TRUE VICTORY

Gambar

TRUE VICTORY

 

 

Art and movie by Laisalsa

 

 

Starring:

Xi Luhan

Oh Sehun

and the one other girl is a secret

 

 

Oneshot (5000> words) – G – Incest (Bromance), a bit fantasy, Hurt/Comfort, and others

.

.

.

.

.

 

True Victory, is when you are be the true winner. You feel the true happiness of being a winner.

Sehun’s felt it. He was lifted a big gold cup. Maked a big smile.

He felt so happy.

But it’s not take a long time.

                                                                                                   

 

There’s something he have to lose from his life.

.

.

.

.

.

 

Lari,

 

 

lari,

 

 

 

dan lari.

 

 

 

 

Menerjang garis finish.

 

 

 

Dan tentu saja di posisi pertama,

 

 

 

mengalahkan Luhan.

 

 

 

Peluh di dahinya tak lagi menjadi masalah yang berarti untuknya. Kakinya yang mulai sedikit pegal tidak dihiraukan Sehun. Ia terus mengusahakan agar kecepatannya tidak berkurang sedikitpun disaat garis putih bertuliskan finish itu belum terlihat.

 

Jangan kalah lagi, jangan kalah lagi.

Jangan mau jadi nomor dua lagi.

 

Begitulah batinnya berkata.

Tangannya terus berayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya yang kian lama makin cepat. Hembusan angin yang menerpa wajahnya telah sukses membuat rambutnya berantakan tidak karuan.

Luhan masih berada sekitar lima meter di depan Sehun. Tekadnya, Ia tidak akan mau terkalahkan oleh Luhan. Dan Luhan pun kelabakan disaat menoleh, Sehun hanya beberapa meter di belakangnya. Tidak seperti biasanya yang tertinggal cukup jauh.

Kedua kakinya semakin semangat mengambil langkah cepat.

 

“Arrgghh” Erang Luhan seraya sedikit mencondongkan badan kedepan.

Terus berusaha memperluas jarak antara dirinya dan Sehun tatkala jantungnya sudah mulai melemah sedikit demi sedikit.

Senyumnya langsung merekah disaat melihat garis putih tepat tiga meter di depannya. Itu garis kemenangannya.

 

Yeahh finish!!” Kaki kakinya mulai melambat. Luhan terduduk di area lari yang cukup besar tersebut  sembari menghadap belakang. Memandang Sehun dengan senyum yang makin lebar. Ia memeluk betisnya dengan nafas terengah-engah.

Sehun ikut melambatkan lajunya setelah mengetahui ia sudah tertinggal. Berjalan menuju Luhan dengan balasan seulas senyum yang sedikit dipaksakan.

Ia kalah, lagi.

 

“Jangan marah padaku hyung..” Senyuman Luhan pudar seketika saat melihat Sehun menekuk wajahnya setelah duduk disampingnya. Batinnya sedikit takut Sehun akan menjauhinya hanya karena kalah lagi pada hari ini.

Sehun menoleh. Kemudian sedikit mengangkat sudut bibirnya. Punggung tangannya lantas mengusap keningnya kasar. Walau percuma, setidaknya itu menghilangkan sedikit keringatnya disana.

 

“Tentu saja tidak.” Ucap Sehun sambil menselonjorkan kakinya. Menempelkan telapak tangannya di permukaan area lari berwarna cokelat yang sedikit basah. Nafasnya masih belum beraturan. Terdengar dari hembusannya yang kuat.

Hening, mereka berdua sama-sama mendongakkan kepalanya untuk sekedar menangkap semburat langit jingga.

 

“Karena aku akan mengalahkanmu besok!” Lanjut Sehun tiba-tiba diakhiri kekehan. Luhan hanya ikut tertawa kecil.

Bagaimanapun juga, ia sangat menyayangi kakaknya. Semenjak kedua orang tua mereka meninggal, Sehun tak punya apa-apa lagi selain kakak satu-satunya, Sehun.

Dulu, banyak saudara jauh mereka berkata Luhan memiliki sifat yang lebih dewasa ketimbang Sehun. Untungnya Luhan tidak begitu meperdulikan hal itu. Toh ia hanya merasa lebih sering mengalah. Sehun telah banting tulang untuk melanjutkan sekolahnya dan ia merasa tidak ada salahnya, mengalah untuk orang yang telah bersusah payah mencari uang untuk kelanjutan hidupnya.

Sehun malah memutuskan putus sekolah. Tiap hari ia sibuk bekerja dan bekerja. Luhan tidak mengerti mengapa kakaknya begitu menginginkannya terus melanjutkan sekolahnya sementara dirinya sendiri tidak mengenyam pendidikan lebih lanjut lagi. Tapi untuk sekadar menanyakan alasannya pun, Luhan terlalu takut. Takut kakaknya akan berpikiran bahwa dirinya tidak tahu diuntung. Tidak tahu berterima kasih.

Maka ia hanya terus menekuni setiap jam di sekolahnya. Tanpa memikirkan lagi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Berusaha keras agar tidak pernah mengecewakan kakaknya sekalipun.

 

“Ayo pulang.” Gumam Sehun. Menepuk pundak Luhan sedikit kencang sehingga membuat pria itu tersadar dari lamunannya.

Sedikit kikuk, Luhan mengangguk. Mengikuti langkah Sehun dengan sedikit berat.

Ingin rasanya ia memutari arena lari berumur tua itu sekali lagi. Sebelum menjadikannya tempat bertanding besok. Namun sekali-lagi alam menolak keinginannya, sang fajar telah berpulang.

 

 

Hari ini datang dengan cukup bersahabat. Matahari menebar sinar hangatnya ditemani kicauan burung-burung. Hari ini juga pertandingan itu diadakan. Final dari lomba yang diadakan sekolah Sehun untuk umum.

Kakak beradik itu telah memutuskan untuk ikut sejak pamflet tentang lomba lari itu disebar. Hasilnya cukup membanggakan, mereka berhasil menjatuhkan pelari-pelari handal dari sekolah Sehun maupun masyarakat hingga berada di babak final sekarang ini.

Diam-diam, mereka mempunyai bakat berlari yang cukup mengagumkan. Dengan Luhan sebagai yang pertama. Membuat Sehun selalu susah payah mengalahkannya saat mereka latihan, atau sekadar bertanding berdua.

Tapi tetap saja, Luhan masih lihai mengungguli kakaknya. Sayangnya, salah satu diantara mereka tidak pernah ada minat untuk memamerkan kemampuannya di jenjang nasional maupun internasional, walau berbagai tawaran sudah diterima.

 

“Apa yang kau tunggu, Luhan?” Luhan yang sudah selesai menali sepatunya pun mendongak. Kemudian tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia membenarkan nomor peserta di dada dan punggungnya, nomor 77.

 

“Tidak ada, ayo berangkat hyung.” Sehun mengangkat bahunya heran saat Luhan menarik tangannya keluar rumah.

Berjalan kaki menuju lapangan lari yang kemarin mereka pakai untuk latihan. Setelah sampai, baik arena maupun bangku penonton sudah mulai dipadati. Tersisa lima peserta termasuk Luhan dan Sehun.

Luhan menepuk pundak seorang lawan yang berdiri memunggunginya.

 

“Hai.” Kembali ia mengulas senyum tulusnya. Pria di hadapannya lantas menoleh, membalas senyumnya tak kalah manis.

 

“Sang juara telah datang ternyata.” Pria itu memajukan bibir bawahnya. Mengangkat tinggi alisnya dengan suara sedikit meledek. Luhan tertawa lebar.

 

“Sepertinya tidak untuk kali ini, hyung.” Balas Luhan sambil menurunkan tangannya dari pundak Suho –nama pemuda itu.

Kening Suho mengernyit. Tak biasanya Luhan akan pesimis seperti ini. Dia selalu berhasil menyabet juara satu dari setiap pertandingan lomba lari yang diikutinya –yang dibuat oleh sekolah tentunya. Jika tidak, posisinya pasti tidak jatuh dari tiga besar. Berbeda dengan Sehun, yang masih bermimpi untuk mendapat juara satu. Luhan selalu mendahuluinya.

 

“Kenapa?” Tanya Suho heran. Ia melipat kedua tangannya di dada.

 

Selamat pagi para peserta dan hadirin sekalian!” Suara dari alat pengeras suara yang terdapat dari sudut lapangan membuat Suho dan Luhan menoleh serempak.

Para peserta walaupun penonton langsung menghentikan aktivitasnya masing-masing. Lantas memusatkan perhatiannya pada juri yang berdiri di podium pinggir lapangan –tak jauh dari alat pengeras suara tersebut.

 

Siapakah pemenang kita hari ini??” Berpuluh-puluh penonton lantas meneriakkan jagoannya masing-masing.

 

“Luhan oppa!!”

 

“Sehun oppa lebih tampann!”

 

“Suho hyung lebih berkarisma!!” Dan bermacam-macam nama yang diteriakkan itu terdengar jelas di telinganya.

Membuat Luhan tersenyum geli. Tak lama, Sehun sudah berdiri di sampingnya dengan satu botol air minum. Luhan merebut botol plastik berisi air dingin itu. Sehun pun mendadak menoleh heran.

 

“Belum lari sudah haus, hyung?” Ledek Luhan. Ia membuka tutup botol tersebut dan meminumnya.

Sehun melengos. Sehabis meledek, sendirinya juga haus. Luhan tersenyum tipis dibalik botol minumnya.

 

“Hyung, nomor pesertamu yang bagian belakang sepertinya mau lepas.” Luhan menutup kembali botol minumnya dan menaruhnya di bawah begitu saja. Membalikkan badan Sehun tanpa permisi, lantas mengencangkan lem di kertas bernomor 68 tersebut.

Sehun diam. Tidak sempat mengucapkan terima kasih karena juri sudah menyela –dan juga karena malas untuk sekadar mengatakan dua kata itu.

 

Ohh baiklah-baiklah! Kita buktikan saja nanti! Para peserta, silahkan menuju garis start! Pertandingan terakhir atau final akan dimulai kurang dari 10 menit lagi, hwaiting!” Juri itu menonjolkan kepalan tangannya keatas.

Detik berikutnya, deraian tepuk tangan pun meluncur bebas dari berbagai arah.

Sehun memandang Luhan tanpa bergerak yang berjalan bersama Suho menuju garis start. Tekadnya sudah bulat, mengangkat tinggi piala nomor satu di babak final kali ini.

Untuk apa berdiri disini jika masih belum bisa mengungguli adiknya?

Jika sudah berjuang untuk mengalahkan puluhan peserta lainnya pada awal dan akhirnya, menelan kekalahan?

Sehun sudah terlalu sering mendapat kekalahan, di nomor dua-kan. Dan Sehun telah bersumpah, akan mengerahkan seluruh kemampuannya hari ini. Sehun berharap, latihan kerasnya beberapa hari terakhir ini akan berhasil mengantarnya menjadi yang pertama.

 

 

Ready?”

Seorang pria yang sudah cukup tua –sang juri—kembali berkoar setelah melihat ke-lima peserta sudah siap di posisi masing-masing.

Sehun memposisikan telunjuk dan ibu jarinya tepat di belakang garis putih di depannya. Begitu pula keempat lawannya. Diliriknya Luhan, raut wajahnya tak seperti biasanya. Lebih pesimis dan tidak yakin seperti pertandingan sebelum-sebelumnya.

Kemudian Luhan menoleh, menemukan Sehun sedang menatapnya heran. Sebuah senyum terukir di wajahnya.

 

“Semangat, hyung!” Lirihan itu terdengar jelas di telinganya. Sehun tak menjawab.

Senyum yang mengembang di wajah Luhan nampak sangat tulus bak malaikat. Sehun belum pernah melihat senyum itu sebelumnya. Tiba-tiba firasatnya memberontak tak karuan. Membuatnya gelagapan saat juri mulai menghitung mundur.

 

 

“Lima..”

Koar-koar penonton mulai mengisi penuh telinganya. Perhatian Sehun sontak teralihkan kedepan. Mencoba beradaptasi visual dengan arena yang sesungguhnya sudah sering ia gunakan.

 

 

“Empatt..”

Luhan mengecek kedua tali sepatunya. Sudah terikat dengan kencang dan rapi. Ia menarik nafas kuat sebelum kembali menghembuskannya perlahan.

                                                                

 

“Tigaa.”

Luhan mengatupkan matanya sejenak. Begitu pula Sehun. Namun untaian doa yang mereka lantunkan kepada-Nya berbeda. Harapannya pun berbeda.

 

 

“Duaaa.”

Kelima peserta sudah menajamkan pandangannya di jalur lintasan masing-masing. Berharap tak ada apapun yang mengganggu disana.

Sementara di salah satu barisan penonton, seorang gadis memperhatikan dua saudara kandung itu dalam diam. Pakaiannya serba putih. Mulai dari topi, kacamata, jubah yang ia kenakan, hingga high heels-nya. Namun entah mengapa, penonton yang berada di sekitarnya tak peduli dengan keheningannya di tengah-tengah penonton yang ramai bersorak.

Mungkin karena ada yang mencolok dari penampilannya, gadis itu memakai topeng yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya.

 

“Pertandingan terakhir, ya?” Gumamnya. Bertanya pada diri sendiri. Hampir-hampir tidak ada yang mendengar karena sorakan penonton telah menyelimuti seluruh lapangan.

 

“Kenapa harus orang sebaik dia?” Tak ada yang tahu, kekhawatirannya akan ‘dia’ sudah mencapai ubun-ubun. Dadanya bergerak naik turun saat bernafas dan menahan tangis yang akan pecah.

 

“Satuu!!”

Dorrr

Sebuah tembakan ke udara tersebut telah mendadakan, pertandingan sudah dimulai.

 

 

Kelima peserta melesat kencang melewati garis start. Luhan telah meninggalkan ketiga pesaingnya jauh ke depan. Sehun berada dua meter di belakangnya. Tanpa menunggu lama, tetesan keringat menjalari permukaan wajahnya.

Ia terus berlari mengikuti arena lintasan yang kini sedikit berbelok ke kanan. Mengikuti arah area lari yang membentuk oval. Sehun tidak mau tertinggal lebih jauh, kaki kakinya terus bergerak bergantian tanpa lelah. Nafasnya tersengal-sengal seiring dengan kecepatannya yang bertambah.

Dua bersaudara tersebut memimpin dengan jarak yang tak bisa dibilang jauh.

Luhan menahan pegal di kakinya dengan sedikit memperkecil jarak antara kedua kakinya. Sedikit mengambil oksigen dengan leluasa. Namun hal itu tak sampai lima detik, sesegera mungkin ia kembali mempercepat larinya.

Tidak seperti biasanya, teriakan penonton sedikit membuat konsentrasi Luhan goyang. Itu karena, isi teriakan yang terdengar di telinganya bukan sorakan penyemangat atau semacamnya.

 

Semangat untuk pertandingan terakhirmu, Luhann!!!

 

Heiii sadarlah kalau Sehun yang harusnya jadi juara, bodoh!!

 

Entah datang dari mana, teriakan yang terdengar ganjil itu membuatnya sedikit kehilangan fokusnya.

Pria itu berusaha keras mengabaikan indra pendengarannya. Menajamkan pandangannya pada garis finish yang entah sejak kapan sudah terlihat. Kepalanya mendadak diserang pusing berat. Nafasnya makin berhembus tak beraturan.

Beberapa meter lagi, apakah itu garis kemenangannya?

 

 

Tiba-tiba, sakit yang teramat sangat Luhan rasakan di dada kirinya. Membuatnya sedikit terbatuk dan kehilangan pandangan. Sorak sorai penonton sudah menghilang dari telinganya. Perlahan, kesadarannya ikut menurun.

 

Brukkk

Luhan menekan dada kirinya sembari terduduk. Ia terjatuh di lintasannya.

Gadis berpakaian putih yang sedari tadi memperhatikannya menutup matanya. Menautkan kesepuluh jemarinya dan mulai berharap. Entah untuk apa.

 

 

Sehun yang masih berlari di belakang Luhan sedikit tersenyum saat adiknya itu memperlambat langkahnya.

 

“Mungkin dia lelah,” Batin Sehun tak peduli.

Ia menganggap kemenangan telah sukses dipetiknya hari ini. Ia mempercepat larinya dan mencondongkan badannya ke depan. Berusaha melewati Luhan secepat tenaga. Namun hal itu tak berlangsung lama, ketika ia berhasil berada di depan Luhan, pria seputih susu itu terjatuh.

 

Brukkk

Sontak Sehun menoleh. Matanya membulat melihat Luhan sudah terbaring lemah di sana. Pikirannya buntu, mendadak belum bisa memutuskan antara kemenangan atau keselamatan adiknya.

 

“Luhan!!!” Teriaknya kalut. Mencoba membangkitkan kesadaran Luhan. Namun pria itu hanya sedikit membuka matanya dan mengulas senyum tipis. Masih dengan tangan menempel di dada kiri.

 

Hyung, ini kemenanganmu hyung..” Ucapnya lirih. Kemudian kembali menutup matanya.

Bodoh. Seegois apa dia jika memang Sehun meninggalkan adiknya begitu saja dan menerima kemenangan sendirian. Ia menatap kedepan dan belakang bergantian. Keringat dingin mengucur dari dahinya.

Ketiga peserta lainnya mulai mendekat. Membuat Sehun semakin bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Langkahnya bergerak tak jelas –antara depan dan belakang tentunya. Melihat Luhan yang terus menerus meremas dada kirinya sembari mengerang kecil, Sehun semakin tak tega.

 

Clappp!

 

 

 

 

 

 

“Ha-hah?”

 

 

“Ha-hah?”

Sehun berputar-putar menilik sekeliling arena.

Hening. Semua orang terdiam. Berhenti beberapa detik yang lalu dengan posisi bermacam-macam.

Alis Sehun menyatu. Antara heran, bingung, sekaligus takut. Ketiga peserta pun berhenti di tempat dengan keringat yang tidak jadi melayang bebas. Dilihatnya Luhan, pria itu ternyata tidak terkena dampak ‘berhenti mendadak’ tersebut seperti dirinya. Luhan masih terus mengerang kecil.

Waktu telah berhenti.

 

 

Apa Sehun sedang bermimpi? Sehun pernah melihat hal ini, namun tak jauh dari TV. Film-film yang muncul di televisi dan hasil dari editor-editor handal.

 

Seberapa hebatkah halusinasinya hingga semua yang berhenti beraktivitas di hadapannya terlihat begitu nyata?

 

“Oh Sehun!” Tenggorokan Sehun tercekat saat namanya disebut lantang oleh suara seorang wanita.

Pelan-pelan ia menutup matanya rapat-rapat, berharap semua akan kembali normal setelahnya. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Lututnya bergetar hebat, diikuti getaran gigi-giginya. Sungguh, itu terdengar jelas.

 

“Apa yang kau lakukan? Apa kau mau membiarkan Luhan tetap terbujur lemah disitu?” Nafas Sehun terhenti.

Benar. Benar kata suara gadis yang Sehun tak tau dimana raganya itu. Seharusnya sekarang ia menolong Luhan. Ia menarik nafas berat. Namun belum berani membuka matanya kembali.

 

“Kemenangan kali ini milik kalian berdua.”

 

 

“Kemenangan kali ini milik kalian berdua.”

Sehun merasa seperti ditampar.

Egois? Ya. Dia benar-benar egois jika memaksakan kemenangannya hari ini adalah miliknya seorang. Mendengar kata ‘berdua’, batin Sehun sedikit bergejolak. Mengapa dia harus membagi kemenangannya dengan adik yang selama ini, jujur, menyusahkan dirinya sendiri?

 

“Luhan terkena serangan jantung.”

 

“Bisakah kau memperlihatkan rupamu dahulu sebelum berbicara lagi??” Gertak Sehun. Ia membuka matanya geram. Tangannya mengepal karena kesalnya.

Luhan menderita penyakit jantung? Lelucon itu sama sekali tidak lucu. Mana mungkin, seorang Luhan yang biasanya rajin berlari sekencang kuda, mempunyai tenaga seperti banteng, memiliki pola hidup sehat, ternyata menderita penyakit mengerikan itu?

 

“Baiklah, aku disini.” Sehun membalikkan badannya menuju sumber suara.

Tak jauh di dekatnya, seorang wanita berdiri canggung. Gadis itu ternyata adalah gadis berjubah putih tadi. Topeng putihnya sudah berganti dengan topeng berwarna keemasan. Sehun menghembuskan nafas dengan tersengal-sengal.

 

“Si.. siapa kau?” Tanyanya di sela-sela nafasnya yang tidak teratur.

Gadis tersebut merunduk. Membuat rambut panjangnya yang terurai ikut tertarik kebawah. Sehun memperhatikannya dari atas sampai bawah.

 

“Itu tidak penting.”

 

“Apa maksudmu Luhan terkena serangan jantung?” Sehun menyipitkan matanya, menatap gadis itu dengan sedikit tidak percaya.

Sang gadis kembali mengangkat dagunya. Dalam hati, ia mengutuk Sehun karena bukannya cepat-cepat menolong Luhan, malah bertanya macam-macam padanya.

 

“Aku tidak dapat membuat situasi seperti ini lebih lama lagi, Sehun. Tolong manfaatkan waktu.” Balasnya datar. Kemudian ia membalas tatapan Sehun tajam dari balik topeng yang menutupi seluruh permukaan wajahnya kecuali kedua matanya.

 

“Luhan mempunyai hati yang sungguh mulia, jangan pernah berprasangka buruk padanya.”

Kata-kata terakhir itu-lah yang terdengar di telinga Sehun. Menggetarkan hatinya begitu hebatnya sehingga ia tersadar, adiknya-lah yang patut di nomor satukan sekarang ini. Bahkan menurutnya, gadis tinggi itu dengan mudah sudah membaca pikirannya.

Sehun melongo melihat wanita yang bahkan namanya saja tak diketahuinya itu menghilang dan  meninggalkan kepulan asap.

 

 

 

 

Clappp

 

 

Sehun berlari kebelakang. Berjongkok membelakangi Luhan di tengah-tengah kebingungan penonton. Luhan yang setengah sadar pun hanya membuka sedikit matanya. Nyeri di dada kirinya masih terasa, dan itu sangat membuatnya kesulitan untuk sekadar menghirup oksigen.

 

“Naiklah, Luhan. Ini kemenangan kita.” Sehun sedikit menengok kebelakang dan mengulas senyum terbaiknya.

Luhan tertegun. Luhan hanya bisa termangu saat Sehun mulai melingkarkan tangannya di lehernya sendiri.

 

“Jangan sampai lepas,” Bisik Sehun. Ia memegang erat kedua sepatu Luhan dan melingkarkannya di depan perutnya.

Penonton yang sedari-tadi ramai mulai berbisik-bisik tak jelas. Sehun mulai berlari. Bersama Luhan di gendongannya, semangatnya makin berkibar. Jiwa Sehun bernafas lega. Walau kaki-kakinya jadi cepat lelah, tapi tak ada lagi kegelisahan batin di relungnya.

 

Ini kemenangan yang sebenarnya, batin Sehun tersenyum.

Mereka masih memimpin. Dengan Suho tak jauh di dekat mereka dan kedua peserta lainnya juga tak terpaut jauh jaraknya.

Di punggung Sehun, Luhan tersenyum. Matanya yang terkatup perlahan-lahan mengeluarkan setitik air mata. Ia tak menyangka akan begini jadinya. Spekulasinya mengatakan bahwa kakaknya akan mengangkat piala paling besar itu sendirian.

Namun tidak.

 

 

Mereka kini berdiri bersampingan dengan sebuah piala emas tersampir di tengah-tengah. Tepuk tangan meriah dari berbagai penjuru ikut menambah kegembiraan mereka. Kemenangan itu terasa jelas di benak Sehun. Luhan menebar senyumnya. Setitik airmata tiba-tiba muncul dari sudut matanya.

 

“Terimakasih banyak untuk hari ini. Aku menyayangimu, Sehun hyung….” Setidaknya, seuntai kalimat dan senyum manis di wajah Luhan-lah yang Sehun tangkap sebelum melihat Luhan kambali terhuyung.

Melihat Luhan kembali mengerang kesakitan dan memegang dada kirinya. Tatapan sendu sebelum Luhan benar-benar menutup matanya benar-benar membuat Sehun ingin berteriak sekencang-kencangnya.

Itu bukan airmata haru seperti yang Sehun pikirkan, melainkan airmata atas perih yang dirasakan Luhan.

 

same day…

 

Bulan masih setia menebarkan cahaya remangnya di puncak langit. Di salah satu sudut ruangan rumah sakit, Sehun duduk tanpa lelah atau rasa pegal. Toh itu tidak sebanding dengan rasa khawatir dan cemasnya pada sosok lemah di hadapannya.

Sehun enggan beranjak dari sana, dari sisi tempat tidur Luhan. Ia menatap datar jemari Luhan yang sedang di genggamnya. Dingin dan tidak bertenaga, sama sekali. Sehun menghela nafas kasar. Membiakan hawa dingin dari hidungnya menimpa tangannya. Sekali-lagi, ia memanggil Luhan dengan lemah. Berharap pria itu dapat membuka mata atau mengeluarkan sepatah kata dari balik banyaknya peralatan rumah sakit yang membalut tubuhnya.

Setidaknya monitor penunjuk detak jantung Luhan yang masih menyala sedikit memberikannya harapan.

 

Kau sudah koma selama 9 jam, Luhan.. bisakah kau bangun? Ujar Sehun di kepalanya sendiri. Menyandarkan keningnya di atas punggung tangan Luhan yang bersuhu rendah.

Menit demi menit berlalu. Sehun mengayun-ayunkan kakinya yang tak menyentuh lantai untuk mencegah dirinya sendiri tertidur.

Tapi usahanya itu terhenti saat Luhan menggerakkan jemarinya. Mengeluarkan sepatah nama dengan lemah dari mulutnya yang sedikit terbuka.

 

“Yoona.. Yoona…”

Sehun hanya bisa melongo.

 

Next day…

 

Sehun menaburkan bunga terakhir di atas gundukan tanah yang masih baru itu. Rintik-rintik hujan yang terus menerpa rambutnya tidak dihiraukannya. Jemarinya mengelus piala yang berdiri tegak di samping nisa keabuan berukir nama adiknya.

 

Jangan marah padaku hyung…”

 

Belum lari saja sudah haus, hyung?” Sehun mengulas senyum sedih. Perilaku anak tiga tahun di bawahnya itu memang tak dapat tergantikan.

 

Semangat, hyung!”

 

Hyung, ini kemenanganmu, hyung…”

 

Terima kasih banyak untuk hari ini. Aku menyangimu, Sehun hyung…”

Sekali-lagi, airmatanya pecah tanpa diminta. Lututnya bertubrukan keras dengan kerikil-kerikil dibawahnya. Sehun menangis sambil mengambil seonggok tanah basah di hadapannya.

 

“Hyung, nomor pesertamu yang bagian belakang sepertinya mau lepas.” Sehun bahkan belum berterima kasih setelah Luhan membenarkan nomor peserta di punggungnya.

Hatinya hancur, kini ia merasa sebagai pria paling lemah sekaligus jahat di dunia. Serangan jantung itu benar-benar merenggut nyawa adiknya. Dipandangnya bingkai kecil berisi foto Luhan. Dengan senyum terbaiknya tentunya. Ia mencium permukaan kaca itu lemah.

 

“A…aku menyayangimu.” Katanya terbata-bata. Air matanya jatuh lebih deras. Membaur dengan hujan yang masih setia bernaung di langit kota Seoul.

Jas hitamnya kini mulai menjadi basah. Suasana pemakaman yang sepi tidak lantas membuatnya segera pulang dan menghangatkan diri di depan perapian. Sehun meletakkan kembali bingkai foto berwarna hitam itu perlahan.

Tak lama, Sehun tidak merasakan lagi butiran-butiran air hujan jatuh menimpa badannya. Bayangan samar berwarna hitam muncul di sampingnya. Sehun menoleh.

Menemukan rupa yang sudah tidak asing lagi di matanya. Gadis kemarin –gadis yang secara tidak langsung sudah menyadarkannya. Berdiri disampingnya dengan pakaian sama sepertinya, serba hitam. Juga payung yang berwarna hitam. Topeng hitamnya kali ini seperti topeng pesta, hanya menutup sebagian wajahnya.

 

“Kau bisa sakit.” Ucapnya. Suaranya tidak terlalu terdengar karena suara hujan jauh lebih mendominasi telinganya.

Sehun tak bergeming. Ia terus menatap nisan Luhan nanar. Gadis itu menghela nafas. Kemudian ikut mensejajarkan tingginya dengan Sehun. Sehun membuang muka, sedikit mengusap kedua matanya kasar sebelum menyentuh permukaan tanah kembali. Meski ia tahu pasti gadis itu sudah tahu bahwa ia menangis.

 

“Aku tau bagaimana rasanya.” Lanjut wanita itu tanpa diminta. Sehun hanya mendengarkan dalam diam.

 

“Aku juga pernah kehilangan, sepertimu, kehilangan adikku.” Wanita itu mengelus sisi bingkai foto Luhan dengan tangan kirinya yang terbalut sarung tangan hitam.

 

“Senyum terakhirnya sebelum pergi masih kuingat dengan jelas..” Ia menarik lagi tangannya. Sehun menoleh. Menangkap wanita itu sedang tersenyum ganjil –senyum sedih, lebih tepatnya.

 

“Tapi kupikir kau lebih beruntung dariku, besoknya, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan….”

 

“Dan meninggal?” Terka Sehun saat mendengar nada sedih yang tersirat jelas dari suara wanita itu.

Yang ditebak hanya mengangguk tak semangat.

 

“Maaf..” Lirih Sehun.

Kehilangan pada saat yang hampir bersamaan, pasti sangat sakit.. batin Sehun. Memikirkannya saja Sehun sudah bergidik ngeri.

 

“Tidak apa-apa.” Jawab gadis itu. Menatap kedua manik Sehun datar.

Detik berikutnya, tidak ada yang membuka suara lagi. Baik gadis –yang sampai sekarang Sehun tidak tahu namanya—disampingnya ataupun Sehun tenggelam dalam lamunan masing-masing. Hujan turun makin deras, tangan kanan sang gadis masih setia memegang payung untuk mereka berdua. Sehun melirik. Menilik penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.

Ia baru menyadari satu hal. Gadis itu berbeda.

 

“Kenapa kau selalu menggunakan topeng?” Pertanyaan yang tak pernah gadis itu harapkan meluncur dengan polos dari bibir Sehun.

Karena tak mendapat jawaban, Sehun kembali melancarkan pertanyaannya.

 

“Dan kenapa kau selalu menggunakan pakaian yang sangat-sangat tertutup, sejak kemarin?” Sehun menggaruk-garuk belakang lehernya kikuk.

Sedikit aneh bertanya seperti itu pada gadis disampingnya yang notabone, namanya pun ia tak tahu. Gadis itu menghela nafas seraya tersenyum. Kemudian ia melirik Sehun.

 

“Aku menyukai gaya berpakaian seperti ini.” Aku gadis itu. Ia menyisir rambutnya asal. Sehun tak menyela, menunggu jawaban untuk pertanyaan pertamanya.

 

“Tentang topeng ini..” Gadis itu mulai ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Sehun menatapnya dengan alis yang hampir menyatu.

 

“Aku mempunyai sesuatu di balik topeng ini.” Jari-jarinya meraba topeng hitam itu halus.

Sehun hanya memandangnya penuh penasaran.

 

“…yang membuatku bisa mengendalikan waktu.” Sehun tercengang. Ia memandang gadis itu ragu, mulutnya sedikit menganga.

 

“Tidak usah kaget seperti itu, kemarin kan, kau sudah merasakannya sendiri?” Gadis itu mengulum senyumnya.

Manis, pikir Sehun. Mungkin akan lebih cantik jika melihat senyumnya tanpa topeng. Ia menepuk jidatnya kaget.

 

“Ah, ya! Aku baru ingat!” Katanya sembari tersenyum seperti kuda tolol.

Orang disisinya hanya terkekeh pelan.

 

“Tapi darimana kau mendapatkan topeng itu?” Sehun mengusap dagunya, memasang tampang sok berpikir.

 

“Sebenarnya bukan topeng ini…” Gadis itu menggeleng. Dahi Sehun berkerut samar.

 

“Kan aku bilang, dibalik topeng ini. Bukan di topengnya..”

 

“Memangnya ada apa dibalik topengnya?” Sehun bertanya tidak sabaran.

Gadis itu terlihat bingung. Sebenarnya ia mau menunjukkannya ke Sehun, namun ia teringat pesan adiknya sendiri.

 

“Mmm.. aku ingin menunjukannya, tapi aku tidak bisa membuka topeng ini, sendiri..” Lirihnya.

 

“Kenapa?” Balas Sehun. Rasa penasaran makin menggelitik perutnya.

 

“Adikku bilang kekuatanku akan hilang jika aku sendiri yang membuka topengnya…” Dan aku tidak mau kehilangan, lagi. Lanjut si gadis dalam hati.

Walaupun menurut Sehun itu bodoh, tapi ia tidak mau menyinggungnya. Toh gadis itu punya kepercayaan sendiri. Ia tak berhak atas apapun dalam hal ini.

 

“Kenapa kau harus memakai topeng jika, hal itu ada dibalik topengmu?” Pertanyaan Sehun makin terdengar rumit. Gadis itu menarik nafas malas.

 

“Adikku tidak ingin banyak orang melihat sesuatu itu.” Jawabnya sekenanya. Sehun manggut-manggut. Walau ia masih ingin bertanya lebih banyak lagi. Jadi, kekuatan mengendalikan waktu itu sudah si gadis dapat sebelum adiknya meninggal.

 

“Kita bahkan belum berkenalan.” Sehun mengusap wajahnya kasar –menghilangkan sedikit hawa dingin—sebelum mengulurkan tangannya di depan gadis.

 

“Oh Sehun, dan kau?” Ucap Sehun saat gadis itu menerima uluran tangannya.

 

“Aku Yoona, Im Yoona.” Sehun mengangguk. Menarik tangannya dari jabatan singkat tersebut.

Tapi dalam hati, Sehun merasa pernah mendengar nama itu. Im Yoona. Sehun mengenalnya. Namun dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena nama Yoona sudah sangat pasti tidak hanya satu di seluruh penjuru Korea Selatan.

 

“Yoona, apa aku boleh membuka topengmu?”

 

 

“Yoona, apa aku boleh membuka topengmu?” Yoona membulatkan matanya kaget. Tak menyangka rasa penasaran Sehun akan setinggi itu.

Sehun menangkap bola mata Yoona penuh harap. Sementara yang ditatap mengangkat alisnya sebelah.

 

“Apa kau benar-benar…”

 

“Penasaran? Ya.” Potong Sehun. Yoona tertawa kecil.

 

“Jadi?” Sehun menanyakan kepastian.

 

Yang ditanya hanya mengangguk. “Silahkan saja.” Ia bergerak menghadap Sehun. Sehun menghembuskan nafas pendek. Kemudian kedua tangan Sehun mulai mengangkat topeng hitam Yoona.  Walaupun Yoona tau konsekuensinya memberitahukan sosoknya sendiri yang sebenarnya, sudah mengenal Sehun.

Topeng itu kini mulai terangkat seluruhnya. Sehun memperhatikan lekuk wajah Yoona—kedua mata Yoona tertutup rapat—dengan seksama. Sebuah tattoo berbentuk lingkaran berwarna silver terletak di sisi kiri samping hidungnya. Mempunyai tulisan “time controllers” di tengah dengan font ala tulisan kerajaan.

Tangannya terangkat. Meraba tattoo yang sedikit berkilauan itu dengan takjub. Seketika tattoo tersebut mengeluarkan seberkas cahaya singkat yang membuat Sehun menyipitkan matanya.

Sehun baru menyadari, ia mengenal Yoona sejak lama. Sehun sudah mengenal Yoona.

 

Tangannya kembali bergerak turun. “Kau…….” Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Yoona membuka matanya perlahan.

 

 

“Bukankah kau cinta pertama Luhan?” Jika Yoona sedang makan, pasti ia akan tersedak sekarang.

Yoona menatap Sehun hambar. Memberi jawaban untuk pertanyaan barusan tanpa suara. Sehun pun hanya bisa menghembuskan nafas pelan, tak menyangka jika orang yang pernah menyakiti hati Luhan dulu datang lagi, bahkan untuk memperlama sisa-sisa terakhir hidup adiknya.

Sehun mendesah pasrah.

 

“Aku menyesal telah menyakitinya dulu.” Ungkap Yoona. Ia menunduk penuh kecewa.

Sehun membulatkan matanya kaget. Ternyata benar.

Yap, dulu, saat mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun, Yoona meninggalkan Luhan tanpa alasan yang jelas. Luhan tidak tau mengapa Yoona menghilang tanpa jejak. Tapi Yoona punya alasan yang pasti untuk itu, ia bosan. Bosan dengan sikap Luhan yang tidak seperti pria-pria lainnya.

Yang pasti, ia tak menyadari bahwa Luhan sangat-sangat mencintainya.

 

“Kenapa kau pergi?” Sehun bertanya dengan sedikit sinis.

 

“…aku tidak menyadari kalau dia begitu mencintaiku dulu.. dan setelah aku pergi… aku juga baru menyadari kalau aku terlanjur mencintainya juga. Betapa bodohnya.” Yoona berujar seolah merutuki dirinya sendiri. Airmatanya turun tanpa diminta.

Sehun menatapnya sedih.

Yoona pernah membuat adiknya seperti orang stress dulu. Ditinggalkan tanpa kabar dan jejak, mana ada orang yang mau? Atau mungkin bahagia karenanya? Mustahil.

Parahnya lagi, dulu Luhan terlalu ambil pusing untuk hal itu. Membuat Sehun dengan susah payah meyakinkannya bahwa ada wanita yang lebih baik daripada Yoona.

 

“Semoga dia memaafkanku..”

 

“Dia sudah memaafkanmu sejak lama.” Sehun lagi-lagi memotong perkataan Yoona kecut.

Yoona memandang Sehun sekilas dengan kening berkerut. Tak menyangka Sehun begitu dendam –bisa dibilang begitu—padanya. Isakan Yoona berlanjut. Ia menggeleng-geleng tak percaya.

 

“Kenapa kau sepertinya begitu membenciku?” tanya Yoona. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Sehun tak menjawab. Pandangannya kembali tertuju kepada nisan Luhan.

 

“Aku membencimu karena kau tidak ada di sampingnya pada saat-saat terakhirnya.” Sehun masih tidak mau menatap Yoona. Yoona menggigit bibir bawahnya kelu.

 

“Kau tau? Dia bahkan masih mengingatmu.” Sehun menunduk. Mengingat bagaimana ekspresi Luhan saat menyebut-nyebut nama Yoona di masa kritisnya.

Masa-masa terakhir Sehun dapat melihat wajah malaikat Luhan. Melihat wajah damai itu tersenyum tipis di peti matinya.

Dan akhirnya percakapan sore itu berakhir dengan isakan panjang Yoona. Rintik hujan masih menemani mereka. Sehun hanya bisa merengkuh Yoona kikuk tatkala tangisan gadis disampingnya itu tak kunjung berhenti. Ikut merasakan luka yang diterima Yoona rupanya.

Payung yang Yoona pegang pun terjatuh dan Sehun tak memperdulikannya. Sehun semakin memeluk Yoona erat. Basah yang menjalari pakaian mereka tak lagi di hiraukan. Jantungnya sontak berdebar-debar tak karuan. Membuat Sehun heran dengan dirinya sendiri.

Sementara sang malaikat tersenyum dari atas sana.

 

 

 

 

 

 

Sehun telah mendapat obat untuk rasa kehilangannya.

 

 

 

 

i have feel it, of being a true winner.

and then i’m lost the biggest part of my life…

 

now i feel that weird feeling named… love?

 

 

 

Mungkin aku bisa mengalahkan Luhan, mungkin aku bisa dengan sombongnya mengangkat piala itu sendirian,

Tapi aku lebih bangga karena telah mengalahkan egoku sendiri. Lebih bangga karena telah mengantarkan adikku menang untuk terakhir kalinya.

 

 

-3 years later-

 

Sehun menghembuskan nafas kasar saat komputernya sudah dimatikan. Ia melepas kacamatanya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Kedua manik matanya menilik ruang kerjanya lunglai. Sedikit tidak bersemangat karena seseorang yang ia tunggu belum juga hadir seperti biasanya.

 

“Ugh..” Kembali Sehun mendesah malas. Belum juga, kemana dia? Batinnya bersuara.

Sehun menempelkan keningnya di permukaan meja kerjanya yang penuh dengan kertas-kertas. Memejamkan matanya untuk sedikit menenangkan pikirannya yang bergejolak.

 

 

 

 

 

“Hei..”

Sehun langsung mengangkat kepalanya tatkala mendengar suara yang sudah tak asing. Suara yang ditunggunya. Seorang yang selalu mendatangi kantornya setiap sore dan mengajaknya berbincang. Saling melepas rindu dengan obrolan penuh tawa.

Sesosok bayangan putih itu berdiri di depan mejanya dengan seulas senyum terbaiknya. Sehun selalu merindukan senyum itu, walau ia melihatnya setiap hari. Pakaiannya yang serba putih nampak berkilauan dan sama warnanya dengan kulitnya.

 

Sehun balas mengangkat sudut bibirnya. “Hai,” ucapnya kikuk. Sosok itu tertawa.

 

“Bagaimana hyung?” Tanyanya setelah kekehannya mereda. Sehun mengerutkan keningnya.

 

“Apanya yang bagaimana?” Sehun balas bertanya heran.

 

Yang di tanya mendengus kecil. “Pernikahan kalian dua tahun yang lalu..”

 

Sehun terbelalak ditanya seperti itu. “Kau menanyakannya setiap sore.” Gerutu Sehun. Namun sosok berbayang itu tetap menatapnya ingin tahu.

Sehun menatapnya sendu. Menghela nafas sebelum kembali menatap sepasang sandal rumahnya.

 

“Sepertinya aku… aku, aku belum benar-benar mencintainya.” Aku Sehun. Ia mengucek matanya sekilas. Pria di hadapannya menunduk.

 

“Kau harus bisa mencintainya sepenuh hati, hyung. Aku tidak mau dia terluka…” sosok yang lebih muda dari Sehun itu membuang pandangannya. Hati Sehun yang tadi sedikit lega karena kedatangannya kini bermuram durja.

Ya, kau benar.. pikir Sehun.

 

“Maaf, aku akan mencobanya..” Lirih Sehun. Ia harus bisa, membahagiakan adiknya –Luhan, tentu saja. Yang kini ada di hadapannya, itu sosok bayangan Luhan.

 

 

Luhan menghembuskan nafasnya lembut. Hening sesaat sebelum ia kembali membuka mulutnya.

 

“Ohiya, aku akan berpindah ke distrik 16 di langit London sebelum matahari terbit esok,” Luhan berujar. Sehun melototkan matanya mendengarnya.

 

“Maksudmu—”

 

“Sepertinya ini terakhir kali kita akan bertemu,” Luhan sedikit memotong ucapan Sehun. Ia makin enggan untuk menangkap raut Sehun.

Kerutan di kening Sehun makin terlihat. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.

 

“Tidak.. tidak! Apa kau gila? Aku masih membutuhkanmu disini..” Cuap Sehun. Namun tak ada yang bisa dilakukannya selain berdiri.

 

Luhan mengulas senyum sedih. “Aku sudah pergi sejak lama hyung. Kau tidak membutuhkanku lagi, selama ini kita hanya saling melepas rindu. Itu saja.” Luhan menangkap manik mata Sehun. Ikut berdiri di detik berikutnya.

 

“Tapi.. Yoona bahkan—“

 

“Aku mohon jangan pernah beritahu Yoona apa-apa, tentang aku, dan pertemuan kita setiap sore ini..” Luhan lebih dulu memotong perkataan Sehun. Mengubah tatapannya pada Sehun menjadi tatapan memohon.

Sehun melenguh. Memandang Luhan tak percaya. Sementara si empu yang diperhatikan kembali menebar senyumnya.

 

“Kita sudah pernah menang bersama hyung, itu tidak akan pernah terlupakan olehku.” Kalimat itu Luhan akhiri dengan tawa renyah.

 

“Aku pikir kau akan mengangkat pialamu sendirian, ternyata tidak…” Luhan menggaruk tengkuk lehernya salah tingkah.

Sehun ikut membuat senyum. Diam-diam batinnya bersedih, ini pertemuan terakhirnya dengan Luhan. Tapi ia sangat bersyukur akan keputusannya tiga tahun lalu. Setidaknya, Luhan sudah memegang piala terakhirnya dengan bahagia.

 

“Baiklah..” Tangan Luhan turun. Saling bertaut dengan jemari tangan sebelahnya.

 

“Aku selalu menyayangimu hyung, selalu.” Sehun tak dapat menahan air matanya lagi saat bayangan Luhan perlahan menghilang. Membaur dengan udara kosong dan hanya meninggalkan lengkungan indah di wajahnya. Sebuah senyum tulus.

Ia memukul meja kayu di hadapannya frustasi.

 

Bahkan aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal, pikir Sehun. Kakinya yang lemas membuatnya terduduk lunglai diatas kursi empuknya.

 

Luhan tidak akan bisa tenang jika kau terus menangis seperti itu. Selintas suara memasuki pikiran Sehun. Pria itu mendengarkannya tak acuh.

Tapi di detik berikutnya ia mengusap sudut matanya kasar. Menghilangkan air mata yang hendak jatuh lagi. Dahi Sehun kembali mencium permukaan meja.

 

Tok tok

“Sehun apakah kau di dalam?” Suara Yoona yang terdengar membuat Sehun sedikit lega. Ia mengangkat kepalanya lagi dengan bersemangat.

 

“Ya, masuk saja,” Balasnya sedikit berteriak. Mengusap-usap wajahnya kasar sebelum berteriak seperti itu.

Pintu berwarna coklat tua itu terbuka. Yoona muncul di ambang pintu dengan nampan berisi dua gelas kopi dan teh. Sehun tersenyum menatap Yoona.

 

“Kau mau kopi atau teh?” Tanyanya. Mengangkat wajahnya dan memandang Sehun. Namun pipinya merona saat mendapati Sehun sedang menatapnya seraya tersenyum. Yoona meletakkan nampan itu di meja Sehun perlahan.

 

“Yoona,” Sehun mengabaikan pertanyaan Yoona. Ia menghampiri gadis itu dan memegang bahunya. Memutarnya untuk dapat melihat wajah Yoona yang sedang menanggalkan topengnya dari depan.

Jemari Sehun saling bertautan dengan jemari Yoona. Ia meremasnya erat seraya tersenyum simpul. Perlakuan ini membuat jantung Yoona berdegup. Walau sejak dua tahun lalu mereka menikah, Yoona tidak pernah merasa sedekat ini bersama Sehun.

 

“Maaf selama ini aku tidak menjadi suami yang baik,” Sehun menghembuskan nafas berat. Memainkan jari-jari Yoona dalam diam. Yoona hanya menggeleng sebagai jawaban.

 

Sehun mengeluarkan kekehannya. Ibu jarinya menyentuh bibir Yoona singkat. “Bahkan aku tak berani menciummu.” Yoona makin merasakan pipinya memanas.

 

“Aku mencintaimu, oppa.” Ups, Sehun terlambat untuk mengucapnya duluan.

 

“Uh! Kau mencuri start-ku, Yoona…” Sehun merengut. Menarik Yoona untuk terjatuh di dekapannya kemudian. Di dadanya, Yoona tertawa. Melingkarkan tangannya di pinggang Sehun erat.

 

“Aku lebih mencintamu, Im Yoona.” Sehun mengelus-elus rambut Yoona. Mencium puncak kepala gadis itu dan memperdalam rengkuhannya.

 

Mendengar itu Yoona melonggarkan lengannya. “Kalau begitu.. coba oppa tempelkan telapak tangan oppa diatas tattoo-ku ini,” Yoona sedikit mendongak untuk dapat menatap Sehun, menunjuk tatto ‘pengendali waktu’ yang masih utuh itu dengan seringai kecil. Sehun mengernyit.

 

“Untuk apa?” Tanyanya tanpa berniat melepaskan tautan tangannya di belakang punggung Yoona.

Namun Yoona tidak menggubris, ia menarik sebelah tangan Sehun. Membimbingnya untuk melakukan perintahnya tadi. Sehun tak mengelak. Jemari Sehun terasa dingin saat menyentuh permukaan kulit Yoona. Sehun tersenyum melihat raut damai Yoona –gadis itu mengatupkan matanya.

Tattoo itu bersembunyi di balik punggung tangan Sehun. Sehun menekan telapak tangannya sedikit keras, itu karena didorong oleh tangan Yoona.

Dan tak lama, cahaya menyilaukan melewati sela-sela jari Sehun. Membuat Sehun tersentak dan menutup matanya sekilas.

 

Woah, apa itu?” Ujar Sehun takjub. Mendengar Sehun berbicara, Yoona membuka matanya. Namun salah satu tangannya masih menahan telapak tangan Sehun di wajahnya, diatas tattoo itu.

 

“Jangan diturunkan dulu sebelum aku menyuruhmu…” kalimat Yoona kali ini tak lebih dari sebuah bisikan. Sehun hanya tersenyum jail.

 

“Memangnya ada—“

 

“Apa tadi ada cahaya yang terlihat?” Yoona memotong perkataan Sehun. Sehun terdiam karena sebal. Namun segera memberikan anggukan untuk menjawab.

Yoona menatap Sehun berbinar-binar, membuat Sehun mengernyit. Perlahan mulai meregangkan tekanan tangannya di atas punggung tangan Sehun.

 

”Benarkah?” Tanya Yoona meyakinkan, dan Sehun hanya mengangguk –lagi. Ia menurunkan tangannya perlahan.

Sehun membelalakkan matanya saat melihat tattoo yang penuh sihir itu telah lenyap. Hilang tanpa meninggalkan bercak atau noda sedikitpun.

 

“Tatto-nya……” Sehun melongo. Meraba tempat dimana seharusnya tattoo itu berada. Yoona hanya tersenyum lebar.

 

“Adikku bilang, tattoo itu akan hilang saat orang yang benar-benar mencintaiku menutupnya, menekannya seperti yang kau lakukan barusan, oppa..”

 

 

 

 

 

Sekali lagi, sang malaikat hanya bisa tersenyum dari langit biru.

 

 

Kau mencintainya, hyung. Kau hanya tidak menyadarinya.

 

 

-THE END-

 

 

 

A/N:

Akhirnya….. selesai juga ff di sela-sela UAS ini._. Aku belum mendapat begitu banyak kritik, jadi ga ngerti apa dari tulisanku yang harus diperbaiki.. Jadi tolong yang punya kritik buat ff ini comment ya, jangan dipendem, supaya aku bisa bikin cerita yang lebih bermutu (?) lagii!

At least, it’s just my imagination guysss jangan dimasukin hati yaa….. Agak sedih sendiri aku bacanya (?) Ini juga pertama kali bikin ff bromance/brothersip kek gini.-.

Semoga bisa membekas di hati, heheheJ  OHIYA!

My grammar’s so f*ckin bad so I’m sorry if there’s some weird English sentence…? Especially for the summary;_;

Thank you for author who published this, XOXO

RCL!:) 

8 thoughts on “TRUE VICTORY

  1. Tadinya aku pikir ff ini gaada romance-nya, aku kira genrenya brothership tapi gak nyangka ceritanya berbanding terbalik dari yang aku perkirakan.. Mengharu biru.. Daebaakk uniiee

  2. bagus banget ceritanya🙂 cuma coba kata2nya diperbagus lagi biar feel nya dapet. trus aku menurut aku pribadi sih ff ini bakal lebih bagus lagi kalo di stop sampai luhan pergi aja. soalnya emang pada dasarnya cerita ini bromance kan🙂 tapi ini juga udah bagus banget ^^

  3. andwae, kenapa jadi sedih sendiri ToT

    well, ada sedikit typo terselip, ingat hanya sedikit, hehe.
    feelnya ngena banget masa, fantasinya juga sukses :3
    sejauh ini, maafkan aku ngga punya kritikan apa-apa ‘-‘v

    ditunggu deh karya selanjutnya c:

    Keep writing c;

  4. kereeen lohh..
    wah aku speechless, disini sehun lebih tua yaa? waaah emang si magnae ini mukanya gak sesuai umur deh imutan lulu gege malahan *ups :”))
    oiya diatas tadi ada dikitan typo, tapi dikit doang..overall ceritanya bagus kok, seperti dongeng sebelum tidur akhir nya pun happy ending :3 udah gitu aja komen aku, keep writing ya thor..annyeeong

  5. Crtanya bgus, ada sdkt khyln2 nya,
    tp, bkn nya yg lbh tua 3th itu Luhan ya ? Kq d ff ini mlh Sehun yg jd hyung nya Luhan ya ?
    O ia, ada sdkt yg msh mnggnjal, tp q jg bingung apa, sprtiy’ ada sswtu yg q kurang ngerti dr crta nya, ,😐
    aaah q tau, q bingung drmn Yoona bsa dpt kmmpuan itu ? Apa sblm nya Luhan tau ?
    Ksluruhn bgus, ide nya OK, ,
    Bikin lg yg gendernya ky gni ya, , q ska yg cast nya Luhan n Sehun,
    q tnggu krya slnjty’, ,
    hwaiting !🙂
    gomawo…
    Mian kpnjgnn comment nya😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s