Sorry, That’s My Fault (Chapter 2-You’re Really My Destiny)

Sorry, That's My Fault (Chapter 2-You're Really My Destiny)

Author                    :  Shin Hayoung

Rating                     :  13+

Length                    : Chaptered

Genre                      : Happy, Romance

Main Cast                : Wu Yi Fan/Kris (EXO)

Han Hami (OC)

Support Cast           : Shin Hayoung (OC)

Huang Zi Tao (EXO)

Kim Joon Myeon/Suho (EXO)

Author Note           : Annyeong readerdeul.. Ya, karena banyak yang comment, author terusin lagi^^ Untuk yang udah comment, makasih banyak^-^)/

Summary                 : Dan sekarang.. Aku bisa lebih meyakinkan diriku, bahwa kau benar-benar takdirku..

WARNING!!

DON’T COPAS THIS FF! I HATE PLAGIATORS!!

SORRY FOR TYPO..

.:HAPPY READING:.

Author POV

Liburan musim dingin sudah selesai. Ini saatnya para siswa Seoul International High School, untuk kembali belajar di sekolah.

“Oppa.. Aku langsung pergi ne.. Aku sudah telat.. Annyeong..” ucap Hami terburu-buru. “Ya! Setidaknya kau minum susu dulu!” teriak Suho, namun kakaknya itu yakin Hami takkan menjawabnya. “Aish, anak itu selalu saja.. Dan kau, jangan sampai seperi kakakmu itu..” ucap Suho mulai menceramahi Hayoung. Sedangkan Hayoung tidak terlalu memperhatikan omelan itu.

“Aish, jinjja.. Kenapa aku bisa telat seperti ini..” rutuk Hami pada dirinya sendiri dan terus berlari sambil terus melihat jam tangannya dan tidak memperhatikan jalannya.

BRUK!

“Aaww.. Ahh..” ringis Hami karena tersandung batu dan terjatuh. “Ahh.. Appo..” ringisnya kembali.

Kris POV

“Eomma! Aku bawa mobil yaa! Aku sudah telat!” teriakku pada eomma. “Ya! Andwae.. Kau harus hati-hati! Ya!” teriak eomma yang tidak ku perhatikan.

Saat melewati rumah Hami, tak jau dari rumah itu, kulihat seorang wanita terduduk di pinggir jalan. Sepertinya dia terjatuh. “Hami?!” teriakku sambil menghentikan mobilku.

“Ya! Neo gwencanha?” tanyaku sambil memegangi lutut Hami yang berdarah. Dia pun terlihat sangat kesakitan. “Kajja! Biar aku bawa kau ke rumah sakit..” ucapku panik. “Aniya.. Ini tidak terlalu sakit.. Hanya saja aku terlalu kaget.. Aku bisa mengobatinya di ruang UKS setelah aku sampai disekolah..” ucapnya mencoba berdiri namun jatuh lagi.

“Ya! Sudah kubilang! Ayo kita ke rumah sakit saja..” ucapku lagi. “Kakimu juga sepertinya terkilir..” ucapku. “Aish, Hami pabo..” gumamnya namun masih bisa kudengar. “Gwencana Kris-ah.. Aku hanya perlu ke sekolah saja..” ucapnya. “Baiklah, aku tidak bisa memaksamu lebih lagi.. Kajja, biar ku antar..” ucapku sambil menolong Hami berdiri dan masuk ke mobilku.

Saat di perjalanan, kami hanya diam. Dan tidak ada yang memulai percakapan. “Ekhem.. Kakimu benar-benar tidak apa-apa?” ucapku sedikit berdeham. “Gwencanha.. Ini sudah tidak terlalu sakit lagi..” ucapnya ringan.

Hami POV

Aish, Han Hami, kau benar-benar bodoh.. Ini benar-benar masih sakit.. Aku pun mencoba meluruskan kakiku. “Aa..” ringisku pelan, namun aku yakin Kris mendengarnya. “Ya! Gwencanha?” tanyanya lagi. “Tidak apa-apa.. Hanya sedikit perih..” ucapku. “Tahanlah sedikit lagi, ini hampir sampai..” ucapnya sambil mempercepat laju mobilnya.

“Euh, chogi.. Kris, kau tidak perlu mengendarainya secepat ini..” ucapku ragu. “Agar kita bisa cepat sampai.. Tenanglah, ini tidak akan apa-apa..” ucapnya menenangka. Aku pun hanya diam.

1 jam kemudian kami pun sampai. Kami sampai saat bel berbunyi. Kris pun langsung keluar, dan dengan sigap dia membantuku berjalan menuju ruang UKS.

“Baiklah, kau diam disitu.. Biar aku cari obatnya..” ucapnya. “Tapi, Kris.. Ini sudah waktunya untuk upacara..” ucapku resah. “Jika kita diam dengan tenang, kita tidak akan ketahuan..” ucapnya serius. “Tapi tetap saja—“.”Tenanglah..” ucapnya memotong sambil tersenyum ke arahku. Entah mengapa, senyumnya itu selalu menenangkanku.

Setelah Kris menemukan obatnya dia pun langsung berjongkok di hadapanku dan menumpahkan obatnya ke kapas lalu menekan-nekan ke lututku yang terluka. “Aah, appo..” ringis ku pelan. “Manhi appo? (Sangat sakit?)” tanyanya khawatir dan menghentikan kegiatannya. “Ah aniya.. Gwencanha..” ucapku sambil mencoba tersenyum.

Setelah ia selesai, ia pun menempelkan plaster di lututku. “Bagaimana? Masih sakit?” tanyanya. “Aniyo, sudah mulai membaik..” ucapku sambil tersenyum. “Eey, kau selalu berkata baik-baik saja, tapi nyatanya kau masih sakit..” ucapnya dengan nada menantang. Baiklah Kris, akan kutunjukan kalau aku sudah baik-baik saja.

“Kau tidak percaya?” ucapku sambil mencoba turun dari kasur dan berjalan. Namun, belum saja 1 langkah, aku hampir terjatuh jika tidak di tahan oleh Kris. “Igeo bwa.. Kau belum sembuh..” ucapnya sambil mendudukan aku kembali di kasur. Aku pun hanya terkekeh malu. “Ah matta! Kakimu kan tadi juga terkilir..” ucapnya sambil kembali berjongkok.

Ia pun melepaskan sepatu yang kupakai, dan sedikit memijit-mijit pergelangan kakiku. “Aah..” ringisku. “Masih sakit?” tanyanya. “Hanya sedikit..” jawabku sambil berusaha tersenyum. Dia pun melanjutkan kegiatannya.

Setelah beberapa lama dia pun menghentikan kegiatannya. “Bisa kau coba berjalan?” tanyanya. Aku pun pelan-pelan berjalan. “Sudah tidak sakit Kris..” ucapku. Lalu aku pun kembali duduk dan memakai sepatuku. “Hmm, dan sekarang  apa yang akan kita lakukan?” tanyaku. “Menunggu bel masuk” ucapnya singkat. Aku pun hanya mengangguk-ngangguk mengerti.

Setelah Kris membereskan obat-obatan, dia pun menghampiriku. Entah kenapa tatapanku terpaku dengan matanya dan aku tidak bisa bernapas dan jantungku berdetak kencang. Aku pun mencoba mengatur kembali napasku namun tetap tidak bisa. Setelah Kris duduk disebelahku, aku pun baru bisa bernapas kembali. Ada apa denganku?

Kris POV

Ayolah Kris.. Berpikir.. Ahh, aku tidak tahu caranya bagaimana..

“Chogi.. Hami-ah..” panggilku. “Hm?” ucapnya sambil memalingkan wajahnya dan membuatku semakin gugup. “A-aku.. A-aku..” ucapku terbata-bata. “Waeyo? Katakan dengan tenang..” ucapnya sambil tersenyum. Aku pun menarik napas dan membuangnya lagi.

“Hmm, aku tahu mungkin ini terlalu cepat atau mungkin aku terlalu lancang.. Tapi.. Aku menyukaimu Hami..” ucapku. Kulihat dia sedikit kaget dan menundukkan kepalanya. “Mianhe.. Aku hanya.. Hanya ingin—“.”Kris..” panggilnya memotong ucapanku. “Ne?” jawabku.

“Aku hargai usahamu menyatakan itu untukku.. Tapi aku hanya takut..” ucapnya dengan nada bergetar. “Waeyo?” tanyaku. “Euh, kata-katamu bahwa aku mirip dengan Rachel terus terngiang-ngiang di pikiranku dan aku takut akan begini.. Dan yang membuatku semakin takut adalah, aku takut jika kau menyamai aku dengan Rachel..” jelasnya.

Aku pun hanya tersenyum dan memegang tangannya. “Tenanglah.. Aku tidak sebodoh itu.. Aku tidak menyamaimu dengan Rachel.. Sungguh..” ucapku meyakinkan Hami. Tangisannya pun pecah membuatku tidak tega melihatnya. Ahh.. Apa yang harus kulakukan?

“Hey, tenanglah.. Mianhe, aku membuatmu jadi begini.. Mianhe, tapi apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menangis? Aku tidak tega melihatmu begini..” jelasku. “Tidak ada cara lain.. Mianhe Hami-ah..” ucapku.

Aku pun langsung memeluknya, tangisannya pun kembali pecah. Aku pun mengusa-usap punggungnya, sedikit memberikan ia ketenangan. Setelah ia berhenti menangis, aku pun melepaskan pelukan dan mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya. “Jadi?” tanyaku.

“Euh, sejujurnya aku juga menyukaimu Kris.. Tapi aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana, dan aku takut aku terlalu lancang..” ucapnya sambil menundukkan kepalanya lagi. Aku pun sedikit tertawa. “Aigoo.. Setelah hidupmu dipenuhi dengan kebetulan, hidupmu juga dipenuhi dengan ketakutan juga, eoh?” ucapku bercanda.

“Aish, mwoya!” ucapnya sambil memukul pelan bahuku. Kami pun saling tertawa. “Satu lagi..” ucapnya. “Mwonde?” tanyaku. “Ya! Apa romantisnya kau mengaku disini? Dan ditambah lagi kondisiku yang sedang sakit begini.. Aigoo..” ucapnya. “Hmm.. Jadi kau suka yang romantis? Baiklah, jam 8 malam, datanglah ke rumahku..” ucapku cepat.

“Mwo?! Ya! Aku tidak memintamu secepat itu.. Lagi pula aku belum menyiapkan baju yang bagus..” ucapnya sedikit bergumam. “Baju? Biar aku yang mengurusnya..” ucapku lagi. Lalu dia pun melihat ke arah jam. “Ya! Kita benar-benar sudah terlambat!” ucapnya panik. “Aish, kajja!” ucapnya lagi. “Ya! Kris ppali!” ucapnya panik melihatku hanya diam terduduk.

“Haha, sebegitu pedulinya kau dengan sekolah?” tanyaku. “Mwo?” tanyanya. “Aniya, kajja..” ucapku.

“Jwesunghamnida songsaengnim..” ucapku saat aku membuka pintu kelas. “Kenapa kalian telat masuk?” ucap Kim songsaengnim dengan nada sedikit tinggi, namun aku tidak menjawab apapun. Kim songsaengnim memang termasuk guru matematika yang bisa disebut killer.

“Baiklah, karena ini memang hari pertama masuk setelah liburan panjang, kalian kali ini di bebaskan..” ucap Kim songsaengnim lagi. “Ne, gomapseumnida songsaengnim..” ucap kami bersamaan dan membungkukan badan lalu berjalan menuju 2 bangku kosong di barisan paling belakang.

Author POV

Bel pulang pun berbunyi, semua siswa Seoul International High School pun pulang. Namun tidak pada 2 orang yang baru berpacaran itu.

“Aish.. Kenapa tidak diangkat?” gerutu Hami. “Wae? Jika oppa-mu tidak bisa, aku bisa mengantarmu..” tawar Kris. “Aniyo, gwencanha.. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu..” ucap Hami. “Geurae.. Terus saja kau menghubungi oppa-mu itu.. Aku jamin dia tidak akan mengangkatnya..” ucap Kris. Hami pun hanya melemparkan tatapan tajam ke arah Kris.

Namun Kris kelihatannya tidak takut sama sekali. Malah dia hanya menahan tawa. Ternyata Kris memang sudah merencanakan hal ini dan sudah membicarakannya dengan Suho, bahwa Kris akan menembak Hami dan membiarkan Hami pulang dengannya.

“Eoh! Oppa.. Kenapa dari tadi tidak diangkat?” ucap Hami. Setelah beberapa saat Hami pun menutup sambungannya. “Wae? Oppa-mu tidak bisa menjemputmu pulang? Sudah kuduga..” ucap Kris bangga. “Aish!” teriak Hami kesal. “Jadi apa maumu?” tanya Hami frusasi. “Eyy, jadi begitu caramu melayani pacar? Aigoo..” ucap Kris sambil geleng-geleng kepala.

“Dwaeko (lupakan), kajja, aku antar kau pulang..” ucap Kris tersenyum sambil menarik tangan Hami menuju parkiran.

Selama di perjalanan, mereka terus saja berbicara dan terkadang mereka tertawa karena sesuatu yang mereka bicarakan. “Chaa! Kita sudah sampai..” ucap Kris menghentikan mobil nya di depan rumah Hami. “Gomawo..” CUP! ucap Hami langsung mencium pipi Kris sekilas. Kris yang kaget dengan perlakuan pacar barunya itu hanya membeku di tempatnya.

“Ekhem.. Annyeong..” ucap Hami sambil tersenyum kaku lalu keluar dari mobil.

‘Baiklah Han Hami.. Kali ini kau benar-benar bodoh.. Apa yang kau lakukan?!’ batin Hami.

“Aigoo.. Jinjja..” gumam Kris sambil tersenyum.

Hami POV

“Na waseo..” teriak Hami. “Eoh? Bagaimana? Jadi pacaran tidak dengan Kris?” tanya Suho oppa, begitu aku sampai di rumah. “Molla! Terus saja urusi yeojachingu oppa!” ucapku kesal. “Eyy.. Aku hanya membantumu.. Lagi pula dari awal kau sudah menyukainya bukan..” goda Suho oppa, dan seketika, pipiku pun panas, dan aku yakin pipiku sudah seperti kepiting rebus.

“Ya! Wae? Pipimu memerah saeng..” ucap Suho oppa kembali menggoda. “Aish..” ucapku sambil berlalu pergi ke kamarku.

Sampai di kamar aku pun langsung berjalan menuju beranda dan melihat pemandangan indah. Dan saat aku lihat ke sebelah kiri.. Ya Tuhaan.. Apa yang harus kulakukan?

Kris POV

Aku pun melambaikan tanganku pada Hami dan tersenyum, namun dia malah membuang mukanya. Aish, ada apa dengannya? Aku pun langsung kembali ke kamar dan mengambil ponselku.

Jangan lupa jam 8 malam nanti^^

Aku mengirim pesan padanya dan kembali ke beranda untuk melihat reaksinya.

Ya! Mengapa kau menulis namamu di ponselku seperti ini?! Awas kau!

Aigoo.. Lihat ekspresinya sangat lucu. Pipinya memerah, haha.

Kenapa pipimu memerah? Kau sakit?

Haha.. Ini sangat menyenangkan.

Kau menulis namamu di ponselku ‘nae nampyeon’? Kau tampan dari mana?

Aish, aku benar-benar kesal sekarang..

Eeyy.. Kau tidak usah bohong seperti itu.. Kau sendiri yang mengatakan hal itu pada oppa-mu itu..

Hami POV

Aish jinjja.. Oppa.. “Oppaa! Yaa!!” teriakku tanpa memperdulikan Kris yang pasti tertawa melihatku marah seperti ini.

“Aish! Wae? Tidak usah teriak seperti itu..” ucap Suho oppa kesal. “Kau memberitahu Kris kalau aku bilang Kris itu tampan?” ucapku tak kalah kesal. Suho oppa pun hanya terkekeh.

Kris POV

“Eomma..” teriakku dari dalam kamar. “Wae?” jawab eomma. “Eomma, bisakah eomma menyiapkan pesta hanya untuk 2 orang di atas atap?” tanyaku. “Untuk apa?” tanya eomma. “Untuk menyatakan sesuatu..” ucapku santai. “Kau.. Sudah punya pacar?” tanya eomma penasaran. “Ne.. Dan eomma akan kaget jika melihat mukanya, jam 8 malam nanti ia akan datang..” ucapku sambil tertawa kecil.

“Geurae, eomma akan persiapkan semuanya sesempurna mungkin..” ucap eomma senang. “Jinjja? Kalau begitu, bisakah eomma siapkan dress putih juga? Nanti aku akan mengantarkannya..” ucapku. “Anything..” ucap eomma. “Gomawo eomma.. Eomma memang yang terbaik!” ucapku.

=5 hours later=

Hami POV

“Hami-ah!” teriak Suho oppa di depan kamarku. “Aish mengganggu sekali.. Mwo?” tanyaku yang baru bangun tidur. “Ini.. Ada kiriman dari pacarmu..” ucap Suho oppa. “Kiriman?” tanyaku mencoba mengingat kiriman ini untuk apa. “Omo! Aku lupa! Gomawo oppa..” ucapku langsung mengambil kotak yang sedang di pegangnya.

Ahh, eotteokkae? Kenapa aku baru ingat sekarang? Aku pun membuka kotak kiriman dari Kris itu. “Yeppeoda..” kagumku saat melihat dress selutut berwarna putih bersih, dengan hiasan dan motif yang sederhana tapi membuat dress ini terlihat mewah.

Aku pun langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Kris POV

Ahh.. Aku pakai jas yang mana? “Eommaa.. Dress yang kau berikan pada yeojachinguku warna apa?” teriakku dari dalam kamar. “Putih..” teriak eomma yang terdengar samar-samar. Kalau begitu aku juga pakai jas putih saja.

Dan sekarang, aku hanya butuh kata-kata yang tepat untuk menyatakan pada Hami. “Hami-ah.. Disini.. Di tempat ini.. Ah aniya aniya.. Itu terlalu puitis.. Aku tidak suka hal-hal yang terlalu puitis..” ucapku yang sedang berlatih di depan kaca cermin.

“Sudahlah, ikuti kata hatiku saja.. Tidak usah terlalu kaku..” gumamku sambil berjalan keluar kamar.

Hami POV

Ya Tuhaan.. Aku benar-benar terlambat, ini sudah jam 07.30 malam.. Aku pun buru-buru memakai baju dan duduk di depan meja rias. Aku hanya memakai make-up tipis dengan rambut yang diurai.

Baiklah, sekarang aku hanya butuh sedikit mental. Tenangkan dirimu Han Hami..

“Oppa.. Aku berangkat sekarang ya.. Dan ingat jangan tinggalkan Hayoung demi yeojachingumu itu!” perintahku. “Arrseo, kau benar-benar seperti eomma.. Selalu saja cerewet..” gerutu Suho oppa, aku pun hanya terkekeh dan langsung pergi.

Saat sampai di depan pagar rumah Kris, aku pun memencet tombol intercom. “Nuguseyo?” ucap seorang ahjumma? Ah, mungkin ibunya Kris. “Hmm, aku Hami.. Kris menyuruhku datang kemari..” ucapku. “Oh, masuklah..” ucap suara itu. Aku pun langsung masuk. Rumahnya besar sekali, dan banyak sekali pelayan di sana sini.

“Omo! Lihat siapa yang datang..” teriak seorang ahjumma yang suaranya mirip dengan suara di intercom tadi. Sudah ku kira.. Itu benar ibunya Kris. Aku pun hanya tersenyum sambil membungkukkan badan melihat raut wajah senang yang terpajang di wajah ibunya Kris. “Ternyata yang Kris maksud itu kau.. Kau putri dari Kim ahjumma kan?” tanya ibunya Kris itu.

“Ne..” jawabku dengan senyum yang masih terpasang di bibirku. “Baiklah, kita duduk dulu sebentar..” tawar ibunya Kris. Aku pun hanya menuruti dan mengikutinya dari belakang. “Hmm, kau benar-benar menyukai Kris? Ah aniya, kau benar-benar mencintainya?” tanyanya. “Ne, ahjumma.. Aku benar-benar mencintainya..” ucapku.

“Eiyy, jangan panggil aku ahjumma, aku jadi terlihat sangat tua.. Panggil saja aku Wu mama..” jelas Wu mama. “Ahh, ne.. Oh, dan kalau boleh, aku juga bisa menikahinya..” ucapku dengan nada bercanda. “Haha, kalian masih terlalu muda untuk menikah.. Tunggu saja waktu yang tepat.. Dan, baju yang kubeli ternyata sangat cocok untukmu..” ucap Wu mama sambil melihatku.

“Wu mama yang membelikan? Aku kira Kris yang membelinya..” ucapku terkekeh. “Eyy, dia sangat malas jika harus membeli yang seperti begini..” ucap Wu mama sedikit berbisik. “Oh! Ini sudah jam 8.. Sebaiknya kau ke atas, Kris sudah di atas..” jelas Wu mama. Aku pun membungkukkan badan lalu pergi.

Kris POV

Aku masih menunggu di atap dari jam 7 tadi. Entah mengapa, menunggu 1 jam saja terasa sangat lama bagiku. Aku pun kembali menatap jam tanganku, oh! Ini sudah jam 8. Tapi kenapa Hami belum muncul juga?

CKLEK!

Eoh? Ada yang datang. “Annyeong chagi..” sapaku begitu melihat Hami datang dan langsung memeluknya. Sepertinya ia kaget dengan perlakuan ku yang tiba-tiba ini. “Wuuh! Kau sangat cantik dengan dress ini..” ucapku terkagum. “Tentu saja, selera Wu mama benar-benar sangat bagus..” ucapnya dengan nada yang berpura-pura kesal.

“Wu mama? Kau memanggil eomma dengan Wu mama? Hahaha..” tawaku dengan terbahak-bahak. “Aish!” ucapnya sambil memukul bahuku dengan tas kecil yang dibawanya. “Aish, appo! Dan, eomma memberitahumu kalau eomma yang membelikan baju ini?” ucapku kaget. “Ne! Tidak sepertimu yang malas melayani pacarnya!” ucapnya berpura-pura marah dan mempout-kan bibirnya. Lucu sekali.

“Aigoo.. Uri Hami sedang marah?” tanyaku sambil memeluknya dari belakang. Dia tidak berkutik. “Baiklah.. Sekarang kau hanya perlu duduk disitu..” ucapku sambil menunjuk tempat duduk spesial hanya untuk kami berdua. Aku tetap merangkulnya walaupun jaraknya dekat.

“Ekhm, jadi apa tujuanmu mengadakan pesta sebesar ini hanya untuk kita berdua?” tanyanya dengan sedikit berdeham. “Hmm, kau mau langsung pada acara inti atau makan malam dulu?” tanyaku. “Jelas makan malam! Aku belum makan dari tadi..” ucapnya kelihatan senang dengan makan. “Baiklah..” ucapku.

KRINGG!

Aku membunyikan bel untuk memanggil para pelayanku. “Aigoo.. Kau benar-benar hidup dalam kemewahan..” ucapnya sambil berdecak tidak percaya, namun aku hanya tetap tersenyum padanya.

Tak lama setelah bel itu berbunyi, dua orang pelayan langsung datang membawakan makanan untuk kami berdua.

Setelahnya, kami pun langsung makan sambil sedikit-sedikit membicarakan yang tidak terlalu penting, dan bahkan terkadang kami tertawa karena yang kita bicarakan.

“Ahh, aku sudah kenyang sekarang..” ucapnya sambil mengusap-usap perutnya yang kenyang itu. “Baiklah,  bisa kita melanjutkan acaranya?” tanyaku. “Ne, lanjutkan saja..” ucapnya santai.

“Hami-ah.. Neoneun, nae yeojachinguga-isseulka?” tanyaku sambil berlutut dihadapannya. “T-tapi Kris, kau kan sudah menanyakan itu kemarin, dan aku sudah menjadi pacarmu..” ucapnya gugup. “Kalau begitu.. Maukah kau terus bersamaku seumur hidup?” tanyaku yang masih berlutut dihadapannya.

“Pabo!” ucapnya sambil memukul kecil bahuku dengan air mata yang bercucuran tapi ia masih saja tersenyum. “Uljima..” ucapku sambil mengusap air matanya. Dia pun hanya mengangguk, dan aku tau apa maksudnya itu.

“Kalau begitu, maukah kau memakai ini?” tanyaku sambil membuka kotak berisi kalung dengan liontin berbentuk hati. Dia pun hanya mengangguk lagi. “Ya~ Kenapa kau hanya mengangguk saja dari tadi? Bicaralah..” ucapku. “Ahh, a-aku terlalu bahagia Kris.. Aku akan terus menangis jika aku berbicara..” ucapnya, dan benar saja, air matanya kembali mengalir.

“Kalau begitu, tidak usah..” ucapku, dan mendekat kan wajahku ke wajahnya. Semakin dekat hingga hampir tidak ada jarak diantara kami, dan memakaikan kalung itu di lehernya.

Hami POV

Kalungnya benar-benar indah. Dan ini benar-benar moment yang tak akan mungkin aku lupakan. “Ini sangat cocok untuk kau pakai..” ucapnya. Lagi-lagi aku pun hanya mengangguk. Aku benar-benar tidak bisa bicara. Dia pun lagi-lagi medekatkan wajahnya.

Cup!

Dia pun mencium keningku cukup lama, dan menatapku lekat. Aku pun langsung memeluknya. Ya Tuhan.. Aku benar-benar mencintainya. “Gomawo..” ucapku dengan nada yang bergetar. Dia pun hanya mengangguk dan terus mengelus punggungku agar aku bisa tenang

“Dan sekarang.. Aku sudah bisa meyakinkan diriku, bahwa kau benar-benar takdirku..Wu Yi Fan..”

-Hami-

 

-Kkeut!

Gimana? Pasti makin jelek ya -_- Mian, baru pertama kali bikin FF dengan cast EXO. Dan maaf juga kalo karakter Kris disini ga sesuai sama yang aslinya, namanya juga FF (Fan Fiction)^^, Oke yang mau author nerusin FF, tolong di comment, kalo engga, ya udah, author stop sampai disini. Sebelumnya, makasih udah mau baca^-^)/

 


 

10 thoughts on “Sorry, That’s My Fault (Chapter 2-You’re Really My Destiny)

  1. Bagus eon😀 aku suka ff nya.
    Tapi menurutku mereka jadiannya terlalu cepet :3 wkwk
    Keep writing eon! Chapter selnjutnya jgn lama2 :p
    NEXT! FIGHTING! ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s