Secret Darling | 2nd Chapter

secret-darling1.

:: SECRET DARLING | 2nd Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | Luhan

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter

Esok paginya, pukul tujuh pagi, Minhee baru terbangun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu baru mengingat-ingat jika ia sedang berada di penginapan gara-gara mobil appa Sehun yang mogok semalam.

Tiba-tiba ponsel Minhee berbunyi, tanda jika ada panggilan yang masuk.

Minhee meraih ponselnya yang ada di dekat lampu tidur. Ah ya, pasti pagi ini sinyal sudah kembali seperti semula!

 

Minhee tersenyum lebar membaca nama pemanggil yang tercantum di layar ponselnya. Itu dari oppa-nya, Minhyuk. Bayangan sang oppa yang akan segera datang menjemput kesana seketika menari dalam benaknya.

“Halo, oppa?”

“SHIN MINHEE, DIMANA KAU?!”

Wajah Minhee memucat dengan refleks saat mendengar suara oppa-nya yang menggelegar di seberang sana.

Oh,tidak. Bukan nada seperti itu yang ia inginkan.

.

.

| 2nd Chapter |

.

.

 

“SHIN MINHEE, DIMANA KAU?!”

 

Wajah Minhee memucat dengan refleks saat mendengar suara oppa-nya yang menggelegar di seberang sana.

Oh, tidak. Bukan nada seperti itu yang ia inginkan.

 

“KAU TIDAK PULANG SEMALAM, DAN EOMMA BILANG KAU PERGI BERSAMA SEHUN!!!”

 

Oppa, aku bisa jelaskan…”

 

“SEKARANG KAU KATAKAN, KAU DIMANA?!!”

 

Minhee takut setengah mati saat mendengar suara menggelegar Minhyuk. Bahkan seingatnya ini adalah bentakan terkeras yang pernah Minhyuk keluarkan padanya. Suara isakan kecil mulai mengalir dari mulut Minhee, lalu tanpa menjawab pertanyaan Minhyuk, Minhee melempar ponsel itu ke sembarang arah. Tangisnya tumpah.

 

Ponsel itu jatuh diatas tubuh Sehun dan membuat Sehun yang masih dalam keadaan tidur menjadi terbangun ketika benda persegi panjang itu mendarat diatas tubuhnya. Perasaan kaget mengharuskannya berteriak, dan beberapa detik kemudian ia baru sadar jika itu adalah penyebab paling fatal yang akan merusak pagi mereka.

 

Yak!!”

 

Panggilan itu belum terputus, sehingga Minhyuk tentu saja masih bisa mendengar aduhan Sehun saat ponsel itu jatuh mengenainya.

 

“OH SEHUN!! KAU APAKAN ADIKKU, HAH?!!”

 

Wajah Sehun memucat seketika mendengar suara teriakan marah di seberang sana. Matanya terbelalak menatap layar ponsel Minhee, membuatnya melihat dengan jelas bahwa durasi panggilan Minhyuk masih berlangsung.

 

“OH SEHUN!! KAU APAKAN ADIKKU??!!”

 

Dengan cepat Sehun mematikan panggilan itu lalu membuang ponsel Minhee ke sofanya. Ia melihat Minhee sedang menangis ketakutan sambil menyelubungi seluruh tubuhnya dengan selimut. Isakan Minhee semakin keras, bahkan saat Sehun akhirnya menghampiri gadis itu ke atas tempat tidur dan berusaha menenangkannya.

“Minhee-ya, berhenti menangis… Tolong,” pinta Sehun sambil menghapus airmata Minhee. “Kita tidak melakukan apapun, kan? Jangan takut, kita akan menjelaskan semuanya pada mereka nanti,”

 

Baru saja selesai bicara, terdengar suara ribut-ribut di luar kamar.

Minhee semakin panik, ia tahu situasi sedang gawat sekarang dan yang sedari tadi membuat batinnya takut saat membayangkan amarah keluarganya nanti. Belum lagi semua tuduhan tak benar itu. Tak ada bukti yang bisa membela mereka berdua. Nyatanya kini mereka sedang berada dalam kamar yang sama. Walaupun kenyaataannya tidak seperti apa yang mereka semua pikirkan.

 

“Minhee-ya, dengarkan aku. Kau harus tenang. Kau harus berhenti menangis. Kita tidak melakukan apapun. Kau—“

 

BRAK!!

 

Pintu kamar itu terbuka secara paksa. Minhyuk dan Luhan menyerbu ke dalam kamar itu dan langkah mereka berdua pun terhenti beberapa langkah setelah masuk. Mata mereka terkesiap memandang kedua adik mereka. Minhee yang sedang menangis dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, dan Sehun yang sedang memeluk Minhee seraya mencoba meredakan tangis gadis itu.

 

Ahjumma pemilik penginapan juga baru saja memasuki kamar itu dan matanya membelalak lebar melihat kedua anak remaja yang ada diatas tempat tidur itu sekarang. Ia masih mengingat kedua bocah itu tentu saja. Kedua bocah yang semalam datang, memohon menyewakan satu kamar untuk si gadis sedangkan sang anak laki-laki akan tidur di mobil, serta bahkan bilang kalau mereka tidak akan berbuat yang macam-macam karena mereka hanya terjebak situasi gara-gara mobil yang mogok.

 

Luhan menatap Sehun dan Minhee tak percaya, pandangannya terlihat kecewa, namun ia mengunci mulutnya rapat-rapat dari segala kekecewaan bercampur amarah yang menggelegak dalam darahnya saat ini.

 

“Kau,” tuding Minhyuk dengan suara bergetar. “Akan kupastikan orangtua kalian mengetahui apa yang sudah kalian lakukan.”

 

 

***

 

 

Ini sudah hari kelima semenjak kejadian pagi itu di Pulau Jeju. Minhee tentu masih mengingat semuanya dengan jelas. Terkadang ia masih menangis saat mengingat semuanya. Bukan tentang hukuman yang ia dapat, tapi tentang rasa bersalahnya sendiri.

Itu adalah kejadian yang memalukan. Ia bahkan masih merasa sangat malu jika mengingat bagaimana Sehun terpaksa ikut menerima hukuman dari kedua orangtuanya, dari Luhan, bahkan dari Minhyuk. Padahal demi apapun juga, Sehun sama sekali tak berbuat macam-macam padanya malam itu. Mereka hanya terjebak dalam kondisi yang salah, dan sayangnya mereka tak punya cukup bukti untuk membela diri.

 

Minhee sendiri tak mendapatkan hukuman fisik dari orangtuanya. Ia sudah merasa tersiksa sendiri melihat bagaimana appa-nya menahan amarah, eomma-nya menangis, dan Minhyuk menatapnya sinis.

“Sehun oppa tak melakukan apapun padaku. Justru dia yang menjagaku. Aku berani melakukan apapun untuk membuat kalian percaya padaku. Aku bersedia diperiksa ke rumah sakit, sebagai bukti kalau ia sama sekali tak melakukan apapun padaku.”

 

Tapi keputusan yang diterima Minhee jauh lebih keras dibandingkan bayangannya terhadap tamparan dari kedua orangtuanya dan juga kakaknya.

“Tidak bisa. Kami sudah sepakat memilih keputusan, bahwa kau dan Sehun harus menikah. Minggu ini juga.”

 

Minhee menangis meratapi bagaimana masa depannya nanti. Ia bahkan baru saja akan masuk kuliah, namun sekarang ia disuruh menikah? Apa mereka gila? Tak cukupkah Minhee bersumpah jika ia dan Sehun tak melakukan apapun malam itu?

***

 

“Lihat, kau cantik sekali, Nona Shin,” sahut Nyonya Hwang, perias pengantin itu, saat melihat refleksi Minhee yang baru saja selesai di make-up untuk acara hari ini.

Minhee tersenyum tipis, merasa lega karena matanya yang sedikit bengkak akibat terus-terusan menangis itu tak terlalu mencolok sehingga tak membuat Nyonya Hwang curiga.

“Umurmu berapa, Nona?”

Minhee terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari Nyonya Hwang. Ia tersenyum canggung.

“Dua puluh empat tahun,” jawab Minhee berbohong. Tak mungkin kan ia bilang jika usianya yang sebenarnya masih 18 tahun?

“Benarkah?” Tanya Nyonya Hwang. “Kau terlihat jauh lebih muda dibanding usiamu,”

Minhee tersenyum kecil mendengar komentar Nyonya Hwang.

“Baiklah, sekarang kau tinggal mengenakan gaun itu. Perlu kubantu?” Tanya Nyonya Hwang lagi.

“Ah, aku pakai gaun itu nanti saja.” Tolak Minhee.

“Kalau begitu aku keluar dulu, ya? Setelah ini aku masih harus merias eomma-mu dulu. Jika kau perlu bantuanku lagi, kau bisa memanggilku. Kau pasti tahu ‘kan, dimana aku berada?” sahut Nyonya Hwang sambil membereskan peralatan riasnya.

“Ah, ya,” jawab Minhee, masih sedikit canggung. “Terimakasih, ahjumma.”

“Ya, sama-sama, Nona Shin.” Jawab Nyonya Hwang sebelum akhinya benar-benar pergi dari kamar itu. Meninggalkan Minhee sendiri. Membiarkan Minhee masih terpaku seperti patung yang sedang menatap bayangan dirinya dalam cermin.

 

Minhee terpaku bukan hanya karena melihat bagaimana penampilannya sekarang, tapi juga karena ia teringat semua obrolan singkatnya dengan Nyonya Hwang tadi. Dimulai dari dusta kecil Minhee soal usianya, lalu berakhir dengan panggilan ‘Nona Shin’ yang ditujukan Nyonya Hwang untuknya.

Suatu hari nanti Minhee pasti akan merindukan marga itu, marga Shin yang selama 18 tahun ini sudah menjadi miliknya dan merupakan bagian dari namanya. Namun sebentar lagi, mungkin marga itu tak akan sepenuhnya lagi dimiliki olehnya. Karena hanya dalam waktu hitungan jam lagi, Minhee akan dinikahi oleh seorang laki-laki bermarga Oh.

 

Tok tok tok!

 

Minhee melirik pintu kamar yang tertutup itu, mendengarkan kembali ketukan yang terdengar dari sana.

“Masuk saja, tidak dikunci.” sahut Minhee sambil menatap cermin lagi.

“Minhee-ya?”

 

Minhee menoleh saat mendengar suara itu. Airmatanya mengembang saat matanya kembali menatap sosok itu, sosok sahabatnya yang masih diingatnya dengan jelas.

“Minchan?”

Minchan berjalan menyongsong Minhee, langsung memeluk sahabatnya itu yang sudah mulai terisak di bahunya.

Yak, jangan menangis. Nanti riasanmu berantakan semua,” sahut Minchan menghibur Minhee.

“Minchan, aku berani bersumpah, aku tak melakukan apapun malam itu. Kau percaya padaku, kan?” Tanya Minhee ditengah sesenggukannya.

Minchan mengangguk. “Ya, ya. Tentu saja aku percaya. Aku percaya kau tidak melakukan itu. Aku mengenalmu, Shin Minhee. Kau bukan gadis seperti itu.”

“Tapi mengapa mereka semua tidak percaya padaku? Mereka menuduhku, memaksaku menikah dengan Sehun oppa. Menutupi kejadian memalukan itu. Padahal kami sama sekali tak pernah melakukan apapun. Kenapa, Minchan-ah? Mengapa hanya kau yang percaya padaku?” isak Minhee.

 

Minchan mengusap-usap punggung Minhee. Ia ikut merasa sedih. Ia mengenal Minhee dengan baik. Mereka sudah bersahabat sejak SMP. Dan Minchan tahu pasti, Minhee tak akan melakukan hal seperti itu dalam kondisi sadar. Dia bukan tipe gadis yang seperti itu.

“Ikuti saja apa mau mereka,” sahut Minchan sambil tersenyum.

Minhee menatap Minchan dengan semburat ragu yang amat kentara dimata berairnya. “Apa?”

“Kau ikuti saja apa mau mereka,” ulang Minchan. “Sehun akan menikahimu hari ini, kan?”

Minhee terdiam menatap Minchan, Minchan tersenyum pada Minhee. “Kalau ia saja bisa menjagamu malam itu, yakinlah jika ia juga bisa menjagamu untuk masa depan. Aku rasa dia pria yang baik, Minhee-ya.”

Minhee menatap Minchan lama, Minchan tersenyum memberi ketegaran pada Minhee. Ia menghapus airmata Minhee dengan tisu, yang untungnya tidak melunturkan eyeliner tebal yang sudah dipoles di kelopak matanya.

“Sekarang biarkan aku membantumu memakai gaun pengantin itu, ya?” tawar Minchan.

Minhee menatap gaun pengantin yang ada di dekat meja rias itu, lalu berganti lagi menatap wajah Minchan.

“Ayolah, sepertinya gaun itu indah,” sahut Minchan sambil tertawa kecil. “Aku bahkan ingin sekali bisa memakai gaun dengan model seperti itu saat menikah nanti,”

 

 

Ikrar itu sudah terucap dengan sempurna. Cincin itu juga sudah melingkar di jari manis mereka berdua. Kini mereka sudah sampai di penghujung acara ikrar pernikahan mereka. Suasana masih menghening.

Sehun dan Minhee berdiri berhadapan. Pendeta masih berdiri di sisi mereka, seakan menunggu mereka untuk melaksanakan prosesi selanjutnya. Minhee tak berani menatap Sehun yang ada di hadapannya. Tanpa melirikpun ia sudah tahu jika Sehun sedang menatapnya.

Deheman pelan pendeta memecah keheningan diantara Sehun dan Minhee. Minhee sedikit tersentak dan tak sengaja menangkap pandangan Sehun. Kini mereka saling menatap, bertukar pandangan ragu-ragu apakah benar mereka memang harus melanjutkan prosesi itu.

 

“Kau tidak mau mencium pengantinmu, Tuan Oh?” Tanya pendeta itu pelan pada Sehun. Membuat wajah Minhee memerah seketika. Ia membuang pandangannya lagi ke bawah.

Sehun tak berani menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa memandangi Minhee yang bahkan tak berani menatapnya, Minhee yang terus-terusan menghindari tatapan Sehun sejak tadi.

“Ah, ya, uhm, baiklah.” Jawab Sehun gugup. Dengan pelan ia akhirnya meraih kelambu tipis yang menutupi wajah Minhee, mengangkatnya sedikit demi sedikit, berusaha menghilangkan rasa gugupnya sendiri.

Keringat dingin membasahi telapak tangan Minhee saat itu juga. Tanpa sebab yang jelas Minhee tiba-tiba merasakan melilit menyerang perutnya. Darahnya berdesir lebih cepat, apalagi saat menyadari jika Sehun sudah membuka kelambu tipis itu sepenuhnya sekarang.

 

“Ayolah, Minhee-ya, angkat wajahmu,” bisik Sehun pelan. Minhee menurut dan mengangkat wajahnya sedikit demi sedikit. Napasnya semakin tipis-tipis karena jantungnya juga bekerja lebih cepat saat ini.

Minhee memejamkan matanya rapat-rapat saat ia merasa sudah cukup mengangkat kepalanya. Walaupun matanya terpejam total, ia bisa merasakan saat jarak antara ia dan Sehun mulai terhapus. Ia bisa merasakan saat wajah laki-laki itu semakin mendekat padanya, yang membuat ia semakin rapat memejamkan kedua matanya.

Tidak, ia merasa ingin pingsan sekarang juga.

 

Cup.

 

Minhee hampir saja membuka matanya. Rasa kaget, bingung, bercampur lega memenuhi benaknya saat ia tak merasakan ciuman itu di bibirnya. Alisnya bertaut bingung, saat ia merasakan Sehun hanya menautkan bibirnya pada ujung bibir Minhee. Itu artinya, Sehun tidak menciumnya dengan penuh. Ia hanya mencium ujung bibir Minhee. Namun ia memperlihatkan pada semua orang bahwa seolah-olah ia sedang mencium bibir Minhee.

 

Sehun melepaskan ciumannya setelah beberapa detik lamanya, bersamaan dengan itu Minhee membuka kelopak matanya dan menemukan semua hadirin bertepuk tangan dan berdiri dari kursinya. Minhee masih terdiam bingung dengan semua sensasi itu. Tanpa aba-aba Sehun menggenggam tangannya, membuat Minhee menoleh seketika dan hatinya terasa meleleh saat pertama kalinya ia melihat Sehun tersenyum setulus itu padanya.

Sehun menarik pelan tangan Minhee menyusuri karpet merah itu, menuruni altar dan membawanya keluar dari gereja. Minhee hanya menurut saja saat lagi-lagi Sehun membawanya, hatinya masih bingung dengan semua sensasi seperti ini. Sensasi yang seumur hidup baru sekali ini dirasakannya.

***

 

Jam yang ada di dekat music player mobil sudah menunjukkan pukul 10 malam. Suasana dalam mobil berisi 4 orang itu benar-benar hening. Hanya ada Luhan yang sedang berkonsentrasi menyetir, Minhyuk yang sedang sibuk dengan smartphone miliknya, serta Sehun dan Minhee yang sama-sama sedang terduduk kelelahan berdua di kursi belakang sambil menatap jendela masing-masing.

Saat ini Sehun dan Minhee sama-sama sudah berganti pakaian dan tidak menggunakan pakaian saat upacara pernikahan tadi atupun saat resepsi. Kini mereka sama-sama mengenakan pakaian santai mereka. Sesekali Luhan maupun Minhyuk menoleh pada mereka, namun mereka sepertinya tidak menyadari jika dua orang di kabin depan itu sering sekali memperhatikan mereka.

 

Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka. Sebuah hotel dengan fasilitas yang cukup mewah. Sehun dan Minhee keluar dari mobil dan memandang hotel itu dengan aneh.

 

“Ada apa? Apa masih kurang mewah?” Tanya Minhyuk sambil mengambil posisi di samping Sehun.

Sehun dan Minhee memandang Minhyuk dengan kening berkerut.

“Untuk apa kita kesini?” Tanya Minhee polos.

“Untuk bulan madu.” Jawaban Minhyuk sukses membuat Sehun dan Minhee membelalak.

“Apa?!”

“Kenapa?” Tanya Minhyuk lagi. “Untuk apa kalian canggung? Bukankah kalian sendiri sudah pernah melakukannya?”

Sehun dan Minhee semakin terbelalak lebar mendengar kalimat Minhyuk.

“Apa maksudmu?” protes Minhee tak terima. Ia melirik Sehun yang terlihat salah tingkah.

“Ah, sudahlah, kalian ini sudah menikah. Tak usah mendengarkan ocehan Minhyuk lagi, oke?” Luhan menengahi. Ia meletakkan dua buah koper berisi pakaian Sehun dan Minhee di dekat kaki mereka.

“Tapi, oppa—“

“Sudahlah, sekarang kalian masuk saja, oke? Nikmati saja bulan madu kalian,” sahut Luhan enteng sambil masuk kembali ke mobil. Minhyuk juga ikut masuk ke mobil.

“Selamat bersenang-senang!” seru Minhyuk sebelum mobil itu akhirnya melaju pergi, meninggalkan Sehun dan Minhee di depan pintu masuk hotel.

Yak, Shin Minhyuk! Apa maksudmu, eoh?!” balas Minhee dengan wajah merah padam. Tahu teriakannya hanya sia-sia saja, ia akhirnya menatap Sehun yang berdiri di sampingnya.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Minhee retoris.

“Ayo masuk,” jawab Sehun datar. Tangan kanannya menarik Minhee sedangkan tangan kirinya menarik salah satu koper. Minhee tersentak dan buru-buru menarik koper lainnya.

 

Sehun menarik Minhee mendekati meja resepsionis. Seorang perempuan muda yang berdiri disana tersenyum ramah, meskipun tak bisa ditutupi matanya sedikit bingung saat melihat kedatangan kedua remaja itu.

 

“Selamat malam… Apa sudah ada pesanan kamar atas nama Oh Sehun dan Shin Minhee?” Tanya Sehun pada resepsionis itu.

Perempuan itu mengecek sebentar data-data tamu, lalu berpaling lagi pada Sehun. “Ya, Tuan. Ada satu kamar pesanan atas nama Tuan Oh Sehun. Kamar 410. Ini kuncinya, Tuan.”

Sehun menerima kunci itu. “Baiklah, terimakasih banyak.”

“Apakah tuan butuh layanan pengangkut koper?” Tanya yeoja itu lagi.

“Tidak, terima kasih.” Jawab Sehun. “Ayo, sayang.”

Minhee terbelalak mendengar Sehun memanggilnya dengan kata itu. “Yak, apa maksudmu?”

Sehun tak memperdulikan protes Minhee dan terus membawa gadis itu memasuki lift lalu melewati koridor kamar-kamar, sampai akhirnya tiba di kamar mereka, kamar 410.

 

“Apa ini?!” protes Minhee lagi. “Kita berdua, kenapa hanya ada satu kamar?”

“Kita sudah menikah, jadi kita harus satu kamar. Kau mengerti?” Sehun membuka pintu kamar itu lalu membawa Minhee beserta koper mereka masuk ke dalam.

Yak! Apa yang kau lakukan…?!” protes Minhee lagi saat Sehun menutup pintu kamar itu dan menyisakan mereka berdua di dalam.

Shireo! Shireo!” protes Minhee lagi.

Aigoo, berhentilah berteriak-teriak atau kita akan dicurigai oleh semua orang.” sahut Sehun yang langsung membungkam semua protes Minhee.

Minhee akhirnya terdiam walau masih menyisakan cemberut di wajahnya. Gadis itu terduduk di kursi yang ada di depan meja rias, pandangannya membentur lantai.

“Kenapa aku bodoh sekali? Aku tak tahu jika kejadiannya akan seperti ini,”

 

Sehun menoleh memandang Minhee saat mendengar keluhan gadis itu.

“Ah, yang benar saja. Aku baru 18 tahun, tapi sudah menikah. Perempuan macam apa aku?”

 

“Sudahlah, waktu itu tidak bisa diputar.” Balas Sehun datar.

Minhee balas menatap Sehun yang kini sudah duduk diatas tempat tidur.

“Sekarang jalani saja apa yang sudah terjadi, oke?”

 

“Bagaimana bisa?” protes Minhee lagi. “Aku bahkan baru mengenalmu, dan ini pengalaman pertamaku jadi seorang istri. Aku bahkan tak tahu apa saja tugas-tugasku.”

Suasana menghening selesai Minhee mengatakan itu. Sadar apa yang baru saja dikatakannya, Minhee langsung membekap mulutnya sendiri. Meruntuki kenapa kata-kata sepolos itu bisa meluncur saja dari bibirnya.

 

Tuhan, semoga dia tidak salah menangkap apa maksudku, batin Minhee takut-takut.

 

Ia semakin tak enak hati saat mendapati ternyata Sehun juga sedang menatapnya.

“Berhentilah menatapku seperti itu.” Sahut Minhee tanpa melirik sedikitpun pada Sehun.

Sehun menghentikan tatapan anehnya pada Minhee lalu berdehem kecil. “Ehm, baiklah. Kau, mandi duluan saja sana,”

Minhee menatap Sehun. “Shireo. Aku lelah, mau langsung tidur saja.”

Minhee lalu berbaring diatas tempat tidur dengan cuek dan mengambil alih seluruh jatah bed cover. Sehun terpaksa pindah tempat duduk ke atas sofa.

 

Yak, kau serakah sekali! Geser sedikit! Nanti aku mau tidur dimana?” protes Sehun.

Minhee bangun dari posisinya dan menatap Sehun sakratis. “Siapa yang mau tidur satu ranjang bersamamu? Kau tidur saja di sofa sana. Ingat, kau itu laki-laki, jadi kau harus mengalah pada wanita.”

“Apa?”

 

Minhee kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover. Sehun cemberut melihat kelakuan gadis itu, lalu mau tak mau menuruti apa yang dia minta.

“Terserah kau saja,” sahut Sehun mengalah. Ia lalu bangkit dan mendekati koper mereka yang diletakkan di sudut kamar. Berdiri di depan kedua koper itu dengan bingung.

“Eh, koperku yang mana, ya? Aku tidak ingat pernah punya koper seperti ini,” gumam Sehun bingung.

Sehun mendekati salah satu koper dengan ragu. “Apa yang ini? Aku takut salah membuka koper,”

Pelan-pelan Sehun membuka retsleting koper itu dan mengintip apa isinya. Ia menghembuskan napas lega saat dilihatnya semua pakaiannya terlipat rapi dalam koper itu, yang itu berarti ia tidak salah koper dan tak harus melihat barang-barang aneh milik istrinya.

Ia mengambil salah satu piyamanya yang berwarna biru dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Sesaat kemudian ia keluar dari pintu itu dan sudah berganti menggunakan piyama. Ia melipat kembali pakaiannya yang semula dan menumpuknya diatas koper miliknya sendiri.

 

Selesai dengan pakaiannya, ia pun terududuk diatas sofa yang menjadi jatah tempat tidurnya. Entah apa lagi yang mempengaruhi pikirannya, ia tak langsung tidur. Ia duduk sambil menatap Minhee yang sudah terlelap dengan posisi tegak lurus dari posisi duduknya saat ini.

Aigoo, kenapa dia tidak mau ganti baju dulu?” Tanya Sehun sambil menatap Minhee. “Memangnya nyaman tidur dengan pakaian seperti itu? Dasar perempuan aneh,”

Sehun lalu membaringkan tubuhnya sendiri diatas sofa itu, namun pandangannya masih tertuju pada Minhee.

“Kalau dipikir-pikir, kasihan juga dia… Dia baru saja mau masuk kuliah, tapi sudah disuruh menikah gara-gara kesalah pahaman ini,” gumam Sehun sambil masih memperhatikan Minhee.

“Ah, tapi kan ini gara-gara kecerobohannya juga,” gumam Sehun lagi. “Bukannya dia yang memaksaku tidur satu kamar dengannya? Kalau aku tetap tidur di dalam mobil, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.”

Sehun menatap wajah Minhee yang tertidur dengan tenang.

Aish, michigetta! Untuk apa aku memikirkan dia? Sudahlah, Oh Sehun, lupakan, lupakan!” omel Sehun pada dirinya sendiri. Untuk menghilangkan segala hal yang mengganggu benaknya itu, ia pun memutar badan membelakangi Minhee.

“Ini hari yang melelahkan, jadi aku harus tidur sekarang!”

 

 

Beberapa jam telah berlalu. Tubuh Minhee yang awalnya tertidur dengan tenang dengan posisi biasa mulai bergerak-gerak aneh. Lalu beberapa detik berikutnya, ia langsung terbangun dengan perasaan kaget. Ia terduduk diatas tempat tidur dengan nafas terengah-engah dan keringat yang membanjiri tubuhnya.

Aigoo, mimpi macam itu?!” runtuk Minhee saat menyadari hal buruk yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi.

Minhee menyeka peluhnya dengan punggung tangan lalu berganti menatap sekelilingnya dengan bingung.

“Ini masih di hotel, ya?”

 

Pandangan Minhee beralih pada sosok laki-laki yang sedang tidur dengan posisi menyedihkan diatas sofa. Hanya ada satu bantal yang dipakainya, tanpa ada selembar selimutpun yang membalut tubuh berpiyamanya.

Minhee mengerutkan kening. Entah apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba ia bagkit dari tempat tidur. Seperti terhipnotis, mata Minhee hanya tertuju pada Sehun dan gadis itu pun terduduk diatas lantai, tepat di depan Sehun. Menatap wajah suaminya itu diam-diam.

 

Aigoo, sebenarnya dia umur berapa?” gumam Minhee sambil menahan senyum memperhatikan wajah Sehun. “Wajahnya polos sekali. Apalagi saat tidur,”

Minhee bangkit dari lantai dan berdiri. Ia masih menahan senyum sambil memandang wajah Sehun. “Eoh, kalau dipikir-pikir, aku beruntung juga menjadi istrinya. Dia tampan juga, hahaha…”

 

Setelah puas memperhatikan wajah Sehun, Minhee mulai merasakan gerah. Ia mengipaskan tangannya berkali-kali, sambil menyeka peluh.

Aigoo, kamar ini pakai AC. Tapi kenapa rasanya gerah sekali?” keluh Minhee sambil menatap AC kamar. “Apa karena aku belum ganti baju?”

 

Minhee terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah mendekati koper miliknya dan Sehun di sudut kamar. Melihat satu stel pakaian yang tergeletak diatas salah satu koper, ia bisa memastikan bahwa koper satunya yang masih belum terjamah pasti miliknya. Jadi dengan semangat ia pun membuka koper itu. Namun rautnya berubah saat melihat apa isi dari koper itu.

 

Aigoo, benda apa ini?!” Tanya Minhee shock saat menemukan pakaian dengan model yang aneh-aneh mengisi koper itu.

Ia mengeluarkan sebuah lingerie sutera berwarna putih dari dalam koper itu. Mengangkatnya tinggi dan memandangnya jijik.

“Mereka gila, ya?! Kenapa koperku isinya pakaian seperti ini?!”

Minhee bergidik membayangkan dirinya sendiri yang memakai lingerie itu, dan… Astaga! Sehun kan sekamar dengannya, itu berarti Sehun harus melihatnya memakai pakaian seperti itu!

Aigoo, tidak bisa! Itu gila!!

Minhee tahu, meskipun Sehun adalah namja baik-baik, tapi intinya Sehun itu tetap laki-laki. Dan Minhee masih dibawah umur, jadi meskipun Sehun sudah menjadi suaminya, ia tetap tidak akan mengizinkan Sehun untuk melihat… Tubuhnya… Secara utuh.

 

Aigoo, mereka gilaaaaa…! Mereka ingin menjerumuskanku, eoh?! Gila!! Gilaaaa….!!!” Tanpa sadar Minhee berteriak-teriak sendiri di dalam kamar. Namun sesaat kemudian ia tersadar jika ia tak sendirian di kamar itu.

Matanya menatap Sehun dan ia mendadak panik saat melihat Sehun mulai bergerak-gerak. Tangannya segera menjejalkan pakaian itu lagi ke dalam kopernya. Ia tak bisa membayangkan, betapa malunya ia nanti saat Sehun melihat isi koper Minhee adalah pakaian seperti itu.

Tapi Minhee bernapas lega saat ternyata Sehun tidak jadi terbangun. Ia hanya berganti posisi tidur, dan kini ia masih memejamkan matanya dengan tenang.

Itu berarti, Sehun masih tidur.

 

Minhee lega sekali. Ia membuka kopernya lagi, dan mulai sibuk mengaduk-aduk isi kopernya. Mencoba mencari pakaian yang lebih waras selain lingerie. Minhee mendengus kecewa saat ia tidak menemukan piyama kesayangannya yang biasa ia pakai dalam koper itu. Ia hanya menemukan beberapa pakaian ganti yang serupa dengan pakaian yang masih ia gunakan sekarang.

Jadi pada intinya, keluarganya ingin ia memakai lingerie saat malam hari. Saat akan tidur.

Bersama Sehun.

Dan itu berarti, Sehun harus melihatnya saat memakai lingerie itu…

 

Minhee mengernyit aneh saat kata-kata itu melintas di pikirannya.

Tidur bersama Sehun? Satu ranjang?

 

Oh tidak, tidak! Itu bagaikan mimpi buruk.

Sosok Shin Minhee adalah seorang gadis berusia 18 tahun, yang bahkan belum pernah berpacaran, belum pernah melakukan first kiss (kecuali bersama Sehun saat pernikahan tadi pagi, jadi intinya laki-laki yang telah merebut ciuman pertamanya adalah dia), dan bahkan tidak biasa berdekat-dekatan dengan makhluk bernama laki-laki. Satu-satunya yang bisa hanya sosok Shin Minhyuk, itupun karena mengingat fakta bahwa mereka bersaudara dan tidak pernah bisa melewati satu haripun di hidup mereka tanpa berdebat

Tapi sekarang, BAGAIMANA BISA DIA DISURUH TIDUR SATU RANJANG BERSAMA SEORANG LAKI-LAKI YANG BAHKAN BELUM SEMPAT DIKENALNYA DENGAN BENAR?!

 

Minhee mencoba mengenyahkan pikiran jauh-jauh, namun selama beberapa menit ia terdiam hasil yang ia dapatkan hanya nihil. Otaknya tak mau diajak kompromi dan dengan nakal terus saja melayangkan imajinasi Minhee tentang itu. Minhee akhirnya menyerah dan membiarkan ia dengan bodohnya memukul-mukul  kepalanya sendiri. Apapun akan ia lakukan asal imajinasi aneh itu tidak berkelanjutan dan menari-nari terus dalam benaknya.

Minhee bergidik jijik.

 

Aish! Sudah lupakan, Shin Minhee!! Babboya!!” omel Minhee pada dirinya sendiri. “Daripada kau membayangkan yang tidak-tidak, lebih baik sekarang kau pikirkan bagaimana caranya kau tidur tanpa pakaian seperti ini dan juga lingerie menjijikkan itu!”

Suasana menghening setelah Minhee mengomel pada dirinya sendiri. Hanya dia satu-satunya manusia yang masih terjaga dalam kamar itu, dan ia sendiri sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk mencari piyama lain.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Perlahan ia melirik koper milik Sehun yang masih utuh dalam keadaan tertutup.

 

Bagaimana kalau aku meminjam piyama milik Sehun oppa saja?

 

Selama beberapa saat ia mengalihkan pandangannya pada Sehun, dan syukurlah sejauh ini laki-laki itu masih tertidur tanpa ada indikasi akan terbangun dalam waktu dekat. Minhee mengalihkan pandangannya lagi pada koper Sehun, lalu dengan hati-hati mendekatinya.

Minhee membuka retsleting koper itu dengan pelan-pelan sekali, menjaga agar tidak ada suara sekecil apapun yang dihasilkan. Ia tak mau Sehun terbangun saat ini juga dan shock melihat Minhee berniat untuk mengacak-acak kopernya.

 

Tuhan, semoga aku tak menemukan benda yang aneh-aneh dalam koper ini.

 

Sebetulnya Minhee sangat grogi saat koper itu mulai terbuka seutuhnya dan mulai menampakkan tumpukan pakaian Sehun di dalam sana. Biar bagaimanapun ini adalah koper milik seorang laki-laki, dan isinya pasti SAMA SEKALI TAK SAMA DENGAN KOPER MILIK SEORANG PEREMPUAN.

Walaupun pada logikanya, Sehun sendiri sudah menjadi suaminya, tetap saja Minhee merasa grogi dan canggung.

 

Mati-matian Minhee mencari piyama lain dalam tumpukan pakaian Sehun, sampai akhirnya ia benar-benar menemukan sepasang piyama juga. Dengan bahagia Minhee membawa piyama itu masuk ke kamar mandi, dan sesaat kemudian ia sudah berganti pakaian menggunakan piyama itu.

Piyama itu tampak sangat kebesaran di tubuhnya, karena biar bagaimanapun tubuh Sehun jauh lebih tinggi darinya. Maka dari itu, ia tampak seperti orang-orangan sawah saat memakai piyama itu.

Minhee memperhatikan pantulan dirinya dari cermin besar yang ada di meja rias. Ia mengeluh sedikit, namun setidaknya ia merasa seribu kali lebih baik menggunakan piyama kebesaran seperti itu dibandingkan lingerie menjijikkan yang ia temukan dalam kopernya tadi.

 

“Baiklah, sekarang aku baru bisa tidur!” seru Minhee lega sambil menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia memeluk guling dan menyelubungi tubuhnya dengan selimut. Sempat menoleh dan tersenyum sekilas sambil menghadap Sehun.

Jaljayo, ma nampyeon!”

 

 

Layar kedua ponsel itu berkedip-kedip bersamaan dari tempat yang berbeda. Mereka diletakkan di tempat yang cukup berjauhan. Jam digital yang terpampang di layar tampak menunjukkan pukul 7 pagi.

Namun walau sama-sama berkedip, notifikasi yang terpampang di kedua layar ponsel itu berbeda.

Ponsel pertama milik sang laki-laki berkedip-kedip, tanda ada panggilan yang mencoba masuk. Namun tak ada nada dering apapun yang terdengar. Adalah kesalahannya yang mengatur mode hening pada ponsel itu sejak semalam.

Sedangkan ponsel kedua milik sang perempuan itu juga berkedip-kedip, tanda ada alarm yang berbunyi di jam itu. Namun lagi-lagi kesalahannya, yang mengatur mode hening juga pada ponsel itu. Termasuk untuk nada alarm sekalipun.

 

Tanpa ada yang membangunkan, tiba-tiba laki-laki yang sedang tertidur diatas sofa itu terbangun. Ia terduduk sambil mengucek-ucek matanya. Menoleh kesana-kemari dengan bingung mencari keberadaan ponselnya. Ia mengerutkan kening saat melihat ponselnya sedang ada diatas meja rias dengan layar berkedip-kedip.

Laki-laki itu menghampiri meja rias untuk mengambil ponselnya. Sadar jika penyebab layar berkedip itu adalah panggilan yang akan masuk, ia langsung menjawab panggilan itu.

 

“Halo?” sapa Sehun dengan suara parau yang parah, efek dari baru saja bangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu.

 

“Aigoo, Sehun-ah… Ini kau?” Tanya seorang laki-laki lain di seberang telepon itu dengan nada shock yang dibuat-buat. Bahkan Sehun langsung mengenali siapa pemilik suara itu, Luhan.

 

Hyung?” Tanya Sehun balik. “Ada apa, hyung? Aku baru bangun tidur.”

 

“Aigoo, jam segini kau baru bangun tidur?” Luhan berlebihan lagi. “Semalam apa yang kau lakukan sampai jam segini baru bangun, eoh?”

 

“Tidak ada.” Balas Sehun cuek, karena belum sepenuhnya sadar akan maksud dari perkataan Luhan.

 

“Ne, bagaimana tidurmu semalam?” Tanya Luhan lagi.

 

“Sama seperti malam itu,” jawab Sehun polos lagi, masih juga belum sadar akan arah pembicaraan Luhan. “Kau tahu, hyung? Minhee sangat kejam, tubuhku sampai sakit semua.”

 

“AIGOO!” teriak Luhan secara spontan. Sehun sampai terkejut dan menjauhkan speaker ponsel dari telinganya dengan memasang raut heran bercampur kesal.

 

Aigoo, hyung kenapa teriak-teriak di telingaku?!” omel Sehun balik. “Tak cukupkah penderitaaanku semalam?”

 

“AIGOO!!” teriak Luhan lagi, kali ini bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. Sehun benar-benar semakin jengkel dengan keanehan Luhan.

 

“Yak!! Hyung kenapa teriak-teriak di telingaku?! Kau menyebalkan, hyung!!” omel Sehun lagi. Tanpa Sehun sadari, Minhee mulai terbangun akibat terganggu suara teriakan Sehun yang sedang marah-marah pada Luhan.

 

“Aigoo, aku tak menyangka,” sahut Luhan lagi. “Aku yakin, sebentar lagi aku pasti akan punya keponakan!”

 

Aish, hyung ini bicara apa?! Sudahlah, hyung. Kau aneh dan menyebalkan!” tandas Sehun kesal sambil memutus sambungan teleponnya dengan Luhan.

 

Sedangkan Minhee rupanya sudah terbangun dan sedang menatap Sehun heran.

 

Oppa kenapa berisik sekali, eoh?!” omel Minhee tiba-tiba.

Sehun langsung membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara Minhee, dan saat itulah matanya terbelalak saat melihat sesuatu yang ganjil.

 

Yak! Itu kan piyamaku, mengapa kau pakai?!” omel Sehun lagi, kali ini Minhee yang kena.

Minhee ikut membelalakkan matanya lalu menatap piyama Sehun yang saat ini sedang dipakainya.

IgeIge….”

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

Pertama aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena aku telat posting chapter 2 ini😥

Harusnya chapter 2 ini posting tanggal 8 Maret. Tapi seminggu ini aku tiba-tiba kena tifus, jadi harus bedrest total😥

Posting chapter 2 pun terpaksa aku pending, dan aku juga baru sempet online sekarang… Jadi maaf buat yang komentarnya baru aku bales malem ini😦

Untuk ke depannya, aku gak mau lagi janji dan pasang target mau posting tanggal berapa deh. Kalo misalnya sempet, ya aku bakal posting seminggu sekali. Cuma aku gak mau PHP-in kalian lagi kayak kejadian kemaren😦

Sekali lagi maaf buat keterlambatan postingnya😥

 

Oiya, ada pengumuman soal cast😀

Di chapter ketiga nanti, bakal ada cast baru yang bakal muncul loh😀

Ada yang bisa nebak itu siapa? Hahahaha😀

 

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi~

 

 

 

shineshen

634 thoughts on “Secret Darling | 2nd Chapter

  1. Hai eon,aku readers baru nih+Exo L baru,mian eon aku komen nya di chap 2,aku udh komen di chap 1 tpi kgak muncul,jdi coba di chap 2 deh ,sekali lagi #mianhae eonni

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s