THE LAST DANCE

Gambar

THE LAST DANCE


 

EXO Fan Fiction by kwondami

Disclaimer: Standard disclaimer applied. I do not own the cast, all casts belong to themselves, but the story is mine. Non profit taken. You can find also at https://www.fanfiction.net/u/5016137/kwondami

Casts: Kim Jongin (Kai), You (OC)

Genre: Romance, Angst.

Rating: T / PG-15

Length: One Shoot, Words count: 2.068

Summary: “I do… I still love you, but we can’t.” Kau memeluk Jongin erat. Jongin hendak mengatakan sesuatu namun kau menginterupsinya. “Tapi kita berdua sama-sama tahu jika pernikahan ini merupakan sebuah kesalahan. This marriage doesn’t work. This marriage is a mistake.”

 


A/N: Story inspired by Dave Koz featuring Dana Glover – We Can Start All Over Again. I suggest you to listen this song while reading.

Halo readers-nim sekalian, perkenalkan saya kwondami.🙂 Sebelumnya saya lebih aktif menulis fics EXO shounen-ai/yaoi di FFn dengan penname yang sama. Ada yang pernah mampir ke sana? xD

Salam kenal, mohon bantuanya, dan please tinggalkan respon kalian supaya bisa tahu perasaan kalian setelah membaca ini.🙂

Di sini tokoh ‘Kau’ (You/OC) bayangin aja sebagai readers ya.🙂


 

 

 

 

Kim jongin berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke ujung meja, menyibukkan dirinya dari rasa bosan. Jongin mengecek arlojinya berulang kali. Jarum pendek telah menunjukkan angka sebelas sedangkan jarum panjang menunjuk angka lima.

Jongin menghela nafas pepat yang bergulung-gulung di paru-parunya.

Sudah lima jam ia menunggu. Namun kau belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran.

Ia lantas melemparkan pandangannya ke arah jendela kaca, memandangi Kota Seoul dari apartemen lantai tiga puluh tempatnya berada saat ini.

Sedetik kemudian, suara kenop pintu membuyarkan lamunannya. Kau melangkahkan kaki masuk, merasa heran dengan sepasang sepatu hitam di pintu depan.

Sepatu Jongin.

Kau mengedarkan pandangan mencari sosoknya diantara remangn lampu.

“Jongin?” kau memanggilnya di tengah kegelapan, setengah tak yakin dia memang berada di dalam.

“Oh, kau sudah pulang?” telapak kakinya berbenturan dengan lantai kayu. Jongin bergegas menghampirimu.

Kau menggapai-gapai saklar listrik untuk menyalakan lampu namun Jongin mendahuluimu dengan inisiatifnya.

Seketika, ruang tempatmu berpijak terang benderang.

Kau bisa melihatnya dengan jelas. Air muka Jongin nampak sekusut kemejanya. Tiga buah kancing terbuka di bagian atas, sedikit meloloskan tampilan dadanya yang bidang.

“Pekerjaanku selesai lebih awal, jadi kuputuskan untuk kemari,” katanya membuka awalan. “Untuk—” Jongin merasa sesuatu yang tajam mengganjal tenggorokannya. Ia kesulitan menyelesaikan kata-katanya.

“Untuk menyelesaikan urusan kita?” kau membantunya melengkapi kalimat yang belum selesai.

Jongin menatapmu dalam lalu tersenyum miris.

“Ya,” jawabnya pendek.

Kau melangkahkan kakimu mendekatinya. Sosok Kim Jongin masihlah sama seperti saat pertama kali kau melihatnya. Rambutnya hitam sedikit berantakan, kulitnya tan memberi kesan maskulin, bibirnya yang penuh, dadanya yang bidang, matanya yang bersinar ketika memandangmu. Ia selalu menatapmu dengan  penuh pemujaan. Namun kini sinar itu telah hilang digantikan dengan kesakitan dan keputusasaan.

Kalian berdua berdiri mematung, saling memandang, saling menghujam hati masing-masing dengan seribu pertanyaan.

“Aku—” Kau dan Jongin mengucapkannya hampir bersamaan. Ia tersenyum getir kemudian mempersilakanmu berucap lebih dulu.

“Aku sudah bicara dengan pengacaraku. Kau tinggal menandatanganinya lalu kita selesai,” tukasmu lugas.

Kau menyerahkan map berwarna biru dengan selembar kertas yang sudah dibubuhi tanda tanganmu dan nama jelas.

Jongin menatapmu dan benda yang kau sodorkan bergantian. Ada sirat kesedihan pada manik matanya.

Kau memalingkan wajahmu. Hatimu telah terlampau beku.

“Sebaiknya kau segera menandatanganinya agar semuanya cepat selesai dan kita bisa kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. Bukankah lebih cepat lebih baik?” lanjutmu lagi sambil tetap berusaha menjaga intonasi suara yang nyaris bergetar.

Jongin terdiam. Tapi kemudian bibirnya membuka lirih.

“Ya, tentu. Aku akan menandatanganinya malam ini. Karena itulah aku datang kemari.” Ia memberimu tatapan pilu sebelum meraih map yang kau sodorkan. Setiap huruf yang tertera membuat hatinya panas, sementara jarinya menelusuri lembaran kertas sampai pada bagian bawah bertinta biru; tanda tanganmu.

Ia menutup map lalu menggores sebuah senyum. Senyum yang sarat akan kesedihan dan penyesalan.

Jongin meletakkan benda itu di meja lalu berjalan ke arah jendela kaca. Binar hiruk pikuk lampu-lampu Kota Seoul menyita pandangannya sementara pikirannya menerawang.

Kau menatap punggungnya yang kokoh. Ia tetap membelakangimu.

Hening menyergap, jatuh diam-diam seperti gerimis di musim dingin. Kau dan Jongin sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Jongin…,” kau memanggil namanya dalam bisikan, mencoba memecah keheningan.

Ia menoleh cepat ke arahmu. Nampak sedikit terkejut karena kau memanggilnya. Kau melirihkan namanya.

Kau yang diliputi perasaan canggung hanya mendesis gugup, “Kau ingin wine?”

Jongin membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum kemudian mengangguk ringan.

 

***

 

Desis wine mengisi  malam. Menjadi perantara antara kau dan dirinya.

Jongin meraih gelas dari tanganmu kemudian berkata pelan, “Lucu sekali, pertemuan pertama kita diawali dengan secangir kopi—dan kini harus diakhiri dengan segelas wine.”

“Kopi yang tumpah,” kau mengoreksi.

Jongin tertawa kecil. Tawanya menggema dalam lorong hatimu, memberi secercah kehangatan pada hatimu yang beku.

“Yeah, kopi yang tumpah. Kopi yang ditabrakkan seorang gadis cantik sehingga menodai kemejaku.”

Kali ini kau yang tertawa. Kau mendelik ke arahnya, penasaran. “Kenapa saat itu kau tidak marah?” Kau letakkan gelas kristal di meja sementara dagu bertumpu pada lengan. Kau melirik ke arahnya antusias, mulai menikmati percakapan ini.

Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, nampak sangat rileks. “Aku pasti marah jika saat itu yang melakukannya bukan dirimu. Tapi karena yang melakukannya seorang gadis cantik bermata indah yang sudah lama kuperhatikan, jadi aku tak punya pilihan lain selain memaafkannya.”

“Gombal.”

“Kuanggap itu sebagai pujian.” Jongin mendelik jahil lalu tersenyum manis.

Tak ayal kau pun ikut tersenyum.

Kata-kata Jongin telah melayangkan ingatanmu pada hari di mana kau bertemu dengannya. Hari itu hari Senin. Bad Monday—hari yang tidak terlalu disukai oleh pekerja kantoran.

Saat itu jam makan siang ketika kau mengunjungi café favoritmu. Sedikit ketidaktelitian membuatmu menabraknya. Dan sialnya saat itu kau sedang membawa segelas kopi. Seluruh kemeja Jongin pun terkena limpahan noda hitam.

“Dan hari itu aku ada meeting dengan pemimpin perusahaan. Aku tak punya waktu untuk pulang ke rumah dan mengganti kemejaku,” lanjut Jongin.

Kau tersenyum geli.

“Jadi tuan Kim harus menghadiri meeting dengan noda kopi di kemejanya.”

“Tapi karena itu aku jadi punya alasan untuk meminta nomor ponselmu, untuk meminta pertanggungjawaban.”

“—dan selamat. Trikmu berjalan dengan sempurna.”

Kau dan Jongin mengukir garis lengkung di sudut bibir. Menyadari pertemuan pertama kalian yang begitu berkesan.

Menit-menit bergulir. Malam semakin merayap, tapi kau dan Jongin malah semakin larut dalam topik-topik berisi kenangan.

“—apa kau ingin berdansa?” tanya Jongin tiba-tiba. Tenggorokannya bergetar ketika mengucapkannya. Kau bisa melihat sinar permohonan pada binar obsidian miliknya.

Pandangan kalian kembali bertautan. Kau ragu.

Namun jemari Jongin bergerak perlahan untuk meraih tanganmu.

“Untuk terakhir kalinya. Bolehkah?” kali ini ia benar-benar memohon.

Kau membisu.

Sebelumnya, dirimu dan Jongin sama-sama bersikeras jika tidak ingin perpisahan ini terasa menyakitkan. Sejujurnya kau berharap sebuah perpisahan yang datar. Sedatar kehidupan pernikahan kalian berdua. Pernikahan yang sehari-harinya hanya berisi sapaan selamat pagi, kecupan kening sebelum berangkat ke kantor masing-masing, kemudian bertemu kembali pada larut malam ketika masing-masing merasa lelah bahkan untuk memberikan ucapan selamat malam.

Jongin meremas telapak tanganmu, tak sabar akan jawaban darimu.

Obsidian gelap miliknya menatapmu lurus. Tatapannya lembut, menebas semua keraguan yang ada di hatimu.

Kau tahu, Jongin tengah memohon. Ia memohon dengan caranya.

Kau balas meremas tangannya. Sebelah tangamu yang bebas kau gunakan untuk mengusap pipinya lembut. “Baiklah. Untuk terakhir kalinya…”

Senyum Jongin terkembang.

Ia lantas meraih remote, membuat pemutar musik di ujung ruangan menyala.

Musik klasik langsung saja mengalun lembut mendamaikan saraf tegang.

Jongin meraih tanganmu, megangkatnya tinggi kemudian mengecupnya. Kau terkekeh kecil akan kelakukannya.

Perlahan, ia membawa tubuhmu merapat. Mengeliminasi setiap jarak yang terbentang, sekaligus berharap dapat mengeliminasi jarang selebar jurang yang terbentang di hati masing-masing.

Sebelah lengannya yang kokoh ia letakkan pada pingganmu yang ramping. Sedangkan tangannya yang lain membawamu tubuhmu mengikuti irama.

Kau bergerak perlahan.

Ia dengan sabar menuntunmu. Sapuan napasnya yang hangat di lehermu membuat dirimu semakin jatuh ke dalam pusaran.

Tidak, ini tidak boleh terjadi…

Bukan ini perpisahan yang kau inginkan…

Melodi mengalir bak aliran sungai. Tubuh kalian semakin dekat tak berjarak.

 

Take a step back, turn around

Look at the world that you’ve let down

The damage is done you can’t replace it.

 

Kau memejamkan mata, membiarkan tubuhmu terempas seperti ombak di lautan.

 

These are the things your mind will tell you

These are the things your heart will say

These are the thoughts tat leave you hopeless

These are times you say

There is no way, no way…

 

Jongin begitu dekat, sekaligus terasa begitu jauh…

 

But as long as you are breathing

You can start all over again

If your heart’s beating

You can start all ove again

Goodbye sorrow, you can start all over again

.

Kau merasakan dirimu terhanyut dalam dekapan Jongin. Kau mendongakkan kepala, berusaha mencari bola matanya. Bola hitam itu bersinar dengan luapan kasih sayang melimpah ruah.

Tapi kau memalingkan wajah.

 

“Tidak bisakah…?” tanyanya memecah sepi.

“Tidak Jongin, tidak. Kita sudah membicarakan ini. Tidak bisa.”

Jongin mencium lembut rambutmu, mengisi paru-parunya dengan aroma lembut yang menguar. Nantinya ia akan merindukan aroma ini. Sekeras apapun Jongin berusaha, ia tahu keputusanmu sudah bulat.

Tanpa sadar, kau mulai menitikkan air mata.

Jongin terkejut mendapati cairan itu di sana. Ia lantas membelai pipimu lembut.

 

“—do you still love me?” lagi-lagi dia bertanya padamu.

 

Everything can change if all our things are new

The impossible is here and it’s crying out for you

Everything is gonna work out right

Just like we prayed it would

Growing miracle after making yes

.

I do… I still love you, but we can’t.” Kau memeluk Jongin erat. Jongin hendak mengatakan sesuatu namun kau menginterupsinya. “Tapi kita berdua sama-sama tahu jika pernikahan ini merupakan sebuah kesalahan. This marriage doesn’t work. This marriage is a mistake.”

Ia balas memelukmu erat. Kini bibirnya beralih ke lehermu, mengembuskan napas putus asanya di sana. “Can we? Please…?” Jongin tidak peduli jika ia harus memohon sampai bibirnya kering atau sampai berlutut sekali pun.

No, we can’t. I’m sorry… I’m sorry…” kristal bening lolos bersahutan dari matamu.

Dada Jongin bergemuruh. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa mengubah pendiriamu.

I’m sorry… I’m not a good husband for you. I’m such a jerk.” Jongin meminta maaf dengan semua penyesalannya yang terdalam.

Kau meletakkan jari telunjukmu di bibirnya, mencegahnya untuk semakin menyalahkan diri sendiri.

“Tidak Jongin, bukan kau. Tapi aku. Aku bukanlah istri yang baik untukmu. Aku bukanlah istri yang menyambutmu dengan senyum ketika kau terbangun di pagi hari, aku bukanlah istri yang menyambutmu dengan makan malam karena aku selalu pulang larut malam, aku bukanlah istri yang mendengarkan keluh kesahmu karena aku terlalu lelah dengan pekerjaan kantor. Bahkah Tuhan pun tidak mengizinkanku menjadi ibu bagi calon anakmu, aku—hiks—aku telah…”

—tanpa sengaja membunuh calon darah daging kita.

 

“Ssssttt… apa yang terjadi tahun lalu bukanlah kesalahanmu. Kau kelelahan, kita sudah sepakat akan hal ini bukan?” Jongin memejamkan mata, sekuat tenaga menghalau rasa sakit yang tiba-tiba menyergap. Ia teringat ketika dokter mengumumkan kandunganmu yang luruh.

Kau keguguran.

Jongin harus kehilangan harapan untuk menjadi seorang ayah. Calon buah hatinya harus dikeluarkan bahkan sebelum ia sempat mendengar tangisnya. Kau kehilangan bayimu karena kebodohanmu, karena kau lebih memetingkan pekerjaan daripada kondisi kesehatanmu.

Kau telah membunuh harapan Jongin. Kau telah membunuh harapan seseorang yang paling mencintaimu di dunia ini.

 

—maka aku tak pantas menjadi pendampingimu lagi…

 

Jongin mendaratkan ciuman lembut di bahumu seraya mengeratkan lengannya, berusaha mengalihkanmu dari tangis.

 

“Chagi…,” Jongin berbisik lembut di telingamu.

Kau terkesiap.

Rasanya sudah lama sekali ia melantunkan kata mesra ini.

“Chagiya…,” lirihnya lagi. Tangannya bergerak menuju kancing kemejamu. Tubuhmu sontak bereaksi kalor.

Kau ingin bergerak. Tapi pesona Jongin membuatmu luluh dalam permohonannya.

Pesona Kim Jongin. Orang yang esok akan menjadi mantan suamimu

Jongin mengecup pundakmu lagi. Kecupan yang membuat perutmu seakan siap menerbangkan seribu kupu-kupu.

Ia kemudian menatap bola matamu, lurus, lamat-lamat, sepenuh hati memohon.

“Bercintalah denganku.”

 

—untuk terakhir kalinya…

 

***

 

Wake up the perfect sun

The long night is over, a new day has begun

Oh yes, dare to believe mercy flows in the morning

 

Kau mengerjapkan mata. Sinar mentari menerobos kuat dari balik gorden, memaksamu terjaga. Kau mengerang lemah karena masih terkuasai kantuk. Efek wine semalam belum benar-benar lenyap dari tubuhmu.

 

—wine…?

 

Kau tersentak. Spontan kau memposisikan tubuhmu bangun. Menyadari tubuhmu tak berbalut apapun kecuali selimut yang menutupi membuat pipimu bersemu hangat. Kau mengalihkan pandanganmu ke sisi lain tempat tidur yang nampak acak-acakan.

Kosong.

 

“Jongin…?” kau meloloskan namanya di tengah asa.

 

Alih-alih menemukan Jongin, kau mendapati sebuah map biru. Dengan gemetar kau membuka isinya.

 

Jongin telah menandatangani surat perceraian kalian.

 

Perlahan, air mata lolos membasahi pipi. Kau memeluk lututmu, tindakan pengecut yang bisa kau lakukan. Pertahananmu runtuh.

Tangismu berderai makin deras.

 

Do you still love me?

I do… I still love you, but we can’t.

 

Menyadari tadi malam merupakan terakhir kalinya Jongin memohon padamu. Memohon agar kau kembali padanya.

 

Your spirit is set free

These are things in your mind will tell you

These arethe words your heart will say

These are the thoughts that leave your fearless

 

Dengan masih beruraian air mata, kau berjalan mendekati jendela.

Mulai pagi ini tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada pelukan hangat, tidak ada tatapan penuh pemujaan.

Tangismu meledak. Hawa kosong menyergap semua deru kesepian.

 

—tidak ada lagi Kim Jongin.

 

 

 

 

 

 

Kini semuanya telah berakhir.


FIN


Terima kasih sudah menyempatkan membaca.

Reviews are very welcome.🙂

Love,

kwondami.

23 thoughts on “THE LAST DANCE

  1. Huaaa malem-malem dibuat mewek. Serius, ini sedih banget. Saling cinta tapi kenapa harus cerai? Kan bisa diselesaikan dengan baik-baik. Aaaah, Kim Jongin 😢

  2. Aku cerai sma suamiku Jongin ?
    Ya g mungkin bgt lah, ,
    apa lg lw Jongin nya yg cinta bgt gtu sm q, hehe

    jalan crty’ udah bgus bgt thor,
    mnurut q emg end nya udh pas, sesuai m genre, lw nanti d sequel tkty’ mlh kluar dr ide utama author nya, hehe (sok tau ya q)😀

    o ia thor, mian jg nc, gmn lw cast KAU nya dgnti pke nama korea apa gthu, jd mskipun yg dcntumin nama orng lain, tp readery’ tetep bsa ngbyngin casty’ adlh reader sndri, ,hehe itu mnurut q loh,

    tp q suka yg crty’ marriage life,
    mian commenty’ kpnjngn, mian jg lw byk kslhn, ,🙂

    q tnggu krya slnjty’ ya thor,
    hwaiting😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s