The Deep Revenge [2/2]

Gambar

Author : noonapark | Tittle : The Deep Revenge | Cast : EXO’s Oh Sehun and Byun Baekhyun – Han Se Ryung (OC) | Genre : AU-Family-Action-Angst-Romance | Lenght : Two Shots | Rating : General

Warning : Also posted here – http://fanfictionloverz.wordpress.com/

Happy Reading ^^

Sorry for typo(s)

 ~o0o~

 

Ini sudah hari kedua semenjak kecelakaan yang dialami Se Ryung, namun gadis itu tak kunjung membuka matanya. Sehun selalu setia duduk disamping ranjang, berharap Se Ryung segera sadar.

  

“Hhh~”Sehun membuang nafas perlahan, matanya masih terus menatap Se Ryung lekat.

 

 

“Eungh..”

 

“Se Ryung-ah!”seru Sehun saat melihat mata Se Ryung mulai bergerak. Sebuah senyum lega mengembang di wajah Sehun.

 

Perlahan Se Ryung mulai membuka matanya, saat benar-benar terbuka, Se Ryung tampak memperhatikan sekitarnya, tempat ini sungguh asing baginya. Dan tatapannya berhenti pada Sehun yang masih berada disampingnya.

  

“Kau..”bingungnya menatap Sehun

 

“Aku yang membawamu kesini, sudah dua hari ini kau tidak sadarkan diri”jelas Sehun. Se Ryung langsung mengalihkan pandangannya dari Sehun, ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia pingsan. “kau ingat?”tanya Sehun kemudian, Se Ryung menatap Sehun sekilas, namun tatapan itu masih penuh dengan kebencian. Kemudian Se Ryung berusaha duduk, lalu berniat turun dari ranjang, dan saat akan menurunkan kakinya..

  

“Aakh!”rintihnya sembari memegangi kakinya

 

“Se Ryung-ah.. kakimu terluka. Aku sudah memanggilkan dokter kesini, dia bilang kakimu akan segera pulih, jadi kau tenang saja”jelas Sehun lembut

 

“Apa!?”kaget Se Ryung setelah mendengar penjelasan Sehun, Sehun hanya menundukan pandangannya. “Tidak! aku ingin pergi dari sini.. appa..”Se Ryung berisikeras untuk turun dari tempat tidur

 

“Ya! kau mau kemana?!”Sehun mencoba menahan tubuh Se Ryung

 

“Lepaskan aku!”tapi Se Ryung terus berontak dan akhirnya..

  

Bruk!

 

Ia terjatuh dari atas ranjang dan terduduk dilantai.

 

“Se Ryung-ah!”Sehun mendekatinya mencoba memastikan keadaan Se Ryung.

 

“Pergi! Pergi!”pekiknya dan air mata mulai mengalir dari sudut matanya

 

“Se Ryung-ah..”Sehun menatapnya lirih

 

“Pergi kataku!”tangis Se Ryung semakin menjadi-jadi. Kemudian ia memuku-mukul kakinya berulang kali karena kakinya sama sekali tidak bisa digerakan

 

“Se Ryung-ah kheumane.. kheumane!”Sehun mencoba menghentikan Se Ryung, tapi Se Ryung semakin agresif. Pada akhirnya Sehun mengalah karena kini Se Ryung mulai menyerangnya dengan pukulan-pukulan, hingga akhirnya ia memilih untuk meninggalkan Se Ryung sendiri didalam kamarnya.

 

“AAAAKH!!”teriak Se Ryung frustasi sembari melempar benda-benda yang ada disekitarnya.

 

.

 

3 hours laters

  

Sehun membuang nafas panjang sembari menatap lekat permukaan pintu kamarnya, sebelum akhirnya ia membuka pintu kamar itu dengan sepiring makanan dan juga segelas air putih yang ditangannya saat ini. Setelah membuka pintu, Sehun menghentikan langkah kakinya. Se Ryung duduk dan menyandarkan punggungnya di tepi ranjang, mata nanarnya hanya menatap kosong kedepan. Dan disekitarnya banyak barang-barang berserakan.

  

Sehun hanya menatapnya lirih. Kemudian ia berjalan mendekati Se Ryung dan berjongkok didepan Se Ryung.

 

“Kau harus makan dan setelah itu minum obat”tutur Sehun tersenyum tipis, Se Ryung hanya diam. Menatap Sehun sekilas. “Apa tanganmu yang terluka masih sakit? Kalau begitu aku yang akan menyuapimu, sekarang buka mulutmu”Sehun menyodorkan sesendok nasi pada Se Ryung

  

Prang!

  

Se Ryung menepis piring itu kasar hingga piring itu terlempar ke lantai. Ia menatap Sehun dengan tatapan tajam. Sehun hanya tersenyum simpul.

 

“Baiklah, aku akan mengambilkannya lagi untukmu”ujar Sehun dan keluar dari kamar itu. Tidak lama kemudian Sehun kembali dan membawa sebuah piring berisi makanan. Ia kembali jongkok didekat Se Ryung.

  

“Sudah dua hari kau pingsan, apa kau tidak lapar? Ayo buka mulutmu..”Sehun kembali menyodorkan sesendok makanan pada Se Ryung, namun Se Ryung kembali menepisnya hingga membuat piring itu terlempar dan nasinya berhamburan dilantai. Kali ini Se Ryung tidak menatap Sehun sedikitpun.

 

Sehun berusaha menahan gejolak dihatinya, ia menghemubuskan nafas pelan, “Aku akan mengambilkannya lagi untukmu”ujarnya pelan.

 

Sehun masuk dan membawa sepiring nasi, ia kembali berjongkok didekat Se Ryung. Tanpa kata-kata apapun Sehun menyodorkan sesendok nasi pada Se Ryung. Tangan Se Ryung mulai bergerak seakan ingin menepis piring itu lagi, namun kali ini Sehun menahan tangan Se Ryung. Mata Se Ryung menatap Sehun tajam, begitu juga Sehun.

  

“Kenapa kau membawaku ke tempat ini? apa kau dan juga hyung mu akan menggunakanku sebagai umpan untuk yang kedua kalinya?”ketus Se Ryung yang masih menatap Sehun tajam. Sehun hanya diam, kemudian ia melepaskan tangan Se Ryung, tatapannya berubah menjadi lebih tenang.

  

“Bukannya kau ingin menghabisiku dan hyung dengan tanganmu sendiri? Untuk itu.. sebelum menghabisi kami, kau harus sembuh terlebih dahulu.. makanlah, aku sudah menyiapkan obatmu”jelas Sehun dan beranjak pergi dari kamar itu. Se Ryung menatap bingung Sehun yang perlahan menjauh dari pandangannya. Kemudian ia menatap sepiring nasi dan segelas minuman yang Sehun letakkan didekat dirinya.

 

.

 

Ini sudah larut malam, Sehun berjalan perlahan menuju kamarnya –tempat Se Ryung berada saat ini. Ia hanya ingin memastikan Se Ryung sudah tidur atau belum. Setelah membuka pintu perlahan, Sehun mulai masuk kedalam kamar itu. Ia agak kaget saat mendapati Se Ryung yang tertidur di lantai, gadis itu menekukkan badannya, ia tampak kedinginan.

  

“Se Ryung-ah”cemas Sehun dan segera menghampirinya. Saat akan memindahkan tubuh Se Ryung ke ranjang, mata Sehun terarah pada piring yang berada disamping Se Ryung. Sehun tersenyum miris saat melihat piring itu kosong, obat yang ia siapkan juga sudah tidak ada.

 

“Apa kau benar-benar ingin membunuhku?”gumamnya pelan sembari menatap lekat Se Ryung. Kemudian Sehun mengangkat tubuh Se Ryung dan memindahkannya diranjang, ia membetulkan posisi Se Ryung dan menyelimuti sebagian tubuhnya.

 

“Jaljayo..”ucapnya pelan dan tersenyum lembut

 

~o0o~

 

Bias cahaya matahari yang menembus jendela kamar membuat mata Se Ryung silau. Iapun segera membuka matanya. Saat membuka mata, ia langsung duduk. Setelah nyawanya benar-benar terkumpul seutuhnya, ia tampak heran dan memperhatikan lingkungan sekitarnya sudah bersih dan rapi, ia juga heran kenapa ia bisa berada diatas kasur, padahal terakhir kali yang dia ingat, Se Ryung masih berada di lantai dan kondisi sekitarnya sangat berantakan.

  

“Oh Sehun..”gumamnya pelan. Se Ryung juga memperhatikan penampilannya, ia tampak mengenakan celana tidur dan kemeja laki-laki. Tapi ia seolah cuek dan kembali memperhatikan sekitarnya.

  

“Kau sudah bangun?”kedatangan Sehun membuat Se Ryung sedikit kaget. “aku membuatkan bubur untukmu pagi ini”ujar Sehun sembari berjalan mendekati Se Ryung, setibanya disana, Sehun duduk ditepi ranjang. “Cepat makan, kau harus meminum obatmu”Sehun tersenyum lembut pada Se Ryung, namun Se Ryung masih saja menatapnya dingin. Beberapa detik kemudian Se Ryung mengambil kasar mangkuk berisi bubur itu dari tangan Sehun. Ia segera mengambil sendok dan memasukkan bubur itu kedalam mulutnya.

  

“AA’!”

 

“Ya! itu masih panas, kau harus meniupnya terlebih dahulu”jelas Sehun sembari tertawa kecil

 

“Jangan pura-pura peduli padaku”ketus Se Ryung menatap Sehun kesal. Sehun hanya tersenyum melihatnya.

  

Setelah selesai makan dan meminum obatnya. Sehun mengambil sebuah botol kaca kecil didekat obat-obat Se Ryung.

  

“Sekarang naikkan celanamu”pintanya sembari menyibak selimut yang masih menutupi kaki Se Ryung.

 

“Ya! apa yang akan kaulakukan?!”kesal Se Ryung. Sehun hanya diam dan menggulung celana Se Ryung hingga atas lutut.

 

“Ya!”

 

“Kau diam saja, krim ini akan membantu mempercepat penyembuhan kakimu”sahut Sehun tanpa menatap Se Ryung. Sehun mulai mengoles krim itu pada kaki Se Ryung yang masih terdapat beberapa luka dan lebam.

 

Sehun mengolesnya dengan hati-hati.

 

“Setelah ini kau harus latihan berjalan perlahan-lahan”ujar Sehun yang masih menjalankan aktivitasnya -mengoles krim.

 

Se Ryung terdiam, ia menatap Sehun lekat.

 

 

“Sudah selesai, sekarang kau harus melatih kakimu untuk berjalan”ujar Sehun dan meletakkan krim itu ketempat asalnya. Se Ryung hanya diam dan terus memperhatikan gerak-gerik Sehun. “Ayo..”kedua tangan Sehun mulai mendekat kearah Se Ryung

 

Se Ryung mengerjap beberapa kali, “Kau mau apa, huh?”cetus Se Ryung sembari menjauhkan badannya dari Sehun. Sehun hanya diam dan kemudian mengangkat tubuh Se Ryung ala bridal.

  

“Ya!” seru Se Ryung kesal. Namun Sehun sama sekali tidak menggubrisnya, hingga akhirnya ia hanya bisa pasrah dan menatap Sehun kesal.

 

.

 

Sehun membawa Se Ryung ke ruang tengah. Ia mendudukan Se Ryung di sofa yg ada didepan televisi berukuran sedang.

  

“Rumah ini mungkin tidak seluas rumahmu, jadi kita gunakan ruang seadanya untuk melatihmu berjalan”jelas Sehun dan berjalan mundur menjauhi Se Ryung. “Sekarang cobalah berjalan kearahku”pinta Sehun kemudian. Se Ryung hanya diam dan menatapnya datar.

 

“…….”

 

“Han Se Ryung!”seru Sehun karena Se Ryung tetap diam ditempatnya

 

“……”

  

“Han Se Ryung! Kalau kau terus begini aku tidak akan segan-segan mencium bibirmu!”ancaman Sehun kali ini berhasil membuat Se Ryung membelalakan kedua matanya.

 

“Neo jinja..”dengus Se Ryung kesal. Dan dengan terpaksa ia mencoba berdiri, perlahan-lahan namun pasti, Se Ryung mencoba untuk berdiri tegap walau kakinya masih bergetar.

 

“Bagus, sekarang coba langkahkan kakimu perlahan”pinta Sehun. Se Ryung mencoba melangkahkan kakinya perlahan, walaupun masih terasa sakit, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

 

Akhirnya Se Ryung mulai berjalan perlahan. Namun saat beberapa langkah ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dikakinya hingga membuatnya terjatuh.

 

“Ya! gwenchana?!”Sehun segera memastikan keadaan Se Ryung

 

“Pergi! aku bisa melakukannya sendiri tanpamu”Se Ryung menepis tangan Sehun kasar. Dan mencoba untuk berdiri sendiri.

 

“Baiklah.. kalau begitu aku akan meninggalkanmu sendiri”gumam Sehun pelan dan pergi dari ruangan itu. Se Ryung seolah cuek dengannnya.

 

.

 

Se Ryung terus melatih kakinya. Bahkan didalam kamarpun ia berlatih hingga larut malam.

 

~o0o~

 

Dipagi hari, Se Ryung merasakan kakinya sedikit merasa lebih baik. Ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tengah yang langsung berhubungan dengan pantri.

  

“Kemana dia?”bingung Se Ryung sembari memperhatikan sekitarnya -kosong. Kemudian Se Ryung menuju pintu depan.

  

Ia memutar kenop pintu, tapi pintu itu terkunci. Se Ryung mengerakkan kenop pintu berkali-kali, sepertinya Sehun mengunci pintu itu. Pada akhirnya Se Ryung memukul pintu itu dengan kerasnya. “Ck! Sial!”desisnya pelan. Se Ryung memutuskan untuk duduk di sofa dan menonton televisi.

  

2 hours laters

  

Sehun tak juga menampakkan wujudnya. Se Ryung mulai gelisah karena perutnya merasa lapar. “Apa kau ingin membiarkanku mati seperti ini?!”gumamnya kesal. Akhirnya Se Ryung berjalan kedapur, ia mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan. Tidak apa-apa didalam kulkas dan tempat lainnya. Hanya ada dua bungkus ramen dilemari.

  

Se Ryung mengambil ramen itu dan melemparkannya dimeja, ia menatap ramen itu kesal karena ia tidak tahu cara memasaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk memasak ramen itu dengan cara melihat prosedur cara memasak yang ada dibungkus ramen.

 

Pertama-tama Se Ryung mengambil panci yang ukurannya lumayan besar. Ia mengisi panci itu dengan air, mengisinya sampai penuh. Setelah mematikan kran airnya, ia berjalan menuju kompor, namun saat baru beberapa langkah kakinya tersandung sesuatu.

  

Dugh!

  

“AA’!”

 

 

Dan…

 

Alhasil air yang ada dipanci itu tumpah dan membasahi seluruh tubuhnya.

  

Se Ryung menatap kesal kearah dirinya sendiri, “Argh! Jinja!”

 

.

 

Satu jam setelah kejadian naas yang menimpa Se Ryyung. Ia mendengar suara pintu terbuka, Se Ryung beranjak dari duduknya. Tidak lama kemudian ia melihat Sehun yang muncul dari balik pintu dengan menenteng beberapa plastik.

 

“Ya! kau ingin membiarkanku mati kelaparan, huh?!”amuk Se Ryung kesal

 

“Didekat sini tidak ada toko, jadi aku harus berbelanja di toko yang jaraknya lumayan jauh”sahut Sehun sembari melepas sepatunya. “Tenang saja, aku sudah membeli makanan siap saji dan—-“kalimat Sehun seolah terputus karena melihat penampilan Se Ryung saat ini -basah dan acak-acakan.

 

“Apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu basah seperti itu?”bingung Sehun sembari berjalan mendekati Se Ryung

 

“Berikan makanan itu padaku!”sahut Se Ryung datar sembari mengulurkan tangannya

 

“Sebaiknya kau ganti dulu bajumu, kau bisa demam dengan kondisi seperti itu”Sehun segera meletakkan belanjaannya dimeja makan dan kemudian pergi kekamarnya. Tidak lama kemudian Sehun kembali membawa baju dan juga celana untuk Se Ryung. “Pakai ini”Sehun menyodorkan pakaian itu pada Se Ryung

 

“Berikan makanan itu padaku!”sahut Se Ryung menatap Sehun kesal

 

“Ganti dulu bajumu..”

 

“Berikan makanan itu padaku!!”Se Ryung semakin meninggikan suaranya. Sehun hanya diam beberapa saat. Kemudian ia mendudukkan paksa ntubuh Se Ryung di sofa.

 

“Ya!”

 

Sehun seolah tak menghiraukan Se Ryung dan membuka kancing kemeja Se Ryung.

 

“Kau mau apa, huh? Menjauh dariku!”Se Ryung berusaha menghalau tangan Sehun. Tapi dengan sigap Sehun terus membuka semua kancing kemeja Se Ryung dan melepaskan dari tubuh Se Ryung. “Ya! Kau gila?!”bentak Se Ryung saat Sehun meletakkan kemeja Se Ryung di meja yang ada didekat mereka, Se Ryung tampak menutupi tubuhnya yg hanya mengenakan bra.

 

“Kau tenang saja, aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya”sahut Sehun datar

 

“M-mwo?”

 

“Kau pikir siapa yang mengganti pakaiannmu saat kau pingsan, huh?!”pernyataan Sehun barusan berhasil membuat Se Ryung membelalakkan kedua matanya. “Jika aku ingin melakukan sesuatu padamu, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu..”tutur Sehun. Se Ryung terlihat mendengus kesal. Kemudian Sehun memasangkan kaos berbahan tebal dengan lengan panjang pada Se Ryung.

 

“Masukkan tanganmu”perintahnya, Se Ryung hanya menurut dan membetulkan kaosnya. Sehun mendekatkan tubuhnya kearah Se Ryung.

 

“Ya!”serunya sembari menjauhkan tubuhnya dari Sehun, Sehun semakin mendekatkan tubuhnya hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja, mata mereka saling bertemu. Dan tangan Sehun menarik rambut panjang Se Ryung yang masih berada didalam kaosnya, setelah itu Sehun kembali menjauhkan tubuhnya dari Se Ryung. Se Ryung tampak salah tingkah karena ulah Sehun.

 

“Apa harus aku juga yang mengganti celanamu?”tanya Sehun sembari menyodorkan celana santai miliknya pada Se Ryung

 

“N-nde?”

 

Sehun tersenyum simpul.

 

Se Ryung membuang pandangannya sesaat, lalu ia menatap Sehun kesal, hingga akhirnya ia mengambil kasar celana itu dari tangan Sehun.

 

“Bagaimana kakimu? Apa masih sakit? Aku akan mengantarmu kekamar”

 

“Jangan mendekatiku!”ketus Se Ryung dan berjalan perlahan menuju kamar. Sehun hanya tertawa kecil melihatnya.

 

~o0o~

 

Se Ryung dan Sehun makan dimeja yang sama. Mereka duduk dengan posisi saling berhadapan.

 

“Apa dia melihatnya?”batih Se Ryung sembari memperhatikan dirinya sendiri. “Pasti dia melihatnya.. awas kau Oh Sehun!”gumamnya dalam hati dan menatap Sehun kesal.

 

“Kau tidak makan? Kenapa kau melihatku seperti it, jangan bilang kalau juga ingin memakanku”

 

“Nde?”

 

“Kalau begitu jangan hanya diam, makananmu bisa dingin”tutur Sehun dan kembali melanjutkan aktivitasnya -makan. Se Ryung hanya mendengus kesal dan segera menyantap makanannya.

 

~o0o~

 

“Eungh..”perlahan Sehun berusaha membuka matanya, ia segera duduk, melihat kearah jam yang menpel di ruangan itu -ruang tengah. “Jam 6..”gumamnya pelan dan segera turun dari sofa. Sehun segera membersihkan wajahnya dan juga menggosok giginya. Setelah itu ia membuat sarapan untuknya juga Se Ryung. Setelah selesai menyiapkan semuanya, ia menuju kamar Se Ryung.

  

Tok tok tok!

 

“Kau sudah bangun? Cepat makan dan minum obatmu”

 

“………”

 

“Se Ryung-ah”

 

“……….”

 

“Han Se Ryung!”

 

“………..”

  

Sehun segera membuka pintu itu karena tak ada balasan dari Se Ryung. Kamar itu kosong. Sehun tampak panik dan mengecek seluruh ruangan dirumah ini. Tapi ia tak juga menemukan Se Ryung.

  

“Dimana kau..”bingungnya dan terus memperhatikan sekitar. Sehun menuju ke pintu depan, pintu itu terbuka sedikit.

 

“Tidak!”cemasnya dan segera mengambil mantel dinginnya, Sehun segera keluar untuk mencari Se Ryung.

 

.

 

“Se Ryung-ah!”teriaknya sembari memperhatikan sekitar, Sehun berlari kecil dan terus berteriak memanggil nama gadis itu.

 

“Se Ryung-ah! Han Se Ryung!”

 

…..

 

Disisi lain…

 

“Apa aku harus menelfonnya?”gumamnya pelan. Saat ini Se Ryung berdiri didepan sebuah telefon umum. Setelah ia berdiri disana selama beberapa saat, ia memutuskan untuk masuk. Kemudian Se Ryung memasukkan koin yang ia ambil dari dompet Sehun tanpa sepengetahuan lelaki itu.

  

“Baiklah.. aku hanya akan memastikan keadaan appa..”batinnya, ia mulai memencet beberapa angka.

  

Tuut! Tuut!

 

Yeoboseyo..”

 

“………”

 

“Yeoboseyo..”

 

  

Klik~

 

 

Se Ryung mengembalikan telefon itu pada tempatnya. Ia tersenyum lega karena suara ayahnya terdengar baik-baik saja.

  

“Mianhae appa.. aku tidak bisa memberitahukan keberadaanku sekarang..”lirihnya karena khawatir jika ia menceritakan sebenarnya pada tuan Han, tuan Han tidak akan tinggal diam dan melakukan sesuatu yang buruk pada Sehun.

 

“Ah.. kenapa aku jadi mengkhawatirkan lelaki itu”batinnya bingung. Se Ryung menggeleng pelan dan kembali berjalan menuju rumah Sehun. Namun saat baru beberapa langkah, langkahnya terhenti karena melihat Sehun didepan sana. Sehun tampak terengah-engah setelah ia berlari.

 

Sehun berlari menghampiri Se Ryung, dan berdiri tepat dihadapan Se Ryung.

 

“Ya! kenapa kau pergi tanpa memberitahuku, huh?! kenapa kau pergi sejauh ini dengan kondisi seperti ini?!”omelnya pada Se Ryung, Se Ryung hanya diam sembari menatap Sehun heran.

 

“Ayo pulang!”Sehun menarik tangan Se Ryung begitu saja

 

“Tunggu!”seru Se Ryung sembari menahan rasa sakit dikakinya. “Jangan menarikku seperti ini.. jinja!”Se Ryung menatap Sehun kesal dan kemudian memperhatikan kedua kakinya. Sehun baru sadar kalau kaki Se Ryung belum benar-benar pulih.

 

Lelaki itu menghela nafas sejenak, “Ayo naik”ujarnya sembari menyiapkan punggungnya didepan Se Ryung.

 

“Nde?”

 

“Jangan hanya diam saja, cepat naik!”pinta Sehun. Tapi Se Ryung tak juga bergerak, akhirnya Sehun menggendong Se Ryung dengan paksa.

 

“Ya! turunkan aku!!”omel Se Ryung sembari memukuli pundak Sehun

 

“Diam dan jangan bergerak!”Sehun semakin menguatkan gendongannya, kemudian langkah kakinya perlahan menaiki jalan setapak menuju rumahnya.

 

 

“Lain kali jangan pergi tanpa sepengatahuanku, arasseo!”tegas Sehun sembari menolehkan wajahnya, berusaha melihat Se Ryung yang ia gendong dibelakang.

 

“Ck! kau pikir kau itu siapa? Jangan berani-beraninya kau mengatur hidupku!”sahut Se Ryung kesal. Sehun yang tak kalah kesal menghentikan langkahnya, kemudian ia seolah akan menjatuhkan Se Ryung dari gendongannya.

 

“Ya!”Se Ryung tampak panik dan mempererat tangannya yang melingkar dileher Sehun

 

“Lihat! kalau kau bicara lagi aku tidak akan segan-segan untuk menjatuhkanmu!”

 

“Neo jinja!”

 

~o0o~

 

Saat mereka sarapan, mereka hanya diam. Wajah Sehun masih terlihat kesal. Setelah selesai makan Sehun membereskan piring dan juga mengelap mejanya. Kemudian Sehun mencuci peralatan dapur yang kotor. Se Ryung yang sedari tadi duduk hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Sehun.

 

Tiba-tiba dirinya tergerak untuk mendekati Sehun. Sehun bingung saat Se Ryung tiba-tiba berdiri disampingnya dan ikut mencuci piring bersamanya.

  

“Memangnya kau bisa?”tanya Sehun menatap Se Ryung datar

 

“Kau mledekku?!”sahut Se Ryung menatapnya kesal. “Rasakan ini!”Se Ryung menciprati air kewajah Sehun

 

“Ya!”pekik Sehun yang tak terima. Kemudian ia membalas perlakuan Se Ryung.

 

“Oh Sehun! kheumane!”seru Se Ryung menutupi wajahnya, kemudian Se Ryung membalas Sehun lagi. Dan akhirnya mereka bukannya mencuci piring tetapi mereka melah bermain air di dapur. Tanpa mereka sadari mereka saling tertawa.

 

“Kau kalah!”cetus Sehun senang. Se Ryung langsung terdiam saat tangan Sehun menempel dikedua pipinya. Mata mereka saling bertemu.

 

 

Deg.

 

 

Se Ryung menunduk pelan. Sehun langsung menurunkan tangannya dari pipi Se Ryung. Kemudian mereka sama-sama terdiam dan kikuk.

 

Se Ryung memutuskan untuk kembali ke kamar.

 

Setibanya dikamar, Se Ryung duduk ditepi ranjang. Ia memegangi dadanya yang masih berdegup dengan ritme yang cepat. Tatapan lembut mata Sehun masih teringat jelas dalam otaknya.

 

“Oh Sehun..”gumamya pelan

 

 

~o0o~

 

 

Saat menuju ruang tengah Se Ryung menatap bingung pada Sehun yang mengenakan pakaian seperti ia akan bepergian jauh.

  

“Kau sudah bangun?”tanya Sehun tersenyum lembut, Se Ryung mengangguk pelan. “Hari ini aku akan pergi”sambung Sehun menatap Se Ryung lekat

 

“Kemana?”

 

“Tidak akan lama, aku janji aku akan segera kembali setelah urusanku selesai”sahut Sehun lembut. “Kau tenang saja, di kulkas ada banyak makanan, saat kau lapar kau bisa langsung memakannya”tambah Sehun sembari berjalan mendekati Se Ryung. “Jangan lupa meminum obatmu, arrachi!”ujar Sehun seraya meletakkan satu tangannya dipundak Se Ryung. Se Ryung semakin menatapnya bingung.

 

“Aku pergi”pamit Sehun dan membalikkan tubuhnya dari Se Ryung

 

“Tunggu!”seru Se Ryung, Sehun menghentikan langkahnya dan menatap kembali gadis itu.

 

“Sebenarnya.. apa alasanmu membawaku ketempat ini..”Se Ryung menatap Sehun serius

 

Sehun diam sejenak, “Kau mau jawaban apa?”

 

Se Ryung menelan ludah samar, “Aku mau jawaban jujur! Bukannya selain ingin membunuh ayahku kau dan hyung-mu juga ingin membunuhku? Lalu kenapa kau menyelamatkanku dan—“

 

 

Chu~

 

 

Kalimat Se Ryung terhenti saat merasakan benda lembut dan basah milik Sehun menempel di bibirnya. Mata Se Ryung membulat sempurna.

 

Beberapa detik kemudian Sehun memisahkan bibirnya dari bibir Se Ryung. Ditatapnya lekat-lekat wajah Se Ryung yang masih mematung disana.

  

“Ini jawaban jujur dariku”ujar Sehun mantap. “Se Ryung-ah.. jangan pergi sebelum aku kembali. Aku janji aku akan menjemputmu”tambah Sehun. Kemudian Sehun memeluk tubuh mungil Se Ryung, hingga kini gadis itu merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Setelah melepas pelukannya Sehun tersenyum lembut pada sembari mengelus kedua pipi Se Ryung.

 

“Aku pergi..”pamitnya dan mulai berjalan menjauhi Se Ryung yang masih terdiam ditempatnya.

 

 

Perlahan Se Ryung meraba bibirnya. Ia masih ingat betul bagaimana rasanya saat Sehun menmpelkan bibirnya di bibir Se Ryung. Dan jantungnya kembali berdetak dengan cepat.

 

“Oh Sehun..”gumamnya pelan

 

 

Sementara itu Sehun tampak serius mengendarai mobilnya.

 

#Flashback On

 

“Yeoboseyo”

 

“Sehun-ah.. ini kesempatan terakhirmu.. kau memilih aku atau gadis itu”

 

“Hyung—“

 

“Aku menunggumu besok di apartemen kita di seoul”

 

“Tapi hyung—“

 

Tut tut tut!

 

#Flashback Off

 

 

“Aku akan mempertahankan kalian berdua hyung, dan kau, Han Se Ryung!”gumamnya mantap dan semakin mempercepat laju mobilnya.

 

.

 

Sepeninggalan Sehun, Se Ryung hanya terdiam didalam kamar. Ia merasa cemas, gelisah, ia merasa kesepian saat Sehun tidak ada didekatnya.

  

“Tidak! aku tidak bisa seperti ini”ujarnya dan segera beranjak dari duduknya. Se Ryung mengambil jaket Sehun. ia bergegas keluar dari rumah itu. Ia terus berlari meninggalkan rumah Sehun.

 

Dan sekarang Se Ryung mulai menyadari kalau dia tidak bisa jauh dari Sehun.

 

 

Saat keluar dari area pemukiman, Se Ryung berhenti ditepi jalan raya. Ia mengatur nafas karena lelah berlari, kakinya juga masih belum pulih total.

 

“Eotthokaji..”lirihnya bingung harus pergi kemana, ia berjalan cepat menuju  arah Seoul. Namun saat baru beberapa langkah, sebuah mobil menghampirinya.

  

“Agassi!”seru seseorang dari dalam mobil itu, yang tak lain adalah jaksa Choi. “Agassi! aku mencarimu kemana-mana, dan akhirnya.. aigoo aku bersyukur bisa menemukanmu disini. Ayahmu sangat mencemaskan keadaanmu”keluh jaksa Choi

 

“Appa?”

 

“Nde. Dan juga ada kabar bagus yang harus aku beritahukan padamu”ujar jaksa Choi menunjukkan senyum yang menampakkan lesung dikedua pipinya.

 

“Mwoga?”

 

“Malam ini tuan akan menjebak dua saudara itu di gedung perusahaan, hari ini kantor akan tutup lebih awal, dan tuan akan menghabisi mereka bersama-sama. Dengan begitu,  agassi dan juga tuan bisa hidup dengan tenang”

 

“Mworagoo?!”Se Ryung sangat kaget dengan pernyataan jaksa Choi barusan. Ia memperhatikan hari yang sudah hampir malam, itu artinya rencana ayahnya akan segera dilaksanakan. “Bawa aku kesana!”titahnya sembari bersiap masuk kedalam mobil

 

“Agassi! tuan melarangku membawamu kesana”cemas jaksa Choi

 

“Mwo? Ya! aku tidak peduli, cepat bawa aku kesana!!”Se Ryung mulai meninggikan suaranya

 

“Kheunde agassi.. aku tetap tidak bisa membawamu kesana, maafkan aku. Aku tidak mungkin meninggalkan perintah tuan Han”sesal jaksa Choi. Se Ryung mendengus kesal, sudah tidak ada waktu lagi. Kemudian Se Ryung mencengkram kerah baju jaksa Choi, dan menendang perut jaksa Choi dengan lututnya. Jaksa Choi meringis kesakitan, Se Ryung segera mengambil kunci dari tangannya dan masuk kedalam mobil.

 

“A..agassi.. chakkamanyo!”dengan masih menahan perutnya, jaksa Choi melambai-lambai pada mobilnya yang dibawa Se Ryung begitu saja.

 

“Tidak! Tidak!”gumam Se Ryung dan semakin melajukan mobilnya.

 

~o0o~

 

Sesampainya didepan gedung kantor ayahnya, mobil Se Ryung dihalang oleh penjaga yang ada didepan gedung.

 

“Agassi, tuan melarang siapapun untuk masuk kesana!”seru petugas yang mengenakan pakaian rapi lengkap dengan jasnya hitam mereka.

 

“Kalian berani menghalangiku?”dengus Se Ryung kesal. Kemudian ia memundurkan mobilnya, penjaga-penjaga itu tampak lega. Tapi.. Se Ryung menginjak gasnya hingga membuat mobilnya semakin melaju

 

“Awas!”teriak para penjaga itu sembari berlari menjauh dari mobil Se Ryung yang menerjang mereka. Setelah menghentikan mobilnya Se Ryung segera masuk kedalam gedung. Ia berlari menuju lift, namun semua lift digedung itu sepertinya sengaja dimatikan. Se Ryung tidak punya pilihan lain selain menaiki anak tangga gedung yang tingginya 20 lantai ini.

 

.

 

“Hah! Hah!”Se Ryung tampak lelah, keringat membahasi tubuhnya dicuaca dingin seperti ini. Saat ia mencapai lantai 10, kakinya semakin terasa sakit.

 

“Akh!”ringisnya dan terduduk ditangga, ia sedikit menaikkan celananya, dan ternayata darah segar mulai keluar dari bekas lukanya yang belum pulih seutuhnya.

 

Se Ryung seolah tak peduli dengan keadaannya, ia terus menaiki satu persatu anak tangga meski kakinya semakin banyak mengeluarkan darah.

 

Setibanya dilantai paling atas, Se Ryung berhenti sejenak sekedar untuk mengatur nafasnya. Wajahnya tampak pucat dan keringat dingin terus mengalir, kakinya juga tak berhenti mengeluarkan darah.

  

Ia segera membuka pintu untuk melihat keadaan diatap gedung, langkah Se Ryung terhenti seketika saat mendapati ayahnya yang sedang menodongkan pistol pada Sehun, mereka saling berhadapan, sedangkan Baekhyun berada  dibelakang Sehun, lelaki itu tampak menahan sakit akibat luka tembak dibagian lengannya.

  

“Appa..”gumam Se Ryung pelan

 

“Bersiaplah, karena ajal akan menjemputmu dengan segera!”ayah Se Ryung mulai menarik pelatuk pistolnya. Sehun masih diam berdiri ditempatnya.

  

“Tidak..”dengan langkah tertatih Se Ryung berjalan menuju Sehun berdiri saat ini.

 

“Dan sambutlah ajalmu.. Oh Sehun…”

 

“Tidak!”

 

“Se Ryung-ah..”gumam Sehun pelan dan menatap bingung Se Ryung yang tengah berlari kearahnya

 

“T”idak!”

 

 

Dor!

 

 

“Akh!”

 

“Se.. Se Ryung-ah..”Sehun seolah tak mampu berkata-kata saat peluru itu tepat mengenai punggung Se Ryung. Se Ryung memeluk tubuh Sehun dan menghalangi peluru itu agar tidak mengenai Sehun.

  

“Se Ryung-ah..!”pekik tuan Han cemas, ia telah menembak anaknya sendiri, putri yang paling ia banggakan dan sayangi.

 

“Akh…”Se Ryung sudah tak mampu berdiri lagi, pelukannya lepas dan tubuh Sehun dan tubuhnya longsor begitu saja, namun Sehun segera memeluknya. Lalu memangku tubuh Se Ryung yang semakin melemah.

 

“Se Ryung-ah.. kenapa kau… kenapa.. Se Ryung-ah wae..?!!”teriak Sehun dengan mata yang mulai memanas.

 

“Akh!”Se Ryung terlihat kesakitan, mata nanarnya menatap Sehun dalam.

 

“Se Ryung-ah bertahanlah.. eoh? Jebal bertahanlah..”ujar Sehun lirih, ia memeluk Se Ryung erat, air bening mulai mengalir di kedua pipinya.

 

“Kenapa.. kenapa kau meninggalkanku sendiri?”suara Se Ryung terdengar sangat berat dan serak. “Aku .. aku belum makan karena kau tidak memasakkan untukku.. aku lapar.. akh..”kata Se Ryung sembari menahan rasa sakit, dari sudut matanya mengalir bulir-bulir bening yang terus jatuh membasahi pelipisnya

 

“Se Ryung-ah..”Sehun hanya bisa menangis menyesali semuanya

 

“Aku.. aku menyukaimu.. Sehun-ah.. aku.. menyukaimu.. Oh Sehun, akh..!”Se Ryung semakin kesakitan

 

“Se Ryung-ah.. Se Ryung-ah!”

 

Dan akhirnya, secara perlahan Se Ryung menutup kedua matanya.

 

“Se Ryung-ah.. kau mendengarku, eoh? Bangunlah! Se Ryung-ah!”tangis Sehun semakin menjadi-jadi, ia terus beteriak memanggil Se Ryung dan menggoyang-goyang tubuh Se Ryung berharap gadis ini membuka matanya.

  

“Apa.. apa yang telah aku lakukan.. aku..”tuan Han terduduk begitu saja saat melihat Se Ryung tak bergerak lagi.

 

“Se Ryung-ah.. Se Ryung-ah.. apa yang telah aku lakukan padamu.. Se Ryung-ah!”teriaknya sembari menangis dan menyesali perbuatannya. Tuan Han terus menangis, kemudian perlahan ia mengangkat pistol yang masih ada ditangannya dan mengarahkan pistol itu ke pelipisnya.

 

“Se Ryung-ah.. aku melakukan ini hanya untuk membuat hidupmu tenang, tapi kau.. Se Ryung-ah, maaf kan appa..”

 

Dor!

 

Tuan han menembak kepalanya sendiri, dan akhirnya tubuhnya terjatuh. Sehun dan Baekhyun hanya menatapnya bingung.

  

“Sehun-ah.. kajja, sepertinya dibawah ada mobil polisi”ajak Baekhyun saat mendengar alarm mobil polisi dari bawah gedung

 

“Tidak! Hyung.. bagaimana dengan Se Ryung, eoh? Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri disini! Se Ryung-ah bangunlah.. buka matamu, kumohon Se Ryung-ah..”

 

“Oh Sehun! hentikan! Dia sudah meninggal!”Baekhyun menarik tangan Sehun kasar

 

“Tidak! Aku akan menyelamatkannya!”sahut Sehun mantab dan kembali menggoyang pipi Se Ryung, “Se Ryung-ah, jawab aku..”air mata semakin deras menganak di kedua pipinya.

 

“Oh Sehun!”Baekhyun menarik paksa Sehun dan membawa Sehun menjauh dari Se Ryung

 

“Hyung! aku tidak bisa meninggalkannya disini.. hyung!”Sehun berusaha melepaskan tangan Baekhyun, tapi cengkraman tangan Baekhyun terlalu kuat

 

“Cepat! polisi bisa menangkap kita!”

 

“Hyung, bagaimana dengan Se Ryung.. Se Ryung-ah.. Se Ryung-ah!”teriak Sehun dan tangannya terus berusaha menggapai Se Ryung yang jaraknya semakin jauh dari dirinya.

 

Disana… Se Ryung tergeletak tak berdaya dengan darah yang terus mengalir dari tubuhnya.

  

“Se Ryung.. Han Se Ryung..”

 

 

~o0o~

 

 

4 years later~

 

 

“Se Ryung.-ah.. Se Ryung-ah..”

 

 

“Ya! ireona!”

 

“Se Ryung!”Sehun bangun dari tidurnya dan langsung terduduk

 

“Mimpi bertemu dengannya lagi?”tanya Baekhyun dan duduk ditepi ranjang Sehun

 

Sehun diam selama beberapa saat. Lalu ia duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. “Eoh, aku bermimpi bertemu dengannya, hyung.. dia tersenyum padaku, dan kemudian pergi menghilang entah kemana..”sahut Sehun tanpa menatap Baekhyun

 

“Sehun-ah”panggil Baekhyun lembut sembari merangkul pundak Sehun. “Ini sudah empat tahun sejak kita pindah  ke Jepang, dan selama itu juga kau belum bisa melupakan gadis itu, bahkan.. hampir setiap hari kau selalu tidur sambil terus memanggil namanya..”lirih Baekhyun

 

Sehun tetap diam tanpa memandang Baekhyun sedikitpun.

 

“Mianhae.. andai saja hari itu aku tidak menyuruhmu pergi denganku, pasti semua ini—“

 

“Sudahlah hyung.. kau tidak perlu bicara seperti itu”Sehun tersenyum lembut pada Baekhyun

 

“Kembalilah ke Korea”titah Baekhyun tersenyum lembut pada Sehun

 

Sehun menatap Baekhyun bingung. “Tapi.. siapa yang akan menemanimu disini?”

 

“Ya! Aku bukan anak kecil lagi arasseo! Kembalilah kesana.. aku berharap saat kau berada disana hatimu akan lebih tenang”

 

“Hyung, pernikahanmu tinggal 1 bulan lagi.. aku tidak mungkin pergi kesana”

 

“Siapa yang menyuruhmu menetap disana? sekarang disinilah rumahmu.. kau hanya perlu ke Korea sebentar saja, paling tidak sekedar melihat makam gadis itu, setelah itu kembali lagi kesini”

 

Sehun berfikir sejenak, “Baiklah..”

 

~o0o~

 

Setelah sampai dinegara kelahirannya, Sehun menghirup udara dingin dikota ini.

 

“Se Ryung-ah.. ini sudah musim dingin ke-empat kulewati tanpamu”gumamnya tersenyum tipis. Kemudian Sehun berjalan meninggal Inchoen airport. Saat akan menyetop taxi tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tegap menghampiri Sehun.

  

“Tuan Oh!”seru lelaki itu, Sehun menatapnya bingung. “Kau ingat aku? Jaksa Choi?!”tunjuk lelaki itu pada dirinya sendiri

 

“Ah! nde, kau orang yang selalu berada disamping tuan Han dulu”sahut Sehun tersenyum ramah

 

“Nde.. itu dulu, saat tuan Han masih hidup”lirih jaksa Choi sembari menundukkan kepalanya. “Oya, ada yang ingin aku beritahukan padamu”

 

 

@Mobil Jaksa Choi

 

 

“Mworago? Se Ryung masih hidup?!”kaget Sehun setelah mendengar pernyataan jaksa yang sekarang menjabat menjadi direktur diperusahaan mendiang Tuan Han itu.

 

“Nde.. selama ini aku mencarimu kemana-mana, tapi aku tidak juga menemukanmu, dan sekarang aku merasa lega bisa bertemu denganmu”

 

“Bagaimana keadaan Se Ryung saat ini? Bagaimana keadaannya?!”cemas Sehun

 

“Aku akan membawamu kerumahnya!”

 

~o0o~

 

Direktur Choi membawa Sehun masuk kedalam rumah mewah itu, menuntun Sehun hingga ke taman bagian belakang rumah besar itu, Sehun dan juga direktur Choi berdiri dibalik jendela kaca. Disana ada seorang gadis duduk dikursi roda sedang menatap kosong kedepan.

 

“Se Ryung-ah..”lirih Sehun pelan

 

“Uri agassi.. setelah kejadian itu, ia mengalami koma selama hampir 2 bulan, luka dikakinya terlalu parah, hingga akhirnya dia lumpuh dan melewati hari-harinya diatas kursi roda. Selama bangun dari sadarnya dia tidak pernah bicara sepatah katapun, namun saat pertama kali bangun dari komanya.. dia menyebut namamu ‘Oh Sehun’..”jelas direktur Choi tanpa menatap Sehun

 

Sehun menatap direktur Choi dengan tatapan yang sulit diartikan, “M-mwo?”

 

“Uri agassi.. dia.. dia seperti kehilangan gairah untuk hidup, bahkan dia sempat beberapa kali mencoba untuk bunuh diri.. uri agassi..”direktur Choi seolah tak mampu melanjutkan kalimatnya, tanpa sadar air mata mengalir di pipinya. “Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, dan melihatnya seperti ini.. membuat hatiku sangat sakit, sungguh!”sambungnya yang masih menangis

 

“Se Ryung-ah..”mata Sehun mulai memanas. Kemudian terlihat ahjumma sedang membawakan sepiring makanan pada Se Ryung, ahjumma itu membujuk Se Ryung agar memakan makanan yang ia bawa. Tapi Se Ryung menepisnya kasar hingga membuat makanan itu jatuh dan berhamburan diseluruh tubuhnya.

 

 

“Agassi.. jebalyo, jangan seperti ini, eoh?”pinta ahjumma menatap Se Ryung sedih. Tatapan Se Ryung tetap dingin, ia mengalihkan pandangannya dari Kim ahjumma, kemudian Kim ahjumma berjalan meninggalkan Se Ryung sendiri disana.

 

“Ahjumma..”panggil direktur Choi menghalangi langkah Kim ahjumma

 

“Dia tidak mau makan lagi, eotthokaji?”kata ahjumma sedih

 

“Tenanglah..”direktur Choi mencoba menenangkannya

 

“Aku ingin menemuinya..”ujar Sehun, Kim ahjumma dan direktur Choi menatap Sehun sejenak, lalu mereka mengangguk.

 

 

Sehun berjalan perlahan, ditatapnya lekat punggung Se Ryung yang masih memandang kosong kedepan.

 

Saat sampai ditengah-tengah, Sehun menghentikan langkahnya. Matanya seolah tak sanggup lagi menahan bendungan yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga, hingga kemudian setitik liquid bening berhasil lolos dari sudut matanya. Sehun menyeka air matanya, ia kembali melanjutkan langkahnya.

 

Sehun muncul dari belakang Se Ryung, kemudian ia berjongkok didepan Se Ryung.

  

“Se Ryung-ah.. annyeong”matanya menatap Se Ryung dalam. Se Ryung tersentak, ia seolah tak percaya lelaki yang selama ini ia tunggu kini hadir tepat didepannya, mata Se Ryung mulai memerah.

 

“Kenapa kau membuang makanan ini, hm?”tanya Sehun lembut sembari membersihkan makanan yang menempel di sela-sela rambut panjang Se Ryung. “Kau tidak boleh membuang makanan lagi, ahjumma memasakkan ini dengan tulus untukmu”sambung Sehun yang masih membersihkan makanan dari tubuh Se Ryung

 

“Kau—“kalimat Sehun terhenti saat Se Ryung mengarahkan tangannya perlahan kewajah Sehun, Se Ryung ingin sekali menyentuh Sehun hanya sekedar memastikan, bahwa sekarang ia sedang bermimpi atau tidak.

 

Saat tangan Se Ryung benar-benar menyentuh pipi Sehun. air matanya jatuh begitu saja, wajahnya terlihat sedih.

 

“Khajima.. khajima..”lirih Se Ryung sedih dan air matanya semakin deras mengalir. Sehun langsung memeluk tubuh Se Ryung.

  

“Tidak.. aku tidak akan pergi lagi”bisik Sehun yang menangis tepat ditelinga Se Ryung

 

“Janji?”Se Ryung memintanya untuk berjanji

 

“Eum..janji”sahut Sehun dan semakin mempererat pelukannya

 

Beberapa saat kemudian Sehun melepaskan pelukannya, ditatapnya lekat gadis yang sangat ia cintai itu. Se Ryung masih saja menangis, kemudian Sehun menyeka air mata Se Ryung dengan kedua ibu jarinya.

  

“Uljimara..”kata Sehun pelan. Lalu mengecup bibir Se Ryung singkat dan lembut. “Mulai sekarang aku akan selalu berada disampingmu, berjanjilah padaku mulai saat ini kau harus tersenyum dan hidup bahagia, eum?”pintanya lembut, Se Ryung mengangguk pelan.

 

~o0o~

 

@Busan

 

Sehun menggendong Se Ryung di punggungnya, ia berjalan menaiki jalan setapak yang terdiri dari anak tangga untuk menuju rumahnya yang dulu pernah ia tinggali bersama Se Ryung.

 

“Kau lelah?”tanya Se Ryung pada Sehun

 

“Ani”Sehun menggeleng pelan dan tersenyum lembut.

 

“Apa kau kedinginan?”

 

“Eum..”

 

“Kalau begitu aku akan memelukmu dari belakang”ujar Se Ryung dan mempererat pelukannya pada Sehun

 

“Sekarang aku merasa hangat”Sehun tersenyum dan menolehkan wajahnya berusaha melihat wajah Se Ryung

 

 

Karena sudah lama tak ditinggali rumah ini sangat kotor dan berantakan. Sehun segera membersihkannya. Se Ryung yang tidak bisa lagi menggerakkan kakinya hanya bisa memperhatikan gerak-gerik lelaki yang ia rindukan ini dari sofa.

 

Dua jam kemudian, rumah ini terlihat bersih dan rapi.

  

“Se Ryung-ah, kau harus bisa berjalan lagi, eo? Aku akan melatihmu..”Sehun duduk didepan Se Ryung dan menggenggam kedua tangan Se Ryung erat.

 

“Kau tidak lelah?”tanya Se Ryung pelan, Sehun menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.

 

Se Ryung tersenyum lembut, ia mendekatkan kepalanya kearah Sehun lalu mengecup bibir Sehun singkat.

 

Awalnya Sehun sedikit merasa tersentak, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum senang. “Sekarang aku merasa semangat”tuturnya

 

  

“Ayo.. kau pasti bisa!”Sehun menuntun kedua tangan Se Ryung. Se Ryung terlihat menahan kakinya yang terasa sangat sakit.

 

Bruk!

 

Se Ryung jatuh dalam pelukan Sehun.

 

 

“Gwenchana.. kita lakukan perlahan-lahan”ujar Sehun dan kemudian dikecupnya lembut kening Se Ryung.

 

 

One week later~

  

“Hmm.. baunya sangat enak”gumam Se Ryung dan berjalan mendekati Sehun yang terlihat sedang memasak sesuatu untuk sarapan mereka.

 

Sehun sedikit tersentak saat merasakan ada tangan lembut yang melingkar di pinggangnya, ia berusaha menoleh kebelakang dan mendapati Se Ryung tengah tersenyum manis kearahnya, “Lihat, aku memasakkan makanan kesukaanmu”

 

“Jinjayo?”

 

“Eum, kau mau mencoba memasaknya?”

 

“Nde..”sahut Se Ryung senang, Sehun melepaskan tangan Se Ryung yang melingkar diperutnya, kemudian Sehun mendorong pelan tubuh Se Ryung mendekati kompor.

 

“Nah, sekarang pegang ini”Sehun memberikan spatula itu pada Se Ryung

 

“Lalu?”

 

“Aku akan mengajarimu”sahut Sehun, dan sekarang Sehun memeluk Se Ryung dari belakang, tangan kirinya melingkar di pinggang Se Ryung, dan tangan satunya memegang tangan Se Ryung, mengarahkan Se Ryung menggerakkan spatula itu.

 

“Apa ini sudah cukup masak?”

 

“Sebentar lagi..”

 

.

 

“Nah, ini sudah cukup”kata Sehun dan mematikan kompornya, Se Ryung terlihat tersenyum memperhatikan masakannya.

 

Cup!

 

Sehun mengecup pipi Se Ryung dari belakang.

 

“Charesseo..”ucapnya kemudian seraya mengacak pelan puncak kepala Se Ryung.

 

….

 

….

 

 

Se Ryung dan Sehun terlihat sedang berjalan menaiki sebuah bukit kecil yang ada dipinggir kota. Mereka saling berpegangan tangan dan terus berjalan keatas.. mengunjungi makam ayah Sehun dan juga ayah Se Ryung.

 

 

 

 

“Abeoji, bagaimana kabarmu..”salam Sehun setelah memberikan hormat didepan makan ayahnya. “Abeoji.. bukannya aku pernah berjanji padamu? Suatu saat aku akan membawa calon menantumu datang kesini, dan sekarang.. aku membawanya kehadapanmu..”ujar Sehun dan menganggem tangan Se Ryung erat, Se Ryung menatap Sehun lekat.

 

“Bagaimana? Dia cantik ‘kan?”sambungnya tersenyum lembut pada Se Ryung, Se Ryung hanya membalasnya dengan senyuman kecil. “Abeoji.. kuharap kau bisa tenang disana dan melupakan semua dendammu.. aku juga sudah menguburnya dalam-dalam dari hidupku, dan sekarang.. aku ingin meminta restu darimu.. aku ingin hidup bersamanya, selama hidupku”Sehun menatap lekat gundukan makam ayahnya. Kemudian ia memutuarkan tubuhnya menghadap Se Ryung

 

“Se Ryung-ah.. kau mau ‘kan memaafkan abeoji?”

 

“Eum..”Se Ryung menangguk pelan

 

“Gomawo..”Sehun terlihat lega dan menarik tubuh Se Ryung dalam pelukannya

 

……

  

“Appa.. mianhae, aku tidak pernah kesini menjengukmu”Se Ryung mengelus-elus gundukan tanah makam ayahnya, makam ayahnya bersebelahan dengan makam ibunya. “Eomma.. appa.. kuharap kalian bisa bahagia disana. Lihat, siapa yang datang bersamaku kemari?”Se Ryung menarik tangan Sehun agar Sehun mendekat kearahnya. “Dia tampan ‘kan? dia orang yang mengajarkanku apa itu cinta, kesabaran dan juga kesetiaan.. dia adalah orang yang mengajari banyak hal.. sangat banyak..”tutur Se Ryung tanpa menatap Sehun, Sehun hanya menatapnya lekat.

 

“Eomma.. appa.. aku ingin menjalani hidup baru mulai sekarang. Hidup tenang tanpa dibayangi rasa benci, dendam, sedih dan kesepian”Se Ryung menatap lirih makam kedua orang tuanya. “Aku.. juga ingin hidup normal seperti orang lain diluar sana”kali ini Se Ryung tersenyum bahagia. “Bersama  lelaki disampingku”sambungnya dan mempererat genggaman tangannya pada Sehun

 

 

…..

 

 

Sehun dan Se Ryung menuruni anak tangga dengan senyuman yang selalu mengembang diwajah mereka. Mereka saling berpegangan tangan dengan erat.

 

.

 

“Se Ryung-ah..”panggil Sehun saat mereka mendekati mobil mereka

 

“Waeyo?”Se Ryung memutarkan tubuhnya menghadap Sehun

 

Sehun tersenyum lembut, lalu mengecup kening Se Ryung cukup lama. Sebelum akhirnya ia berucap, “Aku berjanji pada diriku sendiri.. bahwa aku akan membuatmu bahagia disampingku.. Han Se Ryung..”

 

 

–finish–

 

RCL Juseyo🙂

 

 

24 thoughts on “The Deep Revenge [2/2]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s