The Jersey

 Gambar

Title                 : The Jersey

Author            : qL^^ (wp : mystorymyfictionworld)

Lenght            : Ficlet

Genre              : Friendship, Semi-Romance, Fluff

Rating                         : General

Main Casts      : D.O EXO, Yoo Lilith (OC covered by Lee Hi)

Disclaimer       : This plot is under copyright of qL^^, has been published in Jan, 12th 2014 mystorymyfictionworld.wordpress.com. Publish again here with some adjusment! Don’t copy,paste or edit it!

A.N                 : Presented for D.O birthday and this is my first EXO Fanfict! I called this fict D.O-Lils Series (look at the cover). So, Enjoy reading!

——

Untuk seseorang yang berulang tahun

The Jersey

His name. His number. His scent.

“Kenapa harus ini?” protes Lilith sembari melambai-lambaikan baju yang baru saja diberikan oleh D.O padanya.

D.O berdecak. Lelaki itu selalu habis sabar kalau harus berhadapan dengan Lilith.

“Sudah pakai saja,” tukas D.O sebal.

Lilith merengut menatap baju itu. D.O sama sekali tidak mengerti kenapa Lilith harus mempermasalahkan baju yang diberikannya. Itu jersey baseball miliknya dan D.O tidak melihat masalah apa pun tentang jersey itu. Jersey itu nyaman dipakai kok.

“Ya Tuhan! Kau punya banyak kaos kan? Pinjamkan saja salah satunya,” Lilith masih protes, mendorong jersey itu kembali pada D.O.

Sebenarnya D.O malas kalau harus mengobrak abrik lemari bajunya lagi. Dia sudah menyusun rapi semuanya dan tidak ingin Lilith merusak kerapihannya demi kaos yang lain.

“Lilith, kalau mau protes, kau boleh protes pada eomma. Beliau yang mendadak memaksamu menginap sampai tidak membawa baju ganti,” kata D.O akhirnya. Lelaki itu mengambil jerseynya dan menyelipkannya di kepala Lilith. “Berhentilah membuat kepalaku sakit, jadilah anak perempuan yang manis dan ganti baju, jadi aku bisa tidur,” omelnya.

Dengan wajah cemberut dan setengah jersey sudah menyelip di kepalanya, Lilith menuju kamar mandi. D.O tertawa sendiri melihat eskpresi Lilith yang menurutnya konyol sekaligus lucu. Dia menyiapkan selimut dan bantal yang akan dibawanya tidur di sofa. Lilith akan memakai tempatt tidur di kamarnya karena ayah ibu Lilith memakai kamar tamu. Gadis itu berkunjung ke rumahnya setelah sekian lama tinggal di Prancis dan ibu D.O yang pintar merayu itu berhasil membujuk Lilith dan keluarganya menginap. Tentu masalahnya ada di Lilith karena di rumah D.O tidak ada anak perempuan dan akhirnya gadis itu terpaksa memakai baju D.O.

D.O harus menahan keinginannya untuk tertawa begitu melihat Lilith keluar dari kamar mandi. Jersey itu terlalu besar untuk Lilith yang 13 cm lebih pendek dari D.O. Apalagi ekspresi Lilith yang penuh horor.

“Ini seperti dress,” komentar Lilith tak percaya. Panjang jersey itu menyentuh lututnya. Untung saja D.O memberikan celana piyama yang panjang sehingga tidak terlalu terlihat aneh, walaupun Lilith harus menggulung celana itu karena pinggangnya yang kebesaran.

Pintu kamar D.O terbuka dan memperlihatkan ibunya yang tersenyum ramah.

“Semuanya baik-baik saja?” tanya ibu D.O..

“Semua beres, Bu,” sahut D.O.

“Ya Tuhan, Lilith! Kau terlihat imut sekali dengan jersey D.O, Nak,” puji ibu D.O membuat wajah Lilith bersemu merah. Lilith hanya mengumamkan terima kasih.

Ibu D.O melanjutkan pidatonya. “D.O akan tidur di sofa dan Lilith bisa tidur di tempat tidur D.O. Pintu kamar akan dibiarkan terbuka, jadi ibu bisa mengawasi kalian,” katanya.

D.O memutar bola matanya mendengar kalimat terakhir ibunya.

“Selamat malam!” kata Ibu D.O menyudahi petuahnya begitu dua anak itu tidak berkomentar apa-apa.

Lilith naik ke tempat tidur sedang D.O memposisikan dirinya di sofa di seberang tempat tidur. D.O mendengus sendiri, ini terlihat seperti scene di drama-drama. Bedanya pintu kamar mereka terbuka lebar dengan para orangtua yang sepertinya menguping. D.O yakin Lilith pasti membenci situasi seperti drama ini. Mereka punya kecenderungan untuk alergi pada hal-hal semacam itu.

“Aku tidak menyangka kamar anak laki-laki serapi ini,” kata Lilith. Dia menguap pelan membuat D.O ikut menguap.

D.O meletakkan lengannya di kepala. “Tidak semua anak laki-laki berantakan,” jawabnya sambil memejamkan mata.

Lilith menguap lagi. “Kurasa begitu,” katanya.

D.O pikir Lilith sudah tertidur saat dia tidak mendengar suara beberapa menit kemudian.

“Fansmu tidak akan marah kalau tahu jersey-mu dipakai anak perempuan lain?” tanya Lilith yang membuat D.O tersentak.

D.O berbaring miring agar bisa melihat Lilith yang terbenam di dalam selimut. Udara bulan Januari memang masih cenderung dingin. “Kenapa mereka harus marah? Lagipula jersey itu kan milikku, suka-suka aku mau memberikannya pada siapa,” komentar D.O.

Lilith tertawa. Tawa yang sudah lama tidak D.O dengar. “Aku hanya memikirkan fansmu,” kata Lilith ringan.

“Jadi nomer punggungmu 12?” Lilith bertanya lagi.

D.O hanya bergumam. “Mmm.”

“Tanggal lahirmu kan?”

“Ya,” jawab D.O singkat.

Lilith mendengus. “Kau tahu, kau menyemprotkan terlalu banyak parfum di jerseymu,” kata Lilith. “Aku bahkan merasa sedang dekat sekali denganmu.”

D.O diam dan berpikir. Seingatnya dia tidak pernah menyemprotkan parfum pada jerseynya, yah kecuali dia akan memakainya. Apa baunya masih tersisa? Atau Lilith terlalu sensitif?

“Masa sih?” tanya D.O ragu.

Lilith mengangguk. D.O melirik tempat tidur dan melihat Lilith sedang berusaha membaui jerseynya lagi. Lucu.

“Tidurlah, Lils,” akhirnya D.O memutuskan berhenti membahas masalah bau jerseynya. D.O memperbaiki posisinya hingga tidur terlentang lagi.

“Aku sedang mencoba untuk tidur,” bantah Lilith.

D.O menghela nafas. Hanya Lilith yang bisa memaksanya bicara lebih banyak dari yang biasanya dilakukan D.O. Berdebat mengenai hal-hal yang tidak penting seperti jerseynya. Lilith selalu menemukan kalimat yang bisa menjawab apa pun yang dikatakan D.O.

“Kau tahu tidak kalau di sekolahku, anak laki-laki hanya membiarkan jerseynya dipakai oleh anak perempuan yang dia sukai,” Lilith mengucapkannya dengan nada biasa, tapi D.O merasakan hal yang berbeda.

Jadi itu sebabnya Lilith protes berat saat D.O dengan santainya memberikan jerseynya untuk dipakai Lilith. D.O tidak pernah berpikir mengenai hal itu dan sama sekali tidak menyangka Lilith memikirkannya. Pipi D.O terasa memanas.

“Lupakan!” Lilith berkata lagi, mengibaskan tangannya seolah itu bukan masalah penting padahal jantung D.O sudah berdebar kencang.  Lilith menguap lagi dan melirik jam ponselnya. “Ah ya, D.O, selamat ulang tahun. Sekarang sudah tanggal 12,” ujarnya.

D.O tersenyum mendengar ucapan Lilith. Lagi-lagi gadis itu mengucapkannya dengan nada biasa yang justru semakin membuat wajah D.O memerah. Diam-diam dia senang karena Lilith tidak bisa melihat wajahnya yang memerah.

“Terima kasih,” katanya.

Lilith bergerak-gerak di tempat tidurnya, mencari posisi nyaman karena matanya semakin berat. “Kau mau hadiah apa?” tanya Lilith. Suaranya sarat kantuk.

D.O berpikir. Apa yang diinginkannya? Lebih baik dia menjawab asal, toh besok pagi Lilith  pasti lupa dengan jawabannya.

“Aku ingin…..” suara D.O terputus saat menyadari Lilith tidak lagi mendengarnya.

Mata gadis itu sudah terpejam dan dia sudah berkelana ke alam mimpi. D.O berbaring miring melihat Lilith yang tidur dengan damainya. Sahabat masa kecilnya yang malam ini berhasil membuatnya tersipu. Dan mendadak dia tahu apa yang diinginkannya.

“Bisakah kau tidak kembali ke Prancis dan tinggal di sini?” bisiknya.

-Fin-

Comments and likes are loved J

17 thoughts on “The Jersey

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s