[9th Scene—END] My Marriage Is…

request-yaumila-my-marriage-is

My Marriage is … [Part 9 — END]

Author Yaumila

 

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Genre School Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

Poster by : ©Ratwork Art

My Blog : http://yaumila.wordpress.com

 Previous Part 1 | 2 | 3 | 4 5 6 7 [Protected] | 8

Disclaimer :

Para tokoh yang ada di FF ini milik Tuhan. Cerita ini murni hasil imajinasi saya.

Don’t Plagiat!

 

Happy Reading~~

 

.

.

.

 

 

“A a apa? Bicara apa kau Taemin-ah, hentikan itu tidak lucu.” Jiyeon berusaha tertawa untuk mengalihkan pembicaraan meskipun itu malah terlihat bodoh. Pernyataan Taemin tadi terlalu mengejutkan untuknya hingga tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa kepada sahabat yang ada di hadapannya ini. Ya, hanya sahabat—menurut Jiyeon.

 

Taemin hanya terdiam kaku di tempatnya berdiri saat ini. Mengapa Jiyeon malah tertawa? Sungguh, reaksi Jiyeon sangat tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh Taemin. Taemin mendesah kecewa dalam diam. Perasaan yang selama ini ia tahan akhirnya bisa ia ungkapkan pada gadis yang perlahan mulai dicintainya itu. Tidak tahukah ia bagaimana takutnya Taemin ketika mengatakannya? Dan kini ia harus menelan pil yang teramat pahit karena gadis itu beranggapan bahwa ucapannya hanya sebuah lelucon bodoh tidak berarti yang terlontar begitu saja dari bibirnya.

 

“Kenapa kau tertawa? Apa ucapanku tadi itu lucu menurutmu?” Taemin memulai percakapan dengan pertanyaan yang kurang menyenangkan. Dan membuat situasi yang tegang bertambah menjadi dua kali lipat.

 

Jiyeon yang melihat perubahan raut wajah Taemin menghentikan tawa bodohnya secara perlahan. Diam. Itulah yang ia lakukan saat ini. Mungkinkah Taemin bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu? Tapi, bagaimana bisa? Ia pikir segala bentuk perhatian Taemin padanya selama ini hanya sekedar sikap yang biasa dilakukan oleh sahabat sama seperti yang ia lakukan kepada Sulli. Perlahan rasa bersalah mulai menjalar ke relung hatinya saat melihat Taemin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jadi, ini sungguhan? Jiyeon benar-benar merasa bimbang, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Terbentuk jeda yang cukup lama setelah pertanyaan Taemin tadi.

 

“Bukan seperti itu maksudku, Taemin-ah. Tapi, bagaimana bisa kau menyukaiku?” Jiyeon bertanya dengan sedikit ragu dan memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Taemin yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang rrr, terlalu tajam menurutnya.

 

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya hingga aku bisa menyukaimu. Yang aku tahu, perasaan ini kian menjadi saat kita sering bersama.” Taemin maju satu langkah ke arah Jiyeon. Membuat gadis itu menjadi gugup secara tiba-tiba.

 

“Kau tahu sendiri jika aku sudah menikah Taemin-ah, dan maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu. Tapi, kita akan tetap menjadi sahabat seperti dulu lagi.” Jiyeon memaksakan bibirnya untuk membuat sedikit lengkungan ke atas meskipun sulit. Taemin tersenyum miris mendengar penuturan Jiyeon. Kini Jiyeon menggigit bibirnya karena sadar akan ucapannya barusan yang mungkin bisa melukai perasaan Taemin. Tapi ucapannya adalah sebuah kenyataan, dan seharusnya Taemin tahu betul akan hal itu meskipun akan terasa pedih untuknya. Taemin baru saja melupakan satu fakta yang sangat penting. Ya, ia lupa jika Jiyeon sudah menikah dan menyandang gelar sebagai nyonya Oh.

 

“Tidak bisakah kau melihatku lebih dari sekedar sahabat? Lagipula pernikahanmu dan Sehun hanya karena perjodohan dan aku yakin tidak bisa bertahan lama. Sehun itu tipe pria yang suka bersenang-senang, aku takut ia tidak serius menjalani hubungannya denganmu. Pikirkanlah ucapanku ini baik-baik Jiyeon-ah, ini demi kebaikanmu.”

 

Oh, apa lagi ini? Apa sekarang Taemin sedang menyuruhnya secara tidak langsung untuk bercerai dari Sehun? Ya, ia ingat betul bagaimana menyebalkannya Sehun saat pertama mereka bertemu. Dan bagaimana sikap Sehun yang menentang perjodohan mereka dan kemudian menerimanya dengan sangat terpaksa. Ia juga ingat jika Sehun sering pergi ke pub dan meminum alcohol—meskipun itu dulu. Tapi semua perlahan mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu. Perasaan cinta mulai tumbuh diantara mereka berdua tanpa Taemin ketahui. Bahkan mereka sudah melakukan ‘hal’ yang terlampau jauh. Membuat Jiyeon menjadi wanita sesungguhnya, ia bukan gadis lagi sekarang. Dan peristiwa tersebut hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu. Jiyeon percaya jika Sehun yang sekarang sudah berubah. Meskipun awalnya hubungan mereka dimulai dengan paksaan orang tua masing-masing. Tapi Jiyeon mulai mencerna kalimat Taemin. Akankah pernikahannya ini bisa bertahan lama?

 

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Tolong pikirkan secara baik-baik, setelah itu datanglah padaku untuk memberikan jawabanmu.” Taemin menyela Jiyeon saat ia ingin berbicara. Dan langsung berjalan begitu saja menuju motor besarnya lalu meninggalkannya yang masih berada di tempat parkir.

 

Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Padahal Jiyeon baru menikmati masa-masa damai berdua dengan Sehun setelah pertengkaran mereka tempo hari. Dan kini muncul masalah baru lagi yang berasal dari orang terdekatnya—Taemin. Jadi inikah alasan Sehun yang berusaha keras untuk melarangnya agar tidak terlalu dekat dengan Taemin? Jadi ia sudah mengetahui hal ini jauh-jauh hari? Dan bodohnya lagi ia sama sekali tidak menyadarinya. Pikiran-pikiran negatif pun berdatang silih berganti di kepalanya tentang hubungannya dengan Sehun.

 

Tunggu. Berbicara tentang Sehun, kemana perginya pria itu? Kenapa ia begitu lama mengambil barangnya yang tertinggal? Tiba-tiba perasaan Jiyeon menjadi tidak tenang. Seharusnya Sehun sudah kembali ke tempat parkir beberapa menit yang lalu. Berbagai pikiran buruk mulai berkeliaran di kepalanya. Tidak, tidak mungkin. Jiyeon memaksakan dirinya untuk tetap berpikir positif dan menunggu Sehun kembali.

 

Hari sudah semakin sore. Jiyeon sudah menunggu selama dua jam sejak kepergian Sehun. Ia masih melihat mobil Sehun yang sedang terparkir dengan nyamannya disana. Sekolah pun sudah sangat sepi karena ditinggal pergi oleh para penghuninya. Jiyeon bergerak gelisah di tempat yang ia duduki ketika mendapati Handphone Sehun yang tidak aktif. Hari bahkan mulai berubah menjadi gelap dan Jiyeon mulai merasa ketakutan. Kenapa Sehun belum kembali sampai sekarang? Apa Sehun meninggalkannya sendiri disini? Tega sekali jika ia benar-benar melakukannya. Perlahan buliran air berlomba untuk keluar dari matanya. Dan tangis Jiyeon menjadi semakin kencang saat ia yakin bahwa Sehun benar-benar meninggalkannya sendiri.

 

Mungkinkah, ia mendengar pembicaraannya dengan Taemin?

 

***

 

Saat waktu pulang tiba, Sehun terlihat begitu bersemangat karena ia berencana untuk mengajak Jiyeon untuk jalan-jalan terlebih dulu. Sehun bahkan sudah merencanakan kemana saja ia akan pergi disaat jam pelajaran terakhir hingga membuat teman sebangkunya—Kai, merasa heran sekaligus takut melihat Sehun yang terus tersenyum seperti orang gila. Ia bahkan langsung menyeret Jiyeon keluar kelas begitu bel berbunyi karena ia tidak ingin Taemin berjalan bersama dengan mereka—lagi.

 

Ketika mereka tiba di tempat parkir, Sehun teringat akan buku tugasnya yang tertinggal di laci. Jika saja besok tidak ada pelajarannya, mungkin Sehun akan membiarkan bukunya untuk menginap semalam di sekolah. Tapi ia harus menyerahkan tugas itu besok, dan ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri yang harus membersihkan toilet karena tidak mengerjakannya.

 

“Ah, tunggu sebentar aku meninggalkan sesuatu di kelas.” Jiyeon berdecak kesal mendengar perkataan Sehun dan menganggukan kepalanya. Sehun hanya tersenyum melihatnya dan berlari secepat yang ia bisa karena tidak ingin membuat Jiyeon menunggunya terlalu lama. Selain itu ia juga sudah tidak sabar untuk jalan-jalan berdua dengan ‘istrinya’.

 

Sehun terengah-engah begitu ia tiba di kelasnya yang sudah sepi. Ia langsung menuju kursinya. Dan ia menemukan bukunya yang tergeletak dengan manis di dalam laci mejanya. Sehun buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas dan berlari lagi untuk menyusul Jiyeon. Sehun berlari dengan tergopoh-gopoh karena jarak dari kelasnya ke tempat parkir yang tidak bisa dibilang dekat. Keringat bermunculan dari dahinya hingga membuat rambutnya menjadi sedikit basah.

 

Sehun memicingkan matanya ketika melihat Jiyeon yang sedang bersama dengan seorang pemuda. Dan posisi mereka sangat tidak mengenakkan untuk dipandang—mungkin hanya oleh Sehun. Hatinya mulai memanas melihat posisi Jiyeon yang begitu dekat dengan Taemin. Entahlah, akhir-akhir ini Sehun merasa perasaannya menjadi lebih sensitif jika melihat Jiyeon bersama dengan Taemin. Padahal Sehun sangat mempercayai Jiyeon jika ia hanya menganggap Taemin sebagai seorang sahabat saja. Lagipula mereka sudah menikah, tidak ada hal yang perlu ia takutkan. Tapi ia tidak bisa percaya pada pemuda itu. Di matanya Taemin terlihat sedang berusaha mendekati Jiyeon. Dan Taemin selalu muncul saat ia tengah berduaan dengan Jiyeon. Yang pasti membuatnya kesal bukan main.

 

Kini mereka terlihat sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius. Sehun tidak jadi menghampiri mereka dan lebih memilih bersembunyi untuk mendengar apa yang mereka katakan. Sehun berjalan semakin mendekat ke arah mereka berdua yang saat ini sedang memunggunginya.

 

“Aku menyukaimu, Jiyeon-ah.”

 

Itu adalah kalimat pertama yang didengar Sehun saat posisinya sudah dekat dengan mereka berdua. Kalimat terkutuk yang diucapkan oleh Taemin.

 

“Lee Taemin, lancang sekali kau menyatakan perasaanmu pada wanita yang sudah bersuami.” Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hanya dengan satu kalimat sudah membuat hatinya berkecamuk. Sehun sebisa mungkin menahan gejolak amarahnya karena ia ingin mendengar jawaban dari istrinya. Dan jawaban Jiyeon yang sudah didengarnya itu setidaknya membuatnya menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

 

“Tidak bisakah kau melihatku lebih dari sekedar sahabat? Lagipula pernikahanmu dan Sehun hanya karena perjodohan dan aku yakin tidak bisa bertahan lama. Sehun itu tipe pria yang suka bersenang-senang, aku takut ia tidak serius menjalani hubungannya denganmu. Pikirkanlah ucapanku ini baik-baik Jiyeon-ah, ini demi kebaikanmu.”

 

Sehun terpaku mendengar penuturan Taemin. Amarahnya yang sudah sedikit mereda kini bergejolak kembali hingga membuat darahnya mendidih. Bahkan wajah dan telinganya menjadi merah. Sehun memundurkan langkahnya dengan pasti. Ia merasa tidak akan sanggup untuk mendengar jawaban yang akan keluar dari bibir Jiyeon. Langkah kakinya terlihat sangat gontai, Sehun juga tidak peduli dengan mobilnya yang masih berada di parkiran sekolah. Yang ia inginkan hanyalah menjauh dari tempat itu dan memilih pulang dengan menggunakan taksi.

 

Katakanlah ia seorang pengecut. Karena sungguh, Sehun benar-benar tidak mampu untuk mendengarkan lebih lanjut percakapan mereka berdua meskipun ia tahu Jiyeon tidak menanggapi pernyataan Taemin. Tapi yang dikatakan oleh Taemin memang benar adanya. Mereka menikah karena dijodohkan, dan Sehun sangat sadar diri akan sifat menyebalkan dan kekanakan yang ia miliki. Dan juga hobinya yang suka bersenang-senang. Yang mungkin akan membuat Jiyeon merasa jenuh dan bosan padanya. Lalu pergi meninggalkannya dan lari kepelukan Taemin.

 

Sehun tidak pernah tahu sejak kapan ia berubah menjadi pria melankolis yang super menyedihkan seperti ini. Tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya. Ketakutan jika Jiyeon akan meninggalkannya dan memilih untuk bersama dengan Taemin membuatnya resah. Harus ia akui, Jiyeon mulai masuk ke dalam kehidupannya perlahan-lahan dan sepertinya sudah masuk terlalu dalam. Bahkan gadis itu berhasil mendapatkan posisi penting di hatinya. Sebelumnya Sehun tidak pernah merasakan hal yang serumit ini. Biasanya ia yang akan meninggalkan gadis yang sedang menjalin hubungan dengannya saat ia sudah bosan dan mencari gadis lain tanpa harus bersusah payah. Sepertinya ini adalah sebuah karma atas sikap buruknya dulu.

 

Kepalanya berdenyut memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Sehun langsung menuju kamarnya begitu ia tiba di rumahnya. Ia langsung membawa kakinya untuk melangkah menuju kamar mandi. Sehun berdiri di bawah guyuran air dingin yang mengenai kepalanya. Saat ini ia hanya bisa berharap agar segala ketakutannya ikut mengalir bersamaan dengan air dan meniggalkan sedikit perasaan tenang untuknya. Cukup lama Sehun berada di dalam kamar mandi sebelum akhirnya ia keluar dari sana.

 

“Kai, bisa kau temani aku ke pub?” Sehun langsung menelpon Kai setelah ia mengenakan pakaian rapi dan bertanya tanpa basa-basi lebih dulu.

 

“Kau ingin ke pub? Untuk apa? Perlu kuingatkan jika kau sudah menikah bodoh, jangan sembarangan pergi ke tempat seperti itu. Kau ingin menjadi pria brengsek?”

 

“Sialan, tidak bisakah kau mengikuti ucapanku tanpa banyak bertanya?! Aku tidak mau tahu kau sudah harus datang begitu aku tiba disana.” Sehun langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak dan menonaktifkannya, kemudian melemparnya ke ranjang. Sehun yakin pasti Kai mengumpat kesal di tempatnya saat ini—dan ia tidak peduli.

 

Sehun langsung menyambar kunci mobilnya yang lain dan berjalan dengan tergesa-gesa keluar rumah. Ia langsung mengeluarkan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh. Sehun hanya ingin tiba disana dengan cepat dan meluapkan perasaan resah yang sedang menderanya dengan sangat hebat. Sesaat ia lupa akan Jiyeon yang ternyata masih menunggunya di sekolah.

 

Sementara itu Jiyeon sedang mencoba menghubungi Sehun meskipun ia tahu hasilnya akan percuma. Karena pria itu mematikan Handphone-nya. Jiyeon sudah meninggalkan tempat parkir, kini ia sedang berjalan mondar-mandir di depan gerbang sekolah. Udara terasa semakin dingin karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Jiyeon memeluk tubuhnya sendiri yang hanya bergantung pada blazer yang ia kenakan agar merasa lebih hangat. Jiyeon ingin pulang, tapi ia takut jikalau Sehun tiba-tiba datang dan tidak menemukannya di sekolah. Selain itu ia juga sangat khawatir akan keadaan Sehun sekarang. Jiyeon takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sehun karena menghilang begitu saja. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menunggu hingga pukul 9. Jika saat itu juga Sehun tidak menampakkan batang hidungnya, barulah ia akan pulang.

 

Sehun tiba terlebih dulu, ia langsung menuju kursi yang biasa ia tempati. Ia langsung memesan sebotol wine dengan kadar alcohol yang sedikit lebih tinggi dari kemarin. Tidak lama Kai muncul bersamaan dengan wine-nya.

 

“Apa kau memiliki masalah? Tapi kenapa harus bertemu di tempat seperti ini?” Kai langsung memberondong Sehun dengan pertanyaannya.

 

“Kau baru datang, setidaknya minumlah dulu.” Sehun menuangkan wine-nya ke dalam dua gelas. Ia memberikan satu untuk Kai dan menenggak habis bagiannya dalam satu tegukan. Kai hanya bisa menatap Sehun dengan heran dan ikut meneguk minuman yang diberikan Sehun.

 

“Ini semua karena pemuda sialan yang tak tauh diri itu. Beraninya ia menyatakan perasaannya pada wanitaku dan menjelek-jelekkan aku di hadapannya. Saat aku benar-benar bisa mencintai seorang wanita dengan tulus, kenapa muncul masalah seperti ini?” Tanpa Sehun sadari air matanya menetes begitu saja tanpa seizinnya. Kai sangat terkejut melihat Sehun menangis di hadapannya. Pria yang begitu dingin dan menyebalkan, kini sedang menangis. Dan parahnya lagi ia pasti seperti ini karena Jiyeon. Kai sama sekali tidak menyangka bahwa Sehun akan selemah ini terhadap wanita. Bahkan hal ini adalah kedua kalinya Sehun seperti ini.

 

“Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti.” Kai menyernyitkan dahinya bingung dan menyandarkan punggungnya ke sofa.

 

“Sepertinya tidak lama lagi kami akan berpisah.” Sehun berkata dengan begitu lirih disertai senyuman miris.

 

“Jangan konyol Oh Sehun, kalian baru saja menikah! Berpisah? Gila, bahkan pernikahan kalian belum genap satu tahun. Cepat jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?!” Kai sedikit menaikkan oktaf suaranya begitu ia selesai mendengar pernyataan Sehun.

 

Sehun menjelaskan apa yang ia dengar antara Jiyeon dan Taemin pada Kai. Sesekali ia menyelingi pembicaraan mereka dengan meminum wine. Kai dengan sabar mendengar apa yang Sehun katakan.

 

“Jadi hanya karena masalah seperti itu kau ingin berpisah? Ya! Dimana letak otakmu bodoh?!” Kai menjadi sedikit emosi setelah mendengar penjelasan Sehun. Yang benar saja, hanya karena masalah sepele seperti itu ia ingin berpisah? Tidak masuk akal.

 

“Masalahnya tidak sesederhana yang kau pikirkan Kai! Kau tidak mengerti perasaanku, ini pertama kalinya aku menghadapi masalah seperti ini.”

 

“Sehun-ah, segala ketakutanmu itu hanya kemungkinan belaka dan belum tentu akan terjadi. Lagipula kau belum mendengar jawaban Jiyeon. Aku yakin ia tidak akan menerima Taemin, percayalah.” Kai berusaha meyakinkan Sehun dengan ucapannya. Yang membuat pikiran pria itu kalut hanya karena ketakutannya semata, Kai baru menyadarinya. Mungkin benar ini adalah pertama kalinya untuk pria seperti Sehun merasakan jatuh cinta bersamaan dengan patah hatinya yang terjadi secara tidak langsung. Mungkin orang awam akan berpikiran bahwa sikap Sehun itu terlalu berlebihan. Tapi Kai dapat memahaminya, situasi seperti ini memang sulit untuknya. Jika bisa mungkin Sehun akan lebih memilih kehilangan semua fasilitas yang ia miliki daripada terlibat dalam situasi yang sedang ia alami sekarang.

 

“Jika kau sangat takut kehilangan Jiyeon, mulailah berubah dari sekarang. Buktikan padanya bahwa ucapan Taemin itu tidak benar. Kau sudah menikah Sehun-ah, bersikaplah lebih dewasa jangan seperti ini. Melarikan diri dari masalah dengan meminum alcohol.”

 

“Aku tidak melarikan diri.” Sehun membantah ucapan Kai dengan sinis. Kai hanya diam dan tidak ingin membalas ucapan Sehun kesadarannya mulai menipis. Kepalanya bahkan terhuyung kesana-kemari karena sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Kai berdecak kesal melihatnya.

 

“Ayo pulang, aku akan mengantarmu. Anak menyusahkan.” Kai menggerutu saat mereka keluar dari pub tetapi tetap memapah Sehun menuju mobilnya. Ia menelpon supir pengganti untuk membawa mobil Sehun dan tidak lupa mengirimkan alamatnya.

 

Jiyeon pulang dalam keadaan kecewa. Selama berjam-jam ia menunggu tapi Sehun tak kunjung muncul. Entah sudah berapa banyak air mata yang sudah ia tumpahkan dari kedua matanya hari ini. Kekecewaannya bertambah saat melihat rumah dalam keadaan sepi. Sebenarnya kemana Sehun? Rumah mereka terlihat sangat sepi, para pelayan mungkin sudah berada di kamar mereka masing-masing. Dan menyisakan security yang masih tetap terjaga. Akhir-akhir ini Ayah dan Ibu Sehun memang disibukkan dengan pekerjaan. Meskipun hanya Ayah Sehun yang bekerja, tapi Ibu Sehun selalu menemani suaminya jika bepergian keluar negeri. Sehingga sering meninggalkan Sehun dan Jiyeon berdua di rumah.

 

Jiyeon menyeret kedua kakinya dengan malas untuk naik ke kamarnya. Ia melihat kamar dalam keadaan kosong. ‘Oh Sehun, kubunuh kau saat pulang nanti’ batin Jiyeon kesal. Jiyeon berjalan mendekat ke arah ranjang dan menemukan Handphone Sehun tergeletak disana. Pantas saja, sekeras apapun ia mencoba menghubunginya, Sehun tidak akan mengangkatnya karena ia meninggalkan Handphonenya di rumah—dan dalam keadaan mati. Pria itu, tega sekali melakukan hal seperti ini padanya. Pergi begitu saja dan menghilang. Membuatnya marah dan khawatir di waktu yang bersamaan.

 

Jiyeon memilih untuk membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket dari pada terus-terusan memikirkan Sehun yang malah membuat perasaannya bertambah buruk. Jiyeon menghabiskan waktu sekitar 20 menit di kamar mandi. Ia keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian agar ia bisa cepat tidur. Masa bodoh dengan Sehun.

 

Jiyeon baru saja merebahkan dirinya di atas ranjang sebelum suara Handphone-nya berdering dan memaksanya untuk bangun kembali. Tertera nama Kai di layarnya. Jiyeon menepuk dahinya karena tidak terbesit dalam pikirannya untuk menanyakan Sehun pada Kai. ‘Bodohya dirimu Park Jiyeon,’ rutuknya dalam hati.

 

“Cepat keluar, aku berada di depan rumahmu.” Jiyeon menaikkan sebelah alisnya heran. Ia bertanya-tanya dalam hati ada urusan apa Kai malam-malam seperti ini di depan rumahnya? Bahkan ia tidak mempedulikan sikap Kai yang tidak sopan karena tidak mengucapkan salam lebih dulu.

 

“Sehun bersamaku.” Lanjut Kai karena tidak kunjung mendengar jawaban dari Jiyeon. Jiyeon langsung mematikan sambungannya dan bergegas turun ke bawah untuk menemui mereka—Kai dan Sehun.

 

CKLEK

 

Muncul lah sosok Kai yang sedang memapah Sehun dari balik pintu.

 

“Kenapa dia?” Jiyeon bertanya sambil menunjuk ke arah Sehun.

 

“Dia mabuk.”

 

“Mabuk? Lagi?” Jiyeon malah merasa kesal ketika mendapati Sehun tengah berada di hadapannya dalam keadaan mabuk. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Sehun.

 

“Berarti kalian habis dari pub?”

 

“Mm, iya.” Kai menjawabnya dengan agak ragu saat melihat raut wajah kesal Jiyeon.

 

“Kemari, biar aku saja yang membawanya ke kamar.” Jiyeon berjalan mendekati Kai dan mengambil alih Sehun.

 

“Kau yakin? Aku akan membantumu, dia …”

 

“Tidak perlu. Kau bisa pulang sekarang. Terima kasih sudah mengantarnya.” Jiyeon memotong ucapan Kai yang belum selesai dan langsung menutup pintunya. Sementara Kai hanya terperangah atas sikap Jiyeon. Sepertinya ia sangat kesal melihat keadaan Sehun.

 

“Sepertinya aku harus membicarakan masalah ini dengan Sulli.” Ucap Kai sebelum meninggalkan rumah Sehun.

 

***

 

Jiyeon agak kesulitan saat memapah Sehun untuk ke kamar mereka. Selain tubuhnya yang berat kamar mereka ada di lantai dua. Setelah bersusah payah akhirnya Jiyeon berhasil membawa Sehun. Ia membaringkan tubuh Sehun—atau lebih tepatnya melempar dengan sedikit kasar. Jiyeon berusaha melepas jaket kulit yang dikenakan Sehun. Sementara pria itu terus meracau tidak jelas akibat pengaruh alcohol.

 

TAP

 

Sehun menahan tangan Jiyeon saat ia beranjak bangun. Perlahan Sehun membuka matanya dan menatap Jiyeon dengan sayu.

 

“Jangan tinggalkan aku.” Sehun menatap Jiyeon dengan lirih meskipun kesadarannya mulai menipis tapi sadar dengan apa yang ia katakan.

 

“Tidurlah, kau sedang mabuk.” Jiyeon mengacuhkan perkataan Sehun dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Sehun.

 

“Jangan pergi, jangan tinggalkan aku untuk Taemin.” Jiyeon terperangah mendengar kata-kata Sehun.

 

“A apa maksudmu, Sehun-ah?” Jiyeon berpura-pura tidak tahu.

 

“Aku mendengar pembicaraan kalian di sekolah, jangan pura-pura tidak tahu.” Sehun bangun dari tidurnya dan menarik Jiyeon untuk duduk menghadap ke arahnya.

 

“Kita bicarakan besok saja, kau perlu istirahat.” Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia ingin berdiri namun tangannya terlanjur ditarik Sehun. Pria itu langsung membaringkannya di ranjang dan menindihnya.

 

“Berjanjilah Jiyeon-ah, berjanji untuk tidak pergi dariku.” Sehun menatap Jiyeon dengan dalam dan ada sedikir paksaan dari nada bicaranya. Sepertinya kesadarannya sudah mulai kembali.

 

“Minggir,menjauhlah dari atas tubuhku.” Jiyeon terus-terusan mengalihkan pembicaraan dan tidak ada satu pun perkataan Sehn yang ia tanggapi. Hal itu malah membuat Sehun menjadi marah.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” Jiyeon mendorong Sehun saat pria itu mencium bibirnya tiba-tiba. Sehun kembali mencium bibir Jiyeon dengan kasar dan menuntut. Jiyeon berusaha memalingkan wajahnya agar Sehun tidak dapat menjangkau bibirnya. Tapi pria itu memegangi kedua pipinya dan berhasil mempertemukan bibir mereka—lagi. Sehun melumat bibir atas dan bawahnya bergantian. Ia juga menggigit kecil bibirnya meminta wanitanya itu untuk membuka mulutnya. Tapi Jiyeon tidak kunjung membuka mulutnya untuk membiarkan Sehun masuk lebih dalam.

 

“Kenapa menolakku? Jika kau tidak ingin berjanji tidak masalah. Tapi aku akan membuatmu tidak bisa pergi dariku meskipun kau menginginkannya.” Sehun mengatakannya dengan lantang. Ia langsung merobek kaus yang dikenakan Jiyeon. Membuat wanita itu dengan spontan metapnya.

 

“Apa yang kau lakukan?” Jiyeon berusaha bangun namun sepertinya percuma. Ia berada di bawah kendali Sehun. Dan ia membenci situasi seperti ini, karena pasti ia tidak akan bisa menolak Sehun.

 

“Aku akan menanamkan benihku, disini.” Sehun berbicara sambil menunjuk ke arah perut Jiyeon. Sementara wanita itu hanya membelalakkan matanya. Sehun tidak membiarkan Jiyeon untuk berbicara, ia langsung membungkam bibir wanita itu dengan ciumannya.

 

Dan kejadian itu pun terulang lagi meskipun dengan sedikit paksaan dari Sehun.

 

***

 

Seminggu sudah sejak kejadian itu. Jiyeon selalu menghindar tiap Sehun mendekatinya untuk meminta maaf. Mereka sedang dalam perjalanan ke sekolah. Suasana di dalam mobil begitu hening. Jiyeon mengarahkan wajahnya ke arah jendela, sedangkan Sehun fokus menyetir. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Jiyeon. Keadaan ini berlangsung hingga mereka tiba di sekolah.

 

“Jiyeon-ah…” Panggil Sehun setelah Jiyeon turun dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya memasuki gedung.

 

“Jangan bicara denganku!” Jiyeon menoleh sekilas dan melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. Sehun menghembuskan napasnya kasar. Sikap Jiyeon tidak kunjung berubah. Ia masih saja marah padanya. Padahal ini entah untuk yang keberapa kalinya Sehun meminta maaf. Tapi wanita itu tidak pernah menanggapi ucapan suaminya.

 

Jiyeon berlari menghampiri Taemin yang sedang berjalan di koridor seorang diri. Dan selama seminggu ini ia terlihat sering bersama dengan Taemin. Hal itu tentu saja membuat Sehun marah dan takut jika Jiyeon akan menerima Taemin. Sehun hanya bisa menatap mereka berdua dan mengikutinya dari belakang.

 

“Bagaimana ini? Hubungan mereka terlihat semakin buruk.” Ucap Sulli yang saat ini sedang mengawasi Jiyeon dan Sehun bersama Kai.

 

“Sepertinya si bodoh itu tidak diberi tahu oleh Jiyeon.” Kai mendengus pelas sambil menggelengkan kepalanya melihat tiga makhluk yang berada di depannya.

 

“Benarkah? Tapi ini sudah lama sekali, mana mungkin Jiyeon belum memberitahu Sehun jika ia sudah menolak Taemin.”

 

Sebisa mungkin Jiyeon berusaha untuk menghindar dari Sehun. Sebenarnya ia tidak benar-benar marah padanya. Ia hanya ingin Sehun menyesali perbuatannya, dan ia berhasil. Tapi entah kenapa Jiyeon belum mau memaafkan Sehun meskipun ada perasaan tidak tega melihatnya terus meminta permohonan maaf darinya. Ini adalah hari kedua setelah insiden yang tidak mengenakkan itu. Hari ini Jiyeon akan memberikan jawabannya pada Taemin tanpa diketahui oleh Sehun. Ia hanya memberitahu Sulli dan Kai.

 

Ya, mereka berdua sudah tahu masalah yang sedang menimpa Jiyeon, Sehun dan Taemin. Jiyeon sangat bersyukur karena Sulli menyerahkan segala keputusan yang akan ia ambil padanya. Sulli sebenarnya sudah menduga-duga sejak dulu tentang Taemin yang menyukai Jiyeon. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu akan menyatakan perasaannya pada Jiyeon. Jiyeon juga mendapat keberanian untuk mengatakannya sekarang karena Sulli dan Kai menyarankannya agar segera memberitahu jawabannya pada Taemin. Karena jika terlalu lama hal ini akan memperburuk hubungannya dan Sehun. Ya, Jiyeon melakukan ini demi Sehun—tanpa disadari oleh pria itu. Jiyeon akan mengatakannya sepulang sekolah.

 

“Pulanglah, aku masih ada urusan.” Jiyeon menghempaskan tangan Sehun saat ia mengajaknya pulang bersama.

 

“Urusan apa? Apa sangat penting?” Jiyeon melirik sebal ke arah Sehun. Sedangkan yang ditatap hanya diam tak menunjukkan ekspresi apapun.

 

“Kalau begitu aku akan menunggu hingga urusanmu selesai.” Sehun mengikuti Jiyeon yang mulai melangkahkan kakinya keluar kelas.

 

“Aku bisa pulang sendiri.” Jiyeon berbicara tanpa menolehkan kepalanya pada Sehun.

 

“Tapi …”

 

“Kalau kau tetap tidak mau pulang aku tidak akan bicara lagi padamu. Selamanya.” Bahu Sehun langsung melemas ketika mendengar ucapan Jiyeon. Tapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

 

“Baiklah, karena kau yang meminta aku akan menurutinya. Tapi jangan pulang terlalu sore, nanti kau bisa dimarahi Eomma.”

 

“Bukankah kau yang akan dimarahi karena tidak pulang bersamaku?” Sehun mencibir ke arah Jiyeon saat mendengar ucapannya. Ia langsung membalikkan badannya dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Jiyeon hanya tersenyum melihatnya. Lalu pergi ke tempat yang ia janjikan bersama Taemin.

 

Jiyeon melihat Taemin sudah duduk di kursi taman belakang sekolah mereka.

 

“Taemin-ah.” Panggil Jiyeon. Taemin menoleh dan tersenyum dengan lembut padanya. Keraguan menghampiri Jiyeon ketika melihat ekspresi Taemin. Tidak. Dia tidak boleh seperti ini. Ia tetap harus melakukannya demi kebaikan mereka semua.

 

“Aku ingin memberi jawabanku sekarang.” Jiyeon langsung berbicara pada intinya karena ia takut jika berbasa-basi dulu malah akan menggagalkan rencana yang telah ia susun bersama dengan Sulli dan Kai. Senyuman Taemin mulai memudar. Matanya berubah menjadi sendu seolah tahu apa yang akan dikatakan Jiyeon.

 

“Aku, tidak bisa menerimamu. Maaf.” Jiyeon menundukkan kepalanya. Ia terlalu takut untuk melihat wajah Taemin. Jiyeon akan menunggu Taemin berbicara dan mendengarkan apa yang akan ia katakan.

 

Tapi hampir selama 5 menit Taemin tidak juga mengeluarkan suaranya. Dengan ragu Jiyeon mengangkat kepalanya. Dan ia mendapati Taemin tengah tersenyum padanya. Jiyeon menampakkan raut wajah bingung dan membuat Taemin semakin mengembangkan senyumnya.

 

“Aku tahu kau akan mengatakan hal itu. Maaf karena keegoisanku, seharusnya aku tidak memaksamu untuk berpikir agar menerimaku.”

 

“Kau, sudah mengetahuinya?”

 

“Mm, bahkan aku sudah mengetahuinya sebelum kau menjawabnya. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan padamu. Dan aku tidak ingin kau merasa tidak enak padaku lalu pergi menjauh. Lupakan saja perkataanku waktu itu. Kuharap kau mau bersahabat denganku seperti dulu lagi.” Taemin tersenyum sambil mengulurkan tangannya, mengajak Jiyeon untuk bersalaman. Jiyeon tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sudah berpikir jika Taemin mungkin akan membencinya karena telah menolak perasaannya. Tapi semua hanya ketakutannya saja. Pada kenyataannya semua malah berjalan dengan sangat baik. Jiyeon mengabaikan uluran tangan Taemin dan langsung memeluknya.

 

“Terima kasih Taemin-ah, kupikir kau akan membenciku.” Tanpa bisa ditahan air mata meluncur dengan sukses dari mata Jiyeon.

 

“Gadis bodoh, mana mungkin aku bisa membenci sahabatku sendiri.” Taemin dan Jiyeon saling tersenyum dan mempererat pelukan mereka. Pelukan persahabatan.

 

“Sampai kapan kau akan bersembunyi?”

 

“Apa maksudmu? Siapa yang bersembunyi?” Jiyeon menghapus air matanya dan melepas pelukannya karena bingung dengan pertanyaan Taemin. Terdengar suara dari balik semak-semak. Tidak lama muncullah sosok seorang gadis yang sudah tidak asing bagi mereka.

 

“Han Soyi? Sedang apa kau disini?” Jiyeon memekik kaget karena kemunculan Soyi. Sudah lama sekali ia tidak melihat gadis itu.

 

“A aku kebetulan sedang lewat sini, dan …”

 

“Dan tidak sengaja melihat kami lalu menguping?” Sambung Taemin. Soyi terlihat kikuk saat Taemin berkata seperti itu. Mengelak pun sepertinya percuma, karena yang dikatakan Taemin memang benar.

 

“Maaf.” Soyi membungkuk kepada mereka berdua. Taemin tersenyum karena tebakannya benar. Sementara Jiyeon hanya diam dan terus memandangi Soyi.

 

“Rasanya sudah lama sekali tidak melihatmu.” Soyi menoleh ke arah Jiyeon yang saat ini sedang tersenyum padanya. Ia melihat mata Jiyeon yang memancarkar perasaan—rindu mungkin. Tapi mana mungkin Jiyeon merindukan orang yang sudah menganiayanya.

 

“Ya, sudah lama sekali. Kebetulan kau ada disini, aku ingin mengatakan sesuatu.”

 

“Katakan saja.” Senyuman masih bertahan dibibir Jiyeon. Entah mengapa, ia malah merasa rindu terhadap orang yang hobi memberinya ancaman ini.

 

“Sepertinya kalian perlu waktu berdua.” Ucap Taemin menyela dan bersiap untuk pergi dari sana.

 

“Tidak perlu, kau bisa tetap disini.” Soyi menarik napasnya, mempersiapkan kalimat yang tepat untuk diucapkan pada Jiyeon.

 

“Aku, aku ingin meminta maaf padamu atas semua keburukan yang telah aku lakukan. Maaf karena aku sudah bersikap sangat kasar padamu.” Soyi menundukkan kepalanya, berusaha menahan air mata penyesalan yang bersiap jatuh kapan saja.

 

“Itu hanya masa lalu, tidak perlu mempermasalahkannya lagi. Dan, tentu saja aku memaafkanmu.” Jiyeon berjalan mendekat dan memeluk Soyi. Meskipun sebagian dari dirinya masih tidak menerima Soyi karena perlakuan buruknya dulu, tapi sepertinya begini lebih baik. Ia tidak ingin menjadi manusia pendendam dan memupuk kebencian pada Soyi. Lagi pula gadis ini sudah menyadari kesalahannya. Tidak ada salahnya jika ia memaafkannya bukan? Taemin memandang kedua gadis itu sambil tersenyum. Sepertinya semua masalah perlahan mulai berakhir.

 

“Terima kasih Jiyeon-ah. Dan, kuharap kita bisa berteman. Itu pun kalau kau mau.”

 

“Tentu saja. Sepertinya berteman dengan mantan musuh terdengar menyenangkan.” Soyi terdiam.

 

“Aku hanya bercanda, jangan menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau terlihat bodoh.” Jiyeon tertawa, Taemin yang mendengarnya mau tidak mau jadi ikut tertawa. Soyi pun ikut tertawa bersama mereka.

 

***

 

Selama pelajaran Sehun terus memperhatikan Jiyeon dari belakang. Taemin yang tanpa sengaja melihat Sehun malah tersenyum. Ia ingat betul saat Jiyeon bercerita padanya jika ia belum memberitahu Sehun perihal masalah mereka. Jiyeon juga tidak lupa mencerikan padanya jika Sehun tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka sewaktu di tempat parkir. Taemin yang mendengar hal itu jadi merasa bersalah—terutama pada Sehun.

 

Waktu istirahat pun Jiyeon tetap mengacuhkan Sehun. Taemin, Sulli dan Kai hanya memandang iba padanya—Sehun. Mereka berlima berkumpul dalam satu meja seperti biasa. Diisi dengan obrolan antara Sulli, Kai dan Taemin. Terkadang Jiyeon juga ikut mengobrol bersama mereka. Sedangkan Sehun hanya memilih diam. Karena jika ia ikut berbicara pasti Jiyeon akan langsung diam dan tidak akan berbicara lagi. Sehun kembali ke kelas lebih dulu begitu ia selesai menghabiskan makanannya.

 

“Kapan kau akan membaritahunya? Tidakkah kau kasihan melihatnya seperti itu?” Tanya Taemin diiringi anggukan dari Sulli dan Kai.

 

“Aku berencana untuk memberitahunya hari ini. Tapi nanti saat di rumah.”

 

“Baguslah, kupikir kau tidak akan memberitahunya.” Sulli menghela napas lega.

 

Bel pulang akhirnya berbunyi. Semua murid langsung bergegas keluar kelas. Sehun sudah selesai merapikan peralatannya dan menunggu Jiyeon yang masih berkutat dengan alat-alat tulisnya yang masih berserakan di atas meja.

 

“Jiyeon-ah, aku pulang dulu.” Jiyeon membalas ucapan Taemin dengan anggukan kepala. Sementara Sulli dan Kai mengirimkan pesan pada Sehun dan Jiyeon jika mereka pulang lebih dulu dikarenakan mereka berbeda kelas.

 

“Sudah selesai?” Tanya Sehun lembut saat melihat Jiyeon mulai memasukkan peralatannya ke dalam tas.

 

“Hmm.”

 

“Baiklah, ayo kita pulang.” Sehun menarik tangan Jiyeon agar mengikutinya. Tidak seperti kemarin, kali ini Jiyeon membiarkan Sehun memegang tangannya. Sehun jadi tersenyum senang karenanya. Keadaan di dalam mobil pun terasa sedikit lebih mencair meskipun tidak ada percakapan di dalamnya. Setibanya di rumah, Sehun memberanikan diri untuk memegang tangan Jiyeon. Lagi-lagi ia tidak menolak perlakuan Sehun. Sehun berjalan dengan perasaan senang luar biasa. Rumah mereka masih terlihat sepi, dikarenakan Ayah dan Ibu Sehun belum pulang dari kantor.

 

“Jiyeon-ah, aku ingin meminta maaf lagi padamu. Apa kau masih marah padaku?” Tanya Sehun begitu mereka masuk ke dalam kamar. Jiyeon terdiam sebentar, lalu berbalik menghadap Sehun dan menganggukkan kepalanya.

 

“Kau sudah memaafkanku? Benarkah?” Jiyeon menjawab pertanyaan Sehun dengan anggukan lagi. Tetapi kali ini disertai senyuman tulus dari bibirnya. Sehun langsung memeluk Jiyeon dan berputar-putar di tempat.

 

“Terima kasih.” Sehun tersenyum dan mengecup singkat bibir Jiyeon.

 

“Ya!” Jiyeon mengangkat satu tangannya dan berpura-pura seperti akan memukul Sehun. Sementara pria itu hanya terkekeh melihatnya.

 

“Sebetulnya ada yang ingin kukatakan padamu, Sehun-ah.”

 

“Apa? Apa?” Sehun terlihat antusias menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan Jiyeon.

 

“Sebenarnya, aku sudah menolak Taemin.”

 

“Ah, benarkah?” Sehun terlihat tidak percaya dan senang diwaktu yang bersamaan.

 

“Mungkin sejak 5 atau 6 hari yang lalu.” Lanjut Jiyeon.

 

“Apa? Dan dalam waktu selama itu kau tidak mengatakan apapun padaku!” Kesenangan Sehun hanya berlangsung sesaat sebelum berubah menjadi kesal.

 

“Itu karena aku masih marah padamu! Seharusnya kau sadar akan kesalahanmu, kenapa kau membentakku?” Jiyeon menunjukkan raut tidak bersalah pada Sehun. Sehun hanya diam dan berusaha untuk mengalah—hanya kali ini.

 

“Baiklah, aku mengakui salah. Maafkan suamimu ini Nyonya Oh.” Sehun berkata sambil menunjukkan aegyo-nya. Membuat Jiyeon gemas dan mengecup bibir Sehun.

 

“Aku berharap supaya kau juga bisa bersahabat dengan Taemin sepertiku dan Sulli.” Sehun mengangguk menyanggupi permintaan Jiyeon sambil tersenyum. Jiyeon kembali mengecup bibir Sehun dan tersenyum setelahnya.

 

“Oh, kau sedang berusaha memancingku?” Sehun bertanya sambil menunjukkan seringainya. Membuat Jiyeon bergidik ngeri dan langsung berlari ke kamar mandi.

 

Akhirnya semua permasalahan diantara meraka bisa teratasi dengan baik. Kehadiran Soyi diantara mereka disambut dengan baik. Bahkan ketika mereka berkumpul bersama orang-orang akan mengira mereka sedang melakukan kencan missal. Sulli dan Kai telah meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Dan sepertinya Taemin dan Soyi akan menyusul. Karena mereka terlihat serasi sebagai orang yang sama-sama patah hati. Masa SMA mereka yang berada di tingkat akhir berjalan dengan mengenangkan. Tanpa terasa kini mereka sudah berada disemester dua yang artinya mereka akan menghadapi Ujian Kelulusan tidak lama lagi.

 

Hubungan Sehun dan Jiyeon berjalan dengan baik. Meskipun sering terlibat pertengkaran konyol diantara mereka. Nafsu makan Jiyeon entah kenapa terlihat semakin bertambah setiap harinya. Itulah menurut pandangan sahabat-sahabatnya. Bahkan Sehun menyebutnya seperti babi karena yang Jiyeon lakukan tidak jauh dari makan dan tidur. Jiyeon juga merasakan keanehan pada tubuhnya sendiri. Ia merasa kesulitan saat berjalan, seolah bukan hanya ia sendiri yang menghuni tubuhnya. Selain itu ia sering merasa mual saat pagi hari. Ini bahkan sudah seminggu lebih setelah Jiyeon melewati waktu menstruasinya. Berbagai dugaan hinggap di kepalanya. Tapi semoga saja itu tidak benar. Ia masih sekolah dan belum siap jika harus menerima kondisi seperti itu sekarang. Lagi pula sekolahnya tinggal beberapa bulan lagi. Semoga Tuhan mengabulkan permintaannya yang satu ini.

 

Entah kenapa setelah berpikir semalaman Jiyeon akhirnya memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan. Ia benar-benar penasaran dengan kondisi tubuhnya. Dan penyebab keterlambatan menstruasinya. Ia akan mencoba alat tersebut besok pagi.

 

Keesokan paginya, sekitar pukul 05.30 Jiyeon bergegas bangun dan berlari menuju kamar mandi. Tidak lupa membawa alat tes kehamilan bersamanya. Jiyeon memasukkan sebagian air seninya ke dalam gelas kecil. Lalu menaruh tespack ke dalamnya. Jiyeon menunggu beberapa menit untuk mengetahui hasilnya. Setelah dirasa cukup Jiyeon memberanikan diri untuk mengambilnya dan menutup hasilnya dengan tangannya. Jujur, ia tidak sanggup untuk meliahtnya. Tapi ia penasaran. Perlahan Jiyeon menggeser tangan yang ia gunakan untuk menutupi hasilnya, dan …

 

“KYAAA! Oh Sehun!” Sehun yang masih tertidur terlonjak bangun karena mendengar jeritan Jiyeon yang berasal dari kamar mandi. Dan langsung berlalri menghampirinya.

 

“Ada apa? Ini masih pagi, kenapa kau berteriak?” Sehun bertanya sambil menguap.

 

“Aku hamil, brengsek!”

 

 

 

 .

_My Marriage Is_

E.N.D

 

 

Hahahaha, aku sadar akhirnya emang ancur dan rada absurd.

Jujur aja ya, aku bener-bener gak tau lagi mau diapain ini FF.

Aku hanya ngikutin imajinasi otakku yang ternyata hasilnya seperti ini.

Tapi aku tetep berharap kalian suka sama endingnya, dan aku sengaja

bikin gantung biar kalian bisa bayangin sendiri yang akan terjadi sama pasangan ini.

 

Jadi, tolong jangan bunuh saya okay? Haha😀

Aku mau ngucapin terima kasih untuk semua yang udah bersedia

baca FF ini, apalagi yang komentar. Terima kasih banyak yaaa ^^

 

Sampai jumpa lagi di lain FF, annyeong~~

139 thoughts on “[9th Scene—END] My Marriage Is…

  1. Kyaaa.. seru banget, taemin yg sabar ya,semoga langgeng ama soyi(klo jadian).. ciieee kai ama sulli.. jiyeon daebakk… ff nya keren thor…

  2. Hahaha sehun dikerjain ama jiyeon~ what jiyeon hamil? Yaaaa kenapa end? Sequel sequel hahaha yeah good job thor buat ffnya daebak!!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s