Ain’t a Fool

Title : Ain’t a Fool

Genre : romance angst fluff

Cast : Do Kyungsoo (DO EXO)

Park Jihyo (YOU)

Kim Yoojin

Length : Oneshoot

Summary :

Jihyo sama sekali bukan tipe Kyungsoo. Dilihat dari segi apapun juga begitu kentara bahwa ia tidak cocok dengan Kyungsoo, bahkan ramalan zodiak menyatakan karakter keduanya tidak cocok sedikitpun. Tapi selama ini Jihyo tidak pernah serius memikirkan itu. Dia mencintai Kyungsoo dan setaunya, begitu pula dengan Kyungsoo. Dan itu sudah cukup untuk membuat mereka menjalani hubungan selama dua tahun lebih.
 

 

Seluruh isi ruangan tampak sibuk memperhatikan seorang guru yang tengah memberi penjelasan tentang Integral, tetapi terdapat pengecualian pada seorang gadis yang duduk dibangku paling belakangan kelas, ia malah lebih asik memandang layar handphonenya dengan raut bosan setengah mati.

‘Sayang…

Kau lagi apa?”

Begitulah isi pesan yang baru saja ia kirimkan untuk siapa lagi kalau bukan kekasihnya. Seharusnya dia sudah tahu jawaban apa yang akan ia terima. Belajar, tentu saja. Tetapi gadis berambut hitam lurus itu terlihat semakin bosan karena tak kunjung terdengar bunyi vibrate dari handphone yang ia letakkan asal di atas pangkuan.

Sayang, aku sangat bosan sekarang! Pelajaran guru Lee benar-benar membosankan..’

Gadis itu mengirimnya sekali lagi. Berharap kali ini sang pacar membalas pesannya dengan segera. Karena jika tidak, dia akan terus mengirim pesan-pesan tidak penting lainnya. Tetapi jika dibalas juga akan tetap berakhir sama saja.

‘aku sedang memikirkanmu, sayang.”

Gadis itu menahan senyumnya. Tumben sekali lelaki datar itu membalas pesannya jauh lebih baik dari yang ia harapkan.

Kenapa kau membalasnya lama sekali?

‘Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukannya. Kau tahu aku hanya mencintaimu, kan?

‘benarkah? Kupikir kau telah melupakanku :(‘

‘itu tidak mungkin, sayang. Bahkan setiap detik saja otakku terus memberikan ingatan tentangmu. I will love you untill I die. You will be the only one in my heart. You know it. <3′

Gadis yang awalnya tampak suram itu langsung tersenyum cerah kearah handphonenya, seperti handphone itu baru saja memberikannya hadiah rumah mewah gratis. Ini merupakan kejadian yang sangat amat langkah. Pacarnya yang terbilang begitu cuek itu tidak pernah terang-terangan mengakui hal itu seperti sekarang. Mungkin, sindirannya tentang pria romantis idamannya telah membuat lelaki itu sedikit berubah. Pipinya bersemu merah, bibirnya tanpa sadar terus membentuk senyum. Ini betul-betul membuat hatinya bahagia bukan main. Rasa khawatirnya beberapa hari terakhir ini terbayar sudah dengan kebahagiaan yang begitu indah.

Sayangnya, dia sama sekali tidak tahu keadaan apa yang tengah terjadi disekitarnya hingga sebuah tangan merampas paksa alat komunikasi modern itu dari genggamannya. Reflek, gadis itu mendongak dan menyadari banyak sekali pasang mata yang menatapnya ngeri sekaligus prihatin. Sedangkan matanya masih terbelalak kearah seorang lelaki paru baya yang menatapnya dengan tatapan membunuh itu. Jelas saja ini merupakan bencana besar.

“Bagus sekali Park Jihyo! Handphonemu kusita dan kerjakan soal nomor 3…” ucap Guru Lee dengan nada mati-matian menahan sabar. “SEKARANG JUGAAA!” lanjutnya berteriak. Dan itu membuat Jihyo langsung memegang bagian jantungnya karena kaget setengah mati.

Wajah Park Jihyo yang awalnya secerah mentari pagi itu tiba-tiba menjadi pucat pasih bagaikan kehabisan darah. Dia berjalan kearah papan tulis dan melihat soal nomor 3 yang tertera disana. Itu susah sekali. Mungkin level 10. Ayolah dia belum tentu mampu mengerjakan level 1 bahkan jika dia memperhatikan penjelasan guru Lee dari awal sekalipun.

Dia sama sekali tidak mengerti apa itu integral!!

Keringat dingin terus bercucuran dari pori-pori kulitnya. Tidak tahu kenapa hari ini terasa begitu panas dan waktu berjalan begitu lama. Jihyo merasa clueless, ia bahkan tidak mengerti bagaimana cara menjawabnya. Mengerti soal saja tidak.

Gadis itu melirik ke belakang, berharap salah satu dari temannya mau memberikan bantuan. Beberapa dari mereka memang berusaha memberikan isyarat-isyarat jawaban, tetapi Jihyo sama sekali tidak terkonek apa maksud dari isyarat-isyarat tersebut.

“Maaf Pak, tapi saya tidak mengerti…” akunya setelah menyadari bahwa ia hanya punya diri sendiri yang bisa membantunya. Disisi lain, ia merasa risih terus menjadi pusat perhatian karena sedaritadi hanya menatap kosong papan tulis. Orang-orang pasti sedang mengejeknya dalam hati.

Guru Lee tidak langsung menjawab. Suasana menjadi semakin tegang karena pria itu hanya menatap Jihyo acuh tak acuh lalu tak lama kemudian menghembuskan napas panjang.

“Moon Jongup, katakan pada Do Kyungsoo jika dia saya panggil kemari, sekarang!”

Jongup mengiyakan lalu dia segera pergi keluar kelas, tanpa menatap Jihyo yang mungkin sudah mau pingsan sekarang.

“Ya Park Jihyo, siapa yang menyuruhmu kembali ke tempat duduk? Tetap berdiri disana!” Jihyo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena penahanan Guru Lee sekarang semakin membuatnya panik, malu, putus asa, dan takut. Untuk apa dia memanggil Kyungsoo? Apa yang diinginkan oleh guru tergila sedunia versi Park Jihyo ini? Bukan hanya Jihyo yang penasaran, tetapi juga seluruh manusia yang berada dikelas yang sama dengannya juga penasaran. Pria tua ini selalu tahu cara untuk menghancurkan kebahagiaannya.

Tak lama Jongup, si ketua kelas yang biasanya selalu pasrah karena ulah teman-teman sekelasnya itu datang berbarengan dengan Do Kyungsoo.

Kyungsoo mengetok pintu sopan sebelum masuk, dia sendiri bingung untuk apa dia dipanggil ke kelas ini, oleh guru Lee Youngmin pula. Perasaannya tidak enak, benar-benar tidak enak. Jika guru Lee memanggilnya karena urusan olimpiade atau sebagainya juga tidak mungkin di jam segini dan diruang kelas lain. Dan insting Kyungsoo memang jarang salah. Apalagi ketika melihat Jihyo berdiri seperti pajangan mannequin didekat papan tulis.

“Kyungsoo, kau ajarkan pacarmu ini soal nomor 3, sampai mengerti!!!!!”

Kyungsoo, Jihyo dan yang lain tentu saja terkejut dengan perintah guru Lee. Ini benar-benar konyol! Yah tapi bukankah guru Lee memang selalu konyol dan apa saja bisa terjadi karenanya? Hal seperti ini merupakan salah satu caranya untuk membuat murid-murid yang lain, terutama Jihyo sendiri jera terhadap ulahnya. Dan jujur saja, Jihyo betul-betul menyesal kenapa tidak pura-pura memperhatikan guru Lee kali ini.

Sedangkan Kyungsoo, ia tidak tahu bagaimana caranya menolak karena guru Lee paling tidak suka dibantah. Bahkan dipanggil kemari saja dia sudah malu setengah mati apalagi jika harus menjelaskan pelajaran didepan kelas terhadap Jihyo. Dia tahu ini memang salahnya kenapa begitu ceroboh sehingga tidak sadar bahwa handphondnya telah disalahgunakan oleh temannya yang agak tidak waras itu, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol. Lihat? siapa yang mendapat hukumannya sekarang? Kyungsoo bahkan berniat untuk menggoreng hidup-hidup pria berkuping besar itu yang membuat awal minggunya begitu sial.

“Begini sa…yang,” dia bersuara begitu pelan ketika berkata ‘sayang’ tetapi ternyata tidak begitu pelan untuk tidak didengar oleh yang lainnya. Sontak seluruh isi kelas langsung tertawa membuat muka Kyungsoo semakin memerah dan Jihyo semakin pucat. Ya, seingatnya Jihyo akan marah habis-habisan jika Kyungsoo tidak memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Dan gadis itu sekarang lumayan menyesal telah membuat peraturan seperti itu.

“Pertama, kau tuliskan dulu permisalannya, nah seperti contoh nomor satu…”

Jihyo melihat kearah nomor satu yang entah siapa yang mengerjakannya dan dia malah semakin tidak mengerti. Terlalu berbelit-belit dan maksud angka ini saja dia tidak tahu.

Menyadari Jihyo yang masih tidak nyambung, Kyungsoo mencoba jalan lain yang mungkin bisa lebih mudah dicerna oleh Jihyo, “atau kau masukkan dulu rumusnya. Kau tahu kan harus menggunakan rumus yang mana?”

Seperti yang diduga oleh Kyungsoo, Jihyo menggeleng pasrah disertai oleh tawa seisi kelas yang merasa terhibur dengan kelakuan mereka berdua.

“Kau gunakan rumus yang ini, lalu tinggal masukkan saja angka-angkanya.”

Jihyo menurut dan mulai menuliskan rumus yang ditunjuk oleh Kyungsoo dan berikutnya dia tidak tahu angka mana yang harus dia masukkan terlebih dahulu. Tangannya tiba-tiba terasa kaku dan dia berhenti menulis hanya sebatas rumus. Dia menatap Kyungsoo yang juga tampak menyerah itu dengan meminta bantuan.

Mungkin mereka berdua sudah 15 menit berdiri disana dan menjadi bahan hiburan murid yang lainnya beserta guru Lee. Kyungsoo tidak tahu lagi harus memberikan penjelasan serinci dan bagaimana lagi kepada Jihyo karena gadis itu selalu saja memberikan jawaban yang salah di soal segampang ini. Kyungsoo yakin mungkin hanya Jihyo satu-satunya murid kelas 3 yang tidak mampu untuk menjawabnya. Well, siapa yang bisa berpikir dengan jernih disaat dirimu gugup setengah mati?

Banyak yang tidak habis pikir bagaimana dua orang ini bisa berpacaran, hampir tiga tahun pula. Kyungsoo yang terkenal begitu pintar, anak kelas unggul, tidak pernah melepaskan gelar juara umum dan merupakan ketua osis kebanggaan sekolah berpacaran dengan Jihyo, seorang gadis yang semua-tahu-bahwa-otaknya-begitu-payah. Jihyo bahkan beberapa kali menduduki ranking terakhir parallel. Tentu saja mereka menjadi pasangan yang paling sering dibicarakan seantoro sekolah karena perbedaan yang tidak wajar ini.

Bel akhirnya berdering menandakan berakhirnya pelajaran Guru Lee. Jihyo bernapas lega sedangkan Kyungsoo terlihat berusaha menahan kata-kata yang sedari tadi lewat didalam benaknya untuk tidak ia keluarkan disini.

“Baiklah, terimakasih Do Kyungsoo. Maaf menganggu pelajaranmu. Dan kau Park Jihyo, keruanganku setelah ini”

Jihyo mengangguk sedangkan Kyungsoo segera pergi sejauh mungkin dari kelas itu setelah ia diperbolehkan untuk keluar, tanpa menghiraukan pandangan-pandangan murid lainnya yang menatapnya kagum sekaligus kasihan. Aura pintar dan wibawanya nya memang mampu membuat orang-orang didalam sana menahan napas.

————-

Jihyo berjalan lemas menelusuri lorong sekolah. Banyak hal-hal yang membuat kepalanya terasa ingin pecah…err atau mungkin sudah pecah? Salah satunya harus mengerjakan 100 soal Integral dalam waktu 3 hari. Apakah itu mungkin?

Lagipula, dari dulu Jihyo selalu berprinsip bukan dia yang bodoh, tetapi guru-gurulah, terutama guru Lee yang tidak bisa mengajar dengan baik. Salah siapa jika dia bosan memperhatikan papan tulis dan lebih senang melihat handphone? Tentu saja yang ada diotaknya adalah kesalahan sang guru.

‘memangnya dia pikir aku tidak punya pekerjaan lain selain mengerjakan tugas darinya? Apakah dia tidak tahu bahwa bel pulang berdering pukul 4 sore? Kapan lagi aku bisa mengerjakannya. Dasar guru sinting. begitulah kalimat-kalimat keluhan yang terus berlalu-lalang dibenaknya. Jihyo tidak memikirkan buku-buku apa saja yang harus dia pinjam untuk menyelesaikan itu. Atau metode apa yang harus ia gunakan agar tugasnya dapat selesai tepat waktu. Dia hanya mengeluh, mengeluh, mengeluh dan mengutuk.

“Jihyo-ah! Tadi aku mendengar ada yang membicarakanmu.” kejut seseorang yang entah sejak kapan telah berada disamping Jihyo.

“Siapa?” tanya Jihyo langsung, penasaran. Gossip dari Jieun memang berharga mahal, untung gadis itu merupakan teman baiknya jadi Jieun akan selalu menceritakan semuanya pada Jihyo secara cuma-cuma. Walau terkadang omongannya terdengar begitu berlebihan.

“Siapa lagi kalau bukan sai-ngan-mu dan teman-temannya..” ucap Jieun santai seraya mengunyah snack coklat favoritenya dan pernyataan santainya barusan membuat langkah Jihyo terpaku.

“Maksudmu Kim Yoojin?”

“Siapa lagi?”

Jihyo mencibir, sepertinya hanya Yoojin yang menjadi satu-satunya saingat terberat dalam 18 tahun hidupnya.

“Cepat beritahu aku apa yang mereka bicarakan?!” tanya Jihyo heboh yang membuat beberapa orang disekitar mereka langsung terfokus aneh padanya. Buru-buru Jieun menarik Jihyo agar mereka dapat berbicara ditempat yang lebih sepi.

“Yah kau tidak bisa tenang sedikit?!”

“Tidak!”

“Err yah yang kudengar tadi kira-kira begini….” gadis itu berdehem beberapa kali sebelum melanjutkan, “aku tidak mengerti kenapa Kyungsoo Sunbae tidak lekas memutuskan gadis itu. Padahal mereka sama sekali tidak cocok. Kyungsoo Sunbae yang begitu pintar dan baik sedangkan Jihyo Sunbae yang begitu egois dan bodoh. Ah mereka berdua bagaikan pangeran dan nenek sihir…..”

“Nenek sihir? Nenek-nenek, jelek, keriput, jahat, suka makan daging anak kecil. Nenek sihir yang begitu?” Tanya Jihyo tidak santai, dia nyaris histeris karena membayangkan bagaimana sosok nenek sihir dalam benaknya. Benar-benar buruk rupa dan sama sekali tidak keren. Tentu saja gadis yang selalu mendapat gelar ‘tuan putri’ itu sama sekali tidak terima.

“Ya, nenek sihir,” ulang Jieun membenarkan. Bisa ia lihat bahwa muka Jihyo sudah memerah. Bukan karena tersipu malu tapi karena sakit hati.

“Mereka yang penghisap darah!”

“Aish! Aku belum selesai bicara!” Sahut Jieun kesal karena Jihyo menghancurkan konsentrasi mengingatnya. “Lalu juga ada yang mengatakan ini ‘aku yakin sebenarnya Kyungsoo Sunbae sudah lama muak dengan nenek sihir itu tetapi karena kasihan makanya dia belum memutuskan hubungan mereka. Tapi kurasa mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi’ dan masih banyak lagi. Intinya mereka berkata bahwa Yoojin jauh lebih cocok dengan Kyungsoo daripada dirimu, kau adalah orang ketiga diantara mereka!”

Jihyo tidak mengubrisnya dan itu langsung membuat Jieun menatapnya heran, tumben tidak seheboh tadi. Lalu tiba-tiba gadis itu pergi meninggalkan Jieun begitu saja.

“Hey Jihyo-ah kau mau kemana?” susul Jieun cepat.

“Kemana lagi kalau bukan menyelesaikan ini dengan Kyungsoo!”

“Apa hubungannya dengan Kyungsoo?” tanya Jieun tidak mengerti arah pembicaraan Jihyo. Jika yang dia labrak Yoojin dan teman-temannya itu hal yang wajar. Tapi kenapa malah Kyungsoo?

“Dia tadi memutuskanku!”
Dan Kyungsoo juga menjelaskan bahwa pesan-pesan gila yang tadinya membuat hari Jihyo begitu indah hanyalah kepalsuan dari Park Chanyeol. Itu begitu mengecawakan, kau tahu. Lalu kejadian buruk itu bertambah lagi.

“APA? KAU BERCANDA KAN?”

Jihyo menutup telinganya sebentar karena teriakkan gila dari Jieun, dia menghela napas.
“Kuharap juga begitu. Tapi kau tahu Kyungsoo, kan? Dia tidak main-main dengan ucapannya.” Jihyo berkata dengan suara melasnya. “Dia memutuskanku sebelum aku menemui Guru Lee. Dia bilang aku telah mempermalukannya. Padahal aku sendiri kan juga malu!!!! Ah jangan-jangan benar dia serius dan sudah lama sekali ingin putus dariku!!” lanjut gadis itu frustasi. Dia tidak perduli lagi jika kata-katanya didengar orang lain. Yang jelas dia hanya ingin mengelurkan hasrat kacaunya.

“Oh begitu? Yasudah santai, paling setelah ini balikkan lagi, benar kan?”

“Ya tapi.. Tapi bagaimana jika dia serius?”

—————–

“Jadi Guru Lee memaksamu untuk mengajarkan Jihyo tentang soal yang sebetulnya tidak susah? Didepan semua murid? Wow dasar guru ekstrim!” kagum Park Chanyeol dengan cerita yang sebetulnya dia dengar dari mulut Jongin. Pria gila yang tengah memegang gitar ini berkelakuan polos padahal dia merupakan faktor utama kejadian itu. Alih-alih untuk melupakan,bahkan temannya sendiri yang ntahlah mendengar itu darimana terus-menerus membahas dan menjadikan nya sebagai candaan. Ayolah, Kyungsoo sudah bosan menjadi bahan tertawaan hari ini.

“Lalu bagaimana Jihyo? Apakah dia bisa mengerti dengan penjelasanmu?” Tanya Baekhyun penasaran, tidak penting sih, tapi pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan bagi yang lain.

“Biar kutebak. Dia pasti tetap tidak mengerti, betul kan?” timpal Joonmyun merasa takjub disertai tawa garingnya.

“Aku sebetulnya kaget kalian bisa bertahan sampai sekarang.”

“Ya, benar, aku juga. Kau sabar juga ternyata,” sambung Chanyeol sembari memetik sinar gitarnya asal-asalan. Menurut Chanyeol, Jihyo memang cantik, dia mungkin saja sudah mengencaninya jika gadis yang memiliki sedikit darah spanyol itu bukan pacar sahabatnya sendiri. Tetapi Do Kyungsoo tidak seperti dirinya, lelaki itu tidak suka main-main.

“Kami sudah putus, tahu.” Ucap Kyungsoo datar. Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Dan kalimat itu langsung menjadi alasan ruangan yang awalnya begitu santai tiba-tiba menjadi anarkis.

“Bagaimana bisa?”

“Karena apa? Pantas kau berkali lipat lebih cuek terhadapnya akhir-akhir ini.”

“Siapa yang meminta putus?”

“Kalian pasti balikkan lagi.”

“Sepertinya kau mengambil langkah benar, man!”

Kalimat demi kalimat yang muncul dari mulut temannya secara bergantian malah membuat mood Kyungsoo semakin buruk. Dia menutup laptopnya tanpa men-shutdown terlebih dahulu dan langsung keluar dari ruangan tempat bersantai itu tanpa mengindahkan tanda tanya besar teman-temannya. Dia sama sekali tidak berminat menceritakan lebih lanjut, tentu saja.

“Hey, mau kemana?” Tanya Joonmyun khawatir. Bisa saja Kyungsoo mau bunuh diri, kan? Maafkan pikiran Joonmyun yang berlebihan.

“keruang osis.” Jawabnya dingin, semakin menyadarkan teman-teman dekatnya itu bahwa ia sedang tidak suka diajak bercanda.

“Kalian putus bukan karena Yoojin, kan?”

Bingo! Ruangan menjadi kembali hening dan seluruh pasang mata langsung menatap tajam Sehun, manusia yang baru berbicara barusan.

“Hmmm aku sok tahu ya?” Tanyanya awkward sambil mengelus-elus tengkuknya. Pria yang berumur paling muda diantara mereka itu bahkan menundukkan kepalanya sambil nyengir-nyengir bodoh, ngeri melihat tatapan Kyungsoo.

Sebenarnya Sehun bukanlah orang yang ceplas-ceplos, kalimat seperti itu terus muncul dibenaknya sedari Kyungsoo mengklarifikasikan bahwa dia telah putus dengan Jihyo.

Hampir seluruh penghuni sekolah ini, bahkan guru ataupun penjaga sekolah sekalipun mengetahui bagaimana hubungan Jihyo dan Kyungsoo. Tentu saja perbedaan mereka yang gila-gilaan sering kali menjadi pembicaraan hangat yang tidak ada habis-habisnya. Ada yang setujuh karena mereka menganggap itu saling melengkapi. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa Kyungsoo jauh lebih cocok dengan Yoojin, gadis terpintar pada angkatannya yang juga memiliki image baik hati sekaligus merupakan sekretaris osis. Lagipula hubungan Kyungsoo dan Yoojin bisa dibilang dekat dan baik.

Yang membuat segalanya semakin rumit adalah Yoojin menyukai Kyungsoo sejak gadis yang berada satu tinggat dibawah mereka itu resmi menjadi murid sekolah ini. Dan Kyungsoo juga mengagumi Yoojin. Karena dia pintar. Karena dia baik. Karena dia sopan. Tapi bagaimanapun juga, sebelumnya dia telah menjadi milik Jihyo.

Dan yang terpenting alasan bahwa Jihyo membuat Kyungsoo malu sama sekali belum cukup untuk dijadikan penyebab utamanya. Kyungsoo merupakan orang yang jarang bercanda dengan ucapannya, itu berarti sama saja dia benar-benar ingin mengakhiri ini.

———————

Sekarang merupakan saat yang paling tepat bagi Jihyo untuk melampiaskan kemarahannya. Gadis yang sedari tadi ia cari berjalan santai tidak jauh darinya dengan menenteng beberapa buku paket dan tampak kesusahan. Dengan segera Jihyo menghampirnya tidak sabaran.

“Hey gadis tidak tahu malu. Apakah kau serendah itu hingga ingin merebut pacar orang?”

Jihyo mendorong Yoojin kasar hingga punggung gadis itu menabrak tembok bangunan. Dia masih tidak menyadari apa yang tengah terjadi sekarang, tidak menyangka bahwa Jihyo akan melakukan ini padanya.

“Apa..maksud..sunbae?” Tanya Yoojin yang masih kaget, ditambah dia ditahan dan dihadang oleh teman-teman Jihyo pada tempatnya agar tidak melarikan diri.

“Dasar tidak tahu diri. Kau pikir kau cantik?” kali ini Jieun yang menimpali. Memang kondisinya tidak adil karena Jihyo datang bersama 2 orang temannya sedangkan Yoojin hanya sendirian.

“Tidak usah sok polos. Kau pikir aku termakan dengan wajah sok malaikatmu itu?! Cih, wanita munafik!” Sindir Jihyo lagi. keadaan sekitar mulai ramai, jelas sekali apa yang dilakukan Jihyo dan teman-temannya itu sangat menarik perhatian apalagi ditambah teman-teman Yoojin yang mulai berdatangan.

Yoojin masih tetap diam membisu, tubuhnya sudah mendingin. Walaupun dia tidak bersalah tetapi tetap saja rasa takut menyerang dirinya.

“Kau tidak akan pernah bisa merebut Kyungsoo dariku, seharusnya kau tahu itu. Dan mana teman-temanmu yang mengatakan aku nenek sihir? Jangan hanya berani dibelakang saja, kampungan!”

Teriakkan-teriakkan dukungan dari orang-orang yang menonton betul-betul membuat ini semakin seru bagi beberapa orang. Ayolah ini tidak sedang tanding bola kan? Beberapa dari mereka sibuk menimpali, ada yang mendukung Jihyo, ada yang mendukung Yoojin, ada yang mengutuk keduanya dan ada pula yang berusaha meleraikan tetapi tidak berhasil.

“Hey perempuan gila! kau benar-benar menurunkan class-mu karena melakukan ini. Apakah kau tidak malu?” kesal salah satu teman Yoojin yang sudah muak melihat tingkah laku Jihyo. Dia sepertinya tidak peduli lagi tentang senioritas disekolah ini. Gadis yang bernama Haeri itu menabrak dengan sengaja bahu Yuna dan berjalan menuju Yoojin.

“Aku melakukan apa? Err bukankah yang seharusnya malu itu kalian? Hmmm maklum komplotan busuk, paesant!”

“Apa kau bilang?” Perkataan Jihyo barusan berhasil membuat gadis bermuka babyface itu terbakar emosi karena detik berikutnya dia mulai berusaha menggapai Jihyo untuk memukulnya.

“Dasar gadis desa. Jadi ini yang diajarkan orang tuamu? Memukul orang? Tidak tahu malu ya!” bela Yuna, yang memang dari dulu telah memiliki masalah sendiri dengan Haeri.

“Cih, tidak capek menggunakan topeng baik-baik terus menerus? Cara mencari perhatian orang kampung memang selalu sama,” gumam Jihyo sinis dengan nada jijik karena kemarahan dihatinya telah menggebu-gebu. Ingin sekali dia memukul muka sok manis dan minta dikasihani Yoojin ataupun Haeri.

“Kami tidak seperti itu!” Yoojin memberanikan diri untuk berbicara. Sebenarnya dia sudah ikut panas sedari tadi karena perkataan Jihyo dan teman-temannya semakin diluar batas. “Kalian memang cantik dan berkelas tetapi bukan berarti kalian bisa menghina kami seenaknya!”

Jihyo tertawa menyebalkan, “Oh ya? Kalau begitu kalian memang miskin dan munafik tapi tidak berarti kau bisa mengata-ngatai kami dibelakang…”

“Brengsek!!” haeri menjambak rambut Jihyo karena kesabarannya telah benar-benar habis. Tentu saja Jihyo tidak diam saja, dia membalasnya dengan sama kasarnya, dan ini malah dua lawan satu karena Yuna ikut membantunya. Sepertinya Haeri telah mengambil langkah paling salah seumur hidupnya.

“Berhenti!! Apakah kalian gila?” suara lantang milik Kyungsoo membuat semua aktivitas disana terhenti dalam sepersekian detik, bahkan tidak ada lagi teriakkan-terakkan support dari yang sedari tadi menonton. “Yoojin kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo khawatir melihat gadis itu yang sudah pucat pasih dan pipi dibanjiri airmata. Dia tidak habis pikir bagaimana orang-orang disekitar sini hanya menonton tetapi tidak membantu? Yang paling tidak bisa diterima akal sehatnya adalah lagi-lagi Park Jihyo yang berbuat ulah .

“Apalagi yang kalian tonton! Semuanya selesai!!” ujar Joonmyun keras membuat mereka yang tadinya hanya menonton mau tak mau harus pergi dengan rasa kecewa sekaligus penasaran.

Dan perlakuan Jihyo barusan benar-benar membuat imagenya semakin buruk. Tapi, apakah mereka mengerti perasaannya?

Sorot tajam Kyungsoo langsung menatap Jihyo marah, “kau… ikut aku!” tanpa menunggu persetujuan Jihyo, pemuda itu telah menarik tangannya kasar menuju atap gedung, karena diperkirakannya tempat itu sepi di jam segini.

“YA! Lepaskan. Itu sakit tahu!” kesal Jihyo karena dia ditarik-tarik bagaikan penjahat. Ditambah gadis berkulit putih pucat itu masih kesal setengah mati karena tadi jelas-jelas Kyungsoo lebih membela Yoojin didepan semua orang. Membuatnya terlihat seperti satu-satunya penjahat disana dan memperjelas bahwa Kyungsoo tidak memperdulikannya.

“Apa maksudmu melakukan itu?”

“Mereka yang memulai!”

“KAU yang memulai!” balas Kyungsoo dengan penekanan. Kelihatan sekali bahwa dia seratus pesen tengah menyalahkan Jihyo.

Jihyo menatap tajam pemuda dihadapannya itu, “kenapa kau terus-terusan membelanya? Jangan-jangan benar, kau memutuskanku karena kalian berselingkuh, kan? Pantas semua mengatakan kalian cocok, sama-sama munafik!” teriak Jihyo yang suaranya malah terdengar bergetar. Kyungsoo terbelalak. Dia sudah kesal bukan main. Jihyo sudah kelewat batas dan kata-kata pedas yang dilontarkan gadis ini selalu berhasil membuat emosi berat. .

“Apa kau bilang?”

“Mu-na-fik!” ucapnya memperjelas. “Ya! Yoojin memang lebih baik, lebih pintar, lebih cocok untukmu. Tapi apakah kau mau mengerti perasaanku?! Kau jahat, tidak punya perasaan!!!! Yasudah jika kau memang ingin putus, aku terima!”

Lalu Jihyo langsung pergi dari hadapan Kyungsoo dengan mata yang berkaca-kaca. Apa-apaan ini? Kenapa malah dia yang menjadi terdakwa-nya? Dia menatap ragu punggung Jihyo yang menuju tangga, sedikit ada rasa bersalah dalam dirinya. Tetapi rasa kesal dan sakit hatinya lebih besar dari apapun untuk sekarang.

“Dasar wanita egois,”

————

Gadis itu tak henti-hentinya menggumam pelan tentang kekesalannya terhadap Kyungsoo.

Kyungsoo menyebalkan.

Kyungsoo jahat.

Kyungsoo tidak punya perasaan.

Kyungsoo tidak pernah menyayanginya, dia pasti hanya berpura-pura.

Dan repeat.

Dia juga tidak berhenti mencoret-coret gambar sketsa muka Kyungsoo yang dibuatnya menjadi sangat-amat jelek. Itu adalah kertas yang ke 10 malam ini, dan Jihyo sudah terlihat bosan dengan pekerjaannya itu. Menggambar, mengutuk lalu mencoret tanpa ampun maha karyanya sendiri.

Jika dipikir-pikir apa yang sebenarnya dilihat Kyungsoo dalam diri Park Jihyo? Baiklah, dia cantik. Tapi tentu saja banyak gadis yang tak kalah cantik berkeliaran di sekitar Kyungsoo. Dia kaya raya, tapi Kyungsoo juga kaya. Dia tenar, si ketua osis jauh lebih tenar. Dan yang terakhir, Jihyo sama sekali tidak pintar. Itu adalah kenyataan terpahit yang mau tak mau harus diterimanya.

Jihyo sama sekali bukan tipe Kyungsoo. Dilihat dari segi apapun juga begitu kentara bahwa ia tidak cocok dengan Kyungsoo, bahkan ramalan zodiak menyatakan karakter keduanya tidak cocok sedikitpun. Tapi selama ini Jihyo tidak pernah serius memikirkan itu. Dia mencintai Kyungsoo dan setaunya, begitu pula dengan Kyungsoo. Dan itu sudah cukup untuk membuat mereka menjalani hubungan selama dua tahun lebih.

Tetapi Yoojin. Dia cantik, mukanya begitu ayu dan manis, tipikal muka polos favorit para lelaki. Dia pintar, semua tahu bahwa otak gadis ini begitu cerdas dalam hal pelajaran. Kesayangan para guru-guru, berbeda dengannya yang dipuji karena orang tuanya. Dan juga Yoojin memiliki image baik nyaris tak memiliki kekurangan.

Bukankah itu hal yang wajar jika Jihyo merasa ketakutan dan putus asa? Apakah itu kesalahnya jika dia memiliki otak pas-pasan? Apakah salahnya jika dia tidak sempurna untuk Kyungsoo?

Dari kecil dia tahu otaknya memang payah dalam mengingat maupun menghitung. Dia pernah kecelakaan sehingga membuatnya mengalami penurunan IQ, tidak seburuk idiot sih, tapi jika dia bermalas-malasan seperti itu juga tidak jauh beda dengan anak kecil berotak dangkal yang tidak tahu apa-apa.

Memikirkan hal ini tentu saja membuat otak Jihyo semakin pening. Dia tidak makan seharian. Ketukan-ketukan pintu yang terus berdatangan sama sekali tak diindahkannya. Bahkan dia sengaja lupa dengan tugas Guru Lee yang menggunung dan harus dikumpul lusa.

Jihyo memandang sedih foto-foto polaroid dirinya dan Kyungsoo yang tersusun manis didekat meja belajar (meja belajar yang tidak pernah dia gunakan, tentu saja). Berbagai pose lucu bahkan aneh terlihat begitu menggemaskan. Jihyo juga tidak melepaskan pandangannya pada sketsa-sketsa Kyungsoo yang ia buat sendiri tersusun berantahkan di sekitar meja belajar. Tapi bukankah seharusnya dia segera membuang foto-foto indah itu beserta kenangan-kenangan lainnya tentang Kyungsoo? Bukankah dari kemarin Kyungsoo bukan miliknya lagi? Pria itu bahkan tidak menghubunginya sama sekali atau menanyakan keadaannya. Dia benar-benar sudah tidak peduli sekarang. Jihyo benci karena otaknya sendiri yang menyadarkannya tentang ini.

Gadis itu malah berharap bahwa dia nenek sihir sungguhan sehingga bisa mengutuk Kyungsoo menjadi lalat sedangkan Yoojin menjadi nyamuk. Biar mereka berdua tidak bisa bersatu setelah menyakitinya seperti ini. (Well, dia tidak sejahat itu, dia hanya mencoba menghibur diri sendiri).

Cacing-cacing diperutnya tak henti berteriak meminta energi. Dia sudah satu setengah hari tidak makan tetapi belum mendapat gejala-gejala sakit parah seperti yang dia harapkan. Well, dengan tujuan Kyungsoo akan menyesal kemudian menyadari bahwa dia tidak bisa benar-benar kehilangan Jihyo.

Tapi, semua orang tahu bahwa kelaparan itu benar-benar menyiksa. Hingga pada akhirnya, Jihyo menyerah. Kyungsoo juga mana tahu dia makan atau tidak. Ataupun apabila dia sakit, belum tentu Kyungsoo akan khawatir dan menyesali perbuatannya. Mungkin yang ada diotak pria itu sekarang adalah Yoojin, bukan dirinya lagi.

Gadis itu pada akhirnya keluar dari dalam kamar yang lebih hancur dari goa runtuh itu untuk pertama kalinya dihari itu. Seorang pelayan yang sedaritadi memintanya untuk makan ataupun keluar menatap kondisinya yang kacau itu dengan pandangan prihatin.

‘Dasar anak muda.’

Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan senyum, “kuberi tahu cara balas dendam paling manis. Buktikan pada mereka bahwa kau sama sekali tidak seperti yang mereka pikirkan, Nona.”

Jihyo malah terdiam didepan pintu, dia berusaha mencerna kata demi kata dari pelayannya itu. Untuk pertama kalinya pula dia tersenyum di hari itu, memang tidak selamanya dia harus terus-terusan seperti ini.

—————

Keesokkan harinya Jihyo memutuskan untuk kembali bersekolah setelah membolos karena dia masih belum bisa menerima kenyataan (baiklah sampai sekarang mungkin dia masih belum bisa).

Putus cinta bukanlah hal yang muda. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, baik tentang kenangan-kenangan manis yang tertinggal maupun cita-cita indah di masa depan. Dan sebuah harapan yang berkemungkinan kosong. Biasanya Kyungsoo membuat hari-hari kacaunya menjadi lebih baik, tapi sekarang malah sebaliknya.

Tapi bukankah ini bukan kali pertama Jihyo putus dengan Kyungsoo? Tentu saja bukan. Mereka bahkan sudah berpuluh kali putus tapi biasanya dalam beberapa hari kedepan langsung kembali baikkan dan semuanya menjadi lebih manis (itu jika Jihyo yang meminta putus duluan). Tapi kali ini bukan disebabkan hal biasa. Ini termasuk masalah serius, baik bagi Jihyo maupun Kyungsoo. Rasa sakit yang ditinggalkan kejadian kemaren tentu ter-cap sangat dalam pada hati gadis itu, dia bahkan berpikir bahwa Kyungsoo sudah tidak mencintainya atau mungkin tidak pernah mencintainya? Dan Jihyo masih belum siap jika pikiran buruknya itu terbukti benar.

“Jihyo-ah, kau baik-baik saja, kan?”

Jieun adalah orang ke-lima yang menanyakan keadaannya di pagi ini. Apakah dia terlihat sekacau itu? Dia mengambil cermin kecil dalam tasnya dan memantulkan bayangannya. Ya, dia tampak pucat dan matanya lumayan membengkak yang kentara sekali. Dia bahkan tidak tidur semalam demi mengejar sisa deadline tugas gila dari guru Lee. Tidak perduli jawabannya benar atau salah, toh syaratnya hanya menjawab soal itu. Jadi jika salah semua, itu juga bukan urusannya.

“Ya, semoga saja.”

Jieun lumayan puas mendapati sahabatnya itu tidak memutuskan melakukan hal yang aneh-aneh. Dia menyesal karena telah memanas-manasi Jihyo waktu itu. Tapi kembali lagi, Jihyo adalah sahabatnya. Dia tidak mungkin diam saja dan berpura-pura tak tahu ketika semua orang menjelek-jelakkannya.

“Ah ya itu bukan salahmu. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Maaf tidak membalas pesanmu. Kemaren aku tidak enak badan.”

Jieun tiba-tiba langsung memeluk Jihyo erat. Dia begitu gembira mendapati Jihyo tidak marah padanya ataupun menyalahkannya. Karena jujur, dia benar-benar mengira bahwa Jihyo akan membencinya dan memusuhinya karena kebodohannya-lah Jihyo harus memiliki masalah besar dengan Kyungsoo. Dia sebetulnya sama sekali tak bermaksud untuk mencelakai Jihyo.

Jihyo tersenyum kalem, setidaknya masih ada Jieun ataupun Yuna yang mengkhawatirkan keadaannya. Mungkin lama kelamaan dia akan merasa terbiasa dengan tidak adanya Kyungsoo dalam harinya.

“Selamat pagi Jihyoooooo cantik,”panggilan sok manis dari seorang pria membuat Jihyo melepaskan paksa pelukan Jieun. Tidak usah terlalu berharap, tentu saja itu bukan Kyungsoo.

“Apa?” balas Jihyo jutek dan malas-malasan.

“Kau terlihat cantik sekali pagi ini,” lanjutnya lagi. Jelas-jelas Jihyo terlihat jauh lebih buruk dari sebelum-sebelumnya, well, pujian palsu.

Jihyo menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Baiklah, pria ini adalah Jung Daehyun. Dia adalah playboy nomor satu disekolah (dan merupakan saingan Park Chanyeol, sahabat Kyungsoo). Dia sudah mengincar Jihyo bahkan dari mereka kelas satu. Sepertinya berita bahwa dia tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Kyungsoo telah menyebar ke satu sekolah. Uh kenyataan menyakitkan.

“Terimakasih dan kembalilah ke kelasmu, Daehyun!” balasnya galak.

Tentu saja Daehyun masih berdiri terpaku dihadapan mereka. “uh well, kau sedang bersedih ya? Kau bisa menggunakan bahuku untuk menangis.”

“Tidak perlu.”

Daehyun tidak menyerah begitu saja. “Ngomong-ngomong nanti sore kau pulang dengan siapa? Aku akan menyiapkan kuda putihku untuk mengantarkan tuan putri Jihyo keistananya.”

Jieun tersenyum geli mendengar kata-kata manis berlebihan dari Daehyun sedangkan Jihyo memutar bola matanya karena nyaris muntah mendengar itu. Dia tidak suka pria cheesy. Ah tidak, dia suka jika Kyungsoo yang melakukannya (tapi itu mustahil). Buktinya gadis itu terus memaksa Kyungsoo memanggilnya dengan kata-kata manis. Oh tentu saja itu karena paksaannya, bukan kemauan asli dari Kyungsoo. Apakah sebenarnya diam-diam Kyungsoo merasa keberatan dengan perbuatannya itu?

“Lebih baik kau pergi sekarang sebelum aku menendangmu!”

“Galak sekali. Oh okay, maaf menganggumu. Tapi aku serius dengan pinjaman bahu karena tuan Putri tidak seharusnya besedih.”

Daehyun mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum tampan sebelum keluar dari kelas itu.

“Dia pikir aku gampangan? Sialan.”

Jieun akhirnya tertawa keras melihat ekspresi jijik Jihyo yang tidak bisa dia sembunyikan.

“Daehyun tampan tahu, kenapa kau tidak berpacaran dengannya saja? Bukankah lumayan untuk dijadikan pengganti Kyungsoo?” Yuna yang entah darimana tiba-tiba menyambung percakapan mereka. Ya memang, itu ide bagus. Daehyun cukup untuk dijadikan sebagai pelarian sementara dan membuktikan pada Kyungsoo bahwa dia bukan satu-satunya yang ada di hatinya. Tapi Jihyo bukanlah gadis yang seperti itu. Jika dia tidak suka, dia tidak akan maju. Bukankah jelas sekali bahwa Daehyun hanya ingin mempermainkannya?

Lagipula balas dendam dengan melakukan hal yang sama itu bukanlah gayanya.

—————

Hari-hari Kyungsoo terlihat lebih menyenangkan dari sudut pandang teman-temannya. Tidak ada lagi sms-sms tak penting ataupun telepon-telepon berisik dari mantan kekasihnya itu. Semua tahu jika Kyungsoo tidak suka basa-basi, sedangkan Jihyo senang melakukan hal itu.

“Bagaimana pdkt-mu dengan Yoojin?” tanya Chanyeol iseng ketika mereka sedang berjalan santai di sebuah mall.

“What the hell.” Kyungsoo menjawab dengan raut datar sambil memandang kesal pria yang jauh lebih tinggi dari nya itu. Dia tidak suka diganggu dengan hal-hal tidak penting seperti itu.

“Ayolah, tadi pagi kulihat Daehyun mencoba mendekati Jihyo lagi. Masa kau kalah dengannya?” tambah Baekhyun yang berniat memanas-manasi Kyungsoo. Karena mereka sama sekali tidak melihat perkembangan serius antara Kyungsoo dan Yoojin padahal sudah seminggu lebih dia putus dengan Jihyo. Kyungsoo malah terlihat sama sekali tak berminat dan lebih sibuk dengan membaca-baca buku diperpustakaan.

“Aku tidak peduli.”

“Oh, benarkah?”

Kyungsoo tidak membalasnya lagi. dia hanya fokus melihat kekanan ataupun kekiri, siapa tahu ada barang bagus yang ingin dia beli. Tapi dia memang sedang tidak mencari apa-apa. Beberapa hari terakhir moodnya benar-benar tidak baik.

Langkahnya tertuju pada sebuah toko pernak-pernik baik untuk pria maupun wanita. Dia menatap datar barang-barang itu yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Lalu mata bulatnya tertuju pada sebuah kalung yang tersusun berserakkan. Dia mengambil salah satunya yang berbandul kura-kura sambil tersenyum sekilas tanpa sadar.

“Untuk siapa?” tanya Chanyeol yang entah sejak kapan telah berdiri disampingnya.

“Jihyo, minggu lalu dia mencari kalung seperti ini. Lagipula yang berbandul kura-kura tinggal satu. Bukankah lebih baik aku menyimpankan untuknya?”

Kyungsoo mengingat bagaimana gadis itu sangat menyukai dengan sesuatu yang berbau kura-kura. Dia tidak pernah tertarik jika Kyungsoo berbagi ilmu pengetahuan penting kepada dirinya, kecuali tentang kura-kura. Jihyo bahkan memiliki dua kura-kura di kolam buatan dirumahnya.

Sedetik kemudian Chanyeol tersenyum mengejek dan Kyungsoo menyesal mengapa memberi tahu Chanyeol tentang hal itu.

“Masih peduli rupanya.”

—————

Perpustakaan bukanlah tempat anak-anak yang benci membaca seperti Jihyo, tetapi gadis bermata hazel itu punya alasan kenapa menginjakkan kakinya kesana dan tanpa sadar harus menerima banyak pasang mata terfokus padanya. Ini aneh, Jihyo mungkin paling benci dengan perpustakaan. Selain auranya yang membosankan, perpustakaan juga menyimpan banyak buku-buku berdebu yang bisa membuatnya bersin tiada henti. Itulah alasan kenapa Jieun ataupun Yuna tidak mau kesana. Mereka berdua alergi debu tingkat akut.

Dia hanya ingin belajar. Lebih tepatnya, dia ingin mencoba belajar. Gadis itu mengambil sebuah buku sejarah dimasa dinasti Joeson dan satu lagi buku dongeng ‘ulat dan komplotannya’ yang kebetulan ketangkap oleh sudut matanya.

Jihyo mulai memilah-milih tempat duduk. Harus yang jauh dari buku-buku lapuk ataupun bagian jarang dibersihkan. Atau kalau tidak dia bisa-bisa bersin sampai besok.

Dan tempat paling strategis adalah…..dihadapan Kyungsoo. Gadis itu langsung menahan napas ketika sadar ada Kyungsoo dijarak kurang dari 3 meter dihadapannya tengah serius membaca buku. Dia kaget bukan main, padahal alasan utamanya kemari karena memang ingin melihat Kyungsoo. Dan benarkan? Pria itu disini. Sebelumnya Jihyo pernah beberapa kali menemani Kyungsoo diperpustakaan, walau dengan akhirnya dia ditegur oleh petugas karena ribut atau dari Kyungsoo sendiri.

Dan setelah secara tidak sengaja Kyungsoo melihat kearahnya yang langsung membuat gadis itu menjadi salah tingkah.

Mungkin sampai detik ini, Kyungsoo masih menjadi titik terlemahnya.

——

Mobil sedan putih itu berhenti di parkiran sekolah, mau bagaimana lagi hari ini Jihyo harus berbarengan dengan ayahnya sehingga dia datang 30 menit lebih cepat. Biasanya Kyungsoo yang akan menjemput dan marah-marah karena ketika sampai dirumah gadis itu, Jihyo pasti belum selesai bersiap-siap.

Gadis itu keluar dari mobilnya dan langsung menahan napas karena pandangan matanya tertuju pada Kyungsoo yang berdiri tak jauh darinya. Dia tidak tahu harus bagaimana? Menegur? Pura-pura tidak melihat? Menyindir? Menatap sinis? Atau menyerah dan mengatakan bahwa dia begitu merindukan Kyungsoo sekarang?

Mungkin berdamai adalah cara terbaik. Dia baru saja ingin menegur Kyungsoo yang kebetulan juga memandang kearahnya tetapi niat baik itu langsung kandas begitu saja ketika menyaksikan Yoojin juga keluar dari mobil Kyungsoo.

‘nah kan benar, mereka sekarang sudah berpacaran. dasar Kyungsoo jahattttt!!!!’ ucapnya frustasi dalam hati karena sepertinya harapan itu sekarang benar-benar hilang. Rasa sakit itu kembali menyerangnya dan menyayatnya lebih dalam lagi. secepat itukah Kyungsoo melupakannya? melupakan kenangan tiga tahun mereka? Ah belum tentu juga Kyungsoo sempat mengingatnya!

Jihyo langsung berbalik dan tubuhnya menabrak seseorang yang langsung memeluknya.

“Aish lepaskan!” ucapnya kesal karena Daehyun mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kejadian itu tentu saja juga disaksikan oleh Kyungsoo. Seharusnya Jihyo puas karena ini bisa dianggap sebagai balas dendam. Tapi pada kenyataannya, dia tak suka. Bukankah dia sudah mengatakan kemaren bahwa ia tidak akan pernah menyukai Daehyun? Daehyun memang lucu dan mereka berdua sudah sepakat hanya untuk menjadi teman.

Gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan langkah yang terburu-buru. Haruskah dia menangis sekarang? Dia memang cengeng dan manja atau terkadang berkelakuan seenaknya. Tetapi dia tidak selemah itu. Seharusnya dari awal dia tidak usah menggantungkan harapan yang begitu besar terhadap Kyungsoo sehingga dia tidak perlu kecewa sedalam ini.

Beberapa tahun yang lalu mereka sama-sama anak baru. Dia menyukai Kyungsoo, pria itu menarik perhatiannya bahkan semenjak pertama kali ia melayangkan pandangannya terhadap pria manis itu. Dia adalah cinta pertama Jihyo. Selanjutnya Kyungsoo berkata bahwa dia menyukai Jihyo disuatu sore yang tiba-tiba. Sama sekali tidak romantis untuk ukuran gadis yang suka menonton film-film bergenre romance seperti dirinya. Tapi dengan sangat semangat, Jihyo langsung menyatakan ‘aku juga menyukaimu’.

“Kau yakin menerimaku?” tanya Kyungsoo, nyaris tak percaya.

“ya, aku serius. Aku juga menyukaimu.” Balas Jihyo sumringah karena jujur saja, ini termasuk sore termenyenangkan dalam hidupnya. Dia hanya mengenal Kyungsoo merupakan lulusan dari salah satu SMP negeri terbaik di Seoul, dia lumayan mungil untuk ukuran pria dan dia menggemaskan. Jihyo tidak main-main ketika menerima ajakkan Kyungsoo untuk berpacaran, dia serius tanpa ada alasan terselubung apapun. Walaupun Kyungsoo mungkin punya. Dan Jihyo juga dapat melihat raut senang Kyungsoo yang terpancar pada mata bulatnya. Dia yakin, pada saat itu, Kyungsoo juga tidak bercanda.

Hari demi hari berlalu. Hubungan mereka semakin dekat dan membaik, walau tidak jarang terjadi pertengkaran kecil karena keduanya yang kerap kali berbeda jalan pikir. Hal yang tak disangka-sangka mulai berdatangan. Seperti Kyungsoo yang begitu pintar, tenang, dia tidak se-nerd itu. Dia biasa saja, tapi memang otaknya yang luar biasa. Kyungsoo memiliki kepribadian yang dewasa dan beribawa sehingga membuat Jihyo semakin nyaman bersamanya. Dan semakin keujung semakin terlihat bahwa Kyungsoo begitu sempurna untuk seorang Park Jihyo.

Sedangkan Jihyo tidak.

Dia tahu hal itu. Dia hanya berpura-pura tuli tentang omongan orang-oran. Dia hanya berusaha untuk tidak peduli. Walau tak jarang hal itu membuatnya begitu sedih.

Lalu ditahun berikutnya, ketika Kyungsoo menjabat sebagai ketua osis sekolah dan datanglah anak murid ajaran baru yang menyatakan cinta padanya. Gadis itu cantik dan baik hati, bukankah mereka begitu cocok? Well, gadis mana yang tidak menginginkan Kyungoo?

Walau pada saat itu Kyungsoo menolaknya dan gadis itu juga meminta maaf pada Jihyo setelah tahu bahwa Kyungsoo sudah memiliki pacar.

Dan Kyungsoo adalah pria baik. Dia rela menjemput Jihyo di rumah temannya ketika hujan deras ataupun badai salju. Dia tidak masalah mengangkat telpon Jihyo sewaktu tengah malam walaupun dalam keadaan mengantuk dan lelah. Dia akan menemani Jihyo jalan-jalan ataupun melakukan hal yang tidak penting (menurutnya) tetapi merupakan hobby Jihyo. Walau terkadang dia begitu sibuk tetapi Jihyo tidak pernah protes. Gadis itu berpikir bahwa selama ini dia berusaha semaksimal mungkin melakukan hal yang sama untuk Kyungsoo. Dia tidak pernah menghianati Kyungsoo, berpikir tentang hal itu saja tidak pernah. Bukan, bukan karena Kyungsoo adalah satu-satunya yang terbaik. Tapi karena dia hanya merasa bahwa Kyungsoo adalah belahan jiwanya. (keju banget)

Dan hingga detik ini tentu saja Jihyo masih belum rela untuk melepaskan Kyungsoo.

———————–

Entah apa yang ada diotak Jihyo sore itu. Dia memutuskan untuk jalan-jalan ke mall didaerah Hongdae sendirian (walau sebenarnya dia bisa mengajak Jieun ataupun Yuna untuk menemaninya, ayolah dia tidak sekesepian itu.)

Jihyo melihat begitu banyak pasangan muda bermesrah-mesrahan disetiap dia melayangkan pandangan. Kyungsoo bukanlah orang yang akan memegang tangannya sepanjang jalan, tapi pria itu akan memeluk bahunya ketika menyebrang jalan. Tanpa Jihyo sadari, dia tersenyum sedih mengingat hal itu. Dia juga tidak tahu kenapa semua hal yang dilihatnya selalu ia hubungkan dengan Kyungsoo.

Gadis itu memutuskan untuk pergi ke gedung bioskop. Menonton memang salah satu hobbynya. Dia memilih film random (yang dia yakin pasti ceritanya benar-benar payah) dan memilih tempat duduk ditengah-tengah namun agak sudut. Ya tentu saja itu adalah tempat duduk yang biasa ia gunakan bersama Kyungsoo. Tapi kali ini dia hanya membeli satu tiket. Kemudian dia memesan beberapa makanan karena film yang ingin dia tonton sebentar lagi dimulai. Dia memesan kentang goreng dan satu pepsi, well dia jauh lebih suka popcorn caramel sebetulnya tapi lagi dan lagi karena dia mengingat Kyungsoo yang tidak terlalu suka makan manis.

Jihyo menduduki bangku yang sesuai dengan tiket miliknya. Sepi sekali, Jihyo dapat menghitung jumlah penonton hari ini. Berikutnya dia tampak serius memperhatikan film walau sebenarnya dia juga sangat amat bosan. Ceritanya lumayan klise. Tapi tidak tahu kenapa di pertengahan film dia malah menangis ketika adegan wanita di film itu tertabrak mobil kemudian sekarat, sedangkan prianya yang biasanya tampak acuh tak acuh terhadap wanita itu malah menangis sejadi-jadinya dan menyatakan berkali-kali bahwa dia mencintainya, padahal gadis itu tidak mungkin bisa mendengarkan hal itu.

Jihyo lumayan terkejut ketika seseorang disebelahnya memberikan dia sebuah sapu tangan dan mau tidak mau Jihyo menggunakannya. Dia baru sadar jika tempat duduk disebalahnya ternyata terisi, lalu sebagai balas budi dia menawarkan kentang yang sama sekali belum ia sentuh untuk orang itu.

“Ini untukmu….”

“Kau suka sekali membeli makanan tetapi tidak untuk dimakan.”

Jihyo reflek memandang kesampingnya dan jantungnya berdetak begitu cepat.

“KYUNGSOO? Sedang apa kau disini?” tanyanya kaget, aneh, tidak percaya bahkan dia berpikir bahwa ini hanya delusinya saja.

“Menonton film…” jawab Kyungsoo seadanya. Crap. Kau tahu itu pertanyaan super bodoh, Park Jihyo. Tapi sepertinya Kyungsoo telah lama memaklumi hal seperti itu. “Filmnya bagus.”

Ini benar Kyungsoo, kan? Dia tidak tahu sejak kapan Kyungsoo telah duduk disana. Dia tidak tahu bagaimana bisa Kyungsoo memilih film ini (dia jauh lebih suka menonton scifi ataupun action) dan duduk ditempat duduk tepat disebelahnya.

“Bagaimana bisa kau ada disini?”

Kyungsoo menyunggingkan sedikit senyum. “Sebenarnya aku lebih kaget lagi. Aku hanya ingin menonton film dan mendapati kau didekat tempat dudukku. Aku ingin menegurmu sedari tadi, tapi sepertinya kau benar-benar menikmati film. Ngomong-ngomong kau tidak bersama Daehyun?”

“Ya! Aku tidak menyukainya.” Balas Jihyo dengan nada kesal. Apakah Kyungsoo mau meledeknya?

“Oh, baguslah,” gumam Kyungsoo dengan senyum tersirat yang sayangnya tidak dilihat oleh Jihyo.

“Kau sendiri, kenapa tidak bersama Yoojin?”

“Aku juga tidak menyukainya.”

“Yeah, kau hanya menyukaiku,” balas Jihyo asal bunyi tanpa pikir panjang.

“Itu kau tahu.”

“APA?” Jihyo yang tadinya berbicara sambil menahan napas ataupun memandang lurus kelayar tiba-tiba langsung mengalihkan perhatian sepenuhnya kearah Kyungsoo. Untung disini gelap, jadi tidak ada yang bisa melihat semburat merah yang bermunculan disekitar pipinya.

“Sudah hampir sebulan. Dan aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku minta maaf soal kejadian itu. Kau juga, meminta maaflah kepada mereka karena menurutku, kau cukup keterlaluan. Aku hanya tidak mau namamu menjadi buruk dan semua orang semakin mengolok-olokmu. Aku mengenalmu dengan baik, Jihyo-ya, kau tidak separah apa yang mereka katakan. Aku menyukaimu tidak peduli bagaimana dirimu sekarang. Aku mencintaimu walau kau cukup menyebalkan, semua orang punya sisi menyebalkan. Aku menyayangimu dan kurasa aku belum mampu untuk kehilanganmu sekarang.”

Selama ini kata cinta termasuk sakral untuk diucapkan Kyungsoo. Tapi biarlah, kali ini dia ingin memberitahukan Jihyo bahwa dia hanya mencintai gadis itu.

Jihyo menganga dan tanpa ia sadari, air mata kembali jatuh setelah mendengar kata-kata super indah dari Kyungsoo barusan. Suaranya terdengar begitu lembut dan serius. Kyungsoo bukanlah lelaki cheesy, tapi Jihyo benar-benar melayang mendengar ucapannya barusan. Dia seperti merekam semuanya dengan baik dalam ingatannya tanpa tersisa. Kemudian, gadis itu langsung memeluk Kyungsoo erat dan menangis bahagia di bahunya. Dia bersyukur, setidaknya bioskop itu benar-benar sepi sehingga mereka berdua tidak perlu terlalu malu untuk melakukan drama didalam sana.

Dan Jihyo akan mencatat hari ini sebagai salah satu hari terindah dalam hidupnya dan dia akan lebih mempercayai Kyungsoo lebih baik lagi setelah ini.

“Aku juga…aku tidak bisa kehilanganmu.”

__________

Ada yang aneh dengan Park Jihyo hari ini setelah sebulan terakhir dia bahkan tidak mengeluarkan senyumnya. Dia menegur semua orang yang dilihatnya sambil tersenyum manis. Dia bahkan tersenyum hangat pada Haeri yang menatapnya keheranan.

“Haeri-sshi aku ingin berdamai denganmu! Aku minta maaf soal kejadian itu. Ya benar aku memang salah karena telah membicarakan kalian yang tidak-tidak. Dan dimana Yoojin? Aku juga ingin meminta maaf padanya. Kira-kira apakah dia mau memaafkanku?”

Haeri tidak menyangka dengan kata-kata yang keluar dari bibir Jihyo. Berkali-kali dia meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah kepalsuan ataupun tipu muslihat dari gadis seperti Jihyo. Tetapi tidak bisa, gadis itu benar-benar tampak tulus kali ini.

“Ya, sunbae, aku juga minta maaf. Yoojin belum datang tetapi dia pasti mau memaafkanmu!” Haeri berkata dengan balasan senyum kikuknya. Dia tidak tahu kenapa dia menjadi begitu gugup menghadapi Jihyo padahal bekali-kali dia berkata bahwa dia tidak takut dengan Jihyo. Harus dia akui bahwa Jihyo benar-benar cantik, apalagi jika sedang tersenyum.

“Kalau begitu sampaikan salamku kepadanya, ok?”

Hyeri mengangguk bengong seiring dengan perginya Jihyo menuju kelasnya. Jieun dan Yuna menatap temannya itu keheranan. Tetapi mereka telah menduga bahwa ada kabar baik yang akan dibawanya.

“Kenapa? Kau dapat pengganti Kyungsoo?” tebak Yuna asal.

Jihyo menggeleng.

“Atau liburan keliling eropa bersama orang tuamu?” tambah Jieun.

Jihyo tetap menggeleng.

“Lalu apa?” tanya mereka berdua kompak.

“Kalian harus lihat. Ulangan sejarahku mendapat nilai 90.”

Ini memang kabar langkah dan seharusnya baik, tapi Yuna dan Jieun tentu saja heran, sejak kapan Jihyo senang dengan mendapat nilai tinggi? Oh kalau saja mereka tahu bagaimana indahnya mendapatkan sesuatu yang bagus karena hasil usaha yang maksimal. Itu benar-benar menyenangkan.

“Oh ya nanti sepulang sekolah bagaimana jika kita belajar bersama dirumah Kyungsoo, bukankah sebentar lagi ujian akhir? Jika terus-terusan seperti ini, kita tidak akan tamat. Aku sudah membicarakannya pada Kyungsoo dan….”

“JADI KALIAN BALIKKAN?” tanya mereka berdua yang lagi-lagi kompak dengan nada kagetnya.

Jihyo mengangguk sumringah diiringi dengan pelukkan-pelukkan hangat dari kedua teman baiknya itu.

“Kenapa kau tidak cerita pada detik kalian balikkan kepada kami?”

Jihyo sedikit nyengir, “maaf, handphoneku bahkan mati seharian kemaren.”

“Kerja kelompok? Baiklah, ada Kai kan disana?”

Jihyo tersenyum meremehkan melihat Yuna yang ternyata masih mengejar pria pujaanya sejak smp itu. Bahkan ketika dengan terang-terangan Kai memilih Haeri dan menolak cintanya. Tapi setidaknya Jihyo bangga dengan Yuna yang tidak cepat menyerah dan putus asa. ‘pacaran juga bisa putus, kan?’

“Selamat pagi, sayang.”

Well, cheesy. Tapi ini terdengar begitu manis karena keluar dari mulut Kyungsoo. Jihyo bahkan berpikir bahwa ia sedang bermimpi. Atau ini hanyalah bajakan bodoh dari Chanyeol jika berupa text. Tapi Kyungsoo tampak begitu nyata untuk disebut mimpi. Dia adalah kenyataannya, kenyataan paling indah dalam hidup Jihyo.

Jihyo tersenyum malu-malu mendapati Kyungsoo telah berada dihadapannya sekarang entah dengan tujuan apa. Dibelakangnya, baik Yuna maupun Jieun bersorak pelan bermaksud menganggu mereka.

“Apa kataku… kalian pasti balikkan,” ucap Joonmyun disertai senyum mengejeknya.

What people say actually dont matter if two person love each other.

SELESAI.

 

Hi guys.
Maybe not all people will like this genre but idk why i love imiganing some scenes of this story. Hahaha and i guess kyungsoo is a perfect boyfriend, right?

Leave your comment kalo berkenan soalnya aku rada insecure sama ff ini tapi ngga tau kenapa aku suka ngebayanginnya dan ngetiknya. Kalo ngga suka ngga mgkn tamat lol.

Ok see youuuu

157 thoughts on “Ain’t a Fool

  1. Aku suka ceritanya. Ringan, enak dibaca. Aku jg suka karakter semua tokoh disini. Totally grey. Lebih real aja gt kalo tokohnya itu grey. Kalo yg terlalu jahat smp gak ada baik2nya itu malah terkesan bullshit. Hehehee..

  2. Ping-balik: [ONESHOOT[ FLY HIGH! (Ain’t a Fool Sequel) | Jongchansshi Regality

  3. the’s right for you quesn,,
    keren banget FF,, aku suka image Kyungsoo, seperti ini asli imagenya Kyungsoo jika ia benar2 berpacarn denganku, yahh, menurutku aku memiliki sifat seperti Jihyo, cuman ga bodoh2 amat,,,
    dan buat coupl mereka feelnya dapat banget, remaja benget,,, seriusan keren ceritannya fluff yg mengesangkan,, in seperti sering terjadi dan wooww ga tahu mau ngomong apa intinya FF keren dan aku suka bengt bahkan ga berhenti tertawa sejak awal baca hingga abiss, pokoknya berkesan…

  4. Hwooowww!! Daebbak! Ceritanya bagus..mudah diikutin dan pahamin…bahasanya juga enak gak formal2 banget….dapet bgt feel nya disini…sempet kebawa emosi di dlm ceritanya..lanjutkan thorrrr!! Kalobisa ini dibuat chaptered🙂 fightinggg!!!

  5. Kak,sumpah. Feelnya dapet banget…!!!! Mrinding waktu baca. Ah,kyungsoo……..!!!!!!!! Idaman banget…. :3
    Keep writing kak ^^

  6. Aduuh!! Sumpah keren BANGET! Apalagi jihyo jdi berubah lebih baik😀 jdi yg yoojin cs ngomongin jihyo itu cuma karangannya jieun yuna? Oooh, begitu🙂 untung lah😀 oke aku mau baca sequelnya😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s