Our Power In Club (Chapter 2)

Gambar

 

Tittle            : Our Power In Club (Chapter 2)

Author         : Khaerisma

Length         : Chaptered

Genre          : romance, school life, family, sad, fantasy, Happy

Rating          : General

Main Cast    :

–        Nam Jisoo                (OC)

–        Nam Jiyoo               (OC)

–        Nam Baekhee          (OC)

–        Byun Baekhyun

–       and member EXO

 Poster by KaGe

Please to comen after/before reading this fanfiction

 

List:  Chapter –1

 

-Happy Reading-

“bukan begitu Soo-ya. tapi…” kata Baekhee diputus olehku yang telah mengeluarkan bendungan air mata dikelopak mataku. Aku berkata, “Eonnie jahat.” Dan pergi menuju kelasnya membawa bendungan air mata ini.

 

Chapter 2

 

Jiyoo pov

 

“gomawo Eonnie.” Kataku tersenyum kemenangan.

 

“ne. sekarang, kembalilah kekelasmu. pelajaran akan segera dimulai.” Perintah Baekhee padaku.

 

“ne.” Aku menuju kelas dengan bangga atas kemenanganku tadi *alay*. Kulihat begitu sampai di kelasku, aku melihat Jisoo yang meletakkan kepalanya kedalam tekukan kedua tangannya diatas meja.

 

(saat pelajaran)

 

Jisoo pov

 

“benarkan, apa kataku. kau malah tidak mau menuruti bicaraku.” Kata Jiyoo ditengah pelajaran berlangsung. Aku tidak mempedulikannya. Tapi, lama kelamaan Jiyoo mulai usil menyenggolku dengan sikkunya supaya segera memberikan respon bicaraku padanya.

“ya! kamu jangan menggangguku. aku sedang konsentrasi.” Bentakku padanya yang ditanggapinya dengan berhenti mengusiliku.

 

setelah pelajaran selesai

 

“Jisoo, aku pulang duluan ya.” Kata Baekhee berpamitan padaku. Sepertinya eonnie tidak tega melihatku sendirian. Namun, mau bagaimana lagi. Eonnie sudah menetapkan hatinya pada Jiyoo.

 

“ya! aku akan menelpon eomma.” Ucapku menyakinkannya untuk segera meninggalkanku dengan smileku yang khas.

 

“hati-hati Soo-ya.” Kata Baekhee pergi meninggalkanku. Aku menghapus smile khasku yang aku buat-buat tadi dan digantikannya rasa cemberut.

 

“halo Eomma, apa Eomma bisa?” aku menelpon eomma.

 

” mian Soo-ya, sebenarnya eomma bisa menjemputmu hari ini, tapi, sekarang eomma ada rapat mendadak dan tidak boleh ditinggalkan.” kata Eomma.

 

“oh. tuut tuut tuut.” Terputus. Lalu aku menelpon Appa.

 

“Appa hari ini bisa?” aku bertanya pada appa lewat telepon.

 

“mian. appa sekarang sedang rapat. Kemungkinan akan selesai lama. memboncenglah dulu dengan temanmu. Seperti kemarin.” Kata appa.

 

“tapi appa….. tuut.. tuut.. tuut” terputus oleh jaringan.

 

‘bagaimana ini? coba saja kalau oppa tidak sekolah khusus menyanyi itu dan sekolah bersamaku di Gwangju High School ini, pasti aku tidak akan terdampar seperti ini. Apa aku akan menangis sekencang-kencangnya? Seperti babo saja.’Batinku.

 

Jisoo menatap kosong pada jalanan yang lengang. Angin bertiup dengan ragu, yang tampak bergerak hanya sinar mentari senja yang menelisik di antara pepohonan. Selain itu hanya terdengar suara mengetuk-ngetuk, yang tak lain berasal dari jari telunjuk Jisoo yang mengetuk kursi kayu itu. Sunyi, sepi sampai mata Jisoo menangkap sosok Sehun melintas dengan sepedanya.

 

‘kebetulan sekali ada Sehun. Apa aku akan memboncengnya lagi? tapi… tidak-tidak, jika tidak bersamanya, lalu dengan siapa lagi… lebih baik aku memboncengnya dan bersikap seperti biasa’ batin Jisoo dengan keputusannya yang telah bulat seperti bakpao.

 

“untung saja kau belum pulang. Maukah kau mengantarku pulang? hari ini appa dan eommaku benar-benar sangat sibuk.” Kataku pada Sehun.

 

“ya, tadi karena ada urusan sebentar dikelas. Apa katamu? Aku mengantarkanmu pulang? Enak saja.” Kata Sehun dengan gaya bicaranya yang khas seperti orang pemarah. Reaksi ini membuat aku semakin berani menghadapi Sehun dan membuat rasa maluku ini musnah dari dalam diriku.

 

“ayolah. Ini untuk yang terakhir kalinya saja kok. Bisa ya? Jika kau tak mau aku akan tetap memaksamu.” Kataku meyakinkannya.

 

“sekali tidak tetap tidak!” kata Sehun.

 

“mau ya?”

 

“TIDAK.”

 

“mau?”

 

“TIDAK.”

 

“mau?”

 

“TIDAK.”

 

“mau?”

 

“TIDAK.”

 

“mau?”

 

“TIDAK.”Ucapnya dari mulutnya yang terus menerus hanya menjawab tidak. Jika aku melanjutkan pembicaraan ini, akan semakin rumit nantinya. Dengan berat hati aku berkata, “ya sudah. Aku mau jalan kaki saja. Bye…”

 

Author pov

 

“apa kamu serius mau jalan kaki Soo?” kata Sehun yang dari tadi hanya berlagak sok cool sekarang menjadi khawatir dengan Jisoo.

 

“ya, aku serius.” Kata Jisoo terus melangkahkan kakinya kedepan menuju rumahnya yang jauh.

 

Jisoo melangkahkan kakinya dengan hawa kecewa dan sedih yang bercampur aduk. Sehun tetap saja diam ditempat melihat yeoja nekat itu. Ya, kenapa nekat? Karena rumahnya saja lebih dari 5 km. Mana mungkin kuat berjalan kaki pulang kerumahnya itu.

.

.

.

.

.

 

Beberapa meter terlewatkan dengan Sehun yang masih saja berdiam ditempat dengan sepedanya, Jisoo juga tetap terus saja melangkahkan kakinya kedepan dengan kepala kebawah dan genangan air mata yang telah menggenang di kelopak matanya dan siap ditumpahkannya. Tidak mau menunggu ditempat terlalu lama, Sehun mulai mendekati Jisoo dan mengajaknya bicara.

 

“hey, maafkan aku. Kukira tadi kau tidak akan nekat memenuhi perkataanmu tadi. Mau membonceng?” kata Sehun. Jisoo hanya geleng-geleng dengan kepala yang masih menghadap kebawah dan terus berjalan.

 

“ayolah. Kau tadi yang memintanya kan?” kata Sehun. Anehnya, Jisoo tetap saja tak mempedulikan Sehun yang berada disampingnya dengan sepedanya itu. Melihat kelakuan Jisoo, Sehun mendongakkan kepala Jisoo yang telah terbalut emosi dan berkata “KAU…” kata-katanya tidak jadi dilontarkannya karena ternyata Jisoo menangis dan membuat Sehun semakin kasihan padanya.

 

Akhirnya, Sehun melangkahkan sepedanya menyalip Jisoo *meninggalkannya*untuk memarkirkan sepedanya dan lekas mendekati Jisoo lalu dibopongnya Jisoo dengan berbagai tolakan darinya. Sehun mendudukkan Yeoja itu di bagian sedel sepedanya dan Sehun duduk di belakangnya yang terdapat boncengan itu dan mulai mengayuh sepedanya membawa Jisoo pulang kerumah bersamanya.

 

Dilihatnya Jisoo dari belakang oleh Sehun yang tetap mengawasi jalan sepedanya. ‘sepertinya keadaanya sudah mendingan.’ Ucapnya dalam hati.

 

Berpuluh-puluh menit kemudian, tak terasa ada perbincangan dari mereka berdua. Hingga kemudian Sehun yang memulai bicara, “hey Soo. Apa aku boleh bertanya?” tanpa ada jawaban darinya.

 

“apa aku boleh bertanya?” kata Sehun mengeraskan suaranya.

 

“ne.” Kata Jisoo dengan suara yang masih terlihat sehabis menangis.

 

“apa kau mau menjadi yeojachinguku?” kata Sehun. Sontak membuat Jisoo kaget dengan perkataan Sehun itu.

 

“ap-apa?” kata Jisoo kaget dan terlupa dari kesedihannya.

 

“sepertinya kita mempunyai perasaan yang sama. jujur, aku juga menyukaimu” kata Sehun

 

“ta-tapi… walaupun kau menyukaiku, apa kau tahu apakah aku juga menyukaimu atau tidak? Jangan GR dulu kamu. Buktinya aja kamu tidak tau.” Kata Jisoo

 

“ya, aku punya buktinya. Buktinya dulu kau mengatakannya sendiri kalau kau juga menyukaiku.” Kata Sehun

 

Jisoo pov

 

Rupanya dia masih ingat kejadian memalukan waktu itu. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berbuat alasan lagi jika dia sudah mengetahuinya. Diriku telah ditelajangi didepan umum.

 

“baiklah. Tapi ada syaratnya.” Kataku setelah kupikirkan.

 

“Apa syaratnya? Aku akan memenuhi apapun itu.” Kata Sehun

 

“mudah saja. Karena aku mungkin tidak diperbolehkan appaku mempunyai namjachingu. Kau harus merahasiakannya dari siapapun. Apalagi keluargaku.” Kataku

 

“hanya itu saja? Itu mudah. Jika kau mau menjadi yeojachinguku, maka mengangguklah sekarang.” Kata Sehun. Namun Jisoo hanya terdiam

 

“hey, mengangguk atau geleng-geleng?” tanya Sehun

 

“aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku harus memikirkannya terlebih dahulu” kataku

 

“tentu. Kuberi kau waktu sampai besuk. Kita bertemu di perpustakaan, ne?” kata Sehun tersenyum lebar

 

“ne.”

 

akhirnya pun sampai rumah Jisoo

 

“gomawo oppa” Jisoo

 

(dalam rumah Jisoo)

 

“Yoo-ah, kamu dimana? Aku mencarimu. Ada yang ingin aku pertanyakan.” Panggilku pada Jiyoo.

 

“aku di dalam kamar Soo-ya. Mau tanya apa?” teriak Jiyoo meninggikan suaranya.

 

“apa yoo-ah punya namjachingu?” tanyaku pada Jiyoo. Saat aku membuka pintu kamarku yang indah ini, aku melihat Jiyoo sedang bermain game di kasur. Aku tahu game apa yang dia mainkan. Seperti biasa, game olahraga.

 

“eh. kenapa kau tanya seperti itu?” tanya Jiyoo yang sempat terkejut

 

“aku… aku hanya ingin tahu alasan sebenarnya kenapa hanya aku yang tidak diperbolehkan mempunyai namjachingu”

 

“oh, begitu? Sepertinya, aku tahu penyebabnya.” kata Jiyoo

 

“apa? beritahu aku.”

 

“alasan pertama. itu karena kau anak manja yang begitu disayang oleh eomma dan Appa. kedua, karena kau itu…… berbeda.” Kata Jiyoo

 

“berbeda? berbeda apanya? Tidak ada yang berbeda. Kita juga berwujud seperti ini, kita lahir juga hanya selisih beberapa detik saja. Apa yang berbeda?” tanyaku kebingungan.

 

“sifatmu itu. walaupun kau sudah kelas X, sifatmu masih saja seperti anak kecil, manja lagi. yang appa takutkan jika kau merasa tersiksa karena namjachingu. kehilangan oppa saja sudah histerisnya minta ampun waktu itu.” kata Jiyoo

 

“ish. appa dan Eomma tidak adil!!! lagi pula, jauh berbeda  jika kehilangan oppa dibandingkan dengan kehilangan namjachingu”

 

Flashback

 

“oppa, jangan pergi. Nanti aku bagaimana? Hiks hiks.” Suara tangisan Jisoo sambil berbicara pada oppanya.

 

“jangan seperti itu Soo-ya. Oppamu ini ingin mewujudkan cita-citannya. Jangan kau tangisi seperti ini terus, kasihan oppa.” Tegur eomma.

 

“tapi eomma. Jisoo ingin bersama oppa selamanya. Kalau perlu Jisoo ingin pindah sekolah agar tetap bersama oppa.”

 

“Soo-ya. Eomma benar. Jangan seperti ini terus. Oppa akan segera pulang kok.” Hibur Oppa

 

“kapan? 3 tahun lagi? Aku tidak bisa ditinggal oppa selama itu. Hiks… oppa… jangan tinggalkan aku.”

 

“oppa akan sering-sering menjengukmu Soo-ya. Jangan khawatir.”

 

“oppa… hiks… aku akan pindah bersama oppa saja.”

 

“jangan Soo-ya. Kau harus tetap sekolah di sini. Belajarlah yang rajin.” Kata oppa. “pesawat menuju Tokyo akan segera berangkat. Dimohon penumpang untuk masuk kedalam pesawat.” Suara bandara yang bersuara

 

“dah… oppa mau pergi dulu, ne. Baik-baik ya Soo-ya. Jaga kesehatanmu.” Kata oppa sambil melambaikan tangan kearah kami (appa, eomma, Jiyoo, Jisoo, Baekhee). Melihat oppa akan pergi naik pesawat itu, Jisoo menangis histeris yang ingin mengikuti oppanya namun dicegah oleh semuanya dengan mengikatnya dengan tangan mereka.

 

“OPPA. JANGAN TINGGALKAN AKU… Hiks hiks.” Teriak jisoo memanggil oppanya. Namun apa dayanya dengan ikatan ditubuhnya, Jisoo tetap saja tidak bisa menyusul oppanya.

 

Selama 7 hari 7 malam jisoo tetap saja mengurung diri dikamarnya. Tidak mau sekolah, ataupun keluar kamarnya saja tidak mau. Diseret sama jiyoo ataupun eonninya saja jisoo tetap saja kembali ke kamarnya. Biarpun setelah diseret terus dikunci kamarnya, jisoo akan pindah ke kamar eonnienya. *ada-ada saja Jisoo ini*

 

Flashback end

 

“terserah kau saja. oh iya. aku hampir melupakannya, Soo-ya, ayo kerjakan PR kita sama-sama?” ajak Jiyoo

 

“tidak. aku tahu, kau hanya ingin mencontek milikku. aku tidak mau.”

 

“mwo? kau… berbaikhatilah pada kembaranmu ini!” Jiyoo menyenggol pundak Jisoo hingga Jisoo terjatuh. Jisoo cemberut

 

“kenapa? apa kau akan menangis dan melaporkannya pada eomma dan Appa?” kata Jiyoo melihat wajah Jisoo yang cemberut.

 

Mendengar sindiran itu, aku mulai mengeluarkan air mataku dan langsung menyeret Jiyoo keluar kamar dan menguncinya.

 

Author pov

“hey… kau mau tidur sendiri? biasanya kau takut. buka pintunya Soo~ya. jika tidak, aku tidak akan tidur denganmu malam ini. jika oppa tidak akan pernah pulang bagaimana?” kata Jiyoo sambil mengetok pintu kamar.

.

.

.

.

.

.

.

tidak ada jawaban

 

“oh begitu ya. baiklah, selamat malam.” Jiyoo jalan ditempat pura-pura berjalan ke kamar eonnienya

 

“hiks… hiks… oppa… aku rindu padamu… hiks… pulanglah… hiks… Yoo-ah jahat padaku oppa.”  tangisan Jisoo yang bersuara agak keras hingga terdengar oleh Jiyoo yang sembari tadi menguping dibalik pintu.

 

diluar kamar, Jiyoo merasa kasihan pada Jisoo, lalu pergi pelan-pelan tanpa menyuarakan kakinya pergi menuju  kamar Baekhi.

 

Baekhi side

 

“tok tok tok…” suara pintu kamar Baekhee

 

“siapa?” tanya Baekhee

 

“ini aku Eonnie…” kata  Jiyoo

 

“oh, masuk.” Jawab Baekhee

 

“mian mengganggu belajarmu Eonnie…” kata Jiyoo yang melihat Baekhee membaca buku pelajarannya.

 

“tak apa. Lagi pula, aku sudah selesai. Ada perlu apa?” tanya Baekhee

 

“bolehkah aku tidur disini malam ini?”

 

“hah? nanti Jisoo bagaimana? Jisoo kan takut jika tidur sendirian.”

 

“maka dari itu, tadi aku tidak bisa masuk ke kamar, karena kamarnya dikunci dari dalam. dan ku dengar Jisoo menangis dan memanggil oppa” kata Jiyoo

 

“oh… jadi begitu?” tanya Baekhee

 

“molla. aku juga tidak tahu.”

 

“sini, kutemani kau tidur.” Ajak Baekhee yang menutup bukunya dan mengangkat tangannya dengan gaya ingin memeluk.

 

“gomawo Eonnie.” Kata Jiyoo yang menyambut pelukannya.

 

“ya. tadi aku sudah menelpon Baekhyun. katanya besuk lusa atau besuk itu, Aku sudah lupa.katanya, dia juga akan pindah sekolah sekalian di sekolah kita. Itupun aku paksakan tadi.” Kata Baekhee

 

“wah, pasti Jisoo akan sangat-sangat senang.” kata Jiyoo

 

“tentu. Ayo kita tidur.” ajak Baekhee yang telah terbaring dikasur.

 

“Ne.” Kata Jiyoo

 

saat eomma dan Appa pulang

 

“anyeong…” sapa eomma saat pulang bekerja bersama Appa.

 

“kok sepi? Dimana Jisoo? biasanya Jisoo selalu menunggu kita pulang.” Tanya Appa heran begitu melihat suasana rumahnya sepi.

 

“nan molla. coba kita cek.” Ajak eomma yang lalu mengajak Appa ke kamar Jisoo dan Jiyoo.

 

“Jisoo…” panggil eomma sambil mengetuk pintu kamar.

 

.

.

.

Tidak ada jawaban sama sekali

.

.

.

“Jisoo… Jiyoo…” panggil Eomma untuk kedua kalinya.

.

.

.

.

Tetap saja tidak ada jawaban

.

.

.

“Hmm. mungkin dia kecapekan. kitakan tadi tidak menjemputnya. bisa saja, dia pulang jalan kaki.” Kata Appa

 

“mungkin. kita tanya saja besuk.” Kata eomma yang terus meninggalkan kamar Jiyoo dan Jisoo menuju kamarnya bersama Appa.

 

…..paginya di ruang makan…..

 

“Soo-ya… apa kamu kemarin pulangnya jalan kaki? tidak biasanya kau tidur cepat.” Tanya Eomma

 sambil menyiapkan hidangan yang terakhir.

 

“tidak, aku diantar temanku. itu. semalam, aku hanya….” kata Jisoo yang lalu melirik Jiyoo.  Merasa dirinya (Jiyoo) dilirik oleh Jisoo, jiyoo heran. Dia tidak tahu maksud lirikan Jisoo.

 

“hanya apa?” Tanya Eomma

 

“tidak. tidak apa.” Jisoo berdiri meninggalkan ruang makan dengan sarapannya yang masih utuh

 tanpa ada yang berkurang satu butir nasi pun.

 

“ada apa dia? pasti kalian sedang berkelahi. iya kan?” Tanya Appa  melirik Jiyoo sambil menyantap hidangannya yang ke empat *mungkin*.

 

“Tidak!” Jawab Jiyoo datar sambil makan dan menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.

 

“Lalu… kenapa Soo-ya melirikmu tadi ya?” Heran Appa yang menggaruk garukkan garpunya dikepalanya, tepatnya dirambutnya.

 

“Kya, Appa. Appa jika menggarukkan garpu itu ke rambut Appa bukannya gatalnya hilang, tapi malah membuatnya kotor.” Kata Baekhee yang dengan terpaksa meladeni Appanya yang tadinya makan menjadi meninggalkan makanannya dan menolong Appanya membersihkan rambutnya yang kotor terkena kotoran di garpu tersebut.

 

“Ahahaha” tawa Jiyoo pecah melihat kekonyolan eonnie nya dan Appa nya.

 

“Ssttt… cepat habiskan. nanti kau telat. Jangan tertawa seperti itu, tidak sopan. Bukannya membantu malah menertawakan” bentak Eomma

 pada Jiyoo yang tadinya tertawa terbahak bahak menjadi diam seketika dan melahap makanannya.

 

“APPA, AYO BERANGKAT… NANTI KEBURU TELAT.” Teriak Jisoo dari depan rumah yang dia tujukan ke Appa nya yang masih asyik memilah milah kotoran bersama Baekhee.

 

“SEBENTAR. APPA BELUM SARAPAN. KAU JUGA HARUS SARAPAN. JIKA TIDAK, KAU TAK USAH BERANGKAT. KESEHATANMU ITU DIJAGA.” balas Appa juga dengan berteriak.

 

Jisoo yang dari tadi menunggu didepan rumahnya, kini masuk dan mendapati pemandangan yang terlihat seperti biasa. Kelalaian Appa menjaga kebersihan rambutnya, eonnie yang membantu Appa, Jiyoo yang diam saja, dan Eomma yang tetap melanjutkan aktivitas memakannya, misalnya seperti itu. Jisoo mulai mengambil sarapannya yang tadi sempat ia tinggalkan dan masih utuh, melahapnya dengan tenang.

 

“Appa, Eomma, aku berangkat dulu, ne.” Ucap Baekhee  begitu menyelesaikan tugasnya membantu appa dan telah selesai sarapan.

 

“Jiyoo ikut eonnie. Aku juga sudah selesai sarapan. Akan lama jika aku menunggu Appa dan Soo-ya.” Kata Jiyoo yang ingin ikut eonnie nya

 

‘Dasar anak manja. Kenapa juga dulu aku dilahirkan bersamanya.’ Batin Jisoo jengkel sambil makan

 

“Ne.” Kata Eomma menyetujui. Appa begitu selesai dengan urusan sarapannya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membilas rambutnya.

 

…….disekolah……..

 

Jisoo yang biasanya duduk semeja dengan Jiyoo, kini duduk terpisah.

 

“hey, tidak seperti biasanya kalian tidak duduk semeja! dan kau, kenapa kau duduk di mejaku?” ucap salah satu namja

 pada Jiyoo

 

“mian. Sepertinya, dia sedang marah denganku.” Jiyoo sudah tahu penyebabnya

 

Flashback

 

“Kau… pindah sana. Jangan duduk disini!” Kata Jisoo mengusir Jiyoo yang dari tadi Jiyoo telah duduk dengan tenang di tempatnya kini menjadi tidak tenang.

 

“Inikan juga bangkuku. Apa kau lupa? Kita ini semeja.” Jelas Jiyoo

 

“Memang kenapa jika aku mengusirmu? Tak masalah bukan.” Bentak Jisoo

 

“Soo-ya, kenapa kau ini? Apa kau marah padaku? Apa salahnya aku?” Tanya Jiyoo

 

“Banyak. Pertama, kau mendorongku hingga aku terjatuh, kedua,  menyuruhku untuk mengerjakan pr bersama, dan yang paling membuatku marah kenapa kau membiarkan aku tidur sendirian.” Jawab Jisoo sambil mulai meneteskan air matanya dan telah jatuh satu tetes air mata yang jatuh di meja samping kanan tempat Jiyoo berada.

 

Jiyoo melihat tetesan air mata kembarannya itu pun menjadi muak dan berkata, “baiklah. Jika itu maumu aku akan pindah. Dasar anak cengeng!” Kata Jiyoo lantas pindah dengan langkah kaki yang kasar dan dengan sengaja kaki Jisoo direntangkannya kesamping yang membuat jiyoo tersenggol kakinya dan terjatuh dan berdiri lagi lalu duduk di mejanya. lantas, Jisoo melipat kedua lengannya dan menyembunyikan kepalanya, lalu menangis. Jiyoo kebingungan akan sebangku dengan siapa, namun setelah lama kemudian, Jiyoo memutuskan duduk di tempat seorang namja yang dilihatnya masih kosong belum ada yang berangkat.

 

Flashback end

 

 

“Kenapa bisa sampai kalian marah?” Tanya namja itu.

 

“karena aku ingin mengerjakan pr dengannya, dia tidak mau.” Jawab Jiyoo yang masih tetal saja duduk dimeja namja tadi.

 

“pantas saja.” Kata namja itu lalu menghampiri Jisoo

 

“Soo. kau harus berbaikan dengan kembaranmu.” Ucap namja tersebut begitu sampai tepat disebelah kanan Jisoo.

 

“Memang kenapa? dia sendiri yang memulainya.” Bentak Jisoo yang masih saja menyembunyikan kepalanya dilipatan tangannya.

 

“kring kring……” suara bel masuk sekolah, tanda dimulainya pelajaran.

 

“ya sudahlah, bel sudah berbunyi. aku akan menemani Jiyoo saja, jadi kau semeja dengan teman sebangkuku, Sehun…” ucap namja tersebut. Mendengar nama Sehun, dia langsung kaget dan mengelap wajahnya dari bekas tangisannya dan berkata pada namja tadi yang hendak meninggalkannya, “mwo? dengannya? apa kau sudah gila? Aku tidak suka semeja dengannya!” Tolak Jisoo yang akan semeja dengan Sehun

 

 “tidak. aku tidak gila. Aku, kim joon myun yang dipanggil suho tetap waras. Yang penting, kau akan semeja dengannya mulai dari sekarang” kata namja itu yang bernama Suho.

 

“Mwo? Kau bilang mulai dari sekarang? Jadi, kau bermaksud sampai besuk, besuk, dan besuk?” Tanya Jisoo

 

“Ya.” Kata Suho yang berjalan menuju mejanya disamping Jiyoo.

 

 seperti biasa, Sehun selalu datang dengan sasonim. dia bingung melihat bangkunya telah dihuni sosok yeoja, padalah harusnya tak berpenghuni karena penghuninya baru saja datang.

 

“Sehun, tempatmu disana.” Kata Suho  lirih saat Suho telah sampai ditempat duduknya dan menunjuk dengan jari telunjuk ke arah Jisoo.

 

Sehun menurut, dan melangkah menuju bangkunya yang semeja dengan Jisoo *mungkin karena sudah ada sesonim*.

 

Saat pelajaran dimulai. Siswa siswa diberi tugas mengerjakan soal. Mereka sibuk sendiri mengerjakan tugas kecuali Sehun yang nampak gelisah memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya Sehun mengajak bicara pada Jisoo yang sibuk dengan soalnya.

 

“Hey soo, apa kau sudah tahu jawaban yang aku berikan kemarin? Aku tidak sabar harus menanti sampai nanti.” Tanya Sehun

.

 

“Hmm. Sepertinya belum.” Kata Jisoo sambil konsentrasi mengerjakan.

 

“Kau harus mengetahui jawabannya sekarang. Aku akan menunggu disini saat ini.” Kata Sehun yang berpura pura mengerjakan soal dan melirik jawaban milik Jisoo untuk mencontek tanpa sepengetahuan Jisoo.

.

.

.

.

.

.

.

 

Beberapa menit Jisoo memikirkan jawaban dari soal yang ia kerjakan dan jawaban untuk Sehun. Jisoo  berkata, “sudah.” Kata Jisoo yang sekarang memainkan bolpoin yang ia pakai dimulutnya.

 

“apa?” Tanya Sehun penasaran

13 thoughts on “Our Power In Club (Chapter 2)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s