Chapter 8 : My Smart Boy

msmartboyTittle : My Smart Boy

Author : rinaizawa

Cast : Byun Baek Hyun & Lee Ye Bin

 

##

Baek Hyun mulai membuka halaman buku tersebut. Ia sedikit penasaran dengan cover buku yang sedikit unik ini. Namun tiba – tiba ia terkejut melihat isi  yang ada dalam diary tersebut. Mungkinkah ini sebuah diari? Batinnya. Baek Hyun tidak ingin lancang membaca isi diari yang bukan miliknya. Hanya saja ia bingung kenapa ada namanya di buku diari itu.

 

–          Byun Baek Hyun, nan saranghae ^^

 

“Mwo?! Apa maksudnya?” Baek Hyun tidak mengerti dengan ini semuanya. Apakah ada orang yang memiliki nama  Byun Baek Hyun selain dirinya? Ia tidak tahu.

 

–          Aku tahu Baek Hyun sangat mencintai Ye Bin. Tapi bisakah dia tahu aku sangat mencintai namja itu?

 

–          Mereka sangat mesra

 

–          Maaf jika aku terlalu kejam. Aku harap Baek Hyun dan putus.

 

 

‘Ini harus diselesaikan.’  Ia tidak mau ini menjadi masalah yang besar nantinya. Lagipula ia tidak menyangka In Na setega ini. Bukankah ia sahabat Ye Bin? Harusnya ia tahu itu. Baek Hyun berharap  Ye Bin tidak tahu- menahu akan masalah ini.

 

##

In Na menekan beberapa tombol angka untuk menelfon Eommanya. Sudah berkali – kali ia telfon tetap saja tidak diangkat. Ia terkejut sekaligus takut mendengar eommanya kembali ke Korea. Takut akan disuruh kembali lagi ke Jepang. In Na tidak mau itu. Ia sudah betah disini. Ia juga senang bisa bertemu lagi dengan sahabat – sahabatnya. Namun satu hal yang pasti, In Na tidak mau meninggalkan Baek Hyun.

Walaupun pertemuan pertama mereka bukan pertemuan yang istimewa ataupun spesial. Tetap saja saat pertemu bertemu, In Na jatuh cinta pada namja itu. Ia tahu, Baek Hyun kekasih Ye Bin, sahabatnya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, rasa suka dan cinta In Na bisa membuat yeoja itu melupakan akan keberadaan sahabatnya. Terdengar kejam memang, but love can make the people forget about anything itu benar.

Yeoja itu membongkar isi tasnya. Ia merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah mengeceknya, In Na kehilangan buku unik alias diarinya. Baru saja ia terkejut akan kedatangan eommanya di Seoul, kini diari nya pula yang hilang. Ia tidak bisa membiarkan diari itu dibaca oleh orang lain. Semua tentangnya, perasaannya, dan kisah hidupnya tertuang disana. Ia tidak ingin ada yang membacanya. Itu privasi.

“Baek Hyun.”

Nama itu terucap begitu saja dari mulut In Na. Ia lupa kalau tadi sempat bertabrakkan dengan Baek Hyun dan ia yakin bukunya terjatuh disana. Jantung In Na berdetak lebih cepat. Ia takut Baek Hyun akan membaca itu semua. Jika itu terjadi, In Na tidak memprediksikan apa yang terjadi nanti.

##

In Na berlari dengan langkah terburu – buru. Ia benar – benar berharap Baek Hyun tidak membacanya. Namun harapan In Na harus pudar ketika melihat diari nya ditangan Baek Hyun. Namja itu  menatapnya dingin. Bahkan In Na sendiri tidak berani menatapnya.

“Kau ..” In Na tidak bisa berkata apa – apa lagi.

“Aku sudah membaca semuanya.” Jawab Baek Hyun tanpa menunggu pertanyaan dari yeoja dihadapannya.

“Sebenarnya ..”

“Aku tidak menyangka. Bukannya kau sahabat Ye Bin? Kenapa kau setega itu?” nada Baek Hyun masih terdengar datar.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku mencintaimu, Baek Hyun-ah. Sungguh. Sejak saat kita bertemu di mall dulu.” dengan beraninya In Na mengungkap itu semua. Ia ingin menyatakannya dengan segera agar Baek Hyun tahu perasaannya selama ini dan ia tidak ingin memendamnya lagi.

“Kau tahu aku kekasihnya Ye Bin?”

“Aku tahu. Aku tahu kau kekasihnya Ye Bin. Tapi aku tidak bisa memungkiri rasaku padamu.” Baek Hyun terdiam mendengar penuturan In Na.

“Baek Hyun-ah. Saranghae. Neomu – neomu saranghae.” In Na memeluk Baek Hyun dengan erat.

#

Ye Bin POV

 

Aku sedikit terlambat keluar dari kelas hari ini. Ada beberapa yang harus ku selesaikan. Bahkan aku hampir melupakan kalau aku harus ke kelas Baek Hyun. Semoga saja namja itu tidak marah dan pulang begitu saja. Setelah keluar dari ruang guru, aku segera ke kelas untuk mengambil tas dan langsung menuju kelas Baek Hyun. Tidak butuh waktu lama, aku segera membuka pintu kelasnya dan masuk kedalam.

“Baek Hyun – ah. Kajja …”

Kata – kataku terhenti seketika melihat pemandangan dihadapanku. In Na berpelukkan dengan Baek Hyun? Benarkah aku tidak salah lihat? Entah kenapa hatiku serasa hancur berkeping – keping. Bahkan ini lebih sakit dari pada Baek Hyun mengabaikan ku. In Na – ya, apakah ini alasanmu tiba – tiba kembali ke Seoul? Apakah semenjak kita bertemu di mall waktu itu kau menyukai Baek Hyun?

“In Na – ya.” Lirihku. Rasanya aku tidak sanggup lagi memanggil namanya.

“Ye – Ye Bin –a.” Dapat kulihat ekspresi Baek Hyun yang terkejut melihat kehadiranku. Mungkin ia tidak menyangka aku datang di moment ini.

“Mian.” Aku segera berlalu dari hadapan mereka. Dapat kudengar Baek Hyun memanggil namaku namun aku tidak peduli. Aku berusaha menjauh dan menahan tangisku ini. Kurasakan seseorang meraih pergelangan tanganku dan ku yakin orang itu adalah Baek Hyun. Tidak mungkin In Na mengejarku saat ini.

Aku berhenti dan berdiri membelakanginya. Ia memutar tubuhku membuat kami saling berhadapan sekarang.

“Ye Bin-a. Gwechana?” tanya Baek Hyun khawatir. Apakah ia takut aku akan marah?

“Eum. Gwechana.” Aku berusaha setenang mungkin.

“Aku bisa menjelaskan ini semua. Tidak seperti yang kau bayangkan. Tadi …”

 

Author POV

 

“Aku bisa menjelaskan ini semua. Tidak seperti yang kau bayangkan. Tadi …”

“Hiks.”

Ye Bin tak kuasa lagi menahan tangisnya. Air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Hatinya terasa sangat sakit hingga ia tidak mampu menahan tangisnya. Baek Hyun benar – benar tidak tega melihat yeoja nya menangis seperti ini. Ia merasa juga mengalami hal yang sama dengan Ye Bin meski yang dirasakan Ye Bin jauh lebih sakit dari Baek Hyun rasa.

“Bisakah kau tinggalkan aku? Jebal.” Pinta Ye Bin. Ia tidak sanggup harus melihat Baek Hyun dihadapannya. Ia butuh ketenangan saat ini. Dan ketenangan itu dengan tidak melihat Baek Hyun.

 

##

Se Hun yang melihat kejadian semuanya dari jauh menatap In Na tidak suka. Sebenarnya ia tidak tega memperlakukan sahabatnya seperti ini. Namun bagaimana lagi. Ia tidak salah menaruh kecurigaan selama ini pada In Na. Toh itu semua benar. Hanya saja ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan In Na.

“Tidak ku sangka kau seperti itu.” In Na menoleh mendapati Se Hun berjalan kearahnya.

“Aku tidak merebut Baek Hyun.” Bantah In Na. Mungkin benar kata In Na ia tidak merebut Baek Hyun, tapi secara tidak langsung ia melakukannya.

“Tapi kau mendoakan mereka putus.” Ya Se Hun tahu itu. Ia sempat membaca isinya sekilas. Maka Se Hun tahu akhirnya akan begini. “Ye Bin sahabatmu. Apakah arti sahabat hilang ketika kau jatuh cinta?” Lanjut Se Hun.

“Se Hun –ah.”

“Aku tahu. Susah sekali kita berusaha untuk tidak mencintai orang yang kita suka. Tapi, jika kau benar – benar berusaha, aku yakin rasa itu akan memudar dengan sendirinya. Ingat, Ye Bin juga sahabatmu.” Jelas Se Hun.

In Na terdiam. Perkataan Se Hun ada benarnya. Ia tidak boleh mementingkan egonya demi kebahagiaannya sendiri sementara sahabatnya harus menderita. Lagi pula masih ada orang lain yang jauh lebih baik dari pada Baek Hyun.

“Mianhae.”

 

##

Sudah seminggu, Ye Bin menjauhi lingkungan sekitarnya. Ia lebih sering menyendiri dari pada berkumpul dengan temannya Se Hun dan In Na. Bahkan Baek Hyun sendiri ia abaikan seolah tidak ada namja itu didunia ini.

Kini Ye Bin sedang menyendiri di perpustakaan. Ditemani buku – buku, ia memandangi buku itu dengan pandangan kosong. Meskipun terlihat sedang fokus membaca buku, sebenarnya pikiran Ye Bin tengah mengarah kemana – mana. Sampai seseorang berdiri dihadapannya dan membuatnya tersadar dari lamunan itu.

“Sunbaenim.” Namja itu adalah Kai.

“Kai.” Panggil Ye Bin. Untungnya ia sadar dengan cepat.

“Tumben kau disini.” Ujar Kai. Ia duduk disamping Ye Bin. “Boleh?”

Ye Bin mengangguk. “Aniya. Aku hanya ingin menyendiri saja.” Balas Ye Bin kalem.

“Wae? Ada masalah?” tebak Kai.

“Hem. Sedikit.”

“Kau boleh menceritakannya padaku.” Tawar Kai. Ia siap mendengar semua keluhan Sunbae nya. Hitung – hitung sebagai pengganti kebaikan Ye Bin selama ini.

Ye Bin terlihat ragu. Bukannya tidak mempercayai Kai, hanya saja ia tidak ingin masalahnya ini diketahui oleh orang lain. Namun, ada satu hal yang ingin ditanyakan Ye Bin sebagai referensinya.

“Kai, aku ingin bertanya.” Ye Bin memulai pembicaraan serius mereka. “Apa yang akan kau lakukan untuk mengetahui seorang sahabat itu setia atau tidak?”

“Hem. Apa ya? Mungkin aku akan memberikan sesuatu yang sangat berharga padanya.” Kai menerawang ke arah langit perpustakaan.

“Maksudmu?”

“Jika dia benar – benar sahabat kita, ia tidak akan mengambilnya sekalipun kita memaksanya. Aku yakin itu.” Kai menatap Ye Bin lekat.

“Arraseo.” Ye Bin mengerti. Ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. “Gomawo Kai.” Ujar Ye Bin tersenyum.

“Cheonma. Semoga masalahmu terselesaikan.” Harap Kai.

##

Sesuai dengan saran Kai tadi, Ye Bin segera mencari In Na. Saran namja itu ada benarnya, tidak ada salahnya kalau ia mencoba. Ia mendapati In Na yang sedang menikmati jam istirahatnya dikantin. Tanpa ragu, Ye Bin segera menghampiri yeoja itu.

“In Na-ya. Aku ingin kita berbicara.” Ujar Ye Bin tegas. Awalnya In Na sedikit takut mengingat kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

“Ne.”

Dari kejauhan Chan Yeol, Se Hun, dan Baek Hyun melihat Ye Bin yang mengajak In Na ke suatu tempat. Chan Yeol yang sedikit berlebihan menjadi panik. Ia takut terjadi apa – apa dengan yeoja itu.

“Ya. Se Hun. Kau harus mengikuti mereka.” Perintah Chanyeol.

“Ini bukan sesuatu yang besar.” Se Hun malah terlihat santai.

“Kau yakin?” tanya Baek Hyun ragu.

“Aku tahu sifat mereka berdua.” Se Hun memandangi Ye Bin dan In Na yang sudah berlalu dari hadapan mereka.

##

“Berbicaralah.”

“Eh?”

In Na menatap Ye Bin bingung. Berbicara? Apa yang harus ia katakan? Ia benar – benar tidak tahu. Dan ia yakin ini berkenaan dengan masalah kemarin. Untuk itu In Na tidak berani berbicara karena ia merasa tidak enak dengan Ye Bin. Mungkin sedikit pengakuan tidak masalah. Ya hanya sekedar mengatakannya saja. Lagi pula aku tidak boleh merebutnya, batin In  Na.

“Aku menyukai Baek Hyun. Aku mencintainya.” Kali ini saja In Na berkata terus terang. Walau sebenarnya ia berusaha tidak menyukai Baek Hyun. Jika ia mengatakan tidak ada, pasti Ye Bin tidak mempercayainya.

“Baiklah. Aku akan memutuskannya.” Ye Bin menghela nafas.

“Andwae!” spontan In Na berteriak membuat Ye Bin memandanginya dengan tatapan tajam. “Jangan lakukan itu Ye Bin-a. Andwae.” Pinta In Na dengan nada memelas. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya ini putus dengan Baek Hyun karena dirinya. In Na merasa bersalah.

“Kau mencintainya kan?”

“Kau lebih mencintainya. Dia juga mencintaimu.” Kata In Na. “Aku tidak ingin persahabatan kita hancur. Kita sudah bersahabat sejak lama. Kau lebih berharga dibandingkan hubungan itu.”

Ye Bin terdiam. Benar saran Kai. Meskipun kita memaksanya tetap saja ia tidak akan mengambil sesuatu yang berharga milik sahabatnya. In Na menunduk. Ye Bin meraih kedua pergelangan tangan In Na membuat yeoja itu menoleh keatas.

“In Na-ya.” Panggil Ye Bin. “Gomawo.”

Keduanya saling berpelukan. In Na menyesal telah menyukai Baek Hyun. Bukan karena apa, harusnya ia tahu Ye Bin dan Baek Hyun sudah saling mencintainya. Untungnya Se Hun mampu menyadarinya. In Na berpikir masih ada pria yang lebih dari Baek Hyun. Tidak hanya namja itu saja yang istimewa dan juga In Na baru sesaat mengenalnya. Mungkin selama ini ia hanya menyukai sisi ketampanan Baek Hyun. Lagi pula tidak ada guna ia merebut kebahagiaan sahabatnya demi kebahagiaan dirinya. Sungguh tidak adil. Dan karma akan berlaku baginya.

Tanpa mereka sadari, seseorang memandangi mereka dari jauh. Ia tersenyum melihat keduanya. ‘Jadi ini masalahmu.’

##

Sepulang sekolah, Ye Bin tidak langsung pulang ke rumah. Ia memutuskan ke taman untuk sekedar menyegarkan pikirannya. Untungnya taman tidak terlalu ramai hari ini. Mungkin karena masih banyak orang yang belum menyelesaikan pekerjaannya.

“Kau kenapa?” seseorang yang duduk disamping Ye Bin bertanya tanpa menoleh sedikit ke arah yeoja itu.

“Aku? Tidak apa – apa. Bagaimana denganmu?” jawab Ye Bin sekenanya. Pandangan keduanya masih memandang lurus ke arah jalanan.

“Aku … Membuat kekasihku bersedih.”

“Kau begitu jahat.”

Keduanya terdiam satu sama lain. Namja itu tidak menjawab argumen yang dikatakan Ye Bin. Entah karena apa ia malah memilih untuk diam.

“Tapi aku tidak bermaksud. Ini hanya sebuah kesalahpahaman.” Ujar namja itu kemudian.

“Aku tahu.”

“Mianhae.”

Baek Hyun menoleh dan menatap yeoja disampingnya. Ia tahu sedari tadi yang duduk disampingnya adalah Ye Bin dan yeoja itu pun begitu. Mereka sengaja tidak menoleh satu sama lain seolah – olah tidak saling mengenal.

“Gwechana.” Ujar Ye Bin masih dengan nada yang sama.

“Tersenyumlah.” Pinta Baek Hyun. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Ye Bin tersenyum. Ia merindukannya.

Ye Bin tersenyum dan sangat cantik menurut Baek Hyun. “Kau puas?”

“Belum.”

“Mwo?”

Bukannya menjawab pertanyaan Ye Bin, Baek Hyun malah menarik pergelangan yeoja itu dan membawanya entah kemana. Ye Bin terpaksa menurut saja. Toh, menolak juga tidak akan bisa.

##

Baek Hyun mengajak Ye Bin ke sebuah cafe yang ada di tepi jalan. Ia tahu Ye Bin belum makan siang dan pasti lapar sekarang. Makanya ia membawa Ye Bin ke tempat ini. Pelayan cafe pun datang dan menawarkan mereka berbagai macam makanan. Setelah melihat menu, mereka segera memutuskan makanan yang dipesan.

“Matikan ponselmu.” Perintah Baek Hyun.

“Wae? Bagaimana jika Hyunwoo oppa menelfon ku nanti?”tanya Ye Bin bingung.

“Matikan saja.” Kata Baek Hyun. Ye Bin memandanginya kesal.

“Aissh. Baiklah.” Ujar Ye Bin akhirnya.

Baek Hyun sengaja menyuruh Ye Bin mematikan ponselnya agar tidak ada yang menelfon atau mengirim sms kepada yeoja itu. Ya, namja ini ingin mengajak Ye Bin kencan lagi maka dari itu ia menyuruh Ye Bin mematikan ponselnya. Jika tidak pasti saja ada yang menghubunginya. Ia tidak mau hal ini terganggu.

Makanan yang mereka pesan tiba. Mereka pun langsung menyantap makanannya masing – masing.

“Mashita.” Ujar Baek Hyun.

“Kau seperti ini anak kecil.” Ye Bin melihat tingkah makan Baek Hyun yang benar – benar terlihat seperti anak berusia 5 tahun.

“Biar saja.” Baek Hyun cuek. “Ye Bin-a ada makanan diwajahmu.” Ia menunjuk dengan tatapan matanya.

“Dimana?”

 

Cup

 

Baek Hyun mengambil makanan itu dengan menciumnya membuat Ye Bin terdiam seperti patung.

“Ya!” jerit Ye Bin tertahan.

“Enak.” Baek Hyun tersenyum nakal.

“Awas kau Byun Baek.”

Pria itu tertawa. Ia senang seperti ini. Menganggu Ye Bin adalah hobinya karena gadis itu mudah sekali cemberut. Baek Hyun suka itu. Setelah selesai makan, Baek Hyun mengajak Ye Bin ke pusat permainan di taman kota. Sudah lama ia tidak kesana. Terakhir ia pergi kesana 3 tahun yang lalu.

Saat mereka sedang berjalan – jalan sambil melihat sekelilingnya, pandangan Ye Bin tertuju pada sebuah boneka panda yang besar. Ia sangat menyukai Panda. Bahkan segala boneka yang ada dikamarnya berbau Panda.

“Baek Hyun-ah.” Panggil Ye Bin.

“Hem?”

“Aku mau boneka itu.” Baek Hyun menoleh kearah yang ditunjuk Ye Bin.

“Baiklah.” Ujar Baek Hyun. Mereka berjalan menuju stan itu yang ternyata merupakan sebuah permainan. Permainannya yaitu harus menancapkan panah tepat dipinggir lingkaran tersebut. Jika berhasil maka boleh mendapati boneka panda itu.

“Silahkan anak muda.. Kau harus bisa menancapkan panah ini.” Ahjussi itu memberika panah kepada Baek Hyun. Pria itu mengangguk.

“Baek Hyun – ah fighting.” Ye Bin menyemangati Baek Hyun.

Pria itu bersiap – siap menarik panahnya dan melepaskannya. Sayangnya, panah itu gagal menancap di pinggir. Baek Hyun tidak menyerah. Ia mencoba sekali lagi. Ia yakin ia pasti bisa. Hanya memanah dan bukan hal yang sulit. Baek Hyun gagal lagi. Ia mendecak kesal.

“Ah. Kau payah.” Ye Bin mengejek kesal.

“Arra arra. Aku akan mencobanya. Kali ini aku akan berhasil.” Baek Hyun tak terima jika ia diremehkan. ia mengambil panah lagi. Ini sudah ketiga kalinya dan pria itu yakin kali ini akan berhasil. Dan benar saja, Baek Hyun berhasil menancapkan panah tersebut.

“Yeah!!”

“Wah chukkae. Kau berhasil. Ini hadiahnya.” Ahjussi itu memberika boneka panda yang di inginkan Ye Bin.

“Gomawo ahjussi.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Baek Hyun dan Ye Bin pamit. Kini mereka menuju ke sebuah kedai es krim dan memesan dengan dua rasa yang berbeda. Baek Hyun memesan rasa stroberi dan Ye Bin memesan rasa blue mint. Awalnya mereka sempat bertengkar kecil untuk menentukan rasa. Ye Bin ingin Baek Hyun mencoba rasa Blue mint sedangkan Baek Hyun sebaliknya. Agar masalah ini tidak menjadi sebuah masalah yang besar, akhirnya mereka memutuskan untuk memesan sesuai selera masing – masing.

“Kau senang?”

##

To be continue

 

55 thoughts on “Chapter 8 : My Smart Boy

  1. Oke. Jujur gue iri sama mereka :v
    Soswit banget masa.. Kita kapan bakal kaya gitu?? Author jemput aku aja gapernah apalagi Ngajak kencan *saoloh ini mimpi ga ketinggiankan?
    Next yo and keep writing

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s