Confused |Chapter 7|

Confused written by Seo Yuri

Chaptered; G; romance, angst

Im Yoon Ah (SNSD), Kai (EXO), Lee Tae Min (Shinee)

—oooOoooOooo—

Hujan pertama di pertengahan musim semi. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh, tak jarang ada anak kecil yang justru bermain-main dengan hujan. Namun berbeda dengan Yoona, ia tidak sedang bermain dengan hujan, juga tidak sedang mencoba mencari tempat berteduh, hanya saja,

“Kai-ya, ayo kembali ke rumah sakit. Kau tidak boleh di sini.” Ia mendesak, meminta, memohon agar pria itu mendengarnya, meski sekali saja. Tapi, walaupun rengekan itu kembali terdengar, Kai sama sekali tidak berbuat apa-apa―justru membiarkan rintik hujan membasahi tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Yoona masih bersikeras dengan tindakannya. Payung yang tadi sempat digunakannya kini berganti untuk melindungi Kai. Ingin rasanya ia menarik Kai agar kembali ke rumah sakit. Tapi menarik Kai bukanlah perkara mudah, apalagi jika Kai tetap mengotot untuk menetap. Dan akhirnya ia yang harus sedikit mengalah meski kini tubuhnya harus berperang melawan dinginnya malam.

“Kai-ya­…

“Aku…” bibir yang sedikit bergetar itu mulai bergerak, matanya juga. Sekilas Yoona melihat tumpahan hujan yang menyertai wajah Kai terlihat aneh, tapi ia tak mengerti; yang dapat ia mengerti hanya betapa pucat bibir itu seakan menusuk tubuhnya berkali-kali, seolah tak membiarkan ia bernafas lega, ia ingin hal ini cepat berakhir, ia berharap Kai mengikuti keinginannya sehingga ia bisa bernafas lebih lega, sehingga ia tak perlu melihat bibir pucat itu terus menerus, tapi…

“Aku sudah menunggu terlalu lama, dan mungkin semua ini sudah terlambat.”

Tak ada lagi yang dapat dilakukan Yoona, terkecuali diam dan menyaksikan bagaimana tangan Kai bergerak perlahan menyentuh wajahnya, mengusap lembut hingga kedinginan tangan Kai perlahan menyusup ke dalam dirinya.

Wajah yang terkadang dihiasi ekspresi kosong atau cengiran bodoh lantas menghilang. Kini hanya tersisa tatapan penuh penyesalan, sentuhan lembut seakan takut menyakiti, kata-kata yang sungguh tak dimengerti Yoona. Dan tiba-tiba,

“Bagaimana aku bisa pergi jika aku sangat merindukanmu, seperti ini?”

Genggaman pada payung mengendor hingga angin berhasil menerbangkannya saat perlahan Kai melingkarkan tangan di lehernya dan menariknya dalam sebuah dekapan. Saat itu, Yoona tidak yakin apakah dunianya jatuh dan berhenti berputar atau ia yang jatuh dan terus bermimpi.

—oooOoooOooo—

Matahari bersinar dengan terik ketika waktu mulai memasuki awal Maret. Orang-orang mulai mengabaikan kenyataan bahwa salju mulai mencair, malah menikmati waktu dengan bersantai di rumah ditemani mesin penghangat.

Mereka bilang musim semi tahun ini akan indah, tapi bagi Yoona (yang hanya memikirkan Kai), “Ahjussi, ini berapa?”―sambil menunjuk sebuah kaos kaki berwarna abu-abu―awal musim semi adalah awal dari usahanya dengan kaos kaki. Kaos kaki, satu dari sekian banyak barang yang pernah mengisi kenangan antara ia dan Kai. Satu dari sekian banyak barang yang akhirnya harus ia gunakan untuk menarik perhatian Kai.

Karena semua yang ia lakukan tak membawa perubahan apa pun.

Seminggu yang lalu setelah Yoona kembali dari pekerjaan dadakannya, Kai tiba-tiba menjadi aneh. Sebenarnya wajar jika Kai menjadi aneh, karena Alzheimer membuatnya menjadi pribadi yang sulit. Tapi tetap saja Yoona merasa tidak benar, seolah Kai seperti ini bukan karena Alzheimer tapi ada sesuatu yang lain. Aneh yang berbeda, sesuatu yang diyakininya tapi ia tak benar-benar mengerti.

Kai selalu menghindarinya, seolah ia membawa virus berbahaya sehingga berdiri dengan jarak minimal 5 meter adalah sebuah keharusan. Tapi Kai tak sepenuhnya menghindar. Yoona sangat yakin akan hal itu, apalagi setelah melihat Kai yang selalu diam-diam memperhatikannya, tapi tidak setelah ia mendekat, karena semua akan kembali seperti semula; tidak ada Kai yang memperhatikannya, tak ada Kai yang diam-diam tersenyum. Tak ada Kai yang seperti itu.

Sama seperti sekarang, ketika Yoona tersenyum dengannya, Kai akan pergi begitu saja. Layaknya orang asing, Yoona benar-benar merasa seperti itu, sekarang.

—oooOoooOooo—

“Jadi,” Taemin memulai dengan hati-hati, melihat tumpukan kaos kaki dengan motif yang berbeda-beda. Ia sungguh tidak mengerti, sejak kapan Yoona hobi mengumpulkan kaos kaki? “Apa yang akan kau lakukan dengan kaos kaki ini?”

“Apa kau pernah mendengar keajaiban kaos kaki, Taemin-ah?” Yoona bertanya pelan, sepasang matanya bergerak mengikuti arah tangannya, jari-jari yang kurus, tertuju pada kaos kaki di sebelah Taemin, “Jadi, seperti yang kau tanyakan tentang kaos kaki. Apa kau percaya dengan cerita Santa Claus? Karena aku mengumpulkan semua ini agar Santa Claus mengabulkan permintaanku. Permintaanku yang hanya satu-satunya―hampir tidak ada yang lain, tidak ada.”

“Um―”

“Tapi natal telah berlalu,” Yoona menyapukan tangannya di permukaan kaos kaki, “Jadi menurutmu,” bibirnya perlahan mengulas senyum kecil, “apa yang akan aku lakukan pada kaos kaki ini?”

—oooOoooOooo—

“Sudah kubilang itu tak akan berhasil. Kau yang tidak percaya padaku.” Taemin bertopang dada, Yoona masih memegang kaos kaki dan Kai… pria itu kembali menghilang, dengan tanda kutip seperti biasanya.

Ruangan Taemin mendadak menjadi ruang pertarungan Yoona dan Kai saat Yoona bersikeras memasangkan kaos kaki ke Kai sementara orang yang dimaksud tidak mau melakukannya. Yoona berniat memasangkan, Kai mengelak, Yoona memanggil, Kai berlari, Yoona ikut berlari dan Kai berlari lebih cepat.

Memang, mereka sama-sama tahu, kaos kaki adalah musuh utama Kai. Ia tak pernah ingin memakai benda itu, seakan kakinya akan merasa gatal atau bahkan kesakitan jika menggunakannya dalam waktu yang lama.

Tapi entah apa yang merasuki Yoona hingga ia tetap memaksa walau kemungkinannya sangatlah kecil.

“Biasanya Kai akan memakai kaos kaki jika aku memaksa. Tapi, kupikir kali ini berbeda,” terselip nada putus asa di sana, hembusan nafas kesepian dan sorot mata kesedihan hingga Taemin tak mampu menunggu lebih lama untuk menurunkan tangan dan berjalan mendekati Yoona, menepuk bahunya dan berkata bahwa semuanya tak akan semudah yang ia pikirkan, bahwa ia harus mencoba lain kali, karena harapan akan selalu menyertai orang yang senantiasa mencoba.

Dan Yoona akan mencoba membiarkan senyuman tipis membalut bibirnya.

Tapi terkadang harapan juga dapat membunuh seseorang, dan sepertinya Taemin lupa mengatakan itu.

—oooOoooOooo—

“Besok,” Yoona mulai membiarkan pengharapan itu membunuhnya perlahan dan mengabaikan Taemin yang memegangnya erat. Begitu erat hingga ia tak sempat sadar. “Aku ingin kau terus memberitahuku tentang kondisi Kai?”

Raut wajah Taemin datar, “Apa maksudmu?”

“Yah, kau tahu,” sorot mata Yoona dalam sekejap berubah. Bukan lagi sorot optimis, tapi hanya sorot putus asa, begitu sedih dan juga kesepian. “Kurasa ini terlalu sulit untukku.”

“Sulit apanya?”

“Tidak ada yang berubah.”

“Jadi?”

“Apa lagi?”

“Jadi apa maksudmu dengan terlalu sulit?”

“Aku menyerah.”

Menyerah. Im Yoon Ah akan menyerah. Begitu katanya.

Taemin menarik tangannya dan menariknya mendekat hingga Yoona terkejut dan menatap Taemin bingung, “Kenapa?

“Tidak apa-apa.”

“Kau yakin?”

“Ya.”

“Benar-benar tidak apa-apa?”

Yoona merenung, “Memangnya apa yang bisa kulakukan tanpa menyerah. Kau lihat sendiri, tidak ada perubahan. Tidak ada yang bisa kulakukan, tidak untuk kali ini bahkan untuk lain kali, tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama. Kai akan bangun setiap pagi dan bertingkah seperti ini, menghapus semua orang dari ingatannya, ada atau tidaknya aku sama saja. Ia sama sekali tak peduli tentang bagaimana aku menunggunya setiap pagi, berharap tiba-tiba ia terbangun dan mengingatku, mengingat semua yang sempat kami lakukan. Tapi tidak, itu semua tidak berhasil, karena itu memang tidak akan terjadi. Jadi aku harus bagaimana jika tidak menyerah?”

“Sebanyak optimis yang kau bawa ketika pertama kali bertemu kembali dengan Kai, kau benar-benar akan meninggalkan semuanya di sini?”

“Taemin aku―”

“Dengar. Jika kau menyerah, jika kau benar-benar menyerah, maka tak ada lagi memberitahumu tentang kondisi Kai, tidak ada lagi segala sesuatu yang berbau Kai. Karena aku tidak mau berdiam diri menjadi penyampai pesan dan membiarkan Kai tetap menghantuimu. Aku tidak mau melihatmu menangis dan terjatuh lagi, apalagi jika itu karena Kai. Karena setelah semua ini benar-benar terjadi, kini giliran aku yang berharap kau akan melupakan Kai dan menyadari seseorang yang tengah menunggumu, menantimu. Diam-diam berdoa agar kau melihatnya sekali saja, bukan sebagai teman, bukan sebagai orang yang mirip dengan Kai―tapi sebagai seorang dokter bernama Lee Taemin. Jadi, sekali lagi, aku akan bertanya, apa kau benar-benar siap untuk menyerah? Benar-benar siap untuk tidak bertemu lagi dengan Kai?”

“Apa yang kau bicarakan?” adalah yang sebenarnya ingin Yoona ucapkan, tapi entah bagaimana niat itu terbuang jauh dan digantikan dengan tarikan napas dan tatapan panik. Membayangkan hidupnya tanpa Kai tiba-tiba membuatnya merasakan rasa sakit yang kuat hingga hampir tak terasa. Bahkan ketika Taemin mengatakan hal aneh tentang gilirannya berharap, tentang Yoona yang harus mulai melihatnya sebagai Lee Taemin; hal itu sama sekali tak mengganggunya. Kemudian, ia hanya menggeleng, menggigit bibir, begitu keras.

“Kau tidak akan bisa. Karena aku tahu kau tak akan bisa, oleh karena itu aku akan memberimu kesempatan untuk berpikir. Karena jika kau benar-benar menyerah maka kini giliran aku yang berharap. Kau mengerti, Yoona? Giliran aku yang berharap.”

Kemudian Taemin pergi dan menyisakan Yoona sendirian, disana; bersama dengan begitu banyak kesedihan dan harapan yang hanya sisa sedikit. Bahkan ketika ia mulai beranjak, lorong rumah sakit terasa beribu kali lebih sepi. Terasa begitu gelap, terlalu banyak kesedihan dan ia mencoba berlari agar kesedihan tak menggelamkannya.

Tapi setelah melewati ruangan Taemin, ia sadar dirinya tak akan mampu berlari, tidak bisa berlari terlalu jauh. Karena setelah itu ia akan mendapati pantulan Kai dari balik kaca dan mengamati dalam diam. Karena ada saat ketika Yoona membuka pintu itu paksa, berjalan mendekati Kai dan memegang kedua tangannya erat, membisikkan permohonan-permohonan kecil di atas harapannya yang hampir sirna. Permohonan dihadapan Kai yang tengah berusaha menggunakan kaos kaki, seorang diri.

Karena Taemin mungkin saja salah. Bahwa harapan tidak hanya datang dari orang yang berusaha, bahwa harapan dapat datang kapan saja. Dengan cara yang berbeda, namun harapan yang sama.

—oooOoooOooo—

Ada saat di mana hubungan Yoona dan Taemin menjadi aneh. Ada saat di mana mereka merasa tidak nyaman berada di satu ruangan. Yoona tak mengerti apa yang terjadi. Yang jelas setelah malam itu, Taemin tak bersikap seperti biasa, bukan lagi sebagai Taemin yang dikenalnya, Taemin yang menyemangatinya, tapi terlihat sebagai Taemin yang selalu siap menangkapnya jika ia benar-benar terjatuh. Jatuh pada permohonan yang terkadang membuatnya kuat bahkan menjadi lemah.

—oooOoooOooo—

“Kau terlihat murung,” Soo Jin, teman sekantornya berkomentar di suatu sore, ketika langit sedang bersukacita hingga tak ada lagi hujan, tidak ada lagi musim dingin, tidak ada salju, semuanya telah tergantikan dengan musim semi yang indah.

Selama Yoona menolak untuk berbicara, Soo Jin membereskan barang-barangnya ke dalam tas, sejenak menggenggam tangan Yoona saat mata mereka bertemu pandang, “Apa yang terjadi?”

Tapi tetap saja, musim semi yang indah tak dapat menghapus masalah dari kepala Yoona, tidak dapat mengabulkan permohonan-permohonan yang diam-diam ia bisikan setiap malam. Karena ia pun sadar; hanya musim yang berganti, tapi tidak dengan manusia.

“Tidak ada,” tersenyum seperti biasa dan bersikap senatural mungkin, itu yang ia bisikan pada dirinya. Tapi tidak semua hal berjalan lancar seperti kemauannya. Tidak ketika ia harus menghadapi teman seperti Soo Jin.

“Aku tidak tahu apa yang mengganggumu. Tapi jika kau bersedia bercerita, mungkin aku bisa membantu. Mungkin, sedikit.”

Ketika Yoona memilih untuk berdiam diri sambil menggigiti bibir, Soo Jin mendapat panggilan tentang peringatan 100 hari kematian ayahnya besok.

Suasana kantor tetap berlalu seperti biasanya; layaknya sekumpulan camar yang terbang menyusuri langit setiap hari, seperti cangkir-cangkir kosong yang tertinggal di meja-meja kantor.

Tapi saat itu sedikit berbeda, mungkin karena ada saat dimana Yoona akan berkata bahwa ia turut sedih atas kematian ayah Soo Jin dan Soo Jin yang bercerita tentang penyakit ayahnya. Dan setelah pembicaraan selesai, maka Soo Jin akan berkata bahwa ayahnya sudah meninggal dan Yoona tidak perlu menangis, sementara Yoona terus menggeleng kepala dan membiarkan air mata itu mengalir.

Karena terkadang kisah orang lain dapat menyentuh hatinya yang telah rapuh, tak mampu lagi ia tolong. Hal lain yang terus mendesak ia terisak.

“Yoona-ya, jika kau menangis seperti ini, aku harus bagaimana? Sudah kubilang, sekarang sudah tidak apa-apa. Alzheimer sialan itu sudah mencabut semua penderitaan ayah dan membuatnya tenang, setidaknya setelah ini, ayah tak akan lupa untuk terus melihatku dari atas sana. Jadi kau tidak perlu menangis untukku, karena aku tak lagi sedih.” Hal lain, Alzheimer.

—oooOoooOooo—

Pertama, orang bilang saat kau mabuk, maka kejujuran yang akan merasukimu. Mungkin itu memang benar adanya, karena ketika Yoona selesai dari acara makan-makan dengan rekan sekantor, ia mabuk dan entah bagaimana bisa memberitahu taxy yang ditumpanginya alamat rumah sakit. Padahal hampir seminggu ia menghindari tempat itu.

Kedua, segala ucapan yang terpendam bisa keluar begitu saja ketika seseorang sedang mabuk, tanpa memerdulikan penyesalan yang mungkin akan menghampiri ketika pagi menjelang.

Langit mulai menabur kerlap-kerlip di permukaannya, ditemani hamparan pasir hitam saat bulan sedang bersinar dan Yoona berjalan dengan sempoyongan di lorong rumah sakit.

Ya! Kim Jongin, apa-apaan ini?” tubuhnya menabrak dinding hingga ia sedikit meringis, tapi kemudian tergantikan dengan, “Kau mencampakkanku seolah kau tak butuh siapa pun di dunia ini, tapi… ini apa? Bagaimana bisa… kenapa setelah sekian lama menghilang… bagaimana bisa muncul seperti ini?”

Ketiga, terkadang orang mabuk juga akan memiliki dunianya sendiri, membuat kekacauan atau bahkan terhanyut dalam kesedihannya sendiri.

“Kau menyedihkan jika berpikir dapat menghilang dariku… Kau lihat? Meski kau mencampakkanku, meski kau bersembunyi, aku tetap menemukanmu. Kau kira kau hebat? Kau kira kau hebat karena sudah memainkan perasaanku? Sekarang kau bahkan tidak ingat dirimu sendiri… Kau bahkan melupakan aku. Bagaimana bisa? Jawab aku! Bagaimana bisa?”

Dan keempat, bahkan bayangan orang yang ia rindukan dapat terlihat begitu nyata, baginya.

Ya! Im Yoon Ah.”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari keheningan. Yoona mengerjap beberapa kali sebelum menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas, tapi ia malah jatuh terduduk. Itu seorang pria, sepertinya, tapi ia tak mampu melihat dengan jelas.

Tapi, entah bagaimana, bayangan itu tidak terlihat begitu asing. Baju putih-putih dan bau obat, tidak asing baginya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Ia menatap pria itu lantas tersenyum,”Kai-ya,” jari-jari kurusnya di biarkan melayang, seakan menggesturkan lambaian tangan yang tak sempurna, “Annyeong~”

Dan pria itu tak lagi berbicara, justru membiarkan Yoona duduk, bersandar pada dinding, mengeluh panas dan berakhir dengan Yoona yang merenung, memikirkan sesuatu yang secara tiba-tiba membuatnya menghela nafas panjang.

“Kata Soo Jin, ayahnya yang meninggal tengah melihatnya sekarang. Tidakkah kau merasa ini lucu? Bagaimana bisa orang yang meninggal melihat orang yang masih hidup? Bagaimana bisa itu semua terjadi?” helaan nafas itu lagi-lagi terdengar.

Saat itu, lorong rumah sakit terasa sangat sepi, tidak ada orang lain selain mereka, tak ada suara mesin penghangat, tak ada suara binatang, tidak ada suara apa pun, hanya hening dan suara Yoona.

“Tapi… Soo Jin bilang itu bisa saja terjadi, dia bilang karena ayahnya sudah terlepas dari Alzheimer, maka ia tak akan lupa, jadi itu mungkin saja terjadi.”

Lalu kini ia berganti melihat pria itu, dengan sorot mata yang penuh dengan kesedihan, “Kai-ya, kau tidak akan seperti ayah Soo Jin, kan? Kau tidak akan meninggalkanku seperti yang dilakukan ayah Soo Jin, kan?”

Ia menggenggam erat kedua tangan pria itu dan dorongan untuk terisak terasa sangat kuat. Kata-kata Soo Jin seolah berdengung di dalam telinganya, segala pembicaraannya tentang Alzheimer, bahkan ucapan Taemin terselip di dalamnya, tentang kondisi Kai, tentang perdebatan mereka kemarin, bahwa tak ada yang berubah, meski ia telah berusaha. Segalanya bercampur menjadi satu.

Tiba-tiba benaknya memutar kenangan yang sempat dilaluinya bersama Kai, saat mereka tersenyum dalam diam, saat tertawa dalam keramaian, saat semua baik-baik saja di antara jari yang saling bertautan. Senyuman-senyuman yang kini hampir mengabur dan berubah menjadi rasa sakit yang seolah merasuki tulang-tulangnya. Ia tidak ingin menangis, tapi tak tahu cara menghentikannya.

“Kau tidak mungkin membiarkan aku sendirian dan hanya menatap dari kejauhan seperti yang dilakukan ayah Soo Jin sekarang. Aku benar, kan? Kai?”

Yoona menyandarkan kepala di dada pria itu dan mulai menangis―tangisan terkeras dan paling memilukan baginya, karena ia tahu rasa sakit yang ia alami tak akan menghilang begitu saja.

“Jangan mati―” terselip dari dengungan isakan kerasnya, dan “Jangan tinggalkan aku,” tergantung di ujung bibir ketika tidur membawanya pergi, dengan perlahan, tapi tak dapat menghentikan tetesan cairan melewati bagian bawah matanya.

—oooOoooOooo—

Keesokan harinya Yoona terbangun dengan mata bengkak, pening di kepala dan aroma alkohol menyeruak di mana-mana. Ia bertanya-tanya di mana ia berada, sebelum akhirnya tersadar berada di ruangan Taemin saat mendudukkan dirinya di atas ranjang.

Taemin masuk beberapa saat kemudian, memberi Yoona obat pereda pusing, dan bertanya tentang apa yang terjadi kemarin? Kemana Yoona seminggu ini?

Tapi sepertinya Yoona tak mendengar pertanyaan kedua, karena setelah itu ia beranjak dari ranjang dan berlari mencari Kai.

Sementara Taemin menatap dari belakang dan hanya tersenyum kaku.

Pada akhirnya Yoona tetap pergi, pada Kai.

—oooOoooOooo—

Kadang ketika Yoona menatap Kai dari balik pintu ruangan Taemin, ia tak yakin apakah sedang melihat orang lain atau orang sesungguhnya. Karena semakin dilihat, itu tak tampak seperti Kai, meski wajahnya persis. Orang itu tampak seperti Taemin, yang mirip dengan Kai tapi bukan Kai. Tidak ada penjelasan lain yang dapat diterima Yoona atas tindakan dan sikap Kai. Tidak ada alasan yang lebih masuk akal dari Alzheimer.

Dan Yoona memutuskan untuk membantu lebih jauh. Membantu Kai berperang melawan Alzheimer, karena baginya, Kai memerlukan teman untuk melawan, dan Yoona akan dengan sukarela membantunya.

Maka di suatu hari yang indah, Yoona datang ke rumah sakit, menuju ruangan Taemin, berbicara mengenai kunci apartemen dan kemungkinan Kai yang mengubah password-nya. Tentang ia yang ingin mencari tahu penyebab Kai seperti ini, tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada Kai dan Taemin menarik tangannya, berkata bahwa mereka harus pergi bersama.

Tapi Yoona telah mengambil kunci dari tangan Taemin, karena ia akan pergi sendiri, bahwa ini bukan mengenai pergi bersama, bukan tentang giliran Kai atau pun Taemin, untuk berperang. Karena sekarang ini giliran Yoona. Gilirannya menjaga rumah untuk Kai. Bahwa ia yakin harapannya yang setipis kapas pasti akan terwujud, karena ia percaya, Kai akan pulang.

—oooOoooOooo—

Yoona berkata pada dirinya bahwa ia tidak akan takut, bahwa ia tak ingin melarikan diri lagi, bahwa saat ia berdiri di depan pintu apartemen Kai, tidak ada lagi kesedihan yang akan jatuh bersamanya, tidak ada lagi tindakan penuh keraguan yang diselingi isakan putus asa.

Tapi kemudian ia sadar. Ia salah. Karena air mata telah mengaburkan pandangannya ketika ia memasukan ‘900530’  saat diminta password dan pintu itu terbuka bahkan sebelum ia benar-benar menggunakan kunci yang diberikan Taemin.

‘900530’, 30 Mei 1990; tanggal lahirnya.

Jemari kurusnya meraba-raba permukaan pintu saat ia mendorong dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca, kemudian yang dapat dilihatnya hanyalah gelap, seolah sinar di luar sana sama sekali tak dapat menjangkau tempat ini.

Tiba-tiba ia membayangkan dirinya berjalan seorang diri di tempat ini, persis setahun lalu yang pernah dilakukannya. Saat ia bersikeras mencari Kai lalu dicampakkan begitu saja, karena situasinya tampak sama, hanya saja saat ini, ia tahu Kai tidak akan ditemukan di sini.

Yoona berhasil mencapai saklar, dan kegelapan tak lagi terlihat, tapi nyatanya hal itu tak membuat semuanya membaik. Bagaikan dejavu, semuanya tampak sama. Ruangan berupa balok berdinding putih mengawali semuanya, yang terlihat beda hanya beberapa sarang laba-laba di tempat-tempat yang Yoona tak ingat pernah berada di sana. Tempatnya sama, tapi situasinya tidak.

Yoona ingat seprai itu tak terpasang dengan benar, buku-buku berserakan, barang-barang pecah, tapi kini ia juga melihat hal yang serupa, seolah memang semuanya tak pernah lagi tersentuh setelah hari itu.

Debu menempel di mana-mana dan ia menemukan gumpalan-gumpalan kertas dibiarkan berserakan di sana-sini. Kemudian ia beralih ke jendela yang tertutup, disibaknya kain yang menutupi jendela hingga debunya berterbangan dan Yoona harus menjauhkan diri sambil terbatuk-batuk.

Barulah setelah ia memutuskan untuk membersihkan apartemen Kai, ia menyadari bahwa gumpalan kertas itu bukanlah kertas yang utuh, tapi merupakan potongan-potongan kertas yang sengaja di gumpalkan.

Melihatnya lebih lama, tentu saja Yoona semakin merasa bingung dan penasaran. Jadi ia mengumpulkan dan membukanya satu persatu hingga beberapa tulisan di atasnya membuat ia membaca sekali lagi, berharap apa yang ia baca salah. Tapi harapannya tak akan terwujud karena kertas-kertas itu menuliskan hal yang sama.

JOIN US!

Open Casting for SPC TV Dancer Team

—oooOoooOooo—

Berdiri di belakang ruangan, Taemin mengumpulkan kata-kata yang terangkai dibenaknya dari apa yang ingin ia ketahui tentang Yoona, tapi ia sungguh tak dapat menemukan alasan yang bagus. Karena sesungguhnya ia menelpon bukan untuk apa-apa, hanya ingin mendengar suara Yoona, itu saja.

Ketika Taemin menginggiti bibirnya dan mulai menjauhkan ponsel dari telinga, ia hampir-hampir menjatuhkan ponsel, terkecuali ia tak terkejut ketika mendengar suara Yoona. Suara yang terdengar sendu dan kesepian, seolah-olah ia baru saja menangis, “Taemin-ah.”

Ia menjawab, “Ada apa?” dan semuanya bertambah serius setelah Yoona terisak pelan, karena Taemin merasakan sensasi kekosongan yang aneh. Seperti sesuatu dalam dirinya pecah perlahan dan diam-diam tak dapat dibenarkan.

“Kau tak apa?” Taemin bertanya setelah Yoona lebih tenang dan gadis itu hanya menjawab, “Ya, aku baik-baik saja.”

Kemudian Taemin berkata bahwa ia akan menemuinya, tapi lagi-lagi gadis itu menolak, karena ia yang akan datang ke sana dan mengklarifikasi semuanya, menceritakan segala sesuatu yang mungkin diketahuinya.

Setelah ia memutuskan sambungan, Taemin sedang mengamati kasur Kai yang berubah menjadi tarikan napas, karena ia tahu semuanya akan bertambah rumit sekarang.

—oooOoooOooo—

Yoona tak bergitu paham bagaimana bisa ia dengan mantap berjalan di lorong rumah sakit atau mengapa lututnya otomatis terasa lemas ketika melihat ruangan Taemin. Dan lagi, ia tak mengerti ketika  ia menyerahkan kertas-kertas kepada Taemin dan lelaki itu hanya menatap bingung. Karena ia memang tak tahu apa-apa.

Sementara Taemin mengamati sesuatu tentang kertas-kertas tak rapi yang diberikan Yoona dengan keingintahuan yang membuatnya sulit bernapas. Karena ia pun tak mengerti.

“Ini apa?”

“Kapan?”

“Apa yang kapan?”

“Tentang Kai, yang seperti ini.”

Bahu Taemin melorot dan ia hampir menjatuhkan kertas-kertas yang tadinya diberikan Yoona. Ia menarik napas panjang beberapa saat sebelum menjawab, dengan suara pelan, “Kecelakaan, ditabrak lari, Kai―”

“Kapan? Pastinya.” Ia berpegangan pada Taemin, namun lebih terasa seperti mencengkram, dengan erat. Dan Taemin mulai mengamati sesuatu yang membasahi mata merah Yoona ketika gadis itu berkata, “Bukan setahun yang lalu, kan?” yang diselingi tawa, suaranya kering.

Tapi Yoona malah menemukan Taemin dengan pupil mata besar yang melebar dan segala harapannya runtuh saat perlahan perkataan itu terucap, “Bagaimana kau bisa tahu?” pertahanan yang sedari tadi dibangunnya menjadi tidak berarti.

Ia berpegangan pada Taemin dan masih tak bisa berdiri dengan benar, sementara Taemin menjatuhkan kertas-kertas yang tadi diberikan Yoona dan memunggutnya. Setelah itu, ia terkejut untuk kedua kalinya dengan rahang yang mengayun terbuka. Karena ia membaca ulang kertas itu dan menemukan tagihan-tagihan atas nama Kim Jong In selama setahun penuh, foto Kai dengan seoarang pria paruh baya, yang belakangnya tertulis, ‘Ayah, Alzheimer.’

Tapi yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa ia juga menemukan sebuah laporan hasil pemeriksaan yang menyatakan ‘Kim Jongin positif mengidap Alzheimer,bahkan lebih lama dari yang ia tahu.

—oooOoooOooo—

“Jadi,” Taemin yang menggenggam cangkir berisi kopi hangat, berbicara lebih dulu. “Kau benar-benar tidak tahu tentang hal ini?” Suara mesin motor dan percakapan manusia terdengar seakan saling berbisik saat mereka berdiri menghadap jendela yang dibiarkan terbuka.

Yoona tak melakukan hal lain, selain mengamati aneka warna yang bermunculan di balik udara tipis malam Seoul, menduga-duga seberapa banyak mobil yang berlalu lalang. Tapi tak juga mampu membiarkan ia bernapas tanpa sesekali menarik napas dan menghembuskan dengan kuat hingga awan putih mengepul di atasnya.

“Hei―”

“Setahun yang lalu,” benaknya memutar kejadian setahun yang lalu, ketika ia menemukan Kai sedang meringkuk di pojok kamar mandi dengan badan yang basah kuyup. Saat ia menyangka Kai mencampakkannya, saat ia belum tahu apa yang terjadi. Saat ia berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, namun kenyataannya tidak.

“Saat itu, Kai bertanya, ‘Siapa kau?’ dan kau tahu aku menjawab apa?” ia tertawa kecil dan melanjutkan bahkan sebelum Taemin sempat merespon. “Kubilang padanya, ‘Kai-ya, ini aku Im Yoon Ah’.” Ia berbalik menatap Taemin, “Kau tahu apa yang terlucu? Kai bertanya, ‘Im Yoon Ah, siapa?’ bahkan ketika aku bilang bahwa aku Im Yoon Ah, dia masih bertanya siapa itu Im Yoon Ah. Bahkan ketika aku berdiri di depannya, seperti itu.”

“Jadi maksudku, berapa lama ia menjalani hal ini sendirian? Berapa lama ia harus terus menyebutkan namaku agar tak lupa? Seberapa sering ia berkata pada dirinya bahwa ia harus mengingat apa pun dan tak akan melupakannya? Seberapa sering ia terjebak di luar rumah karena lupa membawa kunci? Seberapa sering ia melupakan password-nya? Berapa kali ia telah lupa dan mencoba mengingatnya lagi, supaya aku tidak sadar. Berapa banyak―”

Tiba-tiba Yoona merasa seseorang menepuk bahunya pelan hingga ia berbalik dan menemukan Kai sedang menatapnya, namun wajahnya datar. Sama sekali tak ada ekspresi. Berikutnya, Yoona tahu bahwa air mata akan kembali jatuh dan tak lagi tertahan, karena seberapa kuat ia menahannya, ia tahu takkan mampu, karena rasa sakit yang ia alami tak akan menghilang, meski hari ini berlalu.

Yoona menggenggam erat tangan Kai, berhati-hati agar Kai tak lagi pergi darinya. Dan Kai malah memilih untuk melepaskan pegangan Yoona dan memutuskan menggunakan sebelah tangannya untuk menghapus tetesan cairan itu dari wajah Yoona, seolah sedang menghapus rasa sakit.

Dan Yoona menggenggam pergelangan tangan Kai, merendahkan suaranya hingga tak lebih dari bisikan halus, “Seberapa sering kau melupakan ulang tahunku hingga harus memanjat ke balkon agar aku tidak merasa sedih? Seberapa sering kau lupa, bahwa kau mencintaiku?”

—oooOoooOooo—

“Kau bilang tabrak lari, kan?”

Taemin tengah meminum kopi saat Yoona bertanya dengan tatapan mendesak dan Kai duduk di sebelah, ikut menatap meski tak mengerti apa yang sedang terjadi. Karena setelah itu, ia tersenyum pada Yoona dan Yoona akan mengangkat jempolnya sedangkan Kai hanya terkekeh. Taemin tak mengerti apa yang lucu dan ia tak mengerti kenapa Yoona ikut tertawa dengan Kai, padahal tadi ia masih menatapnya dan mendesak agar ia menjawab dengan cepat, tapi tidak dengan kali ini.

“Jadi?”

“Apa?”

“Kecelakaannya.”

“Ku kira itu tak penting lagi untukmu.”

Yoona terdiam, tak ada lagi canda, tak ada lagi tawa meski kini Kai lagi-lagi tersenyum. Hanya diam dan tatapan tak mengerti, “Apa yang kau bicarakan?”

Taemin tak langsung menjawab, justru berpegang pada cangkir kopi, seakan menimbang. Dan ketika ia memutuskan, ia bertopang pada dada, membiarkan Yoona menunggu sesaat, “Yah, apalagi. Bukankah sekarang ini tak penting lagi? Toh, Kai sudah ada di sampingmu sekarang.”

“Apanya yang tak penting?” Yoona mendengus, ia sungguh tak mengerti apa yang sedang Taemin coba sampaikan, bahkan ketika benaknya memutar hal itu berkali-kali, ia sungguh tak percaya, “Lee Taemin, kau benar-benar… baiklah, maaf jika aku menyusahkanmu selama ini. Mungkin aku memang selalu mengganggumu. Maaf jika kau berpikir demikian. Awalnya kupikir kau akan membantu jika aku meminta, karena―hei, bukankah Kai ini temanmu. Bukankah kau bilang ingin membantunya? Bukankah kau dokternya? Tapi… Aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk terakhir kalinya. Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Jika kau memang keberatan, jika kau memang tidak ingin membantu, setidaknya jangan mengatakan hal-hal tak berguna seperti itu. Tidak penting? Heol~ Kau benar-benar keterlaluan.”

Ada perasaan bersalah yang bersarang di hati Taemin, perasaan yang mengatakan bahwa ia tidak seharusnya berkata seperti itu, bahwa mungkin ia terlalu berlebihan dan kata, “Maaf,” akhirnya keluar dari mulutnya saat Yoona telah mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Maaf, aku tidak seharusnya―”

“Lupakan.”

Dan ketika Yoona beranjak, menutup pintu dengan sentakan keras, tidak terdengar apa-apa kecuali tarikan napas berat dan Kai yang menepuk meja dengan panik.

Tapi Taemin tak melakukan hal lain seperti yang biasa―mungkin―akan dilakukannya, seperti mengejar Yoona, agar gadis itu tak lagi marah, agar ia tak merasa bersalah. Karena ia pun sadar, harapan Yoona yang setipis kapas masih lebih besar dari harapannya, apa pun itu.

—oooOoooOooo—

Gradasi biru perlahan menghilang, kemudian terbiaskan menjadi hamparan pasir hitam; seolah berada di padang pasir dengan kerlip yang bermunculan di setiap titik-titik kecil.

Yoona diam-diam percaya, bahwa kerlip-kerlip itu merupakan bagian dari sebuah harapan. Harapan yang terlihat kecil namun ternyata besar. Karena saat itu, Yoona tengah berperang melawan dinginnya malam, kemudian rasa kantuk, memutuskan untuk bergerak maju menghapus rasa penasaran, dan laptopnya akan berisi kumpulan berita mengenai kecelakaan setahun yang lalu.

Ia bertekad, meski tanpa bantuan Taemin, kali ini ia tak akan menyerah. Ia akan mengandalkan dirinya sendiri, mencari tahu kebenaran dari semua kepalsuan yang selama ini ia percaya. Karena kali ini ia tak mau lagi terjatuh, tak mau lagi runtuh, tak mau lagi kesedihan menyapanya di tengah malam.

Mungkin ini akan sulit, mungkin ia tak dapat menyangkal bahwa rasa sakit itu tetap sama. Karena ia akan menggantungkan harapan di ujung-ujung tiap tulisan yang ia tulis, tiap tulisan yang ia baca. Sehingga, ia dapat menarik kembali Kai yang selalu bersembunyi di balik senyum dewasa, Kai yang tertawa dengan kerutan di wajah, Kai yang suka menggunakan topi baseball, Kai yang suka menari, Kai yang seperti ini, Kai yang seperti itu. Jadi ia tak akan merasa asing, tak akan meragukan Kai, apa pun alasannya.

Namun artikel di halaman terakhir adalah suatu kesalahan. Dan walaupun Yoona tak membaca detil-detilnya, terkadang gambar dapat menjelaskan kesedihan dan kesakitan lebih daripada kata mana pun. Gambar yang jelas-jelas menunjukkan lokasi kecelakaan, dan itu persis di depan gedung apartemen Kai.

Tiba-tiba ia mengingat apartemen Kai yang terlihat persis seperti setahun yang lalu. Seprai yang terlepas, barang-barang pecah, buku yang berserakan. Mungkin Kai memang tak pernah mengatur benda-bendanya lagi setelah hari itu. Mungkin ia memang tak berada di apartemen itu lagi.

Semuanya tampak lebih jelas saat Yoona mengambil kertas yang ia temukan di apartemen Kai, tentang tagihan selama setahun, Alzheimer-nya, kecelakaan setahun yang lalu, tentang apartemen yang persis sama dan mencoba merangkainya menjadi satu.

Kemudian ia membayangkan bagaimana Kai yang mengusirnya berubah menjadi panik setelah mengingat semuanya, bagaimana Kai keluar dari apartemennya, menuruni tangga terburu-buru, berlari dari pintu depan untuk mengejarnya dan berakhir di tabrak dari samping. Bagaimana Kai yang terhempas di badan jalan, menatap langit, diam-diam berharap waktu berputar kembali.

Dan Yoona menemukan dirinya bernapas dengan napas yang pendek, tetes-tetes cairan asin mulai mengalir di wajahnya, menghilangkan seluruh pertahanan dirinya; ia kembali jatuh, rasanya seperti hancur menjadi ribuan keping dan tak dapat diperbaiki lagi. Ia tak paham mengapa membayangkan semua itu membuat ia merasa bersalah, merasa semuanya tak benar; atau mengapa ia harus terisak begitu keras seolah hari esok tak akan pernah tiba. Mengapa hatinya begitu sakit.

Mungkin setelah itu tangannya akan bergerak menutup mulut, mungkin ia akan menggelengkan kepalanya, mungkin ia akan menangis semalaman, mungkin ia akan menyesali hal ini di hari-hari ke depan.

Tapi setidaknya ia tak akan tertinggal, tak akan terus hidup dalam hal yang tak bisa ia yakini. Setidaknya, setelah ia benar-benar jatuh, ia tahu kebenarannya.

Bahwa Kai tak pernah meninggalkannya.

—oooOoooOooo—

Hujan pertama di awal musim semi. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh, tak jarang ada anak kecil yang justru bermain-main dengan hujan. Namun berbeda dengan Yoona, ia tidak sedang bermain dengan hujan, juga tidak sedang mencoba mencari tempat berteduh, hanya saja,

Eoh, Yuri-ah… Aku? Aku sedang di luar. Kenapa? … Ah, sebentar lagi sampai di rumah, lagipula aku memakai payung. Kau tenang saja.”

Kakinya berhenti tepat di dekat lampu penerang. Hujan masih turun dengan berombongan, membiarkan Yoona kedinginan di luar rumah. Tapi disorot dengan lampu seperti ini, butiran hujan jadi terlihat seperti salju sehingga tanpa sengaja membuat Yoona tersenyum. Indah, hanya itu yang dapat diungkapkan Yoona saat ini.

Tapi,

“Siapa? Tae-taemin? … Ah, Taemin-ssi.” Tiba-tiba ia berbicara dengan suara yang kecil dan wajahnya tak lagi tersenyum, seolah Yoona beberapa menit yang lalu tidak pernah ada, dan senyuman itu hanya ilusi belaka. Tapi tetap saja respon Yoona membuat Yuri semakin bingung.

“Kenapa―ah! Jangan-jangan, kau benar-benar bertengkar dengan Taemin? Kenapa? Kenapa bisa bertengkar?”

“Tidak ada apa-apa.”

Seoul pukul sebelas malam bukanlah Seoul yang mati, tapi Seoul yang dipenuhi jejakan air hujan dan gerakan cepat dari orang yang berlari. Yoona berusaha tak terlihat mencurigakan saat Yuri semakin banyak bertanya tentang hubungannya dengan Taemin yang sepertinya buruk.

Bicara tentang Taemin, tiba-tiba saja, benaknya memutar kejadian beberapa hari yang lalu saat ia berdebat dengan Taemin tentang kecelakaan Kai dan sampai sekarang ia belum menghubungi Taemin, begitu pula sebaliknya.

Kini, hubungan mereka dapat dilukiskan sebagai dua jiwa egois yang terlalu sombong untuk mengalah, karena mereka sama-sama memegang erat keyakinan, dan tak ada lagi senyum naïf yang dapat menjatuhkan keangkuhannya.

Tapi mereka sama-sama sadar bahwa ini tidak benar, bahwa keangkuhan tak pernah baik, karena kesombongan dan keangkuhan hanya akan memakan mereka ketika waktunya tiba. Jadi, salah satu dari mereka memutuskan untuk mengalah, kemudian mencoba menghubungi orang satunya lagi, agar mereka berdamai lebih cepat.

Tapi terkadang, ‘cepat’ tak dapat diukur dari seberapa banyak waktu yang dibuang tanpa arti, ‘cepat’ terkadang merupakan definisi lain dari saat hatinya mantap untuk mengaku salah, karena ia pun sadar, egois merupakan sifat dasar manusia yang sulit dipisahkan. Sehingga ia masih menunggu agar ia benar-benar siap.

Dan ketika Yoona telah sampai di dekat rumah, siluet yang tak asing menyapanya dalam kegelapan. Maka Yoona memutuskan sambungan ketika Yuri masih berbicara dan berjalan maju, sehingga ia dapat dengan jelas mengetahui sosok siluet itu.

Namun yang didapati Yoona adalah gabungan bibir pucat dan mata bengkak, gemetaran dalam balutan baju rumah sakit tipis yang basah. Dan gambaran betapa laki-laki itu terlihat rapuh menyakiti hatinya. Ia ingin mendekat dengan cepat, ingin memeluknya agar laki-laki itu tak gemetaran. Tapi seluruh anggota badannya seakan tak mau mengerti, bukannya berjalan dengan cepat, langkahnya malah tertatih-tatih, seakan-akan tanah di depannya penuh akan jarum hingga ia harus berhati-hati agar tak terinjak.

Bahkan ketika tepat di depan sosok itu, bukan pelukan yang diberikannya, ia benar-benar tak melakukan apa pun, justru membiarkan hatinya semakin terluka.

Tak ada apa-apa selain suara percikan hujan yang terjatuh di tanah dan mengenai payungnya, ketika Yoona menggenggam pergelangan tangannya. Ia tak berpikir tentang memberikan segelas coklat hangat atau setidaknya membiarkan laki-laki itu menetap untuk sebentar. Faktanya, ia bahkan tak mengerti ketika berkata, “Kai-ya, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa ke tempat ini sendirian? Di mana Taemin?”

Dan berikutnya tak ada yang bersuara. Saat itu, situasi hanya dipenuhi dengan suara gemercik air yang mengenai tanah hingga baunya tercium ke mana-mana. Dinginnya udara bahkan tak membiarkan mereka berpikir untuk segera masuk ke dalam dan ditemani mesin penghangat, bahkan itu sama sekali tak terlintas dipikiran Yoona.

Tapi tampaknya Kai menyelamatkan suasana dari keheningan saat ia mengedipkan matanya dengan wajah yang penuh air hujan, “Jangan biarkan aku pergi.”

 Keheningan akhirnya pergi, karena setelah itu Yoona akan memohon dengan Kai, agar ia kembali ke rumah sakit, bahwa ia tak boleh di sini. Karena ia masih sakit dan harus di rawat. Dan Kai sama sekali tidak berbuat apa-apa―justru membiarkan rintik hujan membasahi tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Yoona masih bersikeras dengan tindakannya. Payung yang tadi sempat digunakannya kini berganti untuk melindungi Kai. Ingin rasanya ia menarik Kai agar kembali ke rumah sakit. Tapi menarik Kai bukanlah perkara mudah, apalagi jika Kai tetap mengotot untuk menetap. Dan akhirnya ia yang harus sedikit mengalah meski kini tubuhnya harus berperang melawan dinginnya malam.

“Kai-ya­…

“Aku…” bibir yang sedikit bergetar itu mulai bergerak, matanya juga. Sekilas Yoona melihat tumpahan hujan yang menyertai wajah Kai terlihat aneh, tapi ia tak mengerti; yang dapat ia mengerti hanya betapa pucat bibir itu seakan menusuk tubuhnya berkali-kali, seolah tak membiarkan ia bernafas lega, ia ingin hal ini cepat berakhir, ia berharap Kai mengikuti keinginannya sehingga ia bisa bernafas lebih lega, sehingga ia tak perlu melihat bibir pucat itu terus menerus, tapi…

“Aku sudah menunggu terlalu lama, dan mungkin semua ini sudah terlambat.”

Tak ada lagi yang dapat dilakukan Yoona, terkecuali diam dan menyaksikan bagaimana tangan Kai bergerak perlahan menyentuh wajahnya, mengusap lembut hingga kedinginan tangan Kai perlahan menyusup ke dalam dirinya.

Hingga diam-diam ia bertanya, seberapa lama Kai menunggu di tengah hujan hingga tangannya sebegitu dingin. Seberapa lama ia berdiri di sini, tanpa melakukan apa pun.

Wajah yang terkadang dihiasi ekspresi kosong atau cengiran bodoh lantas menghilang. Kini hanya tersisa tatapan penuh penyesalan, sentuhan lembut seakan takut menyakiti, kata-kata yang sungguh tak dimengerti Yoona. Dan tiba-tiba,

“Bagaimana aku bisa pergi jika aku sangat merindukanmu, seperti ini?”

Genggaman pada payung mengendor hingga angin berhasil menerbangkannya saat perlahan Kai melingkarkan tangan di lehernya dan menariknya dalam sebuah dekapan. Saat itu, Yoona tidak yakin apakah dunianya jatuh dan berhenti berputar atau ia yang jatuh dan terus bermimpi.

Suara Kai terdengar sendu dan kesepian ketika ia bergumam di rambut Yoona, “Maaf. Maafkan aku.”

Yoona membiarkan Kai mengambil nafas pendek di sebelahnya dan menyadari bahwa ia sedang menangis. Hujan turun lebih lebat. Tetes-tetesnya membasahi mereka.

to be continue…

p.s maaf lama hehe :p

12 thoughts on “Confused |Chapter 7|

  1. yaampun thor…
    sumpah aku nunggu ff ini lama banget sampe lumutan. yaampun…
    sumapah demi suami aku-sehun oppa-ff kamu bagus banget…
    aku baca dari awal gak pernah bosen. sumpah deh… kamu dapet ide dari mana sih
    hehe… soalnya aku baru jadi author
    aku bingung kenapa yg komen diff kamu dikit banget. padahal ff kamu bangus banget. suerr deh gak boong
    coba kamu posting di yoongexo
    aku yakin, bejibun yg komen
    kapan ff selanjutnya dipost?
    udah gak sabar
    next~

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s