan laki-laki itu.

“Tidak, ada yang menggantikanku di rumah sakit” jawab Luhan lalu meneguk minuman di cangkir miliknya. Nara menganguk mengerti.

“Bagaimana keadaan orang tuamu?” Kali ini Luhan yang bertanya. Nara mengangkat wajah memandang laki-laki itu sejenak kemudian menunduk menatap jari-jarinya.

“Appa pulang saat eomma sudah tertidur dan pergi sebelum eomma bangun. Selalu seperti itu” ujar Nara dengan suara parau.

Luhan diam sejenak kemudian menganguk pelan. “Jangan murung begitu. Aku mengajakmu kesini karena aku ingin melihatmu tersenyum dan melupakan sedikit masalahmu. Semua akan baik-baik saja” balas laki-laki itu mencoba menenangkan perasaan Nara.

Gadis itu hanya bisa tersenyum kecil mendengar perkataan laki-laki itu. Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Meja mereka mulai dipenuhi piring-piring berisi makanan. Mereka memanggang daging kemudian memakan kongbul.

Luhan menyodorkan sumpitnya yang sudah tercapit daging panggang matang ke mulut Nara. Gadis itu kaget dan dengan sedikit ragu menerima suapannya saat laki-laki mengatakan ‘daging yang ini sudah matang. Setelah makanan mereka hampir habis, Luhan memanggil kembali pelayan kedai itu untuk memesan cumi dengan tambahan saus pedas dan satu botol soju untuk dirinya.

Nara sempat mengejek Luhan dengan kata-kata lelaki pemabuk namun cepat disanggah oleh laki-laki itu. Ia mengatakan satu botol kecil soju tidak akan membuatnya mabuk kemudian mereka tertawa bersama.

Sungguh Nara menyukai saat-saat seperti ini. Suasana yang membuat hati senang. Dan Luhan benar, ia bisa melupakan masalahnya untuk beberapa saat ini. Dia berharap waktu bisa bergerak lebih lambat dan dia bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan laki-laki itu.

Mereka menyelesaikan acara makan mereka sekitar jam 9 malam. Luhan langsung mengantar Nara pulang seperti janjinya. Mereka berjalan berdampingan di sisi jalan setelah turun dari bus -Luhan memang tidak membawa mobil pribadinya-

Mereka terus mengobrol sepanjang jalan. Laki-laki itu merapikan poni Nara saat angin menerpa rambut gadis itu. Dan tentu saja membuat jantung Nara hampir melompat keluar.

Mungkin Nara terlalu bodoh membiarkan laki-laki itu terus melakukan hal-hal yang membuatnya jadi begitu banyak berharap. Ia tahu hatinya sudah terluka, namun tetap membiarkan laki-laki itu menggores hatinya lebih dalam dengan sikapnya terhadap Nara.

“Baiklah, terima kasih makan malamnya” ujar Nara mengucapkan terima kasih pada Luhan. Laki-laki itu menganguk sambil tersenyum kemudian menepuk puncak kepala Nara pelan.

“Setelah ini langsung tidur, ne?” balas Luhan dan tentu saja membuat wajah Nara memerah.

“N-ne, selamat malam”

Nara baru saja akan membuka pagar rumahnya, namun gerakkannya terhenti saat mendengar teriakkan dan disusul suara gaduh dari dalam rumahnya. Alis Nara terangkat kaget. Ia mengenali teriakkan itu. Ia sering mendengar teriakkan itu.

Nara menatap Luhan yang juga menyadari hal itu. Nara dengan tergesah-gesah masuk kedalam rumahnya disusul oleh Luhan. Pintu rumahnya tidak terkunci, tidak seperti biasanya, gadis itu berlari menghampiri Sehun yang tengah menangis di pojok rumahnya.

“Noona, eomma dan appa bertengkar lagi” tangis bocah itu. Nara langsung memeluk adik kecilnya itu dengan erat. Hatinya terasa miris mendengar tangisan adiknya tu.

“Tidak apa-apa, noona akan menenangkan mereka” ujar Nara dengan suara bergetar. Nara merasakan sentuhan dibahunya. Gadis itu menatap Luhan yang juga menatapnya dengan pandangan iba. Nara mencoba tersenyum sambil melepaskan pelukkannya dari Sehun.

“Oppa bisa menemani Sehun sebentar? Aku akan menemui eomma dan appa” ujar Nara lalu memberikan Sehun pada Luhan. Laki-laki itu menahan tangan Nara saat gadis itu beranjak pergi.

“Kau yakin bisa melakukannya?” Tanya Luhan dengan raut wajah cemas. Nara tersenyum kecil lalu melepaskan tangan laki-laki itu darinya.

“Kau mengatakan padaku bahwa hanya anak-anak merekalah yang bisa menyatukan mereka. Aku adalah anak mereka. Harusnya mereka bisa mendengarkan aku” gadis itu mulai melangkahkan kaki kedalam kamar orang tuanya. Luhan terdiam sejenak menatap punggung gadis itu kemudian menyusul dibelakangnya bersama Sehun.

Jantung gadis itu berdetak kencang. Ada rasa takut disela hatinya tapi inilah yang harus ia lakukan. Nara membuka pintu kamar orang tuanya dan pemandangan mengerikan terlihat disana. Kamar itu terlihat seperti kapal pecah. Pecahan beling dimana-mana, semua benda berserakkan dilantai. Sekuat tenaga Nara menahan air matanya.

“Bisakah appa dan eomma berhenti bertengkar?” teriak Nara dan langsung membuat makian dari muut orang tua berhenti.

“Kau tidak usah ikut campur, Nara!” teriak ayahnya.

“Apa kalian tidak malu pada anak-anak kalian sendiri. Setiap hari bertengkar. Aku sudah lelah dan muak mendengar pertengkaran kalian!” balas Nara dengan suara bergetar. Nara bisa melihat kilatan kemarahan dari mata orang tuanya namun Nara tetap memberani dirinya membuka suara.

“Sehun menangis mendengar pertengkaran kalian. Bahkan aku juga selalu ingin menangis mendengar kalian bertengkar. Apa kalian tidak bisa menjaga perasaan kami sebagai anak kalian” air mata Nara mulai jatuh di pipinya. Suara gadis itu mulai terdengar parau.

“Apa kalian tidak bisa seperti orang tua lain yang terlihat harmonis. Kenapa kalian harus bertengkar. Selesaikanlah masalah kalian dengan baik-baik. Aku tidak mau kalian seperti ini” Nara mulai menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Kedua orang tuaya terdiam dan tidak sanggup berkata-kata. Anak gadisnya yan terlihat selalu ceria sekarang menangis begitu keras dihadapan mereka. Rasa bersalah mulai menghinggapi hati ayah dan ibunya.

Ibu Nara menghampiri anaknya kemudian memeluk gadis itu. Mengucapkan kata maaf berkali-kali dan beberapa saat kemudian ayah Nara ikut menghampirinya dan juga mengatakan maaf pada Nara. Tangis Nara malah semakin kuat merasakan pelukkan kedua orang tuanya.

“Aku mohon jangan bertengkar lagi” ucap Nara dengan sesugukkan.

Luhan melihat itu semua dan hanya bisa tersenyum. Laki-laki itu mengisyarat Sehun untuk menghampiri mereka dan dengan cepat Sehun berlari kearah mereka kemudian memeluk kaki ayah dan ibu.

Nara menatap Luhan dengan tersenyum juga menangis. Gadis itu menggerakkan bibirnya mengucapkan kata terima kasih pada laki-laki itu. Luhan ikut tersenyum lalu menganguk pelan.

—————-o—————-

“Maafkan aku karena kau harus melihat kejadian ini” ujar Nara saat dirinya mengantar Luhan ke depan rumahnya.

“Tidak masalah. Itu hal yang manis” balas Luhan kemudian tertawa pelan. Nara ikut tertawa pelan. Wajah gadis itu masih telihat sembab karena habis menangis tapi perasaannya sudah jauh lebih baik.

“Terima kasih” ucap Nara pelan. Luhan menaikkan alis sedikit heran.

“Terima kasih untuk apa?”

“Untuk semuanya. Kau sudah banyak membantuku, menghiburku saat aku sedih. Dan bahkan, jika aku tidak menceritakan tentang keluargaku padamu mungkin saja hari ini tidak akan terjadi”

Luhan menarik sudut bibirnya mendengar kata-kata itu. Laki-laki itu menganguk pelan kemudian mengelus puncak kepala Nara.

“Hal itu tidak perlu dibesar-besarkan” balas Luhan.

Nara menggeleng cepat. “Kau sangat baik kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikkanmu” ujar Nara dengan wajah tertunduk saat laki-laki itu menarik tangannya dari puncak kepala Nara.

Mereka terdiam sejenak. Wajah Nara masih tertunduk sedangkan Luhan tidak lepas memandang Nara dengan senyumnya.

“Kau mau membalas kebaikkanku?” ujar Luhan dan membuat Nara mendongak menatapnya.

“Mm… ya, apa yang bisa kulakukan untuk bisa membalas kebaikkanmu” balas Nara dengan sungguh-sungguh. Laki-laki itu tersenyum lebar, lebih lebar dari biasanya dan cukup membuat Nara menatapnya herannya.

“Bagaimana kalau kau menikah denganku?”

“A-apa?” ujar Nara hampir berteriak. Apa lagi maksudnya mengatakan itu. “Ja-jangan bercanda” lanjut Nara dengan nada ketus. Gadis itu sedikit trauma dengan pernyataan seperti itu.

“Memangnya siapa yang bercanda?”

Nara menoleh cepat menatap laki-laki kaget namun sesaat kemudian ia mengalihkan wajahnya. Yang benar saja, laki-laki itu bilang dia tidak bercanda. Jantung Nara mulai berdetak tidak karuan dan semakin tidak karuan saat gadis itu merasakan sebuah tangan menarik dirinya untuk menatap sang pemilik tangan. Nara benar-benar merasakan dirinya kekurangan oksigen saat laki-laki bernama Xi Luhan itu berkata.

“Tamatkanlah kuliahmu setelah itu kita menikah. Kau tidak perlu bekerja karena aku yang akan menanggung biaya hidupmu”

THE END

43 thoughts on “Only You

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s