Miracle in December (Chapter 1)

Haloo semua, udah berapa lama author ga ngepost ya? Mian ne buat yang nunggu ff ini atau mungkin kayaknya udah pada lupa ya, maaf banget lama ngepostnya, author ga sempet2 buat lanjut dan sempet keabisan ide, sekarang akhirnya bisa ngepost juga, buat yang udah lupa atau mau baca bisa lihat prolog ff ini di sini ya https://exofanfictionworld.wordpress.com/2013/12/06/miracle-in-december-prolog/ biar bisa tau tentang ceritanya, mian kalau kurang puas sama part satunya, tinggalin komen kalian oke?^^ happy reading guys!

image

Title  : Miracle in December

Length :-

Rating :PG 13

Genre :Romance,school life

Author :Selvyvii907/@selvyguunawan

Main Cast:-Xi Luhan(Exo-M), Jung Hye Jin(OC), Park Chanyeol, Park Chorong

Support Cast : Exo members

Disclaimer  : The Plot is mine, and Exo members belong to God

 

Seoul. 25 Desember,2007

Seorang gadis kecil dengan rambut lurusnya tengah memandangi salju lebat yang menutupi jalanan luar melalui kaca besar rumahnya, gadis mungil itu menghela napas yang entah sudah keberapa kalinya, ia mengetuk ngetukan kakinya tak sabar.
“Kenapa lama sekali.”Keluh gadis itu khawatir.
“Nona muda.” Gadis mungil itu menengok ke belakang begitu mendengar seseorang memanggilnya, saat itu juga ia mendapati bibi Shin, pelayan rumahnya yang tengah berjalan mendekat.
“Ini sudah larut malam, kau harus tidur.”Ucap bibi Shin lembut sambil mengelus rambut halus Hye Jin yang terurai. Hye Jin menggeleng, ia kembali menatap ke luar jendela.

Aku mau menunggu appa dan eomma, kita kan sudah janji mau membuka kado itu bersama di malam natal.”Jawab Hye Jin sambil menunjuk sebuah kotak besar dengan hiasan pita merah diatasnya yang terletak di bawah pohon natal. Bibi Shin menggelengkan kepalanya, Hye Jin adalah gadis yang keras kepala, apalagi kalau dalam urusan orang tuanya, gadis berumur 9 tahun itu pasti ingin sekali menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya, “Tapi mungkin Tuan dan Nyonya tengah terjebak macet, kalau mereka tiba besok pagi bagaimana?”Bibi Shin masih mencoba membujuk anak majikannya itu, Hye Jin terdiam sesaat sampai akhirnya yeoja itu kembali menggeleng mantap. “Aku akan menunggu appa dan eomma, mereka sudah janji. Kata appa, namja sejati tak akan mengingkari janji, jadi pasti mereka datang!”Ujar Hye Jin mantap, sedangkan bibi Shin hanya menghela napasnya pasrah. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada apa yang ditatap Hye Jin sedari tadi, jalanan yang dipenuhi salju itu masih sepi, belum ada tanda bahwa akan ada yang datang.
Tring. Bunyi telepon yang berdering itu sontak membuat kedua orang itu menoleh ke sumber suara,raut wajah Hye Jin kini berubah menjadi riang.
“Itu pasti appa dan eomma!“Seru Hye Jin semangat, bibi Shin tersenyum lalu mengacak rambut Hye Jin, “Biar bibi angkat.”Ujar bibi Shin yang disusulli anggukan dari Hye Jin.
“Yoebseyo?”Sapa bibi Shin sambil melirik Hye Jin yang kini tengah menatapnya dengan senyum yang mengembang di wajah imutnya, bibi Shin balas tersenyum, ia sendiri berharap bahwa kedua majikannya itu akan datang, mereka sangat sibuk dan jarang punya waktu untuk Hye Jin, anak kecil itu sangat kesepian selama ini.
Untuk beberapa saat bibi Shin masih terdiam mendengarkan suara di seberang sana, sampai akhirnya tiba tiba raut wajah wanita paruh baya itu berubah menjadi pucat.
“A-Apa?”Suara bibi Shin terdengar bergetar, wanita itu menggelengkan kepalanya tak percaya, Hye Jin mengerutkan keningnya heran, gadis itu berjalan mendekat, ia menatap bibi Shin dengan raut bertanya, bibi Shin menutup teleponnya begitu panggilan itu selesai, ia bisa merasakan tangan mungil Hye Jin yang kini tengah menarik ujung bajunya, “Bibi, gwaenchana?”Tanya Hye Jin khawatir. Bibi Shin berlutut untuk menjajarkan dirinya dengan Hye Jin, wanita itu mengelus pipi tembam Hye Jin dengan mata berkaca-kaca, perlahan butiran kristal itu menuruni pipi wanita berusia 40 tahun itu.
“Bibi kenapa? Bibi sakit?”Tanya Hye Jin panik, gadis mungil itu memegang kening bibi Shin, bermaksud memeriksa kondisi tubuh orang yang telah dianggapnya ibu kedua itu. Bibi Shin menggeleng pelan, wanita itu merengkuh Hye Jin ke dalam pelukannya, bagaimana bisa ia memberi tahukan semuanya pada gadis semungil Hye Jin bahwa kedua orang tuanya tewas karena kecelakaan di malam natal?

**^^**

Kosong. Begitulah tatapan mata Hye Jin saat ini, gadis mungil itu menatap pigura kedua orang tuanya dengan mata sembapnya, ia sudah terlalu lelah untuk menangis, kalau saja air matanya bisa mengembalikan kedua orang tuanya, ia pasti menyanggupi menangis selama mungkin, tapi tentu itu mustahil, kedua orang tuanya pergi, meninggalkannya di malam natal, tepat di hari ulang tahunnya.
“Appa..Eomma..”Isak Hye Jin, gadis mungil itu masih tak percaya dengan apa yang terjadi, kecelakaan? Kenapa bisa? Bagaimana bisa kedua orang tuanya meninggalkannya? Hye Jin meremas ujung bajunya, bahkan sudah lama ia tak merasakan pelukan hangat kedua orang tuanya, kenapa ia tak bisa mendapatkan hal sesederhana itu di hari ulang tahunnya?

“Appa..kau kan janji mau mengajari Hye Jin naik sepeda..”Ujar Hye Jin dengan suara gemetar,”Eomma..aku mau susu cokelat hangat buatanmu..”Hye Jin mengelus potret kedua orangtuanya itu dengan gemetar, ia benci mimpi buruk, dan Hye Jin benar benar berharap ini hanya bagian dari mimpi buruknya, mimpi terburuk dalam hidupnya..

Tingtong.
Bunyi bel itu menggema di ruangan besar milik keluarga Jung. Bibi Shin yang tadinya sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur buru buru berjalan cepat menuju pintu, wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya sesaat dan menatap Hye Jin yang yang masih mematung memandangi foto kedua orangtua nya itu seolah tak peduli dengan bunyi bel yang terus berdenting, bibi Shin menatap anak itu iba, kenapa anak sekecil dan semanis Hye Jin harus menimpa nasib seperti ini? Bibi Shin menghela napas beratnya lalu berjalan menuju pintu dan membukanya, saat itu juga ia mendapati dua orang dewasa yang tengah tersenyum, mereka menggandeng seorang pria kecil yang kira kira sepantaran dengan anak majikannya itu.

“Kami teman dekat kedua orang tua Hye Jin.”Ujar Seorang pria dengan balutan jas rapi di tubuhnya seolah bisa menebak isi pikiran bibi Shin.
“Ah, annnyeong haseo.”Bibi Shin refleks membungkuk hormat begitu mengetauhi ketiga orang dihadapannya ini, sekertaris ayah Hye Jin telah menginformasikan tentang mereka berdua tadi, katanya mereka datang karena ingin memberitahukan hal penting.
Wanita berpenampilan elegan itu balas tersenyum ramah,”Apa Hye Jin ada dirumah?”Tanya Wanita itu, bibi Shin mengangguk, ia lalu membuka lebar pintu dan mempersilahkan mereka masuk,”Nona muda masih sangat shock.”Ujar Bibi shin pelan,  Xi ahjumma menatap bibi Hye Jin dengan tatapan maklum,”Aku mengerti, pasti sangat sulit untuk anak seumuran Hye Jin menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah meninggal.”Jawab Xi ahjumma pelan, wanita itu menepuk pelan lengan bibi Shin sebelum memasuki rumah mewah itu, Xi ahjumma menatap sekeliling rumah yang dipenuhi dengan perabotan serba mewah itu sampai akhirnya mata wanita itu terhenti pada sesosok gadis kecil yang tengah mematung. Xi ahjumma menggelengkan kepalanya pelan, Hye Jin hampir sebaya dengan Luhan, anaknya, Luhan hanya satu tahun lebih tua dari Hye Jin, kalau Luhan saja masih suka merengek saat ditinggal kerja oleh dirinya dan suaminya, bagaimana dengan Hye Jin?

Xi ahjumma berjalan mendekati yeoja kecil itu, derap langkah Xi ahjumma membuat Hye Jin menengok ke belakang, gadis kecil itu mengerjapkan matanya dan menatap Xi ahjumma yang tentu asing dimatanya.
“Annyeong Hye Jin-a.”Xi Ahjumma berjongkok dihadapan Hye Jin dan mengelus rambut halus gadis kecil itu. Hye Jin membungkuk rendah ,“Annyeong haseo.”Sapa Hye Jin sopan walau gadis kecil itu masih kebingungan dengan kedatangan wanita di hadapannya ini.
“Ah, neomu yeoppo, kau benar benar mirip eomma-mu,kalian sangat cantik.”Puji Xi ahjumma, wanita itu mengelus pipi temban Hye Ji.
“Ahjumma mengenal eomma?”Tanya Hye Jin polos, mata gadis itu memancarkan rasa kehilangan yang sangat jelas, Xi ahjumma mengangguk, ia lalu membawa Hye Jin ke dalam pelukannya,”Ahjumma adalah sahabat eomma mu sejak remaja Hye Jin-a, Hye Jin harus kuat ya? Kau tidak boleh sedih terus menerus sayang.”Ujar Xi ahjumma lembut, otomatis Hye Jin kembali terisak, setiap mendengar kata eomma, ia otomatis akan mengingat semua kenangannya bersama kedua orang tuanya, bagaimana hangatnya pelukan kedua orang tuanya, senyum tulus yang tergambar diwajah lelah mereka saat pulang kerja, Hye Jin rindu semuanya, ia ingin merasakan itu lagi.

Xi ahjumma melepaskan pelukannya begitu mendengar isak tangis Hye Jin, wanita itu mengusap cairan bening dipipi putih Hye Ji itu.
“Ahjumma..Hye Jin hiks..Hye Jin mau ke makam eomma dan appa, Hye Jin mau melihat mereka walau tidak secara langsung, hiks, tolong antarkan Hye Jin, ahjumma.”Pinta Hye Jin dengan nada memohon membuat siapapun yang mendengarnya otomatis akan iba.
Xi ahjumma terpaku beberapa saat, wanita itu terlihat sedikit terkejut, ia tahu gadis kecil dihadapannya ini pasti akan menanyakan hal ini, Xi ahjumma akhirnya menatap Hye Jin dan menjawab perlahan, “Hye Jin-a, mobil kedua orang tua mu masuk ke jurang, dan mayat mereka belum ditemukan.”

**^^**

“Jadi Hye Jin akan diurus oleh tuan dan nyonya?”Tanya bibi Shin terkejut begitu mendengar penuturan dari  Xi ahjussi bariusan, kedua orang yang ditanya itu mengangguk kompak. “Ini amanat dari kedua orang tua Hye Jin, kita akan mengurus Hye Jin dengan sangat baik.”Ucap Xi ahjumma meyakinkan. Bibi Shin menatap Hye Jin yang kini berada di pangkuan Xi ahjumma, gadis kecil itu sudah lebih tenang sekarang, bibi Shin sebenarnya yakin kalau mereka adalah orang baik apalagi mereka adalah kerabat dari majikannya sendiri, tapi bibi Shin ingin merawat Hye Jin, ia sudah menganggap anak majikannya itu layaknya anaknya sendiri.

“Dan bibi Shin, kalau kau berkenan kau bisa ikut pindah ke rumah kami dan bekerja disana, aku yakin Hye Jin pasti tak mau berpisah denganmu.”Tawar Xi Ahjussi.
Bibi Shin menatap kedua orang itu tak percaya, “Saya boleh bekerja disana?”Tanyanya senang, Xi ahjussi mengangguk mantap, “Kenapa tidak? Kau bisa sekalian mengurus Luhan, anak kami.”Jawabnya sambil tersenyum, ia mengacak rambut anak kecil tampan disampingnya. Pria kecil bernama Luhan itu merapikan rambutnya yang diacak ayahnya sambil menggerutu kesal, ia lalu menatap gadis kecil yang kini duduk di pangkuannya sinis, gadis kecil itu menyadari maksud tatapan Luhan dan balas menatap namja kecil itu dengan polos.
“Kau akan punya teman baru Luhan.”Ujar Xi ahjumma sambil tersenyum lembut,

Luhan menatap ibunya itu sekilas sampai akhirnya namja itu memasang wajah bingung, “Teman? Dia bukan temanku.”Sanggah Luhan cepat, ia menatap dingin Hye Jin yang masih memasang wajah polos yang begitu memuakan bagi Luhan.
Ia sendiri tak tahu kenapa dirinya membenci wajah polos yeoja itu tapi yang jelas Luhan yakin bahwa ia tak akan menyukai kehadiran Hye Jin dirumahnya.

**^^*

“Oppa, kau tidak sarapan?”Tanya Hye Jin begitu melihat Luhan yang menuruni anak tangga, Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Hye Jin datar, namja itu menggeleng, “Aku tidak lapar.”Jawabnya singkat.
Hye Jin bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Luhan yang menatapnya heran, “Nanti oppa bisa sakit, kata ahjumma oppa harus makan.”Ujar Hye Jin pelan.
Luhan berdesis sinis, “Aku kan sudah bilang aku tidak lapar, aku mau main bola, jadi jangan urusi aku.”Jawab Luhan dingin, pria kecil itu lalu berjalan meninggalkan Hye Jin yang mematung tanpa memperdulikan ucapannya barusan melukai perasaan gadis mungil itu. Hye Jin menghela napas pelan, sudah dua bulan ia tinggal disini dan Luhan masih belum bisa menerima keberadaanya, Hye Jin tahu kalau Luhan memang tak pernah menyukai dirinya meskipun Hye Jin sendiri sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri, mungkin menurut Luhan kehadiran Hye Jin membuat kasih sayang kedua orang tuanya menjadi terbagi karena memang semenjak Hye Jin masuk ke dalam kehidupan keluarga Xi, ia mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tua Luhan, mereka baik dan memperlakukan Hye Jin seperti anak mereka sendiri, dan Hye Jin sangat bersyukur atas itu, tapi Hye Jin tak pernah berpikir sedikitpun untuk merebut kasih sayang kedua orang tua Luhan.
”Semoga Luhan oppa tidak jatuh sakit.”Gumamnya pelan lalu ia kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.nkn

Luhan mengacak rambutnya asal sambil berjalan menyusuri jalanan yang sepi, namja kecil itu menggerutu pelan sambil  memegangi perutnya yang lapar, sebenarnya perutnya sudah mendemo sejak Hye Jin mengajaknya sarapan tadi, tapi Luhan terlalu gengsi untuk mengiyakan ajakan anak itu, Luhan memang mempunyai gengsi yang terlampau tinggi, bahkan terkadang rasa gengsinya itu merugikan dirinya seperti sekarang ini. Mata cerah namja itu kini menyapu pemandangan di sekitarnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk duduk di pinggir sungai.
Luhan melempar batu kecil di sampingnya ke sungai itu persis seperti orang tak punya kerjaan, ia benar benar bosan, teman temannya sedang pergi sehingga ia tak jadi bermain bola dengan mereka.
“Kruk.” Luhan menggerutu begitu perutnya lagi lagi kembali mengeluaran bunyi yang cukup kencang.
“Aku seperti mendengar bunyi sesuatu barusan.” Luhan menoleh ke belakang dengan cepat begitu mendengar suara seseorang  gadis yang barusan berbicara itu, ia mengerjapkan matanya begitu mendapati seorang yeoja sepantaran dirinya yang kini tengah menatap dirinya sambil tersenyum,gadis berponi itu duduk disamping Luhan yang masih tersihir dengan kecantikannya.
“Annyeong.”Sapa gadis kecil itu ramah tanpa merubah senyum lucunya, Luhan mengerjapkan matanya, “Eomma..ada bidadari di depanku..’Batin Luhan dalam hati, yeoja kecil itu mengibaskan tangannya di depan wajah Luhan membuat namja itu terkesiap, “N-Nuguya?”Tanya Luhan gugup, yeoja kecil itu terkekeh pelan begitu melihat ekspresi terkejut Luhan. “Park Chorong iminda,usiaku 9 tahun, rumah nuna tak jauh dari sini, kau?”Tanya yeoja bernama Chorong itu ramah sambil mengulurkan tangannya, Luhan membalas uluran tangan yeoja itu tanpa berpikir panjang, “Namaku Xi Luhan, kau bisa memanggilku Luhan, rumahku juga tak begitu jauh dari sini, dan ekhem, aku lebih tua darimu setahun.”Jawab Luhan panjang lebar, yeoja dihadapannya itu mengerjapkan matanya tak percaya begitu menengar penuturan dari namja dihadapannya, “Kau lebih tua dariku? Tapi wajahmu terlihat seperti namja berusia 7 tahun.”Ujar Chorong polos, Luhan mencibir pelan, entah sudah berapa orang yang mengiranya lebih muda dari usianya sekarang.
“Itu berarti aku awet muda.”Jawab Luhan membela dirinya sendiri, Chorong tertawa pelan dan mengangguk setuju, “Iya, aku juga awet muda.”Timpal Chorong percaya diri, Luhan menatap yeoja itu yang kini tengah menatap sungai dihadapannya sambil memeluk kedua lututnyaa, “Dan juga sangat cantik.”Gumam Luhan tanpa sadar, Chorong menoleh begitu mendengar gumaman dari Luhan barusan,”Mwo? Kau bilang apa tadi oppa?”Tanya Chorong dengan wajah polosnya, Luhan buru buru menggeleng, “Ani, aku bilang kalau aku lapar.”Jawab Luhan cepat sambil mengelus perutnya.
“Jadi suara itu memang dari perutmu? Kalau lapar kenapa oppa tidak pulang ke rumah? Ah sebentar!” Yeoja berambut panjang itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan meyerahkannya pada Luhan, “Ini, tadi aku membelinya di toko roti.”Ujarnya sambil menyodorkan sebungkus roti rasa cokelat, rasa kesukaan Luhan.

Luhan menatap roti itu ragu sambil berpikir beberapa saat, Chorong menghela napas tak sabar, yeoja itu lalu meraih tangan Luhan dan meletakannya di atas telapak tangan namja itu, “Makan saja.”Ucapnya sambil tersenyum, Luhan mengangguk kaku, ia membuka bungkus roti itu dan bersiap menggigitnya, namun namja itu mengurungkan niatnya, ia membagi dua roti tersebut dan menyodorkan bagian yang lebih besar pada yeoja disampingnya itu, “Makan berdua lebih baik.”Tandas Luhan sambil tersenyum, Chorong memasang wajah heran namun akhirnya ia balas tersenyum, “Arraseo.”Jawabnya sambil mengunyah roti cokelatnya itu, Luhan ikut memakannya sambil menatap Chorong yang asik mengunyah, “Gomawo rongie.”Ujar Luhan tiba tiba, Chorong menoleh, “Rongie?, kau orang pertama yang memanggilku begitu, aku suka dipangil begitu, cheonma oppa, mulai sekarang kita berteman, arra?”Ujar Chorong sambil mengulurkan jari kelingkingnya, Luhan terdiam sesaat dan menatap yeoja yang masih tersenyum cerah itu sampai akhirnya ia mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Chorong. Sejak hari itu keduanya menjadi sahabat yang begitu dekat, dan Luhan sendiri mempunyai tekad untuk menjaga yeoja itu semampunya.

Seoul, 25 December 2008

“Appa, lebih baik appa jangan pulang dulu, sekarang sedang hujan deras.”Saran Luhan khawatir pada appanya melalui telepon rumah digenggamannya.
“Tidak apa Lu, appa dan eomma akan baik baik saja, hari ini kan natal, dan Hye Jin sedang berulang tahun jadi appa dan eomma harus pulang dan merayakannya.”Jawab Xi ahjussi menenangkan, Luhan mendesah berat, ia melirik tajam Hye Jin yang kini tengah sibuk menghias pohon natal, lalu namja kecil itu kembali menfokuskan perhatiannya pada suara di seberang sana.
“Appa tutup teleponnya dulu yaa, bahaya menyetir di jalan, setengah jam lagi kita sampai, bilang pada Hye Jin untuk menunggu sebentar, annyeong little prince.”Xi ahjussi memutuskan mengakhiri panggilannya, Luhan membuka mulutnya bersiap untuk menjawab namun panggilan itu sudah terputus, Luhan meletakan gagang telepon itu ke tempatnya dengan terpaksa, ia tak tau apa yang salah dengan dirinya, hanya saja perasaannya benar benar tidak enak.

“Apa ahjumma dan ahjussi akan pulang?”Tanya Hye Jin yang tahu tahu kini berdiri dihadapan Luhan, yeoja itu menatap Luhan sambil tersenyum, Luhan berdecak, “Sebentar lagi, tunggu saja.”Jawab Luhan malas, Hye Jin mengangguk, “Oppa, kau tidak mau menghias pohon natal?”Tanya Hye Jin lagi sambil menunjuk pohon natal yang kini penuh dengan hiasan.
“Aku mau menghias dimana kalau semua hiasan telah kau pakai eoh?”Ujar Luhan sinis, Hye Jin terdiam, seketika merasa bersalah, ia baru mau meminta maaf namun Luhan malah melongos menaiki anak tangga, Hye Jin menghela napas kecil, ia lalu mendongak begitu mendapati Luhan yang menghentikan langkahnya, namja itu menatap Hye Jin ragu dan terdiam sesaat, sampai akhirnya ia membuka mulutnya dan berkata begitu pelan, “S..Saengil Chukkae.”Ujarnya cepat lalu tanpa menunggu reaksi dari Hye Jin, anak itu buru buru berlari menaiki anak tangga.
Hye Jin melongo bingung, ia masih mencerna apa yang barusan Luhan ucapkan sampai akhirnya ia tersenyum senang begitu mengetahuinya, “Gomawo Luhan oppa!”Teriak Hye Jin riang, yeoja itu lalu berjingkrak kegirangan, untuk pertama kalinya Luhan mengucapkan sesuatu padanya tapi bukan dengan nada sinis seperti biasanya. Hye Jin yakin kalau sebenarnya Luhan adalah namja yang baik hanya saja gengsi pria itu terlalu tinggi, tapi meskipun begitu namja itu punya banyak teman disekolahnya bahkan tak jarang banyak anak yeoja yang berebut duduk sebangku dengannya.

Luhan bergerak gelisah di tempat tidurnya, namja itu melirik jam dinding di kamarnya sambil menghela napasnya, ini sudah jam setengah sebelas malam dan kedua orang tuanya belum juga kembali, apa firasat Luhan benar? Luhan buru buru menggeleng, ia tak boleh berpikiran aneh aneh, mungkin saja orang tuanya terjebak macet, apalagi di malam natal seperti sekarang.

Toktok
Bunyi ketukan pintu itu membuat Luhan otomatis bergerak dari tempat tidurnya, namja itu berjalan menuju pintu dan membukanya begitu, ekspresi Luhan berubah begitu mendapati siapa orang yang barusan mengetuk pintu itu.
“Kenapa?”Tanya Luhan malas sambil menatap Hye Jin, awalnya namja itu tak menyadari ada yang janggal dari anak perempuan dihadapannya itu sampai akhirnya ia mengerjapkan matanya begitu mendapati mata sembap Hye Jin.
“Kau kenapa?”Tanya Luhan bingung, apa ia tadi berkata sesuatu yang menyinggung gadis itu?
Hye Jin terdiam beberapa saat lalu akhirnya tangis yeoja kecil itu pecah, Luhan tersentak, namja itu benar benar tak tahu apa yang salah dengan Hye Jin, yeoja itu tak pernah menangis jika Luhan berkata dingin padanya tapi kenapa yeoja itu begitu aneh hari ini?
“Hey, kau kenapa?”Tanya Luhan sambil memegangi kedua pundak Hye Jin, yeoja kecil itu memeluk Luhan erat, Luhan terkejap, namja itu berniat melepaskan pelukan Hye Jin namun ia mengurungkannya begitu mendengar isakan yeoja kecil itu.
“Ahjussi hiks, ahjussi dan ahjumma..”Hye Jin menggantungkan ucapannya, isakan yeoja itu bertambah hebat, “Eomma dan appa kenapa?”Tanya Luhan panik, merasa bahwa ini bukan pertanda baik, Hye Jin melepaskan pelukannya, ia menatap Luhan dengan mata berkaca kaca, “Ahjussi dan ahjumma,hiks meninggal karena kecelakaan oppa hiks, sekarang mereka ada di Seoul Hospital.”Jelas Hye Jin dengan suara bergetar, Luhan mengerjapkan matanya tak percaya, tubuh namja itu melemas, apa ia salah dengar?
“M..Mwo?”Tanya Luhan lirih, Hye Jin mengangguk lemah,”Sekarang oppa diminta untuk datang kesana, kajja.”Hye Jin meraih tangan Luhan bermaksud mengajak namja itu turun, namun Luhan buru buru menghempaskan tangannya, “Ini semua karena kau kan?!”Bentak Luhan yang membuat Hye Jin terkesiap, Luhan menatap Hye Jin dengan emosi yang meluap-luap, “Appa dan eomma, mereka kecelakaan karena buru buru pulang menemuimu!”Ujar Luhan dengan nada meninggi, perlahan air mata namja itu mengalir menuruni pipi putihnya, Hye Jin menggelengkan kepalanya,”Salahku?”Tanyanya dengan suara bergetar.
“Kalau kau tak ada  di rumah ini, mungkin mereka tidak akan kecelakaan.”Teriak Luhan, namja itu menatap Hye Jin penuh emosi, ia lalu berlari meninggalkan Hye Jin yang masih terpaku, Hye Jin memegang erat ujung bajunya, kenapa hari ulang tahunnya selalu membawa penderitaan?
Hye Jin menatap pilu punggung Luhan yang semakin menjauh, ia yakin setelah kejadian ini Luhan akan semakin membencinya

**^^**

1 minggu kemudian..

            Hye Jin berjalan pelan menyusuri taman umum dekat rumahnya dengan raut wajah murung, yeoja mungil itu lalu duduk di sebuah ayunan, tempat favoritnya yang biasanya bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Hye Jin mendongakan kepalanya, menatap langit yang mulai mendung, “Appa..eomma bogoship.. Xi ahjussi..Xi ahjumma nan bogoshipo.”Ujar Hye Jin pelan, perlahan butiran kristal itu menuruni kedua pipi mungil Hye Jin, gadis itu terisak pelan, ia merindukan orang orang yang menyayanginya itu, ia rindu kedua orang tuanya, ia juga merindukan kedua orang tua Luhan, meskipun ia masih mempunyai bibi Shin yang begitu menyayanginya tetapi ia tetap merindukan orang orang yang telah meninggalkannya itu.

“Luhan oppa..dia membenciku eomma hiks, karena aku oppa kehilangan kedua orang tuanya..hiks, aku jahat eomma, Hye Jin membuat oppa kehilangan kedua orang tua oppa..”Ucap Hye Jin dengan suara gemetar, tinggal satu rumah dengan Luhan membuat rasa bersalah Hye Jin semakin bertambah setiap harinya, Luhan kini menjadi begitu menutup diri dan dingin, ia bahkan enggan untuk menatap wajah Hye Jin walau hanya beberapa detik, Hye Jin menyayangi Luhan seperti kakaknya sendiri, ia tak ingin meihat Luhan terus bersedih.

“Langitnya akan bertambah mendung jika kau terus menangis.” Hye Jin menghentikan isak tangisnya begitu mendengar suara seorang yang asing baginya, yeoja itu mengangkat kepalanya dan mendapati es krim di depannya, Hye Jin menoleh ke samping dan saat itu matanya menangkap seorang namja yang mungkin lebih tua beberapa tahun darinya tengah menatapnya sambil tersenyum, postur namja itu terbilang cukup tinggi tapi wajahnya masih begitu imut.

“Ini, untukmu.”Ujar namja itu ramah, Hye Jin menatap namja itu heran, namja itu berjongkok untuk menyetarakan tubuhnya dengan Hye Jin yang masih terpaku di tempatnya.
“Wae? Kau tidak suka es krim?”Tanya namja itu karena Hye Jin tak kunjung menerima es krim pemberiannya, Hye Jin menggeleng, “Ani, bukan begitu. Aku suka es krim tapi..”
“Tapi kau dilarang untuk menerima pemberian sembarang orang? Tenang saja, aku orang baik kok, es krim ini baru aku beli disana.”Namja itu menunjuk sebuah stand eskrim yang terletak tak begitu jauh dari taman itu,  “Ambilah.”Ujar namja kecil itu lagi, Hye Jin mengambil eskrim itu ragu, namja itu tersenyum lalu mengacak rambut Hye Jin pelan.
“Aku tidak tahu kenapa kau menangis, tetapi kata eommaku kalau kau menangis terus nanti wajahmu bisa jelek, kau tidak mau kan jadi jelek? Jadi jangan menangis ya, aku saja jarang menangis, aku tidak mau kehilangan ketampananku.”Nasehat namja kecil itu sambil tersenyum, Hye Jin balas tersenyum tipis dan mengangguk, “Gomawo.”Ujar Hye Jin tulus, namja itu mengangguk, “Aku pulang dulu ne? Ini sudah hampir hujan, kau juga lebih baik pulang nanti kehujanan, ingat jangan terlalu sering menangis, annyeong strong girl!”
Namja itu berjalan meninggalkan Hye Jin setelah melambaikan tangannya, Hye Jin
memandangi punggung namja itu yang menjauh, ia lupa menanyakan nama namja itu, tapi tadi ia sempat membaca ukiran yang tertulis di topi namja kecil itu, PCY? Apa itu inisial namanya? Siapapun dia, yang pasti Hye Jin sangat berterima kasih karena setidaknya namja itu berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Sementara itu..

“Tuan muda, kau mau kemana?”Tanya bibi Shin ketika Luhan berjalan menuju gerbang rumah, Luhan berhenti dan menatap bibi Shin sesaat,”Aku mau main ke rumah teman sebentar.”Jawab Luhan singkat, “Cepatlah pulang tuan muda, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.”Saran bibi Shin khawatir, Luhan hanya mengangguk setelah itu namja itu berjalan cepat meninggalkan rumahnya.

Luhan berjalan tak sabar dengan senyuman diwajahnya, tangannya menggengam sebuah coklat yang sengaja ia beli tadi, ia  sedang menuju tempat Chorong tinggal sekarang, namja itu sudah lama tak bertemu dengan sahabatnya itu, Chorong bahkan belum tahu mengenai peristiwa kedua orang tua Luhan, ia butuh Chorong sekarang, karena hanya yeoja itu yang bisa membuat perasaanya menjadi lebih baik.

Luhan menghentikan langkahnya begitu ia telah sampai di depan sebuah rumah sederhana namun terlihat nyaman itu.
“Rongie!”Luhan berteriak memanggil teman dekatnya itu, disinilah rumah Chorong, yeoja itu tinggal di panti asuhan sejak kecil karena kedua orang tuanya meninggalkannya, Luhan mendapat banyak pelajaran dari yeoja itu, ia harusnya bersyukur karena masih bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya walah hanya sebentar. Beberapa saat kemudian seseorang keluar dari rumah itu namun itu bukan Chorong melainkan seorang wanita paruh baya yang Luhan kenal sebagai pemilik panti asuhan itu. Wanita itu tersenyum ramah pada Luhan.
“Annyeong ahjumma.”Luhan membungkuk sopan, ia lalu menatap ahjumma itu dengan tatapan bingung, “Apa Chorong ada?”Tanya Luhan.
Raut wajah wanita tua itu berubah, ia lalu mengelus rambut Luhan sambil tersenyum tipis, “Chorong sudah tidak tinggal disini, ia sudah diadopsi, kau tenang saja, Chorong mendapat orang tua yang begitu kaya raya dan juga baik, dia pasti senang.”Jelas wanita itu dengan lembut, Luhan megerjapkan matanya berkali kali, ia berharap ia salah dengar sekarang, Chorong diadopsi? Kemana? Kenapa yeoja itu tak memberi tahunya?
‘Rongie..aku membutuhkanmu.’Batin Luhan.

**^^**

Xi Luhan menatap pigura besar di ruangan tengah rumahnya sambil mendesah berat, namja itu mengelus poster yang terbingkai disana, sepasang suami istri dengan bocah lelaki yang tak lain adalah Luhan sendiri.
“Selamat hari pernikahan ke 18 eomma..appa..”Bisik Luhan pelan, namja itu tersenyum tipis, 7 tahun telah berlalu namun ia masih saja sering merindukan kedua orang tuanya itu, tapi Luhan tidak akan menangis lagi karena ia bukan bocah kecil berusia 10 tahun lagi, sekarang Luhan telah menjadi namja berusia 17 tahun yang mempunyai segudang penggemar di sekolah, ia tak akan semudah itu menunjukan kesedihannya kepada orang orang.
Luhan menoleh ke belakang begitu mendengar tapak kaki seseorang, namja itu merubah ekspresinya begitu mendapati yeoja berambut panjang kecokelatan tengah menatapnya sambil memasang senyum yang membuat Luhan muak.
“Pagi oppa.”Sapa yeoja itu sambil tersenyum, membuat kedua mata yeoja itu menyipit sempurna, Jung Hye Jin, yeoja yang sudah tinggal dengannya selama 7 tahun dan selama itu Luhan mati matian menahan rasa kesalnya.
Luhan berdesis, namja itu berjalan melewati Hye Jin tanpa menanggapi sapaan Hye Jin barusan, Luhan menyambar tas ranselnya di meja lalu berjalan keluar meninggalkan Hye Jin yang mematung.
Hye Jin menghela napas pelan, yeoja itu lalu tersenyum lemah,”Dia selalu saja dingin.”Gumam Hye Jin maklum, Hye Jin lalu menengok arlojinya, yeoja itu menepuk keningnya dengan cepat begitu menyadari bahwa sekarang sudah jam tujuh kurang lima belas menit, Hye Jin melangkah cepat menuju pintu namun langkah yeoja itu terhenti begitu ia mendapati sebuah buku tulis yang terletak diatas meja, Hye Jin mengambil buku itu dan membaca nama yang tertera disana, Xi Luhan.
Sepertinya ini buku tulis fisika milik Luhan, kemarin Hye Jin melihat namja itu mengerjakan tugas fisika ini semalaman suntuk, sekarang buku itu malah tertinggal. Hye Jin memasukan buku itu ke dalam tasnya, mungkin ia akan mengembalikan buku itu ketika sampai di sekolah

**^^**

“Jadi bagaimana?”Kai memecah keheningan diantara kelima  namja yang sedari tadi sibuk dengan urusan mereka masing masing itu.
“Bagaimana apanya?”Tanya Kyungsoo, orang pertama yang merespon pertanyaan Kai, namja itu akhirnya mengalihkan perhatiannya dari buku fisika yang dipegangnya.
Kai mengehela napasnya dan menatap keempat temannya itu bergantian, “Apa kalian sudah mendapat incaran baru?”
Kyungsoo kembali menfokuskan dirinya pada buku yang dipegangnya setelah tau arah pembicaraan namja berkulit gelap itu, topik ini sama sekali bukan hal menarik baginya.
“Aku rasa adik kelas kita banyak yang cantik, bahkan murid yeoja seangkatan kita kalah.”Komentar Baekhyun.
“Setuju, aku rasa akan lebih mudah mendapat incaran baru tahun ini.”Timpal Tao bersemangat.
“Aku sudah mendapat incaran!”Suara Sehun barusan sukses membuat mereka semua termasuk Luhan yang sedari tadi sibuk dengan komik ditangannya menatap Sehun penasaran, “Nuguya?”Tanya Kai, mewakili pertanyaan dari Luhan, Baekhyun,Kyungsoo dan Tao.
Sehun tersenyum penuh arti, “Soojung.”Jawab Sehun mantap.
Luhan memasang wajah datarnya diringi dengan cibiran dari yang lain, “Dia itu kan seangkatan dengan kita bodoh, lagi pula kalau itu kita juga sudah tahu, kau mengincarnya dari pertama masuk sekolah kan? Dan dia bahkan tak melirik mu sedikit pun.”Ujar Luhan sakartis yang langsung membuat Sehun memasang wajah kesalnya.
“Yang pasti jangan sampai popularitas kita terkalahkan oleh Chanyeol dan teman temannya itu.”Kai mengubah topik pembicaraannya, ia memang kurang menyukai Chanyeol, namja itu adalah saingan terbesarnya dalam urusan wanita karena banyak sekali yeoja yang mengidolakan namja itu, sedangkan bagi Luhan namja itu adalah musuhnya dalam bidang akademis, mereka selalu bersaing ketat hampir di setiap bidang pelajaran. Luhan baru saja akan menimpali ucapan Kai barusan tetapi niatnya terurungkan begitu mendapati seorang yeoja yang berjalan menghampirinya.
“Oppa” Luhan menggerutu pelan begitu yeoja itu memanggilnya dan kini berdiri tepat dihadapannya, sedangkan kini teman temannya menatap yeoja itu tanpa berkedip.
“Ini, bukumu tadi ketinggalan di rumah.”Ujar Hye Jin sambil menyodorkan buku bersampul coklat itu pada Luhan yang masih terdiam.
“Di rumah?”Baekhyun merespon ucapan Hye Jin dengan heboh membuat hampir semua anak dikelas menatap mereka.
“Jangan bilang kalian tinggal serumah?”Kini gantian Kai yang berbicara, Luhan kini memasang wajah sedingin mungkin sedangkan Hye Jin menatap mereka tak mengerti.
“Wah apa jangan jangan kau sudah menikah dengannya?”Timpal Tao yang membuat sebagian besar murid yeoja berbisik bisik.
Luhan beranjak dari kursinya, namja itu menarik Hye Jin tanpa berkata apapun membuat kecurigaan orang orang bertambah,

“Oppa, kau kenapa?”Tanya Hye Jin ketika dirinya dan Luhan kini telah berada di taman sekolah, Luhan menatap Hye Jin kesal, “Kenapa kau bilang kalau kita serumah?”Tanya Luhan dingin. Hye Jin terdiam, sepertinya teman Luhan tidak mengetahui tentang keberadaan dirinya.
“Mianhae..aku tidak tahu.”Sesal Hye Jin sambil menunduk, Luhan menghela napas kencang, “Lalu kita harus bagaimana? Bisa bisa akan muncul gosip yang tidak jelas, yeoja dan namja yang bukan saudara tinggal satu rumah. Haish, kenapa kau selalu merepotkan ku sih?”Ujar Luhan kesal, Hye Jin hanya terdiam, yeoja itu merutuki kebodohannya sendiri sekarang, Luhan adalah namja yang populer dan pastinya berita ini akan menyebar dengan cepat, dan Luhan benar, yeoja dan namja yang tidak memiliki hubungan darah tapi tinggal dalam satu atap yang sama pasti memiliki hubugan khusus.
“Aku tahu.”Hye Jin mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Luhan barusan, ia lalu menatap namja itu penasaran.
“Kau harus berpura pura menjadi sepupuku.”Jawab Luhan membuat mata Hye Jin melebar,”Jadi kita berbohong?”Tanya Hye Jin polos, Luhan membuang napas kesal, namja itu lalu menatap HyeJin tajam, “Dengar ya, aku juga tidak mau mengakuimu sebagai sepupuku tapi itu lebih baik ketimbang mengakuimu sebagai kekasihku atau apalah, jadi ini cara satu satunya untuk menghilangnkan pikiran aneh aneh mereka.”Jelas Luhan panjang lebar, Hye Jin terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia mengangguk, “Arra. Oppa benar, lagipula aku juga sudah menganggap oppa seperti oppaku sendiri.”Jawab Hye Jin sambil tersenyum, Luhan tersenyum sinis, “Sayangnya aku tak akan pernah menganggapmu sebagai adikku.”Jawab Luhan sinis, namja itu lalu berjalan meninggalkan Hye Jin yang mematung, Hye Jin menatap punggung Luhan yang menjauh lalu yeoja itu menggelengkan kepalanya, “Walaupun begitu aku akan selalu menyayangimu oppa.”Ujar Hye Jin pelan.

“Ah ternyata sikap namja itu sama saja kepada siapapun.”Suara berat barusan membuat Hye Jin refleks menoleh ke belakang, Hye Jin mengerjapkan matanya begitu melihat namja tampan bertumbuh jangkung yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum, Hye Jin mengerutkan keningnya, merasa senyum itu tak asing.
“Kau..apa kau mendengar semuanya?”Tanya Hye Jin, namja itu kembali tersenyum dan berjalan mendekat, ia mengulurkan tangannya setelah dirinya kini persis berada di depan Hye Jin.
‘Seharusnya kita berkenalan dulu, kau adik kelasku kan? Namaku Park Chanyeol, aku kelas dua.”Ujar Chanyeol ramah, namja itu benar benar jauh berbeda dengan Luhan dan entah kenapa Hye Jin rasa namja itu pasti merupakan salah satu namja populer di sekolah ini sama seperti Luhan.

Hye Jin menjabat tangan Chanyeol dengan ragu, “Aku Jung Hye Jin, kau bisa memanggilku Hye Jin.”Ujar Hye Jin ramah. Chanyeol mengangguk, “Ah Jung Hye Jin, nama yang bagus, jadi..Luhan itu bukan saudaramu?”Tanya Chanyeol to-the-point, Hye Jin melebarkan matanya, “Kau mendengar semuanya?”Tanya Hye Jin terkejut, Chanyeol terkekeh lalu mengangguk, “Kau tenang saja, aku akan merahasiakannya, ya meskipun ini akan menjadi berita bagus jika tersebar”Jawab Chanyeol menenangkan, Hye Jin masih memasang wajah tak percayanya, “Wae? Kau tidak percaya?”Tanya Chanyeol begitu melihat ekspresi Hye Jin.
Hye Jin mengangguk polos, Chanyeol tertawa, “Aku janji akan merahasiakannya tapi ada syaratnya.”Ujar Chanyeol membuat bahu Hye Jin melorot, kenapa sih selalu saja ada persyaratan di dunia ini.
“Syarat apa?”Tanya Hye Jin tak mengerti, “Kau harus mentraktirku esk krim saat istirahat nanti, bagaimana?”Chanyeol mengangkat kedua alisnya, “Es krim?”Tanya Hye Jin lagi, Chanyeol mengangguk, “Iya, mudah kan? Sampai bertemu saat istirahat nanti nona Jung.”Chanyeol menepuk pundak Hye Jin dan meninggalkan Hye Jin yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Hye Jin tersenyum menatap punggung Chanyeol yang menjauh, menurutnya Chanyeol adalah namja yang menarik.

-TBC-

Ini part satunya, maaf ya kalau kurang greget(?) atau ngebosenin, disini masih diceritain tentang masa kecil mereka ya kayaknya, tinggalin komen kalian ya kalau mau ff ini lanjut, jangan ragu buat komen gratis kok ga bayar haha ditunggu komenya semua, gomawo^^

 

 

75 thoughts on “Miracle in December (Chapter 1)

  1. Bagus thor.. next ya..
    tp ak kurang ska luhan sinis sama hyejin. kurang suka luhan dket sama chorong. luhan sama hyejin ya thor… 🙂

  2. Belum terlalu dapat feelnya, mungkin karna belum masuk ke puncak konfliknya kali ya thor^^ anyway, keep writing ya thor!! Fighting!!!;-)

  3. hay….author, aku readers baru ni, salam kenal yaa🙂 haduh….. ceritanya bagus+keren bgt…. tapi kasihan tuh hyejin’nyaa tuh, digalakkin terus ama luhannya… aku tunggu next chapternyaa yaa🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s