When You Kill My Heart (Chapter 3.1)

Title:  When You Kill My Heart

Chapter: 2-First Day-

Cast: Yoonhee. Kris

Subcast: Chanyeol. Baekhyun. Suho. Yoonmi

Genre: Fluff. Romance. School life.

Rating:  General

Lenght: Chaptered

I’m *Istri Sehun dan pacar Chanyeol ini yang kawai XD*  Back with this fanfic.   haha.. Chapter 3.1 datang. Hope you like this fanfic^^. I just get a writer’s block TT.TT and I don’t have an idea. so it’s gonna be long time. *sok inggris*

Haha, aku minta maaf banget lama. udah hiatus, kena writer’s block pula. hahaha. kayaknya bakal lama next chapnya.

udah gitu aku ngeliat respon kalian yang dikit, aku mulai berfikir buat ngga masang di wp ini dan lebih di wp ku. trus di protect. Mianhae T.T tapi aku butuh support. Jadi komen kalian itu berpengaruh banget buat nentuin ini bakal tetep di post disini atau di wpku.

when-you-kill-my-heart-bluehigh17

Credit poster : Rn @ HighSchoolGraphics

—–

Chapter 1. Begenning Of Our Story | Chapter 2. First Day.

Chapter 3. Jealous

——

Untuk pertama kalinya Kris cemburu dan Date pertama mereka.

Akankah mereka mendapatkan sebuah kejutaan dalam Data mereka?

Yang membuat mereka semakin dekat. Atau?

Semakin Menjauh?

—–

IF YOU ARE A SIDERS OR PLAGIATOR PLEASE GO OUT. I DON’T NEED YOU

ENJOY MY FANFIC

HARGAI KARYA ANAK BANGSA

—-

“yoonmi-ya, aku pulang dahulu” ucap yoonhee sembari melambaikan tangannya kearah yoonmi yang mengantar mereka sampai dipintu rumah. Ia lalu bergegas berbelok kearah kanan.

“mau aku antar yoonhee-ya?”  Tanya dongmin sembari menghampiri mobilnya membuat yoonhee berhenti.

“aku tak ingin merepotkanmu. Aku duluan. Dongmin-ah“ ucap yoonhee sembari memasang earphonenya ke telinganya.

“tak baik seorang perempuan sendirian” ucap dongmin sembari mengikuti langkah yoonhee.

“ini akan merepotkanmu. Tak apa” tolak yoonhee halus sembari mencopot sebelah earphonenya.

“tak apa. Lagipula jaraknya dekatkan?” Ucap dongmin sembari tersenyum. Senyum malaikatnya, yoonhee hanya tersenyum berterima kasih. Mereka berjalan menuju 10 rumah kedepan yang sempat tertunda. Dalam setiap langkah mereka, terdengar pembicaraan, sembari sesekali bercanda. Tanpa menyadari yang sendari tadi melihat mereka, dengan pandangan kesal, marah dan lainnya. Dan memilih pergi dengan motornya.

“sudah sampai. Yoonhee-ya” ucap dongmin ketika sudah samapi dirumah megah bergaya minimalis milik yoonhee. Yoonhee hanya mengangguk.

“ayo mampir dulu” ajaknya sopan.

“ah tidak. Sudah malam.” Tolak dongmin lembut. Selembut debu yang berterbangan ringan.

“ne, ya sudah. Hati-hati dijalan” ucap yoonhee.

“ne, aku duluan” ujap dongmin sembari membalikkan badannya. Ia melambaikan tangan ke arah yoonhee dan dibalas lambaian kecil dari yoonhee. Yoonhee membalikkan badannya dan langsung menekan bel dan pagar langsung dibukakan oleh kim ahjusshi. Setelah menyapa kim ahjusshi dan dibalas Yoonhee langsung berjalan memasuki rumahnya yang megah seperti istana itu, begitu membuka pintu, ia disambut oleh beberapa pelayan tepat dibelakang pintu. Berbaris rapih dan membungkukkan badan kearahnya, Yoonhee membuka sepatunya asal dan memakai sandal rumahnya berwarna baby blue, setelah ia memberikan tasnya dan blazernya kepada pelayan Hong ia langsung menuju kamarnya, menghiraukan para pelayan yang membungkuk kepadanya ketika ia melewatinya.

Ia menaiki tangga dan berhenti difoto ibunya. Ia tersenyum kecil dan berjalan kembali. Ia memasuki kamarnya dan membaringkan badannya di ranjang queen sizenya. Ia menatap kamarnya. Masih sama ketika pertama kali ia melihat kamar ini. Ibunya yang memilihkan semuanya. Mulai dari warna hingga kasur, lemari, meja belajar, nakas, sedetail mungkin.

Drt…

Ia mengeluarkan ponsel dari saku roknya. Ia membuka gembok dan membacanya.

0212-xxxx

Annyeong, benar ini nomor ponsel jung yoonhee kelas 1.1?

Yoonhee mengabaikan pesan itu. Cih nomor yang tak di kenal dan tak memperkenalkan diri. Ia menaruh asal ponselnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama keluar dengan baju santai dan rambut yang basah. Ia membaringkan tubuhnya di kasur.

“masih jam 7” ucapnya sembari menengok kearah jam klasik yang berwarna soft blue. Ia berfiikir ‘aku memiliki cukup banyak waktu untuk menulis diary’ batinnya

Drt…

Ia meraih ponselnya dan melihat pesan dari siapa, cih. Dari nomor yang tadi.

0212-xxxx

Annyeong, benar ini nomor ponsel jung yoonhee kelas 1.1? Ini byun baekhyun kelas 1.3

Baekhyun? Baekhyun anak basket itu? Yang suka memakai eyeliner? Ia menekan tombol replay dan mulai mengetik balasan sms.

To: 0212-xxxx

Ya benar. Ada apa byun baekhyun-ssi?

From: 0212-xxxx

Bisakah besok kau ketempat latihan kami?

Ia mulai memikirkan jadwalnya besok. Ia baru saja hendak membalas sms baekhyun tadi. Namun sudah ada nomor baru yang tak dikenal lagi masuk.

Taiyou ga mikata suru hi ni yaketa kimi ga te wo furu kara

Kitai shiten da yakusoku no kisetsu ni tobikomu ningyo mitai ni

Ia menekan tombol call dan meletakkan ponselnya ketelinganya.

“yeobseo? Nuguseyeo?”

“……”

“ouh. Ne. Sunbaenim, besok aku akan datang”

“….”

“arrasseo.”

“…..”

“bye” ucap yoonhee menaruh kembali ponselnya. Ia mengambil buku diarynya yang bercover rintik-rintik hujan. Membuka halaman kosong dan mulai menulis.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya ingin kehidupan yang tenang. Tanpa seseorangpun mengetahui statusku yang sebenarnya. Terkadang, menjadi yeojachingu seorang wu yifan sangat mengganggu. Namun, mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa aku lakukan.

Semua perempuan disekolahku pada mencaciku. Dan menaruh surat, dan berbagai macam hal di lokerku. Aku tahu, mereka memasukkannya saat pagi dan istirahat. Namun, saat aku membuka lokerku sehabis istirahat. Semua itu menghilang. Tanpa jejak

Aku curiga. Yoonmi selalu melarangku membuka loker saat jam istirahat. Dan menyuruhku mengambil barangku yang diloker saat sesudah istirahat. Siapa yang membereskannya? Tidak mungkin yoonmi dan anggota team basket. Mereka selalu bersamaku saat istirahat.

Tok! Tok!

“yoonie….” Panggil seorang laki-laki. Yang ia yakini adalah ayahnya yang baru saja pulang. Yoonhee segera menutup buku diarynya. Dan bangkit membuka pintu.

“ne, appa?” Ia melihat pakaian ayahnya. Kemeja putih dengan motif kotak-kotak kecil berwarna hitam, jas hitam kelam yang ditentengnya dan celana bahan hitam, dasi hitam, pasti baru pulang kantor.

“ayo kita makan malam” ajak ayahnya sembari memberikan jasnya kepada pelayan Choi,

“ne” dan berjalan menuju meja makan bersama ayahnya. Menuruni tangga yang dilapisi karpet merah halus dengan gaya Eropa klasik yang sama dengan corak dinding. Yang sepanjang dindingnya digantungi foto keluarga.

Yoonhee memilih duduk berhadapan dengan ayahnya, ia membalikkan piring dan mulai menyendokkan nasi kedalam piringnya. Pelayan Choi menaruh sop isit disebelah piringnya, dan memasukkan beberapa lauk kedalam piringnya.

“gomapta” ucapnya singkat dan mulai makan.

“yoonie”

“ada apa appa?” Tanyanya. Ia mulai menendokkan sup isit kedalam piringnya.

“wu yifan, dia salah satu orang yang pernah appa tawari. Dia malah mengira appa orang jahat dan bersembunyi dibawah kolong meja” ucap ayahnya.

“oh” respon yoonhee. Suara “oh” yang dikeluarkan yoonhee tadi, adalah “oh” yang tidak bermakna apa-apa. “oh” yang mewakili sebuah kebingungan. “oh” yang hadir karena menjadi ekspresi spontan. “oh” karena “oh” adalah loncatan reaksi tanpa sadar. “oh” untuk “oh” semata. Dan ia mengangguk tanda mengerti sembari memasukkan nasi kedalam mulutnya,

­­-­­When you kill my heart-

Jum’at, hari ini ada pertandingan baket disekolahnya, oleh karena itu jam pertama dan kedua kosong. Yoonhee yang baru sampai kesekolah segera turun dari mobil sportnya. Begitu turun dia langsung bergegas menuju ruang club basket yang berada tepat disebelah lapangan basket indoor. Yoonhee melihat kearah kanan dan kiri. Waspada. Dia secara hati-hati masuk kedalam ruang basket.

“annyeong..” Ucapnya sembari menutup pintu. Dia menutupnya secara pelan-pelan dan membalikkan badannya.

“Yifan hyung!”

“Cheondoong hyung. Hey, bajumu ini!”

“Park Chanyeol. Itu susuku!”

“Diam kau pendek!”

“Hey kecil, jangan duduki bajuku”

“Cheondoong hyung, kau memakai bajuku”

“Annyeong” ucapnya kembali. Dan sekarang semua mata tertuju kepadanya.

“eh?” Ucapnya lagi, salah tingkah.

Yoonhee melihat sekelilingnya dan menyadari keadaannya saat ini. Dia melihat namja didepannya kini, si tinggi Chanyeol dengan senyum idiotnya sedang memakai baju, sebagian tubuhnya topless, Baekhyun si pemakai eyeliner tebal dengan mata segaris sedang merebut susu dari tangan Jungshik, Cheondoong yang sedang menaikkan sebelah alisnya dengan aneh topless, dia hendak memakai bajunya yang baru saja ia rampas kembali entah dari tangan siapa. Jungshik dengan senyum angelnya yang terlihat jenaka dan terdapat gurat bingung topless, dengan keadaan baju yang baru saja memasukkan tangannya kedalam bajunya. Dan semua melakukan 1 hal yang sama, tersenyum konyol kepadanya. Kris menghampiri Yoonhee.

“Ketuk dulu. Tata krama bodoh” umpatnya dingin membuat Yoonhee merinding.

“Ne, mianhaeyeo sunbaenim” ucapnya sembari membungkuk kecil dan malah menubruk dada bidang Kris. Yoonhee memegang kepalanya yang terasa sakit.

“Aw” rintihnya kecil. Kris membuka pintu yang berada didepannya dan pergi melewati yoonhee tanpa mengatakan apapun. Dengan muka kerasnya.

“Dia kenapa?” Tanya Yoonhee polos.

“kemarin dia dari rumahku, dan ketika pulang, dia melihatmu berjalan berduaan dengan seorang namja” jelas Junshik halus.

“jadi Kris yang dingin menyebalkan itu jealous?” Ucap Cheondoong sembari terkikik geli.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah yang lain mulai ricuh membicarakan Kris yang cemburu. Baekhyun dan Chanyeol sedang tertawa geli, -tak tanggung tanggung Chanyeol tertawa sangat keras sembari memukul pahanya dengan heboh- sembari memperagakan ekspresi kris tadi pagi saat kris baru saja datang, -alis angry birdnya menyatu menyeramkan dan dia datang dengan air muka yang sangat jelek-. Sedangkan Cheondoong malah menanyai Junshik dengan banyak hal tentang kronologis kejadiannya. Yoonhee yang merasa diabaikan berdeham kecil, membuat seluruh mata tertuju padanya.

“mianhae, hee-ya” ucap Cheondoong.

“hm, aku pergi dahulu” ucap Yoonhee sembari keluar. Ketika ia menutup pintu dia berfikir. Dimana Kris. Perpustakaan? Seperti bukan. Tak mungkin, satu-satunya hal yang Kris baca adalah rak sastra dan itu tidak memungkinkan, dan tidak mungkin karena sedang jadwal piket merapihkan buku jadi perpustakaan tutup, ruang musik? Bukankah kalau jam kosong atau istirahat dipakai band sekolah dan bisa dimarahi Alee- sang ketua band jika kau berani mengganggu- kelas? Tidak mungkin, ingat, coret dari daftar. Tempat di sekolah mana yang paling sepi pada saat ini…. Tidak mungkin. Taman belakang?

Dia akhirnya dia memilih berjalan menuju taman belakang. Dia berjalan dengan santai. Menghiraukan semua pandangan iri dan benci dari fans Kris. Baginya, kenapa harus memperdulikan orang yang tak suka, membencimu selagi masih ada orang yang mencintai, menyayangi dan peduli terhadap kita? Yoonhee terdiam begitu melihat kris terduduk disebuah pohon. Dengan langkah yang diseret dia menghampiri kris dan menepuk pundaknya pelan.

“sunbaenim?” Dan Kris menengok. Dia memandang yoonhee dengan tatapan datarnya.

“kau kenapa?” Tanya Yoonhee, polos. Kris mendesah keras, yeoja itu bahkan tak tahu, entah polos atau tidak mengerti, karena polos dan bodoh beda tipis. Kris mengingat sesuatu, percuma ia mengatakannya, karena ia yakin Yoonhee tak akan mengerti. Yeoja itu bahkan terlampau sangat polos, mungkin lebih parah dari polos. Kris mendesah kembali dan merogoh sakunya.

“besok datanglah, dandan yang cantik” ucap Kris sembari memberikan sebuah tiket bioskop film terbaru, menepuk pundak Yoonhee. Lalu ia pergi berjalan.

“kenapa dia?” Gumam Yoonhee bingung,

Yoonhee mengeluarkan sebuah kardigan merah darah halus, sebuah dress dengan renda halus berwarna putih. Dia merasa tidak cocok dan melemparnya kekasur. Mengeluarkan baju lalu menaruhnya asal. Dia kembali menarik sebuah baju dan kembali melemparnya. Ia melakukannya berkali-kai. Entah ini yang keberapa-_-. Dia menengok kebelakang. Dikamarnya begitu bererakan bajunya.

“ya tuhan” gumamnya kaget, tak lama ia mengeluh.

“aku harus pakai baju apa?” Teriaknya frustasi. Yoonhee kembali berfikir. Kris menyukai gadis yang sedikit bertindak dewasa dan tidak terlalu kekanakan. Namun, dia tak suka gadis yang terlalu bertindak dewasa atau kekanakan, dia tak suka sesuatu yang terlalu mengumbar, seperti hotpants, rok mini. Tak lama dia berdiri dan melompat.

“aku tahu!” Dia mengambi dress putih berbahan sutra dengan renda diujungnya, lengan panjang bergaya balon dengan tali kecil dipinggang, dan rok yang sedikit mengembang. Sebuah hiasan manis diujung roknya. Dia mengambil flatshoes berwarna putih lembut-jangan tanya kenapa karena dia tak biasa dan tak bisa memakai highheels atau wedges- tak lama ia sudah rapih dengan pakaiannya dan mulai duduk dimeja rias. Dia memoles makeup tipis natural, rambutnya ia sikat rapih, dan terlihat  jatuh dengan indah. Tak lupa ia memakai jepit kecil berwarna putih. Dia turun kebawah tak lupa membawa sebuah mantel panjang berwarna coklat kesayangannya karena ini sudah memasuki akhir desember dan cuaca sudah mulai dingin, tak lupa meminta pelayan choi membereskan kamarnya.

“ayah, aku pergi dahulu” teriar yoonhee sembari menuju pintu rumahnya. Membukanya dengan senang, membuat para pelayannya kaget, sang nona mereka yang selalu berjalan dengan tenang tanpa ekspresi berlari dan tampak senang seperti gadis kecil yang diberikan boneka baru. Lalu menuju halte bis sembari memakai mantel cokatnya.

Dia menunggu bus tujuannya, begitu bus itu berhenti dia langsung menaikinya, mengambil tempat duduk ke 2 dari belakang. Dia menatap jalan sabtu yang sedikit macet sembari mendengar lagu dari ipod yang selalu menemaninya, tak lama ia sampai disebuah mall dan memasukinya. Dia melihat keselilingnya banyak sekali pasangat yang sedang date. Dia berjalan langsung menuju bioskop dengan canggung. Ini first datenya. Dia bahkan terserang insomnia mendadak. Dia memegang tiket yang kris berikan kemarin di taman. Dia menunggu dengan gelisah. Dia melihat jam tangannya. 08.55.

Di dengan gelisah menunggu.

08.57

Dia semakin gelisah, rasa senang yang dia rasakan sekarang berubah menjadi rasa cemas dan pikirannya mulai negatif.

Akankah Kris datang?

Sepertinya………. tidak

TBC

—-

Argh.. Akhirnya selesai. Gantung parah? Wkwkwk. Aku cuman sanggup segitu. Thanks udah baca~ ^^

38 thoughts on “When You Kill My Heart (Chapter 3.1)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s