Diposkan pada Baek Hyun, charismagirl, D.O, Drabble, EXO-K, fluff, friendship, Kai, SCHOOL LIFE, Se Hun

[Minri’s Diary – 02] Still a Baby

Bbaekby1 cv

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Other Cast :

  • Kim Jongin
  • Do Kyung Soo
  • Oh Sehun
  • EXO

Rating : PG – 13

Length : Drabble/fluff <1700 W

Genre : Romance, School-Life.

Note : Hello!! I wrote fluffy as always. I think making fanfic like this easier than make chaptered.

This is sequel? Idk, but my feel like I writing My Boyfriend is a Baby. Have you done to read? 🙂 Okay then, enjoy it and happy reading!!

∆∆∆

Baekhyun masih menjadi pacarku yang inosen. Dia dan kepolosannya benar-benar membuatku semakin mencintainya.

Anak sekolah tahu apa tentang cinta? Labil.

Masa bodoh dengan apa yang dikatakan Oppa-ku. Banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Dan hampir semuanya kebahagiaanku bersumber pada Baekhyun. Mungkin, kebanyakan gadis lebih memilih laki-laki dewasa yang bisa menjaganya, memanjakannya dan menuruti semua permintaannya.

Tapi aku tidak butuh semua itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri kalau ada penjahat (setidaknya aku punya sedikit  ilmu bela diri). Aku tidak perlu dimanjakan, dibelikan ini-itu, di antar-jemput kemana-mana. Aku tidak meminta apapun–selama aku masih bisa mendapatkannya sendiri.

Asalkan Baekhyun sayang padaku, itu sudah cukup.

Bagiku, meskipun Baekhyun belum berpikiran dewasa sepenuhnya, Baekhyun bisa menjagaku–dengan caranya sendiri.

 

Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melewati hari bersama Baekhyun.

Langit gelap bertabur bintang menjadi latar yang sempurna saat aku dan Baekhyun duduk di bawah pohon–dekat danau. Kami berdua sedang mengasingkan diri dari kelompok perkemahan sekolah.

Ya, kami sedang ikut perkemahan yang diadakan oleh sekolah. Sekarang sudah saatnya untuk tidur, tapi Baekhyun–

“Minri, aku tidak bisa tidur. Temani aku ya.”

–tidak bisa tidur. Dia bahkan memintaku menemaninya.

Lalu aku mengabulkannya. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena hari ini–selama perjalanan, aku sudah bersikap menyebalkan padanya. Walau sebenarnya bukan kesalahan besar yang aku buat, tapi wajah Baekhyun yang menampakkan kekecewaan, membuatku seperti melakukan kesalahan yang fatal.

Saat itu kami masuk ke dalam bis bersama-sama, dengan tangan yang bergandengan–demi apapun Baekhyun tidak ingin melepaskan tanganku–walaupun sebenarnya aku malu pada teman-teman yang lain, aku tetap membalas genggamannya.

Masih ingat dengan rasa es krim favoritku dan Baekhyun? Ya, Baekhyun suka rasa stroberi dan aku coklat. Kami tidak sependapat. Dan hal itu tidak bisa dikompromikan.

Dan sekarang kami berdebat masalah tempat duduk.

“Baris dua dari depan saja, Baek.”

Aku menarik tangannya, membawa tubuhnya menuju bagian depan bis. Tapi Baekhyun tidak menurut padaku. Dia membawaku ke arah lain.

“Paling belakang saja, Minri. Disini lebih tenang. Aku tidak suka keributan.”

“Dimanapun kita berada–dalam bis ini–kita tetap akan merasakan keributan teman-teman. Ayolah Baek, kita akan bersenang-senang hari ini.”

Bibirnya melengkung ke bawah menandakan bahwa dia tidak setuju dengan keinginanku. Aku melepaskan tangannya dengan susah payah.

Asal tahu saja, teman-teman menonton kami dengan penuh minat–saat ini guru belum datang–, seolah-olah kami adalah pemeran drama yang syuting secara langsung di depan mereka.

“Kalau begitu kau duduk di belakang, lalu aku di depan.”

Baekhyun melirik kursi paling belakang, lalu menatap kursi depan yang ku pilih. Matanya dua kali bolak-balik memperhatikan hal itu. Mempertimbangkan.

Ada Kyung-Soo dan Jongin yang sudah mengambil tempat duduk di paling belakang. Dan ada Sehun bersama Luhan di bangku depan, di seberang bangku yang ku pilih. Baekhyun tahu kalau Sehun pernah menaruh hati padaku.

“Tidak.”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu. Lalu melangkah lebih dulu ke kursi depan dengan kaki yang sedikit di hentakkan.

Dalam perdebatan kali ini, aku menang.

Dan perdebatan ini membuatku tahu satu hal–yang belum aku ketahui sebelumnya–tentang Baekhyun.

 

“Minri belum mengantuk?” tanya Baekhyun sambil mengusap matanya, kemudian menguap. Dia benar-benar seperti bocah. Aku bahkan merasa tidak pernah bisa seimut itu.

“Belum. Kalau Baekhyun mengantuk, kita kembali sekarang saja.”

Aku membuka selimut tebal yang membungkus tubuh kami. Sebelumnya kami berdua tampak seperti ulat. Sekarang selimutnya sudah amburadul karena aku.

“Nanti saja. Kita akan kembali ke tenda, kalau Minri juga mengantuk,” ucapnya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum lalu menyandarkan kepala di bahunya.

“Baek, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau trauma duduk di bis bagian depan.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah bisa melewati trauma-ku. Asalkan ada Minri di sampingku.”

Biar ku ceritakan sedikit.

Baekhyun punya alasan mengapa dia ingin duduk di paling belakang. Karena saat dia pulang ke kampung halamannya–Bucheon, dia naik bis besar dan saat itu duduk di barisan nomer dua dari depan. Persis di tempat duduk yang aku pilih.

Tanpa di duga, bis yang Baekhyun tumpangi tidak sengaja menabrak pengendara motor yang mengendarai motornya dengan ugal-ugalan–Baekhyun menduga kalau orang itu sedang dalam keadaan mabuk. Lalu terjadi kecelakaan. Baekhyun melihat dengan jelas kejadian di depannya. Juga darah dari pengendara yang jatuh dari motornya itu.

Sepanjang perjalanan Baekhyun tampak pucat. Aku sempat mengira Baekhyun sedang mabuk darat. Tapi ternyata tidak–setelah Baekhyun menceritakan semuanya. Aku memegang tangan Baekhyun sampai mereka tiba di tempat tujuan, tidak peduli tangan kami yang berkeringat. Aku ingin membantu Baekhyun melewati trauma ringannya itu. Dan Baekhyun bilang itu berhasil.

Aku bahagia mendengarnya.

Tapi, Aku harus minta maaf lagi karena beberapa hal masih mengganjal di hatiku.

 

Setelah tiba di area perkemahan. Aku terpukau dengan pemandangan indahnya. Rumput yang masih hijau alami dan pepohonan menjulang tinggi membuatku tidak bisa menahan hasrat untuk tidak mengabadikan momen ini.

Dengan kamera yang menggantung di leher, aku menjelajah ke sekitar tempat perkemahan. Dan aku lupa memberitahu Baekhyun kalau aku pergi.

Sekitar setengah jam kemudian aku kembali ke perkemahan. Tendaku sudah terpasang. Kyung Soo bilang Baekhyun yang memasangkannya untukku. Dia benar-benar baik. Lalu aku seketika panik saat Jongin bilang Baekhyun mencariku dan dia masuk ke dalam hutan sendirian.

Aku menyusulnya–dengan perasaan yang tidak karuan.

“Baekhyuuuun!!” suaraku menggema-gema di sela pepohonan. Aku mencarinya sendirian. Aku tidak melaporkannya pada ssaem karena ku pikir Baekhyun belum lama menghilang. Dan dia tidak mungkin menghilang!

Aku hampir menangis memikirkan bahwa Baekhyun menghilang.

Aku berjalan menuju tempat pertama yang ku kunjungi. Dan dengan segala kebesaran Tuhan, tempat itu adalah tempat populasi mawar merah muda–bunga kesukaanku. Dengan penuh keajaiban karena bisa tumbuh subur di tempat seperti ini.

Ada Baekhyun disana. Jongkok sambil memegangi setangkai bunga itu.

“Baek!!”

Aku berlari lantas memeluknya. Dia tampak bingung. Lalu aku melepaskan pelukannya. Dia sama sekali tidak dalam keadaan panik atau seperti orang tersesat. Mungkin aku yang terlalu berlebihan mengkhawatirkannya.

“Minri kenapa?” tanya Baekhyun.

‘Tidak, Baek. Ayo kembali ke perkemahan.”

Aku mengusap wajahku. Menghapus setetes air mata yang turun tanpa aku inginkan. Aku berjalan mendahuluinya, menyembunyikan wajahku.

Baekhyun menyejajarkan langkahnya denganku.

“Aku tadi mencari Minri. Lalu aku masuk ke hutan dan aku menemukan mawar merah muda, bunga kesukaan Minri ‘kan? Ini.”

Baekhyun menyerahkan padaku setangkai mawar yang masih segar dan harum. Aku mengangguk dan menyambut mawar itu–sesaat, sebelum aku menjatuhkannya ke tanah–karena aku terkejut dengan ujung jari Baekhyun yang berdarah.

“Baek, kau berdarah.”

Aku menarik jarinya, lalu memperhatikan–sepertinya tertusuk duri. Aku mengambil tisu yang ada di kantongku lalu membersihkan lukanya.

“Mungkin tertusuk duri. Aku tidak apa-apa.”

Baekhyun menggenggam tanganku dengan satu tangannya yang tidak terluka. Lalu kami bersama-sama kembali ke perkemahan.

“Jangan pergi tanpaku lagi, Minri.”

“Jangan pergi tanpaku lagi, Baekhyun.” Aku mengulangi perkataannya, dengan nada yang sama. Dengan mimik muka yang sama.

“Minri, aku serius. Aku takut terjadi apa-apa padamu.” Baekhyun menghentakkan satu kakinya karena gemas. Dia pikir aku menanggapi ucapannya dengan bercanda. Dia menghempaskan napasnya lalu berjalan mendahuluiku.

“Aku juga serius, Baekhyun…”

Aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir.

Tapi, aku lebih mengkhawatirkanmu dari pada diriku sendiri.

 

Baekhyun bilang aku tidak boleh pergi tanpanya. Dan aku bilang bahwa Baekhyun tidak boleh pergi tanpaku.

Tapi Baekhyun tidak mendengarkanku.

Dia memang tidak pergi sendiri. Dia pergi bersama Jongin, Kyung Soo dan Sehun. Tanpa sepengetahuanku. Baekhyun pergi ke sungai bersama teman-temannya. Katanya mereka ingin berenang bersama-sama.

Aku bisa saja memakluminya karena hal itu adalah urusan para laki-laki dan aku tidak perlu mengetahuinya. Tapi aku marah karena Baekhyun ikut bercebur padahal dia tahu bahwa dirinya sendiri tidak bisa berenang!

Lalu mereka bersama pulang dengan membawa kabar bahwa Baekhyun tadi sempat kalap dalam air. Heol!

Baekhyun pabbo!!

Apa jadinya kalau Sehun tidak menyelamatkannya tadi?

Aku tidak bicara padanya saat mereka semua kembali. Padahal aku ingin sekali memeluknya. Aku takut. Apalagi wajahnya yang pucat itu. Aku tidak sanggup membayangkan kalau Baekhyun benar-benar tenggelam lalu terbawa arus. Ya Tuhan.

“Bagaimana rasanya tenggelam Baek?” sindirku saat kami berpapasan.

“Minri, jangan marah ya.”

“Siapa juga yang marah padamu.”

Aku mencemaskanmu, Baekhyun!!

Baekhyun memegang tanganku. Dia menatapku dengan wajah memelas. Jangan lagi. Aku pasti kalah kalau Baekhyun memohon dengan tatapan-anak-kucing-nya itu.

“Jangan marah, please…

Aku tetap diam, menatapnya. Oh, lihatlah matanya itu.

“Baiklah.”

“Aku sangat takut. Air sungai itu seakan menyedot tubuhku agar terus ke dasar. Aku tidak bisa berteriak dalam air. Sampai akhirnya mereka menyadari bahwa aku hilang. Sehun menyelamatkanku.”

“Tidak ada pertolongan dengan napas buatan ‘kan?” tanyaku dengan waspada. Aku sedikit merinding membayangkan hal ini.

“Tidak ada. Aku masih dalam keadaan sadar.”

Aku mendesah lega. Tak apa lah. Yang penting Baekhyun selamat. Dan ku harap dia tidak main-main lagi dengan ketidakmampuannya dalam berenang.

“Kalau aku tenggelam lagi, Minri yang harus menyelamatkanku dan memberikan napas buatan padaku.”

Uhhuk!

Aku tersedak oleh minumanku. Ada-ada saja Baekhyun. Menyelamatkan? Yang benar saja. Aku bahkan tidak bisa berenang. Nanti yang ada malah kami berdua mati bersama.

Mungkin nanti aku akan belajar berenang. Baekhyun juga harus belajar berenang–dia laki-laki, harus bisa berenang!

Kalau masalah napas buatan…

Mungkin aku bisa. Karena aku pernah latihan dengan manekin di ruang UKS. Aku salah satu anggota PMR–kalau kalian belum tahu.

Tapi aku malu, Baekhyun!

 

“Baek, bintangnya sangat banyak ya.”

Aku memandangi langit dengan bintang yang tidak terhitung. Beberapa detik terlewat, tidak ada respon dari Baekhyun membuatku menegakkan dudukku karena penasaran.

Sepertinya dia sudah tidur.

Aku menatapnya dari jarak dekat. Wajahnya manis sekali. Ah, sayangnya aku tidak membawa kameraku kesini. Padahal ini adalah momen yang paling berharga. Kapan lagi aku bisa melihat wajah Baekhyun saat tidur seperti–

Cup!

Tiba-tiba dia mengecup bibirku–dengan kilat.

“Baekhyun!! Ku kira kau sudah tidur.”

Aku mengerucutkan bibirku kesal. Sebaiknya kami kembali ke tenda masing-masing sekarang. Dan ku harap dia tidak melihat wajahku yang merona.

“Ini pertama kalinya aku akan tidur dengan kecupan selamat malam dari Minri. Ku harap aku tidur nyenyak meskipun tidur bukan di tempat tidur yang empuk dan hangat seperti di rumah.”

Eung. Kita kembali ke tenda sekarang, Baek.”

Aku berdiri. Sedikit mengabaikan perkataannya.

Dia bicara apa >o<!

Aku berjalan. Merasakan angin malam membelai lembut pipiku. Kemudian, aku merasakan sesuatu terasa hangat di leherku.

Baekhyun melingkarkan syalnya di leherku.

“Aku tidak ingin Minri sakit.”

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku punya kulit yang tahan dingin,” ucapnya percaya diri.

Bohong. Kulitmu bahkan mulus seperti bayi.

“Terimakasih, Baek.”

“Aku sayang Minri.”

Asalkan Baekhyun sayang padaku, itu sudah cukup.

Bagiku, meskipun Baekhyun belum berpikiran dewasa sepenuhnya, Baekhyun bisa menjagaku–dengan caranya sendiri.

My boyfriend still a baby.

Malam itu, dalam tenda di perkemahan, di tengah hutan, aku bisa tidur dengan nyenyak.

Dan juga mimpi indah.

***END***

MY BAEKBY  ADORABLE AS ALWAYS!!

Hahaha how? I really excited to make Baek’s character like this >o<!! Leave comment as your pleasure. I’m sorry for typo.

Thanks for read. See ya ^o^// *fly kiss with baekby*

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

190 tanggapan untuk “[Minri’s Diary – 02] Still a Baby

  1. rasa rasanya kalo punya pacar kaya baekhyun dalam kurun waktu sebentar udah kena diabetes. Astagahh dia kelewat manis!! Berapa ton kandungan gula di wajah baekhyun? belom lagi pas senyum, ketawa, dari ucapannya dan tingkahnya yg bukan cuma manis tapi lembut dan menggemaskan? Baekhyun emang cocok jadi cowok yg kekanakan kaya gini, tapi mengingat image dia sejak overdose era… rasanya kadar glukosa dalam diri baekhyun mulai meleleh jadi caramel… /iniapalagi
    keren kak, ngegemesin banget :3

    1. aww suka banget komentar kamu deh ;3
      baekhyun emang glukosa dan untungnya si minri ga kena diabetes.
      meleleh menjadi karamel. ugh dia sudah beranjak dewasa nampaknya. hahaah
      makasih banyak de;3

  2. Aaaa lucu bgt ceritanyaa! Baekkienua lucuuuu like a baby….aku br baca minri’s diary..lgsg chap yg ini… hahaha lanjutkan thoooor..aku mau baca chap2nya yg lain ne?

  3. Gw baru pertama kali loh baca ff yg cowonya begini kkk~

    tp ntah kenapa, kok gw malah tertarik sm kelanjutannya sih, duhh thor ff lo ada ilmu sihirnya kah? Hghahahah

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s