Diposkan pada Family, jellokey, Lu Han, MULTICHAPTER, Romance, SCHOOL LIFE

I Love You, My Little Girl (Chapter 4-END)

luhan

 

I Love You, My Little Girl

                           

Tittle                           :  I Love You, My Little Girl (Chapter 4-end)

Author                       : Jellokey

Main Cast                  :

Luhan (Lu Han of EXO)

Shin Min Young (OC)

Support Cast            :

Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)

Kim Jong-in (Kai of EXO)

Kim Hyun-il (Ray of C-CLOWN)

Lee Jae-joon (Maru of C-CLOWN)

and others

Length                        : Chaptered

Genre                         : Romance, Family, School Life

Rating                         : PG17

Disclaimer                 : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!

Chapter 1  Chapter 2 Chapter 3

Previous:

“Dengarkan aku. Aku tidak punya hubungan apa pun dengannya. Hubungan kami sudah berakhir.” Min Young melepas tangan Lu Han yang menangkup wajahnya.

“Min Young..”

“Yeoja itu menunggu oppa. Lebih baik oppa pulang.” Lu Han tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Apa Min Young memutuskan hubungan mereka?

“Aku tidak punya hubungan apapun dengannya.” Lu Han menahan tangan Min Young sebelum gadis itu pergi. Tatapan Lu Han memohon agar Min Young percaya padanya.

“Aku mengerti.” Min Young melepas tangan Lu Han yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Min Young,” Lu Han menarik Min Young ke dalam pelukannya. Dia tidak mau kehilangan Min Young.

“Percaya padaku. Jebal.” Hati Min Young bergumul. Dia mau berada di samping Lu Han, tapi apa dia bisa mengimbangi Lu Han? Yeoja tadi lebih pantas bersama Lu Han.

“Aku mau pulang.” Min Young berusaha melepas pelukan Lu Han.

“Aku akan mengantarmu.” Lu Han menatap Min Young masih dengan tatapan memohonnya.

“Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Min Young.

“Di luar hujan. Apa kau mau sakit lagi?!” Suara Lu Han meninggi. Dia tidak mau terjadi apapun pada gadis kecilnya.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Ucap Min Young datar.

“Bagaimana aku bisa percaya?! Kau bahkan tidak bisa minum obat!” Lu Han berusaha menahan diri untuk tidak membungkam mulut Min Young dengan mulutnya. Yeoja itu terus melawan perkataannya. Dia tidak mau kasar.

“Shin Min Young!” Teriakan Lu Han membuat Min Young menghentikan langkahnya.

“Kau tidak percaya padaku?” Kemungkinan itu sangat besar. Hubungan mereka baru berjalan empat bulan. Ditambah Lu Han yang sudah berpacaran entah berapa kali. Lu Han berjalan mendekati Min Young.

“Aku akan buktikan kalau aku tidak punya hubungan dengannya.” Lu Han menarik tangan Min Young menuju apartemennya.

“Lepas, oppa!” Min Young tidak mau melihat yeoja itu. Dia merasa tidak ada apa-apanya dibanding Sun-hee.

“Aku pikir anak kecil itu pulang, atau mungkin menangis?” Ucap Sun-hee remeh begitu melihat Lu Han kembali dengan Min Young.

“Kau ingin dia melihat apa yang kita lakukan, honey?” Min Young menunduk. Sungguh, dia tidak mau berada di apartemen Lu Han.

“Sun-hee dengarkan baik-baik. Hubungan kita sudah berakhir. Jadi, dengan sangat hormat aku minta kau keluar dari apartemenku.” Ucap Lu Han tegas. Ia menggenggam tangan Min Young erat. Tidak mau yeoja itu kabur.

“Aku tidak terima, Lu Han! Apa anak kecil itu—“

“Kau harus terima!!” Bentak Lu Han. Membuat Min Young dan Sun-hee terkejut.

“Aku tidak pernah serius denganmu atau pun mantanku yang lain. Aku hanya serius dengannya.”

“Kau pasti bercanda.” Sunhee masih tidak percaya.

“Lepas, Lu Han!!” Kesabaran Lu Han habis. Ia menarik Sun-hee keluar apartemennya. Min Young mematung. Apa benar Lu Han serius dengannya?

“Min Young, kau harus percaya padaku.” Lu Han menghela nafas melihat Min Young yang hanya menatapnya kosong.

“Bagaimana kalau kita makan masakanmu?” Lu Han tersenyum. Berusaha membuang suasana buruk yang ada di antara mereka. Lu Han mengambil plastik yang ia tempatkan di meja tadi.

“Pasti enak.” Ia membimbing Min Young menuju ruang makan.

“Silahkan duduk, tuan putri.” Lu Han menarik kursi untuk Min Young duduki.

“Aku akan pindahkan makanan ini ke piring. Tunggu sebentar.” Lu Han pergi ke dapur.

“Eum.. Wangi sekali.” Ucap Lu Han setelah meletakkan makanan di meja.

“Ini bibimbap untuk Tuan Puteri.” Wajah Lu Han menjadi sendu karena Min Young tidak menanggapinya. Maafkan aku. Batin Lu Han.

“Aku ingin coba spagetti buatanmu.” Ini pertama kalinya Lu Han memakan masakan Min Young. Ia memasukkan sesuap spagetti ke mulutnya.

“Uhuk!” Lu Han terbatuk. Membuat Min Young yang mengaduk bibimbap menatapnya, masih datar.

“Rasanya enak.” Ucap Lu Han setelah menelan spagettinya dengan susah. Rasanya asin sekali.

“Bagaimana dengan karenya?” Lu Han meletakkan kare ke atas spagettinya. Mungkin rasa spagetti itu lebih baik kalau dicampur dengan kare. Itu pikiran Lu Han. Tapi rasanya semakin aneh. Wajah Lu Han memerah karena menelan paksa makanan yang ia kunyah.

“En—“

“Tidak enak.” Potong Min Young. Ia langsung mengeluarkan spagetti yang baru masuk ke mulutnya.

“Keasinan.” Min Young beranjak menuju Lu Han yang duduk di hadapannya. Tanpa berkata apa pun, ia mengambil piring Lu Han, membawa piring itu ke dapur.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Lu Han, ia menahan tangan Min Young hendak mengambil spagetti.

“Membuang makanan ini.”

“Kenapa? Spagettimu enak.” Lu Han tersenyum.

“Jangan menghiburku.” Min Young yakin semua masakannya gagal.

“Masakanmu enak, Young. Aku akan makan semua ini.” Lu Han mengambil sepiring besar spagetti yang hendak dibawa Min Young ke dapur. Ia terburu-buru memakannya. Mengabaikan rasa asin berlebih yang membuat sudut matanya berair. Selama Min Young belajar memasak, Lu Han tidak pernah mencoba hasil masakannya sekalipun. Min Young tidak mengizinkannya.

“Hentikan.” Min Young menahan tangan Lu Han yang hampir memasukkan spagetti ke mulutnya. Dia tidak bisa melihat Lu Han yang memaksakan dirinya. Min Young tahu bagaimana asinnya spagetti itu. Lu Han tidak perlu menghiburnya.

“Young, ini enak. Aku suka.” Mata Min Young berkaca-kaca melihat Lu Han yang makan dengan lahap.

“Hentikan, oppa.” Lu Han tidak mendengarkan ucapan Min Young. Ia terus makan. Sampai Min Young mengambil paksa piring spagetti itu. Tidk habis akal, Lu Han mengambil mangkok yang berisi kare. Ia memakannya. Hanya satu potong daging karena Min Young berhasil mengambil mangkoknya.

“Apa yang kau lakukan?!” Bentak Lu Han. Tangannya memegang mangkok juga, hendak merebutnya dari Min Young.

“Jangan buang-buang makanan!”

“Masakanku tidak pantas disebut makanan.” Min Young menarik mangkok, tapi tidak bisa. Lu Han menahannya.

“Min Young. Aku mau makan masakanmu.” Lu Han menarik mangkok.

“Makanan ini bisa membuat oppa mati!” Terjadi tarik-menarik mangkok antara Lu Han dan Min Young.

“Jangan berlebihan!”

PRANG!!

Suasana menjadi hening setelah mangkok kare jatuh. Air mata Min Young mengalir. Ia menunduk. Dilihat dari manapun dia tidak pantas untuk Lu Han. Bahkan dia tidak bisa memasak seperti tipe Lu Han.

“Aku tidak pantas untuk oppa.” Suara Min Young nyaris berbisik. Lu Han tidak dengar. Nafasnya memburu. Dia masih berusaha mengontrol emosinya. Ia marah pada dirinya yang tidak bisa menjaga perasaan Min Young.

“Aku pulang.” Waktu seperti berhenti untuk Lu Han. Apa dia bisa melihat Min Young lagi? Yeoja itu seperti berniat meninggalkannya.

“Min Young!!” Lu han mengejar Min Young.

—————-

“Gomawo.” Kata itu memecah keheningan setelah mobil Lu Han berhenti di depan rumah Min Young. Ya, Lu Han mengantar yeoja itu. Dia memaksa. Min Young berusaha melepas tangan kanan Lu Han yang menggenggam tangan kirinya sepanjang perjalanan.

“Hati-hati di jalan.” Lu Han menggenggam erat tangan Min Young.

“Aku merindukanmu. Tunggu seben—“

“Aku lelah.” Genggaman Lu Han merenggang. Min Young keluar dari mobil. Lu Han mencengkeram erat stir mobilnya. Hatinya sakit karena Min Young mengabaikannya.

“Maafkan aku.” Lirih Lu Han. Ia keluar dari mobil.

“Min Young!” Teriakan Lu Han mengurungkan niat Min Young untuk membuka pintu rumahnya. Mata Min Young membulat saat Lu Han menariknya, ia berada di dekapan Lu Han sekarang.

“Jangan mengabaikanku.” Lu Han memeluk Min Young erat.

“Saranghae,”

“Oppa..” Min Young pasti salah dengar. Lu Han tidak mungkin mencintai anak-anak sepertinya.

“Saranghaeyo.” Lu Han menangkupkan tangannya di wajah Min Young, menatap Min Young dalam.

“Saranghae, Shin Min Young.” Lu Han mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young. Matanya terpejam begitu bibirnya menempel di bibir Min Young. Nado saranghe. Batin Min Young. Ia berjinjit, berusaha mengimbangi Lu Han, tapi tidak bisa. Dia tidak memakai high heels. Tangan Lu Han bergerak turun, melingkar di pinggang Min Young. Ia mengangkat Min Young, membuat yeoja itu bisa membalas ciumannya. Lu Han melumat bibir Min Young lembut sebelum melepas tautan bibir mereka. Min Young sudah berpijak di lantai.

“Aku belum pernah mengucapkannya pada yeoja manapun.” Ucap Lu Han serius.

“Kau percaya padaku?” Min Young mengangguk karena tatapan Lu Han yang sungguh-sungguh.

“Aku sangat mencintaimu.” Lu Han mengelus pipi Min Young lembut.

“Aku juga.” Min Young memeluk Lu Han. Menyembunyikan ekspresi wajahnya di dada Lu Han.

“Gomawo.” Lu Han mencium puncak kepala Min Young.

“Aku.. mau jadi yeojachingu oppa selamanya.” Lu Han tersenyum. Apa itu komitmen Min Young?

“Aku ingin kau menjadi istriku saat sudah dewasa nanti. Kau mau berada di sampingku selamanya?” Min Young mengangguk.

“Aku mau, oppa.” Lu Han merenggangkan pelukannya. Ia mengelus pipi Min Young sebelum mencium kening yeoja itu.

“Masuklah.” Min Young menggeleng.

“Aku masih ingin bersama oppa.” Lu Han tersenyum mendengar suara Min Young yang pelan. Yeoja itu malu?

“Senin aku harus ke Thailand.”

“Oppa baru pulang.” Min Young mengerucutkan bibirnya. Mereka tidak bertemu selama sebulan, dan lusa Lu Han sudah harus pergi?

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.” Lu Han mengacak rambut Min Young lembut.

“Berapa lama?”

“Dua minggu.” Min Young membuang nafasnya kasar.

“Setelah dari Thailand, oppa tidak ke mana-mana kan?”

“Aku tidak tahu, chagi.” Lu Han menatap wajah kecewa Min Young.

“Kau mau kubawakan oleh-oleh apa?”

“Aku mau oppa.” Lu Han menggenggam kedua tangan Min Young.

“Aku milikmu.”

“Kita jarang bertemu.” Lu Han juga menyayangkan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Itu pekerjaannya.

“Oppa, eomma tidak ada di rumah.” Lu Han menatap Min Young bingung. Ia yakin Nyonya Shin sudah sering meninggalkan Min Young sendiri di rumah. Apa maksud Min Young?

“Oppa menginap di rumahku ya?” Min Young menatap Lu Han penuh harap.

“Tidak bisa, Young.” Permintaan Min Young cukup mengejutkan Lu Han.

“Wae?” Lu Han salah tingkah. Apa ia harus menjelaskan pada Min Young?

“Pokoknya tidak bisa. Tidak sopan.”

“Oppa, jebal. Aku ingin bersama oppa.” Min Young mengeluarkan aegyonya. Aegyo yang lebih bagus dari Sehun.

“Ti.. Tidak.” Ucap Lu Han ragu.

“Oppa~” Rengek Min Young sambil menggoyang lengan Lu Han.

“Ne, ne. Aku menginap di rumahmu.” Senyum Min Young merekah. Ia membuka pintu lalu menarik tangan Lu Han masuk ke rumahnya.

“Kau semangat sekali.” Min Young sangat cepat menaiki tangga.

“Tentu saja. Kita akan bersama sangat lama.”

“Mana kamarku?” Tanya Lu Han setelah berada di lantai dua.

“Oppa tidur di kamarku.”

“Mwo? Kau tidur di mana?” Otak Lu Han kosong. Apa mereka tidur bersama?

“Ayo masuk.” Min Young menarik Lu Han yang mematung masuk ke kamarnya.

“Aku ganti pakaian dulu.” Ucap Min Young setelah mengambil piyama dari lemari. Lu Han menuju tempat tidur Min Young, duduk di tepinya. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Min Young, walaupun ada sisi dirinya yang senang karena bisa menginap di rumah Min Young. Tapi, apa reaksi Nyonya Shin kalau tahu putrinya membawa namja ke rumah? Ini pertama kali Lu Han masuk ke rumah Min Young. Nyonya Shin juga belum tahu kalau Lu Han berpacaran dengan Min Young.

“Oppa,” Lu Han tersentak karena pelukan Min Young.

“Apa yang oppa lamunkan?” Lu Han mengelus punggung Min Young.

“Tidak ada.” Min Young menatap penuh selidik pada Lu Han.

“Aku melamunkanmu.” Lu Han mengaku, ia menggesekkan hidungnya dengan hidung Min Young.

“Tidurlah.” Min Young menurut. Ia naik ke tempat tidur. Lu Han melepas sepatu dan kaos kakinya lalu merebahkan diri di samping Min Young.

“Oppa,” Min Young menghadapkan dirinya pada Lu Han.

“Eum?”

“Apa oppa tidak bisa bekerja di Korea saja?” Lu Han menarik Min Young ke dalam pelukannya.

“Tidak bisa. Aku harus mengelola cabang perusahaan keluargaku yang lain.” Lu Han mengelus rambut Min Young.

“Aku senang kau merindukanku.” Min Young menatap Lu Han sebal.

“Aku tersiksa.” Lu Han terkekeh. Ia menciumi puncak kepala Min Young cukup lama.

“Aku akan melihat pertumbuhan dan perkembanganmu menjadi dewasa.” Lu Han menerawang. Membayangkan Min Young saat yeoja itu dewasa.

“Aku tidak sabar, Young.” Lu Han melihat Min Young. Dia sudah tidur.

“Padahal aku baru cerita sedikit.” Lu Han tersenyum. Ia merapikan poni Min Young.

“Saranghae.” Lu Han mengecup bibir gadis kecilnya.

“Cepatlah dewasa. Saat itu tiba, aku akan menjadikanmu milikku.”

——————-

                                      Handphone Min Young berdering. Ia tersenyum melihat siapa yang meneleponnya. Lu Han.

“Oppa sudah sampai di Seoul?” Tanya Min Young langsung.

“Belum. Penerbanganku ditunda karena cuaca buruk.” Min Young mendesah kecewa.

“Apa yang kau lakukan semalam?”

“Tidak ada. Hanya pergi dengan temanku.”

Tok! Tok!

Sambil mendengar Lu Han, Min Young berjalan menuju pintu kamar.

“Dengan Ray?”

“Dari mana oppa tahu?”

“Aku mendengar suara namja suara namja saat meneleponmu semalam. Dan aku yakin itu Ray. Mulai sekarang jangan dekat dengan namja manapun, terutama dia.”

“Wae?” Min Young membuka pintu kamarnya dengan wajah kesal. Terkadang, ia tidak suka kalau Lu Han mengaturnya.

“Ikuti saja.” Min Young terkejut mendengar suara dan mendapati Lu Han setelah membuka pintu. Bahkan handphonenya jatuh. Lu Han tersenyum manis.

“Annyeong.”

“Oppa!” Min Young memeluk Lu Han.

“Kau merindukanku?” Ucap Lu Han setelah mencium puncak kepala Min Young.

“Sangat.”

“Aku juga. Lain kali jangan menjatuhkan handphonemu.” Lu Han memeluk Min Young erat.

“Oppa harus ganti. Handphoneku jatuh karena oppa.”

“Ne. Aku akan belikan yang lebih canggih dari itu.” Lu Han melepas pelukannya. Ia melihat Min Young.

“Kau sedikit berubah.” Min Young menatap Lu Han bingung.

“Makin tinggi dan sedikit berisi.”

“Jeongmal? Kalau begitu gendong aku. Apa aku semakin berat?” Sepertinya Min Young tidak mengerti berisi yang dimaksud Lu Han.

“Kau lebih berat dari yang waktu itu.” Min Young langsung melingkarkan tangannya di leher dan kakinya di pinggang Lu Han begitu namja itu mengangkatnya.

“Kau ke mana bersama Ray?”

“Nonton, ke taman berma—“

“Hanya berdua?” Potong Lu Han. Min Young mengangguk.

“Kau harus dihukum, Young.” Hukum? Aku salah apa? Batin Min Young.

“Lepas.” Suruh Lu Han. Min Young tidak bisa berkutik kalau Lu Han sudah menatapnya serius. Ia melepaskan kaitan tangannya di leher Lu Han dan menapakkan kakinya di tempat tidur.

“Oppa, aku salah apa?”

“Jangan pergi dengan namja manapun. Terutama dia.” Ucap Lu Han serius. Dia duduk di tepi tempat tidur.

“Wae? Ray oppa baik. Aku suka bersamanya.” Mata Lu Han membulat. Apa Min Young tidak tahu kalau yang mereka bicarakan sekarang sangat sensitif? Seperti apa rasa suka Min Young pada Ray?

“Kau suka dengan Ray?”

“Ne. Ray oppa—“

“Kau lebih suka dia atau aku?” Lu Han merapatkan dirinya dengan Min Young.

O.. Oppa. Aku suka oppa.” Min Young mundur. Lu Han menyeramkan sekarang.

“Seberapa besar?” Min Young menelan ludahnya. Dia sudah terpojok di kepala tempat tidur.

“Aku tidak tahu. Aku– Oppa!” Min Young berteriak saat Lu Han menggelitiki perutnya.

“Hentikan. Gelihh..” Lu Han tidak mendengarkan Min Young.

“Itu hukuman karena dekat-dekat dengan Ray.”

“Ahahaha.. Geli.” Sudut mata Min Young berair karena gerakan jari-jari Lu Han di perutnya.

“Jauhi Ray.” Lu Han berhenti.

“Wae?” Min Young berusaha menormalkan dirinya.

“Namja itu menyukaimu.”

“Dari mana oppa tahu?” Min Young tidak percaya. Apa Lu Han peramal?

“Cara dia menatapmu berbeda. Jauhi dia.” Tegas Lu Han.

“Tapi Ray oppa teman terbaikku.”

“Dia menyukaimu, Young. Dan dulu kau pernah menyukainya kan?” Min Young mengangguk. Dia tidak tahu arti tatapan yang diberikan Lu Han padanya.

“Aku tidak mau saat aku pergi kau bersama Ray dan rasa sukamu padanya tumbuh kembali.” Min Young menatap Lu Han lekat. Apa namja itu takut kehilangannya?

“Aku sayang oppa.” Min Young memeluk Lu Han.

“Jauhi dia.”

“Ne.” Lu Han melepas pelukan mereka. Ia mengelus pipi Min Young.

“Saranghae.” Lu Han menghapus jarak wajah mereka. Min Young memejamkan matanya. Banyak yang berubah pada Min Young setelah mengenal Lu Han. Dia lebih terbuka dengan lingkungan sekitarnya.

“Omo! Shin Min Young!” Lu Han langsung menjauhkan wajahnya begitu mendengar suara lain di kamar Min Young.

“Eom.. Eomma.” Ucap Min Young takut. Kapan eommanya pulang? Kenapa Nyonya Shin tidak mengabari Min Young lebih dulu? Nyonya Shin masuk ke dalam kamar. Lu Han berdiri. Ia gugup. Apa yang Nyonya Shin pikirkan tentang kejadian tadi?

“Presdir Lu, apa yang kau lakukan di sini?” Nyonya Shin menatap Lu Han penuh selidik. Dia bisa terima kalau mereka saling mengenal, tapi kalau Lu Han berada di kamar putrinya?

“Min Young, kenapa dia ada di sini?” Nyonya Shin ingin mendengar penjelasan Min Young terlebih dahulu. Ternyata benar yang dikatakan salah satu pembantunya. Min Young sudah berani membawa namja ke rumah.

“Eomma, Lu Han oppa—“ Lu Han menggenggam tangan Min Young yang sudah berdiri di sampingnya.

“Saya berpacaran dengan Min Young, Nyonya.”

“Mwo??” Nyonya Shin terkejut. Min Young juga meliahat Lu Han sama terkejutnya dengan eommanya. Min Young sudah tahu pacaran dan namjachingunya orang yang mapan?

“Izinkan saya berhubungan dengan putri anda.” Ucap Lu Han yakin. Ia seperti melamar sekarang.

“Kenapa? Min Young masih anak-anak. Kau pasti akan menyakitinya.” Nyonya Shin yakin, pengusaha muda dan tampan di hadapannya pasti sudah sering menjalin hubungan dengan wanita.

“Saya akan menjaga Min Young. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, yang bisa menyakiti Min Young.” Lu Han sungguh-sungguh. Nyonya Shin melihat Min Young. Banyak yang berubah dari anak itu. Min Young sudah tidak merengek lagi padanya.

“Kau yakin bisa menjaga anakku?”

“Ne, Nyonya.”

“Kau tahu kan seperti apa Min Young?” Mungkin Lu Han akan menyerah menghadapi sifat childish Min Young. Pikir Nyonya Shin.

“Ne. Dan itu yang membuat saya tertarik pada Min Young.” Nyonya Shin tersentak, tidak percaya. Lu Han bisa mendapatkan yeoja yang lebih sempurna dari Min Young.

“Eomma, aku..suka.. Lu Han oppa.” Ucap Min Young pelan sambil menunduk. Ia menggenggam erat tangan Lu Han. Nyonya Shin melihat Min Young lama lalu menghela nafas.

“Awas kalau kau menyakiti Min Young. Dan jangan pernah berduaan di kamar dengan putriku.” Ucap Nyonya Shin sebelum keluar kamar.

“Ne, ahjumma.” Lu Han tersenyum senang. Nyonya Shin merestui mereka.

“Tadi itu menegangkan sekali.” Lu Han duduk di tepi tempat tidur. Ia menarik Min Young duduk di pangkuannya.

“Aku seperti melamarmu, chagi.” Mereka saling menatap.

Chu~

“Eii.. Kau sudah mulai berani ya?” Lu Han menyentuh pipinya yang baru dicium Min Young.

“Oppa,”

“Eum?” Min Young menyentuh bibir Lu Han dengan telunjuknya.

“Kau mau kucium?” Goda Lu Han.

“A.. Ani. Aku mau menemui eomma.” Ucap Min Young gugup.

“Aigoo.. Aku sangat mencintai gadis kecil ini.” Kata Lu Han setelah mengecup bibir Min Young.

“Aku bukan gadis kecil.” Umpat Min Young. Ia beranjak dari pangkuan Lu Han.

“Aku bukan gadis kecil. Aku bukan anak-anak!” Teriak Min Young kesal.

“Jinjja?” Wajah mengejek Lu Han membuat Min Young semakin kesal. Ia ingin menjambak rambut Lu Han.

“Cium aku kalau kau tidak mau kupanggil gadis kecil.” Lu Han menunjuk bibirnya. Ia tersenyum miring melihat Min Young mendekatkan wajah ke wajahnya. Ia bersumpah akan terus menggoda Min Young dengan gadis kecil kalau Min Young mau menciumnya. Yang diharapkan Lu Han terjadi. Ia langsung melumat bibir bawah Min Young begitu bibir Min Young menempel di bibirnya.

“I love you, My Little Girl.” Lu Han tersenyum melihat wajah merah padam Min Young yang menahan emosi.

“Oppa!”

END

Akhirnya selesai, fiuh.. komen ya jangan jadi SIDER! Annyeong! ^^

Penulis:

Simple. I'm SHAWOL,94 line.SMtown lover. https://yosephinalina.wordpress.com/

96 tanggapan untuk “I Love You, My Little Girl (Chapter 4-END)

  1. Mian thor sebelumnya karena aku jadi siders di chapter sebelumnya karena ngebut pengen baca chapter berikutnya.. hehe.. bagus thor.. 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s