Diposkan pada exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance, Kai, One Shoot, Oneshot, Romance, SCHOOL LIFE

Because The Camera

Gambar

Title     :  Because The Camera

Author :  DEE! -dicanaomi-

Genre  :  School Life, Romance

Lenght :  Oneshoot (3,563 Words)

Rating  :  General

Cast     :

  • Kim Hyungi (OC)
  • Kim Jongin
  • Others

Poster by :  riskatrianagallery.wordpress.com

Disclaimer :  this FF is MINE! Don’t be a PLAGIATOR! Don’t be a SIDERS!

Note    :  FF ini terinspirasi dari pengalaman pribadi. Mungkin ada sedikit yang aku ubah berdasarkan imanjinasiku. Terimakasih untuk someone yang udah jadi inspirasiku, meskipun sekarang udah gatau pergi kemana. *malah curhat xD* Dan terimakasih banyak buat Kim Jongin yang masih setia support aku untuk tetap menulis. *abaikan -_-* Makasih ya Jongin karena bersedia memerankan sosok DIA di FF ini. Makasih buat readers yang bersedia baca FF ku ini. Gamsahamnida ^^

 

 

Dica Naomi Present

 

“ maafkan aku, tapi ku rasa kita harus mengakhiri semua ini.”

 

“ wae? Apa yang salah pada hubungan kita?”

 

“ kau terlalu sibuk. Entah apa kesibukanmu, aku juga tidak tahu. Bahkan untuk sekedar memberiku kabar lewat pesan singkat saja, kau tak bisa.”

 

“ Hyungi-ah, bukan seperti itu.”

Gadis itu menarik nafasnya dalam. Menghalau perasaan kacau yang berkecamuk dalam dadanya. Ia benar-benar akan luluh ketika mendengar suara pria itu memelas. Tetapi kali ini ia bertekat untuk mengakhiri semua ini. Kim Hyungi. Gadis itu sudah hampir 3 kali mengatakan ingin mengakhiri hubungan mereka yang sudah tidak tahu kemana arahnya ini. Tetapi, ia akan luluh begitu mendengar suara pria yang dicintainya lebih dari satu tahun ini. Ia berharap, kali ini tak akan begitu saja menerima semua rayuannya kembali. Sebab ketika ia sudah berada di atas awan karena rayuan pria itu, ia akan dengan mudahnya terjatuh hanya dengan satu sikapnya yang menurut Hyungi mementingkan kepentingannya sendiri.

 

“ maafkan aku, Jongin. Semuanya harus ku akhiri sampai disini. Lanjutkanlah kesibukanmu.”

 

Hyungi memutuskan sambungan telefonnya sepihak. Ia sudah terlalu sabar selama ini. Tiga bulan tak ada kabar. Padahal mereka berkuliah di satu universitas yang sama―namun berbeda jurusan. Hyungi juga tahu ada beberapa mata kuliah yang berbeda jam. Tetapi tidak bisakah pria yang bernama Jongin itu menghubunginya hanya melalui pesan singkat? Mengingatkannya untuk sekedar makan, atau paling parahnya berhati-hatilah ketika pulang kuliah. Namun selama tiga bulan terakhir, hal yang diharapkan Hyungi itu enggan menjadi kenyataan. Pria itu lebih memilih kesibukannya bersama teman-temannya.

 

Hyungi tak tahu, dan tak ingin tahu apa kesibukan Jongin. Yang sering Hyungi lihat, pria yang ber-status sebagai kekasihnya itu, lebih memilih menghabiskan waktunya bersama beberapa teman laki-laki dan perempuannya yang seangkatan dengannya. Hyungi kira ia akan benar-benar berubah, mengingat empat bulan lalu ia mengajak Hyungi makan siang di kantin kampus. Saat itu mereka terlihat seperti sepasang kekasih pada umumnya. Makan bersama, berjalan-jalan bersama. Dan itu mungkin terakhir kalinya Hyungi melihat sikap manis pria itu terhadapnya.

 

Hyungi mendesah berat mengingat semua itu. Ia mengenal Jongin hampir dua tahun. Dan bersama Jongin lebih dari satu tahun. Tentu ia tak semudah itu bisa melupakan pria yang sempat mengisi hari-harinya selama ini. Hyungi bukannya gadis egois yang mengharapkan Jongin 24 jam selalu berada disampingnya. Ia hanya ingin Jongin memberinya kabar. Tak usah bertemu di kampus, lewat pesan singkat atau telefon saja Hyungi sudah sangat bahagia. Bahkan selama ini Hyungi lah yang terlalu memperhatikan Jongin. Ia tak pernah lupa mengingatkan Jongin untuk makan―melalui pesan singkat. Mengucapkan ‘selamat belajar’ ketika Jongin memulai perkuliahannya. Mengucapkan ‘hati-hati dijalan’ saat Jongin pulang dari kampus menggunakan motor gede nya. Mengucapkan ‘selamat tidur’ ketika Jongin sudah berada di alam mimpinya. Setiap hari selalu seperti itu. Tetapi ia harus menelan kepahitan ketika semua pesan yang ia kirim tak mendapat balasan sama sekali.

 

Hyungi merasa ia yang selalu mempertahankan hubungan mereka agar semua terlihat baik-baik saja. Ketika semua sahabat Hyungi bertanya, ‘bagaimana hubunganmu dengan Jongin?’ Hyungi akan tersenyum dan berkata ‘sejauh ini masih baik-baik saja’ dan itu sebuah kebohongan. Hyungi dan Jongin tidak sedang baik-baik saja. Hyungi adalah seorang good liar dalam menutupi masalah dan perasaannya. Ia tak ingin sahabatnya tahu apa yang ia rasakan selama ini. Cukup tersenyum kepada sahabat-sahabatnya dan itu akan membuat mereka tak menanyakan apa-apa lagi.

 

Hyungi membaringkan tubuhnya di ranjang berukuran sedang di apartemennya ini. Ia menatap kosong langit-langit di atasnya. Ia berfikir sejenak. Benarkah keputusan yang ia ambil saat ini? Membiarkan Jongin pada kesibukannya. Membiarkan Jongin memilih siapa pendamping yang cocok dan dapat mengerti kesibukannya. Dan itu, mungkin bukan Hyungi. Hyungi sudah terlalu lelah untuk mengerti sikap Jongin selama ini. Biarlah ia sendiri saat ini. Ia belum siap untuk membuka hatinya kembali untuk mengenal lelaki lain. Ia ingin menjadi Hyungi yang seperti dulu, Hyungi yang ceria dan cerewet. Bukan pendiam dan suka melamun seperti akhir-akhir ini.

 

♦♦♦

 

            Jongin cepat-cepat merogoh saku celananya saat ia merasa ponselnya bergetar. Biasanya saat ia ada kelas seperti ini, Hyungi selalu mengirimnya sebuah pesan. Ia berharap ponselnya bergetar karena ada pesan dari Hyungi. Tapi bibirnya yang tadi membentuk sebuah senyum kecil, kini berangsur-angsur memudar. Wajahnya terlihat sangat datar.

 

1 Pesan dari Oh Sehun. Jongin mendesah, dan membuka pesan itu.

From : Oh Sehun

‘sepulang kuliah, kita akan pergi hunting. Kau dan Chanyeol ikut tidak?’

 

Jongin menekan tombol ‘balas’ di smartphone nya. Dan mengetik balasan untuk Sehun, temannya.

To : Oh Sehun

‘ya’

 

Hanya itu yang ditulis Jongin, ia segera menekan tombol kirim dan memasukkan lagi smartphone nya di saku celananya. Ya, Jongin adalah salah satu anggota dari unit kegiatan mahasiswa ‘Photograph’. Ia menyukai dunia fotografi sejak setahun yang lalu. Selama ini, ia terlalu sibuk dengan kegiatannya ini―mungkin. Sampai dia melupakan seorang gadis yang masih setia menunggunya. Seorang gadis yang selalu memperhatikannya. Jongin sangat menyukai perhatian itu. Tapi sekarang, ia tak akan mendapatkan perhatian itu lagi.

 

Jongin menatap layar proyektor yang terpampang dihadapannya. Sejak tadi, ia hanya memainkan bolpoin dengan tangannya. Tak berniat untuk mencatat dan lain sebagainya. Ia merasa, harinya sangat membosankan―tanpa perhatian dari gadis itu. Jongin sangat menyayanginya, walaupun selama ini ia terlalu mencampakkan gadisnya itu―bukan, bukan seperti itu maksud Jongin. Tapi entahlah, bagi Hyungi, ia di campakkan oleh Jongin.

 

Jongin memutar bola matanya malas. Dosen cantik yang selalu menarik perhatiannya pun, kali ini tak menarik baginya. Chanyeol yang sedari tadi duduk di sampingnya pun ikut-ikutan malas seperti Jongin. Padahal biasanya mereka akan sangat bersemangat dan duduk di deretan depan ketika dosen ini mengajar. Tetapi kali ini, mereka berdua hanya berdiam diri di kursi belakang. Jongin sudah menceritakan semua masalahnya dengan Hyungi kepada Chanyeol. Pria itu malah memarahi Jongin, kenapa dengan mudahnya ia mencampakkan Hyungi berkali-kali, dan berakhir seperti ini.

 

Jongin sadar ia salah. Tetapi ia merasa tulus menyayangi Hyungi. Ia bahkan tak bisa melirik gadis lain―walaupun saat hunting, banyak model-model cantik yang berusaha mendekatinya. Tapi benar, Jongin merasa tak tertarik dan tak mengindahkannya. Hatinya sudah terpaut pada satu gadis, Kim Hyungi. Jongin mendesah berat ketika bel berbunyi. Tanda mata kuliah terakhir hari ini telah berakhir. Jongin mengemasi note book dan bolpoinnya. Ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya―yang juga berisi kamera dengan beberapa lensa koleksinya. “ Sehun mengajak kita hunting, kau ikut tidak?” tanya Jongin. Pria itu menepuk bahu Chanyeol yang masih mengemasi note book nya. Ya, mereka berdua adalah anggota UKM Photograph.

“ boleh.” sahut Chanyeol tanpa menatap Jongin. Ia menarik resleting tas nya hingga tertutup. Jongin berjalan lebih dulu keluar kelas diikuti Chanyeol di belakangnya. Kelas Jongin berada di lantai dua―yang lurus dan berhadapan langsung dengan gerbang masuk universitas. Biasanya, Jongin melihat Hyungi dari depan kelasnya berdiri bersama Jaemi di samping gerbang, menunggu teman-temannya yang lain keluar kelas. Tapi kali ini saat ia keluar dari kelasnya, dan melihat ke arah gerbang, Jongin tak mendapati Hyungi disana.

 

Ia hanya melihat beberapa teman Hyungi yang berjalan keluar gerbang sambil sesekali bersenda gurau. Jongin mengenal semua teman-teman Hyungi. Jaemi, Eunhee, dan Nara. Entahlah, tiba-tiba ia merindukan gadis itu. Gadis yang selalu di campakkannya. Jongin benar-benar merasa bersalah padanya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Sudah tiga kali Hyungi memberinya kesempatan untuk berubah, tetapi Jongin tak memanfaatkannya dengan baik. Hyungi tak menginginkan perubahan yang signifikan, ia hanya ingin Jongin memberinya kabar. Walau tak setiap hari, paling tidak seminggu sekali ia menemui Hyungi atau sekedar mengirimkan pesan singkat. Tapi Jongin benar-benar menyia-nyiakan kesempatan itu. Dan sekarang ia menyesal.

 

Jongin berjalan menuruni tangga yang tetap diikuti Chanyeol di belakangnya. Mereka berdua berbelok ke arah kiri dan pergi ke sebuah ruangan di ujung koridor di lantai dasar―ruang UKM Photograph. Chanyeol mengetuk pintunya beberapa kali sampai muncul lah Sehun di balik pintu. “ masuklah.” suruh Sehun. Kedua pria jangkuk itu masuk ke dalam ruangan yang berukuran 10 × 8 meter ini. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan.

 

“ Oh Sehun, mana Luhan?” tanya Kris, sang ketua UKM.

“ tadi dia sudah keluar kelas terlebih dulu.” jawab Sehun sedikit mengingat-ingat kemana Luhan pergi. “ mungkin dia masih di kantin atau ke perpustakaan. Dia bilang ingin mencari buku.” lanjutnya.

 

Tak berapa lama, orang yang dibicarakan pun datang. Luhan. Pria itu sedikit berlari memasuki ruang UKM. “ ah, mian. Aku terlambat.” Luhan sedikit membungkuk ke arah teman-temannya yang lain. “ tadi aku mencari referensi untuk membuat makalah.” sambungnya. Ia ikut bergabung dan duduk di samping Jongin yang sedari tadi hanya diam. “ hey, aku tadi bertemu Hyungi.” lapor Luhan pada Jongin. Mendengar nama gadis itu, Jongin langsung menolehkan kepalanya menatap Luhan.

“ dimana?” tanya Jongin antusias.

“ di perpustakaan.” jawab Luhan. “ ia membaca buku, sendirian.” lanjutnya. Luhan memasukkan beberapa buku rujukan yang ia cari tadi di perpustakaan ke dalam tas nya. Jongin berdiri dari kursinya, membuat semua orang menatapnya. “ kau mau kemana?” tanya Luhan.

“ menemui Hyungi.” jawab Jongin singkat. Ia memajukan kakinya selangkah, namun Luhan langsung menahannya.

“ Hyungi sudah pulang sepuluh menit yang lalu, sebelum aku kesini.” seru Luhan agar Jongin tak keluar dari ruang UKM―karena sebentar lagi tujuan kemana mereka hunting akan diumumkan oleh ketua.

“ urusi urusan pribadimu nanti saja.” bisik Chanyeol pada Jongin yang kembali duduk di kursinya. Jongin mendesah, ia ingin bertemu dengan Hyungi. Dan memintanya memberi kesempatan untuk yang terakhir kali. Jongin yakin, Jongin bisa merubah sikapnya yang seenaknya itu.

 

“ baiklah, tema kita hari ini adalah lanscape.” seru Kris setelah melihat semua anggotanya berkumpul. “ agar lebih menarik, hasil foto yang paling bagus akan mendapat sebuah hadiah.” sambung Kris. Ia memang selalu begitu―memberikan penghargaan kepada anggotanya yang hasil fotonya paling bagus. Ya, walaupun harganya tak seberapa. Tapi itu cukup membuat anggotanya bersemangat.

 

“ lokasinya dimana ketua?” tanya Sehun.

The Garden of Morning Calm.”

 

♦♦♦

 

            Hyungi mendorong pintu kaca transparan di sebuah cafѐ. Ia masuk dan memesan sebuah coffee art pada seorang waitress. Waitress itu sudah hafal apa pesanan Hyungi. Coffee art bergambar hati dan bertuliskan inisial JH di dalam gambar hati itu.

“ jangan di beri inisial JH lagi ya.” ucapnya kepada waitress itu lagi. Ia tersenyum dan memilih tempat duduk di samping jendela kaca transparan yang ada di ujung ruangan. Hyungi menarik kursinya dan duduk. Tempat yang selama ini ia datangi bersama Jongin. Atau lebih sering ia datang sendiri―tanpa Jongin.

 

Lagu Miracles in December mengalun lembut di ruangan ini. Ia memejamkan matanya sejenak. Menghirup udara kuat-kuat, dan menghembuskannya dengan kasar. Sehari ini ia merasa sangat tak bersemangat. Pagi hari yang menyebalkan karena harus terlambat masuk kelas. Perkuliahan yang membosankan. Bahkan ia harus menghindari teman-temannya dan berlari ke perpustakaan untuk menyembunyikan perasaan kacaunya saat ini. Hyungi sendiri tak mengerti kenapa ia menjadi seperti ini.

 

Pesanannya datang. Coffee art bergambar hati. Tanpa inisial JH di dalam bentuk hati itu. Hyungi tersenyum ke arah waitress yang mengantarkan kopi nya. Ia menyesap sedikit kopinya sambil menatap ke arah luar. Melihat beberapa orang berlalu lalang. Hyungi meletakkan kembali kopinya dan tetap menatap keluar. Melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan berdua di bahu jalan yang sedikit basah―karena hujan semalam. Sang pria menggenggam tangan gadisnya itu erat. Hyungi tersenyum melihat itu. Di salam hati kecilnya, ia ingin seperti itu dengan Jongin. Tapi sepertinya itu tak mungkin. Jangankan untuk berjalan-jalan seperti sepasang kekasih itu, menemui Hyungi di kampus saja tidak pernah.

 

Hyungi menatap coffee art-nya yang bergambar hati. Ia tersenyum kecil ketika teringat saat ia dan Jongin datang kemari―enam bulan yang lalu. Waktu yang sudah sangat lama, namun Hyungi masih mengingat saat-saat itu dengan sangat baik. Saat Jongin yang diam-diam memesan coffee art berinisial namanya dan juga nama Hyungi pada seorang waitress. Membuat Hyungi terkejut akan sikapnya yang begitu manis―saat itu. Hyungi hanya bisa mengingatnya dalam hati. Ia tak yakin kejadian indah itu akan terulang lagi.

 

Hyungi menyesap lagi kopinya. Ia merasa rindu pada Jongin. Jongin yang bersikap manis terhadapnya. Bukan Jongin yang selalu sibuk dengan kegiatannya―entah apa itu. Sampai ia melupakan Hyungi. Hyungi membuang nafasnya kasar. Mengingat Jongin akan membuatnya semakin lemah. Atau bahkan membuatnya sangat rindu pada pria itu.

 

♦♦♦

 

            Jongin sedari tadi hanya berputar-putar di sekitar taman. Ia mengalungkan tali kameranya di leher. Ia tak bersemangat akan kegiatan hari ini. Sebenarnya ia bisa saja pulang dari tadi. Tapi entahlah, ia enggan melakukannya. Sedari tadi ia belum mendapat objek gambar yang bagus sesuai tema. Padahal The Garden of Morning Calm adalah tempat yang paling cocok untuk mengambil foto menggunakan mode lanscape.

 

Jongin berjalan menjauhi teman-temannya. Ia berjalan ke arah luar taman. Ia menemukan sebuah bangku kayu di pinggir jalan dan duduk disana. Ia mendekatkan kamera ke wajahnya dan menutup sebelah matanya. Ia mengarahkan kameranya ke segala tempat. Ia berharap mendapat objek yang berbeda disini. Lensa kameranya menangkap sosok gadis yang sangat Jongin kenal―duduk di sebuah cafѐ di seberang jalan yang cukup jauh dengan tempat Jongin duduk saat ini. Ia memutar lensa kameranya―bermaksud memperbesar gambar yang ia tangkap. Tidak salah lagi, dia gadis yang sangat di kenal oleh Jongin, Kim Hyungi.

 

Jongin menekan tombol shutter pada kamera DSLRnya dan mendapat gambar yang cukup bagus. Ia tersenyum melihat gambar yang ia dapat. Jongin mengarahkan kameranya lagi ke arah cafѐ itu. Ia menekan tombol shutter beberapa kali, membuat foto gadis di seberang jalan itu memenuhi memori kamera Jongin. Ia menghentikan aktifitasnya dan berlari-lari kecil menyeberang jalan yang cukup lenggang.

 

Jongin mendorong pintu kaca itu dan memesan sebuah coffee art―sama seperti Hyungi. Ia tak lupa mengingatkan waitress untuk menambahkan inisial JH di dalam coffee art nya. Membuat sang waitress sedikit bingung. Yang satu tak ingin menambahkan inisial itu, tetapi yang satu menyuruhnya menambahkan inisial itu. Waitress itu mendesah pelan, dan menyerahkan pesanan Jongin tadi pada artworker.

 

Jongin berjalan pelan-pelan ke arah Hyungi―yang sepertinya tak menyadari kehadiran Jongin sejak tadi. Pria itu menarik kursi dan duduk di depan Hyungi dengan tampang tak berdosanya. Ia juga meletakkan kameranya di atas meja dan tas ranselnya di bawah meja. Hyungi terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba menarik kursi di depannya. Ia lebih terkejut ketika tahu kalau orang itu adalah Jongin.

 

“ apa yang kau lihat? Sejak tadi melihat kesana terus.” Jongin mengikuti arah pandang Hyungi sedari tadi. Ia mendapati sepasang kekasih yang saling berpegang tangan dan saling melemparkan senyum satu sama lain. Jongin tersnyum kecil melihat mereka. Ia tahu, ia tak pernah se-manis itu pada Hyungi.

 

Hyungi berdiri―membuat kursinya sedikit berderit. Jongin menoleh mendapati Hyungi yang sudah berbalik dan melangkahkan kakinya. Dengan sigap Jongin menarik tangan Hyungi―membuat gadis itu berhenti. “ kau mau kemana? Bahkan pesananku belum datang, kau sudah mau pergi.” ucap Jongin. Ia mendekat ke arah Hyungi dan menarik gadis itu kembali ke tempat duduknya. Hyungi tak mengerti kenapa tubuhnya mengikuti permintaan Jongin. Ia tak bisa menolaknya. Mendengar suara pria itu saja seperti ada aliran listrik yang menyengat dalam tubuhnya.

 

Setelah Hyungi kembali duduk, pesanan Jongin datang. Hyungi sedari tadi hanya melemparkan pandang ke arah lain. Ia tak mampu menatap Jongin. “ JH, untuk Jongin Hyungi.” seru Jongin yang berhasil membuat Hyungi menoleh dan menatap ke arahnya. Ia melihat coffee art milik Jongin yang berinisialkan nama mereka berdua. Tak dapat di pungkiri, dada Hyungi bergemuruh saat ini. Gadis itu bahagia.

 

Jongin menyesap kopinya perlahan. Tak ingin membuat tulisan nama mereka di kopi itu rusak. “ rasanya tetap sama, manis. Seperti waktu itu.” gumam Jongin pelan. Tapi Hyungi masih mendengarnya. Hyungi menatap Jongin tak percaya. Apa pria ini masih mengingat terakhir kali mereka kemari? Enam bulan yang lalu?

 

“ apa maksudmu?” tanya Hyungi pelan. Namun bukan jawaban yang Hyungi dapat, Jongin malah meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Jongin menatap Hyungi tepat di manik matanya. Sesaat mereka beradu pandang. Namun sedetik kemudian Hyungi tertuduk, ia tak mampu menatap mata Jongin lebih lama lagi. Jongin mengusap tangan Hyungi lembut.

 

“ maafkan aku, Hyungi.” ucap Jongin―entah sudah yang ke berapa kalinya terdengar di telinga Hyungi. Dada Hyungi semakin bergemuruh. Ia sudah bertekat tak akan termakan rayuan Jongin lagi. Tapi ini Jongin hanya meminta maaf. Apa salahnya? Batin Hyungi. “ aku ingin memperbaiki semuanya.” sambung Jongin. Pria itu tulus. Dari perkataan dan hatinya. Ia tak bisa kehilangan gadis ini.

 

Hyungi tetap menunduk, tak mampu mengangkat kepalanya. “ aku berjanji akan merubah semuanya.” Jongin berkata lagi―merasa Hyungi tak mengucapkan sepatah kata pun untuknya.

“ kau sudah berjanji lebih dari tiga kali padaku.” ucap Hyungi memecah kebisuan yang ia ciptakan sendiri. Gadis itu menatap tangannya yang di genggam oleh Jongin. Ia tak ingin terluka untuk yang ke sekian kalinya.

“ kali ini aku sungguh-sungguh, Hyungi.” Jongin berhenti sejenak. Menyiapkan kata-kata yang ia harap Hyungi dapat mempercayainya. “ aku kehilanganmu sehari ini. Aku baru merasakan bagaiman kehilangan orang yang sangat ku cintai. Ternyata rasanya sangat sakit. Bahkan aku sudah tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup, tanpa perhatian darimu. Aku membutuhkanmu Hyungi, aku merindukan perhatian yang kau berikan padaku setiap hari. Aku tak bisa kehilangan itu. Aku tidak bisa kehilanganmu.” ini kalimat terpanjang yang pernah Hyungi dengar dari Jongin selama ini. Ia tak percaya, Jongin mampu berkata seperti itu.

 

Hyungi semakin menundukkan kepalanya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Tekatnya yang ia pegang sedari tadi runtuh seketika setelah mendengar ucapan Jongin baru saja. Darahnya berdesir mendengar setiap kata yang diucapkan Jongin. Gadis itu memang masih mencintai Jongin walaupun Jongin sering kali mengecewakannya. Hyungi merasakan seteses air jatuh membasahi pipinya. Ia buru-buru menghapus air matanya. Seorang Kim Hyungi tak boleh menangis karena seorang laki-laki. Itu prinsipnya selama ini.

 

Jongin mengusap lembut pipi Hyungi dengan sebelah tangannya. Ia menghapus air mata Hyungi yang mengalir dari pelupuk matanya. “ kau bilang, kau tidak boleh menangis. Tapi kenapa kau sekarang menangis?” Jongin terus saja mengusap pipi Hyungi dengan lembut. Menyalurkan rasa sayangnya disana. “ tak apa kalau saat ini kau belum bisa menerimaku lagi, aku akan menunggumu Hyungi. Tapi yang harus kau tahu, aku serius kali ini. Aku ingin melamarmu, setelah aku menjadi sarjana.” ucap Jongin tulus. Mendengar itu pertahanan Hyungi benar-benar runtuh. Ia tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.

 

Hening. Hanya terdengar suara alunan musik yang terus mengalun di ruangan ini. Cukup lama mereka saling diam―tanpa melepaskan pertautan tangan mereka. Hyungi menghapus butiran bening yang masih saja turun―walau tak begitu deras. Ia mendongak menatap Jongin yang sejak tadi terus menatapnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. “ baiklah, kuberi kau kesempatan. Tapi ini yang terakhir.” ucap Hyungi pada akhirnya. Jongin tersenyum ke arah Hyungi. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.

 

Jongin menyesap lagi kopinya sampai tinggal setengah. Setelah itu, ia pergi ke meja kasir dan membayar kopinya juga kopi Hyungi. Jongin kembali lagi ke meja, mengalungkan kembali kamera dan memakai tasnya juga. “ sejak kapan kau suka fotografi?” tanya Hyungi yang sejak tadi mengamati kamera Jongin. Ia baru tahu, Jongin menyukai dunia fotografi.

 

“ sejak aku mengenalmu.” Jongin meraih kembali tangan Hyungi dan menariknya pelan. “ ikut aku sebentar.” Jongin membawa Hyungi keluar cafѐ dan menyeberang ke arah taman yang tadi Jongin dan teman-temannya gunakan untuk hunting―masih dengan menggenggam tangan Hyungi. Hyungi masih menganggap ini semua mimpi. Ia berharap bisa seperti pasangan kekasih tadi, dan sekarang ia menjalaninya sendiri. Hyungi tak menyangka.

 

“ ya! Jongin-ah, kau dari.. Oo Hyungi.” Luhan sejak tadi mencari keberadaan Jongin di sekitar taman bersama Chanyeol dan Sehun. Dan ternyata dia sedang bersama Hyungi. Hyungi sedikit membungkuk ke arah Luhan dan yang lainnya.

“ dimana ketua, Lu?” Luhan menunjuk dimana keberadaan ketua Kris dengan dagunya. Jongin segera menarik tangan Hyungi untuk ikut bersamanya. Dia menyerahkan kameranya dan memperlihatkan hasil foto yang ia dapat kepada ketua Kris.

 

“ telingamu itu dimana Jongin? Tema hari ini adalah pemandangan. Kenapa kau memotret Hyungi?” tanya Kris yang sedikit kesal dengan Jongin.

“ mwo? Memotretku?” Hyungi sedikit terkejut. Memang semua teman-teman Jongin tau kalau Jongin dan Hyungi adalah sepasang kekasih.

“ benar ketua, itu pemandangan. Pemandangan yang paling indah di mataku.” Jongin mengambil kameranya lagi. Kris hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“ baiklah, kau pemenangnya.” ucap Kris yang menyerahkan bingkisan untuk Jongin. Jongin membuka bingkisan itu, dan melihat isinya. Sebuah snapback. Jongin langsung memakainya.

“ gomawo ketua.” Jongin melangkah pergi dan membawa Hyungi ke arah pohon pinus. Disana ada sebuah kursi kayu yang mungkin sudah berumur cukup lama. Jongin duduk bersama Hyungi disana.

 

“ kau memotertku tadi?” tanya Hyungi yang masih tak terima di ambil fotonya diam-diam.

“ iya, kau mau melihatnya?” Jongin memutar tombol ON-OFF dan memperlihatkan foto Hyungi yang ia ambil tadi secara diam-diam. Foto Hyungi sedang menyesap kopinya. Dan foto inilah yang menjadi juara untuk foto yang paling bagus hari ini.

“ jadi ini kesibukanmu? Sampai kau melupakanku?” tanya Hyungi. Jongin menatap Hyungi dengan senyum yang merekah.

“ hehe, iya. Tapi mulai sekarang, kesibukanku adalah kau.” jawab Jongin. Ia tak ingin menduakan Hyungi dengan kesibukannya lagi. Hyungi tersenyum. Ia kembali melihat beberapa fotonya di kamera Jongin. Ternyata selain foto itu, banyak foto dirinya yang lain yang di ambil Jongin secara diam-diam. Saat di kampus, di depan apartemennya, dan saat di gerbang―saat Hyungi tertawa bersama teman-temannya.

 

 

Bagiku, kau adalah pemandangan yang paling indah. Yang pernah tertangkap kameraku, dan tertangkap oleh hati dan pikiranku. -Jongin Kim-

Karena sebuah kamera kau melupakanku, dan karena kamera itu juga kita dapat bersatu kembali. -Hyungi Kim-

 

 

 

 

 

-THE END-

 

Kasih kritik dan saran readers-deul. Visit dicanaomi.wordpress.com

Gamsahamnida sudah baca ^^

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

Ditandai:

32 tanggapan untuk “Because The Camera

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s