Missing You Like Crazy

MY

Author : Charismagirl

Cast :

  • Kim Jongin
  • Park In Hwa (OC)

Cameo :

  • Lee Taemin

Genre : Romance, Sad

Length : Drabble <2000 W

Rating : PG

Happy reading! Enjoy yourself! ^o^

I miss you, I just wanna… you.

In Hwa memandangi langit yang gelap dengan pandangan kosong. Mengabaikan permukaan kulitnya yang mulai putih memucat. Bibir merah muda yang bergetar menunjukkan bahwa saat ini cuaca sedang berada di angka ekstrim sementara gadis itu sama sekali tidak berniat beranjak dari tempat berdirinya sekarang–balkon kamarnya. Dan hanya memakai piyama.

Keadaannya benar-benar kacau semenjak kekasihnya pergi tanpa meninggalkan pesan dan sampai sekarang sama sekali tidak memberinya kabar. Pria itu menghilang. Entah kemana.

Pria itu pasti tahu kalau In Hwa membutuhkannya. Pria itu bagian dari hidupnya bahkan bagian-bagian kecil yang tidak kasat mata. Dan rasanya semangat hidupnya berkurang derastis hingga mencapai titik minimum.

Hidupnya berubah. Tidak ada lagi tawa di bibir manisnya. Tidak ada lagi senyum kebahagiaan. Semuanya telah dibawa serta pria itu pergi.

Dia bisa saja mengakhiri hidupnya sekarang. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan adiknya sendirian. Dia pasti akan menjadi kakak yang paling jahat di dunia kalau tega melakukan hal itu.

Perlahan pintu kamarnya terbuka. Seorang laki-laki masuk lantas menghampirinya. Laki-laki itu menatap nanar kakak sepupunya yang tampak kacau dan menyedihkan itu.

Dia tidak bicara banyak. Dia selalu mengabaikan waktu makan. Dia benar-benar tampak seperti gadis yang kehilangan tujuan hidupnya. Dan laki-laki itu tahu persis apa penyebabnya.

Sebenarnya laki-laki itu sangat ingin membantu. Tapi sayangnya ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Berbagai cara sudah dilakukannya untuk mengembalikan tawa gadis itu tapi tetap tidak bisa.

Hatinya miris setiap kali melihat kakak sepupunya itu merenung, hingga akhirnya meneteskan air mata. Pria yang dicintainya, meninggalkannya saat mereka baru saja akan menikah. Memang tidak ada yang tahu dengan rencana Tuhan, tapi tidakah cobaan itu terlalu berat untuk gadis malang itu?

Laki-laki itu berdoa jika saja Tuhan mau berbaik hati membagikan beban hidup In Hwa padanya. Jika saja ada jalan untuk membawa pria itu kembali ke sisi In Hwa.

Lalu mengubah cerita menyedihkan In Hwa menjadi sebuah cerita yang penuh keajaiban.

Noona…” Laki-laki itu menepuk pelan bahu In Hwa. Dingin. Dan In Hwa sama sekali tidak membalikkan badannya.

In Hwa menyapu air mata yang tiba-tiba saja turun di wajahnya. Lalu berbalik sesaat menatap Taemin–adik sepupunya, sebelum kembali menatap langit. Berharap bayangan pria itu muncul dan menyapanya.

“Ayo masuk. Kau bisa sakit kalau berlama-lama disini.”

In Hwa hanya menggeleng tanpa berucap apa-apa.

“Apakah kau lapar? Aku akan memasak untukmu.”

Taemin menggosokkan kedua telapak tangannya yang terasa dingin. Baru beberapa menit berada di tempat ini sudah membuatnya terasa membeku, apalagi In Hwa-yang Taemin tidak tahu sudah berapa lama dia berada disini.

“Tidak, terimakasih. Aku tidak lapar.” Akhirnya gadis itu bicara. Suaranya terdengar serak sarat akan kesedihan yang sedang melandanya.

Noona…” Taemin menghambur ke pelukan In Hwa. memeluk tubuh gadis itu yang terasa rapuh. Taemin bahkan lupa kapan terakhir kali In Hwa memberi asupan makanan untuk tubuhnya. “Aku akan melakukan apapun untuk Noona. Tapi aku mohon, jangan seperti ini lagi. hiduplah dengan bahagia, Noona. Eomma dan Appa tidak akan suka melihat Noona seperti ini.”

“Aku ingin Jongin…  Aku ingin bertemu Jongin.”

***

In Hwa berjalan sendirian di sekitar taman dekat rumahnya. Membuka lagi lembaran kenangan saat-saat dia bersama Jongin. Meskipun rasanya seperti menyayat hatinya sendiri mengingat bahwa pria itu sudah pergi–entah kemana.

In Hwa mengambil tempat duduk di kursi panjang, mengistirahatkan kakinya yang mulai terasa pegal. Lantas memejamkan mata, menghirup udara yang benar-benar memanjakannya.

Sekelebat bayangan melintas di pikirannya. Hari dimana Jongin menyatakan cinta padanya. Di taman ini. Menyatukan hati mereka berdua di atas persahabatan yang sudah lama terjalin.

In Hwa mengetukkan kakinya dengan gusar. Pria yang sudah membuat janji untuk bertemu dengannya sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Kalau saja In Hwa lupa bahwa pria itu adalah sahabatnya, ia pasti meninggalkan tempat ini sekarang.

Sebenarnya, In Hwa mulai menyadari bahwa perasaannya pada Jongin sudah tidak lagi sebagai sahabat, melainkan perasaan seorang wanita kepada pria.

Intensitas kebersamaan mereka yang sudah tidak terhitung membuat In Hwa terbiasa akan kehadiran Jongin disisinya. Mendengar pria itu bicara, melihat senyum manis dan tawanya yang cerah seperti sebuah candu, membuat In Hwa menginginkan kehadiran Jongin lagi dan lagi. Tapi sayangnya In Hwa tidak tahu bagaimana perasaan Jongin padanya. Yang pasti dia tidak ingin membuat persahabatan mereka hancur hingga In Hwa bersedia menyimpan perasaan ini untuk dirinya sendiri.

In Hwa terkesiap saat sepasang tangan menutup kedua matanya. Dengan sigap ia berbalik dan mendapati Jongin–dengan senyum cerahnya–berdiri di depannya. Seketika In Hwa sadar bahwa kekesalannya lenyap hanya dengan melihat senyum pria itu saja.

“Lama menunggu?” tanya Jongin dengan wajah tanpa dosa.

“Menurutmu?” ujar In Hwa bersikap pura-pura kesal. Menutupi rasa senangnya yang menyeruak saat pria itu benar-benar datang. Mengendalikan dirinya yang  bisa saja tiba-tiba memeluk pria itu. Aish! Dia bisa gila.

“Aku minta maaf. Ada hal yang perlu ku kerjakan sebelum aku kesini.”

Jongin menarik lengan In Hwa dan mengajaknya duduk, sementara In Hwa hanya menurut.

“In Hwa-ya, ada yang ingin ku katakan padamu.”

In Hwa menatap Jongin dengan kening yang mengkerut. Suasana mendadak canggung. Jongin menggaruk tengkuknya merangkai kata yang akan dia ucapkan. Padahal sebelumnya ia sudah berlatih, tapi kenapa sekarang rasanya sulit sekali untuk mengatakannya.

“Jongin?” panggil In Hwa. Gadis itu dibuat penasaran dengan sikap Jongin yang mendadak aneh itu.

“Park In Hwa, aku… mencintaimu.”

DEG!

Sesaat In Hwa tidak bernapas. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja Jongin katakan padanya. Seperti anak panah yang dilepaskan, melesat di udara lalu menancap tepat di hatinya, membuat In Hwa membeku.

“Err.. Ku rasa aku salah karena telah mengatakan hal ini. Tapi aku hanya ingin agar kau tahu bahwa pandanganku terhadapmu sudah bukan sebagai sahabat lagi. Beberapa hari sudah aku memikirkan hal ini hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengatakannya saja. Maafkan aku…”

Jongin menunduk dalam, membuat In Hwa merasa bersalah akan kesalahpahaman tentang perasaannya juga. Hey! In Hwa bahkan menyukainya juga.

In Hwa memberanikan diri meraih tangan Jongin. Pria itu mendongak. Lalu mereka saling menatap.

“Jangan meminta maaf. Tidak ada yang perlu disalahkan jika memang perasaan itu benar adanya.”

In Hwa menarik napasnya sesaat, sebelum berkata “Dan asal kau tahu, aku juga mencintaimu, Jongin.”

Gadis itu tersenyum hangat. Begitu mempesona.

“Park In Hwa…”

Jongin memeluk In Hwa dengan erat membuat gadis itu sedikit terhuyung dan merasa sesak. In Hwa tertawa pelan. Dia sungguh bahagia dengan momen ini, hingga berharap waktu bisa dihentikan agar ia bisa merasakan pelukan hangat ini lebih lama.

“Aku akan tetap di sampingmu. Aku berjanji.”

***

Noona!!

Taemin memanggil In Hwa dengan setengah berteriak. Dia tampak begitu antusias dengan apa yang ingin dikatakannya pada In Hwa. Satu-satunya hal yang bisa membuat In Hwa kembali seperti dulu lagi.

“Ada apa?”

“Kau pasti tidak percaya dengan apa yang ku katakan. Jongin… dia… menelpon.”

In Hwa langsung beranjak dari tempat duduknya lantas menghampiri Taemin. Merebut telpon rumah yang berada di genggaman laki-laki itu.

“Jongin? Ini benar kau?” tanya In Hwa dengan suara serak.

Taemin memperhatikan In Hwa. Gadis itu tampak diam mendengarkan Jongin bicara. Sesaat kemudian dia mengangkat kedua ujung bibirnya.

Gadis itu tersenyum?

Taemin menunggu dengan sabar. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Tapi Taemin tahu bicara dengan pria itu, mendengarkan suara adalah detik-detik berharga bagi In Hwa.

“Jongin, aku merindukanmu,” lirihnya dengan bibir yang sedikit bergetar.

Sepertinya memang benar kalau hanya Jongin yang bisa membuat In Hwa tersenyum lagi. Semoga saja kembalinya Jongin dari kepergiannya, membawa kebahagiaan jangka panjang untuk In Hwa. Semoga.

“Aku akan bertemu Jongin sebentar lagi, Taemin-ah.”

***

“Apa penampilanku sudah rapi?” tanya In Hwa sambil memutar badannya, membuat dress biru muda dengan panjang selutut itu sedikit melayang.

In Hwa menatap refleksi tubuhnya di depan cermin. Memandangi dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi. Perasaan takut tiba-tiba menelusup. Apakah Jongin masih sama? Apakah Jongin masih ingin melanjutkan rencana pernikahan mereka.

Kehadiran Jongin yang mendadak itu sedikit banyak membuatnya takut. Ia takut kalau Jongin memberi kabar buruk. Seperti…

Noona, kau melamun?”

In Hwa mengerjap ketika Taemin membuyarkan lamunannya. Gadis itu menghadapkan wajahnya pada Taemin, tersenyum. Mengisyaratkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkannya. Walau sebenarnya hatinya masih cemas.

“Aku hanya gugup,” ujar In Hwa.

“Aih Noona, kalian sudah lama berteman. Mengapa sekarang seperti orang yang baru jatuh cinta saja,” ujar Taemin sembari memutar bola matanya dan hanya dibalas kekehan dari mulut In Hwa.

“Ya sudah, Noona cepatlah berangkat, jangan sampai Jongin menunggu.”

Ne. Gomawo Taemin-ah.”

***

In Hwa duduk di bangku taman, di tempat yang mereka janjikan. Gadis itu menghirup udara taman yang begitu segar dan menenangkan. Dia mengedarkan pandangannya. Beberapa orang juga tampakmenikmati keindahan taman. Ada sepasang kekasih yang menarik perhatiannya.

Mereka berdua tampak bicara serius. Setelah itu si pria mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah kotak cincin. Ketika pria itu membukanya, benda di dalamnya tampak berkilau. Si gadis langsung membungkam mulutnya tidak percaya. Air mata–yang In Hwa yakini bahwa itu air mata kebahagiaan–mengalir begitu saja.

Kemudian pria itu menyematkan cincin yang dibawanya ke jari gadisnya. Tak lama setelah itu mereka berpelukan. Seperti dalam drama. Benar-benar sistematis. Tidak kurang suatu apapun. Dalam hati In Hwa turut mendoakan kebahagiaan mereka.

“Park In Hwa.”

Suara seorang pria yang dikenalnya membuat tubuhnya seketika menegang. Benarkah itu tadi adalah suara Jongin? Pria yang membuatnya hampir gila sejak kepergiannya. Pria yang membuatnya lupa dengan cara hidup yang baik. Pria yang selalu memenuhi rongga hatinya dengan hanya terangkum dalam satu definisi–cinta.

In Hwa mendongak.

Wush!

Angin berhembus pelan di permukaan wajahnya, membuat helaian poninya tergerak pelan. Matanya berkedip pelan. Menatap wajah pria di depannya. Memperhatikan setiap detil bagian wajah pria itu. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama saat In Hwa terakhir kali bertemu dengannya.

“Kim Jongin!!”

In Hwa sontak berdiri lantas memeluk Jongin. Sangat erat. Sampai-sampai tubuh pria tinggi itu sedikit terhuyung ke belakang. Aroma tubuhnya begitu menenangkan. In Hwa menenggelamkan kepalanya di dada pria itu. Tanpa sadar mengalirkan air mata di pipinya.

Rasa rindu terhadap Jongin sudah terlalu dalam hingga In Hwa tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia ketika pria itu benar-benar di hadapannya bisa tersentuh oleh tangannya, dan menyatukan mereka dalam pelukan hangat.

“Maafkan aku… maaf.” Jongin terus-terusan menggumamkan kata maaf di telinga gadis itu. sementara In Hwa hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak butuh kata maaf sekarang. Asalkan Jongin ada di sisinya, maka kesalahannya terhapus.

“Jangan pergi lagi, Jongin…”

Jongin melepaskan pelukannya. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu In Hwa, membuat gadis itu mendongak.

“Aku pergi… karena aku… dijodohkan…”

Dan ketakutan In Hwa terjadi.

In Hwa menepis tangan Jongin. Dia memundurkan kakinya satu langkah. Dia merasa pening. Dan dia harus tetap bertahan dengan kakinya kalau tidak ingin jatuh terduduk tidak berdaya.

“Kenapa kau tidak mengatakan padaku sejak awal?”

Dan tidak membuat penantianku selama ini menjadi sia-sia.

“Maaf… Tapi sekarang–”

“Tidak, Jongin. Aku tidak butuh kata maaf. Aku ingin penjelasan.”

“Semuanya terlalu mendesak. Aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan aku tak sempat membicarakannya padamu. Orang tuaku memintaku pergi ke Jepang, menemui gadis yang sama sekali tidak ku kenal. Dan aku mencoba melupakanmu.”

In Hwa terus memandangi Jongin sembari menahan air matanya, menunggu pria itu menyelesaikan kisahnya.

“Tapi aku sadar. Bahwa aku tidak akan pernah bisa melakukan hal itu. Aku tidak akan pernah bisa menggantikan kau dalam hatiku dengan orang lain. Dan aku akan menjadi pengecut jika aku tidak berani mengambil keputusan untuk hidupku sendiri. Demi Tuhan, In Hwa, aku hanya bisa mencintaimu!”

Jongin tampak frustasi.

“Dan aku sudah membatalkan perjodohan sialan itu.”

“Apa?!”

“Ya. Aku memutuskan melarikan diri dari semua tekanan yang memaksaku melakukan ini-itu. Aku ingin kembali ke sisimu.”

In Hwa menumpahkan air matanya. Lalu memeluk Jongin. Genggaman tangan kanannya memukul-mukul dada Jongin.

“Bodoh! Jongin bodoh!”

“Kau benar. Aku hanya seorang bodoh yang akan melakukan apapun agar aku bisa bersamamu. Dan sekali lagi aku memintamu… mau kah kau menikah denganku?”

Jongin melepas pelukannya lalu menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Lantas menghapus jejak-jejak air mata di pipi gadis itu.

“Bodoh sekali kalau aku menolakmu, Jongin.”

Jongin tersenyum, begitu pula In Hwa.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana aku melihat senyuman di wajahmu.

Jongin memutus jarak diantara mereka. Menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Dia merindukan saat-saat seperti ini. Dia merindukan sentuhan hangat ini. Gadis itu tidak akan tergantikan.

“Terimakasih sudah menungguku. Terimakasih sudah mencintaiku.”

***END***

Haaft beruntunglah kau eonni tak jadi ku buat sad end. Kalo adegannya ku putus sampai Jongin bilang dijodohin, trus dia tinggalin, sakit hati tuh! HAAHAHA *ketawa evil*

Aku mau tanya, nangis gak di adegan awal? /plakk/ Aku sih engga *loh xD!!

Okedeh komen komen

Maaf ya  kalo ada typo dan semacamnya. Lagi-langi ngerjainnya kayak kereta ekspress xD!

Makasih semuanya… love ya!!

66 thoughts on “Missing You Like Crazy

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s