Achievement [freelance]

Gambar

Tittle : Achievement || Scriptwriter (Author) : Kiddobangtan || Main Cast : Do Kyungsoo – Lee Jieun || Genre : Romance, Friendship, School-life, AU || Duration : Oneshoot || Rating : PG-15

 

{First Big Thanks for my sisters, admins sharing this, KJ for Nice poster, and Readers. Sorry for Typo(s) dan kurang seru. Storyline is Mine and my sist’s. Hope you like and Mind to review? Gomawo^^)

 

Summary :

 

“Achievement? Meaningful? – Do Kyungsoo”

 

 

**I use IU’s Point of View**

 

 

“Dan…. Pemenanganya adalah– ”

 

“ –Do Kyungsoo!”

 

Gemerang banyak pasang tangan saling bertepuk mendengar nama pemenang baru saja diumumkan. Kecuali aku, yang hanya terdiam menunggu. Menunggu sang pemenang yang nyaris 5 menit tak nampak batang hidungnya. Kemana dia?

 

Diskualifikasi… Kemudian….

 

***

 

“Mau sampai kapan kau jadi fansnya?”

“Mwoya?”

“Do Kyungsoo tak akan merubah sikapnya. Sekalipun kau datangkan malaikat maut padanya”

 

Ya… Laki-laki itu, Do Kyungsoo, baru saja memasukan kertas besar ke tempat sampah. Kertas yang terukirkan goresan namanya. Sebuah piagam hasil kemenangannya-yang mungkin sudah tak terhitung berapa jumlahnya.

 

Tapi…

 

Kenapa dia membuangnya?

 

Seperti tidak ada niatan hidup. Dia sama sekali tidak merasa berdosa. Kurasa jalan pikirannya hanya sebesar bola tenis.

 

But

 

Impossible.

 

Barisan A selalu terpampang di daftar nilanya. Kupikir setahun mengenalnya bukanlah waktu yang sebentar. Tapi sampai sekarang pun aku belum tahu penyebabnya. Penyebab Kyungsoo selalu membuang kertas ukiran pena atas namanya itu.

 

***

 

Aku memasuki ruang kelas. Hanya ada Kyungsoo disana, duduk termenung ditemani semilir angin kusen jendela. Menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan yang ia lipat diatas meja. Layaknya manusia tak berjiwa.

 

“Kau itu berjiwa atau tidak?” ucapku padanya dari ambang pintu.

 

Kyungsoo seperti mendengar suaraku, namun hanya menengok seadanya.

 

Setelah membuang mukanya-yang nampak tak bergairah, Ia pun bangkit dari kursinya, menghampiriku. Berdiri disampingku seperti mengucapkan sesuatu yang tak begitu jelas.

 

“Kau tahu apa?”

 

Dan dia pergi ketika aku menoleh padanya.

 

Aku sempat berpikir dia adalah seorang teroris yang mengincar sesuatu. Mengingat dimana aku mengenal Kyungsoo pertama kali, dibandingkannya yang sekarang, bagaikan apa yang kau rasakan setelah berada di bawah guyuran hujan.

 

***

“Dan…. Pemenanganya adalah– ”

 

“ –Do Kyungsoo!”

 

Aku kembali mendengar lantunan yang sama dari orang pemegang jadwal acara itu. Aku sedang berada di sebuah lomba menyanyi yang tak terlalu besar diadakan di Namsan Tower. Jangan kalian bertanya apa yang terjadi selanjutnya. Do Kyungsoo tak pernah mengindahkan kata ‘Menang’ seumur hidup aku mengenalnya.

 

***

 

Aku berniat menyapa lokerku-tempat pertama yang selalu kutemui-sebelum masuk ke ruang kelas. Loker ini dibagi berdasarkan absen di kelas. Tentu, aku mendapatkan satu deretan pintu hijau yang sama dengan laki-laki misteriusku, Do Kyungsoo.

 

Aku melihatnya menutup loker ketika aku datang, lalu dia pergi. Sedetik aku ingin melangkah, tak sengaja aku menundukkan kepalaku dan menemukan sebuah kertas kaku berisi tinta banyak warna.

 

Bukan….

 

Ini bukan sebuah puisi bergambar pelangi ataupun matahari dengan mata, hidung, dan mulut tersenyum seperti wajah bayi.

 

Ini sebuah foto…

 

Tak asing…

 

Miliknya…

 

Do Kyungsoo…

 

Bersama perempuan…

 

Paruh baya…

 

Apa aku lantas berpikir ini pacarnya?

 

Demi gajah hompimpa mungkin tawaku akan meledak membayangkan itu sekarang. Aku membalikkan telapak tanganku kemudian,

 

“Achievement? Meaningful? – Do Kyungsoo”

 

***

 

Hari ini, pembagian hasil nilai ujian kelas vokal. Percaya atau tidak, 2 orang mendapatkan hasil terbaik, yaitu Aku dan Laki-laki misteriusku, Do Kyungsoo.

 

Aku begitu senang mendengar namaku dan Kyungsoo disebutkan oleh guru favoritku di depan sana, Seo Songsaenim. Sedangkan dia? Laki-laki yang ada diseberang bangku yang aku tempati, duduk layaknya diri yang sudah diberi formalin. Sama sekali tak merespon macam apapun sambutan kebahagiaan yang disertakan untuknya.

 

Utamanya, ketika Seo Songsaenim memanggil kami-Aku dan Kyungsoo-untuk mengucapkan Selamat. Kami berdiri bersama. Aku berjalan ke depan, tapi dia ke belakang. Kyungsoo meninggalkan kelas ini.

 

***

 

“Annyeong”

 

Aku menyapa Kyungsoo yang sedang tertidur dengan kepala yang tersandar pada punggung kursi taman. Dia menatapku sekilas, lalu kembali merenggangkan lehernya.

 

“Hei” Aku mencubit lengannya.

 

“Aight!” Dia terloncat sedikit.

 

“What’s your want?” Tanyanya sedikit marah padaku. Ia nampak kesal. Aku hanya diam dan segera duduk disampingnya. Sebenarnya aku juga kesal.

 

“Siapa yang menyuruhmu duduk?”

 

“Waeyo? Memangnya tidak boleh?”

 

“Memang tidak boleh”

 

“Kau membuatku kesal!”

 

“Siapa peduli? Ini tempatku. Tak ada yang menyuruhmu duduk, kan?”

 

“Why so meanie?”

 

Balasku benar-benar bertahan ditengah tempramenku yang hampir dipuncak. Kyungsoo tak membalasnya lagi. Ia hanya memandangiku dengan wajah datarnya. Ketika aku mencoba melirik namja disampingku, aku segera memutar bola mataku -menetralkan sengatan listrik yang baru saja menembus jantungku. Mata bulatnya membuat siapapun pasti langsung terpaku pada tatapan pertama. Matanya seperti seorang bidadari tersenyum, Indah.

 

Dadaku mulai tak terbakar ketika ia kembali tertidur. Lama waktu kami lewati dengan keheningan, tapi aku baru menyadari. Kyungsoo merespon ucapanku lagi setelah sekian lama. Bahkan kali ini tidak seperti tiga hari, tiga minggu, atau tiga bulan yang lalu. Dia membiarkanku berada di dekatnya sekarang. Bukan mengusirku ataupun melarikan diri.

 

Tanpa sadar, aku memandagi wajahnya lamat. Perlahan tanganku mulai mencoba mendekati wajah putihnya. Namun segera kembali tertarik ketika ia membuka matanya. Sedetik langsung aku membuang mukaku ke arah lain karena aku yakin wajahku seperti udang rebus sekarang.

 

“Kyungsoo-ssi” panggilku mencoba menghilangkan gugupku lagi.

 

“Tidak perlu seformal itu”

 

“Baiklah” aku menarik nafasku dalam-dalam. Aku semakin merasa canggung di dekatnya.

 

“Ada apa?” Kali ini Kyungsoo memecah keheningan.

 

“Ini… Dari Seo Songsaenim–”

 

“–Untukmu” Bukan aku yang mengucapkannya. Itu suara Kyungsoo.

 

Seperti sudah mengetahui gelagatku kemudian, dia bahkan menolak kotak yang kupegang tanpa membuka matanya. Dia pasti sudah mengetahui tujuanku berbiacara dengannya kala itu-memberikan kado dari Seo Songsaenim.

 

“Kenapa kau tidak mau menerimanya?”

 

“Apa itu sesuatu yang berarti?”

 

Aku diam. Bukan karena aku tak bisa membalasnya. Aku benar-benar bingung dengan pertanyaan yang terlontar darinya tadi.

 

Berarti?

 

Sesuatu yang berarti?

 

Apa Motivasinya mengucapkan hal itu?

 

Patrick Star?

 

Kenapa malah itu yang terbayang dibenakku??

 

“Itu artinya kau menghargai orang yang menghargaimu” Ucapku banyak menit terlewatkan.

 

Mendengar itu, dia bangun dari tidurnya. Menatapku sekilas yang kembali membuatku membuang muka yang sudah matang ini. Anehnya, dia justru mengulas bulan sabit dari bibirnya yang berbentuk hati. Oh Fortuna, Injak Kyungsoo dengan seekor badak sekarang.

 

“Kenapa tersenyum seperti itu?” Tanyaku dengan susah payah menahan malu.

 

“Berapa orang lain menghargaimu?” Dan dia pergi begitu saja.

 

 

MWOYA????

 

Aku terdengar seperti wanita Jalang yang berkeliaran di malam hari asal pandangannya. Bisakah dia mengulang ucapannya tadi? Jika iya aku mungkin aku akan menendangnya ke bulan.

 

“Bagaimana kau bisa berpikir begitu? Kyungsoo-ya?” Teriakku memanggil-manggil dirinya yang tak mengindahkanku sama sekali.

 

Dan sekarang aku teringat sesuatu.

 

***

 

“Aight!” Kyungsoo merengis sambil memegangi hidungnya.

 

Dia baru saja menabrak benda di tanganku yang –dengan sengaja– kutegaskan ketika dia hendak melewati ambang pintu.

 

“Kenapa kau– ” Kyungsoo menghentikan ucapannya ketika melihat sebuah foto ditanganku.

 

Ya… Foto yang tak sengaja kuinjak di depan pintu lokernya. Foto yang menampilkan wajahnya dengan seorang wanita paruh baya, yang sempat kupikir sebagai pacarnya. Foto dimana wanita itu tersenyum lembut, dan Kyungsoo di belakangnya melingkarkan penuh kedua tangannya di pinggang wanita itu.

 

“Aku masih berhutang tanya padamu ditaman tadi” Ucapku tanpa dibalas.

 

“Wanita ini pacarmu, kan?”

 

 

BODOH! PABO! ST*PID! Pertanyaan Idiot itu terlontar dari benakku, bukan karena tidak sengaja. Aku lupa awal dari hutang Kyungsoo yang sedang aku tagih. Dan aku yakin bukan hanya aku yang bingung. Pikiran Namja yang berdiri terkejut di depanku sekarang pasti sedang membayangkan seribu hujatan mengenaskan untukku.

 

Ayolah… Aku hanya lupa pertanyaan awalku.

 

Tidak. Kupikir dia akan memarahiku seperti hari-hari kemarin. Tidak. Dia hanya mengambil foto yang berada ditanganku, dan menyimpannya di saku celana.

 

“Ikut aku”

 

Pikachu menyengatku sekarang.

 

***

 

Aku mengikuti Kyungsoo ke sebuah toko bunga dan toko buah. Ia menggandeng setangkai mawar putih dan satu buah Jeruk mandarin. Jangan tanyakan padaku untuk apa. Sepanjang aku mengenalnya, aku tidak pernah melihatnya berbelanja

 

Mungkin dia ingin berkebun.

 

 

 

Di Pemakaman.

 

 

 

Tunggu…

 

 

 

 

Pemakaman?

 

 

 

Dia membawaku ke sebuah pemakaman umum dengan sebuah batu nisan yang kulihat bertuliskan nama seorang wanita. Kyungsoo meletakkan kedua barang ditangannya di depan ukiran sebuah nama disana.

 

 

 “Aku datang membawa seseorang. Dia bilang, aku harus menerima hadiah dari orang yang menghargai bakatku jika aku berhasil”

 

“Apa itu berarti?” Kyungsoo mengucapkan kata yang tak asing untukku pada benda tak bergerak di depannya Aku menoleh padanya.

 

“You never show me about”

 

Kemudian tertegun tak percaya melihat setetes bulir bening dari matanya jatuh bebas dari mata bulat itu. Kyungsoo? Do Kyungsoo? Seorang Do Kyungsoo, Menangis?

 

Jika aku bertanya kenapa dia menangis, aku yakin dia akan meninggalkanku sekarang. Namun seperti dia bisa membaca pikiranku, dia memberikan foto yang tadi aku tunjukkan padanya. Fotonya bersama wanita paruh baya sedang tersenyum. Aku semakin memperhatikannya. Bingung dengan apa yang maksudkan.

 

“Simpan saja untuk kenang-kenangan” ucapnya padaku sukses mendaratkan satu pukulan di lengannya.

 

Disaat sedih, dia ternyata bisa membuat seulas senyuman dariku dan untukku. Aku pun mengambil foto itu. Mengamati rangkaian kata yang ditulis oleh tangan putih Kyungsoo. Tak mengerti maksud tulisan ini. Tapi baru saja Kyungsoo mengucapkannya.

 

 

“Dia tak pernah melihat prestasiku hingga sekarang”

 

 

Aku kembali menoleh padanya. Dia menghela nafas panjang, seperti menggendong seekor gajah di punuknya sekarang. Aku ingat dia bukan unta.

 

 

Tersadar tangannya terlingkar di tanganku, menarikku pergi dari tempat kami berdiri. Kyungsoo menuntunku sampai ke depan rumahku. Aku juga baru mengetahui jika rumahnya berada di blok sebelah. Padahal aku sering pulang bersama-walaupun dia tidak berjalan disampingku.

 

“Kyungsoo-ya” Panggilku hingga saling bertukar pandang dengan mata bulatnya.

 

 “What a win at your vision?”

 

Sekarang dia menatapku tajam. Apa aku mengatakan hal yang salah?

 

Demi Fortuna kebanjiran, dia justru mengukir bulan sabit di bibirnya untukku. Bahkan kini dengan manik matanya yang terlihat begitu lembut. Kemudian menyentuh puncak kepalaku, mengusapnya gemas sambil mengigit bibir bawahnya. Layaknya anak kecil yang menghempaskan kebahagiaannya pada boneka tidurnya. Banyak menit aku menunggu jawabannya, dia malah meninggalkanku membeku disini. Oh Kyungsoo jika saja ada mobil yang sedang lewat sekarang, aku berharap supirnya lantas menabrakmu.

 

 

***

Malam hari yang tenang setelah berkutat panjang dengan Tugas teori sekolah. Aku menjinjing buku kesayanganku ke Sungai Han, yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Aku sering melepas penat disini.

 

Brukkk!!!

 

Seorang Namja menghempaskan sebuah kotak dengan pita merah di tempat kosong disampingku. Dia menatapku datar, seperti orang yang sedang dirasuki hantu. Bagaimana dia tahu aku disini?

 

“Sudah kubilang ini untukmu”

 

Geurae. Dia adalah Kyungsoo. Mengetahui aku meletakkan kado dari Seo Songsaenim diatas meja kelasnya. Darimana dia tahu bentuk kotak hadiah Seo Songsaenim? Sepanjang aku tahu dia tak pernah melihat wujudnya seperti saat pertama aku ingin memberikan kado itu padanya. Aku susah payah menyembunyikan gugupku.

 

“Bukan. Ini dariku”

 

“Kau pikir aku buta?”

 

“Hatimu memang buta”

 

“Aku sudah pernah mengatakannya padamu–”

 

“ Kau tak akan menerimanya bahkan jika itu dari temanmu?” Aku memotong ucapannya tak dapat menahan kesalku. Dia terdiam sejenak dengan raut wajah bingung.

 

“Aku tak punya teman”

 

“Lalu kau anggap aku apa?” Kali ini dia benar-benar menaikan suhu otakku.

 

 “Kenapa kau selalu berlatih keras, mengikuti banyak perlombaan, mendapat barisan A, tapi kau tak pernah memperdulikan itu semua?”

 

“Memangnya kau tahu apa?”

 

“Aku memang tak tahu apapun tentangmu. Dan bukan hakku mengetahui semua itu. Lebih baik kau berikan suara emasmu padaku daripada kau mempergunakannya sia-sia” genangan dimataku tak mampu aku bending lagi. Mengalir sempurna di depan mata Kyungsoo. Dia nampak tertgun melihat aku yang menangis.

 

“Kau pernah bilang padaku jika suatu saat nanti ingin ke Amerika dan jadi bintang besar, kan?” Ucapku menahan isakan yang setengah mati.

 

“Orang lain sudah menjauh karena kesombonganmu. Kau merebut tempat teratas yang seharusnya milik mereka! Tapi kau seolah menginjak itu semua begitu saja. BODOH!”

 

“Atau perlu kau jangan pernah bernyanyi lagi!” Isak tangisku sudah tidak bisa tertahan lagi. Aku membentaknya. Lalu aku meninggalkan patung beku di hadapanku. Sendiri di tengah malam yang cukup sunyi.

 

***

 

Angin berhembus membawa dentangan pelan melewati telingaku. Aku melihat Kyungsoo keluar kelas, dengan wajahnya yang nampak seperti hujan. Ia seperti buah penuh ulat. Aku mengikuti langkah gontainya, hingga ke rooftop sekolah. Hanya memandangi langit yang tak begitu cerah, aku mencoba mendekatinya dengan berat. Seperti ada dinding besar di hadapanku sekarang.

 

Ternyata Kyungsoo menyadari kehadiranku…

 

Dia menoleh kecil kearah belakang, tempatku berdiri sekarang. Sekian detik dia mengabaikanku lagi. Awalnya aku berpikir ingin menjatuhkan dia dari sini juga. Tapi ada niatan aku ingin pergi dari perasaan berat ini.

 

“Kyungsoo-ssi”

 

Aku memanggilnya dengan sebutan itu lagi. Aku mengira tak akan secanggung ini. Tapi Kyungsoo tetap diam. Tak memperdulikanku sama sekali. Adakah  pesawat yang lepas landas diatas tubuhnya sekarang? Aku mulai geram dipasangkan dengan takut setengah rasuk.

 

“Mian– ”

 

“Aku memang bodoh” Dalam hal ini kesamaan kami, sering memotong pembicaraan satu sama lain. Terlebih dia berkata layaknya sambil menusukkan tombak di dadaku sekarang.

 

“Aku memang tak berguna” ucapnya lagi semakin membuatku menahan isak teramat.

 

“Aku memang hanya pandai menyia-nyiakan”

 

“Aniya…. Tidak seperti itu.. maksudku” Aku berucap setengah payah. Air mataku tertembus sekarang.

 

 

Udara dingin menusuk kulitku terganti. Aku membuka mataku lebar-lebar ketika mengetahui Kyungsoo sedang memelukku sekarang. Dia sungguh tak marah padaku. Terasakan lembut peluk dan usapan tangannya di ubun-ubunku. Dan mata bidadari itu kembali bertemu dengan manikku yang sudah memerah. Kyungsoo menatapku lamat dan membawaku duduk disampingnya. Menikmati semilir angin langit tak begitu bersinar. Lama kami terjalin dalam keheningan.

 

“Maafkan aku” aku mulai memecahkan sunyi itu. Kyungsoo masih memilih diam.

 

“Tak seharusnya aku membentakmu kemarin”

 

“Tapi aku perlu bentakanmu” Dia mulai mengeluarkan suara beratnya menatap langit.

 

“Ribuan kali aku memutar amarahmu, ternyata adalah pasangan pelosok jiwa sunyi itu” Seumur hidupku tak pernah mengetahui Kyungsoo masuk kelas Bahasa. Tapi memang tidak pernah. Aku tahu Kyungsoo membenci itu.

 

“Achievement complication”

 

“Kau? Kalah?” dan kepolosan itu membuat gema kecil di belakang bibir hatinya. Kyungsoo terkekeh geli. “Ani” Dia tersenyum dengan raut wajahnya yang menunjukkan kepada hatinya yang kelam. Aku tahu dia menahan sedih.

 

“Makam itu… Menyimpan sosok membeku dalam sebuah foto… Membuat setengah mati langkahku tertahan… Wanita yang kusebut sebagai Ibu”

 

Meteor tepat meledakkan jantungku. Apa yang dia maksud pacarnya dalam benakku?

 

“Hari terakhir sebelum ibu meninggal, Aku berhasil memenangkan kontes itu. Kontes menyanyi menuju pelatihan besar di Amerika. Impian yang ibu minta padaku” Kyungsoo menghela nafas sepanjang ia mampu. Seperti….. .Aku tak akan menyebutnya unta lagi.

 

“Bertepatan dengan Hari kelulusan Noona-ku. Ayah mengendarai mobilnya kesana, sebelum melihat kemenanganku. Tapi kebahagiaan mereka hanya puncak disana” Sekali lagi dia menari nafas Panjang terhembus semakin berat. “Bibir jurang menanti kedatangan mereka. Mereka pergi. Sebelum melihat pencapaian terbesarku disana”

 

“Kalut menggapai sebuah penghargaan kala kenangan pahit itu terbenak”

 

 

Kelu merenggut senyum Kyungsoo seketika, walaupun ia masih bisa menegakkan badannya.  Merasakan kesedihan lamat akan hembusan angin itu. Aku yakin Kyungsoo mati-matian menahan tangisnya. Namun itu pun tak berhasil akhirnya.

 

Aku hanya memeluk lututku, tak kuat menahan bulir Kristal dalam pelupuk. Membayangkan aku berada dalam posisi Kyungsoo, mungkin aku lebih memilih untuk bungkam dari dunia yang menginginkan suaraku. Tapi Kyungsoo masih bisa bernyanyi, bahkan mengukir prestasi. Tak ada kabut menghantui perasaanya dalam hal itu.

 

“Dalam kata penghargaan selalu tertanam sosok ibu. Aku tak ingin mengingatnya”

 

“Kenapa kau ikut mengubur impian ibumu bersama mayatnya?” Kami berbicara tanpa saling menatap satu sama lain. Kyungsoo menatap langit yang sama kelam dengan hatinya kini. “Penghargaan adalah awal dari sebuah hal yang besar. Kau tak akan memulai perjalanan tanpa pacuan itu” Aku bermaksud menguatkan hati Kyungsoo.

 

“Sama seperti impian ibumu. Bukankah kau pasti memulainya dari sebuah penghargaan kontes?”

 

Fortuna memang selalu bersama Kyungsoo. Dia sekarang tersenyum lembut menatapku. Apa kali ini aku benar? Senyum itu membuatku tak ingin jauh darinya, selalu disampingnya, entah sebagai apa aku tidak perduli. Aku akan menemani Kyungsoo menggapai impiannya-dan juga ibunya.

 

***

 

“Mr.Kyungsoo, apa yang membuat anda mampu menggapai kesuksesan di Amerika?” seseorang dari dalam Televisi berbicara dengan seorang Namja putih yang sangat aku kenal.

 

“Saat SMA, seorang perempuan pernah mengatakan, Penghargaan adalah awal dari sebuah hal yang besar. Kau tak akan memulai perjalanan tanpa pacuan itu. Hingga aku berusaha keras melakukannya, dan mampu berada disini sekarang”

 

“Siapa wanita yang anda maksudkan itu?”

 

“Dia adalah wanita yang saat ini menjadi istriku” Jawab Namja putih itu dengan senyum khasnya.

 

Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Namja yang dulu bersama aura hitam, kini menjadi putih bersinar. Dia berhasil, menggapai impiannya, dan juga ibunya. Dia sudah menjadi penyanyi besar sekaligus menjadi suamiku, Do Kyungsoo.

20 thoughts on “Achievement [freelance]

  1. Seneng banget sama cerita ini. Walaupun bahasanya sedikit sulit dimengerti karena memakai kiasan, tapi kata-katanya sangat menyentuh.
    Apalagi pas baca endingnya. Duh bikin senyum-senyum sendiri aja. Haha. Tjieeee Kyungsoo sama IU nikah. Pasti anaknya pinter banget nyanyi tuh.
    Love this story 😘

  2. Demi apa author aku ngakak bacanya xD pas udah rada nyesek eh ngakak lagi. Gaya bahasanya duh kereeeen beneran. Apalagi maincastnya bias wah😉 gak nyangka mrk bersatu /? hehe. Keep writing author😉

  3. Kerennnnn.. IU kuat bgt ngehadapin Kyungsoo.🙂
    Suaranya Kyungsoo bagus. Suaranya IU bagus. Kalo punya anak gimana ya suaranya?😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s