Diposkan pada Action, Baek Hyun, charismagirl, EXO-K, EXO-M, Family, friendship, Oneshot

Mission Impossible

MI cover

Title : Mission Impossible

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri (OC)

Other Cast :

  • Oh Sehun
  • Kris Wu
  • Zi Tao
  • Suho
  • EXO

Rating : G

Genre : Adventure, Action, Friendship, Comedy, Romance

Length : One-Shoot

Note : Hello everybody!! Aku punya ide yang sedikit gila aneh karena menjadikan Minri dan Baekhyun bocah berumur 7 tahun. Huahaha… Kalian pernah nonton film Home Alone? Pernah dong yaa… Nah, aku terinspirasi dari sana. Tp ini jalan ceritanya jelas jauh beda ._.  Semoga kalian mengerti dengan FF ini, karena banyak adegan yang rada absurd XD!! Sorry for typo ~.~/ Don’t forget to leave comments. Love ya! And enjoy…

Baekhyun mengajak Minri bermain ‘Agen Rahasia’.

Namun, apa jadinya kalau mereka benar-benar terlibat dalam misi sesungguhnya–yang berbahaya dan mengancam keselamatan mereka berdua?

 

“Agen Byun, disini belum ada tanda-tanda jejak penjahat. Bagaimana disana? Ganti.”

Minri menekan salah satu tombol walkie talkie Barbie merah muda di tangannya. Memasang tampang serius seakan-akan dia berada dalam misi berbahaya. Di balik semak-semak, gadis itu perlahan mengendap dengan kaki mungilnya. Terkadang ranting-ranting liar mengait bajunya. Dan itu membuat Minri sebal dengan Baekhyun. Karena laki-laki itu tidak memberitahukan secara detil permainan apa yang akan mereka mainkan.

Minri salah kostum.

Walkie talkie batman warna hitam di tangan Baekhyun berbunyi. Menandakan dia baru saja tersambung oleh gelombang udara dengan rekan agennya.

Tangan mungilnya menekan tombol warna merah. Dia sudah hapal dengan seluk beluk benda itu. Mereka cukup sering memainkan permainan seperti ini tapi biasanya mereka hanya di dalam rumah, bersembunyi di balik sofa, bawah ranjang, sampai kamar mandi. Tapi kali ini mencoba di luar. Dan rasanya jauh lebih seru.

“Agen Byun disini. Sama. Belum ada tanda-tanda adanya penjahat.”

Baekhyun bersembunyi dibalik pohon besar. Bocah laki-laki itu tidak main-main dengan barang bawaannya. Dia membawa tas punggung yang isinya bermacam-macam. Yang pasti benda itu pasti akan terlibat dalam misi versi Baekhyun.

Minri menghentikan langkahnya. Ia bergegas mengambil walkie talkie-nya dalam tas kecil yang dibawanya, saking terburu-burunya benda itu sampai terjatuh ke tanah. Minri memungutnya lalu menyalakan lagi.

“Agen Byun, disini ada penjahat, ganti.” Minri berbisik. Suara gemersik yang tidak jelas terdengar sebelum suara Baekhyun kembali menyambutnya.

“Baik, aku akan segera kesana.”

Minri memasukkan komunikatornya ke dalam tas lagi. Dia mengintip di sela-sela dedaunan. Dia bahkan tidak sadar beberapa daun kering melekat di rambutnya yang sedikit berkeringat.

Minri sedikit menghentakkan kakinya karena Baekhyun belum juga tiba. Minri pikir penjahat itu akan segera membunuh korban yang sedang di sanderanya. Baekhyun cepatlah sedikit!

Suara langkah kaki menjawab kekesalan Minri. Baekhyun berlari ke arah Minri dengan berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Dia mengatur napasnya kemudian jongkok di samping Minri.

“Lama sekali, Agen Byun.”

“Mana penjahatnya?” bisik Baekhyun sambil mengeluarkan pistolnya. Mengabaikan Minri yang masih memasang tampang kesal.

Minri menunjuk dengan dagunya.

Baekhyun dan Minri bertatapan sesaat. Memberi kode. Menghitung dalam hati masing-masing sebelum keluar dari semak-semak dan memergoki penjahat itu. Penjahat versi Minri dan Baekhyun.

Satu

Dua

Tiga!

“Angkat tangan!!” seru Minri dan Baekhyun hampir bersamaan.

Minri dan Baekhyun keluar dari semak-semak. Dan menarik pelatuk pistolnya berkali-kali hingga benda itu memancarkan air. Ya, itu hanya sebuah pistol mainan berisi air.

“Miawww!!”

Kucing.

Penjahat yang dimaksud Minri dan Baekhyun adalah kucing. Ada dua kucing disana. Kedua hewan berbulu putih yang tadi saling menindih itu, kini kalang kabut, lari terbirit-birit setelah dikejutkan dengan suara cempreng bocah dan tembakan dari pistol mainan.

“Menurutmu tadi mereka sedang apa?” tanya Minri dengan mata mengerjap polos.

“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya kriminal. Kau lihat kan? kucing yang di bawah terus menjerit.”

Minri mengangguk dengan jari tangan yang diletakkan di dagu. Masih berpikir. “Tapi mereka pergi ke arah yang sama.” gumam Minri.

“Tentu saja penjahat itu akan mengejar korbannya lagi.” jawab Baekhyun sambil melipat tangannya di depan dada. Tidak sadar bahwa kedua kucing itu semakin menjauh.

Tiba-tiba mereka berdua terkesiap. Lalu saling bertatapan. Kalau penjahat itu mengejar korbannya berarti… kucing itu dalam bahaya.

Ya, mereka tidak perlu tahu bahwa mereka berdua baru saja merusak acara bulan madu kucing berbulu putih. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Mereka berdua masih terlalu polos untuk memahami hal semacam itu.

“Hey jangan lari!” Baekhyun dan Minri mengejar dua kucing itu sembari terus menembakkan pistol air mereka. Tapi sayangnya langkah mereka sudah jauh tertinggal dari hewan itu. Hingga tanpa terasa air dalam pistol itu habis.

“Baekhyun, tunggu!” Minri tidak bisa berlari lebih jauh karena lagi-lagi bajunya terkait di ranting pohon liar.

Baekhyun menghempaskan napasnya lalu berlari kecil menghampiri Minri. “Penjahat itu berhasil kabur. Misi kita gagal.”

Baekhyun membantu Minri melepaskan bagian yang terkait itu. Dengan susah payah mematahkan ranting pohon. Usaha keras Baekhyun memang membuahkan hasil, tapi sayangnya ujung baju Minri ikut sobek.

Dia melemparkan ranting pohon yang patah itu ke rumput dengan sedikit kesal.

“Mengapa kau memakai baju seperti ini? Bukankah sudah ku bilang kalau kita akan melakukan permainan menjadi agen?” ucap Baekhyun cepat dengan suaranya yang khas. Terdengar seperti sedang mengomel.

“Kau tidak bilang padaku kalau kita berdua yang menjadi agen. Ku kira kau akan menjadikanku putri presiden yang ditawan penjahat. Ini semua salahmu.” Minri tidak mau kalah. Gadis itu membuang wajahnya ke arah lain dengan bibir mengerucut.

Baekhyun mengusap wajahnya dengan satu tangan. Menatap gadis itu dalam diam.

Putri presiden? Ya, Minri memang pantas jadi putri. Minri cantik. Rambutnya bagus. Dan dress merah muda yang dipakainya sangat indah, pikir Baekhyun. Adanya putri presiden memang ide bagus untuk pemeran tambahan dalam permainan mereka. Tapi Baekhyun tidak butuh putri yang manja, yang bisanya hanya menjerit. Baekhyun butuh agen partner disini.

Hening beberapa saat.

“Baik. Baik. Aku yang salah. Aku minta maaf, oke. Kau jelek kalau cemberut seperti itu.”

Minri menghadap Baekhyun. Gadis itu menyipitkan matanya. Menatap Baekhyun tajam.

Apa dia baru saja mengataiku jelek?

Minri berlalu dengan kaki yang dihentak-hentakkan dan pistol air di tangannya dia jatuhkan begitu saja di atas tanah. Dia semakin kesal.

“Agen Park… jangan pergi. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan kalau kau jelek. Karena kau tidak pernah jelek dalam keadaan apapun!” Teriak Baekhyun. Dan dia serius.

Minri menghentikan langkahnya. Kekesalan anak kecil tidak akan berlangsung lama. Dia diam-diam tersenyum. Beberapa saat kemudian berbalik kembali menghampiri Baekhyun dengan senyum mengembang.

“Aku memaafkanmu. Ayo main lagi.”

Minri mengambil pistol mainan yang tadi di lemparkannya ke rumput. Pistol itu milik Baekhyun. Dia punya banyak di rumahnya. Tapi Baekhyun tidak akan meminjamkannya pada siapapun. Tidak pada Chanyeol si tinggi, anak tetangga sebelah rumahnya. Tidak pada Jongin si putra pemilik perusahaan mobil yang sering berkunjung ke rumahnya (orang tua Jongin sering mengajak anak itu karena mereka berbisnis dengan orang tua Baekhyun). Tidak pula si Kyung Soo, anak pemilik toko kue di daerahnya.

Kecuali Minri. Baekhyun hanya meminjamkan pistol mainannya pada Minri. Meskipun Minri adalah anak perempuan.

“Baiklah. Tapi kau harus ganti baju dulu. Pakai bajuku saja. Aku membawanya dalam tas.” Baekhyun menurunkan tas ranselnya dan mengobrak-abrik isi tasnya.

“Kau serius membawa baju?”

Baekhyun mengangguk lucu. Sambil terus mencari. Baekhyun mengeluarkan sepasang baju dan celana dari dalam tasnya.

Daebak!” Mata Minri berbinar setelah dia mengintip sedikit ke dalam tas Baekhyun. Isinya menakjubkan.

Minri menyambut baju dan celana itu dari tangan Baekhyun. Mereka berdua melirik ke sekitar. Lalu Baekhyun menujuk ke sebuah arah dimana disana ada toilet umum. Di taman yang cukup besar itu memang biasanya selalu ada toilet umum.

Baekhyun menunggu dengan sabar di depan toilet. Sekitar tiga menit berlalu, Minri keluar dari toilet itu dengan memakai pakaian Baekhyun. Kaos putih lengan panjang yang agak kebesaran dan celana panjang corak tentara. Minri menenteng baju princess-nya di tangan.

Baekhyun tersenyum sembari menunjukkan jempolnya. Minri masih tetap cantik meskipun tidak memakai baju princess. Baekhyun sudah bilang kan kalau Minri selalu cantik dalam keadaan apapun.

Minri melangkahkan kakinya menghampiri Baekhyun.

“Aku suka gambar batman-nya.” Komentar Minri sambil memperhatikan gambar di bajunya.”Tapi lebih bagus kalau batman merah muda.”

Heol? Baekhyun melongo sesaat. Yang benar saja Minri! Mana boleh batman merah muda. Ck, dasar perempuan.

Minri meletakkan bajunya di dekat pohon. Lalu meninggalkannya begitu saja. Minri pikir dia masih banyak punya baju seperti itu di rumah. Dan dia akan menjalani misi lagi dengan Baekhyun. Dia tidak memerlukan baju itu.

Baekhyun berdiri di hadapan Minri. Dia menyingkirkan daun kering yang menempel di kepala Minri. Sementara gadis itu hanya berdiri diam dan mengerjap memandangi Baekhyun.

“Sudah…” Baekhyun menggenggam tangan Minri, lalu mereka berdua melangkah riang. “Ayo main lagi.”

Kedua anak itu keluar dari taman. Mereka berjalan di trotoar. Mencari tempat baru yang lebih seru. Keadaan sekitar tampak sepi. Tapi tidak ada yang mereka takutkan. Lagi pula tidak ada yang mencurigakan.

“Kita mau kemana Baekhyun?” tanya Minri sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sepertinya lokasi mereka sudah cukup jauh dari rumah.

“Kita ke…” Baekhyun sebenarnya tidak tahu tempat tujuannya. Dia hanya mengikuti nalurinya dan terus melangkah. Sampai dia menemukan sesuatu yang menarik. “Kita ke sana!” tunjuk Baekhyun pada sebuah mobil box yang pintu belakangnya sedang terbuka.

Minri memandangi Baekhyun dengan pandangan bingung seolah berkata ‘Kau yakin? Hanya sebuah mobil box. Apanya yang seru?’.

Namun, Baekhyun hanya mengangguk dengan mata yang berkilat antusias. Ia menarik tangan Minri hingga mereka berdua berlari kecil. Saat hampir mendekati mobil itu mereka memelankan langkah mereka lalu naik ke dalam bagian belakang mobil itu dengan pelan.

Ada beberapa kotak besar disana. Besar sekali, pikir Minri. Mereka berdua pun muat jika masuk ke dalam sana.

“Selanjutnya apa?” bisik Minri.

“Kita masuk ke dalam kotak sebagai tempat persembunyian.”

Baekhyun membuka salah satu kotak itu–sebuah kotak yang terbuat dari kayu yang di luarnya dilapisi kardus. Baekhyun melongokkan kepalanya ke dalam. Ada pembatas dalam kotak itu. Untunglah bagian atasnya tidak terisi apapun sehingga Baekhyun dan Minri akan muat masuk ke dalam sana.

Baekhyun mendahulukan tasnya. Lalu membantu Minri masuk. Setelah itu ia sendiri. Baekhyun menutup kotak itu kembali dari dalam. Lalu menyalakan senter. Gelap dan pengap. Itulah yang mereka rasakan di dalam sana.

“Sampai kapan kita bersembunyi Baek?” tanya Minri.

“Sampai kita mendengar adanya jejak penjahat. Pistolmu sudah siap kan?”

Minri mengangguk mantap. Disini, anggaplah Baekhyun sebagai komandan sementara Minri hanyalah anak buah yang akan menuruti apapun perkataan Baekhyun.

Beberapa menit berlalu. Terdengar suara ribut dari luar. Minri menatap Baekhyun dengan pandangan bertanya. Menunggu perintah selanjutnya. Dan Baekhyun hanya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta gadis itu diam dan tidak melakukan apapun. Minri menurut.

Kemudian, mereka berdua merasa kotak yang mereka tempati sedang ditarik. Kemudian terdengar suara dua orang pria yang sedang bicara.

“Sehun, ada satu kotak lagi yang belum di tutup dengan lakban.”

Lakban?

“Cepatlah lakukan serapi mungkin kalau kau tidak ingin kita tertangkap.”

Tangkap? Memangnya apa yang menyebabkan seseorang bisa tertangkap hanya dengan sebuah kotak?

Baekhyun mendadak panik saat penutup kotaknya benar-benar direkatkan. Kemudian tak lama setelah itu suara pintu mobil box yang dikunci, disusul deru tarikan gas dan putaran roda. Semuanya terjadi terlalu cepat. Bahkan ketika kedua bocah itu masih menerka-nerka apa yang terjadi di luar sana.

Baekhyun terus menggenggam tangan Minri. Berharap agar gadis itu tetap tenang, lalu Baekhyun bisa memikirkan cara untuk mereka keluar dari sana.

Dan Petualangan mereka pun dimulai.

***

Mobil berhenti mendadak membuat Minri dan Baekhyun terpelanting di dalam kotak. Jeritan kaget dari keduanya pun tidak bisa dihindari. Kali ini terdengar suara pintu box belakang yang dibuka.

“Apa kau tadi mendengar suara anak kecil?” tanya seorang pria.

“Yang benar saja! Mana mungkin ada anak kecil di tempat berbahaya dan menakutkan seperti ini. Lagipula kita jauh dari perkotaan. Jangan mengada-ngada bodoh!”

Minri beringsut mendekati Baekhyun. Mendengar kata berbahaya dan menakutkan membuat gadis itu merinding.

“Aku tidak bodoh! Sialan Tao! Kenapa kau menoyor kepalaku.”

“Sudah tutup saja mulut idiotmu itu dan lakukan tugas dengan benar!”

Salah satu pria terdengar menyumpah dengan kata-kata kotor yang tidak layak didengar anak kecil macam Minri dan Baekhyun. Jantung mereka berpacu lebih keras. Ada yang salah di luar sana. Mereka pasti sedang berada di tempat dan waktu yang salah.

Kemudian kembali sepi.

Satu per satu kotak diturunkan dan diletakkan di dalam gudang. Sesekali terdengar suara benturan benda keras.

“Sial kenapa yang ini berat sekali.”

“Benar, yang ini paling berat. Aneh.”

Dua orang pria mengangkat kotak yang ditempati Minri dan Baekhyun. Sementara Minri dan Baekhyun terus berpegangan tangan sampai telapak tangan mereka berkeringat. Syukurlah Baekhyun sudah melubangi kotak itu sedikit agar ada udara yang bisa masuk, sehingga mereka masih bisa bernapas walaupun sedikit sesak.

Brakk!

Baekhyun menutup mulut Minri dengan tangannya saat gadis itu akan berteriak karena kaget kotak yang mereka tempati di hempaskan begitu saja.

“Bodoh! Kalau rusak bagaimana? Kau tahu kan kalau senjata-senjata itu mahal.”

“Berhenti mengataiku bodoh! Jangan menyalahkanku terus. Kau yang melepaskan tanganmu lebih dulu.”

Senjata? Apa yang mereka maksud senjata itu ada di dalam kotak yang mereka tempati?

Baekhyun dan Minri bertatapan dengan mata yang melebar. Baekhyun menggeser tempat duduknya, begitu pula dengan Minri. Mereka mengintip ke bawah tempat duduk mereka. Lalu Baekhyun mengangkat ujung kayu pembatas hingga tampaklah benda yang tersusun di bawah tempat mereka duduk.

“Apa itu senjata sungguhan, Baekhyun?” Minri memperhatikan Baekhyun yang menatap senjata-senjata itu tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya bencampur antara takjub dan takut.

“Aku tidak pernah melihat aslinya, tapi… ku pikir ini sungguhan.” Baekhyun mengangkat kepalanya. Lalu Bersender lemas di dinding kotak.

“Kita bertemu dengan penjahat sesungguhnya, Minri-ya.”

Minri ingin menangis. Dia tidak pernah merasa setakut ini. Dia sering diganggu anak-anak jahil yang merebut PSP-nya atau menarik rambut boneka Barbie-nya. Dia tidak akan menangis, juga tidak takut hal itu karena Baekhyun pasti akan datang menolongnya dari anak-anak nakal itu. Tapi ini keadaannya berbeda. Baekhyun bukan melawan anak-anak kecil yang nakal tapi dia akan berhadapan dengan pria dewasa yang mereka tidak bisa bayangkan apa yang akan pria itu lakukan pada mereka berdua nantinya.

“Aku berjanji akan melindungi Minri. Jangan takut ya…”

Jika Baekhyun berjanji membelikan Minri es krim dua mangkuk maka Baekhyun benar-benar membelinya. Jika Baekhyun berjanji datang ke rumahnya jam 7 pagi, maka Baekhyun benar-benar datang meskipun saat itu Minri masih meringkuk dalam selimut Cinderella-nya.

Jika sekarang Baekhyun berjanji melindunginya maka Baekhyun pasti menepatinya.

Tidak ada yang bisa Minri lakukan selain mengangguk dan percaya pada Baekhyun. Gadis itu bisa tersenyum meskipun masih menyimpan khawatir dalam dadanya. Tapi dia percaya, jika dia terus bersama Baekhyun, semuanya akan baik-baik saja. Persis seperti apa yang Baekhyun katakan.

 

“Pertama, Kita harus keluar dari kotak ini.”

Minri memperhatikan Baekhyun yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya. Gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar dia bisa membantu Baekhyun. Dia takut salah.

Baekhyun mendesah kecewa. Dia tidak mengambil apapun dari dalam tasnya. Dan itu tandanya Baekhyun tidak menemukan benda yang dapat mengeluarkan mereka dari dalam kotak itu.

Baekhyun mengangkat kepalanya. Matanya mengerjap lucu sambil terus memperhatikan rambut Minri. Bukan. Laki-laki itu bukan fokus pada rambut, tapi lebih pada sebuah benda yang terpasang indah di rambut Minri yang lembut dan berkilau.

Baekhyun punya ide. Kedua sudut bibir Baekhyun membentuk lengkungan ke atas.

“Boleh aku minjam jepit rambut Minnie mouse yang ada di rambutmu?”

“Untuk apa Baek? Kau itu laki-laki. Mana boleh memakainya.” Minri tampak protes dan mengerucutkan bibirnya.

“Sebentar saja. Aku punya ide bagus untuk kita.”

“Baiklah…” Minri menunduk, membiarkan Baekhyun melepaskan jepit rambut kesayangannya itu dari rambutnya. Baekhyun melakukannya dengan sangat hati-hati sehingga Minri tidak merasakan helaian rambutnya yang tertarik.

Baekhyun tersenyum saat jepit rambut itu sudah berada di tangannya. Dia membukanya lalu mengarahkan bagian yang tajam pada plester yang merekat di kardus. Dia mulai dari ujung. Dengan kepala yang menegadah sembari menusuk-nusuk plester itu. Kemudian pelan-pelan menariknya sampai plester itu robek di batas setengah kotak.

Dia mendorong penutup kardus itu dengan susah payah. Kemudian Minri membantunya mendorong. Sampai akhirnya kotak itu terbuka. Mereka berseru senang, lalu refleks berpelukan.

Menyadari bahwa mereka tidak boleh menimbulkan keributan, Baekhyun melepaskan pelukannya–sebenarnya dia merasa sedikit malu karena hal ini. Dia melirik ke sekitarnya. Menemukan mereka dalam sebuah gudang yang minim pencahayaan bersama dengan puluhan kotak kardus besar yang lain.

“Baekhyun memang hebat.” Seru Minri tak terkendali.

Baekhyun merasa tersanjung. Dia hanya tersenyum. Dia mengembalikan jepit rambut itu, memakaikannya ke rambut Minri. Lalu mereka berdua keluar dari kotak. Bersama-sama menarik dan menghembuskan napas lega. Sedikit mengernyit saat mencium udara disekitar mereka begitu apek dan asing.

“Siapa disana?!”

Minri dan Baekhyun tampak menegang saat mendengar suara seorang pria. Mereka berdua bergegas mencari tempat persembunyian. Dan Baekhyun memilih bersembunyi di samping lemari besi yang tinggi. Ada beberapa bagian dari lemari itu yang berkarat.

Sementara Minri tertinggal di samping kotak kardus yang lain. Baekhyun mengisyaratkan Minri agar gadis itu tetap diam di tempatnya. Minri mengangguk menurut. Namun kilatan kecemasan begitu tampak di mata hazelnya.

Langkah kaki terdengar perlahan dan terus mendekat. Suasana gudang yang begitu sepi menjadikan semuanya terdengar jelas.

Minri melirik ke samping. Dia melihat ujung sepatu yang lusuh dan kotor. Dengan degupan jantung yang terus berpacu semakin keras. Minri berdoa dalam hati sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

Baekhyun… Minri takut.

“Hey idiot! Bos mencarimu. Sedang apa kau mengendap-endap disana? Dasar orang aneh.”

“Aku bersumpah tadi mendengar suara anak kecil disini.” Suaranya terdengar meninggi. Dia mendengus lalu berbalik. “Aku yakin ada orang lain disini.”

Langkahnya terdengar semakin menjauh, sampai akhirnya hilang. Tidak ada suara apapun yang Minri dengar selain hembusan napasnya sendiri.

Baekhyun keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menghampiri Minri, jongkok di samping Minri yang masih menutup wajahnya. Lalu dia menurunkan tangan Minri yang gemetar. Menggenggam kedua tangan itu. Tangan Baekhyun yang hangat dan lembut menghantarkan ketenangan, membuat ketakutannya mereda.

“Kita harus segera keluar dari sini Baekhyun.” Suara Minri terdengar serak.

“Iya. Kita akan segera keluar dari sini.”

“Janji?” Minri menyodorkan kelingkingnya yang mungil.

“Janji.” Dan Baekhyun menyambut dengan kelingkingnya. Kedua jari itu bertautan. Bagai kekuatan magis, Baekhyun merasa lebih kuat. Janji yang dia ucapkan untuk melindungi gadis itu serta janji akan segera mengeluarkan mereka berdua dari tempat menakutkan ini ditanamkan Baekhyun lekat-lekat dalam dadanya.

Baekhyun memang hanyalah seorang anak laki-laki berumur 7 tahun. Tapi itu bukan berarti Baekhyun tidak bisa memenuhi janjinya.

 

Mereka berdua berjalan di lorong yang panjang. Melewati dinding-dinding semen dengan cat yang sudah terkelupas. Ada banyak sekali pintu di sana, membuat mereka berdua mendongak memperhatikan sana sini. Tampaknya tidak ada aktivitas dalam ruangan, itu berarti ruangan-ruangan yang mereka lewati aman.

Mereka terus menyusuri lorong itu, belum menemukan bagian ujung maupun jalan keluar.

“Ada anak kecil disana!!” Teriakan seorang pria membuat mereka berdua terkesiap lantas berbalik. Ada dua orang pria bertubuh tinggi yang berdiri di depan mereka dalam jarak beberapa meter.

Salah satu pria itu berambut blonde, matanya sipit dan kulitnya lebih putih dari pria di sebelahnya. Dan yang satunya berwajah cukup menakutkan dengan samar-samar bayangan hitam di bawah matanya. Pria itu mirip boneka panda di rumah Minri, tapi dia tidak lucu.

Minri mengerjap tidak percaya.

“Kau benar. Tangkap mereka!”

Baekhyun menelan ludahnya dengan keras, sebelum berseru, “Lari!!!” langkah-langkah kaki mereka menimbulkan keributan di sepanjang lorong itu. Kejar-kejaran pun tidak dapat dihindari. Minri terus berlari, mengabaikan kakinya yang sakit dan pegal.

Baekhyun berada di sampingnya. Laki-laki itu juga berlari. Dia memasukkan tangannya ke dalam kantung kecil di samping tasnya. Lalu menggenggam butiran kelereng di telapak tangannya.

Mereka berbelok di ujung lorong. Baekhyun berhenti. Minri yang berada di depannya juga ikut berhenti. Gadis itu mengatur napasnya yang memburu.

Baekhyun mengeluarkan kelereng dalam tasnya lalu menghamburkan kelereng-kelereng itu di lantai. Dia menatap ke arah Minri dan meminta gadis itu terus berlari. Tapi Minri menggeleng. Minri tidak akan pergi tanpa Baekhyun. Dia tidak yakin bisa bertahan sendirian.

“Baekhyun cepat…” jerit Minri saat dia melihat penjahat-penjahat itu di depan Baekhyun.

Baekhyun menyisakan kelerengnya satu genggaman, kemudian melemparkannya sembarangan, namun tepat mengenai wajah para penjahat itu. Terdengar jeritan.

Baekhyun melanjutkan langkahnya. Begitupula dengan Minri. Mereka sempat menengok ke belakang dan mendapati pria bermata panda itu terpeleset dan menindih satu sama lain di lantai karena menginjak kelereng-kelereng milik Baekhyun.

“Ada anak kecil disini. Mereka sedang berjalan di koridor 2 sebelah kiri.”

O-ow! Sepertinya penjahat itu baru saja meminta bantuan pada teman-temannya.

***

Baik Minri ataupun Baekhyun tidak akan bisa bernapas lega sebelum mereka benar-benar keluar dari sana. Mereka berdua memutuskan istirahat sebentar dalam sebuah ruangan yang gelap. Baekhyun menyalakan sakelar lampu namun penerangan disana sama sekali tidak berfungsi.

Baekhyun mengeluarkan sekotak susu stroberi dan coklat. Stroberi untuk Baekhyun. Coklat untuk Minri. Baekhyun juga membawa biskuit dalam tasnya, tapi sekarang mereka sedang dalam keadaan terdesak. Ini bukan waktunya untuk piknik. Mereka sedang berada dalam misi berbahaya yang mengancam.

“Minumlah dulu. Ku rasa kita akan berlari lebih jauh dari yang tadi.”

Minri mengambil kotak susu coklat, lalu menancapkan sedotannya. Lantas meminum.

“Baekhyun, tanganmu kenapa?”

Minri melihat tanda memar di punggung tangan Baekhyun beserta goresan yang cukup panjang.

Baekhyun mengernyitkan dahinya, lalu memperhatikan kedua tangannya. Tangan kanannya terluka. Dia bahkan tidak menyadari kapan dia mendapatkan luka itu.

“Tidak apa-apa. Habiskan saja minumanmu.”

Minri justru meletakkan kotak susunya dan meraih tangan Baekhyun. Dia meniup-niup tangan Baekhyun. Dan Baekhyun hanya diam, membiarkan Minri yang-mungkin-sedang mengobati lukanya.

“Baekhyun membawa air mineral?”

Tanpa menjawab, Baekhyun mengeluarkan sebotol air mineral kemasan paling kecil dari dalam tasnya. Minri menyiram punggung tangan Baekhyun. Laki-laki itu tampak meringis. Minri kembali meniup tangan Baekhyun. Kemudian gadis itu membuka resleting tas kecilnya dan mengeluarkan selembar plester handsaplast. Lantas merekatkannya di bagian tangan Baekhyun yang terluka. Minri mengecup pelan sebagai sentuhan akhir.

“Minri hebat jadi petugas medis.” Komentar Baekhyun saat gadis itu selesai mengobati luka kecil di tangannya.

“Minri kan sering membantu Lee Seonsaengnim di UKS.” Jawabnya sembari tersenyum. Seperti lupa bahwa mereka sedang dalam bahaya.

“Kau benar.” Baekhyun berdiri dan membereskan isi tasnya. “Ayo kita pergi dari sini.”

***

Perjalanan mereka berlanjut.

Mereka mendapati lorong panjang lagi. Dengan langkah kaki dan pandangan yang waspada mereka berdua menyusuri lorong itu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Minri sudah siap jika dia harus berlari sekarang. Tapi berlari ke depan bukanlah solusi yang tepat karena penjahat itu tepat keluar dari salah satu pintu yang ada depan mereka. Minri dan Baekhyun melangkah mundur dengan pelan.

“Mau kemana kalian bocah tengik!”

Orang itu adalah penjahat yang berbeda. Wajahnya tampak lebih manis. Tapi semanis apapun dia, dia tetaplah komplotan penjahat. Mungkin merekalah yang dihubungi pria yang terpeleset oleh kelereng Baekhyun tadi.

Pria itu terus melangkahkan kakinya ke depan.

“Satu… dua… tiga!”

Seolah memiliki telepati yang kuat. Minri mengerti apa yang Baekhyun minta padanya. Dalam keadaan seperti ini memangnya apalagi yang bisa mereka lakukan selain lari dan lari lagi.

Suara sepatu-sepatu yang beradu dengan lantai menimbulkan suara ribut sepanjang lorong. Dua langkah anak kecil itu sama dengan satu langkah orang dewasa. Besar kemungkinan bahwa mereka akan tertangkap.

Minri dan Baekhyun terus berlari. Meskipun mereka belum tahu jalan keluar setidaknya menghindar dari para penjahat itu mungkin akan membuat mereka selamat.

Tiba-tiba Minri terjatuh. Baekhyun yang berada cukup jauh di depan Minri ikut berhenti. Dia berbalik.

“Minri, ayo bangun! Kau pasti bisa!”

Minri mencoba bangkit. Tapi kakinya terasa sangat sakit. Dia menjadikan tangannya sebagai tumpuan. Baru setengah berdiri, Minri kembali jatuh. Dia mencoba lagi. Namun, tetap tidak bisa.

Baekhyun melebarkan matanya saat penjahat itu semakin mendekat.

Minri berusaha sekuat tenaga. Mengabaikan kakinya yang berdenyut-denyut. Dia bahkan tidak berani melihat ke belakang. Sampai akhirnya ia berhasil berdiri di lantai. Bukan. Ini lebih parah. Kakinya tidak menapak di lantai lagi.

“Akhirnya aku mendapatkanmu gadis kecil.”

Minri tertangkap.

Gadis itu meronta dalam gendongan penjahat itu. Tapi kekuatannya tidaklah sebanding dengan pria dewasa bewajah manis itu. Kalau saja dia bukan penjahat, Minri pasti sangat ingin berteman dengan pria itu.

Baekhyun merasa ketakutan mulai menyergap dalam dirinya. Dia sudah berjanji melindungi Minri. Tapi apa yang terjadi sekarang?

“Lepaskan Minri!” teriak Baekhyun.

“Kau mau jadi super hero disini? Ck! sayangnya aku tidak bermain dengan anak kecil.” Pria itu menghampiri Baekhyun dengan Minri yang masih berada dalam gendongannya.

Baekhyun memegang sesuatu di tangan kanannya. Dia menyimpan tangannya di belakang badan. Sebuah senjata.

Dia menghitung dalam hati. Sampai penjahat itu berada tepat di depannya, dia langsung menembakkan senjatanya.

“Arrgh!!” Pria itu berteriak setelah Baekhyun menembak tepat ke wajahnya. Isi pistol air Baekhyun bukanlah air, melainkan sambal pedas. Baekhyun menamakan senjata itu emergency turbo. Karena senjata itu akan digunakan Baekhyun dalam keadaan yang sangat mengancam seperti sekarang.

Sementara Minri menjambak pria itu membuat Minri dijatuhkan begitu saja ke lantai. Minri meringis. Kemudian bangkit dan menyambut uluran tangan Baekhyun. Tidak ada waktu untuk merengek kesakitan.

Mereka berdua kembali berlari dengan tangan yang bertautan. Sebenarnya Baekhyun bisa berlari lebih cepat. Tapi dia memelankan langkahnya agar sejajar dengan Minri.

Suara teriakan pria yang menangkap Minri tadi sudah tidak ada. Itu berarti mereka sudah berada dalam jarak yang cukup jauh.

Minri berjalan dengan agak terpincang. Hal itu membuat Baekhyun harus menghentikan langkahnya.

“Minri tidak apa-apa?”

“Ya. Ak u tidak apa-apa.” Bohong Minri. Dia tidak peduli dengan kakinya. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah keluar dari sini dan bertemu dengan kedua orang tuanya lagi.

Baekhyun baru akan membuka mulutnya lagi tapi tarikan tangan Minri membuatnya tidak bicara apa-apa lagi.

“Baekhyun disana!” tunjuk Minri pada sebuah pintu yang berada lurus di depan mereka. Pintu itu mempunyai sepetak kaca di atasnya. Cahaya yang sangat terang tampak dari kaca itu. Berarti mereka sudah menemukan pintu keluar.

Baekhyun melirik ke sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Mereka berduapun menghampiri pintu itu.

Baekhyun sudah memegang gagang pintu.

“Hey kalian!”

Oh tidak! Masih belum selesai.

Ada beberapa pria yang berada di belakang mereka. Wajah mereka tampak sangat marah. Baekhyun ingat. Orang-orang itu adalah orang yang terkena jebakan Baekhyun.

Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu itu. Mereka mendapati cahaya yang terang benderang. Minri menghalau cahaya dengan tangan kanannya. Lalu mereka berdua melangkah, melewati pintu itu.

Tapi.

Belum selesai.

Harusnya mereka mendapati langit yang biru dengan sinar mentari yang menggantung angkuh di langit. Harusnya mereka mendapati angin yang berhembus. Dan harusnya mereka mendapati kebebasan.

Tapi…

Mereka justru baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan lagi. Ruangan yang terang dimana disana ada beberapa pria dewasa yang duduk dengan kaki terangkat dan rokok di tangan mereka. Asap menyebar kemana-mana membuat Minri terbatuk-batuk.

“Siapa kalian?” salah satu pria itu menyadari keberadaan Baekhyun dan Minri yang berdiri terpaku di depan pintu. Ada sekitar 5 orang pria. Dan semuanya melihat ke arah Baekhyun dan Minri.

“Mereka bocah tengik pengganggu, Bos.” Jawab sebuah suara yang berada di belakang Baekhyun.

Belakang? Apa itu berarti mereka tidak bisa melangkah mundur lagi?

Belum sempat mencerna keadaan, tiba-tiba kaki Baekhyun dan Minri sudah tidak menapak di lantai lagi. Masing-masing dari mereka berada dalam gendongan pria bertubuh besar. Minri memukul-mukul tubuh pria yang menahannya. Begitu pula Baekhyun. Tapi sayang pukulan mereka hanya setara dengan gigitan semut bagi pada pria dewasa itu.

Apa petualangan mereka berakhir sampai disini?

“Untuk apa kalian menangkap mereka? Kita bandit perdagangan senjata, bukan penculikan anak.” Ucap seorang pria yang tadi mereka sebut sebagai bos. Tampaknya tubuhnya paling tinggi. Rambutnya berwarna keperakan. Garis wajahnya tegas dan ada bekas luka di pipinya.

“Tapi sepertinya kita akan mendapat keuntungan besar kalau menjual anak-anak ini. Lihat! Mereka begitu terawat. Pasti banyak yang menginginkan mereka.” Seorang pria yang berdiri di samping bos mereka ikut menimpali. Pria itu berbeda jauh dengan orang yang mereka panggil bos. Tubuhnya paling pendek dan rambutnya hitam.

“Suho Hyung benar.” Jawab seorang lagi. “Itu ide bagus, Kris.”

“Ahh terserah kalian.” Kris kembali menghisap rokoknya. Lalu ponselnya berbunyi.

Sementara Baekhyun dan Minri masih meronta. Kris mengangkat telpon. Dia tampak sedikit geram karena keributan yang ditimbulkan Baekhyun dan Minri. Sehingga kedua pria yang menahan mereka harus menutup mulut mereka dengan tangan.

“Ya. Kami sudah menunggu. Pastikan uang kalian tidak kurang sepeserpun. Kami punya barang bagus. Kami di Gyeong-gi, sebelah barat gedung olahraga, bekas pabrik produksi sepatu. Baik.” Kris menutup telponnya lalu menatap Baekhyun dan Minri bergantian. “Dasar anak-anak berisik.”

***

Minri dan Baekhyun duduk di tengah ruangan yang terang benderang itu. Dengan tangan dan kaki yang terikat. Untunglah mulut mereka tidak jadi di plester karena para penjahat itu telah menghabiskan plesternya untuk membungkus kardus senjata.

Anak-anak itu tidak mungkin menjerit minta tolong karena mereka berada dalam gedung yang cukup besar dan jauh dari perkotaan ini. Tidak mungkin ada yang menolong mereka.

Tas dan barang bawaan Baekhyun di sita. Para penjahat itu membongkar isi tasnya. Dan dengan tidak tahu malu memakan biskuit-biskuit Baekhyun. Padahal itu satu-satunya persediaan makanan mereka.

Baekhyun dan Minri duduk dengan saling membelakangi. Punggung menyentuh punggung. Minri lelah. Dia tidak punya tenaga jika harus berlari lagi.

Mereka berdua diam. Sesekali menatap wajah-wajah penjahat itu.

“Baek, apa kau punya ide?” bisik Minri.

Baekhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Aku punya ide,” ucap Minri membuat Baekhyun menegakkan duduknya. Bersiap mendengarkan rencana dari gadis itu. apa salahnya mencoba.

“Apa itu?” tanya Baekhyun.

Mereka bicara dengan volum suara yang kecil.

“Sebenarnya penjahat bodoh itu tidak mengikat tanganku dengan benar. Tanganku sudah terlepas sejak tadi. Tapi aku berpura-pura saja agar mereka tidak menaruh perhatian. Aku bisa melepaskan ikatan di tanganmu. Aku akan menelpon polisi–”

“Kau punya ponsel?” potong Baekhyun.

“Aku sempat mengambil ponsel paman panda itu karena dia menggantungkan ponsel di lehernya. Nah, Baek, setelah itu ku serahkan padamu rencana selanjutnya.”

Minri melepaskan ikatan di tangan Baekhyun tanpa melihat. Mereka tidak menimbulkan gelagat yang mencurigakan. Dan itu bagus sekali. Para penjahat itu tidak memperhatikan mereka berdua.

Minri menekan tombol ponsel yang ada di tangannya. Dia lumayan paham dengan teknologi. Ibunya sudah membelikannya smartphone saat dia masih duduk di bangku playgrup.

“Baek. Kita harus menjerit,” ucap Minri.

“Bagaimana kalau mereka marah dan langsung membunuh kita di tempat, Minri…” ucap Baekhyun putus asa.

“Percaya padaku, Baek.”

Aku percaya padamu.

“Baek, sekarang!”

Minri yakin telpon sudah tersambung, karena samar-samar dia mendengar suara yang ada di seberang sana. Semoga saja mereka tidak salah sambung.

“Tolooooong!!!” Baekhyun menjerit dengan sekuat tenaganya. Suara Baekhyun benar-benar nyaring. Ini pertama kalinya Minri mendengar Baekhyun bersuara seperti itu.

“Tolong kami!!” Minri pun ikut menjerit.

“Kami di culik!!” Baekhyun sedikit mengimprovisasi.

“Heh? Kenapa kalian menjerit tiba-tiba?” Pria berkulit putih bernama Sehun itu tampak bingung dengan apa yang terjadi dengan kedua bocah yang mereka tawan.

“Diam bodoh! Kau membuat kupingku sakit.” Tao menutup telinganya dan memasang wajah geram.

“Gyeong-gi, sebelah barat gedung olahraga, bekas pabrik produksi sepatu.” Minri bicara dengan sangat nyaring, membuat penjahat itu sangat bingung karena gadis itu justu menyebutkan nama jalan yang mengarah ke gedung ini.

“Ya! Apa kalian melihat ponselku?” Tao baru menyadari bahwa ponselnya hilang.

“Tidak.” Sahut yang lain hampir bersamaan dengan jawaban yang sama.

“Telpon saja! Kau itu kan pelupa menaruh barang.” Saran Sehun sepertinya berguna. Mereka memang sering berdebat tapi tak jarang juga saling membantu.

“Jenius.”

Tut! Sambungan telpon Minri dan polisi tadi terputus.

Gawat. Ini gawat!

Minri menjerit dalam hati. Mereka bisa ketahuan.

“Baek…” panggil Minri dengan suara bergetar.

“Aku tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Kau sudah bisa berdiri?” tanya Baekhyun.

“Ya. Sepertinya…ya.” Jawab Minri dengan yakin.

Kriingg! Ponsel ditangan Minri, yang tertutup punggung Baekhyun dan Minri tiba-tiba berbunyi. Para penjahat itu menatap mereka berdua dengan tajam. Salah satu dari mereka mendekat. Pipinya tembem.

“Ponselmu ada di tangan gadis kecil itu.”

Sang pemilik ponsel, si pria bermata panda itu menghampiri Minri dan merebut ponsel itu dari tangan Minri. Dia mengecek keadaan ponselnya. Tak lama matanya membelalak kaget.

“Sial! Mereka baru saja menelpon polisi.”

“APA?!”

“Apa?!”

Minri melepaskan ikatan kakinya dengan cepat, begitu pula dengan Baekhyun. Kemudian mereka berdiri bersama. Dengan saling membelakangi dan tatapan waspada. lalu Baekhyun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah pistol.

“Minri, coba kau cek di saku kirimu.”

Minri segera merogoh saku celana Baekhyun dan mendapati ada pistol disana. Pistol air.

“Ada senjata. Tapi senjata ini tidak akan membuat mereka takut, Baek. Tidak ada efek yang berarti,” ucap Minri sembari menghela napas.

“Senjata itu memang tidak akan membuat mereka takut. Tapi lihat yang ada di tanganku. Kita mengandalkan senjata yang ada di tanganku.”

“Darimana kau mendapatkannya?!” jerit Minri.

“Sebenarnya aku hanya ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Aku mendapatkan ini saat kita terjebak dalam kardus.”

“Aku sedang tidak ingin bermain dengan anak-anak.” Ucap pria yang bertubuh paling pendek bicara dengan gusar. Dia akan menghampiri Minri dan Baekhyun. Tapi tangan Kris menghentikannya.

“Yang dipegang bocah laki-laki itu senjata sungguhan.”

Para penjahat itu mendadak kaku. senjata sungguhan. Oh baiklah. Sekarang hidup mereka yang terancam. Anak-anak itu memang kurang ajar. Juga cerdas.

“Kalau kalian mendekat, aku tidak akan segan-segan menembak kalian.” Ancam Baekhyun.

“Baek, kau bisa menggunakan senjata itu?” ucap Minri pelan, nyaris berbisik.

“Tidak.” Baekhyun memperhatikan pistol itu sesaat. “Tidak ada tombol reload-nya sih.”

Tentu saja tidak ada bocah! Itu senjata sungguhan. Tidak butuh tombol-tombol instruksi seperti mainan.

Minri dan Baekhyun perlahan melangkah ke arah pintu dengan senjata yang terus mengarah pada wajah-wajah penjahat itu. Mereka tidak berani bertindak gegabah. Karena Baekhyun bisa saja menembakkan pistol di tangannya.

Dimana mereka akan menaruh reputasi mereka saat tersiar kabar bahwa para penjahat tewas karena tertembak oleh senjata yang ditembakkan oleh anak kecil. Benar-benar memalukan!

“Kris.” Panggil Suho sembari melemparkan pistol yang dia dapatkan dari laci meja. Sekarang penjahat itupun memegang senjata.

Baekhyun menelan ludahnya.

Akhirnya Minri dan Baekhyun berhasil keluar dari ruangan itu, masih dengan langkah pelan dan waspada. Mereka berjalan dengan melangkah mundur. Mata bertemu mata. Dan Baekhyun berusaha agar tetap tenang.

Baekhyun merasa para penjahat itu semakin mendekat padanya. Langkah-langkah mereka yang panjang tidak sebanding dengan langkah Baekhyun. Apalagi mereka sekarang sedang dalam keadaan berjalan mundur.

“Baek, ayo lari!!”

Tepat saat Minri menjerit seperti itu, para penjahat pun menghentikan langkahnya. Mereka membelalak kaget menatap –entah apa–yang ada di belakang Baekhyun dan Minri.

Minri melirik ke belakang dan menemukan sekelompok polisi. Mereka memakai baju anti peluru lengkap dengan memegangi senjata yang besar. Keren!

“Tangkap mereka semua!” perintah polisi yang berada di barisan paling depan. “Dan amankan anak-anak ini.”

“Baekhyun, kita selamat!” Minri memeluk Baekhyun.

Puluhan polisi berlari mengejar para penjahat itu sementara salah satu dari mereka bertahan dan jongkok di depan Minri dan Baekhyun.

“Ehm, anak-anak, aku akan mengantarkan kalian pulang.”

Minri melepaskan pelukannya dengan wajah malu. Ada pria dewasa yang melihatnya berpelukan. Dan itu cukup memalukan baginya.

“Ayo kita pulang.”

***

Langit sudah berubah warna menjadi jingga saat Baekhyun dan Minri tiba di tempat tinggal mereka setelah diantar oleh salah satu polisi dengan mobil mereka. Ada beberapa mobil polisi di depan rumah mereka yang bersebelahan.

“Keren! Kenapa banyak sekali polisi disini?” Minri bicara entah pada siapa.

“Ibumu menelpon polisi saat kalian menghilang. Mereka hanya menemukan potongan baju perempuan di taman. Jadi kemungkinan besar mereka mengira kalian telah diculik atau dibunuh.” Sahut polisi yang sedang menyetir itu dengan santainya.

Apa dia sadar bicara pada siapa? Anak gadis berumur 7 tahun!

“Tidak! Itu sangat mengerikan!!” Minri menggeser duduknya, mendekat pada Baekhyun.

“Paman, kau membuatnya takut.”

Polisi itu hanya tertawa ringan dan berkata bahwa dia hanya bercanda. Kemudian dia menghentikan mobil polisinya di depan rumah Baekhyun.

Minri lebih dulu turun dari mobil kemudian di susul Baekhyun.

Eomma!” Minri menghambur ke pelukan ibunya.

Wanita itu tampak menahan air matanya. Anak gadis yang disayanginya benar-benar membuatnya khawatir. Apalagi setelah menemukan hanya ada pakaian Minri di sekitar taman.

Minri melepaskan pelukannya lalu menatap wajah ibunya yang menurut Minri seperti bidadari di film Barbie Swan Lake yang sering di tontonnya.

“Maafkan aku, eomma… aku janji tidak akan bermain terlalu jauh lagi.”

Wanita itu mengangguk dan tersenyum lantas mencium kedua belah pipi Minri dengan sayang. Wanita itu memperhatikan penampilan Minri. Benar-benar berbeda saat dia pamit pergi untuk bermain tadi pagi. Tapi tak apa, yang penting sekarang Minri selamat. Mungkin dia akan menanyakannya pada Minri tentang petualangannya hari ini.

Sementara di sisi lain, Baekhyun juga disambut dengan pelukan hangat dan kecupan manis oleh ibunya. Tapi keadaannya yang sedikit berbeda dengan Minri tadi.

Eomma! Jangan menciumku di depan polisi, aku malu…” Yeah, itulah Baekhyun. Dia malu jika ibunya memanjakannya di depan orang banyak. Apalagi di depan polisi. Heol.

“Ayo masuk,” ucap ibunya.

“Tunggu sebentar, eomma.” Baekhyun berjalan menghampiri Minri yang saat itu masih berpelukan dengan ibunya.

“Hey jagoan, terimakasih sudah menjaga Minri dengan baik,” ucap ibu Minri sembari tersenyum membuat Baekhyun merasa tersanjung. Baekhyun menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

Minri melepaskan pelukannya dan turun dari gendongan ibunya. Kemudian berdiri di hadapan Baekhyun.

“Hari ini sangat menyenangkan! Dan kau sangat hebat! Terimakasih Baekhyun.” Minri tersenyum membuat wajahnya semakin kelihatan cantik.

“Terimakasih sudah menjadi partner-ku, agen Park.” Baekhyun tertawa pelan. Dia senang memanggil Minri dengan sebutan seperti itu.

“Kapanpun kau butuhkan, aku akan selalu bersedia menjadi partner-mu, agen Byun.”

Baekhyun memajukan tubuhnya, mencium pipi Minri secepat kilat. Kemudian bergegas menghampiri ibunya.

Minri merasa perutnya menggelitik.

Apakah mustahil anak berumur 7 tahun mengalami yang namanya jatuh cinta?

Minri masih terpaku bahkan ketika Baekhyun melambaikan tangannya, pemit pulang. “Sampai bertemu besok, Minri.”

————–

Beberapa hari kemudian Baekhyun dan Minri menerima paket mainan agen keluaran terbaru yang lengkap dan mahal. Itu semua adalah hadiah dari para polisi yang merasa tugas mereka terbantu berkat Minri dan Baekhyun.

Atas jasa mereka berdua, polisi berhasil menangkap kawanan penjahat kelas atas dengan kasus perdagangan senjata illegal yang selama ini mereka cari dan sekarang merangkap dengan kasus penculikan anak.

Baekhyun menelpon Minri dan memberitahukannya tentang hadiah yang dia dapat. Begitu pula dengan Minri. Dan mereka berjanji akan memainkan permainan itu lagi bersama-sama. Tapi tentunya di tempat yang lebih aman dan jauh dari bahaya yang sesungguhnya.

Mungkin mereka akan kembali memburu kucing lagi. Atau anjing Jongin (Minri baru tahu bahwa Jongin punya anjing yang sangat lucu). Atau kura-kura milik Kyungsoo. Sepertinya kura-kura lebih cepat tertangkap. Tidak seru!

Yang pasti masih banyak yang ingin mereka lakukan. Anak-anak dengan rasa ingin tahu yang besar juga jiwa petualang yang tinggi seperti mereka tentu ingin tahu dan mencoba lebih banyak hal.

Dan mereka akan terus mengingat hari itu sebagai hari yang sangat berkesan dengan berbagai kejadian yang menakjubkan! Hari itu mereka kenang sebagai hari dengan ‘misi yang tidak mungkin’.

Mission impossible.

*END*

Yaeyyy selesai!! How do you feel abt this?

Ngebayangin Baekhyun umur segitu… pasti imut banget deh hadoooh >o<!! Byunbaek… noona mencintaimu!! *uhhuk*

Thanks for read! Sorry for typo and… see ya for next FF!! *bow with Byunbaek*

Iklan

Penulis:

Being fangirl is not easy as looks, so respect each other is better. EXO-Love. Byun Baekhyun. Wanna One. Bae Jinyoung. ❤

78 tanggapan untuk “Mission Impossible

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s