Posted in EXO-K, Fanfiction, friendship, jongchansshi, Kai, Mistery, SCHOOL LIFE, Twoshot

I Can Make You Love Me (2/2)

i-can-make-you-love-me

I Can Make You Love Me Part 2 (END)

Cast :

Seok Jinhee (whorver you want)

Kim Jongin (Kai)

Others :

Chanyeol, Youngjae, Haneul, EXO-K

Rating : PG

Poster Credit : Stella Lee

Disclaimer : I only write the story.

Previous Part : Part 1

Note : Coba baca dulu xoxo.

“Astaga! Kim Jongin apa yang kau lakukan?! kau bisa membuatnya mati, bodoh!”

Suara berat bercampur panik milik Park Chanyeol membuat Jongin terpaksa menghentikan aktifitasnya.

“Shit..” Umpatnya kesal. Dia mengelap bibirnya yang basah dengan kasar sedangkan seorang gadis yang hampir saja menjadi korbannya itu langsung mengambil udara sebanyak mungkin.

Chanyeol menghampiri mereka berdua, mata bulat besar itu langsung terfokus pada gadis yang berdiri diantara mereka, “kau tidak apa-apa?” Tanyanya khawatir. Jinhee menunduk dalam-dalam. Dia belum memiliki sedikit nyalipun untuk menjawab. Bagaimana bisa dia baik-baik saja? Bibirnya terasa bengkak walau tidak begitu tampak, tetapi hal itu masih tidak sebanding dengan rasa takutnya.

“Yah, kau tidak usah ikut campur!” Ujar Kai dingin, merasa terganggu dengan kedatangan Chanyeol.

Selanjutnya, pria muda berkulit tan itu berniat untuk menarik kembali tangan Jinhee namun berhasil dicegah lebih dulu oleh Chanyeol. Gadis itu masih terlihat begitu ketakutan, bahunya bergetar, Chanyeol menduga dia tengah menangis sekarang.

“Jongin tenangkan dirimu!” Bisik Chanyeol sembari mati-matian menahan tubuh Kai agar tetap berada pada posisinya. Walau badannya lebih tinggi beberapa centimeter, tetap saja Chanyeol merasa kewalahan. Ayolah tenaga Kai bukanlah tenaga perempuan.

Dan ‘bukkk’, karena tidak tahu harus melakukan apalagi, Chanyeol memilih untuk meninju rahang sahabat baiknya itu. Dia tidak peduli langkahnya ini benar atau salah, tapi setidaknya setelah itu Kai tampak menyerah, ntah karena marah pada Chanyeol atau kesadarannya mulai kembali.

Sedangkan Jinhee shock berat dengan apa yang dilakukan Chanyeol barusan. Bagaimana jika Kai semakin marah lalu mereka malah berkelahi, dan secara tak langsung disebabkan olehnya? Tapi kecemasannya itu tak berlanjut ketika mendapati Kai malah terlihat lebih tenang sambil memegang pipi kanannya yang memerah. Pukulan Chanyeol memang tidak main-main.

Gadis itu masih tidak tahu apa salahnya pada Kai sehingga pria itu mencoba melakukan tindakan tidak senonoh padanya. Dia masih ingat tatapan Kai yang begitu kosong, sama sekali tidak memberikan penjelasan apa-apa kepadanya. Jinhee tidak akan pernah tahu apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus melayang pada otaknya sebelum Kai sendirilah yang menjawab. Ini jauh dari apa yang diharapkannya. Boro-boro mendapat penjelasan, segalanya menjadi jauh lebih rumit.

“Seok Jinhee, kan?” Tanya Chanyeol lagi, memecahkan keheningan diantara mereka bertiga. Setidaknya dia cukup lega karena kegilaan sahabatnya itu tidak sampai menghancurkan pesta megah Haneul atau membiarkan semua orang menyaksikan apa yang dilakukannya barusan.

Jinhee mengangguk pelan, dengan tanpa menatap Chanyeol. “Kau pulang dengan siapa?”

“I will take her home,” jawab Kai cepat.

Chanyeol menghela napas frustasi, dia tidak mungkin menyetujuinya, seharusnya Kai tahu itu. “Tidak, bodoh!” Ucapnya penuh penekanan.

“Ibuku yang menjemput..” Jawab Jinhee tak yakin, sebisa mungkin dia mengabaikan tatapan dingin Kai maupun Chanyeol.

Chanyeol sekali lagi memperhatikan kondisi Jinhee dari atas hingga bawah. Wajahnya pucat, matanya memerah, bibirnya bengkak dan gaunnya sedikit kacau. Ibunya pasti akan curiga dengan apa yang terjadi, sedangkan Jinhee pasti tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari ibunya. Atau yang sebenarnya tidak diinginkan Chanyeol adalah masalah ini menjadi besar dan Kai bisa saja dihabisi oleh Ibu Jinhe karena telah mengapa-apakan anak perempuannya.

“Baekhyun yang akan mengantarmu.”

Kai baru saja ingin memprotes tapi sudah lebih dulu diberikan tatapan tajam Chanyeol, dalam keadaan begini Park Chanyeol memang terlihat begitu bossy.

“Tapi…”

“Dia tidak mau.” Ujar Kai santai memotong jawaban Jinhee. Chanyeol yakin kalau sebetulnya pria ini belum tersadar sepenuhnya, begitu pula dengan Jinhee yang masih tampak trauma bukan main.

“Aku tidak akan membiarkan temanku berbuat hal tak waras untuk yang kedua kalinya!”

Setelah itu, Chanyeol langsung mengeluarkan handphonenya dan menekan beberapa nomor.

Tidak begitu lama, Baekhyun datang dengan raut penuh tanya yang begitu kentara pada wajahnya. Dia menatap Kai, Jinhee dan Chanyeol secara bergantian lalu kembali lagi pada Jinhee. Lalu menatap gadis itu seduktif dari atas hingga bawah lalu kembali keatsa, yang jelas saja membuat Jinhee semakin risih.

Jika melihat Chanyeol dan Kai berdua saja, dia akan berpikir itu hal yang wajar. Tetapi ada ‘orang asing’ diantara mereka.

“Ada apa?” tanyanya, penasaran.

“Nanti kujelaskan, sekarang kau antarkan Jinhee kerumahnya, oke?”

Mata kecil Baekhyun melotot. Dia masih ingin menikmati pesta ini, tetapi ketika dia melihat Chanyeol yang seperti memohon, pada akhirnya dia mengangguk setujuh. Dia menduga hal serius baru saja terjadi diantara mereka dan ia menyesal kenapa tidak mengikuti Chanyeol sehingga dia tidak akan terlambat.

“Jongin-ah, kau dan aku juga pulang sekarang. Kau berutang penjelasan!”

“Kalian juga berhutang penjelasan padaku,” timpa Baekhyun polos.

Kai tampak diam saja, mungkin menyesali perbuatannya atau sadar bahwa ia baru saja nyaris mencelakai seseorang yang tidak bersalah, seharusnya. Kepalanya terasa pening bukan main, apalagi ketika tatapan tajamnya kembali bertemu dengan mata Jinhee.

Dia menghembuskan napas berat lalu segera membuka cepat tuxedo hitamnya, memberikannya pada gadis itu “Pakai saja, Baekhyun mungkin bisa melakukan hal yang lebih gila,” ucapnya dengan suara serak.

Melihat Jinhee yang sama sekali tidak bergeming, Kai langsung meletakkan tuxedonya secara asal pada bahu gadis itu lalu beranjak dari sana tanpa mengucapkan apa-apalagi. Walau sebelumnya dia sempat membisikkan ancaman tidak penting ditelinga Baekhyun.

“Baiklah Jinhee, ayo pulang sekarang,” Baekhyun menarik pelan tangan Jinhee. Tentu saja dia akan menyidangi Jinhee tentang apa yang barusan terjadi.

——

Pertanyaan-pertanyaan menyudutkan dari Baekhyun betul-betul membuat Jinhee semakin pusing. Dia tidak tahu dan sama sekali tidak mengerti.

“Apakah kau tidak penasaran? Ada dua kemungkinan. Pertama, dia menyukaimu. Atau yang kedua, dia tidak menyukaimu.”

Baekhyun memang terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. Tetapi Kai merupakan sahabatnya, dia cukup lama mengenal pria aneh itu. Atau bisa saja Kai tadi hanya mabuk berat sehingga dia tidak sadar dengan perbuatannya terhadap Jinhee. Tapi bisa saja hal yang lain, kan? Apapun bisa terjadi. Apalagi jika Jihnhee mengingat bahwa selama ini dirinya mendapati terror dari orang yang paling tidak mungkin.

“Mungkin yang kedua,” jawab Jinhee kalem.

Baekhyun nyengir, “tapi kau tidak pernah berurusan dengannya, bukan?”

“Bisa saja dia tidak menyukaiku tanpa alasan.”

“Jongin tidak pernah punya waktu untuk membenci orang tanpa alasan.”

“Mungkin karena dia menyukai seseorang yang membenciku lalu mereka berkerja sama untuk mencelakaiku.”

Jinhee mungkin salah menceritakan isi pikirannya pada Baekhyun, tetapi dia sudah terlalu muak dengan semuanya. Dia yakin hidupnya tidak akan pernah semuda dulu setelah malam ini berakhir.

“Kau terlalu berpikiran buruk.”

Baekhyun sadar bahwa perkataan Jinhee tadi begitu masuk akal. Jongin memang terkadang bisa setega itu pada seseorang demi orang lain. Dan bodohnya, Baekhyun malah menatap Jinhee prihatin ketika sedang mengendara, hampir saja Aston Martin kesayangannya itu menabrak truck didepan mereka jika Baekhyun tidak reflek menginjak rem.

Dan Jinhee benar-benar menobatkan hari ini sebagai salah satu hari tersial dalam hidupnya.

———

Tidak peduli betapa keras Jinhee berusaha melupakan kejadian malam itu, wujud Kai tidak pernah berhenti bergentayangan dibenaknya. Bagaimana bibir pria itu mengecup bibirnya, memeluknya erat sekali, membuat gadis itu hampir mati kehabisan napas.

Anehnya, semenjak kejadian itu, Jinhee malah sering memperhatikan Kai dan teman-temannya walau disisi lain dia selalu berusaha untuk menghindari mereka. Dia masih tidak menyangka malam itu nyata, well, siapa yang menyangka? Dia belum menceritakan hal yang hampir membuatnya trauma berat itu kepada siapapun, tidak pada Youngjae, teman-temannya bahkan ibunya sehingga ini semakin membuatnya tidak tahu harus bagaimana. Dan dimulai dari malam itu, Jinhee tidak pernah lagi menemukan surat-surat terror aneh dalam lokernya. Inikan yang ia inginkan? Tetapi kenyataannya segala hal berjalan semakin buruk.

Gadis itu menghentikan langkahnya tiba-tiba ketika mendengar suara yang menyebut-nyebut namanya dari balik tembok tempatnya berdiri. Itu suara Park Chanyeol dan Byun Baekhyun. Well, kebetulan sekali. Jinhee memang sedang mencari salah satu dari mereka untuk mengembalikan Jas milik Kai yang bahkan sudah dia laundy. Dia sama sekali tidak bernyali untuk mengembalikannya langsung, lagipula dia betul-betul malas untuk bertemu ataupun bertatapan muka dengan Kai. Tetapi otaknya memutuskan untuk tetap diam pada tempatnya apalagi ketika dia tahu bahwa inilah yang butuh ia ketahui.

“Jongin harus bisa membuat Jinhee mencintainya.”

“Jadi, ini hanya taruhan?”

“Ya, antara Jongin, Haneul dan Joonmyun Hyung. “

“Kenapa mereka tidak memberitahu kita?”

“Apakah ini penting untuk kita?”

“Murni taruhan tanpa motif apa-apa? Maksudku, mungkin mereka dendam pada Jinhee atau yang lainnya? Sesuatu yang lebih masuk akal?”

“Tidak. Kurasa mereka hanya random dalam memilih korban. Anggap saja Jinhee sedang sial. Padahal gadis itu sama sekali tidak berdosa. Aku kasihan padanya.”

“Kau tidak melihat bagaimana Jongin malam itu.”

“Memangnya bagaimana?”

Bukankah dugaannya mirip-mirip dengan hal ini? Dia memang hanya dikerjai walau sebetulnya apa yang dilakukan Kai benar-benar keterlaluan. Ok, Kai mabuk malam itu jadi anggap saja hanya kecelakaan dan surat-surat bodoh itu, semuanya rekayasa. Ataupun soal locker, itu hal yang gampang mengingat siapa saja yang sedang mengerjainya.

Jadi apa lagi yang musti ia pertanyakan?

Ya, Baekhyun benar. Anggap saja Jinhee sedang sial karena dia lah yang terpilih menjadi korban. Bukan Jieun, si gadis manis yang pandai bermain alat musik (jelas sekali dia merupakan saingan Haneul nomor satu). Bukan juga Hayoung, model nasional yang beberapa kali menjadi comeo di drama-drama terkenal. Ataupun Sora, si atlit renang kebanggaan sekolah. Bukankah mereka semua jauh lebih elit untuk dijadikan bahan taruhan?

Jinhee segera berbelok kembali menuju kelas, niatnya untuk menemui BaekYeol batal seketika. Rasanya lebih baik dia membakar jas keluaran Kenzo milik Kai ini. Atau sekalian saja dia membakar orangnya.

Karena kutukkan-kutukkan kebenciannya tentang Kai, ia nyaris menabrak seseorang didepan pintu dan hampir membuatnya terjatuh.

Mereka berdua sama-sama berhenti dan saling menatap satu sama lain. “Maaf,” ucap Jinhee kalem, pada akhirnya. Tetapi permintaan maafnya itu sama sekali tidak digubris oleh Haneul. Selanjutnya gadis itu langsung pergi begitu saja.

“Jinhee!!!” Kejut seseorang yang membuat Jinhee tersadar dari lamunan tentang kekesalannya yang sekarang telah berganti untuk Haneul. Kebetulan sekali ada Youngjae dihadapannya.

“Youngjae-ya, bukankah Haneul itu benar-benar menyebalkan dan sombong? Si gadis muka dua itu, aku heran bagaimana bisa laki-laki banyak menyukainya. Begitu juga Kai! Apa yang orang-orang lihat dari pria brengsek itu? Sok keren, sok tenar, dia pikir dia siapa?!!!! Dan juga Joonmyun…aku menyesal mengatakan bahwa dia ketua osis terbaik sepanjang aku sekolah! Mereka bertiga sama saja, sok kaya, sok berkuasa. Dasar…..”

Jinhee menghentikan kata-katanya ketika melihat Youngjae yang tiba-tiba menunduk dengan raut panik. Firasatnya tiba-tiba menjadi buruk. Dia melihat sekeliling. Memang beberapa orang memperhatikannya tapi dia yakin mereka yang duduk didalam kelas tidak mendengar perkataannya dengan jelas.

“Dasar apalagi?”

Dan suara mengintimidasi dari arah belakang membuat nyali Jinhee semakin ciut. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Untungnya kali ini rasa kesal lebih menguasainya. Tanpa memperdulikan apapun, dia langsung berbalik menghadap asal suara itu. Mendapati Joonmyun dengan kedua tangannya terlipat didada dan juga Kai dengan raut dinginnya. Oh, kebetulan sekali, bukan?

“Kurasa perkataanmu tadi terpotong,” sindir Joonmyun karena melihat Jinhee bagaikan stuck dengan kata-katanya sendiri. demi apapun, baru sekali ini Jinhee melihat Joonmyun sebegini menyebalkannya!

“Dasar murahan.” ujar Jinhee tanpa ragu, dengan suara yang lumayan keras. Mata Joonmyun melotot, begitu juga dengan Youngjae yang ntah sejak kapan telah berdiri disampingnya beserta orang-orang yang kebetulan mendengar.

“Kau bilang apa?” kali ini Kai yang tampak tidak terima. Mungkin jika Jinhee adalah lelaki, dia sudah memukulnya didepan semua orang. Jinhee tiba-tiba merasa nyawanya hilang sebagian. Dia menyesal telah mengatakan sesuatu tanpa disaring dulu. Dia sedang PMS, wajarkan jika dia emosian? Dan sekarang gadis bermata hazel itu yakin, Kai benar-benar tidak akan melepaskan nya begitu saja. Detik ini, dia telah MEMBUAT MASALAH BESAR dengan mereka. Tetapi sebagian dari dirinya mengatakan bahwa ia tidak perlu takut, ini bukan hinaan tapi kenyataan. Ah, seandainya bukan Jinhee yang dijadikan bahan mainan mereka, dia tidak perlu berurusan dengan orang-orang menyebalkan ini hingga sejauh ini kan? Apakah mereka tidak tahu bahwa surat-surat terror itu saja telah berhasil membuatnya lelah bukan main? Jika sudah begini, rasanya Jinhee ingin mati saja.

“Kalian tidak mendengar bunyi bell, ya?!” suara lantang milik Pak Kim berhasil membuat kerumunan itu bubar. Mau tidak mau Kai dan Joonmyun segera beranjak dari sana. Dalam hati, gadis itu berkali-kali mengucapkan terimakasih pada guru matematika itu karena telah menyelamatkannya….walau untuk sementara.

Jinhee sama sekali tidak dapat berkonsentrasi dengan pelajaran yang dijelaskan guru Kim. Dia memikirkan bagaimana caranya pulang tanpa harus berurusan dengan Kai lagi. Atau lebih tepatnya, bagaimana caranya agar dia bisa melarikan diri selamanya dari Kim Jongin.

Tidak ada cara lain yang terpikirkan olehnya kecuali bunuh diri -__-. Ah tentu saja dia tidak benar-benar akan melakukan itu.

——-

“Bu, aku ingin pindah sekolah..” Jinhee berusaha membujuk ibunya lagi. Dia pernah menawarkan hal yang sama sebelumnya tepat setelah dia mengetahui siapa si pengagum rahasia pura-puranya selama ini. “Teman-temanku menyebalkan…mereka jahat.” ucapnya meyakinkan. Setidaknya kali ini dia memiliki alasan yang bisa diucapkan. Tidak diam saja seperti waktu itu.

“Kau ingin pindah sekolah karena teman-temanmu menyebalkan? Hahaha astaga kau ini ada-ada saja.”

Well, ternyata ibu juga sama menyebalkannya.

Jinhee semakin tidak semangat untuk memakan sup ayam yang selama ini merupakan makanan favoritnya itu, dia hanya mengaduk-aduk tanpa memakannya sedikitpun.“Ibu tidak mengerti…” gumamnya kesal, putus asa. Karena ibunya sama sekali tidak akan menuruti kemauan tidak wajarnya itu. Ibunya tidak akan pernah membuatnya pindah sekolah, kecuali jika dia yang dikeluarkan.

“Kau sudah kelas tiga, sayang. Lagipula jika ada masalah, selesaikan. Jangan melarikan diri.”

Seandainya semudah itu, bu. Aku juga pasti melawan. Berurusan dengan Kai ataupun teman-temannya sama saja berurusan dengan satu sekolahan.

“Ibu juga melarikan diri dari masalah dengan ayah.”

Jinhee dapat mendengar dengan jelas bagaimana sendok dan garfu ibunya terjatuh begitu saja bersentuhan dengan piring. Semoga saja sindirannya ini bisa membuat sang Ibu memikirkan penawarannya kali ini.

“Sebenarnya, apa yang kau takutkan?” tanya ibunya lagi, merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan anak gadis semata wayangnya. Dia memang sibuk dan tidak selalu mendengar keluh kesah anaknya tiap hari. Tetapi akhir-akhir ini Jinhee memang terlihat begitu frustasi.

“Aku….aku juga tidak tahu.”

Salah satu alis ibu terangkat, menatap Jinhee seduktif, “kau tidak mempercayaiku?”

Ah ya, bagaimana bisa Jinhee tidak mempercayai ibunya sendiri? Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras, terlihat ragu untuk bercerita. Dia hanya takut apabila bercerita pada ibunya akan membuat semua masalahnya ini semakin besar. Atau hanya membuat harapannya hancur secara terang-terangan dan jelas.

“Begini. Aku berurusan dengan orang-orang gila disekolah. Mereka bisa membahayakan nyawaku, bu. Ah ya mereka tidak akan membiarkanku mati semudah itu. Mereka pasti….”

Ibunya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli, “Jinhee-ya, kau terlalu banyak nonton film tentang psikopat. Tidak ada anak Hannam yang akan berbuat segila itu padamu! Mungkin kau yang terlalu berpemikiran buruk.”

Benar kan dugaannya? Ibunya tidak membantu sama sekali. Ketika dia mencoba menceritakan tentang surat terror itu pada ibunya, wanita berumur 30an akhir itu juga menganggap bahwa Jinhee terlalu berlebihan. Karena baginya, Hannam terlalu elit untuk memiliki murid seperti itu. Ibunya seperti tidak tahu saja bahwa psikopat dan orang gila zaman sekarang kebanyakkan dari golongan berkelaas -_-.

“Ya mungkin begitu. Mungkin aku lah yang tidak waras. Baiklah sudah jam 7, aku berangkat!” Ucap Jinhee dengan nada kesal bercampur putus asa.

————

Tidak bisakah semuanya kembali seperti semula?

Jinhee berpikir berulang-ulang kali untuk memasuki gerbang megah Hannam. Sekolah ini memang begitu besar dan mewah. Awalnya, gadis itu mengira bahwa Hannam merupakan pusat perbelanjaan elitist, bukan sekolah karena bentuk bangunannya yang seperti hotel bintang lima.

Salah satu yang memuakkan di Hannam adalah tradisi senioritas yang membagi murid-murid disini menjadi beberapa kasta.

Yang pertama, mereka yang merupakan anak orang kaya ataupun tergabung dalam sosialite kelas atas dan juga memiliki otak pintar atau keahlian khusus. Jelas saja mereka yang merupakan kasta kelas pertama ini yang paling berkuasa, memiliki hak lebih, sering menindas yang lain dan melakukan ini-itu sesuka hati.

Yang kedua, mereka yang terlalu kaya ataupun terlalu pintar.

Yang ketiga. Anak-anak beruntung karena mereka tidak pintar dan tidak kaya. Tetapi yang sebenarnya terjadi mereka sial karena akan selalu ditindas oleh kasta-kasta diatasnya. Mereka selalu menjadi bahan bully-an dan sayangnya tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.

Dan yang keempat. Ini yang paling menyeramkan. Tidak seorangpun murid Hannam berharap menjadi bagian dari kasta ini karena sampai kapanpun hidupnya tidak akan pernah tenang dan damai. Apalagi kalau bukan golongan anak-anak yang bermasalah.

Jinhee merupakan bagian dari kasta kedua. Walau ibunya hanya seorang menejer keuangan biasa, darah ayahnya merupakan darah bangsawan. Itulah alasan mengapa dia bisa dianggap sebagai kasta kedua oleh teman-temannya sehingga kehidupannya di Hannam selama ini berjalan begitu mulus dan semuanya baik-baik saja, walau yang terdapat dalam benaknya dia merupakan kasta kelas 3 yang kebetulan beruntung.

Sedangkan Kai, dia bagian dari kasta pertama. Akan tetapi anak itu tidak terlalu suka menindas murid-murid Hannam, dia bahkan jarang kelihatan dengan kata lain pria itu lebih gemar mencari masalah dan berkelahi diluar sekolah kecuali jika ada yang memulai duluan, seperti yang dilakukan oleh Jinhee kemaren. Lalu Joonmyun, well Joonmyun juga pasti menganggapnya musuh sekarang. Dan juga Haneul, si gadis kesayangan sekolah.

Bukankah itu sudah cukup menjadi alasan bahwa pada kenyataannya dia memiliki kehidupan sekolah yang benar-benar sial? Menjadi musuh para Kingkas disaat dia merupakan gadis naif yang tidak suka ikut campur dan mendambahkan kehidupan tenang.

Gadis itu sadar sudah berpuluh menit dia terpaku disana, menatap dari kejauhan gerbang tinggi dari besi itu telah tertutup rapat. Rasa takutnya membuatnya melarikan diri hari ini. Tetapi tentu saja tidak selamanya dia bisa lari.

Seseorang menepuk bahu Jinhee dari belakang membuat gadis itu mau tidak mau berbalik. Paling tukang sapu jalanan yang menanyakan mengapa gadis itu terus bengong disana.

Tetapi kejutan…………lagi. Sadar atau tidak mulut gadis itu sedikit terbuka, matanya terbelalak.

Oh tidak bisakah pria ini membiarkan hidupnya tenang? Walau hanya hari ini? Ingin sekali Jinhee berteriak seperti itu, tetapi dia sama sekali tidak berani. Mentalnya sudah kacau balau dari sebelumnya dan pria dihadapannya ini membuat semuanya semakin buruk.

“Ayo masuk,” ajak pria itu santai, benar-benar santai seperti mereka sama sekali tidak memiliki masalah apa-apa sebelumnya. Pintu gerbang memang sudah ditutup, tapi orang seperti Kai pasti memiliki banyak cara untuk bisa masuk.

Jinhee tetap mematung pada tempatnya dengan pandangan kosong, membuat salah satu alis Kai terangkat lalu memberikannya senyuman mengejek, “kau mau membolos? Baiklah aku temani.”

Keadaan kembali hening. Semakin hening. Jinhee bahkan yakin bahwa dia belum bangun hari ini.

“APA KAU BILANG?!” Gadis itu reflek berteriak yang membuat Kai sedikit terkejut dan mundur selangkah.

“Kau tidak ingin masuk tetapi juga tidak ingin membolos. Lalu sedang apa kau disini?” tanyanya bingung. Jinhee yakin sekali bahwa ada yang aneh pada diri Kai hari ini. Wajah pria itu sama sekali tidak berubah, tetapi raut polosnya lah yang membuat Jinhee merasa bahwa dia-lah yang mengalami gangguan jiwa.

“Menghindarimu,” jawabnya sejujur mungkin, lagipula gadis itu berpikir bahwa dia sedang bermimpi sekarang.

Lagi-lagi Kai tersenyum polos, “untuk apa? Kau pikir aku guru Kang?”

Jinhee kembali terdiam. Tidak bisakah seseorang memberikan bukti yang kuat bahwa pria dihadapannya ini adalah Kai atau setidaknya dia masih tertidur?

Guru Kang memang menyebalkan dan menyeramkan tetapi tidakkah Kai tahu bahwa dia jauh lebih membahayakan bagi Jinhee?

“Kau….gila…” Gumam Jinhee sembari mundur selangkah. Rasanya dia ingin lari saja. Perasaannya campur aduk. Kenapa pria ini aneh sekali? Oh tentu saja karena dia gila.

“Ya, kau benar.”

Bagus, setidaknya pria ini sadar bahwa dia gila. Tapi hal ini semakin membuat Jinhee membisu. Pikirannya campur aduk. Dia sama sekali tidak mengerti seperti apa Kai yang sebenarnya.

Bukankah seharusnya sekarang pria itu membentaknya? Menamparnya? Mengerjainya karena kamarin secara tidak langsung Jinhee telah mempermalukannya? Apa sebenarnya sekarang dia tengah dikerjai?

Sebuah ide yang dianggapnya tak terlalu buruk melintas begitu sjaa. Well, bukankah sebaiknya Jinhee memanfaatkan hal ini? Siapa tahu saja mood Kai memang sedang baik dan dia lagi beruntung.

“Kai… Hmmm begini. Soal kemaren. Aku minta maaf. Ya maaf. Aku tidak bermaksud mengataimu ataupun Joonmyun dan juga Haneul. Waktu itu aku hanya banyak pikiran. Jadi, aku minta maaf,” ucap Jinhee tidak jelas karena tidak tahu harus memberikan alasan seperti apa. Dia tidak bisa terlalu munafik sebetulnya, jadi ia mengira hal itu sudah menjadi alasan yang cukup.

Jinhee berharap banyak, mungkin saja Kai memberi jawaban positif dan membuat dirinya semangat lagi bersekolah. Tapi…….. “maaf? Soal itu aku tidak mau.” Dan selanjutnya tindakan-tindakan manis Kai barusan bagaikan halusinasi Jinhee saja. Kai tetap saja Kai. Pria ini brengsek. “Joonmyun Hyung tidak akan diam saja, kau tahu itu.”

Lagi-lagi Jinhee merasa bulu kuduknya merinding. Badannya membeku. Dan sendi-sendi pada lututnya terlepas. Selanjutnya dia menatap Kai memelas. “Aku bahkan tidak melanjutkan masalah ketika kau menciumku……..”

“Jika kau ingin mempermasalahkannya sih aku juga tidak masalah,” balas Kai santai, seperti sama sekali tidak terancam dengan maksud Jinhee.

“Aku bahkan tahu apa maksud dan tujuanmu.”

“…..”

“Jadi bukankah lebih baik kalian menghentikannya? Aku sudah tahu semuanya. Tidak tahukah kau bahwa ini cukup membuatku frustasi? Aku tidak pernah menganggumu, mencampuri urusanmu bahkan aku tidak pernah membicaran ataupun mengolok-olokmu dibelakang. Ya memang aku melakukannya saat itu. Tapi aku punya alasan.”

“Aku juga punya alasan.”

“Mempermainkanku bukanlah alasan,”

“Kau tidak tahu apa-apa, Seok Jinhee.”

Kai menarik paksa tangan Jinhee tetapi…. ‘plak’.. hebat! Tangan gadis itu malah reflek menampar pipinya. Kai melepaskan genggamannya lalu memegang pipinya yang terasa panas. Demi Tuhan Jinhee tidak bermaksud melakukan itu tapi neuron motoriknya memberitahukan bahwa ia dalam bahaya, sehingga tanpa disengaja, dia melakukan itu.

“Aku tidak mengerti kenapa kau menamparku.” Ucap Kai datar, begitu dingin dan kesal. Sorot matanya begitu menusuk. Dia berniat menahan Jinhee karena gadis itu terus-terusan mundur tanpa sadar dibelakangnya ada seekor kucing yang tengah tertidur. “Kalau begitu terimakasih atas tamparannya.”.

Demi apapun yang berada di bumi ini, dia benar-benar ingin meneriaki nama Kai kemudian meminta maaf. Tetapi yang bisa dilakukannya hanyalah terdiam disana sambil menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.

Astaga..apa yang baru saja ia lakukan?

Jinhee mengacak rambutnya frustasi. Oh kebodohan apalagi yang baru saja ia perbuat? Sepertinya keputusan untuk membuat Kai marah adalah hal yang paling buruk di dunia Jinhee. Dan dia masih berharap ini hanyalah mimpi.

———-

Kai memang hebat. Jinhee harus menyetujui ucapan yang keluar dari beberapa murid dikelasnya yang sempat ia dengar. Bukan karena pria itu jago bermain basket, bukan karena pria itu tampan dan keren, bukan karena pria itu terkenal, tapi karena pria itu bisa membuatnya stres bukan main melebihi seluruh beban yang pernah ia timpa selama 18 tahun dia hidup.

Satu-satunya keinginan Jinhee sekarang adalah masalah ini cepat-cepat selesai atau setidaknya Tuhan mengizinkannya untuk kabur dari semuanya tanpa jejak. Jika saja dia memiliki mesin waktu, rasanya dia ingin kembali ke masa dimana dia masih tidak perduli dengan surat-surat konyol hasil kerjaan mereka. Dia bersumpah akan bertindak tenang dan tidak mempedulikannya sama sekali dibanding harus berakhir seperti ini. Dia bisa dihabisi satu sekolahan.

“Chanyeol!!” Jinhee memanggil pria jangkung itu ketika dia lewat dengan santainya bersama anak kelas 2 yang cantik di depan ruang kelasnya.

Chanyeol menoleh dan menatap Jinhee kebingungan kemudian dia menyuruh gadis-yang-mungkin-pacar-atau-calon-pacarnya-itu pergi duluan. Selanjutnya dia menghampiri Jinhee dengan cengiran cerianya yang benar-benar tampan, “hey lama tidak bertemu. Apa kabar?”

“Hmm tidak…sama sekali tidak baik. Sebetulnya..aku ingin bicara.”

Chanyeol kembali mengeluarkan senyumnya, wajar saja banyak gadis yang rela dikhianati pria playboy ini, dia betul-betul memiliki senyum beserta wajah yang rupawan. Jangan lupakan jika dia yang menyelamatkan Jinhee dimalam itu, pria ini memiliki ciri-ciri yang masuk akal sebagai idola wanita.

“Ya bicara saja. Aku akan mendengarkan,”

“Tapi jangan disini!”

Salah satu alis Chanyeol terangkat, menatap Jinhee dengan pandangan menggodanya “Kau tidak berniat menyatakan cinta padaku, kan?

Lantas Jinhee langsung menggeleng, “tidak…tentu saja tidak!!”

Chanyeol menyeringai. Ya, tentu saja Jinhee tidak menyukainya. Chanyeol tahu itu tapi cara gadis ini menolak sesuatu benar-benar menyebalkan. Pantas saja jika Jongin kesal bukan main padanya. Tapi Chanyeol bukan Jongin ataupun Joonmyun. Dia memaklumi Jinhee. Dia tahu gadis ini terlalu naif, dia selalu mencoba menghindari masalah tetapi selalu terjatuh dalam masalah.

“Kalau begitu, kau ingin membicarakan Jongin?”

Jinhee rasanya ingin marah kepada Chanyeol karena pria itu berbicara kencang sekali sehingga beberapa orang menatap mereka berdua curiga. Berbicara dengan Chanyeol saja bisa membuatnya menjadi bahan omongan apalagi jika mereka semua tahu apa yang akan dia bahas sebentar lagi.

Chanyeol mengenggam tangan kanan Jinhee dan menariknya lembut. Tindakan yang tiba-tiba itu tentu membuat Jinhee terkejut……tidak, dia tidak akan berbuat bodoh lagi untuk menampar Chanyeol didepan semua orang sekarang. Karena pria itu satu-satunya yang menjadi harapannya.

“Sekarang kau bisa katakan apa yang ingin kau katakan…”

Jinhee melihat ke sekeliling. Belakang gedung memang lumayan sepi, kemungkinan nya kecil sekali jika ada yang mendengar pembicaraan mereka. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Gadis itu lebih tidak yakin dengan apa yang akan ia bicarakan.

“Chanyeol-sshi… Aku..aku ingin minta maaf sebelumnya.”

“Minta maaf? Kau ingin aku menyampaikan permintamaafanmu pada Jongin dan Joonmyun Hyung? Aku sebenarnya ingin saja tapi mereka tidak akan mau jika menggunakan perantara. Jongin jauh lebih menghargai jika kau menyatakannya sendiri, jika moodnya baik, dia akan memaafkanmu. Sedangkan Joonmyun hyung jauh lebih gampang. Tapi tenang saja, Jongin juga memiliki kesalahan padamu. Jadi kalian impas. Kau tidak perlu terlalu takut, Jinhee-sshi.”

Chanyeol terus saja berbicara panjang lebar. Bukan, bukan hanya itu masalahnya sekarang. Jinhee menggigit bibir bawahnya kuat-kuat kemudian menahan napas.

“Kemaren aku menamparnya..” Ucapnya sepelan mungkin. Dia berharap Chanyeol tidak akan meninju wajahnya sekarang atau jikapun iya, dia harap setelah ini Kai tidak memusuhinya lagi. Itu tidak masalah bahkan jika dia babak belur sekalipun.

“APA? KAU MENAMPAR SAHABATKU?”

Jinhee mundur beberapa langkah. Mungkin yang dia pikirkan sebelumnya akan benar terjadi.

“A…aku tidak sengaja, sungguh..”

Chanyeol masih tidak habis pikir. Disatu sisi dia tidak terima karena Jinhee menyakiti sahabatnya, tapi disisi lain Chanyeol yakin mungkin Kai yang memulai sehingga gadis ini melakukan itu. Dia masih ingat apa yang dilakukan Kai terhadap Jinhee malam itu. Jadi sebisa mungkin dia mencoba memaklumi dan membenarkan apa yang dilakukan Jinhee.

“Baiklah…akan kucoba sebisaku…” Ucap Chanyeol pada akhirnya. Jinhee tidak tahu apakah dia harus merasa lega atau tidak. Karena Chanyeol mau membantunya tapi disisi lain dia merasa bahwa Chanyeol akan ikut memusuhinya jika mendengar langsung dari mulut Kai apa yang terjadi.

“Katakan padanya aku benar-benar minta maaf…” Gumamnya lagi, tampak putus asa.

Chanyeol menganggukkan kepalanya singkat kemudian beranjak dari sana. Bolehkah jika dia berharap lagi? Berharap bahwa semuanya kembali baik-baik saja setelah ini?

———-

Tidak ada perubahan yang terlalu mencolok sebenarnya. Dia tetaplah Seok Jinhee, si gadis yang risih dengan perhatian aneh dari orang banyak, tidak suka pelajaran olahraga, sedikit anti social, hanya Youngjae dan Minri teman dekatnya di Hannam, tidak suka cari gara-gara, selalu mengalah dan yang menjadi beban terbesarnya saat ini adalah rasa bersalahnya terhadap Kai.

Sekarang ketika dia diminta oleh Haneul untuk membuang sampah, dia lantas melakukannya tanpa protes apa-apa. Dia melakukannya dengan iklas karena kebetulan dia lumayan bosan untuk tetap diam dan bersembunyi dikelas sambil membaca buku-buku pelajaran yang terkadang memuakkan. Atau dia melakukannya supaya tidak dibenci?

Gadis itu sama sekali tidak menyadari apa yang tengah terjadi kepadanya. Hingga sebuah teriakkan ‘awas’ dari beberapa orang membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Matanya terpejam sempurna dan dia dapat merasakan badannya terpental. Jinhee yakin 100 persen bahwa ia sudah pingsan apalagi setelah mendengar bunyi dentuman keras disekitarnya.

Tapi tidak… Gadis itu masih bisa mendengar suara-suara ricuh yang semakin mendekat. Dia membuka mata perlahan. Dia bisa melihat cahaya, mendengar suara ribut, merasakan ada yang menggenggam tangannya walau sedetik kemudian genggaman itu langsung terlepas. Reflek dia terduduk dan mendapati orang-orang bantu mengangkat sebuah balok besar dari kaki seorang pria yang tengah mengerang kesakitan didekatnya. Dia sendiri seratus persen baik-baik saja, tapi tidak dengan batinnya.

“Kai…” Suaranya benar-benar lirih dan hanya dia yang mampu mendengarnya. Jinhee tidak pernah mengerti kenapa Kai melakukan ini. Apapun yang dilakukan Kai selama ini tidak pernah bisa diterima otaknya.

Mereka mencoba membantu Kai berdiri dan membawanya keruang kesehatan. Sedangkan Jinhee masih diam membatu disana tidak memperdulikan pertanyaan beberapa orang tentang keadaannya.

“Princess, trust me, I will keep you safe.”

————-

Jinhee tahu pasti cepat atau lambat kejadian seperti ini akan menimpanya. Ditatap seperti penjahat, banyak yang berbisik-bisik ketika dia lewat atau bahkan ada yang secara terang-terangan mengatakan ‘bitch, slut, looser, coward, pembawa sial’ dan kata menusuk lainnya. Gadis itu berusaha sebisa mungkin agar tetap berjalan dengan santai tanpa memberikan perhatian kepada mereka semua.

“Wah gadis gila. Apa yang dia lakukan hebat juga.”

“Kupikir dia polos. Ternyata dia benar-benar tidak waras.”

“Aku tidak tahu apa yang ada diotaknya sehingga dia berani sekali menampar Kai kemudian membuatnya celaka.”

“Lihat saja nanti, aku pasti akan memberikan pelajaran berharga kepadanya!!”

“Dia harus mendapatkan ganjaran dari apa yang dia perbuat!”

Cemoohan-cemoohan seperti itu harus dia dengar seiring perjalannya menuju kelas. Tak jarang mereka yang lewat menyenggolnya secara langsung kemudian tertawa melihatnya yang hampir terjatuh. Mereka memang jahat, tapi Jinhee merasa dirinya yang lebih jahat.

“Lihat apa yang dia perbuat. Kai tidak bisa bermain basket lagi. Gadis sinting itu benar-benar menghancurkan segalanya.”

Tepat setelah dia mendengar itu, Jinhee langsung mempercepat langkah dan mati-matian menahan agar dia tidak menangis disana. Bukan keinginannya jika Kai akan menyelamatkannya kemudian dia sendiri yang celaka, menduganya saja tidak pernah.

Mungkin mereka benar bahwa dia adalah pembawa sial.

Jinhee masuk ke kelasnya dengan langkah gontai, bahkan orang-orang didalam sana menatapnya campur aduk, ada yang kasihan, ada yang tak ada bedanya dengan tatapan orang-orang diluar sana, ada yang tersenyum prihatin, seluruh mata tertuju kepadanya kecuali Minri, yang langsung memilih menunduk ketika mata mereka sempat bertemu. Mungkin gadis itu tidak mau menjadi temannya lagi dan setujuh bahwa dia adalah pembawa sial. Mungkin Youngjae juga berpikir begitu.

Jinhee merasa hari ini merupakan hari terpanjang dalam hidupnya, bahkan berlipat-lipat lebih lama dari pelajaran guru Kang. Dia mencoba berkonsentrasi sebisa mungkin dan tidak memikirkan soal Kai, tapi tidak bisa. Seluruh otaknya hanya memikirkan tentang pria itu. Bahkan semalam dia sempat bermimpi indah bahwa Kai telah memaafkan semua kesalahannya. Tapi sayangnya itu hanya mimpi.

———–

“Kim Jongin sebenarnya apa maumu?!” Tanya Chanyeol sembari geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya ini. “Kau berkali-kali mencelakai Jinhee tetapi berkali-kali pula menyelamatkannya…”

“Aku tidak pernah mencelakainya.” Potong Kai sembari tetap konsen pada PSP ditangannya, seperti masa bodoh dengan Chanyeol yang tiba-tiba datang dengan mood yang kurang baik.

Chanyeol tertawa sinis, “kau yakin? Beberapa hari yang lalu gadis itu datang kepadaku dengan wajah pucat dan memohon agar aku membantunya untuk membuatmu memaafkannya karena tidak sengaja menamparmu. Apa yang kau lakukan sehingga dia menamparmu?! Kau yang memulai, kan?”

“Tidak.. Dia hanya tidak sengaja dan aku telah melupakannya.”

Chanyeol merebut paksa PSP dari tangan Kai yang mau tidak mau membuat pria itu duduk dan menatap tajam Chanyeol, sedangkan teman mereka yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah mereka berdua, “tapi dia tidak, bodoh! Kau tahu, itu jauh lebih baik jika kau tidak menolongnya sehingga kakimu tidak perlu terluka dan Jinhee tidak dimusuhi satu sekolahan!”

“Apa? Dia dimusuhi satu sekolahan?” Tanya Jongin polos, benar-benar polos. Kekurangan yang paling jelas dari pria ini adalah bahwa dia tidak peka sama sekali.

“Ya, dan kau juga harus tahu bahwa kejadian kayu yang terjatuh tiba-tiba itu adalah kesengajaan. Lalu kau bisa menyimpulakan sendiri apa yang akan terjadi terhadap anak itu setelahnya..”

Kai terdiam, dia menatap Chanyeol dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia sudah tidak masuk sekolah selama dua hari, sedangkan teman-temannya ini ikut membolos dengan titipan surat izin yang dibuat-buat. Dia sama sekali tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Jinhee.

Pria itu berjalan cepat menuju kamarnya, tidak perduli dengan kaki kanannya yang masih sakit. Dia mengambil acak seragam sekolahnya dan mengenakan asal-asalan. Jika dia kesekolah menggunakan baju bebas, tentu saja si satpam sialan itu tidak akan membiarkannya masuk.

“Kim Jongin mau kemana kau?”

Kai tidak menghiraukan panggilan Joonmyun, dia menangkap lemparan kunci mobil yang diberikan Sehun dengan santai kemudian berjalan keluar dengan terburu-buru meskipun kakinya masih benar-benar sakit.

“Kalian tidak tahu?”

Semua yang tersisa diruangan itu menatap Sehun yang malah asik memainkan PSP Jongin dengan pandangan penuh tanya.

“Tahu apa?” Tanya mereka, serentak.

“Jongin menyukai Jinhee. Bahkan wallpaper handphonenya adalah foto gadis itu semenjak satu tahun lalu.” Ujar Sehun santai, tidak menyadari bahwa semua teman-temannya diruang itu menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.

“APA? KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHU KAMI?!”

Sehun sedikit heran dengan rasa terkejut mereka, terutama Chanyeol dan Baekhyun yang agak berlebihan, setelah mengambil napas dia menjelaskan. “Jika tidak begitu, dia tidak akan pernah mau mengalah dalam bermain PS bersamaku, kawan. Aku juga tidak mengerti apa maunya anak labil itu. Tapi bukankah itu kelihatan jelas bahwa dia menyukai Jinhee? Dia bahkan memiliki duplikat kunci locker Jinhee.”

Semua orang diruangan itu kecuali Sehun menatap satu sama lain tidak percaya. Ayolah siapa yang akan mengira ini terjadi? Chanyeol sendiri menyesal kenapa dia lebih setujuh dengan pemikiran Baekhyun dibanding dirinya sendiri. Lagipula, kenapa Jongin tidak menceritakan pada mereka padahal mereka adalah sahabatnya? Itulah yang selalu anak itu lakukan. Orang lain tidak akan pernah diberitahu apa masalahnya dan apa yang mengganggu pemikirannya kecuali jika dia mau atau dipaksa.

——-

Jinhee tidak tahu dia harus bersyukur atau sedih ketika diizinkan pulang lebih cepat oleh sekolah karena tidak enak badan. Ibunya tidak bisa menjemput sekarang dan itu artinya dia harus naik taksi. Gadis itu tidak mungkin meminta tolong Youngjae atau temannya yang lain untuk mengantarnya pulang, Jinhee adalah musuh mereka sekarang.

Untunglah matahari tidak terlalu terik hari ini. Dia berjalan dengan langkah yang agak pelan karena terdapat luka kecil disekitar lututnya, mencari taksi dipersimpangan gang. Tapi langkah gadis itu harus terpaksa berhenti ketika menyaksikan beberapa anak laki-laki berpakaian SMA sedang berkelahi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menahan napas, jalanan disekitar sini betul-betul sepi. Seumur hidupnya, tidak pernah sekalipun Jinhee melihat kejadian perkelahian seperti ini secara langsung. Gadis itu kebingungan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia pura-pura tidak perduli? Tetapi satu orang yang menggunakan seragam yang begitu dia kenal membuat langkahnya terpaku disana.

Kai. Dia selalu bertemu dengan laki-laki itu disaat yang tak pernah terduga dalam hidupnya. Seperti biasa, dia merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

Gadis itu tidak tahu apa yang dia lakukan sehingga berlari kearah 5 orang yang sedang berkelahi itu. Dia tidak berniat untuk menjadi pahlawan atau mencoba memisahkan mereka. Yang dia tahu hanyalah dia sedang bermimpi saat ini.

“Jinhee-ya…..”

Samar, Jinhee bisa mendengar suara itu memanggil namanya. Dia seperti sedang mengalami sleep palaryze, ingin bangun tapi tidak bisa. Kepalanya benar-benar pusing dan sesuatu dibagian punggungnya membuatnya merasa ngilu bukan main.

Segala sesuatu didunia ini ada harganya, bukan?

———

Kai mengutuk dirinya sendiri. Walau tidak ada yang menyadari, walau tidak ada yang peduli. Pria itu frustasi bukan main sampai-sampai dia hanya bisa terduduk diruang tunggu rumah sakit dengan pikiran yang begitu membuatnya tersiksa.

Dia membenci Jinhee. Dia betul-betul membenci apa yang dilakukan gadis itu. Dan yang paling dibencinya adalah dirinya sendiri. Mati-matian selama ini dia selalu melakukan apapun untuk membuat gadis itu tetap baik-baik saja. Tapi kenyataannya….dia satu-satunya yang menyebabkan gadis itu selalu celaka.

Pria itu menyesal. Seharusnya dari awal dia memang tidak perlu berlebihan terhadap Jinhee atau memasukkan gadis itu kedalam lingkaran kehidupannya. Dia akan terima mulai detik ini. Dia tidak peduli jika Jinhee tidak menyukainya. Dia berjanji akan membiarkan Jinhee berbahagia bersama Youngjae, walau awalnya dia takut Youngjae tidak akan bisa menjaga Jinhee dengan baik. Kenyataannya, dia sendiri telah gagal. Dia bahkan jauh lebih buruk.

Kai melirik kesamping ketika suara itu memanggil namanya dengan cukup keras.

“Apa salah jika aku ingin melindunginya?” Tanyanya lemah. Chanyeol menatap tajam kedepan. Dia satu-satunya yang mengerti jalan permainan yang telah dibuat sahabatnya ini.

“Tidak. Yang salah hanyalah kenapa kau merahasiakan ini.”

“I really don’t know what should I do. Dia tidak mungkin menyukaiku. Jadi……”

Chanyeol menepuk bahu Kai pelan, “aku tahu siapa kau. Tapi Jinhee tidak. Dia tidak mengerti apa maumu. Yang dia tahu kau, Joonmyun ataupun Haneul sedang mempermainkannya. Salahnya, kau sedang berhadapan dengan gadis seperti Seok Jinhee, dia terlalu rasional. Aku tidak bisa menyalahkan kau ataupun Jinhee karena kalian berdua sama-sama naif. Jangan terlalu menyalahkan dirimu, dia akan baik-baik saja.”

Kai terdiam. Dia benar-benar merasa menjadi lelaki paling bodoh sedunia. Dia menyukai Jinhee bahkan sejak 5 tahun lalu. Hebatnya, hanya dia beserta Tuhan yang mengetahui hal ini.

Gadis itu telah menyelamatkan hidupnya sebanyak 3 kali.

“Soal anak Soneul High yang menghadangmu tadi, aku yang akan mengurusnya.” Ujar Chanyeol dingin sembari meninggalkan Kai kembali sendirian diruangan hening itu.

——–

Jinhee terbangun dari tidur panjang yang betul-betul membuatnya merasa damai. Gadis itu melihat kesekeliling dan sedikit heran dengan suasana kamar yang begitu asing. Ini bukan kamarnya, tentu saja.

‘kemana ibuku?’ tanyanya dalam hati. Dia sama sekali tidak menemukan ibunya disekitar sini. Sesuatu dibagian punggungnya terasa lumayan ngilu sesekali. Dia menghela napas panjang setelah mengingat apa yang telah ia lakukan. Apakah Kai baik-baik saja? Rasa bersalahnya tentu akan semakin menjadi jika dia tidak melakukan apa-apa.

Jinhee memutuskan untuk keluar kamar dan mencari ibunya. Dengan langkah lemah dia membuka pintu dan melihat kekiri ataupun ke-kanan. Sekali lagi tubuhnya benar-benar hampir tumbang ketika menemukan seorang pria terduduk di dekat pintu kamar dan menatapnya ikut terkejut.

Kai reflek langsung berdiri dan menahan tubuh Jinhee, dia benar-benar tidak mengerti harus mengucapkan apa sehingga dia memilih untuk diam saja daripada berakhir memarahi gadis itu habis-habisan. “Kenapa kau keluar?” tanya Kai tidak habis pikir.

“Kenapa kau disini? Dimana ibuku?” tanya Jinhee balik, tubuhnya masih disanggah oleh Kai. Gadis itu dengan canggung berjalan ke kursi didekat sana, kemudian dengans edikit ragu, dia mengisyaratkan agar Kai duduk disebelahnya.

“Menemui dokter.”

“Oh.” Gadis itu ber-oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya santai, “kau sudah makan?” lanjutnya lagi, sedikit berbasa-basi.

“Kenapa? Kau lapar?”

Jinhee menggeleng-gelengkan kepalanya singkat, “tidak. Tapi kau tampak pucat.” Well, wajar jika Kai tampak pucat. Belum makan adalah alasan yang kesekian.

“Mengapa kau menyelamatkanku?”

Karena gadis itu takut melihat Kai terluka, itu adalah alasan yang sebenarnya. “Kupikir aku sedang bermimpi. Dan setelah bangun, semuanya kembali seperti semula.”

“Aku minta maaf,” gumam Kai tidak yakin. Maukah gadis ini memaafkannya? mengingat bagaimana Jinhee yang begitu terganggu akibat ulahnya. Well, Ibu Jinhee telah menjelaskan semuanya dan bercerita panjang lebar. Didetik itu pula Kai merasa semakin berdosa dan bersalah walau tidak ada yang secara langsung menyalahkannya. Dia akui dia memang pengecut.

“Untuk apa?”

Kai menghindari bertatapan mata langsung dengan gadis itu, sehingga dia menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih gading. “Untuk banyak hal. Aku membuatmu terluka, aku membuatmu stres, aku membuatmu dimusuhi banyak orang, aku menghancurkan hidupmu. Dan aku telah menjadi laki-laki paling pengecut didunia.”

Jinhee terdiam sesaat, mengingat-ingat semua kejadian satu tahun terakhir. Kemudian dia tersenyum miris, “Kai…. kenapa aku?”

Kai tidak yakin dia bisa menjawabnya, yang jelas hanya Jinhee satu-satunya gadis yang mampu membuatnya melakukan apa saja. “Aku…aku tidak tahu.”

Jinhee tampak sama sekali tidak puas dengan jawaban itu. “Baiklah, aku berjanji tidak akan menganggumu lagi begitu juga dengan semua orang.” ujar Kai pahit. Dia sadar, kecelakaan Jinhee adalah akhir dari semuanya, semua perjuangan bodohnya.

“Kai..bolehkah aku meminta tolong?”

Kali ini Kai menatap Jinhee penasaran, “apa? Aku akan melakukan apa saja….”

“Aku tidak mau kau melakukan apa saja.”

Kening laki-laki itu berkerut bingung, “jadi?”

“Don’t leave me, please?”

Untuk beberapa saat Kai terdiam membisu. Dia menatap manik mata Jinhee dalam-dalam dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia tidak bisa mempercayai ini.

“You are too beautiful to be real, Kai. Kurasa aku sedang bermimpi sekarang.”

Selanjutnya Kai memeluk gadis itu erat sekali tetapi juga begitu hati-hati. Memberitahukan pada gadis itu bahwa dia akan membuat hidupnya lebih indah daripada mimpi terindah sekalipun.

“I promise, I will not leave you, princess.”

Tanpa Jinhee sadari, sepertinya dia juga sudah menyukai Kai bahkan semenjak pertama kali mereka saling bertatapan. He was right, he could make her fall for him.

“And for the first time I saw you, I already knew that you are special.”

—————–

“Kau tidak bisa menyebrang, ya?” anak perempuan berseragam sekolah menengah pertama itu masih menggenggam erat tangan anak lelaki yang tampak bingung dihadapannya. “kau seharusnya berhati-hati. Nyawamu berharga.”

Oh benarkah?

“Siapa? Siapa yang menganggap bahwa nyawaku berharga?” anak laki-laki itu berbicara untuk pertama kalinya setelah berkali-kali mendengar ceramah singat dari anak perempuan itu.

“Aku?” tanyanya ragu pada diri sendiri.

Anak laki-laki itu tersenyum miris. Gadis kecil ini telah membatalkan niat besarnya untuk bunuh diri. Well, sebelumnya dia adalah anak laki-laki bahagia yang punya segalanya. Hingga hari ini dia sadar bahwa apa yang terlihat, tidak pernah seindah itu. Menerima kenyataan pahit yang tiba-tiba betul-betul membuat mentalnya kacau balau. Ayah dan ibunya tidak pernah saling mencintai, semuanya hanya keterpura-puraan. Dan dia benar-benar kecewa ketika mengetahui ibunya masa bodoh mendengar cerita dari bibirnya sendiri tentang penghianatan ayahnya. Mereka berdua sama saja.

“Aku duluan. Ibuku menunggu disana. Lain kali, kau harus lebih berhati-hati.” Gadis itu tersenyum singkat kemudian pergi dari sana meninggalkan anak laki-laki itu dengan sebuah harapan baru.

“Kupegang kata-katamu, Nona Seok…” dia hanya bisa membaca marga gadis itu, tidak selebihnya.

Lalu beberapa tahun kemudian, karena sifat cuek dan masa bodohnya itu, dia baru sadar bahwa gadis yang dia cari selama ini berada disekitarnya.

Well, pepatah lama itu benar, semua akan indah pada waktunya.

——————–

FIN

——

I AM REALLY SORRY huhuhu. sebenarnya juga ngga ngerti sama diri sendiri bikin beginian aja harus satu semester. Tapi beneran ya idenya itu berubah-ubah kalo misal ceritanya begini itu berarti mood aku lagi pengen begini (?) kalo misal cerita sebelumnya ga sesuai mood aku ya harus di delete lalu bikin lagi. Uh kadang pengen bikin NC tapi kadang sebel Jongin mukanya polos banget. Please Jongin jadi pacar aku dong???? (siapa yang ngga mau jadi pacar Jongin pleaseeeeeee deh). Aku tahu ini gaje banget but really, aku bikin ini just for fun. Lagi suka aja sama yang manis-manis. HOPE YOU LIKE IT GUYS. xoxo

KAI

20140214-161252.jpg

JINHEE

20140214-161401.jpg

And here is my favorite character

20140214-161552.jpg

Iklan

Penulis:

Ain't an author. I just write something that haunts my mind. Twitter : @prakchansshi

76 thoughts on “I Can Make You Love Me (2/2)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s