Posted in rinaizawa

Chapter 7 : My Smart Boy

my - smart - boy - 0 -1Tittle : My Smart Boy

Author : rinaizawa / hellosidney92

Cast : Byun Baek Hyun & Lee Ye Bin

 

##

Chan Yeol menghela nafas kesal. Ia tak menyangka Baek Hyun se childish ini. Baru sebentar ia bangkit dari keterpurukkan malasnya sekarang ia malah kembali kesifat lamanya.

“Baek, dengar. Jangan karena Ye Bin tidak mengajarimu lagi nilaimu yang sudah tinggi menjadi jatuh lagi. Kau harus bangkit Baek Hyun.”

Seakan tidak ada yang berbicara, Baek Hyun melonggos pergi begitu saja. Chanyeol melongo dibuatnya. Ye Bin yang baru saja tiba hanya melihat Baek Hyun sudah pergi menjauh meninggalkan Chan Yeol.

“Chanyeol-ah. Apa yang terjadi?” Ye Bin menghampiri namja berambut cokelat itu.

“Baek Hyun mendapat nilai terindah untuk ulangan Jung sonsaengnim.” Jawab Chan Yeol membuat Ye Bin terkejut.

“Mwo?!”

“Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Yang jelas ini benar – benar gila!” desis Chan Yeol.

Ye Bin terdiam setelah mendengar hal ini dari Chan Yeol. Ternyata yang ia pikirkan benar. Ia tak menyangka Baek Hyun menjadi seperti ini. Namja itu cepat sekali berubah, pikirnya. Ia memutuskan untuk ke rumah Baek Hyun nanti setelah selesai mengajari Kai. Ia benar – benar tidak tahan melihat sikap namja itu.

##

“Sunbaenim, aku rasa jika kita menggunakan rumus ini maka ….” Kai berhenti berbicara ketika melihat Ye Bin yang melamun.

“Sunbaenim.” Panggilnya pelan. Namun berhasil membuat Ye Bin tersadar.

“Ne?!” Ye Bin tersentak dari lamunannya.

“Lebih baik kau tidak usah mengajariku.” Ujar Kai datar.

“Jeongmal mianhae. Aku sedikit tidak fokus tadi. Kajja kita lanjutkan.” Ye Bin meminta maaf. “Bagaimana kalau kau mengerjakan soal ini terlebih dahulu?” perintah Ye Bin.

“Aku masih tidak mengerti.” Kai menatap soal itu bingung.

Ye Bin mulai mengajari Kai. Ia menjelaskan dengan mudah agar Kai dapat memahaminya dengan mudah juga. Setelah selesai, ia menyuruh Kai untuk mencoba memahami materi itu sendiri.

“Sedikit mudah.” Kata Kai senang.

“Kau sudah mengerti? Coba kerjakan soal tadi.” Perintah Ye Bin.

Kai mengangguk. Lantas ia langsung mengerjakan soal itu. Mungkin karena ia benar – benar sudah paham dengan penjelasan tadi, tak butuh waktu lama ia sudah selesai mengerjakan soal itu. Hal ini membuat Ye Bin takjub melihatnya. Ia pun segera memeriksanya dan hasilnya sangat bagus. Tidak ada yang salah sedikitpun.

“Wow. Kau lumayan pintar ya.” Puji Ye Bin.

Kai tersenyum tipis. Hatinya sangat bahagia.

“Gomawo.”

“Jong –“

“Panggil saja Kai.” Sepertinya ia tahu Ye bin akan memanggilnya dengan sebutan Jongin.

“Hem. Kai ada yang ingin ku tanyakan.” Ujar Ye Bin.

“Mwoya?”

“Kenapa waktu itu kau bertengkar dengan Hoseok?” ini adalah hal yang sejak kemarin ingin ditanyakan Ye Bin. Kai yang mendengarnya tersenyum hambar.

“Bukan suatu perkara yang besar.” Kai pura – pura sibuk dengan bukunya.

“Tapi tidak sampai bertengkar —-“

“Kau percaya aku bukan seorang pembunuh kan?” Kai memotong kalimat Ye Bin. Matanya menatap manik mata Ye Bin lekat. Berharap yeoja ini mempercayainya.

“Aku tidak mengerti.” Ye Bin terlihat bingung.

“Kau harus percaya padaku, sunbaenim. Semua yang mereka katakan tidak benar. Ku mohon.” Lagi, Kai memelas dihadapan Ye Bin membuat hati nya sedikit tersentuh. Ye Bin mengangguk, walau sebenarnya ia tidak mengerti sepenuhnya maksud namja itu yang jelas ia yakin Kai anak yang baik.

##

 

Ye Bin POV

 

Sudah kuputuskan, aku akan kerumah Baek Hyun. Aku tidak ingin ia terus – terusan seperti ini. Setelah Chan Yeol memberikan alamat rumah Baek Hyun tadi aku segera menuju ke rumahnya. Tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu selama 20 menit. Aku tiba dirumah berwarna cream cerah itu. Kulihat mobilnya terparkir rapi didepan. Itu artinya ia ada dirumah. Aku memencet bel dan mendapati Chan Yeol –lagi– yang membuka pintu rumah Baek Hyun. Kenapa ia bisa berada dirumah Baek Hyun?

“Omo! Ye Bin – a?! Kau benar – benar datang?” Chanyeol terkejut melihat kedatanganku.

“Hem. Kenapa kau dirumah Baek Hyun?” tanyaku penasaran.

“Oh. Aku memang selalu disini. Menemaninya.” Jawab Chanyeol. “Kau mencarinya?” aku mengangguk.

“Dia sedang dikamar. Kacau sekali.” Keluh Chanyeol. Kurasa Chanyeol juga susah mengahadapi sikap Baek Hyun.

“Bisa kau panggilkan?” pintaku padanya.

“Masuk saja. Ia takkan keluar sekalipun aku menyeretnya.” Chanyeol membuka pintu lebih lebar dari tadi.

“Arraseo.”

Chanyeol menunjukkan kamar Baek Hyun berada di atas. Ia menyuruhku untuk segera masuk kekamarnya dan membereskan namja itu. Dengan langkah terpaksa, aku mengetuk pintu kamarnya. Awalnya aku ragu. Mengingat selama ini aku belum pernah masuk kekamar pria. Namun, bukannya Baek Hyun sudah pernah kekamarku ketika aku sakit dulu? Ahh. Inikan ceritanya berbeda.

Tak perlu lama menunggu, pintu langsung terbuka. Dapat kulihat ekspresi syok Baek Hyun ketika mendapati diriku yang mengetuk pintu kamarnya.

“Baek Hyun.” Panggilku.

“Kau?!”

Ia menatap ku tajam membuatku merasa sedikit mengertikan. Tatapan itu membuat hatiku sakit mengingat kejadian yang terjadi belakangan ini.

“Mianhae.” Aku segera memeluknya erat seolah takut kehilangannya. “Ku mohon jangan seperti ini.” Kurasakan air mata mulai membasahi wajahku.

“Aku hanya tidak ingin kau terus bergantung denganku. Aku ingin kau menjadi mandiri Baek Hyun.” Baek Hyun melepaskan pelukanku. Matanya mengarah ke sembarang tempat. Kenapa ia menjadi seperti ini? “Baek Hyun.” Lirihku. Aku benar – benar tidak tahan lagi.

“Wae?! Kenapa kau terus seperti ini?! Kenapa kau selalu saja mementingkan dirimu?! Pikirkan aku juga Baek. Tidak selamanya aku harus menajdi guru privatmu. Aku juga —-“

#

Author POV

 

“Wae?! Kenapa kau terus seperti ini?! Kenapa kau selalu saja mementingkan dirimu?! Pikirkan aku juga Baek. Tidak selamanya aku harus menajdi guru privatmu. Aku juga —-“

 

Sepertinya Baek Hyun tidak tahan lagi mendengar keluhan yang terlontar dari Ye Bin. Lantas ia langsung membungkam yeoja itu dengan ciumannya. Tentu saja ini membuat Ye Bin tersentak. Memang ini bukan ciuman pertamanya lagi. Hanya saja yeoja itu masih belum bisa menetralisir emosi yang memuncak tadi. Ditambah dengan Baek Hyun yang menciumnya tiba – tiba, membuat ia diam mematung ditempat.

Baek Hyun melepas ciuman mereka lalu menatap Ye Bin lekat. Ada rasa penyesalan dibenaknya karena telah bersikap seperti ini. Benar kata Chanyeol, ia sangat childish. Tangan Baek Hyun tergerak menangkup wajah Ye Bin membuat mereka saling bertatapan satu sama lain sekarang.

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” Lirih Baek Hyun namun masih bisa didengar oleh Ye Bin. Yeoja itu tidak membalas melainkan terisak pelan. Entah apa yang menyebabnya menangis.

“Ini semua salahku. Aku yang terlalu kekanakkan, aku yang terlalu egois, aku yang terlalu mementingkan dirku sendiri. Mianhae.” Baek Hyun berkata dengan sangat tegas hingga membuat hati Ye Bin merasa luluh. Jempolnya menghapus air mata Ye Bin dengan cepat agar yeoja itu tidak terlihat menangis. Baek Hyun tidak sanggup melihatnya.

“Baek Hyun.”

“Saranghae Ye Bin – a.”

“Nado. Saranghae.”

Baek Hyun memeluk erat Ye Bin. Kini ia sadar, ia harus bisa melakukan sesuatu dengan usahanya sendiri. Tidak selamanya ia harus bergantung dengan Ye Bin. Ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan ia juga ingin membuktikan pada yeoja itu kalau ia bisa berhasil dengan usahanya sendiri. Ye Bin melepas pelukan mereka membuat Baek Hyun tersenyum.

“Kau mau minum?” tawar Baek Hyun.

“Aniyo. Aku ingin pulang saja.” Ye Bin melirik arlojinya yang baru saja menunjukkan pukul 16:52. Masih terlalu sore untuk pamit sebenarnya. Mengingat ia baru sebentar disini.

“Kau baru saja tiba disini.” Ujar Baek Hyun.

“Hem.” Ye Bin tersenyum. Ia memutuskan untuk bermain sebentar dirumah Baek Hyun. Toh tidak ada salahnya kan. Ia memandangi kamar Baek Hyun yang bernuansa krim hampir pudar. Semua barang tertata rapi, bersih, bahkan tidak kedap udara.

“Kamarmu bagus juga.” puji Ye Bin.

“Gomawo. Duduklah.”

Baek Hyun mempersilahkan Ye Bin duduk. Kini mereka larut dalam kehieningan dan sibuk dengan pikirannya masing – masing. Ye Bin bingung harus berbicara apa begitu juga dengan Baek Hyun. Semenjak tidak berbicara beberapa hari ia merasa sedikit canggung. Malu berbicara berbicara dengan Ye Bin mengingat sikapnya waktu itu.

“Baek, kau janji tidak akan seperti ini lagi?” Ye Bin memulai pembicaraan lagi. Ia mengangkat kelingkingnya untuk mengikat janji dengan namja itu.

“Aku janji. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi.” Ujar Baek Hyun serius. Ia mengaitkan kelingkingnya dengan Ye Bin.

“Aku pegang janjimu.” Baek Hyun mengangguk tersenyum.

“Ngomong – ngomong bagaimana hubungan privatmu dengan Jongin? Hampir sama denganku dulu atau ….”

“Baek Hyun!” Ye Bin memotong cepat perkataan Baekhyun. Ia tidak ingin terjadi perseteruan lagi diantara mereka. Bukannya mereka saja baru baikan? Kenapa namja itu harus mencari perkara lagi?

“Aku bercanda.” Baek Hyun tertawa melihat raut wajah Ye Bin yang berubah begitu cepat.

“Dia jauh lebih pintar darimu.” Sindir Ye Bin.

“Sayangnya dia tidak setampanku.” Balas Baek Hyun.

“Yang penting ia tidak sepertimu. Nakal, malas dalam belajar.”

“Yang penting ia tidak bisa membuatmu berpaling dariku.”

“Kau terlalu percaya diri!”

“Aku bahkan bisa membuatmu kehilangan fokus dan konsentrasi.”

“Ya!”

Kali ini Baek Hyun tertawa  lagi. Padahal yeoja itu yang pertama mengajaknya ribut tadi. Kenapa tidak bisa membalasnya? Lagi pula ia tahu maksud Ye Bin tadi hanya menyindirnya. Namun sayangnya Baek Hyun tidak merasa dan ia juga tidak ingin di sama – sama kan dengan Jongin.

“Bogoshippo.”

“Nado.”

Baek Hyun merengkuh Ye Bin dalam pelukannya. Menghirup dalam – dalam aroma shampoo yeoja itu. Aloevera, Baek Hyun menyukainya. Ia benar – benar merindukan gadis ini. Baru beberapa hari ia mengabaikannya dan ini membuatnya terasa sulit bernafas. Baek Hyun semakin mengeratkan pelukannya, Ye Bin tidak protes sama sekali karena ia juga sangat merindukan namjanya ini.

 

##

Keesokan harinya Ye Bin sudah kembali bersemangat. Tidak seperti 2 hari sebelumnya. Ia terlihat tidak lesu dan tidak penuh konsentrasi. Kai yang saat ini tengah belajar bersama Ye Bin sedikit bingung dengan perubahan yang terjadi pada sunbae nya. Ia senang melihat yeoja itu ceria. Hanya saja kenapa waktu itu ia tidak bersemangat atau seceria ini.

“Sunbaenim, kau bahagia sekali.” Ujar Kai disela belajar mereka.

Ye Bin tertawa kecil. “Apa aku tidak boleh bahagia?”

“Tentu saja boleh. Aku sangat senang melihatmu seperti ini.” Senyuman Kai terus saja merekah.

“Bagaimana pr mu? Sudah selesai?” tanya Ye Bin. Ia mulai mengajak Kai untuk fokus kedalam belajarnya.

“Silahkan kau periksa.” Kai memberikan buku pr nya yang sudah ia kerjakan semalam. Tumben ia menyelesaikan tugas dengan cepat. Biasanya ia selalu mengulur – ulurkan waktu atau mengabaikan tugasnya. Sambil menunggu Ye Bin memeriksa tugasnya, Kai memainkan ponselnya. Baru saja ingin membuka sebuah aplikasi, yeoja ini sudah selesai memeriksa tugasnya.

“Woah daebak. Kau hebat Kai.” Ternyata tugas Kai tidak ada yang salah satupun. Kai pun merasa bersyukur. Tidak sia – sia ia mengerjakan tugas ini hingga larut malam, toh hasilnya saja lumayan bagus.

“Kau selalu mengatakan aku hebat, wae?”

“Karena aku berharap kau akan selalu menjadi orang hebat. Kau tahu, jika kita terus berusaha dan melakukannya dengan sungguh – sungguh, yakinlah hal yang kau inginkan akan terwujud.” Jelas Ye Bin yang berhasil membuat Kai terpaku. Ia tidak menyangka Ye Bin mendukungnya selama ini.

“Sunbaenim.” Panggil Kai.

“Nde?”

“Gomawo.” Kai ingin sekali memeluk Ye Bin dan mengucapkan terima kasih. Hanya saja ia tidak berani melakukannya. Ia takut ini merasa tidak sopan dengan sunbaenya.

##

Kai melangkahkan kakinya menuju halte bis. Privatnya dengan Ye Bin sudah berakhir 10 menit yang lalu. Saatnya ia pulang kerumah dan beristirahat. Entah kenapa ia merasa lelah akhir –akhir ini. Mungkin karena ia sering mengerjakan tugas larut malam. Bisa jadi.

Langkahnya terhenti saat melihat Hoseok berdiri didepannya. Kenapa pria ini muncul lagi, pikir Kai. Ia berniat untuk melewati namja dihadapannya ini, namun tangan Hoseok sudah menghalangi jalan Kai.

“Ada apa?” tanya Kai datar.

“Ku harap kau tidak lupa ini hari apa.” Jawab Hoseok dingin. Kai berpikir sejenak, mengingat hari ini tanggal berapa.

 

Kang Seo Na ~ 24 Januari 2014

 

“Ikut aku.”

Kali ini Kai tidak memberontak dengan Hoseok. Ia mengikuti saja kemana ajakan namja itu untuk hari ini. Ya untuk hari ini. Kai mengingat peristiwa yang terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Membuat hubungannya dengan Hoseok renggang. Ini hanya sebuah kesalahpahaman bagi Hoseok. Berkali – kali sudah dijelaskan oleh Kai cerita yang sebenarnya, tetap saja namja itu tidak percaya dan terus menyalahkan Kai.

#

Sebelumnya Hoseok mengajak Kai untuk ke toko bunga. Membeli beberapa macam bunga untuk dirangkai. Salah satunya bunga krisan. Lalu mereka berhenti disebuah rumah yang terletak didaerah Apgujeong-dong . Hoseok masuk terlebih dahulu sementara Kai tetap setia mengikutinya dari belakang.

Pintu rumah terbuka. Suasana begitu sepi. Seperti rumah yang tidak berpenghuni. Namun Kai tahu kemana saja penghuni rumah ini. Mereka terus berjalan hingga langkah keduanya terhenti disebuah kamar yang terletak didekat tangga. Keduanya saling bertatapan sejenak. Kemudian Kai mengisyaratkan untuk segera membuka kan pintu kamar tersebut.

“Kau duluan saja.”

Kai mengangguk. Ia menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang duduk menatap kearah luar jendela. Pandangannya kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Kai menghampirinya dan berdiri dibelakang. Ia tidak berani mendekati wanita itu. Sedangkan Hoseok masih berdiri didekat pintu. Mengamati keduanya dari kejauhan.

“Ahjumma. Annyeong haseyo.” Kata Kai sopan. Wanita itu menoleh pelan. Menatap Kai dingin lalu kembali pada pandangannya yang tadi.

“Kenapa kau mengajak namja itu?” Kai menoleh kearah Hoseok dan menatap Jikyung lagi.

“Aniyo. Dia sebenarnya yang mengajakku. Kami —“

“Pergilah.”

“Eh?”

“Kalau kalian ingin mengunjungi Seo Na, pergilah.” Ujar Jikyung lagi.

“Ta-Tapi ..” Kai bingung harus berbicara apa.

“Kau tidak ikut, ahjumma?” Hoseok mulai bersuara. Ia berjalan mendekati Kai dan Jikyung. Sebelumnya ia sempat membungkuk pelan sebagai tanda salam.

Jikyung menggeleng.

“Geurae. Kami pamit dulu. Gamsahamnida.”

##

Kai dan Hoseok berjalan menuju halte bis. Setelah dari rumah tadi mereka segera menuju pusat pemakaman kota Seoul dan kini mereka dalam perjalanan ingin pulang. Keduanya larut dalam keheningan masing – masing. Tidak seperti kemarinnya. Mereka sempat bertengkar hebat.

“Aku masih menyalahkanmu atas kematian Seo Na.” Ujar Hoseok dingin.

“Bukankah aku sudah bilang. Aku tidak pernah melakukan hal sekejam itu.” bantah Kai. Ia tidak bisa menerima tuduhan itu.

“Lalu? Kau yang mencabut pisau ditubuh Seo Na.”

“Itu karena aku yang menemukannya.” Alasan Kai memang tidak kuat. Seo Na adalah sahabat Kai dan juga Hoseok. Walaupun Kai tidak pernah cocok dengan Hoseok, Seo Na tetap saja bersahabat dengan mereka. Kematian Seo Na terjadi 3 tahun yang lalu saat mereka bersekolah di SMP. Para polisi mengatakan Seo Na bunuh diri. Hal ini tidak bisa diterima oleh keluarga Seo Na, terutama eomma nya Kim Jikyung. Mereka lebih menuduh Kai karena sebagian siswa melihat namja itu menancap pisau ditubuh Seo Na. Padahal ia hanya berniat mencabutnya agar Seo Na dapat selamat.

“Peristiwa itu terjadi 3 tahun yang lalu.” Lanjut Kai.

“Kau berniat melupakannya?!”

“Ani.”

Bis tujuan rumah Kai sudah tiba. Ia masuk begitu saja dan mengabaikan Hoseok. Sementara Hoseok masih berdiri disana meski bis tadi sudah berlalu 5 menit yang lalu. Cuaca kota Seoul sangat cerah hari ini. Tapi tidak untuk Hoseok. Ia merasa hatinya sedang mendung bahkan hujan lebat.

‘Karena aku menyayangi Kang Seo Na. Mianhae, Jongin-ah. ‘

##

Pagi –pagi sekali Ye Bin sudah dikejutkan kedatangan Baek Hyun yang berniat ingin menjemputnya. Bagaimana tidak, sebelumnya Baek Hyun tidak mengatakan kalau namja itu ingin menjemputnya.

“Ya. Sampai kapan kau akan disana?” Baek Hyun menyadarkan Ye Bin dari lamunannya.

“Kenapa kau tidak bilang ingin menjemputku?” tanya Ye Bin kesal.

“Haruskah aku selalu mengatakannya?”

Baek Hyun membuka pintu mobil dan membiarkan Ye Bin masuk. Bukannya masuk Ye Bin malah bingung menatap Baek Hyun.

“Kau tidak ingin dihukum oleh Kyungsoo kan?” namja itu memperingatkanYe Bin agar tidak terlambat. Karena jika terlambat, mereka akan dihukum oleh ketua Osis, Do Kyungsoo.

Ye Bin mengangguk lalu masuk kedalam.

“Nanti sepulang sekolah aku akan menunggumu dikelasku. Kau tidak ada privatkan?” tanya Baek Hyun.

“Untuk hari ini tidak. Mungkin sampai 2 hari kedepan.” Ujar Ye Bin pelan.

“Baguslah.” Namja itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.

“Buat apa aku ke kelasmu?” tanya Ye Bin bingung. Bukankah ia dan Baek Hyun tidak ada privat lagi.

 

Baek Hyun POV

 

“Buat apa aku ke kelasmu?” tanya Ye Bin bingung.

 

Ya! Kenapa yeoja ini selalu saja menolak perintahku? Haruskah aku menyuruhnya untuk ke kelas ketika ada keperluan saja? Tentu saja tidak. Aku punya rencana tersendiri untuk hal ini.

“Yang jelas bukan untuk privat.” Balasku. Aku tahu Ye Bin pasti mengira aku meminta nya untuk menjadi guru privatku lagi. Namun sayangnya tidak. Aku sudah bertekad untuk berusaha sendiri kali ini dan aku juga ingin melihat bagaimana hasilnya. Aku menyesal tidak belajar waktu itu karena alhasil aku mendapatkan nilai terburuk dikelas. Maklum, pikiran ku benar – benar kacau saat itu.

“Aku tahu.” Ye Bin mengerucutkan bibirnya membuat ia terlihat semakin cantik. Aigoo.

“Kau cantik seperti itu.” godaku. Dan lihat wajahnya langsung berubah menjadi merah. Aku tertawa melihat sikapnya yang menjadi gugup.

“Ya! Jangan mengangguku pagi –pagi.” Ujarnya kesal.

“Haha. Sifat lamamu keluar lagi.” Sudah lama aku tidak melihat sifat Ye Bin yang acuh, dingin, dan elegant seperti pertama kali aku tak sengaja menabraknya dan ia mengajariku dikelas. Sungguh aku tidak menyangka ia memiliki sifat yang jauh dari apa yang aku lihat waktu itu.

“Kau ingin aku seperti itu?”

“Tentu saja tidak.” Aku mengecup pipinya sekilas. “Kajja. Kita sudah sampai.” Aku membuka seatbelt ku dan bersiap keluar dari mobil.

“Ck.” Ia berjalan mendahului ku sementara aku mengikutinya dari belakang. Sengaja aku tidak menggandengnya. Aku tidak ingin memperlihatkan kemesraan hubungan kami didepan yang lainnya. Mungkin sekali – kali aku akan melakukannya untuk menganggu yeoja itu.

“Daaah. Jangan lupa sepulang sekolah nanti.” Teriakku padanya. Ku lihat ia hanya menggelengkan kepalanya.

##

“In Na-ya. Buku itu unik sekali.”

Saat ini Se Hun, In Na dan Ye Bin tengah menikmati makan siang mereka dikantin. Kebetulan In Na membawa buku yang bisa dikatakan unik.

“Ya. In Na dimana kau membelinya? Cute sekali.” Ye Bin ikut – ikutan memuji buku tersebut.

“Aku membuatnya sendiri.”

“Wooaa. Jinjja?” Ye Bin hendak membuka buku itu namun dengan cepat In Na melarangnya.

“Andwae.”

“Eh?” keduanya terlihat bingung dengan sikap In Na yang tidak biasanya.

“Aniya. Jangan dibuka.” Ujar In Na pelan.

“Geurae.”

Se Hun dan Ye Bin mempunyai pertanyaan yang sama dalam pikiran mereka. Kenapa In Na sedikit aneh akhir – akhir ini? Namun tidak ada yang diantara mereka berani bertanya seperti itu. Takut menyinggung perasaan In Na sendiri.

##

In Na terlihat tergesa –gesa saat membereskan barangnya sepulang sekolah. Chanyeol memandangnya heran. Tumben In Na terburu – buru, pikirnya.

“Baek, kenapa In Na terburu – buru?” bisik Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya padaku?” tanya Baek Hyun.

Chanyeol mendelik kesal. Padahal ia bertanya baik – baik, kenapa namja itu tidak meresponnya dengan baik.

“Ani. Cuma bertanya. Aku duluan ya. Aku harus latihan basket. Dah.” Chanyeol melambaikan tangannya kearah Baek Hyun. Namja itu pun kini membereskan barangnya sembari menunggu Ye Bin. Tanpa sengaja tasnya terjatuh dan ia berniat mengambilnya.

 

Bruk !

 

In Na tidak sengaja menabrak Baek Hyun. Untungnya mereka tidak terjatuh. Namun sesuatu benda milik yeoja itu terjatuh dikaki Baek Hyun.

“Mianhae. Aku terburu – buru.” Ujar In Na meminta maaf.

“Gwechana.” Yeoja itu segera berlalu dari hadapan Baek Hyun. Ia melihat sesuatu terjatuh didekatnya.

“In Na!” Ia mengambil buku itu yang ia yakini milik In Na.

‘Buku yang unik.’ Gumamnya.

 

##

To be continue

Iklan

44 thoughts on “Chapter 7 : My Smart Boy

  1. Aku Tau, isi dari buku itu thor
    Secara gue kan peramal geetoh *mulai alay -_-
    Keep writing ya
    Eh Gimana nasibnya BaekBin kalo si Bekyun tahu Bahwa In Na itu suka sama bekyun??
    Oke kita tunggu kelanjutannta. Tetap di Trans TV :v

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s