Under the Moonlight

Gambar

Tittle    :           Under the Moonlight

Author :           Ddangkoplak

Genre  :           Fantasy, Mistery, Friendship

Cast     :           Yoo Anna

                        Shim Simi

                        All member Exo

 

Serangan mendadak dari sekelompok makhluk buas telah mengubah anak-anak tersebut menjadi sesuatu yang tak pernah bisa mereka bayangkan sebelumnya.

***

 

            Bel tanda masuk kelas sudah berdering sejak lima belas menit yang lalu. Para guru telah memasuki kelas masing-masing dengan murid-muridnya yang kini tengah duduk manis bersiap untuk menerima pelajaran di jam pertama sekolah.

Namun keadaan itu tidak berlaku untuk kelas 1B. Mereka kini berbaris memenuhi lapangan sepak bola didepan gedung bertingkat empat tersebut. Yah, pagi ini adalah jadwal mereka mengikuti pelajaran olahraga.

Seorang namja jangkung dengan rambut hitam cepak meniupkan peluit yang tergantung dilehernya. Membuat anak-anak memusatkan perhatian padanya. Para murid perempuan tersenyum-senyum tidak jelas begitu menatap wajah laki-laki yang merupakan guru olahraga mereka saat ini. Bagaimana tidak? Tubuh tinggi menjulang. Badan tegap dengan otot-otot lengannya yang terbentuk indah. Oh ya, jangan lupakan wajahnya yang terpahat sempurna dengan sepasang mata tajam, bibir kecil dan hidung yang runcing dibalut kulitnya yang mulus bak porselen. Ayolah… Wanita normal mana yang tidak akan jatuh hati pada ciptaan tuhan yang sungguh mendekati sempurna itu…

“Baik. Sebelum mulai ke pembelajaran inti, kalian lakukan pelemasan terlebih dahulu. Semuanya buat barisan lima bersap. Laki-laki di timur dan perempuan di kanan. Ketua kelas maju kedepan. Pimpin pemanasan…” perintah laki-laki itu. Peluitnya kembali berbunyi nyaring saat ia meniupkannya dan kini semua siswa menuruti perintahnya.

“Maaf Kris saem. Tapi ketua kelas kami tidak ada” adu seorang siswa. Laki-laki  yang dipanggil Kris itu mengernyit heran.

“Kemana dia?” tanyanya. Siswa itu mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Oh, yang benar saja! Ini hampir jam sembilan dan orang yang menjabat sebagai ketua kelas itu belum juga datang?

“Kalau begitu suruh wakilnya untuk menggantikan” ujar Kris dengan tatapan datarnya yang-sejujurnya- agak memuakkan bagi kaum pria namun sebaliknya-sangat memabukkan- bagi kaum hawa.

Kini seluruh siswa IB tengah melakukan gerakan pelemasan dengan sebagian-terutama perempuan- tampak berbisik-bisik dan sesekali mengikik disertai semburat kemerahan di pipi mereka.

“Ya ampun… Kris songsaengnim itu tampan sekali kyaa”

“Kalau saja aku tak ingat ia adalah guruku, aku pasti akan memacarinya…”

“Dia benar-benar tampan”

“Lihatlah, badan kekarnya sedikit terlihat karena kaosnya sedikit sempit”

“Aku akan menikahinya nanti”

Kris hanya tersenyum tipis begitu telinganya menangkap gumaman-gumaman para siswi. Yah, memiliki pendengaran diatas rata-rata manusia normal memang sangat menguntungkan. Ia menghela nafas pelan sembari menatapi barisan murid-muridnya. Hingga akhirnya ia merasakan sesuatu. Kedua matanya sedikit mendelik dan ia menoleh ke belakang. Ke arah lorong yang menghubungkan lapangan ini dengan halaman belakang sekolah…

            Bruk

            Suara debuman terdengar saat sebuah tas ransel hitam mendarat ditanah dengan sukses. Selang beberapa detik kemudian, suara debuman kembali menyusul saat seorang yeoja melompat dari balik tembok batako setinggi lebih dari dua meter itu dan berhasil mendarat di tanah dengan sukses. Yeoja itu berdiri dan menepuk-nepukkan kedua tangannya yang berdebu. Ia meraih tas ransel hitam itu dan menepuk-nepukkannya juga, untuk menghilangkan kotoran.

            Setelah dirasanya cukup, yeoja itu berjalan santai sembari menyandangkan tas di lengan kanannya. Baru saja beberapa langkah, kakinya terhenti saat matanya menangkap sepasang sepatu olahraga putih dihadapannya. Pelan-pelan, yeoja itu mendongakkan kepalanya dan melihat seorang laki-laki  bertubuh tinggi tegap dengan rambut cepak hitamnya tengah memandangnya tajam melalui sepasang mata elangnya.

            Glup

            “Matilah aku” batin yeoja itu.

            “Kau pikir kau akan terlihat keren dengan memanjat tembok seperti itu, Shim Simi-ssi?” tanya pemuda itu tajam.

            Yeoja itu, Simi, hanya menunduk tanpa berniat sedikitpun untuk menjawabnya.

            “Ini sudah ketiga kalinya kau melakukan kesalahan yang sama”

            “Aku tahu. Jeosong Hamnida, Kris Saem.” ucap Simi masih tertunduk. Laki-laki itu menghela nafas panjang seraya menatap frustasi anak didiknya ini.

            “Lari keliling lapangan dua puluh kali” Kris berlalu setelah mengatakan hal itu. Simi hanya melengos pasrah menerimanya.

            Jam yang tergantung di dinding kelas telah menunjukkan pukul tiga sore. Anak-anak kelas 1B tengah larut dalam kesibukan mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru piket sejam yang lalu. Hari ini guru matematika mereka tidak bisa mengajar, dan mereka hanya diberikan tugas oleh guru piket. Keadaan begitu hening karena sebagian besar murid sedang dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Yah, maklum saja. Kelas itu terkenal dengan siswa-siswinya yang memiliki kualitas otak diatas rata-rata. Mereka semua adalah anak-anak yang-sungguh beruntung bisa lolos dari test super ketat agar bisa duduk di bangku kelas ini.

            Namun itu tidak berlaku bagi namja berbadan jangkung yang duduk di pojok belakang kelas. Namanya Park Chanyeol. Sebetulnya, ia hanyalah murid biasa dengan kemampuan otak yang pas-pasan. Namun keberuntunganlah yang membuatnya bisa menduduki kelas khusus ini. Keberuntungan karena saat test berlangsung ia berhasil menyalin seluruh jawaban dari Oh Sehun, pria berkulit putih susu yang duduk disebelahnya. Karena itulah, ia menjadi siswa yang paling malas diantara teman-temannya. Toh, ia bisa menyalin pekerjaan milik Sehun, kan?

            Sudah sejam lamanya ia duduk tanpa berusaha mengerjakan apa-apa. Berkali-kali sudah ia menguap kebosanan. Matanya menatapi seluruh penjuru kelas yang kesemuanya tengah berkutat dengan soal-soal itu. Cih, membosankan benar. Baginya…

            Dan begitu menatap punggung namja didepannya, sebuah ide muncul begitu saja dari otaknya. Ia menyeringai licik.

            Namja berkaca mata itu masih sibuk menulis di bukunya. Tiba-tiba saja dirasakannya sesuatu yang besar berbulu dengan banyak kaki menempel di pipi kanannya. Perasaannya sudah tidak enak namun ia memberanikan diri menoleh…

            “Kyaaaaaaa…..”

            Namja itu spontan melompat keatas meja sambil berteriak begitu mendapati hewan besar berkaki delapan itu tergeletak di lantai. Oh, hanya mainan rupanya. Namun itu berhasil membuatnya ketakutan setengah mati. Lihatlah dadanya yang naik turun dengan cepat karena nafasnya yang ngos-ngosan.

            Kelas menjadi ramai oleh tawa murid-murid yang melihat itu. Terutama Chanyeol, sang trouble maker. Ia tertawa sampai terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya. Namja berkaca mata itu merasakan jantungnya berdegup kencang dan dadanya sesak. Ia membungkuk dengan satu tangan memegangi dadanya sementara tangan lainnya mengobok-obok ranselnya.

Namun ternyata ada satu yang tidak menertawai kejadian itu. Seorang gadis yang duduk di bangku paling depan. Kini ia berjalan mendekat kearah namja berkaca mata tadi. Tangannya menahan tangan si namja yang mengobok-obok tasnya dan memberikan suatu benda kecil berbentuk pipa. Inhaler…

“Pakai punyaku dulu, Kyungsoo-ssi.” Ucapnya dengan pandangan datar. Namun Kyungsoo-namja berkaca mata itu- tetap tersenyum saat menerima inhaler itu.

“Hima…hahih” ucapnya susah payah. Ia memasukkan ujung pipa itu kedalam mulutnya dan menyedotnya keras-keras.

Brak

Yeoja itu menggebrak meja Chanyeol. Membuat namja itu terpaksa menghentikan tawanya. Yeoja itu menatap Chanyeol datar, dan dibalas tatapan meremehkan namja itu.

“Wae?” tanya Chanyeol santai.

“Kau tahu tindakanmu itu sangat berbahaya,Chanyeol-ssi” desisnya.

Chanyeol hanya mendengus kesal. “Jadi apa yang akan kau lakukan, KETUA KELAS?” ujar Chanyeol dengan penekanan pada saat menyebutkan jabatan yang dipegang yeoja itu. Yeoja itu menarik nafas pelan, berusaha meredam amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. “Minta maaf padanya…” ia berkata dengan nada datarnya yang khas tapi sarat dengan ancaman.

Chanyeol membulatkan matanya. “Apa katamu? Minta maaf? Tidak akan pernah…”

“Cepat minta maaf…”

“Tidak mau”

“Kau tahu kau bisa membuatnya mati…”

“Whooaa… Jadi sekarang kau mulai peduli padanya?”

Skakmat

Chanyeol tersenyum miring. Membuat yeoja itu muak dan ingin sekali melayangkan tonjokkan pada namja menyebalkan itu. Tapi ia tetap berusaha tenang dan kembali berbicara dengan nada datarnya.

“Cepat minta maaf”

“Lihatlah! Yoo Anna ketua kelas kita yang dingin seperti es sepertinya mulai tertarik pada Do Kyungsoo si namja cupu. Hahahahaha” tawa Chanyeol disertai anak-anak lainnya. Kini kelas mulai riuh kembali. Kedua tangan Anna mengepal erat.

“Ada ribut-ribut apa ini?”

Seketika seluruh tawa berhenti begitu seorang laki-laki berperawakan mungil masuk ke kelas. Sontak, semua murid kembali ke posisi mereka masing-masing. Begitu juga Anna, Kyungsoo-yang dadanya sudah kembali normal, serta Chanyeol. Laki-laki itu melemparkan pandangan tajamnya keseluruh kelas.

“Siapa ketua kelasnya?” tanyanya sedikit membentak. Tentu saja Anna berdiri dari bangkunya.

“Maju”

Anna membulatkan matanya tak percaya. “Tapi saem… Aku tidak ribut. Aku hanya…”

“Apa kau mau membantah perintahku? Maju!” Tak ingin memperkeruh suasana, yeoja itu bergegas maju kedepan kelas.

“Berapa kali aku harus memukulmu?” tanya laki-laki itu.

“Sepuluh kali” jawab Anna seraya menatap tajam ke arah laki-laki itu. Yeoja itu menelungkupkan kedua tangannya. Laki-laki itu mengambil penggaris yang terselip di saku jasnya dan mulai memukuli punggung tangan Anna sebanyak sepuluh kali. Membuat yeoja itu harus menahan rasa perih akibat tamparan mistar pada kulitnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.

            Cahaya matahari siang ini begitu menyengat. Seakan membakar apapun yang ada dimuka bumi ini. Namun namja itu tetap menengadahkan kepalanya, membiarkan wajahnya diterpa sinar sang surya. Tubuh jangkungnya bersandar pada tiang pembatas dipinggiran atap sekolah. Angin sepoi-sepoi membuat rambut hitamnya sesekali tertiup, menampakkan wajah tampannya yang nyaris sempurna.

            “hyung”

            Panggilan dari seseorang itu membuatnya menoleh kesamping, kearah seorang namja berperawakan mungil yang entah dari kapan berada di sebelahnya. Begitu melihat namja mungil itu, ia kembali ke posisi awalnya.

            “Hmm…” gumamnya merespon.

            “Kau sudah tahu tentang camping itu?” tanya namja mungil itu.

            “Hmm…”

            “Saat itu bertepatan dengan bulan purnama”

            Namja jangkung itu kini menurunkan kepalanya dan menatap lurus kedepan. “Aku tahu” jawabnya.

            “Err… Apa kau sudah tahu bahwa tempat itu… Dekat dengan sarang ‘mereka’?”

            Kedua mata namja jangkung itu membulat. Ia menoleh kesamping, menatap namja mungil itu.

            “Apa kau serius?”

            “Nde…” jawab namja mungil itu. Si-namja jangkung menghela nafas panjang sembari menatapi pemandangan puncak gedung-gedung pencakar langit dihadapannya kini.

            “Kalau begitu kita ikut”

            “Tap…tapi… Bagaimana jika saat itu kita bertransformasi?”

            Hening cukup lama sementara mereka semua nampak berpikir.

            “Kita bisa menghilang. Cari tempat yang bagus untuk kita bertransformasi sampai waktunya habis dan kita bisa kembali menjadi manusia lagi..” ucap namja jangkung itu. Suho,si-namja berperawakan mungil hanya menghela nafas panjang.

            “Tapi bagaimana jika mereka…”

            “Kita harus ada disana. Kita harus bisa melindungi seluruh warga sekolah dari serangan ‘mereka’. Bulan purnama adalah saat yang bagus bagi ‘mereka’ untuk menyerang karena saat itu kekuatan mereka pasti bertambah berkali-kali lipat.”

            “Tapi ‘mereka’ sangat banyak. Aku tidak yakin kita bisa…”

            “Kita pasti bisa. Ingat, anak-anak itu tak bisa diremehkan” ucap si-namja jangkung menenangkan Suho.

“Apa kau yakin, ini tidak akan membahayakan-‘nya’?”

Namja jangkung itu tersenyum kecil.

“Bukankah kita sudah berlatih untuk waktu yang cukup lama? Kau tak akan mencelakainya. Tenang saja” Dan seulas senyum merekah di bibir Suho.

            Triiiiiiing

            “Sudah bel. Waktunya kau mengajar bukan?” namja jangkung itu mengecek arloji di pergelangan tangan kirinya.

            “Nde. Aku pergi dulu. Gomapsumnida, hyung” pamit Suho. Namja jangkung itu menepuk punggung Suho sebelum ia bergerak menjauh menuju pintu yang menghubungkan atap dengan lantai-lantai dalam gedung.

            “Kris hyung” panggil Suho. Namja jangkung itu kembali menoleh ke arahnya.

            “You’re the best!” seru Suho sembari mengangkat jempolnya dan berbalik pergi. Kris hanya tertawa melihat itu…

            “Kau sudah dengar tentang acara camp musim panas akhir pekan ini?” tanya Yixing kepada sahabat-sahabatnya yang kini telah duduk mengitari salah satu meja bundar di kafetaria.

            “Tentu saja. Kau akan ikut?” Tao, namja dengan mata menyerupai panda menjawabnya.

            “Entahlah. Kalau kalian?”

            “Aku ikut, tentu saja…” celetuk Baekhyun, si namja bermata sipit.

            “Kalau Baekki ikut, aku pasti ikut juga” kali ini giliran Chanyeol, manusia yang tubuhnya paling menjulang diantara mereka membuka suara. Namja jangkung itu melingkarkan tangannya pada bahu Baekhyun

            “Errr… Aku tidak tahu. Kalau Luhan hyung ikut aku ikut juga” Sehun, si pemilik kulit putih menyerupai susu menimpali.

            “Huft… Aku juga tidak  tahu. Kalo Minseok hyung ikut aku ikut juga…” Yixing bersuara.

            “Panjang umur. Mereka datang” celetuk Baekhyun menunjuk ke arah dua namja yang baru saja memasuki areal kantin dan saat ini sedang menuju ke meja mereka.

            “Hai semua” sapa mereka berbarengan.

            “Annyeong hyung”

            “Annyeong”

            “A-yo! Waddup hyung!”

            “Haaai juga…”

            Begitulah kira-kira balasan kelima anak tersebut. Segera saja, kedua namja itu menduduki kursi yang masih tersisa.

            “Apa kalian sudah dengar kalau sekolah kita akan mengadakan camp musim panas minggu depan?” Luhan bertanya sembari menyilangkan kedua kakinya dibawah meja.

            “Tentu dan kami akan ikut” sahut Chanyeol mantap. “Bagaimana dengan kalian?”

            “Kami diwajibkan ikut. Huft, padahal aku sudah berencana mengunjungi nenekku di desa” sahut Minseok. Namja berpipi bakpao itu menggembungkan pipinya. Membuatnya semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Kontras sekali dengan kenyataan jika usianya sekarang hanya kurang setahun lagi untuk memasuki kepala dua. Yixing hanya terkekeh melihat tingkah kakak sepupunya itu. “Tenang saja, hyung. Aku juga akan ikut” ujarnya menenangkan.

            “Jadi Luhan hyung ikut juga? Kalau begitu aku juga ikut”

            Sementara mereka terlarut dalam obrolan, Chanyeol memutuskan untuk melihat-lihat sekitar kafetaria. Yah, di jam istirahat seperti ini kafetaria selalu ramai oleh hiruk-pikuk siswa dengan berbagai kegiatan mereka. Mereka duduk mengelompok, sama seperti ia dan teman-temannya saat ini. Dan yang kurang beruntung lantaran tidak memiliki kelompok berteman, terpaksa harus mengasingkan diri di meja panjang yang tersedia disudut ruangan.

            Disaat sedang asyik mengamati kegiatan anak-anak, pandangan matanya jatuh pada sesosok namja yang tengah berjalan menjauhi mesin minuman dengan dua kaleng Coca-Cola dimasing-masing tangannya. Namja itu berjalan dengan angkuh, seangkuh wajahnya yang termasuk kategori sangat tampan. Tatapannya lurus kedepan, samasekali tak memedulikan bisik-bisik genit dari yeoja-yeoja yang dilewatinya.

            “Yak…Park Chanyeol!” teguran Baekhyun mengalihkan pandangan Chanyeol dari namja itu. Saat ia berpaling, semua temannya memerhatikan ia dengan pandangan aneh.

            “Wae?” tanya Chanyeol kebingungan.

            “Kulihat sedari tadi kau terus saja memperhatikan namja berkulit hitam itu.” Komentar Luhan. “Benarkah? hehe” Chanyeol menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal sama-sekali.

            “Yak! Apa kau menyukainya?”

            Sepertinya Yixing harus menyesal mengatakan itu karena setelahnya ia harus menerima pukulan keras di kepalanya. Siapa lagi kalau bukan dari manusia jangkung kita, Park Chanyeol.

            “Sakit!” protesnya dengan tangan mengelus-elus kepalanya.

            “Kau gila? Aku masih normal…” elak Chanyeol. Yixing mendengus kesal.

            “Chanyeol tidak mungkin menyukai si hitam Kai itu, Yixing” ujar Baekhyun sambil menahan tawanya. Baru saja ia akan melanjutkan kata-katanya yang bertujuan untuk menggoda Chanyeol, namja jangkung itu sudah mendahuluinya.

            “Tentu saja. Karena aku hanya akan menyukai Byun Baekhyun seorang” ucapnya dengan nada sok-imut sembari memeluk lengan Baekhyun.

            “Menjauh dariku Park Chanyeol!” bentak Baekhyun mendorong badan besar Chanyeol dari sisinya. Membuat semua temannya menertawai mereka. Tanpa mereka ketahui, seorang namja berkulit hitam menyunggingkan smirknya seraya melangkah keluar Kafetaria.

            Gadis itu melangkahkan kakinya melewati pintu yang baru saja ia buka. Membuat dirinya memasuki bagian dalam sebuah rumah bergaya minimalis. Ia baru saja menata sepatu sekolahnya saat pintu kamar mandi didekatnya terbuka. Dari baliknya, nampak seorang namja berperawakan mungil yang baru saja selesai mandi. Terlihat jelas dari rambutnya yang masih basah dan handuk putih yang dipegangnya. Seulas senyum terukir dibibir namja itu begitu melihat si gadis.

            “Anna-ya… Soal tadi itu…”

            “Tidak perlu minta maaf” potong gadis bernama Anna tersebut. Segera saja ia berjalan menuju kamarnya. Melewati namja itu dan membanting pintu kamarnya sekeras mungkin. Membuat namja itu tersentak.

            “Suho hyung. Wae geurrae?” tanya seorang namja dengan garis rahang tegas yang baru saja keluar dari kamarnya.

            “Errr… Itu aku…”

            “Suho hyung memukulnya disekolah karena kelasnya ribut.” Kembali, kata-kata Suho dipotong. Kali ini oleh seorang namja berkulit gelap yang tengah duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan pspnya.

            “Benar begitu, hyung?” tanya namja bergaris rahang tegas lagi. Suho mengangguk. “Ne, Chen. Apa yang dikatakan Kai benar.” Suho melengos pasrah. Chen, namja bergaris rahang tegas itu menepuk-nepuk punggung Suho. “Minta maaflah padanya, hyung” sarannya dan iapun berlalu ke kamar mandi.

            “Anna-ya. Mianhae. Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak tahu kalau kau adalah ketua kelas…” rayu Suho dari balik pintu bercat cokelat yang masih tertutup rapat itu. Dibalik pintu yang merupakan pintu kamar Anna, gadis itu tengah meringkuk diatas kasurnya. Suara isakan sesekali terdengar.

            “Suho oppa jahat…” serunya. Diluar, Suho yang mendengarnya jadi semakin sedih.

            “Hari ini…” Suho menoleh ke arah Kai yang bersuara namun masih fokus pada pspnya.

            “Untuk pertama kali dalam hidupnya Anna dipukul oleh kakak tersayangnya. Huft… Betapa menyakitkannya”

            Kata-kata Kai tadi membuat Suho semakin merasa sedih. Memang benar apa yang dikatakan Kai. Selama ini ia sangat menyayangi adik perempuannya itu. Tak sekalipun ia pernah memarahinya. Dan siang tadi ia dengan terpaksa harus memukulnya. Membuat tangannya merasakan perih akibat tamparan penggaris mistar itu hingga tangannya memerah. Anna pasti sangat sedih.

            “Dia marah?” celetuk Kris. Suho yang baru saja bergabung dengannya di balkon mengangguk mengiyakan. Ia meniru sikap Kris yang menyandarkan kedua lengannya dipagar pembatas balkon.

            “Ia pasti terluka.” Suho menunduk dengan ekspresi sedihnya. Kris tersenyum kecil.

            “Sudahlah. Lama-lama ia akan melupakannya. Tetaplah bersikap seperti biasa padanya”

            “ne, hyung”

            “Ayo masuk. Ada hal penting yang harus kita bicarakan dengan bocah-bocah itu” ajak Kris yang sudah membalikkan tubuhnya.

            “Tapi hyung…”

            “Ia sudah sedikit melupakan kesedihannya. Kau tenang saja. Hal ini sangat penting untuk diketahui bocah-bocah itu saat ini” seperti biasanya, Kris tahu apa yang akan Suho katakan. Membuat namja mungil berwajah malaikat itu mengangguk pasrah dan menurutinya.

            Yah, kata-kata Kris ada benarnya juga. Saat ini Anna tampak mengobrol dengan Chen. Hati Suho sedikit lega saat melihat yeoja itu tersenyum dan sesekali tertawa. Yeoja itu, yeoja yang sangat disayanginya. Yang selalu merengek padanya saat minta dibelikan sesuatu. Yang selalu menangis sambil memeluknya jika diganggu oleh Kai. Yang selalu menghiburnya saat ia merasa lelah dan putus asa…

            “Mau sampai kapan kau berdiri disana, Suho-ya?” teguran Kris berhasil mengalihkan pikiran Suho. Namja itu tersenyum salting dan bergegas mendekati Kris yang tengah duduk bersila diatas karpet ruang tengah. Dilihatnya Anna yang sempat menoleh ke arahnya begitu namanya dipanggil namun gadis itu mendengus kesal dan membuang muka lalu megobrol kembali dengan Chen. Ia bisa maklum. Anna pasti masih ngambek padanya. Tapi melihat ia tidak lagi menangis sudah cukup bagi Suho.

            “Dasar ayam jelek” ejek Kai pada seorang yeoja berpipi chubby yang duduk diseberangnya. Tepat disamping Kris.

            “Apa kau bilang? Dasar negro” balas yeoja itu.

            “Weeek… Shim Simi ayam jelek, gendut, bodoh”

            “Yak! Daging gosong”

            “Ayam bodoh. Gendut. Tidak nyambung”

            “Monyet hitaaaaaaam….” Perkelahian tak lagi bisa dihindari begitu yeoja chubby bernama Shim Simi itu mengejar Kai yang berlari sambil terus melemparkan ejekannya.

            Kris memijit keningnya yang mendadak berdenyut. Suho hanya menghela nafas panjang sembari mengelus dadanya, meyakinkan dirinya untuk bersabar. Sedangkan Anna dan Chen geleng-geleng kepala melihat kelakuan saudara-saudara mereka yang sangat kekanakan itu.

            Dan tanpa diduga semua orang, Kris berdiri dan langsung meraih kepala kedua bocah itu lalu membenturkannya satu sama lain. Membuat suasana gaduh tadi berubah hening lantaran kedua lakonnya sedang berkutat dengan rasa sakit dikepala mereka sedangkan yang lainnya nampak shock oleh ulah Kris. Kai dan Shimi yang berjongkok tampak meringis sembari memegangi dahi mereka yang benjol.

            “Baiklah. Sejujurnya ada yang ingin kukatakan pada kalian” ucap Kris tenang seakan tidak terjadi apapun. Kai dan Shimi sudah duduk kembali ke tempat mereka. Masih dengan tangannya yang memegangi dahi benjol mereka. Sungguh. Hanya Kris yang bisa mengendalikan mereka.

            “Kita akan ikut ke acara camp musim panas sekolah akhir pekan ini”

            Kata-kata Kris sukses membuat semua-kecuali suho tentunya-membulatkan mata.

            “Tapi, ge. Saat itu adalah bulan purnama dan itu waktunya untuk…”

            “Aku tahu, Kai. Tapi masalahnya, tempat itu dekat sekali dengan sarang ‘mereka’”

            “Mwo????” semua (kecuali Suho) serentak bertanya dengan terkejutnya. Kris hanya mengangguk cool.

            “Karena itulah kita harus ikut. Kita harus melindungi warga sekolah dari serangan mereka. Aku yakin, dari jarak sedekat itu, ‘mereka’ bisa membaui kita”

            “Tapi! Oppa, bukankah saat itu kita juga akan bertransformasi? Bagaimana jika kita malah menyakiti warga sekolah?”

            Kris kini tersenyum ke arah Simi. “Kita sudah melatih diri kita untuk waktu yang cukup lama. Kita pasti bisa melakukannya dengan benar tanpa menyakiti warga sekolah lainnya.” Semuanya (termasuk Suho)  menganggukkan kepala. Yakin bahwa keputusan mereka benar.

            “Kita akan melindungi warga sekolah. Seperti sumpah kita dahulu untuk melindungi manusia dari serangan makhluk-makhluk terkutuk seperti kita…”

 

 

 

~TBC~

10 thoughts on “Under the Moonlight

  1. sumpah thor.. ini harus dilanjutin!! asli bikin penasaran banget thor, pokoknya ini harus kudu mesti wajib di lanjutin wkwkwk😀

  2. Yaaah kq Tbc siih ?
    Pdhl kn lg seru2 nya baca, , byk hal yg bkin q pnasarn,
    q tnggu klnjtn y’ ya, ,
    terus smangat thor, jgn lma2 ya next chap nya, ,🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s