Secret Darling | 1st Chapter

secret-darling1.

.

:: SECRET DARLING | 1st Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | Luhan

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Design ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser

 

| 1st Chapter |

.

.

“Kau lihat laki-laki yang dibawah ring basket itu?”

“Tidak.”

“Ayolah, Minhee! Serius sedikit!”

“Tidak.”

“Minhee!!”

 

“Ssst!”

 

Minchan membungkam mulutnya saat desisan itu keluar dari mulut Minhee. Ia menatap sahabatnya yang masih saja asyik membaca buku itu dengan kesal, lalu tanpa perasaan mengguncang lengan Minhee sampai buku itu terjatuh.

Yak! Park Minchan! Apa yang kau lakukan, eoh?!” sembur Minhee kesal sambil memungut kembali bukunya.

“Kau yang sedang apa!” sembur Minchan balik. “Kapan sih kau mau melihat dunia luar? Kenapa kerjamu hanya membaca, membaca, membaca terus! Memangnya dari buku-buku itu kau bisa menemukan pacar?”

Minhee mendelik menatap Minchan yang masih cemberut. Sesaat kemudian ia mengerutkan keningnya sendiri sembari menempelkan punggung tangan kanannya keatas kening Minchan. Minchan menghempaskan tangan Minhee.

“Aku tidak sakit!”

“Kalau begitu jangan meracau, oke?”

 

Minhee bangkit dari kursi yang berada di tepi lapangan basket itu membawa buku novel tebalnya. Minchan mendengus walau mau tak mau harus mengikuti langkah Minhee juga.

“Kau! Kapan kau bisa move on dari pacar masa kecilmu itu, eoh?”

Langkah Minhee terhenti. Langkah Minchan otomatis juga terhenti. Ia menghela napas sebelum akhirnya menatap Minchan.

“Siapa yang baru saja kau bicarakan? Jangan sok tahu,” sahut Minhee datar lalu melanjutkan langkahnya lagi.

“Siapa yang sok tahu? Aku benar-benar tahu,” balas Minchan tak mau kalah. “Walaupun aku tidak pernah bertemu dengan dia, tapi setidaknya aku tahu namanya.”

“Oh ya?” Tanya Minhee datar. “Tapi kurasa cukup membicarakan dia hari ini. Dia hanya masa lalu, Minchan. Aku tidak mau lagi mengingat-ingat dia, mengerti?”

 

Mereka akhirnya tiba di lorong dengan jajaran loker yang menempel di sepanjang dindingnya. Minhee menghampiri loker miliknya lalu segera memutar kombinasi angkanya. Setelah terbuka, ia memasukkan novel tebal itu kesana. Minchan hanya memperhatikan kegiatan Minhee.

“Kau meminjam buku itu di perpustakaan kota?”

“Yap.”

“Astaga, jadi kau berkunjung ke tempat berdebu dan minim cahaya itu setiap minggu?”

Minhee hanya menggumam tak jelas sambil merapikan beberapa barang yang ia simpan di dalam sana. Namun seketika kegiatannya terhenti saat merasakan ada pesan yang baru saja tiba di ponselnya.

Ia membuang napas saat menemukan bahwa pesan tersebut dari oppa-nya.

 

“Oh, good!” sahut Minhee keras saat selesai membaca pesan itu.

Minchan menatap padanya lalu mengerutkan kening. “Apa?”

“Aku harus pulang bersama oppa-ku nanti. Bagaimana ini?” sahut Minhee sambil menyerahkan ponselnya pada Minchan.

Minchan membaca pesan itu sekilas lalu mengembalikan ponsel itu lagi pada Minhee. “Ya sudah, turuti saja apa maunya.”

“Tapi kan ini hari terakhir kita sebelum liburan… Tadinya aku mau kita jalan-jalan sampai sore di tepi Sungai Han,” sahut Minhee kecewa.

“Kita bisa jalan-jalan saat liburan nanti, kan? Sudahlah, tenang saja. Tidak apa-apa,” sahut Minchan sambil menepuk-nepuk pundak Minhee.

Minhee tersenyum kecut. “Ya, baiklah. Kau sangat mengerti bagaimana posisiku sekarang. Terimakasih, Park Minchan.”

 

Minhee pun menutup kembali lokernya dan berjalan sambil membawa tasnya menuju lapangan parkir. Sebenarnya ini adalah hari bebas karena besok sudah masuk waktu liburan, alasan mengapa ia bebas pulang cepat seperti ini.

Minchan mengantar sampai Minhee bertemu dengan Minhyuk, oppa-nya.

“Sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Minhee saat ia sudah sampai di depan Minhyuk.

Minhyuk berhenti melempar kunci mobilnya, menatap Minhee sambil mengangkat bahu.

Minhee tersenyum kecut lalu berbalik pada Minchan.

“Minchannie, aku pulang duluan, ya. Ingat janji kita, oke?”

Minchan tersenyum sambil mengangguk. Ia lalu melambai pada Minhee yang sudah memasuki mobil Minhyuk.

Josimhaseyo!”

 

Mobil Minyuk pun melaju membawa Minhee, meninggalkan Minchan yang masih tak bergeming dari posisinya sampai mobil Minhyuk meninggalkan sekolah.

Di dalam mobil, Minhee masih memasang wajah kecut sambil pura-pura sibuk menyetel music player. Minhyuk melirik wajah kecut adiknya, lalu tersenyum mengejek.

“Hei, Shin Minhee. Wajahmu jelek sekali,”

Minhee menolehkan kepalanya pada Minhyuk sambil memasang wajah datar. “Kau pikir kau juga tidak jelek? Kita ini bersaudara, dasar bodoh.”

Yak! Kau bilang apa tadi? Dasar adik kurang ajar,” Minhyuk tak terima.

Minhee hanya mengangkat bahu tak peduli lalu melengos tanpa melihat wajah Minhyuk. Minhyuk hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya itu.

 

Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah mereka. Minhee masuk rumah mendahului Minhyuk, namun langkahnya terhenti saat melihat kesibukan yang tak biasa di rumah itu.

 

Eomma, kita mau kemana?” Tanya Minhee bingung saat dilihatnya eomma dan appa-nya tengah sibuk menyiapkan segala perlengkapan keluarga mereka ke dalam koper-koper besar.

Nyonya Shin hanya memandangi putrinya lalu tersenyum. Ia melirik Minhyuk, seakan menyuruh putra sulungnya itu untuk menjawab pertanyaan Minhee.

“Aku lagi?” Tanya Minhyuk sedikit jengah. Tak ada yang menjawab pertanyaan Minhyuk itu. Minyuk memutar matanya. “Oh, baiklah. Terserah aja.”

Minhee melempar pandangan minta penjelasan pada Minhyuk.

“Jadi, kita akan jalan-jalan hari ini,”

“Hah?”

“Oh tidak, maksudku bukan hari ini saja. Tapi kita akan pergi berlibur. Benar kan, eomma?” ujar Minhyuk.

“Ya. Kita akan berlibur.”

“Apa?!” Tanya Minhee shock. “Kemana? Kita mau berlibur kemana?”

“Ke Pulau Jeju.”

“APA?!”

Aish, diamlah! Kau berlebihan sekali!”

 

Minhee memandang mereka dengan nestapa. “Ke Pulau Jeju? Kenapa baru bilang padaku sekarang?”

Sialnya tak ada yang menjawab pertanyaan Minhee itu. Minhee merengut kesal. Ia menjejakkan kakinya ke lantai lalu pergi ke luar. Perasaan kesal memenuhi seluruh rongga dadanya saat ia menghubungi Minchan.

“Halo, Minchan…”

“…”

“Tidak, bukan itu yang ingin kubicarakan. Kenyataannya ini lebih parah. Sepertinya janji itu harus batal. Aku harus ikut keluargaku pergi ke Pulau Jeju.”

“…”

“Benar tidak apa-apa? Ah, terimakasih, Minchan. Uhm, dan… Maafkan aku ya, lagi-lagi—”

 

“Minhee!”

 

“Hei, eomma memanggilku. Aku pergi dulu, ya? Nanti kalau sudah sampai, aku akan menghubungimu lagi. Janji.”

 

***

 

Sepanjang perjalanan, Minhee hanya memandang keluar jendela dengan tatapan tak bersemangat. Ia hanya diam sementara Minhyuk asyik mengoceh bersama appa dan eomma mereka. Minhee diam saja karena ia merasa sedih bercampur kecewa karena pada akhirnya semua rencana liburan yang telah disusunnya bersama Minchan hancur berantakan gara-gara liburan ke Pulau Jeju ini.

 

“Minhee-ya, kau diam saja?” tegur Nyonya Shin sambil mengalihkan pandangan pada putri bungsunya yang masih membuang wajahnya keluar jendela itu.

Yeah.” jawab Minhee singkat. Minhyuk mendengus mendengarnya.

Aish, pakai sok badmood segala. Sebentar lagi kau juga akan bersenang-senang,” sahut Minhyuk.

“Minhyuk-ah, kau ini bicara apa?” tegur Nyonya Shin sambil melempar death glare pada Minhyuk. Tuan Shin pun ikut-ikutan menatap Minhyuk dengan serius lewat kaca spion depan. Minhyuk terlihat sedikit panik lalu membungkam mulutnya.

Minhee menyadari ada atmosfer yang berubah disana. Ia mengalihkan pandangannya pada semua anggota keluarga Shin, namun Minhee kembali membuang pandangannya karena merasa tak menemukan jawaban apapun dari mereka.

 

Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah villa. Minhee segera turun dari mobil, melihat-lihat tampak depan villa itu sebentar, lalu mengecek sinyal di ponselnya.

“Bagaimana? Sinyalnya penuh, kan?” Tanya Minhyuk sambil muncul di belakang Minhee.

“Yap.” jawab Minhee singkat.

“Minhyuk, tolong kau bawa semua barang-barang ini! Kau juga, Minhee, bawalah barang-barangmu sendiri!” titah Nyonya Shin sambil membantu Tuan Shin menurunkan semua barang bawaan mereka dari dalam bagasi mobil. Minhyuk dan Minhee segera melangkah mendekati orangtua mereka lalu mulai sibuk mengangkut barang bawaan mereka ke dalam villa.

 

“Memangnya liburan kita disini akan lama, ya?” Tanya Minhee pada Minhyuk di sela-sela waktu mereka mengangkut barang. Ia melirik semua koper besar yang ditarik Minhyuk.

“Tak tahu,” jawab Minhyuk sekenanya. “Mungkin iya.”

Aish, yang benar saja! Hancur sudah semua rencana liburanku bersama Minchan,” keluh Minhee sambil meletakkan tas besarnya di dalam sebuah kamar.

 

Mereka menghabiskan hari pertama mereka di villa itu dengan membereskan segala barang bawaan mereka, setelah itu mereka beristirahat sejenak sampai hari mulai beranjak malam.

 

Sungguh Minhee merasa hari-hari liburannya sangat membosankan. Ia hanya ditemani Minhyuk sehari-harinya, sedangkan orangtua mereka selalu pergi setiap hari tanpa Minhee tahu mereka kemana. Minhyuk sendiri tak jelas kalau Minhee tanyai. Apalagi saat hari mulai beranjak larut malam, sekitar pukul 10 malam lebih, sinyal disana selalu hilang tanpa sebab. Semalaman tanpa sinyal, lalu pagi harinya sinyal baru muncul kembali.

Sangat aneh, padahal wilayah ini masih tergolong ramai oleh wisatawan.

 

“Minhee-ya,” panggil Nyonya Shin pada Minhee yang sedang berdiri sendirian diatas balkon. Minhee menoleh dan menemukan ibunya sedang berdiri di mulut pintu yang menjadi penghubung ke balkon.

“Ya, eomma?”

“Malam ini kita akan bertemu dengan teman eomma dan appa. Kau belum mengantuk, kan?” Tanya Nyonya Shin.

“Apa? Malam ini?” Tanya Minhee membelalakan matanya. “Eomma, sebentar lagi jam delapan. Bukankah sudah terlalu malam?”

Nyonya Shin menggeleng. “Tidak. Pertemuan ini memang sengaja diadakan malam, hari ini. Karena besok kemungkinan kita sudah pulang,”

“Benarkah?” sambut Minhee ceria. “Besok kita sudah pulang? Kapan, eomma? Siang? Sore?”

“Sudahlah, sekarang kau ganti baju saja, ya?” sahut Nyonya Shin mengalihkan pembicaraan. Ia melangkah masuk, namun Minhee hanya terdiam di mulut pintu balkon sambil memasang ekspresi bingung.

“Ganti baju?” Tanya Minhee bingung. Nyonya Shin menoleh memandang putrinya.

“Tapi aku—“

Eomma sudah mempersiapkan semuanya,”

 

Minhee mematung mendengar jawaban eomma-nya. “Hah?”

“Sudahlah, sekarang kau ikut saja dengan eomma. Oke?” sahut Nyonya Shin memutus pembicaraannya dengan Minhee.

Minhee memandang ragu sebelum melangkah menyusul eomma-nya.

 

 

Eomma, kemejaku keren sekali!” sahut Minhyuk lagi untuk kesekian kalinya, sampai-sampai Minhee bosan mendengarnya.

Minhee menatap gaunnya sendiri yang juga sama-sama baru sekali ini dipakainya. Selain karena eomma-nya baru saja membelikannya, ada alasan lain yang membuat Minhee jarang sekali bertemu dengan pakaian feminin seperti ini. Karena Minhee sendiri adalah tipe gadis yang tidak terlalu suka berpakaian feminin. Baginya, satu stel piyama jauh lebih baik daripada gaun seperti ini.

 

Minhee mengabaikan ocehan Minhyuk dan memilih untuk memasuki pekarangan belakang villa itu dengan menggandeng lengan eomma-nya erat-erat. Nyonya Shin hanya tersenyum kecil memandangi kelakuan Minhee saat ini.

Minhee mengeryit aneh saat dilihatnya hanya ada satu keluarga yang ada di pekarangan belakang villa itu. Mereka sedang mengatur sedikit pesta kecil-kecilan itu, pesta dimana hanya keluarga Shin yang diundang kesana.

 

“Kwonnie!” sapa Nyonya Shin senang pada seorang wanita yang tampak sedang mengatur kue-kue muffin diatas meja. Wanita yang dipanggil Kwonnie itu menoleh, dan raut wajahnya langsung berubah semakin cerah saat bertemu dengan Nyonya Shin.

“Yeonie!” sapa balik wanita itu pada Nyonya Shin. Wanita itu berjalan menuju Nyonya Shin lalu mereka saling berpelukan.

Minhee hanya bisa menatap bingung di tempatnya, bersama Minhyuk yang masih saja mengagumi kemeja mahal yang diberikan orangtuanya itu.

 

Seorang laki-laki yang tampak lebih tua dari mereka berjalan menghampiri mereka, berhenti tepat di belakang ibunya, lalu tersenyum ramah pada Minhyuk dan Minhee.

Minhyuk dan Minhee awalnya kaget dengan kedatangan laki-laki itu, apalagi melihatnya langsung tersenyum ramah pada mereka. Namun akhirnya kedua Shin siblings itu membalas senyum sang laki-laki berwajah baby face.

 

“Ini putra sulungmu?” Tanya Nyonya Shin pada wanita itu, menunjuk anak laki-laki yang tadi tersenyum pada Minhyuk dan Minhee.

“Ya, dia putra sulungku,” jawab wanita itu sambil tersenyum memandang anak laki-laki itu. “Luhan, ayo perkenalkan dirimu,”

 

Laki-laki itu membungkuk sopan lalu memperkenalkan dirinya.

“Namaku Oh Luhan. Senang bertemu dengan kalian malam ini,”

 

“Namaku Shin Minhyuk. Senang bertemu denganmu juga, Luhan-ssi,”

 

“Namaku Shin Minhee. Aku adik Minhyuk oppa,”

 

“Mereka berdua anakmu? Wah, sudah besar-besar ya? Aigoo, sudah berapa lama aku tidak bertemu mereka?” sapa wanita itu ramah sambil tersenyum pada Minhyuk dan Minhee.

Minhyuk dan Minhee membalas senyum Nyonya Oh.

 

“Luhan juga. Cepat sekali dia dewasa… Aku tak menyangka dia sudah lulus kuliah, dan kini tahu-tahu sudah bekerja. Minhyuk saja masih kuliah, begitupun Minhee yang baru saja lulus SMA,” sahut Nyonya Shin balik.

“Oh iya, kemana anak bungsumu? Dia ikut kesini, kan?” lanjut Nyonya Shin lagi.

 

Minhee mengangkat alisnya. Sebentar, apa eomma-nya baru saja membicarakan anak bungsu keluarga Oh?

 

“Ah, anak itu seharusnya sudah ada disini,” keluh Nyonya Oh. “Luhan-ah, bisa kau panggilkan adikmu?”

“Ya, eomma. Tunggu sebentar,” sahut Luhan lalu melangkah pergi menuju dalam rumah.

Tak lama kemudian, Luhan kembali lagi. Namun ia masih sendirian.

“Adikmu mana?” Bisik Nyonya Oh pada Luhan.

“Katanya sebentar lagi dia datang,” bisik Luhan lagi.

Minhee hanya terdiam walau sebenarnya ia bisa mendengar pembicaraan Nyonya Oh dengan Luhan.

 

“Ah! Itu dia,”

 

Mata Minhee beralih pada arah yang ditunjukkan oleh Luhan. Seketika pandangannya terhenti pada namja itu. Namja yang baru saja memasuki pekarangan belakang itu, dengan kemeja kotak-kotaknya yang ia padukan dengan kaos berwarna merah dengan tulisan TOKYO  yang cukup besar pada bagian depannya.

 

Aish!” keluh Nyonya Oh sambil bergegas menghampiri namja berwajah dingin itu.

“Kau! Kau apakan pakaian yang sudah eomma siapkan, eoh? Kenapa kau malah pakai pakaian ini? Kau tidak mau dilihat tamu? Lihat kakakmu, Oh Sehun!”

 

Namja bernama Sehun itu hanya memandang cuek lalu beralih menuju meja yang menghidangkan minuman soda. Ia mengambil sekaleng minuman itu disana, lalu meminumnya sendiri tanpa berminat memperkenalkan dirinya dulu pada keluarga Shin.

 

“Ah, lihat saja adikmu itu, Oh Luhan,” keluh Nyonya Oh sambil memandangi Sehun.

Luhan hanya menunduk lalu tersenyum kecil pada ibunya.

“Oh, maafkan Sehun. Dia sebenarnya anak yang baik, hanya saja mood-nya suka berubah tak menentu,” pinta Nyonya Oh meminta maaf pada keluarga Shin.

Nyonya Shin hanya mengangguk pengertian. “Ah, aku mengerti dia. Wajar kan, bukankah dia seumuran dengan Minhyuk?”

 

Yak! Minhee-ya, kau melamun?” panggilan lembut Luhan membuyarkan lamunan Minhee.

Minhee mengerjap lalu tersenyum kecil pada Luhan. Ia menggeleng.

“Kau sendirian? Bagaimana kalau kau ikut aku dan Minhyuk saja mengobrol?” ajak Luhan ramah, menunjuk Minhyuk yang sudah menunggu mereka di salah satu sudut.

Minhee tak langsung mengiyakan ajakan Luhan, walau ia tahu sebenarnya tak ada pilihan lain baginya selain menyetujui ajakan itu. Tapi entah kenapa ia malah menolehkan kepalanya pada Sehun yang masih asyik menikmati minuman sodanya sendirian sambil ditemani game player.

 

“Kenapa? Sebenarnya kau mau mengobrol dengan Sehun, ya?” tebak Luhan.

Minhee panik menyadari pikirannya yang bisa ditebak Luhan, lalu segera menggelengkan kepalanya.

“Kalau kau ingin mengobrol dengannya, biar aku panggilkan,” tawar Luhan lagi.

“Tidak perlu, oppa.” Jawab Minhee akhirnya. Ia segera mengalihkan pandangannya pada Minhyuk. “Aku ingin mengobrol saja bersama kalian,”

“Kau yakin aku tak perlu memanggilkan Sehun?” ulang Luhan.

“Tidak, dan aku yakin.” jawab Minhee lagi. “Sepertinya dia lebih senang sendirian, lebih baik aku bergabung saja bersama kalian, oke?”

Minhee lalu menghampiri Minhyuk setelah sebelumnya mengambil sebuah kue muffin diatas meja. Luhan tak langsung melangkah mengikuti Minhee. Ia menatap Sehun lama, lalu beralih ke Minhee. Ia memandang keduanya bergantian dengan tatapan ragu.

 

 

Hari semakin beranjak malam, Minhee terduduk sendirian kini karena entah sejak kapan Luhan dan Minhyuk pergi meninggalkannya dan asyik sendiri dengan obrolan mereka.

Berkali-kali Minhee menguap lebar, menandakan kantuk yang luar biasa mulai menyerangnya. Namun tak ada yang bisa ia lakukan kecuali duduk terkantuk-kantuk sendirian seperti sekarang. Tuan Shin dan Tuan Oh sedang asyik dengan obrolan mereka soal bisnis, Nyonya Shin dan Nyonya Oh sedang asyik dengan obrolan tentang mode, sedangkan Luhan dan Minhyuk entah pergi kemana. Sejenak Minhee masih bisa melihat Sehun yang masih asyik dengan game player-nya tanpa terlihat mengantuk sama sekali.

 

Minhee mengeluh keras. Dengan langkah gontai ia menghampiri Nyonya Shin.

Eomma, bisa pulang sekarang? Aku mengantuk,”

 

Nyonya Shin menoleh menatap putrinya. “Aigoo, kau sudah mengantuk?”

 

Minhee mengangguk lemah lalu terduduk sambil menyender pada Nyonya Shin.

 

Aigoo, Minhee-ya, kita pulang masih lama. Bukankah sudah eomma bilang, ini satu-satunya pertemuan keluarga kita dengan keluarga Oh sebelum kita pulang besok?” jelas Nyonya Shin.

“Tapi aku mengantuk, eomma. Aku mau pulang sekarang,” sahut Minhee dengan mata yang sudah setengah terpejam.

“Kau mau menginap saja disini?” tawar Nyonya Oh.

Minhee menggeleng. “Tidak mau, aku mau pulang saja ke villa.”

“Minhyuk, kemana dia?” Tanya Nyonya Shin sambil memandang berkeliling mencari Minhyuk.

“Dia pergi sepuluh menit yang lalu bersama Luhan. Luhan mengajaknya pergi membeli sesuatu di festival pantai,” jelas Nyonya Oh. “Maafkan aku, Yeonie. Aku tidak tahu kalau Minhee akan minta pulang lebih awal sekarang,”

“Tidak apa-apa,” jawab Nyonya Shin sambil tersenyum. “Minhee, kau sabar sebentar, ya? Sebentar lagi kita pulang. Kau tidur saja dulu disini,”

“Aku tidak bisa tidur disini, eomma,” rengek Minhee. “Aku mau pulang sekarang.”

 

“Tunggu! Biar Sehun yang mengantarkan Minhee pulang ke villa kalian,” sahut Nyonya Oh memberi ide.

“Tapi Kwonnie, apa itu tidak merepotkan?” ujar Nyonya Shin tidak enak hati.

“Tidak, biarkan saja. Dia tidak melakukan apapun sedari tadi kecuali bermain game,” sahut Nyonya Oh sambil tersenyum.

 

Nyonya Oh segera memanggil Sehun. Sehun pun mendekat walau memasang wajah setengah hati.

 

“Sehun-ah, kau antarkan Minhee pulang ya, ke villa keluarga Shin?”

 

“Apa?!”

 

Nyonya Oh memelototkan matanya pada Sehun, seakan memaksa Sehun untuk menuruti permintaannya.

“Ayolah, Oh Sehun. Beramah tamahlah sedikit terhadap tamu, oke? Eomma akan semakin marah padamu karena sejak awalpun sikapmu sudah tidak menyenangkan. Jadi, antarkan Minhee sekarang atau eomma akan benar-benar marah padamu.” Ancam Nyonya Oh.

“Kwonnie, apa kau—“

“Tidak perlu sungkan, Yeonie. Hanya saja Tuan Muda Oh ini harus belajar sopan santun terhadap tamu. Kau mengerti, Oh Sehun?”

 

Aish, baiklah, aku antarkan dia,” sahut Sehun mengalah, walau kentara sekali ada nada yang dipaksakan dalam kalimatnya.

Nyonya Shin mencatatkan sebuah alamat pada kertas lalu menyerahkannya pada Sehun. “Ini alamat villa kami, sebelumnya terima kasih karena sudah mau direpotkan oleh Minhee. Kau anak yang baik, Oh Sehun.”

“Ya, sama-sama.” sahut Sehun sambil menerima kertas itu.

 

“Minhee-ya, bangun,” sahut Nyonya Shin sambil menepuk-nepuk pipi Minhee.

Minhee mengerjapkan matanya perlahan, lalu mulai terbangun dengan mata yang hampir bengkak karena menahan kantuk. Sehun terkesiap sesaat melihatnya, merasa kasihan juga melihat keadaan Minhee yang sepertinya sudah sangat mengantuk itu.

“Kau akan pulang, ya? Sehun oppa yang akan mengatarmu,”

Minhee mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba melihat Sehun, namun sepertinya tidak fokus karena baru beberapa detik dan matanya sudah terpejam lagi.

Nyonya Shin lalu memapah Minhee menuju pekarangan depan. Nyonya Oh ikut mengantar sampai pekarangan depan, lalu memberikan kunci mobil milik Tuan Oh pada Sehun.

 

“Jaga dia baik-baik,” pesan Nyonya Oh sambil menyerahkan kunci mobil itu pada Sehun.

Sehun mengerutkan keningnya mendengar kata-kata eomma-nya, namun ia tak sempat bertanya lebih jauh lagi. Ia mengabaikan rasa tak mengertinya, lalu masuk ke dalam mobil. Melajukan mobil itu menuju arah yang tertera di kertas alamat pemberian Nyonya Shin.

 

Selama perjalanan menuju villa keluarga Shin, tak ada satupun kata yang memecah keheningan antara Sehun dan Minhee. Minhee tampaknya sudah cukup terlelap, sedangkan Sehun lebih memilih untuk berkonsentrasi menyetir sambil sesekali melirik Minhee.

Entah apa yang sedang mempengaruhi kinerja otaknya, sesekali Sehun tersenyum kecil saat melihat wajah Minhee yang sedang tertidur itu.

 

Baru sampai setengah perjalanan, tiba-tiba Sehun merasakan ada hal yang tak beres terjadi dengan mobil appa-nya. Perlahan mobil itu melambat, dan berakhir dengan jalan yang tersendat-sendat. Bahkan di sendatan terakhir, mobil terhenti cukup keras sehingga menyebabkan Minhee terdorong maju ke depan sampai tubuhnya membentur dashboard. Minhee langsung terbangun dan mengeluh kesakitan pada lengannya.

 

“Maafkan aku, Minhee. Kau tidak apa-apa, kan?” Tanya Sehun dengan nada cemas sambil melepas safety belt-nya untuk memeriksa keadaan Minhee. Saat itulah ia sadar jika Minhee tidak menggunakan safety belt.

“Sakit…” keluh Minhee kecil. Ia mengusap-usap lengannya yang tadi terbentur dashboard. Lalu saat ia menoleh, barulah ia tersadar jika saat ini ia sedang satu mobil bersama Sehun. Ia langsung membelalakan matanya dan mengedarkan pandangannya pada kabin belakang. Namun nihil, nyatanya ia hanya berdua dengan Sehun dalam mobil itu sekarang.

“Apa yang terjadi?” Tanya Minhee. Saat itulah Sehun tersadar jika ia harus segera memeriksa kap mobilnya.

“Tunggu sebentar,” sahut Sehun sambil membalikkan badannya untuk keluar dari dalam mobil. Minhee sesaat hanya bisa tertegun di kursinya saat menyadari jika Sehun memintanya agar tidak usah keluar dari mobil. Walaupun hanya lewat tatapan mata, tapi entah kenapa Minhee mengerti dengan apa yang diisyaratkan Sehun.

 

Minhee gelisah mendapati ponselnya tak mendapat sinyal saat larut malam disini, seperti hari-hari sebelumnya. Ia mencoba memandang apa yang Sehun lakukan pada mesin-mesin itu, namun nihil karena kap mobil menutup seluruh area pandangannya.

Minhee mendecak kecil sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul Sehun keluar. Ia menghampiri Sehun yang terlihat sedang memeriksa tangki accu.

“Apa yang terjadi?” Tanya Minhee lagi.

Sehun segera menoleh padanya. “Kau, sudah kubilang kau tak usah keluar. Tunggu saja di dalam mobil.”

Minhee mengerutkan keningnya. “Memangnya kau bilang seperti itu tadi?”

Sehun menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada Minhee dengan ekspresi polos. “Eoh, memangnya tidak, ya? Perasaan tadi aku bilang seperti itu padamu… Ah, sudah lupakan saja. Aku lupa.”

Minhee meringis kecil mendengar jawaban Sehun. “Jadi sekarang mobilnya kenapa?”

“Air accu-nya habis. Pasti appa lupa mengisinya. Aish, kenapa malam ini begitu sial.” jawab Sehun sambil sedikit mengeluh pada dirinya sendiri. Mendengarnya, tak ada yang bisa Minhee lakukan selain terdiam.

Minhee mengedarkan pandangannya pada lingkungan yang ada di sekitar mereka. Matanya tertuju pada satu-satunya rumah lokal yang menampilkan tulisan homestay di pekarangan depannya.

 

“Disana ada homestay,” sahut Minhee sambil menunjuk rumah itu. “Sinyal ponsel selalu lenyap saat malam hari disini, jadi kita tak bisa minta bantuan siapapun. Satu-satunya jalan adalah, kita menginap disana sekarang dan pagi harinya kita baru bisa minta bantuan pada kakak kita.”

Sehun memandang Minhee dengan pandangan tak yakin.

Minhee tersenyum. “Ayolah, hanya itu satu-satunya pilihan. Atau jika kau mau, kita harus mendorong mobil ini sampai ke villa keluargaku,”

“Baiklah,” jawab Sehun. Ia lalu mengeluarkan dompet yang untungnya selalu ia bawa itu. Mengeceknya sebentar, lalu menghembuskan napas lega saat dirasa uangnya cukup untuk sekedar menyewa dua kamar untuk satu malam.

Minhee melihat apa yang dilakukan Sehun, lalu pandangannya meredup.

“Maafkan aku… Apa aku merepotkanmu? Uhm, uangmu jadi habis, ya?” Tanya Minhee menyesal.

Sehun menatap Minhee. “Tidak apa-apa, tidak usah sungkan begitu. Orangtua kita bersahabat, kan?”

Minhee membalas tatapan Sehun lalu tersenyum kecil. “Terimakasih… Oppa,”

Sehun rasanya ingin tertawa mendengar nada suara Minhee yang terdengar canggung saat memanggilnya oppa. Namun ia memilih menyembunyikan tawanya itu, dan hanya tersenyum pada Minhee.

“Minhee-ya, boleh aku minta bantuanmu?”

Minhee menganggukkan kepalanya.

“Bantu aku mendorong mobil ini sampai ke pekarangan rumah itu, ya?”

 

Raut wajah Minhee sejenak meragu, ia memperhatikan mobil itu dengan ekspresi tak yakin. Sehun tertawa kecil melihatnya.

“Ayolah. Ini tak akan berat, kita kan berdua?”

Akhirnya Minhee mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. Maka ia pun membantu Sehun mendorong mobil itu sampai ke pekarangan homestay itu. Setelah mobil itu terparkir dengan benar, Sehun dan Minhee segera menuju ke teras rumah itu dan mengetuk pintu.

 

Seorang ahjumma membukakan pintu, dan raut mengantuknya terlihat jelas saat ia menemui Sehun dan Minhee. Tapi walaupun begitu, matanya terlihat sedikit memicing curiga melihat kedatangan sepasang remaja itu malam-malam ke penginapan kecil miliknya.

“Kalian mau apa malam-malam ke penginapan? Kalian masih usia pelajar, kan? Tidak akan, aku tidak akan membiarkan kalian berbuat mesum di penginapanku.” Ujar ahjumma itu dengan nada sedikit tajam, bahkan sebelum Sehun ataupun Minhee mengeluarkan sepatah katapun.

 

Mata Sehun dan Minhee membelalak mendengar ocehan ahjumma itu.

 

“Sekarang kalian pulang saja ke rumah kalian masing-masing. Aku tak menerima tamu anak kecil seperti kalian. Ayo pergi!” ahjumma itu menguap lebar sebelum bersiap menutup pintu lagi.

Ahjumma, tunggu!” tahan Sehun.

Ahjumma itu mengurungkan sejenak niatnya untuk menutup pintu. Ia menatap Sehun dengan mata mengantuknya. “Apa lagi?”

Ahjumma jangan salah paham dulu,” jelas Sehun. “Mobil kami mogok dan kami tidak mendapatkan sinyal. Jadi kami tidak bisa meminta bantuan pada keluarga kami sama sekali. Dan satu lagi, kami bukan pasangan yang ingin mesum di penginapan ahjumma karena kami ingin menyewa dua kamar. Kalau bisa yang letaknya berjauhan.”

 

Ahjumma itu menatap Sehun tak yakin. Namun Sehun memperlihatkan tatapan jujurnya.

“Ah, maafkan aku, aku baru ingat.” Sahut ahjumma itu setelah sesaat menatap Sehun. “Aku hanya memiliki satu kamar yang kosong.”

 

Sehun dan Minhee terdiam mendengar jawaban ahjumma itu. Sejenak mereka saling pandang.

“Baiklah, satu kamar itu untuknya saja,” sahut Sehun sambil mendorong pelan punggung Minhee mendekat pada ahjumma itu.

Minhee menolehkan kepalanya pada Sehun dengan cepat, tatapannya penuh tanda tanya, namun Sehun hanya memberikan senyuman untuk menjawab semua pertanyaan itu.

“Ini biaya sewanya untuk satu malam,” sahut Sehun sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada ahjumma itu. “Biarkan dia tidur di dalam sana. Aku akan tidur di dalam mobil.”

 

Mata Minhee membelalak lagi saat menatap Sehun. “Apa maksudmu?”

Sehun tersenyum sambil mengacak pelan rambut Minhee. “Kau lelah. Tidur saja di dalam, dan aku akan tidur di dalam mobil. Menjaganya. Itu mobil appa-ku, jadi aku tak boleh menginggalkannya, oke?”

Minhee tak bisa menjawab kata-kata Sehun lagi karena laki-laki itu sudah mendorongnya agar mengikuti langkah ahjumma pemilik penginapan. Akhirnya Minhee mengikuti langkah ahjumma itu, walau pandangannya tak bisa lepas tertuju pada sosok Sehun yang masih tersenyum dan memandanginya dari teras.

 

“Ini kamarmu,” sahut ahjumma itu sambil membuka salah satu kamar yang tak dikunci.

Minhee memasuki kamar itu dengan canggung. Mengedarkan pandangannya menelusuri isi kamar saat menjejakkan langkah-langkah pertamanya dalam kamar itu.

“Ini kuncinya,” sahut ahjumma itu lagi sambil menyerahkan kunci kamar pada Minhee.

Minhee menerimanya dengan perasaan setengah hati. Pikirannya masih melayang pada Sehun yang saat ini sedang tidur di pengapnya kabin mobil.

 

Grek!

 

Ahjumma itu menutup pintu dan meninggalkan Minhee sendirian di dalam kamar. Suasana hening langsung menyelimuti Minhee, membuat Minhee merasa canggung. Minhee melangkah pelan menuju tempat tidur dalam kamar itu. Ia duduk di tepinya, namun rasa kantuk dan lelah tak membuatnya ingin berbaring sedikitpun.

Entah beberapa puluh menit Minhee habiskan untuk berdiam diri seperti itu, sampai tiba-tiba suara hujan yang datang mengguyur tanpa komando sama sekali menyadarkan lamunannya. Minhee menoleh menatap jendela, dimana hujan tampak lebat mengguyur di luar sana. Jantung Minhee berdegup cepat, memikirkan sosok satu orang yang masih ada diluar sana.

Minhee menggenggam kunci kamar dengan gelisah, lalu tanpa menunggu otaknya berpikir dua kali ia segera melangkah cepat keluar kamar dan berlari sehening mungkin menuruni tangga. Ia melangkah cepat menuju pintu depan. Menyambar payung yang tergeletak di dekat pintu masuk dan membuka pintu depan dengan kunci cadangan yang tersedia di meja dekat telepon umum.

 

Tok tok tok!

 

Sehun yang sedang menggigil kedinginan membuka matanya perlahan, namun langsung terbelalak saat melihat gadis itu sedang berdiri di jendela dekatnya berbaring sekarang. Gadis itu memakai payung besar yang entah ia dapatkan darimana, menatap cemas pada Sehun yang ada di dalam sana, dan kembali mengetok kaca jendela dengan ekspresi yang sedikit tidak sabar.

Sehun membuka pintu mobilnya, lalu gadis itu segera menariknya keluar.

Yak!”

“Aku tak akan mengizinkan kau tidur disini.”

Gadis itu merebut kunci mobil dari tangan Sehun, menarik Sehun sampai keluar sepenuhnya dari mobil dan terlindung dibawah payung besar itu, menutup pintu mobil, menekan kunci centralock, lalu membawa Sehun memasuki penginapan itu.

Gadis itu mengembalikan payung besar itu beserta kunci depan ke tempatnya semula, lalu menarik tangan Sehun menuju kamar sewanya. Tapi sebelum mereka masuk, Sehun melepaskan tangan gadis itu.

 

“Minhee, apa maksudmu? Kita tidak boleh tidur satu kamar,” tolak Sehun dengan suara pelan, tak ingin membangunkan penyewa kamar yang lain.

“Tapi aku juga tak bisa membiarkan kau tidur diluar sana,” sahut Minhee. “Dengar, oppa. Kita memang terpaksa tidur satu kamar, tapi aku akan tidur di tempat tidur sedangkan oppa boleh memakai sofa. Di dalam ada sofa yang cukup besar. Aku lebih tenang jika oppa tidur disana.”

Sehun hanya terdiam sambil menatap Minhee. Lalu Minhee pun melanjutkan langkah dengan menarik Sehun memasuki kamar itu. Ternyata kamar itu lumayan luas dan memang ada sebuah sofa panjang yang terlihat empuk di sudut sana.

Minhee membawa Sehun menuju sofa itu, membawakan Sehun selimut lain yang ditemukannya dalam lemari, beserta sebuah bantal untuk Sehun.

“Kemejamu basah,” sahut Minhee saat tangannya tak sengaja menyentuh kemeja Sehun. Ia melepaskan kemeja Sehun, sehingga kini Sehun hanya memakai kaos merahnya dengan tulisan TOKYO itu.

“Sekarang oppa tidur disana, dan aku disini, oke?” sahut Minhee sambil melangkah menjauhi Sehun. Terduduk diatas tempat tidur jatahnya.

“Aku percaya pada oppa,” sahut Minhee sambil tersenyum. “Nah, selamat malam.”

***

 

Esok paginya, pukul tujuh pagi, Minhee baru terbangun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu baru mengingat-ingat jika ia sedang berada di penginapan gara-gara mobil appa Sehun yang mogok semalam.

Ia beralih menatap Sehun yang masih tertidur diatas sofa. Minhee tersenyum tipis.

“Dia lucu juga saat tidur,”

 

Tiba-tiba ponsel Minhee berbunyi, tanda jika ada panggilan yang masuk.

Minhee meraih ponselnya yang ada di dekat lampu tidur. Ah ya, pasti pagi ini sinyal sudah kembali seperti semula!

 

Minhee tersenyum lebar membaca nama pemanggil yang tercantum di layar ponselnya. Itu dari oppa-nya, Minhyuk. Bayangan sang oppa yang akan segera datang menjemput kesana seketika menari dalam benaknya.

 

“Halo, oppa?”

 

“SHIN MINHEE, DIMANA KAU?!”

 

Wajah Minhee memucat dengan refleks saat mendengar suara oppa-nya yang menggelegar di seberang sana.

 

Oh, tidak. Bukan nada seperti itu yang ia inginkan.

 

 

 

| T B C |

 

 

Alohaaaaa para readers tercintah Secret Darling ~(‘.’)~

Duh, maafkan aku yang baru bisa posting first chapter nya sekarang (/-\)

Tapi gapapa dong ya, aku kasih long edition nih sebagai chapter pembuka😀

 

Gak banyak cuap-cuap yang bakal aku sampaikan disini.

Pertama, aku mau ngasih info ke kalian bahwa Secret Darling ini bakalan post seminggu sekali. Yaitu pada Sabtu malam. Jadi buat kalian yang sering gak ada kegiatan satnight (kayak aku, wakakakaka) maka kalian bisa satnight baca fic ini :3

Atau bisa juga aku posting hari Minggu. Tapi terlepas dari kedua hari itu, semua kembali lagi ke tergantung internet aku juga, hahaha. Soalnya aku bisa apa tanpa kuota modem(?) :3

Sistem ini berlaku mulai second chapter ya, yang mudah-mudahan bisa post tanggal 8 Maret 2014🙂

Jadi mohon doanya saja, supaya posting chapter selanjutnya dilancarkan🙂

 

Kedua, aku mau ngasih info soal tambahan cast.

Buat cast, masih ada sekitar 5 atau 6 mayor cast lagi yang bakal muncul. Semuanya berkaitan satu sama lain dengan cast utama yang sudah mucul :3

Tapi tidak menutup kemungkinan juga ada beberapa minor cast yang aku munculin disini.

Soal siapa aja mereka dan bakalan muncul di chap berapa, mari menunggu lebih lanjut😀

 

Dan ketiga, tentu aja soal komentar. Hahahaha

 

Aku mau mengingatkan jika jumlah komentar kalian di fic ini melebihi harapan aku, maka aku bakalan posting fic Secret Darling di wp ini terus. Tapi kalo ternyata dari awal-awal aja udah banyak siders bergentayangan di fic ini, maka aku terpaksa posting fic ini di wp pribadi aku dan setiap chap nya bakal aku protect😛

Hayolo, pilih yang mana?😛

Jadi mohon kerjasamanya ya 🙂

 

[♥] : Buat kalian yang kemaren udah komen di teaser, aku sayang kalian semua (?)😀

Makasih banyak ya, komentar kalian bener-bener melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi~

 

shineshen

 

820 thoughts on “Secret Darling | 1st Chapter

  1. Ping-balik: [16 Sept 2016] Rekomendasi ff Marriage Life EXO | Rekomendasi Fanfiction EXO

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s