Diposkan pada Angst, exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance, One Shoot, Oneshot, Se Hun

DREAMS

 Gambar

tiarasgrmh present

DREAMS

“It’s about Love, Hope, and Sacrifice”

EXO K’s Oh Sehun, GG’s Im Yoona

Rating: PG 17

Genre: Sad, Angst

Poster by: 

Ladyoong @highschoolgraphics.wordpress.com

a/n: Fanfict ini terinspirasi dari beberapa ff lain termasuk 10080. Alur mungkin pasaran, tapi ff ini murni hasil pemikiranku. Aku menghargai apapun bentuk reader. Tapi tolong, setidaknya hargai hasil karyaku dengan tidak membash ff ini.

ff ini udah pernah aku share di yoongexo.wordpress.com

.

.

.

Yoona membelai lembut, rambut seorang namja yang tiba-tiba saja datang dan tidur di pangkuannya. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman saat mengagumi setiap lekukan sempurna yang Tuhan ciptakan diwajah namja itu.

“Bagaimana latihanmu?” Yoona tahu namja itu belum benar-benar tidur.

“Seperti latihan-latihan sebelumnya, aku belum menemukan chemistry dengan lawan mainku,”

Yoona tersenyum, ucapan Sehun terdengar seperti balita yang putus asa karena belum hafal naskah pentas seni disekolahnya. “Fokuskan pikiranmu, Sehun-ah.”

“Sudahlah. Aku tak ingin membahas itu,” Sela Sehun. Untuk saat ini, pikirannya benar-benar suntuk. Pementasan teaternya sebentar lagi namun chemistry dengan lawan mainnya belum ia dapatkan. Dan tidur mungkin bisa sedikit membantu menyegarkan pikirannya.

 

Seperti yang biasa dilakukannya jika Sehun menidurkan kepalanya dipangkuannya, Yoona akan bersenandung kecil mengiringi Sehun menuju alam mimpinya.

“Kenapa berhenti?” tanya Sehun ketika Yoona menghentikan nyanyiannya.

“Kukira kau sudah tidur,”

“Aku masih ingin mendengar nyanyianmu,” jawab Sehun masih dengan mata terpejam.

Yoona mempaparkan senyum manisnya melihat tingkah Sehun. Ia kembali bernyanyi sesuai permintaan Sehun, tetap membelai lembut rambut namja itu. Guguran daun serta semilir angin musim gugur yang berhembus seakan mengiringi setiap lantunan kata yang keluar dari mulutnya.

Suara dan sentuhan lembut yang diberikan Yoona bak morfin yang membius bagi Sehun. Tak lama, ia pun benar-benar larut dalam tidurnya.

.

.

.

“Tak hanya teknik melukis, percampuran warnapun sangat mempengaruhi bagaimana hasil lukisan kalian,”

Yoona yang tengah asik dengan kelas melukisnya,  tiba-tiba saja meletakkan kuasnya, merogoh ponselnya yang bergetar dalam saku celananya.

 

From: Sehun

Aku ada latihan sore ini. Kau masih dikelas melukis, bukan? Pulanglah bersamaku nanti. 

 

Sudut bibir Yoona refleks terangkat membaca pesan Sehun. Segera diketiknya pesan balasan pada Sehun, lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku, melanjutkan kegiatan melukisnya yang sempat tertunda.

Langkah Yoona terasa ringan menuju ruang latihan teater, tempat Sehun berada. Ia tak henti-hentinya tersenyum sejak menerima pesan dari Sehun. Bahkan, saat jam kelas melukisnya selesai, ia bergegas membereskan peralatannya lalu menjadi orang pertama yang keluar dari kelas.

Dengan hati-hati, dibukanya pintu ruang latihan teater yang familiar baginya, berharap tak mengganggu kegiatan latihan yang sedang berlangsung. Senyum itu semakin terpampang jelas ketika ia melihat Sehun, tengah sibuk memaikan perannya sebagai tokoh utama diatas panggung sana. Jujur, Yoona mengakui kesempurnaan Sehun dalam berakting. Tak ada celah sedikitpun dimatanya untuk tak memilih Sehun sebagai tokoh utama dalam pementasan kali ini. Yoona heran, bagaimana bisa namja itu mengaku kesulitan berakting padanya sedangkan kemampuan aktingnya tak perlu diragukan lagi?

Mengingat moment ini tak seharusnya terlewat dengan sia-sia, Yoona segera mengambil kamera yang selalu disimpannya dalam tas. Mengabadikan setiap rinci gerakan akting Sehun yang selama ini, diam-diam membuatnya jatuh cinta.

“Kau harus membayar untuk setiap jepretan fotoku, Yoong,” Yoona menolehkan kepalanya, ia tersenyum ketika mendapati Sehun yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya.

“Bagaimana aktingku? Bagus, tidak?” Tanya Sehun saat Yoona kembali memerhatikan hasil jepretan fotonya.

“Aktingmu tak perlu diragukan lagi, Sehun-ah,” sahut Yoona tetap terpusat pada layar kameranya. Merasa diabaikan, Sehun pun mengeluarkan jurus ampuhnya, ia menyeringai menunjukkan smirk cheesy miliknya, lalu mencium kilat pipi kanan Yoona. Membuat Yoona terperanjat kaget hingga merasa detak jantungnya berhenti sesaat. Ia memberanikan diri menolehkan kepalanya menatap Sehun dengan wajah yang ia yakini semerah kepiting rebus saat ini.

“Kau tahu, aku paling tak suka kau abaikan, Yoong,” Ucap Sehun manja lalu mempoutkan bibirnya berpura-pura kesal. Ciuman tadi bukanlah yang pertama bagi Yoona. Sehun selalu bersikap manja bahkan tak jarang menciumnya seperti tadi jika merasa terabaikan olehnya. Yoona tentu saja ingat itu. Tapi sungguh, tadi ia memang benar-benar tak sengaja mengabaikan Sehun. Bukan karena ingin mendapatkan kesempatan dalam kesempitan.

Biasanya, Yoona tak segan-segan menjitak bahkan memukul Sehun jika namja itu berani menciumnya. Lalu tertawa bersama, menertawai apapun yang bisa ditertawai setelahnya. Biasanya. Namun tidak dengan saat ini.

Merasa canggung karena respon Yoona berbeda dari biasanya, Sehun pun kembali berbicara. “Kajja, kau harus menemani aku mencari film yang bisa membantu menyempurnakan aktingku. Ingat, kau tak bisa menolaknya. Ini sebagai tanda permintaan maafmu,”

Sehunpun menarik tangan Yoona agar mengikutinya, tak menyadari betapa tak karuannya detak jantung Yoona saat tangan Sehun menggenggam hangat tangannya. Dan Yoona harus mengakui satu hal, ia benar-benar jatuh dalam pesona Sehun.

.

.

.

Sehun sesekali melirik Yoona yang tengah terisak, terbawa dalam suasana film yang dibelinya tadi. Pikiran gadis itu benar-benar terpusat pada adegan-adegan yang sedang diputar sehingga tak menyadari suara microwave berbunyi, tanda popcorn yang dibuatnya telah jadi. Tahu ini adalah salahsatu kebiasaan Yoona jika sudah menonton film bergenre sad-romantic, Sehun pun melangkahkan kakinya menuju dapur, mengambil popcorn kedua mereka sebelum dingin.

Alih-alih kembali menonton film, Sehun justru menatap lekat Yoona yang asik dalam dunianya sendiri, mengabaikan situasi apapun disekitarnya.

“Yoong,” panggil Sehun berusaha mengalihkan perhatian Yoona.

Sehun menghela nafasnya pasrah, tak ada jawaban. Ia menatap tak minat popcorn yang dibawanya, sedikit menyesali keputusannya meminta Yoona menemaninya menonton film dengan genre ini.

“Sehun-ah,” bagaikan ibu-ibu yang menang undian, Sehun menatap antusias Yoona-gadis yang duduk disampingnya.

“Aku sudah tahu ending dari film ini,” ucap Yoona. Sehun mengernyitkan keningnya tak mengerti. Film ini bahkan belum selesai, hanya baru terputar setengah dari cerita sebenarnya.

“Maksudmu?”

Yoona  tersenyum menatap Sehun. “Kau tahu, di dunia ini, cinta dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan, hanya akan ada 2 ending, Sehun-ah. Bahagia—” Yoona menghirup nafasnya dalam-dalam, seakan kalimat lanjutannya adalah rantai besi yang mencekik lehernya.

“Atau menderita dengan perasaan cintanya,”

Sehun terpaku mendengar ucapan Yoona. Pepatah itu sudah pernah ia dengar sebelumnya dari banyak orang yang mengomentari hubungannya dengan Yoona. Hubungan antara lelaki dan perempuan yang dilandasi nama persahabatan. Tapi, mendengar pepatah itu terucap langsung dari mulut gadis itu…kenapa terasa menyesakkan?

Merasa apa yang diucapkannya sudah terlampau jauh, Yoona pun membuka obrolan, mencoba mencair suasana. “Kenapa kau menatapku seperti itu, eoh? Apa ucapanku membuatmu kagum?”

Yoona memukul pelan lengan Sehun. “Kau tak perlu takut, Sehun-ah. Pepatah itu tak berlaku bagi kita, iya, kan?” Sehun diam sejenak. Lalu mengganggukkan kepalanya ragu. Yoona tersenyum. Lebih tepatnya terpaksa tersenyum. Kemudian kembali mengalihkan padangannya menatap layar televisi, melanjutkan kegiatan menontonnya yang sebenarnya hanya kamuflase baginya.

.

.

.

Yoona menggoreskan pensilnya diatas salah satu lembar kertas putih yang dibawanya. Menyempurnakan setiap lekukan sketsa objek yang diam-diam menjadi objek lukisan favoritnya. Hembusan angin musim gugur yang semakin tak bersahabat sama sekali tak mengganggunya. Bahkan mendukung situasi hatinya tak karuan mengingat apa yang diucapkannya beberapa hari yang lalu pada Sehun.

 

Pepatah itu tak berlaku bagi kita, iya, kan?

 

Yoona menghentikan gerakan pensilnya, mendongakkan kepalanya menatap langit senja yang selama ini menjadi temannya berbagi rahasianya tentang Sehun. Ia menghembuskan nafasnya berat, kondisi ini sungguh menyiksanya. Mencintai yang tak seharusnya dicintai membuatnya harus menekan hingga mati tunas-tunas cintanya yang tumbuh setiap kali berdekatan dengan Sehun. Sedangkan namja yang  merupakan akar dari masalahnya, hampir setiap saat bersamanya.

Kisah cinta manis dan penuh perjuangan sang putri tidur, mungkin ia harus mengubur dalam-dalam impiannya tersebut. Impian itu terlalu mustahil baginya, teringat kisah cintanya yang terajut dalam persahabatannya sendiri. Membuatnya harus memilih diantara 2 hal yang terlampau penting baginya. Cintanya, atau persahabatannya dengan Sehun.

Tiba-tiba saja ponsel Yoona berdering. Diambilnya ponsel miliknya dalam saku, lalu tersenyum begitu nama ‘Sehun’ terpampang jelas  dilayarnya.

 

“Yeobseyo,” sapa Yoona.

 

Kau tak lupa nanti malam pementasanku, kan?” Tanya Sehun tanpa membalas sapaan Yoona. Terdengar suara bising khas kru-kru yang sedang bekerja disekitar Sehun.

 

“Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu bagi sahabatku, eoh?”

 

Baguslah jika kau mengingatnya. Kau tak apa berangkat sendiri?” Yoona tahu, akan merepotkan jika Sehun menjemputnya meskipun namja itu berkata sebaliknya.

“Tentu saja. Aku bukan gadis lemah, Oh Sehun.”

Baiklah. Sampai bertemu nanti, Yoong.”

Sambungan telfonpun terputus. Yoona menatap miris hasil sketsa yang dibuatnya tadi, lalu kembali menatap langit.

“Aku memang harus melupakannya, bukan?”

.

.

.

Seluruh penonton lantas berdiri memberi applause saat seluruh pemain yang berperan dalam pementasan berbaris sejajar diatas panggung membungkuk, memberi penghormatan. Tak terkecuali Yoona. Gadis yang duduk dibangku barisan keempat terdepan itu tak henti-hentinya tersenyum menatap seorang namja yang menjadi bintang malam ini, Oh Sehun.

Tatapan mereka bertemu. Sehun pun membalas senyuman Yoona.  mengisyaratkan agar gadis itu menemuinya dibelakang panggung nanti. Yoona hanya tersenyum menggangguk. Ia tahu maksud isyarat Sehun.

Setelah acara usai, Yoona pun berjalan menuju belakang panggung, menemui Sehun.

“Kau hebat, Sehun-ah.”

Sehun tersenyum bangga. Kalimat pujian yang terlalu sering didengarnya, namun terasa menyenangkan jika kalimat itu terucap dari Yoona. “Terimakasih, Yoong.”

“Maaf mengganggu kalian. Sehun, ada yang ingin bertemu denganmu.” Ucap salah seorang kru pada Sehun.

“Nuguseyo?” tanya Sehun.

“Sudahlah, cepat temui saja. Jangan membuatnya lama menunggu.” Ujar kru itu lalu pergi begitu saja. Sehun mengalihkan pandangannya pada Yoona, merasa tak enak jika meninggalkan gadis itu begitu saja.

“Pergilah. Sepertinya dia orang penting,” ucap Yoona memastikan bahwa ia tidak masalah.

“Baiklah. Tunggu aku didepan, aku akan mengantarmu pulang.” Ujar Sehun lalu berlalu meninggalkan Yoona.

.

.

.

Yoona berkali-kali melirik arloji yang melingkar pergelangan tangannya. Sudah satu jam berlalu, namun Sehun tak kunjung keluar. Yoona menbenarkan letak syalnya lalu mengeratkan jaket yang dikenakannya. Angin musim gugur terasa semakin dingin, tanda musim dingin akan segera datang.

“Yoong!” panggil seseorang. Refleks, Yoona membalikkan badannya mencari sosok yang memanggilnya. Dilihatnya Sehun berlari kearahnya dengan wajah sumringah.

Mata Yoona terbalalak kaget ketika Sehun tiba-tiba saja memeluknya. Menggoyangkan sedikit tubuh mereka yang berdempetan kekanan dan kekiri. Rasa hangat menjalar hingga keseluruh tubuhnya ketika hembusan nafas Sehun mengenai tengkuknya, menembus syal tebal yang melilit lehernya.

“Impianku untuk menjadi aktor dunia akan segera terwujud, Yoong!” ucap Sehun. Tanpa ragu, Yoona pun melingkarkan tangannya dipinggang Sehun, membalas pelukkannya.

“Benarkah? Chukkae, Sehun-ah!” jawab Yoona tak kalah senang. 

“Dan Jerman, akan menjadi saksi dunia pertama bagiku.”

Yoona mengernitkan dahinya bingung. “Jerman?”

“Ya, Jerman. Aku akan kesana akhir tahun nanti.” Yoona membeku ditempat. Pelukkannya merenggang. “A-apa maksudmu?”

Sehun melepaskan pelukkannya. Ditangkupkannya kedua pipi tirus Yoona dengan tangannya. Sedikit menunduk mensejajarkan pandangannya dengan Yoona.

“Orang yang menemuiku tadi, ia adalah perwakilan dari perusahan internasional yang sengaja mencari calon-calon aktor dan aktris baru untuk sebuah projek teater dunia. Dia melihat bakatku dan memintaku untuk ikut dengannya bergabung dalam projek itu. Aku tak mungkin menyia-nyiakannya, bukan? Ini kesempatan terhebat yang hanya datang sekali seumur hidup. Dan akhir tahun nanti aku akan terbang ke Jerman untuk memulai segalanya,” ujar Sehun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“L-lalu..kuliahmu?” tanya Yoona setengah tak percaya.

Sehun mengedikkan kedua bahunya. “Mereka akan mengurusnya,”

“Bagaimana denganku?” Entah keberanian darimana, kalimat itu terucap begitu saja dari mulutnya.

Sehun tak bergeming. Ia melupakan satu hal diantara dua hal terpenting selain impiannya, Yoona.

“Kau..bisa ikut bersamaku.” Ucap Sehun akhirnya. Yoona menatap kecewa tepat dimanik mata Sehun. Ia tahu itu hanya jawaban spontan Sehun.

“Tidak, Sehun. Aku tak bisa meninggalkan kehidupanku disini.” Tolak Yoona mencoba tersenyum.

“Tapi—“

“Kau tak perlu memikirkanku. Aku akan baik-baik saja. Impianmu tetaplah impianmu. Kau harus mengambil tawaran itu, dengan, atau tanpa aku.”

Perlahan, tangkupan tangan Sehun turun menuju kedua sisi bahu Yoona. Berusaha mencari celah keraguan pada mata rusa gadis itu atas apa yang diucapkannya.

“Aku akan menyusulmu setelah aku mendapat gelarku tahun depan.” Ucap Yoona mencoba meyakinkan Sehun.

Menyerah, Sehun pun menghembuskan nafasnya pasrah. “Janji?”

Yoona menggangguk mantap, berusaha bersikap tegar, setidaknya didepan Sehun. “Ya, aku berjanji.”

.

.

.

Yoona menatap salju pertama yang mulai turun diluar jendelanya. Mengabaikan kanvas putih yang sedari tadi menantinya untuk dilukis. Tatapannya kosong, namun airmatanya terus saja mengalir membentuk sungai kecil dipipinya. Ponselnya tak henti-hentinya berbunyi tanda panggilan serta puluhan sms masuk sejak 4 jam yang lalu. Yoona tahu Sehunlah yang mengabarinya. Namja itu pasti telah menunggu kedatangannya sebelum pesawat yang mengantarnya menuju pintu gerbang impiannya lepas landas. Bukan maksudnya membuat Sehun khawatir karena menghilang begitu saja. Ia hanya ingin membiarkan Sehun pergi, merelakannya. Karena jika Yoona berada disana, ia yakin akan bersikap sebaliknya. Dan menjadi penghambat bagi kesuksesan Sehun.

Banyak orang berkata, jika kita memikirkan seseorang pada saat salju pertama musim dingin turun, orang itu adalah takdirnya. Dan selama bertahun-tahun, Yoona telah merelakan setiap detik waktunya menunggu salju pertama turun, untuk  berharap Sehunlah takdirnya.

Namun ia sepertinya harus mulai berpikir realistis, tidak percaya lagi dengan mitos-mitos masyarakat yang beredar.

Karena pada kenyataanya lah, Sehun pergi. Tepat disaat salju pertama turun.

.

.

.

Berlin-tegel Airport, Germany, 2014

Yoona mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru bandara. Senyumnya terpampang jelas diwajahnya ketika menyadari dimana kakinya menginjak sekarang. Tepat satu tahun, ia menepati janjinya pada Sehun setelah meraih gelar seniman pada namanya.

Dan pandangannya terhenti pada sosok lelaki berpostur tubuh tinggi disebrang sana. Dengan setelan pakaian formal serta ponsel yang menempel ditelinga kirinya. Sosok itu..tak lain adalah sahabatnya. Lelaki yang selama satu tahun ini membuatnya tak bisa bernafas lega, sosok lelaki yang meninggalkannya demi impiannya, dan tak dapat dipungkiri, sosok lelaki yang sangat amat ia rindukan.

1 tahun dan tak banyak yang berubah darinya. Hanya postur tubuhnya yang terlihat semakin tinggi, rambut coklatnya yang sekarang berwarna pirang, dan style pakaian yang ia kenakan. Yoona bisa bernafas lega sekarang. Sehunnya hidup sangat baik selama ini.

Ponsel Yoona berbunyi. Terpampang dengan jelas nama ‘Sehun’ disana.

“Kau sudah dimana?” tanya Sehun to the point.

“Kau terlihat mengagumkan, Oh Sehun.” Ucap Yoona. Sehun lantas mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru, ia yakin Yoona berada disekitarnya.

Waktu terasa berhenti ketika iris pure hazel Sehun bertemu dengan iris madu Yoona. Mereka hanya berdiri ditempat menatap satu sama lain, mengabaikan keadaan disekeliling mereka yang ramai dengan orang berlalu-lalang. Seakan hanya ada mereka berdua di dunia ini, Oh Sehun dan Im Yoona.

Sehun mengambil langkah terlebih dahulu. Dihampirinya gadis bersurai coklat itu lalu dalam satu hentakan, menggiringnya kedalam dada bidangnya. “Kau datang, Yoong.” Ucap Sehun lirih. Selama satu tahun yang ia lalui, saat ini lah yang selalu ditunggunya. Bertemu kembali dengan Yoona.

Yoona tak berbicara apapun menanggapi ucapan Sehun. Baginya, berada dalam pelukkan hangat Sehun sudah cukup untuk membuktikan apa yang ia janjikan.

Merasa sudah cukup dengan acara melepas rindu, Sehun pun melepaskan pelukkannya. Ditatapnya dalam-dalam setiap inci lekukan wajah Yoona yang selama ini membuat tidurnya tak nyenyak.  

Hallo,” sapa Yoona dengan aksen Jerman yang ia pelajari.

Sehun terkekeh pelan. “Yoong,”  

Lange nicht gesehen, Sehun-ah.” tanya Yoona menunjukkan kemampuan berbahasanya.

“Wah, kau sudah pandai berbahasa Jerman rupanya.” Sehun mengacak pelan puncak kepala Yoona.

“Tentu saja. Aku harus bisa berbahasa Jerman karena kau tinggal disini.” Jawab Yoona tanpa melepaskan senyumnya.

Sehun tak dapat menahan sudut bibirnya untuk tidak tersenyum  mendengar alasan Yoona. “Ayo, pulang. Aku tahu kau lelah. Beristirahatlah di apartementku.”

Yoona hanya menggangguk, menyetujui usulan Sehun. Sejujurnya Yoona tak merasakan lelah sama sekali. Ia terlampau senang karena akan segera bertemu Sehun. Dan sekarang, namja itu berada disampingnya. Tak ada salahnya jika ia ingin tetap berada disisinya, bukan?

.

.

.

“Bagaimana dengan projek itu?” tanya Yoona membuka obrolan.

“Jika tidak ada hambatan, akan dimulai  bulan depan.” Jawab Sehun menyodorkan segelas coklat hangat pada Yoona. Yoona menggangguk menerima sodoran Sehun.

“Kau tahu, kau terlihat sangat dewasa sekarang,”

“Memang seharusnya begitu, bukan?”

Yoona menyesap coklat hangatnya. Pandangannya teralih pada setiap sudut ruang apartement Sehun. “Apa kau yang menata semua ini?“ tanya Yoona.

“Tidak. Temanku datang membereskan dan menatanya.” Jawab Sehun.

“Teman?”

“Ya, dia juga lawan akan menjadi mainku nanti.”

Yoona terdiam. Ada sedikit perasaan tak rela dalam dirinya ketika mendengar jawaban Sehun.

“Kau masih terlihat terlalu kurus, Yoong. Apa kau makan dengan baik?” tanya Sehun.

“Aku memang terlahir dengan tubuh kurus, Sehun. Memangnya kau? Pipimu terlihat tembam sekali,” balas Yoona tak mau kalah.

“Benarkah? Aish, Jinjja. Gadis itu, dia bilang masakan buatannya adalah makanan sehat. Tapi mengapa seperti ini eoh?” omel Sehun mencubit kedua pipinya. Memastikan kadar ketembaman pipinya tak separah yang ia bayangkan. Sedangkan Yoona memantung mendengar sebuah kata yang terselip dalam ucapan Sehun, gadis itu.

“Sehun-ah,”panggil Yoona.

Sehun menghentikan kegiatannya. Lalu menolehkan kepalanya menatap Yoona.“Gadis itu.. Nuguya?”

“Ah, dia teman sekaligus lawan mainku, Krystal Jung.”

.

.

.

Hari demi hari berlalu. Kini Yoona tak lagi tinggal di apartement Sehun. Ia berhasil mendapat izin Sehun untuk menyewa sebuah apartement sendiri, dengan syarat letaknya tak terlalu jauh dari apartement milik Sehun.

Ya. Yoona telah memutuskan untuk tinggal di Jerman untuk beberapa tahun kedepan. Mendalami sejarah seni di Negri Hitler sekaligus menemani Sehun tentunya.

Awalnya ia yakin, seiring dengan berjalannya waktu, perasaannya terhadap Sehun akan memudar. Ia akan kembali melihat Sehun hanya sebagai sahabatnya, tidak lagi memandangnya sebagai ‘lelaki’. Namun sepertinya, jarak dan waktu bukanlah titik masalah disini. Ia dan Sehun sering berhubungan lewat Video Call. Bertukar cerita hingga larut malam waktu Korea. Tak ada yang perubahan berarti diantara mereka. Yoona masih menatap Sehun dengan cara yang sama. Sebagaimana seorang wanita melihat lelaki.

Dan setelah kedatangannya, Sehun seringkali menghabiskan waktu bersamanya. Berkunjung ke apartementnya untuk makan malam dan mengajaknya mengunjungi tempat-tempat yang mengagumkan diakhir pekan. Yoona sering bertanya, apakah boleh jika ia menunggui Sehun berlatih seperti dulu. Dan jawaban Sehun berbeda namun selalu sama, Tidak. Mungkin Sehun tak mengatakannya secara gamblang, namun Yoona tahu Sehun menolaknya. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sehun darinya. Sesuatu yang benar-benar tidak boleh diketahui olehnya, itu berarti, sesuatu yang sangat penting.

Hingga pada akhirnya, Yoona memberanikan diri datang ketempat latihan Sehun tanpa sepengetahuan namja itu.

Tinggal beberapa langkah lagi ia sampai, langkahnya terhenti. Iris matanya menangkap sebuah pemandangan yang menjawab rasa penasarannya akan hal yang disembunyikan Sehun selama ini. Tepat didepan gedung latihan, dilihatnya Sehun tengah berdiri bersama seorang gadis. Seakan tak peduli keadaan sekitar yang menjadikan mereka sebagai objek penglihatan, mereka sedang memadu kasih dalam sebuah tautan bibir yang manis.

Dan lagi-lagi, ia memikirkan Sehun tepat disaat salju pertama di Jerman turun.

.

.

.

Jika kebanyakkan orang ingin segera pulang dan menyalakan penghangat ruangan lalu meringkuk dalam balutan hangat selimut diatas kasur, Yoona justru nekat menyusuri setiap jalan ditengah-tengah turunnya salju. Tak peduli dengan statusnya sebagai orang asing yang baru tinggal beberapa minggu di Jerman, yang ia lakukan hanya terus berjalan tanpa arah. Jika ia pulang, maka kemungkinan besar ia akan bertemu Sehun. Yoona belum siap. Setidaknya ia butuh beberapa saat untuk kembali mempertebal topeng sandiwara yang selalu ia gunakan.

Dan disinilah langkahnya bermuara. Disebuah sungai yang entah apa namanya. Yoona menopang kedua sikunya diatas pembatas sungai, menatap kosong aliran air sungai yang mulai membeku. Tak peduli betapa sakitnya tulang-tulang tubuhnya karena udara dingin yang sedaritadi menusukinya.

“Yoong!” Seseorang menarik bahunya, membuat tubuhnya berbalik.

“Se-Sehun?” Ucap Yoona terbata-bata. Ia sedang mati-matian menghindari Sehun, namun kini namja itu berdiri tepat dihadapannya. Dengan penampilan yang sedikit berantakkan serta nafas yang tersenggal-senggal, terlihat dengan jelas raut kekhawatiran padanya.

“Kemana saja kau?! Mengapa masih berada diluar dengan cuaca seperti ini?!” Yoona diam. Untuk kali ini, ia benar-benar tak bisa memaksakan senyumnya.

“Tidakkah kau berpikir betapa khawatirnya aku, berkunjung ke apartementmu dan aku tak menemukanmu disana? Dan bagaimana bisa kau berada di tempat sejauh ini dimalam hari?! Bagaimana jika  kau tersesat? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?! Tidakkah kau berpikir sejauh itu?! Tidakkah kau memikirkan perasaanku?!” suara Sehun meninggi.

Yoona menunduk menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangisnya.

“Jawab aku, Im Yoona!” Seru Sehun. Yoona tak dapat lagi menahan tangisnya. Topeng sandiwara dan Sehun yang melihatnya menangis, masa bodoh dengan itu.

“Memangnya apa yang harus kujawab? Apa aku harus berkata jika aku melihatmu berciuman didepan gedung latihan dengan seorang gadis? Apa aku harus mengakui kalau aku tak rela kau bersama gadis lain? Apa aku harus mengakui perasaanku padamu? Aku mencintaimu, Oh Sehun. Aku mencintaimu. Bukan mencintai seperti apa yang seharusnya, tetapi mencintaimu sebagai seorang wanita. Dan apa aku harus mengatakan padamu betapa menderitanya aku dengan perasaan ini?”

“Bukankah aku terlihat sangat menyedihkan? Mencintai apa yang tak bisa dicintai. Melanggar apa yang pernah kuucapkan dahulu, bahwa aku takkan memiliki perasaan lebih padamu. Bahkan aku ragu pantas atau tidakkah aku bertanya ini padamu, Tidakkah kau memikirkan perasaanku?” Yoona mengalihkan pandangannya kesamping, menghindari tatapan tak percaya Sehun mendengar apa yang diucapkannya.

“Yoong,”

“Sudah malam. Aku akan pulang sekarang,” ucap Yoona mengabaikan panggilan Sehun. Baru ia ingin melangkahkan kakinya, tangan kekar Sehun lebih dulu menariknya kedalam pelukkannya. Pelukkan hangat yang selalu ia rindukan.

“Maaf,” ucap Sehun pelan.

“Jika saja aku memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padamu saat itu, semua ini takkan terjadi. Maafkan aku karena telah meminta gadis lain menjadi yeojachinguku sedangkan perasaanku sepenuhnya padamu. Aku hanya mencoba melindungi persahabatan kita selama ini. Tapi, tak bisakah kau bertahan untukku lagi?  Tak bisakah kau tetap disampingku? Karena aku juga mencintaimu, Yoong.”

Tangis Yoona semakin menjadi-jadi. Ia tak menyangka Sehun juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

 

“Kumohon, Yoong”

 

Dipeluknya erat tubuh Sehun, menggangguk dalam dada bidang namja itu. “Ya, apapun untukmu, Sehun-ah.”

.

.

.

Yoona melenguh ketika cahaya matahari masuk mengenai matanya. Memaksanya untuk membuka mata dan bangkit dari tidur nyenyaknya. Senyum kini terukir diwajahnya saat menyadari sebuah tangan kekar masih melingkar erat di pinggangnya. Yoona membalikkan badannya menghadap seorang namja pemilik tangan tersebut. Senyumnya mengembang makin lebar ketika ia menatap wajah polos namja itu saat tidur. Dengan yakin, Yoona merapikan rambut Sehun yang sedikit menutupi matanya. “Gutten morgen, Sehun-ah,” bisik Yoona tepat ditelinga Sehun. Sekali lagi, ia menatap wajah Sehun. Mengagumi setiap inci seni pahatan yang Tuhan buat diwajahnya. Tak ada cacat sekalipun, sempurna.

 

Yoonapun melepaskan pelukkan Sehun dipinggangnya hati-hati. Duduk ditepi ranjang merapikan kemeja Sehun yang kebesaran ditubuhnya. Entah sejak kapan kebiasaan ini berlangsung. Ia hanya akan tidur jika mengenakan kemeja Sehun. Dan Sehun tidak masalah dengan itu. Dengan senang hati, ia membiarkan gadis itu melakukan apapun sesukanya selama itu membuatnya senang.

Baru ia akan melangkah, tangan Sehun menahannya. “Kau mau kemana?” Tanya Sehun dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Yoona tersenyum. “Hanya ingin membuatkan sarapan untukmu,” cengkraman Sehun menguat di pergelangan tangannya. Kesadaran Sehun sudah sepenuhnya pulih. “Kau melupakan sesuatu, Chagi.” Sehun menampikkan senyum termanisnya, membuat Yoona terkekeh pelan melihatnya. Seakan mengerti maksud senyuman Sehun, Yoona lantas menunduk mengecup kilas bibir Sehun. Namun Sehun tak kunjung membuka matanya, namja itu justru tersenyum makin lebar seperti yang biasa dia lakukan jika menginginkan lebih. “Hanya satu kecupan dipagi hari, dear. Tidak lebih,” Ujar Yoona tersenyum penuh kemenangan lalu berlalu meninggalkan Sehun yang kini mempoutkan bibirnya karena jurus aegyonya gagal.

.                                                                    

.

.

Yoona tersentak kaget ketika tangan kekar Sehun memeluknya dari belakang, membenamkan kepalanya dilehernya. Membuat Yoona merasakan sensasi tersendiri ketika hembusan nafas Sehun mengenai daerah sensitifnya tersebut.  

“Kau sudah selesai mandi?” Tanya Yoona.

Sehun menggangguk dalam pelukkannya. “Aku membuatkan pancake kesukaanmu. Makanlah sebelum dingin,”

“Kau tidak makan?” Yoona tersenyum mendengar pertanyaan Sehun. “Nanti. Setelah aku membersihkan diri terlebih dahulu,”

“Perlu kutemani?” Tawar Sehun manja, membuat Yoona yang mendengarnya terkekeh geli. “Kau tidak keberatan mandi 2 kali?”

“Jika itu menemanimu, tidak masalah bagiku,” ucap Sehun merapatkan pelukannya tepat setelah Yoona membalikkan tubuh menghadapnya. Mempersempit jarak diantara keduanya.

Yoona bertindak sedikit agresif, ia mengalungkan tangannya dileher Sehun lalu mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka bersentuhan. “Jauhkan pikiran mesummu itu, Tuan Oh,” ucap Yoona tersenyum puas setelah mencium singkat bibir Sehun.

“Aku mandi dulu,” Dengan cekatan Yoona melepas tautan diantara mereka kemudian berlalu menuju kamar mandi.  Sehun tak dapat menahan senyumnya bahkan saat sosok Yoona telah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Yoona bagaikan matahari untuknya, menghidupi tak hanya raganya, namun juga jiwanya. Yoona telah menjadi bagian dari dirinya. Ya, bagian dari dirinya yang tersembunyi.

.

.

.

“Sehun? Kau mau kemana?” Tanya Yoona saat melihat Sehun sedang  mengganti pakaiannya dengan kemeja formal.

“Mandimu sudah selesai, Yoong? Ah, iya, Aku harus menghadiri konferensi pers teaterku tadi malam bersama Krystal.” Entah Sehun menyadari atau tidak, raut wajah Yoona berubah. Kegiatan mengeringkan rambutnya dengan handuk pun terhenti.

“Tidak apa-apa, kan?” Yoona memaksakan senyumnya. “Gwenchana,

Sehun tersenyum menghampiri Yoona. Memejamkan mata mencium lembut kening Yoona seperti yang biasa ia lakukan satu tahun terakhir. “Aku pergi dulu. Jangan lupa sarapanmu,” titah Sehun lalu mengacak pelan puncak kepala Yoona.

Yoona tak bergeming dari posisinya bahkan setelah Sehun benar-benar pergi. Ia menatap kosong sekelilingnya serta kemeja putih Sehun yang membalut tubuhnya bergantian. Satu tahun, ia sudah bertahan satu tahun.

Yoona melangkahkan kakinya mendekati sebuah pigura foto yang berada di sisi kanan ranjang Sehun. Foto Sehun dengan seorang gadis yang tak lain kekasih sekaligus lawan mainnya dalam projek teater dunia, Krystal. “Aku juga kekasihnya. Tapi…mengapa hanya kau yang bisa menampakkan diri?”

.

.

.

“Ya, hubungan kami sudah berjalan sekitar satu tahun. Ah, Sehun ya? Hm.. Dia sosok lelaki yang di idam-idamkan wanita. Dia memperlakukanku sangat manis, seperti seorang putri kerajaan sungguhan,”

 

“Bagaimana denganmu, Sehun? Bagaimana pendapatmu tentang Krystal?”

 

“Hanya ada satu kata yang cocok untuknya, sempurna.” Sehun tersenyum menggenggam tangan Krystal.

 

“Aku mencintainya. Dan aku yakin, dia juga mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Kami berdua saling mencintai, iya,kan, sayang?” Ucap Sehun  memandang lurus kearah Krystal dengan senyum termanisnya. Senyum yang juga lelaki itu tunjukkan padanya.

 

Yoona menatap miris layar TV apartementnya. Lebih tepatnya sorotan kamera yang menangkap sosok dua insan yang kini tengah asik berciuman didepan khalayak banyak. Sehun dan Krystal. Siapa yang tak mengenal pasangan terpanas tahun ini? Tokoh utama dalam projek teater dunia. Semua orang yang melihatnya pasti mengatakan kalau mereka pasangan yang serasi baik dikehidupan nyata maupun seni peran. Yoona tak bodoh. Ia tahu betul Sehunnya juga mencintai Krystal. Tatapannya pada wanita itu cukup menjelaskan semuanya. Tatapan yang sama yang biasa Sehun tunjukkan padanya. Dan jika harus ada yang pergi, maka sudah jelas. Ia lah yang harus pergi.

 

Namun apa dayanya? Ia juga mencintai Sehun. Bahkan sangat mencintainya. Sehun selalu mempunyai banyak cara untuk meyakinkannya saat Yoona mulai ragu. Hanya dengan dua kata sederhana ‘aku mencintaimu’ dan berakhir dengan sebuah ciuman manis, semua keraguan itupun sirna. Seakan seluruh rasa sakit yang ia alami bukanlah perkara penting untuk diperjuangkan. Dan, inilah Yoona sekarang. Menjadi sisi gelap seorang Oh Sehun. Sisi gelap yang selamanya takkan berubah menjadi sisi terang, sisi gelap yang hanya bisa mengikuti kemanapun Sehun pergi, tanpa bisa menunjukkan diri jika ia juga bagian dari Sehun.

Namun Sehun juga mencintainya. Namja itu hanya tak bisa memilih, Yoona tahu itu. Dan belajar memahami keadaan Sehun adalah salah satu caranya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga pantas menjadi bagian dari diri Sehun. Walaupun hanya bagian tergelap yang tersembunyinya. 

.

.

.

“Aku merindukanmu,” ucap Sehun tepat ditelinga Yoona. Dipeluknya gadis itu dari arah belakang lalu membenamkan kepalanya pada bahu mungil Yoona, seperti yang selalu ia lakukan.

Yoona memandang kosong kearah luar jendela apartemennya. Paku rasa sakit yang Sehun tancapkan masih tertanam erat dihatinya. Menambah koleksi paku kesakitan yang selama ini ia dapatkan. “Bagaimana konfrensi persmu? Lancarkah?” tanya Yoona berusaha bersikap senormal mungkin.

“Ya. Mereka menanyakan banyak hal padaku. Tak kusangka projek teaterku sukses disini,”

Yoona memaksakan dirinya tersenyum. “Aku senang mendengarnya,”

“Hanya itu? Tidak ada ‘hadiah’ untukku?” goda Sehun.

“Akan kupanaskan makan malam untukmu,” ucap Yoona melepaskan tangan kekar Sehun yang melingkar erat dipinggangnya, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Sehun.

Sehun menatap heran sosok Yoona yang kini sibuk berkutat didapur. Tak biasanya yeoja itu menghindari pelukkan bahkan tatapannya. Apa aku berbuat salah dengannya?

Sehun mendekati meja makan saat melihat Yoona telah selesai menyiapkan makan malam untuknya. Yoona hanya duduk dalam diam menemani Sehun makan. Tak ada satu patah katapun yang terucap darinya. Sangat berbeda dari Yoona yang selama ini dikenalnya.

“Kau tidak makan?” tanya Sehun memecah keheningan diantara mereka.

“Aku sudah makan tadi,” Bohong. Sejak tadi siang tak secuilpun makanan yang masuk kedalam tubuhnya. Nafsu makannya menguap begitu saja menjadi air mata yang tak ada habisnya.

Sehun tak sebodoh itu. Fisik Yoona menampikkan kejanggalan baginya. “Benarkah? Kau terlihat pucat, Yoong. Apa kau sakit?” tanya Sehun khawatir.

“Tidak,” Ya, aku sakit, Sehun-ah. Tak hanya ragaku, tapi juga hatiku.

Sehun menghentikan acara makannya. Ia menatap lekat wajah Yoona seakan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. “Ada apa denganmu, Yoong?”

“Apa? Memangnya apa yang terjadi padaku?” Yoona balik bertanya. Sehun tak perlu tahu tentang perasaannya sesungguhnya. Ia tak ingin membebani Sehun. Yoona mencintainya. Hanya itu yang perlu Sehun tahu.

“Makanmu sudah selesai, bukan? Aku akan kekamar, kepalaku sedikit pusing,” ucap Yoona sebelum Sehun kembali menanyainya.

Kejanggalan itu semakin terasa. Yoona tiba-tiba saja mengaku pusing sedangkan tak sampai satu menit sebelumnya ia berkata bahwa dia baik-baik saja.

Yoona dengan cepat menghapus airmatanya yang sedari tadi mendesak keluar ketika mendengar decitan pintu kamarnya terbuka. Ia tahu, Sehun lah yang memasuki kamarnya. Tiba-tiba saja, Sehun kembali melingkarkan tangannya memeluk Yoona dari belakang. Merapatkan tubuhnya dengan Yoona hingga punggung yeoja itu menempel dengan dada bidangnya.

“Apa sebegitu pusingkah?” Sehun tahu Yoona tak benar-benar tidur. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran gadisnya itu.

Sehun memejamkan kedua matanya, menghirup oksigen disekitarnya yang bercampur wangi lavender rambut Yoona. “Maaf,”

“Maafkan aku, Yoong. Aku memang tak tahu apa yang membuatmu bersikap seperti ini. Tapi, kurasa akulah penyebabnya,”

“Terkadang aku berpikir, sepertinya aku terlalu jahat padamu. Memintamu untuk tetap bersamaku tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu. Memintamu untuk selalu menjadi bayanganku tanpa memikirkan betapa tersiksanya kau dengan semua ini. Mungkin aku tak pantas mengucapkan hal ini padamu, tapi, aku mencintaimu, Yoong. Sangat mencintaimu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa dirimu. Jadi, kumohon. Tetaplah disisiku apapun yang terjadi. Tetaplah menjadi bayanganku meskipun semua orang mencoba menghapusmu,”

Sehun mengecup lembut bahu Yoona. “Tidurlah. Kau harus beristirahat. Aku akan pulang ke apartementku malam ini,” Sehun pun beranjak dari posisinya, berjalan mendekati pintu. Baru tangannya meraih knop pintu, ia membalikkan badannya kembali berjalan mendekati Yoona. Mencium dalam kening Yoona seakan ingin Yoona tahu betapa ia mencintainya. “Gutten abend, Yoong. Ich liebe dich,”

 

Yoona meremas erat ujung bantalnya. Mati-matian menahan luapan airmatanya yang terus mendesak keluar.  Namja itu tak berbohong, Yoona bisa merasakan itu.

.

.

.

Yoona terjaga semalaman, ucapan Sehun terus membayanginya, Tak seharusnya ia menambah masalah Sehun dengan bersikap seperti kemarin malam pada lelaki itu. Yoona memantapkan hatinya, dipencetnya tombol-tombol deretan angka kata sandi apartement Sehun yang ia hafal diluar kepala.

Yoona terdiam sesaat melihat keadaan apartement Sehun. Botol-botol alkohol berserakkan disekitar sofa, tempat Sehun tertidur saat ini. Namja itu terlihat sangat kacau, bahkan lelaki itu tidur dengan pakaian yang dikenakannya semalam.

 

Apa semua ini karenanya?

 

Ia mendongakkan kepalanya, mencegah dirinya kembali menangis. Tangannya terkepal erat, mencoba menormalkan deru nafasnya yang memburu. Ia tak ingin membangunkan Sehun dengan tangisannya.

Perlahan, ia berjalan mendekati Sehun. Dirapikannya rambut Sehun yang menghalangi matanya, lalu memejamkan mata mencium keningnya. Yoona tersentak kaget ketika mendapati Sehun tengah menatapnya setelah ia melepas ciumannya. Rupanya, apa yang dilakukannya tak sengaja membangunkan Sehun.

 

“Hei, Sehun. Selamat pagi,” sapa Yoona gugup. Ada suasana canggung yang menyelimuti mereka. Sehun tak menjawab, hanya diam menatap Yoona tepat dimanik matanya.

 

“Maaf jika aku membangunkanmu. Aku akan membuat sarapan untukmu dulu,” Yoona hendak berdiri, dengan sigap tangan Sehun menahannya. Membuat Yoona sedikit limbung hingga terjatuh menimpa tubuh Sehun.

 

“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Sehun. Yoona hanya menggangguk pelan, tak berani menatap mata Sehun dengan jarak sedekat ini.

 

“Aku mencintaimu,” ucap Sehun. Belum sempat Yoona membalasnya, bibir Sehun sudah mendarat dibibirnya, mengunci seluruh pergerakkan Yoona dengan sebuah ciuman manis andalannya.

 

Entah bagaimana ceritanya, ciuman yang seharusnya lembut dan manis, kini berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Yoona tak lagi yang ‘menimpa’ disini, melainkan yang ‘ditimpa’. Desahan demi desahan terlontar dari keduanya. Membuat nafsu kedua insan itu semakin bergejolak. Saling menggigit serta bertukar saliva terus mereka lakukan, tak berpindah tempat, masih diatas sofa tempat Sehun tidur. Tangan Sehun pun tak tinggal diam. Perlahan, tangannya mulai membuka satu per satu kancing kemeja Yoona, menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka lakukan sekarang. Namun nafsu tak sepenuhnya menguasai Yoona. Ia masih mendengar apa yang hati kecilnya ucapkan. Ia dan Sehun tak seharusnya berbuat lebih dari ini. Tidak, hanya belum saatnya. Kedua tangan yang tadinya ia kalungkan dileher Sehun kini terlepas, mulai mendorong tubuh Sehun menjauh dari tubuhnya.

“M-maaf. A-aku tak bermaksud,” ucap Sehun ketika sadar apa yang hampir ia lakukan. Yoona tersenyum, lalu merapikan penampilannya yang berantakkan akibat ulah Sehun. “Tidak apa. Terimakasih kau masih menjagaku, Sehun.” Ucap Yoona kembali mengancingkan kemejanya yang terbuka.

“Sehun..?” suara gadis lain menggema ditelinga Sehun. Betapa terkejutnya ia, ketika mengetahui sosok gadis pemilik suara tersebut. Krystal. Gadis yang juga kekasih Sehun baik dalam kehidupan seni peran maupun nyata.

“Krys..tal? S-sejak kapan kau disana?” tanya Sehun gugup.

“Kau.. Kau brengsek, Sehun!” Pekik Krystal dengan berderai airmata.

“Aku bisa menjelaskan semua ini. You must listen to me, Krys. Ini..ini tidak seperti apa yang kau lihat,” Ucapan Sehun bagaikan angin lalu bagi Krystal. Ia tak perlu mendengarkan apapun. Karena baginya, apa yang ia lihat sudah cukup menjelaskan segalanya.

 

Krystal berlari keluar apartement Sehun, dan Sehun mengejarnya. Namja itu meninggalkan Yoona yang tak kalah terkejutnya dengan apa yang baru saja ia alami. Sehun memang harus membela diri didepan Krystal. Dan namja itu mungkin tak menyadari apa yang ia ucapkan juga telah menyakitinya. Yoona paham itu. Tapi..mengapa rasanya tetap menyesakkan?  ‘Tidak seperti apa yang kau lihat’. Memangnya, apa yang seharusnya Krystal lihat?

 

Yoona menghapus jejak sungai kecil yang entah sejak kapan mengaliri pipinya. Tersenyum miris menatap foto Sehun yang terpasang di dinding ruang tamu. “Kau..jauh mencintainya, kan?”

.

.

.

Yoona menarik nafasnya dalam-dalam. Tiergarten memang tempat yang  sangat cocok untuknya saat ini. Pasokkan oksigen yang melimpah membuatnya sedikit bernafas lega. Sehun dan segala tentangnya benar-benar mengikatnya pada rantai penderitaan.

 

Ia merogoh ponsel yang berada dalam sakunya. Sebuah pesan masuk dari Sehun.

 

Kau dimana? Aku berhasil menenangkan Krystal. Tak perlu khawatir.

 

Yoona kembali memasukkan ponselnya, memilih tak membalas pesan Sehun. Ia hanya butuh waktu untuk mengisi kembali senyum lalu mengumbarnya didepan Sehun nanti.

Namun entahlah. Untuk saat ini, ia rasa ia tak cukup kuat walaupun hanya sekedar menegakkan kepala. Yoona bukanlah wanita berhati baja. Ia juga bisa merasakan apa itu lelah jika harus bersikap baik-baik saja setiap kali ia tidak. Ia membutuhkan seseorang untuk tempatnya bersandar. Menggenggam tangannya erat  untuk memberi ketenangan serta kekuatan padanya. Dan Sehun bukanlah orang itu.

 

“Tidak baik jika seorang gadis duduk sendiri di taman seluas Tiergarten ini,” Yoona mendongakkan kepalanya, mencari sosok yang berbicara dengan bahasa Korea padanaya. Didapatinya seorang namja tengah berdiri tersenyum menatapnya.

 

“Boleh aku duduk disini?” tanya namja itu menunjuk bangku kosong disamping Yoona.

Yoona tersenyum kikuk, lalu menggangguk mengiyakan. “Silahkan,”

Namja itupun duduk disamping Yoona. Lalu menyodorkan segelas Cappucinno ice yang sengaja dibelinya untuk Yoona di minimarket. “Terimakasih,” Yoona tersenyum menerima minuman pemberian namja asing itu.

 

“Ternyata dugaanku benar,” ucap namja itu membuka obrolan. Yoona mengernyitkan dahinya bingung. “Apa?”

Namja itu tersenyum. “Kau orang Korea.”

“Kau pandai menebak rupanya. Lalu, bagaimana denganmu? Kurasa kau juga orang Korea. Benar, tidak?” tanya Yoona.  Namja itu tersenyum menggelengkan jari telunjuknya.

“Kau salah, noona. I’m Chineese.” Jawab namja itu.

“Jinjjayo? Tapi aksen Koreamu terdengar seperti orang Korea,”

“Tentu saja. Aku pernah tinggal di Korea beberapa tahun,” Yoona hanya menggangguk kepalanya tanda ia mengerti.

Let’s to the point. Aku sudah mengamatimu sedari tadi. Dan kurasa kau sedang ada masalah. Butuh orang untuk berbagi?” tawar namja itu pada Yoona.

“Gwenchana,” tolak Yoona secara halus pada namja itu. Ia memang membutuhkan orang untuk tempatnya berbagi, namun bagaimanapun, ia baru mengenal namja itu. Tak sepantasnya ia menceritakan masalah pribadinya begitu saja.

“Baiklah jika tidak mau. Aku tahu memang sulit percaya pada orang yang baru dikenal. Tapi, biarkan aku menghiburmu. Kajja, ikut aku!” tanpa menunggu respon Yoona, namja itu langsung menarik tangan Yoona agar mengikutinya.

“Kita mau kemana?” tanya Yoona sedikit takut.

“Ke suatu tempat yang mengagumkan.”jawab namja itu. Yoona justru diam tak melawan. Membiarkan namja asing itu membawanya ketempat yang disebut mengagumkan. Ia tahu tak seharusnya ia dengan mudahnya percaya pada orang yang baru dikenalnya. Apalagi jika orang asing itu seorang namja yang  bersikap baik dan manis dihadapannya. Tapi entahlah. Namja itu membuatnya nyaman dengan genggaman tangannya. Seolah namja itu tengah memberinya ketenangan dan kekuatan untuk masalah yang dihadapinya.

“Terimakasih—“Yoona menghentikan ucapannya, ia sadar jika ia belum berkenalan dengan namja asing yang menggenggam tangannya saat ini.

“Luhan. Namaku Luhan.”

.

.

.

Yoona menatap kagum sekelilingnya. Sedikit tak menyangka Luhan akan membawanya kesini, Gemäldegalerie. Sebuah galeri lukisan pelukis-pelukis terkenal dari abad 13 hingga abad ke 18. Tempat ini menjadi salah satu list tempat yang paling ingin ia kunjungi di Jerman bersama Sehun. Namun sepertinya ia harus mengusir jauh-jauh harapannya itu, karena sekarang, yang menemaninya adalah Luhan. Bukan Sehun.

 

“Sudah kubilang, tempat ini mengagumkan.” Ucap Luhan, merasa puas melihat ekspresi Yoona sesuai dengan yang diharapkannya.

 

“Apa kau juga seorang pelukis?” Tanya Yoona pada Luhan.

 

“Aniyo, aku bukan seorang pelukis.” Luhan terkekeh geli mendengar pertanyaan Yoona yang mengiranya seorang pelukis.

“Lalu, darimana kau bisa tahu tempat ini?” Tanya Yoona lagi.

Well, hanya tak sengaja,” jawab Luhan acuh.

“Tempat ini..aku sangat ingin mengunjunginya. Rembrandt, Titian, Goya, Botticelli, Holbein, Geinsborough, Canaletto, Hals, Rubens, Vermeer. Seluruh Lukisan-lukisan hebat mereka tersimpan disini. Benar-benar mengagumkan!” Ujar Yoona bersemangat. Matanya berbinar menatap satu persatu lukisan yang terpasang di dinding. Luhan hanya diam, memerhatikan setiap detail ekspresi gadis itu walaupun hanya bagian samping. Terpancar dengan jelas raut kebahagiaan ketika gadis itu menceritakan tentang lukisan. Jauh berbeda dengan ekspresi yang dilihatnya tadi siang.

“Luhan-ssi,” Luhan baru menyadari  gadis itu tengah menatapnya.

 

“N-ne?”

 

“Gomawoyo,” ucap Yoona memaparkan senyumnya. Membuat Luhan membeku ditempat melihatnya.

 

“Terimakasih, kau sudah menghiburku.”

Luhan mengusap tengkuknya yang tak terasa gatal. “Ah, itu. Tidak masalah.”

Yoona lagi-lagi tersenyum, lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengamati setiap karya seni lukis yang terpajang.

.

.

.

“Terimakasih untuk tumpangannya, Luhan.” Ucap Yoona setelah melepaskan seatbelt yang digunakannya.

Luhan tersenyum menanggapi ucapan Yoona. “Cheonma,”

Yoona pun membuka pintu mobil Luhan, berjalan keluar menuju gedung apartementnya.

Betapa terkejutnya Luhan, yang sengaja menunggui Yoona hingga benar-benar masuk, kini melihat gadis itu jatuh tak sadarkan diri tepat didepan pintu masuk apartementnya. Segera, dengan bantuan beberapa satpam untuk menggendong Yoona memasuki mobilnya, membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.

 

Keterkejutan Luhan tak berhenti disitu. Sickle-cell disease. Gadis itu mengidapnya.

.

.

.

Sehun menatap sinis kedatangan Yoona bersama seseorang yang tak lain adalah Luhan. Setelah 3 hari menghilang dan membuatnya kalang kabut, kini gadis itu justru tertawa bersama dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya.

 

“Kemana saja kau?” Tanya Sehun menatap dingin lelaki asing disamping Yoona. Merasa sedikit canggung dengan tatapan Sehun, Luhan pun berinisiatif memperkenalkan diri.

 

“Xiao Luhan.” Ucap Luhan mengulurkan tangan kanannya. Mengingat tatakrama yang berlaku, dengan terpaksa Sehun mengulurkan tangan kirinya, berjabat tangan dengan Luhan.

 

“Oh Sehun.”

 

“Luhan, lebih baik kau pulang. Maaf telah merepotkanmu.” Sahut Yoona. Ia tahu tempramen Sehun sedang tidak baik, terdengar jelas dari nada bicaranya yang terkesan tak bersahabat. Mengerti, Luhan pun segera berpamitan untuk pulang.

“Siapa dia?” Tanya Sehun setelah pintu apartementnya tertutup.

“Dia Luhan. Aku bertemu dengannya di Tiergarten.” Jawab Yoona lalu melangkahkan kakinya memasuki kamar dengan Sehun yang mengekorinya.

“Kau senang?” Kumohon, tidak sekarang, Sehun.

 

“Aku lelah. Keluarlah, aku ingin tidur,” ucap Yoona membenarkan letak bantalnya.

Geram, Sehun pun mencengkram lengan Yoona keras. Membuat gadis yang dicengkramnya meringis kesakitan. “Kemana saja kau selama 3 hari ini? Pergi bersama namja cantik itu, huh?” Tanya Sehun yang lebih pantas disebut desisan.

 

“Sehun. Sakit. Lepaskan.” Pinta Yoona.

 

“Tsk. Tak bisa dipercaya. Aku menunggumu selama 3 hari sedangkan kau malah bersenang-senang dengan lelaki lain!” Yoona tercengang. Sehun membentaknya.

“3 hari tak ada apa-apanya dibanding 1 tahun, Oh Sehun.” Ucap Yoona.

“Dan apa kau tahu, betapa menderitanya aku selama ini? Terus berharap dan menunggu saat dimana kau sepenuhnya mencintaiku. Tsk. Biarkan aku memperbaikinya. Terus berharap dan menunggu saat dimana hanya aku yang mendapatkan cintamu. Tak ada Krystal ataupun gadis lain. Hanya aku. Tidakkah kau tahu itu?” Sehun diam. Ia tahu apa yang dikatakan Yoona. Namun buru-buru ia angkat bicara membalas ucapan Yoona. Egonya ingin menang sekarang.

 

Yoona menatap tak percaya sosok Sehun dihadapannya saat ini. Sosok Sehun yang seperti bukan Sehun yang dikenalnya. Sehunnya tak akan pernah membentaknya. Sehunnya tak akan mencengkram lengannya dengan keras. Sehunnya tak akan pernah menatapnya dengan mata penuh amarah seperti itu.

 

“Kau. Egois. Sehun.”

 

PLAAAK!

 

Dan Sehunnya, tak akan pernah menamparnya.

.

.

.

Yoona menatap kosong sebuah kanvas bercat dihadapannya. Tak berminat melanjutkan kembali lukisan setengah jadi itu. Sudah 1 bulan lamanya ia tak bertemu Sehun. Karena sejak kejadian memilukan itu, tak hanya sebuah tamparan Sehun yang mendarat dipipi mulusnya, namun juga sebuah kata ‘putus’ terlontar dari keduanya.

 

“Mengapa kau tak melanjutkannya?” Tanya Luhan dengan menyodorkan segelas coklat hangat pada Yoona. Yoona tersenyum menyambut segelas minuman favoritnya itu. Minuman pertama yang Sehun berikan padanya dulu.

“Aku sedang tak berminat melanjutkannya.” Luhan hanya menggangguk tanda ia mengerti. Seorang pelukis memang harus memiliki feel terlebih dahulu dengan lukisannya.

“Luhan,” Luhan lantas menolehkan kepalanya menghadap gadis bersurai panjang itu. “Ne?”

“Temani aku ke Kastil Neuschwanstein, ya?”

“Neuschwanstein? Ta-tapi..bagaimana dengan kondisimu?”

“Oh, Ayolah, Luhan. Aku akan baik-baik saja,” bujuk Yoona. Namun Luhan tetap pada pendiriannya.

“Tidak. Itu terlalu jauh, Yoona. Aku tak ingin kondisimu semakin buruk.” Tolak Luhan tegas. Luhan pun melangkahkan kakinya meninggalkan Yoona. Ia tak akan bisa bertahan dengan ucapannya jika mata rusa gadis itu terus menatapnya.

“Putri tidur…dulu aku berharap memiliki kisah cinta sepertinya,” ucapan Yoona menghentikan langkah Luhan.

“Kisah cinta yang manis dan penuh perjuangan. Siapa yang tak menginginkannya? Dulu, aku sempat menyangka kisahku akan seperti itu. Hanya menunggu dalam tidurnya, dan yakin jika pangerannya akan datang untuk membebaskannya.”

“Namun kisahku berbeda. Pangeran yang diharapkan putri akan datang, justru menyerah begitu saja karena tak sanggup melewati rintangan yang ada. Dan pada akhirnya, sang putri akan tertidur untuk selamanya.” Setetes air mata jatuh bebas tanpa diinginkannya. Buru-buru Yoona menghapusnya sebelum Luhan menyadarinya.

Luhan berjalan mendekat kearah Yoona, berjongkok dihadapannya. Diraihnya tangan mungil Yoona untuk digenggam. “Kajja, aku akan menemanimu kesana,”

Yoona menampikkan senyum tulusnya. Menatap tepat dimanik mata Luhan yang sama dengan manik matanya.“Terimakasih, Luhan.”

.

.

.

Mata Pure Hazel  Sehun menatap kosong gumpalan-gumpalan kapas raksasa dibalik jendela pesawatnya. Sudah 1 bulan sejak kejadian munculnya monster yang merangkap dirinya dihadapan Yoona, gadis yang juga ia cintai. 1 bulan itu pula separuh dirinya menghilang. Apa yang diucapkan Yoona terus saja terngiang dipikirannya. Ia kalut saat itu, amarah lebih dulu menguasainya sehingga tak mendengar hati nuraninya berbicara.

 

Are you okay, Honey?” tanya seorang gadis  disamping Sehun.

 

Sehun tersenyum menatap tangan gadis itu yang lebih kecil dibanding tangannya menggenggam erat tangannya. “Aku baik-baik saja, Krys.”

 

“Kau yakin? Kau terlihat lebih pendiam akhir-akhir ini, Sehun. Apa ada masalah?”

 

“Mungkin hanya perasaanmu, Krys. Aku baik-baik saja.” Ucap Sehun berusaha meyakinkan Krystal.

“Mungkin iya,” gumam Krystal.

“Tidurlah, aku tahu kau lelah.” Ucap Sehun lalu menggiring kepala Krystal bersandar dibahunya. Gadis itu hanya menurut, memejamkan matanya mencoba untuk tidur.

 

“Sehun,” panggil Krystal.

 

“Hmm? Kukira kau sudah tidur,”sahut Sehun.

 

“Kau mencintaiku, kan?”Tanya Krystal menatap ragu tangannya yang terpaut dengan Sehun.

 

“Tentu saja, Krys.” Krystal tersenyum kecut mendengar jawaban Sehun. Sudah ia duga.

“Baiklah, aku mengerti.” Sehun mengernyitkan dahinya bingung. Ada apa dengan Krystal?

 

Tak ingin ambil pusing, Sehun pun kembali melanjutkan kegiatannya, merenungi kesalahan fatal yang diperbuatnya.

.

.

.

Seorang namja menghampiri Sehun yang baru saja keluar dari pintu kedatangan penerbangan Internasional Berlin-Tegel airport.

“Untuk apa kau kesini?” tanya Sehun dingin. Ia masih merasa kesal dengan namja dihadapannya kini, mengingat ialah penyebab rusaknya hubungannya dengan Yoona.

“Ada yang harus kubicarakan denganmu. Ini tentang Yoona,” ucap namja itu tenang. Mendengar nama Yoona disebut, Sehun berusaha bersikap senormal mungkin. Bagaimanapun, Ia tak ingin Luhan melihat raut kerinduannya pada Yoona.

Sehun menolehkan kepalanya menatap Krystal seakan meminta persetujuan gadis itu.  “Pergilah, Sehun.” Ucap Krystal tersenyum.

Tanpa basa-basi lagi, Sehun segera mengikuti Luhan yang lebih dulu berjalan didepannya. Krystal hanya tersenyum menatap punggung Sehun yang semakin menjauh. Ia tahu, Sehun mencintai Yoona. Gadis yang dilihatnya duduk di sofa apartement Sehun dengan keadaan kancing kemeja terbuka dulu. Gadis cantik bersurai coklat panjang dengan mata rusa yang menghipnotis. Krystal bukanlah gadis bodoh. Yang tak peka dengan gerak-gerik gelisah Sehun selama satu bulan terakhir ini. Dan ia yakin, penyebabnya adalah Yoona.

 

Lalu apa makna ribuan kalimat cinta yang diucapkan Sehun padanya? Apa makna kebersamaan mereka selama ini? Apa makna genggaman tangan, pelukkan-pelukkan hangat, serta ciuman-ciuman panas yang ia lakukan bersama Sehun? Entahlah. Krystal sendiri tak tahu. Ia hanya ingin menunggu kemana arus membawanya pergi. Karena bagaimanapun, hatinya terlanjur memilih Sehun. Ia mencintai Sehun.

.

.

.

Sehun menatap tak percaya sosok gadis yang tengah berbaring tak berdaya dengan berbagai alat medis terpasang dihadapannya kini. Gadis ini..terlihat begitu rapuh saat ini. Sangat rapuh hingga Sehun bahkan takut untuk menyentuhnya. Sehun takut akan menyakiti gadis ini jauh lebih dalam lagi. Dari dulu hingga sekarang, gadis ini terus berjuang. Entah untuk cintanya, maupun untuk dirinya sendiri.

“Yoong,” panggil Sehun lirih. Masih berharap sosok gadis dihadapannya kini bukanlah sosok Yoona yang ia kenal.

Mata Yoona terbuka pelahan mendengar suara Sehun yang memanggilnya. Ia tersenyum, saat melihat sosok Sehun tengah duduk disampingnya dan menggenggam tangan kanannya. Sosok Sehun yang benar-benar nyata, bukan halusinasi obat bius penghilang rasa sakit ataupun sosok Sehun dalam mimpinya.

 

Merasa susah berbicara dengan alat bantu pernafasan, Yoona menggerakkan tangan kirinya yang bebas untuk melepaskannya. “Hai, Sehun.” Sapa Yoona tetap dengan senyumnya.

“Bagaimana pementasan teatermu di Paris?” Tanya Yoona pelan. Membuat Sehun harus mendekatkan diri agar mendengar apa yang diucapkan Yoona.

 

“Baik, Yoong. Sangat baik. Mereka sudah lama menunggu pementasan teaterku disana,” Suara Sehun bergetar. Tak tahu berapa lama lagi ia menahan isak tangisnya melihat keadaan gadis yang dicintainya seperti ini.

 

“Hei, mengapa kau menangis? Aku tidak apa-apa, Sehun. Sungguh,” ucap Yoona mengusap airmata Sehun yang tak sengaja lolos.

 

“Kau akan baik-baik saja, kan, Yoong?” Pinta Sehun. Ia tak tahu bagaimana jadinya ia jika sesuatu yang jauh lebih buruk dari ini terjadi pada Yoona.

 

Yoona hanya menggangguk, terlalu lemas untuk berucap walaupun hanya sebuah rentetan kata pendek ‘Ya, aku akan baik-baik saja’ yang selalu diucapkannya dulu.

 

Sehun tersenyum. Berusaha untuk tegar dihadapan Yoona walaupun ia saat ini, airmatanya terus saja berjatuhan.

 

“Sehun,” panggil Yoona lirih.

 

“Ada apa, Yoong?” Tanya Sehun.

 

“Maukah kau membantuku menyelesaikan lukisan itu?” Tanya Yoona menunjuk sebuah lukisan setengah jadi didekat jendela. Sehun menggangguk, mengiyakan permintaan Yoona. Dengan hati-hati, Sehun memapah tubuh Yoona yang lemas, membantu gadis itu semampu yang ia bisa.

“Bolehkah aku bersandar padamu?” Tanya Yoona lagi. Dengan sigap, Sehun memposisikan tubuhnya senyaman mungkin untuk tempat Yoona bersandar.

“Wangi tubuhmu tak pernah berubah.” ucap Yoona ketika punggungnya menempel dengan dada Sehun. Diambilnya kuas lukisnya lalu menorehkan cat diatas kanvasnya.

Sehun hanya diam. Membiarkan Yoona yang terus saja berbicara, mengomentari hal-hal kecil yang pernah terjadi diantara ia dan Sehun. Hal-hal kecil yang bahkan Sehun sendiri tak ingat.

Sehun tersentak kaget ketika gadis dalam dekapannya menjatuhkan kuas yang dipegangnya. “Ah, Aku menjatuhkannya. Sehun, bisakah kau mengambilnya?” Pinta Yoona setenang mungkin. Ia tak ingin Sehun tahu betapa lemasnya tubuhnya hingga untuk memegang kuas dengan benarpun ia tak mampu.

Diambilnya kuas yang terjatuh itu lalu memberikannya pada Yoona. Namun gadis itu kembali menjatuhkannya, membuat Sehun merunduk untuk kembali mengambilnya. Yoona hanya diam, membiarkan airmata yang sedari tadi memupuk dimatanya terjun bebas melihat Sehun yang berusaha bersikap tegar dihadapannya.

“Melukis bersama sepertinya ide yang bagus. Ayo, ajari aku caranya,” ucap Sehun berusaha menyemangati Yoona. Berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang bersarang dipikirannya.

Diraihnya tangan Yoona, membantunya menggenggam kuas dan kembali melukis. 

“Aku terlihat menyedihkan, bukan?” lirih Yoona. Sehun tak menjawab. Ia tak ingin Yoona mendengar suaranya yang bergetar karena menahan tangis.

“Sehun,” panggil Yoona ketika Sehun mati-matian menutupi ketakutannya dengan bersemangat melukis.

“Hmm?”

“Berjanjilah padaku, kau akan hidup bahagia apapun yang terjadi.” Ucapan Yoona berhasil meloloskan satu airmata Sehun.

“Kita akan hidup bahagia, Yoong.” Ucap Sehun terisak, tak sanggup lagi menahan tangisnya.

“Tidak, Sehun. Kau takkan pernah hidup bahagia dengan bayangan gelap sepertiku,” bantah Yoona. Sesaat, baik Sehun maupun Yoona hanya menangis dalam diam.

“Berbahagialah, Sehun. Karena aku mencintaimu.” Dan tangan mungil dalam genggaman Sehun….kembali menjatuhkan kuasnya.

 

Namja itu memeluk erat tubuh tanpa jiwa Yoona, tak rela jika gadisnya itu pergi dengan cara seperti ini. Ia tahu apa yang dilakukannya selama ini telah banyak menyakiti Yoona, namun, tak bisakah gadis itu tetap hidup untuk membalas segala perbuatannya?

Ditatapnya sendu lukisan Yoona yang kini terlukis sempurna.  Lukisan terindah sekaligus terakhir yang akan dilihatnya.

 Kastil Neuschwanstein. Gadis itu melukisnya.

.

.

.

“Maafkan aku untuk kejadian waktu itu. Tapi sungguh, aku dan Yoona tak lebih dari teman penikmat seni.” Jelas Luhan.

“Apa teman penikmat seni harus berpergian bersama selama 3 hari?” tanya Sehun sinis.

“Kurasa ini saatnya kau mengetahui satu hal tentang Yoona.” Sehun mendengus kesal mendengar ucapan Luhan.

“Cih. Kau bersikap seakan kau sudah mengenalnya sejak lama.”

 

“Sickle-cell disease. Yoona mengidap penyakit itu.”

 

Sehun membeku ditempat.

 Apa maksud Luhan?

 

“Aku tak sengaja mengetahuinya. 3 hari itu Yoona dirawat dirumah sakit karena penyakitnya kambuh. Bukan pergi bersamaku.” Terang Luhan.

“Dia memintaku merahasiakannya karena tak ingin membebanimu.”

“Dan saat ini, kondisinya semakin buruk setelah ia memaksaku untuk menemaninya pergi ke Kastil Neuschwanstein.”

Satu pukulan Sehun mendarat dipipi Luhan. “Bodoh! Bagaimana bisa kau menuruti kemauannya?!”

Luhan mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.“Putri tidur. Ia menceritakan kisah putri tidur dalam kehidupan nyatanya. Ia menceritakan bagaimana lamanya ia menunggumu yang tak kunjung datang, bagaimana lamanya ia terjaga dalam tidur yang tak berkesudahan, bagaimana lamanya ia mencintaimu, bagaimana menderitanya ia. Ia menceritakan semuanya padaku. Dan aku rasa, kau terlalu bodoh untuk menyadari itu. Apa aku salah, aktor terkenal, Oh Sehun?”

Sehun terdiam. Begitu egoiskah ia selama ini?

“Ini, ambil lah. Yoona menyimpan terlalu banyak fotomu didalam sana.” Ucap Luhan menyerahkan sebuah kamera DSLR milik Yoona.

“Lebih baik kau cepat mengunjunginya. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu.” Ucap Luhan lalu berlalu meninggalkan Sehun.

.

.

.

AAAAAAAA/ngirup nafas/ Akhirnyaaa selesai jugaaaaa;’D ini Fanfict terpanjangku:’’ Ottokhae? Membosankan kah? Ada typonya kah? Atau feelnya gadapet? Jeongmal mianhamnida/bungkuk 90derajat/ 

Kalian udah pada baca 10080 kan? Gimana pendapat kalian tentang ff itu? Ngena pake banget kan? Aku aja gabosen baca berulang kali:’D Nah itu dia yang menginspirasi ff ini. Berhubung aku Windeers, jadilah castnya Sehun-Yoona.

Maaf buat para readers yang nungguin kelanjutan ff Butterflies, aku malah ngedahuluin ff ini sedangkan ff itu ditelantarin(?) Otakku buntu abis dikenyot sana-sini sama soal-soal badebah itu(?) Mohon pengertiannya^^

As usual, aku engga akan maksa kalian buat comment. Memberi RCL itu hak kalian!^^<3 

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

9 tanggapan untuk “DREAMS

  1. Daebak! Jeongmal daebak!!
    Keren banget ff nya, kena banget ceritanya
    Feelnya dapet banget!
    Sampe mau nangis bacanya
    Sad ending (º̩̩́ ̯º̩̩̀)
    Kasian Yoona eonni, Sehun oppa kurang peka -_-
    Ditunggu ff lainnya thor! Tapi jangan sad ending :3
    Hwaiting (ง’̀⌣’́)ง

  2. Bener2 kisah cinta yg amat menyentuh, ,
    d awal2 q smpt kesel m Yoona, kq mau2 nya z cm jd byngn d idup Sehun, pdhlkn Yoona jg brhak kan dpt pngkuan dr Sehun, Yoona brhak jd gadisy’ Sehun yg bkn skdr byngny’,
    Sehun jg egois, cinta Yoona, tp g mau nglepas Krystal,
    Luhan oppa keren,
    diakhir2, q mly nangis yg sjk tau Yoona mndrta pnykit apa itu ya ???
    Bner2 nyesek bgt,
    Yoona bner2 hebat bsa brthn mpe sgtu y’, ,
    lw Author ch udh g dragukn lg kmpuan mnulisy’,
    daebaaak !!!
    Top marko top 😀
    d tnggu next ff y’,
    slam knal,
    gomawo 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s